Apakah Benar ‘Ilmu-Ilmu Aneh’ Bebas Jin ?

Mei 16, 2007

 

Pertanyaan :

Assalamualaikum wr. wb. Pak Ustadz yang semoga dimuliakan Allah, saya ingin bertanya tentang penjelasan ayat-ayat Al Qur’an di bawah ini :”Lalu Kami tundukkan angin kencang untuk dia, angin mana saja dapat berhembus ke mana saja menurut kemauannya. Dan Kami tundukkan pula untuk dia syetan-syetan, semuanya ahli bangunan dan penyelam. Dan syetan-syetan yang lain yg membangkang bersama-sama diikat dengan belenggu. Inilah tiga ni’mat utama yang Kami karuniakan kepadamu, boleh engkau berikan kepada orang lain atau engkau tahan untuk dinikmati sendiri tanpa pertanggung-jawabannya.” (QS Shaad: 36-39)

 

Dari sebuah forum diskusi salah satu perguruan beladiri tenaga dalam dan tenaga metafisik, saya mendapatkan ayat-ayat di atas dijadikan argumen dengan pembenaran adanya kemampuan manusia memiliki ilmu-ilmu tertentu dengan cara dipelajari, tetapi bebas dari unsur jin. Dari pemahaman saya selama ini, bahwa kekuatan-kekuatan ‘hebat’ yang didapat manusia, ada karomah, maunah dan sihir (terlepas dari mukjizat), yang hanya bisa dipelajari dan diajarkan kepada orang lain adalah sihir, sedangkan yang lain adalah bonus dari Allah dan tidak bisa dipakai seenaknya dan tidak pula dipelajari/diajarkan. Tetapi, dengan argumen ayat terakhir di atas, ada yang berpendapat bahwa, sampai mukjizat pun bisa diajarkan, walaupun para nabi memilih tidak untuk diajarkan. Jadi pilihannya simpan sendiri atau diajarkan dengan tanggungjawab nanti kepada Allah..

Bagaimana ini, pak Ustadz ? Apa benar ilmu-ilmu ‘aneh’ seperti terawangan, melepas sukma, asihan dan ilmu-ilmu lainnya memang bisa dipelajari tanpa ada unsur jin di dalamnya. Dan sebenarnya bagaimana penafsiran ayat-ayat di atas, apakah dikhususkan untuk nabi Sulaiman saja, atau manusia secara umum ?

 

Catatan:

Teknik latihan perguruan yang saya maksud tadi, memang sejauh yang saya perhatikan, tidak ada unsur syirik/bid’ah di dalamnya. Tidak ada amalan tertentu, atau bacaan wirid-wirid tertentu, murni pelatihan fisik, walaupun ada namanya transfer energi metafisik. Syukron atas penjelasannya.

 

Wassalamualaikum wr. wb. (Zaid)

 

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

Kalau pendapat tentang adanya ilmu-ilmu ghaib yang non jin itu memang benar-benar bersih tanpa dosa dari Allah, maka yang menjadi pertanyaan adalah : mengapa dahulu Rasulullah SAW dan para shahabatnya tidak menggunakannya ? Mengapa para shahabat sampai berguguran di medan jihad? Sedemikian banyak di antara mereka yang putus tangannya, ada yang mati kena panah, tombak, pedang dan lainnya. Mengapa tidak ada satu pun yang mempelajarinya ? Dan mengapa Rasulullah SAW tidak memerintahkan para shahabat untuk mempelajari ilmu pernafasan dan sejenisnya ? Apakah ilmu metafisik itu belum dikenal di negeri Arab saat itu ? Kalau belum dikenal, bagaimana Rasulullah SAW bisa berperang dengan teknik menggali parit (Khandaq), padahal dimasa itu bangsa Arab sama sekali belum pernah mengenalnya ?

Padahal segala macam teknik bela diri dan faktor-faktor kekuatan telah digunakan di masa itu. Bukankah Rasulullah SAW sampai memerintahkan umatnya untuk mengajari anak-anak belajar memanah, berenang dan naik kuda? Kalau memanah dan naik kuda, mungkin masih masuk akal. Tapi buat apa Rasulullah SAW sampai memerintahkan belajar berenang ? Bukankah di pasang pasir tidak ada kolam renang, rawa, sungai atau pun danau ?.

 

Jawabnya sederhana, yaitu Rasulullah SAW telah memprediksi bahwa setiap mujahidin harus siap menghadapi beragam tantangan, bahwa meski yang tidak terbayangkan ada di padang pasir. Sebagaimana firman Allah SWT :”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya. (QS Al-Anfal: 60). Di ayat ini ditegaskan bahwa segala jenis kekuatan apa saja harus dipersiapkan, lalu baru kemudian dicontohkan dengan kuda yang tertambat.

 

Tapi mengapa tidak pernah ada satu riwayatpun yang menyebutkan bahwa salah seorang shahabat mendalami ilmu pernafasan yang bisa melahirkan kekuatan metafisik (ghaib) ?. Hal-hal ghaib memang seringkali terjadi pada diri Rasulullah SAW dan para shahabat. Semua itu merupakan ta’yidullah (sokongan dari Allah) kepada hamba-Nya karena mereka memperjuangkan agama-Nya. Dan sama sekali bukan dengan cara dipelajari, melainkan semata-mata pertolongan yang datang begitu saja. Dalam hal ini dikatakan sebagai mukjizat nabi SAW & karamah para shahabat. Sedangkan ayat yang anda kutip yaitu Surat Shaad ayat 36-39 itu memang khusus hanya kepada Nabi Sulaiman saja. Perhatikan kaitan ayat itu dengan ayat sebelumnya, yaitu ayat 34, dimana Allah SWT menyebutkan bahwa semua ini merupakan fitnah (ujian) buat Nabi Sulaiman as. Di dalam ayat 35 bahkan disebutkan bahwa kerajaan seperti itu tidak akan lagi bisa dimiliki oleh siapapun sepeninggalnya. Sedangkan nabi-nabi yang lain tidak pernah diberikan kemampuan yang bisa menggerakkan syetan, angin dan lainnya. Kecuali dengan doa dan atas kehendak Allah SWT. Termasuk nabi Muhammad SAW pun tidak punya. Lagi pula apa yang tertera di dalam ayat itu sama sekali tidak mengandung pembenaran bila dilakukan oleh manusia biasa. Ayat itu jelas-jelas berkisah tentang Nabi Sulaiman dan hanya terjadi padanya saja. Maka meski tanpa wirid, zikir atau syarat-syarat lainnya, sihir memang bisa dilakukan oleh siapa saja yang diberikan ilmu tersebut.

 

Tidak selalu syetan itu mensyaratkan untuk berwirid, berzikir atau melakukan ritual-ritual khusus bila ingin memberikan kemampuan sihir kepada manusia. Bukankah para penyihir di barat pun bisa melakukannya tanpa harus baca-baca wirid tertentu, juga tanpa membaca ayat-ayat tertentu ?. Sebab buat syetan, yang penting seseorang itu mau menjalankan maksiat, pelanggaran atau syirik kepada Allah SWT, demi menemaninya di dalam neraka. Tentang teknis dan caranya, itu bisa-bisanya syetan. Wallahu a’lam bish-shawab. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh – (oleh : Ustadz Ahmad Sarwat, Lc).

 

http://eramuslim.com/ks/us/57/19954,1,v.html

 

Wali Songo Akulturasikan Budaya dan Agama yang Saling Menguntungkan

 

Jakarta, NU Online – Kesuksesan pengembangan agama Islam di Indonesia dikarenakan karena dakwah yang dilakukan oleh para walisongo dengan melakukan akulturasi yang erat dalam karakter budaya masing-masing daerah dengan agama. Walisongo melakukan penyebaran Islam secara step by step, tidak radikal. Dicontohkannya Indonesia sebelum masuk Islam kuat sekali ajaran Hindu dan Budhanya. Mereka menganggap suci hewan sapi. Ketika umat Islam, saat Idul Adha kita diwajibkan berkurban , para walisongo mengganti sapi dengan kerbau sebagai bentuk toleransi kepada ummat lainnya. “Maka dari itu, ajaran walisongo merupakan ajaran yang jauh dari radikalisme dan kekerasan,” demikianlah pernyataan KH.Hasyim Mudzadi.

Pengasuh Ponpes Mahasiswa Al Hikam Malang tersebut juga menjelaskan bahwa para walisongo tersebut juga sudah punya setting hubungan antara agama dan negara. Saat Jakfar Shodik atau Sunan Kudus mendirikan kerajaan Demak, bukan dinamakan sebagai kerajaan Islam Demak, tetapi kerajaan Demak Bintaro. “Inilah tata hubungan agama dan negara yang harmonis yg dibangun oleh walisongo,” paparnya. Tuduhan adanya sinkretisme yang dilakukan oleh para walisongo dalam berdakwah juga ditolak oleh mantan ketua PWNU Jatim tersebut. Kondisi masing-masing wilayah berbeda sehingga harus digunakan pendekatan yang berbeda. “Mindset budaya yang berbeda dengan timur tengah harus disetel berbeda dalam melihat hubungan negara dan agama,” imbuhnya. Namun diakuinya bahwa saat pengislaman yang dilakukan para wali, sedang berlangsung ajaran-ajaran kebatinan, banyak diantara proses tersebut belum selesai dan mereka keburu meninggal sehingga masih ada beberapa ajaran berbau kebatinan seperti kepercayaan pada Nyi Roro Kidul, Nyi Blorong, Mak Lampir dan lainnya sampai saat ini masih melekat dalam masyarakat. Beliau juga meminta kepada masyarakat agar ketika berziarah juga memahami latar belakang, sejarah, dan perjuangan para wali dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia, bukan hanya ziarah saja.

 

http://www.nu.or.id/data_detail.asp?id_data=5797&kategori=WARTA

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M

Iklan

TASAWUF DIANTARA PENGANUT DAN PENGELAK

Mei 16, 2007

 

Pertanyaan :

Kapan lahir dan berkembangnya ilmu tasawuf, dan apa pula keistimewaanya ? Apa alasan orang-orang yang menolaknya dan bagaimana dalilnya bagi orang-orang yang memujinya ?

 

Jawab :

Masalah tasawuf ini pernah dibahas, tetapi ada baiknya untuk diulang kembali, sebab masalah ini amat penting untuk menyatakan suatu hakikat dan kebenaran yang hilang di antara orang-orang yang mencela dan memuji tasawuf tersebut secara menyeluruh. Dengan penjelasan yang lebih luas ini, semoga kiranya dapat membuka tabir yang menyelimuti bagian yang cerah ini, sebagai acuan bagi orang yang hendak meninjau ke arah itu, misalnya ahli suluk yang berjalan ke arah Allah.

 

Di zaman para sahabat Nabi saw, kaum Muslimin serta pengikutnya mempelajari tasawuf, agama Islam dan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, tanpa kecuali. Tiada satu bagian pun yang tidak dipelajari dan dipraktekkan, baik lahir maupun batin; urusan dunia maupun akhirat; masalah pribadi maupun kemasyarakatan, bahkan masalah yang ada hubungannya dengan penggunaan akal, perkembangan jiwa dan jasmani, mendapat perhatian pula. Timbulnya perubahan dan adanya kesulitan dalam kehidupan baru yang dihadapinya adalah akibat pengaruh yg ditimbulkan dari dalam dan luar. Dan juga adanya bangsa-bangsa yang berbeda paham dan alirannya dalam masyarakat yang semakin hari kian bertambah besar. Dalam hal ini, terdapat orang -orang yang perhatiannya dibatasi pd bagian akal, yaitu Ahlul kalam, Mu’tazilah. Ada yang perhatiannya dibatasi pada bagian lahirnya (luarnya) atau hukum-hukumnya saja, yaitu ahli fiqih. Ada pula orang-orang yang perhatiannya pada materi dan foya-foya, misalnya orang-orang kaya, dan sebagainya. Maka, pada saat itu, timbullah orang-orang sufi yg perhatiannya terbatas pada bagian ubudiah saja, terutama pada bagian peningkatan dan penghayatan jiwa untuk mendapatkan keridhaan Allah dan keselamatan dari kemurkaan-Nya. Demi tercapainya tujuan tersebut, maka diharuskan zuhud atau hidup sederhana dan mengurangi hawa nafsu. Ini diambil dari pengertian syariat dan takwa kepada Allah.

 

Disamping itu, kemudian timbul hal baru, yaitu cinta kpd Allah (mahabatullah). Sebagaimana Siti Rabi’ah Al-Adawiyah, Abu Yazid Al-Basthami, dan Sulaiman Ad-Darani, mereka adalah tokoh-tokoh sufi. Mereka berpendapat sebagai berikut : “Bahwa ketaatan dan kewajiban bukan karena takut pada neraka, dan bukan keinginan akan surga dan kenikmatannya, tetapi demi cintanya kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya, supaya dekat dengan-Nya.” Dalam syairnya, Siti Rabi’ah Al-Adawi yah telah berkata :”Semua orang yang menyembah Allah karena takut akan neraka & ingin menikmati surga. Kalau aku tidak demikian, aku menyembah Allah, karena aku cinta kepada Allah dan ingin ridhaNya.”

Kemudian pandangan mereka itu berubah, dari pendidikan akhlak dan latihan jiwa, berubah menjadi paham-paham baru atas Islam yang menyimpang, yaitu filsafat; dan yang paling menonjol ialah Al-Ghaulu bil Hulul wa Wahdatul-Wujud (paham bersatunya hamba dengan Allah). Paham ini juga yang dianut oleh Al-Hallaj, seorang tokoh sufi, sehingga dihukum mati tahun 309H. krn ia berkata, “Saya adalah Tuhan.”

 

Paham Hulul berarti Allah bersemayam di dalam makhluk-Nya, sama dengan paham kaum Nasrani terhadap Isa Al-Masih. Banyak di kalangan para sufi sendiri yang menolak paham Al-Hallaj itu. Dan hal ini juga yang menyebabkan kemarahan para fuqaha khususnya dan kaum Muslimin pada umumnya.

Filsafat ini sangat berbahaya, karena dapat menghilangkan rasa tanggung jawab dan beranggapan bahwa semua manusia sama, yang jahat maupun yang baik; dan yang bertauhid maupun yang tidak, semua makhluk menjadi tempat bagi Tajalli (kasyaf) Al-Haq, yaitu Allah. Dalam keadaan yang demikian, tentu timbul asumsi yg bermacam-macam, ada yang menilai masalah tasawuf tersebut secara amat fanatik dengan memuji mereka dan menganggap semua ajarannya itu baik sekali. Ada pula yang mencelanya, menganggap semua ajaran mereka tidak benar, dan beranggapan aliran tasawuf itu diambil dari agama Masehi, agama Budha, dan lain-lainnya.

Secara obyektif bahwa tasawuf itu dapat dikatakan sebagai berikut :”Tasawuf ada dalam Islam dan mempunyai dasar yang mendalam. Tidak dapat diingkari dan disembunyikan, dapat dilihat dan dibaca dalam Al-Qur’an, Sunnah Rasul saw. dan para sahabatnya yang mempunyai sifat-sifat zuhud (tidak mau atau menjauhi hubudunya), tidak suka hidup mewah, sebagaimana sikap khalifah Umar r.a, Ali r.a, Abu Dar da’, Salman Al-Farisi, Abu Dzar r.a. dan lainnya.”

 

Banyak ayat Al-Qur’an yang menganjurkan agar mawas diri dari godaan yang berupa kesenangan atau fitnah dunia. Tetapi hendaknya selalu bergerak menuju ke jalan yang diridhai oleh Allah swt. dan berlomba-lomba memohon ampunan Allah swt, surga-Nya dan takutlah akan azab neraka. Dalam Al-Qur,an dan hadis Nabi saw. juga telah diterangkan mengenai cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya dan cinta hamba-Nya kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Qur,an :

“Adapun orang-orang yg beriman cintanya sangat besar kepada Allah …” (QS. Al-Baqarah: 165).

“… Allah mencintai mereka & mereka pun mencintai-Nya …” (QS. Al-Maidah: 54).

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjihad di jalan Allah dalam barisan yang teratur (tidak tercerai-berai) …” (Q.s. Ash-Shaff: 4).

Diterangkan pula dalam Al-Qur’an dan hadis mengenai masalah zuhud, tawakal, taubat, syukur, sabar, yakin, takwa, muraqabah (mawas diri), dan lain-lainnya dari maqam-maqam yang suci dalam agama. Belum banyak golongan lain yang memberi perhatian penuh dalam menafsirkan, membahas dengan teliti dan terinci, serta membagi segi-segi utamanya maqam ini sebagaimana para sufi. Mereka amat mahir menelaah dan mengetahui akan penyakit jiwa, sifat-sifatnya dan kekurangan yang ada pada manusia, mereka ini ahli dalam ilmu pendidikan yang dinamakan Suluk. Tetapi, tasawuf tidak berhenti hingga di sini saja dalam peranannya di masa permulaan, yaitu adanya kemauan dalam melaksanakan akhlak yg luhur dan hakikat dari ibadat yg murni semata untuk Allah swt. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauzi, yaitu :”Ilmu tasawuf itu, kemudian akan meningkat ke bidang makrifat perkenalan, setelah itu ke arah khasab ungkapan dan karunia Allah. Hal ini di peroleh melalui pembersihan hati nurani. Akhirnya, dengan ditingkatkannya hal-hal ini, timbulah penyimpangan, tanpa dirasakan oleh sebagian ahli sufi.”

 

Di antara yang tampak dari penyimpangan sebagian orang-orang sufi adalah sebagai berikut :

 

1. Dijadikannya wijid (perasaan) dan ilham sebagai ukuran untuk dasar pengetahuan dan lain-lain; juga dapat dijadikan ukuran untuk membedakan antara yang benar dan salah. Sehingga sebagian ada yang berkata, “Aku diberi tahu oleh hati dari Tuhanku (Allah).” Berbeda dengan ungkapan dari ahli sunnah bahwa apabila mereka meriwayatkan ini dari si Fulan, si Fulan sampai kepada Rasulullah saw.

 

2. Dibedakannya antara syariat dan hakikat, antara hukum Islam dan yang bebas dari hukumnya.

 

3. Dikuasai oleh paham Jabariah dan Salabiah, sehingga dapat mempengaruhi iman dan akidah mereka, dimana manusia mutlak dikendalikannya. Maka tidak perlu lagi melawan dan selalu bersikap pasif, tidak aktif. Tidak dihargainya dunia dan per kembangannya. Apa yang ada di dunia dianggapnya sepele, padahal ayat Al-Qur,an telah menyatakan :”… dan janganlah kamu melupakan akan nasibmu (kebahagiaanmu) dari (kenikmatan) dunia …” (Q.s. Al-Qashash: 77).

 

Pikiran dan teori di atas telah tersebar dan dipraktekkan dimana-mana, dengan dasar dan paham bahwa hal ini bagian dari Islam, ditetapkan oleh Islam, dan ada sebagian, terutama dari golongan intelektual, keduanya belum mengerti benar akan hal itu karena tidak mempelajarinya. Sekali lagi kita tandaskan, bahwa orang sufi dahulu, selalu menyuruh jangan sampai menyimpang dari garis syariat dan hukum–hukumnya. Ibnul Qayyim berkata mengenai keterangan dari para tokoh sufi, “Tokoh -tokoh sufi dan guru besar mereka, Al-Junaid bin Muhammad (297 H.), berkata, ‘Semua jalan tertutup bagi manusia, kecuali jalan yang dilalui Nabi saw.'”

Al-Junaid pun berkata :”Barangsiapa yg tidak hafal Al-Qur’an dan menulis hadits-hadits Nabi saw. maka tidak boleh dijadikan panutan dan ditiru, karena ilmu kita (tasawuf) terikat pada kitab Al-Qur’an dan As-Sunnah.”

Abu Khafs berkata :”Barangsiapa yang tidak menimbang amal dan segala sesuatu dengan timbangan Al-Kitab dan As-Sunnah, serta tidak menuduh perasaannya (tidak membenarkan wijid-nya), maka mereka itu tidak termasuk golongan kaum tasawuf.”

Abu Yazid Al-Basthami berkata :”Janganlah kamu menilai dan tertipu dengan kekuatan-kekuatan yang luar biasa, tetapi yang harus dinilai adalah ketaatan dan ketakwaan seseorang pada agama dan syariat pelaksanaannya.”

 

Kiranya keterangan yang paling tepat mengenai tasawuf dan para sufi adalah sebagaimana yang diuraikan oleh Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam menjawab atas pertanyaan, “Bagaimana pandangan ahli agama mengenai tasawuf ?”. Ibnu Taimiyah memberi jawaban sebagai berikut, “Pandangan orang dalam masalah tasawuf ada dua, yaitu : Sebagian termasuk ahli fiqih dan ilmu kalam mencela dan menganggap para sufi itu ahli bid’ah dan di luar Sunnah Nabi saw. Sebagian lagi terlalu berlebih-lebihan dalam memberikan pujian dan menganggap mereka paling baik dan sempurna di antara manusia setelah Nabi saw. Kedua-duanya tidak benar. Yang benar ialah bahwa mereka ini sedang dalam usaha melakukan pengabdian kepada Allah, sebagaimana usaha orang-orang lain untuk menaati Allah swt. Dalam kondisi yang prima di antara mereka, ada yang cepat sampai dan dekat kepada Allah, orang-orang ini dinamakan Minal Muqarrabiin (orang-orang yang terdekat dengan Allah), sesuai dengan ijtihadnya; ada pula yang intensitas ketaatannya sedang-sedang saja. Orang ini termasuk bagian kanan : Min ashhaabilyamiin (orang-orang yang berada di antara kedua sikap tadi).”

 

Di antara golongan itu ada yang salah, ada yang berdosa, melakukan taubat, ada pula yang tetap tidak bertaubat. Yang lebih sesat lagi adalah orang-orang yang melakukan kezaliman dan kemaksiatan, tetapi menganggap dirinya orang-orang sufi.

 

Masih banyak lagi dari ahli bid’ah dan golongan fasik yang menganggap dirinya golongan tasawuf, yang ditolak dan tidak diakui oleh tokoh-tokoh sufi yang benar dan terkenal. Sebagaimana Al-Junaid dan lain-lainnya. Wallaahu A’lam.

—————

[sumber : FATAWA QARDHAWI, Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah, Penerbit Risalah Gusti, Jln. Ikan Mungging XIII/1, Telp./Fax. (031) 339440, Surabaya 60177]

 

http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Fatawa/TasawufManusia.html

 

Sebagian Ekses Dari Dakwah Walisongo

Walisongo selain sukses gemilang dalaam berdakwah di Nusantara, ternyata ada beberapa ekses-ekses yang ditimbulkannya. Salah satu tokoh yang paling menonjol dalam menimbulkan ekses adalah Syeikh Siti Jenar (sebagian ahli menyatakan bahwa Siti Jenar tidak termasuk dalam walisongo, karena Siti Jenar bukan beraliran ahlus sunnah, sebagian lain menyatakan bahwa Siti Jenar termasuk walisongo, namun karena dalam perkembangannya dia menyimpang, maka dia dikeluarkan dari kelompok walisongo) dengan paham ghullah-nya (syi’ah yg ekstrem). Besar kemungkinan dari Syeikh Lemah Abang (Siti Jenar) inilah asal muasal timbulnya kaum abangan yang banyak berpaham bid’ah.

Juga Sunan Kalijaga menunjukkan kecenderungan mistik yg sangat besar, akibatnya kebanyakan penduduk Jawa lebih memperhatikan mistiknya ketimbang syari’atnya. Selain itu, ‘piwulang ingkang mboten ngeblak’ (cara penyampaian dakwah yang tidak tegas atau terang-terangan) tetapi dengan wayang, sekaten, kidung, dll. Cara mengubah struktur lama dari jawa-hindu-budha-animisme yang tidak revolusioner, melainkan reformis, bahkan revisioner, hal ini menimbulkan corak keislaman tersendiri. Yang mana setelah berkembang luas dalam masyarakat menjadi sukar sekali diatasi, sehingga terus hidup sebagai adat-istiadat yg salah kaprah.

Para wali telah tiada dan tidak tergantikan oleh tenaga dakwah sekaliber mereka. Akhirnya agenda dakwah yang belum digarap sempurna itu tinggal terbengkalai sebagai islam yg separuh-separuh dan kepalang tanggung. Belum ada tangan-tangan baru sekuat tangan walisongo, untuk menyempurnakan “Islam” yang masih abangan.

 

(sumber : Mengislamkan Tanah Jawa – Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo, Widji Saksono, cet.III, sya’ban 1416H/1996M, penerbit Mizan)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M


Karya Dakwah Walisongo

Mei 1, 2007

Ada beberapa aspek khusus yang penting untuk ditinjau ulang agar hikmah kehadiran walisongo dapat lebih dimengerti dalam konteks lebih luas. Aspek tersebut antara lain adalah masalah keimanan, takwa, akhlaq dan amalan, penilaian sunnah dan bid’ah, ajaran dan sumber dakwahnya, serta sukses dan ekses keberadaannya.

Dengan tinjauan itu, kita dihadapkan pada rangkaian pertanyaan tentang ‘apakah iman dan takwa ini terdapat teguh di hati sanubari mereka untuk dapat dijadikan alasan bahwa walisongo memang memenuhi syarat Al Qur’an dan hadits yang diperlukaan bagi seorang wali ?’. ‘Adakah keimanan dan takwa ini menghiasi diri pribadi mereka, sehingga cukup alasan bahwa kegigihan dakwah mereka itu betul-betul merupakan hidayah, karomah atau malah istidraj ?’. ‘adakah ajaran-ajaran, madrasah, madzab, aliran pikiran mereka termasuk sunni atau malah bid’ah ?’. ‘Sesuai dgn tuntunan kitabullah & sunnah rasul, serta teladan salafush sholeh dan ijma’ mereka ?’. ‘Apakah kehadiran mereka termasuk sukses atau malah menimbulkan ekses ?.

Al Qur’an surat Yunus (110) ; 62-63 memberi ta’rif atau definisi dan syarat-syarat wali-wali Allah, adalah orang-orang yang tidak takut, dan tidak berduka cita, yaitu orang-orang beriman dan bertakwa kepada Allah. Kriteria yang dijabarkan pada ayat ini agaknya telah terpenuhi. Berita dan bukti sebagai saksi sejarah telah terpenuhinya syarat itu diantaranya adalah Masjid Agung Demak, dengan masjid itu membuktikan bahwa mereka ittiba’ (mengikuti) sunnah rasulullah sebagaimana dalam pendirian masjid Quba sebagai langkah pertama sebelum langkah berikutnya dilaksanakan. Ditinjau dari kitabullah, masjid tersebut tidak lain adalah lambang bakti dan takwa kepada Allah SWT. Dalam surat At Taubah (9) : 18 dinyatakan, bahwa hanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian sajalah yang memakmurkan masjid Allah, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Dan dalam ayat 108 surat yang sama dinyatakan, bahwa masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih patut bagi kita untuk sholat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyertai orang-orang yang bersih. Dalam kebisuannya, masjid Demak warisan mereka menjadi saksi atas ketak waan walisongo. Di samping itu, ucapan Sunan Kalijaga kepada Adipati Pandanarang ketika ia memohon berguru ilmu agama mengisyaratkan pula pancaran takwa dan bakti wali ini kepada Ilahi. Sunan Kalijaga berkata lembut,”Saya minta empat tanda bukti bahwa tuan betul-betul berniat berguru kepadaku, yakni : ibadahlah selama hidupmu, tegakkan iman, Islamkan (dakwahkan) penduduk Semarang, dirikan Jama’ah Islamiyah, ajak umat mendirikan sholat dengan bedug dan langgar (surau). Adapun syarat ke empat, zakatlah tuan dengan ikhlas. Itulah kewajiban bagi si kaya..”.

Adapun berkenaan dengan ‘pradondi ing kiblat’ (perbedaan pendapat antar para wali tentang arah kiblat) saat mendirikan masjid Demak, dapat dijelaskan sebagaimana keterangan yang diberikan oleh Prof.Tahir Abdul Mu’in (penulis ‘Ikhtisar Tau hid’), “Masalah pradondi itu jangan ditakwilkan secara jauh dulu selama masih ada tafsir yang lebih mendekati. Kita menafsirkan, bahwa pradondi kiblat yang dimaksud memang benar kiblat arah sholat. Perbedaan pendapat mengenai arah kiblat itu mengisyaratkan ketelitian para wali berpegang pada ketentuan syari’ah. Tentu walisongo, terutama Sunan Giri yang masyhur dan terbukti sebagai ahli ilmu falak itu hendak memberi teladan mutasyaddid (serius) dalam perkara syariat. Sebab jika tidak begitu, tentu dengan ilmu yang dimiliki mudah saja menetapkan arah kiblat. Mereka berdebat masalah arah kiblat adalah contoh ketelitian dan sikap hati-hati. Prof.Mu’in berpendapat, masjid dan kiblat terdapat qarinah (bahan perenungan) yang lebih dekat untuk ditafsirkan daripada ditakwilkan, bahwa yang diperdebatkan oleh para wali itu adalah ‘kiblat majazi’ (Negara Islam). Kalau pun hendak ditakwilkan, kata Prof.Mu’in, bukan pada soal kiblatnya, tetapi cerita ‘ana kang ngoyog mangetan, sawiji datan rembag, masjid ingoyoq mangidul, daredah rembaging wuntat’. Ada yg menggeser masjid itu ke arah timur, yg satu tiada sepakat, lalu menggeser ke arah selatan, demikian seterusnya). Cukup itu saja yg harus ditakwilkan. Yakni, bahwa masjid disitu bukan berarti masjid hakiki, melain kan masjid yang belum jadi, masjid fidz dzinni (abstraksi) di saat masih dalam ide (gagasan) atau masih berupa maket.

Dengan takwil ini maka masuk akal bahwa masjid yang masih berupa maket itu menjadi bahan geser-geseran para wali untuk menghadapkan masjid ke arah kilbat. Lagi pula dengan takwil seperti ini tidak perlu diributkan lagi masalah perbedaan waktu yang disebutkan dalam ‘Babad Demak’ yang menyatakan bahwa masjid itu selesai dibangun pada tahun ‘lawang trus gunaning janma’ (1399 th.saka), sedang dalam piagam masjid itu sendiri dinyatakan berdiri pada 1428 th.saka. Dengan takwil gaya Prof.Mu’in, itu bukan suatu yang aneh atau mustahil, karena maksudnya adalah pada 1399 th.saka yg jadi baru maketnya, sedang pada 1428 th.saka (29 tahun kemudian) adalah masjid yang sebenarnya sudah berdiri.

Dalam ‘Walisana’ (IV : 5-7) disebutkan, bahwa ada tiga orang calon walisongo, yaitu : Raden Rahmat, Raden Santri Ali, dan Raden Alim Abu Hurairah. Ketiganya ini saat melihat tarian Bedaya Serimpi yang dimainkan seorang wanita cantik saja sudah ber-ta’awudz (berlindung kepada Allah dari segala godaan Syetan), dan mesti dijauhi. Inilah gambaran akhlaq yang tercermin, padahal mereka baru tercatat sebagai calon walisongo. Maka bisa dibayangkan bagaimana akhalaq para wali itu.

Sunan Giri adalah wali raja yang kaya raya, namun dalam tindakan kesehariannya terlihat sekali kalau beliau amat tawakal, sabar, wara’, pemurah, ramah, dan masih banyak lagi akhlaqnya yang mulia. Sunan Kalijaga, lantaran suka mendalang wayang dan topeng (meskipun untuk tujuan dakwah), oleh para wali yang lain dinyatakan ‘ngetokaken’ (memamerkan) maksiat. Hal ini menunjukkan betapa telitinya para wali itu dalam menjaga akhlaq mulia.

Dalam hal ini, bila digunakan ukuran takwa sebagaimana disebut oleh Ibnu Taimiyah *), (sang pelopor kebangkitan pemikiran Kaum Muslim pada umumnya, dan kaum sufi pada khususnya ke pangkalan tauhid), maka kita menyaksikan bagaima gigih dan lurusnya Sunan Bonang dalam memberantas bid’ah. Hal itu terlihat dari sikap para wali ketika menghadapi penyelewengan Siti Jenaar yang zindiq dan syirik, karena ibahiyah, mulhid dan panteismenya itu.

Sedangkan tindakan amar ma’ruf nahi munkar dapat dinilai dari kesabaran, ketabahan serta ketelitian mereka dlm berjuang hendak menegakkan Negara Islam di Demak. Sikap ini juga terlihat pada peristiwa futuhat (ekspansi) penyebaran Islam ke daerah Jawa Timur. Dengan sangat terpaksa mereka menggunakan senjata melawan Sapit Urang Ranggaprana dan Raden Brawijaya VII. Peraang itu dipimpin langsung oleh Sunan Ngudung dan Sunan Kudus. Demikian pula ketika Sunan Gunung Jati dalam dakwahnya terpaksa berjihad melawan kerajaan hindu Pajajaran. Dalam semua perang ini tidak lain yang dapat dinyatakan terhadap mereka kecuali, bahwa walisongo benar-benar diilhami ruh Islam sepanjang ukuran pembaharu revolusioner Ibnu Taimiyah.

Sunan Bonang cukup mewakili sebagai gambaran apa saja yang diajarkan oleh walisongo, maka dengan membaca tulisan-tulisan beliau dalam Primbon I dan II, dapat ditetapkan bahwa walisongo termasuk ahlus sunnah yang dengan tegas dan konsekuen menentang bid’ah (culas, mengada-ada, tak sesuai sumber Islam). Mereka bergerak dalam barisan mujahid di bawah panji Al Ghazali dan Abu Syalimi demi tegaknya tasawuf sunni dan terhapusnya tasawuf bid’ah. Dengan berpedoman “Ihya Ulumuddin” karya Imam Ghazali, walisongo itu bermaksud menghidupkaan kembali agama Islam yg hampir mati di Nusantara ini. Mereka ikut memadukan tasawuf mistik dengan fiqih syara’ dalam suatu perpaduan yang selaras. Alasannya, kalau langsung masuk pelajaran tasawuf, bukan dimulai dari belajar fiqih, besar kemungkinan umat akan menjadi zindiq, karena mendekati Allah dengan meninggalkan fiqqih atau syariat dengan tidak memperhatikan tasawuf, hanya otak yang dipenuhi oleh kajian perkara halal-haram, sedang jiwa tetap kosong dan kasar. Perbuatan yang makruh dikerjakan karena hanya dinilai makruf hukumnya, sedang yang sunnah disia-siakan hanya karena dinilai sunnah hukumnya.

*) Ibnu Taimiyah antara lain berpendapat, bahwa seorang sufi adalah orang yg sangat giat menegakkan kebenaran. Tengah malam sholat tahajjud, siang hari mencari nafkah. Bila negara dalam keadaan bahaya oleh serangan musuh, ia bersedia masuk dalam barisan tentara, menempati posisi sesuai ketentuan komando. (Hamka “Mengembalikan Tasawuf ke Pangkalannya”)

Walisongo dalam perjuangannya berhasrat mengakhiri perselisihan hebat antara ulama fiqih dengan ulama sufi. Hal ini tercermin dari kitab Primbon I dan II yang ternyata sarat muatan fiqihnya. Dalam kitab tersebut dibahas antara lain tentang thaharah (bersuci), niyyat (niat), syahadat (persaksian), sholat, zakat, bahkan dalam bab haji dapat ditelusuri bahwa Sunan Kudus adalah amirul hajj. Dijelaskan pula mengenai masalah munakahat (pernikahan), beserta lembaga-lembaga sosialnya, penyusunan aturan perdata/adat-istiadat dalam keluarga dan sebagainya yang meliputi soal dan pasal-pasal tentang khitbah (peminangan); nikah-talak-rujuk; pembentukan usrah (unit keluarga) dan adapt-istiadat termasuk hadhanah (pengasuhan), perwalian, pengawasan serta fara’idh (hukum waris).

Kedua primbon tersebut memuat pula bab mu’amalah, antara lain mencakup jual-beli, perdagangan, perserikatan. Juga ada tentang tholabul ilmi (menuntut ilmu), jinayat dan siyasah (kriminal dan politik). Tak lupa pula tentang haid, qishas (kisas), ta’dzir termasuk perkara zina dan aniaya, ‘aqdiyah (hukum kontrak sosial) dan imamah (kepemimpinan), khilafah (sistim penyelenggaraan pemerintahan), jihad (perang keagamaan), kompetisi dan panahan, janji dan nadzar, perbudakan, perburuhan, penyembelihan, aqiqah, makan-makanan, masalah bid’ah, dll.

Tasawuf dibahas dengan perincian tentang ilmu jiwa seperti konsep tentang kebahagiaan, akhlaq. Dibahas pula mengenai nasalah tentang, estetika (keindahan), metafisika dan hubungan Tuhan dengan manusia. Ilmu kalam dibahas pula, baik secara umum maupun khusus. Tentang Allah disertai rangkaian pembahasan terhadap Al Qur’an, Rasul, Hari Akhir, Qadha’ dan Qadar.

Adapun sehubungan dengan tasawuf, pembahasannya meliputi ilmu jiwa dan konsep tentang kebahagiaan, akhlaq. Termasuk pula masalah estetika, metafisika dan hubungan Tuhan dengan manusia, dunia yang fana, ittihad, ittishal serta kasysyaf. Dilengkapi juga dengan pembahasan mengenai hulul dan wihdatul wujud. Soal tarekat, suluk, maqamat mencakup tema-tema mujahadah (berjuang sungguh-sungguh meniti jalan mendekat kepada Allah SWT), muhasabah (mawas diri),muraqabah (pendekatan diri), musyahadah (persaksian), syariat, hakikat, zuhud dan makrifat. Juga tentang tawakal, wara’ serta karomah.

Islamisasi masyarakat Jawa khususnya dan Indonesia bagian timur pada umumnya dapat dikatakan sebagian besar karena hasil dakwah dan perjuangan walisongo. Mustahil kiranya walisongo itu akan sukses dalam dakwah kalau sekiranya mereka tidak berbudi luhur, halus, lemah lembut & berhati ramah serta penyayang ummatnya sebagaimana dituntunkan Allah melalui rasul-Nya (kepada segenap kaum muslim) dalam QS. 3 : 159, yang artinya ,”Karena rahmat Allah jua engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka, sekiranya engkau berlaku keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauhkan diri darimu. Maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam suatu urusan. Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertawakal kepada-Nya”.

Dalam Primbon Sunan Bonang yang cukup lengkap, telah mencakup pula masalah fiqih , tauhid dan tasawuf. Secara ringkas dapat dipahami, bahwa primbon itu telah di awali dengan basmalah, diikuti hamdallah, kemudian sholawat, maka penulis menerangkan maksud ditulisnya primbon, yakni menjelaskan masalah Ushul Suluk (meliputi ushuluddin, tauhid, tarekat, dan tasawuf), menurut ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab sunni Ihya’ dan Tamhid. Primbon itu mengajak sidang pembacanya kepada tauhid, sembari mencegah dari perbuatan syirik.

Dengan berpangkal pada dua kalimat syahadat, Sunan Bonang menguraikan ajaran-ajarannya, dengan menitik beratkan masalah ushul suluk menurut pemikiran Al Ghazali dan Abu Syakur As-Salimi. Jadi ushul suluk merupakan suatu gabungan uraian ushuluddin dan tasawuf atau tauhid ‘mistik’ yg masih dalam batasan ahlus sunnah wal jama’ah. Materi pembahasannya dengan kajian tentang Allah (Dzat, sifat dan Af’al-Nya), tentang hubungan manusia dan Allah. Tentang ru’yat Allah ditambah tanbih. Tanbih ini maksudnya sebagai peringatan agar senantiasa berbuat amal sholeh, dan berpegang teguh kepada syariat Allah.

Berikut ini sedikit kutipan primbon karya Sunan Bonang tersebut :

pa“Bismillaahir rahmaanir rahim. Wabihi nasta’inu, Al hamdu lillaahi robbil ‘alamiin. Washsholatu ‘ala rasulihi Muhammadin wa ashhabihi ajma’in … Nyan punika caritane Seh Al-Bari; tatkalanira apitutur dateng mitranira kabeh, kang pinitutu raken wirasaning ushul suluk, wedaling carita saking kitab Ihya’ ‘Ulumuddin (Al Ghazali) lan saking Tamhid antukira Seh Al-Bari (Syeikh Al Barri). Amemet ing tingkahing sisimpenaning Nabi Wali Mu’min kabeh. Mangka akecap Seh Al Bari, kang sinalametaken dening Pangerane, mitraningsun ! Sira kabeh den sami angimanaken wirasaning ashul suluk ing kawruhuna yen sira Pangeran asipat saja Sukma Maha Suci tunggalira tan ana padanira, kang Maha Luhur, mitraningsun !. Den sami amiarsaha, sampun sira sak malih, den sami aneguhaken, sampun sira gingsir idepira. Iki silapale tingkahing anakeni ing Pangeran. Asyhadu anla ilaha illallah wahdahu la syarikalahu, wa asyhadu anna muhammadan rasulullah …”

Pembahasan Sunan Bonang tentang Allah meliputi pendirian mengenai ajaran tauhid dan Ketuhanan yang benar, sesungguhnya sekedar merupakan terjemahan bebas kitab Ihya’ ‘Ulumuddin dan Tamhid ke dalam bahasa Jawa Tengahan. Dikemukakan pula bagaimana ajaran yang sesat tentang tauhid dan Ketuhanan. Ajaran sesat itu menurut Sunan Bonang akan mengakibatkan orang yang menganutnya menjadi kafir. Pembahasan terhadap kedua tema ini diutarakan dengan meliputi persoalan ma’rifat Dzat Allah , sifat Allah dan Af’al Allah. Menurut beliau, ajaran tauhid dan Ketuhanan yang salah dan mendapat julukan wong sasar (sesat), kafir, kufur, kufur ing patang madzab (kufur menurut empat madzab), dll. Disebutkan ada dua belas macam, yang termasuk sesat, data tersebut diambil Sunan Bonang dari Abdul Wahid Ibn Makiyyah.

Di dalam primbon itu pula terbukti, bahwa walisongo memasukkan ajaran-ajaran “manunggaling kawula-Gusti (bersatunya antara manusia dgn Tuhan), bathiniyah, karomaniyah, mutangi’ah (mu’tazilah), ‘Arabiyah (bersumber dari Ibnu Arabi penulis Futuhat Al Makiyyah dicurigai sebagai penyebar ajaran panteisme/wihdatul wujud) dll, sebagai ajaran sesat dan bertentangan dengan ushul suluk (tasawuf). “Iku Kupur ! (itu kufur !)”, kata Sunan Bonang.

Dari kitab tersebut terbukti Sunan Bonang telah bersungguh-sungguh untuk memelihara dua pilar utama dalam aqidah, yakni Pertama : Pengakuan akan Allah sebagai Khaliq Maha Esa dan Maha Mandiri sebagai dzat yang penuh kebebasan dan kekuasaan (asa tauhid). Kedua : pengakuan tentang adanya hak kemerdekaan bagi manusia sebagai pribadi yang utuh (hurriyah al syakhshiyyah al insaniyah). Dengan tegas Sunan Bonang menyatakan, bahwa Allah dan manusia sebagai dua kenyataan atau wujud yang masing-masing berdiri sendiri sebagai pribadi, tak mungkin lebur jadi satu.

Setelah uraian aqidah itu selesai, Sunan Bonang menutup primbonnya dengan satu tanbih agar sesama muslim saling bantu-membantu dalam suasana cita kasih, dan selalu menjauhkan diri dari kesesatan bid’ah. Hal itu terbukti dalam satu satu kalimatnya “ E,mitraingsun ! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam, lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah”.

Lalu beliau menyinggung pula masalah ru’yat Allah (melihat Tuhan), hal ini terlihat dari pernyataan “E, rijal ! tegesing ru’yat iku : Aningali ing Pangeran ing akherat lan mata kapala ing dunya lan mata ati”. (Wahai Ummat, arti ru’yat itu : melihat Allah di akherat dengan mata kepala, adapun di dunia melihatnya dengan hati”). Allah itu baru bisa dilihat saat di akherat, karena di akheratlah dica painya kesempurnaan penglihatan).

Tanbih dalam primbon tersebut mengisyaratkan , bahwa Sunan Bonang benar-benar menggolongkan dirinya dalam barisan ahlus sunnah wal jama’ah, yaitu di samping mengutamakan soal-soal batin, seperti tasawuf, mistik dan akhlaq, beliau juga tidak melalaikan soal-soal lahiriah seperti syariat.

Primbon itu ditutup dengan kalimat “tammat carita cinitra kang pekerti pangera ning Sunan Bonang”, yang artinya “tamat sudah cerita buah karya Sunan Bonang”.

(sumber : Mengislamkan Tanah Jawa – Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo, Widji Saksono, cet.III, sya’ban 1416H/1996M, penerbit Mizan)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M


Keorganisasian dan Sarana Dakwah Walisongo

Mei 1, 2007

 

Kalau berita tentang walisongo dikumpulkan dan dipelajari, misalnya yang terda pat dalam “Walisana” dan dari primbon milik Bp.KHR.Moh.Adnan, maka didapat suatu kesimpulan, bahwa semua wali (kecuali Siti Jenar) merupakan organisasi, mirip sebuah kabinet dengan tugas khusus mengislamkan masyarakat Jawa. Karena setiap wali ternyata telah diberi tugas sendiri-sendiri. Sunan Ampel misalnya, bertugas menyusun aturan-aturan syariat Islam. Sunan Gresik mengubah pola dan motif batik, lurik dan perlengkapan kuda. Sunan Maja Agung menyempurnakan masakan, makanan, usaha dan peralatan pertanian serta barang pecah belah. Sunan Gunung Jati memperbaiki doa mantra (pengobatan batin), firasat, jampi-jampi (pengobatan lahir) dan hal-hal yang berkenaan dengan urusan pembukaan hutan, transmigrasi atau pun pembangunan desa baru. Sunan Giri menyusun peraturaan-peraturan tata kerajaan, tata istana, aturan protokoler kerajaan Jawa, mengubah perhitungan bulan, tahun, windu, masa dan memulai pembuatan kertas. Sunan Bonang menciptakan serba-serbi gamelan, lagu dan nyanyian. Sunan Drajat mengubah bentuk rumah, alat angkut (tandu, joli, dll). Sunan Kalijaga berkreasi pada lagu, langgam, nyanyian, serta gending sebagaimana Sunan Bonang. Sunan Kudus mengubah bentuk persenjataan, peralatan pertukangan besi dan emas, serta menciptakan pedoman pengadilan dan perundang-undangan yang berlaku bagi orang Jawa.

Para wali ini merupakan satu kesatuan, terbukti kesembilan wali itu sering berjumpa dan mengadakan rapat merundingkan berbagai hal sehubungan dengan tugas dan perjuangannya. Lebih jelas lagi, dalam kitab “Walisana” diberitakan tentang maksud berkumpulnya para wali itu antara lain merundingkan soal-soal agama, dan Sunan Giri sebagai ketuanya. Di samping itu, diselenggrakan pula forum berkumpul untuk membahas masalah politik. Para wali ini memiliki sifat yang teratur, tertentu dan kontinyu. Dari “Walisana” dapat dikumpulkan adanya fungsi masing-masing wali, yaitu Sunan Ampel sebagai guru ketua, Sunan Giri sebagai jaksa kepala, Sunan Ngudung dan Sunan Kudus sebagai panglima, Sunan Bonang untuk urusan keagamaan, Sunan Kalijaga sebagai diplomat. Relevan dengan kondisi ini, ternyata walisongo berada dalam suatu pimpinan dan susunan kekuasaan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa peristiwa, bahwa ketika Sunan Ampel masih hidup, beliaulah yang dituakan oleh para wali dan diakui pula bahwa beliau berfungsi sebagai pimpinan atas seluruh masyarakat Islam (di Jawa) ketika itu. Setelah Sunan Ampel wafat, kepemimpinan atas walisongo dan masyarakat Islam itu ganti dipegang oleh Sunan Giri dan Sunan Bonang dengan pembagian kekuasaan yang terperinci.

Walisongo telah bekerja keras, teratur dan tanpa pamrih. Sebagaimana pernah di ucapkan oleh Sunan Kalijaga di hadapan Adipati Pandanarang. Dalam ucapan tersebut terasa sekali sikap dan perasaan ikhlas, tidak mengharap imbalan apa pun, sepenuhnya lillahi ta’ala dalam perjuangan menegakkan agama Islam. Hal ini selaras dengan ketulusan nabi Nuh as. sebagaimana disebut dalam (QS. Hud (11) : 29., yang artinya ,” Dan (dia berkata) :”Wahai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku, upahku hanyalah dari Allah..”.

Melihat nama-nama walisongo tetap tersimpan di hati dan terus dikenang, meski telah lama hilang dari pandangan mata, tidak mustahil kalau wali-wali itu memang ulama dan mukhlis sebagaimana penyifatan yang diberikan oleh Ali ra. tentang ulama yang lestari di hati ummat :”Para ulama adalah permata, tak berlalu waktu tanpa kemilaunya yang abadi, jejaknya selalu membekas di hati”. Ulama yang dikehendaki beliau adalah para juru dakwah sekaligus ulama ‘amilin, sebab memang hanya da’i yang sepi dari pamrih duniawi yang meresap merasuk nasehat dan bekas-bekasnya di hati ummat. Hanya hati yang dapat bertemu dengan hati.

Di samping forum walisongo secara efektif sebagai suatu organisasi dan sarana dakwah, para wali menggunakan alat (baik yang bersifat psikologis maupun material). Dalam dakwahnya, terbukti bahwa mereka tidak melupakan faktor dan gejala-gejala psikologis. Segi psikologis ini mereka perhatian dan mereka manfaatkan guna menyiasati masyarakat yang mejadi sasaran dakwah. Patut dicatat, Syaikh Ali Mahfudz dalam bab Ushulud Dakwah menyatakan, bahwa menurut tuntunan rasul, dakwah harus dibina di atas empat dasar pokok , yakni :

Al Huluj Balaghah (alasan yang tepat), Al Asalibul Hakimah (susunan kata yang bijak dan penuh hikmah), Al Adabus Samiyah (sopan santun yang mulia), dan As Siyasatul Hakimah (siasat yang bijak). Terbukti dakwah yang disampaikan walisongo juga dibina menurut tuntunan rasul. Bahwa di samping mendasarkan argumen secara rasional, mudah diterima akal dan juga dengan prinsip emosional bersesuaian dengan cita-cita manusia, yakni mengetuk hati. Maka tidak jarang pula para wali itu mendasarkan pelakanaan dakwahnya dengan unik, yaitu dengan dalil argumentasi aksiomatik yang secara otomatis sangat jitu. Misalnya para wali melakukan kisas atas Syiakh Siti Jenar yang sangat bid’ah, musyrik, ibahiyah, absurd, dan sangat berbahaya bagi usaha pengislaman rakyat yang masih sangat muallaf ) baru saja menerima islam) dan mudah diselewengkan itu, para wali mengubur jenazah Siti Jenar begitu rahasia, sampai-sampai Sultan Demak sendiri tidak tahu hal ihwal yang sebenarnya. Jenazah itu kemudian diganti dengan bangkai anjig yang kurus, merah, kudisan dan menjijikan, bangkai tersebut diletakkan dalam keranda. Hal ini berguna sebagai tamsil, peringatan atas diri sultan dan juga bagi masyarakat awam yg sangat menaruh perhatian dan tertarik kepada ajaran Siti Jenar. Maksud dari penggantian bangkai anjing itu, agar masyarakat menyimpul sendiri, hingga membenarkan ajaran walisongo, dan membenci ajaran Siti Jenar, itulah akibatya bila mengikuti ajaran Siti Jenar. Itulah laknat yg akan terjadi bila mengikuti kesesatan.

Demikianlah para wali itu berhasil menarik publik ke arah pemahaman sunni,dan menjauhkn ajaran bid’iy dan sesat. Sukses ini terjadi secara merata di dalam wilayah daerah kerajaan Demak. Bahkan para wali telah berhasil mempengaruhi Sultan Demak, sehingga menggantungkan “jenazah Siti Jenar” itu di perempataan jalan yang ramai. Maklumat ini disertaai ancaman lengkap ibarat nasib malang yang akan menimpa dan menjadi bagian bagi setiap orang yang berani menghina agama dan berlaku bid’ah seperti Siti Jenar. Nasib yang malang dan hina itu adalah di dunia akan dipidana oleh raja dengan hukum kisas dan di akherat kelak akan mendapat kehinaan dari Allah SWT dijadikan anjing kurus kudisan, dan bukan manusia lagi, karena berani-beraninya menyekutukan Tuhan. Inilah suatu dosa syirik yang tak terampunkan dan tak tertobatkan.

Sebagai bukti-bukti uslub yang bijaksana terlihat dalam pelaksanaan dakwahnya, walisongo menciptakan lambang-lambang, simbol, rumus, dan semboyan yang dapat menarik orang ke dalam Islam. Mereka ciptakan kidung-kidung sebagai nyanyian agama, mereka ubah mantra-mantra dan do’a sesuai agama Islam, yang mana harus di awali dengan basmallah dan diakhiri dengan illa’. Para wali itu juga memasyara katkan ungkapan interjeksi untuk peristiwa penting, mendadak atau mengharukan, misalnya lafadz “La ilaha illallah” dibaca senantiasa supaya hidup bahagia dunia akherat. Atau “Inna lillaahi wa inna ilaihi roji’un” sebagai bacaan saat-saat kecewa, kehilangan, kesusahan, dan kematian. “La hawla wala quwwata illa billahil ‘aliyil ‘adizm “ bila ada tindak laku yang tidak baik. Sesuai dengan tuntunan bagi seorang juru dakwah, para wali memiliki adab sopan santun yang tinggi. Adab santun dan prestise diri tampaknya memang sangat dijaga para wali. Karena memperhatikan prestise diri inilah rupanya, maka mereka berhasil menjadi sangat bergengsi, sehingga tercipta husnudzon (kesan yang baik) dari masyarakat. Masyarakat tidak mempersoalkan panjang lebar lagi dakwah mereka, tetapi selalu membuka jiwanya untuk menerima dengan baik semua ucapan dan dakwah para wali, karena mereka percaya kepada apa yang dibawa para wali. Gengsi/prestise mereka peroleh dengan jalan-jalan mulia. Terhadap khawas (khusus spt raja, adipati, dsb) mereka pakaikan adab sopan santun yg berpatutan bagi orang-orang terhormat), ditetapkan demikian, mengingat riwayat misalnya Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan kawan-kawan menghadap Adipati Arya Damar di Palembang, dan ketika mereka menghadap Prabu Brawijaya di Majapahit. Dalam peristiwa tersebut beliau berperilaku sangat sopan, halus tutur kata, manis budi dan tetap tawadu’.

Wallahu ‘alam.

(sumber : Mengislamkan Tanah Jawa – Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo, Widji Saksono, cet.III, sya’ban 1416H/1996M, pen.Mizan)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M

 


Metode Dakwah Walisongo

Mei 1, 2007

 

Secara konseptual metode dakwah walisongo biasa disebut dgn istilah ”Mau’izatul hasanah wa mujahadah billati hiya ahsan.” Metode ini biasa digunakan untuk tokoh-tokoh khusus (pemimpin), misalnya para bupati, adipati, para raja, maupun para tokoh-tokoh masyarakat setempat. Dasar metode ini adalah QS An-Nahl (16) : 125, yang artinya :”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Para tokoh khusus itu diperlakukan secara personal, dihubungi secara istimewa. Kepada mereka diberikan keterangan, pemahaman tentang islam, peringatan-peringatan secara lemah lembut, tukar pikiran dari hati ke hati dan penuh toleransi. Ini yang dimaksud Mau’izatul Hasanah. Namun apabila cara tersebut belum juga berhasil, barulah menggunakan cara berikutnya, yakni Al Mujadalah billati hiya ihsan.

Cara kedua ini diterapkan kepada tokoh yang secara terus terang menunjukkan sikap kurang setuju terhadap islam. Rangkain cara ini bisa dilihat ketika Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan kawan-kawan berdakwah kepada Arya Damar dari Palembang. Berkat keramahan dan kebijakan Raden Rahmat, maka Arya Damar kemudian masuk islam bersama istrinya. Dan tak lama kemudian diikuti pula oleh hampir segenap anak negerinya.

Demikian pula halnya ketika beliau berdakwah terhadap Prabu Brawijaya. Ketika mendengar wejangan yang demikian bagus dari Sunan Ampel, sesunggunya terasa sulit bagi Prabu Brawijaya untuk menolak. Tapi karena beliau berkedudukan sebagai raja, tentu banyak pertimbangan yang membuatnya tidak mudah begitu saja menerima pendapat orang lain, terutama dalam hal keagamaan. Meski repot mengelak, akhir nya beliau menolak secara halus, dengan alasan bahwa sebagai raja dia terikat adat kebiasaan kerajaan dan tradisi rakyatnya tidak bisa diabaikan begitu saja.

Namun lain halnya dengan sang permaisuri yang tidak mempunyai beban berat. Prabu tidak keberataan bila permaisuri memang berkehendak masuk Islam.

Metode seperti ini digunakan pula oleh Sunan Kalijaga ketika berdakwah kepada Adipati Pandanarang di Semarang. Pada mulanya terjadi perdebatan seru, dan perdebatan itu berakhir dengan tunduknya Adipati untuk masuk Islam. Ia sangat terkesan dengan anjuran Sunan Kalijaga tentang peri kesopanan (akhlaq). Bahkan saking tertariknya dengan Sunan Kalijaga, maka dia rela mengorbankan pangkat dan keduniaan, harta dan keluarganya demi menuruti syarat-syarat yang diajukan Sunan Kalijaga agar dapat diteriama sebagai murid untuk berguru ilmu keislaman.

Lain halnya dengan Sunan Kudus. Beliau ini berdakwah dengan lembunya yang dihias istimewa. Diberitakan bahwa Sunan Kudus pernah mengikat seekor lembu di halaman masjid, sehingga masyarakat yang ketika itu masih memeluk agama Hindu datang berduyun-duyun menyaksikan lembu yang diperlakukan istimewa itu. Setelah mereka datang berkerumun di sekitar masjid, Sunan Kudus lalu menyampaikan dakwahnya. Cara ini sangat praktis dan strategis. Seperti diketahui, lembu merupakan binatang ke ramat bagi umat Hidu. Menyaksikan bahwa lembu tidak dihinakan oleh Sunan Kudus,

terbitlah niat dan simpati masyarakat penganut Hindu. Berangkat dari titik perhatian inilah masyarakat kemudian berhasil diislamkan.

Metode tadarruj atau tarbiyatul ummah dipergunakan sebagai proses pengelompokan yang disesuaikan dengan tahap pendidikan ummat. Agar ajaran islam dapat dengan mudah dimengerti dan dilaksanakan oleh masyarakat secara merata. Maka tampaklah metode yang ditempuh walisongo didasarkan pada pokok pikiran ‘li kulli maqam maqat’, yakni memperhatikan bahwa setiap jenjang dan bakat ada tingkat, bidang materi dan kurikulumnya. Begitu pula saat menyampaikan ajaran fiqih yang ditujukan terutama bagi masyarakat awam dengan jalan pesantren dan melalui lembaga sosial.

Metode lembaga ssosial melalui pendidikan sosial atau usaha kemasyarakatan diupa yakan agar ajaran-ajaran islam bersiat praktis (mudah diterapkan) dapat menjadi tradisi yang memungkinkan terciptanya adat islami dan bersifat normatif. Dengan begitu diharapkan ajaran islam secara sadar atau tidak sadar masyarakaat telah menjalankan ajaran serta amalan yang islami, karena memang sudah menjadi adat istiadat. Misalnya, menjadikan masjid sebagai lembaga pendidikan, merayakan upacara kelahiran, pernikahan, kematian, khitanan, dll.

Sesuai karakter yang termuat di dalamnya, maka ilmu kalam atau tauhid disampaikan sebagai taklim (pengajaran) melaliu pesantren. Sedang penyampaiannya kepada masyarakat ditempuh melalui cerita-cerita wayang. Untuk keperluan itu, maka diciptakan lakon Dewa Ruci, Jimaat Kalima Sada, dan dikarang pula buku-buku bacaan umum, misalnya Kitab Ambiyo (kitab Al Anbiyaa), berisi kisah para nabi.

Selanjutnya ilmu tasawuf, yang oleh Sunan Bonang disebut sebagai ilmu suluk. Ilmu ini di sampaikan melalui wirid, yaitu pengajaran dengan wejangan, tertutup dan sangat ekslusif. Tempat dan waktunya ditentukan. Ilmu ini hanya disediakan untuk orang-orang tertentu yg sudah memiliki dasar yang diperlukan untuk laku tasawuf. Ketentuan ini di samping atas suatu kelaziman karena tasawuf merupakan ilmu lanjut yang dengan sendirinya menuntut suatu ilmu dasar, juga demi menjaga salah paham, salah pengertian dan salah penggunaan terhadap ilmu ini. Contoh masalah ini adalah ketika Raden Fatah menyatakaan keinginan untuk berguru kepada Sunan Ampel, maka Raden Fatah ditanya lebih dulu apakah sudah memiliki dasar. Dan karena ternyata Raden Fatah memilikinya, maka tidak diharuskan masuk pondok pesantren, tetapi langsung ditempatkan dalam kelompok wirid, Raden Fatah memang telah memiliki dasar ilmu yang dibawanya sejak dari Palembang.

Metode lainnya adalah kaderisasi dan penyebaran juru dakwah ke berbagai daerah. Tempat yang dituju adalah daerah-daerah yang sama sekali kosong penghuni atau kosong pengaruh islamnya. Sunan Kalijaga mengkader Kyai Gede Adipati Pandanarang untuk berhijrah ke Tembayat dan mengislamkan masyarakat di daerah tersebut dan sekitarnya, hingga kemudian Pandanarang dikenal sebagai Sunan Tembayat.

Sunan Kalijaga juga mengutus Ki Cakrajaya dari Purworejo dan setelah berhasil mengislamkan daerah tersebut, maka dianjurkan pindah ke daerah Lowanu, dan terus mengalami keberhasilan dalam penyebaran islam. Adaapun Sunan Ampel memerintahkan Raden Fatah berhijrah ke hutan Bintara, membuka hutan tersebut dan membuat kota baru, dan sekaligus mengimami masyarakat yang akan terbentuk nantinya. Ternyata Bintara ini berkembang hingga menjadi Demak, basis perjuangan Islam pada tahun-tahun berikutnya. Selain itu Sunan Ampel juga mengirim utusan (mubaligh) kepada raja-raja, misalnya Sayyid Ya’qub (Syaikh Wali Lanang) dikirim ke Blambangan untuk mengislamkan Prabu Satmudha. Sedang Khalifah Kusen (Husain) ke Madura untuk mengislamkan Arya Lembupeteng, dan lain-lain.

Mengamati metode dakwah walisongo ini berikut bukti-buktinya, maka tidak berlebihan bila dikatakan, bahwa walisongo telah meneladani metode dakwah sebagaimana pernah dilakukan oleh rasulullah saw. Wallahu ‘alam.

(sumber : Mengislamkan Tanah Jawa – Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo, Widji Saksono, cet.III, sya’ban 1416H/1996M, pen.Mizan)

Aliran Kebatinan

Kata kebatinan diambil dari kata bahasa Arab bathana, yang artinya batin atau dalam atau bagian dalam, yaitu lawan kata luar, atau bagian luar. Kata tersebut dipinjam oleh sebuah aliran yang menamakan dirinya Bathiniyah atau aliran kebatinan. Karena dalam melaksa nakan ritual keagamaan hanya cukup di batin saja, atau cukup eling (ingat) saja tanpa gerakan tertentu. Bila ditinjau dari berbagai aspek baik kitab sucinya, ajarannya, cara ibadahnya, kepercayaan, dan lain-lainnya , maka tampak jelas bahwa aliran kebatinan atau yang lebih dikenal kejawen atau islam abangan, bukanlah suatu agama dan bukan pula bagian dari agama Islam. Hanya saja namanya yang mendompleng kata-kata Islam. Dimana mereka menyebutnya dengan sebutan Islam abangan, Islam kejawen, Islam kebatinan, Islam murni, Islam Hak, Islam kuring (Sunda), dan lain-lainnya, yang pada umumnya dengan embel-embel islam. Namun justru ajarannya memojokkan Islam.

Aliran kebatinan tidak lebih hanyalah merupakan paguyuban atau organisasi yang terdiri atas beberapa manusia yang mengadopsi suatu kepercayaan yang bersifat ruhaniah dan meditasisme yg berujung untuk mendapatkan suatu ketenangan jiwa atau ketenangan batin, dari hasil embrio asimilasi akhlak berbagai ajaran agama, seperti Islam, Hindu, dan Budha. Jenis aliran kebatinan ini dikenal dengan sebutan aliran kepercayaan. Di masa sebelum perang kemerdekaan RI, jumlahnya sangat sedikit, namun mulai membengkak jumlahnya setelah Indonesia merdeka yaitu antara tahun 1950-1975M. Nama aliran inipun berbeda-beda, seperti: Ngelmu Sejati, Islam Murni, Islam Hak, Islam Kejawen, Agama Kuring, dll.

(Sumber : Mengenal Aliran-Aliran Islam dan Ciri-Ciri Ajarannya oleh Drs. Muhammad Sufyan Raji Abdullah, Lc telah diterbitkan oleh penerbit LPPI Riyadhus Shalihin, Jakarta)

http://lintau.com/modules.php?name=News&file=article&sid=760

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M


Sunan Kali Jogo Bertapa di Sungai ?

Mei 1, 2007

 

Pertanyaan :

Pengertian dari syari’at, ma’rifat dan hakikat itu apa sih pak Ustadz ?. Kalau Sunan Kali Jogo itu termasuk yang mana, kalau diceritanyakan dia bertapa di sungai berhari-hari apa dia tidak sholat waktu melakukan pertapaan itu ?. Apakah Nabi Muhammad SAW juga melakukan itu semua ? Kalau pak Ustadz tidak keberatan tolong dijelaskan, dari pada saya salah menilai pengertian-pengertian tersebut kan lebih baik tanya sama yang lebih tahu. Terima kasih Wassalam – Hendriyatno

Jawaban :

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb.

Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du.

Yang anda sampaikan itu hanya sebuah versi cerita. Tidak ada bukti kongkret yang bisa dipertanggung-jawabkan tentang kebenaran cerita demikian. Sebab kalau kita jujur dengan sejarah, sosok para wali tentulah tidak demikian. Anda bisa bayangkan kalau sosok para wali itu adalah para penyebar agama, tidak mungkin kalau mereka adalah pelaku tapa. Sebab bertapa itu perbuatan syirik yang dikutuk Allah SWT. Bagaimana mungkin para penyebar agama Islam justru mempraktekkan syirik ? Tentu ini adalah sebuah pendekatan yang ingin merusak sejarah Islam di negeri ini. Bila memang benar para wali tukang bertapa, maka di negeri kita saat ini mungkin tidak ada agama Islam, melainkan sebuah negeri dukun yang dipenuhi tukang sihir.

Buya HAMKA dalam salah satu makalahnya tentang sejarah masuknya Islam ke negeri ini menyebutkan bahwa seorang shahabat Rasulullah SAW pernah singgah di negeri ini, yaitu Yazid bin Muawiyah. Kalau para penyebar dakwah Islam di negeri ini sampai sekelas seorang shahabat Nabi, tentu bisa kita bayangkan bahwa penyebaran Islam di negeri ini memang betul-betul sejalan dengan ajaran Islam yang asli. Tidak mungkin para penyebar Islam justru mengajarkan nilai-nilai dan praktek kemusyrikan. Apalagi setelah Islam tersebar di negeri ini, lalu berdirilah pusat-pusat kerajaan Islam yang menerapkan hukum Islam. Maka apa yang dilakukan para penyebar Islam tentu bukan sesuatu yang main-main, sehingga bisa sampai mendirikan kesultanan Islam yang berbentuk sebuah negara berdaulat. Kalau sosok mereka digambarkan lebih mendekati tokoh dunia persilatan atau sosok dengan beragam ilmu kedigdayaan, ini hanyalah fantasi para pendongeng yang kehabisan cerita. Sama sekali tidak ada bukti yang menguatkan hal demikian.

Bahkan para ahli sejarah menyatakan bahwa makna kata WALI bukanlah diambil dari istilah Waliyullah atau orang-orang yang ‘dekat’ kepada Allah. Tetapi wali disini bermakna pemimpin. Seperti yang kita kenal di masa sekarang ini dengan istilah wali kota. Wali Songo adalah para pemimpin wilayah teritorial. Bisa dianalogikan sebagai pemimpin daerah atau gubernur. Pusat kekuasaannya adalah negara Islam Demak. Makna ‘songo’ secara harfiyah adalah sembilan. Kemungkinan pada masa itu ada sembilan wilayah/propinsi. Ada juga yang mengatakan sembilan itu sebagai ungkapan banyaknya wilayah dan tidak harus hanya sembilan wilayah. Yang jelas mereka adalah para penyebar aqidah Islam, lalu setelah berdiri negara Islam, mereka menjadi pemimpin negeri itu. Tentunya tujuan pendirian negara Islam di tanah Jawa tidak lain adalah untuk menerapkan syariat Islam.

Sungguh sangat disayangkan, latar belakang sejarah peng-Islaman negeri kita yang sebenarnya yang sedemikian indah harus dikorbankan menjadi cerita khayal yang penuh dengan nuansa mistis, prahara atau rimba persilatan yang menjadi komoditas jualannya pembuat cerita film yang tidak bertanggung jawab. Menjadi tugas kita untuk membersihkan sejarah penyebaran Islam di negeri ini. Kita butuh peran para ahli sejarah yang berfikrah Islam untuk membersihkan gambaran suram tentang Islam di negeri ini. Wallahu a’lam bishshawab. Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

(Diasuh oleh Ust. Ahmad Sarwat, Lc.)

 

http://www.eramoslem.com/ks/us/48/12626,1,v.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M


Meluruskan Persepsi Tentang Wali

Mei 1, 2007

Masyarakat secara umum biasanya menggambarkan bahwa seorang yang dikatakan sebagai wali adalah mereka yang memiliki kesaktian, dan keajaiban yang tidak dipunyai oleh kebanyakan orang. Anggapan seperti itu terus melekat sehingga menjadikan seseorang yang dianggap ‘wali’ tadi sebagai barometer kebenaran. Apapun yang dikatakan mesti benar, segala tindakannya benar dan tak mungkin salah. Bahkan ketika sang ‘Wali’ melakukan tindakan yang haram pun, pengikutnya tetap menganggap halal dan tetap berkata sami’na wa ato’na (kami dengar dan kami taat). Ketika sang wali telah jelas-jelas salah, pengikutnya pun segera mentafsirkan tindakan wali tadi agar tampak selalu benar. Subhanallah.

Fenomena wali ini sebenarnya telah secara panjang lebar diungkapkan oleh para ulama. Para ulama telah membedah dan membongkar siapa sebenarnya wali. Manakah yang wali beneran dan manakah yang wali gadungan. Karena memang wali itu ada dua kelompok, yaitu wali Allah dan wali syaitan. Yang perlu diketahui di sini siapakah sebenarnya wali Allah itu ? Dan siapa pula wali syaitan sehingga tak salah pasang, menempatkan wali syaitan bukan pada kedudukannya, atau sebaliknya.

Tentang wali Allah, Al Quran menegaskan :”Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan selalu bertaqwa”. (QS Yunus : 62-63)

Ayat di atas mengandung pengertian , bahwa wali Allah adalah orang-orang yang beriman, bertaqwa dan menjauhi maksiat. Ketakwaan seorang dengan sendirinya akan terlihat dari perilaku kesehariannya, yang selalu menjaga batas-batas yang Allah tentukan. Menjaga tangan dari menganiaya orang, menjaga mulut dari menfitnah, mencela, menuduh dan menjaga seluruh anggota tubuh yang lain dari kemaksiatan. Wali Allah tak mau menghalalkan yang diharamkan oleh Allah, dan tidak mau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah. Ia adalah seorang yang bertauhid bersih yang tidak mau berdoa dan beribadah kepada selain Allah.

Kewalian itu memang benar adanya, namun tidak terjadi kecuali pada hamba Allah yang taat, taqwa. Wali tak bisa diraih oleh mereka yang selalu berbuat maksiat, apalagi mensekutukan Allah. Ia tak bisa diraih dengan warisan (turun temurun), namun ia diperoleh dengan prestasi dalam hal iman dan amal shalih. Persepsi sebagian manusia Wali adalah orang yang mengetahui hal-hal yang ghaib. Padahal ilmu ghaib adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh Allah semata, dan kadang Dia tampakkan sebagiannya kepada para rasul-Nya, bukan kepada yang lain. “Dia yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang Dia kehendaki ” (QS Al Jin : 26-27)

Orang yang tak beriman, atau fasik , tidak bertaqwa mereka bukanlah wali Allah, bahkan itulah wali syaitan. Apakah kita selama ini telah salah menilai ….?

http://al-madina.s5.com/Serbaserbi/Meluruskan_Persepsi_Tentang_Wali.htm

Abangan :
Kebanyakan orang Jawa sekarang beragama Islam dan minoritas beragama lain. Walau pun ma yoritas orang beragama Islam, agama Islam yang dilakukan di Jawa punya perbedaan dari agama Islam yang dilakukan di Timur Tengah. Agama Islam di Jawa di campurkan dengan kepercayaan lain yang asli Jawa, yaitu kepercayaan animisme dan kepercayaan dari kerajaan Hindu-Budha. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Cliford Geertz, masyarakat Islam Jawa bisa dipisahkan ke dalam tiga kelompok, yaitu Santri, Priyayi dan Abangan. Orang San tri digambarkan sebagai orang yg melakukan agama Islam secara ortodoks dan adalah orang rajin dengan ritual-ritual agamanya. Orang Priyayi digambarkan sebagai orang yang masih punya kepercayaan dari kerajaan Hindu-Budha dan kepercayaan ini dicampurkan sama agama Islam. Orang Abangan digambarkan sebagai orang yang masih beragama Islam, namun agamanya dicampurkan sama kepercayaan animisme. Sejak Clifford Geertz menerbitkan buku ‘The Religion of Java’ dia menerima banyak kecaman dari ahli anthropologi yang lain, kalau teori Geertz benar atau tidak bahwa dari pengalaman saya kebanyakan orang di Jawa kalau beragama baik Islam, Kristen atau yang lain, mereka masih punya kepercayaan asli Jawa. Istilahnya ‘kejawen’. Adapun kebanyakan kepercayaan masyarakat Jawa terhadap gunung asli dari kepercayaan animisme dan agama Hindu-Budha.

[Oleh : Dylan Walsh, peneliti berbagai aliran kepercayaan di Jawa]

http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/field_topics/dylan.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M