Orang Tuanyalah Yang Menjadikan Yahudi, Majusi dan Nashrani

Mei 28, 2007

“Aku ingin anakku nantinya bisa jadi penyanyi terkenal,” ujar seorang ibu muda dalam suatu obrolan di sebuah acara perpisahan anak-anak kelas III SMP di gedung cukup mewah di bilangan Jakarta. Kebetulan saat itu sedang ditampilkan acara hiburan yang diisi oleh sumbangan alunan suara merdu anaknya. “Kalo’ aku sih, anakku ingin aku masukkan ke sekolah modelling biar bisa jadi peragawati terkenal,” timpal ibu lainnya tak kalah sengit. Walhasil obrolan ibu-ibu yang ikut mengiringi anak-anak mereka pada acara perpisahan sekolah, tak jauh dari seputar obsesi para ibu itu terhadap anak-anak mereka. Obsesi orangtua terhadap anak, memang tak dilarang dalam Islam. Selama obsesi itu merupakan wujud kasih sayang orang tua terhadap anak-anak mereka. Agar anak-anak mereka menjadi orang yang berhasil dalam karir, mandiri (baik secara materi maupun sikap mental), mendapat pendamping hidup yang baik, terpandang di masyarakat, serta tetap berbakti pada orang tua. Bagaimana soal berbakti kepada Tuhan ?

Ini juga hal yang sering tak dilupakan sebagai bagian obsesi para orangtua terhadap anak-anak mereka. Biasanya satu paket, agar anak berbakti kepada orangtua dan agamanya. Namun sayangnya unsur terakhir ini, kerap cuma sebagai embel-embel formalitas dari bangunan obsesi para orangtua yang diangankan pada anak-anaknya. Tindak lanjut dari obsesi terakhir ini sering macet cuma sampai pada tataran angan-angan. Dalam bentuk implementasi, bak “jauh panggang dari api” alias berbanding terbalik.

Ilustrasi di awal tulisan ini, mungkin bisa jadi contoh. Bagaimana tergiurnya seorang ibu pada predikat sukses duniawi yang kelak bisa disandang anak, tanpa mempedulikan apakah itu selaras dengan harapan Tuhan? Padahal hakikatnya, kita bukanlah the real owner (pemilik sejati) dari anak-anak yang kita miliki. Kita hanya ditugasi Allah ‘Azza wa Jalla, Pemilik Sesungguhnya Seluruh Anak-Anak Manusia, orangtua cuma sebagai fasilitator yang harus bisa mengantarkan anak-anak kita kembali kepada Pemiliknya dalam keadaan orisinal (asli) sebagaimana dulu dia dilahirkan. Dalam bahasa imannya, anak itu lahir dalam keadaan fitrah (suci), karena itu ia harus kita kembalikan pada Pemiliknya juga dalam kondisi fitrah. Al Qur’an menegaskan “Dan (ingatlah) ketika Robb-mu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian atas jiwa-jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab; “Betul (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan; “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lupa terhadap kesaksian ini.” (Surat Al A’raf 172).

Setiap anak Adam yang terdiri dari beragam warna, beragam bahasa, beragam kultur dan akhirnya berhimpun dalam berbagai suku bangsa di dunia itu, hakikatnya lahir dalam keadaan fitrah (bertauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla). Ini merupakan warisan Robbani sekaligus modal dasar yang paling kokoh yang akan menentukan eksistensi kemanusiaan setiap insan. Bagaimana nilai-nilai keyakinan yang diajarkan pada anak serta sistem pembinaan karakter yang diterapkan terhadap dirinya, kelak yang akan menentukan akan menjadi seperti apa anak di kemudian hari. Apakah anak tetap dalam fitrahnya, atau apakah bahkan ia kelak menjadi penentang fitrah yang dimilikinya, tergantung kedua orangtuanya. Karena itu Nabi mulia saw menegaskan, “Setiap bayi yang lahir dalam keadaan fitah. Maka orangtuanyalah yang kemudian berperan dalam merubah fitrahnya, apakah ia kelak menjadi Yahudi, menjadi Majusi, atau menjadi Nasrani.” (hadits shahih).

Hadits di atas tidak menyebutkan, si anak bisa berubah menjadi Islam. Karena Islam (fitrah) itu sesungguhnya telah menyatu (inherent) dalam diri setiap anak yang lahir. Maka tugas para orangtua yang diamanati anak-anak yang fitrah itu oleh Allah swt, sesungguhnya adalah tetap mengasuh mereka dalam sistem dan pola yang fitrah.
Dengan kata lain, anak-anak itu sebetulnya telah disediakan oleh Penciptanya suatu sistem pendidikan yang sesuai dengan fitrah mereka. Sehingga hanya dengan sistem itu anak-anak dijamin tak akan berubah fitrahnya hingga ia menghadap Tuhannya. Orang tua seharusnya berperan mengarahkan, menempatkan, dan menjaga si anak agar tetap berada pada koridor sistem fitrah itu, yang tak lain adalah dienul Islam. Hanya sistem (dien) Islam yang bisa mengakomadasi, menumbuhkan, mengembangkan, serta mengokohkan potensi fitrah setiap manusia. Karena Islam adalah agama yang diciptakan oleh Pencipta sekaligus Pemilik manusia itu sendiri. Perintah itu dengan gamblang dituangkan dalam firmanNya yang agung; “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia manusia tidak mengetahuinya.” (Ar Ruum : 30) .

Lantaran itu para orangtua seharusnya berperan mengenalkan, menggiring, dan menempatkan anak-anak agar hidup dalam habitat sistem fitrah (dienul Islam) secara permanen. Anak tak boleh sedikitpun disusupi nilai-nilai asing pada aspek mana pun yang dapat merusak potensi fitrahnya. Sebaliknya orangtua berkewajiban menempa kepribadian anak berdasarkan petunjuk sistem fitrah itu, agar potensi fitrah anak menjadi sesuatu yang dominan muncul pada kepribadiannya. Sebab hanya manusia yang memiliki kepribadian fitrah yang akan bisa memelihara eksistensi kehormatan dirinya. Tentu saja keliru asumsi yang mengatakan, mengajarkan Islam pada anak, cuma urusan sholat, puasa, dan bersedekah. Namun dia tidak mendidiknya agar anak berpakaian sopan dan menutup aurat (bagi anak-anak perempuan). Dia tidak menciptakan atmosfer Islami di dalam rumah tangganya. Atau bahkan dia membiarkan anak-anaknya bebas mengikuti trend budaya Barat, baik dari segi pergaulan, selera hiburan, selera berpakaian, dan lain sebagainya. Atau juga dia membebaskan anaknya memilih jalan hidup yang bertentangan dengan Islam. Akan lebih keliru lagi misalnya, jika ada orangtua menginginkan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihat, tapi menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah non muslim, apalagi bila anak-anak kita biarkan bergaul dalam lingkungan komunitas atheistik/materialistik yang menganut paham pergaulan bebas.

Komunitas yang menganggap semua agama sama, semua agama baik, surga tidak bisa diklaim hanya sebagai milik orang-orang Islam belaka. Jelas ini tidak kondusif bagi perkembangan fitrah anak. Bahkan sangat membahayakan fitrahnya. Jika kita tidak asuh anak-anak kita dalam asuhan sistem dan nilai-nilai yang Islami, jangan salahkan jika mereka kelak di kemudian hari menjadi orang-orang nyeleneh. Orang-orang yang tidak tahu malu mempertontonkan aurat, Orang-orang yang menjadi pemuja ideologi Barat. Orang-orang yang sesungguhnya telah menjadi murtad (keluar dari Islam), na’udzubillah min dzalik. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mau mendengar suara fitrah anak-anak kita. Agar kita tidak memaksakan kehendak dan obsesi kita yang barangkali justru akan memurtadkan mereka.

Mari kita dengar baik-baik suara fitrah mereka:
“Ayah, ibu, jangan murtadkan kami !”.
Wallahu a’lam.

http://www.eramoslem.com/ar/kg/36/6640%2C1%2Cv.html

“Belajar sedari kecil ibarat mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa ibarat mengukir di atas air . (Ali Bin Abi Thalib)

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 004/th.01/jumada al awwal 1425H/2004M


Operasi Badai Gurun Hariri

Mei 3, 2006

Setelah Perang Teluk usai, terdapat sekitar 100 tentara Muslim di Fort Bragg, Carolina Utara –dan hanya satu di antaranya seorang wanita. Sersan Hariri, tiga puluh tahun, yang masuk Islam di Saudi Arabia, kembali ke Amerika Serikat dan mengenakan hijab di basis militernya.
Saya seorang intendan. Saya dikirim ke Saudi dan ditempatkan di Dammam. Kemiliteran menyewa sebuah kamp yang merupakan kamp para pekerja. Di sanalah kami tinggal dan di sana pula kami mengendalikan operasi gudang kami. Beberapa kompi berada jauh di padang pasir dan mereka tidak mempunyai perbekalan. Kami mengendalikan gudang perbekalan untuk persediaan air dan makanan bagi mereka. Suatu hari, kami harus menghabiskan malam dengan bersiaga di tempat perlindungan, sebab sebuah misil telah lewat di dekat kami, dan yang satu meledak tepat di atas kepala kami tanpa sinyal bahaya! Untuk itu kami menulis daftar kebutuhan yang perlu dibeli, dan mengesahkannya melalui para penghubung, dan para tentara pergi untuk membelinya. Salah seorang yang menjual barang kebutuhan kami adalah orang yang memperkenalkan saya kepada Islam. Sekarang dia juga menjadi suami saya, Hussain Hariri. Dia berasal dari Lebanon.
Saya meminta untuk menceritakan pada saya sebuah kisah dari Al-Quran. Saya ingin tahu buku macam apakah Al-Quran itu ? apa itu sebuah buku yang keras dan kejam? Dia mengakhiri ceritanya dengan kisah Nabi Yusuf. Ketika telah menyelesaikan cerita tersebut, saya berkata, “Kami juga punya kisah seperti itu, tetapi orang-orangnya berbeda.” Dia hanya tertawa, “Itu kisah yang sama.” Dia berkata bahwa mereka juga punya Moses, tetapi menyebutnya Musa. Dia memberitahu saya nama-nama yang terdapat di Injil dan memberitahukan nama-nama mereka dalam bahasa Arab di Al-Quran. Hal itu mengejutkan saya. Saya bahkan tidak pernah mendengar tentang Islam atau Quran sampai kami mulai diberikan pengarahan tentang apa yang tidak boleh kami lakukan, apa yang tidak boleh kami ucapkan, dan area yang harus di hindari, sebelum diterjunkan ke lapangan. Saya bertanya kepadanya apakah dia dapat mencarikan Al-Quran berbahasa Inggris untuk saya. Dia mendapatkannya dari salah seorang temannya.

Pada suatu hari, Hussain dan saya bercakap-cakap lebih jauh tentang Islam. Saya tanya kepadanya seberapa banyak yang harus diketahui sese orang sebelum dia mengucapkan syahadat. Dia bilang Anda dapat menjadi seorang Muslim tanpa mengetahui apa pun tentang Islam, dan jika engkau menunggu sampai mengetahui segalanya tentang Islam, engkau tidak akan pernah melakukannya. Pada dasarnya, ada lima rukun Islam. Anda harus menyadari bagaimana hal itu akan mempengaruhi hidup Anda. Anda harus menyadarinya mulai saat ini, Anda akan bertang gungjawab atas semua tindakan Anda. Dan Anda harus bersungguh-sungguh berkeinginan menjadi seorang Muslim dan bukan hanya …………
“yah, mungkin saya akan mencoba agama ini untuk sementara”.
Keikhlasan dan kesungguhan sangatlah penting. Saya berkata, “Saya akan mempelajari hal-hal yang lain nanti, tetapi saya sudah mem punyai bekal yang cukup untuk membuat keputusan sekarang.” Dia menghela napas panjang, dan berkata, “Baiklah, apa keputusanmu ?”Saya berkata, “Saya ingin menjadi seorang Muslim.” Dia berkata, “Engkau harus mengucapkan kalimat syahadat.” Dia mengucapkannya dalam bahasa Inggris dan saya mengikutinya. Kemudian dia berkata, “Engkau harus mengucapkannya dalam bahasa Arab.” Saya telah mulai belajar huruf-huruf dan percakapan bahasa Arab, tetapi bukan bahasa Arab Al-Quran. Dia melafalkannya dalam bahasa Arab dan dia memberitahu saya makna tiap kata, dan dia berkata, “Jika engkau tidak mengetahui apa yang engkau ucapkan, berarti engkau tidak mengucapkan apa-apa.”Saya mengucapkan syahadat tiga kali dan selesailah sudah.

Saya memberitahu perwira komandan saya mengenai keislaman saya. Dan dia sama sekali tidak keberatan selama keislaman saya tidak mengganggu dan mempengaruhi tugas saya. Pada jam-jam tugas, tentu saja, saya masih harus mengenakan seragam pasukan badai gurun. Tetapi selepas jam tugas, saya memakai jubah panjang hitam dan kerudung hitam yang diberikan Hussain. Saya tampak seperti orang Saudi.
Saya sering mendapat tatapan aneh. Orang-orang begitu terkejut. Saya berkata kepada mereka, “Hey, nama saya Sersan Peck. Ada yang ingin Anda tanyakan pada saya ?” Mereka menjawab, “Tidak. Kurang dari sebulan kemudian saya kembali ke Amerika. Hussain tetap tinggal di sana. Dengan berharap musim panas ini kami berdua berada di negara yang sama. Sementara itu saya tetap berusaha memperjuangkan sebisa mungkin agar pakaian religius diperbolehkan dipakai oleh seorang sersan seperti saya. Setelah berjuang dengan dibantu oleh beberapa orang terdekat, akhirnya saya berhasil memperjuangkan hak untuk memakai jilbab coklat yang sudah dari dulu ingin saya kenakan. Pada saat makan siang, saya mengenakan kerudung. Penampilan saya sangat mencolok dan menarik perhatian. Ketika masa cuti usai, saya bekerja di toko perbekalan batalion. Para perwira berdatangan kesana untuk menga wasi dan memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik, dan saya selalu mendapat sekilas pandangan aneh dari mereka. Seseorang berkata, “Mengapa Anda meletakkan kain lap di atas kepala Anda itu?” Dia seorang tamtama yang lebih rendah. Saya berbalik dan mereka melihat pangkat saya, kemudian mereka berkata “Uh-oh, maaf.” Saya berkata, “Ini bukan kain lap, ini adalah pakaian religius; saya mengenakan ini karena alasan religius.” Mereka berkata, “Maaf, maaf.” Pangkat saya mungkin menghalangi banyak orang untuk mengatakan apa yang ingin mereka katakan.

Tahun lalu, komandan sersan mayor, perwira berpangkat tertinggi di sana, menginginkan saya untuk memberikan pidato singkat di NCOPD (Noncommissioned Officer Development Program). Dia memanggil saya, dan ketika saya sedang berjalan menuju ke depan, saya tak sengaja mendengar seorang wanita berpangkat E5 berkata, “Apakah kami harus mendengarkan ini ?” Saya berdiri dan berkata, “Dalam perjalanan saya menuju kemari, saya mendengar komentar yang berbunyi ‘Apakah kami harus mendengarkan ini?’ Dan saya berdiri di sini untuk memberitahu kalian, Ya, Anda harus mendengarkannya. Ini bukan mengenai agama siapa yang benar dan agama siapa yang salah. Ini mengenai tugas kalian sebagai anggota NCO dan bagian dari tugas kalian mengurusi tentara. Anda mengendalikan tentara yang beragama Kristen, Luther, dan Yahudi, atau apa pun. Tetapi apabila kalian tidak mengetahui apa-apa tentang tentara kalian, kalian tidak mengetahui bagaimana mengendalikan mereka. “Jika kalian mempunyai tentara Muslim dan mereka tinggal di barak, mereka mempunyai hak yang sama dengan tentara Yahudi dalam hal yang berkenaan dengan jatah makanan yang terpisah. Tentara Yahudi mempunyai hak untuk tidak makan di ruang mess, sebab sebagian besar makanan tercampur dengan daging babi.
Jika Anda telah menikah, Anda mendatangi bagian personalia, Anda akan mendapat uang tiap bulan dan Anda akan membeli makanan sendiri, karena Anda telah menikah. Sekarang, orang-orang di barak tidak diberi hak untuk mendapatkan uang tersebut, tetapi tentara Muslim dan Yahudi berhak sebab mereka mempunyai peraturan makanan yang berdasarkan pada agama mereka. Mereka boleh membeli makanan sendiri.” Sersan mayor itu berkata, “Bagus sekali.”

[sumber : diambil dari buku American Jihad, Islam after Malcolm X]

Artikel Lainnya di Bank Data Majalah – Online sejak 2 Mei 2002/19 Safar 1423 H – http://www.fosmil.org/adzan/15.muallaf/mu07.html

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 004/th.01/jumada al awwl 1425H/2004M


Abdullah Bin Ummi Maktum RA

Mei 3, 2006

Siapakah laki laki itu, yang karenanya Nabi yang mulia mendapat teguran dari langit dan menyebabkan beliau sakit ? Siapakah dia, yang karena peristiwanya Jibril Al Amin harus turun membisikkan wahyu Allah ke dalam hati nabi yang mulia.

Dia tiada lain adalah ‘ ABDULLAH BIN UMMI MAKTUM’ Muadzin Rasulullah. ‘Abdullah bin Ummi Maktum, orang Makkah suku Quraisy. Dia mempunyai ikatan keluarga dengan Rasululah saw, yakni anak paman Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid Ridhwa nullah ‘Alaiha. Bapaknya Qais bin Zaid, dan ibunya ‘Atikah binti ‘Abdullah. Ibunya bergelar ” Ummi Maktum ” karena anaknya ‘Abdullah lahir dalam keadaan buta total. ‘Abdullah bin Ummi Maktum menyaksikan ketika cahaya Islam mulai memancar di Makkah. Allah melapangkan dadanya menerima agama baru itu. Karena itu tidak diragukan lagi dia termasuk kelompok yang pertama-tama masuk Islam.

Sebagai muslim kelompok pertama, ‘Abdullah turut menanggung segala macam suka duka kaum muslimin di Makkah ketika itu. Dia turut menderita siksaan kaum Quraisy seperti diderita kawan-kawannya seagama, berupa penganiayaan dan berbagai tindakan kekerasan lainnya. Tetapi apakah karena tindakan-tindakan kekerasan itu Ibnu ummi Maktum menyerah ? Tidak ! Dia tidak pernah mundur dan tidak lemah iman. Bahkan dia semakin teguh berpegang pada ajaran Islam dan kitabullah. Dia semakin rajin mempelajari syariat Islam dan sering mendatangi majlis Rasulullah saw. Begitu rajinnya dia mendatangi majlis Rasulullah, menyimak dan menghafal Al Quran, sehingga setiap waktu senggang selalu diisinya, dan setiap kesempatan yang baik selalu direbutnya. Bahkan dia cukup ‘rewel’. Namun karena ‘rewel’nya, dia beruntung memperoleh apa yang diinginkannya dari Rasulullah, di samping keuntungan bagi yang lain juga.

Pada masa permulaan tersebut, Rasulullah sering mengadakan dialog dengan pemimpin-pemimpin Quraisy, berharap semoga mereka masuk Islam. Pada suatu hari beliau bertatap muka dengan ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, ‘Amr bin Hisyam alias Abu Jahl, Umayyah bin Khalaf dan walid bin Mughirah, ayah saifullah Khalid bin walid. Rasulullah berunding dan bertukar pikiran dengan mereka tentang agama Islam. Beliau sangat ingin mereka menerima dakwah dan menghentikan penganiayaan terhadap para sahabat beliau. Ketika Rasulullah sedang serius berunding, tiba-tiba ‘Abdullah bin Ummi Maktum datang ‘mengganggu’ minta dibacakan kepadanya ayat-ayat Al Qur’an. Kata ‘Abdullah, “Ya, Rasulullah! Ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepadamu!”. Rasul yang mulia terlengah untuk memperdulikan permintaan ‘Abdullah. Bahkan beliau agak acuh atas interupsi ‘Abdullah itu Lalu beliau membelakangi ‘Abdullah dan melanjutkan pembicaraan dengan pemimpin Quraisy tersebut. ‘Mudah-mudahan dengan Islamnya mereka, Islam tambah kuat dan dakwah bertambah lancar’, rasulullah berharap.

Selesai berbicara dengan mereka, Rasulullah bermaksud hendak pulang. Tetapi tiba tiba penglihatan beliau gelap dan kepala beliau terasa sakit seperti kena pukul. Kemudian Allah mewahyukan firman-Nya kepada beliau :” Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta datang kepadanya, tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau mereka tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya ajaran Allah itu suatu peringatan. Maka siapa yanag menghendaki tentulah ia memperhatikannya. (Ajaran-ajaran itu) terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para utusan yang mulia lagi (senantiasa) berbakti.” (QS.’Abasa (80) : 1-16)

Enam belas ayat itulah yang disampaikan Jibril Al Amin ke dalam hati rasulullah sehubungan dengan peristiwa ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Sejak hari itu Rasulullah tidak lupa memberikan tempat yang mulia bagi ‘Abdullah apabila dia datang. Beliau menyilahkan duduk ditempat duduk beliau. Beliau tanyakan keadaannya dan beliau penuhi kebutuhannya. Tidaklah heran kalau beliau memuliakan ‘Abdullah demikian rupa ; bukankah teguran dari langit itu sangat keras!.

Tatkala tekanan dan penganiayaan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin semakin berat dan menjadi-jadi, Allah Ta’ala mengizinkan kaum muslimin dan Rasul-Nya hijrah. ‘Abdullah bin Ummi Maktum bergegas meninggalkan tumpah darahnya untuk menyelamatkan agamanya. Dia bersama-sama Mush’ab bin Umar dan sahabat Rasul yang pertama-tama tiba di Madinah. Setibanya di Yatsrib (Madinah ), ‘Abdullah dan Mush’ab segera berdakwah, membacakan ayat ayat Quran dan mengajarkan pengajaran Islam. Dan setelah Rasulullah tiba di Madinah, beliau mengangkat ‘Abdullah bin Ummi Maktum serta Bilal bin Rabah menjadi Muadzin Rasulullah. Mereka berdua bertugas meneriakkan kalimah tauhid lima kali sehari, mengajak orang banyak beramal saleh dan mendorong masyarakat merebut kemenangan. Apabila Bilal adzan, maka ‘Abdullah qamat. Dan bila ‘Abdullah adzan, maka Bilal qamat.

Dalam bulan Ramadhan tugas mereka bertambah. Bilal adzan tengah malam membangunkan kaum muslimin untuk sahur, dan ‘Abdullah adzan ketika fajar menyingsing, memberi tahu kaum muslimin waktu imsak sudah masuk, agar menghentikan makam minum dan segala yang membatalkan puasa.
Untuk memuliakan ‘Abdullah bin Ummi Maktum, Rasulullah mengangkatnya menjadi Wali Kota Madinah menggantikan beliau, apabila meninggalkan kota. Tujuh belas kali jabatan tersebut dipercayakan beliau kepada Abdullah. Salah satu diantaranya, ketika meninggalkan kota Madinah untuk membebaskan kota Makkah dari kekuasaan kaum musyrikin Quraisy.

Setelah perang Badr, Allah menurunkan ayat-ayat Al Quran, mengangkat derajat kaum muslimin yang pergi berperang fisabilillah. Allah melebihkan derajat mereka yang pergi berperang atas orang-orang yang tidak pergi berperang, dan mencela orang yang tidak pergi karena ingin bersantai-santai. Ayat-ayat tersebut sangat berkesan di hati ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Tetapi baginya sukar mendapatkan kemuliaan tersebut karena dia buta. Lalu dia berkata kepada rasulullah, “Ya, Rasulullah! Seandainya saya tidak buta, tentu saya pergi berperang.”
Kemudian dia bermohon kepada Allah dengan hati penuh tunduk, semoga Allah menurunkan pula ayat-ayat mengenai orang-orang yang keadaannya cacat (udzur) seperti dia, tetapi hati mereka ingin sekali hendak turut berperang. Dia senantiasa berdoa dengan segala kerendahan hati. Katanya, “Wahai Allah! Turunkanlah wahyu mengenai orang-orang yang uzur seperti aku!”.

Tidak berapa lama kemudian Allah memperkenankan doanya, Zaid bin Tsabit sekretaris Rasulullah yang bertugas menuliskan wahyu menceritakan, “Aku duduk di samping Rasulullah. Tiba tiba beliau diam, sedangkan paha beliau terletak di atas pahaku. Aku belum pernah merasakan beban yang paling berat melebihi berat paha rasulullah ketika itu. Sesudah beban berat yang menekan pahaku hilang, beliau bersabda, “Tulislah, hai Zaid!”. Lalu aku menuliskan, ” Tidak sama orang orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) dengan pejuang-pejuang yang berjihad fisabilillah…..” (QS. 4 : 95). Ibnu Ummi berdiri seraya berkata, “Ya rasulullah! Bagaimana dengan orang-orang yang tidak sanggup pergi berjihad (berperang karena cacat?”). Selesai pertanyaan ‘Abdullah, rasulullah berdiam dan paha beliau menekan pahaku, seolah-olah aku menanggung beban berat seperti tadi. Setelah beban berat itu hilang, Rasulullah berkata, “Coba baca kembali yang telah engkau tulis!”. Aku membaca, ” Tidak sama orang orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) .” lalu kata beliau. Tulis! ” Kecuali bagi orang-orang yang tidak mampu.” Maka turunlah pengecualian yang diharap-harapkan Ibnu Ummi Maktum.
Meskipun Allah SWT telah memaafkan Ibnu Ummi Maktum dan orang-orang uzur seperti dia untuk tidak berjihad, namun dia enggan bersantai-santai beserta orang-orang yang tidak turut berperang. Dia tetap membulatkan tekat untuk turut berperang fisabilillah. Tekat itu timbul dalam dirinya, karena jiwa yang besar tidak dapat dikatakan besar, kecuali bila orang itu memikul pula pekerjaan besar. Oleh karena itu dia sangat suka untuk turut berperang dan menetapkan sendiri tugasnya di medan perang. Katanya, “Tempatkan saya antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memegang erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya pasti tidak akan lari.

“Tahun keempat belas Hijriyah, Khalifah ‘Umar bin Khaththab memutuskan akan memasuki Persia dengan perang yang menentukan, untuk menggulingkan pemerintahan yang zalim, dan menggantinya dengan pemerintahan Islam yang bertauhid. ‘Umar memerin tahkan kepada segenap Gubernur dan pembesar dalam pemerintahannya, ‘Jangan ada seorang jua pun yang ketinggalan dari orang-orang bersenjata, atau orang yang mempunyai kuda, atau yang berani, atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada saya sesegera mungkin!”. Maka berkumpulah di Madinah kaum Muslimin dari segala penjuru, memenuhi panggilan Khalifah ‘Umar. Diantara mereka itu terdapat seorang prajurit buta, ‘Abdullah bin Ummi Maktum. Khalifah ‘Umar mengangkat Sa’ad bin Abi Waqqash menjadi panglima pasukan yang besar itu. Kemudian Khalifah memberikan intruksi-intruksi dan pengarahan kepada sa’ad. Setelah pasukan besar itu sampai di Qadisiyah. ‘Abdullah bin Ummi Maktum memakai baju besi dan perlengkapan yang sempurna. Dia tampil sebagai pembawa bendera kaum muslimin dan berjanji akan senantiasa mengibarkannya atau mati di samping bendera itu. Pada hari ketiga perang Qadisiyah, perang berkecamuk dengan hebat, yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut dengan kemenangan paling besar yang belum pernah direbutnya. Maka pindahlah keku asaan kerajaan Persia yang besar ke tangan kaum muslimin. Dan runtuhlah mahligai yang termegah, maka berkibarlah bendera tauhid di bumi penyembah berhala . Kemenangan yang meyakinkan itu dibayar dengan darah dan jiwa ratusan syuhada. Diantara mereka yang syahid itu terdapat ‘Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Dia ditemukan terkapar di medan tempur berlumuran darah syahidnya, sambil memeluk bendera kaum muslimin. Radhiyallahu’anhu –

(Artikel Lainnya di Bank Data Majalah)
http://www.fosmil.org/adzan/09.kisah/kis05.html

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”
(Al-Mukminun: 1-7).

“Sungguh akan ada di antara umatku, kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat-alat yang melalaikan”. (HR Bukhari)

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 004/th.01/jumada al awwal 1425H/2004M


Jangan Menunggu Musim Semi Berlalu

Mei 3, 2006

Seorang bapak tua, usia di atas 60 tahun. Sejak muda hingga tua dia tidak pernah menjalankan perintah agama dengan baik. Suatu ketika, entah karena apa, dia mengambil songkok hitam lalu memakai songkok itu di depan cermin. Sambil memandangi dirinya di depan cermin bapak itu bergumam: “Nampaknya, aku sudah pantas untuk mulai beribadah kepada Tuhan.” Setelah waktu berlalu, ternyata keinginan hanya tinggal keinginan. Kesadaran baik yang pernah timbul di hati bapak itu ternyata hanya muncul sesaat. Ia tidak mengendap lama. Ia muncul, lalu tenggelam ditelan kegelapan hati. Maka sejarah pun tidak jadi tertulis dengan tinta emas.

Setiap orang diberi kesempatan dan modal untuk hidup berjaya. Diantara manusia ada yang pandai dalam menggunakan kesempatan dan modal itu, namun ada pula yang menyia-nyiakannya. Jika kemudian terjadi penderitaan atau kesempitan, ia bermula dari kemalasan diri belaka. Jangan pernah menuding siapapun dengan derita yang kita alami, selain menuding diri sendiri. Cobalah, buka hati itu dan pikirkan segala-sesuatu secara tenang dan jernih, maka kita akan menemukan petunjuk bahwa pangkal dari segala kekalahan kita adalah diri kita sendiri. Kekalahan itu terjadi sebab sejak semula kita memang menginginkan kekalahan. Anda tidak percaya? Marilah kita berhitung-hitung kembali.
Ketika kita memiliki waktu yang panjang, apa yang kita lakukan disana? Belajar? Berdo’a? Bekerja? Berlatih? Tafakkur diri? Ternyata, sebagian besar waktu kita gunakan untuk melamun, bersenang-senang, menonton, membaca novel, bercanda penuh gelak tawa, ngobrol tak karuan ujung, bermain-main, keluyuran dan seterusnya. Tentu saja, sah-sah saja kita gunakan waktu untuk melepas ketegangan, berhibur diri, atau menikmati manisnya kenikmatan. Semua ini sah belaka. Namun jika sebagian besar waktu digunakan untuk itu, bahkan ia menjadi aktifitas terpenting dalam kehidupan kita, tentulah kerugian belaka yang akan kita alami. Kita akan kehilangan waktu dan kesempatan untuk membangun diri. Tahu-tahu, ketika mendung kesempitan telah menyelimuti, barulah kita menyesali diri.

Sebenarnya kita bisa belajar dari para petani. Para petani sejak awal telah mempersiapkan lahan, menyemai benih, memelihara tanaman, memupuk, serta menjaga tanaman dari hama dan penyakit. Sejak awal sampai tiba musim panen, para petani harus mengeluarkan tenaga, pikiran dan uang untuk memelihara tanamannya. Setelah tiba masa panen, mereka pun akhirnya memetik hasil. Jika perlu, sesudah itu ada hari-hari indah yang dirayakan dengan penuh syukur. “Pesta selalu diadakan di akhir pekerjaan.” Inilah yang benar-benar harus kita renungkan. Kegembiraan dan suka cita akan terjadi ketika telah tuntas seluruh rangkaian perjuangan, ketika telah tiba “masa petik”.
Sayang sekali, prinsip seperti ini jarang dipahami. Ketika masih muda, orang umumnya menghabiskan kekuatan dan kesempatan untuk berpesta-pora. Setelah masa senja datang, ketika tubuh mulai lemah, ingatan berkurang, tulang-tulang mulai berbunyi, ketika penyakit mulai berdatangan, ketika itu orang ingin mulai mem bangun diri. Tentu saja, ini adalah keterlambatan yang sangat menyedihkan. Sekali lagi, “Pesta selalu diadakan di akhir pekerjaan.” Kebaikan, kebahagiaan dan sukses merupakan ujung dari sebuah rangkaian panjang perjuangan. Siapa yang telah menanam kebaikan, sekecil apapun itu, kelak akan melihat hasilnya. Sebaliknya, siapapun yang telah menyia-nyiakan kesempatan, dia pun akan merasakan akibatnya. “Dan bagi setiap orang memperoleh derajat-derajat (sesuai) dengan apa yang telah mereka kerjakan. Dan tidaklah Rabb-mu lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al An’aam, 132).

Kembali ke cerita bapak tua di atas. Sejak lama dia hidup dalam kegelapan, lalu suatu ketika mendapatkan ilham untuk berjalan di bawah cahaya terang. Namun sayang, dia menepiskan begitu saja ilham itu, padahal jika dia menuruti kata hati yang jernih, mungkin saja akan muncul sejarah baru yang lebih baik. Demikianlah, Allah SWT selalu memberikan kesempatan kepada hamba-hamba-Nya untuk sadar diri, lalu memulai hidup baru yang lebih baik. Mungkin saja, waktu-waktu panjang yang telah berlalu merupakan kekayaan besar yang kita sesali sebab ia tidak bisa digunakan dengan baik sebagaimana mestinya. Tapi setidaknya, jika dihari ini ada keinginan kuat untuk berubah, itu adalah lebih baik. Dengan kesadaran yang kuat kita masih memungkinkan untuk menyelamatkan kekayaan hidup yang masih tersisa, atau mengurangi dampak buruk dari kerugian-kerugian yang telah terjadi. Bisa dikatakan, setiap keinginan baik tidak pernah sia-sia. Selalu saja ada kebaikannya, asal kita mau menempuhnya.

Saudaraku, musim semi akan segera datang. Saat itu Allah Ta’ala mengajakmu untuk memperbaiki hidup, memulai lembaran-lembaran baru yang lebih putih dan jernih. Jika musim itu telah tiba, ambillah lalu manfaatkan sebaik mungkin. Jangan pernah menunggu hingga musim itu pergi, lalu tidak tersisa di dalam hatimu selain penyesalan dan kesedihan. Sesudah satu musim semi berlalu, mungkin masih akan muncul musim semi berikutnya (insya Allah). Tapi ingat, ini adalah musim semi yang baru. Ia bukan musim semi seperti sebelumnya. Ia datang dengan wajah baru, membawa kesempatan baru untuk menghadapi berbagai persoalan baru. Jika musim itu ternyata juga kita biarkan, bahkan setiap musim selalu kita acuhkan, maka apa lagi yang hendak dinanti? Ketika telah datang tanda-tanda Kemurahan Allah, maka gunakan kemurahan itu untuk membangun kehidupan baru yang lebih baik. Jangan menanti hingga musim semi berlalu, kemudian dirimu menyesal. Sungguh tidak ada yang lebih layak disesali selain diri sendiri. Dan tidak ada lagi yang layak diharap, selain Allah SWT. Wallahu a’lam bisshawaab.

http://www.masjid-lautze.com/index2.php

AL-QUR’AN SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT

Abu Umamah r.a. berkata :”Rasulullah SAW telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur’an, setelah itu Rasulullah SAW memberitahukan tentang kelebih an Al-Qur’an. Telah bersabda Rasulullah SAW :” Belajarlah kamu akan Al-Qur’an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya.” Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, ” Kenalkah kamu kepadaku?” Maka orang yang pernah membaca akan balik bertanya : “Siapakah kamu?”. Dan berkatalah Al-Qur’an : “Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga kamu telah bangun malam untukku dan kamu juga membacaku di waktu siang hari.”

Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur’an itu : “Adakah kamu Al-Qur’an?” Lalu Al-Qur’an mengakui orang yang pernah membaca menghadap Allah SWT. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya. Pada kedua ayah dan ibunya pula, yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : “Dari manakah kami memperoleh ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini ?”. Lalu dijawab : “Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah membaca (mempelajari) Al-Qur’an.”

http://kastamselangor.tripod.com/

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 004/th.01/jumada al awwal 1425H/2004M


Andai Lebih Jauh Lagi …

Mei 3, 2006

Seperti yang telah biasa dilakukan ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia, maka Rasulullah SAW mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.
Kemudian Rasulullah SAW bertanya, “Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?”. Istrinya almarhum menjawab, “Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal”. “Apa yang dikatakannya?”. “Saya tidak tahu, ya Rasulullah SAW, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah rintihan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.” “Bagaimana bunyinya?” desak Rasulullah SAW. Istri yang setia itu menjawab, “Suami saya mengatakan “Andaikata lebih jauh lagi…andaikata yang masih baru…..andaikata semuanya….” hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?” Rasulullah SAW tersenyum “sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru”.

Kisahnya begini. Pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata “Andaikan lebih jauh lagi”. Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih jauh lagi, pasti pahalanya lebih besar pula.

Ucapan lainnya ya Rasulullah SAW?” tanya sang istri mulai tertarik. Nabi menjawab, “Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, “Andaikata yang masih baru kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi”. Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rasulullah SAW?” tanya sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan, “Ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan menghembuskan nafasnya, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ‘kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda.

Begitulah keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain. Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga menimpa kita sendiri. “Kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula.” (QS.Al Isra’: 7)

http://www.pesantrenonline.com/MutiaraShubuh/detailMS.php3?detail=216
Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 004/th.01/jumada al awwal 1425H/2004M.


Anak Bertanya Keberadaan Allah SWT

Mei 3, 2006

Pertanyaan :
Assalamualaikum wr. wb.
Pak Ustadz yang terhormat, saya mempunyai anak berumur 6 tahun. Dia pernah menanyakan sesuatu terhadap saya. Adapun pertanyaannya sebagai berikut:
1.Yah, Allah itu ada dimana ?
2.Kasihan Allah ya Yah, Dia kan sendirian.

Atas pertanyaan tersebut saya belum mendapatkan jawaban yang tepat untuk anak saya. Sudilah kiranya Ustadz membantu saya. Terima kasih atas jawabannya.
Wassalamualaikum wr,wb
Yuliadi Bangsakrama

Jawaban :
Pertanyaan seperti ini mungkin membingungkan untuk dijawab, namun karena secara tegas jawabannya ada di dalam Al-Quran, maka tidak ada keraguan untuk menjawabnya. Sebab apa yang tertulis di dalam Al-Quran itu pasti benarnya. Apalagi segala yang terkait dengan keberadaan Allah SWT. Maka jawablah dengan ayat Al-Quran, karena hanya itulah informasi resmi yang syah untuk disampaikan, termasuk kepada anak-anak sekalipun. Sebab Al-Quran ini diturunkan untuk seluruh manusia, bukan hanya untuk orang dewasa saja. Laki-laki dan wanita tidak dibedakan. Demikian juga orang dewasa dan anak-anak pun tidak dibedakan. Apa yang ada di dalam Al-Quran semuanya benar.

Maka silahkan saja anda jawab sesuai dengan apa yang diberitakan oleh Allah sendiri tentang keberadaan-Nya. Di dalam Al-Quran yang merupakan wahyu dari Allah SWT kepada semua manusia, Allah telah menyebutkan bahwa Dia berada di suatu tempat.

Pertama, silahkan buka Al-Quran dan carilah surat ke-67 yaitu Surat Al-Mulk ayat 16-17 :”Tidakkah kamu merasa aman dari Allah yang berada DI LANGIT bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang. Atau apakah merasa aman terhadap Allah yang DI LANGIT bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat) mendustakan peringatan-Ku.” (QS Al-Mulk: 16-17). Ayat ini juga didukung oleh hadits Rasulullah SAW berikut ini :”Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Kasihanilah yang bumi maka kamu akan dikasihani oleh Yang DI LANGIT”. (HR.Tirmidzi). Maka anda bisa mengatakan bahwa Allah itu ada di langit sebagaimana zahir nash yang ada di dalam Al-Quran Al-Kariem.

Kedua, anda juga bisa buka surat lainnya :”Yang Maha Pemurah itu berada di ‘ARSY- BERSEMAYAM.” (QS Thaha: 5), “Sesungguhnya tuhan kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi lalu bersemayam di ATAS ‘ARSY.” (QS Al-A’raf: 54). Kedua ayat ini menjelaskan bahwa Allah itu ada di ARSY, sesuatu yang sudah pasti benarnya karena itulah keterangan Al-Quran. Dan dalil yang menyebutkan bahwa Allah ada di langit, ‘Arsy atau di tempat yang tinggi itu sangat banyak sekali dalam Al-Quran maupun Al-Hadits.

Yang penting harus diterangkan bahwa keberadaan-Nya tidak sama seperti manusia atau mahkluk-Nya. Begitu juga bila orang atau anak bernyata apakah Allah punya mata, telinga, tangan dan kaki, maka jawabnya adalah “ya”. Tapi kesemuanya tidak sama dengan yang dimiliki manusia atau makhluk apapun di dunia ini. Karena Allah itu tidak sama dengan apapun. “Katakanlah (wahai Muhammad) bahwa Allah Itu Esa. Allah adalah tempat bergantung. Tidak beranak dan tidak diperanak. Tidak ada sesuatu pun yang menyerupainya.” (QS Al-Ikhlas: 1-4). Maka meski Allah di Langit atau di ‘Arsy, tapi keberadaannya tidak sama dengan manusia atau makhluk umumnya. Sebab Dia adalah Tuhan yang menciptakan keduanya. Wallahu a’lam

http://www.eramoslem.com/ks/us/45/10409,1,v.html

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 004/th.01/jumada al awwl 1425H/2004M


Aisyah, Keutamaan dan Keluasan Ilmunya

Mei 3, 2006

Beliau, Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, atau juga biasa dipanggil dengan al-Shiddiqiyah yang dinisbatkan kepada al-Shiddiq yaitu orang tuanya sendiri Abu Bakar, kekasih Rasulullah SAW. Seorang wanita mulia dan istimewa dimana sebagian dari ilmu agama kita ini diambil darinya. Begitu banyak keutamaan dan kemuliaan yang dimilikinya, semoga Allah meridhainya dan mengumpulkannya dengan kekasihnya yang paling dicintainya yaitu Nabi kita Muhammad SAW.

Semoga setelah membaca kisah ini hati kita akan tersentuh dan semakin menambah rasa cinta kita kepada istri-istri Beliau. Beberapa keutamaannya tidak dapat dihitung dengan jari sehingga hanya sebagian kecil yang dapat dipaparkan disini, diantarnya adalah sebagai berikut :

1.Kecintaan Rasulullah kepadanya melebihi kecintaannya kepada istri-istri beliau yang lainnya yang semuanya ada 9 orang. Pada suatu ketika Rasulullah ditanya, “Siapakah orang yang paling engkau cintai ?” maka beliau menjawab, “Aisyah” Hal ini didasarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Amr bin ‘Ash, dimana dia datang kepada Nabi seraya bertanya,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling engkau cintai?” beliau menjawab,”Aisyah”, kemudian Amr bin Ash bertanya, “”Siapakah orang lelaki yang paling engkau cintai?” , beliau menjawab “Bapaknya (Abu Bakar)”. Dia bertanya, “Kemudian siapa lagi?” beliau menjawab “Umar”, yakni Ibnu Al Khaththab, semoga Allah meridhai semuanya.

2.Malaikat menyampaikan salam untuknya bukan hanya sekali. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim darinya (Aisyah), dimana Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya Jibril telah mengucapkan salam untukmu”, maka aku menjawab,”Alaihis as-Salam”.

3. Allah telah menurunkan ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan pembebasan dirinya dari tuduhan dusta sebanyak sepuluh ayat dalam surat An-Nuur, dimana didalamnya Allah menjelaskan bahwa laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, dan beliau tergolong wanita yang baik, membebaskan mereka dari tuduhan orang-orang yang menyebarkan tuduhan dusta itu, dan memberi kabar gembira bahwa bagi mereka surga, sebagaimana Allah berfirman,..”dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula. Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga) ” An-Nuur:26.

4.Pada saat Rasulullah sakit, beliau minta untuk tinggal dikamarnya (Aisyah), sehingga dia dapat mengurusnya sampai Allah memanggil ke hadirat-Nya (wafat). Rasulullah meninggal di rumah Aisyah, dimana beliau meninggal dalam pangkuannya. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan darinya (Aisyah), dia berkata:” Allah mewafatkan Rasulullah dimana kepala beliau berada diantara paru-paruku dan bagian atas dadaku, sehingga air liur beliau bercampur dengan air liurku” Bagaimana hal itu bisa terjadi, Abdurrahman saudara laki-laki Aisyah masuk ke rumah mereka , dimana ketika itu dia membawa siwak (alat penggosok gigi), lalu Rasulullah melihatnya. Aisyah memahaminya bahwa beliau ingin bersiwak, dan dia mengambil siwak dari Abdurrahman dan melembutkannya, lalu Rasulullah bersiwak dengannya. Setelah Rasulullah meninggal, maka siwak itu dipakai Aisyah. Inilah pengertian yang dimaksud dengan “air liur beliau bercampur dengan air liurku”.

5. Berdasarkan sabda Rasulullah,”Keutamaan Aisyah atas wanita yang lainnya bagaikan keutamaan tsarid (roti yang dibubuhkan dan dimasukkan kedalam kuah) atas makanan-makan yang lainnya”. Berkenaan dengan keluasan dan keunggulan ilmunya, tidak ada seorang ulamapun yang mengingkarinya.Banyak kesaksian dan pengakuan yang dikemukakan para ulama berkenaan dengan kredibilitas keilmuwan Aisyah. Hal ini menunjukkan betapa luas dan mumpuninya ilmu yang dimilikinya.

Kesaksian beberapa pakar ilmu pengetahuan dari kalangan ulama terdahulu :
5.1. Kesaksian putra saudara perempuannya (keponakannya) Urwah bin Zubeir tentang kredibilitas dan keunggulan ilmu yang dimiliki oleh Aisyah, sebagaimana yang diriwayatkan putranya Hisyam,”Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih pintar dalam ilmu fiqh (agama), kedokteran dan syair selain Aisyah.
5.2. Kesaksian Az-Zuhri yang juga berkenaan dengan kredibilitas dan keunggulan ilmu yang dimiliki Aisyah, seraya berkata,”Seandainya diperbandingkan antara ilmu Aisyah dengan ilmu seluruh istri Nabi dan ilmu seluruh wanita, niscaya ilmu Aisyah jauh lebih unggul.”
5.3. Kesaksian Masruq berkenaan dengan ilmu yang dimiliki Aisyah yang berkenaan dengan masalah faraidh, sebagaimana yang terungkap dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Abu Darda darinya seraya berkata, “Aku melihat para syeikh dari kalangan sahabat Rasulullah bertanya kepada Aisyah tentang faraidh (ilmu waris)
5.4. Kesaksian Atha’ bin Rabah, dimana ketika Allah berfirman, maka Aisyah merupakan orang yang paling faham, paling mengetahui dan paling bagus pendapatnya dibandingkan dengan yang lainnya secara umum.
5.5. Kesaksian Zubeir bin Awwam, dimana dia berkata sebagaimana hal ini telah diriwayatkan putranya Urwah, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih pintar tentang Al-Qur’an , hal-hal yang difardhukan, halal dan haram, syair, cerita Arab dan nasab (silsilah keturunan) selain Aisyah.

Dengan mengemukakan lima kesaksian yang dipaparkan oleh para ulama besar dari kalangan sahabat dan tabi’in cukuplah sebagai bukti yang menunjukkan kredibilitas dan keunggulan ilmu yang dimiliki oleh Aisyah dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki oleh para Sahabat Rasulullah dan para tabi’in lainnya. Aisyah meninggal pada bulan Ramadhan yang agung tepat pada tanggal 17 Ramadhan, pada usia 66 tahun. Dan, dimakamkan di Al-Baqi’ kawasan pemakaman yang terletak di kota Madinah. Hal ini sesuai dengan wasiatnya, dimana beliau berwasiat agar di makamkan di tempat pemakaman istri-istri Rasulullah.
Semoga Allah meridhainya …………amin.

(Sumber: Ilmu dan Ulama Pelita Kehidupan Dunia dan Akhirat, Pustaka Azzam.)
http://jilbab.vbaitullah.or.id/contents.php?id=98

Anda Tidaklah Bebas

Tanya:
Apa hukum ucapan sebagian orang ketika dinasihati terhadap perbuatan maksiat , (dijawab) : “Saya bebas melakukan apa saja” ?

Jawab:
Al-Hamdulillah. Perbuatan itu keliru. Anda tidaklah bebas berbuat maksiat. Justru apabila Anda bermaksiat kepada Rabb Anda, berarti Anda telah keluar dari “kehambaan” yang Anda akui terhadap Allah, menuju perbudakan diri kepada syetan dan hawa nafsu.”

(Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin)
(sumber : http://www.islam-qa.com)
http://63.175.194.25/index.php?ln=ind&ds=qa&lv=browse&QR=11282&dgn=3

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 004/th.01/jumada al awwal 1425H/2004M