Abu Darda’

Januari 28, 2008

Uwaimir bin Malik Al Khazraji yang digelari Abu Darda’ bangun dari tidurnya pagi-pagi sekali. Setelah itu dia pergi menuju berhala sesembahannya di sebuah kamar yang paling istimewa di dalam rumahnya. Dia membungkuk memberi hormat kepada patung
tersebut, kemudian meminyakinya dengan wewangian mahal yang diambil dari tokonya yang besar. Sesudah itu patung tersebut diberi pakaian baru yang terbuat dari sutera indah yang
diperolehnya dari pedagang yang datang dari Yaman.
Setelah matahari agak tinggi, barulah Abu darda’ masuk ke rumah
dan bersiap pergi ke tokonya.

Tiba-tiba jalan di Yastsrib menjadi ramai, penuh sesak dengan para pengikut Nabi Muhammad yang baru kembali dari peperangan Badar. Di muka sekali terlihat sekumpulan tawanan terdiri dari orang-orang Quraisy. Abu Darda’ mendekati orang ramai itu dan bertemu dengan seorang pemuda suku Khazraj. Abu darda’ menanyakan kepadanya dimana ‘Abdullah bin Rawahah.
Pemuda Khazraj tersebut menjawab dengan hati-hati pertanyaan Abu Darda’, karena dia tahu bagaimana hubungan Abu Darda’ dengan ‘Abdullah bin Rawahah. Mereka tadinya adalah dua orang teman akrab di masa jahiliyah. Setelah Islam datang, ‘Abdullah bin Rawahah segera masuk Islam, sedangkan Abu Darda’ tetap dalam kemusyrikan. Tetapi hal itu tidak menyebabkan hubungan persahabatan kedua orang tersebut menjadi putus. Karena ‘Abdullah berjanji akan mengunjungi Abu Darda’ sewaktu-waktu, untuk mengajaknya ke dalam Islam. Dia kasihan kepada Abu Darda’, karena umurnya habis sia-sia setiap hari dalam kemusyrikan.

Abu Darda’ tiba di toko pada waktunya. Ia duduk bersila diatas kursi, sibuk jual beli dan mengkomandoi para pekerjanya. Sementara itu ‘Abdullah bin Rawahah datang ke rumah Abu Darda’. Sampai di sana ia melihat Ummu Darda’ di halaman rumahnya.
“Assalamu’alaiki. Ya amatallah (Semoga Anda bahagia, hai hamba Allah ).” kata ‘Abdullah memberi salam.
“Wa’alaikassalam, ya akha Abi Darda’ (Dan semoga Anda bahagia pula, hai sahabat Abu Darda’),” jawab Ummu Darda.
“Kemana Abu Darda,” tanya ‘Abdullah.
“Dia ke toko, tetapi tidak lama lagi dia akan pulang,” jawab Ummu
Darda’
“Boleh saya masuk ?” tanya ‘Abdullah.
“Dengan segala senang hati ! Silakan !” Jawab Ummu Darda’. Ummu Darda’ melapangkan jalan bagi ‘Abdullah, kemudian dia masuk ke dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak.

‘Abdullah bin Rawahah masuk ke kamar tempat Abu Darda’
meletakkan patung sesembahannya. Kemudian dikeluarkannya kapak yang sengaja dibawanya. Dihampirinya patung itu lalu dikapaknya hingga berkeping-keping. Sambil berkata, “ketahuilah, setiap yang disembah selain Allah adalah batil !”.
Setelah selesai menghancurkan patung tersebut, dia pergi
meninggalkan rumah.

Ummu Darda’ masuk ke kamar tempat patung berada. Alangkah terperanjatnya dia, ketika dilihatnya patung telah hancur berkeping-keping dan berserakan di lantai. Ummu Darda’ meratap, menampar-nampar kedua pipinya seraya berkata, “Engkau celakakan saya, hai Ibnu Rawahah !.”

Tidak berapa lama kemudian Abu Darda’ pulang dari toko.
Didapatinya istrinya duduk dekat pintu kamar patung sambil
menangis. Rasa cemas dan takut kelihatan jelas di wajahnya.
“Mengapa engkau menangis ?” tanya Abu Darda’.
“Teman Anda, ‘Abdullah bin Rawahah tadi datang kemari ketika Anda sedang di toko. Dia telah menghancurkan patung sembahan Anda. Cobalah Anda saksikan sendiri,” jawab Ummu Darda’.
Abu Darda’ menengok ke kamar patung, dilihatnya patung itu sudah hancur berkeping-keping. Maka timbullah marahnya. Mulanya dia bermaksud hendak mencari ‘Abdullah. Tetapi setelah kemarahannya berangsur padam, dia memikirkan kembali apa yang sudah terjadi. Kemudian katanya, “seandainya patung itu benar Tuhan, tentu dia sanggup membela dirinya sendiri.”
Maka ditinggalkannya patung yang menyesatkan itu, lalu dia pergi mencari ‘Abdullah bin Rawahah.

Setelah bertemu sahabatnya, dia bersama dengan ‘Abdullah
pergi menghadap Rasulullah SAW dan menyatakan masuk agama
Allah di hadapan beliau. Sejak detik pertama Abu Darda’ beriman dengan Allah dan Rasul-Nya, dia beriman dengan sebenar-benar iman. Dia sangat menyesal agak terlambat masuk Islam. Sementara itu kawan-kawannya yang telah lebih dahulu masuk Islam sudah mendapat banyak ilmu tentang agama Allah ini, hafal
Al-Qur’an, senantiasa beribadat, penuh ketaqwaan.
Karena itu dia bertekad hendak mengejar ketertinggalan tersebut dengan sungguh-sungguh, sekali pun dia harus berpayah-payah siang dan malam. Hingga tersusul orang-orang yg berangkat lebih dahulu !.

Dia berpaling konsentrasi dengan khusyu untuk ibadah, berusaha keras mengurangi kesibukan urusan dunia. Dia curahkan perhatian kepada ilmu bagai orang kehausan , mempelajari Al-Qur’an dengan tekun dan menghafalkan ayat-ayat, serta menggali makna-maknanya. Bahkan tatkala dirasakannya usaha perdagangannya mengganggu dan merintanginya untuk beribadat dan menghadiri majelis-majelis ilmu, maka ditinggalkannya perusahaannya tanpa ragu dan penyesalan.
Berkenaan dengan sikapnya yang tegas itu orang pernah bertanya kepadanya, maka dijawabnya, “Sebelum masa Rasulullah saya menjadi seorang pedagang. Maka setelah saya masuk Islam, saya ingin menggabungkan berdagang untuk beribadat. Demi Allah, yang jiwa Abu Darda’ dalam kuasa-Nya, saya akan menggaji penjaga pintu masjid supaya saya tidak luput shalat berjamaah, kemudian saya berjual beli dan berlaba setiap hari 300 dinar.”
Kemudian dia menengok kepada si penanya dan berkata, “Saya tidak mengatakan bahwa Allah Ta’ala mengharamkan berniaga. Tetapi saya ingin menjadi pedagang, bila perdagangan dan jual beli tidak mengganggu saya untuk beribadah (berdzikir).”
Abu Darda’ tidak meninggalkan perdagangan sama sekali. Dia hanya sekedar meninggalkan dunia dengan segala perhiasan dan
kemegahannya. Baginya sudah cukup sesuap nasi sekedar untuk menguatkan badan, dan sehelai pakaian kasar untuk menutupi tubuh.

Pada suatu malam yang sangat dingin, sekelompok jamaah bermalam di rumahnya. Abu Darda’ menyuguhi mereka makanan hangat, tetapi tidak memberinya selimut. Ketika hendak tidur, para tamu tersebut mempertanyakan selimut, seorang diantaranya berkata, “Biarlah saya tanyakan kepada Abu Darda’.”
Kata yang lain tidak, “Tidak perlu !”.
Tetapi orang itu menolak saran orang yang tidak setuju. dan dia terus pergi menemui Abu Darda’. Sampai di muka pintu kamar dilihatnya Abu Darda’ berbaring, dan istrinya duduk di sampingnya. Mereka berdua hanya memakai pakaian tipis yang tidak mungkin melindungi mereka dari kedinginan. Orang itu bertanya kepada Abu Darda’, “Saya lihat Anda sama dengan kami, tengah malam sedingin ini tanpa selimut. Kemana saja kekayaan dan harta benda Anda ?”.
Jawab Abu Darda’, “Kami mempunyai rumah di kampung sana. Harta benda kami langsung kami kirimkan kesana setiap kami peroleh. Seandainya masih ada yang tinggal di sini (berupa selimut), tentu sudah kami berikan kepada tuan-tuan. Di samping itu, jalan ke rumah kami yang baru itu sulit dan mendaki. Karena itu susah membawa barang yang berat-berat. Kami memang sengaja meringankan beban kami supaya mudah dibawa.”
Kemudian Abu Darda bertanya kepada orang itu, “Pahamkah Anda ?”.
Jawab orang itu, “Ya, saya mengerti. Semoga Anda di karuniai Allah segala kebaikan.”

Pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Khatab, ‘Umar
mengangkat Abu darda’ menjadi pejabat tinggi di Syam. Tetapi Abu Darda’ menolak pengangkatan tersebut. Khalifah Umar marah kepadanya. Lalu Abu Darda’ berkata, “Bila Anda menghendaki saya pergi ke Syam, untuk mengajarkan Al-Qur’an dan
Sunnah Rasulullah kepada mereka, serta menegakkan shalat bersama sama dengan mereka, maka saya terima tugas Anda.”
Khalifah Umar menyukai rencana Abu Darda’ tersebut. Lalu Abu
Darda’ berangkat ke Damsyik. Sampai di sana didapatinya
masyarakat telah mabuk kemewahan dan tenggelam dalam
kenikmatan dunia. Hal itu sangat menyedihkannya. Maka dipanggilnya orang banyak ke masjid, lalu dia berpidato di hadapan mereka.
Katanya :”Wahai penduduk Damsyiq ! Kalian adalah saudaraku seagama; tetangga se-negeri; dan pembela dalam melawan musuh bersama. Wahai penduduk Damsyiq ! Saya heran, apakah gerangan sebabnya kalian tidak menyenangi saya, dan tidak menerima nasehat saya ?. Padahal saya tidak mengharapkan balas jasa dari kalian. Nasehatku berguna untuk kalian, sedangkan belanjaku bukan dari kalian. Saya tidak suka melihat ulama-ulama pergi meninggalkan kalian, sementara orang-orang bodoh tetap saja bodoh. Saya hanya mengharapkan kalian supaya melaksanakan segala perintah Allah Ta’ala, dan menghentikan segala larangan-Nya. Saya tidak suka melihat kalian mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya, tetapi tidak kalian pergunakan untuk kebaikan.
Kalian membangun gedung-gedung yang mewah, tetapi tidak kalian tempati atau kalian mencita-citakan sesuatu yang tak mungkin tercapai oleh kalian. Bangsa-bangsa sebelum kamu pernah mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan bercita-cita setinggi-tingginya. Tetapi hanya sebentar, harta yang mereka tumpuk habis terkikis, cita-cita mereka hancur berantakan, dan bangunan-bangunan mewah yang mereka bangun rubuh menjadi kuburan.
Hai penduduk Damsyiq ! Itulah bangsa ‘Ad (kaum Nabi Hud as) yang telah memenuhi negeri (antara Aden dan Oman) dengan harta kekayaan dan anak-anak. Siapakah di antara kalian yang berani sekarang membeli daripadaku peninggalan kaum ‘Ad itu dengan harga dua dirham ?”.

Mendengar pidato Abu Darda’ tersebut orang banyak menangis, sehingga isak tangis mereka terdengar dari luar masjid.
Sejak hari itu Abu Darda’ senantiasa mengunjungi majelis-majelis
masyarakat Damsyiq dan pergi ke pasar-pasar. Jika ada yang
bertanya kepadanya selalu ia jawab. Jika dia bertemu dengan seorang bodoh, dia akan mengajarinya. Dan jika dia melihat orang terlalai, maka akan diingatkannya. Direbutnya setiap kesempatan yang baik, sesuai dengan situasi dan kondisi, serta kemampuan yang ada padanya.

Pada suatu ketika dia melihat sekelompok orang mengeroyok seorang lelaki. Laki-laki itu babak belur dipukuli dan dicaci maki mereka. Abu Darda’ datang menghampiri, lalu bertanya, “Apa yang terjadi ? Mengapa begini ?”.
Jawab mereka, “Orang itu jatuh ke dalam dosa besar.”
Kata Abu Darda’, “Karena itu janganlah kalian caci maki dia, dan
jangan pula kalian pukuli. Tetapi berilah dia pengajaran dan sadarkan dia. Bersyukurlah kalian kepada Allah yang senantiasa memaafkan kalian dari segala dosa.”
Mereka bertanya, “Apakah Anda tidak membencinya ?”.
Jawab Abu Darda’, “Sesungguhnya saya membenci perbuatannya. Apabila dia telah menghentikan perbuatannya yang berdosa itu, maka dia adalah saudara saya.”
Tak lama orang itu pun menangis dan tobat dari kesalahannya.

Kali yang lain seorang pemuda mendatangi Abu Darda’ dan berkata kepadanya, “Wahai sahabat Rasulullah ! Ajarilah saya !”.
Jawab Abu Darda’, “Hai anakku ! Ingatlah kepada Allah di waktu
kamu bahagia. Maka Allah akan mengingatmu di waktu kamu
sengsara. Hai Anakku ! Jadilah kamu pengajar, orang yang mau belajar dan orang yang mau mendengar. Dan jangan menjadi orang yang bodoh. Karena yang bodoh itu, pasti celaka.”

Abu Darda’ pernah pula melihat sekelompok pemuda duduk-duduk di pinggir jalan. Mereka ngobrol sambil melihat orang-orang yang lalu lalang. Abu Darda’ menghampiri mereka dan berkata kepadanya, “Hai anak-anakku ! Tempat yang paling baik bagi orang muslim adalah rumahnya. Di sana dia dapat memelihara diri dan pandangannya. Jauhilah duduk-duduk di pinggir jalan dan dipasar-pasar, karena hal itu menghabiskan waktu dengan percuma.”

Ketika Abu Darda’ tinggal di Damsyiq, yang menjadi gubernur waktu itu ialah Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Mu’awiyah melamar anak gadis Abu Darda’ (yaitu Darda’) untuk puteranya Yazid. Abu Darda’ menolak lamaran Mu’awiyah tersebut. Dia tidak mau mengawinkan anak gadisnya, Darda’, dengan Yazid (putera Gubernur). Bahkan Darda’ dikawinkannya dengan pemuda muslim, anak orang awam/kebanyakan. Karena Abu Darda’ menyukai agama dan akhlak pemuda itu. Masyarakat heran dengan sikap Abu Darda’ dan berbisik-bisik sesama mereka, “Anak gadis Abu Darda’ dilamar oleh Yazid bin Mu’awiyah, tetap lamarannya di tolak. Kemudian Abu Darda’ mengawinkan putrinya dengan seorang pemuda muslim anak orang biasa/kebanyakan.”
Seseorang bertanya kepada Abu Darda’, mengapa dia
bertindak seperti itu. Jawab Abu Darda’, “Saya bebas berbuat
sesuatu untuk kemaslahatan Darda’ anakku.”
Orang itu kembali bertanya,”Mengapa ?”. Jawab Abu darda’, “Bagaimana pendapat Anda, apabila nanti Darda’ telah berada di tengah-tengah inang pengasuh yang senantiasa siap sedia melayaninya, sedangkan dia berada dalam istana yang gemerlapan menyilaukan mata, akan kemana jadinya agama Darda’ ketika itu ?”.

Pada suatu waktu ketika Abu Darda’ berada di negeri Syam, Amirul Mukminin ‘Umar bin Khattab datang memeriksa. Khalifah mengunjungi sahabat tersebut di rumahnya malam hari. Ketika Khalifah membuka pintu rumah Abu Darda’, ternyata pintu itu tidak dikunci dan rumah gelap tanpa lampu. Ketika Abu Darda’ mendengar suara Khalifah, Abu Darda’ berdiri mengucapkan selamat datang dan menyilahkan Khalifah Umar duduk. Keduanya segera terlibat dalam pembicaraan-pembicaraan penting, padahal kegelapan menyelubungi keduanya, sehingga masing-masing tidak melihat kawannya berbicara.
Khalifah ‘Umar meraba-raba bantal alas duduk Abu Darda’, ternyata sebuah pelana kuda. Dirabanya pula kasur tempat tidur Abu Darda’, ternyata berisi pasir belaka. Dirabanya pula selimut, kiranya pakaian-pakaian tipis yang tidak mencukupi untuk musim dingin. Kata khalifah ‘Umar, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda. Maukah Anda saya bantu ? Maukah Anda saya kirimi sesuatu untuk melapangkan kehidupan Anda ?”.
Jawab Abu Darda’. “Ingatkah Anda hai ‘Umar, sebuah hadist yang disampaikan Rasulullah kepada kita ?”.
Tanya Umar, “Hadist apa gerangan ?”.
Jawab Abu Darda’, “Bukankah Rasulullah telah bersabda: ‘Hendaklah puncak salah seorang kamu tentang dunia, seperti perbekalan seorang pengendara (yaitu secukupnya dan seadanya).'”
Jawab Khalifah Umar, “Ya, saya ingat !”
Kata Abu Darda’, “Nah, apa yang telah kita perbuat sepeninggal beliau, hai Umar ?”.
Khalifah Umar menangis, Abu Darda’ pun menangis pula. Akhirnya mereka berdua bertangis-tangisan hingga shubuh.

Abu Darda’ menjadi guru selama tinggal di Damsyiq. Dia memberi
pengajaran kepada penduduk, memperingatkan mereka, mengajarkan Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah kepada mereka sampai dia meninggal. Tatkala Abu Darda’ mendekati akhir hayatnya, para sahabatnya datang berkunjung. Mereka bertanya, “Sakit apa yang Anda rasakan ?” . Jawab Abu Darda’, “Dosa-dosaku !”.
Mereka bertanya, “Apa yang Anda inginkan ?”.
Abu Darda’ menjawab, “Ampunan Tuhanku.”
Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang hadir disekitarnya, “Ajarkanlah kepadaku kalimah ‘Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.'” Kemudian Abu Darda’ senantiasa membaca kalimah tersebut berulang-ulang hingga nafasnya yang terakhir.

Setelah Abu Darda’ pergi menemui Tuhannya, Abu Muhammad berkata pada Auf bin Malik, “hai, Ibnu Malik ! Inilah karunia Allah kepada kita berkat Al-Qur’an. Seandainya engkau mengawasi jalan ini, engkau akan melihat suatu pemandangan yang belum pernah engkau saksikan, dan mendengar sesuatu yang belum pernah engkau dengar, dan tidak pernah terlintas dalam pikiranmu.”
Tanya ‘Auf bin Malik, “Untuk siapa semuanya, hai Abu Muhammad ?”.
Jawab Abu Muhammad, “Disediakan Allah Ta’ala untuk Abu Darda’, karena dia telah menolak kemewahan dunia dengan mudah dan lapang dada.”

[dari : fosmil.org]
http://kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel;articl=131
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.007/th.01/sya’ban 1425H/2004M

Iklan

7 Hari Yang Telah Lalu

Mei 2, 2007

Hari per-1, tahajudku tertinggal, dan aku begitu sibuk akan duniaku hingga dzuhurku aku selesaikan saat ashar mulai memanggil. Dan sorenya kulewati saja masjid yang mengumandangkan adzan maghrib, dengan niat kulakukan bersama isya’ , itupun terlaksana setelah acara tv selesai

Hari ke-2, tahajudku tertinggal lagi, dan hal yang sama aku lakukan sebagaimana hari pertama .

Hari ke-3, aku lalai lagi akan tahajudku, temanku memberi hadiah novel best seller yang tebalnya lebih dari 200 halaman, namun dalam waktu tidak lebih dari 1 hari aku telah selesai membacanya . Tapi… enggan sekali aku membaca Al-qur’an walau cuma 1 juz. Al-qur’an yang 114 surat, hanya 1-2 surat yang kuhapal itupun dengan terbata-bata . Tapi… ketika temanku bertanya tentang novel tadi betapa mudah dan lancarnya aku menceritakannya

Hari ke-4, kembali aku lalai lagi akan tahajudku. Sorenya aku datang ke selatan Jakarta dengan niat mengaji, tapi kubiarkan ustadzdku yang sedang mengajarkan kebaikan, kubiarkan ustadzku yang sedang mengajarkan panjang lebar tentang agamaku, aku lebih suka mencari bahan obrolan dengan teman yang ada disamping kiri & kananku, padahal ba’da maghrib tadi betapa sulitnya aku merangkai kata- kata untuk kupanjatkan saat berdoa.

Hari ke-5, kembali aku lupa akan tahajudku. Kupilih shaf paling belakang dan aku mengeluh saat imam sholat jum’at kelamaan bacaannya, padahal betapa dekat jaraknya aku dengan televisi dan betapa nikmat, serunya saat perpanjangan waktu sepak bola favoritku tadi malam .

Hari ke-6, aku semakin lupa akan tahajudku. Kuhabiskan waktu di mall & bioskop bersama teman-temanku, demi memuaskan nafsu mata & perutku sampai puluhan ribu tak terasa keluar . Aku lupa.. waktu di perempatan lampu merah tadi saat wanita tua mengetuk kaca mobilku, hanya uang dua ratus rupiah yang aku berikan itupun tanpa menoleh .

Hari ke-7, bukan hanya tahajudku tapi shubuhku pun tertinggal. Aku bermalas-malasan di tempat tidurku menghabiskan waktu. Selang beberapa saat dihari ke-7 itu juga aku tersentak kaget mendengar khabar, bahwa temanku kini telah terbungkus kain kafan padahal baru tadi malam aku bersamanya & sepertiga malam tadi dia dengan misscall-nya mengingatkan aku tentang tahajud.

Kematian…. kenapa aku baru gemetar mendengarnya? Padahal dari dulu sayap-sayapnya selalu mengelilingiku dan dia bisa hinggap kapanpun dia mau.
Seperempat abad lebih aku lalai…. dari hari ke hari, bulan dan tahun, yang wajib jarang aku lakukan apalagi yang sunnah
Kurang mensyukuri walaupun KAU tak pernah meminta
Berkata kuno akan nasehat kedua orang tua
Padahal keringat & airmatanya telah terlanjur menetes demi aku
Masya Allah, andai ini merupakan satu titik hidayah…..walaupun imanku belum seujung kuku …. aku hanya ingin detik ini hingga nafasku yang saat nanti tersisa, maka tahajud dan sholatku meninggalkan bekas saat aku melipat sajadahku…..
Amin….

http://www.manajemenqolbu.com/new/awal.php

Hadis riwayat Abu Musa ra.: Dari Nabi saw., beliau bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan berkawan dengan orang saleh dan berkawan dengan orang jahat adalah seperti seorang penjual minyak wangi (misk) dan seorang peniup dapur tukang besi. Penjual minyak wangi, dia mungkin akan memberikan kamu atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapatkan aroma harum darinya. Tetapi peniup dapur tukang besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu atau kamu akan mencium bau yang tidak sedap”. (Sahih Muslim hadits no : 4762)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.007/th.1/Sya’ban 1425H/2004


Internet Sebagai Media Dakwah

Mei 11, 2006

“Sampaikanlah, walau hanya satu ayat,” demikian ditegaskan oleh NabiMuhammad SAW kepada umatnya suatu ketika. Ujaran yang sangat terkenaltersebut berintikan ajakan kepada para penganut agama Islam untuksenantiasa menyempatkan diri untuk berdakwah dan berbagi pengetahuan bagi sesama, kapanpun dan dimanapun. Sebelum Rasullulah wafat pada tahun 632 M, dakwah kerap dilakukan secara lisan. Baru pada tahun 644 M ketika Islam dipimpin oleh Uthman bin Affan, sahabat Rasulullah dan khalifah ketiga, dakwah mulai dilakukan secara tertulis. Pada saat itu Al-Qur ‘an sebagai kita suci Islam mulai dibukukan, digandakan dan disebarluaskan ke imperium-imperium Islam di penjuru dunia.

Semangat dakwah tersebut, meskipun hanya satu ayat, merupakan satu bentuk “tanggung jawab moril\” yang sangat mengakar di kalangan umat Islam. Segala daya dan upaya untuk melakukan dakwah terus dilakukan, hingga kini.Setelah beratus tahun berselang sejak dakwah lisan dikumandangkan oleh Rasulullah, pada masa kini dakwah telah menggunakan medium bit, binary dan digital. Dakwah dalam bentuk tulisan di buku mendapatkan komplementernya berupa text dan hypertext di Internet. Meskipun jumlahnya masih sangat sedikit, kalangan umat Islam di Indonesia yang menggunakan Internet sebagai media dakwah jumlahnya kian hari kian bertambah. Total jumlah pengguna Internet di Indonesia saja terhitung baru sekitar 2 persen saja dari total penduduk Indonesia. Tetapi semangat berdakwah “walau hanya satu ayat\” tersebut tidak mengurungkan niat para pelaku dakwah digital.
Fenomena dakwah digital tersebut memang berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi informasi (TI) di dunia. Internet komersial baru masuk ke Indonesia pada tahun 1994, dengan dibukanya IndoNet di Jakarta, sebagai Internet Service Provider (ISP) pertama di Indonesia. Salah satu pelopor penggunaan Internet sebagai media dakwah adalah seperti yang dilakukan oleh kelompok Jaringan Informasi Islam (JII). JII yang dibidani oleh jebolan Pusat Teknologi Tepat Guna (Pustena) Masjid Salman ITB tersebut sudah sejak sekitar tahun 1997-1998 bergulat dengan teknologi e-mail yang diaplikasikan ke dalam pesantren-pesantren, membentuk apa yang disebut dengan Jaringan Pondok Pesantren.
Kemudian pada sekitar tahun 1998-1999 mulai marak aneka mailing-list (milis) Indonesia bernuansa Islami semisal Isnet, Al Islam dan Padan Mbulan. Baru kemudian pada tahun 1999-2000 bermunculanlah situs-situs Islam di Indonesia, yang tidak sekedar situs-situs institusi Islam, tetapi berisi aneka informasi dan fasilitas yang memang dibutuhkan oleh umat Islam. Maka lengkaplah Internet menjadi salah satu media rujukan dan media dakwah Islam Indonesia.

Masuknya Internet dalam aspek kehidupan umat Islam mulai menggeser pemikiran-pemikiran lama. Menjadi santri kini tidak harus diidentikkan dengan sarung dan mengaji di langgar saja. Sekedar contoh, para santri Pesantren Darunnajah di Ulujami Jakarta Selatan ternyata telah akrab dengan e-mail karena di dalam pesantren tersebut ada sebuah warnet yang dipergunakan bergantian antara santri pria dan wanita. Ada pula pesantren Annida di Bekasi, yang memang telah benar-benar memberikan materi pendidikan e-mail dan Internet kepada para santri-santrinya.
Dengan bermodalkan sepuluh komputer yang terkoneksi ke Internet, maka setiap hari selalu diberikan materi-materi Internet secara bergiliran. Menggunakan Internet pun bisa dianggap sebagai suatu ibadah. Masjid At-Tin di komplek Taman Mini misalnya, di dalamnya terdapat sebuah warnet dengan 10 buah komputer. Administrasi warnet tersebut berada dibawah Bidang Dakwah dan Pendidikan Yayasan At-Tin, sebagai pengelola Masjid tersebut.Dengan semakin beragamnya aplikasi Internet sebagai media dakwah, kini ada sebutan santri virtual, yang dicetuskan oleh situs PesantrenVirtual.com. Para santri virtual tersebut dapat saling berdakwah menggunakan milis pesantren@yahoogroups.com. Milis yang awal didirikan pada Agustus 1999 hanya beranggotakan 41 orang, kini telah menca pai lebih dari 2300 anggota. Kekuatan milis sebagai media dakwah memang bukan hal yang sepele. Jika kita mengetikkan keyword \”Islam\” di YahooGroups.com, maka akan didapat 2254 milis yang membahas soal Islam dari berbagai bahasa dan negara. Bahkan kini tafsir Al-Qur\’an dalam bahasa Indonesia versi Departemen Agama pun dapat disimak di milis Tafsir-Quran@yahoogroups.com yang didirikan pada Agustus 2000 dan telah memiliki anggota sebanyak 1144 orang.
Kebutuhan akan aktualisasi diri sebagai seorang muslim ternyata sama pentingnya dengan dakwah itu sendiri. Buktinya, pengguna webmail MyQuran.com tercatat lebih dari 40 ribu anggota. Sebagian dari para anggota tersebut juga aktif di forum diskusi online di situs tersebut.Situs MyQuran.com yang didirikan pada Juli 1999 merupakan situs portal informasi Islam. Jika merindu akan suara adzan dari Mekkah, maka MyQuran.com memiliki link yang dapat mengumandangkan adzan tersebut. Bahkan dapat juga diniikmati alunan pembacaan kitab suci Al-Qur’an lengkap 114 surah.

Di dalam hukum Islam masih ada yang memerlukan interpretasi dan pengkajian para ahli. Hal tersebut misalnya pada penentuan halal atau tidaknya produk atau pangan yang berada di pasaran. Dengan teknologi Internet, kini informasi kehalalan suatu produk atau pangan dapat ditanyakan langsung ke ahlinya melalui situs IndoHalal.com. Pengelola situs yang didirikan sejak Februari 2001 tersebut telah memberikan jawaban atas 178 pertanyaan yang masuk. Beberapa pertanyaan tersebut antara lain tentang Kecap ABC, Bika Ambon, Susu Pediasure, Khong Guan Biscuit dan Restoran Hoka Hoka Bento.
Dari beberapa contoh aplikasi Internet di atas, maka dapat ditarik satu pemahaman umum bahwa Internet memang merupakan media yang efektif bagi dakwah dan penyebaran informasi. Meskipun demikian Internet tidak akan bisa menggantian perang ulama, kiai dan ustadz. Demikian ditegaskan oleh Onno W. Purbo, praktisi Internet yang kerap memberikan dakwah Internet ke pesatren-pesantren. Menurut Onno, Internet hanyalah sebuah media komunikasi. \”Justru seorang pendakwah dapat dengan mudah memiliki jutaan umat saat mereka menggunakan Internet,\” ujar Onno.
Sedangkan Ahmad Najib Burhani, pengamat Islam yang kerap menulis tentang teknologi dan agama, menyatakan bahwa Internet memungkinkan setiap orang untuk bertanggung-jawab secara individu, termasuk soal agama. \”Tetapi yang menjadi pertanyaan lebih lanjut adalah apakah Internet bisa menjadi tempat yang tepat untuk suatu proses penjelajahan kehidupan beragama yang penuh makna,\” ujar Najib. Menurut Najib, mengutip Steven Walman pendiri BeliefNet, Internet bisa menjadi alternatif media ketika seseorang sangat disibukkan dengan aktifitas kesehariannya sehinga tidak dapat mengikut acara keagamaan yang memerlukan kehadiran fisik.

http://www.ukhuwah.or.id/artikel/t_artikel.phtml?id=182&kategori=kontemporer

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.007/th.01/Sya’ban 1425H/2004M


Pemimpin Penebar Cinta

Mei 11, 2006

Dari puluhan milyard anak cucu Adam yang pernah mendiami dunia, menurut Michael H. Hart*] penulis Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, mungkin hanya sekitar 20.000 orang yang hasil upayanya punya harga untuk disebut dalam buku kamus biografi. Dan dari jumlah tersebut, dia memilih seratus orang berdasarkan urutan paling berpengaruh dalam sejarah.

Dari seratus yang masuk klasifikasi, Rasulullah SAW menempati urutan pertama, bahkan mengalahkan “Nabi Isa” yang entah menurut penulisnya dianggap sebagai Nabi atau Tuhan atau selainnya. Hart menulis, “Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.”
Lepas dari masalah setuju-tidaknya dengan pendapat Hart di atas, yang jelas dan pasti Rasulullah SAW banyak diakui oleh mereka yang non muslim, sebagai figur pemimpin yang tak tertandingi hingga kini. Bahkan mereka terus menerus mempelajari dan menyelidiki, apa kunci sukses kepemimpinan Muhammad SAW.

Bila demikian mereka yang non muslim, aneh bin ajaib bila terdapat seorang muslim yang mengaku sebagai ummatnya justru tak menjadikannya sebagai figur, tauladan, dan sumber inspirasi dalam segala hal yang menyangkut kepemimpinan. Padahal lepas dari masalah apapun, sebagai seorang muslim, tak salah bila dikatakan bahwa meniru Beliau SAW merupakan suatu kewajiban.
“Jika kita mengukur kebesaran dengan pengaruh, dia (Muhammad SAW, pen) seorang raksasa sejarah. Ia berjuang meningkatkan tahap ruhaniah dan moral suatu bangsa yang tenggelam dalam kebiadaban karena panas dan kegersangan gurun. Dia berhasil lebih sempurna dari pembaharu manapun; belum pernah ada orang yang begitu berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya seperti dia”, demikian pendapat Will Durant dalam The Story Of Civilization.
Thomas Carlyle, dalam On Heroes and Hero Worship mengatakan, “Dia datang seperti sepercik sinar dari langit, jatuh ke padang pasir yang tandus, kemudian meledakkan butir-butir debu menjadi mesiu yang membakar angkasa sejak Delhi hingga Granada”.
Mereka dan ribuan sejarawan serta ilmuwan lain “penasaran” dan terus mengkaji strategi dakwah, manajemen kepemimpinan bahkan “mengamalkan” sunnah-sunnah Nabi. Ironisnya, mereka yang bersyahadat tentang kenabiannya justru tak meneladani bagaimana sepak terjang perjuangan dan kepemimpinan Beliau SAW.
Yang terkadang memilukan, adalah “tingkah polah” sebagian oknum pemimpin ummat yang merasa mencintai dan dicintai Nabi SAW, padahal pada dasarnya justru menginjak-injak sunnah Beliau SAW. Mereka mengamalkan sebagian sunnah, inipun dengan keniatan penampilan atau yang lebih bersifat “aksesoris”, namun melemparkan sunnah lain yang jauh lebih penting untuk diteladani.
Memanjangkan janggut, memakai surban, imamah, jubah, bersiwak dan sejumlah “aksesoris” lain yang kesemuanya untuk meyakinkan penampilan di hadapan mereka yang awam. Sementara cinta dan kasih sayang, yang menjadi modal utama dan sekaligus kunci keberhasilan dakwah dan kepemimpinan Nabi SAW terlupakan.
Sewaktu Allah menggambarkan mengenai kedatangan kekasih-Nya sebagai rahmat untuk seluruh alam, Allah berfirman, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat mengharapkan (keimanan dan keselamatan) bagimu. Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (QS. At-Taubah, 9: 128)

Insan yang bernama Muhammad SAW ini, merasa sedih dan ikut merasakan penderitaan bila terdapat ummatnya yang menderita. Pengkabaran ini difirmankan langsung oleh Allah seperti dalam ayat di atas. Dan dalam prakteknya, sejarah telah menulis berbagai kisah tentang apa yang difirmankan Allah di atas.
Lalu siapa pemimpin di dunia ini yang akan mampu meneladani? Kalaulah tak mampu, dan tak seorang pun yang akan mampu menyamainya, syukur-syukur masih ada sifat kasih sayang di hati mereka. Namun pada kenyataannya, dan termasuk sebagian pemimpin ummat dalam pengertian ulama, justru berhati srigala.
Mereka makan, menikmati dan hidup “berkat” penderitaan ummat yang dipimpinnya. Mereka tak pernah mempedulikan penderitaan ummat, namun sibuk dan takut jangan sampai mereka mengalami penderitaan. Ummat tak lebih bagai anak tangga yang terus diinjak-injak untuk menjadi sarana naik ke kekuasaan. Kemiskinan dan kebodohan ummat terus dilestarikan oleh mereka, karena bagaimanapun juga keduanya sangat dibutuhkan untuk “diperjual-belikan”.

Bila Sang Nabi SAW sangat mengharapkan keimanan dan keselamatan ummat, mereka para pemimpin sekarang tak pernah ambil pusing dengan masalah tersebut. Bahkan dalam kondisi tertentu, keselamatan ummat dipertaruhkan demi untuk keselamatan kekuasaan, ekonomi, dan harga diri mereka sendiri.
Beliau SAW, bersifat belas kasih dan penyayang (rauufur rahiim) terhadap ummatnya. Kedua sifat ini, pada dasarnya adalah sifat Allah SWT, namun diberikan oleh-Nya bagi manusia yang diutus bagi seluruh ummat di dunia. Dan dengan bekal cinta dan kasih sayang itulah, Rasulullah SAW berjuang dalam berdakwah dan memimpin ummat.
Jelas, tentu dan pasti metode yang telah dipraktekkan dan terbukti keampuhannya ini merupakan suri tauladan bagi para pemimpin di kalangan ummatnya. Sekalipun takkan ada manusia seperti Beliau SAW dalam cinta dan kasih sayang kepada ummatnya, namun tragis bila sifat seperti itu hilang sama sekali di kalbu para pemimpin kita.

Rasulullah SAW telah tercatat dalam berbagai kitab sejarah tentang bagaimana sifat kasih sayang beliau. Jangankan terhadap manusia, bahkan terhadap lingkungan dan hewan pun rasa kasih sayang itu masih beliau perlakukan. Dialah manusia yang menangis sesenggukan saat melihat hewan yang diperlakukan kasar oleh si majikan. Benda-benda mati pun tak kalah diperhatikan olehnya, dalam sebuah sabdanya beliau SAW berujar, bahwa Gunung Uhud cinta kepada beliau dan beliau pun cinta kepada Uhud.
Sifat dan sikap cinta serta kasih sayang inilah yang hilang di kalbu para pemimpin kita. Bahkan lebih dari itu, lahirlah para pemimpin super rakus yang sangat aneh, yakni menyantap apapun yang sekiranya bisa disantap. Anda bisa bayangkan, apa yang tak mampu disantap manusia jenis seperti ini? Bukan hanya yang berwujud uang saja, namun termasuk pohon, aspal, batu, pasir, semen dan seluruh apa yang ada.
Dalam kondisi krisis kepemimpinan dan sekaligus krisis idola, aneh rasanya bila ummat berkiblat atau mengidolakan manusia selain Muhammad SAW. Bila mereka dari kalangan non muslim, mungkin wajar, sekalipun cukup banyak dari mereka yang mengakuinya. Namun bila dari kalangan ummat Islam sendiri, sungguh suatu keanehan yang sulit untuk diterima akal mereka yang beriman dan “sadar”.

Jasad Muhammad SAW telah terbaring di pusaranya 14 abad yang lalu, dan tak mungkin muncul manusia yang akan mampu menyamainya, apalagi mengungguli. Secara realistis kita lihat saja di lingkungan kita dalam skala terkecil hingga terbesar, siapa diantara mereka yang paling besar prosentase kemiripannya, maka dialah yang patut dipilih dan dijadikan pimpinan. Dan sebagai barometernya, kita lihat saja, siapa diantara mereka yang memiliki sifat rahmat, mengedepankan cinta dan selalu bersikap kasih sayang.
Bila dalam memilih seorang pemimpin kita mengacu dengan acuan seperti di atas, paling tidak kita masih pantas untuk mempunyai harapan akan terjadinya perubahan secara cepat. Dan perubahan yang terwujud, merupakan hakekat kebangkitan, bukan hanya kepulihan secara semu. Karena bagaimanapun juga, muara dari seluruh “penyakit” yang meruntuhkan segala sendi kehidupan, adalah kosongnya jiwa.
Bila jiwa Rasulullah SAW dipenuhi dengan sifat cinta dan kasih sayang, tanpa perlu muluk-muluk, cukup bagi kita untuk mencari pemimpin yang jiwanya masih berisi dengan cinta dan kasih sayang. Namun kita perlu ingat, bahwa tak mudah untuk mencari pemimpin jenis ini, karena mereka akan memandang kepemimpinan, bahkan dalam skala sekecil apapun merupakan amanat. Mereka takkan muncul apalagi berambisi untuk berebut amanat. “Kamu semua adalah pemimpin”, demikian tutur Nabi SAW, “Dan kamu kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinanmu”. Semakin besar “skala” kepemimpinan seseorang, sebagai konsekuensinya, maka pasti akan semakin besar pula pertanggungjawabannya.

Dalam konteks amanat, kepemimpinan (baca kekuasaan) jauh lebih membangkitkan bulu kuduk. Bagaimana tidak, sementara langit, bumi, dan gunung pun menolak untuk mengemban amanat yang maha dahsyat ini. Namun konyolnya, manusia malah berebut untuk mendapatkannya. Tak salah bila Al-Quran dalam membicarakan mengenai hal ini, mengakhiri ayatnya dengan ungkapan, “Sesungguhnya manusia itu (karena mau memikul amanat) sangat dhalim dan bodoh” (QS. 33; 72).
Belum lagi berbagai ancaman dari hadits Nabi SAW mengenai beratnya pertanggungjawaban sebuah kepemimpinan. “Tidak ada seorang pemimpin yang memimpin sekelompok ummat Islam, kemudian meninggal dalam keadaan berkhianat terhadap orang yang dipimpinnya, melainkan Allah mengharamkan surga atasnya”, demikian sabda Nabi SAW. Dalam riwayat lain disebutkan, jangankan surga, bau surga pun mereka takkan menghirupnya.
Cukup banyak pemimpin yang berucap, bahwa kepemimpinan yang ia raih merupakan amanat. Namun pada kenyataannya, tindakan, kebijakan, dan keputusan yang mereka ambil tak mencerminkan seseorang yang memandang kepemimpinan sebagai amanat.
Bagaimana sebuah amanat, bila dalam mencarinya sampai menghalalkan segala cara? Apakah pantas bila dalam menerima amanat di sambut dengan tepuk tangan, sujud syukur, acara syukuran hingga menghabiskan ratusan juta rupiah? Apakah mungkin bila sebuah amanat harus dipertahankan dengan berbagai cara? Bila demikian, sungguh tepat firman Allah yang menyebutkan, bahwa mereka sangat dhalim dan bodoh.

Kita yang mayoritas sebagai “rakyat jelata”, tak perlu pusing dan hanyut memikirkan fragmen rebutan amanat. Karena siapapun kita dan apapun “jabatan” yang melekat, adalah pemimpin yang pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Bila kepemimpinan masing-masing kita beres, toh keadaan dan kondisi akan semakin baik.
Biarkan para pemimpin pencari amanat menikmati kekuasaannya sesaat. Walau tak dapat dipungkiri, bahwa pengaruh mereka untuk pemulihan keadaan besar, namun semuanya kembali kepada masing-masing kita juga. Untuk itu, siapapun pemimpinnya, kita mutlak membenahi kepemimpinan kita masing-masing.
Sudahkah kita contoh Nabi SAW dengan cinta dan kasih sayang dalam kepemimpinan kita di keluarga, lingkungan, pekerjaan dan lain-lain? Sebarkan cinta dan kasih sayang kepada siapapun, dengan demikian, Insya Allah pertanggungjawaban kita kelak akan ringan. Amiiin.
—————————————————————
*] Pesan dari Labbaik : Apapun hasil tulisannya, sebaiknya ummat islam tetap extra hati-hati terhadap karya-karya kaum kafir. Harap senantiasa tabayyun dan tidak langsung percaya begitu saja.

[Artikel Lainnya di Bank Data Majalah] http://www.fosmil.org/adzan/edisi_01_20/01.laputama/lap.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.007/th.01/Sya’ban 1425H/2004M


Virus Berbahaya Itu Bernama Televisi

April 3, 2006

Adzan Maghrib berkumandang dari menara-menara masjid di komplek perumahan BTN kawasan Tangerang. Adzan itu juga terdengar dari sejumlah stasiun televisi yang juga tak absen menyiarkan suara panggilan sholat Maghrib itu. Tapi toh, anak-anak yang sedang menonton tivi di sejumlah besar rumah di komplek itu tetap tak beranjak. Mereka asyik memelototi layar kaca tersebut. Sama sekali tak acuh dengan suara adzan.

Di rumah ibu Kukun (bukan nama sebenarnya), seorang warga komplek, pemandangannya juga tak jauh berbeda. Di ruang tengah rumah Bu Kukun tempat bertenggernya kotak ajaib bergambar itu, sejumlah pasang mata milik anak-anak, memelototi acara hiburan yang sedang ditayangkan. Saking hobi berat nonton tivi dan tak mau diganggu-gugat keasyikan mereka, channel suara Adzan pun buru-buru mereka ganti dengan chanel hiburan lainnya. Suara adzan bagi anak-anak usia TK dan SD tersebut, saat itu betul-betul jadi tidak menarik, bahkan mungkin buat mereka jadi menyebalkan. Pertanyaannya, salah siapa jika anak-anak itu jadi kesengsem berat dengan televisi ketimbang panggilan sholat? Jelas ini persoalan serius yang tidak bisa dipandang ringan. Jika anak-anak kita sudah demikian getolnya pada tivi , tentu saja sangat berbahaya. Masalahnya sampai saat ini, nyaris tidak ada acara yang disiarkan stasiun televisi, kacuali tayangan acara-acara yang jauh dari norma dan nilai-nilai agama.

Bu Kukun mengaku sulit untuk mengatasi anak-anak mereka dari hobi nonton tivi. Pasalnya, jika dimatikan ketika anak-anaknya sedang asyik nonton film kartun misalnya, pasti mereka akan menangis dan tidak mau makan, khususnya yang masih usia TK dan SD. Padahal saat itu adzan Maghrib sudah tiba. Sedangkan anak-anak yang lebih besar, jika tivi di rumah dimatikan, mereka pasti akan menonton ke rumah tetangga. Walhasil bu Kukun saat ini cenderung pasrah, membiarkan anak-anaknya menumpahkan hobinya. Baginya yang penting, tiga orang anaknya yang masih usia TK dan SD, tidak nangis dan tidak sulit makan. Ini barangkali kesalahan Bu Kukun. Ibu itu sejak semula, kerap memberi makan anak-anaknya menjelang adzan Maghrib, sembari disetelkan tivi. Kebiasaan makan sambil menonton tivi itu, akhirnya terus menjadi kebiasaan anak-anaknya sampai sekarang. Untuk melarang dari menonton tivi, Bu Kukun menghadapi kesulitan. Apalagi bapaknya anak-anak sering pulang malam, sehingga tidak bisa membantu menertibkan anak-anaknya menonton tivi.

Problematika Bu Kukun, boleh jadi menjadi fenomena keluarga-keluarga masa kini. Di mana stasiun televisi bertambah banyak, dengan sajian beragam acara, dari mulai tayangan film kartun, film-film syirik, joged erotis, video klip cabul, keke rasan ala “smack down”, hingga adegan film-film sadisme dan kebebasan seks. Sementara hobi anak-anak menonton televisi kian tak terkontrol. Atau mungkin sebagian besar keluarga modern di zaman kiwari ini, tidak menganggap muatan acara televisi saat ini sebagai masalah dan ancaman serius bagi anak-anak mereka? Tayangan-tayangan acara di televisi memang tidak bisa dianggap remeh. Apalagi fenomena pornografi telah meresap kuat dalam hampir setiap acara di sejumlah stasiun televisi. Sebut saja misalnya, progam MTV yang dulu cuma bisa dilihat dengan bantuan antena parabola. Kini masyarakat bisa dengan mudah melihatnya di Global TV. Sejak 1 April 2002, Global TV menggantikan posisi AN Teve menyiarkan full program MTV, suatu acara yang menampilkan lagu-lagu dan klip-video asing dan lokal. Celakanya, program itu sangat digandrungi kaum muda. Padahal bila disimak isinya sangat vulgar. Di dalamnya para pemirsa bisa melihat sebagian besar penyanyi asing dan lokal, dengan klip maupun syair-syair yang sama vulgarnya. Klip itu umumnya menampilkan penyanyi (khususnya penyanyi wanita) bergaya sensual, diiringi pendukung wanita-wanita berbusana sensual, dengan menampilkan adegan-adegan erotis.

Saat ini SCTV juga tengah disoroti lantaran menyajikan acara “Duel Maut”. Sebuah tayangan berpasangan dengan artis-artis dangdut. Artis-artis dangdut itu berlomba mengeksploitasi fantasi seks melalui goyangan dangdut “maut” mereka. Entah kenapa media massa, khususnya televisi, sampai saat ini begitu getol mengekspos dan mempopulerkan goyangan tak bermoral itu. Padahal korban akibat tayangan erotis sudah berjatuhan. Baru-baru ini di Jakarta, seorang remaja belasan tahun memperkosa anak kecil yang baru berusia 3 tahun. Ketika ditanya, apa yang menyebabkan dia bernafsu memperkosa korbannya? Si pelaku menjawab lantaran terbuai fantasi seks goyangan dangdut di tv. Kegawatan akibat tayangan erotisme di hampir seluruh stasiun televisi memang sangat mengkhawatirkan. Baru-baru ini Rhoma Irama, tokoh Raja Dangdut terkenal Indonesia mengatakan, dia akan mendatangi SCTV dan akan mendesak agar siaran Duel Maut di hentikan. Karena Rhoma meng anggap tayangan itu hanya untuk memenuhi selera rendah orang-orang yang bermoral bejad. Bahwa televisi telah menjadi orangtua asuh kedua bagi anak-anak, memang sulit dinafikan. Atau bahkan ia telah menjadi orangtua asuh pertama anak-anak kita? Na’udzu billah.

Jelas, gelombang perusakan moral lewat acara-acara televisi memang tidak bisa dibiarkan. Keluar kita harus melawannya secara simultan dan terus-menerus terhadap media massa (khususnya tv), dan ke dalam kita beri pengertian pada anak-anak kita. Jangan pernah bosan. Ini memang butuh kesabaran. Selain itu ajaklah anak-anak sekali-kali ke tempat-tempat lebih nyaman dan aman lahir batin, sebagai al ternatif hiburan mereka. Mereka juga harus sesering mungkin ditemani dan diajak berkomunikasi. Dan yang tak kalah penting, sering-seringlah anak-anak kita ajak ke masjid atau mulai memperkenalkan nuansa-nuansa islami. Wallahu a’lam.

http://www.eramoslem.com/ar/kg/34/6262,1,v.html

Asy Syawqu Ilaa Al-Jannah *)

Thabrani mentakhrijkan dari Ibnu ‘Umar ra. (yang maksudnya kurang lebih), dia berkata, ” Seorang laki-laki dari Habasyah datang kepada Rasulullah SAW. Maka berkatalah Rasulullah SAW, ‘bertanyalah dan pahamkanlah!’. Ia lalu berkata, ‘Ya Rasulullah! Engkau telah dimuliakan dari kami dengan rupamu, dengan keturunanmu, dengan kenabianmu. Apakah jika aku beriman dengan apa yang engkau telah beriman dan beramal dengan apa yang engkau telah amalkan apakah aku akan bersamamu di da lam Jannah?’. Berkata Rasulullah SAW, “Na’am, dan orang yang dirinya seperti ini (berkulit hitam) sesungguhnya dia terlihat putih di Jannah sejauh seribu tahun perjalanan”. Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Barangsiapa mengucapkan laa ilaa ha illallaah, bersamanya janji Allah dan siapa yang mengucapkan Subhanallahi wa bihamdihi dituliskan baginya seratus duapuluh empat ribu (124.000) hasanah”. Maka laki-laki itu berkata, “Bagaimana keadaanku setelah ini ya Rasulullah?” Maka berkata Rasulullah SAW, “Sesungguhnya seorang lelaki mendatangi hari kiamat dengan amal …”. Kemudian dibacakan oleh Rasulullah SAW surah berikut yaitu surah Al-Insaan ayat 1 hingga ayat 20. Orang Habsyi itu bertanya lagi, “Dan apakah mata ini akan melihat apa yang akan engkau lihat di dalam Jannah?” Berkatalah Rasulullah, “Na’am”. Maka orang Habsyi itu menangis dan meninggal dunia (yakni keluarlah ruhnya)…(Tafsir Ibnu Katsir). Di dalam riwayat yang lain bersabda Rasulullah SAW terhadap lelaki habsyi tersebut, “Telah keluarlah ruh sahabatmu ini (saudaramu ini) dikarenakan Asy Syauqu ilaa Al-Jannah, rindukan jannah. (HR Ahmad).

*)Riwayat hadits selengkapnya pada kitab Hayatush Shahabah 3:80)

http://go.to/sahabatnabi

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.007/th.01/Sya’ban 1425H/2004M


Ada apa dengan kita ?

Maret 4, 2006

Saudaraku, saat mobil mewah dan mulus yang kita miliki tergores, maka goresannya bagai menyayat hati kita. Saat kita kehilangan handphone di tengah jalan, sepertinya separuh tubuh ini hilang bersama barang kebanggaan kita tersebut. Dan saat orang mengambil secara paksa uang kita, seolah terampas semua harapan hidup….

Tetapi saudaraku, tak sedikitpun keresahan dalam hati saat kita melakukan perbuatan yang melanggar perintah Allah, kita masih merasa tenang meski terlalu sering melalaikan sholat, kita masih berdiri tegak dan sombong meski tak sedikit pun infak dan shodaqoh tersisihkan dari harta kita, meski di sekeliling kita anak-anak yatim menangis menahan lapar.
Saudaraku, ada apa dengan kita ?

Saudaraku, kata-kata kotor dan dampratan seketika keluar tatkala sebuah mobil yang melaju kencang menciprati pakaian bersih kita. Enggan dan malu kita menggunakan pakaian yang terkena noda tinta meski setitik dan kita akan tanggalkan pakaian-pakaian yang robek, bolong dan menggantinya dengan yang baru……

Tetapi saudaraku, kita tak pernah ambil pusing dengan tumpukan dosa yang mengotori tubuh ini, kita tak pernah merasa malu berjalan meski wajah kita penuh noda kenistaan, kita pun tak pernah tahu bahwa titik-titik hitam terus menyerang hati ini hingga saatnya hati kita begitu pekat, dan kitapun tak pernah mencoba memperbaharuinya.
Saudaraku, ada apa dengan kita ?

Saudaraku, kita merasa tidak dihormati saat teguran dan sapaan kita tidak didengarkan, hati ini begitu sakit jika orang lain tak mengindahkan panggilan kita, terkadang kita kecewa saat orang lain tidak mengenali kita meski kita seorang pejabat, pengusaha, kepala pemerintahan, tokoh masyarakat bahkan orang trepandang, kita sangat khawatir kalau-kalau orang membenci kita, dan berat rasanya saat orang-orang meninggalkan kita…..

Tetapi saudaraku, tidak jarang kita abaikan nasihat orang, begitu sering kita tak mempedulikan panggilan adzan, tak bergetar hati ini saat lantunan ayat-ayat Allah terdengar ditelinga. Dengan segala kealpaan dan kekhilafan, kita tak pernah takut jika Allah Yang Maha Menguasai segalanya membenci kita dan memalingkan wajah-Nya, kita pun tak pernah mau tahu, Baginda Rasulullah mengenali kita atau tidak di Padang Mahsyar nanti. Kita juga, tak peduli melihat diri ini jauh dari kumpulan orang-orang sholeh dan beriman……
Saudaraku, tanyakan dalam hati kita masing-masing, ada apa dengan kita ?

Wallahu a’lam bishshowaab

[Sumber : eramuslim.com]
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.007/th.01/Sya’ban-1425H/2004M