Anjuran tetap berakhlak mulia dan sabar dikala sakit

September 12, 2007

[Oleh : K.H. Abdullah Gymnastiar]

Mudah-mudahan kita semua dikaruniai nikmatnya bersabar, karena kesabaran begitu tinggi nilainya dalam Islam. Kedudukan seseorang di sisi Allah, keakraban seseorang dengan Allah bisa ditempuh dengan kesabaran, Innallaha maas shobirin, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. (QS.Al baqarah : 153)

Jadikanlah sabar dan sholat sebagai kunci pembuka pertolongan Allah. Adalah salah jika kita mengatakan bahwa sabar itu ada batasnya, berarti kita membatasi pahala. Mengatakan sabar itu ada batasnya, mencerminkan kita kurang sabar dalam bersabar. Sabar akan membuahkan pesona yg tiada terputus, oleh karenanya jika kita ingin menikmati kehidupan, kita harus menikmati setiap kejadian karena orang yang beriman tidak pernah merasa rugi. Diberi nikmat dia bersyukur, diberikan musibah dia bersabar. Syukur berarti kebaikan bagi dirinya, sabar juga kebaikan bagi dirinya. Maka tidak ada yang harus kita takuti dalam hidup ini, kecuali kita tidak punya rasa syukur dan tidak punya rasa sabar.

Asma Allah yang bersesuaian adalah “As-Shobur”, kata Shobur terambil dari kata shod, ba’ dan ro’ , maknanya asalnya adalah menahan ketinggian sesuatu atau sejenis batu yang amat keras, jadi seseorang yang mempunyai kemampuan menahan diri adalah termasuk orang-orang yang sabar.

Sabar bagi manusia bukan berarti pasrah, sabar adalah kegigihan kita untuk tetap berpegang teguh kepada ketetapan Allah. Jadi kesabaran itu adalah sebuah proses aktif, kombinasi antara ridho dan ikhtiar. Kesabaran bukan proses diam dan pasif melainkan proses aktif yaitu akal aktif, tubuh aktif dan iman yang aktif. Justru dari musibah yg disikapi dengan sabar akan lahir rahmat dan tuntunan dari Allah.

Ditimpa musibah sakit, misalnya. Semua orang pernah sakit, bahkan orang yang tidak pernah sakit mungkin saja dia tidak disukai oleh Allah. Sakit adalah bagian dari penggugur dosa. Rosullullah bersabda dalam sebuah hadis, “Tidaklah seseorang merasakan sakit dihina atau tertusuk duri kecuali Allah menggugurkan dosanya, bagai gugurnya daun-daun”, jadi proses sakit itu proses pengguguran dosa. Bagaimana sabar menghadapi sakit ?

Yang pertama, kalau kita suatu saat diuji dengan sakit, kita harus sadar bahwa kesabaran pertama yang harus dimiliki adalah sabar Husnuzon (berbaik sangka) kepada Allah, karena seburuk-buruk perilaku adalah berburuk sangka kepada Allah. Husnuzon karena tubuh kita adalah milik Allah, bukan milik kita. Kalau Allah mau membuat penyakit pada diri kita, sehebat apa pun diri kita tetap sakit. Allah berkuasa terhadap diri kita dan Allah mudah berbuat apa saja. “Allah Tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya.” Yang menciptakan semua syaraf kita adalah Allah dan Allah tahu rasa sakit yang kita pikul karena dia yang menciptakan sakit.

Sabar yang kedua adalah sabar untuk tidak mengeluh. Sebenarnya menceritakan penderitaan kita kepada orang lain adalah mencerminkan ketidaksabaran, apalagi jika kita menceritakan sesuatu seakan lebih dari kenyataan. Hati-hati menceritakan penderitaan kepada orang lain sebab jika tidak hati-hati bisa menjadi kufur nikmat, sepertinya mengadukan perbuatan Allah yang Maha Agung kepada manusia, mahluk yang lemah. Jangan keluh kesah apalagi sampai mendramatisir, jangan sampai memprotes perbuatan Allah yang Maha Adil. Sakit tidak membuat seseorang jadi hina kalau disikapi dengan akhlak yang mulia.

Sabar yg ketiga adalah sabar mentafakuri hikmah sakit. Tidak ada perbuatan Allah yang sia-sia, semua presisi. Setiap sakit itu ada hikmahnya, maka evaluasi dan renungkanlah, mungkin kita terlalu sibuk, dikasih sakit, sehingga kita bisa istirahat. Kita sakit berada di kamar, bayangkan saudara kita yang sakit di kolong jembatan, yang tidak punya tempat tidur. Tafakuri, ketika kita gagah dan hebat, dikasih sakit diare saja bisa menjadi lemas. Harusnya setiap sakit dapat meningkatkan kesadaran kita bahwa kesehatan itu amat berharga.

Sabar yang keempat adalah bersabar ketika ikhtiar. Ketahuilah bahwa yang menyembuhkan itu bukan dokter, bukan paranormal, yang menyembuhkan itu hanya Allah, karena Dia yang paling tahu penyakit kita, “Tiada musibah menimpa kecuali karena izin Allah.” Ketika kita sudah berobat ke sana sini tapi tidak juga sembuh, tidak akan rugi sebab akan menjadi amal. Barangsiapa ridho kepada ketentuan Allah, maka Allah akan ridho, hidup terus maju, ikhtiar saja.

Sabar yang kelima, sabar untuk berniat sembuh dan punya niat untuk beribadah. Milikilah tekad untuk mengisi rasa sehat yang Allah karuniakan dengan meningkatkan ibadah. Jangan sampai kita tidak punya visi tentang bagaimana menggunakan kesehatan. Tidak sedikit orang terangkat derajatnya karena sakit atau cacat, bahkan ada orang yang cemerlang justru karena kebutaannya, karena seburuk-buruk penyakit justeru hati yang sakit.
Oleh karena itu, waspadalah jangan sampai kesehatan ini mengecoh kita. Dengan sehat tapi banyak maksiat, itu jauh lebih berbahaya dibanding sakit yang bisa membuat kita dekat dengan Allah. Tidak ada musibah yang terburuk kecuali orang yang tidak punya rasa syukur dan tidak punya kemampuan bersabar.
[dari : http://www.detik.com]

http://faisal.winwinfaisal.info/isi.php?II=30″

Pengobatan Jarak Jauh Lewat Televisi, Apakah Menggunakan Jin ?

Tanya : Assalamualaikum Wr. Wb.
Akhir-akhir ini di televisi sering diadakan pengobatan alternatif jarak jauh lewat televisi. Dalam tayangan itu, si penyembuh meminta pada si penelpon (pasien) untuk melakukan gerakan-gerakan tertentu, sehingga sakit yang diderita pasien bisa sembuh. Apakah orang tersebut (ahli pengobatan) menggunakan jasa jin ? Bagaimana pandangan Islam tentang hal ini ?. Mohon penjelasan dari pak Ustadz. Jazakumullah khairan katsira.
Wassalamualaikum Wr. Wb. – Mahatir

Jawaban :
Wa’alaikumsalaam wr. wb.
Saudara Mahatir, terlepas dari apa yang dilakukan si pengobat itu di televisi dan terlepas siapa dia. Tapi dalam Islam ada kajian-kajiannya tentang pengobatan jarak jauh. Pada dasarnya, pengobatan ruqyah syar’iyyah adalah pengobatan langsung tatap muka berhadapan antara pengruqyah dengan si pasien. Sebagaimana yang dilakukan oleh seorang sahabat Usman bin Abdil ‘Ash, di mana ketika ia mengalami gangguan yang disebabkan oleh jin, yang mengganggu konsentrasinya dalam sholat, maka ia pergi ke Madinah untuk bertemu dengan Nabi SAW dan mengadukan masalahnya. Kemudian ia meminta didoakan dan diruqyah oleh Nabi SAW. Padahal untuk bertemu Nabi SAW harus menempuh perjalanan yang sangat jauh, hal ini menunjukan bahwa usahanya harus datang ke Madinah untuk bertemu langsung dengan Nabi SAW, lalu diruqyah dan sembuh.

Masalahnya sekarang, karena teknologi sudah canggih seperti adanya handphone dan telepon. Jadi intinya bacaan ruqyah itu sampai ke telinga si pasien, sebagian ulama pun memfatwakan bolehnya ruqyah mulalui telepon, karena suaranya sampai. Atau melalui televisi, di mana si Ustadz membacakan ayat di televisi dan si pasien di rumah mendengarkannya, artinya ada suara yang sampai. Di luar itu, kalau kemudian ada gerakan tertentu atau jurus-jurus tertentu yang harus dilakukan, bahkan harus menempelkan tangan di layar kaca TV menunjukan indikasi bahwa ilmu yang dipakai si pengobat tidak benar, karena tidak ada dalam syariat Islam. Biasanya ilmu yang ditransfer jarak jauh menggunakan bantuan jin. Transfer ilmu jarak jauh, mengobati lewat telepon tanpa membaca ayat ruqyah. Namun kalau sifatnya hanya merupakan senam kesegaran jasmani, itu namanya senam. Tapi, kalau kemudian ada disebutkan pengobatan alternatif yang menggunakan gerakan, dan tidak ada kajian medisnya. Maka hal itu tidak ada dalam kajian Islam, karena pada ruqyah pun tidak ada gerakan-gerak atau jurus tertentu. Biasanya yang memakai gerakan atau jurus tertentu, ada dalam ilmu perdukunan. Demikian kesimpulan dari saya, dan itu terlepas dari siapa yang ada di televisi tersebut. Wassalaam, –
(dijawab oleh : Ustadz Budi Ashari)

http://www.eramuslim.com/i.php/ksl/view/018b.htm
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M

Iklan

MENGAPA ALLAH MENCIPTAKAN ORANG CACAT MENTAL ?

September 12, 2007

Tanya : Kenapa Allah menciptakan orang-orang yang cacat mental ?

Jawab : Al-Hamdulillah. Sesungguhnya di antara pondasi ajaran Islam adalah mengimani hikmah Rabb Subhanahu wa Ta’ala dalam penciptaan dan syariat-Nya. Dalam arti, bahwa Allah tidak akan menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Allah juga tidak akan mensyariatkan sesuatu yg tidak memiliki kemaslahatan bagi hamba-hamba-Nya. Segala yang ada adalah di bawah kekuasaan dan kehendak-Nya.
Allah berfirman: “Allah menciptakan segala sesuatu..” (Az-Zumar : 65) Di antara konsekuensi kebijaksanaan Allah adalah diciptakannya hal-hal yang saling berlawanan. Allah menciptakan para malaikat dan syetan, siang dan malam, baik dan buruk, bagus dan jelek, keburukan dan kebaikan, menciptakan perbedaan dan keberpautan antara sesama hamba-Nya pada akal dan tubuhnya juga dalam kekuatan mereka. Allah juga menciptakan di antara mereka ada yang kaya dan miskin, sehat dan sakit, berakal dan bodoh. Di antara hikmah dalam penciptaan Allah bahwa Allah akan memberi cobaan kepada mereka, dan menjadikan sebagian mereka sebagai cobaan bagi yang lain. Agar menjadi jelas siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur kepada-Nya. Allah berfirman : “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir” (Al-Insan : 1-3)
Juga firman Allah :” Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Al-Mulk : 1-2)

Seorang mukmin yang sehat bila melihat orang yang cacat akan dapat mengetahui kenikmatan Allah dan bersyukur atas nikmat tersebut, memohon kepada Allah untuk memberinya keselamatan. Ia juga tahu bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Para hamba tidak akan mampu menguasai hikmah dari semua itu. Allah tidak bisa ditanya tentang apa yang Dia perbuat, justru mereka yang akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatan mereka. Segala hikmah Allah yang kita ketahui dari Rabb kita harus kita imani. Dan yang tidak mampu kita ketahui, kita serahkan kepada Rabb kita. Allah lebih mengetahui dan lebih bijaksana. Kita hanya memiliki ilmu yg Allah ajarkan kpd kita, dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

(Dari buku Al-Iman Bil Qadha wal Qadr oleh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd hal.144. dan telah dimuat pula dalam website http://www.islam-qa.com)

http://www.salam-online.com/2007/05/28/allah-menciptakan-orang-cacat-mental/

PENDERITA SAKIT JIWA

Diantara hal yang perlu diingatkan disini ialah yang berkenaan dengan penderita gangguan jiwa, karena dalam hal ini banyak orang -hingga keluarganya sendiri bahkan orang yang paling dekat dengannya- melupakannya dan tidak memperhatikan hak-haknya, sebab mereka tidak melihat wujud penyakit ini pada organ tubuh. Maka mereka menganggapnya sebagai orang sehat, padahal anggapan demikian tidak benar.

Oleh karena penyakitnya yang tidak tampak -sebab berkaitan dengan perasaan, pikiran, dan pandangannya terhadap manusia dan kehidupan- maka ia harus dipergauli secara baik. Ia harus disikapi dengan lemah lembut dalam berbicara dan menilai sesuatu, dan diperlakukan dengan kasih sayang.

(sumber : Fatwa-fatwa Kontemporer, Dr. Yusuf Qardhawi, Gema Insani Press, Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740, Telp. (021) 7984391-7984392 Fax. (021) 7984388)
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Sakit16.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M


Kisah Seorang Siswi Palestina

September 11, 2007

Infopalestina – Al Sahl Lish Shahafah Wal I’lam :
Ini adalah kisah tentang seorang siswi di sebuah sekolah putri di Palestina.

Pada hari itu dewan sekolah berkumpul seperti biasanya. Di antara keputusan dan rekomendasi yang dikeluarkan dewan dalam pertemuan ini adalah pemeriksaan mendadak bagi siswi di dalam aula. Dan benar, dibentuklah tim khusus untuk melakukan pemeriksaan, dan tim mulai bekerja. Sudah barang tentu, pemeriksaan dilakukan terhadap segala hal yang dilarang masuk di lingkungan sekolah seperti handphone berkamera, foto-foto, gambar-gambar dan surat-surat cinta serta yang lainnya.

Suasana saat itu nampak normal dan stabil, kondisinya sangat tenang. Para siswi menerima perintah ini dengan senang hati. Mulailah tim pemeriksa menjelajah semua ruangan dan aula, dari satu ruangan dan masuk ke ruangan lainnya. Membuka tas-tas para siswi di depan mereka. Semua tas harus bersih, kecuali berisi buku-buku, pena dan peralatan kebutuhan kuliah lainnya. Hingga akhirnya pemeriksaan selesai di seluruh ruangan kecuali satu ruang an. Di situlah bermula kejadian ini. Apakah sebenarnya yang terjadi ?

Tim pemeriksa masuk ke ruangan ini seperti biasanya. Tim meminta izin kepada para siswi untuk memeriksa tas-tas mereka. Dan dimulailah pemeriksaan. Namun saat sampai di ujung ruangan ada seorang siswi yang tengah duduk. Dia memandang kepada tim pemeriksa dengan pandangan gusar dan mata nanar, dan tangannya memegang erat tasnya. Pandangannya semakin tajam setiap giliran pemeriksaan semakin dekat pada dirinya. Apa yang dia sembunyikan di dalam tasnya ?

Beberapa saat kemudian tim pemeriksa sampai pada siswi yang sedang memegang erat tasnya tersebut. Siswi itu tetap memegang sangat erat tasnya. Seakan dia mengatakan, “Demi Allah mereka tidak akan membuka tas saya”.
“Tolong buka tasnya anakku”, kata seorang guru anggota tim pemeriksa. Siswi itu tidak langsung membuka tasnya. Dia melihat wanita yang ada di depannya dengan diam sambil tetap mendekap tas di dadanya. “Barikan tasmu, wahai anakku”, kata pemeriksa itu dengan lembut. Namun tiba-tiba siswi tersebut berteriak keras :”Tidak ! tidak ! tidak ..!”.

Teriakan itu memancing para pemeriksa lainnya berdatangan mendekati siswi tersebut, dan mereka berkumpul di sekitarnya. Maka terjadilah debat sengit :”Berikan tasmu!”. “Tidak”. “Berikan!”. “Tidak ..!”.

Adakah rahasia yang dia sembunyikan ? Dan apa yang sebenarnya terjadi ?. Maka terjadilah adegan memperebutkan tas antara guru dengan murid tersebut. Para siswi pun terhenyak dan semua mata terbelalak. Seorang dosen wanita berdiri dan tangannya diletakkan di mulutnya. Memberi tanda agar semua siswi tidak rebut. Ruangan tiba-tiba sunyi. Semua terdiam. Ya Ilahi, apakah sebenarnya yang ada di dalam tas tersebut ?. Apakah benar bahwa si Fulanah (siswi) tersebut ….

Setelah dilakukan musyawarah akhirnya tim pemeriksa sepakat untuk membawa sang siswi dan tasnya ke kantor, guna melanjutkan pemeriksaan yang barang kali membutuhkan waktu lama …

Siswi tadi masuk kantor, dengan linangan air mata. Matanya memandang ke arah semua yang hadir di ruangan itu dengan tatapan penuh benci dan marah, karena mereka akan mengungkap rahasia dirinya di hadapan orang banyak. Ketua tim pemeriksa memerintahkannya duduk untuk menenangkan suasana. Dan setelah mulai tenang, maka kepala sekolah pun bertanya, “Apa yang kau sembunyikan di dalam tas wahai anakku …?”.

Di sini, dalam saat-saat yang pahit dan sulit, dia membuka tasnya. Ya Ilahi, apakah gerangan yang ada di dalamnya ? Bukan. Bukan. Tidak ada sesuatu pun yang dilarang ada di dalam tasnya. Tidak ada benda-benda haram, hand phone berkamera, gambar dan foto-foto atau surat cinta. Demi Allah, tidak ada apa-apa di dalamnya kecuali sisa makanan (roti). Ya, itulah yang ada di dalam tasnya.

Kemudian dia ditanya tentang sisa makanan yang ada di dalam tasnya. Siswi tersebut menarik napas panjang, baru kemudian di menjawab, “Ini adalah sisa-sisa roti makan pagi para siswi teman-teman saya, ada yang masih tersisa separoh atau seperempatnya di dalam bungkusnya. Kemudian saya kumpulkan dan saya makan sebagiannya. Sisanya saya bawa pulung untuk keluarga saya di rumah … Ya, untuk ibu dan saudara-saudara saya di rumah. Agar mereka memiliki sesuatu yang bisa disantap untuk makan siang dan makan malam. Kami adalah keluarga miskin, tidak memiliki siapa-siapa. Kami bukan siapa-siapa dan memang tidak ada yang bertanya ini-itu tentang kami. Alasan saya untuk tidak mau membuka tas, agar saya tidak malu di hadapan teman-teman di ruangan tadi.”

Tiba-tiba suasana ruangan tersebut menjadi mengharukan, suara tangis terdengar memenuhi ruangan tersebut. Semua yang hadir berlinang air mata sebagai tanda penyesalan atas perlakukan buruk dan kasar terhadap siswi tersebut.

Ini adalah satu dari sekian banyak bencana kemanusiaan yang memilukan di Palestina. Dan sangat mungkin juga terjadi di sekitar kehidupan kita. Kita tidak tahu, barang kali selama ini kita tidak peduli dengan mereka. Mereka memerlukan do’a dan uluran tangan kita, insya Allah setidaknya bisa sedikit meringankan penderitaan mereka. Khususnya saudara-saudara kita di Palestina yang hingga kini terus dilanda tragedi kemanusiaan akibat penjajahan Zionis Israel.

http://www.palestine-info.com/Ms/default.aspx

Al-Quds Adalah Hak Umat Islam, Bukan Hak Yahudi

Uskup Michel Lelong, pemuka agama Kristen di Perancis mengecam keras rencana serangan kelompok ekstrimis Yahudi terhadap mesjid Al-Aqsa. Ia mengatakan serangan terhadap tempat suci ketiga bagi umat Islam itu akan menambah panas situasi di Timur Tengah, untuk itu Lelong mendesak pemerintah Israel untuk mencegah segala bentuk upaya serangan terhadap Al-Aqsa dari kelompok ektrimis Yahudi. Uskup Lelong menyebut ancaman serangan terhadap Al-Aqsa sebagai skandal yang tidak bisa diterima dan bertentangan dengan prinsip toleransi dan saling menghormati terhadap agama, khususnya Islam. “Umat Islam, tidak diragukan lagi, berdasarkan sejarahnya memiliki hak atas Al-Quds,” tegas Uskup Lelong yang juga mengetuai organisasi hubungan Islam-Kristen di Vatican. Lelong menambahkan, mesjid Al-Aqsa ada lah ‘Garis Merah’ yang tidak boleh dilanggar.

Lebih lanjut Lelong menilai, alasan kelompok ekstrimis Yahudi menyerang Al-Aqsa yang katanya ingin menghidupkan kembali sejarah atas dasar mitos agamanya soal kuil Sulaiman (Solomon temple), tidak logis. Apalagi kalau mereka melakukannya dengan kekerasan dan hanya menimbulkan perpecahan. Lelong menegaskan, Israel berkewajiban menghentikan pendudukannya di Al-Quds atas dasar hukum internasional. “Al-Quds adalah persoalan politik yang diciptakan oleh Israel, yang telah menduduki kota itu dengan paksa,” ujar Lelong. Ia menunjuk sejumlah hukum internasional yang dengan jelas mengecam pendudukan Israel atas kota Al-Quds. Antara lain Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 478 yang dikeluarkan pada tahun 1980. Dalam Konvensi Jenewa bahkan disebutkan, warga Al-Quds harus dilindungi karena mereka hidup dibawah pendudukan Israel.

Uskup Lelong sempat menyatakan keheranannya dengan sikap komunitas internasional yang seolah tidak peduli dengan masalah-masalah yang menyangkut pelanggaran yang dilakukan Israel. “Mengapa komunitas internasional begitu cepat menerapkan resolusi PBB atas negara-negara seperti Irak dan Syria, tapi mereka tidak bergerak sama sekali ketika menyentuh persoalan Israel,” ujarnya setengah bertanya.
Lelong juga mengecam keputusan parlemen Israel yang ingin menjadikan wilayah timur dan barat Yerusalem sebagai ibukota negaranya. “Itu benar-benar pelanggaran terhadap hukum internasional,” tegasnya. – (sumber : eramuslim.com)

http://www.agus-haris.net/modules.php?name=News&file=article&sid=519
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M


Kelalaian Yang Menipu

Juni 14, 2007

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia Muhammad saw. Wa ba’d.
Allah berfirman: “Telah dekat kepada manusia hari perhitungan segala amal mereka, sedang mereka ada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)” (Al-Anbiya’: 1)

Orang yang memperhatikan keadaan manusia pada zaman sekarang ini akan dapat melihat betapa tepatnya ayat ini dengan kenyataan yang ada. Mereka berpaling dari minhaj Allah serta lalai dari urusan akhirat dan tujuan manusia diciptakan. Mereka merasa seolah-olah tidak diciptakan untuk beribadah, melainkan untuk bersenang-senang mengikuti hawa nafsunya. Mereka berfikir tentang dunia, mereka mencintai karena dunia, dan mereka bekerja demi dunia. Mereka saling bersaing, bermusuhan bahkan saling membunuh hanya karena dunia. Itu semua disebabkan mereka meremehkan dan mengabaikan perintah-perintah Rabbnya. Bahkan sebagian mereka ada yg sudah berencana untuk meninggalkan shalat atau menunda hingga akhir waktu karena ada urusan pekerjaan atau menyaksikan pertandingan, atau karena janji dan lain sebagainya. Segala sesuatu dalam hidup ini memiliki porsi di hati mereka. Pekerjaan, perdagangan, olahraga, perjalanan, film, sinetron, lagu, musik, makan , minum, tidur, dan semuanya memiliki tempat tersendiri dalam hatinya, tapi tidak untuk Al-Qur’an & perintah-perintah agama. Engkau lihat bahwa salah seorang dari mereka begitu cerdas dan pandai dalam perkara dunia, akan tetapi si cerdas ini tidak dapat mengambil manfaat dari kepandaian dan kecerdasannya itu pada perkara yang bermanfaat baginya di akhirat kelak. Kepandaiannya tidak menuntunnya menuju jalan hidayah dan istiqomah di atas agama Allah yang padahal di sanalah dia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sungguh inilah bentuk terhalangnya seseorang dari merasakan kebahagiaan hakiki. “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-Rum: 7)

Kita katakan kepada mereka yang senantiasa tenggelam dalam kezhaliman, dosa, dan kemaksiatan bahwa mereka ini boleh jadi tidak mempercayai adanya neraka, atau meyakini bahwa neraka diciptakan untuk selain mereka. Mereka telah lupa akan hari perhitungan dan hari pembalasan dan mereka pura-pura tidak tahu nash-nash yang telah memberitakan tentang kedahsyatan, kesulitan dan kengeriannya. “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)” (Al-Hijr: 72) . Mereka sibuk mengurusi kenyamanan dan kebahagiaan fisik mereka di dunia yang fana ini dan mereka mengabaikan kebahagiaan dan kenyamanan di akhirat yang kekal selamanya. Betapa semangatnya mereka mengejar harta. Betapa seriusnya mereka dalam bekerja. Dan betapa telatennya mereka memperhatikan kesehatan tubuhnya. Akan tetapi, mempelajari urusan agama, memahami, mengamalkan, dan berpedoman padanya adalah perkara yang paling akhir dipikirkannya. Itupun kalau mereka masih punya sisa waktu dari kesibukannya mengejar dunia. Waktu telah mereka habiskan untuk dunia. Bahkan mayoritas dihabiskan untuk hal yang diharamkan dan melanggar yang diwajibkan. Mereka melakukannya dengan dalih mencari kesenangan dan kebahagiaan. Padahal apa yang mereka lakukan ini sama sekali tidak akan mengantarkan melainkan kepada kesengsaraan. Sadar atau tidakkah mereka itu dengan firman Allah swt: “Dan barangsiapa yg berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” ? (Thaha: 124).

Siangmu kau habiskan dalam kelalaian wahai orang yg tertipu. Dan malammu kau habiskan untuk tidur di dalam selimutmu. Engkau sibuk dengan hal-hal yg tidak akan engkau sukai akibatnya (kelak di akherat). Di dunia, engkau hidup tak ubahnya seperti binatang. Kesadaran mereka akan dosa telah mati dan kesadaran mereka akan segala kekurangan pun telah tiada. Sampai-sampai mereka mengira sedang berada di atas kebaikan, bahkan tidak terlintas sedikitpun di benaknya betapa minimnya dia menunaikan kewajiban. Dan begitu mengerjakan salah satu hal atau semata-mata menjaga pokok agama dan shalat, mereka merasa telah berada dalam kebaikan yang besar. Mereka mengira telah menghimpun Islam dan surga menanti kehadirannya di ujung sana.

Mereka telah melupakan ratusan bahkan ribuan dosa dan maksiat yang dilakukan siang dan petang. Ghibah, dusta, melihat yang haram, makan yang haram, dan kemaksiatan lainnya yang mereka anggap remeh telah mereka lupakan. Mereka menyangka itu semua tidaklah berbahaya dan tidak akan menjerumuskan mereka ke dalam kerugian dan kebinasaan di dunia dan akhirat. Tidakkah mereka sadar akan sabda Nabi saw :”Waspadalah kalian terhadap dosa-dosa kecil. Sesungguhnya dosa kecil itu apabila telah terkumpul maka akan membinasakan pelakunya” ? . Ditambah dengan dosa-dosa besar bahkan termasuk yang amat besar seperti riba, zina, liwath, suap, dan semisalnya. Tidakkah mereka sadar ?!

Sungguh mengherankan ! Tidakkah mereka bosan dengan hidup seperti itu ? Tidakkah mereka bertanya kepada diri sendiri, apa yang ada di akhir hidup nanti ? Apakah yang ada setelah kelezatan dan tenggelam dalam syahwat ini ? Apakah mereka lalai dengan apa yang ada di balik itu semua ? Apakah mereka lalai akan kematian, perhitungan, qubur, shirat, neraka dan adzab ? Tidakkah terbayang oleh mereka kengerian dan kedahsyatan itu semua ? Semua kelezatan ittu akan lenyap, dan tersisalah akibat yg menyakitkan. Tenggelam dalam syahwat mewariskan penyesalan dan kerugian yang mendalam. Kesenangan yang sedikit namun membuahkan adzab yang pedih serta ratapan di dasar Jahannam. Adakah orang berakal yang mau mengambil pelajaran ?! Adakah mau mentadabburi dan beramal untuk tujuan apa dia diciptakan dan mempersiapkan diri dengan apa yang akan disongsong di depan ?!.

Gemerlapnya dunia dan mudahnya mencari kesenangan dunia telah membuat buta mata mereka dan terbuai dalam kelalaian. Sungguh mereka akan sangat menyesal dengan sebenar-benarnya penyesalan apabila terus menerus dalam kelalaian, tenggelam dalam permainan dan senda gurau ini. “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (Al-Hijr: 3). Biarkan mereka hidup seperti binatang yang tidak memikirkan apa-apa kecuali makan, minum, pakaian, dan mencari pasangan. Belum tibakah saatnya bagi setiap muslim untuk mengetahui hakikat hidup dan untuk tujuan apa dia diciptakan ?

Diamlah sejenak bersama tulisan ini. Introspeksi dirilah, tanya pada dirimu dan lihatlah bagaimana engkau selama ini meenjalani kehidupan. Apakah dirimu seperti mereka yang lalai dan tenggelam dalam permainan dan senda gurau itu atau tidak ? Apakah engkau telah berada di atas jalan yang benar yang akan mengantarkanmu kepada keridlaan Allah dan surga-Nya yang penuh kenikmatan ? Atau apakah engkau mencari jalan yang sesuai dengan ambisi dan syahwatmu meskipun di dalamnya me ngandung kesengsaraan dan kebinasaan ? Lihatlah dua jalan ini wahai saudaraku. Sungguh ini bukanlah perkara yang remeh. Demi Allah ini adalah perkara yang besar dan perlu keseriusan. Saya yakin bahwa tidak ada yang lebih berharga di sisimu dari dirimu sendiri, maka bersungguh-sungguhlah untuk menyelamatkannya dari neraka dan dari murka Allah yang amat keras siksa-Nya.

Lihatlah saudaraku bagaimana engkau menyikapi perintah Allah dan Rasul-Nya saw ? Apakah engkau mengamalkan dan merealisasikannya dalam kehidupan atau engkau mengabaikannya dan hanya mengambil sebagian yang sesuai dengan ambisi dan nafsumu semata ?. Agama ini tidak bisa dipecah-pecah. Iltizam(berpegang) pada sebagian urusannya dan meninggalkan yang lain dapat dianggap sebagai penghinaan, meremehkan, dan mempermainkan perintah Allah swt. Sangatlah tidak layak bagi seorang muslim untuk berbuat demikian. Sungguh Allah telah melarang hal itu dan mengancam pelakunya dengan adzab yang pedih. “Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain ? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan di dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang amat berat.” (Al-Baqarah: 85).

Muslim yang sejati waktunya habis untuk beribadah. Agama baginya bukanlah hanya sekedar simbol ibadah.
Wahai yg tenggelam dalam kemaksiatan, sampai kapankah kelalaian ini akan berlangsung ? Sampai kapankah engkau berpaling dari Allah ? Tidakkah tiba saatnya engkau bangun dan bangkit dari kelalaian ini ? Belum tibakah saatnya hati yang keras ini menjadi lunak dan khusyu’ kepada Rabb semesta alam ? “Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” (Al-Hadid: 16).
Sampai kapankah engkau ingin menjadi bagian dari kelompok orang-orang yang bertaubat ? Tidakkah engkau menginginkan apa yang mereka inginkan ? Apakah engkau merasa lebih kaya dan tidak butuh kepada apa yang mereka dambakan berupa pahala di sisi Allah ? Apakah mereka takut kepada Allah sementara engkau merasa kuat sehingga tidak takut kepada-Nya ? Tidakkah engkau menginginkan surga ?

Bayangkanlah engkau bisa melihat wajah Rabbmu Yang Mulia di surga. Bayangkanlah engkau bisa berjabat tangan dengan manusia yang paling mulia Muhammad saw, engkau menciumnya, dan duduk bersamanya serta bersama para nabi dan shahabat lainnya di surga. Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah yaitu para nabi, shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh.” (An-Nisa: 69)

Bayangkanlah dirimu ada dalam puncak kebahagiaan di surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai air, sungai susu, dan sungai madu, beserta pendamping-pendamping yg senantiasa menyenangkan hati. Di dalamnya engkau bisa mendapatkan apa yg kau inginkan. Bayangkanlah semuanya ini, surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Kemudian bayangkanlah juga olehmu neraka, panasnya, luasnya, dalamnya, dahsyatnya dan kengeriannya. Adzab yang diderita oleh penghuninya berlangsung terus tanpa henti. “Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan): ‘Rasakanlah adzab yang membakar ini.'” (Al-hajj: 22)

Bayangkanlah semua itu mudah-mudahan akan membantumu untuk segera kembali kepada Allah. Demi Allah, kau selamanya tidak akan pernah menyesal karena taubat. Bahkan engkau akan mendapatkan kebahagiaan dengan izin Allah di dunia dan di akhirat dengan kebahagiaan yang sebenarnya. Berusahalah mulai hari ini untuk menempuh jalan tersebut dan janganlah menyerah. Bukankah engkau senantiasa membaca dalam shalatmu: “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 6)?. Maka selama engkau menghendaki jalan yang lurus, mengapa engkau tidak menempuh dan menelusurinya ?. Saudaraku, hati-hatilah jangan sampai tertipu oleh dunia dan condong kepadanya. Hati-hatilah engkau untuk menjadikan dunia sebagai cita-cita dan tujuan hidupmu. Sungguh setiap kali engkau melewati detik demi detik dari hidupmu ini dan engkau terbuai kenikmatannya dunia, berarti engkau telah menyia-nyiakan usiamu. Maka sangatlah disesalkan apabila kematian tiba-tiba datang menjemputmu sementara engkau masih dalam keadaan lalai. Sangatlah disayangkan ketika engkau diseru untuk bertaubat engkau tidak menyahutnya. Di depanmu telah menanti kemati an dan sekaratnya, qubur dan kegelapannya, padang mahsyar dan kedahsyatannya. Engkau akan berdiri di hadapan Allah dan akan ditanya tentang apa yang telah engkau kerjakan, baik kecil ataupun besar. Maka persiapkanlah jawaban untuk itu. “Maka demi Tuhanmu, Kami akan menanyai mereka semua, tentang apa yang mereka kerjakan dahulu.” (Al-Hijr: 92-93)

Demi Allah, tidaklah pantas sama sekali bagi seorang yang berakal untuk bermain-main dalam kesia-siaan di dunia ini serta bermaksiat kepada Allah swt. Sungguh tidaklah pantas bagi yang berakal, melakukan semua itu sementara di hadapannya telah menanti kengerian dan kedahsyatan siksa Allah. Sungguh merupakan kesempatan besar yang Allah karuniakan kepadamu dengan kehidupanmu sampai detik ini. Allah masih memberikan kesempatan untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya. Maka kembalilah kepada Allah. Janganlah engkau sia-siakan kesempatan yang ada. Segeralah bertaubat selama engkau masih hidup dan selama kematian belum datang menjemput. Ingatlah mereka yang telah keluar dari dunia, karena kelak engkau pun akan keluar dari dunia ini juga. Mumpung engkau sekarang masih berada di negeri amalan dan masih punya kesempatan bertaubat dan beramal.

Adapun mereka, mayoritas dari mereka yang telah diwafatkan Allah sangat berharap untuk bisa dihidupkan kembali agar bisa memperbaiki amal dan bertaubat. Mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu,” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya.” (Al-An’am: 31) . “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah”. Maka hati-hatilah, semoga tidak terus berbuat kesalahan sehingga engkau akan menyesal pada hari di mana tidak bermanfaat lagi penyesalan. Selamatkanlah dirimu & keluargamu dari neraka selama kesempatan itu masih ada di tanganmu dan sebelum engkau berkata: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembali kanlah aku (ke dunia)[1], agar aku berbuat amal yg saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yg diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan [2].” Mu’minuun : 99-100) . Dan saat itu keinginanmu itu tidak dikabulkan sama sekali.

keterangan :
[1]. Maksudnya: orang-orang kafir di waktu menghadapi sakratul maut, minta supaya diperpanjang umur mereka, agar mereka dapat beriman.
[2]. Maksudnya: mereka sekarang telah menghadapi suatu kehidupan baru, yaitu kehidupan dalam kubur, yang membatasi antara dunia dan akhirat.

(dari : Perpustakaan Islam.Com)

L a l a i

Hidup tanpa menyesuaikan diri dengan tuntunan Allah SWT berarti satu kerugian besar sebagaimana difirmankan Allah dalam QS.Al-‘Ashr ayat 1-3 :”Demi masa, sungguh manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran, dan nasehat menasehati supaya tetap bersabar”.

Betapa pun mewah dan kayanya seseorang, betapa pun tinggi jabatan dan berkuasanya seseorang, namun kalau tidak beriman, tidak mengerjakan kebajikan untuk menetapi kebenaran dengan kesabaran, maka tetap saja dia akan termasuk manusia yang rugi. Sebab kemewahan, kekuasaan dan harta itu hanya menolong dia selama hidup di dunia yang fana ini, dalam tempo yg sangat terbatas, 50-80 tahun, lebih atau kurang. Setelah dia mati maka terputuslah segala kemewahan, kekuasaan dan manfaat semua harta itu baginya. Dia akan hidup di alam akherat yang kekal dalam tempat kehinaan, kesengsaraan dan kesusahan yang tak terhingga. Tak ada guna lagi menyesal pada saat itu, “Sungguh Kami sudah memperingatkan kepadamu akan siksa yang telah dekat, pada hari manusia melihat akan apa saja yang telah diperbuat (dikerjakannya), sehingga mereka akan mengeluh “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah (dijadikan) tanah saja (tidak dijadikan sebagai manusia)”. (QS. An-Naba’ : 40). “Apakah engkau tidak tahu bahwa segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, juga burung-burung yang berbondong-bondong, masing-masing sudah mengetahui sembahyang dan me-Mahasuci-kan Allah, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS.An Nuur : 41)

Bagi orang-orang yang kafir, ingkar dan lalai, maka pada saat itu benar-benar nyata bahwa menjadi tanah, tumbuhan dan hewan adalah lebih baik daripada menjadi manusia yang akhirnya menanggung siksa yang amat pedih di neraka, sebab tanah, tumbuhan dan hewan tidak turut dihisap dan mendapat siksa. Seluruh makhluk ciptaan-Nya selama itu selalu tunduk pada segala ketentuan Allah, tunduk di bawah kemauan dan kekuasaan Allah SWT. Hanya makhluk bernama manusia yang nyata ada yang tunduk dan kebanyakan yang menentang ketentuan-ketentuan Allah selama menjalani kehidupannya di dunia ini. Itulah konsekuensi dari akal yang telah di amanatkan Allah untuk dipakai manusia, termasuk hati (perasaan) dan nafsu (keinginan) yang merangsang akal untuk mematuhi atau menentang ketentuan Allah, dengan berbuat kerusakan, kekejaman dan penganiayaan. Padahal Allah telah memberi petunjuk yang lurus, telah mengutus para nabi dan rasul untuk memberi peringatan kepada manusia agar menjalani hidup menurut ketentuan Allah. Tuntunan dan semua risalah yang dibawa para nabi dan rasul itulah yang disebut agama Islam.

(sumber : Hidup Sebelum Mati, KH.Bey Arifin, pen. Kinanta, Jakarta, cet. ke- IV, 1995)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 030/th.03/Rabi’ul Awal-Rabi’ul Tsani 1428H/2007M


Mengapa Manusia Rugi ?

Juni 11, 2007

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” QS: 103:1-3)

Pada dasarnya, Allah Swt cinta dan sayang kepada manusia, apalagi bila mereka beriman kepada-Nya. Bukti kecintaan itu adalah Allah Swt mengemukakan faktor-faktor yg menyebabkan manusia menjadi rugi. Secara harfiyah, Al-Qur’an menggunakan kata “khusr” untuk menyebut kerugian, khusr itu sendiri artinya berkurang, rugi, sesat, celaka, lemah, tipuan, dll, semuanya dengan makna negatif. Apa saja faktor-faktor yang membuat manusia menjadi rugi ?

Beriman kepada hari akhir merupakan salah satu keimanan yang sangat penting, karenanya Al-Qur’an dan Hadits seringkali merangkai penyebutan iman kepada Allah dengan iman kepada hari akhir. Kehidupan hari akhir merupakan hasil yang sesungguhnya dari apa yang dilakukan manusia dalam kehidupannya di dunia, baik maupun buruk. Kehidupan hari akhir juga kesempatan emas untuk bisa berjumpa langsung dengan Allah Swt, karena itu amat rugi orang yg mendustakan hari akhirat dan perjumpaan dengan Tuhannya, Allah Swt berfirman yang artinya: “Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: : “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu”, sambil memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu (QS 6:31).

Akibat dari pengingkaran manusia terhadap hari akhirat membuat manusia tidak memperoleh petunjuk dari Allah Swt, bukan karena Allah tidak memberinya petunjuk, tapi karena pemberian Allah itu tidak mau diambil, sehingga tidak ada yang mereka dapatkan kecuali kerugian dalam kehidupan di dunia dan akhirat, Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk (QS 10:45).
Disamping tidak memperoleh petunjuk, orang yg tidak beriman pada kehidupan akhirat akan membuat mereka menganggap kehidupan di dunia ini lebih baik, padahal kehidupan dunia ini hanya permainan dan senda gurau, dunia adalah sarana bukan tujuan sebagaimana permainan dan senda gurau itu sendiri, sarana bagi pencapaian tujuan tertentu, Allah Swt berfirman yang artinya: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS 6:32).

Salah satu yang harus kita waspadai terhadap orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan adalah apapun yang dilakukannya, meskipun hal itu merupakan sesuatu yang sangat buruk dia akan menganggapnya sebagai sesuatu yang baik, keburukan itu dikemas dengan kata-kata yang indah. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). Mereka itulah orang-orang yg mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yg paling merugi (QS 27:4-5).

Menjadi orang bodoh bukan hanya tidak menyenangkan, tapi juga bisa membahayakan, karenanya kebodohan akan membawa manusia pada kerugian yang nyata. Dalam bahasa Arab, kebodohan diistilahkan dengan kata “jahl”, kita sering mendengar istilah zaman jahiliyah, suatu zaman dimana manusia begitu bodoh, bukan karena tidak tahu, tapi tidak mau menerima kebenaran yang datang dari Allah Swt dan Rasul-Nya. Pada masa jahiliyah itulah, kebodohan telah membuat manusia membunuh anaknya sendiri, hanya karena anak itu berjenis kelamin wanita. Sementara jauh sebelum Nabi Muhammad Saw, dengan kejahilannya raja bernama Fir’aun ketakutan akan adanya pemimpin selain dirinya, hingga dia menginstruksikan kepada setiap orang tua untuk membunuh bayi berjenis kelamin laki-laki dan itupun dilaksanakan oleh rakyatnya yang juga bodoh dan takut.

Disamping itu, kebodohan juga membuat mereka mengharamkan apa-apa yang telah di rizkikan oleh Allah Swt atas mereka, padahal Allah telah menghalalkannya, inilah kerugian yang nyata, baik di dunia maupun di akhirat. “Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan sema ta, tanpa ilmu dan mengharamkan apa yang Allah telah rizkikan kepada mereka dengan dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk (QS 6:140).
Manusia seringkali tidak menyadari, syaitan yang seharusnya dianggap dan diperlakukan sebagai musuh tapi malah dijadikan sebagai pemimpin, apa saja perintah dan keinginan serta bisikan-bisikannya dituruti. Hal ini membuat manusia menjadi rugi, baik di dunia maupun di akhirat. Allah Swt berfirman tentang tekad syaitan untuk menyesatkan manusia: “Dan saya (syaitan) benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan saya suruh mereka (merobah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata (QS 4:119). “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi (QS 58:19). Apabila manusia tidak mau mengikuti syaitan, disamping harus menunjukkan sikapnya yang tegas terhadap syaitan dengan selalu bermusuhan, manusia juga harus berlindung kepada Allah dari segala godaan syaitan.

Salah satu faktor yang membuat kita beruntung dalam hidup kita di dunia dan akhirat adalah karena keimanan dan pengabdian kepada Allah Swt. Dengan itulah, kehidupan kita akan berjalan dan terarah dengan sebaik-baik dan selurus-lurusnya. Namun seringkali ada kendala untuk bisa melakukan hal itu dengan baik, salah satunya adalah tidak adanya konsistensi atau keistiqomahan, sehingga pengabdian kepada Allah tidak berkesinambungan. Manakala pengabdian itu bisa mendatangkan keuntungan duniawi, kita akan terus mengabdi kepada Allah dan bila malah mendatangkan ‘resiko’ tidak menyenangkan, maka kita menjauh dari pengabdian kepada-Nya. Sikap seperti ini merupakan bagian dari kemunafikan yang sangat tercela. Di dalam Islam, sikap seperti itu tidaklah berguna, karena seseorang tidak akan mendapatkan nilai apa-apa dari Allah Swt meskipun ia mengabdi, karena niatnya tidak ikhlas karena Allah dan ini merupakan kerugian yang nyata, Allah Swt berfirman yang artinya: “Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yg nyata (QS 22:11).

Oleh karena itu, menjadi amat penting bagi kita untuk memiliki sikap istiqomah (memiliki pendirian yang kuat) dalam keimanan dan pengabdian kita kepada Allah Swt. Enak dan tidak enak, senang dan sengsara, dipuji maupun dicela, menguntungkan atau malah merugikan semuanya tidak menggoyahkan kita dalam pengabdian kita kepada Allah Swt, karena inilah yang akan menguntungkan dan membawa ketenangan dalam jiwa kita, Allah Swt berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang yang mengatakan: “Tuhanku Allah”, kemudian mereka istiqomah, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan merekapun tidak berduka cita”. (QS 46:13).

Termasuk rugi adalah bila melakukan kebathilan. Secara harfiyah, bathil berarti tidak terpakai, tidak berfaedah, rusak dan sia-sia. Artinya, perbuatan bathil adalah perbuatan yang terlepas atau gugur dari ketentuan syari’at sehingga tidak berguna bahkan mengakibatkan kerusakan. Oleh karena itu perbuatan seseorang disebut bathil apabila bertentangan dengan syari’at, tidak ada faedahnya dan tidak sesuai dengan tuntunan syari’at. Bagi seorang muslim, jangankan melakukan kebathilan, mencampur-adukkan antara kebenaran dengan kebathilan saja sudah tidak dibenarkan, baik dalam bentuk melakukan kebenaran yang disertai dengan melakukan kebathilan atau melakukan kebathilan untuk mencapai tujuan yg haq. Sebab dari kebathilan ini, manusia akan mengingkari Allah Swt dan apa yg datang dari-Nya. Karena itu, manakala manusia mempercayai segala bentuk kebathilan yang menyebabkannya menjadi ingkar kepada Allah Swt, maka ia akan menjadi orang yang merugi. Allah Swt berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yg merugi”. (QS 29:52).

Meskipun Allah dan Rasul-Nya beserta para penerus perjuangan da’wah telah mengingatkan agar manusia tidak melakukan kebathilan, tetap saja banyak manusia yang melakukannya, bahkan dengan peringatan dalam bentuk azab dan bencana pun belum juga bisa menyurutkannya dari jalan bathil. Mereka baru betul-betul paham akan kerugian yang besar di hari akhirat nanti, mereka tidak akan bisa mengelak dari kerugian yang nyata, Allah Swt berfirman yg artinya: “Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan (QS 45:27). Karena kebathilan merupakan sesuatu yg hanya mendatangkan kerugian, maka meski pun seseorang berkorban dengan hartanya yang banyak, tetap akan menjadi penyesalan yg sangat dalam karena tidak ada hasil yang mereka peroleh, di akhirat mereka akan menyesal tiada terkira, karena dimasukkan ke dalam neraka, Allah berfirman yg artinya : “Sesungguhnya orang-orang kafir membelanjakan hartanya untuk merintangi agama Allah, maka mereka tetap akan membelanjakan hartanya, kemudian akan menjadi penyesalan bagi mereka, kemudian mereka pasti kalah, sedang orang kafir pasti di kumpulkan dalam neraka jahannam. Untuk memisahkan yg jahat dari yang baik dan Allah akan menjadikan yang jahat setengahnya berkumpul (bertumpuk) dengan setengahnya, lalu dijadikan satu dan dilempar ke dalam jahannam, merekalah orang-orang yang rugi”. (QS 8:36-37).

Ketika seseorang telah menyatakan dirinya beriman kepada Allah Swt, salah satu yang harus dibuktikannya adalah menerima hukum-hukum yang datang dari Allah Swt. Sikap ini menjadi begitu penting agar pengakuan seseorang sebagai mu’min diakui keimanannya oleh Allah Swt. Disamping itu, seorang mu’min juga harus dengan senang hati dan siap menerima Rasulullah Saw sebagai hakim yang memutuskan perkara di antara kaum mu’min atas berbagai persoalan yang mereka hadapi berdasarkan hukum-hukum Allah Swt, tanpa ada rasa berat sedikitpun di dalam hati mereka. Seseorang yang sudah mengaku beriman tapi tidak mau menerima hukum-hukum Allah, maka dia tidak bisa diakui keimanannya oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapatkan rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan penerimaan sepenuhnya (QS 4:65). Manakala manusia berlaku demikian, maka dia akan termasuk orang yg rugi, baik di dunia maupun di akhirat, di dunia dia tidak mencapai martabat sebagai seorang mu’min, bahkan tidak memperoleh keuntungan yg bersifat duniawi, sedangkan di akhirat kerugiannya sudah pasti, karena Allah tidak menyukainya sehingga apapun amal yg dilakukannya di dunia meskipun nampaknya baik, tidak akan mendapat nilai & imbalan yg baik dari Allah Swt, amalnya menjadi sia-sia, Allah berfirman yang artinya: “Barang siapa yg kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam), maka hapuslah amal-amalnya dan di akhirat termasuk orang-orang yang merugi”. (QS 5:5).

Dari keterangan beberapa ayat di atas, menjadi amat penting bagi kita untuk selalu mewaspadai, agar tidak sampai tergolong sebagai manusia yang merugi. Amin.

http://alhikmah.com/contents.php?id=334

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS.Al Kahfi : 28)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 030/th.03/Rabi’ul Awal-Rabi’ul Tsani 1428H/2007M


KELEMAHAN MANUSIA (bag.2)

Mei 31, 2007

Setelah kita memahami bahwa ternyata 1/3 masa hidup kita habis hanya untuk tidur, dan sekitar 7-12 tahun habis untuk menjalani masa kanak-kanak, yang mana kedua masa ini merupakan masa-masa yang kita lewati dalam keadaan tidak sadar. Maka sebetulnya tinggal sekitar setengahnya saja dari masa hidup ini yang bisa kita jalani dalam keadaan sadar. Apa nilai penting hidup yang pendek ini bila dibandingkan dengan masa yang abadi di akherat kelak ?.

Tepat pada poin inilah terdapat jurang besar menganga antara mereka yang beriman dengan yang tidak beriman. Orang-orang yang tidak beriman, yang percaya bahwa hidup hanya ada di dunia, berjuang sepenuhnya untuk dunia. Namun ini adalah usaha yang tidak berguna: dunia ini pendek dan hidupnya dikelilingi dengan “kelemahan”. Lebih lanjut, karena orang-orang yg tidak beriman tidak mempercayai Allah, ia hidup dalam kehidupan yang penuh kesukaran, penuh dengan permasalahan dan ketakutan. Berbeda dengan mereka yang memiliki iman, mereka menjalani hidup dengan mengingat Allah dan keberadaan-Nya pada setiap saat. Mereka menghabiskan hidup hanya untuk mencapai ridha Allah dan menjalani kehidupan yang damai, benar-benar terpisah dari seluruh kesedihan dan ketakutan duniawi. Orientasi mereka mencapai surga, sebuah tempat kebahagiaan abadi. Sama halnya, tujuan pokok hidup dinyatakan dalam ayat berikut: “Dan dikatakan kepada orang-orang yg bertakwa: “Apakah yg telah diturunkan oleh Tuhanmu ?” Mereka menjawab: kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa. (QS. An-Nahl, 16: 30-31)

Penyakit dan Kecelakaan
Penyakit juga mengingatkan manusia bagaimana mudahnya ia menjadi lemah. Tubuh, yang sangat terlindung dari seluruh jenis ancaman luar, rusak berat oleh virus yang sepele, agen pembawa penyakit yang tak terlihat mata. Proses ini sepertinya tidak masuk akal, karena Allah telah melengkapi tubuh dengan sistem yang sangat lengkap, terutama sistem kekebalan yang dapat digambarkan sebagai “tentara yang unggul” terhadap musuh-musuhnya. Namun, walau ada kekuatan dan daya tahan tubuh, manusia sering jatuh sakit. Hanya sedikit manusia yang memikirkan fakta bahwa setelah dilengkapi dengan sistem yang sempurna tersebut, Allah akan membiarkan material pembawa penyakit menyebabkan penderitaan. Virus, mikroba, atau bakteri dapat saja tidak pernah mempengaruhi tubuh, atau bahkan musuh-musuh kecil ini dapat saja tidak pernah ada. Namun, hingga kini setiap orang dapat menjadi sasaran dari penyakit serius yang dibawa oleh berbagai penyebab yang tidak penting. Misalnya, suatu virus yang memasuki tubuh melalui luka kecil di kulit dapat dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh, mengambil alih organ-organ vital. Meskipun teknologi telah berkembang pesat, virus influensa yg sederhana dapat menjadi faktor yg mengancam hidup bagi sebagian besar manusia. Allah memberi manusia penyakit untuk tujuan tertentu. Dengan cara ini, mereka yg sombong dapat menemukan kesempatan untuk mengetahui betapa terbatas jangkauan kekuasaan mereka. Di samping itu, ini adalah jalan yg baik untuk memahami asal sesungguhnya kehidupan ini.

Selain penyakit, kecelakaan merupakan ancaman yang serius terhadap manusia. Setiap hari koran menghadirkan berita utama tentang kecelakaan jalan raya. Kecelakaan juga merupakan hal yang banyak diberitakan di radio dan televisi. Namun, meskipun terbiasa dengan kecelakaan tersebut, kita tidak pernah berpikir bahwa kita mungkin menghadapi kecelakaan kapan pun. Terdapat ribuan faktor di sekitar kita yang dapat dengan tiba-tiba menghentikan hidup kita. Seseorang dapat saja kehilangan keseimbangan dan jatuh di tengah-tengah jalan, misalnya. Gegar otak atau patah kaki dapat terjadi karena kecelakaan biasa seperti itu, atau saat makan malam, seseorang dapat tercekik hingga mati karena tulang ikan. Penyebabnya dapat terdengar sederhana, namun setiap hari ribuan manusia di dunia menghadapi kejadian yang sukar dibayangkan seperti ini. Fakta ini seharusnya membuat kita memahami kesia-siaan penghambaan kepada dunia ini dan menyimpulkan bahwa segala yang telah diberikan pada kita bukanlah apa-apa kecuali kesenangan sementara untuk menguji kita di dunia.
Dalam Al Quran, nabi Ibrahim dipuji karena sikap teladannya. Doanya yg tulus seharusnya diulang oleh seluruh orang beriman. “Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku.” (Asy-Syua’araa, 26: 79-81) . Nabi Ayyub, di sisi lain, memberi contoh yang baik bagi seluruh orang yang beriman ketika ia mencari kesabaran hanya dari Allah saat didera penyakit yang parah. Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan.” (QS. Shaad, 38: 41)

Jurang persepsi yang lebar antara orang-orang yang beriman dan yang tidak, serta pola pemikiran mereka sangat berbeda. Dendam dan kemarahan dihilangkan dari hati orang-orang beriman dan digantikan oleh rasa damai dan tentram. Pikiran orang-orang kafir justru didera rasa kecewa, tidak puas dan tidak bahagia. Hal ini seolah-olah suatu hukuman bagi masyarakat materialis yang mengelilingi orang-orang yang tidak beriman, namun, sebenarnya adalah kesialan dari Allah untuk mereka yg tidak beriman. Mereka yg beranggapan bahwa kedurhakaan mereka tidak akan diadili , akan terpukul pd hari penghisaban, saat dosa-dosa mereka, kekejaman, keingkaran ; pengkhianatan diadili: “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (QS. Ali ‘Imran, 3: 178)

Tahun-Tahun Terakhir Kehidupan
Dampak kemunduran dari lewatnya tahun-tahun kehidupan dapat teramati pada tubuh seseorang. Bersamaan berlalunya tahun demi tahun, tubuh, harta manusia yg paling berharga, melalui proses kemunduran yang tak dapat diubah lagi. Perubahan yang dialami seorang manusia sepanjang hidupnya disebutkan di dalam Al Quran sebagai berikut: “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan sesudah kuat itu lemah dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dia lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (QS. Ar-Ruum, 30: 54)

Tahun-tahun terakhir kehidupan adalah waktu yang paling diabaikan dalam rencana masa depan seorang dewasa, kecuali di dalam proses menabung untuk pensiun hari tua yang mencemaskan. Sudah barang tentu, pada saat teramat dekat dengan kematian, orang biasanya bersikap ragu-ragu terhadap periode ini. Ketika seseorang mengajak berbincang tentang usia tua, yang lain akan merasa risau dan berusaha mengubah topik “yang tidak menyenangkan” ini secepat mungkin. Rutinitas sehari-hari juga merupakan jalan yang ampuh untuk melarikan dari memikirkan tahun-tahun kehidupan yang kemungkinan besar akan menyengsarakan ini. Jadi, hal ini dihindari hingga saatnya tak terelakkan lagi. Tak diragukan lagi, penyebab utama dari pengelakan seperti itu adalah anggapan bahwa seseorang memiliki waktu yang tak terbatas sampai kematian mendatanginya. Kesalahpahaman umum seperti ini dijelaskan di dalam Al Quran: “Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hingga panjanglah umur mereka.” (QS. Al Anbiyaa’, 21: 44)

Singkatnya, menjadi tua adalah perwujudan dari ketidakmampuan manusia mengendalikan tubuh, hidup dan nasibnya sendiri. Efek waktu yang merugikan terhadap tubuh terlihat selama periode ini. Allah menjelaskan kepada kita tentang hal ini dalam ayat berikut: “Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (QS. An-Nahl, 16: 70)
Dalam kedokteran, usia lanjut juga disebut “masa kanak-kanak kedua”. Oleh sebab itu, selama tahap kehidupan akhir ini, orang-orang tua seperti anak-anak, membutuhkan perawatan, karena fungsi-fungsi tubuh dan mental mereka telah mengalami perubahan-perubahan tertentu. Begitu seseorang menjadi tua, berbagai karakteristik fisik dan kejiwaan menjadi semakin jelas. Pendeknya, setelah periode tertentu, manusia sering mengalami kemunduran kepada keadaan ketergantungan bak kanak-kanak baik secara fisik maupun mental.

Allah mengingatkan manusia tentang sifat fana dunia ini dengan membuat kualitas hidupnya memburuk pada tahapan tertentu dalam kehidupan. Proses ini bekerja sebagai pengingat yang jelas bahwa hidup terus mendekati akhirnya. Allah menjelaskan ini di dalam ayat berikut: “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (QS. Al Hajj, 22: 5)
Proses masa tua ini tak terelakkan dan tak dapat diubah. Ini tidak lain karena Allah menciptakan dunia ini sebagai tempat sementara untuk hidup dan membuatnya tidak sempurna adalah sebagai pengingat akan adanya Hari Akhir.

Kematian Manusia
Hidup makin menjauh detik demi detik. Setiap hari membawa anda makin dekat kepada kematian, atau kematian itu sama dekatnya kepada anda sebagaimana pada orang lain ?. Sebagaimana disebutkan di dalam ayat, “Setiap jiwa akan merasakan mati; kepada Kamilah engkau akan dikembalikan”, (QS Al Ankabuut, 27: 57). Setiap orang yang pernah muncul di dunia ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, setiap orang akan mati. Bayangkanlah seorang bayi yang baru saja membuka matanya terhadap dunia dan seseorang yang akan mengembuskan nafas terakhir. Keduanya tidak dapat mengubah apapun dari kelahiran & kematian mereka sendiri. Hanya Allah yg memiliki kekuasaan untuk meniupkan nafas kehidupan atau mengambilnya. Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yg kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al Jumu’ah, 62: 8).
Kebanyakan manusia menghindari berpikir tentang kematian. Usaha untuk berbicara tentang kematian selalu diinterupsi oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengar tentangnya. Karena menganggap kematian hanya akan datang setelah tua, orang tidak ingin merisaukan hal yang tidak menyenangkan seperti itu. Namun, harus tetap diingat bahwa tidak ada jaminan bahwa seseorang akan hidup meski sekadar satu jam lagi. Setiap hari, manusia menyaksikan kematian orang-orang di sekitarnya , tetapi hanya sedikit yg berpikir tentang hari ketika kematiannya sendiri. Dia tidak pernah mengira akhir kehidupan sedang menunggunya !.

Bagaimanapun juga, ketika kematian mendatangi manusia, semua “kenyataan” hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi sisa dari “masa lalu yang menyenangkan”. Pikirkanlah, segala sesuatu yang dapat Anda lakukan sekarang juga: Anda dapat mengedipkan mata, menggerakkan tubuh, berbicara, tertawa; semua ini adalah fungsi tubuh Anda. Sekarang pikirkan juga tentang keadaan dan bentuk tubuh Anda setelah kematian. Sejak detik Anda mengembuskan nafas terakhir, Anda akan menjadi tak lebih dari “seonggok daging”. Tubuh Anda yang diam dan tak bergerak, akan dibawa ke rumah mayat. Di sana, tubuh Anda akan dimandikan untuk terakhir kalinya. Dengan keadaan terbungkus kain kafan, jenazah Anda akan dibawa di dalam peti mati ke pemakaman. Begitu jenazah Anda berada di dalam kubur, tanah akan menutupi Anda. Inilah akhir dari kisah tentang Anda. Mulai sekarang, Anda hanyalah salah satu nama yang tertulis pada nisan-nisan pekuburan. Selama beberapa bulan dan tahun pertama, kuburan Anda akan sering dikunjungi. Namun seiring berjalannya waktu, makin sedikit orang yang datang. Dan sekitar sepuluh tahun kemudian, tak ada lagi yang datang. Karena semakin jauh generasi turunan kita, umumnya semakin kurang ikatan batinnya dengan kita.

Sementara itu, anggota keluarga dekat Anda akan melalui segi lain dari kematian Anda. Di rumah, kamar dan tempat tidur Anda akan kosong. Setelah pemakaman, hanya sedikit barang-barang kepunyaan Anda yang akan disimpan di rumah: kebanyakan pakaian, sepatu, dan lain-lain milik Anda akan diberikan kepada mereka yg memerlukannya. Berkas-berkas Anda di kantor administrasi umum akan dihapus atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, sebagian orang akan berkabung untuk Anda. Namun, empat atau lima tahun kemudian, hanya tinggal sedikit yg ingat akan Anda. Tak lama, generasi baru akan datang dan tidak seorang pun dari generasi Anda yg tersisa di muka bumi. Apakah Anda akan diingat atau tidak oleh generasi-generasi berikutnya, tidak akan berharga bagi Anda.

Sementara semua ini berlangsung di muka bumi, jenazah di bawah tanah akan melalui proses pembusukan yang cepat. Segera setelah Anda berada di dalam kubur, bakteri dan serangga yang berkembang biak di dalam jenazah karena tiadanya oksigen akan mulai berfungsi. Gas-gas yang dikeluarkan dari organisme-organisme ini akan menggembungkan tubuh, mulai dari bagian perut, mengubah bentuk & penampilannya. Busa bercampur darah akan meletup keluar dari mulut dan hidung karena tekanan gas-gas pada diafragma. Begitu proses perusakan ini terjadi, rambut tubuh, kuku, telapak tangan dan kaki akan rontok. Mengikuti perubahan luar ini, di dalam tubuh, organ-organ dalam seperti paru-paru, jantung, dan hati juga akan membusuk. Sementara itu, adegan yang paling mengerikan berlangsung di dalam perut, dimana kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas-gas dan tiba-tiba meletus, menyebarkan bau busuk menyengat. Kemudian mulai dari tengkorak, otot-otot akan berlepasan dari tempat-tempat asalnya. Kulit dan jaringan-jaringan lunak akan hancur sama sekali. Otak akan membusuk dan mulai tampak seperti tanah liat. Proses ini akan terus berlanjut sampai seluruh tubuh tinggal kerangka. Pendeknya, “tumpukan daging dan tulang” yang kita beri identitas tersebut akan menghadapi akhir yang mengenaskan.

Jika Allah berkehendak, tubuh Anda tidak akan pernah membusuk seperti itu. Dalam peristiwa itu sebenarnya terkandung sebuah pesan yang sangat penting. Akhir yang dahsyat yang menunggu manusia seharusnya membuatnya mengakui bahwa dia bukanlah sesosok tubuh, tetapi sebentuk jiwa yang “berdiam” di dalam tubuh. Dengan kata lain, manusia harus mengakui bahwa dia memiliki keberadaan di luar tubuhnya. Lebih jauh lagi, manusia harus memahami kematian jasadnya yang ia coba miliki seolah ia akan abadi di dunia fana ini. Namun jasad ini, yg ia anggap teramat penting, akan membusuk dan dimakan cacing suatu hari dan akhirnya tinggal kerang ka. Hari itu mungkin saja sangat dekat.

Penguburan atau kematian mendadak dari keluarga dekat membawa kenyataan ini. Hampir setiap orang menganggap maut jauh dari dirinya. Dianggapnya mereka yang meninggal adalah orang lain dan apa yang mereka hadapi tidak akan pernah menimpa dirinya ! Setiap orang mengira dirinya terlalu muda untuk mati dan masih hidup bertahun-tahun lagi. Namun, ini hanyalah suatu pengelakan dari kematian dan merupakan upaya gagal untuk melarikan diri darinya: “Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. Al Ahzab, 33: 16). Tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kubur. Jasad muncul ke dunia ini sendirian dan meninggalkannya dengan cara yang sama. Satu-satunya harta yang dapat dibawa seseorang bersamanya saat kematian adalah keimanan atau kekafirannya.

footnote :
1. A. Maton, J. Hopkins, S. Johnson, D. LaHart, M.Quon Warner, J.D. Wright, Human Biology and Health, Prentice Hall, New Jersey, hal. 59
2. J.A.C. Brown, Medical and Health Encyclopaedia, Remzi Publishing, Istanbul, hal. 250

(sumber : Hakikat Kehidupan Manusia, Harun Yahya International – harunyahya.com)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 030/th.03/Rabi’ul Awal-Rabi’ul Akhir 1428H/2007M


KELEMAHAN MANUSIA (bag.1)

Mei 31, 2007

Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna dan melengkapinya dengan sifat yang unggul. Keunggulannya dibandingkan seluruh makhluk sebagaimana ditunjukkan oleh kemampuan intelektualnya yang khas dalam berpikir dan memahami, dan kesiapannya untuk belajar dan mengembangkan budaya tidak perlu dipertanyakan lagi.

Namun pernahkah Anda berpikir, mengapa meski memiliki seluruh sifat yang unggul ini ternyata manusia memiliki tubuh yang sangat rentan, yang selalu lemah terhadap ancaman dari luar dan dalam ? Mengapa begitu mudah terserang mikroba atau bakteri, yang begitu kecil bahkan tidak tertangkap oleh mata telanjang ? Mengapa ia harus menghabiskan waktu tertentu setiap harinya untuk menjaga diri nya agar bersih ? Mengapa ia membutuhkan perawatan tubuh setiap hari ? Dan mengapa ia bertambah usia sepanjang waktu ?

Manusia menganggap semua kebutuhan ini adalah fenomena alami. Namun, sebagai manusia, keperluan perawatan tersebut memiliki tujuan tersendiri. Setiap detail kebutuhan manusia diciptakan secara khusus. Ayat “manusia diciptakan dalam keadaan lemah” (QS. An-Nisaa’, 4: 28) adalah pernyataan yang jelas dari fakta ini. Kebutuhan manusia yang tanpa batas diciptakan dengan sengaja: agar ia mengerti bahwa dirinya adalah hamba Allah dan bahwa dunia ini adalah tempat tinggalnya yang sementara. Manusia tidak memiliki kekuasaan apa pun terhadap tanggal dan tempat kelahirannya. Sebagaimana halnya, ia tidak pernah mengetahui di mana atau bagaimana ia akan meninggal. Lebih lanjut lagi, seluruh usahanya untuk membatasi faktor-faktor yang berpengaruh negatif bagi hidupnya adalah sia-sia dan tanpa harapan.

Manusia memang memiliki sifat rentan yang membutuhkan banyak perawatan untuk tetap bertahan. Ia pada hakikatnya tidak terlindungi dan lemah terhadap kecelakaan tiba-tiba dan tak terduga yang terjadi di dunia. Sama halnya, ia tidak terlindungi dari risiko kesehatan yang tidak dapat diperkirakan, tak peduli apakah ia penghuni peradaban yang tinggi atau pedesaan di gunung yang terpencil dan belum maju. Sepertinya setiap saat manusia dapat mengalami penyakit yang tak tersembuhkan atau mematikan. Kapan pun, dapat terjadi suatu kecelakaan yang menyebabkan kerusakan tak tersembuhkan pada kekuatan fisik atau daya tarik seseorang yang tadinya membuat cemburu orang lain. Lebih jauh, hal ini terjadi pada seluruh manusia: apa pun status, kedudukan, ras, dan sebagainya, tidak ada pengecualian terhadap masa akhir tersebut. Baik kehidupan seorang pesohor dengan jutaan penggemar dan seorang penggembala biasa dapat berubah secara drastis pada suatu saat karena kecelakaan yang tidak terduga.

Tubuh manusia adalah organisme lemah yang terdiri dari tulang dan daging dengan berat rata-rata 70-80 kg. Hanya kulit yang lemah melindunginya. Tidak diragukan, kulit yang sensitif ini dapat dengan mudah terluka dan memar. Ia menjadi pecah-pecah dan kering ketika terlalu lama terkena sinar matahari atau angin. Untuk bertahan terhadap berbagai gejala alam, manusia harus berjaga-jaga terhadap dampak lingkungan. Meskipun manusia dilengkapi dengan sistem tubuh yang luar biasa, “bahan-bahan”nya – daging, otot, tulang, jaringan saraf, sistem kardiovaskuler dan lemak – cenderung meluruh. Bila manusia terdiri dari bahan lain, bukan daging dan lemak, bahan yang tidak memberi jalan bagi penyusup dari luar seperti mikroba dan bakteri, tidak akan ada kesempatan untuk menjadi sakit. Bagaimana pun, daging adalah zat yang paling lemah: ia menjadi busuk bahkan berulat bila dibiarkan pada suhu ruang untuk beberapa waktu.

Untuk senantiasa mengingatkan kepada Allah, manusia acap kali merasakan kebutuhan pokok tubuhnya. Jika terkena cuaca dingin, misalnya, ia mengalami risiko kesehatan; sistem kekebalan tubuhnya perlahan-lahan “jatuh”. Pada saat tersebut, tubuhnya mungkin tidak dapat menjaga temperatur tubuh konstannya (37ºC) yang penting untuk kesehatan yang baik.1] Laju jantungnya melambat, pembuluh-pembuluh darahnya berkontraksi, dan tekanan darah meningkat. Tubuhnya mulai menggigil sebagai cara untuk mendapatkan panas kembali. Penurunan suhu tubuh pada 35ºC di iringi tekanan denyut nadi dan kontraksi pembuluh darah di lengan, kaki, dan jari-jari menandakan kondisi yang mengancam jiwa.2 ] Seseorang dengan suhu tubuh 35ºC menderita disorientasi sangat parah dan terus-menerus tertidur.
Fungsi-fungsi mental melambat. Sedikit saja penurunan suhu tubuh membawa konsekuensi demikian, tetapi lebih banyak terkena cuaca dingin, yang menyebabkan suhu tubuh di bawah 33ºC, akan mengakibatkan hilangnya kesadaran. Pada 24ºC, sistem pernafasan tidak berfungsi. Otak mengalami kerusakan pada 20ºC dan akhirnya jan tung berhenti pada 19ºC dengan membawa akhir yg tidak dapat dihindari: kematian.

Ini hanyalah satu dari sekian contoh. Contoh-contoh ini untuk menekankan bahwa banyak faktor yang tidak dapat ditawar-tawar yang membahayakan keberadaannya, manusia tidak pernah menemukan kepuasan mendalam selama hidupnya. Tujuannya ada lah untuk mengingatkan bahwa manusia hendaknya menghindari kecintaan buta terha dap hidup dan berhenti menghabiskan seluruh hidupnya mengejar mimpi, dan sebalik nya, selalu mengingat Allah dan hidup yang sesungguhnya, hari akhirat. Ada surga abadi yang dijanjikan kepada manusia. Surga adalah tempat kesempurnaan. Dalam surga, manusia akan sungguh-sungguh terjaga dari seluruh kelemahan dan ketidak sempurnaan fisik yang mengelilinginya di bumi. Segala yang ia inginkan dapat di raih dengan mudah. Lebih lanjut, kelelahan, kehausan, keletihan, kelaparan, dan luka tidak akan ada di surga.

Sebagai manusia hendaknya memikirkan sifat mereka sesungguhnya dan dengan konse kuen memiliki pengertian mendalam terhadap keagungan tak terbatas dari sang Pen cipta. Pemahaman bahwa manusia membutuhkan bimbingan Allah tentunya sangat dibu tuhkan setiap orang. Allah menyatakan hal ini dalam ayat-ayat berikut: “Hai manu sia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. Faathir, 35: 15)

Kebutuhan Jasmani
Manusia dihadapkan pada banyak risiko fisik. Menjaga tubuh dan lingkungan tetap bersih dan melakukan perawatan yang saksama adalah beban seumur hidup bagi manusia untuk meminimalkan risiko terganggunya kesehatan. Lebih mengejutkan, jumlah waktu yang dihabiskan untuk tugas tersebut ternyata cukup banyak. Kita sering me nemukan penelitian untuk mengetahui berapa banyak waktu yg dihabiskan untuk bercukur, mandi, merawat rambut, merawat kulit, kuku, dan sebagainya. Hasil berbagai penelitian demikian sangat mengherankan, dan mengungkap betapa banyak waktu berharga yang dihabiskan tugas-tugas harian tersebut.
Dalam kehidupan, kita menghadapi banyak manusia. Di rumah, di kantor, di jalan-jalan atau di mal perbelanjaan, kita melihat banyak manusia yang berpakaian rapi dengan penampilan necis. Mereka adalah orang-orang yang wajahnya dicukur, rambut dan tubuh yang bersih, pakaian yang diseterika, sepatu yang sudah disemir. Bagaimanapun, pengurusan seperti itu membutuhkan waktu dan usaha. Sejak bangun di pagi hari hingga pergi tidur, seseorang harus melibatkan diri dalam rutinitas tanpa akhir agar tetap bersih dan segar. Saat kita bangun, tempat pertama yang kita tuju adalah kamar mandi; sepanjang malam, perkembang-biakan bakteri menyebabkan rasa tidak enak dan hawa yang tidak menyenangkan dalam mulut, yang memaksa kita segera menyikat gigi. Bagaimanapun, agar siap untuk hari yang baru, hal penting dilakukan tidak sebatas menggosok gigi. Seseorang butuh membasuh wajah atau tangannya. Sepanjang hari, rambut menjadi berminyak dan tubuh menjadi kotor. Pada malam hari, di tengah-tengah mimpi, tubuh boleh jadi tidak dapat berhenti berkeringat. Sebagai satu-satunya cara untuk membersihkan bau tubuh yang tidak menyenangkan dan keringat, seseorang merasakan pentingnya mandi. Jika tidak, dia akan pergi bekerja dengan rambut berminyak dan tubuh bau, suatu hal yang tidak menyenangkan.

Variasi bahan yang digunakan untuk membuat tubuh seseorang cukup bersih untuk bertemu dengan orang lain ternyata sangat banyak. Hal ini cukup membuktikan kebutuhan tubuh itu tidak terbatas. Di samping air dan sabun, kita membutuhkan banyak bahan lain untuk membersihkan tubuh: sampo, conditioner, pasta gigi, pemo les gigi, korek kuping, bedak tubuh, krim wajah, lotion; daftarnya akan bertambah. Di samping bahan-bahan ini, terdapat ratusan produk lain yang dikembangkan di laboratorium untuk meningkatkan perawatan tubuh.

Sebagaimana halnya perawatan tubuh, setiap orang juga harus menghabiskan sejumlah waktu untuk membersihkan pakaian, rumah, dan lingkungannya. Tidak diragukan, seseorang tidak dapat menjaga kebersihan diri kecuali dengan berada di sebuah lingkungan yang bersih. Singkatnya, ada bagian tertentu dari hidup yang dihabiskan hanya untuk menyediakan kebutuhan tubuh. Lebih lanjut, kita membutuhkan banyak bahan kimia untuk tujuan ini. Allah menciptakan manusia dengan banyak kelemahan, namun juga menyediakan metode untuk menyembunyikan kelemahan ini untuk sementara sehingga tetap berada dalam kondisi yang baik tanpa membuat orang lain menyadari hal tersebut. Di samping itu, manusia diberkahi cukup kecerdasan untuk mencari jalan terbaik untuk menutupi “kelemahan”nya. Bila kita tidak menerapkan metode ini untuk menjaga tubuh tetap bersih dan segar, sebentar saja kita mung kin mulai tampak menjijikkan.

Lebih jauh, seseorang tidak dapat tetap bersih untuk waktu yang lama. Setelah beberapa jam, tidak satu pun yang tersisa dari kesegaran yang diberikan oleh mandi, kita hanya dapat menjaga tetap bersih untuk waktu yang relatif singkat. Kita butuh mandi setidaknya sekali sehari. Sebagaimana halnya, kita butuh menggosok gigi kita secara teratur, bakteri dengan cepat mengubah mulut menjadi keadaan yang sebelumnya. Seorang wanita yang menghabiskan berjam-jam di depan kaca memakai riasan, bangun di pagi hari berikutnya tanpa jejak riasan yang cantik tersebut di wajahnya. Lagi pula, bila ia tidak menghapusnya dengan benar, wajahnya akan tampak lebih mengerikan oleh sisa-sisa kosmetik. Seorang laki-laki yang di cukur bersih membutuhkan cukuran lainnya pagi berikutnya. Adalah penting untuk memahami bahwa semua kebutuhan ini diciptakan untuk tujuan tertentu. Sebuah contoh akan membuat poin ini jelas: ketika suhu tubuh meningkat , kita berkeringat. Bau yang keluar bersama keringat sangat mengganggu. Ini adalah proses yang tidak dapat dihindari siapa pun yang hidup di dunia ini. Bagaimanapun, bukan ini permasalahannya ! Misalnya, tumbuhan tidak pernah berkeringat. Sebuah bunga mawar tidak pernah berbau busuk meskipun faktanya ia tumbuh di tanah, diberi makan dengan pupuk, dan berada di sebuah lingkungan yang berdebu dan kotor. Dalam semua kondisi, ia mempunyai harum yang lembut. Bahkan ia tidak membutuhkan perawatan tubuh apa pun !
Akan tetapi, tidak peduli kosmetik apa pun yang dipakaikan kepada kulit, hanya sedikit mahkluk hidup yang dapat mencapai keharuman permanen seperti itu.

Di samping seluruh kebutuhan tubuh mengenai kebersihan, nutrisi juga penting bagi kesehatan. Terdapat kesetimbangan yang cermat dari protein, karbohidrat, gula, vitamin, dan mineral lainnya yang penting bagi tubuh. Sekali kesetimbangan ini terganggu, kerusakan serius dapat timbul dalam berfungsinya sistem-sistem tubuh: sistem kekebalan kehilangan kemampuan perlindungannya, membuat tubuh lemah dan rentan terhadap penyakit. Karenanya, perhatian yang sama yang ditunjukkan untuk perawatan tubuh seharusnya juga diberikan untuk nutrisi. Syarat yang malah lebih penting lagi untuk hidup adalah, tentu saja, air. Seorang manusia dapat bertahan hidup tanpa makanan untuk beberapa periode tertentu, namun beberapa hari tanpa air akan berakibat fatal. Seluruh fungsi kimia tubuh berlangsung dengan pertolongan air; air adalah penting bagi kehidupan.

Kelemahan-kelemahan yang dapat diamati seseorang pada tubuhnya sendiri. Namun tersisa sebuah pertanyaan: apakah kita semua menyadari bahwa ini adalah kelemahan ? Alternatifnya, apakah kita berpikir bahwa ini adalah “alami” karena manusia di seluruh dunia memiliki kelemahan demikian ? Bagaimanapun, kita harus ingat bahwa Allah dapat saja menciptakan manusia yang sempurna tanpa kelemahan ini. Setiap manusia dapat saja sebersih dan seharum mawar. Namun demikian, pelajaran yang dapat diambil dari keadaan itu pada akhirnya membawa pada kebijaksanaan, membawa kita pada kejernihan pemikiran dan kesadaran; manusia, melihat kel mahannya dalam kehadiran Allah, seharusnya mengerti mengapa ia diciptakan dan mencoba menjalani hidup yang mulia sebagai hamba Allah.

Lima Belas Tahun Tanpa “Kesadaran”
Setiap manusia harus menghabiskan sebagian waktu hariannya untuk tidur. Tidak peduli seberapa banyaknya pekerjaan yang ia miliki atau hindari, ia tetap akan jatuh tertidur dan berada di tempat tidur untuk sedikitnya seperempat hari. Karenanya, manusia sadar hanya delapan belas jam sehari; ia menghabiskan sisa waktunya minimal rata-rata 6 jam per hari dalam ketidaksadaran total. Jika dinilai dari sisi ini, kita menjumpai gambaran yang mengejutkan: 1/4 dari rata-rata 60 tahun kehidupan dihabiskan dalam ketidaksadaran total (tidur). Apakah kita memiliki alternatif selain tidur ? Apa yang akan terjadi pada seseorang yang berkata, “Saya tidak ingin tidur ?” :
Pertama, matanya akan menjadi merah dan warna kulitnya memucat. Jika jangka waktu tidak tidurnya bertambah, ia akan kehilangan kesadaran. Menutup mata dan ketidakmampuan untuk memfokuskan perhatian adalah fase awal tertidur. Ini adalah proses yang tidak dapat dielakkan, baik cantik atau jelek, kaya atau miskin, setiap orang mengalami proses yang sama. Mirip dengan kematian, tepat sebelum tertidur seseorang mulai tidak sensitif terhadap dunia luar dan tidak memberikan respon terhadap rangsangan apa pun. Indra yang sebelumnya amat tajam mulai tidak dapat bekerja. Sementara itu, daya persepsi berubah. Tubuh mengurangi seluruh fungsinya menjadi minimum, membawa kepada disorientasi ruang dan waktu serta pergerakan tubuh yang lebih lambat. Keadaan ini, pada satu hal, merupakan bentuk lain kematian, yang didefinisikan sebagai keadaan di mana jiwa meninggalkan tubuh.

Memang, saat tidur tubuh berbaring di ranjang sementara ruh mengalami hidup yang sangat berbeda di tempat yang sangat berbeda. Dalam mimpi, seseorang mungkin merasa berada di pantai pada suatu hari yang terik di musim panas, tanpa menyadari bahwa ia tengah terlelap di tempat tidur. Kematian pun memiliki tampilan luar yg serupa: ia memisahkan jiwa dari tubuh yang digunakannya di dunia dan membawanya ke dunia yang lain dalam tubuh yang baru. Untuk ini Allah berulangkali mengingatkan kita dalam Al Quran, satu-satunya wahyu sejati yang tersisa dan menuntun manusia ke jalan yang benar – akan kesamaan tidur dengan kematian. “Dan Dialah yg menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur yg telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. (QS. Al An’aam, 6: 60)

“Allah memegang jiwa ketika matinya dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yg ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yg berpikir. (QS. Az-Zumar, 39: 42). Karena kehilangan total seluruh fungsi indra, dengan kata lain, “dalam ketidaksa daran sebenarnya”, seorang manusia menghabiskan hingga 1/3 hidupnya dalam tidur. Namun, manusia sedikit sekali yang merenungkan fakta ini, tidak pernah menyadari bahwa ia meninggalkan segala yang dianggap penting di dunia ini. Ujian yang penting, banyaknya uang yang hilang dalam perdagangan saham atau permasalahan pribadi, singkatnya segala yang tampak penting sehari-hari menghilang begitu seseorang tertidur. Singkatnya, hal ini berarti kehilangan hubungan sepenuhnya dengan dunia. Inilah sebagian yang jelas tentang pendeknya hidup dan sejumlah besar waktu yang dihabiskan untuk tugas “wajib” yang rutin. Ketika waktu yang digunakan untuk tugas “wajib” tersebut dikurangi, seseorang akan menyadari betapa singkatnya waktu yang tersisa untuk apa yang disebut kesenangan hidup. Dalam perenungan ulang, seseorang akan terkejut dengan panjangnya waktu yang dihabiskan untuk makan, merawat tubuh, tidur, atau bekerja untuk mendapat standar hidup yang lebih baik. Tidak diragukan lagi, perhitungan waktu yang dihabiskan untuk tugas rutin yang penting untuk hidup patut dipikirkan. Seperti dinyatakan sebelumnya, setidaknya 15-20 tahun dari 60 waktu hidup dihabiskan untuk tidur. Awal 5-10 tahun dari 40-45 tahun sisanya, dihabiskan dalam masa kanak-kanak, masa yang juga dilewati dalam keadaan yang hampir tidak sadar. Dengan kata lain, seorang berusia 60 tahun sudah menghabiskan sekitar separuh hidupnya tanpa kesadaran.

(bersambung ke bagian 2)