Masjid Lautze Jakarta

Mei 2, 2006

Ada sekitar 7 (tujuh) juta etnik Cina ( WNI Non-pri) di Indonesia, tapi hubungan mereka dengan rakyat banyak yang umumnya Islam sungguh memprihatinkan. Ini sebenarnya warisan dari penjajahan Belanda ketika masih mendomisili Negara kita. Pada tahun 1991 sejumlah tokoh Islam (Muhammadiyah, NU, Al Wasliyah, ICMI, KAHMI dan muslim keturunan Cina salah satunya putra Haji Karim Oei yaitu Ali Karim) mendirikan “Yayasan Haji Adbulkarim Oei Tjeng Hien disingkat ” Yayasan haji Karim Oei”. Adapun maksud-tujuannya ialah menyampaikan Islam kepada etnik Cina. Nama “Oei” diambil dari seorang yang “sangat unik”. Bapak Karim Oei (1905-1988) masuk Islam ditahun 30-an dan akrab sekali dengan Presiden Soekarno dan Buya Hamka. Beliau seorang tokoh Muhammadiyah dan pionir dakwah dikalangan etnik Indonesia sejati, pejuang kemerdekaan, muslim yang taat dan sukses di bidang ekonomi. Adalah tujuan kami untuk “menciptakan” sebanyak mungkin Karim Oei dikalangan etnik Cina.

1. Yayasan Haji Karim Oei didirikan untuk mengenang H.Adbulkarim Oei Tjeng Hien

2. Yayasan memilih berdomisili di Pecinan Jakarta, yakni di Jalan Lautze No. 89. Bangunan semula Ruko ini pada hari jumat berfungsi sebagai Masjid hingga tempat ini dikenal sebagai Masjid Lautze. Sejak itu dakwah dikalangan WNI cukup melejit. Papan nama OEI menarik perhatian para WNI hingga mereka tidak ragu-ragu datang untuk bertanya soal Islam, agama mayoritas di negara kita.

3. Mendirikan Islamic Centre dan masjid “Cina” di Pecinan merupakan langkah awal sekali dan kami menghadapi saingan yang berat dari agama-agama dan kepercayaan yang lain. Di wilayah Pecinan ini di setiap sudut ada Sekolah Minggu Nasrani, gereja, klenteng dan sebagainya. Karenanya, jalan masih panjang.
Islamic Centre untuk WNI atau masjid “Cina” yang baru ini sebenarnya belum apa-apa ketimbang apa yang dilakukan agama lain.

4. Tapi sejumlah tokoh cukup tertarik kepada “fenomena unik” ini. Dapat dicatat antara lain Ir. Azwar Anas ( Menko Kesra), Dr. Tarmizi Taher ( Menteri Agama) dan Prof.Dr.B.J. Habibie (Menristek), begitu juga Mayjen Hendroprijono (Pangdam Jaya), Gubernur DKI-Jakarta Soerjadi Soedirdja, KASAD Jenderal R.Hartono dan lain-lain telah shalat Jum’at ditempat kami. Dan media-massa termasuk TV luar negeri menaruh perhatian pula dan meliput tempat ini yang memakai nama nabi Cina ” Lao Tze” yang telah memperkenalkan ajaran “Taoisme” berabad-abad berselang.

5. Demikian sekilas Yayasan Haji Karim Oei yang didirikan pada tanggal 9 April 1991. Dapat dicatat bahwa kini rata-rata 2 – 3 hari sekali ada 1 (satu) etnik Cina yang masuk Islam melalui kami. Adalah harapan kami untuk terus dapat berkiprah mendirikan Islamic Centre untuk WNI disetiap Pecinan se-Indonesia.

Sebagai pelengkap dapat dicatat bahwa kini Yayasan telah mempunyai cabang-cabang di Cirebon, Bandung, Yogya, Cilacap, Surabaya, dan Tangerang. Untuk mengenal lebih jauh disamping anda dapat datang langsung, bisa juga mem buka website kami di

http://www.masjid-lautze.com/

Yang Tidak Ditolak Doanya

Imam Ahmad meriwayatkan sabda Rasulullah SAW: “Tiga jenis orang yang doanya tidak ditolak: orang yang berpuasa hingga ia berdoa, pemimpin yang adil dan orang teraniaya. Allah mengangkat doa mereka ke atas awan. Ketika pintu langit terbuka, Allah SWT berfirman, “Demi kebesaran-Ku, sungguh Aku akan menolong engkau, wahai orang yang berdoa, walaupun pertolongan-Ku itu akan Kuberikan pada suatu waktu kelak.”

http://www.pesantrenonline.com/MutiaraShubuh/detailMS.php3?detail=110&huruf=Y

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 003/th.01/rabi’ul akhir 1424H/2004M

Iklan

Pencarian Makna

Mei 2, 2006

“Kamu kenapa banyak sekali sholatnya ? Apa tidak capek, kan itu mengganggu ritme kerja”, tanya Berti, temanku dari Jerman. Itu kira-kira diskusi awal kami tentang sholat.

Berbagai pertanyaan muncul, dan butuh jawaban. Kadang beberapa pertanyaan menimbulkan perdebatan, jawaban yang menurutnya kurang logis akan mengalami penolakan, dan tentu saja tak mudah menghadirkan jawaban yang bisa mereka cerna. “Kenapa ya, setiap saya bertanya sama beberapa orang Islam, mereka selalu menjawab bahwa itu perintah Allah, udah ada dalam Al Quran, dan Hadist ?”, itu pertanyaan yang biasa dilontarkan beberapa temanku yang non muslim dan datang dari negara-negara maju. Aku mikir juga, padahal jawaban mereka itu bener lho. Toh secara mendasar desain hidup manusia menurut Allah memang untuk beribadat, dan yang pasti gak bisa ditawar. Wama a Khalaqtul Jinna wal Insa Illa liya’buduun. Tapi kenapa jawaban itu tak memuaskan mereka ? Menurutku, karena mereka sudah terbiasa berpikir logis, jadi kita mesti memberikan jawaban yang sejalan dengan pikiran mereka. Kalau aku ngeliat harfiah kita sebagai manusia, yang diberikan akal, berarti Allah udah menyuruh kita untuk berfikir, menggali semua potensi langit dan bumi (QS. 55:33)
“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. Dan ayat-ayat-Nya yang sarat dengan makna yang perlu digali. Toh, Allah sendiri juga tak suka dengan muslim yang hanya membawa-bawa kitab-Nya tapi tak tahu maknanya. Walau kita tahu kalau sikap kita terhadap perintah Allah adalah sami’na wa atha’na sesuatu yang tak bisa ditawar lagi.

Trus, kenapa kita masih mencari makna ? Karena manusia diberi akal untuk berpikir, dan dengan berpikir itu melanjutkan proses keimanan agar meningkatkan ketaqwaan. Jadi, pencarian makna itu semata-mata menambah keimanan dan ketaqwaan.

Kultur kita yang sebagian besar membentuk keislaman kita. Masyarakat Islam kita sebagian besar terlahir sebagai muslim, dan mereka menjalani hidup dengan tetap berpredikat sebagai muslim, namun yang membedakan apakah mereka menjalankan islam keturunan dan kewajiban, atau menjalankan islam dengan mencari dan memahami islam itu sendiri. Beberapa yang hanya “islam KTP” toh akhirnya dengan mudah dipengaruhi dan meninggalkan Islam demi sebuah pernikahan, pekerjaan, dsb. Dan kita juga tahu kalau seorang berilmu, yang menggali makna untuk meningkatkan ke taqwaannya, punya nilai lebih dibanding dengan ahli ibadah yang seharian membaca al qur’an dan menegakkan sholat, namun tidak tahu maknanya.
Dengar saja lirik lagunya Bimbo :
Ada anak bertanya pada bapaknya. Buat apa berlapar-lapar puasa.
Ada anak bertanya pada bapaknya. Tadarus tarawih apalah gunanya.

Dari lirik itu secara mudah kita simpulkan, bahwa perintah dan larangan Allah itu pasti ada makna dibaliknya. Aku kadang jadi miris juga, denger jawaban orangtua ke anaknya yang menanyakan hal diatas,”Hus, kerjakan saja. Itu udah perintah Allah, jadi tinggal dijalankan saja kalau gak nanti berdosa”. Dengan bekal seperti itu dari kecil, bagaimana generasi berikutnya ? Bagaimana mereka tidak menjadi gamang dalam menjalankan keislamannya, sementara dari kecil mereka tidak pernah diperkenalkan dengan makna keislaman itu sendiri.

Lapar mengajarmu rendah hati selalu.
Tadarus artinya memahami kitab suci.
Tarawih mendekatkan diri pada Illahi.

http://www.eramoslem.com/

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 003/th.01/rabi’ul akhir 1424H/2004M


Tsa’labah Bin Hathib

Mei 2, 2006

Ibnu Abbas berkata : “Janganlah kalian mencaci maki atau menghina para shahabat Rasulullah saw. Sesungguhnya kedudukan salah seorang dari mereka bersama Rasul sesaat itu lebih baik dari amal seorang dari kalian selama 40 (empat puluh ta hun)”. (HR.Ibnu Batthah dengan sanad yang shahih. Lihat Syarah Aqidah Thahawiyah hal. 469, Takhrij Syaikh Al-Albani). Menjunjung tinggi nama baik shahabat Nabi saw. merupakan kewajiban syar’i dan merupakan tuntunan agama. Memberikan peng hormatan, keridhaan, serta pujian kepada mereka adalah salah satu prinsip dasar dari prinsip-prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Tulisan di bawah ini sengaja kami angkat dengan maksud untuk meluruskan cerita tentang Tsa’labah bin Hathib, dimana sebagian dari kaum muslimin sering membawakan riwayat Tsa’labah untuk contoh kebakhilan, tanpa berusaha untuk merujuk atau memeriksa kembali kebenaran dari riwayat tersebut. HADITS TSA’LABAH BIN HATHIB yang “Artinya : Celaka engkau wahai Tsa’labah ! Sedikit engkau syukuri itu lebih baik dari harta banyak yang engkau tidak sanggup mensyukurinya. Apakah engkau tidak suka menjadi seperti Nabi Allah ? Demi yang diriku di tangan-Nya, seandainya aku mau gunung mengalirkan perak dan emas, niscaya akan mengalir untukku”. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bawardy, Al-Baghawy, Ibnu Qani’, Ibnu Sakan, Ibnu Syahiin, Thabrany, Dailamy dan Al-Wahidi dalam Asbabun Nuzul (hal. 191-192).
Semua meriwayatkan dari jalan Mu’aan bin Rifa’ah As-Salamy dari Ali bin Yazid dari Al-Qasim bin Abdur Rahman dari Abu Umamah Al-Baahiliy, ia berkata : “Bahwasanya Tsa’labah bin Hathib Al-Anshary datang kepada Rasulullah saw. lalu ia berkata : ‘Ya Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar aku dikaruniai harta’. Lalu Rasulullah saw. bersabda : “(Ia menyebutkan lafadz hadits di atas)”.
Kemudian ia berkata, demi Dzat yang mengutusmu dengan benar, seandainya engkau memohonkan kepada Allah agar aku dikaruniai harta (yang banyak) sungguh aku akan memberikan haknya (zakat/sedekah) kepada yang berhak menerimanya. Lalu Rasulullah saw. berdo’a : ‘Ya Allah, karuniakanlah harta kepada Tsa’labah’.

Kemudian ia mendapatkan seekor kambing. Lalu kambing itu tumbuh beranak sebagai mana tumbuhnya ulat. Kota Madinah terasa sempit baginya. Sesudah itu, ia menjauh dari Madinah dan tinggal di satu lembah (desa). Karena kesibukannya, ia hanya berjama’ah pada shalat Dhuhur dan Ashar saja, dan tidak pada shalat-shalat lainnya. Kemudian kambing itu semakin banyak, maka mulailah ia meninggalkan shalat berjama’ah sampai shalat Jum’ah pun ia tinggalkan.
Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya kepada para shahabat : “Apa yang dilakukan Tsa’labah ?” Mereka menjawab : “Ia mendapatkan seekor kambing, lalu kambingnya bertambah banyak sehingga kota Madinah terasa sempit baginya ….” Maka Rasul saw. mengutus dua orang untuk mengambil zakatnya seraya berkata : “Pergilah kalian ke tempat Tsa’labah dan tempat fulan dari Bani Sulaiman, ambillah zakat mereka berdua”. Lalu keduanya pergi mendatangi Tsa’labah untuk meminta zakatnya. Sesampainya di sana dibacakan surat dari Rasulullah saw. Serta merta Tsa’labah berkata : “Apakah yang kalian minta dari saya ini pajak atau sebangsa pajak ? Aku tidak tahu apa yang sebenarnya yang kalian minta ini !. Lalu keduanya pulang dan menghadap Nabi saw. Tatkala beliau melihat keduanya (pulang tidak membawa hasil), sebelum berbicara, beliau bersabda : “Celaka engkau, wahai Tsa’labah ! Lalu turun ayat : “Artinya : Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah : ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)”. (QS.9 : 75-76).
Setelah ayat ini turun, Tsa’labah datang kepada Nabi saw., ia mohon agar diterima zakatnya. Beliau langsung menjawab : “Allah telah melarangku menerima zakatmu”. Sampai Rasul saw. wafat, beliau tidak mau menerima sedikitpun dari zakatnya. Dan Abu Bakar, Umar, serta Usman-pun tidak mau menerima zakatnya di masa khilafah mereka.

KETERANGAN :
Hadits ini sangat Lemah Sekali. Dalam sanad hadits ini ada dua rawi yang lemah :

1. Ali bin Yazid, Abu Abdil Malik, seorang rawi yang sangat lemah.
o Imam Al-Bukhari dalam kitabnya berkata : “Ali bin Yazid, Abu Abdil Malik Al-Alhany Ad-Dimasyqy adalah rawi munkarul hadits”. (Lihat : Adh Dhu’afaa’us Shaghiir No. 255).
o Imam Nasa’i berkata : “Ia meriwayatkan dari Qasim (bin Abdur Rahman), ia matrukul hadits”. (Lihat : Adh-Dhua’faa wal Matrukiin No. 455).
o Imam Daruquthny berkata : “Ia seorang matruk (yang ditinggalkan)”.
o Imam Abu Zur’ah berkata : “Ia bukan orang yang kuat”. (Periksa : Mizanul I’tidal 3:161, Taqribut Tahdzib 2:46, Al-Jarhu wat Ta’dil 6:208, Lisanul Mizan 7 :314).

2. Mu’aan bin Rifaa’ah As-Salamy, seorang rawi yang lemah.
o Ibnu Hajar berkata : “Ia rawi lemah dan sering memursalkan hadits”. (Periksa : Taqribut Tahdzib :258).
o Kata Imam Adz-Dzahabi : “Ia tidak kuat haditsnya”. (Periksa Mizanul I’tidal 4:134).

Para Ulama yang melemahkan hadits-hadits ini diantaranya ialah :
* Ibnu Hazm, ia berkata : “Riwayat ini Bathil”. (Al-Muhalla 11:207-208).
* Al-Iraqy berkata : “Riwayat ini Dha’if”. (Lihat Takhrij Ahadist Ihya Ulumudin 3:272)
* Ibnu Hajar Al-Asqalany berkata : “Riwayat tersebut Dha’if dan tidak boleh dijadikan hujjah”. (Lihat : Fathul Bari 3 :266).
* Ibnu Hamzah menukil perkataan Baihaqi : “Dha’if”. (Lihat Al-Bayan wat Ta’rif 3:66-67).
* Al-Manawi berkata : “Dha’if” (Lihat : Faidhul Qadir 4:527).

RIWAYAT YANG BENAR
Tsa’labah bin Hathib adalah seorang shahabat yang ikut dalam perang Badar sebagaimana disebutkan oleh :

* Ibnu Hibban dalam kitab Ats-Tsiqaat 3:36.
* Ibnu Abdil Barr dalam kitab Ad-Durar. halaman 122.
* Ibnu Hazm dalam kitab Al-Muhalla 11:208
* Ibnu Hajar Al-Asqalany dalam kitab Al-Ishaabah fil Tamyiizis Shahaabah I:198

Dalam buku At-Tasfiyah wat Tarbiyah wa Atsarihima Fisti’nafil Hayat Al-Islamiyyah (hal. 28-29) oleh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsary disebutkan pembelaan terhadap shahabat Tsa’labah bin Hathib, ia berkata : “Tsa’labah bin Hathib adalah shahabat yang ikut (hadir) dalam perang Badr”.
Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang ahli Badar. “Artinya : Tidak akan masuk Neraka seseorang yang ikut serta dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiyah”. (Hadits Riwayat Ahmad 3:396).
Sesudah kita mengetahui kelemahan riwayat ini maka tidak halal bagi kita membawakan riwayat Tsa’labah bin Hathib untuk contoh kebakhilan, karena bila kita bawakan riwayat itu berarti :

1. Kita berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Kita menuduh shahabat ahli Surga dengan tuduhan yang jelek.
3. Kita berdusta kepada orang yang kita sampaikan cerita tersebut kepadanya.

Ingat, kita tidak boleh sekali-kali mencela, memaki atau menuduh dengan tuduhan yang jelek kepada para shahabat Rasululluh shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau bersabda : “Artinya : Barangsiapa mencela shahabatku, maka ia mendapat laknat dari Allah, malaikat dan seluruh manusia”. (Hadits Riwayat Thabrani).
Wallaahu a’lam bish showaab

[Ditulis oleh : Yazid bin Abdul Qadir Jawas]
http://www.assunnah.or.id/artikel/masalah/27tsalabah.php

JIBRIL AS, KERBAU, KELAWAR DAN CACING

Suatu hari Allah SWT memerintahkan malaikat Jibri AS untuk pergi menemui salah satu makhluk-Nya yaitu kerbau dan menanyakan pada si kerbau apakah dia senang telah diciptakan Allah SWT sebagai seekor kerbau. Malaikat Jibril AS segera pergi menemui si Kerbau.
Di siang yang panas itu si kerbau sedang berendam di sungai. Malaikat Jibril AS mendatanginya kemudian mulai bertanya kepada si kerbau, “hai kerbau apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kerbau”. Si kerbau menjawab, “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kerbau, dari pada aku dijadikan-Nya sebagai seekor kelelawar yang ia mandi dengan kencingnya sendiri”. Mendengar jawaban itu Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor kelelawar.
Malaikat Jibril AS mendatanginya seekor kelelawar yang siang itu sedang tidur bergantungan di dalam sebuah goa. Kemudian mulai bertanya kepada si kelelawar, “hai kelelawar apakah kamu senang telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai seekor kelelawar”. “Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor kelelawar dari pada aku dijadikan-Nya seekor cacing. Tubuhnya kecil, tinggal di dalam tanah, berjalannya saja menggunakan perutnya”, jawab si kelelawar. Mendengar jawaban itu pun Malaikat Jibril AS segera pergi menemui seekor cacing yang sedang merayap di atas tanah.
Malaikat Jibril AS bertanya kepada si cacing, “Wahai cacing kecil apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing”. Si cacing menjawab, ” Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan aku sebagai seekor cacing, dari pada dijadikaan-Nya aku sebagai seorang manusia.

Apabila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal sholih ketika mereka mati mereka akan disiksa selama-lamanya”.

http://kastamselangor.tripod.com/

“Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim”. (HR Ahmad, Ahsan)

“Beraktifitaslah untuk duniamu, seolah engkau akan hidup selamanya. Beraktifitaslah untuk akhiratmu, seolah engkau akan mati esok hari” (Umar Bin Khattab)

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 003/th.01/rabi’ul akhir 1424H/2004M


Mengapa Harus Sholat Shubuh ?

Mei 2, 2006

Dirikanlah shalat di waktu tergelincir matahari sampai gelap malam, dan dirikanlah shalat Subuh, sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan. (Qs. Al-Israa’ :78)
Ahad lalu saya shalat ‘Ashar berjamaah di mushalla pribadi pak Syamsi. Ikut serta diantaranya Iwan, anak remaja pak Syamsi, dan Adi sahabat Iwan, juga Luthfie dan pak Mustopha tetangga terdekat keluarga pak Syamsi. Mushalla pribadi milik pak Syamsi adalah sebuah bangunan semi permanen yang didominasi warna ungu, terletak terpisah dari bangunan utama, dan merupakan bangunan yang berada paling depan. Dengan menempatkan mushalla di bagian depan, pak Syamsi bermaksud mengingatkan siapa saja yang memasuki pekarangan rumahnya untuk menunaikan kewajiban shalat lima waktu.

Mengapa warna ungu yang dipilih, bukan hijau atau putih ? Pak Syamsi menjelaskan, pada dasarnya semua warna adalah ciptaan Allah, dan setiap ciptaan Allah adalah indah. Tidak ada warna hitam khusus untuk kematian, tidak ada warna pink khusus untuk valentine.
Warna ungu bukan pilihan yang disengaja tetapi memang hanya warna itulah yang disumbangkan tetangga sebelah. Dengan alasan, antara lain untuk memberikan efek eye catching, sehingga siapa saja yang melintas di sekitar itu akan memalingkan mukanya dan mengarahkan sorot matanya kepada bangunan bernuansa ungu tadi. Memang bangunan sederhana itu begitu menonjol dibanding bangunan utama yang putih bersih. Dinding mushalla boleh berbeda warna, namun Islam tetap satu tidak warna-warni. Sarung, kopiah dan baju koko boleh berbeda warna, namun aqidah tetap satu. Islam sejak Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad saw adalah petunjuk yang satu karena bersumber dari Allahu Ahad.

Seusai shalat ‘Ashar, setelah puji dan doa kepada Allah ditunaikan, Adi bertanya kepada pak Syamsi, ‘Paman, mengapa kita diwajibkan shalat pada pagi hari sekali (Subuh), bukankah Allah terbebas dari dimensi waktu dan ruang…?’
Menurut Adi, kewajiban shalat pagi hari sekali (Subuh) itu sangat memberatkan dan tidak realistis, mengingat Allah yang kita sembah tidak dipengaruhi oleh dimensi waktu, oleh karenanya kapanpun kita shalat bagi Allah sama saja. Kesan seperti itu memang khas Adi. Ia adalah mahasiswa baru di sebuah Universitas negeri. Adi saat ini sedang sibuk-sibuknya menulis beberapa paper yang Ditu gaskan dosen-dosennya. Sehingga, ia harus tidur larut dan seringkali sulit bangun ketika adzan Subuh memanggil. Untungnya Adi punya ibu yang shalehah, yang setiap hari siap menyentakkan tidurnya dan mengingatkan Adi untuk shalat Subuh sejenak, kemudian melanjutkan tidur secukupnya, sehingga Adi punya cukup tenaga untuk melanjutkan menulis paper dan menyimak perkuliahan.

Shalat merupakan kewajiban yang ditentukan Allah (Qs. 2:43). Dan shalat itu merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya (Qs. 4:103). Bahkan Al-Qur’an menegaskan bahwa seluruh makhluk ciptaan Allah bertasbih, shalat, dan berdoa menurut cara masing-masing (Qs. 24:41). Kilat yang menyambar-nyambar dan menghasilkan listrik, angin yang berhembus dan menyebabkan terjadinya proses pembuahan pada tetumbuhan, matahari yang berputar dan bersinar sehingga terjadi proses fotosintesis, itu adalah cara mereka bertasbih, berdoa, shalat, ruku’ kepada Allah Sang Maha Pencipta. Allah menetapkan ketentuan-Nya kepada makhluk-makhluk itu dengan ketetapan yang paten, pasti, sebuah default tanpa option, sebuah keniscayaan tanpa alternatif.

Berbeda dengan itu, Allah memberikan kepada manusia free will. Manusia bisa saja tidak memenuhi kewajiban shalat, dengan risiko digolongkan kafir dan dijadikan penghuni neraka jahannam. Itulah ‘kelebihan’ manusia. Manusia bisa saja merumuskan hukum baru bagi shalat, sebagaimana disesatkan oleh aliran Isa Bugis, yang menyatakan shalat belum wajib karena saat ini umat Islam masih berada pada periode Mekkah. Apabila seseorang melakukan shalat pada periode ini, maka ia seperti shalat di tempat sampah. Seorang publik figure yang tokoh sebuah LSM (maaf tidak kami sebut namanya), tanpa rasa malu dan tanpa beban pernah menyatakan pada sebuah televisi swasta, bahwa ia yang dulu rajin menjalankan shalat dan membaca al-Qur’an, kini tidak lagi mempraktekkan ritual shalat yang dianggapnya konvensional. Baginya, amalan sosial adalah praktek shalat yang sesungguhnya. Ada kemiripan dengan kesesatan yang di ajarkan Isa Bugis di atas.
Mungkin tokoh LSM tersebut banyak mendapat contoh negatif dari lingkungan terdekatnya. Boleh jadi ia sering bergaul dengan orang munafiq yang shalatnya bukan karena Allah, sehingga tak membekas dalam praktek sosial yang riel. Boleh jadi dia telah terburu-buru menyimpulkan dan menggeneralisir keberadaan sebuah noktah pada sebah komunitas sebagai bagian utuh yang menyeluruh dari sebuah masyarakat Islam yang luas. Padahal, alangkah bijaksananya bila dia meluangkan sedikit waktu untuk eksplorasi, sehingga memperoleh gambaran riel tentang keberadaan sekelompok orang dalam sebuah komunitas yang selain benar shalatnya juga benar amalan shalihnya.

Kepada Adi Pak Syamsi menjelaskan, bahwa waktu-waktu shalat termasuk shalat Subuh merupakan ketetapan Allah, sebagaimana bisa dirujuk kepada Al-Qur’an surat 17:78 “Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat) subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” Dan Rasulullah hanya menjalankan ketentuan tersebut. Hikmah shalat antara lain melatih kedispilinan dalam soal waktu. “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Qs. 11:114). Sekitar satu jam dua puluh menit sebelum matahari merekah/terbit, itulah yang dinamakan Subuh. Ketika itu, malaikat malam dan malaikat siang berkumpul untuk shalat bersama sebelum berganti tugas. Mengapa sepagi itu kita diwajibkan shalat ? Kepada Adi Pak Syamsi menjelaskan. Bahwa manusia memang makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Namun kesempurnaan itu tergolong relatif, dalam arti tak bebas dari kekurangan bila dibandingkan dengan makhluk lain.
Misalnya, bila dibandingkan dengan ayam, manusia yang sempurna tadi ternyata masih belum mampu menandingi kedisiplinan ayam, yang secara teratur bangun pagi di waktu fajar, yaitu sekitar 10 menit sebelum masuk waktu Subuh atau sekitar satu setengah jam sebelum matahari terbit. Kepada Adi dan Iwan Pak Syamsi menjelaskan, ‘kewajiban shalat Subuh yang ditentukan Allah barangkali untuk memberikan pelajaran kepada kita, bahwa sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna, tidak ada alasan bagi kita untuk bersikap sombong, karena sebagian besar dari kita tidak lebih taqwa dari ayam.’

http://alhikmah.com/contents.php?id=480

Ciri khas orang yang berzikir antara lain : bicaranya dakwah, diamnya zikir, nafasnya tasbih, matanya rahmat dan pikirannya husnudzhan (baik sangka). Selain itu, tanda yang lain yaitu : hatinya do’a , tangannya sedekah, kakinya jihad, kekuatannya silaturrahim, kerinduannya syari’at Allah dan kesibukannya asyik memperbaiki diri (introspeksi) . – (KH.Arifin Ilham)

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 003/th.01/rabi’ul akhir 1424H/2004M


Imran Bin Husain (Menyerupai Malaikat)

Mei 2, 2006

Pada tahun terjadinya Perang Khaibar, ia datang untuk berbaiat kepada Rasulullah saw. dan sejak ia meletakkan tangannya di tangan Rasulullah saw., tangan kanannya itu memperoleh penghormatan besar, hingga bersumpahlah ia pada dirinya untuk tidak akan menggunakannya, kecuali pada perbuatan baik dan mulia.

Imran bin Hushain r.a. merupakan gambaran yang tepat bagi kejujuran, zuhud, dan kesalehan, dan dalam bersusah-payah mencintai Allah dan menaati-Nya. Walaupun ia memperoleh taufik dan petunjuk dari Allah yang tidak terkira, ia sering menangis mencucurkan air mata. Ia meratap, “Duhai, mengapa aku tidak menjadi debu yang di terbangkan angin saja ?” . Para sahabat Rasulullah merasa takut kepada Allah bukanlah karena banyak dosa, tidak ! Setelah menganut Islam, boleh dikatakan mereka sedikit melakukan dosa. Mereka takut dan cemas karena menilai keagungan dan kebesaran-Nya, bagaimanapun mereka beribadah rukuk dan sujud, tetapi itu semua belum memadai dengan nikmat yang telah mereka terima.
Pada suatu saat beberapa orang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, mengapa bila berada di sisimu, hati kami menjadi lunak sehingga tidak menginginkan dunia lagi, dan seolah-olah kami melihat akhirat dengan mata kepala. Tetapi, jika kami meninggalkanmu dan berada di lingkungan keluarga, anak-anak, dan dunia kami, kami jadi lupa diri.” “Demi Allah yang jiwaku ada di Tangan-Nya, seandainya kalian selalu berada dalam suasana seperti di sisiku, tentulah malaikat akan menampakkan dirinya menyalami kamu. Tetapi, demikian itu hanya sewaktu-waktu,” ujar Rasulullah saw.
Pembicaraan itu terdengar oleh Imran bin Hushain r.a., maka timbullah keinginannya dan seolah-olah ia bersumpah pada dirinya tidak akan berhenti dan tinggal diam sebelum mencapai tujuan mulia itu. Bahkan, walaupun nyawa taruhannya. Seolah-olah ia tidak puas dengan kehidupan sewaktu-waktu itu, tetapi ia menginginkan kehidupan yang utuh dan padu, terus-menerus dan tiada henti, memusatkan perhatian dan selalu berhubungan dengan Allah Rabil Alamin.

Pada masa pemerintahan Umar bin Khathtab r.a., Imran r.a. dikirim oleh khalifah ke Bashrah untuk mengajari penduduk dan membimbing mereka mendalami agama. Di sanalah kemudian ia melabuhkan tirainya. Setelah penduduk mengenalnya, mereka berdatangan mengambil berkah dan meniru keteladanannya dalam ketakwaan. Hasan Basri dan Ibnu Sirin berkata, “Tidak seorang pun di antara sahabat Rasulullah saw. yang datang ke Bashrah yang lebih utama dari Imran bin Hushain.”
Dalam beribadah dan hubungannya kepada Allah, Imran bin Hushain tidak sudi di ganggu oleh sesuatu pun. Ia menghabiskan waktu dan seolah-olah ia tenggelam dalam ibadah. Dan, seakan-akan ia bukan lagi penduduk bumi. Sungguh seolah-olah ia adalah malaikat yang hidup di lingkungan malaikat, bergaul, berbicara, dan bertemu muka, dan bersalaman dengannya.

Tatkala terjadi pertentangan sengit antara kaum muslimin, yaitu antara kelompok Ali dan Muawiyah, selain tidak memihak, Imran juga menyeru kepada kaum muslimin untuk tidak terlibat dalam peperangan itu, dan agar membela dan mempertahankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. Ia berkata, “Aku lebih suka menjadi penggembala rusa di puncak bukit sampai aku meninggal dunia daripada harus melepas anak panah ke salah satu pihak, baik meleset ataupun tidak.” Dia memberikan amanat kepada umat Islam yang ditemuinya, “Tetaplah tinggal di masjidmu, dan jika ada yang memasuki masjidmu, tinggallah di rumahmu. Dan, jika ada lagi yang hendak masuk merampas harta atau nyawamu, maka bunuhlah ia.”

Keimanan Imran bin Hushain membuahkan hasil yang gemilang. Ketika ia mengidap suatu penyakit yang selalu mengaggunya selama 30 tahun, tidak pernah ia merasa kecewa atau mengeluh. Bahkan, tidak henti-hentinya ia beribadah kepada-Nya, baik pada waktu berdiri, duduk, maupun berbaring. Ketika para sahabatnya dan orang-orang datang menjenguknya dan menghibur hatinya atas sakit yang dideritanya itu, ia tersenyum sambil berujar, “Sesungguhnya barang yang paling aku sukai adalah yang paling disukai Allah.” Dan sewaktu meninggal, ia berwasiat kepada kerabat dan sahabatnya, “Jika kalian telah kembali dari pemakamanku, maka sembelihlah hewan dan adakanlah jamuan.”

Sudah sepatutnya mereka mengadakan jamuan. Karena, kematian seorang mukmin seperti Imran bin Hushain itu bukan kematian yang sesungguhnya. Itu tidak lain adalah pesta besar dan mulia, ketika suatu roh yang tinggi, yang rida dan diridai-Nya, diarak ke dalam surga yang besarnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.
(Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah, Oleh : Khalid Muh. Khalid)

http://www.alislam.or.id/more.php?id=1955_0_9_0_M
note : mari membiasakan untuk menghadirkan bacaan islami dalam keluarga.

Tentang Kekikiran / Kebahilan :

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS.2:195)
Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS.2:268)

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS.3:180)

(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. (QS.4:37)
Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai khazanah rahmat Tuhanku, niscaya khazanah itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya”. Dan adalah manusia itu sangat kikir. (QS.17:100)

Mereka bakhil terhadapmu apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS.33:19)

http://quran.al-islam.com/Targama/
Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 003/th.01/rabi’ul akhir 1424H/2004M


Islam Agama Paling Baru

Mei 2, 2006

Kekaguman Seorang Muallaf Asal Korea, dialah Lim Thai Kiun, seorang pengusaha muda di bidang tekstil dari Korea Selatan. Pria ini lahir pada tanggal 26 November 1970 di Seoul, Korea Selatan. Dia terlahir dari sebuah keluarga yang beragama Budha. Sejak awal Lim sudah tertarik untuk mempelajari agama. Sedang agama Budha sendiri tidak pernah dia praktekkan dalam kehidupannya. Dia tidak pernah sembahyang, sesuai aturan ritual Budha. Di mata Kiun, dia perlu memberikan perhatian istimewa terhadap tiga agama, yaitu Budha, Kristen dan Islam. Dia ingin mengetahui yang mana di antara ketiga agama itu yang paling tepat untuk diikuti.

Dibutuhkan waktu yang cukup bagi Lim untuk menemukan agama yang kini dipeluknya. Tahun 1995 Lim memperoleh pekerjaan pertamanya di bidang tekstil, yaitu di PT. Nada Padalarang. Dia bertahan di perusahaan itu hingga 3 tahun. Tahun 1999 dia pindah bekerja di India, tapi hanya bertahan selama 2 tahun. Bagi seorang pemuda seusia Kiun, pengalaman berpindah kerja dari satu negara ke negara lain tentu merupakan pengalaman yang istimewa (setidaknya menurut ukuran Indonesia). Tidak lama sesudah itu Lim balik kembali ke Indonesia. Kali ini dia tidak ingin bekerja pada orang lain, namun mendirikan perusahaan sendiri. Lim pun mendirikan CV. Damar Sakti Indonesia. Perusahaan ini memiliki karyawan 19 orang. Ada catatan menarik seputar pengalaman Lim hingga memeluk Islam.

Pengalaman pertama Lim mengenal Islam datang dari salah seorang karyawati di perusahaannya. Dari interaksi yang dilakukan di perusahaan itu Lim tertarik untuk lebih dalam mengenal Islam. Namun harus diingat bahwa ketertarikan Lim ini sudah tertanam sejak awal. Selain itu Lim mempunyai seorang teman dekat, Mr.Jeun. Dari tokoh terakhir ini Lim memperoleh pengertian yang mendalam tentang Islam. Mr. Jeun menjelaskan bahwa di antara agama-agama yang ada di dunia, Islam adalah agama yang paling baru sehingga memungkinkan Islam merangkum semua nilai-nilai kebenaran dari agama-agama sebelumnya. Bahkan Islam memiliki Kitab Suci, yaitu Al Qur’an, yang selalu relevan dengan kehidupan manusia sampai akhir jaman. Inilah yang mendorong Lim untuk memutuskan masuk Islam.

Selesai Shalat Jum’at, pada tanggal 13 Juni 2003, di bawah bimbingan Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Bandung, Prof. Dr. Dadang Ahmad, MSi., Lim mengucapkan ikrar syahadat di Masjid PUSDAI, Bandung. Dengan ikrar itu sekaligus sebagai pengumuman secara terbuka bahwa telah kembali ke pangkuan agama fitrah ini seorang manusia yang bernama Lim Thai Kiun, seorang warga asal Korea Selatan.

Setelah masuk Islam, nama Lim berganti Muhammad Lim. Keluarga Lim tidak keberatan dengan pilihan ini, terutama keluarga dari pihak ibu. Kebetulan di Korea Selatan sendiri jumlah warga Muslim cukup banyak, hampir menyamai warga pemeluk agama Budha. Selanjutnya, Lim berharap akan bisa mengikuti jejak teman-temannya yang rajin mengerjakan shalat dan nampak selalu bersih. Dia pun bertekad untuk semakin giat mempelajari ilmu-ilmu keislaman dan Al Qur’an. Bahkan seorang Lim bertekad untuk hidup secara qana’ah (merasa cukup dengan pemberian Allah SWT).

Semoga kemusliman saudara kita ini menjadi ibrah berharga bagi muslim-muslim yang lain. Semoga Allah memudahkan langkahnya dalam memahami ajaran Islam yang lurus, lalu menerapkan ajaran itu secara konsisten dan istiqamah. Amin.
Ahlan wa sahlan yaa akhuna, Lim Thai Kiun!

[Sumber: Diadaptasi dari artikel “Lim Thai Kiun: Ilmu Menuntun Pada Hidayah Ilahi”, dimuat di Majalah Swadaya, No. 11, Volume I, Juli 2003.]

http://www.masjid-lautze.com/
Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 003/th.01/rabi’ul akhir 1424H/2004M


Ya Allah, Maafkan Aku …

Mei 2, 2006

Seutama-utama amal, adalah memasukkan kebahagiaan ke dalam sanubari saudaranya, dengan membebaskannya dari kesulitan, ….. (sabda Nabi al-Musthafa)

Sebuah masa, ketika saya duduk di bangku SMP. “Mas Ento”, biasa saya menyebutnya adalah seorang lelaki yang tidak muda lagi, dia adalah penjual bakso keliling di desa tempat saya tinggal. Keriput kulit begitu nyata terukir di wajah legamnya. Jarang sekali beliau tersenyum, hanya sepatah kata khasnya yang sering singgah menyapa saya “Ento”, sebuah kata yang diucapkannya ketika saya meminta “Mas, jangan pakai kecap yah!”. Karena beliau orang jawa, “henteu” yang berarti “tidak” dalam bahasa Sunda itu terucap “Ento”.

Sebenarnya baksonya tidak seenak 2 penjual bakso rivalnya, itulah mengapa jarang sekali pembeli menghentikannya. Hanya karena rasa iba, saya menjadi langganannya. Sering saya melihatnya termenung sendiri dibawah pohon jambu dekat lapangan tempat banyak anak-anak bermain. Setiap rivalnya datang, dia bergegas seperti ketakutan membawa dagangannya yang tanpa roda itu pergi. Saya pernah bertanya tentang hal ini kepadanya, namun seperti biasanya dia diam dan beralih menanyakan berapa porsi bakso yang ingin saya beli. Akhirnya saya mendapatkan jawabannya sendiri. Tidak perlu lagi saya bersusah payah bertanya. Saya tahu kenapa senyumannya mahal terkembang. Saya sangat faham, pias wajah ketakutan yang membayang ketika rivalnya datang.

Saat itu, di tempat sepi saya menyaksikan sebuah episode kedzaliman. Rivalnya melakukan sebuah hal yang sungguh tidak dapat saya fahami. Mangkuk-mangkuk bakso milik mas Ento menjadi terserak dijalanan, belum lagi botol-botol itu, bulatan-bulatan bakso terhambur dari tempatnya. Kuahnya tumpah mengenai kakinya yang tak lagi sempurna berjalan. Tanpa beban, sang rival melenggang pergi meninggalinya banyak kepedihan. Ingin sekali saya meneriakinya “kurang ajar !”, tetapi melihat sosoknya yang besar membuat saya hanya mematung, meski hati saya ribut tidak karuan. Sejak peristiwa tadi saya tidak pernah lagi mendengar kata “Ento” terucap darinya, karena beliau tidak pernah lagi datang. Hanya sang rival yang kerap menghadiahi tatapan tajam yang saya jumpai selanjutnya. Setiap teringat mas Ento, saya pasti berguman dengan ungkapan yang saya adopsi dari sebuah puisi “Ya Allah, Maafkan aku, di depanku ada orang yang di zalimi tetapi aku tidak menolongnya”.

Suatu siang, seorang bocah kecil pengamen, berdiri di dalam bis menghadap para penumpang. Udara terik menyengat, matahari galak sekali. Suara paraunya menggema di bis yang akan membawa saya ke terminal Leuwi Panjang, Bandung. Beberapa lagu diperdengarkannya kepada kami. Saya memandangnya sayang, tangannya hanya satu yang sempurna, tangan sebelah kiri buntung sampai sikut. Mungkin karena itulah hampir semua penumpang memasukkan uang ke dalam bekas bungkus kemasan aqua gelas yang diedarkannya. Saya yang duduk dibelakang dapat menyaksikan binar mata kegembiraan sang bocah yang mengaso dekat pintu.

Bis sudah masuk terminal, penumpang telah banyak turun. Si kondektur menyeret bocah tadi hampir tepat di hadapan saya. “Sini!!” bentak lelaki bertopi itu, tangannya meraih paksa tempat uang si bocah. Dengan tersenyum dia menghitung, dan tanpa beban dia mengembalikan wadah kosong ke tangan sang bocah. Dan lagi-lagi saya tidak berbuat apa-apa atas sebuah episode durjana. Saya hanya diam, meski hati ini juga ribut tak karuan. Sebetulnya ingin sekali saya membelanya, namun melihat wajah sangar berbadan kekar, keberanian saya surut.
Saya menatap wajah pasrah itu. “Nggak apa-apa mbak, sudah biasa”. Itu yang di ucapkan si bocah sebelum pergi……… Jika sudah begitu, tak ada yang dapat menentramkan hati kecuali sebuah doa ampunan, “Ya Allah, maafkan aku, di hadapanku ada mahlukmu yang dizalimi, tetapi aku tidak mampu berbuat apa-apa”.

Jika kita renungkan saat ini, jari ditangan tak akan mampu membilang episode-episode kezaliman. Amerika yang begitu pongah mengobrak-abrik Afghanistan. Bom-bom cluster yang tercurah, mengoyak banyak tubuh manusia. Ujudnya nyata kita saksikan di layar televisi. Mereka yang direnggut nyawa dengan cara demikian, adalah saudara kita. Bukankah mereka juga shalat, puasa dan berdoa kepada Allah yang maha Akbar, sama seperti kita ?. Belum lagi Irak, yang oleh Amerika dima suki jantung kotanya dengan begitu mudah. Tak terhitung penduduknya harus rela dijemput maut oleh rudal-rudal canggih berkedok pembebasan tirani Saddam. Kita pandang mayat-mayat mereka yang sudah tidak lagi utuh. Kita sangat tahu, mereka adalah saudara kita, bukankah nabi mereka sama dengan yang kita junjung ?. Dan tentu saja yang paling akrab dengan kedzaliman adalah Palestina. Hanya batu yang para pemuda punya, sementara yahudi berartileri hebat. Dan para ibunda di sana, harus siap kapan saja menyongsong kabar indah kematian para putranya. Sekali lagi, yang diusir hina dari negerinya yang sah oleh Israel, bukankah mereka juga saudara kita. Bukankah sesama muslim adalah saudara ?. Kita saksikan banyak kedzaliman, kita menyantapnya setiap hari dari berita-berita dunia. Bagaimana dengan kita ? Merasakan pedihnya jugakah? Mereka adalah bagian anggota tubuh yang perih, seharusnya kita sebagai satu tubuh juga demikian. Nabi bersabda, ‘Ketika kemungkaran berada dihadapan, cegahlah dengan tangan, itulah seutama-utamanya iman. Jika belum mampu, sergahlah dengan lisan yang kita punya. Dan yang terakhir, bencilah dengan hatimu dan berdoalah’. Membenci kemungkaran dengan hati dan berdoa, itulah iman yang paling lemah.

Mungkin, keberanian yang saya punyai alakadarnya saja. Tetapi, mudah-mudahan tidak dengan para sahabat sekalian (juga orang-orang dekat di sekitar sahabat sekalian). Jika kezaliman terbentang dihadapanmu, jangan pernah seperti saya, yang hanya menggumankannya dalam hati. Sebuah tanda nyata, tentang keimanan yang paling lemah, tentu saja.

http://www.eramoslem.com/artikel/oase/

ULUL ‘AZMI

Ulul ‘azmi menurut bahasa artinya yang memiliki kemauan keras. Sedangkan yang dimaksud dengan Ulul ‘Azmi adalah para Rasul yang memiliki kesabaran yang ting gi. Mereka adalah:

1. Nuh As
Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh, (QS. 33:7)

2. Ibrahim As

3. Musa As (42:13)
Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (QS. 42:13)

4. Isa As

5. Muhammad SAW

http://www.aldakwah.org/modules.php?name=News&file=article&sid=82

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 003/th.01/rabi’ul akhir 1424H/2004M