Memahami Islam Untuk Mematahkan Perlawanan Islam

Mei 16, 2007

 

HUJAN dan petir besar melanda daerah Peukan, Aceh Besar, 1891, saat Snouck tiba. Mungkin alam memberi isyarat, kedatangan ahli Islam itu sebagai awal sebuah bencana di Aceh. Namun, tak seorang pun warga Aceh yang curiga. Keislaman dan pengetahuannya yang luas membuat Snouck diterima sebagai seorang saudara. Tujuh bulan di Peukan, Snouck bergaul amat rapat dengan ulama. Dan dengan diam-diam, hampir setiap malam, dia mencatat semua percakapannya dengan kaum ulama, struktur masyarakat Aceh, dan kedudukan ulama di mata rakyat. Lalu, dengan rapi catatannya itu dia persembahkan pada Gubernur Jenderal di Batavia. “Satu-satunya cara menumpas rakyat Aceh adalah dengan membantai ulamanya. Hanya ketakutan pada pembantaian saja yang bisa meredam rakyat Aceh untuk bergabung dengan kaum ulama,” sarannya.

 

Tak cukup dengan catatan itu, Snouck kemudian membuat buku, De Atjehers, yang memaparkan secara lengkap struktur masyarakat Aceh, kebudayaan, sampai posisi ulama. Segera buku itu menjadi terkenal, bahkan mendapat pujian dari para orientalis sebagai karya yang secara lengkap mengupas kebudayaan Islam di Aceh. Bagi Belanda, karya itu menjadi rujukan untuk menyusun taktik menghadapi perlawanan rakyat Aceh. Dan terbukti, Aceh pun kemudian dapat dikalahkan.

 

“Muslim” Politik

Sosok Snouck memang penuh warna. Bagi Belanda, dia adalah pahlawan yang berhasil memetakan struktur perlawanan rakyat Aceh. Bagi kaum orientalis, dia sarjana yg berhasil. Tapi bagi rakyat Aceh, dia adalah pengkhianat tanpa tanding ! Namun, penelitian terbaru menunjukkan peran Snouck sebagai orientalis ternyata hanya kedok untuk menyusup dalam kekuatan rakyat Aceh. Dia dinilai memanipulasi tugas keilmuan untuk kepentingan politik. Selain tugas memata-matai Aceh, Snouck juga terlibat sebagai peletak dasar segala kebijakan kolonial Belanda menyangkut kepentingan umat Islam. Atas sarannya, Belanda mencoba memikat ulama untuk tak menentang dengan melibatkan massa.

 

Tak heran, setelah Aceh, Snouck pun memberi masukan bagaimana menguasai Jawa dengan memanjakan ulama. Snouck berpendapat Islam bagi rakyat nusantara bukan semata-mata agama, melainkan ideologi gerakan, bahkan napas kehidupan. Karena itu, dia meminta Belanda untuk mulai mengebiri pengertian itu, dan melokalisasi gerakan keagamaan hanya menjadi semacam ritual. Dia ingin Belanda menerapkan politik “Islam Masjid”, yakni memusatkan seluruh kegiatan agama hanya di masjid.

Dia juga mendorong Belanda untuk mempermudah pelaksanaan haji, sebagai bujukan pada ulama. Untuk memudahkan propaganda perbaikan kehidupan beragama itu, Snouck bahkan rela hidup sebagai muslim utuh. Di Ciamis, 1890, dia bahkan rela mengawini Siti Sadiyah, putri Raden Haji Muhammad Adrai untuk lebih diterima bergaul di kalangan ulama. Tak heran, banyak yang menyebut keislaman Snouck sebagai muslim politik, memeluk agama Islam hanya untuk mempermulus kepentingan politik Belanda.

 

Cara yang licik luar biasa !

Snouck juga menganjurkan Belanda untuk menyingkirkan peran pesantren. Maka, Belanda pun membentuk sekolah-sekolah sekuler sebagai tandingan pesantren. Snouck bahkan terjung langsung dalam misi pendidikan itu, dan selama 17 tahun dia mencekoki anak ningrat dan menak di Jawa dengan pendidikan ala Eropa. Dia bahkan membantu anak-anak didiknya itu untuk sekolah lebih lanjut, bahkan mengirimnya ke Belanda. Semua dia lakukan agar Nusantara tak memiliki tokoh perlawanan spiritual. Praktis, setelah Aceh, Nusantara memang tak pernah lagi berjaya melawan Belanda.

 

Belajar sampai ke Mekkah

Siapa sesungguhnya lelaki yang tulisannya ini mampu menaklukkan Aceh ?. Christian Snouck Hurgronje lahir 8 Februari 1857 di Tholen, Oosterhout, Belanda. Seperti ayah, kakek, dan kakek buyutnya yang betah menjadi pendeta Protestan, Snouck pun sedari kecil sudah diarahkan pada bidang teologi. Tamat sekolah menengah, dia melanjutkan ke Universitas Leiden untuk mata kuliah Ilmu Teologi dan Sastra Arab, 1875. Lima tahun kemudian, dia tamat dengan predikat cum laude dengan di sertasi Het Mekaansche Feest (Perayaan di Mekah).

 

Tak cukup bangga dengan kemampuan bahasa Arabnya, Snouck kemudian melanjutkan pendidiklan ke Mekah, 1884. Di Mekah, keramahannya dan naluri intelektualnya membuat para ulama tak segan membimbingnya. Dan untuk kian merebut hati ulama Mekah , Snouck memeluk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Ghaffar.

Namun, pertemuan Snouck dengan Habib Abdurrachman Az-Zahir, seorang keturunan Arab yang pernah menjadi wakil pemerintahan Aceh, kemudian “dibeli” Belanda dan dikirim ke Mekah, mengubah minatnya. Atas bantuan Zahir dan Konsul Belanda di Jeddah JA Kruyt, dia mulai mempelajari politik kolonial dan upaya untuk memenangi pertempuran di Aceh. Sayang, saran-saran Habib Zahir tak ditanggapi Gubernur Belanda di Nusantara. Karena kecewa, semua naskah penelitian itu Zahir serahkan pada Snouck yang saat itu, 1886, telah menjadi dosen di Leiden.

 

Snouck seperti mendapat durian runtuh. Naskah itu dia berikan pada kantor menteri daerah jajahan Belanda. Snouck bahkan secara berani menawarkan diri sebagai tenaga ilmuan yang akan dapat memberikan gambaran lebih lengkap tentang Aceh. Pada 1889, dia menginjakkan kaki di Jawa, dan mulai meneliti pranata Islam di masyarakat pribumi, khususnya Aceh. Setelah Aceh dikuasai Belanda, 1905, Snouck mendapat penghargaan yang luar biasa. Setahun kemudian dia kembali ke Leiden, dan sampai wafatnya, 1936, dia tetap menjadi penasihat utama Belanda untuk urusan penaklukan pribumi di Nusantara.

 

http://www.suaramerdeka.com/cybernews/layar/tokoh/tokoh32.html

 

Keistimewaan Mempelajari Sirah Nabi SAW

 

Bila ada pertanyaan :”Apakah keteguhan dari Allah itu kini berlaku pada ummat Islam jaman sekarang ?”. Jawabnya :”Teryata boleh dikatakan tidak !”. Baik itu karena mereka yang memahami sirah secara matan atau teksnya tidak menghayati dan menelaah rahasia di balik itu. Misalnya, disebabkan ia tidak berada dalam alur yang sama dengan Rasulullah SAW, sehingga sukar memahaminya, atau memang ummat itu sendiri belum paham matan cerita atau teks dari sirah tersebut.

 

Matan bersandar pada sanad periwayatan. Sebenarnya sanad ini sebagaimana pandangan Ibnu Hazm, merupakan salah satu keistimewaan kaum muslimin yang tidak terdapat pada umat lain. Sehingga kita melihat sunnah, hadits dan sirah mempunyai keistimewaan yang tidak akan ada pada ummat agama lain, hatta sekali pun kaum yang katanya memiliki kitab suci. Dengan sanad ini kita meyakini bahwa sejarah hidup Nabi Muhammad SAW yang sampai kepada kita datang melalui alur ilmiah yang sagat bisa dipercaya. Fakta-fakta dan peristiwanya tidak mungkin diragukan, termasuk dalam masalah-masalah mu’jizat yang sudah jelas nashnya. Lebih dari itu, Kitabullah Al-Qur’an sendiri menjadi batu penguji bagi keabsahannya.

 

Para orientalis mencoba menulis sejarah Rasul dan menampilkan dalam bentuk ilmiah sesuai dengan selera mereka. Banyak di antara mereka menutup mata terhadap unsur harokah (dakwah dan jihad) yang menjadi inti perjalanan hidup Rasulullah SAW, dan mereka berupaya mengesankannya sebagai hasil kejeniusan sebuah karya ilmiah, bukan semangat kenabian (risalah). Sayangnya, hal ini diikuti pula oleh beberapa penulis muslim yg terperangkap dengan gambaran ‘ilmiah’ dan ‘obyektif’ versi kau orientalis. Penampilan sirah Nabi SAW semacam bikinan kaum orientalis itu sepi dari ruhul jihad dan semangat nubuwah. Terasa kering, seperti orang menonton sebuah cerita saja layaknya.

 

Belakangan ini ada pula di antara kaum muslimin yang menulis sirah dengan penuh rasa khawatir terhadap lontaran dan tudingan yang dibuat para orietalis dalam jihad. Karena ingin menampilkan Islam sebagai agama damai, biasanya ruhul jihad yg menjadi saripati sirah malah mereka kesampingkan. Kalau sudah begini, maka sirah tidak lebih dari sebuah biografi seorang tokoh besar saja.

 

(Sumber : Manhaj Haraki Dalam Sirah Nabi SAW, jilid I, Syaikh Munir Muhammad Al-Ghadban, Robbani Press, Jakarta, cet.pertama 1412 H / 1992 M)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 024/th.02/Jumada Al Tsani-Rajab 1427H/2006M


SELAMAT DATANG, PROFESOR AZAMI !

Mei 3, 2007

Prof Dr Muhammad Mustafa Azami, guru besar Studi Islam di Universitas Raja Saud, Riyadh, menulis buku “The History of the Qur’anic Text from Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments”. Di dalam bukunya yang terbaru ini, Prof Azami membandingkan sejarah Alquran dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Di dalam kajiannya yang mendalam tentang sejarah Alquran, Prof Azami menjawab dengan sangat meyakinkan pendapat-pendapat para orientalis. Ia mengkaji sejarah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan menggunakan pendapat-pendapat dari kalangan sarjana Yahudi dan Kristen.

Hasil kajiannya menunjukkan sejarah Perjanjian Lama dan Baru mengandung sejumlah masalah yang sangat mendasar dan mustahil untuk diselesaikan. Melalui karyanya itu, Prof Azami menjawab berbagai permasalahan dan terperinci seputar sejarah Al-qur’an. Ia melacak sejarah Alquran dengan menunjukkan berbagai fakta yang sangat meyakinkan. Ia juga membantah berbagai pendapat para orientalis terkemuka dalam studi Alquran. Pada 30 Maret 2005 ada sebuah peristiwa penting dalam sejarah pemikiran Islam di Indonesia karena kedatangan seorang ulama dan cendekiawan kaliber internasional, Prof Dr Muhammad Mustafa Azami, guru besar Studi Islam di Universitas Raja Saud, Riyadh. Beliau datang untuk meluncurkan bukunya The History of the Qur’anic Text from Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments, pada 2 April, di Senayan Jakarta. Buku ini telah diterjemahkan oleh tiga orang doktor dari Universitas Islam Internasional yaitu Dr Sohirin Solihin, Dr Ugi Suharto, Dr Anis Malik Thoha, dan Lili Yuliadi, MA. Di dalam bukunya yang terbaru ini, Prof Azami membandingkan sejarah Alquran dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Di dalam kajiannya yang mendalam tentang sejarah Alquran, Prof Azami menjawab dengan sangat meyakinkan pendapat-pendapat para orientalis. Sedikit berbeda dengan para ulama dari Timur Tengah yang lain, Prof Azami dalam karya tersebut menggunakan bukan saja referensi dalam bahasa Arab dan Inggris, tetapi juga bahasa Prancis dan Jerman. Prof Azami mengkaji sejarah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan menggunakan pendapat-pendapat dari kalangan sarjana Yahudi dan Kristen. Hasil kajiannya menunjukkan sejarah Perjanjian Lama dan Baru mengandung sejumlah masalah yang sangat mendasar dan mustahil untuk diselesaikan. Ketika para orientalis mengkaji Al-qur’an, mereka sudah mengasumsikan sebelumnya, sejarah Alquran sama saja dengan sejarah ”kitab suci” mereka. Disebabkan kitab suci mereka bermasalah, maka Al-qur’an juga diangggap bermasalah.

BENTENG PERTAHANAN.

Karya Prof Azami yang bernilai ilmiah tinggi ini sangat bermanfaat untuk dijadikan benteng pertahanan dalam menghadapi tantangan pemikiran para orientalis yang bertubi-tubi mengkritik Al-qur’an. Dengan menggunakan alat biblical criticism sejak abad ke-19, para orientalis telah membuat berbagai teori baru mengenai sejarah Alquran, seperti yang diformulasikan Theodor Noldeke (1836-1930), Friedrich Schwally (1919), Edward Sell (1839-1932), Gotthelf Bergstraesser (1886-1933), Leone Caentani (1869-1935), Otto Pretzl (1893-1941), Hartwig Hirschfeld (1854-1934), Joseph Horovitz (1874-1931), Richard Bell (1876-1953), Alphonse Mingana (1881-1937), Arthur Jeffery (1893-1959), Regis Blachere (1900-1973), John Wansbrough (1928-2002), dan yang masih hidup seperti Andrew Rippin, Harald Motzki dan masih banyak lagi lainnya.

Melalui karyanya, Azami menjawab berbagai permasalahan dan terperinci seputar sejarah Alquran. Ia melacak sejarah Al-qur’an dengan menunjukkan berbagai fakta yang sangat meyakinkan. Ia juga membantah berbagai pendapat para orientalis terkemuka dalam studi Alquran. Ia menunjukkan kelemahan pendapat Arthur Jeffery yang menyatakan Alquran tidak memuat Al-Fatihah, Al-Nass dan Al-‘Alaq karena surah-surah tersebut tidak ada dalam mushaf Abdullah ibn Mas’ud. Ia pula yang menunjukkan kelemahan pendapat Arthur Jeffery karena berpendapat mushaf Ubayy ibn Ka’b mengandung dua surah ekstra, dari yang selama ini diketahui kaum Muslimin. Ia inilah yang menunjukkan ketidakjujuran Alphonse Minggana, yang pernah menjadi guru besar di Universitas Birmingham, Inggris, ketika mengedit varian bacaan. Dan, ia menunjukkan berbagai kesalahan pemikiran yang dilakukan oleh berbagai orientalis lain seperti Gustav Flugel, Theodor Noldeke dan Gerd R Puin.

Pembahasan mengenai sejarah Alquran muncul menjadi isu dikalangan para orientalis setelah para teolog Kristen dan Yahudi menemukan sejumlah masalah yang sangat mendasar mengenai sejarah Perjanjian Lama dan Baru. Disebabkan berbagai masalah yang meliputi sejarah Perjanjian Lama dan Baru, maka banyak di kalangan para teolog Kristen dan Yahudi sudah tidak mempercayai lagi jika Kedua Perjanjian tersebut berasal dari Tuhan. Terlalu banyak campur tangan manusia yang telah merusak teks asli. Oleh sebab itu, Arthur Jeffery berpendapat agama yang memiliki kitab suci akan memiliki masalah dalam sejarah teks (textual history). Sebabnya, tidak ada satupun autografi dari naskah asli dulu yang masih ada. Dengan menggunakan metode-metode penelitian kritis modern (biblical criticism), Jeffery ingin mengedit Alquran secara kritis (a critical editon of the Qur’an). Ia menganalisis sejarah teks Alquran dari zaman Rasulullah SAW sampai tercetaknya teks qiraah. Ia menyimpulkan sebenarnya terdapat berbagai mushaf tandingan (rival codices) terhadap mushaf Uthmani. Pada tahun 1977, John Wansbrough (2002) menerapkan literary/source criticism dan form criticism ke dalam studi Al-qur’an. Wansbrough berpendapat kanonisasi teks Alquran terbentuk pada akhir abad ke-2 Hijrah.

Oleh sebab itu, semua hadits yang menyatakan tentang himpunan Al-qur’an harus dianggap sebagai informasi yang tidak dapat dipercaya secara historis. Semua informasi tersebut adalah fiktif yang punya maksud-maksud tertentu. Semua informasi tersebut mungkin dibuat oleh para fuqaha’ untuk menjelaskan doktrin-doktrin syariah yang tidak ditemukan di dalam teks, atau mengikut model periwayatan teks orisinal Pantekosta dan kanonisasi Kitab Suci Ibrani. Semua informasi tersebut mengasumsikan sebelumnya wujudnya standar (canon) dan karena itu, tidak bisa lebih dahulu dari abad ke-3 Hijriah. Menurut Wansbrough, untuk menyimpulkan teks yang diterima dan selama ini diyakini oleh kaum Muslimin sebenarnya adalah fiksi yang belakangan yang direkayasa oleh kaum Muslimin. Teks Al-qur’an baru menjadi baku setelah tahun 800 M. Pemikiran para Orientalis juga mempengaruhi beberapa pemikir Muslim kontemporer seperti Mohammed Arkoun dan Nasr Hamid Abu Zayd. Melacak sejarah Al-qur’an, Mohammed Arkoun sangat menyayangkan jika sarjana Muslim tidak mau mengikuti jejak kaum Yahudi-Kristen. Menurutnya, sarjana Muslim menolak menggunakan metode ilmiah (biblical criticism) karena alasan politis dan psikologis. Politis karena mekanisme demokratis masih belum berlaku. Psikologis karena pandangan muktazilah mengenai kemakhlukan Alquran di dalam waktu gagal. Akibat menolak biblical criticism, maka dalam pandangan Arkoun, studi Alquran sangat ketinggalan dibanding dengan studi Bibel. Ia berpendapat metodologi John Wansbrough memang sesuai dengan apa yang selama ini memang ingin ia kembangkan. Dalam pandangan Arkoun, mushaf ‘Uthman tidak lain hanyalah hasil sosial dan budaya masyarakat yang dijadikan ”tak terpikirkan” disebabkan semata-mata kekuatan dan pemaksaan penguasa resmi. Untuk mengubah ”tak terpikirkan” (unthinkable) menjadi terpikirkan (thinkable), Arkoun mengusulkan supaya membudayakan pemikiran liberal (free thinking).

Seirama dengan Mohammed Arkoun, Nasr Hamid berpendapat teks Al-qur’an terbentuk dalam realitas dan budaya, selama lebih dari 20 tahun. Oleh sebab itu, Al-qur’an adalah ‘produk budaya’ (muntaj thaqafi). Ia juga menjadi produsen budaya (muntij li al-thaqafah) karena menjadi teks yang hegemonik dan menjadi rujukan bagi teks yang lain. Disebabkan realitas dan budaya tidak bisa dipisahkan dari bahasa manusia, maka Nasr Hamid juga menganggap Al-qur’an sebagai teks bahasa (nas lughawi). Realitas, budaya, dan bahasa, merupakan fenomena historis dan mempunyai konteks spesifikasinya sendiri. Oleh sebab itu, Al-qur’an adalah teks historis (a historical text). Historisitas teks, realitas, dan budaya sekaligus bahasa, menunjukkan bahwa Alquran adalah teks manusiawi (nas insani). Dengan berpendapat seperti itu, Nasr Hamid menegaskan bahwa teks-teks agama adalah teks-teks bahasa yang bentuknya sama dengan teks-teks yang lain di dalam budaya. Sekalipun asal muasalnya dari Tuhan, namun Nasr Hamid, sebagaimana Schleiermacher, berpendapat studi Al-qur’an tidak memerlukan metode yang khusus. Jika metode khusus dibutuhkan, maka hanya sebagian manusia yang memiliki kemampuan saja yang bisa memahaminya. Manusia biasa akan tertutup untuk memahami teks-teks agama. Nasr Hamid menyalahkan penafsiran yang telah dilakukan oleh mayoritas mufasir yang selalu menafsirkan Al-qur’an dengan muatan metafisis Islam. Dalam pandangan Nasr Hamid, metodologi seperti itu tidak akan melahirkan sikap ilmiah. Dengan menyamakan status Al-qur’an dengan teks-teks yang lain, maka Nasr Hamid menegaskan siapa saja bisa mengkaji Al-qur’an.

Dengan munculnya berbagai macam pemikiran ”baru” mengenai Al-qur’an, dan kini dikembangkan oleh sebagian kalangan Muslim di Indonesia, maka kehadiran Prof Azami memang sangat penting dan tepat momentum. Memang namanya belum sepopuler Dr Yusuf Qaradhawi, meskipun sejumlah bukunya juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun, kajian Azami dalam bidang al-Quran dan hadith sangat strategis dan mendalam. ***

(Sumber : SELAMAT DATANG, PROFESOR AZAMI !, Adnin Armas – kandidat doktor di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur Malaysia).

[dimuat dalam Republika, Jumat, 01 April 2005].

http://etabligh.tripod.com/orientalis3.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 024/th.02/Jumada Al Tsani-Rajab 1427H/2006M


Al-Qur’an dan Orientalisme

Mei 3, 2007

Belum lama ini aqidah Umat Islam diserang lagi. Kali ini sasarannya, (lagi-lagi) kitab suci Al-Qur’an. Tidak mengherankan, sebab di antara kitab-kitab suci, Al-Qur’an merupakan satu-satunya yang dengan tegas menyatakan dirinya bersih dari keraguan (laa rayba fiihi), dijamin seluruhannya (wa innaa lahuu la-haafizhuun), dan tiada tandingannya. Lebih dari itu, Al-Qur’an ibarat pedoman arah dan petunjuk jalan, laksana obor penerang dalam kegelapan. Yang membuat kalangan non-Muslim (khususnya “orientalis-missionaris” Yahudi dan Kristen) geram sekaligus hasad (dengki) adalah fakta bahwa dalam soal yang satu inipun–yakni tentang keaslian, kebenaran dan kemukjizatan Al-Qur’an sebagai Kalamullah.

Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, orang Yahudi dan Kristen memang tak akan pernah berhenti, dengan segala macam cara, mempengaruhi Umat Islam agar mengikuti langkah mereka. Mereka ingin Umat Islam melakukan apa yang mereka lakukan : menggugat, mempersoalkan ataupun mengutak-atik yang sudah jelas dan mapan, agar timbul keraguan terhadap yang sah dan benar. Untuk memberi kesan seolah-olah obyektif dan autoritatif, orientalis-missionaris ini biasanya “berkedok” sebagai pakar (scholars/expert) dalam bahasa, sejarah, agama dan kebudayaan Timur, baik yang ‘jauh’ (Far Eastern, seperti Jepang, Cina dan India) maupun yang ‘dekat’ (Near Estern, seperti Persia, Mesir, dan Arabia).

Orientalis dan Al-Qur’an

Pada tahun 1927, Alphonse Mingana, pendeta Kristen asal Iraq dan guru besar di Universitas Birmingham Inggris, mengumumkan bahwa “sudah tiba saatnya sekarang untuk melakukan kritik teks terhadap Al-Qur’an sebagaimana yang telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani (The time has surely come to subject the text of the Koran to the same criticism as that to which we subject the Hebrew and Aramaic of the Jewish Bible, and the Greek of the Christian scriptures).” Mengapa missionaris satu ini menyerukan hal demikian ? Seruan semacam ini dilatar-belakangi oleh kekecewaan orang Kristen dan Yahudi terhadap kitab suci mereka dan disebabkan oleh kecemburuan mereka terhadap umat Islam dan kitab suci Al-Qur’an. Perlu diketahui bahwa mayoritas cendekiawan Kristen sudah lama meragukan otentisitas Bibel. Mereka terpaksa menerima kenyataan pahit bahwa Bibel yang ada di tangan mereka sekarang ini terbukti bukan asli alias ‘aspal’.

Terlalu banyak campur-tangan manusia di dalamnya, sehingga sulit untuk membedakan mana yang benar-benar wahyu dan mana yang bukan. Sebab, sebagaimana ditegaskan oleh Kurt Aland dan Barbara Aland dalam “The Text of the New Testament” (1995), mengatakan; “Until the beginning of the fourth century, the text of the New Testament developed freely….Even for later scribes, for example, the parallel passages of the Gos pels were so familiar that they would adapt the text of one Gospel to that of another. They also felt themselves free to make corrections in the text, improving it by their own standard of correctness, whether grammatically, stylistically, or more substantively.” St.Jerome juga dikatakan mengeluh soal banyaknya penulis Bibel yang “wrote down not what they find but what they think is the meaning; and while they attempt to rectify the errors of others, they merely expose their own.” Kecewa dengan kenyataan semacam itu, R. Bentley, Master of Trinity College pada tahun 1720 menghimbau Umat Kristen agar mencampakkan kitab suci mereka, yakni naskah Perjanjian Baru versi Paus Clement 1592 (“…the ‘textus receptus’ to be abandoned altogether”!).

Seruan tersebut dilanjutkan dengan munculnya “edisi kritis” Perjanjian Baru hasil ‘utak-atik’ Brooke Foss Westcott (1825-1903) and Fenton John Anthony Hort (1828-1892). Tentu saja Mingana bukan yg pertama kali melontarkan himbauan semacam itu, dan ia juga tidak sendirian. Jauh sebelum itu, tepatnya pd 1834 di Leipzig, seorang orientalis Jerman bernama Gustav Fluegel menerbitkan hasil kajian filologinya. Naskah yang ia namakan Corani Textus Arabicus tersebut sempat dipakai “tadarrus” oleh sebagian aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL). Kemudian datang Theodor Noeldeke yang berusaha merekonstruksi sejarah Al-Qur’an dalam karyanya Geschichte des Qorans (1860), sebuah upaya yang belakangan ditiru oleh Taufik Adnan Amal, juga dari Jaringan Islam Liberal.

Lalu pada tahun 1937 muncul Arthur Jeffery yang ingin mendekonstruksi al-Mushaf al-Uthmani dan membuat mushaf baru. Orientalis asal Australia yang pernah mengajar di American University, Cairo dan menjadi guru besar di Columbia University ini, konon ingin merekonstruksi teks Al-Qur’an berdasarkan Kitab al-Masahif karya Ibn Abi Dawuud as-Sijistaani yang ia anggap mengandung bacaan-bacaan dalam mushaf tandingan (yang ia istilahkan dengan ‘rival codices’). Jeffery bermaksud meneruskan usaha Gotthelf Bergstraesser dan Otto Pretzl yang pernah bekerja keras mengumpulkan foto lembaran-lembaran (manuskrip) Al-Qur’an dengan tujuan membuat edisi kritis Al-Qur’an (tetapi gagal karena semua arsipnya di Munich musnah saat Perang Dunia ke-II berkecamuk), sebuah ambisi yg belum lama ini di-echo-kan oleh Taufik Amal dari JIL. Saking antusiasnya terhadap qira’aat-qira’aat pinggiran alias ‘nyleneh’ (Nichtkanonische Koranlesarten) Bergstraesser lalu mengedit karya Ibn Jinni dan Ibn Khalaawayh.

Bagi para orientalis ini, ‘isnaad’ tidak penting dan, karena itu, riwayat yang ‘shaadh’ bisa saja dianggap ‘sahih’, yang ‘aahaad’ dan ‘ghariib’ bisa saja menjadi ‘mutawaatir’ dan ‘mashhuur’, dan yg cacat disamakan dengan yang sempurna. Yang demikian itu merupakan teknik dan strategi utama mereka menjungkir-balikkan kriteria dan nilai, menyepelekan yang fundamental dan menonjolkan yang ‘trivial’. Maka yang digembar-gemborkan adalah isu naasikh-mansuukh, soal adanya surat tambahan versi kaum Shi’ah, isu “Gharaaniq” dan lain sebagainya. Ada pula yang apriori mau merombak susunan ayat dan surah Al-Qur’an secara kronologis, mau “mengoreksi” bahasa Al-Qur’an ataupun ingin merubah redaksi ayat-ayat tertentu.

Kajian orientalis terhadap Al-Qur’an tidak sebatas mempersoalkan otentisitasnya. Isu klasik yang selalu diangkat adalah soal pengaruh Yahudi, Kristen, Zoroaster, dan lain sebagainya terhadap Islam & isi kandungan Al-Qur’an (theories of borrowing and influence), baik yang mati-matian berusaha mengungkapkan apa saja yang bisa dijadikan bukti bagi ‘teori pinjaman dan pengaruh’ tersebut-seperti dari literatur & tradisi Yahudi-Kristen (Abraham Geiger, Clair Tisdall, dan lain-lain) -maupun yang membandingkannya dengan adat-istiadat Jaahiliyyah, Romawi dan lain sebagainya. Biasanya mereka akan mengatakan bahwa cerita-cerita dalam Al-Qur’an banyak yang keliru dan tidak sesuai dengan versi Bible yang mereka anggap lebih akurat. Sikap anti-Islam ini tersimpul dalam pernyataan ‘miring’ seorang orientalis Inggris yang banyak mengkaji karya-karya suufi, Reynold A. Nicholson. Kata Nicholson, “Muhammad picked up all his knowledge of this kind [i.e. Al-Qur’an] by hearsay and makes a brave show with such borrowed trappings-largely consisting of legends from the Haggada and Apocrypha.” Namun ibarat buih, segala usaha mereka muncul dan hilang begitu saja, tanpa pernah berhasil merubah keyakinan dan penghormatan mayoritas Umat Islam terhadap kitab suci Al-Qur’an, apalagi sampai membuat mereka murtad.

Khayalan Orientalis

Al-Qur’an merupakan target utama serangan missionaris dan orientalis Yahudi-Kristen, setelah mereka gagal menghancurkan sirah dan sunnah Rasulullah sallallaahu ‘alaihi wa-sallam. Mereka mempertanyakan status kenabian Muhammad SAW, meragukan kebenaran riwayat hidup beliau dan menganggap sirah beliau tidak lebih dari sekedar legenda dan cerita fiktif. Demikian pendapat Caetani, Wellhausen, dan konco-konconya. Mereka sibuk untuk merekonstruksi biografi Nabi Muhammad SAW khususnya, dan sejarah Islam umumnya. Mereka ingin umat Islam melakukan hal yang sama seperti mereka telah lakukan terhadap Nabi Musa dan Nabi ‘Isa AS. Bagi mereka ‘Moses’ cuma tokoh fiktif (invented, mythical figure) dalam dongeng Bibel, sementara tokoh ‘Jesus’ masih diliputi misteri dan cerita-cerita isapan-jempol. Kalau ada upaya pencarian ‘Jesus historis’, mengapa tidak ada usaha menemukan fakta sejarah tentang Nabi Muhammad SAW ?.

Maka Arthur Jeffery pun menulis The Quest of the Historical Mohammad, di mana ia tak sungkan-sungkan menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai “kepala perampok” (robber chief). Diteruskan kemudian oleh F.E. Peters, dan belum lama ini dikenal oleh orang dengan nama samaran “Ibn Warraaq.” Missionaris-orientalis tersebut tidak menyadari bahwa tulisan mereka sebenarnya hanya menunjukkan hatred (kebusukan-hati) dan kebencian mereka terhadap tokoh dan agama yang mereka kaji, sebagaimana disitir oleh seorang pengamat :”The stu dies carried out in the West … have demonstrated only one thing : the anti-Muslim prejudice of their authors.” Sikap semacam ini juga nampak dalam kajian mereka terhadap hadits. Mereka menyamakan Sunnah dengan tradisi apokrypha dalam sejarah Kristen atau tradisi Aggada dalam agama Yahudi. Dalam khayalan mereka, teori evolusi juga berlaku untuk hadits; mereka berspekulasi bahwa apa yang di kenal sebagai hadits muncul beberapa ratus tahun sesudah Nabi Muhammad SAW wafat, artinya bahwa hadits mengalami beberapa tahap evolusi. Nama-nama dalam rantai periwayatan (sanad) mereka anggap tokoh fiktif. Penyandaran suatu hadits secara sistematis (isnad), menurut mereka, baru muncul pada zaman al-Daulah al-Ab basiyah. Karena itu, mereka beranggapan bahwa dari sekian banyak hadits hanya sedikit saja yang otentik, sementara sisanya kebanyakan palsu. Demikian pendapat Goldziher, Margoliouth, Schacht, Cook, dan para pengikutnya. Orientalis-missionaris ini inginkan umat Islam membuang tuntunan Rasulullah SAW sebagaimana orang Kristen meragukan dan akhirnya mencampakkan ajaran Yesus.

Otentisitas Al-Qur’an

Kembali ke masalah otentisitas kitab suci Al-Qur’an, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dan perlu senantiasa diingat. Pertama, pada prinsipnya Al-Qur’an bukanlah ‘tulisan’ (rasm atau writing) tetapi merupakan ‘bacaan’ (qira’ah atau recitation) dalam arti ucapan dan sebutan. Baik proses turun-(pewahyuan)-nya mau pun penyampaian, pengajaran dan periwayatan-(transmisi)-nya dilakukan melalui lisan dan hafalan, bukan tulisan. Dari dahulu, yang dimaksud dengan ‘membaca’ Al-Qur’an adalah “membaca dari ingatan (qara’a ‘an zhahri qalbin; to recite from memory).” Adapun tulisan berfungsi sebagai penunjang semata. Sebab ayat-ayat Al-Qur’an dicatat -yakni, dituangkan menjadi tulisan diatas tulang, kayu, kertas, daun, dan lain sebagainya-berdasarkan hafalan, bersandarkan apa yang sebelumnya telah tertera dalam ingatan sang qari ‘muqri’.

Proses transmisi semacam ini, dilakukan dengan isnaad secara mutawaatir dari generasi ke generasi, terbukti berhasil menjamin keutuhan dan keaslian Al-Qur’an sebagaimana diwahyukan oleh Malaikat Jibril a.s kepada Nabi SAW dan diteruskan kepada para Sahabat, demikian hingga hari ini. Ini berbeda dengan kasus Bibel, di mana tulisan-manuscript evidence dalam bentuk papyrus, scroll, dan sebagainya-memegang peran utama dan berfungsi sebagai acuan dan landasan bagi Testamentum alias Gospel. Jadi seluruh kekeliruan dan kengawuran orientalis bersumber dari sini. Orang-orang seperti Jeffery, Wansbrough dan Puin, misalnya, berangkat dari sebuah asumsi keliru, menganggap Al-Qur’an sebagai ‘dokumen tertulis’ atau teks, bukan sebagai ‘hafalan yang dibaca’ atau reci tatio. Dengan asumsi keliru ini (taking “the Qur’an as Text”) mereka lantas mau menerapkan metode-metode filologi yang lazim digunakan dalam penelitian Bibel, seperti historical criticism, source criticism, form criticism, dan textual criticism. Akibatnya, mereka menganggap Al-Qur’an sebagai produk sejarah, hasil interaksi orang Arab abad ke-7 dan 8 M dengan masyarakat sekeliling mereka. Mereka mengatakan bahwa mushaf yang ada sekarang tidak lengkap dan berbeda dengan aslinya (yang mereka sendiri tidak tahu pasti!), dan karena itu mereka lantas mau membuat edisi kritis, merestorasi teksnya, mau membuat naskah baru berdasarkan manuskrip-manuskrip yang ada.

(oleh: Syamsuddin Arief, PhD, lulusan ISTAC-IIUM Kuala Lumpur, peneliti INSISTS, dan tengah mengadakan penelitian di Johann Wolfgang Goethe-Universitdt, Frankfurt am Main , Jerman, untuk PhD keduanya. Tulisan ini diambil dari Jurnal Kajian Pemikiran Islam AL-INSAN Vol. 1 Tahun I, Jakarta)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 024/th.02/Jumada Al Tsani-Rajab 1427H/2006M


Kenapa Kau Tinggalkan Dua Pusaka Itu ?

Mei 3, 2007

Orang boleh tertawa jika ada yang mengajak kembali kepada al-Qur’an dan hadits untuk mengatasi kesulitan umat, tapi mencibir tanpa bisa membuktikan hanyalah kesombongan tanpa dasar. Al-Qur’an dan hadits tidak hanya berlaku pada masa Rasulullah Saw saja. Kinipun di dalamnya masih banyak yang belum ter-eksplorasi, tapi lagi-lagi kita berlebihan hingga memperlakukan al-Qur’an layaknya teks biasa yang tunduk kepada kemauan pembacanya.

Cobalah kita balik pandangan ini dengan menjadikan kita tunduk pada kemauan al-Qur’an. Para orientalis yg sangat tahu akan arti kekuatan dari dua pusaka (al-Qur’an dan Hadits) bagi ummat Islam, dengan didasari rasa dengki terhadap Islam, berusaha dengan gigih agar kedua pusaka tersebut bisa terlepas. Upaya mengaburkan pandangan umat muslim terhadap ke dua pusaka tersebut dilakukan sejak awal kemunculan Islam, yakni dengan maraknya hadits-hadits Israiliyat. Kini, berpulang kepada umat Muslim itu sendiri, apakah meninggalkannya dan mengikuti jejak orientalis (dan ahlul kitab) yang mengganti dan merubah kitab sucinya karena dianggap tidak sesuai dengan keadaan yang mereka inginkan ? ataukah tetap mempertahankan dengan menggali sebanyak mungkin informasi dan ajaran yang terkandung di dalamnya ?. Allah tidak pernah dirugikan dengan segala tingkah laku umatNya, jika ada umatNya yang berusaha meninggalkan-Nya, Allah segera menggantikan dengan ummaat yang lain yang memperjuangkan ajaran-Nya, seperti yang Ia maklumkan dalam firmanNya Al-Maidah 54. “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”

Memang agak aneh jika ada bekas biarawati yang semula mencari kelemahan dalam al -Qur’an dan Hadits, kemudian atas hidayah Allah berbalik berusaha meluruskan hujatan atas kedua pusaka tersebut. Ini bukan sekedar keanehan karena al-Qur’an mengatakan seperti itu (seperti logika Robert Morey), tapi ini adalah kenyataan yg di alami penulis saat menulis buku ini, terlepas apakah kenyataan ini menafsirkan ayat di atas ataukah sekedar kenyataan yang sering dilakukan oleh seorang muallaf -seperti lainnya- yang berusaha membela ajaran yang ia yakini kebenarannya. Namun jika oleh Allah dinilai sebagai penafsiran dari ayat di atas, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi kami. Kenyataan semacam ini, tidak saja terjadi kepada satu atau dua orang saja, tapi mungkin saja berlaku pada suatu komunitas yang dulu mencari kelemahan al-Qur’an dan al-Hadits, yang karena bukan kelemahan yang didapatkan, mereka justru mendapat pelajaran yang sangat berharga untuk kemajuan mereka sendiri.

Barat dengan orientalismenya telah menggali khazanah Islam – terlepas dari niat awalnya-, dan kini melanjutkan kajiannya pada hal-hal yang “tidak terlogika”, sementara umat muslim yg mengimport pengetahuan Islam dari mereka hanya mengunggulkan rasionalitas dan meninggalkan sesuatu yg dikatakan “tak terlogika”, umat muslim sendiri telah tertinggal satu langkah jika memang berkiblat kepada Barat. Maka jangan heran jika ramalan Bernard Shaw menjadi kenyataan dan kejayaan Islam muncul dari Eropa -tanpa bermaksud membenci suatu bangsa-, tapi memang Islam bagi semua bangsa, khususnya bangsa yang mau merubah dirinya sendiri. Maka berlomba-lomba dalam kebaikan adalah suatu kepastian bagi mereka yang ingin merubah nasibnya sendiri.Maka bagi saudaraku umat Muslim, membanggakan al-Qur’an dengan al-Hadits tidak cukup dengan perasaan bangga saja. Tapi membuktikan kebenaran ajarannya adalah salah satu cara menuju keyakinan dan kemajuan.

(sumber : “Islam Dihujat”, Hj.Irena Handono,et.al. penerbit Bima Rodheta, Kudus, edisi revisi cetakan ke 4, th.2004)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 024/th.02/Jumada Al Tsani-Rajab 1427H/2006M


Takkan Pernah Berhasil Upaya Meruntuhkan Orisinalitas Al Qur’an

Mei 3, 2007

Buku Christoph Luxenberg (nama samaran) yang berjudul “Die syro-ara maeische Lesart des Koran” telah menarik banyak perhatian mayarakat Muslim, menyusul publikasinya oleh beberapa media massa. Mulanya, Newsweek edisi 28 Juli 2003, melansir tulisan berjudul “Challenging the Qur’an”. Artikel yang ditulis Stefan Theil itu kemudian memicu kontroversi dan akhirnya majalah itu dilarang beredar di Pakistan. Di Indonesia, masalah ini menjadi ramai, setelah Majalah GATRA menampilkan masalah ini sebagai cover story-nya pada No 37 edisi 4 Agustus 2003.

Bagi kaum Muslim, tentu, upaya untuk meruntuhkan orisinalitas al-Quran sebagai wahyu Allah, bukan barang baru. Sepeninggal Rasulullah saw, Musailamah al-Kazhab sudah melakukan upaya itu. Di setiap zaman, upaya itu selalu dijawab secara elegan dan saintifik oleh ulama dan cendekiawan Muslim. Bagi sebagian kalangan, terutama kalangan orientalis Barat, karya Luxenberg (nama samaran) ini dipandang sebagai ancaman terhadap kajian al-Quran. Dalam analisisnya terhadap buku Luxenburg di Jurnal HUGOYE, Journal of Syriac Studies, Robert R. Phenix Jr. dan Cornelia B. Horn, dari University of St.Thomas, Summit Avenue St.Paul, mencatat implikasi metode kajian filologi yang dilakukan Luxenberg terhadap al-Quran. Menurut mereka, “Any future scientific study of the Qur’an will necessarily have to take this method into consideration. Even if scholars disagree with the conclusions, the philological method is robust.”Apa pun metodenya, kesimpulan kajian Luxenberg sebenarnya tidak terlalu beda dengan para orientalis dan misionaris Kristen yang melakukan kajian serupa terhadap al-Qur’an. Intinya, mereka menggugat al-Qur’an sebagai “wahyu” yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. Bahwa al-Qur’an adalah “tanzil”, “suci”, bebas dari kesalahan, sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an (QS 15:9).

Menurut Luxenberg – dengan melakukan kajian semantic terhadap sejumlah kata dalam al-Qur’an Arab yang diambil dari perbendaharaan bahasa Syriac — Al Qur’an yang ada saat ini (Mushaf Utsmani) adalah salah salin (mistranscribed) dan berbeda dengan teks aslinya. Teks asli Al Qur’an, menurutnya lebih mirip bahasa Aramaic ketimbang Arab. Sedang naskah asli itu telah dimusnahkan Khalifah Usman bin Affan. Dengan kata lain, al-Quran yang dipegang oleh kaum Muslim saat ini, bukanlah wahyu Allah SWT, melainkan akal-akalan Utsman bin Affan r.a.

Luxenberg – seperti kebanyakan orientalis lainnya – mempertanyakan motivasi Utsman bin Affan melakukan kodifikasi al-Qur’an. Ia menduga, teks al-Qur’an yang dimusnahkan Utsman bin Affan berbeda dengan teks Mushaf Utsmani yang sekarang ini. Lebih jauh, Robert R. Phenix Jr. dan Cornelia B. Horn menyatakan, jika analisis Luxenberg benar, maka isi al-Quran Mushaf Utsmani secara substansi berbeda dengan al-Qur’an di masa Nabi Muhammad saw. Tuduhan semacam ini salah sama sekali, sebab proses kodifikasi al-Qur’an di zaman Utsman bin Affan sangat terbuka cara kerjanya, dan al-Qur’an selalu diingat oleh ratusan, ribuan – bahkan kini jutaan kaum Muslimin. Setiap kekeliruan akan selalu dikoreksi oleh kaum Muslim.

Memang, dalam pendahuluan bukunya, Luxenberg memaparkan signifikansi dari bahasa dan budaya Syriac bagi bangsa Arab & al-Quran. Di masa Nabi Muhammad saw, bahasa Arab bukanlah bahasa tulis. Bahasa Syro-Aramaic atau Syriac adalah bahasa komunikasi tulis di Timur Dekat mulai abad ke-2 sampai 7 Masehi.Bahasa Syriac dialek Aramaic merupakan bahasa di kawasan Edessa, satu negara kota di Mesopotamia atas. Bahasa ini menjadi wahana bagi penyebaran agama Kristen & budaya Syriac ke wilayah Asia, Malabar & bagian Timur Cina. Sampai munculnya al-Quran, bahasa Syriac adalah media komunikasi yg luas dan penyebaran budaya Arameans, Arab, dan sebagian Persia. Budaya ini telah memproduksi literatur yg sangat kaya di Timur Dekat sejak abad ke-4, sampai digantikan oleh bahasa Arab pada abad ke-7 & ke-8 Masehi.

Satu hal yg penting, menurut Luxenberg, literatur the Syriac-Aramaic & matrik budaya ketika itu, praktis merupakan literature & budaya Kristen. Sebagian studi Luxenberg menyatakan, literature Syriac yg kemudian menciptakan tradisi “Arab tulis” adalah ditransmisikan melalui media Kristen. Pada akhirnya, Luxenberg menyimpulkan, transmisi teks al-Quran dari Nabi Muhammad saw bukanlah secara oral, sebagaimana keyakinan kaum Muslim. Al-Quran tak lebih dari turunan Bible dan liturgi Kristen Syria. Bahasa asli al-Quran bukanlah “Arab”. Sebagai contoh, nama surat al-fatiha, berasal dari bahasa Syriac “ptaxa”, yang artinya pembukaan. Dalam tradisi Kristen Syria, ptaxa harus dibaca sebagai panggilan untuk berpartisipasi dalam sembahyang. Belakangan, dalam Islam, surat ini wajib dibaca dalam salat. Kata-kata lain dalam al-Quran, seperti quran, jaw, hur, dan sebagainya, juga berasal dari bahasa Syriac dan disalah artikan dalam al-Quran sekarang ini. Sebenarnya, soal banyaknya unsur bahasa Syriac dalam al-Quran bukanlah hal yang aneh. Karena setiap bahasa – apalagi bahasa serumpun, seperti Arab, Hebrew, Syriac — akan saling menyerap, sehingga banyak mengandung kosakata yang identik.

Apalagi, sebagai Nabi penutup, yang – diibaratkan oleh Rasulullah saw sendiri – beliau adalah laksana “satu batu-bata yang menyempurnakan bangunan batu bata dari satu bangunan risalah kenabian”. Karena itu, wajar, banyak istilah dan nama dalam al-Qur’an yang memang terdapat pada Bible atau Taurat. Bahkan, al-Quran mewajibkan kaum Muslim untuk mengimani Kitab-kitab yg pernah diturunkan Allah SWT kepada para Nabi.

Soal tudingan bahwa al-Quran bukanlah wahyu Allah & hanyalah jiplakan dari orang non-Muslim, sudah disebutkan dalam al-Qur’an: “Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. Padahal, bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya, adalah bahasa ‘Ajam. Sedangkan al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang. (‘Arabiyyun mubin).” (QS 16:103). Jika dicermati, Al-Quran memang banyak menyerap istilah yang sama dengan istilah-istilah yang digunakan agama-agama sebelumnya, bahkan istilah dalam tradisi Quraish. Shaum (puasa), misalnya, jelas-jelas ditegaskan dalam al-Quran (QS 2:183) merupakan kewajiban yg dibebankan kepada kaum Muslim dan umat sebelumnya.

Tapi, konsep puasa dalam Islam, lain dengan konsep pada umat nabi sebelumnya. Begitu juga salat, haji, nikah, dan sebagainya. Bahkan, sebutan “Allah” telah dikenal oleh kaum Quraish, tetapi, konsep “Allah” dalam al-Quran sangat berbeda dengan konsep kaum jahiliyah Quraish. Istilah “haji” sudah dikenal sebelum Islam. Namun, istilah haji dalam Islam berbeda maknanya dengan “haji” sebelum Islam. Begitu juga nama-nama para Nabi. Ibrahim, Dawud, Isa, dan para Nabi lainnya, a.s., dalam konsep al-Qur’an berbeda dengan konsep nabi-nabi dalam Bible dan Taurat (yang sekarang). Misal, Al-Quran menggambarkan Nabi Daud a.s. sebagai sosok yang saleh dan kuat.

Berbeda, dengan Bible (2 Samuel 11:2-27) yang menggambarkan Daud sebagai sosok yang buruk moralnya. Selain merebut dan menzinahi istri pembantunya sendiri (Batsyeba binti Eliam), Daud juga menjebak suami si perempuan (Uria) agar terbunuh di medan perang. Sedangkan al-Quran menyatakan: “Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan, dan ingatlah hamba Kami, Daud, yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia amat taat kepada Allah.” (QS 38:17)

Konsep Islam tentang “Isa” juga berbeda dengan konsep “Jesus” dalam Kristen, meskipun keduanya merujuk kepada figur yang sama. Bahkan, jika ada yg menyebut agama Islam, Kristen, dan Yahudi adalah rumpun “Abrahamic faith”, maka konsep Ibrahim dalam Islam jelas berbeda dengan konsep Ibrahim dalam Yahudi & Kristen. Al-Quran dengan tegas menyebut: “Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yg hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” (QS 3:67). Jadi, jika ditemukan banyak istilah atau terminologi dalam al-Quran yang sama dan identik dengan istilah dalam Bible atau tradisi sebelum Islam, bukanlah berarti al-Quran menjiplak dari Kitab agama lain. Sebab, salah satu fungsi al-Quran adalah sebagai “parameter” dan korektor” terhadap penyimpangan terhadap Kitab sebelumnya. Al-Quran banyak mengingatkan terjadinya penyimpangan dan perubahan pada Kitab para Nabi itu (QS 4:46, 2:75, 2:79).

Maka, kesimpulan Luxenberg, bahwa “Al-Quran memuat artikel tertentu dari Bibel (Perjanjian Lama dan Baru) yang dibacakan dalam kebaktian Kristen”, masih sangat dangkal dan sama sekali tidak meruntuhkan kewibawaan Mushaf Utsmani yang memiliki kekuatan hujjah yang kuat sebagai wahyu Allah SWT. Apalagi, kesimpulan seperti ini — meskipun menggunakan metode yang berbeda dengan para orientalis sebelumnya — bukanlah barang baru dalam tradisi orientalis dan misionaris Kristen. Itu bisa disimak misalnya, pd buku karya Samuel M. Zwemmer, misionaris Kristen terkenal di Timur Tengah, berjudul “Islam: A Challenge to Faith” (terbit pertama tahun 1907). Di sini, Zwemmer memberikan resep untuk “menaklukkan” dunia Islam. Zwemmer menyebut bukunya “studies on the Mohammedan religion and the needs and opportunities of the Mohammedan World From the stand point of Christian Missions”. Dalam bukunya ini, Zwemmer menulis, unsur-unsur yang dipimjam oleh Islam dari berbagai agama dan tradisi sebelumnya, seperti Sabeanism, Arabian Idolatry, Zoroastrianism, Buddhism, Judaism, dan Christianity. Termasuk yang dipinjam dari Christianity, menurut Zwemmer, adalah konsep puasa Ramadhan, cerita tentang Ashabul kahfi, Lukman, Iskandar Zulkarnaen, dan sebagainya.

Zwemmer menyatakan bahwa Al-Qur’an itu :

(1) penuh dengan kesalahan sejarah

(2) banyak mengandung cerita fiktif yang tidak normal,

(3) mengajarkan hal yang salah tentang kosmogoni

(4) mengabadikan perbudakan, poligami, perceraian, intoleransi keberagamaan, pengasingan dan degradasi wanita.

Semangat seperti Samuel Zwemmer dalam melecehkan al-Quran inilah yang tampaknya ada pd kajian Luxenberg, meskipun dengan cara yang lebih halus dan sedikit canggih. Kaum Muslim, tentu saja, perlu menelaah karya semacam ini dengan cermat, dan memberikan argumentasi yg tepat & ilmiah terhadap setiap upaya penghancuran al-Quran. Wallahu a’lam. – (oleh : Adian Husaini – Sekjen KISDI)

http://etabligh.tripod.com/orientalis.html

Menjawab Buku “Islamic Invasion”

Buku berjudul The Islamic Invasion karya orientalis Robert Morey, terbitan Christian Scholars Press, Las Vegas, NV 88119, berbahasa Indonesia yang penuh fitnah dan hujatan kepada Allah SWT, Rasulullah SAW dan Islam; menunjukkan bahwa : Robert Morey tidak paham tentang Islam. Islam ditafsirkan berdasar apa yang ada dalam benaknya, jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Dia tidak paham mengenai Al Qu’ran dan Asbabun Nuzulnya serta ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al Qur’an, serta tidak mengerti bahasa Arab. Dia tidak paham tentang Hadits Rasulullah SAW dan Asbab Wurud (sebab-sebab datangnya hadist), dan berbagai ilmu yg menyangkut Hadist Rasulullah SAW. Bahkan dia tak paham tentang Kristen dan Bibelnya. Terakhir, tulisan Robert Morey itu tendensius dan tidak obyektif, menebar kebencian terhadap Islam, bahkan tidak tertutup kemungkinan akan membangkitkan rasa antipati di kalangan Kaum Kristiani sendiri. Buku The Islamic Invasion telah beredar di kalangan para muallaf yg katanya didapat dari para penginjil. Entah kenapa para penginjil menyebarkan buku tersebut kepada para muallaf, namun yg bisa diungkap disini bahwa tentu mereka bermaksud untuk menggoncang iman & islamnya para muallaf agar kembali kepada agamanya semula yaitu Kristen.

Terpanggil untuk menyelamatkan para muallaf pd khususnya & umat Islam pada umumnya, maka penulis menyusun buku ini yang diberi judul: ISLAM DIHUJAT – Menjawab buku The Islamic Invasion. Meskipun Robert Morey dalam bukunya menghujat Allah SWT, menghujat Nabi Muhammad SAW dan menghujat Islam, namun kami tetap mematuhi pesan Al Qur’an :”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan cara yang bijaksana dan Nasehat yg baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yg tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahaui orang-orang yg mendapat petunjuk.” (Q.S. 16:125). Sehingga dalam buku ini insya Allah penulis akan tetap menahan diri dan menyam paikan pandangan secara obyektif. Dalam upaya untuk mematuhi pesan ayat al-Qur’an di atas, penulis berusaha untuk selalu mengikuti nafas al-Qur’an dalam pembahasan di setiap permasalahan pokok yg dihujat oleh Dr. Robert Morey.

(disarikan dari : Pengantar buku “Islam Dihujat”, Hj.Irena Handono,et.al. penerbit Bima Rodheta, Kudus, edisi revisi cetakan ke 4, th.2004)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 024/th.02/Jumada Al Tsani-Rajab 1427H/2006M


Leiden, Pusat Kajian Para Orientalis

Mei 3, 2007

Meskipun kajian mengenai Islam dikatakan popular selepas peristiwa 11 September, namun hakikatnya, Islam telah menjadi satu bidang kajian lama sebelum itu. Kajian mengenai Islam mendapat perhatian sarjana-sarjana Barat terutamanya demi kepentingan dasar penjajahan Barat yang ingin diterapkan di negeri-negeri taklukan mereka sebelum Perang Dunia Kedua dulu. Di antara Pusat Kajian Islam di Barat yg fokus kepada bidang Islam ialah Universitas Leiden yang amat popular dikalangan cendekiawan Islam di daerah Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Mengapa ? .

Universitas Leiden sudah amat tua berada di Belanda, didirikan pada 1575 oleh Putra William dari Orange sebagai sebuah hadiah bagi warga Leiden, Belanda bagian utara, atas kegigihan mereka mempertahankan Leiden dari jajahan Spanyol. Pengarah Kajian Pusat Islam Universitas Leiden, Dr.Nico JG Kaptein, menjelaskan :”Tujuan kajian Islam adalah sebagai dasar penentuan strategi pemerintahan Belanda atas jajahannya di Hindia Timur, atau Indonesia sekarang ini. Pada pusat kajian itu sejak dulu kaum cendekiawan Belandanya sudah memberikan minat untuk mengkaji Islam dan Bahasa Arab. Alasannya, ketika Belanda menjajah Indonesia, mereka banyak berhadapan dengan unsur-unsur Islam dan berperang dengan pasukan kerajaan Islam di Indonesia. Keadaan inilah yang membuat Pusat Kajian Islam Leiden menja di pusat untuk melatih pegawai-pegawai pemerintah Belanda yang akan dikirim ke Indonesia. Mereka diberi pengetahuan mengenai Islam dan aspeknya termasuk hukum dan adat istiadatnya.

Dengan bekal pengetahuan mengenai Islam dan adat istiadat pribumi di Indonesia itu, para pegawai dari Belanda akan lebih mudah melaksanakan tugas mereka. Mereka berusaha memahami Islam bukan sekadar mempelajari pengkajian dengan cara tertentu tetapi juga dengan cara menulis buku agama. Universitas Leiden terkenal dengan simpanan sastra-sastra lama mengenai Islam. Maka dari itu, pegawai pemerintah Belanda yang dikirim ke Indonesia di zaman penjajahan pandai menulis dan meneliti agama. Pelatihan cara menulis buku dan penelitian dilakukan ketika mereka bekerja di Indonesia atau Hindia Belanda sehingga banyak sekali buku-buku yg diterbitkan oleh Universitas Leiden mengenai Islam di Indonesia kala itu. Situasi ini semakin membuat Pusat Kajian Islam Universitas Leiden berkembang, karena minat intelektual Belanda mempelajari Islam yang tinggi. Dengan pengalaman bekerja dan terlibat bersama dalam urusan pemerintahan, para sarjana Belanda ini telah menghasilkan tulisan-tulisan mengenai Islam dan masyarakat Islam yang kemudiannya mempengaruhi persepsi masyarakat umum yang membaca dan meneliti pendapat-pendapat mereka.

Inilah antara lain sebab-sebab terdapatnya kelainan-kelainan tanggapan (perbedaan pendapat) terhadap Islam dan muslim. Dan di antara intelektual yang Belanda yang terkenal itu adalah Christian Snouck Hurgronje, ahli masyarakat Aceh waktu itu; dia adalah seorang professor dari Pusat Kajian Islam Universitas Leiden dan dia menjadi penasihat pemerintah jajahan Belanda di Indonesia. Dia banyak membuat penelitian mengenai Islam Indonesia sehingga Christian Snouck Hurgronje menjadi sumber utama pemerintah jajahan Belanda . Snouck Hurgronje adalah seorang orientalis Islam yg sangat fasih berbahasa Arab. Dialah diantara orientalis pertama-tama yang memasuki Mekkah sekitar 1880 dg menyamarkan namanya menjadi Abdul Ghaffar. Disana dia mempelajari sikap, kelakuan dan tindakan kelompok masyarakat Islam Indonesia yang mengerjakan haji dan yang ada sebagiannya bermastautin di Mekkah. Begitu pulang, Snouck Hurgronje menulis beberapa saran bagaimana sebaiknya pemerintah Belanda menangani persoalan Islam dalam menghadapi rakyat setempat di Hindia Timur. Dia juga telah menerbitkan lebih dari 1.400 buku mengenai Aceh dan Islam di Indonesia waktu itu. Dan sekaligus menjadi penasihat untuk pemerintah Belanda dalam menakhlukan Aceh khussusnya, dan Indonesia pada umumnya.

Saat ini, Pusat Kajian Islam Universitas Leiden menjadi salah satu bagian dari kerjasama Indonesia-Belanda, dengan memunculkan jabatan keagamaan, khususnya agama Islam. Kerjasama ini sudah terjalin puluhan tahun yang lalu. Banyak mahasiswa Indonesia mendapatkan beasiswa untuk belajar di Pusat Kajian tsb, baik tingkat sarjana, sarjana muda sampai doktor. Pusat Kajian Islam Universitas Leiden sejauh ini telah berhasil meluluskan lebih dari 75 mahasiswa Indonesia tingkat sarjana muda. Juga sedang membimbing beberapa pelajar Indonesia yang studi pada tingkat doktor. Pusat Kajian ini juga mempunyai beberapa professor yg mendalami soal “ekstrimis” dalam Islam, seperti gerakan Islam “radikal” di Mesir , ada beberapa professor yang mendalami ideologi Islam.

Jauh sebelum peristiwa 11 September, kajian mengenai ekstrimis Islam sudah ada di Leiden. Pusat Kajian ini mendalami Islam dalam perspektif akademik. Jika pemerintah ingin mempergunakan kajian ini, maka hasil kajiannya akan mendekati “kebenaran” (versi orientalis), beberapa lembaga di bawah naungan kementerian luar negeri Belanda sering mempergunakan bahan kajian dari Pusat Kajian Islam dari Universitas Leiden. Universitas Leiden merupakan salah satu diantara universitas-universitas yang amat popular di kalangan cendekiawan Islam kontemporer. Mungkin karena pendidikan yang ala Barat inilah yang menyebabkan timbulnya anggapan setengah pihak yang mengatakan para lulusan atau mahasiswa dari universitas tersebut lebih bersikap liberal dalam melihat Islam.

(sumber : Mariani Yahya, Radio Singapura Internasional)http://www.rsi.sg/malay/imej/view/20050602114951/1/.html

Racun Yang Ditebar Penjajah

Judul ini akan lebih mudah dimengerti bila ditinjau dari kaum muslimin yang berpaham kebangsaan dengan akar keagamaan yang lemah. Keadaan mereka jauh lebih parah dibanding kaum muslimin tradisional. Konsep nasionalisme membuat mereka dihantui oleh ‘split personality’, yakni pecah kepribadian dalam penghayatan sejarah. Pelajaran sejarah warisan penjajah memaksa mereka agar bangga dengan sejarah nenek moyangnya. Mereka diwajibkan menanggung beban masa lalu bangsanya sendiri. Sedang kebanggaan historisnya itu seringkali tidak lebih dari sebuah masa lampau yang kelam, sejarah jahiliyah yang sebenarnya tidak patut dibanggakan (malah diagung-agungkan). Sementara itu di lain sisi, sebagai ummat Islam, keagungan sejarahnya jelas tidak dapat diingkari.Misalnya, beban historis orang Mesir harus memikul kebanggaan sebagai bangsa keturunan Fir’aun. Orang-orang Iraq dengan Nebukad Nezar ataau Hamurabbi yang dibangun dengan darah, keringat dan tulang belulang rakyatnya. Padahal negeri-negeri itu jelas diselamatkan, dibangkitkan dan diperjuangkan oleh Islam dan kaum muslimin. Sayangnya, peranan Islam mereka kesampingkan, sementara generasi mudanya terus dicekoki dengan sejarah tirani yang telah tumbang itu. Sebagian orang Arab Nasionalis bahkan mengklaim bahwa sejarah Islam merupakan sejarah mereka namun dengan melucuti unsur-unsur Islam dari dalamnya. Lihatlah misalnya, bagaimana pengarang-pengarang seperti, Munjid, Abu Louis, dll, mereka memasukkan fenomena wahyu sebagai fenomena sastra, bukan fenomena keagamaan. Mereka menganggap Al Qur’an dan hadits sebagai puncak kematangan dan kedewasaan bahasa Arab, ini sama dengan menafikkan bahwa kedua pusaka itu sumbernya adalah wahyu. Jelas, dengan kalimat itu mereka hanya mengganggap bahwa kedua pusama ummat Islam hanya sekedar karya sastra sebagaimana bikinan manusia, meski mereka memberi nilai sebagai ‘puncak kematangan’ . Ini jelas merupakan upaya penghilangan peran Islam dari panggung sejarah. Maka menyadari bahwa junjungan dan sebagai panutan kita adalah rasulullah SAW dan para sahabatnya merupakan ummat yang mulia adalah kekayaan kita sebagai umat Islam. Mengkaji dan menghayati setiap langkah gerakan generasi sahabat merupakan aset kebangkitan ummat Islam. Membuka kembali lembaran-lembaran dakwah dan jihad dalam perjuangan mereka membangun Islam merupakan modal perjuangan ummat yang tidak ternilai harganya.

(sumber : Manhaj Haraki Dalam Sirah Nabi SAW, jilid I, Syaikh Munir Al-Ghadban, Robbani Press, cet.pertama 1412 H / 1992 M)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 024/th.02/Jumada Al Tsani-Rajab 1427H/2006M


Orientalis Memahami Islam Untuk Mematahkan Perlawanan Islam

Mei 3, 2007

Hujan dan petir besar melanda daerah Peukan, Aceh Besar, 1891, saat Snouck tiba. Mungkin alam memberi isyarat, kedatangan ahli Islam itu sebagai awal sebuah bencana di Aceh. Namun, tak seorang pun warga Aceh yang curiga. Keislaman dan pengetahuannya yang luas membuat Snouck diterima sebagai seorang saudara. Tujuh bulan di Peukan, Snouck bergaul amat rapat dengan ulama. Dan dengan diam-diam, hampir setiap malam, dia mencatat semua percakapannya dengan kaum ulama, struktur masyarakat Aceh, dan kedudukan ulama di mata rakyat. Lalu, dengan rapi catatannya itu dia persembahkan pada Gubernur Jenderal di Batavia. “Satu-satunya cara menumpas rakyat Aceh adalah dengan membantai ulamanya. Hanya ketakutan pada pembantaian saja yang bisa meredam rakyat Aceh untuk bergabung dengan kaum ulama,” sarannya.

Tak cukup dengan catatan itu, Snouck kemudian membuat buku, De Atjehers, yang memaparkan secara lengkap struktur masyarakat Aceh, kebudayaan, sampai posisi ulama. Segera buku itu menjadi terkenal, bahkan mendapat pujian dari para orientalis sebagai karya yang secara lengkap mengupas kebudayaan Islam di Aceh. Bagi Belanda, karya itu menjadi rujukan untuk menyusun taktik menghadapi perlawanan rakyat Aceh. Dan terbukti, Aceh pun kemudian dapat dikalahkan.

“Muslim” Politik
Sosok Snouck memang penuh warna. Bagi Belanda, dia adalah pahlawan yang berhasil memetakan struktur perlawanan rakyat Aceh. Bagi kaum orientalis, dia sarjana yg berhasil. Tapi bagi rakyat Aceh, dia adalah pengkhianat tanpa tanding ! Namun, penelitian terbaru menunjukkan peran Snouck sebagai orientalis ternyata hanya kedok untuk menyusup dalam kekuatan rakyat Aceh. Dia dinilai memanipulasi tugas keilmuan untuk kepentingan politik. Selain tugas memata-matai Aceh, Snouck juga terlibat sebagai peletak dasar segala kebijakan kolonial Belanda menyangkut kepentingan umat Islam. Atas sarannya, Belanda mencoba memikat ulama untuk tak menentang dengan melibatkan massa.

Tak heran, setelah Aceh, Snouck pun memberi masukan bagaimana menguasai Jawa dengan memanjakan ulama. Snouck berpendapat Islam bagi rakyat nusantara bukan semata-mata agama, melainkan ideologi gerakan, bahkan napas kehidupan. Karena itu, dia meminta Belanda untuk mulai mengebiri pengertian itu, dan melokalisasi gerakan keagamaan hanya menjadi semacam ritual. Dia ingin Belanda menerapkan politik “Islam Masjid”, yakni memusatkan seluruh kegiatan agama hanya di masjid. Dia juga mendorong Belanda untuk mempermudah pelaksanaan haji, sebagai bujukan pada ulama. Untuk memudahkan propaganda perbaikan kehidupan beragama itu, Snouck bahkan rela hidup sebagai muslim utuh. Di Ciamis, 1890, dia bahkan rela mengawini Siti Sadiyah, putri Raden Haji Muhammad Adrai untuk lebih diterima bergaul di kalangan ulama. Tak heran, banyak yang menyebut keislaman Snouck sebagai muslim politik, memeluk agama Islam hanya untuk mempermulus kepentingan politik Belanda.

Cara yang licik luar biasa !
Snouck juga menganjurkan Belanda untuk menyingkirkan peran pesantren. Maka, Belanda pun membentuk sekolah-sekolah sekuler sebagai tandingan pesantren. Snouck bahkan terjung langsung dalam misi pendidikan itu, dan selama 17 tahun dia mencekoki anak ningrat dan menak di Jawa dengan pendidikan ala Eropa. Dia bahkan membantu anak-anak didiknya itu untuk sekolah lebih lanjut, bahkan mengirimnya ke Belanda. Semua dia lakukan agar Nusantara tak memiliki tokoh perlawanan spiritual. Praktis, setelah Aceh, Nusantara memang tak pernah lagi berjaya melawan Belanda.

Belajar sampai ke Mekkah
Siapa sesungguhnya lelaki yang tulisannya ini mampu menaklukkan Aceh ?. Christian Snouck Hurgronje lahir 8 Februari 1857 di Tholen, Oosterhout, Belanda. Seperti ayah, kakek, dan kakek buyutnya yang betah menjadi pendeta Protestan, Snouck pun sedari kecil sudah diarahkan pada bidang teologi. Tamat sekolah menengah, dia melanjutkan ke Universitas Leiden untuk mata kuliah Ilmu Teologi dan Sastra Arab, 1875. Lima tahun kemudian, dia tamat dengan predikat cum laude dengan di sertasi Het Mekaansche Feest (Perayaan di Mekah).

Tak cukup bangga dengan kemampuan bahasa Arabnya, Snouck kemudian melanjutkan pendidiklan ke Mekah, 1884. Di Mekah, keramahannya dan naluri intelektualnya membuat para ulama tak segan membimbingnya. Dan untuk kian merebut hati ulama Mekah , Snouck memeluk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Namun, pertemuan Snouck dengan Habib Abdurrachman Az-Zahir, seorang keturunan Arab yang pernah menjadi wakil pemerintahan Aceh, kemudian “dibeli” Belanda dan dikirim ke Mekah, mengubah minatnya. Atas bantuan Zahir dan Konsul Belanda di Jedah JA Kruyt, dia mulai mempelajari politik kolonial dan upaya untuk memenangi pertempuran di Aceh. Sayang, saran-saran Habib Zahir tak ditanggapi Gubernur Belanda di Nusantara. Karena kecewa, semua naskah penelitian itu Zahir serahkan pada Snouck yang saat itu, 1886, telah menjadi dosen di Leiden.

Snouck seperti mendapat durian runtuh. Naskah itu dia berikan pada kantor menteri daerah jajahan Belanda. Snouck bahkan secara berani menawarkan diri sebagai tenaga ilmuan yang akan dapat memberikan gambaran lebih lengkap tentang Aceh. Pada 1889, dia menginjakkan kaki di Jawa, dan mulai meneliti pranata Islam di masyarakat pribumi, khususnya Aceh. Setelah Aceh dikuasai Belanda, 1905, Snouck mendapat penghargaan yang luar biasa. Setahun kemudian dia kembali ke Leiden, dan sampai wafatnya, 1936, dia tetap menjadi penasihat utama Belanda untuk urusan penaklukan pribumi di Nusantara.

http://www.suaramerdeka.com/cybernews/layar/tokoh/tokoh32.html

Keistimewaan Mempelajari Sirah Nabi SAW

Bila ada pertanyaan :”Apakah keteguhan dari Allah itu kini berlaku pada ummat Islam jaman sekarang ?”. Jawabnya :”Teryata boleh dikatakan tidak !”. Baik itu karena mereka yang memahami sirah secara matan atau teksnya tidak menghayati dan menelaah rahasia di balik itu. Misalnya, disebabkan ia tidak berada dalam alur yang sama dengan Rasulullah SAW, sehingga sukar memahaminya, atau memang ummat itu sendiri belum paham matan cerita atau teks dari sirah tersebut.

Matan bersandar pada sanad periwayatan. Sebenarnya sanad ini sebagaimana pandangan Ibnu Hazm, merupakan salah satu keistimewaan kaum muslimin yang tidak terdapat pada umat lain. Sehingga kita melihat sunnah, hadits dan sirah mempunyai keistimewaan yang tidak akan ada pada ummat agama lain, hatta sekali pun kaum yang katanya memiliki kitab suci. Dengan sanad ini kita meyakini bahwa sejarah hidup Nabi Muhammad SAW yang sampai kepada kita datang melalui alur ilmiah yang sagat bisa dipercaya. Fakta-fakta dan peristiwanya tidak mungkin diragukan, termasuk dalam masalah-masalah mu’jizat yang sudah jelas nashnya. Lebih dari itu, Kitabullah Al-Qur’an sendiri menjadi batu penguji bagi keabsahannya.

Para orientalis mencoba menulis sejarah Rasul dan menampilkan dalam bentuk ilmiah sesuai dengan selera mereka. Banyak di antara mereka menutup mata terhadap unsur harokah (dakwah dan jihad) yang menjadi inti perjalanan hidup Rasulullah SAW, dan mereka berupaya mengesankannya sebagai hasil kejeniusan sebuah karya ilmiah, bukan semangat kenabian (risalah). Sayangnya, hal ini diikuti pula oleh beberapa penulis muslim yg terperangkap dengan gambaran ‘ilmiah’ dan ‘obyektif’ versi kau orientalis. Penampilan sirah Nabi SAW semacam bikinan kaum orientalis itu sepi dari ruhul jihad dan semangat nubuwah. Terasa kering, seperti orang menonton sebuah cerita saja layaknya.

Belakangan ini ada pula di antara kaum muslimin yang menulis sirah dengan penuh rasa khawatir terhadap lontaran dan tudingan yang dibuat para orietalis dalam jihad. Karena ingin menampilkan Islam sebagai agama damai, biasanya ruhul jihad yg menjadi saripati sirah malah mereka kesampingkan. Kalau sudah begini, maka sirah tidak lebih dari sebuah biografi seorang tokoh besar saja.

(Sumber : Manhaj Haraki Dalam Sirah Nabi SAW, jilid I, Syaikh Munir Muhammad Al-Ghadban, Robbani Press, Jakarta, cet.pertama 1412 H / 1992 M)

note : artikel di atas telah dimuat dalam
Labbaik, edisi : 024/th.02/Jumada Al Tsani-Rajab 1427H/2006M