Kenapa diam seribu bahasa ?

November 12, 2007

Adalah sebuah kenyataan yang pahit apabila pada saat ini sudah mulai banyak umat Islam yang enggan mengikuti perkembangan berita mengenai saudara-saudara kita di Palestina. Persepsi yang terlebih dulu muncul apabila mendengar kabar tentang Palestina adalah, “Ah, paling-paling tentang perang, tentang jihad, tentang aksi-aksi bom bunuh diri, kelompok militan, aksi melawan yahudi, aksi boikot, dll”. Atau, “Ah, pembahasan tentang Palestina lebih cocok untuk kalangan garis keras, fundamentalis, ekstremis, dll, kita-kita tidak usahlah ikut-ikutan”. Dan seribu satu alasan lagi untuk tidak sudi mengamati. Jangankan turut membantu, sekedar mendengar dan melihat saja sudah enggan. Na’udzubillah.

Padahal bicara Islam sangat erat hubungannya dengan Palestina, bicara sholat dan isra’ mi’raj rasulullah saw tidak mungkin lepas dari Palestina, pembahasan tentang kiblat tak mungkin lepas dari
Palestina, begitu pula bila mempelajari sejarah sabahat Umat bin Khottob, mujahid Shalahuddin Al Ayyubi. Apalagi bila sudah mengulas tentang saudara seaqidah yang tertindas dan diperangi, tentang saudara kita terusir, tentang kedzaliman kaum kafir, dll. Semua itu tidak bisa lepas dari Palestina.

Fakta, bahwa Palestina adalah sama-sama bangsa muslim, bukankah sesama muslim itu ibarat satu tubuh, kalau ada satu anggota badan yang sakit, maka selayaknya anggota badan yang lain juga merasakan sakit ?
Fakta, bahwa saudara kita di Palestina sedang terjajah, teraniaya, tertindas, miskin, sengsara, dan lain sebagainya. Setiap saat kabar beritanya dengan sangat mudah bisa dilihat, didengar dan dibaca dari berbagai media massa.
Fakta, bahwa lawan yang dihadapi adalah bangsa yang sangat rusak, sangat brutal, sangat licik, paling keras permusuhannya terhadap umat Islam, sangat kuat persenjataannya dan sangat canggih. Sekali-kali jangan salah mengatakan, “Cuma melawan negara kecil seperti Israel saja, kenapa mesti repot-repot harus dibantu”. Ingatlah selalu, di belakang Israel itu ada raksasa super dzolim beserta kroni-kroninya yg siap membantu total 100%, fisik maupun psikis, persenjataan hingga lobby-lobby kelas PBB, dari embargo hingga kucuran dana yg tidak terbatas. Tidak akan menimbang-nimbang apakah yang sedang dibantu itu berada di pihak yang benar atau yang salah. Mereka sangat solid, bersatu memerangi Islam.

Sebagai sesama umat Islam, kenapa kita diam seribu bahasa ? kenapa kita pura-pura tidak tahu ?. Mana wujud tenggang rasa demi menyaksikan penderitaan saudara kita ? Mana hati nurani kita ? Mana pengamalan sikap ukhuwwah yang saban hari kita dengung-dengungkan ?. Kenapa saudara kita itu kita biarkan berjuang sendiri dengan persenjataan ala kadarnya ? padahal nyata-nyata musuh yg dihadapi adalah raksasa dengan persenjataan yang amat canggih, rudal, bom, tank-tank apache, jet tempur, bahkan nuklir pun ada ?. Kenapa negara-negara tetangga yg sama-sama muslim, bahkan dengan kekayaan yang melimpah ruah tidak terketuk hati untuk membela saudaranya ?. Belum lagi lawan-lawan dari bangsanya sendiri yang pemikirannya sudah terinfiltrasi ideologi pihak musuh, sehingga sampai hati menuruti kehendak penjajah dan menangkapi saudaranya sendiri yang tengah berjuang untuk Al Quds, untuk Palestina, untuk Islam.

Semoga penerbitan edisi khusus ini dapat mengembalikan semangat untuk terus memantau perkembangan kabar mengenai saudara kita yang terus hidup dalam keadaan tertindas dan terdzolimi. Syukur alhamdulillah bila kemudian tergerak hati untuk membantu dengan segala daya yang ada. Bukan malah sebaliknya, melupakan, menganggap tidak ada apa-apa, apalagi ikut-ikutan memusuhi saudara sendiri yang terus hidup dalam keadaan terancam dan terus berjuang dengan susah payah.

[dari : Mukaddimah Labbaik edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M

Jangan lupakan saudara kita yang terus terjajah dan tertindas …

Setiap datang bulan Juni, umat Islam yang memiliki perhatian terhadap sejarahnya, akan selalu teringat bahwa pada bulan itu kota Al Quds jatuh ke tangan Zionis, apalagi bila mengingat bahwa di kota tersebut terdapat masjid Al Aqsho, kiblat pertama umat Islam dan tempat Isra’-nya rasulullah SAW. Peristiwa kejatuhan itu dimulai pada tgl. 5 Juni 1967, yakni saat pecah perang antara Arab melawan Israel, perang ini hanya berlangsung sekejap, dan lebih popular disebut perang 6 hari, karena memang dalam tempo 6 hari saja Al Quds dan masjid Al Aqsho berhasil dikuasai Israel.
Menurut para analis, sebab utama mengapa begitu mudahnya Arab yang terdiri dari beberapa negara, yakni Mesir, Yordania dan Suriah dapat dika lahkan Israel, adalah karena negara-negara Arab tidak berperang atas nama agama, mereka berperang atas nama nasionalisme dan sosialisme. Padahal Israel sejak dari awal sudah berperang dengan membawa semangat agamanya.

Inilah salah satu dampak yang sangat fatal karena sulitnya umat Islam diajak menjalin persatuan, bersatu hanya di bawah naungan Islam, bersatu dengan satu semangat Islam saja !. Mudah sekali umat kita ini mengucapkan kata “ukhuwwah” namun semangat untuk menjalankannya amal kecil. Terlebih lagi para pemimpinnya, sudah banyak yang terilfiltrasi pemikiran barat yg kafir, mereka justru menjalankan hukum dan ideologi kafir dalam mengatur umat. Mereka mulai melupakan hukum-hukum yang telah disyariatkan agama, bahkan dalam menjalankannya pun seringkali dalam keadaan setengah hati. Na’udzubillah !.

[dari : Mukaddimah Labbaik edisi khusus 40 tahun penjajahan Al Quds dan Al Aqsho, nomor edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M]

Iklan

Melucuti Senjata Berarti Menyerahkan Rakyat Palestina

September 12, 2007

Juru bicara resmi Brigade Izzuddin Al-Qassam, Abu Ubaidah, diwawancarai oleh Palestina Information Center. Ia menyatakan bahwa senjata Al-Qassam akan tetap ada selama pendudukan masih ada. “Senjata kami adalah senjata rakyat Palestina. Melucuti senjata kami berarti menyerahkan rakyat Palestina di ladang pembantaian Zionis Israel”. Ia juga menceritakan kemungkinan peleburan Al-Qassam dengan tentara nasional Palestina. Berikut ini petikan wawancaranya :

Bagaimana masa depan Brigade Al-Qassam, sebagai sayap militer Hamas, saat situasi politik telah berubah seperti sekarang ?.
Sayap politik Hamas, Brigade Izzuddin Al-Qassam, akan tetap ada selama penjajahan masih berlaku. Kami akan tetap menjadi tameng pelindung untuk rakyat Palestina. Dan dengan izin Allah, kami akan selalu siap melakukan pembalasan atas semua serangan Zionis Israel, kapanpun. Brigade Al-Qassam akan tetap memelihara seluruh sarana dan persiapannya berikut para pejuangnya untuk upaya itu. Kami juga akan terus melakukan eksplorasi terhadap aksi-aksi serangan yang kami miliki serta melanjutkan upaya persiapan dengan keyakinan penuh, sesuai firman Allah swt. “Dan persiapkanlah untuk mereka apa-apa yang kalian mampu dari kekuatan, dari kuda-kuda yang ditambat (untuk perang), yang dapat membuat takut musuh Allah, dan musuh kalian, dan yang selain mereka yang tidak kalian ketahui akan tetapi Allah mengetahui mereka…” (QS.Al Anfaal : 60)

Menurut Anda bagaimana dengan ide peleburan kepada sayap keamanan pemerintah Palestina yang ditawarkan kepada Al-Qassam, apakah ada syarat-syaratnya ?.
Menurut kami, masalahnya bukan pada pasukan keamanan nasional pemerintah, tapi pada pilihan strategis politik yg akan dijalani dalam kepemimpinan pasukan itu. Pasukan nasional itu dahulunya berdiri dengan tujuan untuk kepentingan yang sesuai dengan kesepakatan yg zalim dan dikendalikan oleh banyak tangan dari luar. Tapi jika terjadi reformasi yang menyeluruh dalam sayap keamanan itu di masa datang, tidak ada masalah bagi Al-Qassam untuk melebur. Kami harus menjadi unsur yang bisa memperbaiki dan membangun bukan unsur penghancur. Kemudian terkait peleburan sayap militer Hamas secara total ke dalam sayap keamanan nasional yang berarti pembubaran Al-Qassam, dan ini tidak mungkin terjadi karena kami akan tetap memelihara struktur sayap militer ini dlm situasi apapun dengan izin Allah, selama pendudukan Zionis masih ada di sini.

Belakangan ini banyak warga Palestina yang menanyakan, kemana Al-Qassam, kenapa mereka terlihat diam terhadap serangan yang dilakukan Zionis terhadap rakyat Palestina, dengan apa mereka membalas serangan Zionis ?.
Jika pertanyaan itu disampaikan dari orang-orang yang sangat memperhatikan dan khawatir dengan masa depan perlawanan, kami menenangkan mereka dengan mengatakan bahwa Al-Qassam tidak pernah meninggalkan lapangan perlawanan. Al-Qassam tetap menjadi tameng utuh untuk melindungi mereka, memberi pelajaran pada Zionis sebagaimana yang selama ini mereka kenal dari Al-Qassam. Akan tetapi, perlu diketahui, bahwa aksi serangan itu akan dilakukan pada waktu dan tempat yang sesuai, termasuk dalam konteks merealisasikan kemaslahatan bagi bangsa Palestina. Tapi jika pertanyaan itu disampaikan bagi orang yang menyepelekan aksi perlawanan, yang ingin mengaburkan dan menjelekkan persepsi tentang Al-Qassam, kami katakan kepada mereka, bahwa cara seperti itu tidak bisa dilakukan oleh orang yang mengatakan dirinya sebagai pejuang. Al-Qassam telah menjadi pionir dalam banyak sarana perlawanan yang kemudian digunakan juga oleh sebagian saudara-saudara kami yang melakukan perlawanan di kelompok lain. Ini termasuk hal yang membuat kami senang, semakin mendorong semangat proyek perlawanan kami, dan memantapkan perlawanan di Palestina. Hamas masih akan tetap memelihara pola jihad dan perlawanannya di Palestina. Hamas bahkan telah mempersembahkan pemimpin tertingginya sebagai syuhada dan tahanan di jalan perlawanan. Sementara disisi lain ada orang yang menghina pola perlawanan, mengecam aksi meraih syahid yang sangat heroik dan telah memberi pelajaran berharga untuk penjajah. Alhamdulillah, selama ini Brigade Al-Qassam selalu berada di barisan terdepan. Kami katakan kepada mereka bahwa perjuangan yang dilakukan Al-Qassam masih panjang. Tidak bisa menjatuhkan penilaian secara sepihak terhadap Al-Qassam dalam rangkaian waktu tertentu.

Secara realistik, mungkinkah Hamas menghimpun langkah perlawanan dan politik, lalu bagaimana Al-Qassam berinteraksi dlm tekanan internasional seperti sekarang ?.
Sudah sangat wajar, perlawanan, politik dan reformasi berjalan seiring sejalan. Target terpenting yang dikehendaki Hamas di parlemen adalah memelihara perlawanan untuk mewujudkan reformasi dan perubahan dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya dan lainnya untuk masyarakat Palestina. Rakyat tidak boleh menghadapi Zionisme sementara di sisi lain masih ada sebagian orang oportunis yg mengambil keuntungan, berbisnis di atas penderitaan rakyat, mengumpulkan harta untuk kepentingan pribadi di atas kefakiran dan ribuan pengangguran rakyat Palestina. Karena itu kami memandang, harus ada langkah penguatan dan pengokohan secara internal di dalam tubuh rakyat Palestina untuk melanjutkan perlawanan. Kami tidak melihat adanya benturan antara politik dan perlawanan yang selama ini ditempuh Hamas. Bahkan sebaliknya, kami malah melihat perpaduan secara utuh antara politik dan perlawanan itu harus dilakukan bagi bangsa manapun yang hidup di bawah penjajahan, otoritarianism, kezaliman. Hamas tidak mungkin melepas senjatanya dalam fase apapun dan di bawah situasi apapun. Karena senjata Hamas adalah senjata rakyat Palestina. Melepas senjata berarti menyerahkan rakyat Palestina untuk pembantaian oleh Zionis, membuang hak rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap musuh yang menyerangnya. Jadi, tidak boleh ada seorangpun yang memiliki pandangan bahwa Hamas akan melepas senjata dan tidak menggunakan lagi langkah perlawanannya.
Meskipun begitu, Hamas tetap akan mengetahui kapan dia akan menggunakan senjata, dalam situasi seperti apa, dan dalam waktu bagaimana sesuai sikon yang sesuai di setiap fasenya. Hamas tidak akan beraksi secara serampangan. Tentang tekanan internasional, itu berlatar belakang paradigma Barat yang zalim dalam melihat penjajahan di Palestina oleh Zionis Israel. Kami tegaskan tidak akan tunduk pada tekanan yang memang tidak akan pernah berhenti itu.

Bagaimana Anda melihat hubungan antara Al-Qassam dengan unit perjuangan Palestina yang lain, khususnya Brigade Syuhada Al-Aqsha yang berada di bawah organisasi Fatah ?.
Kami masih tetap partner dalam perlawanan dan jihad bersama seluruh anasir perlawanan di Palestina. Kemenangan kami adalah memantapkan prinsip perlawanan ini hingga ia menjadi perhatian banyak masyarakat dunia. Hubungan baik dengan seluruh kelompok perlawanan akan terus bertambah baik. Karena kami memililki prinsip bahwa kemenangan Hamas harus berwujud pada kemaslahatan semua pihak, semua kekuatan perlawanan di Palestina, tanpa kecuali.

Jika sekarang Hamas ditekan untuk mengakui Israel, dan diancam akan diisolir secara internasional jika tidak memenuhi tekanan itu, bagaimana pandangan Anda ?.
Tekanan itu adalah sikap yang tidak mungkin dipenuhi. Pengakuan terhadap Israel adalah masalah yang tidak mungkin terjadi. Penjajah mendirikan negara secara tidak legal dan tidak sah. Tidak mungkin jika negara itu kemudian diakui secara legal dan sah. Kami berinteraksi dengan masalah seperti itu, dalam kerangka bahwa kamilah pihak yang berhak atas tanah Palestina. Hamas tidak akan mengakui Israel dan tidak ada satupun orang yang berhak melakukan hal itu. Karena tanah Palestina adalah bagian yang tak terpisahkan dari tanah dunia Arab dan Islam. Menyerah dari Palestina atau memberikan sebagian Palestina adalah bagian dosa.
Semua orang memiliki hak hidup. Itu benar. Tapi tidak mungkin dibenarkan jika sekelompok orang merampas tanah orang lain untuk hidup di sana. Karenanya tidak ada hak Zionis untuk berdiri di tanah Palestina. Ini adalah hakikat yang tak bisa berubah, meskipun dunia mengakui Zionis Israel, kami tetap memandang masalah pengakuan terhadap Israel tidak mungkin dilakukan.
Terkait dengan ancaman isolasi dan embargo internasional jika Hamas tidak mengakui Israel, kami katakan, sesungguhnya Hamas dan rakyat Palestina memiliki dukungan dari dunia Arab dan Islam. Kami tidak mungkin menerima bantuan dana politik dari AS dan Barat untuk melindungi proyek Zionisme, dan menyepelekan agenda perjuangan Palestina. Kami yakin, bahwa akan banyak yang berpihak kepada kami. Mereka tidak akan menerima dengan penderitaan yang dialami rakyat Palestina. Karena mereka pasti akan menetapkan sikapnya, dan menunjukkan keinginannya secara merdeka lalu memilih siapa yang bisa mewakili aspirasinya.

Sejumlah media Israel menyebut Al-Qassam memiliki link dengan Hizbullah di Libanon, bagaimana menurut Anda ?.
Hubungan Hamas dengan Hizbullah adalah hubungan solidaritas, dukungan untuk memerangi pendudukan dan perampokan dunia Arab dan Palestina. Akan tetapi Al-Qassam berjuang di dalam batas wilayah Palestina, tidak ada koordinasi aksi dalam aksi-aksi militer dengan pihak luar. Baik dengan saudara kami di Hizbullah maupun kelompok lainnya. Semua aksi Al-Qassam adalah hasil perencanaan & dilaksanakan oleh Al-Qassam dari dlm Palestina.

http://eramuslim.com/news/bc2/440cdcfc.htm

Penyataan Paus Benedict XVI Bagian dari Serangan Bush Terhadap Islam

Dr.Yusuf Qardhawi menganggap pernyataan menyakitkan dari Paus Benedict XVI tentang ajaran Islam dan Rasulullah saw, adalah bagian dari kampanye AS untuk membangun superioritasnya di Timur Tengah. Qardhawi juga mengaitkan pernyataan Paus yg menolak meminta maaf kepada umat Islam itu, dengan tragedi perang salib, terlebih selama ini Vatikan jelas memiliki hubungan kerjasama ideologis dengan Amerika, untuk bermain di “wilayah hijau” Islam.

Ungkapan tegas ini disampaikan Qardhawi dalam kapasitasnya sebagai Ketua Perhimpunan Ulama Islam Internasional, di tengah aksi solidaritas “Jumat Kemarahan” yang digelar di Dhoha, Qatar. Qardhawi ikut serta dalam aksi demonstrasi tersebut yang juga diikuti oleh Syaikh Hamid Bin Abdul Aziz, mantan Menteri Informasi Qatar. Qardhawi di hadapan massa di masjid Umar bin Khattab yang terletak di ibu kota Qathar, ba’da shalat Jum’at mengatakan, “Kampanye kejahatan yang dilancarkan Paus Vatikan, tidak terpisah dengan serangan yang dipimpin AS atas sejumlah wilayah Islam dengan nama ‘Serangan Bush’. Karena serangan itu telah menumpahkan darah & menghilangkan harta benda serta mengarah pada perubahan keyakinan umat.” Qardhawi juga menerangkan bahwa aksi pelecehan Islam oleh Paus adalah, “Kedengki an hitam yang dibawa dalam memori perang salib yang gagal.”

Ia juga menjelaskan sikap Perhimpunan Ulama Islam Internasional yang telah mencabut kemungkinan dialog dan kerjasama dengan Vatikan, lantaran Paus menolak mencabut perkataannya yang menyakitkan umat Islam. “Paus tetap memaksakan pikiran yg ada dalam otaknya, bukan pada hakikat Islam. Ia mengacu pada ungkapan raja Bizantium yang mengatakan Islam disebarkan dengan pedang. Kalau tidak mengacu pada pikirannya yang negatif pada Islam, bagaimana Paus mengungkapkan hal itu ?” ujar Qardhawi. Lebih tegas lagi, Qardhawi bertanya kepada Paus, “Sekarang, apa komentar anda tentang teks perjanjian Lama (taurat) yang terang-terang mengajak pembantaian dan pembunuhan ?”. (sumber : Eramuslim)

Yusuf Islam: Paus Harus Contoh Mahatma Gandhi

Mantan Penyanyi Pop Kaliber Internatiomal, Yusuf Islam (dulu bernama Cat Steven) juga menyatakan keprihatinannya atas pernyataan Paus. Ia mempertanyakan ajaran teologi Katolik bahwa perkataan Paus adalah hal yang mutlak dan tidak pernah salah. “Pada suatu ketika, saya pernah meyakini bahwa Paus adalah manusia sempurna,” ujarnya pada stasiun televisi BBC mengenang kembali saat ia bersekolah di sekolah Katolik.

Kantor berita AFP menyebutkan, teologi Katolik Roma memang menyebutkan bahwa seorang Paus tidak bisa melakukan kesalahan dlm mengajarkan keyakinan atau moral. “Karena interpretasinya tentang Islam, ia (Paus) seharusnya membaca tentang Gandhi dan melihat apa komentar Gandhi tentang Islam,” sambung Yusuf Islam. Menurutnya, Paus selayaknya melihat ke tempat-tempat lain jika ia ingin mengambil kutipan. Mahatma Gandhi dalam Young India, 1922 memberikan komentarnya tentang Islam sbg berikut, “Saya ingin mengetahui tentang ma nusia paling berpengaruh dalam hati jutaan umat manusia… Saya semakin bertambah yakin bahkan kemenangan yang didapat oleh Islam pd masa-masa itu bukanlah dari ayunan pedang. Kemenangan itu buah dari kesederhanaan Nabi yang gigih, keikhlasan Nabi yang telah mencapai puncaknya, kehati-hatian terhadap semua amanat yang diembannya, pengabdian yang mendalam terhadap para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, ketidak-takutannya, keyakinan yang sempurna terhadap Tuhan dan misinya. Inilah semua (adalah fakta) dan bukanlah jalan pedang yang mengatasi semua halangan-halangan itu. Ketika saya menyelesaikan Bab ke-dua dari biografi sang Nabi, saya menyesal: sudah tidak ada lagi kehidupan agung lain yang bisa saya pelajari.” Meski demikian Yusuf Islam menyatakan ia menghormati Paus dan posisinya, dan ia yakin Paus sudah menarik kembali pernyataannya untuk kebaikan semua.

http://swaramuslim.net/more.php?id=5327_0_1_0_M
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M


Kisah Seorang Siswi Palestina

September 11, 2007

Infopalestina – Al Sahl Lish Shahafah Wal I’lam :
Ini adalah kisah tentang seorang siswi di sebuah sekolah putri di Palestina.

Pada hari itu dewan sekolah berkumpul seperti biasanya. Di antara keputusan dan rekomendasi yang dikeluarkan dewan dalam pertemuan ini adalah pemeriksaan mendadak bagi siswi di dalam aula. Dan benar, dibentuklah tim khusus untuk melakukan pemeriksaan, dan tim mulai bekerja. Sudah barang tentu, pemeriksaan dilakukan terhadap segala hal yang dilarang masuk di lingkungan sekolah seperti handphone berkamera, foto-foto, gambar-gambar dan surat-surat cinta serta yang lainnya.

Suasana saat itu nampak normal dan stabil, kondisinya sangat tenang. Para siswi menerima perintah ini dengan senang hati. Mulailah tim pemeriksa menjelajah semua ruangan dan aula, dari satu ruangan dan masuk ke ruangan lainnya. Membuka tas-tas para siswi di depan mereka. Semua tas harus bersih, kecuali berisi buku-buku, pena dan peralatan kebutuhan kuliah lainnya. Hingga akhirnya pemeriksaan selesai di seluruh ruangan kecuali satu ruang an. Di situlah bermula kejadian ini. Apakah sebenarnya yang terjadi ?

Tim pemeriksa masuk ke ruangan ini seperti biasanya. Tim meminta izin kepada para siswi untuk memeriksa tas-tas mereka. Dan dimulailah pemeriksaan. Namun saat sampai di ujung ruangan ada seorang siswi yang tengah duduk. Dia memandang kepada tim pemeriksa dengan pandangan gusar dan mata nanar, dan tangannya memegang erat tasnya. Pandangannya semakin tajam setiap giliran pemeriksaan semakin dekat pada dirinya. Apa yang dia sembunyikan di dalam tasnya ?

Beberapa saat kemudian tim pemeriksa sampai pada siswi yang sedang memegang erat tasnya tersebut. Siswi itu tetap memegang sangat erat tasnya. Seakan dia mengatakan, “Demi Allah mereka tidak akan membuka tas saya”.
“Tolong buka tasnya anakku”, kata seorang guru anggota tim pemeriksa. Siswi itu tidak langsung membuka tasnya. Dia melihat wanita yang ada di depannya dengan diam sambil tetap mendekap tas di dadanya. “Barikan tasmu, wahai anakku”, kata pemeriksa itu dengan lembut. Namun tiba-tiba siswi tersebut berteriak keras :”Tidak ! tidak ! tidak ..!”.

Teriakan itu memancing para pemeriksa lainnya berdatangan mendekati siswi tersebut, dan mereka berkumpul di sekitarnya. Maka terjadilah debat sengit :”Berikan tasmu!”. “Tidak”. “Berikan!”. “Tidak ..!”.

Adakah rahasia yang dia sembunyikan ? Dan apa yang sebenarnya terjadi ?. Maka terjadilah adegan memperebutkan tas antara guru dengan murid tersebut. Para siswi pun terhenyak dan semua mata terbelalak. Seorang dosen wanita berdiri dan tangannya diletakkan di mulutnya. Memberi tanda agar semua siswi tidak rebut. Ruangan tiba-tiba sunyi. Semua terdiam. Ya Ilahi, apakah sebenarnya yang ada di dalam tas tersebut ?. Apakah benar bahwa si Fulanah (siswi) tersebut ….

Setelah dilakukan musyawarah akhirnya tim pemeriksa sepakat untuk membawa sang siswi dan tasnya ke kantor, guna melanjutkan pemeriksaan yang barang kali membutuhkan waktu lama …

Siswi tadi masuk kantor, dengan linangan air mata. Matanya memandang ke arah semua yang hadir di ruangan itu dengan tatapan penuh benci dan marah, karena mereka akan mengungkap rahasia dirinya di hadapan orang banyak. Ketua tim pemeriksa memerintahkannya duduk untuk menenangkan suasana. Dan setelah mulai tenang, maka kepala sekolah pun bertanya, “Apa yang kau sembunyikan di dalam tas wahai anakku …?”.

Di sini, dalam saat-saat yang pahit dan sulit, dia membuka tasnya. Ya Ilahi, apakah gerangan yang ada di dalamnya ? Bukan. Bukan. Tidak ada sesuatu pun yang dilarang ada di dalam tasnya. Tidak ada benda-benda haram, hand phone berkamera, gambar dan foto-foto atau surat cinta. Demi Allah, tidak ada apa-apa di dalamnya kecuali sisa makanan (roti). Ya, itulah yang ada di dalam tasnya.

Kemudian dia ditanya tentang sisa makanan yang ada di dalam tasnya. Siswi tersebut menarik napas panjang, baru kemudian di menjawab, “Ini adalah sisa-sisa roti makan pagi para siswi teman-teman saya, ada yang masih tersisa separoh atau seperempatnya di dalam bungkusnya. Kemudian saya kumpulkan dan saya makan sebagiannya. Sisanya saya bawa pulung untuk keluarga saya di rumah … Ya, untuk ibu dan saudara-saudara saya di rumah. Agar mereka memiliki sesuatu yang bisa disantap untuk makan siang dan makan malam. Kami adalah keluarga miskin, tidak memiliki siapa-siapa. Kami bukan siapa-siapa dan memang tidak ada yang bertanya ini-itu tentang kami. Alasan saya untuk tidak mau membuka tas, agar saya tidak malu di hadapan teman-teman di ruangan tadi.”

Tiba-tiba suasana ruangan tersebut menjadi mengharukan, suara tangis terdengar memenuhi ruangan tersebut. Semua yang hadir berlinang air mata sebagai tanda penyesalan atas perlakukan buruk dan kasar terhadap siswi tersebut.

Ini adalah satu dari sekian banyak bencana kemanusiaan yang memilukan di Palestina. Dan sangat mungkin juga terjadi di sekitar kehidupan kita. Kita tidak tahu, barang kali selama ini kita tidak peduli dengan mereka. Mereka memerlukan do’a dan uluran tangan kita, insya Allah setidaknya bisa sedikit meringankan penderitaan mereka. Khususnya saudara-saudara kita di Palestina yang hingga kini terus dilanda tragedi kemanusiaan akibat penjajahan Zionis Israel.

http://www.palestine-info.com/Ms/default.aspx

Al-Quds Adalah Hak Umat Islam, Bukan Hak Yahudi

Uskup Michel Lelong, pemuka agama Kristen di Perancis mengecam keras rencana serangan kelompok ekstrimis Yahudi terhadap mesjid Al-Aqsa. Ia mengatakan serangan terhadap tempat suci ketiga bagi umat Islam itu akan menambah panas situasi di Timur Tengah, untuk itu Lelong mendesak pemerintah Israel untuk mencegah segala bentuk upaya serangan terhadap Al-Aqsa dari kelompok ektrimis Yahudi. Uskup Lelong menyebut ancaman serangan terhadap Al-Aqsa sebagai skandal yang tidak bisa diterima dan bertentangan dengan prinsip toleransi dan saling menghormati terhadap agama, khususnya Islam. “Umat Islam, tidak diragukan lagi, berdasarkan sejarahnya memiliki hak atas Al-Quds,” tegas Uskup Lelong yang juga mengetuai organisasi hubungan Islam-Kristen di Vatican. Lelong menambahkan, mesjid Al-Aqsa ada lah ‘Garis Merah’ yang tidak boleh dilanggar.

Lebih lanjut Lelong menilai, alasan kelompok ekstrimis Yahudi menyerang Al-Aqsa yang katanya ingin menghidupkan kembali sejarah atas dasar mitos agamanya soal kuil Sulaiman (Solomon temple), tidak logis. Apalagi kalau mereka melakukannya dengan kekerasan dan hanya menimbulkan perpecahan. Lelong menegaskan, Israel berkewajiban menghentikan pendudukannya di Al-Quds atas dasar hukum internasional. “Al-Quds adalah persoalan politik yang diciptakan oleh Israel, yang telah menduduki kota itu dengan paksa,” ujar Lelong. Ia menunjuk sejumlah hukum internasional yang dengan jelas mengecam pendudukan Israel atas kota Al-Quds. Antara lain Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 478 yang dikeluarkan pada tahun 1980. Dalam Konvensi Jenewa bahkan disebutkan, warga Al-Quds harus dilindungi karena mereka hidup dibawah pendudukan Israel.

Uskup Lelong sempat menyatakan keheranannya dengan sikap komunitas internasional yang seolah tidak peduli dengan masalah-masalah yang menyangkut pelanggaran yang dilakukan Israel. “Mengapa komunitas internasional begitu cepat menerapkan resolusi PBB atas negara-negara seperti Irak dan Syria, tapi mereka tidak bergerak sama sekali ketika menyentuh persoalan Israel,” ujarnya setengah bertanya.
Lelong juga mengecam keputusan parlemen Israel yang ingin menjadikan wilayah timur dan barat Yerusalem sebagai ibukota negaranya. “Itu benar-benar pelanggaran terhadap hukum internasional,” tegasnya. – (sumber : eramuslim.com)

http://www.agus-haris.net/modules.php?name=News&file=article&sid=519
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M


Membeli Starbucks Berarti Mempersenjatai Musuh

September 11, 2007

Catatan Penting :
(Selain starbuck ini, sebetulnya masih sangat banyak produk di pasaran yang ternyata setelah dilacak para pemiliknya adalah bangsa Yahudi, dan nyata-nyata para pemilik perusahaan tersebut menginformasikan, bahwa sebagian dari keuntungannya akan disumbangkan untuk membantu pasukan Israel di Palestina. Adapun apa saja nama perusahaan dan produknya, silahkan klik web berikut : http://www.inminds.co.uk/index.html atau
http://www.kispa.org atau http://www.palestine-info.com/ dan lain-lain web sejenis)

“Dear Pelanggan Starbucks,
Pertama dan seterusnya saya ingin berterima kasih anda semua telah menjadikan Starbucks menjadi perusahaan besar dengan lebih dari 90.000 pekerja, 9.700 counter, dan 33 juta pelanggan per minggu. Tiap latte dan mocchiato yang anda minum di Starbucks memberikan sebuah kontribusi untuk mendekatkan aliansi antara Amerika dan Israel…
Tanpa anda, para pelanggan yang tercinta, kami tidak akan mampu mencapai ratusan juta dollar per tahun untuk melindungi warga negara Israel dari serangan teroris dan mengingatkan setiap orang Yahudi di Amerika untuk mempertahankan Israel. Jadi di lain waktu jika Anda ingin ngopi di counter Starbucks, tolong diingat bahwa dengan setiap cangkir yang Anda minum di Starbucks, sesungguhnya Anda sedang membantu sebuah misi yang berharga.”

Tertanda,

Howard Schultz
Chairman & Chief Global Strategist
Starbucks Coffee Stores

COME, Riyadl – Itulah bunyi sebuah aksi BOIKOT produk Amerika dan Israel oleh warga Saudi di sebuah kafe terkenal dan tersebar di kota-kota negara kerajaan ini. Kafe Starbuck memang memberikan dananya langsung kepada Israel yang sampai kini meneruskan aksi brutalnya membunuhi rakyat Palestina dan Libanon. Para aktifis boikot ini meletakkan kafe ini di urutan pertama dari perusahaan, produk, dan restoran yang diboikot. Islamonline menegaskan, aksi anti perusahaan kafe kelas internasional Starbuck ini mulai marak sejak dipublikasikannya sebuah artikel tulisan pemimpin pelaksana perusahaan tersebut, Howard Schultz, di situs Zayubidia yang sangat peduli dengan kepentingan Israel, dan dirinya menegaskan, perusahaannya memberikan sumbangan setengah keuntungannya untuk negara Israel sejak negara zionis melakukan invasinya ke Libanon.

Dalam artikelnya, Schultz berterimakasih kepada “pelanggan yang rela” membayar satu cangkir kopi yang mereka beli dari perusahaannya untuk mendukung dan menjaga keselamatan Israel dari serangan ‘teroris’. Ia juga mengingatkan kepada semua warga Yahudi untuk melindungi Israel.

Sejak dipublikasikan artikel inilah warga Saudi mulai menyebarkan informasi ini melalui pesan singkat (SMS) di telepon genggam yang menyerukan untuk melakukan boikot kafe Strabuck. Salah satu bunyi SMS ini adalah “hati-hati… anda mendu kung Yahudi dengan secangkir kopi… boikot Starbuck.” Dalam internet juga tersebar poster yang berbunyi “pemimpin perusahaan Starbuck menyumbang setengah keuntungannya untuk pemerintah Israel sejak aksinya memerangi Libanon… saya bersaksi kepada Allah dan malaikatnya bahwa saya memboikot Starbuck, Schultz dan Yahudi”.

Aksi boikot semakin mendapatkan angin segar dan dukungan luas ketika Dr. Abdul Wahhab bin Said Al Qahthani, asisten dosen fakultas Manajemen Strategis dan Pemasaran Universitas Malik Fahd bahwa Schultz, pemimpin perusahaan Starbuck adalah zionis di urutan pertama dan pendukung kental politik Israel. Menurut Qahthani membeli produk Starbuck sama bahayanya dengan penghinaan harian di Denmark terhadap Rasulullah beberapa waktu yang lalu. Sebab mereka mencari nafkah di negara-negara Arab dan Islam namun penghasilannya untuk mendanani aksi dalam memerangi Palestina, membunuh anak-anak, kakek nenek, wanita dan pejuang kemerdekaan. Menyumbang harta untuk mereka sama saja dengan mengina Islam dan umat Islam, tegas Qahthani.

Schultz sendiri, tegas Qahthani, pada tahun 1998 dalam perayaan ulang tahunnya ke 50 mendapatkan penghargaan dari Israel karena telah menyumbangkan dananya kepada Israel dan memperbaiki citra Israel serta menjelekkan citra anak-anak Intifadlah Palestina yang disebut Schultz sebagai teroris dan anti Semit Perang ekonomi, karenanya, pakar Saudi ini mengajak untuk menggalakkan boikot terhadap kafe-kafe Amerika. Ia mengatakan, budaya perang ekonomi harus diterapkan oleh umat Islam dengan memboikot perusahaan pendukung Israel. Sebab umat Islam tidak memiliki kekuatan militer untuk membela hak-hak mereka.

Menari di atas mayat saudara sendiri
Qahthani mengecam sikap umat Islam yang tidak mau melakukan aksi boikot “bagaimana kita menikmati minum kopi Starbuck dan kita sadar kalau harta kita disumbangkan untuk mendukung Israel agar semakin ganas membunuhi umat Islam”.
Para pendukung aksi boikot ini baik di ruang internet atau lewat telepon genggam banyak memandang bahwa langkah ini merupakan salah satu wujud jihad. Perusahaan kafe Starbuck belakangan mengumumkan laba pada kwartal kedua tahun 2006 ini mencapai 1,9 milyar USD. Dan kini ia sedang merencanakan membuka kafe 1800 baru di seluruh dunia hingga akhir tahun ini. Di Arab Saudi saja Caffe Shoop milik Starbuck beromset 15 milyar Reyal setiap tahun.

Kampanye anti produk Israel dan Amerika ditanggapi rakyat Saudi dengan antusias. Hal itu bisa dilihat melalui telepon genggam atau internet. Hingga hari ke 29 invasi ke Libanon, Israel sudah membunuh 1090 orang mayoritas kaum sipil, 30% anak, 3570 orang luka-luka serta lebih 1 juta orang mengungsi. Kerugian fisik diperkirakan bernilai milyaran USD menurut laporan resmi pemerintah Libanon. – (sumber : infopalestina.com)

http://swaramuslim.net/more.php?id=5274_0_1_0_m

“Kalau Saya Wanita Palestina, Siap Jadi Bom Martir !”

Jenny Tonge, anggota parlemen Inggris kemarin, Kamis (22/01) menyatakan bahwa kalau dirinya wanita Palestina, tentu akan berpikir menjadi pelaku aksi bom ‘syahid’. Pernyataan itu sendiri kemudian membuat banyak kontroversi di kalangan politikus Inggris.

Dalam wawancara dengan TV Inggris Sky News ia mencoba memahami keputus-asaan rakyat Palestina dengan mengatakan : “Saya paham kenapa orang-orang di sana menjadi penyerang-penyerang ‘bunuh diri’, itu karena keputus-asaan.” “Kalaulah saya pada posisi mereka, tentu akan berpikir sama dengan mereka,” tambahnya lagi seperti yang situs islamicnews.net hari ini, Jum’at (23/01).

Jenny Tonge, mantan juru bicara Partai Demokrat bidang pengembangan negara, partai ketiga di Inggris ini, menjelaskan bahwa dirinya akan memberikan pencerahan dalam masalah Palestina. “Mereka sedang dalam ujian berat sementara dunia menyaksikannya dengan mata kepala telanjang (namun tidak bergerak apa-apa, diam membisu tidak berbuat apa-apa – red.). Di sana butuh adanya upaya (merubah) sesuatu,” tambahnya lagi. – (COMES)

http://swaramuslim.net/more.php?id=1360_0_1_26_M

“Selama ini pemerintah Amerika Serikat itu buta; Amerika lebih Yahudi dari negara Zionis Israel sendiri, orang-orang Kristen pro-Yahudi yang tersebar luas di Amerika Serikat dan Inggris lebih bersemangat daripada kaum Yahudi itu sendiri. Oleh sebab itu, kita tahu Amerika dan Inggris mengambil langkah-langkah dan garis-garis kebijakan yang sama dalam memerangi umat Islam dan bangsa Arab. Kebijakan Amerika Serikat selalu memihak pihak musuh (Zionis Israel) secara total; sebaliknya, mereka tidak pernah melihat hak rakyat kami untuk melakukan perla wanan dan pembelaan diri. Mereka hanya melihat bahwa penjajah Israellah berhak untuk melakukan aksi-aksi serangan dan pembunuhan. Oleh sebab itu, kebijakan politik luar Amerika akan gagal. Perlawanan umat Islam dan ancaman atas kepentingan politik dan ekonomi mereka di wilayah-wilayah umat Islam harus dilakukan sampai negara-negara tersebut bangun dan sadar hingga menarik kebijakan luar negeri mereka yang merugikan itu. Amerika Serikat juga tidak dapat memberi solusi atas persoalan yang kami hadapi, namun sebaliknya mereka bekerja untuk kepentingan dan keamanan Penjajah Israel di Palestina. (Sheikhul Mujahidin Ahmad Yasin)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M


P a l e s t i n a

September 11, 2007

Yang pertama terlintas dalam pikiran seorang muslim bila mendengar kata “Palestina” adalah Masjid Al Aqsa, Kota Al Quds (Yerusalem) dan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Hal itu dikarenakan, terutama dari ketiga hal tersebut terpancar makna yang amat dalam dan erat hubungannya dengan aqidah, ibadah, jihad, Qur’an dan rasulullah SAW. Dari ketiga hal tersebut merupakan simbol peralihan kepemimpinan dari seluruh ummat manusia kepada ummat Muhammad SAW, sebagaimana firman Allah SWT, yg artinya, :” Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (QS.Al Baqarah : 124).

Namun dengan pandangan picik, mulut-mulut para pembesar Yahudi, Amerika dan konco-konconya meneriakkan bahwa Palestina adalah milik masyarakat Yahudi. Dan mereka mengaku-aku, bahwa Al Quds adalah ibu kota negerinya. Sungguh ini bukan sekedar tudingan yang tidak ada dasarnya, seorang Perdana Menteri Yahudi, Ehud Barak, telah berani secara terang-terangan mengatakan, “Kelak Yerusalem akan menjadi sebuah kerajaan yang besar, lebih besar dari masa-masa sebelumnya, bahkan lebih besar dibanding saat pemerintahannya dipegang oleh Daud. Yerusalem akan menjadi kota pemersatu (Yahudi) dan kota yang diakui kalangan internasional sebagai ibu kota Israel”.(Al Ahram Al Qahiriyah, 1 Rajab 1421, 29/9/2000, hal : 1).

Disaat yang sama, Ariel Sharon, pemimpin partai oposan Israel (saat ini jabatan perdana menteri telah beralih ke tangannya) berusaha keras untuk memmbabat habis eksistensi Arab dan Islam dari bumi Palestina, khususnya Al Quds. Maka dikirim 3.000 pasukan untuk melindungi dirinya saat membuat provokasi di Al Quds pada bulan Rajab 1421H (atau 29 September 2000), tanggal tersebut bertepatan dengan hari pembebasan Palestina oleh Shalahuddin Al Ayyubi pd bulan September 1187 M atau Rajab 583 H.
Yang menyedihkan, sejak provokasi tersebut, dunia menyaksikan dengan sikap diam seribu bahasa, Yahudi mulai melakukan Collective Extermination (pembantaian massal) terhadap kaum muslimin Palestina dengan sangat biadab. Demi melihat berbagai kezalimaan yang terus dilakukan Yahudi, maka Amerika juga konco-konconya yg kemana-mana terus membual tentang demokrasi dan hak asasi manusia, mereka hanya melirik sebelah mata, bahkan menganggap tidak ada apa-apa segala perilaku destruktif, diskriminatif, manipulatif, yg dilakukan Yahudi. Pembunuhan anak-anak, kaum wanita, orang-orang jompo, hingga darahnya terus membasahi bumi suci itu.

Sadarlah wahai kaum muslimin, motto Yahudi, menjadikan kota Al Quds sebagai ibu kota Israel, dan langkah-langkah membebaskan Palestina tersebut dari bangsa Arab dan umat Islam. Motto ini pertama kali disuarakan oleh para tokoh agama yahudi dengan alasan, bahwa Palestina adalah negeri yang dijanjikan Allah untuk umat Yahudi melalui lisan ‘rasul-rasulnya’. Berbagai rekayasa telah mereka laksanakan untuk pencapaian tujuan tersebut, dipelopori oleh Hertzl dengan mendirikan negara Yahudi secara politis. Dan seluruh umat Yahudi yang masih tersebar di berbagai belahan dunia kelak akan diminta pulang kembali ke ‘tanah yang dijanjikan’ tersebut. Namun usaha ini tidak mudah, karena banyak juga orang Yahudi yang sudah terlanjur suka berdomisili di tanah ‘rantau’, enggan disuruh tinggal di ‘tanah yang dijanjikan’. Menyadari kenyataan ini, maka para rahib dan petinggi Yahudi merubah strategi, bukan lagi pendekatan politik yang dilakukan, tetapi pendekatan agamis. Dan ternyata pendekatan inilah yang akhirnya menggugah hati kebanyakan bangsa Yahudi ‘diperantauan’, apalagi menurut ‘aqidah’ bathil Yahudi, bahwa Palestina adalah satu-satunya negeri yang dijanjikan oleh tuhan. Maka dengan berbagai usaha para ‘perantau’ itu pun mendukung, menyokong, menyumbang, membantu berbagai usaha untuk membebaskan tanah Palestina dari bangsa Arab dan penduduk Islam.

Pada perang dunia I dan II, Inggris punya banyak negara jajahan, baik di daerah Timur Tengah dan Afrika. Uganda salah satu daerah jajahannya pernah ditawarkan kepada bangsa Yahudi untuk tempat domisili baru bagi para Yahudi perantau. Namun daerah Uganda itu ditolak para Yahudi ‘perantau’ dan Konferensi Zionis, dikarenakan kemiskinan dan kekayaan alamnya yang terbatas. Begitu pula sebelumnya, yakni pada th.1902 pernah ditawarkan daerah Sinai yang teduh untuk pemukiman Yahudi, tapi daerah ini ditolak pula, alasannya daerah tersebut masih jadi wilayah kekuasaan Daulah Utsmaniyah. Begitu juga halnya ketika ditawarkan daerah di tepian sungai Yordania, tetap ditolak oleh mereka. Kemudian muncul ide untuk memilih daerah Palestina, yg mana ide ini dimulai oleh seorang Yahudi Perancis (Musaheis), kemudian ditindak lanjuti oleh Hertzl. Ide ini langsung disetujui oleh Inggris, karena jumlah imigran Yahudi dari Rusia dan Eropa Timur terus saja bertambah, dan lagi ada alasan menempati Palestina karena merupakan warisan keagamaan menurut para rahib Yahudi. Dan sangat klop dengan semangat Eropa yang tidak begitu suka dengan bangsa Yahudi.

Sejak saat itulah Inggris, dan Eropa pada umumnya mendukung proyek Zionis, sekaligus untuk mengacaukan negara-negara Islam, termasuk untuk melakukan tekanan-tekanan thd Daulah Utsmaniyah, maka ditancapkanlah sosok-sosok manusia asing di negara tersebut, yang siap menyedot sumber daya, kekuatan dan kekayaannya. Dari sinilah terungkap bualan dan ketidak-benaran seruan nasionalisme, demokrasi, hak asasi manusia yang selalu mereka dengungkan. Padahal klaim terhadap negeri ‘yang dijanjikan’ (Palestina) itu adalah dusta belaka. (Baca : Al Imbarialiyah wa Shayyuniyah, Dr.Busyair Nafi’, hal : 82 atau baca juga : Al Quds Arabiyah islamiyah, Dr.Faraj Rasyid, hal 207).
Maka sejak saat itulah, yakni sejak munculnya ide dari Hertzl yang berhasil mengetuk emosional seluruh bangsa Yahudi, maka Hertzl dan para pengikutnya mulai merancang untuk menjatuhkan pemerintahan Sultan Abdul Hamid II, khalifah umat islam yg saat itu merupakan ganjalan yang sangat diperhitungkan, dan akan meng halangi mimpi Yahudi untuk menguasai Palestina. Sejak saat itulah bangsa Yahudi dikomandoi oleh International Jewish Conference, dan dibantu oleh bangsa-bangsa kafir yang tidak menyukai Islam, mulia melakukan perongrongan terhadap khalifah Islamiyah.

Puncaknya adalah ketika menteri luar negeri Inggris pd tanggal 2 nopember 1917, di Balfour, memberi wewenang kepada Yahudi International untuk mendirikan sebuah negara yang resmi di tanah Palestina. Sejak peristiwa Balfour inilah, kemudian banyak peristiwa begitu terjadi, dalam waktu relatif cepat. Dan pada tgl. 15 Mei 1948 Israel memproklamirkan berdirinya negara tersebut di atas tanah Palestina. Hanya dalam tempo 8 menit kemudian Rusia menyatakan setuju atas berdirinya negara Israel, disusul setengah jam kemudian oleh Amerika. Kedua negara kafir ini menyatakan, “Israel memang tercipta untuk menempati daerah itu (Palestina)…”.

Pemutar-balikan ayat-ayat Al Qur’an

Tidak lama kemudian dunia Islam dikejutkan oleh pernyataan seorang perdana menteri Israel, Menaham Beigin, dalam upayanya merekayasa keabsahannya menduduki tanah Palestina, dia membuat pernyataan-pernyataan berikut :

“Sesungguhnya hak Israel atas Palestina secara historis adalah merupakan hak abadi, yang diperkuat oleh kitab-kitab yang diantaranya adalah Al Qur’an sendiri”.

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”. (QS.Al Maidah : 21)

Itulah salah satu ayat Al Qur’an yang dimanipulasi, padahal maksud sebenarnya dari ayat di atas adalah: tanah Palestina itu ditentukan Allah bagi kaum Yahudi selama mereka iman dan taat kepada Allah. Membaca ayat di atas seharusnya tidak diputus sampai disitu saja, karena ayat 21 itu masih dilanjutkan kisahnya pada ayat-ayat berikutnya. Kalau ditelaah ayat-ayat lanjutannya, maka akan terlihat jelas rekayasa ucapan di atas. Tidak semestinya hanya diambil ayat 21 saja untuk dijadikan dalil, karena ayat-ayat berikutnya adalah penjelasan ayat 21 tersebut. Bahkan dalam tafsir Ibnu Katsir, tercatat bahwa mulai ayat 20-26 adalah merupakan satu bahasan pokok.

Bunyi ayat-ayat tersebut selengkapnya adalah sbb :

TENTANG : KEENGGANAN BANGSA YAHUDI MENTAATI PERINTAH NABI MUSA A.S MEMASUKI PA LESTINA DAN AKIBATNYA.

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”. (QS.Al Maaidah : 20).

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu [a], dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS.Al Maaidah : 21)

“Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya”. (QS.Al Maaidah : 22)

“Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.” (QS.Al Maaidah : 23)

“Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”. (QS.Al Maaidah : 24)

“Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”. (QS.Al Maaidah : 25)

“Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (QS.Al Maaidah : 26)

keterangan : [a] Maksudnya: tanah Palestina itu ditentukan Allah bagi kaum Yahudi selama mereka iman dan taat kepada Allah.

Itulah susunan ayat selengkapnya, Allah SWT berfirman, memberitahukan tentang hamba, dan rasul-Nya, sekaligus kalim-Nya (orang yang diajak bicara oleh Allah SWT), yakni Musa bin ‘Imran berkaitan dengan peringatan yang disampaikan oleh Musa kepada kaumnya (bangsa Yahudi), mengenai nikmat-nikmat Allah yang telah di anugerahkan kepada mereka, serta karunia yang Allah limpahkan kepada mereka, serta penyatuan nikmat dunia akhirat oleh-Nya, jika mereka tetap berada di jalan yang lurus.

Selanjutnya Allah SWT memberitahukan ajakan Musa kepada bangsa Yahudi untuk berjihad dan memasuki Baitul Maqdis yg pd jaman nenek moyang mereka, yaitu Ya’qub, Baitul Maqdis tersebut berada di tangan mereka. Setelah Ya’qub beserta keluarganya pergi ke Mesir pd masa pemerintahan nabi Yusuf, dan mereka menetap di Mesir hingga akhirnya mereka meninggalkan Mesir bersama nabi Musa.
Ternyata disana mereka mendapatkan bangsa Amaliq yang gagah perkasa telah menakutkan dan menguasainya. Maka nabi Musa menyuruh mereka itu untuk memasuki negeri itu dan memerangi musuh-musuh mereka itu. Setelah itu Musa menyampaikan kabar gembira berupa kemenangan & keberuntungan atas mereka. Namun mereka membangkang, mendurhakai dan menentang perintahnya, sehingga mereka dihukum agar pergi ke padang Tiih (padang Sahara yang sering membingungkan dan menyesatkan orang) dan berkutat (berputar-putar) pada perjalanan mereka dalam keadaan bingung, tidak tahu bagaimana mereka harus mencapai tujuan, selama 40 tahun, sebagaimana hukuman bagi mereka akibat sikap meremehkan terhadap perintah Allah SWT. (kisah kelanjutannya silahkan dibaca dalam tafsir Ibnu Katsir, juz 6 hal : 61 dst).

Setelah merekayasa ayat al Qur’an, perdana menteri tersebut masih menambah lagi dengan pernyataan yang meng-klaim bahwa Al Quds adalah milik Israel saja, bukan untuk bangsa lain. “Sesungguhnya Allah telah menjadikan kota Al Quds khusus buat kami bangsa Yahudi saja, bukan untuk bangsa lain. Oleh sebab itu tidak boleh ada seorang pun yang berseteru dengan kami mengenai kota tersebut”. (Al Quds Qodhiyyatu Kulli Muslim, DR.Yusuf Qorodhowi, hal.97)

Menyadari kenekadannya hingga berani merekayasa ayat Al Qur’an, menyadari bahwa mereka telah nekad meng-klaim kota Al Quds hanya untuk Yahudi saja. Maka buat apa bermanis muka dengan Yahudi ini. Harun Yahya mengingatkan, “Dalam rentang waktu hampir satu abad, jutaan orang tak berdosa telah terbunuh oleh teror, pembantaian, dan penyiksaan bangsa Israel. Jutaan orang Palestina yang tak bersalah dipaksa keluar dari rumah dan tanah air mereka dan terpaksa hidup dalam kemiskinan, terancam kelaparan, dalam kamp-kamp pengungsian. Semua upaya untuk menyelesaikan penindasan dan kekejaman, yang disaksikan oleh dunia, dan untuk membangun sebuah perdamaian wilayah yg berkesinambungan telah gagal. Pembicaraan-pembicaraan perdamaian palsu yang dilakukan di bawah sokongan pemerintahan Barat terbukti tak ada gunanya, selain memberi kesempatan Israel melaksanakan taktik baru untuk membersihkan wilayah yang ditempatinya dari penduduk Palestina. Palestina lebih dari sekedar perang antara Arab dengan Israel. Sebuah perjuangan untuk hidup tengah dilakukan oleh bangsa Palestina, yang tanah dan hak-haknya dirampas paksa oleh kekuatan pendudukan Israel. Lebih-lebih lagi, tanah yang kita bicarakan ini berisi tempat-tempat yang suci bagi umat Islam. Palestina itu sangat penting bagi umat Islam karena Yerusalem adalah kiblat pertama umat Islam, dan tempat mikraj (perjalanan malam) Nabi Muhammad SAW. Di samping itu, Palestina itu tidak hanya suci bagi umat Yahudi dan Islam, melainkan juga bagi umat Nasrani.”

“Satu kenyataan penting tidak bisa diabaikan: Orang-orang Palestina menderita kekejaman dan penghinaan dan seluruh dunia menyaksikannya. Sementara warga Palestina setiap hari menjadi sasaran peluru tentara Israel, sementara jutaan manusia menjalani bertahun-tahun dalam kelaparan dan kemiskinan di kamp-kamp pengungsian, sementara banyak orang Islam (termasuk wanita) disiksa di penjara-penjara Israel. Maka sebuah tanggung jawab serius pun dibebankan kepada semua orang Islam yang beriman kepada Allah dan takut kepada Hari Pembalasan. Ketika Anda membaca tulisan ini, ketahuilah bahwa perjuangan ribuan orang-orang Palestina yang tertekan untuk bertahan di tanah ini terus berlanjut dalam semua kekerasannya. Tentara pendudukan Israel mungkin tengah mengebom kota-kota Palestina atau kamp-kamp pengungsian. Di setiap bagian Jalur Gaza, Tepi Barat, atau Yerusalem, orang -orang Palestina hari ini menanggung penindasan dan kekejaman yang sebagian besar karena mereka adalah orang Islam.”

Tanggung jawab kita karena mengikuti berita-berita di media massa tentang kekejaman dan perbuatan tak berprikemanusiaan ini, tapi kemudian terus menjalani keseharian seolah-olah tak ada yang terjadi, tak disangkal lagi akan menjadi beban teramat berat untuk ditanggung. Sebenarnya, Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa setiap orang yang beriman dan yang memiliki kesadaran akan yang hak dan yang batil bertanggung jawab untuk berjuang atas nama orang-orang yang tengah tertindas.
“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau !” (Qur’an, 4:75).

Tanggung jawab yang ditanggung oleh orang-orang yang mendengar ayat tersebut dan mau mengucurkan bantuan kepada orang yang mengalami kekejaman, diterangkan oleh: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran :104).

Tanggung jawab kita adalah melawan ideologi rasis, sosial Darwinisme yang mementingkan ras dan tidak toleran, yang menjadi dasar semua ketidakadilan dan ketidak bijaksanaan di dunia.

Tanggung jawab kita adalah mengajak semua manusia untuk beriman kepada Allah dan memperlihatkan keindahan akhlak agama, dan menjalankan perjuangan intelektual melawan semua ideologi yang membenci agama Allah dan tata prilaku Al-Qur’an.

[Disarikan dari :
1. 10 Fakta Di Balik Klaim Yahudi Atas Baitul Maqdis, Dr.Abu Hudzaifah Muhammad Ad Dasuqi, Pustaka At Tauhid, Jakarta.
2. Tragedi Palestina, Harun Yahya-www.harunyahya.com]

SEORANG TENTARA ISRAEL MELUKISKAN KEKEJAMANNYA

Serangan Libanon pertama saya adalah pada tahun 1986. Saya wajib militer Israel berusia 19 tahun, dan peleton penerjun payung saya dikirim ke suatu desa yang saya lupa namanya. Kami mendobrak pintu sebuah rumah, memeriksa keluarga di dalamnya, dan mengeluarkan seorang pria berusia separuh baya. Setelah menutup matanya dan mengikat tangannya di belakang punggungnya, kami membawanya ke sebuah jalanan sepi, memaksanya berlutut, dan menaruh senjata di kepalanya, mengancam menembak jika ia tidak bicara. Seorang petugas perdamaian PBB muncul dan meng akhiri insiden itu, tapi masih akan ada lagi yang terjadi.

Hari berikutnya kami melakukan hukuman mati yang tidak masuk akal atas seorang anak Libanon berusia 10 tahun. Kami memaksa keluarganya masuk dapur dan menyeretnya ke samping kebun. Letnan saya memasukkan kepalanya ke dalam kotoran dan saya memukulkan senapan saya ke kepalanya. Meskipun tentara itu mengancam menembak kepalanya, bocah itu tidak menjawab, tetap membisu …

Saya adalah prajurit pindahan dari satuan lain, dan rekan saya lebih terbiasa dengan aksi seperti ini … Orang desa yang sudah tua, wanita, dan anak kecil di jebak di rumah mereka, diperintah menjalani jam malam 24 jam. Para lelaki mereka dikumpulkan di suatu ruangan terpusat, mata ditutup, dan diseret untuk disidik.

Kebrutalan tak bertanggung jawab ini tak terbatas pada prajurit berpendapatan rendah. Omri, anak seorang pejabat terpandang, suka menembak dengan memberondong orang-orang desa yang mengintip melalui pintu-pintu … Selama serangan bulan-bulan pertama, Israel membunuh 12.000 hingga 15.000 orang dan kehilangan 360. Meskipun korban di pihak Israel itu adalah para prajurit, sebagian besar korban mereka (Palestina) justru orang-orang sipil.

James Ron, penulis artikel ini, asisten profesor sosiologi pada John Hopkins University, adalah seorang penyidik lapangan sebuah kelompok hak asasi manusia. (Boston Globe, 25 Mei 2000)

{Note : This website is based on the works of HARUN YAHYA}

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,” (QS.Al Hajj : 39-40)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M


Negara Palestina dan Mimpi Bangsa Kafir

September 11, 2007

Selain Yahudi, kelompok penting di balik Bush adalah neo-konservatif yang berbahaya. Merekalah yang mempengaruhi kebijakan luar negeri AS di dunia Islam.
[Baca CAP (Catatan Akhir Pekan} Adian Husaini, MA ke : 77]

Belum lama ini cendekiawan terkenal Inggris Ziauddin Sardar dan seorang wartawati dan seorang antropologist bernama Merryl Wyn Davies menerbitkan buku berjudul American Dream, Global Nightmare (2004), (Mimpi Amerika, Mimpi Buruk Dunia). Buku ini merupakan kelanjutan dari buku terkenal mereka: “Why Do People Hate America ?” (Mengapa Orang Benci Amerika ?). Dalam buku ini mereka mengungkapkan AS begitu dibenci oleh banyak manusia, karena invasi dan infeksi berbagai produk dan budayanya ke berbagai budaya asli dari jutaan penduduk dunia. AS adalah ‘hyperpower’ pertama di dunia yang menjalankan politik luar negerinya dengan ditopang kekuatan militer yang belum pernah ada tandingannya dalam sejarah dunia. AS pun mengekspor sistem nilai mereka, menentukan negara mana yang beradab, rasional, dan demokratis. Bahkan, mana yang manusiawi dan tidak.

Kini, dalam buku barunya, American Dream, Global Nightmare, Ziauddin Sardar dan Merryl Wyn Davies, lebih jauh memaparkan, bagaimana impian AS akan menjadi mimpi buruk bagi umat manusia. Buku ini ditulis sebelum Presiden George W. Bush memenangkan pemilihan Presiden untuk periode kedua, melawan John Kerry. Dan tentu saja, kemenangan Bush akan semakin mengkhawatirkan banyak umat manusia di muka bumi. Masa depan perdamaian dunia akan semakin pudar, jauh dari harapan umat manusia. Perang atas terorisme bisa diperkirakan akan semakin panjang, sebab sejatinya ada agenda utama lain dibalik slogan (propaganda) “War Againts Terrorism”.

Mengapa dikatakan ada agenda lain ? Karena definisi tentang “terrorism” itu sendiri tak pernah jelas. Pada 11 September 2003, Harian terkemuka di Timur Tengah, Al-Syarqul Awsat, menulis, bahwa setelah dua tahun peristiwa 11 September 2001 berlalu, AS masih belum mampu mengatasi aksi terorisme. Bahkan perluasan konsep terorisme yang dipegangnya menciptakan banyak masalah baru. “Dua tahun setelah peristiwa 11 September seharusnya AS sadar bahwa konsep terorisme yang dipegangnya tidak relevan dan harus mendengar usul dunia Arab sebab terbukti AS makin kepayahan menghadapi aksi tersebut,” demikian Al-Sharqul Awsat. Diingatkan, agar AS mendengar usul dunia Arab untuk menyepakati terlebih dahulu definisi dan maksud dari terorisme. “Usul Arab agar terlebih dahulu menentukan definisi terorisme yang disetujui dunia adalah salah satu cara untuk keluar dari perang jangka panjang dan melelahkan. Kita berharap agar kejadian di Irak menyadarkan kelompok konservatif di Washington,” demikian laporan harian terbesar Arab itu.

an logis semacam itu sebenarnya terlalu banyak telah diluncurkan berbagai kalangan internasional. Namun tidak dipedulikan oleh ‘sang penguasa’ itu. Berbagai paradoks terus dibiarkan berjalan. Logika-logika yang saling bertabrakan dipaksakan karena memang AS dan sekutu-sekutunya memegang hegemoni politik, ekonomi, militer, dan informasi. Banyak pemimpin negara berpikir serius jika sampai tidak mendapat restu dari AS. Maka demi mempertahankan kekuasaan atau kemaslahatan tertentu, berbagai paradoks dlm terorisme itu terpaksa harus dibiarkan terjadi. Maka, bagi masyarakat AS yang memahami masalah sebenarnya, dan bukan hanya terpukau oleh opini media massa, bisa dipahami, jika kemenangan Bush atas saingannya John Kerry memunculkan keresahan dan protes keras dari berbagai kalangan rakyatnya. Berbagai aksi protes digelar di AS, dengan membentangkan poster-poster anti -Bush dan anti-perang. Sejumlah poster terang-terangan menyebut Bush sebagai teroris. Bahkan, karena kecewa dengan kemenangan Bush, Andrew Veal (25), datang ke Ground Zero – bekas lokasi Gedung WTC – dan melakukan aksi bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri. Di Malaysia, mantan Perdana Menteri Mahathir Mohammad menyatakan rasa duka cita atas kemenangan Bush. “Saya sungguh duka cita dengan perkara ini dan sudah tentu Bush akan membawa malapetaka kepada Islam dalam tempo empat tahun akan datang,” kata Mahathir, seperti dikutip koran Berita Harian (edisi tgl.8/11/2004).

Bagi yang mencermati perkembangan politik AS, kemenangan Bush sebenarnya tidak sulit diperkirakan. Hegemoni kelompok neo-konservatif dalam dunia publikasi, keuangan, dan pemerin tahan AS sudah sangat dominan dan sulit ditembus. Majalah Time, edisi 6 Septem ber 2004, memuat ‘cover story’ berjudul “The World According to George Bush”. Majalah ini membuat polling yang menunjukkan Bush meraih dukungan 46 persen suara dibandingkan Kerry yang meraih dukungan 44 persen. Kepada majalah ini, Bush mengungkapkan visinya tentang politik luar negeri AS yang tegas dan tidak mengenal kompromi, politik yang mengandalkan kekuatan militer, dan bukan politik yang rendah hati (humble). Tim Bush tidak ingin mengikuti garis politik yang ‘humble’ agar dihormati dunia. Sebab, menurut mereka, tantangan utama memecahkan ancaman besar yang dihadapi negara itu. Maka, dalam soal Irak, tim Bush berpendapat, bahwa dukungan internasional akan diraih AS, jika AS menang perang. “The way to win international acceptance is to win,” kata seorang pembantu senior Bush.

Untuk melegitimasi pembangunan kekuatan militer, harus ada ancaman yang dianggap riil oleh publik AS. Karena itulah, mitos-mitos tentang ancaman terorisme yang dibangkitkan oleh Bush dalam kampanye untuk menarik dukungan rakyat ternyata cukup ampuh untuk meraup suara. Dalam “American Dream, Global Nightmare” Ziauddin Sardar dan Merryl Wyn Davies, mencatat adanya 10 hukum dalam mitologi Amerika (the ten laws of American mythology).
Ke-10 hukum dalam mitologi Amerika itu ialah: (1) Fear is essential, (2) Escape is the reason for being, (3) Ignorance is bliss, (4) America is the idea of nati on (5) Democratisation of everything is the essence of America, (6) American de mocracy has the right to be imperial and express itself throuh empire, (7) Cine ma is the engine of the empire (8) Celebrity is the common currency of empire, (9) War is necessity, (10) American tradition and history are universal narrati ves applicable across all time and space.
“Ketakutan”, tulis Sardar dan Davies, “adalah esensial bagi AS”. Tanpa ‘ketakutan’ tidak ada AS. Ketakutan adalah energi yang memotivasi kekuatan dan menentukan aksi dan reaksi. Dalam kasus kemenangan Bush, formula “menjual ketakutan” ini tampak meraih sukses. Ketakutan dapat menghilangkan logika sehat. Isu keamanan menjadi sentral, bahwa rakyat AS memang selalu berada dalam ancaman teroris Islam, terutama dari jaringan Al-Qaeda. Entah mengapa, menjelang pemilihan Presiden AS, video Osama yang mengancam AS, lagi-lagi muncul & disiarkan luas oleh jaringan televisi internasional. Ini mirip dengan kemenangan John Howard yang mengiringi peledakan bom di Keduataan Australia di Jakarta.

Apa yang ditulis oleh Huntington dalam bukunya, Who Are We ? bahwa peristiwa 11 September 2001 mengakhiri pencarian AS terhadap musuh baru pasca berakhirnya Perang Dingin, juga menyiratkan adanya rancangan yang matang tentang mimpi global sebuah imperium bernama “Imperium Americanum”. Sebuah imperium yang merupakan superpower tunggal di muka bumi, tanpa saingan. Rancangan ini dibuat oleh kelompok yang populer dengan sebutan “neo-konservatif” (neo-kon). Kemenangan Bush tidak dapat dilepaskan dari kerja kelompok neo-kon. Adalah sulit membayangkan John Kerry memenangkan pemilihan Presiden AS. Sebab salah satu programnya adalah menarik tentara AS dari Irak – sebuah kondisi yang mirip dengan kasus Perang Vietnam dan sikap John F. Kennedy. Sejak berakhirnya Perang Dingin, kelompok neo-kon sudah merancang agenda global dlm politik internasional. Isu-isu global dirancang dengan matang. Salah satu isu utama adalah doktrin “the clash of civilizations” yang secara resmi diterima sebagai kebijakan politik pada Konvensi Platform Partai Republik George W. Bush di Philadelphia, 3 Agustus 2002. Banyak agenda penting disepakati dalam konvensi tersebut. Diantaranya, unilateralisme AS dan statusnya sebagai “the only super power” harus tetap dipertahankan; ditetapkannya ‘the rogue states’ (negara-negara jahat) sebagai musuh baru – tanpa memberikan definisi apa yang dimaksudkan dengan ‘rogue state’. Definisinya diserahkan kepada imajinasi dan ketentuan “The Shadow Power”; juga diputuskan bahwa rezim Saddam Hussein harus diganti. Tidak semua agenda kelompok neo-kon ini telah tercapai. Misalnya, rencana mereka untuk memindahkan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Jerusalem. – (Abdulhay Y. Zalloum, Painting Islam as The New Enemy, (Kuala Lumpur: Crescent News: 2003).

Dalam bukunya, Sardar dan Davies juga menyebut peran kelompok neo-konservatif dalam penentuan kebijakan luar negeri AS. Kelompok pemikir (think-tank) neo-kon dikenal sebagai Project for the New American Century (PNAC), yang didirikan oleh Dick Cheney, Donald Rumsfeld, Paul Folfowitz, Richard Perle, dan tokoh-tokoh neo -kon lainnya. Proyek ini dirancang sejak awal 1990-an. Namun, terhenti dengan kemenangan Clinton. Proyek neo-kon berlanjut lagi dengan kemenangan Bush yunior dan semakin menemukan momentumnya pasca 11 September 2001. Salah satu proyek terkenal diluncurkan pada September 2000 berjudul “Rebuilding America’s Defenses: Strategy, Forces, and Resources for a New Century”. Dikatakan, bahwa saat ini AS tidak menghadapi rival global. Strategi besar AS harus diarahkan untuk mengambil keuntungan dari posisi ini semaksimal mungkin. Rancangan Pertahanan yang disusun oleh Paul Wolfowitz berkaitan dengan Tata Dunia Baru menyebutkan: “Our first ob jective is to prevent the reemergence of new rival.”

Michel Colin Piper, melalui bukunya “The High Priests of War” (2004) menyebutkan , belum pernah dalam sejarah AS terjadi dominasi politik AS yg begitu besar dan mencolok oleh ‘tokoh-tokoh pro-Israel’ seperti dimasa Presiden George W. Bush. Sebagian besar anggota neo-kon adalah orang Yahudi. Salah satu gerakan besar kelompok ini adalah memaksakan serangan AS atas Irak, meskipun elite-elite militer AS dan Menlu Colin Powell sendiri, semula menentangnya. Jaringan neo-kon bisa di katakan semacam kolaborasi “the unholy trinity” (Zionis Israel-Kristen Fundamentalis-imperialisme AS), yang telah berhasil menjadikan Presiden Bush sebagai kendaraan untuk menjalankan satu kebijakan berbasis pada ‘unilateralism’, ‘preventive war’ (menyerang terlebih dulu terhadap negara/bangsa yang dicurigai akan menyerang AS), dan ‘permanent mobilisation’, Kata Piper. “President Bush seems to be driven by Christian fundamentalism and strong influence of the Jewish lobby.”

Dalam wawancara dengan Time, 6 September 2004, Bush juga menegaskan tekadnya untuk mewujudkan sebuah negara Palestina “merdeka”. Kata Bush, “As you know, I’m the fisrt President ever to have articulated a position that there ought to be a Palestinian state. I believe that a Palestinian state will emerge.” Bush ingin menunjukkan bahwa kasus Iraq dapat dijadikan contoh untuk menumbangkan sistem pemerintahan dimana satu orang dapat menentukan nasib seluruh rakyatnya. Ia menunjuk pada figur Yasser Arafat, yang ia sebut sebagai “a failed leader” (pemimpin yang gagal). Ia bangga, dan merasa dialah pemimpin pertama yang menyatakan hal itu tentang figur Arafat. Kini, Arafat sudah pergi. Apakah impian Bush untuk terbentuknya sebuah negara Palestina merdeka akan terwujud ? Mungkin saja, jika para pemimpin Palestina selepas Arafat mau berkompromi soal pembagian wilayah Tepi Barat, khususnya soal Jerusalem. Namun, ini tidak mudah, dilihat dari dua sisi, baik sisi Israel maupun sisi Palestina. Yang mungkin terjadi adalah menjadikan Jerusalem di bawah pengawasan internasional, atau satu Tim beranggotakan berbagai negara – termasuk sejumlah negara Arab. Kita tunggu saja, bagaimana skenario Bush akan berjalan. Yang pasti, masalahnya, Bush dan AS, juga Israel, memang tidak lagi melihat negara Palestina sebagai ancaman. Sebab, ancaman utama bagi mereka adalah para pejuang Palestina yang mereka cap sebagai “fundamentalis”, “militan”, “atau “teroris”, seperti “Jihad Islam”, dan “Hamas”.

Khalil Shikaki, profesor ilmu politik di Universitas Nasional an-Najah Nablus, dalam artikelnya berjudul “Peace Now or Hamas Later” mencatat ada tiga kekuatan politik utama di Palestina saat perjanjian Oslo ditandatangani, yaitu :
(1) Kekuatan utama, yaitu kelompok nasionalis. Secara ideologis, kelompok yang dipimpin oleh Arafat dan Fatah — faksi terbesar di PLO — adalah “semi-sekular pragmatis”. Kelompok utama ini menolak Islam politik dan mengadopsi sejumlah pemikiran demokrasi;
(2) Kelompok oposisi nasionalis kiri, yg memiliki dua kekuatan utama yaitu Front Palestina untuk Kemerdekaan Palestina (Popular Front for Liberatuon of Palestine /PFLP) dan Front Demokrasi untuk Kemerdekaan Palestina (Democratic Front for Li ration of Palestine/DFLP), yang lebih kiri, sekular, dan menolak demokrasi Barat atau kapitalisme. Kelompok ini menolak Kesepakatan Oslo dan tidak terlibat dalam perundingan Oslo, sehingga memboikot pemilu 1996 di Tepi Barat dan Jalur Gaza;
(3) kelompok Hammas dan Jihad Islam. Kedua kelompok ini sangat menekankan pada perilaku individual, mengadopsi nilai-nilai politik Islam, dan berusaha mendirikan negara Islam. Mereka juga menolak perdamaian dengan Israel — termasuk kesepakatan Oslo — dan bahkan menolak legitimasi negara Israel. (Jurnal Foreign Affairs, Agustus 1998.)

Edward N. Luttwak dalam tulisannya berjudul “Strategic Aspecs of U.S.–Israeli Relations”, menyebutkan, saat ini, para pembuat kebijakan di AS dan Israel cenderung merasa bahwa Islam “fundamentalis” adalah ancaman terhadap elite-elite Barat di negara-negara Islam, kepentingan-kepentingan keduanya (dan negara-negara Barat lainnya) di negara-negara Islam, bahkan kepentingan keduanya di negara masing-masing. Jadi, bisa dianalisis, karena adanya persepsi yang sama antara AS dan Israel tentang ancaman bersama, maka dibutuhkan juga satu negara Palestina yg mempunyai sikap yang sama dengan AS dan Israel. Dimana tugas utamanya adalah memberangus ‘gerakan-gerakan Islam’ di Palestina. Namun, rencana Bush ini juga tidak mudah, Neo-kon telah berhasil mementahkan Pembicaraan Camp David II antara Arafat dengan Ehud Barak, yang ketika itu sudah menyepakati pengembalian 99 persen Jalur Gaza. Lalu, dengan menjual isu “keamanan” dan “hak Yahudi” atas Jerusalem, Ariel Sharon memenangkan pemilu Israel, mengalahkan Barak tahun 2001. Pembentukan negara Palestina akan membentur tembok tebal yang sulit dijebol, yakni soal Jerusalem. Apalagi, kelompok neo-kon lebih mengikuti garis partaiLikud yang memegang kepercayaan “hak histories” bangsa Yahudi atas Jerusalem. Karena itu, dominasi kelompok neo-kon memang mengkhawatirkan banyak warga AS. Colin Piper sampai menyerukan melalui bukunya, “It’s time to declare war on The High Priest of War”. Sebab, agenda kelompok ini memang menyeret dunia ke kancah perang global. Dan serangan atas Irak adalah tahap pertamanya. Kelompok ini lebih bekerja dengan ideologi, dengan keyakinan, bukan dengan mengandalkan kepentingan dan logika. Michel Lind, seorang penulis AS, mengungkapkan, bahwa impian kelompok neo-kon untuk menciptakan sebuah “imperium Amerika” sebenarnya ditentang oleh sebagian besar elite perumus kebijakan luar negeri AS dan mayoritas rakyat AS. Lind juga menyebut, bahwa koalisi Bush-Sharon juga berkaitan dengan keyakinan, bukan karena faktor kebijakan. Itu bisa dilihat dari latar belakang Bush yg berasal dari keluarga Kristen fundamentalis. Kata Lind: “There is little doubt that the bonding between George W. Bush and Ariel Sharon was based on convicti on, not expedience. Like the Christian Zionist base of the Republican Party, George W. Bush was a devout Southern fundamentalist.”

Melihat kuatnya cengekeraman kelompok neo-kon dalam politik AS, wajar jika dunia pantas khawatir dengan kemenangan Bush yang kedua kali. Benarkah kekhawatiran Mahathir akan terbukti ? Benarkah dunia akan berhasil diseret menuju Perang Global dengan kendali Zionis Yahudi ? Mari kita lihat bersama-sama.
Wa makaruu wa makarallah. (Kuala Lumpur, 12 November 2004).

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1467&Itemid=0

“Biar seluruh kafir di dunia menjuluki kita teroris dan ekstrem, tetapi merekalah sesungguhnya sumber segala kejahatan dan terror. Bukankah seluruh dunia sekarang merasa terganggu oleh teror mereka ? Bukankah apa yang dilakukan Israel adalah teror ? Bukankah yang terjadi di Kashmir adalah teror ? Bukankah yang terjadi sekarang ini adalah penjajahan seluruh dunia Islam ? Bukankah mereka menjajah Iraq dan menyebar teror disana ? Bukankah mereka yang membunuhi ibu-ibu dan anak-anak kita di Afghanistan ? Bukankah itu semua terorisme ? . Tetapi jika kita mengangkat senjata untuk membela Islam kita, iman kita, agama kita, kita dituduh teroris dan ekstrem. Baiklah, jika semua pembelaan itu anda namakan te rorisme, maka ketahuilah kami memang teroris. Dan kami tahu benar bahwa semua itu hanya propaganda kotor kalian. Cukuplah Allah sebagai pelindung bagi kami, karena Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong.” (Mujahid : Mulla Bilal – divisi anticraft)

note : artikel di atas telah dimuat dalam llabbaik, edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M


Yahudi Sama Sekali Tidak Punya Hak atas Al-Quds

September 11, 2007

Al-Azhar : “Bangsa Yahudi Sama Sekali Tidak Punya Hak atas Al-Quds”

Otoritas tertinggi Muslim Sunni, Al-Azhar menegaskan bahwa Yahudi sama sekali tidak punya hak apapun yang dikaitkan dengan agamanya terhadap kota Al-Quds. Ketua Komite Dialog Antar Umat Beragama Al-Azhar, Sheikh Fawzi El-Zefzaf menyatakan, tidak ada istilah hak-hak suci di Al-Quds. “Al-Quds merupakan hak bangsa Palestina dan harus dikembalikan pada bangsa Palestina,” tegasnya.
Pernyataan itu dibenarkan oleh Profesor bidang agama Ibrani di Universitas Al-Azhar, Mohammad Abu Ghadir. Menurutnya, penggalian dan penelitian-penelitian geologi telah membuktikan bahwa Yahudi tidak punya hak untuk mengklaim tempat-tempat suci di Al-Quds. “Para ahli arkeologi Israel bahkan tidak pernah berhasil membuktikan bahwa ‘Tembok Ratapan’ adalah bagian dari apa yang disebut kuil Solomon,” papar Abu Ghadir. “Celakanya, dunia sudah salah meyakini bahwa orang Yahudi benar-benar memiliki tempat-tempat suci di Al-quds seperti halnya umat Islam dan Kristen, karena kuatnya kampanye dan propaganda media Israel (dan media-media milik orang kafir) yang mengaburkan fakta sejarah,” tambahnya.

Persoalan Al-Quds makin mengemuka, menyusul laporan sejumlah media massa kafir tentang akan diselenggarakannya sebuah konferensi yang akan melibatkan pemuka agama Islam, Kristen dan Yahudi untuk membahas tentang hak-hak berdasarkan agama masing-masing atas kota suci Al-Quds. Para petinggi di Al-Azhar sudah menyatakan menolak untuk ikut dalam konferensi tersebut. Sumber resmi di Al-Azhar mengatakan, Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Mohammad Sayid Tantawi tidak pernah menerima undangan untuk konferensi semacam itu. Sumber itu menegaskan, pendirian Al-Azhar tidak akan berubah untuk menolak segala bentuk dialog dengan Yahudi berkaitan dengan masalah Al-Quds. “Karena itu masalah ini masih menjadi perselisihan dan belum diselesaikan di arena politik,” katanya.
Ketua Komite Dialog Antar Umat Beragama Al-Azhar, Sheikh Fawzi El-Zefzaf, lebih lanjut mengatakan pihaknya tidak punya bayangan tentang penyelenggaraan pertemuan tersebut. Menurutnya, umat Islam tidak bisa dipaksa untuk melakukan dialog dengan Yahudi sementara Israel terus melakukan agresi terhadap bangsa Palestina.
“Kalau mau duduk dan bicara soal agama, pertama sekali, anda harus menghentikan agresi terhadap tempat-tempat suci yang bukan menjadi hak Israel. Israel sering kali melakukan serangan terhadap mesjid Al-Aqsa,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan Dekan Fakultas Ilmu Hukum Islam di Universitas Al-Azhar, Manei Abdel Halim. Ia mengatakan, tidak seorang pun yang akan mengabaikan hak-hak keagamaan bangsa Yahudi sepanjang mereka tidak melampaui hak-hak orang lain. “Tapi, sekarang ini, Israel sedang berusaha untuk mengklaim hak mereka atas mesjid Al-Aqsa, yang merupakan tempat suci ketiga bagi umat Islam. Umat Islam harus bergerak dan melindungi mesjid mereka serta memegang kendali di Al-Quds,” papar Abdel Halim.
Ambisi Israel untuk menguasai mesjid Al-Aqsa makin jelas setelah pada tanggal 16 Maret kemarin, saluran dua televisi Israel menayangkan sebuah video pertemuan rahasia para pendeta Yahudi dan kelompok ekstrimis kanan Yahudi, yang sedang membahas cara-cara menguasai kompleks mesjid Al-Aqsa. Beberapa bulan terakhir, badan keamanan Israel, Shin Bet sudah mengungkapkan kekhawatirannya akan kemungkinan serangan misil atau serangan udara yang akan dilakukan oleh individu atau kelompok Yahudi terhadap Al-Aqsa. Pasukan Israel sendiri, sudah beberapa kali menyerang Al-Aqsa dan terlibat bentrok dengan jamaah Muslim di mesjid itu. Yang pasti, selama ini Israel sudah melakukan berbagai cara untuk menguasai kompleks mesjid Al-Aqsa. Antara lain dengan membuat terowongan di bawah tanah. Para pakar arkeologi mengingatkan, tindakan Israel itu akan melemahkan pondasi mesjid Al-Aqsa dan bisa membuat mesjid itu tidak kuat guncangan gempa. Salah satu bagian pintu gerbang utama Al-Aqsa sudah runtuh pada bulan Februari 2004, akibat aktivitas penggalian yang dilakukan Israel.

Bangsa Yahudi Israel mengklaim bahwa kuil Solomon, tempat suci agama Yahudi, berada di dibawah Al-Haram Al-Sharif, yang meliputi lokasi wilayah mesjid Al-Aqsa. Bagi umat Islam, tempat ini sangat penting karena Al-Haram Al-Sharif menjadi kiblat pertama, petunjuk arah sholat bagi umat Islam dan menjadi tempat suci ketiga setelah Ka’bah di Mekkah dan mesjid Nabi Nabawi di Madina, Arab Saudi. Keberadaan mesjid Al-Aqsa sendiri tidak bisa dilepaskan dari peristiwa bersejarah bagi umat Islam yaitu, Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. – (dari : eramuslim).

http://www.agus-haris.net/modules.php?name=News&file=article&sid=515
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M