Kenapa diam seribu bahasa ?

November 12, 2007

Adalah sebuah kenyataan yang pahit apabila pada saat ini sudah mulai banyak umat Islam yang enggan mengikuti perkembangan berita mengenai saudara-saudara kita di Palestina. Persepsi yang terlebih dulu muncul apabila mendengar kabar tentang Palestina adalah, “Ah, paling-paling tentang perang, tentang jihad, tentang aksi-aksi bom bunuh diri, kelompok militan, aksi melawan yahudi, aksi boikot, dll”. Atau, “Ah, pembahasan tentang Palestina lebih cocok untuk kalangan garis keras, fundamentalis, ekstremis, dll, kita-kita tidak usahlah ikut-ikutan”. Dan seribu satu alasan lagi untuk tidak sudi mengamati. Jangankan turut membantu, sekedar mendengar dan melihat saja sudah enggan. Na’udzubillah.

Padahal bicara Islam sangat erat hubungannya dengan Palestina, bicara sholat dan isra’ mi’raj rasulullah saw tidak mungkin lepas dari Palestina, pembahasan tentang kiblat tak mungkin lepas dari
Palestina, begitu pula bila mempelajari sejarah sabahat Umat bin Khottob, mujahid Shalahuddin Al Ayyubi. Apalagi bila sudah mengulas tentang saudara seaqidah yang tertindas dan diperangi, tentang saudara kita terusir, tentang kedzaliman kaum kafir, dll. Semua itu tidak bisa lepas dari Palestina.

Fakta, bahwa Palestina adalah sama-sama bangsa muslim, bukankah sesama muslim itu ibarat satu tubuh, kalau ada satu anggota badan yang sakit, maka selayaknya anggota badan yang lain juga merasakan sakit ?
Fakta, bahwa saudara kita di Palestina sedang terjajah, teraniaya, tertindas, miskin, sengsara, dan lain sebagainya. Setiap saat kabar beritanya dengan sangat mudah bisa dilihat, didengar dan dibaca dari berbagai media massa.
Fakta, bahwa lawan yang dihadapi adalah bangsa yang sangat rusak, sangat brutal, sangat licik, paling keras permusuhannya terhadap umat Islam, sangat kuat persenjataannya dan sangat canggih. Sekali-kali jangan salah mengatakan, “Cuma melawan negara kecil seperti Israel saja, kenapa mesti repot-repot harus dibantu”. Ingatlah selalu, di belakang Israel itu ada raksasa super dzolim beserta kroni-kroninya yg siap membantu total 100%, fisik maupun psikis, persenjataan hingga lobby-lobby kelas PBB, dari embargo hingga kucuran dana yg tidak terbatas. Tidak akan menimbang-nimbang apakah yang sedang dibantu itu berada di pihak yang benar atau yang salah. Mereka sangat solid, bersatu memerangi Islam.

Sebagai sesama umat Islam, kenapa kita diam seribu bahasa ? kenapa kita pura-pura tidak tahu ?. Mana wujud tenggang rasa demi menyaksikan penderitaan saudara kita ? Mana hati nurani kita ? Mana pengamalan sikap ukhuwwah yang saban hari kita dengung-dengungkan ?. Kenapa saudara kita itu kita biarkan berjuang sendiri dengan persenjataan ala kadarnya ? padahal nyata-nyata musuh yg dihadapi adalah raksasa dengan persenjataan yang amat canggih, rudal, bom, tank-tank apache, jet tempur, bahkan nuklir pun ada ?. Kenapa negara-negara tetangga yg sama-sama muslim, bahkan dengan kekayaan yang melimpah ruah tidak terketuk hati untuk membela saudaranya ?. Belum lagi lawan-lawan dari bangsanya sendiri yang pemikirannya sudah terinfiltrasi ideologi pihak musuh, sehingga sampai hati menuruti kehendak penjajah dan menangkapi saudaranya sendiri yang tengah berjuang untuk Al Quds, untuk Palestina, untuk Islam.

Semoga penerbitan edisi khusus ini dapat mengembalikan semangat untuk terus memantau perkembangan kabar mengenai saudara kita yang terus hidup dalam keadaan tertindas dan terdzolimi. Syukur alhamdulillah bila kemudian tergerak hati untuk membantu dengan segala daya yang ada. Bukan malah sebaliknya, melupakan, menganggap tidak ada apa-apa, apalagi ikut-ikutan memusuhi saudara sendiri yang terus hidup dalam keadaan terancam dan terus berjuang dengan susah payah.

[dari : Mukaddimah Labbaik edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M

Jangan lupakan saudara kita yang terus terjajah dan tertindas …

Setiap datang bulan Juni, umat Islam yang memiliki perhatian terhadap sejarahnya, akan selalu teringat bahwa pada bulan itu kota Al Quds jatuh ke tangan Zionis, apalagi bila mengingat bahwa di kota tersebut terdapat masjid Al Aqsho, kiblat pertama umat Islam dan tempat Isra’-nya rasulullah SAW. Peristiwa kejatuhan itu dimulai pada tgl. 5 Juni 1967, yakni saat pecah perang antara Arab melawan Israel, perang ini hanya berlangsung sekejap, dan lebih popular disebut perang 6 hari, karena memang dalam tempo 6 hari saja Al Quds dan masjid Al Aqsho berhasil dikuasai Israel.
Menurut para analis, sebab utama mengapa begitu mudahnya Arab yang terdiri dari beberapa negara, yakni Mesir, Yordania dan Suriah dapat dika lahkan Israel, adalah karena negara-negara Arab tidak berperang atas nama agama, mereka berperang atas nama nasionalisme dan sosialisme. Padahal Israel sejak dari awal sudah berperang dengan membawa semangat agamanya.

Inilah salah satu dampak yang sangat fatal karena sulitnya umat Islam diajak menjalin persatuan, bersatu hanya di bawah naungan Islam, bersatu dengan satu semangat Islam saja !. Mudah sekali umat kita ini mengucapkan kata “ukhuwwah” namun semangat untuk menjalankannya amal kecil. Terlebih lagi para pemimpinnya, sudah banyak yang terilfiltrasi pemikiran barat yg kafir, mereka justru menjalankan hukum dan ideologi kafir dalam mengatur umat. Mereka mulai melupakan hukum-hukum yang telah disyariatkan agama, bahkan dalam menjalankannya pun seringkali dalam keadaan setengah hati. Na’udzubillah !.

[dari : Mukaddimah Labbaik edisi khusus 40 tahun penjajahan Al Quds dan Al Aqsho, nomor edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M]


Melucuti Senjata Berarti Menyerahkan Rakyat Palestina

September 12, 2007

Juru bicara resmi Brigade Izzuddin Al-Qassam, Abu Ubaidah, diwawancarai oleh Palestina Information Center. Ia menyatakan bahwa senjata Al-Qassam akan tetap ada selama pendudukan masih ada. “Senjata kami adalah senjata rakyat Palestina. Melucuti senjata kami berarti menyerahkan rakyat Palestina di ladang pembantaian Zionis Israel”. Ia juga menceritakan kemungkinan peleburan Al-Qassam dengan tentara nasional Palestina. Berikut ini petikan wawancaranya :

Bagaimana masa depan Brigade Al-Qassam, sebagai sayap militer Hamas, saat situasi politik telah berubah seperti sekarang ?.
Sayap politik Hamas, Brigade Izzuddin Al-Qassam, akan tetap ada selama penjajahan masih berlaku. Kami akan tetap menjadi tameng pelindung untuk rakyat Palestina. Dan dengan izin Allah, kami akan selalu siap melakukan pembalasan atas semua serangan Zionis Israel, kapanpun. Brigade Al-Qassam akan tetap memelihara seluruh sarana dan persiapannya berikut para pejuangnya untuk upaya itu. Kami juga akan terus melakukan eksplorasi terhadap aksi-aksi serangan yang kami miliki serta melanjutkan upaya persiapan dengan keyakinan penuh, sesuai firman Allah swt. “Dan persiapkanlah untuk mereka apa-apa yang kalian mampu dari kekuatan, dari kuda-kuda yang ditambat (untuk perang), yang dapat membuat takut musuh Allah, dan musuh kalian, dan yang selain mereka yang tidak kalian ketahui akan tetapi Allah mengetahui mereka…” (QS.Al Anfaal : 60)

Menurut Anda bagaimana dengan ide peleburan kepada sayap keamanan pemerintah Palestina yang ditawarkan kepada Al-Qassam, apakah ada syarat-syaratnya ?.
Menurut kami, masalahnya bukan pada pasukan keamanan nasional pemerintah, tapi pada pilihan strategis politik yg akan dijalani dalam kepemimpinan pasukan itu. Pasukan nasional itu dahulunya berdiri dengan tujuan untuk kepentingan yang sesuai dengan kesepakatan yg zalim dan dikendalikan oleh banyak tangan dari luar. Tapi jika terjadi reformasi yang menyeluruh dalam sayap keamanan itu di masa datang, tidak ada masalah bagi Al-Qassam untuk melebur. Kami harus menjadi unsur yang bisa memperbaiki dan membangun bukan unsur penghancur. Kemudian terkait peleburan sayap militer Hamas secara total ke dalam sayap keamanan nasional yang berarti pembubaran Al-Qassam, dan ini tidak mungkin terjadi karena kami akan tetap memelihara struktur sayap militer ini dlm situasi apapun dengan izin Allah, selama pendudukan Zionis masih ada di sini.

Belakangan ini banyak warga Palestina yang menanyakan, kemana Al-Qassam, kenapa mereka terlihat diam terhadap serangan yang dilakukan Zionis terhadap rakyat Palestina, dengan apa mereka membalas serangan Zionis ?.
Jika pertanyaan itu disampaikan dari orang-orang yang sangat memperhatikan dan khawatir dengan masa depan perlawanan, kami menenangkan mereka dengan mengatakan bahwa Al-Qassam tidak pernah meninggalkan lapangan perlawanan. Al-Qassam tetap menjadi tameng utuh untuk melindungi mereka, memberi pelajaran pada Zionis sebagaimana yang selama ini mereka kenal dari Al-Qassam. Akan tetapi, perlu diketahui, bahwa aksi serangan itu akan dilakukan pada waktu dan tempat yang sesuai, termasuk dalam konteks merealisasikan kemaslahatan bagi bangsa Palestina. Tapi jika pertanyaan itu disampaikan bagi orang yang menyepelekan aksi perlawanan, yang ingin mengaburkan dan menjelekkan persepsi tentang Al-Qassam, kami katakan kepada mereka, bahwa cara seperti itu tidak bisa dilakukan oleh orang yang mengatakan dirinya sebagai pejuang. Al-Qassam telah menjadi pionir dalam banyak sarana perlawanan yang kemudian digunakan juga oleh sebagian saudara-saudara kami yang melakukan perlawanan di kelompok lain. Ini termasuk hal yang membuat kami senang, semakin mendorong semangat proyek perlawanan kami, dan memantapkan perlawanan di Palestina. Hamas masih akan tetap memelihara pola jihad dan perlawanannya di Palestina. Hamas bahkan telah mempersembahkan pemimpin tertingginya sebagai syuhada dan tahanan di jalan perlawanan. Sementara disisi lain ada orang yang menghina pola perlawanan, mengecam aksi meraih syahid yang sangat heroik dan telah memberi pelajaran berharga untuk penjajah. Alhamdulillah, selama ini Brigade Al-Qassam selalu berada di barisan terdepan. Kami katakan kepada mereka bahwa perjuangan yang dilakukan Al-Qassam masih panjang. Tidak bisa menjatuhkan penilaian secara sepihak terhadap Al-Qassam dalam rangkaian waktu tertentu.

Secara realistik, mungkinkah Hamas menghimpun langkah perlawanan dan politik, lalu bagaimana Al-Qassam berinteraksi dlm tekanan internasional seperti sekarang ?.
Sudah sangat wajar, perlawanan, politik dan reformasi berjalan seiring sejalan. Target terpenting yang dikehendaki Hamas di parlemen adalah memelihara perlawanan untuk mewujudkan reformasi dan perubahan dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya dan lainnya untuk masyarakat Palestina. Rakyat tidak boleh menghadapi Zionisme sementara di sisi lain masih ada sebagian orang oportunis yg mengambil keuntungan, berbisnis di atas penderitaan rakyat, mengumpulkan harta untuk kepentingan pribadi di atas kefakiran dan ribuan pengangguran rakyat Palestina. Karena itu kami memandang, harus ada langkah penguatan dan pengokohan secara internal di dalam tubuh rakyat Palestina untuk melanjutkan perlawanan. Kami tidak melihat adanya benturan antara politik dan perlawanan yang selama ini ditempuh Hamas. Bahkan sebaliknya, kami malah melihat perpaduan secara utuh antara politik dan perlawanan itu harus dilakukan bagi bangsa manapun yang hidup di bawah penjajahan, otoritarianism, kezaliman. Hamas tidak mungkin melepas senjatanya dalam fase apapun dan di bawah situasi apapun. Karena senjata Hamas adalah senjata rakyat Palestina. Melepas senjata berarti menyerahkan rakyat Palestina untuk pembantaian oleh Zionis, membuang hak rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap musuh yang menyerangnya. Jadi, tidak boleh ada seorangpun yang memiliki pandangan bahwa Hamas akan melepas senjata dan tidak menggunakan lagi langkah perlawanannya.
Meskipun begitu, Hamas tetap akan mengetahui kapan dia akan menggunakan senjata, dalam situasi seperti apa, dan dalam waktu bagaimana sesuai sikon yang sesuai di setiap fasenya. Hamas tidak akan beraksi secara serampangan. Tentang tekanan internasional, itu berlatar belakang paradigma Barat yang zalim dalam melihat penjajahan di Palestina oleh Zionis Israel. Kami tegaskan tidak akan tunduk pada tekanan yang memang tidak akan pernah berhenti itu.

Bagaimana Anda melihat hubungan antara Al-Qassam dengan unit perjuangan Palestina yang lain, khususnya Brigade Syuhada Al-Aqsha yang berada di bawah organisasi Fatah ?.
Kami masih tetap partner dalam perlawanan dan jihad bersama seluruh anasir perlawanan di Palestina. Kemenangan kami adalah memantapkan prinsip perlawanan ini hingga ia menjadi perhatian banyak masyarakat dunia. Hubungan baik dengan seluruh kelompok perlawanan akan terus bertambah baik. Karena kami memililki prinsip bahwa kemenangan Hamas harus berwujud pada kemaslahatan semua pihak, semua kekuatan perlawanan di Palestina, tanpa kecuali.

Jika sekarang Hamas ditekan untuk mengakui Israel, dan diancam akan diisolir secara internasional jika tidak memenuhi tekanan itu, bagaimana pandangan Anda ?.
Tekanan itu adalah sikap yang tidak mungkin dipenuhi. Pengakuan terhadap Israel adalah masalah yang tidak mungkin terjadi. Penjajah mendirikan negara secara tidak legal dan tidak sah. Tidak mungkin jika negara itu kemudian diakui secara legal dan sah. Kami berinteraksi dengan masalah seperti itu, dalam kerangka bahwa kamilah pihak yang berhak atas tanah Palestina. Hamas tidak akan mengakui Israel dan tidak ada satupun orang yang berhak melakukan hal itu. Karena tanah Palestina adalah bagian yang tak terpisahkan dari tanah dunia Arab dan Islam. Menyerah dari Palestina atau memberikan sebagian Palestina adalah bagian dosa.
Semua orang memiliki hak hidup. Itu benar. Tapi tidak mungkin dibenarkan jika sekelompok orang merampas tanah orang lain untuk hidup di sana. Karenanya tidak ada hak Zionis untuk berdiri di tanah Palestina. Ini adalah hakikat yang tak bisa berubah, meskipun dunia mengakui Zionis Israel, kami tetap memandang masalah pengakuan terhadap Israel tidak mungkin dilakukan.
Terkait dengan ancaman isolasi dan embargo internasional jika Hamas tidak mengakui Israel, kami katakan, sesungguhnya Hamas dan rakyat Palestina memiliki dukungan dari dunia Arab dan Islam. Kami tidak mungkin menerima bantuan dana politik dari AS dan Barat untuk melindungi proyek Zionisme, dan menyepelekan agenda perjuangan Palestina. Kami yakin, bahwa akan banyak yang berpihak kepada kami. Mereka tidak akan menerima dengan penderitaan yang dialami rakyat Palestina. Karena mereka pasti akan menetapkan sikapnya, dan menunjukkan keinginannya secara merdeka lalu memilih siapa yang bisa mewakili aspirasinya.

Sejumlah media Israel menyebut Al-Qassam memiliki link dengan Hizbullah di Libanon, bagaimana menurut Anda ?.
Hubungan Hamas dengan Hizbullah adalah hubungan solidaritas, dukungan untuk memerangi pendudukan dan perampokan dunia Arab dan Palestina. Akan tetapi Al-Qassam berjuang di dalam batas wilayah Palestina, tidak ada koordinasi aksi dalam aksi-aksi militer dengan pihak luar. Baik dengan saudara kami di Hizbullah maupun kelompok lainnya. Semua aksi Al-Qassam adalah hasil perencanaan & dilaksanakan oleh Al-Qassam dari dlm Palestina.

http://eramuslim.com/news/bc2/440cdcfc.htm

Penyataan Paus Benedict XVI Bagian dari Serangan Bush Terhadap Islam

Dr.Yusuf Qardhawi menganggap pernyataan menyakitkan dari Paus Benedict XVI tentang ajaran Islam dan Rasulullah saw, adalah bagian dari kampanye AS untuk membangun superioritasnya di Timur Tengah. Qardhawi juga mengaitkan pernyataan Paus yg menolak meminta maaf kepada umat Islam itu, dengan tragedi perang salib, terlebih selama ini Vatikan jelas memiliki hubungan kerjasama ideologis dengan Amerika, untuk bermain di “wilayah hijau” Islam.

Ungkapan tegas ini disampaikan Qardhawi dalam kapasitasnya sebagai Ketua Perhimpunan Ulama Islam Internasional, di tengah aksi solidaritas “Jumat Kemarahan” yang digelar di Dhoha, Qatar. Qardhawi ikut serta dalam aksi demonstrasi tersebut yang juga diikuti oleh Syaikh Hamid Bin Abdul Aziz, mantan Menteri Informasi Qatar. Qardhawi di hadapan massa di masjid Umar bin Khattab yang terletak di ibu kota Qathar, ba’da shalat Jum’at mengatakan, “Kampanye kejahatan yang dilancarkan Paus Vatikan, tidak terpisah dengan serangan yang dipimpin AS atas sejumlah wilayah Islam dengan nama ‘Serangan Bush’. Karena serangan itu telah menumpahkan darah & menghilangkan harta benda serta mengarah pada perubahan keyakinan umat.” Qardhawi juga menerangkan bahwa aksi pelecehan Islam oleh Paus adalah, “Kedengki an hitam yang dibawa dalam memori perang salib yang gagal.”

Ia juga menjelaskan sikap Perhimpunan Ulama Islam Internasional yang telah mencabut kemungkinan dialog dan kerjasama dengan Vatikan, lantaran Paus menolak mencabut perkataannya yang menyakitkan umat Islam. “Paus tetap memaksakan pikiran yg ada dalam otaknya, bukan pada hakikat Islam. Ia mengacu pada ungkapan raja Bizantium yang mengatakan Islam disebarkan dengan pedang. Kalau tidak mengacu pada pikirannya yang negatif pada Islam, bagaimana Paus mengungkapkan hal itu ?” ujar Qardhawi. Lebih tegas lagi, Qardhawi bertanya kepada Paus, “Sekarang, apa komentar anda tentang teks perjanjian Lama (taurat) yang terang-terang mengajak pembantaian dan pembunuhan ?”. (sumber : Eramuslim)

Yusuf Islam: Paus Harus Contoh Mahatma Gandhi

Mantan Penyanyi Pop Kaliber Internatiomal, Yusuf Islam (dulu bernama Cat Steven) juga menyatakan keprihatinannya atas pernyataan Paus. Ia mempertanyakan ajaran teologi Katolik bahwa perkataan Paus adalah hal yang mutlak dan tidak pernah salah. “Pada suatu ketika, saya pernah meyakini bahwa Paus adalah manusia sempurna,” ujarnya pada stasiun televisi BBC mengenang kembali saat ia bersekolah di sekolah Katolik.

Kantor berita AFP menyebutkan, teologi Katolik Roma memang menyebutkan bahwa seorang Paus tidak bisa melakukan kesalahan dlm mengajarkan keyakinan atau moral. “Karena interpretasinya tentang Islam, ia (Paus) seharusnya membaca tentang Gandhi dan melihat apa komentar Gandhi tentang Islam,” sambung Yusuf Islam. Menurutnya, Paus selayaknya melihat ke tempat-tempat lain jika ia ingin mengambil kutipan. Mahatma Gandhi dalam Young India, 1922 memberikan komentarnya tentang Islam sbg berikut, “Saya ingin mengetahui tentang ma nusia paling berpengaruh dalam hati jutaan umat manusia… Saya semakin bertambah yakin bahkan kemenangan yang didapat oleh Islam pd masa-masa itu bukanlah dari ayunan pedang. Kemenangan itu buah dari kesederhanaan Nabi yang gigih, keikhlasan Nabi yang telah mencapai puncaknya, kehati-hatian terhadap semua amanat yang diembannya, pengabdian yang mendalam terhadap para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, ketidak-takutannya, keyakinan yang sempurna terhadap Tuhan dan misinya. Inilah semua (adalah fakta) dan bukanlah jalan pedang yang mengatasi semua halangan-halangan itu. Ketika saya menyelesaikan Bab ke-dua dari biografi sang Nabi, saya menyesal: sudah tidak ada lagi kehidupan agung lain yang bisa saya pelajari.” Meski demikian Yusuf Islam menyatakan ia menghormati Paus dan posisinya, dan ia yakin Paus sudah menarik kembali pernyataannya untuk kebaikan semua.

http://swaramuslim.net/more.php?id=5327_0_1_0_M
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M


Kisah Seorang Siswi Palestina

September 11, 2007

Infopalestina – Al Sahl Lish Shahafah Wal I’lam :
Ini adalah kisah tentang seorang siswi di sebuah sekolah putri di Palestina.

Pada hari itu dewan sekolah berkumpul seperti biasanya. Di antara keputusan dan rekomendasi yang dikeluarkan dewan dalam pertemuan ini adalah pemeriksaan mendadak bagi siswi di dalam aula. Dan benar, dibentuklah tim khusus untuk melakukan pemeriksaan, dan tim mulai bekerja. Sudah barang tentu, pemeriksaan dilakukan terhadap segala hal yang dilarang masuk di lingkungan sekolah seperti handphone berkamera, foto-foto, gambar-gambar dan surat-surat cinta serta yang lainnya.

Suasana saat itu nampak normal dan stabil, kondisinya sangat tenang. Para siswi menerima perintah ini dengan senang hati. Mulailah tim pemeriksa menjelajah semua ruangan dan aula, dari satu ruangan dan masuk ke ruangan lainnya. Membuka tas-tas para siswi di depan mereka. Semua tas harus bersih, kecuali berisi buku-buku, pena dan peralatan kebutuhan kuliah lainnya. Hingga akhirnya pemeriksaan selesai di seluruh ruangan kecuali satu ruang an. Di situlah bermula kejadian ini. Apakah sebenarnya yang terjadi ?

Tim pemeriksa masuk ke ruangan ini seperti biasanya. Tim meminta izin kepada para siswi untuk memeriksa tas-tas mereka. Dan dimulailah pemeriksaan. Namun saat sampai di ujung ruangan ada seorang siswi yang tengah duduk. Dia memandang kepada tim pemeriksa dengan pandangan gusar dan mata nanar, dan tangannya memegang erat tasnya. Pandangannya semakin tajam setiap giliran pemeriksaan semakin dekat pada dirinya. Apa yang dia sembunyikan di dalam tasnya ?

Beberapa saat kemudian tim pemeriksa sampai pada siswi yang sedang memegang erat tasnya tersebut. Siswi itu tetap memegang sangat erat tasnya. Seakan dia mengatakan, “Demi Allah mereka tidak akan membuka tas saya”.
“Tolong buka tasnya anakku”, kata seorang guru anggota tim pemeriksa. Siswi itu tidak langsung membuka tasnya. Dia melihat wanita yang ada di depannya dengan diam sambil tetap mendekap tas di dadanya. “Barikan tasmu, wahai anakku”, kata pemeriksa itu dengan lembut. Namun tiba-tiba siswi tersebut berteriak keras :”Tidak ! tidak ! tidak ..!”.

Teriakan itu memancing para pemeriksa lainnya berdatangan mendekati siswi tersebut, dan mereka berkumpul di sekitarnya. Maka terjadilah debat sengit :”Berikan tasmu!”. “Tidak”. “Berikan!”. “Tidak ..!”.

Adakah rahasia yang dia sembunyikan ? Dan apa yang sebenarnya terjadi ?. Maka terjadilah adegan memperebutkan tas antara guru dengan murid tersebut. Para siswi pun terhenyak dan semua mata terbelalak. Seorang dosen wanita berdiri dan tangannya diletakkan di mulutnya. Memberi tanda agar semua siswi tidak rebut. Ruangan tiba-tiba sunyi. Semua terdiam. Ya Ilahi, apakah sebenarnya yang ada di dalam tas tersebut ?. Apakah benar bahwa si Fulanah (siswi) tersebut ….

Setelah dilakukan musyawarah akhirnya tim pemeriksa sepakat untuk membawa sang siswi dan tasnya ke kantor, guna melanjutkan pemeriksaan yang barang kali membutuhkan waktu lama …

Siswi tadi masuk kantor, dengan linangan air mata. Matanya memandang ke arah semua yang hadir di ruangan itu dengan tatapan penuh benci dan marah, karena mereka akan mengungkap rahasia dirinya di hadapan orang banyak. Ketua tim pemeriksa memerintahkannya duduk untuk menenangkan suasana. Dan setelah mulai tenang, maka kepala sekolah pun bertanya, “Apa yang kau sembunyikan di dalam tas wahai anakku …?”.

Di sini, dalam saat-saat yang pahit dan sulit, dia membuka tasnya. Ya Ilahi, apakah gerangan yang ada di dalamnya ? Bukan. Bukan. Tidak ada sesuatu pun yang dilarang ada di dalam tasnya. Tidak ada benda-benda haram, hand phone berkamera, gambar dan foto-foto atau surat cinta. Demi Allah, tidak ada apa-apa di dalamnya kecuali sisa makanan (roti). Ya, itulah yang ada di dalam tasnya.

Kemudian dia ditanya tentang sisa makanan yang ada di dalam tasnya. Siswi tersebut menarik napas panjang, baru kemudian di menjawab, “Ini adalah sisa-sisa roti makan pagi para siswi teman-teman saya, ada yang masih tersisa separoh atau seperempatnya di dalam bungkusnya. Kemudian saya kumpulkan dan saya makan sebagiannya. Sisanya saya bawa pulung untuk keluarga saya di rumah … Ya, untuk ibu dan saudara-saudara saya di rumah. Agar mereka memiliki sesuatu yang bisa disantap untuk makan siang dan makan malam. Kami adalah keluarga miskin, tidak memiliki siapa-siapa. Kami bukan siapa-siapa dan memang tidak ada yang bertanya ini-itu tentang kami. Alasan saya untuk tidak mau membuka tas, agar saya tidak malu di hadapan teman-teman di ruangan tadi.”

Tiba-tiba suasana ruangan tersebut menjadi mengharukan, suara tangis terdengar memenuhi ruangan tersebut. Semua yang hadir berlinang air mata sebagai tanda penyesalan atas perlakukan buruk dan kasar terhadap siswi tersebut.

Ini adalah satu dari sekian banyak bencana kemanusiaan yang memilukan di Palestina. Dan sangat mungkin juga terjadi di sekitar kehidupan kita. Kita tidak tahu, barang kali selama ini kita tidak peduli dengan mereka. Mereka memerlukan do’a dan uluran tangan kita, insya Allah setidaknya bisa sedikit meringankan penderitaan mereka. Khususnya saudara-saudara kita di Palestina yang hingga kini terus dilanda tragedi kemanusiaan akibat penjajahan Zionis Israel.

http://www.palestine-info.com/Ms/default.aspx

Al-Quds Adalah Hak Umat Islam, Bukan Hak Yahudi

Uskup Michel Lelong, pemuka agama Kristen di Perancis mengecam keras rencana serangan kelompok ekstrimis Yahudi terhadap mesjid Al-Aqsa. Ia mengatakan serangan terhadap tempat suci ketiga bagi umat Islam itu akan menambah panas situasi di Timur Tengah, untuk itu Lelong mendesak pemerintah Israel untuk mencegah segala bentuk upaya serangan terhadap Al-Aqsa dari kelompok ektrimis Yahudi. Uskup Lelong menyebut ancaman serangan terhadap Al-Aqsa sebagai skandal yang tidak bisa diterima dan bertentangan dengan prinsip toleransi dan saling menghormati terhadap agama, khususnya Islam. “Umat Islam, tidak diragukan lagi, berdasarkan sejarahnya memiliki hak atas Al-Quds,” tegas Uskup Lelong yang juga mengetuai organisasi hubungan Islam-Kristen di Vatican. Lelong menambahkan, mesjid Al-Aqsa ada lah ‘Garis Merah’ yang tidak boleh dilanggar.

Lebih lanjut Lelong menilai, alasan kelompok ekstrimis Yahudi menyerang Al-Aqsa yang katanya ingin menghidupkan kembali sejarah atas dasar mitos agamanya soal kuil Sulaiman (Solomon temple), tidak logis. Apalagi kalau mereka melakukannya dengan kekerasan dan hanya menimbulkan perpecahan. Lelong menegaskan, Israel berkewajiban menghentikan pendudukannya di Al-Quds atas dasar hukum internasional. “Al-Quds adalah persoalan politik yang diciptakan oleh Israel, yang telah menduduki kota itu dengan paksa,” ujar Lelong. Ia menunjuk sejumlah hukum internasional yang dengan jelas mengecam pendudukan Israel atas kota Al-Quds. Antara lain Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 478 yang dikeluarkan pada tahun 1980. Dalam Konvensi Jenewa bahkan disebutkan, warga Al-Quds harus dilindungi karena mereka hidup dibawah pendudukan Israel.

Uskup Lelong sempat menyatakan keheranannya dengan sikap komunitas internasional yang seolah tidak peduli dengan masalah-masalah yang menyangkut pelanggaran yang dilakukan Israel. “Mengapa komunitas internasional begitu cepat menerapkan resolusi PBB atas negara-negara seperti Irak dan Syria, tapi mereka tidak bergerak sama sekali ketika menyentuh persoalan Israel,” ujarnya setengah bertanya.
Lelong juga mengecam keputusan parlemen Israel yang ingin menjadikan wilayah timur dan barat Yerusalem sebagai ibukota negaranya. “Itu benar-benar pelanggaran terhadap hukum internasional,” tegasnya. – (sumber : eramuslim.com)

http://www.agus-haris.net/modules.php?name=News&file=article&sid=519
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M


Membeli Starbucks Berarti Mempersenjatai Musuh

September 11, 2007

Catatan Penting :
(Selain starbuck ini, sebetulnya masih sangat banyak produk di pasaran yang ternyata setelah dilacak para pemiliknya adalah bangsa Yahudi, dan nyata-nyata para pemilik perusahaan tersebut menginformasikan, bahwa sebagian dari keuntungannya akan disumbangkan untuk membantu pasukan Israel di Palestina. Adapun apa saja nama perusahaan dan produknya, silahkan klik web berikut : http://www.inminds.co.uk/index.html atau
http://www.kispa.org atau http://www.palestine-info.com/ dan lain-lain web sejenis)

“Dear Pelanggan Starbucks,
Pertama dan seterusnya saya ingin berterima kasih anda semua telah menjadikan Starbucks menjadi perusahaan besar dengan lebih dari 90.000 pekerja, 9.700 counter, dan 33 juta pelanggan per minggu. Tiap latte dan mocchiato yang anda minum di Starbucks memberikan sebuah kontribusi untuk mendekatkan aliansi antara Amerika dan Israel…
Tanpa anda, para pelanggan yang tercinta, kami tidak akan mampu mencapai ratusan juta dollar per tahun untuk melindungi warga negara Israel dari serangan teroris dan mengingatkan setiap orang Yahudi di Amerika untuk mempertahankan Israel. Jadi di lain waktu jika Anda ingin ngopi di counter Starbucks, tolong diingat bahwa dengan setiap cangkir yang Anda minum di Starbucks, sesungguhnya Anda sedang membantu sebuah misi yang berharga.”

Tertanda,

Howard Schultz
Chairman & Chief Global Strategist
Starbucks Coffee Stores

COME, Riyadl – Itulah bunyi sebuah aksi BOIKOT produk Amerika dan Israel oleh warga Saudi di sebuah kafe terkenal dan tersebar di kota-kota negara kerajaan ini. Kafe Starbuck memang memberikan dananya langsung kepada Israel yang sampai kini meneruskan aksi brutalnya membunuhi rakyat Palestina dan Libanon. Para aktifis boikot ini meletakkan kafe ini di urutan pertama dari perusahaan, produk, dan restoran yang diboikot. Islamonline menegaskan, aksi anti perusahaan kafe kelas internasional Starbuck ini mulai marak sejak dipublikasikannya sebuah artikel tulisan pemimpin pelaksana perusahaan tersebut, Howard Schultz, di situs Zayubidia yang sangat peduli dengan kepentingan Israel, dan dirinya menegaskan, perusahaannya memberikan sumbangan setengah keuntungannya untuk negara Israel sejak negara zionis melakukan invasinya ke Libanon.

Dalam artikelnya, Schultz berterimakasih kepada “pelanggan yang rela” membayar satu cangkir kopi yang mereka beli dari perusahaannya untuk mendukung dan menjaga keselamatan Israel dari serangan ‘teroris’. Ia juga mengingatkan kepada semua warga Yahudi untuk melindungi Israel.

Sejak dipublikasikan artikel inilah warga Saudi mulai menyebarkan informasi ini melalui pesan singkat (SMS) di telepon genggam yang menyerukan untuk melakukan boikot kafe Strabuck. Salah satu bunyi SMS ini adalah “hati-hati… anda mendu kung Yahudi dengan secangkir kopi… boikot Starbuck.” Dalam internet juga tersebar poster yang berbunyi “pemimpin perusahaan Starbuck menyumbang setengah keuntungannya untuk pemerintah Israel sejak aksinya memerangi Libanon… saya bersaksi kepada Allah dan malaikatnya bahwa saya memboikot Starbuck, Schultz dan Yahudi”.

Aksi boikot semakin mendapatkan angin segar dan dukungan luas ketika Dr. Abdul Wahhab bin Said Al Qahthani, asisten dosen fakultas Manajemen Strategis dan Pemasaran Universitas Malik Fahd bahwa Schultz, pemimpin perusahaan Starbuck adalah zionis di urutan pertama dan pendukung kental politik Israel. Menurut Qahthani membeli produk Starbuck sama bahayanya dengan penghinaan harian di Denmark terhadap Rasulullah beberapa waktu yang lalu. Sebab mereka mencari nafkah di negara-negara Arab dan Islam namun penghasilannya untuk mendanani aksi dalam memerangi Palestina, membunuh anak-anak, kakek nenek, wanita dan pejuang kemerdekaan. Menyumbang harta untuk mereka sama saja dengan mengina Islam dan umat Islam, tegas Qahthani.

Schultz sendiri, tegas Qahthani, pada tahun 1998 dalam perayaan ulang tahunnya ke 50 mendapatkan penghargaan dari Israel karena telah menyumbangkan dananya kepada Israel dan memperbaiki citra Israel serta menjelekkan citra anak-anak Intifadlah Palestina yang disebut Schultz sebagai teroris dan anti Semit Perang ekonomi, karenanya, pakar Saudi ini mengajak untuk menggalakkan boikot terhadap kafe-kafe Amerika. Ia mengatakan, budaya perang ekonomi harus diterapkan oleh umat Islam dengan memboikot perusahaan pendukung Israel. Sebab umat Islam tidak memiliki kekuatan militer untuk membela hak-hak mereka.

Menari di atas mayat saudara sendiri
Qahthani mengecam sikap umat Islam yang tidak mau melakukan aksi boikot “bagaimana kita menikmati minum kopi Starbuck dan kita sadar kalau harta kita disumbangkan untuk mendukung Israel agar semakin ganas membunuhi umat Islam”.
Para pendukung aksi boikot ini baik di ruang internet atau lewat telepon genggam banyak memandang bahwa langkah ini merupakan salah satu wujud jihad. Perusahaan kafe Starbuck belakangan mengumumkan laba pada kwartal kedua tahun 2006 ini mencapai 1,9 milyar USD. Dan kini ia sedang merencanakan membuka kafe 1800 baru di seluruh dunia hingga akhir tahun ini. Di Arab Saudi saja Caffe Shoop milik Starbuck beromset 15 milyar Reyal setiap tahun.

Kampanye anti produk Israel dan Amerika ditanggapi rakyat Saudi dengan antusias. Hal itu bisa dilihat melalui telepon genggam atau internet. Hingga hari ke 29 invasi ke Libanon, Israel sudah membunuh 1090 orang mayoritas kaum sipil, 30% anak, 3570 orang luka-luka serta lebih 1 juta orang mengungsi. Kerugian fisik diperkirakan bernilai milyaran USD menurut laporan resmi pemerintah Libanon. – (sumber : infopalestina.com)

http://swaramuslim.net/more.php?id=5274_0_1_0_m

“Kalau Saya Wanita Palestina, Siap Jadi Bom Martir !”

Jenny Tonge, anggota parlemen Inggris kemarin, Kamis (22/01) menyatakan bahwa kalau dirinya wanita Palestina, tentu akan berpikir menjadi pelaku aksi bom ‘syahid’. Pernyataan itu sendiri kemudian membuat banyak kontroversi di kalangan politikus Inggris.

Dalam wawancara dengan TV Inggris Sky News ia mencoba memahami keputus-asaan rakyat Palestina dengan mengatakan : “Saya paham kenapa orang-orang di sana menjadi penyerang-penyerang ‘bunuh diri’, itu karena keputus-asaan.” “Kalaulah saya pada posisi mereka, tentu akan berpikir sama dengan mereka,” tambahnya lagi seperti yang situs islamicnews.net hari ini, Jum’at (23/01).

Jenny Tonge, mantan juru bicara Partai Demokrat bidang pengembangan negara, partai ketiga di Inggris ini, menjelaskan bahwa dirinya akan memberikan pencerahan dalam masalah Palestina. “Mereka sedang dalam ujian berat sementara dunia menyaksikannya dengan mata kepala telanjang (namun tidak bergerak apa-apa, diam membisu tidak berbuat apa-apa – red.). Di sana butuh adanya upaya (merubah) sesuatu,” tambahnya lagi. – (COMES)

http://swaramuslim.net/more.php?id=1360_0_1_26_M

“Selama ini pemerintah Amerika Serikat itu buta; Amerika lebih Yahudi dari negara Zionis Israel sendiri, orang-orang Kristen pro-Yahudi yang tersebar luas di Amerika Serikat dan Inggris lebih bersemangat daripada kaum Yahudi itu sendiri. Oleh sebab itu, kita tahu Amerika dan Inggris mengambil langkah-langkah dan garis-garis kebijakan yang sama dalam memerangi umat Islam dan bangsa Arab. Kebijakan Amerika Serikat selalu memihak pihak musuh (Zionis Israel) secara total; sebaliknya, mereka tidak pernah melihat hak rakyat kami untuk melakukan perla wanan dan pembelaan diri. Mereka hanya melihat bahwa penjajah Israellah berhak untuk melakukan aksi-aksi serangan dan pembunuhan. Oleh sebab itu, kebijakan politik luar Amerika akan gagal. Perlawanan umat Islam dan ancaman atas kepentingan politik dan ekonomi mereka di wilayah-wilayah umat Islam harus dilakukan sampai negara-negara tersebut bangun dan sadar hingga menarik kebijakan luar negeri mereka yang merugikan itu. Amerika Serikat juga tidak dapat memberi solusi atas persoalan yang kami hadapi, namun sebaliknya mereka bekerja untuk kepentingan dan keamanan Penjajah Israel di Palestina. (Sheikhul Mujahidin Ahmad Yasin)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M


Yahudi Sama Sekali Tidak Punya Hak atas Al-Quds

September 11, 2007

Al-Azhar : “Bangsa Yahudi Sama Sekali Tidak Punya Hak atas Al-Quds”

Otoritas tertinggi Muslim Sunni, Al-Azhar menegaskan bahwa Yahudi sama sekali tidak punya hak apapun yang dikaitkan dengan agamanya terhadap kota Al-Quds. Ketua Komite Dialog Antar Umat Beragama Al-Azhar, Sheikh Fawzi El-Zefzaf menyatakan, tidak ada istilah hak-hak suci di Al-Quds. “Al-Quds merupakan hak bangsa Palestina dan harus dikembalikan pada bangsa Palestina,” tegasnya.
Pernyataan itu dibenarkan oleh Profesor bidang agama Ibrani di Universitas Al-Azhar, Mohammad Abu Ghadir. Menurutnya, penggalian dan penelitian-penelitian geologi telah membuktikan bahwa Yahudi tidak punya hak untuk mengklaim tempat-tempat suci di Al-Quds. “Para ahli arkeologi Israel bahkan tidak pernah berhasil membuktikan bahwa ‘Tembok Ratapan’ adalah bagian dari apa yang disebut kuil Solomon,” papar Abu Ghadir. “Celakanya, dunia sudah salah meyakini bahwa orang Yahudi benar-benar memiliki tempat-tempat suci di Al-quds seperti halnya umat Islam dan Kristen, karena kuatnya kampanye dan propaganda media Israel (dan media-media milik orang kafir) yang mengaburkan fakta sejarah,” tambahnya.

Persoalan Al-Quds makin mengemuka, menyusul laporan sejumlah media massa kafir tentang akan diselenggarakannya sebuah konferensi yang akan melibatkan pemuka agama Islam, Kristen dan Yahudi untuk membahas tentang hak-hak berdasarkan agama masing-masing atas kota suci Al-Quds. Para petinggi di Al-Azhar sudah menyatakan menolak untuk ikut dalam konferensi tersebut. Sumber resmi di Al-Azhar mengatakan, Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Mohammad Sayid Tantawi tidak pernah menerima undangan untuk konferensi semacam itu. Sumber itu menegaskan, pendirian Al-Azhar tidak akan berubah untuk menolak segala bentuk dialog dengan Yahudi berkaitan dengan masalah Al-Quds. “Karena itu masalah ini masih menjadi perselisihan dan belum diselesaikan di arena politik,” katanya.
Ketua Komite Dialog Antar Umat Beragama Al-Azhar, Sheikh Fawzi El-Zefzaf, lebih lanjut mengatakan pihaknya tidak punya bayangan tentang penyelenggaraan pertemuan tersebut. Menurutnya, umat Islam tidak bisa dipaksa untuk melakukan dialog dengan Yahudi sementara Israel terus melakukan agresi terhadap bangsa Palestina.
“Kalau mau duduk dan bicara soal agama, pertama sekali, anda harus menghentikan agresi terhadap tempat-tempat suci yang bukan menjadi hak Israel. Israel sering kali melakukan serangan terhadap mesjid Al-Aqsa,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan Dekan Fakultas Ilmu Hukum Islam di Universitas Al-Azhar, Manei Abdel Halim. Ia mengatakan, tidak seorang pun yang akan mengabaikan hak-hak keagamaan bangsa Yahudi sepanjang mereka tidak melampaui hak-hak orang lain. “Tapi, sekarang ini, Israel sedang berusaha untuk mengklaim hak mereka atas mesjid Al-Aqsa, yang merupakan tempat suci ketiga bagi umat Islam. Umat Islam harus bergerak dan melindungi mesjid mereka serta memegang kendali di Al-Quds,” papar Abdel Halim.
Ambisi Israel untuk menguasai mesjid Al-Aqsa makin jelas setelah pada tanggal 16 Maret kemarin, saluran dua televisi Israel menayangkan sebuah video pertemuan rahasia para pendeta Yahudi dan kelompok ekstrimis kanan Yahudi, yang sedang membahas cara-cara menguasai kompleks mesjid Al-Aqsa. Beberapa bulan terakhir, badan keamanan Israel, Shin Bet sudah mengungkapkan kekhawatirannya akan kemungkinan serangan misil atau serangan udara yang akan dilakukan oleh individu atau kelompok Yahudi terhadap Al-Aqsa. Pasukan Israel sendiri, sudah beberapa kali menyerang Al-Aqsa dan terlibat bentrok dengan jamaah Muslim di mesjid itu. Yang pasti, selama ini Israel sudah melakukan berbagai cara untuk menguasai kompleks mesjid Al-Aqsa. Antara lain dengan membuat terowongan di bawah tanah. Para pakar arkeologi mengingatkan, tindakan Israel itu akan melemahkan pondasi mesjid Al-Aqsa dan bisa membuat mesjid itu tidak kuat guncangan gempa. Salah satu bagian pintu gerbang utama Al-Aqsa sudah runtuh pada bulan Februari 2004, akibat aktivitas penggalian yang dilakukan Israel.

Bangsa Yahudi Israel mengklaim bahwa kuil Solomon, tempat suci agama Yahudi, berada di dibawah Al-Haram Al-Sharif, yang meliputi lokasi wilayah mesjid Al-Aqsa. Bagi umat Islam, tempat ini sangat penting karena Al-Haram Al-Sharif menjadi kiblat pertama, petunjuk arah sholat bagi umat Islam dan menjadi tempat suci ketiga setelah Ka’bah di Mekkah dan mesjid Nabi Nabawi di Madina, Arab Saudi. Keberadaan mesjid Al-Aqsa sendiri tidak bisa dilepaskan dari peristiwa bersejarah bagi umat Islam yaitu, Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. – (dari : eramuslim).

http://www.agus-haris.net/modules.php?name=News&file=article&sid=515
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M


Yahudi Main di Belakang Layar

Mei 15, 2007

Seorang pemimpin agama asal Amerika pada awal tahun 1950-an menerbitkan buku yg laris manis, berjudul “The Power of Positive Thinking”. Inti isi buku tersebut menjelaskan, bahwa kebanyakan rintangan hidup dapat diatasi jika rintangan itu disikapi secara positif. Positive Thinking atau dalam istilah kita diartikan dengan ‘selalu berpikir, berperilaku, bertindak positif terhadap semua orang dalam interaksi hidup, sehingga tidak timbul dalam pandangan orang lain kepada kita, selain pandangan yang simpati’. Pemikiran ini sebenarnya dimunculkan oleh musuh-musuh Islam (Yahudi) untuk melemahkan umat Islam. Apa iya ?. Ya Jelas !.

Mereka telah belajar dari sejarah mereka sendiri, bahwa apabila seseorang (atau kaum) dikondisikan untuk selalu berpikir positif dalam segala hal, maka akan lemahlah dia. Karena hidupnya hanya akan dibebani dan dibatasi dengan segala macam aturan relatif yang menekan kehendak jiwa bebasnya. Selamanya dia akan sibuk dengan segala urusan memahami, mendefinisikan dan membangun aturan-aturan positif (menurut manusia) karena takut melanggar batas pagar ‘positif’ itu. Umat Islam akan sibuk memperdebatkan script (naskah) Al Qur’an dan Sunnah, lupa terhadap amalan-amalannya. Sibuk dengan urusan jenggot, gamis, bid’ah, khurofat, dll, sementara itu pula mereka lalai terhadap urusan beramal dengan amalan-amalan lain. Tak jarang friksi itu kemudian menjadi benturan dalam memahami, mendefinisikan dan membangun aturan-aturan positif tersebut. Sehingga meningkat menjadi konflik internal, menggelinding terus bak bola salju yang semakin lama makin membesar, seterusnya bagai lingkaran yang tidak ada ujung pangkal.

Yahudi (Bani Israel) belajar dari kasus sejarah mereka, saat Allah SWT menurunkan ‘The Ten Commandments’ (sepuluh perintah Tuhan) yang mana semua isinya merupakan nilai-nilai positif (diantara isinya dilarang mencuri, berzina, memakan riba’, membunuh antar sesama, dsb). Mereka sadar, bahwa ‘sepuluh perintah’ tersebut sebenarnya merupakan ‘hukuman’ Tuhan, karena kedurhakaan mereka yang selama itu tidak mentaati para nabi dan rasul mereka. Meskipun mereka terpecah-belah juga – sebagaimana umat nashrani dan umat Islam – menjadi berbagai golongan yang berbeda, namun ada titik temu pada tingkat operasional di kalangan mereka. Bahwa “Positivism” (cara berpikir positif) yang mereka anut hanya berlaku dalam hubungan antar sesama mereka, bukan dengan semua manusia !. Terhadap bangsa lain, mereka menggunakan tata-aturan yang sebaliknya. Mereka kemudian menerapkan juga ‘hukuman’ harus selalu ‘berpikir positif’ itu kepada semua manusia (bangsa lain), sementara mereka sendiri menerapkan aturan “Negatitivism” kepada bangsa lain.

Keharusan berpikir positif oleh ‘goyim’ (non Yahudi) tersebut, dalam praktiknya banyak menimbulkan ekses varian-varian baru secara otomatis di tingkat bawah, karena terjadi tarik-ulur terhadap pemikiran itu sendiri, meskipun secara mainstream tetap berjalan lancar.

Bukti paling nyata atas hal di atas adalah isi Talmud (kitab suci Yahudi) versi Babilonia, kitab yang ditulis oleh para Rabi (pendeta Yahudi) secara syarah (penjelasan) dari kitab Thorah (Taurot). Dalam Talmud, dijelaskan sampai pada tingkat operasional bagaimana harus memperlakukan bangsa lain non-Yahudi yang mereka sebut ‘goyim’ itu. Bisa dikatakan bahwa isi Talmud seratus persen Nagitive Thinking !. Mencuri, berzina, memakan riba’, membunuh , dll, semua boleh dilakukan asalkan terhadap goyim !. Kalau sempat membaca seluruh isinya, bulu roma kita akan berdiri dan akan timbul istilah yang lebih tepat untuk menyebut kitab tersebut sebagai ‘Kitab Suci Setan !”.

Bukti lain bagaimana bangsa Yahudi (dan Nashrani) secara maksimal dan optimal berusaha menghancurkan Islam sehabis-habisnya adalah sebuah dokumen rahasia yang ditemukan pada awal abad ke-18, sebuah dokumen rahasia Draft Protocols of Zion, yang ditulis oleh Adam Weishaupt (dibantu oleh penulis Jerman, Herr von Swack), pejabat pastor katholik ordo Jesuit yang direkrut oleh kelompok ‘Illuminati’ atau kelompok rahasia (secret Society) yang juga melegendakan dirinya sebagai kelompok Luciver atau Iblis Pembawa Cahaya. Pada tahun 1770 ia mulai membuat blue-print tentang penguasaan dunia melalui penghancuran agama-agama, kerajaan-kerajaan, dan pemerintahan-pemerintahan di muka bumi. Adapun bunyi naskah terse but adalah sbb :

“Rahasia pertama untuk mengarahkan opini umum ke dalam kekuatan kita adalah bahwa kita harus menciptakan kebingungan massal, dengan cara membuat pernyataan-pernyataan dari berbagai arah mengenai opini-opini yang kontradiktif sepanjang waktu, sehingga cukup untuk membuat goyim kehilangan akal sehatnya”.

“Rahasia kedua yang kita perlukan demi suksesnya pemerintahan kita adalah melipat-gandakan sehabis-habisnya kegagalan nasional, perilaku buruk, nafsu angkara murka, dan ke-amburadul-an kehidupan masyarakat, sehingga dalam kondisi kacau-balau (chaos) yang kita ciptakan itu tidak memungkinkan bagi setiap orang untuk menyadari dimana mereka sebenarnya, dengan demikian rakyat tidak akan dapat saling memahami antar sesamanya”. (lihat : “Tesis-Antitesis Penghancuran Bangsa-bangsa dan Agama, Jurnal Research, Vol.I/ nomor.1)

Alangkah dahsyat badai peperangan yang mereka lancarkan kepada kita umat islam, sehingga kita semua seolah-olah sudah kalah, bangkrut, dan tak mungkin untuk menang”. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS.Al Baqarah : 120). Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. (QS.Al Maaidah : 82).

Sebenarnya masih ada satu harapan yang masih dipunyai oleh orang-orang beriman, yaitu do’a. Karena do’a adalah senjata orang-orang beriman & merupakan inti ibadah kepada Allah SWT. Betapa naifnya apabila kita telah mengetahui hal di atas tetapi masih terjebak oleh perangkap-perangkap mereka ?. Penulis bukan berarti menyalahkan total masalah ‘Positive Thinking’ seperti yang telah diikuti mayoritas umat dan kebanyakan ulama, tetapi menyayangkan ketidak-tepatan waktu dan tempat dalam menerapkannya.

(sumber : Aplikasi Islam Dalam Wilayah Kuadran, Arif Fadhillah-M.Muntasir Alwi, Pilar Press, edisi pertama, Muharram 1426/Pebruari 2005, hal 20-22)

note :“Dan berilah peringatan kepada kerabatmu terdekat” (QS.Asy-Syu’araa : 214) “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS.Adz-Dzaariyaat : 55)

Larangan Perang Saudara :

Dari Jabir (bin Abdullah Albajali) ra., Nabi SAW bersabda kepadanya ketika Haji Wada’ (Haji Penghabisan), “Suruh tenanglah orang banyak itu !”. Kemudian beliau bersabda lagi :”Janganlah kamu kafir kembali sesudahku, dimana sebagian kamu memenggal leher yang lain.*) (Shahih Bukhari no.87)
penjelasan :
*) Sebagai pemimpin yang berpandangan jauh ke depan, Rasulullah telah dapat meraba akan terjadinya perang saudara sesama umat Islam setelah beliau wafat. Karena itu jauh-jauh sebelumnya Rasulullah mengingatkan dan mencegah agar hal yang tidak diinginkan tersebut tidak sampai terjadi.

Tidak Boleh Menganiaya Sesama
Dari Abdullah bin Umaar ra., Rasulullah SAW bersabda :”Orang Islam itu saudara orang Islam; ia tidak menganiayanya dan tidak pula membiarkannya teraniaya. Siapa yang menolong keperluan saudaranya, Allah akan menolong keperluannya pula. Siapa yang menghilangkan kesusahan orang Islam, Allah akan menghilangkan kesusahannya di hari kiamat. Siapa yang menutup rahasia orang Islam, Allah akan menutup rahasianya di hari kiamat nanti.” (Shahih Bukhari no.1168)

(sumber : Terjemah Hadits Shahih Bukhari, A.Rahman Zainuddin MA, penerbit Wijaya Jakarta , cet.13/1992)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 028/th.03/DzulHijjah-Muharram 1428H/2007M


ORIENTALISME (bag.1)

April 19, 2007

 

Pengantar Redaksi (Swaramuslim.net) :

Upaya melawan dan membendung penyakit pluralisme, liberalisme, sekulerisme, inklusifisme dan sebagainya, yang kini marak, sebenarnya sudah dilakukan antara lain oleh Muhammadiyah melalui buku berjudul ORIENTALISME ini. Setelah hampir tiga puluh tahun, ternyata serangan itu semakin gencar, bahkan kini Muhammadiyah sendiri terjangkiti penyakit pluralisme, liberalisme, sekularisme, inklusifisme dan sebagainya itu, tidak saja melalui komunitas mudanya yang bernaung di bawah bendera JIMM, juga melalui tampilan beberapa tokoh tuanya Muhammadiyah. Redaksi Swaramuslim tertarik menerbitkan buku ini secara elektronik (e-books), setidaknya untuk mengingatkan kita bahwa upaya membendung dan melawan penyakit tersebut , karena yang pernah dilakukan senior-senior kita ternyata ternyata kalah pamor, juga kekurangan energi. Sehingga penyakit itu kini bersimaharajalela.

 

 

Pengantar Penulis :

Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin, washshalaatu wassalaamu’ala Rasulillahi,

Muhammadin wa ala aalihi washabihi ajma’iin amma ba’du.

Sesungguhnya orang-orang mu’min terutama Ulama dan para pemuka masyarakat yang di dalamnya memimpin ummat, menegakkan aqidah, menuju kebahagiaan yang diridhai oleh Allah SWT sesuai dengan tujuan Agama Islam yang digariskan Allah dan dipimpinkan oleh Rasul sebagai mubassyir, naziir, dain ilallah biizinihi, wa sirajan muniiran -yang harus diwarisi oleh Ulama-ulama dan Zu’ama Islam.

Untuk itu amat perlu bagi seorang mukmin, terutama da’i untuk mengenal posisinya sendiri, juga strategi dan taktik orang-orang di luar Islam. Di samping ummat Islam melakukan da’wah, lebih dahulu ia juga harus tahu tentang “apa dan siapa yg ingin menghambat kemajuan Islam; krn yang menghambat itu berarti memusuhi Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 257: “Allah adalah Pelindung (Pemimpin) bagi orang-orang beriman; Dialah yang melepaskan mereka dari ZHULUMAAT (gelap gulita dalam segala hal), ke dalam AN NUUR. Adapun orang-orang kafir, pemimpin-pemimpin mereka adalah Thaghut (Syaithan). Syaithan itulah yang menggiring mereka dari annur ke dalam zhulumaat; mereka itu adalah penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah ayat 257). Orang-orang beriman dlm menegakkan aqidah & ajaran Ilahi menuju keridhaan Allah; selalu mendapat rintangan, halangan dan kesulitan; baik yang nyata maupun tersem bunyi; yang halus maupun yang kasar; menghadapi rayuan atau tekanan/paksaan yang datang dari orang-orang yang pandai berbohong, menipu dan membingungkan; dengan menggunakan bermacam kekuatan, fasilitas dan mass media, yang berakibat langsung ataupun tidak langsung terhadap ummat Islam; sehingga banyak di antara ummat Islam yang menjadi lalai, lupa dan terpengaruh. Akibatnya kaum Muslimin tidak menyadari bahaya yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak menyukai Islam; bahkan sebagian kita merasakan seolah-olah faham dan sikap yang demikian sebagai ajaran Islam yang murni. Hal ini kalau dibiarkan begitu saja, akhirnya ummat Islam yang sudah terbius seperti itu akan jatuh ke tangan orang lain tanpa disadarinya; bahkan sebagian mereka sudah diperalat oleh orang luar Islam untuk mensirnakan agama Islam itu sendiri. Na’uzu billahi min zalik.

 

Untuk menghindarkan bahaya inilah kita ingin mengemukakan beberapa masalah yang ada hubungannya dengan persoalan tersebut di atas; yaitu “Bagaimana cara orang lain menghadapi Islam, melenyapkan Aqidah dan sekaligus menggerogoti ummatnya.” Bersama ini kami sajikan sebagian dari pendapat-pendapat dan fakta sejarah yang telah diteliti dari sumber AL ISTISYRAAQ (ORIENTALISME) oleh Doktor Abdul Mu’nim Moh Hasanain, yang menjelaskan sifat, sistim, cara dan strategi orang-orang yang tidak menyukai Islam (Orientalis). Semoga ummat Islam umumnya, Ulama, Zu’ama-zu’ ama dan cendekiawan serta sarjana Islam khususnya akan dapat mengetahui, menyadari dan berhati-hati, supaya kita semua selamat dari cengkeraman orang-orang yang tidak menyukai Islam dan memusuhinya. Wabillahit taufiq wal hidayah.

 

 

Jakarta, 2 Jumadilakhir 1396 (10 Mei 1978) – (penulis : Lembaga Penelitian dan Perkembangan Agama (LPPA) MUHAMMADIYAH)

 

 

MUQADDIMAH (dari penulis) :

Orientalisme adalah suatu gerakan yang timbul di zaman modern, pada bentuk lahirnya bersifat ilmiah, yakni mengadakan penelitian dan memperdalam masalah ketimuran. Tetapi di balik penelitian masalah ketimuran itu mereka berusaha memalingkan masyarakat Timur dari Kebudayaan Timurnya, berpindah mengikuti keinginan aliran Kebudayaan Barat yang sesat dan menyesatkan. Orientalis, adalah kumpulan Sarjana-sarjana Barat, Yahudi, Kristen, Atheis dan lain-lain, yang mendalami bahasa-bahasa Timur (bahasa Arab, Persi, Ibrani, Suryani dan lain-lain), terutama mempelajari bahasa Arab secara mendalam. Studi ini mereka gunakan untuk memasukkan ide-ide dan faham-faham yg bathil ke dalam ajaran Islam, agar aqidah, ajaran & da’wah Islam merosot, berkurang pengaruhnya terhadap masyarakat, tak berbekas dalam kehidupan, tidak mampu mengangkat derajat kemanusiaan, tidak berperan lagi untuk melepaskan manusia dari perhambaan pada makhluk, dan tujuan Islam tak kunjung tercapai dalam mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan (Zhulumaat: kufur, syirik, fasik, lemah, bodoh, tertindas, miskin, dijajah, dianiaya, dan dalam keadaan terbelakang dalam segala bidang) menuju An Nur (kebalikan dari Zhulumaat, yaitu bertauhid, iman, kuat, pintar, cerdas, adil, aman, makmur, maju dan lain sebagainya). Seperti kita ketahui, bahwa segala tipu daya dan kebatilan yang mereka resapkan sedikit demi sedikit telah masuk ke dalam kebudayaan Islam dan berakibat mengurangi peranan Islam dalam penyiaran ilmu pengetahuan yang telah membawa Eropa dari zaman pertengahan (masa kebodohan & kegelapan) ke masa kejayaan masa modern (yg sekarang telah menjadi kebanggaan para Sarjana Barat). Pihak Orientalisme berusaha keras menyerang Islam, dan menggerogoti da’wahnya, sebab mereka tidak mampu melepaskan diri dari pengaruh nafsu hendak memusuhi Islam yang mereka warisi. Usaha mereka itu tidak saja secara sembunyi-sembunyi dan menaburkan benih-benih keragu-raguan terhadap sumber Islam, memasukkan kebatilan-kebatilan ke dlm ajar an syari’at, menggiring ummat Islam ke dalam aliran fikiran yang sesat, dan menyerang bahasa Arab (bahasa al Qur’an), tapi juga terang-terangan membantu propaganda gerakan yang berselubung di bawah nama Islam yang menyesatkan. Juga para Orientalis memonopoli semua mass media, yang digunakan untuk membinasakan dan menjauhkan ummat Islam dari agamanya, bahkan merusakkan putra-putri Muslim yang belajar di sekolah-sekolah dan di negeri mereka.

 

 

Di bawah ini akan kita uraikan bahaya Orientalisme ini, tujuannya dalam memerangi Islam dan menggerogoti da’wah, alat yang dipergunakannya dalam usaha mereka baik yang nyata maupun yang tersembunyi, usaha dan langkah yang perlu kita laku kan untuk melepaskan bahaya, serta tangkisan kita terhadap tipu daya musuh-musuh Islam dan lain-lainnya.

 

 

1. Timbulnya Orientalisme.

Adalah salah orang yang berpendapat bahwa Orientalisme itu gerakan ‘ilmiah’ yang tujuannya hanya memperdalam masalah ketimuran saja (kepercayaan, adat dan peradabannya). Sebenamya Orientalisme hakekat dan kenyataannya adalah alat Penjajah; tujuan Orientalisme ini ialah: “memakai dan mempergunakan penelitian masalah ketimuran sebagai langkah untuk menyerang/memerangi Islam, menimbulkan rasa keragu-raguan terhadap sumber-sumber Islam agar ummat Islam berpaling dari agamanya, agar ummat Islam jangan sampai pada kemuliaan dan kekuatannya, tetapi hanya selalu mengekor kepada Barat, dan selalu taqlid masa bodoh dan apatis, melihat segala macam jenis kejahatan dan kemerosotan di negeri mereka. Orientalisme ini hakekatnya adalah lanjutan dari perang Salib, melawan Islam, sebab sebenarnya perang Salib ini belum berhenti, tetapi hanya mengambil bentuk dan warna yang berbeda, di antaranya Orientalis. Orientalis muncul dengan kedok sebagai para ahli untuk mengadakan riset dan survey tentang sesuatu bidang ilmu pengetahuan dengan maksud tertentu untuk memasukkan berbagai macam fitnah, menebarkan isue-isue; melampiaskan segala isi hatinya dan kedengkiannya terhadap Islam, dan menulisi Islam dengan pena yang beracun.

Para Orientalis terang-terangan menolak sistim ilmu Islam yang asli. Ini berakibat menyimpangnya ummat dari hakekat kebenaran, dan meninggalkan hukum Islam. Orientalis tidak mungkin membiarkan Islam terlaksana di tengah-tengah masyarakat. Para Orientalis adalah antek-antek penjajah Barat terhadap Negeri-negeri Timur dan Negeri Islam, karena gerakan Orientalis ini adalah lanjutan dari Perang Salib dalam bentuk yang lain. Gerakan Orientalis berkembang pesat dan sudah sampai berlangsung selama dua abad, perubahan yang bergerak sebagai salah satu bentuk penjajahan.

Asal kata “Orientalisme” bahasa Arabnya al istisyraaq, mashdar fiil: Istasyraqa. Artinya, “mengarah ke Timur dan memakai pakaian masyarakatnya.” Para Orientalis (al Mustasyriqun) mendalami bahasa-bahasa Timur sebagai langkah untuk mengarah ke sana. Masing-masingnya mempelajari satu bahasa atau bermacam-macam bahasa Timur, seperti bahasa Arab, bahasa Parsi, bahasa Ibrani, bahasa Urdu, Suryani, Indonesia, Melayu, Cina dan lain-lain. Sesudah itu mereka mempelajari bermacam-macam ilmu pengetahuan, kesenian, adab/sastra, kepercayaan masyarakat yang mempunyai bahasa tersebut di atas dan lain-lainnya. Bahasa Arablah yang menjadi sasaran utama dari tujuan para Orientalis ini. Memang para Orientalis sudah banyak yg mempelajari bahasa Arab, dan menjadi spesialis dalam ilmu bahasa, seperti ahli Nahwu, ahli Shorof, ahli Sastra (Adab) dan ahli Balaghah. Kemudian mereka mulai menjurus pada ilmu-ilmu Islamiyah, seperti: Aqidah, Syari’ah dan lain-lain, dan seterusnya menambah Aqidah dan Syari’ah yang murni itu dengan kebatilan-kebatilan untuk mengaburkan hakekat Islam dan memalingkan ummat dari agamanya yang menunjukinya ke jalan kemajuan dan kemuliaan. Tujuan tersebut telah terlaksana dan mempengaruhi kebudayaan negeri-negeri Islam. Bukti yang paling jelas mengenai hubungan Orientalisme dengan penjajahan yaitu bahwa pasaran Orientalisme sangat pesat di Eropa, Amerika dan negara-negara yang ada kepentingannya dengan negara Timur umumnya dan negara-negara Islam pada khu susnya. Kesempatan yang lebih luas lagi bagi Orientalisme di negara-negara jajahan digunakan untuk mengendalikan peperangan di negara-negara Timur dalam segala bentuknya, yang dikenal di zaman modern, baik perang bersenjata (militer) maupun perang ekonomi, politik atau kebudayaan atau perang fikiran. Bahkan hampir tidak terdapat Kedutaan-kedutaan Negara-negara Penjajah di negeri-negeri Timur dan negara-negara Islam yang tidak ada di dalamnya. Orientalis yang menduduki posisi /jabatan-jabatan strategis pada kedutaan itu, baik diplomat atau pegawai biasa.

 

Sesungguhnya ikatan Orientalisme dengan penjajah dan antek-anteknya menjadikan Orientalisme selalu meningkatkan usahanya dalam menyesatkan Islam dan menggerogoti da’wah Islamiyah. Mereka menggunakan semua alat, dalam penyesatan tersebut, sebab agama yang maha suci inilah satu-satunya penghalang yg tangguh dalam menghadapi penjajahan dan perhambaan kepada selain Allah Para Orientalis mengetahui betul dalam penelitiannya terhadap Islam bahwa aqidah Islam menanamkan dasar-dasar yang kokoh sesuai dengan fitrah kemanusiaan, umum dan logis, sesuai dengan akal yang jernih, serta textnya (nash-nash) yang tegas, di mana tidak memungkinkan bagi akal (otak) para ahli fikir dan filosof untuk membatalkan pokok yang satu ini dari sumbernya, hal itu berlaku apabila ummatnya sudah terbiasa dengan manhaj ilmu yang benar. Justru karena itu sejak dahulu, sejak timbulnya Orientalisme selalu menanamkan bibit-bibit penyelewengan terhadap Da’wah Islam dengan memasukkan kebatilan-kebatilan, dengan kedok penelitian dan pembahasan ilmiah yang terselubung. Dengan demikian nyatalah bahwa Orientalisme merupakah pelindung musuh-musuh Islam, Penjajah, Atheis, Zionis dan lain-lain. Di balik nama Orientalisme ini bernaung apa yang dikatakan penganut faham Komunis yang berbahaya, merusak, dan para penyokong aliran-aliran atheisme di zaman modern. Mereka menghimpun segala kemarahan dan kebencian terhadap Islam; lantaran Islam itu berasaskan Tauhid dan merupakan Risalah Ilahiyah yang bertitik tolak dan memusatkan segala-galanya kepada Allah. Semua Rasul Allah selalu memulai da’wahnya terhadap kaum/ummatnya dengan perkataan :”Sembahlah olehmu Tuhan-mu; tak ada Tuhan selain Dia.” Agama adalah fitrah yang diberikan Allah kepada manusia, yang hakekat fitrah manusia pun sesuai dengan agama itu, dan Tauhid yang sangat sesuai dengan jiwa manusia; hanya Iblis dan Syaithanlah yang memalingkan dan mempengaruhi manusia kepada penyembahan thaghut, patung, batu, syaithan, api, manusia, dan lain-lain.

Aqidah Islam adalah aqidah yang jelas dan tegas, jauh dari keraguan dan sangkaan serta khayalan (imajinasi). Dengan aqidah yang betul, manusia mampu mengendalikan hawa nafsunya; dan aqidah inilah yang diperkokoh oleh akal supaya tetap baik dan sampai pada hakekat yang sebenarnya. Dengan begitu jelaslah bahwa Orientalisme adalah alat yang dipakai oleh musuh-musuh Islam yang ingin merusak dan menggerogoti da’wah & ajaran Islam yang sangat sesuai dengan fitrah manusia tersebut. Para Orientalis berusaha keras memerangi Islam dengan segala cara, gaya dan dayanya dan dengan berbagai bentuk; karena tujuan mereka terang-terangan anti dan ingin menghancurkan Islam. Syukur, Allah selalu melindungi ummat Islam dan menenangkan ummat Islam, betapapun benci dan lihainya orang kafir.

 

 

2. Usaha Orientalisme Dalam Memerangi Islam Dengan Bersenjatakan Ilmu.

Para Da’i dan Ummat Islam yang antusias terhadap Da’wah Islamiyah selayaknya mengetahui dan mendalami usaha-usaha yang dilakukan oleh para Orientalis dalam memerangi Islam sebab mereka itu hakekatnya adalah musuh Islam yang paling keras. Mereka (Orientalis) menjadikan ilmu sebagai alat untuk menggerogoti da’wah Islam dan bersembunyi di balik topeng-topeng pembahasan & penelitian ilmiyah. Sebenarnya mereka itu memasukkan bibit-bibit (benih-benih) kebatilan terutama sekali ke dalam Syari’ah Islamiyah, masalah-masalah Fiqih, muamallah dan lain-lain, dimana dengan sengaja mereka membikin hal-hal yang menyesatkan terhadap Angkatan Muda Islam, yang belajar kepada mereka, memantapkan serta memberikan hal-hal yang membuat orang bungkam dan merasa cukup terhadap fikiran-fikiran yg merusak dan berbahaya, dan menarik secara halus agar para mahasiswa yang belajar dengan Orientalis dan yg belajar di negara-negara tersebut (Barat), kemudian bergabung dengan mereka (Orientalis) dalam merusak dan mencari-cari kejelekan Islam, tanpa mereka sadari. Bahkan ada Universitas Orientalis yang mensyaratkan adanya kemampuan mahasiswanya untuk menjelaskan kejelekan Islam bila mereka hendak mendapat degree kesarjanaan (sertifikat/tanda kelulusan).

 

Adapun tulisan-tulisan para Orientalis yang berkenaan dengan Risalah Islamiyah, Rasul-rasul dan lain-lain, tegas-tegas membongkar rahasia kebenciannya yang terpendam terhadap Islam. Salah satu contoh dapat kita kemukakan di sini, yaitu sebagaimana yang ditulis oleh salah seorang Orientalis yang bernama Gold Tziher (Buku-buku karangan Gold Tziher ini di zaman Belanda dijadikan standard pengetahuan agama di Fakultas-fakultas Hukum). Untuk mengetahui maksud jahat mereka dan peranannya dalam menindas Islam dan menggerogoti da’wah Islamiyah dengan menggunakan ‘ILMU’ sebagai alat dalam mencapai tujuannya.

Orientalis tersebut mengatakan dalam buku yang dikarang oleh Gold Tziher, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Dr.M.Yusuf Musa dkk, berjudul AL AQIDAH WAS SYARI’AH FIL ISLAM, halaman 15, berbunyi :”… Maka pemberitaan-pemberitaan kegembiraan oleh Nabi Arab itu bukanlah suatu yang baru, melainkan hanya merupakan kutipan-kutipan yang diambilnya dari pengetahuan-pengetahuan dan pokok-pokok fikiran agama-agama yg diketahuinya atau diperolehnya akibat hubungannya dengan tokoh-tokoh Yahudi atau Kristen dan lain-lain. Hal itulah yang berbekas dan berpengaruh pada Muhammad secara mendalam, yang menurut dia (Muhammad) pantas sekali untuk membangunkan jiwa dan perasaan keagamaan yang sejati di kalangan anggota-anggota kaumnya.” Ini adalah perkataan yang berbisa, yang diulang-ulang oleh para Orientalis yang terang-terang benci/sentimen, seperti: da’wah yang pernah dilancarkan oleh kaum Musyrikin sejak 14 abad yang lalu, yang langsung dibalas oleh Allah SWT, sehingga Allah membongkar rahasia, akal dan perbuatan jahat mereka, dalam surat Al Furqan ayat 4-6 :”Orang-orang Kafir itu berkata, “Ini tidak lain dari kata-kata dongeng yang diadakan oleh Muhammad dan ditolong oleh kaum lain; dengan perkataannya itu mereka sudah mengerjakan keaniayaan dan dosa besar.” Orang Kafir itu berkata lagi, “Adalah dongeng orang-orang dahulu kala yang dikutipnya; dan itulah yang didiktekan kepadanya pagi dan sore (terus-menerus). Katakanlah (hai Muhammad), Ajaran ini diturunkan oleh Yang Maha Tahu rahasia langit dan bumi, dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (al Furqan 4-6). Kemudian Allah membantah dan mematahkan alasan-alasan kaum musyrik tersebut dengan firman–Nya :”Jika kamu ragu pada apa yang Kami turunkan pada hamba-Ku, maka datangkanlah satu surat yang serupa Qur’an itu, panggil saksi-saksimu yang selain Allah, jika kamu benar, andaikata kamu tidak sanggup membuatnya, dan pasti kamu tidak akan sanggup berbuat itu, maka takutlah kamu pada api neraka yang sebagai kayu bakarnya ialah manusia dan batu yang disediakan untuk orang-orang kafir.” (al Baqarah 23).

 

Gold Tziher dan konco-konconya di kalangan Orientalis adalah musuh Islam, melakukan pemurtadan seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik Quraisy dahulu kala yang bersikap menentang dan angkuh. Sedangkan orang musryik Quraisy yg masih adil (sopan) dalam pembangkangannya, dan akhirnya mereka itu masuk ke dalam agama Islam dan ikut berjihad pada jalan Allah, dan bahkan menjadi pahlawan-pahlawan perang menghadapi musuh-musuh Islam. Adapun Orientalis selalu saja menyerang Islam, menggerogoti da’wah dengan membikin keragu-raguan di dalam pemahaman Al Qur’an. Menimbulkan waham (pendangkalan faham) dengan memutarbalikkan fakta, dengan membuat hadis-hadis palsu atau mengatakan bahwa Rasul sendiri (Muhammad) pernah melampaui ketentuan wahyu karena menasakhkan (membatalkan) wahyu yang pernah turun dengan perintah Allah. Begitulah dakwaan Orientalis tersebut, sebagaimana bisa dilihat pada buku berjudul Aqidah was Syari’ah fil Islam karangan Gold Thiher halaman 41.

 

Jelaslah kebencian Orientalis ini, bahkan kebencian itu sudah mempengaruhi otaknya, karena akalnya yang sehat sudah dipengaruhi oleh hatinya yang benci, dimana dia mengakui bahwa Muhammad itu Rasulullah, yang merubah Risalah Tuhan-nya atas perintah Tuhan karena situasi yang memaksa. Apakah ini masuk di akal ? Siapakah Rasul yang membawa Risalah yang berani mendustakan Allah, dan tetap sebagai Rasul ? Tidakkah perkataan Orientalis tersebut suatu kebencian yang merusak akalnya sendiri dan memutar-balikkan fakta ? Tidakkah pernah orang yang benci itu membaca ayat Allah yang menangkis tuduhan bohong orang musyrik, yang mengatakan bahwa Muhammad mengada-adakan kebohongan-kebohongan ?. Yaitu surat Al-Haqqah ayat 44-47 :”Kalau dia (Muhammad) berkata kepada Kami perkataan-perkataan yang lain, niscaya akan Kami tarik dia dengan kekuatan dan kemudian akan Kami putuskan hubungan yang kuat itu dengannya, maka tidak akan ada seorang pun yang mampu menghalanginya (membelanya).”

Permusuhan Orientalis terhadap Islam sudah nyata sekali, baik melalui perkataan (lisan), tulisan-tulisan yang beracun, maupun yang tersembunyi di dalam hatinya. Ummat Islam harus bersikap hati-hati dan berusaha membongkar kepalsuan, tipudaya kaum Orientalis yang berselubung di balik semboyan “kebijaksanaan atau logika” dan ummat Islam wajib kerja keras melaksanakan Risalah Islamiyah sampai meresap ke dalam akal fikiran dan perasaan dan dapat diwujudkan dalam kenyataan hidup. Kita membaca tulisan-tulisan Orientalis mengenai Islam, memasukkan kata-kata tuduhan di sana-sini, maka berbuatlah karena dia ibarat pembunuh yang menyerang orang yang lengah. Betapa banyak para ilmuwan Islam yang tertipu oleh Orientalis ini, dan mentah-mentah mengambil keterangan, sebagai hukum positif tanpa kritik, bahkan ikut serta bergabung dengan Orientalis tersebut dalam memerangi Islam, penggerogotan Da’ wah, penyesatan, dan menganggap bahwa teori mereka adalah program yang terbaik. Na’uzubillah min zalik.

Para Orientalis pada umumnya mempelajari Islam, dengan niat untuk menghimpun tuduhan terhadap Islam dengan kedok, selubung ilmiah, penelitian dan survey tentang hakekat Islam, akan tetapi kefanatikannya mengalahkannya dari mengatakan kalimat haq. (bersambung ke bag.2)

 

 

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 024/th.02/Jumada Al Tsani-Rajab 1427H/2006M