Sosialisasikan Sertifikat Halal MUI

Juni 25, 2008

Beberapa waktu yang lalu Labbaik mengirim e-mail pertanyaan ke pihak MUI, melalui website-nya yang khusus memfokuskan perhatian perihal halal dan haram, yakni HalalGuide. E-mail pertanyaan tersebut adalah sbb :

Assalamu ‘alaikum wr.wb.
Mohon Labbaik diberi penjelasan, mana yang paling baik dan sesuai syar’i, dan telah resmi diteliti oleh POM-MUI. Karena banyak produk memakai label halal, misalnya :

1. Halal (memakai huruf latin).
2. Halal (memakai huruf arab).
3. Bertuliskan POM saja.
4. Bertuliskan LP-POM saja.
5. Memakai logo lingkaran warna hijau bertuliskan Majelis Ulama Indonesia
6. Memakai logo lingkaran warna hitam bertuliskan Majelis Ulama Indonesia
7. Bertuliskan “Dijamin Halal”.
8. dll.

Dan kalau tidak merepotkan, Labbaik menyarankan kepada MUI, agar membuat semacam poster pemberitahukan label halal yang resmi dari MUI, kemudian di pasang di masjid-masjid.

Demikian surat Labbaik. Terima kasih atas perhatiannya.
Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

Jakarta, 22 Mei 2008
https://labbaik.wordpress.com/
http://labbaik.multiply.com/

Alhamdulillah, sehari kemudian Labbaik menerima e-mail jawaban dari HalalGuide. Meski tidak detail, setidaknya jawaban tersebut semoga sudah dapat dijadikan sebagai pedoman atau pegangan. Berikut inilah e-mail jawabannya :

Waalaikumsalam wr wb
Terima kasih atas pertanyaan dan sarannya.
Memang sampai saat ini belum ada aturan (negara) yang rinci soal pemasangan logo halal. Ada juga undang2 yang tidak memberikan contoh yang rinci. Sampai saat ini kami menyosialisasikan logo 5 dan 6 untuk produk yang sudah bersertifikat halal MUI, warna tergantung kemasannya/latar kemasan. Produk lama yang sudah bersertifikat halal MUI mungkin saja memasang logo no 2, sampai kemasan yang lama habis. Yang lain mungkin saja produk tsb belum disertifikasi oleh MUI akan tetapi peraturan pemerintah untuk undang2 pangan membolehkan memasang logo halal (tanpa rincian) asal si produsen menganggap produknya halal. Bingungkan ?.
Terima kasih, Wass wr wb.

[dari : halalmui halalmui@indo.net.id]

Maka produk yang paling afdol dan insya Allah paling syar’i adalah yang sudah resmi diteliti oleh MUI, yakni yang menggunakan logo lingkaran, bisa berwarna hi jau, hitam, bisa juga warna lain yang disesuaikan kemasannya. Dan di sekeliling lingkaran tersebut ada tulisan Majelis Ulama Indonesia. Logo seperti inilah yang hingga saat ini terus disosialisasikan oleh pihak MUI. Untuk melihat logonya klik http://www.halalguide.info/content/view/945/269/

[note artikel di atas telah dimuat dalam mukaddimah Labbaik, edisi : 038/th.04/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1429H/2008M]

Iklan

Awas Khinziir !! (Babi)

Mei 22, 2008

Seorang Nashara memperkenalkan dari Laskar Kristus, sangat keberatan dengan tampilnya rubrik Bimbingan Tauhid dan liputan-liputan Sabili tentang gerakan pemurtadan dan Kristenisasi. Berulang kali Kenan -nama alias- menyampaikan protesnya melalui SMS. Menurutnya, majalah Sabili selalu mengusik agamanya, padahal dia tidak pernah mengusik agama Islam. Salah satu SMSnya adalah :”Hai Sabili, gimana kalian udah ketemu di majalah apa agama kami menjelekkan agama kalian ? Saya mau tanya kenapa kalian haram makan BABI ? Sedangkan BABI dicipta sama Tuhan ?”. (dikirim 07/01/2007 dari HP 085245879###).

Nampaknya Kenan ketinggalan informasi. Di rubrik ini, buku-buku dan majalah Kristen yang melecehkan Islam sudah diungkap dan disanggah. Silahkan Kenan membaca buku Awas Bibel Masuk Rumah Kita yang diterbitkan oleh Sabili. Dan kasus terbaru adalah majalah Midrash Talmiddim yang diterbitkan oleh Pendeta Edi Sapto. Dalam majalah yang diketuai oleh Pendeta Yosua ini, Islam disudutkan dengan berbagai tuduhan tanpa dasar, antara lain: Allah dalam Al-Qur`an itu menyesatkan dan tidak Maha Pengampun; gambar Bunda Maria, gambar Yesus dan Salib terdapat di ka’bah; Nabi Muhammad pernah bergabung dengan peribadatan kafir; Nabi Muhammad pemarah dan pembuat ayat Al-Qur`an; dll.

Soal Babi
Kenapa umat Islam haram makan babi padahal babi adalah ciptaan Tuhan ?. Secara berkelakar, pertanyaan ini sebetulnya bisa saja dijawab dengan balik bertanya kepada penanya: mengapa orang tidak mau makan tikus, belatung, ulat, kecoak, orong-orong, nyamuk, jentik, cacing, cicak, kadal, laba-laba, tawon, kecebong, wereng, bangkai, dan lain-lain ?. Padahal itu semua adalah ciptaan Tuhan. Dengan kata lain, secara gampang orang bisa menyimpulkan bahwa tidak semua ciptaan Tuhan itu untuk dikonsumsi oleh mulut manusia. Secara tegas, umat Islam haram makan babi karena Tuhan telah mengharamkannya dalam Al-Qur`an :”Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah,…” (Qs. Al-Ma`idah 3; An-Nahl 115; Al-Baqarah 173; Al-An’am 145).

Memang, Allah telah menciptakan segala yang ada di muka bumi (ma fil ardhi jami ‘an) untuk manusia (Al-Baqarah 29, Al-Jatsiyah 13). Tapi bukan berarti semuanya untuk dimakan, melainkan ada yang dipantang.
Allah itu Maha Baik (Thoyyib) yang menyukai kebaikan. Maka Dia tidak akan menerima segala hal kecuali yang baik saja. Dengan adilnya Dia mempersilahkan manusia mengkonsumsi seluruh ciptaan-Nya yang halal dan baik (thoyyib), serta tidak berlebih-lebihan (Al-A’raf 31). “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (Qs. Al-Baqarah 168).

Dalam pandangan Alkitab (Bibel), keharaman babi dinyatakan jauh lebih ekstrim. Babi tidak hanya haram dimakan, tapi juga haram disentuh. Segala yang menyentuh daging babi menjadi najis (Imamat 11:26-27). Tentang haramnya babi dalam Bibel, Tuhan berfirman kepada Musa dan Harun :”Dan lagi babi, karena sungguhpun kukunya terbelah dua, yaitu bersiratan kukunya, tetapi ia tiada memamah biak, maka haram lah ia kepadamu. Janganlah kamu makan dari pada dagingnya dan jangan pula kamu menjamah bangkainya, maka haramlah ia kepadamu” (Imamat 11: 7-8; Ulangan 14: 8).
Para penggemar sate babi harus membaca ayat-ayat tersebut dengan lapang dada. Apalagi, dalam sepanjang hidupnya Yesus tidak pernah makan babi. Dalam ayat-ayat Alkitab, tak ada satu pun ayat yang menyebutkan Yesus memakan daging babi. Malah Yesus pernah membunuh babi dua ribu ekor dengan cara memindahkan roh jahat ke dalam babi hingga mati lemas tercebur danau” (Markus 5:13). Kenyataan bahwa Yesus tidak pernah makan babi dalam Alkitab ini bisa dimaklumi, karena dia tidak meng hapus hukum Taurat. “Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal” (Lukas 16: 17). “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5: 17).

Satu-satunya ayat Injil yang sering dipakai sebagai dalil bahwa Yesus menghalalkan semua makanan adalah Injil Markus 7: 14-19, karena pada ujung ayat 19 itu disebutkan :”Dengan demikian Yesus menyatakan semua makanan halal”
Dalam Alkitab Today’s English Version 1976, penggalan ayat tersebut berbunyi: “In saying this, Jesus declared that all foods are fit to be eaten,” dan ditulis dalam tanda kurung. Biasanya, ayat Injil ditulis dalam tanda kurung itu tidak asli. Contoh ayat yang ditulis dalam tanda kurung adalah Markus 7:16, Markus 9:44 & 46, Markus 11:26, Markus 15:28 dan Markus 16:9-20. Lembaga Biblika Indonesia (LBI), lembaga tafsir resmi milik Katolik, menjelaskan kepalsuan ayat-ayat tersebut. Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru dengan Pengantar dan Catatan Singkat terbitan tahun 1978, ayat-ayat tersebut masing-masing diberi catatan kaki “AYAT TIDAK ASLI.”

Ada juga teolog yang mengatakan bahwa semua makanan -termasuk babi- itu halal, karena yang haram bukanlah benda yang masuk ke dalam mulut, tetapi yang keluar dari mulut. Mereka berkilah bahwa pendapat ini sesuai dengan Injil Matius 15:11: “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”
Pendapat ini lemah, tidak logis dan menyimpang dari topik halal-haramnya makanan. Jika semua yang masuk ke dalam mulut manusia tidak menajiskan, bagaimana jika yang masuk ke mulut adalah ganja, morphine, shabu-shabu dan sejenisnya ?. Apakah jadi halal jika dimasukkan ke dalam mulut, walaupun merusak tubuh, melemahkan pikiran dan membunuh jiwa manusia ?

Dalil yang paling kuat dalam Bibel untuk menghalalkan semua makanan adalah ayat-ayat doktrin Paulus, antara lain :”Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani” (Surat Paulus kepada Jemaat Korintus yang Pertama 10: 25).
Menentang hukum Taurat dalam Bibel adalah salah satu karakteristik Paulus. Dalam banyak ayat, Paulus menyatakan permusuhan terhadap hukum Taurat, antara lain: “Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus…. Sebab: “tidak ada seorang pun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat” (Surat Paulus kepada Jemaat Galatia 2: 16).
Jika ajaran Paulus ini disosialisasikan, maka betapa rusaknya tatanan masyarakat dunia. Karena hukum Taurat tidak semuanya bertentangan dengan zaman. Masih banyak hukum-hukum yang masih sesuai dengan perkembangan zaman bahkan mustahil di hapuskan dan sesuai dengan syariat agama, misalnya: larangan menyembah patung (Keluaran 20: 5); perintah hormat kepada ayah dan ibu (Keluaran 20: 12; larangan membunuh, zina dan mencuri (Keluaran 20: 13-16); dll.

Walhasil, silakan memilih hukum halal dan haram. Ikut Allah dan Nabi yang mengharamkan babi, ataukah ikut Paulus yang menghalalkan babi. Jika memilih opsi yang kedua, camkan resikonya. Karena penelitian medis membuktikan bahwa babi beresiko tinggi terhadap berbagai penyakit ganas yang menular bagi manusia, penyakit virus (yang menyerang organ pencernaan, pernafasan, usus, darah dan flu babi), cacing (cacing trichinella spiralis yang hidup di otot manusia ini, cacing ascariasis yang menghabiskan makanan manusia, cacing pita) dan jamur yang menyerang paru-paru. [oleh : Tim Fakta]

http://timfakta.blogspot.com/2007/09/babioh-babi.html

Keterangan :
Tim FAKTA merupakan lembaga dakwah lintas agama yang memberikan informasi maupun kajian dakwah lintas agama Islam-Kristen yang memberikan informasi mengenai berita pemurtadan. PO. Box. 1426 Jakarta 13014. Email Contact Tim Fakta : timfakta@gmail.com Web Blogger : http://timfakta.blogspot.com/
Kontak Pengasuh Tim Fakta via HP : +6281803875219 dengan cara ketik: TF_A (Ardi) dan TF_K (Kukuh) atau email Tim Fakta Malang: timfakta_malang@yahoo.com.
Kontak via HP Pengasuh Tim Fakta: 081.8844.393, 081.6542.5227, 081.7997.0066, 0815.833.8083, 0813.8338.4433, 021-70500066. Dompet Anti Pemurtadan:
Bank Muamalat No. Rek. 305.1959.422 an. FAKTA. BCA No. Rek. 1661.804.888 a.n. Abud Syihabuddin.
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 038/th.04/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1429H/2008M


Dampak Melanggar Makanan Yang Diharamkan

Mei 22, 2008

Allah SWT telah menjadikan dunia ini sebagai tempat tinggal dan sekaligus untuk mendapatkan mata pencaharian. Dia ciptakan siang untuk mencari penghidupan dan malam untuk istirahat dan beribadah kepadaNya, “Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS An-Naba’: 10-11).
Rasulullah SAW juga memerintahkan kepada kita untuk bekerja :”Tidaklah sekali-kali seseorang makan suatu makanan yang lebih baik daripada makan dari hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Dawud makan dari hasil tangannya sendiri.” (HR. Al-Bukhari).
Islam juga memerintahkan agar di dalam mencari rizki itu dengan cara yang baik dan halal. Allah SWT berfirman, artinya :”Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.” (QS Al-Baqarah: 172). Dalam ayat lain, artinya :”Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yg terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah syetan, karena syetan itu adalah musuh yg nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 168).

Al-Hafidz Ibnu Mardawih meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa ketika dia (Ibnu Abbas) membaca suatu ayat : maka berdirilah Sa’ad bin Abi Waqash, kemudian berkata :”Ya Rasulullah, do’akan kepada Allah agar aku senantiasa menjadi orang yang dikabulkan do’anya oleh Allah.” Maka Rasulullah SAW bersabda :”Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan do’anya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada seseorang yg memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang daging nya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya”. (HR.At-Thabrani)
[Lihat Ad-durar Al-Mantsur fi Tafsir bil Ma’tsur Juz: II hal. 403].

Dari hadits di atas dapat kita ambil kesimpulan :
1. Perintah dari Allah agar memakan makanan yang halal.
2. Makanan yang halal merupakan salah satu sebab terkabulnya do’a.
3. Salah satu dampak dari memakan yang haram adalah tidak diterimanya amalan.

Perintah Memakan Yang Halal
Tentang perintah untuk mencari yang halal dan memakan yang halal, Allah SWT juga telah memerintahkan kepada para RasulNya dengan firmanNya, yang artinya :”Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mukminun: 51).
Maksud makan yang baik di sini adalah yang halal. Yang demikian itu diperintahkan terlebih dahulu sebelum mengerjakan amal shaleh.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang larangan mendapatkan harta dengan cara yang haram, artinya :”Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan cara yang batil.” (QS Al-Baqarah: 188).

Sebab Tidak Terkabulnya Do’a
Sesungguhnya manhaj Islam dalam hal makanan adalah sebagaimana manhaj Islam dalam masalah yang lainnya yakni bertujuan untuk menjaga akal, jiwa dan raga. Diperbolehkannya makanan yang halal adalah karena bermanfaat bagi badan dan akal. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada para hambaNya agar meninggalkan makanan yang kotor dan haram karena akan berpengaruh negatif terhadap hati, akhlaq dan menghalangi hubungan dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala , serta menyebabkan tidak terkabulnya do’a.
Dalam sebuah hadits disebutkan : Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak menerima sesuatu kecuali yang baik.” Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang beriman, seperti Dia perintahkan kepada para rasulNya dengan firmanNya, yang artinya :”Wahai para Rasul, makanlah kalian dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian kerjakan”.
Dan firmanNya: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari makanan yang baik-baik, dan bersyukurlah kamu kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.”

Kemudian Rasulullah menyebutkan seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut lagi berdebu. Orang tersebut menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a :”Ya Tuhanku .. Ya Tuhanku ..” Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, dan baju yang dipakainya dari hasil yang haram. Maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan ?”. (HR. Muslim, shahih). Hadits ini menerangkan bahwa makanan yang haram merupakan sebab tidak terkabulnya do’a.

Pengaruh Makanan Haram
Hendaknya kita bertaqwa kepada Allah dengan cara memakan makanan yang halal dan menjauhi makanan yang haram. Karena makanan yang baik itu mempunyai pengaruh yang besar bagi manusia, terhadap akhlaqnya, kehidupan hatinya dan jernihnya pandangan serta diterimanya amal-amal kita. Sedangkan makanan yang haram mempunyai dampak buruk bagi manusia, yang kalaulah dampak itu hanyalah tidak dikabul kannya do’apun niscaya hal itu merupakan kerugian yang besar. Karena seorang hamba tidak lepas dari kebutuhan berdo’a kepada Allah.

Di samping itu masih ada dampak lain dari memakan yang haram, yaitu tidak diterimanya amal-amal yang telah kita laksanakan. Dalam sebuah hadits disebutkan :
Dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Barangsiapa memperoleh harta dengan cara yang haram, kemudian ia shadaqahkan, maka tidak akan mendatangkan pahala, dan dosanya ditimpakan kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban dalam Kitab Shahihnya dengan sanad hasan).
Ibnu Umar radhiyallah ‘anhu berkata :”Barangsiapa membeli baju dengan sepuluh ribu dirham, namun dari sepuluh ribu dirham tersebut ada satu dirham yang haram, maka Allah tidak menerima amalnya selama baju itu masih menempel di tubuhnya.”
Ibnu Abbas radhiyallah ‘anhu berkata: “Allah tidak menerima shalat seseorang yang di dalam perutnya ada sedikit makanan haram.”

Para salafus shalih sangat berhati-hati sekali terhadap apa-apa yang akan masuk ke dalam mulut dan perut mereka. Mereka amat bersikap wara’ di dalam menjauhi hal-hal yang syubhat apalagi yang haram. Dalam kitab shahih Al-Bukhari disebutkan, ‘Aisyah radhiyallah ‘anha menceritakan bahwa Abu Bakar mempunyai pembantu yang selalu menyediakan makanan untuknya. Suatu kali pembantu tersebut membawa makanan maka iapun memakannya. Namun setelah tahu bahwa makanan tersebut didapatkan dengan cara yang haram, maka dengan serta merta ia masukkan jari tangannya ke kerongkongan, kemudian ia muntahkan kembali makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya.
Imam An-Nawawi ketika hidup di negeri Syam, ia tidak mau memakan buah-buahan di negeri tersebut. Tatkala orang menanyakan tentang sebabnya, maka ia menjawab : “Di sana ada kebun-kebun wakaf yang telah hilang, maka saya khawatir memakan buah-buahan dari kebun tersebut”.

Makanan haram bisa disebabkan memang dzatnya yang haram, seperti : bangkai, daging babi, darah dan sebagainya. Atau karena haram cara mendapatkannya, seperti dengan cara mencuri, riba, curang dalam jual beli, korupsi, suap dan lain sebagainya. Praktek-praktek mendapatkan harta dengan cara yang haram dapat dengan mudah kita saksikan di zaman ini. Perampokan, penipuan, riba, korupsi, kolusi dan yang lainnya hampir-hampir selalu diekspos tiap hari oleh koran-koran dan televisi atau media lainnya. Seolah-olah hal ini sudah merupakan masalah yang biasa. Segala macam cara akan digunakan manusia dalam rangka untuk mendapatkan harta yang sebanyak-banyaknya.
Rasulullah telah bersabda: “Akan datang suatu zaman, sese-orang tidak akan peduli terhadap apa yang ia ambil, apakah itu halal atau haram.” (HR. Bukhari).
Padahal harta yang haram itu selain berdampak tidak terkabulnya do’a dan ditolaknya amal, ia juga merupakan sebab mendapatkan adzab Allah di akhirat nanti. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa tidak bergerak dua telapak kaki anak cucu Adam di hari kiamat nanti sampai ditanya (salah satunya) tentang hartanya darimana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan. (Catatan : untuk matan lengkapnya silahkan melihat di Sunan At-Tirmidzi, hadits no.2417).

Maka hendaknya kita bermuhasabah, introspeksi diri. Berapa banyak do’a yang telah kita panjatkan kepada Allah, berapa banyak istighotsah digelar dalam rangka mengatasi berbagai krisis yang mendera bangsa kita, dan berbagai bencana yang menimpa negeri kita. Namun pada kenyataannya bencana demi bencana tetap melanda, berbagai krisis tidak teratasi dan berbagai kesulitan tak kunjung usai. Mungkin kah ini karena bangsa Indonesia sudah terbiasa dengan praktik-praktik mendapat kan harta dengan cara yang haram ? Sudah terbiasa mengkonsumsi barang-barang haram, sehingga Allah tidak mengabulkan do’a-do’a kita ?
Wallahu A’lam bish Shawab.

Maraji’:
1. Tafsir Al-Qur’an Al-adzim, Al-Hafidh Ibnu Katsir
2. Ad Dur Al-Mantsur fit Tafsir bi Al-Ma’tsur, Al-Imam As Suyuthi
3. Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al-Hanbali.
4. Muhtashor Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah.

[dari : Buletin An-Nur, Dampak Memakan Yang Haram, Rabu, 07 April 04]
YAYASAN AL-SOFWA
Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810 Jakarta Selatan – Indonesia
Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326. e-mail: info @alsofwah.or.id | website: http://www.alsofwah.or.id
Artikel yang dimuat di situs ini boleh di copy & diperbanyak dengan syarat tidak untuk komersil.

Ulama Pertama Yang Memfatwakan Haram Untuk Ganja

Sampai abad Ketiga Hijriah, fiqh tidak pernah berbicara soal ganja. Yang pertama kali mengeluarkan fatwa tentang ganja adalah Imam al-Muzani, murid dari Imam Asy Syafi’i (175-264 H). Fatwa al-Muzanni merupakan reaksi ulama atas semaraknya fenomena zat adiktif ini dalam kehidupan masyarakat di Iraq pada waktu itu. Al-Muzanni mengeluarkan fatwa haram terhadap ganja, meskipun sebelumnya belum ada ulama (baik Abu Hanifah, Malik atau Syafi’i) yang mengharamkannya, karena memang pada masa mereka ganja belum umum dikonsumsi.
Pada masa al-Muzanni fenomena ganja mencapai eskalasi yang sangat mengkhawatirkan. Sehingga, murid Asy-Syafi’i itu menyatakan bahwa ganja haram dikonsumsi. Fatwa dari al-Muzanni ini sempat dikritik oleh oleh Asad bin Amr, murid Abu Hanifah. Asad menyatakan bahwa ganja boleh dikonsumsi. Tapi, akhirnya semua ulama sepakat bahwa ganja haram dikonsumsi, karena telah membawa malapetaka yang sangat besar terhadap masyarakat.

Dikabarkan pada masa itu ganja telah umum dikonsumsi masyarakat. Sehingga sangat banyak orang yang kecanduan dan mengalami gangguan pikiran. Bahkan, para cendekiawan banyak yang linglung. Orang-orang pintar banyak yang tak waras gara-gara ganja. Akhirmya, para ulama di Transoxinia (Ma Wara’a al-Nahr) bersepakat mengharamkannya, sesuai dengan fatwa al-Muzanni. Ulama pada masa itu juga mengeluarkan fatwa agar daun ganja dibakar; uang hasil transaksi ganja adalah haram; penjual dan yg mengkonsumsi ganja harus diberi hukuman.

Pesantren Sidogiri
http://www.sidogiri.com/modules.php?name=News&file=article&sid=783&mode=thread&order=0&thold=0
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 038/th.04/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1429H/2008M


Hikmah Dari Diharamkannya Babi (bagian : 1)

Mei 22, 2008

Hal ini penting untuk diketahui, terutama oleh pemuda-pemuda kita yang sering pergi ke negara-negara Eropa dan Amerika, yang menjadikan daging babi sebagai makanan pokok dalam hidangan mereka.

Dalam kesempatan ini, saya sitirkan sebuah kejadian yang berlangsung ketika Imam Muhammad Abduh mengunjungi Perancis. Mereka bertanya kepadanya mengenai rahasia diharamkannya babi dalam Islam. Orang-orang Perancis bertanya kepada Imam, “Kalian (umat Islam) mengatakan bahwa babi haram, karena ia memakan sampah yang mengandung cacing pita, mikroba-mikroba dan bakteri-bakteri lainnya. Hal itu sekarang ini sudah tidak ada. Karena babi diternak dalam peternakan modern, dengan kebersihan terjamin, dan proses sterilisasi yang mencukupi. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba lainnya?.”

Imam Muhammad Abduh tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dan dengan kecerdikannya beliau meminta mereka untuk menghadirkan dua ekor ayam jantan beserta satu ayam betina, dan dua ekor babi jantan beserta satu babi betina. Mendengar  hal itu, mereka bertanya, “Untuk apa semua ini ?”. Beliau menjawab, “Penuhi apa yang saya pinta, maka akan saya perlihatkan suatu rahasia.”

Maka mereka pun memenuhi apa yang beliau pinta. Kemudian beliau memerintahkan agar melepas dua ekor ayam jantan bersama satu ekor ayam betina dalam satu kandang. Kedua ayam jantan itu berkelahi dan saling membunuh, untuk mendapatkan ayam betina bagi dirinya sendiri, hingga salah satu dari keduanya hampir tewas. Beliau lalu memerintahkan agar mengurung kedua ayam tersebut.
Kemudian beliau memerintahkan mereka untuk melepas dua ekor babi jantan bersama dengan satu babi betina. Kali ini mereka menyaksikan keanehan. Babi jantan yang satu membantu temannya sesama jantan untuk melaksanakan hajat seksualnya, tanpa rasa cemburu, tanpa harga diri atau keinginan untuk menjaga babi betina dari temannya.
Maka Imam pun berkata, “Saudara-saudara, daging babi membunuh ‘ghirah’ orang yang memakannya. Itulah yang terjadi pada kalian. Seorang lelaki dari kalian melihat isterinya bersama lelaki lain, dan membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan seorang bapak di antara kalian melihat anak perempuannya bersama lelaki asing, dan kalian membiarkannya tanpa rasa khawatir, dan was-was, karena daging babi itu menularkan sifat-sifatnya pada orang yang memakannya.”

Kemudian beliau memberikan contoh yang baik sekali dalam syariat Islam. Yaitu Islam mengharamkan beberapa jenis ternak dan unggas yang berkeliaran di sekitar kita, yang memakan kotorannya sendiri. Syariah memerintahkan bagi orang yang ingin menyembelih ayam, bebek atau angsa yang memakan kotorannya sendiri agar mengurungnya selama tiga hari, memberinya makan dan memperhatikan apa yang dikonsumsi oleh hewan itu. Hingga perutnya bersih dari kotoran-kotoran yang mengandung bakteri dan mikroba. Karena penyakit ini akan berpindah kepada manusia, tanpa diketahui dan dirasakan oleh orang yang memakannya. Itulah hukum Allah, seperti itulah hikmah dari hukum Allah.

Ilmu pengetahuan modern telah mengungkapkan banyak penyakit yang disebabkan mengkonsumsi daging babi. Sebagian darinya disebutkan oleh Dr. Murad Hoffman, seorang Muslim Jerman, dalam bukunya “Pergolakan Pemikiran: Catatan Harian Muslim Jerman”, halaman 130-131: “Memakan daging babi yang terjangkiti cacing babi tidak hanya berbahaya, tetapi juga dapat menyebabkan meningkatnya kandungan kolestrol dan memperlambat proses penguraian protein dalam tubuh, yang mengakibatkan kemungkinan terserang kanker usus, iritasi kulit, eksim, dan rematik. Bukankah sudah kita ketahui, virus-virus influenza yang berbahaya hidup dan berkembang pada musim panas karena medium babi ?”.

Dr. Muhammad Abdul Khair, dalam bukunya Ijtihâdât fi at Tafsîr al Qur’an al Karîm, hal. 112, menyebutkan beberapa penyakit yang disebabkan oleh daging babi :”Daging babi mengandung benih-benih cacing pita dan cacing trachenea lolipia. Cacing-cacing ini akan berpindah kepada manusia yang mengkonsumsi daging babi tersebut. Patut dicatat, hingga saat ini, generasi babi belum terbebaskan dari cacing-cacing ini”.

Penyakit lain yang ditularkan oleh daging babi amat banyak, di antaranya :
1. Kolera babi. Yaitu penyakit berbahaya yang disebabkan oleh virus.
2. Keguguran nanah, yang disebabkan oleh bakteri prosillia babi.
3. Kulit kemerahan, yang ganas dan menahun. Yang pertama bisa menyebabkan kematian dalam beberapa kasus, dan yang kedua menyebabkan gangguan persendian.
4. Penyakit pengelupasan kulit.
5. Benalu eskares, yang berbahaya bagi manusia. Dll.

Fakta-fakta berikut cukup membuat seseorang untuk segera menjauhi babi :

1. Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan lain. Ia makan semua makanan di depannya. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Ia tidak akan berhenti makan, bahkan memakan muntahannya.

2. Ia memakan semua yang bisa dimakan di hadapannya. Memakan kotoran apa pun di depannya, baik kotoran manusia, hewan atau tumbuhan busuk, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada lagi yang bisa dimakan di hadapannya.

3. Ia mengencingi kotorannya dan memakannya jika berada di hadapannya, kemudian memakannya kembali.

4. Ia memakan sampah, busuk-busukan, dan kotoran hewan.

5. Ia adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar dan dalam waktu lama, jika dibiarkan.

6. Kulit orang yang memakan babi akan mengeluarkan bau yang tidak sedap.

7. Penelitian ilmiah modern di dua negara Timur dan Barat, yaitu Cina dan Swedia -Cina mayoritas penduduknya penyembah berhala, sedangkan Swedia mayoritas pendu duknya sekular- menyatakan :”Daging babi merupakan merupakan penyebab utama kanker anus dan kolon. Persentase penderita penyakit ini di negara-negara yang penduduknya memakan babi, meningkat secara drastis. Terutama di negara-negara Eropa , dan Amerika, serta di negara-negara Asia (seperti Cina dan India). Sementara di negara-negara Islam, persentasenya amat rendah, sekitar 1/1000. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 1986, dalam Konferensi Tahunan Sedunia tentang Penyakit Alat Pencernaan, yang diadakan di Sao Paulo.

Kini kita tahu betapa besar hikmah Allah mengharamkan daging dan lemak babi. Untuk diketahui bersama, pengharaman tersebut tidak hanya daging babi saja, namun juga semua makanan yang diproses dengan lemak babi, seperti beberapa jenis permen dan coklat, juga beberapa jenis roti yang bagian atasnya disiram dengan lemak babi. Kesimpulannya, semua hal yang menggunakan lemak hewan hendaknya di perhatikan sebelum disantap. Kita tidak memakannya kecuali setelah yakin bahwa makanan itu tidak mengandung lemak atau minyak babi, sehingga kita tidak terjatuh ke dalam kemaksiatan terhadap Allah SWT, dan tidak terkena bahaya-bahaya yang melatar-belakangi Allah SWT mengharamkan daging dan lemak babi.

[Disadur dari buku: Hidangan Islami: Ulasan Komprehensif Berdasarkan Syari’at dan Sains Modern, Syeikh Fauzi Muhammad Abu Zaid, Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani, Cet : I/1997, Penerbit: Gema Insani Press, Jl. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740, Telp. (021) 7984391-7984392-7988593. Fax. (021) 7984388]
http://abughifari.wordpress.com/
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 038/th.04/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1429H/2008M


Mengapa Islam Mengharamkan Babi ?

Mei 22, 2008
Islam sangat jelas memberikan larangan untuk tidak memakan babi. Umat Islam yakin karena semua larangan Alloh mengandung arti mengandung mudhorot atau sisi negatif yang besar dibanding manfaatnya.

Halal atau haram. Kedua istilah tersebut dijelaskan dalam Al Quran, yakni bahwa halal diperuntukkan untuk segala sesuatu yang diperbolehkan dan apa-apa yang tak diperbolehkan diistilahkan sebagai haram. Al-Qur’an pula lah yang menggambarkan perbedaan antara keduanya. Yang diharamkan antara lain segala macam darah. Anda akan sependapat bahwa analisis kimia dari darah menunjukkan adanya kandungan yang tinggi dari uric acid (asam urat) yaitu suatu senyawa kimia yang membahaya kan kesehatan manusia. Penjelasan lanjut mengenai sifat beracun dari uric acid adalah bahwa dalam tubuh manusia, senyawa ini dikeluarkan sebagai kotoran dan dalam kenyataannya kita diberitahu bahwa 98% dari uric acid dalam tubuh dikeluarkan dari dalam darah oleh ginjal, dan dibuang keluar tubuh melalui air seni.

Dalam Islam juga diajarkan tentang prosedur khusus dalam penyembelihan hewan.  Cara penyembelihan hewan dalam Islam adalah ketika menyebut nama Allah SWT, penyembelih membuat irisan memotong urat nadi leher hewan, sembari membiarkan urat-urat dan organ-organ lainnya utuh. Dengan cara seperti itu, akan menyebabkan kematian hewan karena kehabisan darah dari tubuh, bukan karena cedera pada organ vitalnya. Sebab jika organ-organ, misalnya jantung, hati, atau otak rusak, hewan tersebut dapat meninggal seketika dan darahnya akan menggumpal dalam urat-uratnya dan akhirnya mencemari daging. Hal tersebut mengakibatkan daging hewan akan tercemar oleh uric acid, sehingga menjadikannya beracun. Dan hanya pada masa kini-lah, para ahli makanan baru menyadari akan hal ini.

Selanjutnya, mengapa umat Muslim dilarang mengkonsumsi daging babi, atau ham, atau makanan lainnya yang terkait dengan babi ?. Sebenarnya, diluar dari larangan syariat dalam pengkonsumsian babi, bacon; ternyata di dalam Bible juga ada larangan seperti itu, yaitu pada Leviticus bab 11, ayat 8, mengenai babi, dikatakan, “Dari daging mereka (dari “swine”, nama lain buat “babi”) janganlah kalian makan, dan dari bangkai mereka, janganlah kalian sentuh; mereka itu kotor buatmu.” Apakah pelarangan itu semata-mata karena babi kotor ? Ternyata tidak hanya itu. Karena kalau diteliti lebih lanjut, anda akan tahu bahwa babi tidak dapat disembelih di leher karena mereka tidak memiliki leher sesuai dengan anatomi alamiahnya. Umat Muslim beranggapan, kalau babi memang boleh disembelih dan layak dikonsumsi manusia, tentu Allah SWT akan merancang hewan tersebut memiliki leher. Jadi sangat sulit untuk menyembelih babi sebagaimana layaknya umat Muslim menyembelih hewan lain pada lehernya, yang mana kalau dilakukan penyembelihan pada binatang yang dihalalkan, niscaya semua darah akan dapat keluar dengan sempurna.

Namun diluar itu semua, kita yakin betul mengenai efek-efek berbahaya dari konsumsi babi dalam bentuk apapun, baik itu pork chops, ham, atau bacon. Ilmu kedokteran mengetahui bahwa ada resiko besar yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Babi diketahui sebagai inang dari banyak macam parasit dan penyakit berbahaya, termasuk sebagai inang berkembangnya virus H5N1, virus flu burung yang sangat berbahaya, kemudian babi menularkannya kepada manusia.

Informasi lebih lanjut yang berkenaan dengan kandungan uric acid dalam darah sangat penting untuk diperhatikan yaitu bahwa sistem biokimia babi hanya mengeluarkan 2% dari seluruh kandungan uric acidnya, sedangkan 98% sisanya tersimpan dalam tubuhnya. Jadi, memang babi sangat berbahaya untuk dikonsumsi manusia.

[Sumber: Mailinglist KMII Jepang – Komunitas Muslim Indonesia di Jepang]

KotaSantri.com
http://kotasantri.com/mimbar.php?aksi=Detail&sid=101
artikel di atas telah dimuat juga oleh :
The Marsinah Relax Companion
http://www.marsinah.com/news_detail.php?langclick=English&sid=315
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 038/th.04/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1429H/2008M


Masuk Islam Karena Fatwa Babi

Mei 22, 2008

al-islahonline.com : Sudah lama Stefanus R.Sumangkir bergerak membangun kelompok yang menjadi ajang berkumpulnya para muallaf (orang yang masuk Islam) di Tegal, Jawa Tengah. Kelompok ini disebut sebagai Paguyuban Muallaf Kallama. Kini anggo tanya sudah mencapai 19 orang. Kelompok itu berusaha untuk mandiri. Dana untuk organisasi didapat dari iuran anggota dan sumbangan dermawan. “Paguyuban ini un tuk ajang komunikasi dan juga wahana mendalami Islam,” ujar Sumangkir.

Jalan yang ditempuh Sumangkir untuk bisa membangun komunitas muallaf ini cukup berliku. Mulanya, Sumangkir yang kini berusia 56 tahun itu adalah seorang penginjil. Ajaran Kristen memang telah melekat pada keluarga Sumangkir sejak dia masih kecil. Pada 1986-1987, Sumangkir dikirim untuk menuntut ilmu di sekolah teologi di Malang, Jawa Timur. Ilmu-ilmu yang diperlukan untuk jadi penginjil pun diserapnya. Hingga 1988, Sumangkir dipercaya Gereja Maranatha Slawi untuk membimbing jemaat.

Dia sempat dikirim ke Desa Karang Gedang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah untuk misi Kristenisasi. Di desa yang mayoritas berpenduduk eks-tapol Pulau Buru itu, Sumangkir rajin mendekati warga agar masuk Kristen. Dengan semangat tinggi, Sumangkir bisa meluluhkan sebagian hati warga sehingga ada yang memeluk Kristen.
Di Karang Gedang ini Sumangkir mengaku kali pertama mendapat hidayah dari Tuhan. “Saat saya menemui seorang yang akan kami Kristen-kan, orang itu bertanya kepada saya tentang Tuhan yang katanya satu tetapi mencipta dua hukum. Contohnya tentang babi, Kristen menghalalkan dan Islam mengharamkan. Atas pertanyaan itu saya kebingungan,” ujarnya mengenang.

HARAMKAN BABI
Sejak itu dia mencoba membuka-buka Injil yg menjadi pedoman bagi agama Kristen. Ternyata Surat Imamat 11 ayat 7 menyebutkan babi haram karena memiliki dua kuku yang terbelah. Namun, para pendeta Kristen saat mengajar di gereja-gereja tak menyatakan babi haram bagi umat Kristen.
Beberapa tahun berlalu, Sumangkir mendapat tugas mengajar di Gereja Maranatha dan GPPS Budimulya di Slawi, Kabupaten Tegal. Di situ Sumangkir berceramah di hadapan jemaat tentang babi yang diharamkan. Ternyata ceramah itu menjadi tidak berkenan bagi majelis gereja. Ia pun langsung diskors. Nama Stefanus Sumangkir dihapus dari daftar penceramah tanpa alasan.

Saat itu Sumangkir tidak langsung berganti agama, namun tetap saja pada pendirian sebagai penginjil. Secara mandiri dia aktif mencari sasaran di tengah masyarakat yang miskin. Kehidupan sebagai penginjil cukup menopang ekonominya pada waktu itu. Dua anaknya, Euneke Alfa Lidia (16 tahun) dan Critoper Pitagoras (13 tahun) bisa sekolah dan hidup layak.
Di tengah kegalauan jiwanya tentang keyakinan dalam beragama, Sumangkir mendapat hidayah yang kedua. Kali ini lewat tayangan televisi Indosiar yang memutar film Ramadan berjudul Jamaludin Al-Afghani. Film tentang tokoh Islam itu mengetuk hati keluarga Sumangkir untuk memeluk Islam. Dari sinilah ghirah Islamnya terus tumbuh, sampai akhirnya dia membangun Paguyuban Muallaf Kallama.

DIPERLAKUKAN TIDAK ADIL
Mulanya, kelompok ini menggelar pengajian rutin setiap malam Senin, bertempat di rumah Sumangkir di jalan Murbei No. 16, Kelurahan Kraton, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal. Mereka biasanya memanggil ustad untuk menambah ilmunya. Anggota paguyuban muallaf yang dipimpin Sumangkir ini terkadang harus lapang dada diperlakukan tidak adil.
Perlakuan tidak adil itu misalnya pernah dialami Gunawan yang bekerja di sebuah toko emas di Kota Tegal. Sejak lama Gunawan menjadi penganut Katolik yang taat, namun akhirnya dia memilih masuk Islam. Saat masih memeluk Katolik, lingkungan tempatnya bekerja terbilang kondusif. Namun, begitu Gunawan ketahuan setiap jum’at pamit ke masjid untuk salat jumat, pemilik toko menjadi kurang berkenan. Akhirnya Gunawan dipecat.
Karena desakan kebutuhan ekonomi, akhirnya para muallaf yang semula aktif mengikuti kegiatan pengajian menjadi berkurang. “Ya saya maklum, mereka harus bisa menghidupi keluarga juga. Sehingga, beberapa dari mereka memilih keluar kota untuk mencari pekerjaan,” tutur Sumangkir. Sumangkir sendiri menggantungkan hidupnya sebagai penceramah dibantu istrinya, Siti Fatimah, yang juga muallaf, yang tiap hari berjualan nasi gudeg. Karena faktor kesibukan itu, aktivitas Paguyuban Muallaf Kallama tak lagi rutin. Namun, Sumangkir tetap ingin menjalankannya. Kini sedang dirintis agar paguyuban itu bisa menjadi ajang usaha bersama. Beberapa anggota yang memiliki keahlian akan dirangkulnya. Sumangkir yang piawai dalam membuat papan reklame dan sablon, akan merintis usaha dalam bidang tersebut. Cuma, katanya, kini belum punya modal. Untuk membangun usaha reklame memang diperlukan peralatan seperti kompresor dan peralatan sablon yg harganya cukup mahal.
Bersama anggotanya, dia akan terus berupaya agar ada penghasilan yang bisa menghidupi keluarganya dan Paguyuban Muallaf Kallama.

[Sumber : Majalah Nurani Edisi 255]
http://al-islahonline.com/bca.php?idartikel=155

Hadiah Dari Penghasilan Haram

Pertanyaan :
“Saya mempunyai seorang saudara muhajir (yang hijrah) ke Prancis dan menjual minuman keras (khomer), bolehkah saya pergi berkunjung kepadanya dan makan dari sebagian hartanya, dan jika dia memberikan hadiah kepada saya, bolehkah saya menerimanya ?”.

Jawab :
“Adapun menyebutnya sebagai muhajir (yang hijrah) adalah salah, karena muhajir menurut pengertian syari’at adalah orang yang meninggalkan negeri orang-orang kafir menuju negeri Islam untuk mempertahankan agamanya, dan inilah yang disebut muhajir. Dan lafadz yang lebih umum, muhajir berarti setiap orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah, sedang orang yang pergi meninggalkan negeri Islam menuju negeri orang-orang kafir tidaklah disebut muhajir.

Adapun bahwa dia mengumpulkan hartanya dari jual beli minuman keras, maka Allah telah mengharamkan minuman keras dan mengharamkan harganya (hasil penjualannya), dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat minuman keras, melaknat penjualnya dan pemakan harganya (harta yg dihasilkan dari jual-beli minuman keras), mereka semua termasuk dalam sepuluh orang yang dilaknat oleh Rasulullah SAW, di karenakan minuman keras, semuanya dilaknat. Harga (harta yang dihasilkan dari) minuman keras adalah haram, oleh karena itu, jika penghasilan saudaramu seluruhnya bersumber dari jual-beli minuman keras, maka tidak boleh bagimu untuk memakan sebagian dari penghasilannya itu, dan tidak boleh kamu mengambil manfaat darinya sesuatu apapun. Karena Allah akan mencukupkan kamu agar tidak sampai menggunakan atau memakan dari harta haram tersebut. Tetapi kamu wajib menasehati dan mengingatkan saudaramu akan Allah dan menasehatinya karena Allah, semoga Allah memberikan taubat kepadanya dan agar dia segera meninggalkan pekerjaan yang jelek itu, dan jika dia terus-menerus melakukan pekerjaannya itu, maka janganlah kamu pergi kepadanya dan tinggalkan dia, dan jika kamu mengetahui bahwa hadiahnya itu berasal dari jual-beli minuman keras maka janganlah kamu menerimanya.

[Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan dalam kitab Muntaqa Fatawa Syaikh Al-Fauzan, jilid.III Hal. 220 fatwa no. 335]

(dari : http://www.alsofwah.or.id)
pesan : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu terdekat” (QS.asy-syu’araa 214), “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yg beriman. (QS.Adz-Dzaariyaat : 55)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 038/th.04/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1429H/2008M


Jangan Ta’ati Ulama dan Umara’ yang Mengharamkan Apa Yang Dihalalkan Allah

Mei 22, 2008

(Atau Menghalalkan Apa Yang Diharamkan Allah, Karena Berarti Ia Telah Mempertuhankan Mereka/Mempertuhankan ‘Ulama dan Umara’)
oleh : Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Ibnu ‘Abbas berkata: “Aku khawatir bila kalian ditimpa hujan batu dari langit. Aku menuturkan: “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”, tetapi kalian malah mengatakan: “Kata Abu Bakar dan ‘Umar”.”
Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan: “Aku merasa heran dengan orang-orang yang tahu tentang isnad hadits dan keshahihannya, tapi mereka menjadikan pendapat Sufyan sebagai acuannya, padahal Allah Ta’ala telah berfirman (artinya): “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa siksa yang pedih.” (An-Nur: 63)
Tahukah kamu apa pengertian fitnah disini. Yaitu: Syirik. Bisa jadi apabila dia menolak sabda beliau, akan terjadi dalam hatinya suatu kesesatan, sehingga celakalah dia.”
Diriwayatkan dari ‘Adiy bin Hatim bahwa ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah Ta’ala: “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah …” (Bara’ah/At-Taubah: 31)
Tutur ‘Adiy kemudian: Maka aku berkata kepada beliau: “Sungguh kami tidaklah menyembah mereka.” Beliau bertanya: “Tidakkah mereka itu mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kamu pun mengharamkannya; dan tidakkah mereka itu menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah, lalu kamu pun menghalalkannya?” Aku menjawab: “Ya.” Maka beliau bersabda: “Itulah ibadah (penyembahan) kepada mereka.” (HR Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dengan menyatakan hasan)

Kandungan tulisan ini:
Tafsiran ayat dalam surah An-Nur. Ayat ini mengandung suatu peringatan supaya kita jangan sampai menyalahi Kitab dan Sunnah.
Tafsiran ayat dalam surah Bara’ah. Ayat dalam surah Bara’ah menunjukkan bahwa barangsiapa mentaati seseorang dengan menyalahi hukum yang telah ditetapkan Allah berarti telah mengangkatnya sebagai tuhan selain Allah.
Perlu diperhatikan arti “ibadah”, yang sebelumnya diingkari oleh ‘Adiy.
Contoh kasus yang dikemukakan Ibnu ‘Abbas dengan menyebut Abu Bakar dan ‘Umar; dan yang dikemukakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dengan menyebut Sufyan.

Hal tersebut telah berkembang sedemikian rupa, sehingga terjadi pada kebanyakan orang penyembahan orang-orang shaleh yang dianggap sebagai amal afdhal dan dipercayai sebagai wali (yang dapat mendatangkan suatu manfaat atau mara bencana) serta penyembahan orang-orang alim melalui ilmu pengetahuan dan fiqh (dengan diikuti apa saja yang mereka katakan, baik sesuai dengan firman Allah dan sabda Rasul-Nya atau tidak).
Hal ini pun kemudian berkembang lebih parah lagi, sehingga disembah pula orang-orang yang tidak shaleh (dengan dipercayai sebagai wali meski perbuatannya melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya) dan disembah juga orang-orang bodoh yang tidak berilmu (dengan dipatuhi saja pendapatnya, bahkan bid’ah dan syirik yang mereka lakukan juga diikuti).

[Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H].

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 037/th.04/Muharram-Safar 1429H/2008M