Syahid Sepenuh Hati

Mei 11, 2006

Barangsiapa yg mengharapkan mati syahid dgn sepenuh hati, maka ALLAH akan memberikan mati syahid kepadanya meskipun ia mati ditempat tidur .

Dunia hanya satu terminal dari seluruh fase kehidupan. Hanya Allah yang tahu rentang usia seorang manusia. Saya, Khadijah sebut saja demikian, menikah dengan Muhammad, 3 Oktober 1993. Muhammad adalah kakak kelas saya di IPB. Selama menikah, suami sering mngingatkan saya tentang kematian, tentang syurga, tentang syahid, dan sebagainya. Setiap kami bicara tentang sesuatu, ujung-ujungnya bicara tentang kematian dan indahnya syurga itu dan lain sebagainya. Kalau kita bicara soal nikmatnya materi, suami mengaitkannya dengan kenikmatan syurga yang lebih indah. Bahkan, berulang-ulang dia mengatakan, nanti kita ketemu lagi di syurga. Itu mempunyai makna yang dalam bagi saya.

Hari itu, 16 Januari 1996, kami ke rumah orang tua di Jakarta. Seolah suami mengembalikan saya kepada orang tua. Malam itu juga, suami saya mengatakan harus kembali ke Bogor, karena harus mengisi diklat besok paginya. Menurutnya, kalau berangkat pagi dari Jakarta khawatir terlambat. Mendekati jam 12 malam, saya bangun dari tidur, perut saya sakit, keringat dingin mengucur, rasanya ingin muntah. Saya bilang pada ibu saya, untuk diobati. Saya kira maag saya kambuh. Saya sempat berpikir suami saya di sana sudah istirahat, sudah senang, sudah sampai karena berangkat sejak maghrib. Saya juga berharap kalau ada suami saya mungkin saya dipijitin atau bagaimana. Tapi rupanya pada saat itulah terjadi peristiwa tragis menimpa suami saya.
Jam tiga malam, saya terbangun. Kemudian saya shalat. Entah kenapa, meskipun badan kurang sehat, saya ingin ngaji. Lama sekali saya menghabiskan lembar demi lembar mushaf kecil saya. Waktu shubuh rasanya lama sekali. Badan saya sangat lelah dan akhirnya tertidur hingga subuh. Pagi harinya, saya mendapat berita da ri seorang akhwat di Jakarta, bahwa suami saya dalam kondisi kritis. Karena angkutan yang ditumpanginya hancur ditabrak truk tronton di jalan raya Parung. Sebenarnya waktu itu suami saya sudah meninggal. Mungkin sengaja beritanya dibuat begitu biar saya tidak kaget. Namun tak lama kemudian, ada seorang teman di Jakarta yang memberitahukan bahwa beliau sudah meninggal. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun.
Entah kenapa, mendengar berita itu hati saya tetap tegar. Saya sendiri tidak menyangka bisa setegar itu. Saya berusaha membangun keyakinan bahwa suami saya mati syahid. Saya bisa menasihati keluarga dan langsung ke Bogor. Di sana, suami saya sudah dikafani. Sambil menangis saya menasihati ibu, bahwa dia bukan milik kita. Kita semua bukan milik kita sendiri tapi milik ALLAH. Alhamdulillah ALLAH memberi kekuatan. Kepada orang-orang yang bertakziah waktu itu, saya mengatakan : “Doakan dia supaya syahid.. doakan dia supaya syahid”. Sekali lagi ketabahan saya waktu itu semata datang dari ALLAH, kalau tidak, mungkin saya sudah pingsan.

Seperti tuntunan Islam, segala hutang orang yang meninggal harus ditunaikan. Meski tidak ada catatannya, tapi tanpa disadari, saya ingat sekali hutang-hu tang suami. Saya memang sering bercanda sama suami, “Mas kalau ada hutang, catat. Nanti kalau Mas meninggal duluan saya tahu saya harus bayar berapa.” Canda itu memang sering muncul ketika kami bicara masalah kematian. Sampai saya pernah bilang pada suami saya, “kalau mas meninggal duluan, saya yang mandiin. Kalau mas meninggal duluan, saya kembali lagi ke ummi, jadi anaknya lagi.” Semua itu akhirnya menjadi kenyataan.
Beberapa hari setelah musibah itu, saya harus kembali ke rumah kontrakan di Bogor untuk mengurus surat-surat. Saat saya buka pintunya, tercium bau harum sekali. Hampir seluruh ruangan rumah itu wangi. Saya sempat periksa barangkali sum berwangi itu ada pada buah-buahan, atau yang lainnya. Tapi tidak ada. Ruangan yang tercium paling wangi, tempat tidur suami dan tempat yang biasa ia gunakan bekerja.
Beberapa waktu kemudian, dalam tidur, saya bermimpi bersalaman dengan dia. Saya cium tangannya. Saat itu dia mendoakan saya: “Zawadakillahu taqwa waghafaradzan baki, wa yassara laki haitsu ma kunti” (Semoga Allah menambah ketakwaan padamu, mengampuni dosamu, dan mempermudah segala urusanmu di mana saja). Sambil menangis, saya balas doa itu dengan doa serupa.

Semasa suami masih hidup, doa itu memang biasa kami ucapkan ketika kami akan berpisah. Saya biasa mencium tangan suami bila ia ingin keluar rumah. Ketika kami saling mengingatkan, kami juga saling mendoakan. Banyak doa-doa yang diajarkan suami saya. Ketika saya sakit, suami saya menulis doa di white board. Sampai sekarang saya selalu baca doa itu. Anak saya juga hafal. Saya banyak belajar dari nya. Dia guru saya yang paling baik. Dia juga bisa menjelaskan bagaimana indahnya syurga. Bagaimana indahnya syahid.
Waktu saya wisuda, 13 Januari 1996 saya sempat bertanya pada suami, “Mas nanti saya kerja di mana?” Suami diam sejenak. Akhirnya suami saya mengatakan supaya wanita itu memelihara jati diri. Saya bertanya, “Maksudnya apa ?”, “Beribadah, bekerja membantu suaminya, dan bermasyarakat”. Saya berpikir bahwa saya harus mengurus rumah tangga dengan baik. Tidak usah memikirkan pekerjaan. Sekarang, setiap bulan saya hidup dari pensiun pegawai negeri suami. Meskipun sedikit, tapi saya merasa cukup. Dan rejeki dari ALLAH tetap saja mengalir. ALLAH memang memberi rejeki pada siapa saja, dan tidak tergantung kepada siapa saja. Katakanlah meski suami saya tidak ada, tapi rejeki ALLAH itu tidak akan pernah habis.

Insya ALLAH saya optimis dengan anak-anak saya. Saya ingat sabda Nabi : “Aku dan pengasuh anak yatim seperti ini”, sambil mendekatkan kedua buah jari tangannya. Saya bukan pengasuh anak yatim, tapi ibunya anak yatim. Meski masih kecil-kecil, saya sudah merasakan kedewasaan mereka. Kondisi yang mereka alami, membuat mereka lebih cepat mengerti tentang kematian, neraka, syurga bahkan tentang syahid. Rezeki yang saya terima, tak mustahil lantaran keberkahan mereka.
——————————-
(Diambil dari Dzikroyat-Tarbawi)
http://www.eramuslim.net/arsip/hs/hs010.htm

Abu Dzar berkata,” Aku diberi wasiat oleh junjunganku dengan tujuh perkara :
1. Disuruhnya aku agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri kepada mereka.
2. Disuruhnya aku melihat kepada orang yang di bawahku dan bukannya orang yang di atasku.
3. Tidak meminta sesuatu daripada orang lain.
4. Menghubungkan tali silaturahim.
5. Menyatakan yang haq walaupun pahit.
6. Tidak takut celaan orang dalam menjalankan agama Allah.
7. Membanyakkan menyebut ‘La khaula wala quwwata illa billah’

(Petikan dari Buku ‘Karekteristik perihidup 60 sahabat Rasulullah’)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.008/th.01/Syawwal – DzulQoidah 1425H/2005M

Iklan

The True Furqan Bukti Adalah Dusta Musuh Islam

Mei 11, 2006

“Sungguh besar kalimat (dusta) yang mengalir dari mulut-mulut mereka, namun tak lain apa yang diucapkan kecuali kebohongan” (S. Al Kahf: 5)

Akhir-akhir ini ummat Islam di berbagai belahan dunia kembali diresahkan oleh penulisan sebuah buku yang kemudian diklaim sebagai “tandingan” Al Qur’an. Judul buku tersebut juga diambil dari salah satu sifat Al Qur’an, yaitu “Al Furqaan” (pembeda antara kebenaran dan kebatilan). Saya sendiri menerima buku ini sekitar Juli 2001 lalu dan pada awalnya saya menganggapnya sesuatu yang tidak berharga. Sebagai seorang Muslim yang hidup di tengah-tengah non Muslim, propaganda murah an seperti ini merupakan hal biasa. Membaca, menyaksikan dan bahkan mengalami ke bohongan seperti ini sudah merupakan santapan sehari-hari. Sikap saya ini juga merupakan sikap sebagian besar pemimpin komunitas Muslim di AS, yang menganggapnya sebagai pembuktian ayat Allah: “Meraka hendak memadamkan (cahaya agama) Allah dengan mulut-mulut mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahayaNya meski pun orang-orang kafir membenci” (Ash Shaff: 8).

Dalam pengantarnya di buku tersebut, kedua penulis yang tidak pernah menyebutkan nama lengkapnya,(hanya aliasnya saja, yakni : Al Saffee dan Al Mahdy), tidak me nyebutkan buku ini sabagai tandingan Al Qur’an dan hanya menyatakan seruannya: “Kepada bangsa-bangsa Arab khususnya dan ummat Islam umumnya di seluruh dunia: Salam sejahtera dan rahmat Allah Yang Berkuasa atas segala sesuatu”. Namun dalam pengatarnya di Amazon.com, penulis dengan terus terang mengatakan bahwa buku ini adalah “the most plausible challenge to the Arabic Quran in history” (Tantangan yang paling nyata terhadap Al Qur’an berbahasa Arab dalam sejarah) ?. Bagi penu lis, buku ini ditujukan kepada ummat Islam dan ummat Kristiani sekaligus, untuk tujuan berbeda. Untuk ummat kristiani ditujukan agar mereka mendapatkan bukti-bukti substansial akan kebenaran kitab injil, sekaligus mendapatkan tanda tanya besar akan kesahihan Al Qur’an. Sementara untuk umat Islam ditujukan agar mereka mendapatkan pelajaran dan pengalaman bercahaya. Dalam “press release” yang dikeluarkan oleh Baptist Press tanggal 27 Mei 1999, ketika awal penerbitan buku yang dipersiapkan selama tujuh tahun ini, Al Mahdy mengatakan dengan penuh optimisme: “Hendaknya ummat Kristiani di seluruh penjuru dunia mempersiapkan diri untuk menyambut kehadiran ummat Islam yang akan murtad ke tengah-tengah mereka”.
Setelah membaca sekali lagi buku tersebut, ternyata sangkaan saya selama ini semakin kuat bahwa buku ini sesungguhnya tidak lebih dari sebuah “sampah” yang tidak berharga. Ditinjau dari segi bahasa apalagi dari segi substansi, buku ini hanya menggambarkan iri hati dan kebencian yang sangat terhadap kebenaran, yang oleh Al Qur’an digambarkan sebagai “hasadan min ‘indi anfusihim” (dengki dari dalam diri mereka sendiri). Buku ini sesungguhnya membuka “borok lama” bahwa memang ada di antara manusia yang senang mencipta buku, yang kemudian diakui sebagai wahyu Tuhan. Dengan terbitnya buku al furqaan al haq ini, terbukti pula satu ayat Al Qur’an yang menyatakan “mereka menulis kitab dengan tangan-tangan mereka , kemudian mengatakan bahwa ini (kitab) dari sisi Allah. (Yang dengannya), mereka membeli ayat-ayat Allah dengan harga yang murah”. Kitab ini, diakui penulis, bukan Al Qur’an dan bukan pula Injil. Melainkan ciptaan baru yang diakui sebagai petunjuk (wahyu) untuk menerangi jalan manusia. Dengan demikian, ini merupakan pembuktian karakter dasar mereka yang senang mencipta-cipta buku dan diakui sebagai wahyu dari Allah. Tidakkah ini cukup menjadi bukti bahwa kitab suci yang mereka yakini saat ini adalah juga ciptaan manusia seperti ini ?

Penulis secara jujur mengakui ketinggian bahasa Al Qur’an. Namun sangat keliru ketika mengatakan bahwa bahasa buku ini menyerupai bahasa Al Qur’an. Kutipan ayat-ayat Al Qur’an secara sepotong-sepotong dalam buku ini, dapat dirasakan dengan “dzawq lughawi” (rasa bahasa), betapa berbeda dengan kata-kata sisipan dari penulis. Secara gramatik misalnya, penulis sesungguhnya tidak menyadari bahwa penyerupaan “BismillahirRahmaniRahim” dengan “Bismilaab-alkalimah-ar ruuh-al ilaah al waahid al awhad” merupakan pengingkaran terhadap keyakinan dasar mereka sendiri. Karena kata benda dalam kalimat ini hanya “Aab” saja. Sementara semua kata selanjutnya adalah kata sifat dari Aab. Tanpa disadari penulis telah mengingkari konsep trinitas yang meyakini Bapak sebagai Dzat (benda), anak sebagai dzaat (benda) dan Roh kudus sebagai dzaat (benda). Sementara dalam kalimat ini, hanya Aab (bapak) saja sebagai benda, selebihnya hanya sifat dari Aab (tuhan bapak).
Sangat disayangkan, di tengah gencarnya upaya-upaya mengharmoniskan hubungan antar pemeluk agama, saat ini masih ada orang yang tidak jujur pada dirinya sendiri. Justifikasi kebenaran dengan kedustaan merupakan sebuah kanaifan akan kebenaran itu sendiri. Justifikasi kebenaran kitab suci dengan kedustaan hanyalah indi kasi akan kenaifan kitab suci itu sendiri dalam kebenarannya. Saya menilai, buku ini sesungguhnya adalah sebuah pengkhianatan terhadap injil. Karena kenaifan injil inilah maka diperlukan kitab lain untuk menunjuki jalan manusia.

Akhirnya, saya menghimbau kiranya semua ummat beragama perlu menanamkan kejujuran pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin Anda dapat mengajak kepada keimanan, sementara anda menebarkan kedustaan? Saya sepertinya bisa memahami sikap Salman Rusydi karena dia memang tidak meyakini sebuah agama. Tapi saya justeru terheran dengan sikap pemimpin agama yang berjiwa kerdil. Bagi ummat Islam, anggap saja kasus ini sebagai kerikil kecil dalam perjuangan, yang justeru mempertebal keimanan. Percayalah, kebenaran Kalam Allah tak akan ternodai secuil pun dengan kedustaan para pendusta: “Sungguh Kami menunrunkan “Dzikra (Al Qur’an) ini, dan sungguh Kami pula yang menjaganya” dan “Katakanlah: Sesungguhnya walau manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang tulisan yang menyerupai Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan bisa membuat yang serupa dengannya, walaupun di antara mereka saling membantu (dalam kebatilan)”, demikian jaminan Allah.

Assalamualaikum Wr.Wb.
Seperti yang dilaporkan oleh majalah Tempo edisi minggu ini, 18-24 Maret, saat ini sedang beredar sebuah buku dengan judul “The True Furqan”. Buku ini memang ditulis dengan sengaja untuk mengaburkan bacaan kaum Muslimin terhadap Kitab Su ci yang sesungguhnya dan yang palsu. Hal ini dibuktikan dengan pengantar yang menyebut “Kitab ini ditujukan secara khusus kepada kaum Muslimin dan Arab”.
Saya pribadi telah menerima buku ini sejak sekitar 3 bulan silam. Buku ini diter bitkan tanpa menyebutkan nama penerbit, namun menyertakan alamat pos dan tanpa nomor telepon. Setelah mengecek lebih jauh, ternyata sosok utama di balik dari terbitnya buku ini adalah Dr. Shorrosh, lawan debat Ahmad Deedat tentang Ketuhanan Jesus pada masa lalu. Jika anda membuka alamat di bawah ini, anda dapati siapa dan bagaiamana awal dari tumbuhnya buku tersebut. Yang pasti, buku ini memang ditujukan sebagai pemalsuan Kitab Suci Al Qur’an. Berbagai surah dinamai dengan surah-surah Al Qur’an seperti An Nur, Al Fatihah, dll. “Bismillah” pada setiap surah diganti dengan “Bismil Abi, Wal Ibni, Waruu hil Quds” (dengan nama bapak, anak dan roh qudus). Untuk itu, bersama ini saya himbau kepada semua untuk berhati-hati.

Saya yakin, terbitnya buku ini tak lebih dari sebuah pembuktian akan tantangan Allah “dan jika kami ragu dengan apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka datanglah satu surah (pada ayat lain 10 surah, dan pada ayat lain disebutkan semisal) yang serupa, dan ajaklah seluruh pembantumu selain Allah, jika kami jujur”. Dan sudah pasti, jika anda tahu bahasa Arab dengan grammar (nahwu sharaf dan balaghah) serta mempergunakan logika serta “common sense” saja, anda akan menemui buku ini tak lebih dari “rabbish” yang sudah kumuh di pinggir jalan. Sayang sekali, pada website Sorrosh ditemukan komentar-komentar, entah direkayasa, bahwa buku ini seolah lebih baik dari Al Qur’an. Padahal, di antara komentator tersebut terdapat pastor terkenal, seperti Billy Graham. Namun memang, logika seringkali tersembunyi di balik “dendam” terhadap nur Ilahi yang semakin menyilaukan mata-mata hati manusia, khususnya di bagian barat bumi ini. Coba buka alamat ini (situs/web ini), dan pastikan bahwa anda cukup landasan untuk memahami tulisan-tulisan Shorrosh. Lihat di bagian bawah website ini, ada “project khusus” untuk mengaburkan Islam yang sesungguhnya para politisi Amerika dengan nama “Project Informing Washington” on the truth of Islam. Ternyata, dalam tulisan-tulisan Shorrosh disebutkan bahwa tanpa disengaja, saat ini kita (Amerika) telah kedatangan invasi yang membahayakan. Itulah “ru’bah” (ketakutan) dan “hasadan” (dengki) yang telah tertanam dalam dirinya terhadap kebenaran ini.
Buktikan kebohongan mereka di : http://islam-in-focus.com/TheTrueFurqan.htm

Akhirnya, “mereka ingin memadamkan cahaya Allah, namun Allah menolak hingga cahayaNya terang benderang, walau orang-orang musyrik itu membenci”. Wassalam .

(oleh : M. Syamsi Ali, sahabat muslim anggota ISNET yang tinggal di New York)
http://media.isnet.org/isnet/Syamsi/index.html

Diriwayatkan dari Ibnu Umar dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu mencegah perempuan-perempuan untuk pergi ke Masjid, sedangkan rumah mereka itu lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dan lafadz ini dari Abu Dawud).

“Kami, wanita-wanita mu’minat, bersama Rasulullah SAW shalat shubuh dengan menyelimutkan kerudungnya, kemudian selesai shalat, mereka pulang ke rumah mereka ma sing-masing, tak seorang pun mengenal mereka karena gelap.
(HR. Al Bukhari dari Aisyah Radhiallahu Anha).

Dari Abdullah Bin Umar dia berkata, Nabi SAW bersabda: “Apabila salah seorang perempuan di antara kamu minta izin (untuk berjama’ah di masjid) maka janganlah mencegahnya”. (HR. Al Bukhari dan Muslim, lafadz ini dari Al Bukhari).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu mencegah kaum wanita untuk pergi ke masjid, tetapi hendaklah mereka keluar tanpa wangi-wangian.” (HR. Abu Dawud).

Jauhilah kebiasaan menggunjing, karena menyebabkan tiga bencana : pertama, doa tak terkabul. Kedua, amal kebaikan tak diterima. Dan ketiga, dosa bertambah. – (Riwayat Ali bin Abi Thalib)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.008/th.01/Syawwal – DzulQoidah 1425H/2005M


Hati-hati Al-Qur’an Palsu !!!

April 4, 2006

Berbagai cara ditempuh oleh kaum kuffar untuk memurtadkan umat Islam. Al-Qur’an, kitab suci dan pedoman hidup umat Islam jadi komoditi pemurtadan.

Al-Qur`an Imitasi
Seorang pastor evangelis Amerika yang mengaku kelahiran Palestina, mengarang Al-Qur’an imitasi bernama “Al-Furqanul-Haqq” (The True Furqan), yang diterbitkan oleh lembaga yang menyebut dirinya Komite Eksekutif Proyek Omega 2001. Pastor yang bernama asli Dr.Anis A. Shorrosh itu memakai nama samaran Al-Safee dan Al-Mahdi dalam kitab ini. Al-Qur’an tiruan pendeta ini sontak menggegerkan umat karena disebarkan ke internet. Bahkan edisi cetaknya beredar sampai ke Jawa Timur sejak akhir April 2002 di kantong-kantong Muslim seperti Jombang, Bangil, dan Madura. Isinya berupa tiruan terhadap surat dalam al-Quran. Kitab setebal 368 halaman dengan sampul depan warna hijau bertuliskan kaligrafi Arab warna emas ini memuat beberapa nama surat, di antaranya: surat Al-Iman, At-Tajassud, Al-Muslimun, dan Al-Washaya. Semua isinya memuji-muji Yesus. Gaya penyajian dan pilihan bahasa Arab klasik yang dipakai dalam Qur’an palsu ini, agak mirip gaya bahasa Al-Qur’an. Bagi orang yang tidak memahami seluk-beluk bahasa Arab secara mendalam, bisa terkecoh, mengira The True Furqan sebagai Al-Qur’an. Sebab kata “Al-Furqan” sendiri sinonim dengan kata “Al-Qur’an.” Tujuan penyebaran Al-Furqanul-Haqq ke tengah-tengah masyarakat Muslim ini jelas terbaca, yaitu untuk menanamkan keraguan umat Islam terhadap kitab suci Al-Qur’an. Targetnya, agar umat Islam memandang Al-Qur’an sebagai kitab yang sudah menyimpang. Otentisitas Al-Qur’an memang tidak bisa diganggu gugat, karena Allah sendiri yang menjamin keasliannya.
Allah menyatakan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Kami menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur`an) ini dan sungguh Kamilah Penjaganya” (Al-Hijr 9). Imam Ibnu Katsir menyatakan, makna ayat di atas adalah bahwa Allah SWT menjadi penjaga Al-Qur’an dari perubahan atau pergantian (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhîm, II, hlm. 666). Karenanya, secara i’tiqadi, Al-Qur’an senantiasa terjaga dari perubahan, penggantian, perombakan, atau peniruan apapun. Semuanya dijamin oleh Allah SWT. Meski demikian, bukan berarti upaya kaum kuffar untuk memanipulasi dan menggerogoti Al-Qur’an berhenti. Maka mereka menempuh untuk mengaburkan keyakinan umat Islam terhadap Al-Qur’an. Mereka inginkan agar umat Islam tidak meyakini Al-Qur’an sebagai wahyu Allah, karena bisa ditandingi dengan Al-Qur’an tiruan yang bernama Al-Furqaul-Haqq (The True Furqan).

Pelesetan Al-Qur`an untuk Misi
Selain ada Al-Qur’an palsu, bertebaran pula buku-buku plesetan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits. Ayat-ayat suci ini dikutip sepotong-sepotong lalu dirakit sehingga tersimpulkan seolah-olah tuhan dan juru selamat manusia adalah Nabi Isa alias Yesus Kristus. Bentuk pelesetan ini dipublikasikan dalam buku-buku dan brosur. Buku-buku pelesetan Al-Qur’an yang sudah beredar antara lain :
– Keselamatan di dalam Islam,
– Ayat-ayat Penting di dalam Islam,
– As-Shodiqul Masduq (Kebenaran Yang Benar),
– As-Sirrullahil-Akbar (Rahasia Allah Yang Paling Besar),
– Selamat Natal Menurut Al-Qur’an,
– Telah Kutemukan Rahasia Allah Yang Paling Besar,
– Ya Allah Ya Ruhul Qudus,
– Aku Selamat Dunia dan Akhirat,
– Wahyu Tentang Neraka,
– Wahyu Keselamatan Allah, dan lain-lain.

Buku-buku pelesetan karya Poernama Winangun :
– “Upacara Ibadah Haji”,
– “Ayat-ayat Al-Qur’an Yang Menyelamatkan”,
– “Isa Alaihis Salam Dalam Pandangan Islam”,
– “Siapa kah Yang Bernama Allah” dan
– “Riwayat Singkat Pusaka Peninggalan Nabi Muhammad saw”.

Contoh brosur pelesetan :
– brosur Dakwah Ukhuwah,
– brosur Shirathal Mustaqim dan
– brosur Al-Barakah.
Judulnya antara lain :
– Rahasia Jalan ke Surga,
– Allahu Akbar Maulid Nabi Isa as,
– Kesaksian Al-Qur’an tentang Keabsahan Taurat dan Injil,
dan lain-lain.

Isi buku dan brosur pelesetan rata-rata sama, yaitu mengutip dan mencomot Al-Qur’an dan Hadits yang diramu dan dicocok-cocokkan tanpa mengindahkan kaidah tafsir, untuk mendukung doktrin kristiani bahwa Nabi Isa (Yesus) adalah Tuhan dan Juruselamat penebus dosa manusia.

Al-Qur`an Bergambar Yesus
Al-Qur’an bercover Yesus terungkap di SLTP 1 Pakan Kamis, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Pagi itu, Kamis (17/5), di ruang kelas I-1 ada dua siswa tampil ke depan hendak membacakan ayat suci Al-Qur’an, namun batal. Ketika salah seorang dari mereka dengan siku tangannya tanpa sengaja menggeser Al-Qur’an, kitab suci itu terjatuh. Secepatnya ia menangkap, meski hanya dapat cover-nya. Sementara saat, Al-Qur’annya terjatuh. Para siswa kaget. Bukan karena Al-Qur’an itu jatuh, tetapi lebih pada pemandangan yang mereka lihat di pelapis dalam cover tebal. Di sana, tertempel kertas bertuliskan huruf-huruf Latin, antara lain, “Yesus Kristus” yang kemudian diikuti sejumlah kalimat lain. Pada bagian lain terbaca pula kata-kata “Bunda Mariah, domba gembala, gereja” serta bait-bait lagu gereja. Karena kertas itu dilem ke cover Al-Qur`an, sehingga ketika dibuka, kata-kata yang ada di sana ikut tercopot sehingga tidak terbaca semuanya.
Spontan, para siswa pun berteriak. Irmawati, seorang guru agama, sebelumnya mengaku tak percaya. Setelah melihat Al-Qur’an yang terjatuh ada tulisan tersebut, barulah ia mempercayainya. “Saya sangat kaget,” katanya. Ia langsung mengadukan itu kepada kepala sekolah. Irmawati juga mengaku memiliki Al-Qur’an sejenis yang di belakang covernya ada kata-kata Yesus, Budha, Wihara, dan entah apa lagi. Kasus itu pun dibawa ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang kemudian diteruskan ke kepolisian.
Kata-kata Yesus Kristus dengan huruf Latin ini dibuat pada sampul dalam Al-Qur’an. Persisnya di tulang tempat helai demi helai Al-Qur’an dilem dan dijahitkan. Kalau kulit Al-Qur’an tidak dicopot, maka tulisan Yesus Kristus dan sejumlah bait lagu-lagu gereja yang ditulis di situ tidak akan pernah diketahui. Kepsek Jufrialdi mengatakan pada akhir Februari 2004, ia bertemu dengan tokoh masyarakat Tilatang Kamang, Buya Haji Usman Husen. Karena Usman orang ternama, apalagi ia ketua Golkar Kabupaten Agam serta anggota DPRD Sumbar, maka Jufrialdi meminta agar sekolahnya dibantu pengadaan Al-Qur’an dan mukena.
Pada 3 Maret 2004, di saat-saat kampanye legislatif, orang suruhan Usman, Linda, membeli 200 buah Al-Qur’an di Toko Asria di Pasar Aur Kuning, Bukittinggi. Karena jumlahnya banyak, Kepsek Jufrialdi berinisiatif membagikan ke sekolah-sekolah lain. Sebanyak 60 buah Al-Qur’an tinggal di SLTP 1, sisanya, sebanyak 20 buah diberikan ke SLTP 2, 10 untuk SLTP 3, 10 untuk SLTP 4, dan 20 untuk SLTP 5, serta sisanya untuk SMA I yang semuanya berada di Kecamatan Tilatang Kamang. Kapolresta Bukittinggi, AKBP M Zaini, mengatakan pihaknya kini sedang melakukan penyidikan secara khusus atas kasus tersebut. “Saya tidak mau gegabah, nanti malah salah kaprah,” katanya. Sejumlah saksi telah diperiksa, termasuk pemilik toko yang menjual Al-Qur`an itu. Sementara, toko-toko lainnya tidak menjual Al-Qur`an sejenis. Kakanwil Depag Sumbar Dalimi Abdullah menyatakan pihaknya telah membawa surat dan dua Al-Qur’an itu ke Menteri Agama. Sedangkan Ketua MUI Sumbar, Nasrun Haroen, menegaskan masih mencari informasi lebih dalam atas masalah itu. Salah seorang Ketua MUI Sumbar, Buya Mas’oed Abidin, menyatakan pemerintah harus bertindak, sebab kalau diam, rakyat akan marah. “Ini tidak bisa dikatakan sebagai sebuah kelalaian, mungkin di dalamnya ada unsur kesengajaan dan ini pelecehan terhadap Islam,” tegasnya.
Tokoh masyarakat Tilatang Kamang, Usman Hoesen, yang menyumbangkan Al-Qur’an itu menyatakan yang bermasalah dari Al-Qur`an itu adalah kulitnya (cover-nya), bukan ayat-ayat di dalamnya. Al-Qur`an yang “disusupi” itu, katanya, berkulit merah. Dari 200 buah yang dibeli, ada 141 buah yang “disusupi” kata-kata Yesus Kristus, sementara sisanya bersih. Yang disusupi itu merupakan Al-Qur’an keluaran tahun 1994 yang dicetak Percetakan Madu Jaya Makbul Surabaya. Sementara yang bersih dicetak PT Tanjung Emas Inti Semarang. Di Mapolres saat ini ada 60 buah Al-Qur`an yang diambil dari SLTP I, lainnya masih di kecamatan.

Sementara itu, di Jakarta beredar buku putih berjudul Isa Almasih di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Buku putih setebal 73 halaman ini jelas diluncurkan missionaris untuk menggoyang akidah umat Islam. Seluruh bagian dalam buku dari cover depan sampai penutupnya sarat dengan penghujatan ajaran Islam manipulasi sejarah dan pemutarbalikan ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Sampul depan, di atas judul “Isa Almasih di dalam Al-Qur’an dan Hadits” dipampang kaligrafi surat Az Zukhruf 61 “wattabi’uuni haadzaa shiraatum mustaqiim” (ikutilah aku, inilah jalan yang lurus). Di bawah ayat ini, dipajang gambar Yesus sedang berdiri menginjak-injak kitab suci. Penginjil yang menamakan dirinya (nama alias) Abd.Yadi, hanya berani berbuat, tidak mau bertanggung jawab. Karena dalam buku putihnya, dia tidak berani mencantumkan nama aslinya, nama penerbit dan alamat jelasnya. Seharusnya, jika dia meyakini kebenaran tulisannya, dia harus bersikap gentleman dan jangan main lempar batu sembunyi tangan.

Tugas Pemimpin (Imam) Negara
Dari rangkaian penodaan terhadap Al-Qur’an yang dilakukan oleh para misionaris tadi, tampak bahwa dibuatnya tiruan Al-Qur’an, pengutipan ayat pada cover buku Kristen, serta pelesetan ayat untuk misi tersebut merupakan satu kesatuan mata rantai untuk menghancurkan tegaknya Islam di muka bumi. Karena itu, sudah selayaknya kaum Muslim menyadari bahwa upaya untuk menghadang tegaknya Islam dan upaya mengembalikan mereka kepada kekufuran terus berlangsung hingga detik ini. Selain itu, upaya ‘halus’ memurtadkan kaum Muslim dengan cara memalsukan dan me lecehkan Al-Qur`an merupakan kemungkaran. Untuk menghadapi kemungkaran itu, Rasulullah SAW menyatakan:
“Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka ubahlah dengan kekuatan; jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisan; dan jika tidak mampu maka ubahlah dengan hati (tidak setuju dengan kemungkaran tersebut). Itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR Ashabus-Sunan). Hadits itu berlaku umum bagi siapapun. Namun, sebenarnya dalam syariat Islam, yang pertama kali harus bertanggungjawab atas persoalan ini adalah penguasa. Rasulullah saw. menegaskan: “Pemimpin (Imam) itu adalah penggembala, dan dialah yang bertanggungjawab atas rakyat yang digembalakannya.” Dalam hadits ini jelas bahwa penguasalah yang wajib memelihara dan menjaga rakyatnya dalam segala hal, termasuk dalam hal akidahnya.

http://swaramuslim.net/ISLAMKRISTEN/more.php?id=1962_0_7_9_M

Melepaskan Belenggu Kebiasaan: Salah Satu Tujuan Puasa

Al-Hajjaj bin Yusuf (661-714 M), salah seorang pemimpin perang kenamaan Dinasti Umayyah yang melempar Ka’bah dengan manjaniq (meriam-meriam batu), pada suatu hari yang terik meminta kepada pengawalnya agar mengajak seorang “tamu” bersantap siang dengannya. Seorang penggembala yang tinggal di pegunungan menjadi tamunya dan terjadilah dialog berikut :

“Mari kita makan bersama,” ajak Al-Hajjaj. “Aku telah diundang oleh yang lebih mulia dari tuan dan telah kupenuhi undangan itu,” kata si penggembala.
“Siapakah gerangan yang mengundangmu?”. “Tuhan seru sekalian alam, hari ini aku berpuasa.” “Apakah Anda berpuasa pada hari yang terik menyengat ini?”
“Ya. Aku bahkan berpuasa pada hari-hari yang lebih terik.”
“Ayolah kita makan bersama dan besok Anda dapat berpuasa.”
“Apabila kau berbuka hari ini, apakah tuan dapat menjamin usiaku berlanjut hing ga esok sehingga aku dapat berpuasa?” katanya seraya menyunggingkan senyum .
“Tentu saja tidak.” “kalau demikian mengapa tuan meminta sesuatu pada hari ini dan menjanjikan untuk memberikan pada hari esok, sedangkan hari esok bukan berada di tangan tuan?”. Setelah berpikir sejenak, Al-Hajjaj mengajak lagi, ” Ayolah kawan, makanlah bersamaku, makanan yang dihidangkan sungguh lezat.”
Sambil berdiri untuk meninggalkan Al-Hajjaj, si penggembala menolaknya lagi, “Demi Tuhan, yang melezatkannya bukan juru masak tuan, bukan pula jenis makanannya, yang melezakannya adalah afiat (kesehatan ruhani dan jasmani).”

Dialog diatas mengambarkan sebagian dari hasil yang diperoleh seseorang yang berpuasa, yaitu berupa kemampuan untuk mengendalikan diri, menahan rayuan, serta kesadaran akan kehadiran Tuhan pada setiap saat. Manusia tercipta dari Ruh Ilahi dan debu tanah. Potensi dan daya manusia betapapun dinilai hebat , namun terbatas sehingga apabila perhatian dan kegiatannya telah tertuju secara berlebihan ke satu arah – ke arah debu tanah, misalnya – maka akibat keterbatasan dan pemunahan secara berlebihan tersebut, ia tidak memeiliki daya lagi yang cukup untuk digunakan bagi kegiatan dalam bidang-bidang penalaran dan kejiwaan. Dari sisi lain, kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaannya. Apabila ia telah terbiasa dengan pemenuhan kebutuhan ‘faali’-nya secara berlebihan, maka, walaupun ia masih memiliki sisa daya, ia akan mengalami kesulitan yang tidak sedikit guna mengarahkan sisa daya tersebut kedalam hal-hal yang tidak sejalan dengan kebiasaannya. Dengan demikian, membebaskan manusia dari belenggu kebiasaan dan keterikatan kepadanya, merupakan suatu hal yang mutlak dan hal ini merupakan salah satu tujuan dari puasa, baik dalam kebiasaan makan, minum – dengan kadar dan jam-jam tertentu – maupun dalam kebiasaan jam-jam tidur, bangun bekerja, dan sebagainya.

(sumber : “Lentera Hati”, Kisah dan Hikmah Kehidupan”, M. Quraish Shihab, Penerbin Mizan, Maret 1995).

http://www.myquran.com/mutiarakalbu/phqs006.htm

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.008/th.01/Syawwal – DzulQoidah 1425H/2005M


Invasi pemikiran (ghazwul fikri)

Maret 4, 2006

Seorang wanita berjilbab rapi tampak sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Sang guru berkata, “Saya punya permainan… Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah Kapur!”, jikasaya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!”.

Murid-muridnya pun mengerti dan mengikuti. Sang guru berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri tangannya, semakin lama semakin cepat. Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”.
Dan dijalankanlah adegan seperti tadi, tentu saja murid-murid kerepotan dan kelabakan, dan sangat sulit untuk merubahnya. Namun lambat laun, mereka bisa beradaptasi dan tidak lagi sulit.

Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya. “Anak-anak, begitulah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita lewat berbagai cara, untuk membalik sesuatu, dari yang haq menjadi bathil, dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menerima hal tersebut, tapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik nilai. Pacaran tidak lagi sesuatu yang tabu, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian mini menjadi hal yang lumrah, sex before married menjadi suatu hiburan, materialistis dan permisive kini menjadi suatu gaya hidup pilihan, tawuran menjadi trend pemuda… dan lain-lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham ?” tanya Ibu Guru kepada murid-muridnya. “Paham buu…”

“Baik permainan kedua…” begitu Bu Guru melanjutkan. “Bu Guru punya Qur’an, Ibu letakkan di tengah karpet. Nah, sekarang kalian berdiri di luar karpet. “Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah tanpa menginjak karpet ?”

Nah, nah, nah !. Murid-muridnya berpikir keras. Ada yang punya alternatif dengan tongkat, dan lain-lain. Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, ia gulung karpetnya, dan ia ambil Qur’annya. Ia memenuhi syarat, tidak menginjak karpet.
“Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya… Musuh-musuh Islam tidak akan menginjak-injak kalian dengan terang-terangan… Karena tentu kalian akan menolaknya mentah mentah. Premanpun tak akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar.”
“Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka dibangunnyalah pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau membongkar pondasinya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari disingkirkan dulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghantam terang terangan, tapi ia akan perlahan-lahan mencopot kalian. Mulai dari perangai kalian, cara hidup kalian, model pakaian kalian, dan lain-lain, sehingga meskipun kalian muslim, tapi kalian telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara yang mereka… Dan itulah yang mereka inginkan.” “Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (invasi pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh musuh kalian… Paham anak-anak ?”. “Paham buu!”

“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Islam, Bu ?” tanya seorang murid. “Sesungguhnya dahulu mereka terang-terangan menyerang, semisal Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tapi sekarang tidak lagi.”
“Begitulah Islam, Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya ambruk. Tapi kalau diserang serentak terang-terangan, mereka akan bangkit serentak, baru mereka akan sadar.” Kalau saja ummat Islam di Ambon tidak diserang, mungkin umat Islam akan lengah terhadap sesuatu yang sebenarnya selalu mengincar mereka. Paham anak-anak ?” . “Paham Buu..”
“Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

http://www.eramoslem.com/ar/oa/1b/240,1,v.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.008/01/Syawwal-DzulQoidah 1425H/2005M


Mata pena seringkali lebih tajam daripada mata pedang…

Maret 1, 2006

Kalau kita saban hari melihat berita di TV, dengar radio atau baca koran. Pernahkah terbetik pikiran dalam benak kita, kenapa kalau ada saudara-saudara kita sesama muslim yang sedang berjuang mempertahankan negaranya, misalnya di Palestina, Irak, Bosnia, Chehnya, Philipina, atau dimana saja. Lantas semua berita menyebut para pejuang yang saudara kita itu dengan ’embel-embel’ : militan, fundamental, garis keras bahkan yang akhir-akhir ini gencar di’populerkan’ adalah istilah teroris ?. Misalkan yang ‘diobok-obok’ itu adalah negara kita, kemudian kita membela negara kita mati-matian. Tiba-tiba saja semua TV, radio dan koran menyiarkan, bahwa kita yang sedang berjuang itu ternyata diberitakan sebagai kaum fundamentalis, militan, garis keras dan teroris. Tentu marah besar kita. Bisa jadi semangat kita dalam berjuang jadi berlipat-lipat karena bercampur rasa marah itu.

Sekarang pertanyaannya, kenapa TV, radio dan koran kita memberitakannya seperti itu ?. Inilah salah satu kelemahan perusahaan-perusahaan media kita, hampir semua berita, maksudnya berita luar negeri yang berhubungan dengan kejadian-kejadian di negara-negara muslim, semua media kita biasanya hanya membeli beritanya dari perusahaan-perusahaan media asing, misal : CNN, BBC, AFP, Washington Post, AP , Reuters, dll. Kemudian oleh media kita diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, lantas diterbitkan. Esok harinya, kita semua sebagai pembaca yang hanya ‘tahu jadi’, langsung saja mengkonsumsi kata-kata ‘militan-fundamental-garis keras dan teroris’. Padahal semua perusahaan media asing yang disebut di atas, bisa dipastikan bukan milik orang muslim, termasuk wartawan/reporter yang menulis berita di tempat kejadian.
Maka masuk akal bila mereka suka menyebut saudara-saudara kita dengan istilah-istilah seperti itu. Yang patut disayangkan, banyak pembaca yang masih saudara kita sesama muslim ternyata menelan begitu saja semua istilah itu. Maka jadilah sesama (negara) muslim saling curiga dan waspada. Ghazwul Fikri…….

Nuansa pemberitaan lain akan kita jumpai bila kita membaca majalah-majalah Islam seperti : Sabili, Hidayatullah, Hidayah, Tarbawi, dll. Majalah-majalah ini cukup selektif dan cerdik. Mereka mencari berita dari sumber-sumber Islami, dari kantor-kantor berita asing di negara Islam. Sehingga yang muncul adalah istilah-istilah yang sesuai dan layak, misalnya : Pejuang, Mujahid, Syuhada, Pahlawan,dll. Nada beritanyapun tidak terkesan ‘miring’. Hal demikian terlihat pula pada web site/situs islami di internet. Pada kasus yang sama, namun nampak nyata perbedaan kandungan beritanya.

Sahabat, meskipun (masih) dalam skala kecil, Labbaik akan berusaha ‘bergerilya’ guna memperbaiki citra Islam yang rusak akibat pemberitaan media asing di atas. Labbaik akan senantiasa mencarinya dari sumber-sumber Islami. Kalau memang manis insya Allah isi artikelnya manis pula, sebaliknya kalau adanya pahit, maka isi artikel akan ditampilkan insya Allah pahit pula. “Katakanlah yang benar walau pun pahit”, demikian pesan Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bisshowwab.

(dari : Mukaddimah Labbaik edisi no.008/th.01/Syawwal – DzulQoidah 1425H/2005M