Penyembah Berhala Menurut Al-Qur’an

Juli 16, 2007

Allah SWT berfirman :”Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (Az-Zumar: 3).
Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya ayat di atas, bahwa Allah tidak menerima amal selain yang pelakunya ikhlas dalam beramal, hanya untuk Allah sendiri, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan
Qatadah berkomentar ayat tersebut maksudnya adalah syahadat (kesaksian) bahwa tidak ada tuhan selain Allah.

Kemudian Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang musyrikin penyembah berhala bahwa mereka berkata: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”, artinya; Sesungguhnya yang mendorong mereka kepada penyembahan berhala-berhala itu hanyalah karena mereka pergi ke patung-patung dan menjadikannya (sebagai) gambaran bentuk malaikat-malaikat muqarrabin (yang dekat dengan Allah) menurut persangkaan mereka. Lalu mereka menyembah patung-patung itu dengan memfungsikannya sebagai penyembahan terhadap malaikat, agar malaikat itu memberikan syafa’at/pertolongan kepada mereka di sisi Allah dalam kemenangan, rizki, dan urusan-urusan dunia dan bahaya yg menimpa mereka. Adapun terhadap hari kiamat maka mereka membantahnya dan kafir terhadapnya.
Berkata Qatadah, As-Suddi, dan Malik dari Zaid bin Aslam tentang firman Allah: “…melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya”, artinya agar mereka memberi syafa’at kepada kami, dan mendekatkan kami pada suatu tempat di sisi-Nya. Oleh karena itu mereka berkata saat bertalbiyah (labbaik) ketika berhajji dalam kejahiliyyahan mereka: “Labbaika laa syarika laka, illaa syarikan huwa laka, tamlikuhu wamaa malaka” (Aku penuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagimu, kecuali satu sekutu, dia itu milikmu, Engkau memilikinya dan (memiliki) apa yang ia miliki.”

Syubhat (pemahaman kacau) inilah yang dipercayai oleh orang-orang musyrikin dahulu dan sekarang. Dan kepada mereka itu rasul-rasul alaihimus shalatu was salam diutus untuk menolaknya dan mencegahnya, serta mengajak kepada penyembahan kepada Allah saja, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan sesungguhnya penyembahan model musyrikin tersebut adalah bikinan mereka sendiri, tidak diizinkan oleh Allah dan tidak diridhai, bahkan dilarang dan dimurkai-Nya. “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (An-Nahl: 36). “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (Al-Anbiya’: 25).

Dan Allah mengabarkan bahwa para malaikat yang ada di langit yaitu malaikat muqarrabin & lainnya, semuanya adalah penyembah-penyembah yg tunduk kepada Allah. Mereka tidak memberi syafa’at di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya terhadap orang yang diridhai-Nya. Dan mereka (para malaikat) itu di sisi-Nya tidak seperti pejabat-pejabat (umara’) di sisi raja-raja mereka, yang memberi pertolongan di sisi para raja tanpa seizin mereka dalam hal yang dicintai dan ditolak raja-raja.
“Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah.” (An-Nahl: 74). Maha Tinggi Allah dari hal yang demikian itu. Dan FirmanNya: “Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka”, artinya pada hari Qiyamat, “tentang apa yang mereka berselisih padanya”, artinya Dia akan memisah-misahkan antara para makhluk pada hari Qiamat, dan Dia memberi balasan kepada setiap pelaku sesuai dengan amalnya. “Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu ?” Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau, Engkau-lah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” (Saba’: 40-41).
Dan firmanNya :”Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar”. Artinya, Allah tidak menunjuki kepada hidayah terhadap orang yg sengaja berdusta dan berbohong terhadap Allah, sedang hatinya kafir, menyangkal ayat-ayat, dalil-dalil, dan bukti-bukti dari-Nya. (Tafsir Al-Quranul ‘Adhim oleh Ibnu Katsir, ditahqiq (diedit) oleh Sami bin Muhammad As-Salamah, Daru Thibah, Riyadh, cetakan pertama, 1418H/ 1997, juz VII, halaman 84-85).

Penyembah jin :
Mengenai kaum musyrikin yang menyembah berhala dan disebut menyembah jin itu di jelaskan pula oleh Ibnu Katsir, yaitu menyembah syetan. Karena, syetanlah yang membujuk rayu untuk menyembah berhala itu, jadi sebenarnya syetan-lah yang mereka sembah. Berikut ini penjelasan Ibnu Katsir.
Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menegur dengan keras orang-orang musyrikin pada hari Qiyamat di hadapan segenap makhluk. Lalu Dia bertanya kepada para malaikat yang dulu oleh orang-orang musyrikin dianggap sebagai sekutu-sekutu dan berhala-berhala yang disembah dalam bentuk-bentuk malaikat. (Mereka menyembah berhala dianggap sebagai bentuk gambaran malaikat) itu agar berhala-berhala tersebut mendekatkan diri mereka (musyrikin penyembahnya) kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Maka Allah bertanya kepada para malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu ?”. Artinya: Apakah kamu memerintah mereka untuk menyembahmu ? Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-Furqan :”Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?” (Al-Furqan: 17).
Dan sebagaimana Allah berfirman kepada Isa: “… Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah ?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya).” (Al-Maidah: 116).

Demikian pula para malaikat berkata: “Maha Suci Engkau”, artinya; Maha Tinggi Engkau dan Maha Suci Engkau dari adanya tuhan beserta-Mu. “Engkaulah pelindung kami, bukan mereka”, artinya, kami adalah penyembah-Mu dan kami berlepas diri dari mereka (dan berlindung) kepada-Mu. Bahkan mereka telah menyembah jin; yakni syetan-syetan, karena syetan-syetan itulah yang menghiasi mereka untuk menyembah patung-patung dan menyesatkan mereka, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu. Sebagaimana firman Allah: “Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka.” (An-Nisa’: 117).
Allah Ta’ala berfirman, artinya: “Maka pada hari ini sebagian kamu tidak berkuasa (untuk memberikan) kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebagian yang lain. Artinya, tidak terjadi manfaat bagimu dari sekutu-sekutu dan berhala-berhala yang kamu harapkan manfa’atnya pada hari ini. Kamu telah merendahkan diri menyembah berhala-berhala agar mereka menghilangkan penderitaan-penderitaan dan kesulitan-kesulitanmu, pada hari ini mereka tidak memiliki manfaat dan mudharat apapun terhadapmu. Dan kami katakan kepada orang-orang yang dhalim; yaitu orang-orang musyrikin, “Rasakanlah olehmu adzab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu.” (Saba’: 42). Artinya, dikatakan kepada mereka perkataan yang demikian itu untuk menegurnya dengan keras dan menghinakannya. (ibid, juz 6, hal 524).

Rawan Kemusyrikan :
Bentuk-bentuk penyembahan yang serupa itu pun akan berakibat sama di akherat nanti. Maka wajib bagi siapa saja yg ingin selamat di akherat agar ia menjauhi apa saja yang menjurus kepada kemusyrikan. Entah itu dalam hal menyembelih binatang, mengadakan upacara-upacara, dll. Kalau tidak sesuai dengan petunjuk agama yang khalis (murni), maka tentu rawan kemusyrikan. Misalnya, berziarah kubur lalu minta kepada isi kubur (mayat) agar memohonkan kepada Allah, karena si mayat dianggap dekat dengan Allah, maka perbuatan itu sejenis dengan penyembahan berhala. Hanya saja yang satu minta kepada isi kubur, sedang yang lain minta kepada berhala/patung/benda. –

[dari : Artikel Buletin An-Nur : Rabu, 03 Maret 04]
http://www.alsofwah.or.id – situs dakwah dan informasi islam
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 031/th.03/Rabi’ul Akhir-Jummadil Awwal 1428H/2007M


Berdoa / Memohon Hanya Kepada Allah Semata

Juli 16, 2007

Pertanyaan :
”Apa hukum berdoa kepada selain Allah ?”

Jawab :
Al-Hamdulillah. Allah Subhanahu wa Ta’ala dekat dengan para hamba-Nya. Allah mengtahui kedudukan mereka, mengabulkan permohonan mereka dan tidak ada sedikit pun urusan mereka yang tidak Dia ketahui. “Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (QS. Ali Imran : 5)
Hanya Allah semata yang menciptakan kita dan memberi rezeki kepada kita. Di tangan-Nya jua-lah kekuasaan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Firman Allah: “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maaidah : 120). Di tangan Allah-lah segala kebaikan. Apabila Allah memberikan perintah dalam Kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya, harus ditaati dan dituruti. Firman Allah :”Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfaal : 24)

Allah yang Maha Kuasa dapat mendengar doa para hamba-Nya di setiap tempat dan waktu dengan pelbagai kebutuhan dan bercorak ragam bahasa mereka. Sebagaimana firman Allah : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah : 186). Allah telah memerintahkan kita untuk berdoa kepada-Nya dengan suara perlahan, dengan tunduk & pasrah. Firman Allah : “Berdo’alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yg melampaui batas..” (QS. Al-A’raaf : 55)
Allah SWT memiliki segala kekuasaan dan segala pujian. Dan Allah juga menguasai segala sesuatu. Langit dan bumi serta segala yang terdapat di dalamnya bertasbih kepada Allah, sebagaimana firman Allah :”Berdo’alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yg melampaui batas..” (QS. Al-Israa : 44).
Allah telah mengancam orang-orang yang takkabur dan enggan beribadah serta berdoa kepada-Nya dengan Neraka Jahannam. Firman Allah :”Dan Rabbmu berfirman : “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk naar Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mukmin : 60)

Berdoa kepada Allah harus dengan cara yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Di antaranya berdoa kepada Allah dengan menjadikan Asma Allah Al-Husna sebagai perantara. “Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raaf ; 180). Misalnya kita ucapkan: “Wahai Ar-Rahman (yang Maha Pengasih) kasihanilah kami; wahai Al-Ghafur (Yang Maha Pengampun) ampunilah kami; wahai Ar-Razzaq (Yang Maha Memberi rezeki, berikan rezeki kepada kami,” dan sejenisnya. Apabila seorang hamba berdoa kepada Allah, terkadang Allah memberikan apa yang dia mohon, dan terkadang Allah menghindarikan dirinya dari bahaya yang lebih besar daripada permohonan yang dia minta; atau bisa jadi Allah menyimpan pahala doanya itu hingga Hari Akhir nanti. Karena Allah memerintahkan berdoa dan berjanji akan mengabulkannya. Allah berfirman :”Dan Rabbmu berfirman “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.” (QS. Al-Mukmin : 60)

Allah memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya semata, dan memperingatkan kita agar tidak beribadah kepada syetan. Allah berfirman :”Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan ? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu..Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Yaasin : 60-61)
Berdoa kepada selain Allah untuk memenuhi kebutuhan atau menolak bala atau untuk mencari kesembuhan dari penyakit kesemuanya dapat mengotori akal dan membutakan mata hati. Allah berfirman :”Katakanlah, “Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita & (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang sesudah Allah memberi petunjuk kpd kita..” (QS. Al-An’aam : 71)

Sesungguhnya berdoa kepada dzat yg tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat, yang tidak mampu memerintah dan melarang, tidak mampu mendengar dan tidak mampu memperkenankan doa, baik itu dari kalangan para nabi dan rasul, jin atau malaikat, bintang-bintang atau benda langit, pepohonan dan bebatuan serta orang-orang yang sudah mati, kesemuanya adalah kezhaliman yang besar, merupakan kesesatan dari jalan yang lurus dan perbuatan syirik terhadap Allah yang Maha Agung. Allah berfirman :”Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yg demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim”. (QS. Yunus : 106). Juga firman Allah, “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka.” (QS. Al-Ahqaaf : 5).
Berdoa kepada selain Allah adalah perbuatan syirik dan merupakan dosa besar, bahkan dosa terbesar. Segala bentuk dosa bisa diampuni oleh Allah bagi siapa yang Allah kehendaki, kecuali dosa syirik. Sebagaimana firman Allah :”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa : 48)

Pada Hari Kiamat Allah akan mengumpulkan orang-orang musyrik & setiap orang yg beribadah kepada sesembahannya, namun para sesembahan tersebut akan berlepas diri dari mereka, bahkan mengingkari penyembahan mereka. Allah berfirman :”Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walau pun setipis kulit ari. ( Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tdk memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Faathir : 13-15).

[Dari kitab Ushul Ad-Dienil Islami oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri] – Hak Cipta Milik Islam-qa.com(c) 1997-2006 Pemimpin Umum Islam-qa.com : Sheikh Muhammad Shalih Al Munajid http://www.islam-qa.com/special/index.php?ref=11402&subsite=154&ln=ind

note :”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat (QS.Asy Syu ‘araa’ : 214). “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”. (QS.Adz Dzaariyaat : 55)

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS.Al An’aam : 122)

“Dan sebagian besar dari mereka tidak benar-benar beriman kepada Allah karena masih mempersekutukanNya(dengan yang lain).” (QS.Yusuf : 106)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS.Az-Zumar : 65)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 031/th.03/Rabi’ul Akhir-Jummadil Awwal 1428H/2007M


Percaya Bahwa Dukun Mengetahui Perkara Ghaib

Juli 16, 2007

Biarpun dunia telah memasuki zaman millennium, yang kata orang sebagai zaman serba canggih dengan segala perangkatnya. Ternyata tidak sedikit orang yang terjebak dan mempercayai permainan omong kosong apa yang disebut dengan nama ‘dukun’. Ada yang menyebutnya dengan istilah ‘orang pintar’, paranormal maupun tukang ramal nasib. Yang dipercayai dapat mengetahui nasib seseorang atau perihal ghaib lainnya. Bukankah hal itu tidak lebih sebagai tipu daya belaka terhadap pasien atau orang-orang yang bertanya dan mempercayai kepadanya. Lantas, bagaimanakah sang dukun mengetahui hal yang ghaib ? Apakah hal-hal ghaib bisa dipelajari ?. Insya Allah ringkasan berikut, dapat menjadi pengetahuan dan pedoman kita meluruskan aqidah secara benar. Kami nukilkan dari majalah Al Ashalah Edisi Dzulhijah 1416 H, artikel yang berjudul ‘Ilmul Ghaib Wa Ahwal Kuhanah Wal ‘Arafin, Ditulis Oleh : Muhammad Abdurrahman Al Khumayyis. Juga kami sertakan ulasan singkat Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, yang dinukil dari Majmu’ Fatawa, Jilid 1 hal. 67. Semoga bermafaat.

Alhamdulillah, ash shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ba’du; Sesungguhnya pengetahuan terhadap perkara ghaib termasuk hal yang menjadi rahasia Allah. Termasuk sifat Allah paling khusus, yang tidak ada seorang makhlukpun dapat menyamai Nya. Sebagaimana firmanNya, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (QS Al An’aam : 59). Dan firmanNya, “(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yg ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yg ghaib itu, kecuali kepada rasul yg diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS Al Jin : 26-27).

Barangsiapa berkeyakinan, bahwa dirinya atau orang lain dapat menguasai perkara ghaib, berarti ia telah kafir. Karena perkara ini termasuk perkara yang tidak pernah diberitakan kepada siapapun oleh Allah; tidak kepada para malaikat yang dekat dan tidak juga kepada para rasul yang diutus. Namun sangat disayangkan, banyak diantara orang awam di sebagian negara-negara Islam yang masih percaya kepada cerita-cerita khurafat dan cerita-cerita syirik orang-orang jahiliyah. Misalnya keyakinan, bahwa ada sebagian orang yang dapat mengetahui perkara ghaib. Seperti : dukun, tukang tenung atau yang sejenisnya. Kenyataan ini bisa didapati pada banyak negara Islam. Ini adalah kekeliruan yang sangat berbahaya dalam aqidah, karena merupakan perbuatan menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam hal yang menjadi kekhususan Allah, yaitu mengetahui perkara ghaib. Dalam sebuah hadits, “Barangsiapa yg mendatangi tukang tenung atau dukun, lalu ia percaya dengan apa yang dikatakan dukun atau tukang tenung itu, berarti ia telah kafir dengan apa yg telah diturunkan kepada Muhammad. (HR.Imam Ahmad) .
Dukun-dukun itu telah banyak merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat. Masyarakat telah mengeluarkan banyak harta demi mendapatkan ilmu ghaib menurut sangkaan mereka- dan terkadang sang dukun memberitahukan kepada mereka beberapa perkara, sebagiannya (kebetulan-pent) benar dan sebagiannya lagi bohong. Bahkan sebagian besar adalah bohong. Sehingga terbaliklah tolok ukur kehidupannya, yaitu banyak orang mengatur hidup mereka berdasarkan saran-saran yang disampaikan oleh sang pendusta yang mengaku mengetahui perkara ghaib. Allah berfirman kepada Nabi-Nya, “Katakanlah, “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS Al A’raf : 188).

Jika Nabi saja tidak mengetahui perkara ghaib, bahkan dengan terus terang beliau menafikan hal itu atas dirinya, maka orang selain beliau pasti tidak lebih tahu. Karena Beliau lebih berhak daripada mereka. Beliau adalah anak keturunan Adam yg paling afdhal secara mutlak. Ketika ada nash yang menyatakan, bahwa beliau tidak mengetahui perkara ghaib, maka selain beliau pasti lebih tidak tahu lagi. Tergelincirnya banyak orang ke dalam kesalahan berbahaya ini, disebabkan oleh beberapa berita yang mereka lihat ‘benar’, yang berasal dari para pendusta itu. Sehingga keyakinan mereka semakin kuat, dan selanjutnya mempercayai cerita-cerita sang dukun. Begitulah pintu kedustaan dan dajjal menjadi semakin terbuka. Para pendusta ini pun menjelma menjadi wali-wali Allah (menurut dugaan mereka).

Orang-orang awam (bodoh) itu melupakan banyak hal, diantaranya :

a. Bahwa pengetahuan tentang perkara ghaib, termasuk perkara yg hanya diketahui oleh Allah. Bahkan sebagian pemberitaan para nabi terhadap perkara ghaib, semua itu hanyalah berdasarkan apa yang Allah beritakan kepada mereka dan bukan karena usaha mereka sendiri. Sebagaimana firman Allah, “(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS Al Jin : 26,27).

b. Bahwa kebanyakan orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib bukanlah orang baik-baik dan bertakwa. Bahkan ada diantara mereka yang fajir (penjahat) lagi zindiq. Mereka berkubang dalam banyak perbuatan yang diharamkan seperti berkhalwat (berdua-duaan) dengan wanita yang bukan muhrim, mengkonsumsi makanan haram dan lain-lain. Kenyataan ini menunjukkan, bahwa kabar-kabar tentang sebagian perkara ghaib kadang bersumber dari orang yg tidak shalih, bahkan non muslim. Bagaimana mungkin mereka ini bisa menjadi wali-wali Allah ?

c. Seandainya mengetahui hal yang ghaib itu merupakan buah dari keimanan yang benar, tentunya orang yang paling berhak ialah Rasulullah . Padahal Beliau telah menafikan hal itu terhadap diri beliau.

d. Seandainya orang-orang ini benar dalam pengakuannya, yaitu mengetahui perkara ghaib, tentu mereka akan menghindarkan diri dari bencana-bencana atau kejahatan yang terkadang menimpa mereka.

Adapun mengenai jalan yang ditempuh oleh para pendusta ini -sehingga bisa memberitakan sebagian perkara ghaib- yaitu sebagai berikut :

1. Sebagian mereka mempunyai hubungan dengan jin. Jin-jin ini menyampaikan kepada si dukun sebagian berita benar yang dicuri oleh sang jin. Kemudian sang dukun ini membuat seratus kedustaan. Sebagaimana dalam sebuah hadits, “Aisyah istri Nabi berkata, Ada sekelompok orang yang bertanya kepada Rasulullah masalah tukang dukun, Beliau menjawab, Mereka tidak ada apa-apanya. Orang-orang itu berkata, Wahai Rasulullah, terkadang mereka membicarakan sesuatu yang benar. Maka Rasulullah menjawab, Itulah sebuah kalimat kebenaran yang dicuri oleh jin, lalu di sampaikan kepada telinga walinya, lalu wali-wali jin ini mencampurinya dengan seratus kedustaan.

2. Sebagian orang terkadang memiliki firasat atau kemampuan untuk membaca apa yang sedang bergejolak dalam hati seseorang yang sedang berada di depannya. Lalu, ia memberitahukan sebagian saja sehingga ia menjadi kagum dan mengira, bahwa si penebak tadi seorang wali. Padahal kemampuan seperti ini bisa didapatkan dan dimiliki oleh orang-orang kafir di negeri-negeri mereka. Bisa juga dimiliki oleh sebagian psikolog atau selain mereka.

3. Sebagian dukun itu juga meminta bantuan kepada pembantu-pembantunya yang menyelinap di tengah masyarakat. Sehingga bisa mengetahui nama seseorang atau sedikit tentang riwayat hidupnya, atau sesuatu yang ingin diketahuinya.

Setelah mendapat informasi, ia lalu menyampaikan berita tersebut kepada ‘sang dajjal’ (dalam hal ini dukun). Dengan modal berita itu, sang dukun menghadapi orang-orang yang tidak tahu, sehingga dianggapnya mengetahui semua perkara yang telah lewat. Karena itu, semua ucapannya tentang apa-apa yang akan datang dan masalah ghaibiyah menjadi bisa diterima.

Sebagai penutup. Saya ingatkan kepada kaum muslimin, agar jangan merusak agamanya, akidahnya, dunianya dan akhiratnya dengan mendatangi dukun atau tukang tenung, meminta pendapat mereka maupun mempercayai mereka. Semua itu merupakan kekufuran. Mereka wajib bertaubat kepada Allah dari perbuatan tersebut, jika mereka sudah terlanjur tergelincir dalam perbuatan seperti itu. Mereka wajib mengoreksi kembali akidahnya. Mengetahui hal-hal yang bisa memperbaiki dan hal yang bisa merusak. Ini merupakan kewajiban yang paling mendasar.

HUKUM ORANG YANG MENGAKU MENGETAHUI PERKARA GHAIB
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah ditanya tentang hukum orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib. Maka, beliau menjawab sebagai berikut. Orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib, berarti ia telah kafir. Sebab, ia telah mendustakan Allah. Allah berfirman, “Katakanlah, “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS An Naml : 65).

Apabila Allah telah menyuruh Nabi-Nya; Muhammad untuk mengumumkan kepada khalayak, bahwa tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah; maka orang yang mengaku mengetahuinya, berarti ia telah mendustakan Allah. Kita katakan kepada orang-orang ini, “Bagaimana mungkin kalian mengetahui yang ghaib, padahal Nabi SAW saja tidak mengetahuinya ? Apakah kalian lebih mulia, ataukah Rasulullah ?”. Jika mereka menjawab, “Kami lebih mulia”, berarti mereka telah kafir akibat dari perkataannya ini. Jika mereka menjawab, “Rasul lebih mulia”, maka kita katakan, “Kenapa Rasul tidak mengetahui yang ghaib, sedangkan kalian bisa mengetahuinya ? Padahal Allah berfirman, “(Allah) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yg ghaib itu. Kecuali kepada rasul yg diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS Al Jin : 26-27).

Inilah dua ayat yang menunjukkan kekufuran orang-orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib. Padahal Allah SWT telah memerintahkan Nabi-Nya; Muhammad untuk mengumumkan kepada khalayak dengan firman-Nya, “Katakanlah, Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu, bahwa aku ini Malaikat. Aku tidak mengikuti, kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku. (QS Al An’am : 50).

[Sumber : Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun VI/1423H/2003M]
http://www.salafyoon.net/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=92

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berlaku riya’ Allah akan memperlihatkan keburukannya. Dan barang siapa berlaku sum’ah (ingin didengar) Allah akan memperdengarkan aibnya. (HR Bukhari-Muslim. Lafaz di atas adalah riwayat al-Mundziri dalam kitab Targhib.)

Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah syirik kecil !”, mereka bertanya, “Wahai Rasul Allah, apakah syirik kecil itu ?, Beliau menjawab, Yaitu riya’ ”. Pada hari pembalasan untuk segala yang dikerjakan oleh manusia, Allah berkata, “Pergilah kepada orang-orang yang kalian ingin mereka melihat amal-amal kalian. Lalu lihatlah ! Adakah pahala yang disediakannya ?” (HR. Imam Ahmad, al-Baihaqi, at-Thabarani, at-Tirmizi, dan Muslim dengan lafaz yang berbeda-beda).

Allah SWT berfirman, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amalan mereka itu bagaikan debu yg beterbangan.” (QS.Al Furqaan : 23)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 031/th.03/Rabi’ul Akhir-Jummadil Awwal 1428H/2007M


Bernazar Kepada Selain Alloh

Juli 16, 2007

Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi (Pengajar Mahad Ilmi)

Pembaca yang budiman, salah satu bentuk kesyirikan yang harus kita hindari adalah bernazar kepada selain Alloh. Sebagaimana kita ketahui bahwa dosa syirik tidak diampuni oleh Alloh. Dan orang yang berbuat syirik diharamkan masuk Surga dan kekal mendekam di dalam Neraka, karena itulah setiap muslim hendaknya berusaha menjaga lidahnya dengan sungguh-sungguh, agar tidak mengucapkan perkataan-perkataan yang dibenci Alloh, di antaranya adalah nazar untuk selain Alloh yang akan dibahas berikut ini, insya Alloh.
Alloh Ta’ala berfirman, “Mereka (orang-orang yang baik) menunaikan nazar dan merasa takut akan suatu hari di mana ketika itu azab merata di mana-mana.” (Al Insaan : 7). Nazar adalah perbuatan seorang mukallaf (orang yang sudah dikenai beban syariat, dan ini berbeda dengan muallaf -red) yang mewajibkan dirinya sendiri untuk mengerjakan suatu ibadah karena Alloh, baik nazarnya itu secara mutlak maupun dengan persyaratan tertentu. Di dalam ayat di atas Alloh memuji orang-orang yang menunaikan nazar. Ini menunjukkan bahwa menunaikan nazar adalah perkara yang disukai Alloh, dan tidaklah sesuatu itu disukai (Alloh) kecuali sesuatu itu pasti disyariatkan. Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa yang bernazar untuk melakukan ketaatan maka hendaklah dia laksanakan ketaatan itu kepada-Nya.” (HR. Bukhori) [lihat At Tamhiid hal. 158]

Nazar Muthlaq dan Muqoyyad
Nazar ada dua macam: Muthlaq dan Muqoyyad. Nazar Muthlaq ialah apabila ada seorang yang mewajibkan dirinya sendiri untuk melaksanakan suatu ibadah kepada Alloh tanpa ada persyaratannya. Seperti contohnya dengan mengatakan: “Aku bernazar kepada Alloh akan sholat 2 rakaat”. Dan nazar jenis ini bukan termasuk nazar yang dibenci Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan Nazar Muqoyyad ialah apabila ada seorang yang mewajibkan dirinya sendiri untuk melaksanakan suatu ketaatan dengan syarat tertentu. Misalnya dengan mengatakan: “Apabila Alloh menyembuhkan penyakitku aku bernazar kepada Alloh akan menyedekahkan ini atau itu”. Nazar jenis inilah yang tidak disukai oleh Nabi sebagaimana dalam hadits beliau bersabda, “Sesungguhnya nazar (seperti) itu tidak muncul kecuali dari orang yang bakhil/kikir.” (HR. Al Bukhori dan Muslim) [lihat At Tamhiid hal. 159]

Bernazar Kepada Selain Alloh
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh mengatakan, “Adapun segala sesuatu yg dinazarkan bukan untuk Alloh, seperti bernazar untuk berhala, matahari, bulan dan kuburan serta yang semacamnya maka hukumnya sebagaimana orang yang bersumpah dengan menyebut selain Alloh berupa makhluk, maka tidak boleh ditunaikan, dan juga tidak ada kaffarahnya. Begitulah hukum bagi orang yg bernazar untuk makhluk, sesungguhnya keduanya adalah syirik. Dan syirik tidak memiliki nilai kehormatan sedikit pun. Pelakunya wajib beristigfar meminta ampun kepada Alloh SWT dari dosanya dan mengucapkan bacaan sebagaimana yg diajarkan Nabi: Laa ilaaha illalloh (HR. Al Bukhori dan Muslim) (lihat Fathul Majid hal. 152). Bernazar untuk selain Alloh hukumnya syirik akbar. Nazar adalah ibadah maka tidak boleh diarahkan kepada selain Alloh. Apabila diarahkan kepada selain Alloh maka itu syirik akbar. Sebab ibadah itu pengertiannya luas, yaitu segala sesuatu yg dicintai dan diridhoi Alloh baik perkataan maupun perbuatan yg lahir maupun yang batin, dan nazar termasuk di dalamnya (lihat Al Qoul As-Sadiid, hal. 50).

Bertentangan Dengan Kalimat Tauhid
Sesungguhnya kalimat tauhid “Laa ilaaha illalloh” menetapkan ibadah itu harus di tujukan hanya kepada Alloh dan menolak beribadah kepada selain-Nya. Sebagaimana diisyaratkan oleh firman Alloh ta’ala, “Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (An Nisaa’: 36). Inilah poros ajaran Islam yang keislaman seseorang tidak akan sah kalau keduanya tidak tergabung dalam dirinya. Lalu bagaimana mungkin seorang yang mengakui Alloh sebagai satu-satunya tempat bergantung, satu-satunya Zat yang menguasai segala urusan kemudian melakukan ibadah (bentuknya nazar) yang dinujukan kepada selain-Nya ?. Bukankah hal ini jelas-jelas bertentangan dengan syahadat yang diucapkannya ?
Orang yang bernazar kepada selain Alloh pada hakikatnya telah menggantungkan harapan dan kekhawatirannya kepada selain-Nya, padahal sebenarnya dia menyadari kalau Alloh menghendaki maka hal itu pasti terjadi, dan kalau Alloh tidak menghendaki maka pasti tidak terjadi, dan tidak ada yang mampu menghalangi anugerah-Nya atau memaksa Alloh untuk memberikan apa yang sudah dihalangi-Nya, maka meng-esa-kan Alloh dalam niat itulah hakikat tauhid (ibadah). Apabila ibadah itu diperuntukkan selain Alloh maka akan berubah menjadi kesyirikan terhadap Alloh, karena dia telah berpaling kepada selain Alloh dalam perkara yang diharapkannya atau yg dikhawatirkan akan menimpanya, sehingga dia telah menjadikan sekutu bagi Alloh dalam masalah ibadah…(lihat Fathul Majid hal. 153).
Renungkan baik-baik, betapa banyak orang yang mengucapkan “Laa ilaaha illalloh” sementara dia tidak sadar kalau ternyata gerak-gerik hati dan jasadnya selama ini bertentangan dengan kalimat tauhid yang diucapkannya, na’udzu billaahi min dzaalik.

Nazar Maksiat
Di antara orang-orang yang gemar berbuat dosa ada yang bernazar untuk melakukan kemaksiatan. Misalnya, “Kalau lulus saya bernazar kepada Alloh akan menenggak 3 botol minuman keras”. Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang bernazar untuk bermaksiat kepada Alloh maka janganlah dia melaksanakan maksiat kepada-Nya.” (HR.Al Bukhori). Al Hafizh Ibnu Hajar rohimahulloh berkata : “Para ulama sepakat mengharamkan nazar dalam rangka bermaksiat”. Syaikh Abdur rohman bin Hasan rohimahulloh berkata, “Dan para ulama telah ijma’ (sepakat) tentang haramnya melaksanakan nazar yg bersifat maksiat” (Fathul Majid hal. 155).

Macam-Macam Nazar
Ditinjau dari sah dan tidaknya nazar ada 5 macam :
(1). Nazar taat dan ibadah, ini wajib ditunaikan dan bila dilanggar harus membayar kaffarah (tebusan).
(2). Nazar mubah, yaitu bernazar untuk melakukan suatu perkara yang mubah/diperbolehkan dan bukan ibadah maka boleh memilih, melaksanakannya atau membayar kaffarah.
(3). Nazar maksiat, nazarnya sah tapi tidak boleh dilaksanakan dan harus membayar kaffarah.
(4). Nazar makruh, yaitu bernazar untuk melakukan perkara yang makruh maka memilih antara melaksanakannya atau membayar kaffarah.
(5). Nazar syirik, yaitu yg ditujukan untuk mendekatkan diri kepada selain Alloh maka nazarnya tidak sah dan tidak ada kaffarah, akan tetapi harus bertaubat karena dia telah berbuat syirik akbar (lihat Mutiara Faidah Kitab Tauhid buah pena Ustadz Abu ‘Isa hafizhahulloh hal. 82). Kaffarah pelanggaran nazar sama dengan kaffarah pelanggaran sumpah yaitu memilih salah satu di antara beberapa pilihan, yakni : memberi makan 10 orang miskin dengan makanan yang biasa diberikan kepada keluarganya, atau memberikan pakaian pada 10 orang miskin, atau memerdekakan seorang budak. Dan barang siapa yang tidak mampu melakukan itu semua maka kaffarah nya puasa 3 hari (lihat Al Wajiz hal. 386). Wallohu a’lam bish showaab

http://muslim.or.id/?p=540

“…dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka…”. (QS.Al Hajj : 29). Maksud ayat ini adalah nazar-nazar yang baik.

“Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya…”. (QS.Al Baqarah : 270)

“(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS.Ali ‘Imran : 35)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 031/th.03/Rabi’ul Akhir-Jummadil Awwal 1428H/2007M


J I M A T

Juli 16, 2007

Pertanyaan :
Saya ingin tahu, apakah boleh menggunakan jimat ? Saya pernah membaca kitab At-Tauhid dan beberapa buku lain tulisan Bilal Phillip. Hanya saja, saya pernah mendapat sebagian hadits dalam Al-Muwattha yang membolehkan sebagian bentuk ji mat. Dalam kitab tauhid juga disebutkan bahwa sebagian ulama As-Salaf membolehkan. Hadits-hadits tersebut ada pada juz ke lima dalam Al-Muwattha, disebutkan pada nomor 4, 11 dan 14. Kami harap, Syaikh memberikan jawaban, dan memberitahu kan tentang keabsahan hadits-hadits itu, serta memberikan kepada saya pengetahuan dalam persoalan ini. Terima kasih.

Jawab :
Kami tidak berhasil mendapatkan hadits yg hendak ditanyakan oleh penanya tentang keabsahannya. Karena kami tidak bisa mengenali hadits-hadits yg dimaksud. Sebab, penanya menyebutkan bahwa hadits-hadits itu dalam Al-Muwattha’ juz ke 50, pada hal Al-Muwattha cuma ada satu juz saja. Oleh sebab itu, kami akan menyebutkan beberapa lafazh hadits yg bisa kami dapatkan ; telah dijelaskan hukumnya oleh para ulama, semoga sebagian di antaranya adalah hadits yg dikehendaki penanya :

1 . Hadits dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci sepuluh hal: wewangian sufrah yakni khaluq, merubah warna uban menjadi hitam, melabuhkan kain, mengenakan cincin emas, memukul-mukulkan kaki, mengenakan perhiasan tidak pada tempatnya, menggunakan jampi-jampi selain dengan mu’awwidzat, mengalungkan jimat, memindahkan aliran air dari asalnya dan merusak anak, namun tidak sampai mengharamkannya.” [HR. An-Nasaa-i (50880) dan Abu Dawud (4222)]
Arti khaluq adalah sejenis wewangian berwarna kuning. Memindahkan aliran air, artinya menghindarkan masuknya mani ke rahim Isteri. Merusak anak kecil, artinya adalah bersetubuh dengan isteri yang masih menyusui. Arti bahwa Nabi tidak mengharamkannya, yakni bahwa beliau hanya membencinya. Hadits tersebut dilemahkan oleh Muhammad Nasiruddien Al-Albani dalam Dha’if An-Nasaa-i (3075)

2 . Dari Zainab binti Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhum, dari Abdullah diriwayatkan bahwa ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat dan tiwalah adalah syirik.” Zainab bertanya: “Kenapa engkau berkata demikian ? Demi allah, dahulu mataku pernah tertimpuk. Aku berbolak-balik datang menemui seorang Yahudi yang menjampi-jampiku. Apabila ia menjampiku, aku merasa senang.” Abdullah menanggapi: “Itu adalah amalan syetan. Syetan yang menusuk-nusuk dengan tangannya. Bila ia menjampi Anda, syetan itu menghilangkannya. Sebenarnya cukup bagi Anda mengucapkan yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Adzhibilba-sa Rabbannaas, isyfi antasy Syafi, laa syifaa-a illa syifa-uk, syifaa-un laa yu ghadiru saqaman” (Hilangkanlah penyakit ini wahai Rabb sekalian manusia. Sembuhkanlah, sesungguhnya Engkau Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan selain kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan lagi rasa sakit..).” (HR. Abu Dawud -3883-, dan Ibnu Majah -3530) Hadits itu dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah (331) dan (2972)

3 . Dari Utbah bin Amir Radhiallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengalungkan jimat, semoga Allah tidak menyempurnakan urusannya. Dan barang siapa yang mengalungkan wad’ah semoga Allah tidak mengiringi dirinya.” (HR.Ahmad -16951) Namun hadits tsb dilemahkan oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jamie'(5703).

4 . Dari Utbah bin Amir diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditemui oleh sekelompok orang, lalu beliau membaiat sembilan di antara mereka & tidak membaiat satu yg tersisa. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah! Engkau membaiat yang sembilan orang, tetapi tidak membaiat yang satu ini ?”. Beliau menjawab: “Karena ia mengalungkan jimat.”
Orang itupun memasukkan tangannya ke balik bajunya dan mencopot kalung jimatnya. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaiatnya. Beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengalungkan jimat, dia telah berbuat syirik..” (HR.Ahmad-16969) Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah (492)”
Tamaa-im (jimat) adalah jamak dari tamimah. Yaitu yang biasa dikalungkan di leher anak kecil atau orang besar, atau digantungkan di rumah-rumah dan di mobil, terbuat dari permata atau tulang untuk menolak bala khususnya dari serangan hipnotis, atau untuk mendapatkan manfaat.

Berikut ini pendapat para ulama berkaitan dengan jimat atau tama-im :

1. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata; “Ketahuilah! Bahwa para ulama dari kalangan Sahabat dan Tabi’ien serta generasi sesudah mereka berbeda pendapat tentang bolehnya mengalungkan jimat yang berasal dari Al-Qur’an atau Asma dan sifat Allah. Segolongan menyatakan boleh, yakni pendapat dari Abdullah bin Amru bin Ash dan yang lainnya. Itulah pendapat yang jelas dari Aisyah. Demikian juga pendapat Abu Ja’far Al-Baaqir dan Ahmad dalam satu riwayat. Mereka memahami larangan dalam hadits tersebut adalah terhadap bentuk jimat yang mengandung syirik. Adapun yang berasal dari Al-Qur’an atau asma dan sifat Allah, maka sama saja hukumnya dengan ruqyah (jampi-jampi) menggunakan Al-Qur’an atau Asma dan Sifat Allah tersebut.
Saya katakan: Itu adalah pendapat yang jelas dari Ibnul Qayyim.
Segolongan lain menyatakan bahwa mengalungkan jimat itu tidak boleh. Itu adalah pendapat Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas, juga merupakan pendapat yang jelas dari Hudzaifah, Uqbah bin Amir dan Ibnu Aqim. Pendapat ini juga diambil oleh banyak kalangan Tabi’in, di antaranya adalah para sahabat Ibnu Mas’ud dan juga Ahmad dalam satu riwayat yang dipilih banyak kalangan sahabat beliau. Kalangan Al-Mutaakhirin juga banyak mengambil pendapat tersebut. Mereka beralasan dengan hadits tersebut dan yang senada dengan hadits itu. Karena secara zhahir hadits itu bermakna umum, tidak membedakan antara jimat yang berasal dari Al-Qur’an atau berasal dari selain Al-Qur’an.

Lain halnya dengan ruqyah atau jampi-jampi, memang dibedakan antara keduanya. Pendapat itu dikuatkan lagi dengan kenyataan bahwa para Sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits tersebut mendudukkan hadits-hadits itu dengan maknanya yang umum, sebagaimana riwayat terdahulu dari Ibnu Mas’ud. Abu Dawud meriwayatkan dari dari Isa bin Hamzah bahwa ia menceritakan: Saya pernah menemui Abdullah bin Ukaim. Kala itu ia sedang demam. Aku berkata: “Kenapa tidak engkau kalungkan saja jimat ?” Beliau berkata: “Na’udzu billah min dzalik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barangsiapa yang mengalungkan jimat, maka ia akan disandarkan kepada jimat tersebut..”

Demikianlah perbedaan pendapat para ulama berkaitan dengan mengalungkan jimat dari Al-Qur’an atau nama dan sifat Allah. Sekarang bagaimana lagi dengan bid’ah-bid’ah yang terjadi kemudian ? seperti jampi-jampi dengan menggunakan nama-nama syetan dan yang lainnya, lalu mengalungkannya. Bahkan ditambah lagi dengan kebergantungan dengan syetan-syetan itu, meminta perlindungan dari mereka dan menyembelih untuk mereka, meminta mereka untuk selamat dari bahaya atau untuk mendapatkan manfaat tertentu yang jelas-jelas merupakan perbuatan syirik yang murni ?. Demikianlah yang menjadi kebiasaan umumnya manusia, kecuali yang diselamatkan oleh Allah. Renungkanlah yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pendapat sekalian para Sahabat dan Tabi’ien, demikian juga yang dinyatakan oleh para ulama sesudah mereka dalam persoalan tersebut atau dalam persoalan-persoalan lain. Kemudian lihatlah apa yang dikerjakan oleh generasi belakangan. Maka akan tampak bagi kita betapa asingnya ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekarang ini pada segala sisinya. Wallahu musta’an.” (Taisirul Azizil Hamied) hal. 136-138)

2. Syaikh Haifz Hukmi mengungkapkan: “Apabila jimat itu berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an yang jelas, atau berasal dari hadits-hadits yang jelas, masih ada perbedaan pendapat yang kental di kalangan para ulama As-Salaf dari kalangan Sahabat, Tabi’ien dan generasi sesudah mereka tentang boleh tidaknya. Sebagian mereka membolehkanya. Pendapat itu diriwayatkan dari Aisyah Radhiallahu ‘anha, Abu Ja’far Muhammad bin Ali, dan yg lainnya. Sebagian lagi menahan diri, yakni membencinya dan menganggapnya tidak boleh. Di antara yang berpendapat demikian adalah Abdullah bin Ukaim, Abdullah bin Amru, Uqbah bin Amir, Abdullah bin Mas’ud dan para sahabat beliau seperti Al-Aswad dan Alqamah. Demikian juga generasi sesudahnya seperti Ibrahim An-Nakha’ie dan yang lainnya -Rahimahullah–.
Tidak syak lagi, bahwa dengan menahan diri kita akan lebih bisa mencegah terjadinya keyakinan yang dilarang, terutama pada jaman sekarang ini. Karena kalau kebanyakan para Sahabat dan Tabi’ien melarang pada masa kehidupan mereka yang agung dan bernilai, sementara iman mereka lebih besar dari pada gunung, tentu pada masa sekarang ini lebih layak dan lebih pantas untuk dilarang; di jaman yang penuh dengan godaan dan cobaan. Bagaimana tidak ? Dengan adanya keringanan-keringanan hukum semacam itu, mereka bisa saja menggunakannya sebagai tangga melakukan berbagai hal yang diharamkan, menjadikannya sebagai sarana dan sebagai cara untuk melakukan perbuatan-perbuatan haram tersebut. Di antara contohnya, bahwa mereka menuliskan ta’awwuddz, ayat, surat, bismillah dan sejenisnya, namun dibawahnya mereka tuliskan juga berbagai mantera syetan yg hanya dapat dikenali oleh orang yang menelaah buku-buku mereka. Contoh lain, bahwa dengan menggunakan keringanan hukum itu mereka memalingkan hati orang banyak dari rasa tawakkal kepada Allah menjadi tawakkal kepada apa yang mereka tulis. Bahkan banyak orang yang berasa gentar kepada mereka, meskipun ia tidak terkena bahaya apapun dari mereka. Salah seorang di antara mereka misalnya datang kepada orang yg hendak ia preteli uangnya, sementara ia sudah tahu bahwa orang itu sudah demikian menggandrunginya. Ia berkata: “Anda akan terkena musibah ini dan itu pada keluarga atau harta Anda.” Atau mengatakan: “Sesungguhnya ada makhluk halus yang menemani Anda,” dan sejenisnya. Atau menggambarkan kepada berbagai bentuk tanda-tanda gangguan syetan, dengan memberi kesan bahwa ia orang yang tajam firasatnya, merasa kasihan sekali kepadanya dan bertekad menolongnya. Apabila hati orang yang bodoh dan bebal itu sudah dipenuhi rasa takut terhadap semua gambaran itu, mulailah ia berpaling dari Allah dan menghadap kepada ‘dajjal’ pembohong itu dengan segenap hati, bersandar dan bertawakkal kepadanya, bukan kepada Allah. Ia akhirnya terpaksa berkata: “Lalu bagaimana jalan keluarnya dari kondisi demikian ? Apa kiat menolak bencana tersebut ?”. Seolah-olah orang itu memiliki kemampuan memberi mudarrat dan manfaat. Dengan cara itu, keinginan dan harapannya akan tercapai. Semakin berhasratlah ia untuk mendapatkan uang yang pasti akan dikeluarkan oleh sang korban. Ia akan berkata: “Kalau Anda mau memberi saja uang sekian, akan saya berikan kepada Anda tameng dari semua itu yang panjang dan lebarnya sekian dan sekian.” Ia memberikan gambaran dan menghias-hiasi ucapannya kepada korbannya itu. Bahwa tamengnya itu dapat memelihara dirinya dari sekian jenis penyakit. Apakah kita menganggap perbuatan tersebut dengan keyakinan itu termasuk perbuatan syirik kecil ? Tidak, justeru itu termasuk penyembahan selain Allah, bertawakkal kepada selain Allah dan bersandar kepadanya, bahkan cenderung kepada perbuatan makhluk dan mencabut pelakunya dari agamanya. Syetan hanya mampu membuat kiat yang semacam itu dengan pertolongan saudaranya dari kalangan syetan manusia.
Firman Allah: “Katakanlah: “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah” Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Rabb mereka…” (Q.S Al-Anbiyaa : 42)

Kemudian di samping menulis mantera-mantera syetannya, ia juga menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an dan mengalungkannya tanpa bersuci lagi, dalam keadaan berhadats kecil maupun besar. Dengan itu, mereka sama sekali tidak menyucikan Al-Qur’an itu dari segala yang tak pantas. Demi Allah ! Tidak ada seorangpun musuh-musuh Allah yang menghina Kitab-Nya sebagaimana penghinaan yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku muslim itu. Dan demi Allah ! Al-Qur’an itu hanya diturunkan untuk dibaca, diamalkan dan diikuti perintah-perintahnya serta dijauhi larangan-larangannya, dipercayai beritanya dan dipatuhi aturannya, diambil pelajaran dari permisalan yang diberikannya dan dari kisah-kisah yang tercantum di dalamnya, lalu diimani seluruhnya (semua berasal dari sisi Rabb kami). Sementara mereka justeru telah melanggar itu semua dan mencampakkannya di belakang punggung mereka. Mereka hanya meng hafal kulitnya saja, untuk dijadikan alat mencari makan dan mengais rezeki sebagaimana berbagai cara lain yang mereka gunakan untuk memperoleh yang haram, bukan yang halal. Kalau ada seorang raja atau gubernur yang menyuruh bawahannya untuk mengerjakan sesuatu, meninggalkan hal-hal tertentu, menyuruh demikian dan melarang demikian, dan sejenisnya, lalu bawahannya mengambil surat perintah itu tanpa membacanya, tidak memikirkannya baik perintah maupun larangannya, tidak juga ia sampaikan kepada orang lainnya harus mengetahuinya, namun ia hanya mengalungkanya di lehernya, atau mengikatnya tanpa mengindahkan sedikitpun isinya sama sekali; sudah tentu, sang raja akan memberinya hukuman seberat-beratnya dan pasti akan memberikan kepadanya siksaan yang pedih. Apalagi bila titah itu adalah yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa Pemilik langit dan bumi, yang memiliki sifat-sifat yang Maha Tinggi, Yang berhak atas segala pujian di dunia dan di akhirat, yang segala urusan dikembalikan kepada-Nya. Beribadahlah kepada-Nya, bertawakkallah kepada-Nya. Dia-lah Yang Mencukupi diri kita, tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Dia. Dia adalah Rabb dari Arsy yang agung.

Jadi, bila jimat itu berasal dari selain Al-Qur’an dan Hadits, maka itu adalah syirik yang jelas. Bahkan sama bentuknya dengan undian menggunakan cawan-cawan sebagai penentu sikap (dimasa jahiliyyah), ditilik dari jauhnya dari sifat-sifat Islam terdahulu. Apabila jimat itu berasal dari selain Al-qur’an dan hadits, bahkan berasal dari mantera-mantera Yahudi dan para penyembah kuil, bintang-bintang dan para malaikat, atau berasal dari para pelayan jin dan sejenisnya, atau berasal dari permata, tali senar atau kalung besi dan sejenisnya, maka semua itu adalah syirik. Yakni bahwa mengalungkannya sebagai jimat adalah syirik, tidak diragukan lagi. Karena bukan termasuk cara yang dibolehkan, dan bukan termasuk pengobatan yang lazim. Justeru dengan cara itu mereka meyakini secara lepas bahwa semua itu dapat menolak bahaya ini dan itu, yakni bahaya berbagai rasa sakit, karena khasiatnya. Mereka berkeyakinan dalam hal itu sebagaimana yang diyakini oleh para penyembah berhala terhadap berhala mereka. Mirip atau bahkan serupa dengan berhala-berhala terbuat dari cawan-cawan di masa jahiliyyah yang dijadikan alat mengundi, kalau mereka menginginkan sesuatu. Yakni cawan-cawan yang diberi tulisan, salah satunya berisi tulisan: “Lakukan,” yang kedua: “Jangan lakukan,” sedang yang ketiga: “Biarkan.” Kalau yang keluar adalah yang bertulisan “lakukanlah,” maka segera dilakukan. Bila yang keluar adalah yang bertulisan “jangan lakukan,” mereka tidak jadi mengerjakannya. Dan bila yang keluar adalah yang bertulisan “biarkan,” mereka mengocoknya kembali. Allah telah menggantikan cara itu untuk kita dengan cara yang lebih baik, Al-Hamdulillah, yakni shalat istikharah berikut doanya.

Sasaran pembahasan di sini, bahwa semua jenis jimat yang tidak berasal dari Al-Qur’an dan Hadits adalah syirik, seperti undian dengan cawan tadi, dilihat dari keyakinan batil dan pelanggaran terhadap syariat Allah, serta jauhnya perbuatan itu dari sifat-sifat Islam sesungguhnya, yakni dari ciri khas Islam. Karena Ahli Tauhid sejati amatlah jauh dari sikap semacam itu. Iman dalam hati mereka terlalu besar untuk bisa dimasuki keyakinan semacam itu. Mereka terlalu mulia dan terlalu bagus keyakinannnya untuk harus bertawakkal kepada selain Allah, atau bertakwa kepada selain-Nya. Wa billahit Taufik.” (Ma’arijul Qabul II : 510-512)
Sementara pendapat yang melarang menggunakan jimat meskipun berasal dari Al-Qur’an sekalipun adalah pendapat guru-guru kami.

3. Al-Lajnah Ad-Daa-imah menyatakan: “Para ulama bersepakat tentang haramnya menggunakan jimat dari selain Al-Qur’an. Namun mereka masih berbeda pendapat bila berasal dari Al-Qur’an. Di antara mereka ada yang membolehkannya dan ada juga yang melarangnya. Namun pendapat yang melarang itu lebih kuat, berdasarkan keumuman hadits-hadits yang ada, dan demi mencegah terjadinya keharaman.” (Syaikh Ibnu Baaz -Rahimahullah– , Syaikh Abdullah Ibnu Ghadiyan & Syaikh Abdullah bin Qu’uud. Fatwa Al-Lajnah Ad-Daa-imah I : 212)

4. Syaikh Al-Albani -Rahimahullah-berkata: “Kesesatan ini masih saja meraja-lela di kalangan orang-orang badui, para petani bahkan juga orang-orang kota. Di antaranya adalah sejenis kalung yang digantungkan oleh para supir di depan mereka di kaca mobil. Sebagian mereka ada yang menggantungkan sendal butut di depan atau di belakang mobil. Ada lagi yg bahkan menggantungkan sepatu kuda di muka rumah atau tokonya. Menurut keyakinan mereka, semua itu untuk menolak sihir. Dan banyak lagi berbagai hal lain yang meraja lela di mana-mana karena ketidak-tahuan orang terhadap tauhid dan yang menjadi lawan tauhid, yakni berbagai perbuatan syirik dan berhalaisme (paganisme). Seluruh rasul diutus dan seluruh kitab diturunkan semata-mata hanya untuk menyanggah dan memberantas semua itu. Hanya kepada Allah-lah kita mengadukan ketidak-tahuan kaum muslimin sekarang dan jauhnya mereka dari agama-Nya.” (Silsilatul hadits Ash-Shahihah 492, I : 890) Wallahu A’lam.

(sumber : Islam Tanya & Jawab, Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid)
http://www.islam-qa.com/special/index.php?ref=10543&subsite=154&ln=ind
note :”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat (QS.Asy Syu ‘araa’ : 214). “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”. (QS.Adz Dzaariyaat : 55)

Hukum Menghadirkan Jin
(pertanyaan ini dijawab oleh Syaikh Sholeh Al-Utsaimin)

Pertanyaan:
”Di masyarakat ada orang yg mendatangkan jin dengan mengucapkan mantra-matra (thalasin) kemudian memerintahkannya untuk mengeluarkan “harta karun” yang telah terkubur (terpendam) lama di suatu tempat. Apa hukum perbuatan tersebut ?”.

Jawaban:
“Perbuatan tersebut tidak diperbolehkan karena thalasin (mantra-mantra), yang mereka gunakan untuk mendatangkan jin yg akan dimanfaatkan itu, pada umumnya mengandung kesyirikan (mempersekutukan Allah), padahal kesyirikan amatlah berbahaya. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah , maka pasti Allah mengharamkan surga atas dirinya dan tempatnya adalah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.”(QS. Al-Maidah : 72). Dan yang mendatangi orang-orang tersebut telah memperdaya dan menipu mereka. Memperdaya mereka dengan meyakinkan bahwa mereka di atas kebenaran, dan menipu mereka dengan harta yang dia berikan kepada mereka. Wajib untuk memutuskan hubungan dengan orang-orang itu, tidak datang kepada mereka dan melarang kaum muslimin dari mendatangi mereka. Kebanyakan mereka melakukan tipu daya terhadap manusia untuk mengambil hartanya dengan cara yang tidak benar. Mereka mengatakan perkataan yang dusta serta mengira-ngira. Jika benar apa yang mereka katakan, maka mereka sebarkan perkataan tersebut di tengah-tengah manusia dengan mengatakan “Kami telah mengatakan begini dan begitu hingga menjadi seperti itu.” Namu jika tidak sesuai, maka mereka membuat-buat alasan bahwa ada sesuatu ini dan itu yang menghalangi.

Saya menasehatkan kepada mereka yang tergoda dengan hal ini agar berhati-hati. Tinggal kanlah mengumbar kedustaan di tengah-tengah manusia, berbuat syirik kepada Allah, dan mengambil harta manusia dengan cara yang bathil. Sesungguhnya hidup ini teramat singkat dan perhitungan pada Hari Kiamat kepada Allah dari perbuatan tersebut. perbaiki amal kalian dan bersihkan harta kalian. Allah Maha Pemberi taufiq. –

[Maraji’: Majalah Fatawa, edisi: 09/Th.1/1424H-2003M]
http://forsitek.brawijaya.ac.id/index.php?do=detail&cat=fatwa&id=ftw-menghadirkan_jin

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 031/th.03/Rabi’ul Akhir-Jummadil Awwal 1428H/2007M


Orang Tua Menyampaikan Berita dari Tukang Ramal

Juli 16, 2007

Pertanyaan :
”Ibuku pergi ke seorang peramal baru-baru ini. Padahal seharusnya ia tidak selayaknya pergi kesana, karena hukumnya haram. Ibuku menceritakan, bahwa sang peramal mengatakan: “Kehidupan saya akan sengsara ; tidak berbahagia bila saya menikah. Saya tidak akan bertahan dengan seorang suami lebih dari dua tahun. Saya menyadari bahwa hanya Allah sajalah yang mengetahui hal-hal ghaib. Akan tetapi saya menjadi khawatir juga karena berita yg dibawa oleh ibu saya itu. Apa kira-kira yang bisa saya lakukan untuk mencegah agar hal itu tidak terjadi. Sungguh saya menjadi bingung dan tidak tahu apa yg harus saya yakini ?.

Jawab :
Al-Hamdulillah.
Pertama: Semoga Allah memberi Anda pahala yang baik dengan keyakinan Anda bahwa hanya Allah semata yang mengetahui keghaiban. Itulah yang menjadi harapan kami untuk menjadi keyakinan Anda dan keyakinan setiap muslimah yg bertakwa. Itu termasuk hal prinsip yg berkaitan dengan keimanan kepada Allah semata. Akan tetapi yang mengherankan, setelah memiliki keyakinan semacam itu, kenapa Anda masih merasa takut terhadap orang yg tidak mengetahui keghaiban ? Hendaknya Anda menentramkan hati dan bertawakkal kepada Allah. Sesungguhnya Anda hanya akan terkena dengan apa yang telah Allah gariskan kepada Anda.

Kedua: Adapun hukum meramal atau ilmu nujum dan mengaku mengetahui keghaiban, itu termasuk hal yang membinasakan bagi pelakunya, mengeluarkannya dari tauhid bahkan dari agama Islam itu sendiri.

Ketiga: Para peramal itu belajar dari kalangan jin. Mereka termasuk golongan ahli sihir yang bekerja sama dengan syetan. Padahal syetan itu baru mau membantu mereka, setelah mereka murtad agama (keyakinan) mereka. Dan orang yg mengganti (murtad) agamanya itu hukumannya harus dibunuh. Orang yang datang menemui mereka (untuk meminta ramalan), lalu membenarkan ucapan peramal itu, bisa juga terjerumus dalam kekafiran. Bila tidak sampai mempercayai ucapan tsb, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam.
Dalil dari yang pertama adalah riwayat hadits Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Barangsiapa yang mendatangi seorang peramal lalu mempercayai apa yang dia ramalkan, maka ia telah kufur terhadap wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.” (HR. Tirmidzi No. 135, Abu Dawud No. 3904, Ibnu Majah No. 639 dan Ahmad No. 9252. Hadits itu dishahihkan oleh Al-Hakim [I : 49] dan diakui oleh Adz-Dzahabi. Al-Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits itu memiliki dua hadits penguat diriwayatkan oleh Al-Bazzar dengan sanad yang bagus. Lihat Fathul Bari X : 217)
Dalil dari yang kedua: Diriwayatkan dari salah seorang isteri Nabi SAW, bahwa ia menceritakan: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yg mendatangi seorang peramal lalu menanyakan kepada tentang satu ramalan, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam.” (HR. Muslim 2230)

Keempat: Adapun bagaimana para peramal itu bisa mendapatkan berita-berita tersebut, itu dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah R.a, dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda: “Tatkala Allah telah menetapkan satu urusan di langit, para malaikat mengepak-ngepakkan sayap mereka untuk menunjukkan ketundukkan mereka terhadap firman Allah, seolah-olah firman Allah itu adalah rantai di atas gundukan tanah yang menembus diri mereka. Ketika hati mereka sudah demikian gentar, tiba-tiba mereka ditanya: “Apa yang difirmankan oleh Rabb kalian ?” Mereka menjawab : “Ia memfirmankan kebenaran belaka, sesungguhnya Dia Yang Maha Tinggi Lagi Maha Besar.” Maka kata-kata itu didengar oleh jin yg mencuri-curi kabar dari langit. Demikianlah berita-berita itu dioper secara estafet -Sufyan salah seorang perawi hadits ini memberikan gambaran dengan telapak tangannya– beliau menyilang-nyilangkan jari-jarinya. Lalu berita itu diberikan oleh pencuri berita itu kepada yang di bawahnya, kemudian diberikan lagi kepada yang dibawahnya, sampai terakhir hinggap di lisan ahli sihir atau peramal.
Terkadang mereka sudah keburu disambar oleh bintang berekor sebelum sempat menyampaikannya. Terkadang mereka sempat menyampaikan kepada sang peramal sebelum sempat disambar oleh bintang berekor. Namun kemudian syetan membumbuinya dengan seratus kebohongan. Ia mengatakan: “Bukankan si Fulan telah mengatakan kepada kita demikian pada hari ini dan itu ?” Secara bertepatan, sama dengan kata yang didengar dari berita langit.” (HR. Al-Bukhari- 4424)

Yang kelima: Syetan dapat mendengar ucapan para malaikat kepada sesama malaikat adalah dengan takdir dari Allah di langit. Dan itu adalah persoalan yg kongkrit, bukan berarti syetan mengetahui hal yang ghaib. Namun dengan satu kata yang di dengarnya itu, syetan membumbuinya dengan seratus kebohongan. Seperti memberikan kabar bahwa si Fulanah akan melahirkan anak laki-laki, lalu si peramal mengabarkannya kepada orang banyak. Ternyata yang terjadi memang demikian, sehingga mereka merasa mantap dengan berita itu. Atau memberikan kabar bahwa si Fulanah akan menikah tahun sekian atau akan meninggal dunia tahun sekian, dan berbagai kejadian rinci sejenisnya. Dengan itu, orang banyak menjadi terpukau dan mendekatkan diri mereka kepadanya dengan memberikan banyak hadiah dan uang. Kebohongan itu akhirnya menjadi lahan pencariannya setelah orang banyak sudah merasa mantap terhadap omongannya, sehingga iapun mencari nafkah dengan cara yang haram pula.

Keenam: satu hal yang perlu diingatkan di sini, bahwa tidak setiap peramal itu adalah dukun, terkadang ia meramal dengan menggunakan pasir atau membaca melalui cangkir air. Karena para dukun itu adalah yang dapat melihat berita dari kalangan jin, sementara selain mereka tidaklah demikian. Para peramal dengan pasir dan sejenisnya itu hanyalah para pendusta. Akan tetapi secara hukum mereka semua adalah sama, dari sisi bahwa mereka sama-sama mengaku mengetahui hal-hal ghaib, meskipun dukun yang bekerja sama dengan syetan itu lebih kufur lagi. Karena di samping ia kafir karena ramalannya, ia juga kafir karena bekerja sama dengan syetan yang hanya akan memberikan apa yang mereka minta setelah ia mempersembahkan kepada syetan itu berbagai bentuk sesembahan yang mengeluarkan dirinya dari Islam
Ketujuh: Anda berkewajiban menasihati ibu Anda agar tidak mendekati orang-orang semacam itu, agar tidak terjerumus ke dalam dosa atau bahkan gugur amal perbuatannya. Jangan meninggalkan nikah, karena menikah itu banyak membawa manfaat dan termasuk amalan yang agung, sesuai tuntutan fitrah sebagaimana juga merupakan anjuran agama. Insya Allah, kehidupan Anda tidak akan sengsara. Bahkan Anda harus optimis bahwa kehidupan Anda akan senang dan berbahagia. Kami berdoa, semoga Anda akan dikumpulkan dengan orang yang shalih dan berilmu. Kalaupun terjadi hal yang tidak baik, artinya Anda menikah dengan lelaki yang menyebabkan Anda kurang berbahagia, maka semua itu adalah takdir Allah, bukan karena ramalan si peramal tadi itu sendiri, bukan juga karena si peramal itu mengetahui keghaiban, tetapi hal itu terjadi secara kebetulan saja, sebagai ujian dan cobaan. Bagaimanapun adanya, keberanian Anda memasuki kehidupan berumahtangga -selain karena banyak manfaatnya– juga berfungsi meredam bualan para peramal dan para dajjal beserta orang-orang yang mempercayai ucapan mereka.
Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua untuk mendapatkan segala kebaikan. Amin.

[Islam Tanya & Jawab, Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid]
http://www.islam-qa.com/special/index.php?ref=7961&subsite=154&ln=ind

“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan di turunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS.Al Baqarah : 105). “Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah : “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”. (QS.Al Baaqarah : 135)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 031/th.03/Rabi’ul Akhir-Jummadil Awwal 1428H/2007M


Tabarruk Yang Boleh dan Yang Dilarang

Juli 16, 2007

Tabarruk artinya mencari barokah (ngalap berkah, jawa). Bertabarruk dengan sesuatu artinya mencari berkah dengan perantaraan sesuatu tersebut. (Lihat an-Nihayah fi Gharib al-Hadits, Ibnu Atsir bab “Al Ba’ ma’a al Ra’”, 1/120).
Tidak diragukan lagi bahwa barakah dan kebaikan asalnya dari Allah SWT. Dia terkadang mengkhususkan pada sebagian makhluk-Nya yang memiliki keutamaan tertentu untuk diberi barokah. Barokah pada dasarnya adalah ungkapan untuk sesuatu yang tetap dan terus menerus, atau sering digunakan untuk istilah sesuatu yg tumbuh dan berkembang. Maka yang dimaksudkan dengan barokah di antaranya adalah:
1. Tetapnya kebaikan sesuatu dan langgeng.
2. Banyak dan bertambahnya kebaikan, terus-menerus meski sedikit demi sedikit.
3. Tabaroka, yakni lafal khusus untuk Allah subhanahu wata’ala, yg menurut Imam Ibnul Qayyim memiliki arti abadi keberadaan-Nya, tak terhingga kebaikan, keagungan, ketinggian, kebesaran dan kesucian-Nya. Segala macam kebaikan datang dari sisi-Nya, dan juga pemberian barokah dari Allah kepada sebagian makhluk-Nya.

Di antara yg memiliki berkah adalah al-Qur’anul Karim, karena mengandung kebaikan yang tak terhingga. Rasulullah SAW juga memiliki berkah, dalam arti Allah SWT menjadikan keberkahan pada diri beliau. Barokah Rasulullah dapat bersifat maknawi, yakni berupa risalah yang diembannya yg membawa kebaikan dunia dan akhirat. Dan juga barokah secara fisik, yaitu berkah dalam segala perbuatan beliau yang di antaranya berupa mukjizat, serta berkah dari anggota badan beliau. Kita tidak memungkiri bahwa seluruh nabi dan para malaikat adalah membawa berkah, demikian juga orang-orang shalih, namun kita tidak bertabarruk dengan mereka. Kita tidak bertabarruk dengan mereka itu, semata-mata karena tidak adanya dalil yg mensyari’atkan hal tersebut, bukan karena memungkiri keberadaan barokah yg ada pada mereka.
Demikian juga beberapa tempat yang memiliki barokah, seperti Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha, kemudian masjid-masjid lain secara umum. Ada juga sebagian waktu yang memiliki barokah, seperti bulan Ramadhan, Lailatul Qadr, Sepuluh pertama Dzulhijjah, hari Jum’at, bulan-bulan Haram, sepertiga malam akhir dan lain sebagainya. Dan cara mencari barokahnya pun dengan melaksanakan berbagai amalan yg disyari’atkan pada tempat-tempat dan waktu-waktu tersebut, sedang keberkahannya tetap dimohonkan kepada Allah SWT.
Juga ada beberapa benda yang mengandung berkah, seperti air zam-zam, juga air hujan karena dengan sebabnya tanaman tumbuh subur, manusia dan binatang dapat minum dan menghasilkan berbagai buah-buahan. Juga pohon zaitun, susu, kuda, domba dan kurma.

TABARRUK YANG DISYARI’ATKAN
1. Bertabarruk dengan Dzikrullah dan Membaca al-Qur’an
Mencari barokah dengan al-Qur’an bukan dengan cara meletakkan mushaf al-Qur’an di kamar, di rumah atau di dalam mobil agar mendatangkan keselamatan. Namun mencari baroakah di sini adalah berupa dzikir dengan hati, lisan serta mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai tuntunan. Merupakan bentuk keberkahan adalah ketenangan dan kekuatan hati untuk melakukan ketaatan, terbebas dari berbagai macam kerusakan, memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, ampunan dari dosa, turunnya sakinah dan kelak al-Qur’an akan menjadi syafaat pada hari Kiamat bagi para pembacanya.

2. Bertabarruk dengan Diri Nabi SAW ketika Masih Hidup.
Ini dikarenakan diri (dzat) Nabi Muhammad SAW adalah mubarokah (memiliki berkah), dan termasuk juga apa yang ada kaitannya dengan beliau. Oleh karena itu kita dapati para sahabat bertabarruk dengan diri beliau. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Juhaifah ra., bahwa para sahabat pernah mengambil berkah dengan cara memegang tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mengusapkan ke wajah-wajah mereka. Dan ternyata tangan beliau lebih sejuk daripada salju dan lebih harum daripada minyak misik. (riwayat al-Bukhari dalam Kitab Manaqib, bab sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam 4/200 no.3553).
Demikian pula diriwayatkan bahwa para sahabat bertabarruk dengan pakaian Nabi SAW, dengan air wudhu beliau, dengan sisa air minum beliau. Mereka juga bertabarruk dengan benda-benda yang terpisah dari beliau misalnya, rambut beliau dan segala sesuatu yang pernah dipakai oleh beliau seperti baju, bejana, sandal dan lain sebagainya.
Bertabarruk dengan diri Nabi SAW tidak dapat dikiaskan pada orang lain selain beliau. Beliau tidak pernah memerintahkan kepada sahabatnya untuk melakukan itu, dan tidak pernah ada di antara para sahabat yang saling mengambil berkah terhadap sahabat-sahabat yang utama seperti bertabarruk dengan Abu bakar, Umar, Utsman, Ali radhiyallahu ‘anhum dan juga sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, padahal mereka adalah manusia termulia sepeninggal Rasulullah SAW.

Dengan demikian bertabarruk dengan dzat orang shalih dan para ulama adalah sama sekali tidak disyari’atkan. Bertabarruk dengan mereka di antaranya dengan cara mendengarkan nasehat mereka, minta doa mereka serta hadir dalam majlis-majlis ilmu mereka. Dan inilah keberkahan & kebaikan yg paling bermanfaat terbesar.

3. Bertabarruk dengan Meminum Air Zam-Zam
Air Zam-Zam merupakan air yang paling baik dan utama di muka bumi, orang yang meminumnya akan merasa kenyang dan bahkan mencukupi seseorang sekiranya dia tidak memakan makanan. Dan meminumnya dapat diniatkan untuk mengobati penyakit, karena air tersebut dapat memberikan manfaat sesuai dengan tujuan yang meminumnya. Nabi SAW bersabda tentang air Zam-Zam, artinya, “Sesungguhnya dia mengandung berkah, makanan yang mengenyangkan dan obat bagi penyakit.” (HR. Muslim)

4. Mengambil Berkah Air Hujan
Tidak diragukan lagi bahwa air hujan adalah mubarok (diberkahi) karena Allah SWT mendatangkan keberkahan dengan hujan tersebut. Dengannya manusia dan binatang memperolah minum, pepohonan tumbuh subur, menghasilkan buah-buahan dan dengannya pula Allah membuat segala sesuatu menjadi hidup. Diriwayatkan dari Anas ra., dia berkata, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah kehujanan. Anas lalu mengatakan, “Maka Rasulullah membuka sebagian bajunya sehingga terkena air hujan.”

TABARRUK YANG DILARANG
1. Bertabarruk dengan Nabi SAW Setelah Beliau Wafat.
Bertabarruk dengan diri Nabi SAW setelah beliau wafat adalah tidak diperbolehkan kecuali dalam dua hal:
* Pertama; Dengan beriman, taat dan ittiba’ kepada beliau. Maka barang siapa yg melakukan itu semua dia mendapatkan kebaikan yang banyak dan pahala yang besar serta mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
* Kedua; Bertabarruk dengan peninggalan beliau yang telah terpisah dari beliau, seperti pakaian beliau, rambut beliau, bejana atau tempat minum beliau dan lainnya yang masih terkait dengan diri beliau.

Dan selain yang demikian itu tetap tidaklah disyari’atkan. Tidak boleh bertabarruk dengan kubur beliau dan melakukan safar khusus untuk tujuan ziarah ke kubur beliau. Kita disunnahkan berziarah kubur beliau jika kita memang telah berada di Madinah atau ketika ziarah Masjid Nabawi.
Adapun cara berziarah kubur beliau yang benar adalah; Apabila kita masuk masjid Nabi, maka shalat tahiyatul masjid lalu menuju kubur beliau dan berdiri dengan sopan menghadap kamar (ruang kubur) lalu dengan pelan dan sopan mengucapkan, “Assalamu’alaika ya Rasulallah”. Tidak boleh berdoa di sisi kubur beliau, tidak boleh meminta syafa’at, mengusap kubur dan mencium dindingnya. Tidak boleh bertabarruk dengan tempat yang pernah beliau duduki, atau tempat yang pernah beliau gunakan untuk shalat, jalan yg pernah beliau lewati, tempat turunnya wahyu, atau bertabarruk dengan tempat beliau lahir, malam kelahirannya, malam isra’ mi’raj dan selainnya .

2. Bertabarruk dengan Orang Shalih
Tidak boleh bertabarruk dengan orang shalih, baik dengan dzatnya, bekasnya, tempat ibadahnya, tempat berdirinya, kuburnya. Tidak boleh shalat di samping kuburnya, meminta berbagai keperluan, mengusap, dan beri’tikaf di sisinya. Juga tidak boleh bertabarruk dengan hari atau tempat kelahiran mereka. Barang siapa melakukan itu untuk bertaqqarrub kepada mereka dengan keyakinan bahwa mereka dapat memberikan manfaat dan madharat, maka dia telah berbuat syirik besar. Sedangkan yg meminta keberkahan kepada Allah subhanahu wata’ala dengan perantaraan mereka, maka dia telah melakuakn bid’ah yang mungkar.

3. Bertabarruk Dengan Gunung dan Tempat Tertentu
Bertabarruk seperti ini bertentangan dengan ajaran Nabi SAW, dan dapat menyebabkan seseorang mengagungkan (mengeramatkan) tempat-tempat tersebut. Tidak dibenarkan mengiaskan dengan Hajar Aswad, Ka’bah dan mengusap rukun Yamani, karena ini merupakan ibadah yang bersifat tauqifiyah (sebatas mengukuti dalil). Imam Ibnul Qayyim berkata, “Tidak ada tempat di muka bumi ini yang disyari’atkan untuk dicium dan diusap selain Hajar Aswad dan Rukun Yamani.” (Zadul Ma’ad 1/48)
Sehingga tidak dibenarkan seseorang mencium atau mengusap dinding masjid, mencium maqam Ibrahim atau hijir Ismail, dan tidak boleh bertabarruk dengan gua Hira’ atau jabal Nur, sengaja shalat di sana. Tidak boleh bertabarruk dengan gua Tsur, Jabal Arafah (jabal Rahmah), Jabal Abu Qubais, gunung Tursina dan secara umum tidak boleh bertabarruk dengan pohon-pohon, batu-batu dan gunung gunung yang la innya.
Di antara penyebab terjadinya tabarruk yang dilarang adalah jahil tentang agama, ghuluw (ekstrim) terhadap orang shalih, menyerupai orang kafir dan mengagungkan tempat-tempat yang dianggap bertuah atau keramat. Wal ‘iyadzu billah.

[artikel di atas diringkas dari “Nurus Sunnah wa Zhulumatul Bid’ah,” hal 118-133, Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani].
(sumber : Buletin An-Nur : Selasa, 30 Nopember 04)
http://www.alsofwah.or.id – situs dakwah dan informasi islam

Hukum Menggunakan Ari-Ari Manusia Untuk Pengobatan Penyakit

Pertanyaan :
”Dalam waktu dekat sepasang suami istri tengah menunggu kelahiran bayi mereka. Mereka berdua berniat menyimpan ari-ari dan orok bayi mereka yang konon katanya sebagai obat untuk penyakit kanker. Apakah hal itu dibolehkan menurut ajaran Islam?”

Jawab :
Pertanyaan di atas telah kami teruskan kepada Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Pertanyaannya sebagai berikut: “Apa hukumnya menyimpan ari-ari bayi untuk digunakan sebagai obat penyakit kanker dan menghilangkan noda-noda pada wajah ?”. Beliau menjawab: “Secara dzahir hal itu boleh dilakukan jika memang benar demikian. Pertanyaan berikutnya: “Apakah perbuatan itu terkena kaidah yang berbunyi ‘anggota tubuh yang dipotong/diambil dari makhluk hidup statusnya adalah bangkai’ ?. Beliau menjawab: “Mayat manusia hukumnya suci”.

Pertanyaan berikutnya: “Jika ternyata ari-ari tersebut tidak digunakan apakah wajib menguburkannya ataukah boleh dilemparkan ke sembarang tempat ?. Beliau menjawab: Secara dzahir ari-ari tergolong jenis kuku dan rambut. Wallahu a’lam.

[Islam Tanya & Jawab, Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid, Pemimpin Umum Islam-qa.com]
http://www.islam-qa.com/special/index.php?ref=3794&subsite=154&ln=ind
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 031/th.03/Rabi’ul Akhir-Jummadil Awwal 1428H/2007M