Mereka Takut Kalau Umat Islam Bersatu

Mei 15, 2007

Kekafiran adalah agama yang satu, kerja sama di antara mereka suatu keniscayaan. Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (Al-Jaatsiyah: 19).

Segala upaya dipadukan AS untuk menghancurkan Islam. Apalagi, setelah mereka merasa menang dalam perang dingin dengan Rusia, maka satu per satu wilayah yg sebelumnya dicengkeram Rusia pun berguguran dan komunisme pun bubar. Melalui penasihatnya, Sammuel Hungtington mengatakan, musuh yang harus dihancurkan selanjutnya adalah Islam dengan segala kekuatannya. Berdasar ‘nasehat’ inilah semua langkah disusun. Melihat gulung tikarnya Rusia karena perjuangan mujahidin, maka AS berusaha menghancurkan para mujahidin itu dengan mempersempit semua langkah geraknya. Terutama, setelah peranan mujahidin terlihat jelas dalam perjuangan mereka membantu saudara-saudara sesama muslim yg mengalami etnic cleansing di Bosnia, perjuangan Kashmir, perjuangan di Filipina Selatan, dan sebagainya. Maka, dicarilah jalan untuk menghancurkan mereka. Hasil akhir analisa Samuel yg berkesimpulan Perang Terhadap Islam, menguatkan rekayasa 11 September sebagai entri point untuk menyatakan perang total terhadap terorisme internasional, yaitu Islam.

Mereka telah berhasil sedemikian rupa untuk mempengaruhi opini dunia bahwa yg diperjuangkan seakan betul-betul membasmi terorisme. Padahal, kenyataan membuktikan bahwa AS adalah sumber terorisme dalam infasinya ke negara-negara berdaulat, seperti Afghanistan, Irak, Somalia, dan sebagainya. Begitu pula dengan Israel yang selalu mendapat dukungan dari veto AS di PBB. Teroris Israel mendapat dukungan luar biasa dari wakil AS di PBB. Begitulah keadaan yang berlangsung di pentas dunia, tanpa ada yang bisa menghentikan langkah-langkah mereka, termasuk PBB sendiri yang bermarkas dan banyak disuplai dana oleh AS.

AS yg dikuasai oleh lobi-lobi Yahudi Internasional telah bekerja sama dengan salibisme internasional dan pemerintah-pemerintah sekuler yg didukung oleh ulama ulama suu’ (ulama yang jahat) berikut jajaran intelejen yang canggih. Mereka berusaha keras melumatkan kekuatan umat Islam. Tidak jarang sebagian tokoh Islam ikut-ikutan menyudutkan umat Islam, padahal mereka mengaku sebagai seorang muslim. Kekuatan memang tidak seimbang, tetapi Allah SWT selalu membela hamba-hamba-Nya yang ikhlas berjuang karena-Nya, sehingga tidak ada istilah menyerah, apalagi pensiun berjuang. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7).

Sejak melemahnya umat Islam pada abad ke-16 M di bawah dinasti Utsmaniyah di Turki, Shafawiyah di Iran dan Moghol di India, maka dimanfaatkan oleh blok-blok kafir untuk menjajah wilayah-wilayah Islam, termasuk Indonesia oleh Portugis dan Belanda. Mereka merusak umat Islam dengan tiga cara : (1) menjajah fisik dengan senjata, (2) menjajah agama dengan kristenisasi, dan (3) mmenjajah otak dengan orientalisme.

Penjajahan fisik berakhir dengan merdekanya wilayah-wilayah jajahan, tetapi kristenisasi dan orientalisasi tetap berjalan. Meski demikian, perkembangan Islam semakin pesat dan kekuatannya semakin mantap, baik dari segi sumber daya alam maupun manusianya yang menunjukkan kebangkitan umat Islam di segala bidang. Hal itu menjadikan blok kafir bersatu untuk menghadang kekuatan Islam yang oleh mereka dianggap sebagai ancaman serius, terutama karena faktor agama. Maka, keluarlah dari mulut George Bush sebuah pernyataan bahwa ini adalah perang salib (crusade), walaupun kemudian menarik lagi ucapannya, karena takut umat Islam jadi bersatu.

(Oleh: Farid Ahmad Okbah, MA., Ketua Majelis Dakwah Al-Irsyad Al-Islamiyyah)
PUSAT INFORMASI DAN KOMUNIKASI ISLAM INDONESIA – http://www.alislam.or.id

note :“Dan berilah peringatan kepada kerabatmu terdekat” (QS.Asy-Syu’araa : 214) “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS.Adz-Dzaariyaat : 55)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 028/th.03/DzulHijjah-Muharram 1428H/2007M


Yahudi Main di Belakang Layar

Mei 15, 2007

Seorang pemimpin agama asal Amerika pada awal tahun 1950-an menerbitkan buku yg laris manis, berjudul “The Power of Positive Thinking”. Inti isi buku tersebut menjelaskan, bahwa kebanyakan rintangan hidup dapat diatasi jika rintangan itu disikapi secara positif. Positive Thinking atau dalam istilah kita diartikan dengan ‘selalu berpikir, berperilaku, bertindak positif terhadap semua orang dalam interaksi hidup, sehingga tidak timbul dalam pandangan orang lain kepada kita, selain pandangan yang simpati’. Pemikiran ini sebenarnya dimunculkan oleh musuh-musuh Islam (Yahudi) untuk melemahkan umat Islam. Apa iya ?. Ya Jelas !.

Mereka telah belajar dari sejarah mereka sendiri, bahwa apabila seseorang (atau kaum) dikondisikan untuk selalu berpikir positif dalam segala hal, maka akan lemahlah dia. Karena hidupnya hanya akan dibebani dan dibatasi dengan segala macam aturan relatif yang menekan kehendak jiwa bebasnya. Selamanya dia akan sibuk dengan segala urusan memahami, mendefinisikan dan membangun aturan-aturan positif (menurut manusia) karena takut melanggar batas pagar ‘positif’ itu. Umat Islam akan sibuk memperdebatkan script (naskah) Al Qur’an dan Sunnah, lupa terhadap amalan-amalannya. Sibuk dengan urusan jenggot, gamis, bid’ah, khurofat, dll, sementara itu pula mereka lalai terhadap urusan beramal dengan amalan-amalan lain. Tak jarang friksi itu kemudian menjadi benturan dalam memahami, mendefinisikan dan membangun aturan-aturan positif tersebut. Sehingga meningkat menjadi konflik internal, menggelinding terus bak bola salju yang semakin lama makin membesar, seterusnya bagai lingkaran yang tidak ada ujung pangkal.

Yahudi (Bani Israel) belajar dari kasus sejarah mereka, saat Allah SWT menurunkan ‘The Ten Commandments’ (sepuluh perintah Tuhan) yang mana semua isinya merupakan nilai-nilai positif (diantara isinya dilarang mencuri, berzina, memakan riba’, membunuh antar sesama, dsb). Mereka sadar, bahwa ‘sepuluh perintah’ tersebut sebenarnya merupakan ‘hukuman’ Tuhan, karena kedurhakaan mereka yang selama itu tidak mentaati para nabi dan rasul mereka. Meskipun mereka terpecah-belah juga – sebagaimana umat nashrani dan umat Islam – menjadi berbagai golongan yang berbeda, namun ada titik temu pada tingkat operasional di kalangan mereka. Bahwa “Positivism” (cara berpikir positif) yang mereka anut hanya berlaku dalam hubungan antar sesama mereka, bukan dengan semua manusia !. Terhadap bangsa lain, mereka menggunakan tata-aturan yang sebaliknya. Mereka kemudian menerapkan juga ‘hukuman’ harus selalu ‘berpikir positif’ itu kepada semua manusia (bangsa lain), sementara mereka sendiri menerapkan aturan “Negatitivism” kepada bangsa lain.

Keharusan berpikir positif oleh ‘goyim’ (non Yahudi) tersebut, dalam praktiknya banyak menimbulkan ekses varian-varian baru secara otomatis di tingkat bawah, karena terjadi tarik-ulur terhadap pemikiran itu sendiri, meskipun secara mainstream tetap berjalan lancar.

Bukti paling nyata atas hal di atas adalah isi Talmud (kitab suci Yahudi) versi Babilonia, kitab yang ditulis oleh para Rabi (pendeta Yahudi) secara syarah (penjelasan) dari kitab Thorah (Taurot). Dalam Talmud, dijelaskan sampai pada tingkat operasional bagaimana harus memperlakukan bangsa lain non-Yahudi yang mereka sebut ‘goyim’ itu. Bisa dikatakan bahwa isi Talmud seratus persen Nagitive Thinking !. Mencuri, berzina, memakan riba’, membunuh , dll, semua boleh dilakukan asalkan terhadap goyim !. Kalau sempat membaca seluruh isinya, bulu roma kita akan berdiri dan akan timbul istilah yang lebih tepat untuk menyebut kitab tersebut sebagai ‘Kitab Suci Setan !”.

Bukti lain bagaimana bangsa Yahudi (dan Nashrani) secara maksimal dan optimal berusaha menghancurkan Islam sehabis-habisnya adalah sebuah dokumen rahasia yang ditemukan pada awal abad ke-18, sebuah dokumen rahasia Draft Protocols of Zion, yang ditulis oleh Adam Weishaupt (dibantu oleh penulis Jerman, Herr von Swack), pejabat pastor katholik ordo Jesuit yang direkrut oleh kelompok ‘Illuminati’ atau kelompok rahasia (secret Society) yang juga melegendakan dirinya sebagai kelompok Luciver atau Iblis Pembawa Cahaya. Pada tahun 1770 ia mulai membuat blue-print tentang penguasaan dunia melalui penghancuran agama-agama, kerajaan-kerajaan, dan pemerintahan-pemerintahan di muka bumi. Adapun bunyi naskah terse but adalah sbb :

“Rahasia pertama untuk mengarahkan opini umum ke dalam kekuatan kita adalah bahwa kita harus menciptakan kebingungan massal, dengan cara membuat pernyataan-pernyataan dari berbagai arah mengenai opini-opini yang kontradiktif sepanjang waktu, sehingga cukup untuk membuat goyim kehilangan akal sehatnya”.

“Rahasia kedua yang kita perlukan demi suksesnya pemerintahan kita adalah melipat-gandakan sehabis-habisnya kegagalan nasional, perilaku buruk, nafsu angkara murka, dan ke-amburadul-an kehidupan masyarakat, sehingga dalam kondisi kacau-balau (chaos) yang kita ciptakan itu tidak memungkinkan bagi setiap orang untuk menyadari dimana mereka sebenarnya, dengan demikian rakyat tidak akan dapat saling memahami antar sesamanya”. (lihat : “Tesis-Antitesis Penghancuran Bangsa-bangsa dan Agama, Jurnal Research, Vol.I/ nomor.1)

Alangkah dahsyat badai peperangan yang mereka lancarkan kepada kita umat islam, sehingga kita semua seolah-olah sudah kalah, bangkrut, dan tak mungkin untuk menang”. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS.Al Baqarah : 120). Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. (QS.Al Maaidah : 82).

Sebenarnya masih ada satu harapan yang masih dipunyai oleh orang-orang beriman, yaitu do’a. Karena do’a adalah senjata orang-orang beriman & merupakan inti ibadah kepada Allah SWT. Betapa naifnya apabila kita telah mengetahui hal di atas tetapi masih terjebak oleh perangkap-perangkap mereka ?. Penulis bukan berarti menyalahkan total masalah ‘Positive Thinking’ seperti yang telah diikuti mayoritas umat dan kebanyakan ulama, tetapi menyayangkan ketidak-tepatan waktu dan tempat dalam menerapkannya.

(sumber : Aplikasi Islam Dalam Wilayah Kuadran, Arif Fadhillah-M.Muntasir Alwi, Pilar Press, edisi pertama, Muharram 1426/Pebruari 2005, hal 20-22)

note :“Dan berilah peringatan kepada kerabatmu terdekat” (QS.Asy-Syu’araa : 214) “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS.Adz-Dzaariyaat : 55)

Larangan Perang Saudara :

Dari Jabir (bin Abdullah Albajali) ra., Nabi SAW bersabda kepadanya ketika Haji Wada’ (Haji Penghabisan), “Suruh tenanglah orang banyak itu !”. Kemudian beliau bersabda lagi :”Janganlah kamu kafir kembali sesudahku, dimana sebagian kamu memenggal leher yang lain.*) (Shahih Bukhari no.87)
penjelasan :
*) Sebagai pemimpin yang berpandangan jauh ke depan, Rasulullah telah dapat meraba akan terjadinya perang saudara sesama umat Islam setelah beliau wafat. Karena itu jauh-jauh sebelumnya Rasulullah mengingatkan dan mencegah agar hal yang tidak diinginkan tersebut tidak sampai terjadi.

Tidak Boleh Menganiaya Sesama
Dari Abdullah bin Umaar ra., Rasulullah SAW bersabda :”Orang Islam itu saudara orang Islam; ia tidak menganiayanya dan tidak pula membiarkannya teraniaya. Siapa yang menolong keperluan saudaranya, Allah akan menolong keperluannya pula. Siapa yang menghilangkan kesusahan orang Islam, Allah akan menghilangkan kesusahannya di hari kiamat. Siapa yang menutup rahasia orang Islam, Allah akan menutup rahasianya di hari kiamat nanti.” (Shahih Bukhari no.1168)

(sumber : Terjemah Hadits Shahih Bukhari, A.Rahman Zainuddin MA, penerbit Wijaya Jakarta , cet.13/1992)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 028/th.03/DzulHijjah-Muharram 1428H/2007M


Walaa tafarraquu ! Jangan Berpecah-belah !

Mei 15, 2007

“Dan berpegang eratlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah”. (Ali Imran: 103). Maksud kata “tali Allah” adalah Al-Qur’an. Ada beberapa hadits yang menerangkan tentang “berpegang erat tali Allah”, antara lain :

Dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata: Bersabda Rasulullah SAW :”Kitabullah adalah tali Allah yg memanjang dari langit hingga bumi”. (HR.At-Tirmidzi, hasan gharib).
Abu Syuraih Al-Khuza’i berkata :”Ketika Rasulullah SAW berada di tengah-tengah kami, beliau bersabda :”Kabar gembira buat kalian, apakah kalian bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan aku adalah utusanNya ?”. Para sahabat menjawab :”Benar”. Kemudian Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah perantara (tali), salah satu ujung talinya berada disisi Allah dan ujung lainnya ada di tengah-tengah kalian, maka berpegang teguhlah padanya, sungguh kalian tidak sesat & binasa jika berpegang teguh padanya (Al-Qur’an).” (Shahih Ibnu Hibban, 12/165).
Zaid bin Arqam berkata :”Rasulullah SAW bersabda : “Ketahuilah bahwa saya meninggalkan bagi kalian dua hal yg berat, salah satunya adalah Kitabullah ; itu adalah tali Allah, barangsiapa mengikutinya maka dia ada dalam petunjuk Allah & barangsiapa meninggalkannya maka ia dalam kesesatan.” (HR. Muslim).

Kalimat “jangan berpecah belah” berarti peringatan Allah kepada umat Islam untuk bersatu dalam persaudaraan Islam ; larangan untuk bergolong-golongan yg menyebabkan lemahnya umat Islam di hadapan umat lain. Hadits yg menerangkan perintah Allah kpd hambaNya untuk menjaga persatuan Islam (Ukhuwah Islamiyah) misalnya : Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda :”Sesungguhnya Allah menyukai tiga hal dan membenci tiga hal. Tiga hal yang disukai Allah adalah :

* Menyembah hanya kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun.
* Berpegang eratlah kalian semua dgn tali Allah dan jangan berpecah belah.
* Saling memberi nasihat terutama antara pemimpin dan rakyat.
Dan tiga hal yang dimurkai Allah adalah :
* Mempercayai isu/berita yang tak jelas kebenarannya.
* Bertanya yang tidak pada tempatnya.
* Berbuat mubazir atau berfoya-foya.” (Ibnu Katsir, 2/83; Shahih Muslim; 1715).

Perpecahan adalah kehancuran, sebaliknya persatuan (ukhuwah Islamiyah) adalah keberhasilan berpegang teguh pd tali Allah; al-‘urwatul wutsqa yaitu Kitabullah.
Perpecahan berarti bergolong-golongan mengikuti hawa nafsu dengan berbagai macam tujuan duniawi. Satu-satunya jalan menghindari bencana ini adalah bersatunya umat Islam dalam satu ikatan Allah yaitu Kitabullah.” (Al-Qurthubi, 4/159).
Jika terjadi perselisihan pada umat Islam dan mengakibatkan pertikaian bahkan permusuhan maka ketahuilah bahwa hawa nafsu telah berperan di sini dan bukan lagi kebenaran. Para imam mujtahid Islam telah memberi contoh pada kita, walau pun mereka berbeda pendapat dan berselisih paham dalam masalah kaifiyat (cara) pelaksanaan ibadah tetapi mereka tetap bersatu dan saling kasih dalam Ukhuwah Islamiyah.” (Ibnu Taimiyah, Majmu’, 4/53).

Melusuri kehidupan para sahabat Nabi SAW, tabi’in dan para mujtahid setelahnya, mereka tetap bersatu meski berbeda pendapat dalam masalah bersuci, perdagangan, pernikahan, perceraian dan masalah-masalah lainnya yang memang pintu untuk perbedaan itu terbuka lebar. Walau demikian mereka tetap dalam suatu barisan untuk meninggikan kalimat Allah. Bersabda Nabi SAW, artinya: “Janganlah kalian saling hasad/dengki, saling marah, saling memutuskan (persaudaraan) dan janganlah kalian saling bermusuhan, akan tetapi jadilah hamba Allah yg bersaudara.” (HR.Muslim).
Demikianlah yang seharusnya terjadi sesama muslim dan bukan sebaliknya.

Bekasi, 01 Safar 1428H / 19 Pebruari 2007

[dari : Mukaddimah Labbaik, edisi : 028/th.03/DzulHijjah-Muharram 1428H/2007M]


SUDAH SAATNYA MUSLIMIN BERSATU

Mei 15, 2007

(Oleh : KH. Abul Hidayat Saerodjie)

“Adapun orang-orang kafir sebagian mereka menjadi pelindung sebagian yang lain. Jika kamu (hai kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah itu (membentuk masyarakat Islam yang bersatu berdasarkan persaudaraan yang teguh), niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar” (QS. Al-Anfal : 73)

“Kebenaran tanpa ‘nizham’ (teroganisir dan terus disosialisasikan) akan dikalahkan oleh kebathilan yang bernidzam” (Atsar : Ali bin Abi Thalib).

Semakin jelas dan nyata, apa yang sedang menimpa umat Islam belakangan ini membuktikan kebenaran firman Allah dan Atsar Ali di atas. Orang-orang kafir kompak dalam konspirasi global dalam menentang dan menindas kaum muslimin. Sementara umat Islam bagai gundukan pasir yang bergunung tanpa perekat ditiup angin buyar berantakan berkeping-keping dan berserakan menjadi serpihan-serpihan individu yang lemah tak berdaya.

Adapun dua pertunjukan besar yang sedang dipertontonkan manusia pada era peradaban milenium ketiga ini,

Pertama : Pertunjukan keangkuhan orang-orang kafir sebagai negara adidaya yang memamerkan kekuatannya melalui invasi ke negara-negara Islam di Timur Tengah (Afghanistan dan Irak) dengan demo persenjataan berteknologi tinggi, pembunuhan massal oleh Amerika dan sekutunya dengan alasan yang dibuat-buat tanpa kebenaran sedikitpun, bahkan ditentang oleh manusia sejagad. Ribuan rakyat sipil wanita dan anak-anak tak berdosa bergelimpangan mati dicabik-cabik oleh bom karpet yang meluluh lantakkan bangunan bahkan menghancurkan peradaban Islam yang sangat bernilai. Peristiwa ini pada hakikatnya menguak dan membuktikan tudingan mereka selama ini kepada kaum muslimin dengan sebutan teroris, ekstrim, kejam, pelanggar HAM dan sebagainya. Justru mereka sendiri sedang mempraktekkannya. Bagai pembunuh massal yang mengancam perdamaian dan keselamatan dunia. Hal ini mengingatkan kita kepada ketakaburan Raja Namrudz dan Fir’aun hingga pada puncak kesombongan mereka mengaku “ANA ROBBUKUMUL ‘ALA”, demikian juga ketakaburan Raja Abrahah dengan congkaknya bersama tentara “super power” gajahnya menginvasi Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah (Baitullah), tetapi semuanya dihancurkan Allah dengan kekuasaan-Nya. Sebab bila kesombongan sudah pada puncaknya, maka di situlah awal dari kehancurannya. Demikian juga dengan kesombongan Zionis Israel, Amerika dan Sekutunya; pada saatnya jika tetap pada ketakaburannya pasti Allah akan menghukum bahkan menghancurkannya.

Kedua : Pertunjukan ketidakberdayaan umat Islam pada semua lini kehidupan. Di bidang ekonomi kita terpuruk, padahal Allah telah memberikan kekayaan yang berlimpah kepada muslimin dengan negeri-negeri yang kaya sumber daya alam, tetapi mereka merampas dengan modus imperialisme dan kolonialisme bentuk baru. Kita menjadi umat jajahan yang diperebutkan bagai tumpeng yang dikepung oleh orang-orang yang rakus dan lapar. Demikian sinyalemen Rasulullah sehingga shahabat bertanya, “Apakah jumlah kami pada saat itu sedikit ?” Rasulullah SAW menjawab, “Bahkan kamu (umat Islam) pada saat itu jumlahnya banyak, tetapi kualitasnya bagai buih air bah hilang wibawa dan jatuh martabatnya (di mata musuh, yang ada bukan iman dan semangat jihad yang menyala, tetapi) cinta dunia dan takut mati”. (HR. Abu Dawud dan Bukhari)

Padahal jumlah umat Islam lebih dari satu milyar, sumberdaya manusia yang tidak kalah dengan mereka, kita punya ahli-ahli nuklir, ekonom, ilmuwan pada bidangnya masing-masing. Tetapi orang-orang Zionis, Amerika dan sekutunya dengan leluasanya membunuh umat Islam di Palestina, Afghanistan, Irak dan di tempat lainnya. Bahkan dengan semena-mena mereka menuduh dan memfitnah Islam sebagai teroris. Muslimin benar-benar terhina, dilecehkan dan dirampas pula kekayaannya. Dan kita hanya bisa diam melompong, mengelus dada, sedih, pilu dan meratapi.

Mengapa hal ini terjadi ? Akankah keadaan seperti ini akan terus terjadi ? Mari sejenak kita tafakur dan merenung. Mungkin ada sesuatu yang hilang pada kita, atau ada yang salah dari langkah-langkah kita selama ini. “Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang pada tali (agama) Allah tali (perjanjian) dengan manusia (QS. Ali-Imran : 112).

Konflik Kepentingan Menjadi Sumber Malapetaka

Salah satu senjata ampuh yang digunakan orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam & Muslimin adalah menginvasi pemikiran yang dikemas dengan bungkus ‘ilmiah’ seperti: liberalisme, demokrasi, HAM dsb; untuk memecah belah umat Islam. Sehingga pada saatnya umat Islam saling bertentangan satu dengan lainnya. Bahkan yang memerangi umat Islam adalah umat Islam itu sendiri. Oleh sebab itu perlu diperhatikan pesan Al-Qur’an dan Sabda Rasulullah SAW :

– Berpegang teguh dengan tali Allah seraya berjama’ah dan jangan berfirqah-firqah (QS. Al-Anfal : 46)

– Taat kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan berbantah-bantahan dan berselisih yang dapat menghilangkan kekuatan kamu (Muslimin) (QS. Al-Anfal : 46)

– Jangan kamu berselisih karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu, mereka berselisih maka binasalah mereka (HR. Ahmad)

– Dalam menghadapi gangguan, baik yang bersifat eksternal maupun internal yang dapat menjerumuskan umat ke neraka Jahannam. Seperti halnya yang dinyatakan oleh Hudzaifah bin Yaman, Rasulullah bersabda : “TALJAMUU JAMAA’ATAL MUSLIMINNNA WA IMAAMAHUM (Tetaplah kamu dalam Jama’ah Muslimin dan Imam mereka)” (HR.Bukhari – Muslim)

– Beliau memerintahkan, jika Jama’ah dan Imamnya tidak dapat dilaksanakan, maka tinggalkan firqah-firqah semua sekalipun mati menggigit akar kayu dalam keadaan demikian itu lebih baik. (HR. Bukhari/Kitabul Fitan Juz II hal 225. Muslim / Kitabul Imaroh Juz II hal. 134-135).

Jika demikian maka timbul pertanyaan, khususnya kepada kita di Indonesia yang sedang demam partai politik ? Apakah munculnya berbagai partai politik Islam adalah isyarat munculnya kekuatan baru bagi dunia Islam ? atau sebaliknya justru menjadi indikasi lemah dan hinanya umat karena terjebak pada invasi pemikiran yang menjerat umat Islam ? sehingga menjadi terkotak-kotak, bahkan kemudian terjadi konflik kepentingan politik yang berkepanjangan. Sebab dalam teori sosial, munculnya partai-partai adalah karena adanya kepentingan kelompok, yang mana dalam perjalanannya, kepentingan inilah yang lebih dominan memberikan nuansa, bahkan terkadang Islam dikorbankan demi kepentingan.

Fafirru Ilallah (Kembali kepada Allah)

Peristiwa di atas mengingatkan kita semua untuk segera kembali kepada Allah, artinya kembali kepada aturan Islam secara total dalam semua aspek kehidupan sebagai seorang muslim. Hari ini invasi dan intervensi besar-besaran sedang digalakkan oleh konspirasi internasional dari kaum kafirin (Yahudi, Nasrani, Orientalis, Kapitalis, dan Komunis) terhadap Muslimin khususnya di Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Melalui era informasi dan globalisasi mereka melakukan serangan ideologi, budaya dan tekanan ekonomi. Pengikisan aqidah, pendangkalan iman dan jika perlu pemurtadan dari Islam. (QS. Al-Baqa rah : 120 ; Ali-Imran : 100)

Tidak heran jika kadang-kadang banyak muslim, imannya tinggal separo atau bahkan lebih sedikit lagi. Banyak tokoh cendekia pejuang Islam tetapi pola pikir dan cara hidupnya tidak jauh dengan kaum materialis dan hedonis yang mendewakan harta, karir dan uang; menelantarkan perjuangan di jalan Allah. Jika urusannya mendatangkan uang, semangatnya luar biasa, rintangan dan hambatan akan dihadapi dengan semangat seorang pahlawan. Tetapi jika urusan kalimah Allah murni urusan perjuangan Islam, mentalnya berubah menjadi mental gerobak dorong, semangatnya melempem lalu sifat masa bodoh dan tidak mau tahu.

Hal ini pernah disinyalir oleh Rasulullah SAW : “Bersegeralah kamu beramal shaleh, akan terjadi fitnah bagaikan gelapnya malam, pagi hari seorang dalam keadaan mukmin dan sore harinya menjadi kafir. Mereka suatu kaum yang menjual agamanya untuk mendapatkan harta benda” (HR. Muslim). “Akan datang suatu masa dimana semangat hidup mereka didorong oleh kepentingan perut-perut mereka, kemuliaan mereka diukur oleh kesenangan (syahwat) mereka. Orientasi hidup mereka kepada wanita-wanita, bahkan agama mereka ‘Dinar dan Dirham’ mereka. Mereka seburuk-buruk makhluk dan tidak akan mendapatkan kebaikan/kebahagiaan di sisi Allah”. (HR. Ad-Dailami).

http://www.khilafah.or.id/dakwah/Artikel24.htm

AWAS PENYEBAR ISU

Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Orang tersebut tertangkap saat menyebarkan kabar bohong tentang orang yang tak disukainya. Maka, berkatalah Umar kepada orang itu: ”Kami akan menyelidiki permasalahan itu. Tapi jika kamu berdusta, maka kamu tergolong orang yang disebutkan dalam ayat ini — Jika datang kepadamu orang fasik dengan membawa suatu berita, maka selidikilah, (QS Al Hujuraat: 6). Dan, jika kamu benar maka kamu tergolong orang yang disebutkan dalam ayat: Orang yg suka mencela, yang berjalan kesana kemari dengan mengadu domba (QS Al Qolam: 11). Tapi kalau kamu suka saya akan memberi pengampunan.” Mendengar ucapan tersebut laki-laki itu langsung berkata: ”Pengampunan saja ya Amirul Mukminin. Saya berjanji tidak mengulangi lagi.”

Memang, sangat berbahaya bagi kaum Muslimin menerima mentah-mentah setiap berita, isu, atau omongan orang lain tanpa memikirkan dan membuktikan kebenarannya terlebih dulu. Apalagi, jika si pembawa berita tersebut termasuk orang yang fasik. Bisa jadi apa yang disampaikannya hanyalah bualan belaka. Juga bisa saja ada maksud tertentu untuk memecah belah keutuhan umat Islam dengan menyebarkan fitnah. ”Sejelek-jelek hamba Allah ialah orang-orang yang berjalan kesana kemari dengan mengadu domba, yang memecah belah antara kekasih, yang suka mencari-cari cacat orang-orang yang baik,” (HR Ahmad).

Sifat hati-hati dan waspada adalah lebih baik bagi setiap Muslim dalam menerima suatu berita. Bukan sebaliknya tanpa berpikir langsung ikut menyebarluaskan pada orang lain. Langkah ini sangat berbahaya jika berita itu sendiri tidak benar dan bisa merusak ukhuwah ummat. Islam sendiri sangat membenci orang-orang yang suka mendengarkan omongan jelek. Rasulullah saw bersabda: ”Barang siapa membicarakan seseorang dengan sesuatu yang tidak ada padanya karena hendak mencela dia, maka Allah akan menahan dia di neraka jahanam, sehingga dia datang untuk membebaskan apa yang diomongkan itu,” (HR Thabrani). Begitu pula, Islam telah menegaskan bahwa kehormatan pribadi dan harga diri setiap Muslim harus dilindungi. Bagaima napun, antara Muslim yang satu dan Muslim yang lain adalah bersaudara. ”Perumpamaan orang-orang Muslim, dalam kasih sayang dan tolong-menolong terjalin di antara mereka laksana satu tubuh. Jika satu bagian merintih merasakan sakit, maka seluruh bagian tubuh akan bereaksi membantunya dan beraksi meningkatkan panas badan,” (HR Muslim). Oleh karena itu, tidaklah patut memfitnah dan menjelek-jelekkan sesama Muslim. Apalagi jika isu, fitnah, dan celaan itu mengantarkan kepada kematian terhadap orang yang dituduh dan menimbulkan suasana ketakutan di tengah-tengah umat. Tidak patut pula, setiap Muslim percaya akan suatu berita yang tidak pasti kebenarannya. Umat harus terbiasa berpikir, sebelum melakukan setiap aktivitas, agar nantinya tidak termasuk golongan orang-orang yg dimurkai Allah.

http://members.tripod.com/~tesur/islam/pisu.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 028/th.03/DzulHijjah-Muharram 1428H/2007M


Membangun Benteng Ukhuwwah

Mei 15, 2007

“Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR.Bukhari).

Betapa kuatnya korelasi antara ukhuwwah Isla miyah dengan iman. Sampai-sampai Rasulullah saw mensyaratkan kecintaan kepada saudara sesama muslim sebagai salah satu unsur pembentuk iman. Iman sejati menghajatkan suatu rajutan persaudaraan di jalan Allah yang kokoh. Karena itu eksistenti ukhuwwah berbanding lurus dengan kondisi iman seseorang. Ia adalah barometer untuk mengukur pasang surutnya keimanan. Semakin solid suatu ikatan persaudaraan fillah, makin besar peluang untuk dikategorikan sebagai mukmin sejati (mu’minul al haq). Sebaliknya, ikatan bersaudara di jalan Allah ini bila rapuh, akan mengindikasikan suatu hakekat keimanan yang juga masih rendah tingkatannya. Begitulah yang diajarkan oleh Rasulullah saw untuk mengejar nilai keimanan di hadapan Allah dengan cara mencintai saudara sesama mukmin sebagaimana mencintai diri sendiri.

Tentang ukhuwwah Islamiyah, kita sudah terlalu sering mendengar, dua kata ini nyaris telah menjadi klasik dalam rentang perjalanan sejarah kaum muslimin. Berpuluh buku telah ditulis tentangnya. Berhelai makalah telah diseminarkan. Perbincangan dan diskusi-diskusi ummat tak pernah sepi mengurai soal ukhuwwah Islamiyyah. Apalagi di tengah situasi di mana ummat mengidap penyakit kronis bernama iftiraq (perpecahan) yang akut, dimana masing-masing kelompok merasa lebih Islami ketimbang kelompok yang lain, maka term ukhuwwah menjadi sering disebut. Dan dalam kenyataannya, kosa kata ini hampir tak bisa dipisahkan dari tubuh perjuangan dakwah ummat Islam. Ia adalah bagian fundamental dari keberadaan kaum muslimin sebagai sebuah ummat. Ia merupakan karakter khas dari kehidupan sosial kaum muslimin sepanjang sejarah.

Ukhuwwah Islamiyah adalah cara hidup komunitas muslim yang disemangati oleh persaudaraan akidah, dengan senantiasa menjadikan mahabbah (saling cinta), ikhtiram (saling menghormati), ta’awun (saling menolong) serta itsar (mengutamakan kepentingan saudaranya) sebagai pilar-pilar pokok. Yang menjadi pertanyaan adalah di mana sebenarnya letak inti pokok dari lingkaran amal ukhuwwah Islamiyah itu ? Di mana ruh dari semua aktivitas mencintai saudara sesama muslim sebagaimana mencintai diri sendiri itu ? Indikator apa yang mesti ada untuk menakar shahih tidaknya sebuah persaudaraan di jalan Allah ?

Melihat kisah ukhuwwah para shahabat, kita menjadi tahu latar belakang peristiwa-peristiwa persaudaraan Islam. Padahal semua mafhum betapa jalan dakwah yang dilalui para shahabat tadi penuh dengan situasi rumit. Onak duri selalu menghadang , teror fisik dan mental, tanggungan perasaan karena kurangnya harta, menumpuknya hutang dan situasi-situasi tragis lain; adalah kejadian sehari-hari yang mereka alami. Dalam kondisi seperti itulah ukhuwwah Islamiyah shahabat tetap terjalin. Beban tanggung jawab yg sama terhadap kebenaran menjadikan mereka saling bahu membahu satu dengan yang lain. Solidaritas yang dibangun adalah yang mengarah pada visi ummat. Bukan solidaritas kelompok yang justru bisa menghambat lahirnya ukhuwwah. Pada akhirnya, egoisme golongan dapat ditekan sekecil mungkin atau dimusnahkan. Ketika tidak lagi berpikir tentang kelompok, kemudian mengarahkan keterlibatannya pada hal-hal besar yang dihadapi ummat, menanggung keperihatinan-keperihatinan bersama atas kondisi dakwah; kita lebih mungkin berbicara soal ukhuwwah Islamiyah sejati. Tanpa adanya pra kondisi ini, tanpa mewujudkan lebih dahulu kesadaran terhadap perjuangan dakwah, rasanya ukhuwwah sejati akan sulit diwujudkan. Atau paling tidak akan sulit meraih ruhnya.

Firman Allah berikut ini bisa kita renungi:”Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman(Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka(orang-orang muhajirin) dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(QS.Al-Hasyr: 9).

Begitulah ukhuwwah yang romantik, yang menggetarkan hari dan perasaan. Ia terjadi dari pancaran iman yang ikhlas dan pengembaraan jihad yang panjang.

[dari : Lembar Jum’at Al Qalam Diterbitkan : Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah-Surabaya, Edisi : 23/VIII, 30 Rabiul Awwal 1419, 24 Juli 1998]

http://alqalam.8m.com/viii/qal23.htm
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 028/th.03/DzulHijjah-Muharram 1428H/2007M


Ukhuwah Islam itu Mempesona

Mei 15, 2007

AKU terlahir dengan nama Maria Magdalena. Kini aku lebih suka dipanggil Maryam saja. Ibu -yang biasa aku panggil emak- yang melahirkan aku di Nganjuk, 17 De sember 1977 adalah seorang aktivis non Muslim. Sewaktu tinggal di Lampung, rumah kami sering dijadikan pusat aktivitas mereka. Aku dibesarkan di keluarga yang jauh dari Islam. Selain ibuku non Muslim, Bapak adalah penganut kejawen, yang pada waktu tertentu sering memberi sesaji untuk keris. Bersyukur Allah menyayangiku.

Sejak usia 17 tahun, Allah memberiku hidayah untuk memeluk Islam. Ukhuwah itu yang awal mula dulu membuatku tertarik pada Islam, kini makin aku rasakan. Karena ukhuwah pulalah aku dimudahkan oleh saudara-saudaraku mengenal Islam. Mereka menolongku semata-mata karena mereka ingin aku mengenal Allah. Dan setelah sekian lama dalam tarik-menarik dua keyakinan yang berbeda, Allah menun jukkan jalan-Nya. Mbak Jani, kakak pertamaku yg telah berislam sejak SMP, getol mengajakku memeluk Islam. Sedang Emak, yang begitu taat dengan keyakinannya, terus mengajakku mengikuti jejaknya. Boleh dibilang beliau adalah aktivis di kalangannya. Bahkan saking militannya, kelumpuhan akibat stroke tak menghalangi Emak datang ke acara kerohanian. Aku seolah diperebutkan antara Mbak Jani & Emak.

Tarikan dari Mbak Jani agak berkurang, seiring kondisi kami yang tidak tinggal serumah lagi dengan Mbak Jani yang lebih memilih tinggal bersama ibu tiri – kami panggil Ibu – yang beragama Islam walaupun kejawen. Maka secara otomatis, aku ikut aktif sebagaimana Emak. Aku jadi murid kesayangannya dan sering dijadikan contoh sebagai anak yang berbakti. Aku terus aktif, walau sempat berjanji pada Mbak Jani untuk berislam sekalipun tinggal bersama Emak.

Sepeninggal Bapak, yang tak lama disusul emak, tarikan itu mulai kurasakan lagi. Setelah itu aku berkumpul kembali bersama Mbak Jani, adikku Ali, dan Ibu. Aku mulai tertarik dengan jilbab yang ketika itu dikenakan Mbak Jani. Jilbab panjang itu sering aku pakai. Orang sering keheranan melihatku dengan jubah tanpa kerudung yang menutupi kepala. Dasar sedang puber, aku senang saja berganti-ganti baju. Ketika kakakku menyuruhku memakai jilbab, dan aku mau saja. Padahal waktu itu aku belum terlalu mengenal Islam.

Seiring perjalanan waktu, Allah memberikan berbagai kemudahan-Nya untukku mengenal agama ini. Aku semakin yakin dengan kebenaran jalan yang kupilih. Alhamdulillah, suamiku Mirzan Adi Bratha terus membimbingku untuk mengarungi samudera hidayah-Nya. Kehadiran Hulwa Tazqia Syahida, anakku, semakin menguatkan ibadahku dan suamiku. Aku tak ingin apa yang terjadi padaku terulang padanya. Aku ingin menjadi orangtua yang mengajarkan Islam. Doa dan harapanku pada Allah, supaya Dia menetapkan hatiku pada kebenaran ini hingga akhir hayat. Aku tahu Dia Maha membolak-balikkan hati, jadi aku berdo’a kepada-Nya agar hati ini terus dijaga oleh-Nya. – [Sumber : MQMedia.com]

http://www.kotasantri.com/modules.php?name=Beranda&file=detail&sid=44

UKHUWAH DALAM AL-QURAN

Oleh : M. Quraish Shihab

Dalam Al-Qur’an, kata ‘akh’ (saudara) dalam bentuk tunggal ditemukan sebanyak 52 kali. Kata ini dapat berarti saudara kandung (QS. An-Nisa’ :23), saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga (QS. Thaha : 29-30), saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama (QS. Al-A’raf : 65), saudara semasyarakat, walaupun berselisih paham (QS. Shad : 23), persaudaraan seagama (QS. Al-Hujurat : 10). Di samping itu ada istilah persaudaraan lain yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an yaitu saudara sekemanusiaan (ukhuwah insaniyah) dan saudara semakhluk dan seketundukan kepada Allah.

Ukhuwah islamiyyah adalah ukhuwah yang bersifat Islami atau yang diajarkan oleh Islam. Berdasarkan pada pengertian ini, paling tidak ada empat macam ukhuwah :

1. Ukhuwah ‘ubudiyyah atau saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah.
2. Ukhuwah insaniyyah (basyariyyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah saudara karena mereka berasal dari seorang ayah dan ibu.
3. Ukhuwah wathaniyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan.
4. Ukhuwan fi din Al-Islam, persaudaraan antar sesama muslim.

http://www.shodikin.20m.com/quraih_shihab.htm
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 028/th.03/DzulHijjah-Muharram 1428H/2007M


Renungan untuk Tidak Berfikir Picik (Taushiyah)

Mei 14, 2007

[Oleh: Muh. Ihsan ibnu Zainuddin, Lc]
Pengamat dan Pendukung Dakwah Salafiyah

SAYA bersyukur kepada Allah yang telah memberikan saya hidayah untuk meyakini bahwa Islam yang benar hanya dapat dipahami dan diamalkan sebagaimana manhaj para As-Salaf Ash Shaleh. Saya juga bersyukur karena Allah juga memberikan rasa cinta dalam hati saya kepada generasi terbaik itu. Walaupun saya tak pernah bisa benar-benar sama dengan mereka (dan tak akan pernah sama), bahkan menyerupai pun rasanya jauh. Apa sih yang dapat kita lakukan di zaman yang penuh fitnah ini, selain berusaha memperkecil perbedaan kondisi pribadi kita (dalam hal aqidah, ibadah, mu’amalah dan akhlak) dengan kondisi keseharian kaum salaf ?

Di zaman ini, pengakuan diri sebagai seorang salafy mungkin hanya bisa diterjemahkan sebagai kesalaf-salafan saja, atau berusaha untuk menyerupai kaum As salaf Ash Shaleh saja. Dan itu sekali lagi amat berat. Jika ada yang merasa lebih dari itu, merasa diri benar-benar pas dengan kehidupan kaum As Salaf Ash Shaleh, maka menurut saya ia hanyalah orang yang tertipu oleh dirinya sendiri. Kita sekarang ini hanya dapat menghibur diri dengan pesan Nabi shallallahu ‘alai hi wassalam kepada seorang sahabat, “Seseorang itu (kelak di akhirat) akan bersama dengan orang yang ia cintai.” Mudah-mudahan dengan kecintaan pada generasi As Salaf Ash Shaleh, kelak kita akan bersama-sama mereka di surga. Semoga. Dan sejak mengenal manhaj salaf sebagai satu-satunya metode yang benar dalam memahami Islam, saya pun merasa tersejukkan setiap kali mendengar apapun mengenai manhaj ini dan para pejuang-pejuangnya. Saya begitu yakin, bahwa manhaj salaf adalah Islam itu sendiri.

Ya, ia adalah penjelasan, penjabaran, dan gambaran tentang Islam itu sendiri, yg begitu lengkap, menyeluruh dan mencakup seluruh aspek kehidupan. Sejak awal, saya telah meyakini bahwa Islam adalah jalan hidup yang indah dan menyejukkan. Maka dalam hati saya pun terpatri keyakinan bahwa manhaj salaf pun pastilah sebuah manhaj yang indah dan menyejukkan. Itulah keyakinan saya hingga kini dan Insya Allah akan menjadi aqidah saya hingga maut datang menjemput. Ya Allah, kabulkanlah!

Oleh sebab itu, saya sangat sedih bila ada sebagian pejuang da’wah salafiyah yang justru membuat keindahan dan kesejukan manhaj salaf itu ternodai, hanya dikarenakan pemahaman yang tidak benar, bahkan cenderung picik terhadap manhaj yg agung ini. Hanya mengambil sepotong-sepotong, lalu melakukan penyerangan kesana kemari. Dan yang lebih hebat lagi, penyerangan itu disertai nukilan-nukilan dalil dan pendapat para ulama yang tidak ditempatkan pada tempat yang semestinya, ditambah dengan tuduhan-tuduhan tak berdasar.
Akibatnya, perpecahan -yang nota bene merupakan salah satu tanda pokok ahlul bid’ah- justru menjadi fenomena yang tak asing lagi di kalangan orang-orang yang mengaku berjuang di atas manhaj salaf. Bahkan tidak sekedar berpecah. Mereka juga saling menyerang, menuduh dan menuding. Maka anda dapat menyaksikan betapa banyak murid-murid yang dengan penuh gagah berani menyerang (bekas) ustadz-ustadznya. Padahal sang ustadzlah yg memperkenalkan manhaj salaf kepada mereka. Dan yang lebih lucu lagi, muncul fenomena bantah membantah via kaset. Bila seseorang membuat tahdzir terhadap si fulan dalam 3 kaset, maka tunggulah bantahan si fulan dalam 5 kaset.

Siapapun yang melihat ini akan tertegun heran. Para ahlul bid’ah akan bersorak-sorai melihat pertarungan antar pejuang Ahlussunnah. Namun saya sangat sedih. Inikah yang diwariskan oleh generasi As Salaf Ash Shaleh ? begitulah bunyi pertanyaan yang hingga kini selalu merisaukan hati saya. Pertanyaan itu terus menggelora, hingga saya menyimpulkan (sesuai kapasitas ilmu saya yang masih sedikit) bahwa nampaknya ada kesalahan dalam memahami manhaj ini. Dalam manhaj Ahlus-sunnah, perbedaan pendapat tidaklah identik dengan perpecahan. Semuanya pasti mengetahuinya. Namun tidak banyak yang benar-benar faqih dan santun menerapkannya. Terkadang masalah yang ijtihadiyah dijadikan sebagai pangkal perpecahan. Hanya karena satu masalah yang para ulama besar pun berbeda pendapat di dalamnya, seseorang begitu mudah mengeluarkan saudaranya dari lingkaran ahlusunnah wal-jama’ah. Padahal generasi As-Salaf Ash Shaleh telah mewariskan kepada kita Adab Al Khilaf (adab dan etika berbeda pendapat).

Seperti ditunjukkan dengan sangat indah oleh Imam Syafi’iy kepada salah seorang lawan diskusinya, yang tidak lain adalah muridnya sendiri, “Tidak pantaskah kita tetap bersaudara, walaupun kita berbeda pendapat dalam beberapa masalah ?” . Dan Beliau mengucapkannya seraya menggenggam tangan muridnya itu. Alangkah indahnya jika para pejuang da’wah Salafiyyah kita bisa seperti itu.

Yang menyedihkan, sebagian anak-anak muda (ikhwan maupun akhwat) yang baru kemarin sore belajar manhaj salaf sudah berani melemparkan vonis sesat kepada para pejuang/da’i yg sudah bertahun-tahun menda’wahkan manhaj salaf. Belum lagi selesai memahami dengan baik buku kecil Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan (Syarh Ushul Al Iman), sudah berani menyesatkan orang lain. Bahkan membaca Al-Qur’an pun masih terbata-bata. Dalam sejarah kaum salaf, kita tidak pernah menemukan ada seorang murid yang baru belajar Islam lalu kemudian berkoar-koar menyesatkan para salafy lainnya.

Yang lebih memprihatinkan, ada suara-suara yang mencela buku karya ulama besar, hanya karena tidak sesuai dengan pendapat atau kemauan ustadznya. Kita semua telah mengetahui sebuah kaidah (fiqih) yg berbunyi, Al Yaqin La Ya zuulu Bisysyak (sebuah keyakinan tidak dapat dihilangkan hanya dengan sebuah keraguan). Ini adalah sebuah kaidah yang sangat penting dan berlaku dalam seluruh aspek kehidupan. Bila kita telah mengetahui dengan yakin bahwa seseorang itu Muslim, maka keyakinan itu tidak dapat kita gugurkan hanya dengan isu yang kita dengar bahwa ia telah kafir. Atau hanya karena kita ragu apakah ia masih Muslim atau sudah kafir, kita tidak dapat mengkafirkannya, sampai akhirnya kita mempunyai bukti yg memyakinkan bahwa ia telah kafir.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin menitipkan dua buah pesan sederhana:

Pertama, Untuk Para Tunas Baru Salafiyyun.
Teruslah memperdalam manhaj salaf dengan benar. Lakukanlah muhasabah terhadap aqidah kita, sudah sesuaikah dengan manhaj salaf ? Terhadap ibadah kita, sudah tepatkah ? Dan yang tak kalah pentingnya terhadap akhlak dan perilaku kita, semakin luhurkah kita ? Semakin santunkah kita ?. Kita pasti tahu bahwa Nabi SAW (penghulu para salafiyyun) diutus untuk menyempurnakan akhlaq. Ingatlah, bahwa akhlaq yang buruk menunjukkan adanya ketidak-beresan dalam memahami manhaj yang agung dan mulia ini.

Kedua, kepada para ustadz pejuang manhaj salaf -yang menuduh dan yang tertuduh- Perjalanan masih amat panjang untuk menyebarkan manhaj yg haq ini. Lalu mengapa saling menuduh ? Tidaklah lebih baik bila kita membersihkan hati dari hasad, dengki dan penyakit hati lainnya, lalu bergandengan tangan menda’wahkan manhaj ini ? Mungkin kini saatnya bermuhasabah. Barangkali setiap kita masih harus belajar banyak tentang manhaj ini. Tidak ada yang ma’shum selain Rasulullah SAW.

Akhirnya, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan mengatakan, “Bila apa yang engkau tuduhkan padaku itu benar, maka mudah-mudahan Allah mengampuniku. Namun jika apa yang engkau tuduhkan itu tidak benar, maka mudah-mudahan Allah mengampuni kesalahanmu.” Saya teringat (namun sayang sekali saya lupa dalam kaset yg mana), ketika seseorang bertanya kepada Syaikh Nashiruddin Al Albany tentang Syaikh Salman Al ‘Audah, Beliau rahimahullah menjawab, “Huwa ma’ana ‘ala al khath as salafy (Dia bersama kita di atas jalan salafy)”.
Lihatlah perbedaan sikap seorang ‘alim yang faqih dengan yang tidak. Syaikh Salman bukanlah seorang yang ma’shum. Beliau juga punya kesalahan, namun hal itu tidaklah mengeluarkan Beliau dari lingkaran Ahlussunnah. Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Makassar, 30 Rabi’ul Awwal 1424 H,
–dari yang berharap menjadi peneladan yang baik bagi kaum As Salaf ash Shaleh–

http://www.wahdah.or.id/wahdah/index.php?option=com_remository&func=fileinfo&filecatid=7
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 028/th.03/DzulHijjah-Muharram 1428H/2007M