In(g)karussunnah

Maret 11, 2008

[dari Kolom Ustadz Menjawab, bersama Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc.]

Pertanyaan :
Assalamualaikum, Ana pernah dengar tentang ingkarussunnah dan ana sangat penasaran tentang ingkarussunnah, terutama latar belakang lahirnya dan bahaya dari aliran ini. Mohon penjelasan ustadz. Jazakumullah khoiruha. Wassalamualaikum.
[Salsabila – Cinderella@eramuslim.com]

Jawaban :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ingkarussunnah berasal dari dua kata, ingkar dan sunnah. Yang dimaksud dengan ingkar adalah penolakan, penafian atau tidak mengakui. Yang dimaksud dengan sunnah adalah hadits-hadits Rasulullah SAW. Jadi ingkarussunnah adalah paham yang mengingkari keberadaan hadits-hadits Rasulullah SAW. Paham ini bukan sekedar berbahaya, bahkan pada hakikatnya merupakan pengingkaran terhadap agama Islam itu sendiri. Jadi orang yang mengingkari eksistensi hadits-hadits nabi SAW, pada hakikatnya dia telah mengingkari agama Islam. Sebab Islam itu dilandasi oleh dua pilar utama, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah, yaitu hadits-hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW kepada kita semua.

Bila dirunut ke belakang, paham ini lahir dari sebuah peperangan modern antara umat Islam di satu pihak dengan musuh-musuhnya di pihak lain. Mereka adalah para orientalis barat yang telah mempelajari agama Islam, namun bukan dengan niat untuk mengamalkannya, melainkan dengan niat untuk menghina, menjelekkan, menyesatkan dan membuat umat Islam bingung. Bahkan bukan sekedar bingung, tetapi juga tersesat dan murtad dari agamanya. Munculnya orientalisme tidak terlepas dari beberapa faktor yang melatar-belakanginya, antara lain akibat perang Salib atau ketika dimulainya pergesekan politik dan agama dengan ummat Islam. Para orientalis jahat ini banyak menghujat agama Islam dengan mengatakan bahwa hadits nabi itu palsu semua, tidak ada yang asli, hanya karangan ulama yang hidup beberapa ratus tahun setelah kematian nabi Muhammad SAW. Pemikiran mereka bisa kita baca dalam banyak buku, antara lain buku The Origins Of Muhammadan Juresprudence dan An Introduction to Islamic Law.

Tercatat deretan nama orientalis seperti Goldziher yang jadi gembong anti Islam. Dialah yang telah merusak aqidah umat Islam dengan beragam pemikiran sesatnya. Selain itu ada lagi nama-nama seperti H.A.R. Gibb, Wilfred Cantwell Smith, Montgomery Watts, Gustave von Grunebaum dan lainnya. Tulisan mereka seringkali dija dikan rujukan oleh orang-orang Islam yang lemah mental dan tidak punya rasa percaya diri, termasuk tokoh-tokoh Islam yang sudah menyandang gelar kesarjanaan tinggi. Sehingga apa pun yang orientalis katakan, seolah sudah pasti kebenarannya. Termasuk rasa rendah diri ketika dituduhkan bahwa hadits nabi itu palsu semua. Mereka pun dengan naifnya mengaminkan saja. Sebab di dalam kepala mereka, memang tidak ada ilmu tentang itu. Padahal apa yang dikatakan oleh para orientalis itu tidak lebih dari sekedar tuduhan tanpa dasar.

Dari mana datangnya rasa rendah diri yang hina seperti itu ?. Jawabnya sangat mudah, yaitu karena para ‘cendekiawan muslim’ itu belajar Islam kepada para orientalis itu. Padahal orientalis justru sangat culas dan membodohi ummat Islam. Kebanyakan mereka tidak paham bahasa Arab, apalagi syariah Islam. Tidak satu pun yang hafal Al-Quran, apalagi hadits nabawi. Dan yang pasti, umumnya mereka juga tidak pernah mengakui Islam sebagai agama, tidak mengakui Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, tidak mengakui Al-Quran sebagai firman Allah SWT.
Bagaimana mungkin orang yang kafir kepada Allah SWT dan calon penghuni neraka itu dijadikan guru ?. Betapa lucunya, belajar agama Islam dari orang kafir yang jelas-jelas punya niat busuk pada Islam.

Memang tidak masuk akal dan sangat tidak logis cara berpikir para ‘cendekiawan’ itu. Layakkah mereka menyandang gelar sebagai ‘cendekiawan’ bila level pemikirannya hanya sebatas itu ?.
Seharusnya para cendekiawan itu tidak belajar ke barat. Dan mereka tidak perlu menelan bulat-bulat sampah pemikiran para orientalis bejat itu. Seharusnya mereka belajar ke timur tengah, tempat di mana ilmu-ilmu ke-Islaman berpusat. Ke Al-Azhar Mesir atau ke Universitas Islam terkemuka dunia. Di mana di dalamnya terdapat para ulama yang memang benar-benar punya legalitas, kapasitas dan otoritas sebagai ulama. Bukan belajar kepada para Yahudi kafir yang orientalis itu.

Seandainya mereka belajar kepada ulama, tentu mereka akan tahu betapa canggihnya sistem periwayatan hadits. Tidak pernah manusia mengenal sistem periwayatan bersanad sebelumnya. Ilmu hadits menjadi sangat unik dan tidak pernah ditemukan di peradaban manapun, kecuali di dalam sejarah Islam. Mereka yang mengingkari keberadaan dan keshahihan hadits-hadits nabawi berarti memang belum pernah belajar agama Islam dengan benar. Mereka hanya menjadi budak para yahudi laknatullah, yang jelas-jelas menghina dan menjelekkan agama Islam. Demi sekedar mendapatkan gelar yang memberhala.

Lalu mengapa mereka pergi ke barat ?. Kembali kepada masalah mentalitas kampungan, rasa rendah diri dan inferiority complex yang melanda para mahasiswa muslim. Ketika ditawarkan beasiswa ke barat seperti Eropa, Amerika atau Australia, terbayanglah mereka masuk ke sebuah peradaban modern dan maju. Dan bagaikan Kabayan masuk kota, sikap mereka pun lantas menjadi norak dan kampungan. Lantas mereka mengelu-elukan pemikiran para Yahudi kafir itu, lupa bahwa Yahudi dan Nasrani selalu berupaya memerangi umat Islam. Lupa bahwa mereka sedang dicekoki pemikiran sesat yang hanya akan membuat mereka murtad. Dan ketika pulang ke negerinya dengan berbagai gelar, mulailah mesin pemurtadan pemikiran berjalan. Kuliah, buku, makalah serta pemikiran mereka, seluruhnya hanya punya satu tujuan, yaitu menyesatkan dan memurtadkan umat Islam. Dan karena mereka jadi dosen di berbagai kampus Islam, kerusakan pemikiran pun menjadi sedemikian rata. Dan salah satunya adalah pemikiran ingkarussunnah, yang kemudian ikut berkembang di banyak kalangan. Korbannya tidak lain umat Islam sendiri, yang lagi-lagi tertipu dengan pesona kecendekiawanan tokoh tertentu. Mereka ini adalah hamba-hamba Allah yang perlu diselamatkan dari racun ingkarussunnah.

Saat ini tidak terhitung orang yang sudah jadi korban. Dan racun ini terus bekerja, terutama sangat efektif pada korban yang punya rasa rendah diri yang akut dan hina. Serta kosongnya kepala dari ilmu syariah.
Wallahu a’lam bishshawab Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/6313115656-ingkarussunnah.htm?other

SANAD DAN MATAN

TANYA :
”Apa makna ‘Thariiq’ (Sanad) ? Dan apa pula makna matan ?
Tolong berikan contoh nya pula ?”.

JAWAB:
“Makna Thariiq (Sanad) adalah mata rantai (jalur) yang menghubungkan para periwayat sebuah hadits. Sedangkan Matan adalah ucapan (teks/isi) sebuah hadits sanad.
Contohnya, hadits yg dikeluarkan al-Bukhary, Muslim dan Abu Daud (lafadznya diambil dari Abu Daud); Sulaiman bin Harb menceritakan kepada kami, (ia berkata), Hammad menceritakan kepada kami, (ia berkata), dari Ayyub, dari Nafi’ dari Ibn ‘Umar, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu larang para wanita hamba Allah untuk (memasuki) masjid-masjid Allah.”

Mata rantai orang-orang yang meriwayatkan mulai dari Sulaiman hingga Ibn ‘Umar dinamakan sanad/thariiq, sedangkan ucapan Rasulllah SAW setelah itu dinamakan matan)

(SUMBER: As’ilah Wa Ajwibah Fi Mushthalah al-Hadiits karya Syaikh Mushthafa al-‘Adawy, hal.7) – [www.al sofwah.or.id]
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 037/th.04/Muharram-Safar 1429H/2008M

Iklan

Hadits Shahih Tidak Akan Bertentangan Dengan Al-Qur`an

Maret 11, 2008

Pertannyaan :
“Ada sebagian orang yang berkata bahwa apabila terdapat sebuah hadits yang bertentangan dengan ayat Al-Qur’an maka hadits tersebut harus kita tolak walaupun derajatnya shahih. Mereka mencontohkan sebuah hadits: “Sesungguhnya mayit akan disiksa disebabkan tangisan dari keluarganya.” Mereka berkata bahwa hadits tersebut ditolak oleh Aisyah Radliyallahu ‘anha dengan sebuah ayat dalam Al-Qur’an surat Fathir ayat 18: “Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.”Bagaimana kita membantah pendapat mereka ini ?”.

Jawaban :
Mengatakan ada hadits shahih yang bertentangan dengan Al-Qur’an adalah kesalahan yang sangat fatal. Sebab tidak mungkin Rasulullah SAW yang diutus oleh Allah memberikan keterangan yang bertentangan dengan keterangan Allah yang mengutus beliau (bahkan sangat tidak mungkin hal itu terjadi). Dari segi riwayat/sanad, hadits di atas sudah tidak terbantahkan lagi ke-shahih-annya. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Umar bin Khattab dan Mughirah bin Syu’bah, yang terdapat dalam kitab hadits shahih (Bukhari dan Muslim).

Adapun dari segi tafsir, hadits tersebut sudah ditafsirkan oleh para ulama dengan dua tafsiran sebagai berikut :

1. Hadits tersebut berlaku bagi mayit yang ketika hidupnya dia mengetahui bahwa keluarganya (anak dan istrinya) pasti akan meronta-ronta (nihayah) apabila dia mati. Kemudian dia tidak mau menasihati keluarganya dan tidak berwasiat agar mereka tidak menangisi kematiannya. Orang seperti inilah yang mayitnya akan disiksa apabila ditangisi oleh keluarganya. Adapun orang yang sudah menasihati keluarganya dan berpesan agar tidak berbuat nihayah, tapi kemudian ketika dia mati keluarganya masih tetap meratapi dan menangisinya (dengan berlebihan), maka orang-orang seperti ini tidak terkena ancaman dari hadits tadi.
Dalam hadits tersebut, kata al-mayyit menggunakan hurul alif lam (isim ma’rifat) yang dalam kaidah bahasa Arab kalau ada isim (kata benda) yang di bagian depannya memakai huruf alif lam, maka benda tersebut tidak bersifat umum (bukan arti dari benda yang dimaksud). Oleh karena itu, kata “mayit” dalam hadits di atas adalah tidak semua mayit, tapi mayit tertentu (khusus). Yaitu mayit orang yang sewaktu hidupnya tidak mau memberi nasihat kepada keluarganya tentang haramnya nihayah. Maka kini jelaslah bagi kita bahwa hadits shahih tersebut tidak bertentangan dengan bunyi ayat :”Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.” Karena pada hakikatnya siksaan yang dia terima adalah akibat kesalahan/dosa dia sendiri yaitu tidak mau menasihati dan berdakwah kepada keluarga. Inilah penafsiran dari para ulama terkenal, di antaranya Imam An-Nawawi.

2. Adapun tafsiran kedua adalah tafsiran yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah di beberapa tulisan beliau bahwa yang dimaksud dengan azab (siksaan) dalam hadits tersebut adalah bukan adzab kubur atau azab akhirat melainkan hanyalah rasa sedih dan duka cita. Yaitu rasa sedih dan duka ketika mayit tersebut mendengar rata tangis dari keluarganya.
Tapi menurut saya (Syaikh Al-Albani), tafsiran seperti itu bertentangan dengan beberapa dalil. Di antaranya adalah hadits shahih riwayat Mughirah bin Syu’bah :”Sesungguhnya mayit itu akan disiksa pada hari kiamat disebabkan tangisan dari keluarganya.” Jadi menurut hadits ini, siksa tersebut bukan di alam kubur tapi di akhirat, dan siksaan di akhirat maksudnya adalah siksa neraka, kecuali apabila dia diampuni oleh Allah, karena semua dosa pasti ada kemungkinan diampuni oleh Allah kecuali dosa syirik. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa-dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’ : 48).

Banyak hadits-hadits shahih dan beberapa ayat Al-Qur’an yang mengatakan bahwa seorang mayit itu tidak akan mendengar suara orang yang masih hidup kecuali saat tertentu saja. Di antaranya (saat-saat tertentu itu) adalah hadits riwayat Bukhari dari shahabat Anas bin Malik Radliyallahu’anhu :”Sesungguhnya seorang hamba yang meninggal dan baru saja dikubur, dia mendengar bunyi terompah (sandal) yang dipakai oleh orang-orang yang mengantarnya ketika mereka sedang beranjak pulang, sampai datang kepada dia dua malaikat.” Kapan seorang mayit itu bisa mendengar suara sandal orang yang masih hidup ?. Hadits tersebut menegaskan bahwa mayit tersebut hanya bisa mendengar suara sandal ketika baru saja dikubur, yaitu ketika ruhnya baru saja dikembalikan ke badannya dan dia didudukkan oleh dua malaikat. Jadi, tidak setiap hari mayit itu mendengar suara sandal orang-orang yang lalu lalang di atas kuburannya sampai hari kiamat. Sama sekali tidak !

Seandainya penafsiran Ibnu Taimiyyah di atas benar, bahwa seorang mayit itu bisa mendengar tangisan orang yang masih hidup, berarti mayit tersebut bisa merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekelilingnya, baik ketika dia sedang diusung atau dia dimakamkan, sementara tidak ada satupun dalil yang mendukung pendapat seperti ini.

Hadits selanjutnya adalah :
“Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat-malaikat yang bertugas menjelajah di seluruh permukaan bumi untuk menyampaikan kepadaku salam yang diucapkan oleh umatku.” Seandainya mayit itu bisa mendengar, tentu mayit Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih dimungkinkan bisa mendengar. Mayit beliau jauh lebih mulia dibandingkan mayit siapapun, termasuk mayit para nabi dan rasul. Seandainya mayit beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam bisa mendengar, tentu beliau mendengar salam dari umatnya yang ditujukan kepada beliau dan tidak perlu ada malaikat-malaikat khusus yang ditugasi oleh Allah untuk menyampaikan salam yang ditujukan kepada beliau. Dari sini kita bisa mengetahui betapa salah dan sesatnya orang yang ber-istighatsah (minta pertolongan) kepada orang yang sudah meninggal, siapapun dia. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling mulia di sisi Allah dan beliau tidak mampu mendengar suara orang yang masih hidup, apalagi selain beliau. Hal ini secara tegas diterangkan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 194 : “Sesungguhnya yang kalian seru selain Allah adalah hamba juga seperti kalian. “Juga di dalam surat Fathir ayat 14 :”Jika kalian berdo’a kepada mereka, maka mereka tidak akan mendengar do’a kalian.”

Demikianlah, secara umum mayit yang ada di dalam kubur tidak bisa mendengar apa-apa kecuali saat-saat tertentu saja. Sebagaimana yang sudah diterangkan dalam beberapa ayat dan hadits di atas.

(Dikutip dari “Kaifa yajibu ‘alaina annufasirral qur’anil karim” Syaikh Al Alba ni, edisi Bahasa Indonesia “Tanya Jawab dalam Memahami Isi Al-Qur’an”)

http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=184

Membatasi Diri Pada Kitab ash-Shahihain

TANYA :
”Bagaimana perihal seseorang yang hanya membatasi diri pada kitab ash-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) saja tanpa mau melirik kepada kitab-kitab sunnah yang lain ?”.

JAWAB :
”Tidak disangkal lagi, bahwa pendapat itu jauh dari kebenaran, bahkan bisa terjerumus ke dalam kesesatan karena sama artinya dengan menolak sunnah Rasulullah SAW yang shahih yang dicatat oleh perawi lain. Al-Bukhari sendiri telah menshahihkan sendiri hadits-hadits yang bukan shahih. Hal ini nampak secara jelas sekali dalam pertanyaan-pertanyaan at-Turmudzi kepada beliau, sebagaimana yang terdapat di dalam Sunan at-Turmudzi. Para ulama juga menukil dari Muslim hal serupa di mana ia pernah mengatakan, “Bukan segala sesuatu yang menurutku shahih lalu aku muat di sini.” Jadi, tidak dapat diragukan lagi kebablasan orang yang hanya membatasi diri pada kitab ash-Shahihain saja dan menolak kitab selain keduanya.”

(SUMBER: As’ilah Wa Ajwibah Fii Mustholah al-Hadiits karya Musthafa al-‘Adawi, hal.14-15, no.28)
[www.al sofwah.or.id]
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 037/th.04/Muharram-Safar 1429H/2008M


Mungkinkah Hadits Melecehkan Hadits ?

Maret 11, 2008

Bicara tentang kedudukan dan kemuliaan suatu hadits tak terlepas dari pembicaraan mengenai kemuliaan Rasulullah Muhammad saw. Sebagai seorang yang dipercaya oleh Allah SWT dalam menyampaikan wahyu-Nya, tentu saja seorang Nabi adalah suci, dan terjaga dari perbuatan yang tercela sebagaimana kebanyakan manusia biasa. Karena kemuliaan itu, maka Nabi diberikan sifat Ishmah (kesucian lahir-batin dan keterjagaan dari perbuatan dosa dan kesalahan). Sedemikian mulianya Nabi, hingga Allah menetapkan sebagai penyampai wahyu-Nya dan segala perkataan, perbuatan serta ketentuannya dijadikan sebagai hadits yang berfungsi juga sebagai penjelas wahyu dan pedoman kedua setelah Alquran. Tentu saja, akan menjadi masalah, manakala dijumpai beberapa hadits yang dimuat dalam kumpulan hadits shohih Bukhari dan Muslim ternyata bertentangan dengan logika kemuliaan dan ke-ishmah-an Rasulullah saw. Dalam kepustakaan hadits. Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim termasuk golongan hadits-hadits yang kualitasnya dapat dipertanggung-jawabkan atau dalam istilah ilmu hadits disebut shahih.

Artikel ini mencoba membeberkan telaah kritis terhadap beberapa “Hadits” yang mengandung unsur pelecehan terhadap Hadits dan keishmahan Rasulullah yang tercantum dalam kumpulan hadits Bukhari-Muslim. Tulisan “Hadits” (bertanda kutip) pada judul di atas, penulis gunakan untuk hadits yg diduga bertentangan tersebut dan menjadi inti bahasan tulisan ini. Sedangkan tulisan Hadits (tidak bertanda kutip) untuk menunjukkan hadits-hadits yang sesungguhnya.

Kesucian (Ishmah) Nabi saw
Ishmah secara etimologi berasal dari kata ‘a-sha-ma yang memiliki arti sama dengan ha-fi-dza yaitu menjaga. Dalam khazanah ilmu kalam Ishmah adalah penjagaan Allah terhadap hambanya akan perbuatan dosa atau kesalahan. Ishmah diperlukan pada seorang Nabi lantaran Nabi memiliki tugas utama sebagai penyampai instruksi/risalah Illahi kepada segenap umat manusia. Baik yang beriman kepada-Nya maupun tidak. Sifat ini pun menjaga keotentikan dan kemuliaan wahyu sehingga kabar yang disampaikan dapat dipercaya. Lebih jauh dalam kitab Ushulul Aqidah Fin Nubuah, Assayyid Mahdi Ash Shadr menguraikan Ishmah Nabi sebagai berikut;

Pertama, mustahil bagi Allah untuk mengutus seorang Rasul guna menunjukkan yang hak dan mengajak manusia kepada yang baik, sedangkan ia terkotori oleh dosa.
Kedua, jika seorang Nabi tidak memiliki Ishmah, maka boleh saja ia berdosa. Dan hal ini mengakibatkan ketidakpercayaan manusia kepadanya.
Ketiga, jika seorang Nabi boleh berdosa, maka manusia wajib mengikutinya, atau tidak. Jika diikuti maka berarti Allah memperbolehkan perbuatan dosa, dan jika tidak diikuti maka keberadaan Rasul tidak berarti apa-apa. Maka kedua hal itu mustahil.
Keempat, jika Rasul boleh berdosa, maka tidak lagi menjadi panutan yang baik. Hal ini bertolak belakang dengan peran Rasul sebagai panutan ke jalan yang benar dan diridhoi Allah SWT.

Demikian makna Ishmah Nabi yang menggambarkan betapa mulianya seorang Rasul atau utusan Allah. Oleh karena itu apa pun berita, cerita atau kabar tentang Nabi, baik menyangkut perkataan, perbuatan, dan ketentuannya yang berlawanan dengan arti ishmah, maka patut dikritisi atau malah dicurigai keberadaan hadits itu.

Keotentikan Hadits
Keutuhan atau keotentikan sebuah hadits senantiasa dikaitkan dengan Ashbabul Wurud (sebab-sebab turunnya) dan kajian kritis terhadap sanad (referensi) para perawi-nya (yang meriwayatkan) dan matan (isi/kandungan berita) hadits tersebut. Keberadaan hadits dalam sejarahnya memang sarat dengan usaha-usaha seorang atau sekelompok orang yang membenci Nabi atau bahkan menghasut manusia agar tidak mempercayai kerasulan Nabi. Pelecehan, penghinaan bahkan penghujatan terhadap rasul SAW tercatat dalam sejarah hidup Nabi.

Di lain pihak banyaknya orang Yahudi masuk Islam, juga mewarnai kekelabuan hadits-hadits Nabi. Ka’ab ibnul Ahbar dan Abu Hurairah, misalnya. Mereka adalah orang Yahudi yang saat masuk Islam cukup disegani dan mempunyai tempat tersendiri di mata orang Arab saat itu.
Mereka menganggap pendapat tokoh-tokoh itu sangat patut didengar, bahkan sebagian riwayat yang disampaikannya dianggap paling benar. Waraqah bin Naufal, sebagai contoh lain. Seorang Yahudi yang patut menjadi ukuran kualitas orang Yahudi lainnya dalam mempercayai kerasulan Nabi Muhammad SAW. Jasanya adalah dialah orang yang pertama kali memberitahukan kepada Khadijah, bahwa suaminya yakni Muhammad adalah seorang Nabiullah. Namun ternyata tidak semua sahabat Nabi dari kalangan Yahudi benar-benar beriman. Mu’awiyah bin Abi Sofyan, adalah salah seorang sahabat yang terkenal suka membeli hadits dan mengeluarkan kata-kata yang diklaim sebagai hadits untuk menutupi kesalahan yang dilakukannya.

Pakar dan peneliti hadits terkemuka dari Ainusy Syam University-Cairo, Sayyidah Syamsul Kasyif, menyimpulkan penelitian haditsnya. “Sejak munculnya fitnah besar dalam sejarah Islam dengan terbunuhnya Utsman, banyak sekali hadits-hadits yang sengaja dicatat untuk kepentingan kelompoknya. Bani Umayyah selalu mendengungkan hadits tentang keutamaan Utsman, Abbasiyyin juga banyak meriwayatkan hadits untuk menguatkan kedudukan haknya dalam memimpin umat Islam. Muhlab bin Abi Shafrah banyak menuliskan hadits yang memojokkan orang-orang Khawarij. Orang-orang Murjiah banyak menulis hadits dalam menguatkan pendapatnya, sebagaimana para sufi juga mencatat hadits yang menguatkan pemikiran sufinya…”

Yang perlu menjadi catatan penting dalam menilai sebuah hadits adalah apakah hadits itu bertentangan dengan Alquran dan keishmahan (kesucian dan kemuliaan) Rasulullah SAW atau tidak ?. “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berada pada akhlak yang tinggi” (QS Al Qalam: 4). Ushwatu Hasanah adalah kesucian akhlak Nabi yang bersifat lahir maupun batin.

Beberapa contoh “Hadits” (yang meragukan) :

1. Sepertinya Nabi SAW tidak punya malu.
“Dari Aisyah istri Nabi saw, dan Utsman berkata: suatu hari Abu Bakar minta izin kepada Rasul untuk masuk, sedang Rasul berbaring di atas ranjangnya dengan memakai kain Aisyah, kemudian Rasul mengizinkannya sedang beliau dalam keadaan seperti itu. Setelah selesai hajatnya iapun pergi. Berkata Utsman, kemudian meminta izin Umar, Rasul-pun mengizinkannya sedangkan beliau masih dalam keadaan semula. Setelah selesai hajatnya iapun pergi. Berkata Utsman, kemudian aku meminta izin masuk. Kemudian Rasul duduk dan berkata kepada Aisyah “betulkan pakaianmu”. Setelah selesai hajatku, akupun pergi. Kemudian Aisyah pun berkata “Wahai Rasul Allah… aku tidak mengerti, aku tidak melihat engkau bergegas (bangun) untuk Abu Bakar dan Umar RA. Sebagaimana engkau bergegas untuk Utsman. Rasul SAW, bersabda, “Utsman adalah laki-laki pemalu dan aku takut jika dalam keadaan semula (berbaring ia tidak dapat menyampaikan keperluannya kepadaku.
(Shahih Muslim, Kitabul Fadhail, Bab Fadhaili Utsman)

Hadits ini dimuat dalam shahih Muslim bab keutamaan Utsman bin Affan RA. Sekilas hadits ini menunjukkan sikap egaliter Nabi pada para sahabatnya. Namun bila dikritisi, memunculkan kesan pelecehan terhadap keishmahan Nabi dan merendahkan kewibawaan serta rahasia hubungan intim suami istri. Apakah dengan membiarkan keadaan yang “seronok” pada diri Nabi maupun Aisyah untuk “diperlihatkan” pada tamunya merupakan perbuatan layak bagi seorang Nabiullah ? Apakah cuma seorang Utsman baru kemudian Nabi menghormati dirinya hingga dia dengan istrinya bergegas merapikan pakaiannya. Apa beda dengan Abu Bakar dan Umar yang juga sahabatnya ? Apakah pantas bagi seorang istri Nabi membiarkan keadaan apa adanya setelah melakukan aktivitas wajar sebagai suami istri pada orang yang jelas bukan muhrimnya ?. Masya Allah… Hadits ini sangat tidak layak dan bertentangan dengan nilai keishmahan Rasulullah saw.

Sebagian peneliti hadits menilai bahwa hadits ini lebih pantas disandarkan pada kebiasaan seorang penguasa yang hidup dengan banyak gundik cantik dan penuh kesombongan. Kebiasaan penguasa ini kemudian seolah-olah dianggap hal biasa lantaran ada satu hadits yang menggambarkan Rasul melakukan hal yang sama.

2. Sepertinya Nabi SAW sangat perkasa.
“Telah diriwayatkan bahwa Mu’adz bin Hisyam berkata, meriwayatkan kepadaku ayahku dari Qutadah :bahwa Anas bin Malik berkata, “Nabi mengelilingi para istrinya dalam satu jam dari malam dan siang, sedang mereka (berjumlah) sebelas orang. Berkata (Qatadah), aku bertanya kepada Anas: “Apakah beliau mampu untuk itu ?”. Anas menjawab, kami pernah membicarakan hal itu (dengan Nabi), sebenarnya beliau telah diberi kekuatan tiga puluh kali (lebih dari kita)”. (Shahih Bukhari, Kitab al Ghusul, Bab Idza Jama’a tsumma ‘ada)

Benarkah sangat perkasa hingga digambarkan kekuatannya dengan sangat fantastis ? Hadits ini pun menurut hemat penulis mengganggu keishmahan Rasulullah. Pelajaran apa yang bisa diambil dari perilaku Nabi yang sangat fantastis itu pada kehidupan kita secara wajar. Padahal lain, banyaknya istri Nabi tidak bermaksud memberikan kesan bahwa beliau sangat perkasa, melainkan sikap kepedulian dan kepekaan sosial Nabi pada janda-janda dan yatim para shahabatnya yang syuhada. Mungkinkah Rasulullah menceritakan keperkasaannya pada seseorang ? Bukankah Rasulullah SAW melarang kita menceritakan hubungan intim yang sangat pribadi antara suami istri pada orang lain ?

3. Sepertinya Nabi SAW suka mencaci dan melaknat orang tanpa sebab.
“Bahwa Rasul saw bersabda; “Allahumma, sesungguhnya aku manusia biasa, maka siapa saja yang aku laknat dan aku caci maki, jadikanlah itu, zakat dan upah”. (Shahih Bukhari, Kitab ad Da’awat, Bab Qaulun Nabi Man Adzaitun).

Hadits ini memberi pengertian bahwa Rasul saw sama dengan manusia biasa yang juga bisa marah dan murka. Padahal sifat marah dan murka hanya ada pada manusia biasa dan itu merupakan sifat syaithoniah yang ada pada diri manusia. Lebih jauh Rasul dianggap sangat mudah kecewa dan marah pada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Padahal fenomena di Thaif menggambarkan bahwa Rasul sangat sabar melihat kondisi manusia yang justru dianggapnya tidak mengetahui akan misinya sehingga mereka melakukan penganiayaan terhadap dirinya. “Hadits” di atas selain bertolak belakang dengan ayat-ayat Alquran yang menjelaskan keagungan Rasulullah, juga kontradiksi dengan hadits yang diriwayatkan oleh orang yang sama (Bukhari). Dalam satu riwayatnya, telah dikatakan; “Wahai Rasulullah… Doakan ke atas para musyrikin dengan doa yang jelek. Rasul bersabda; “Sesungguhnya aku diutus bukan sebagai pelaknat, tetapi sebagai pemberi rahmat bagi alam semesta”.

Demikian, menurut hemat penulis masih banyak hadits lainnya yang patut kita kritisi bersama. Akhirnya melalui artikel ini penulis mengundang komentar dan tanggapan para pembaca guna mencari titik persamaan paham. Hanya Allah-lah tempat melimpahkan sesuatu yang tak dapat dimengerti.
Wallahu’a’lam bish-shawab.

[oleh : Abdul Khoir HS – Dosen dan Koordinator Kajian Islam Paradigma Unisma Bekasi]
(sumber : Republika Online edisi: 15 Oct 1999)
http://media.isnet.org/v01/islam/Etc/

Kedudukan Sunnah Rasulullah SAW
Imam Nasa’iy meriwayatkan dengan sanad shahih dari Syuraih bahwa dia pernah mengirim surat kepada Umar bin Khaththab menanyakan suatu perkara. Jawab Umar : “putuskanlah dengan kitab Allah, jika tidak ada maka dengan sunnah Rosulullah SAW, jika tidak ada dalam al qur’an dan sunnah maka putuskanlah dengan keputusan orang-orang shalih (ulama), jika tidak ada juga, jika kamu mau, putuskanlah (dengan ijtihadmu) atau akhirkanlah dan mengakhirkannya itu lebih baik untukmu”.
Kata Urwah bin Zubair :”ambillah sunnah ! ambillah sunnah ! karena sunnah adalah tiang agama”. Dari sini kita tahu bahwa sunnah Rosulullah mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam islam.

http://majalah.aldakwah.org/artikel.php?art=maqalah;edisi=013;urutan=01
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 037/th.04/Muharram-Safar 1429H/2008M


Usaha Memahami Hadits Nabi

Maret 11, 2008

Usaha memahami Hadits Nabi menurut saya adalah topik yang amat rumit, karena hampir semua gerakan pembaruan Islam dimulai dari topik ini, yaitu bagaimana memisahkan antara Hadits yang valid dengan Hadits yang tidak valid. Perbedaan pendapat di kalangan ulama juga terjadi akibat masalah Hadits ini. Mengapa hal itu bisa terjadi ?

Pertama, tidak seperti al-Qur’an, Hadits Nabi tersebar dalam sembilan kitab Hadits utama atau primer (kutubut tis’ah) dan sejumlah kitab hadits sekunder. Tentu saja sulit untuk melacak kedudukan atau keberadaan suatu Hadits dibanding melacak satu ayat al-Qur’an.
Kedua, tidak seperti al-Qur’an yang telah diterjemahkan dan juga banyak kitab tafsir yang sudah diterjemahkan pula, 9 kitab Hadits utama tersebut belum selu ruhnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kemusykilan semakin bertambah mengingat kitab syarh (penjelasan) dari masing-masing 9 kitab utama tersebut belum semua diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

1. Sembilan kitab Hadits utama
Saya akan sajikan daftar sembilan kitab Hadits utama. Mohon diingat bahwa urutan atau hirarki 9 kitab Hadits ini berbeda-beda tergantung pandangan ulama yang bersangkutan. Maksud saya, boleh jadi ada yang menaruh Shahih Bukhari di urutan pertama, namun ada pula yang menaruh Shahih Muslim di urutan pertama. Begitu selanjutnya. Karena saya tidak bermaksud membandingkan keutamaan satu kitab dari kitab yang lain (perlu tulisan tersendiri soal ini), saya sajikan saja daftar ini apa adanya sesuai abjad nama pengarang (penerbit dan tahun diterbitkannya sesuai yang ada pada saya), tanpa mempertimbangkan hirarki mereka :

a. Abu Dawud, Sulaiman, “Sunan Abi Dawud”, al-Maktabah al-‘Ashriyah, Beirut, 1952.
b. Bukhari, Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Isma’il al-, “Shahih al-Bukhari”, Dar al-Qalam, Beirut, 1987.
c. Darimi, Abu Muhammad al-,”Sunan al-Darimi”, Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1987.
d. Hanbal, Ahmad bin, “Musnad al-Imam Ahmad”, al-Maktabah al-Islami, n.d.
e. Ibn Majah, “Sunan Ibn Majah”, Dar Ihya al-Turas al-Arabi, 1975.
f. Malik, Imam, “al-Muwatta’,” al-Syirkah al-‘Alamiyah, 1993.
g. Muslim, “Shahih Muslim”, Dar Ihya al-Turas al-‘Arabi, 1972.
h. Nasa’i, “al-Sunan al-Nasa’i,” Dar al-Basya’ir al-Islamiyah, 1986.
i. Tirmizi, Abu ‘Isa Muhammad al-, “Sunan al-Tirmizi”, Dar al-Fikr, Beirut, 1980.

2. Bagaimana cara memahami ke-sembilan kitab tersebut ?
Jikalau di hadapan kita ada satu teks Hadits yang terasa sulit kita memahami maksudnya, maka bukalah kitab syarh Hadits tersebut. Masing-masing dari 9 kitab di atas memiliki kitab penjelas (syarh) yang ditulis oleh ulama yang tidak diragukan integritasnya. Sebagai contoh, kitab Fathul Bari li Ibn Hajar dipandang sebagai kitab syarh utama terhadap Shahih Bukhari, disamping kitab ‘umdatul qari’. Kitab Imam Nawawi yang men-syarh hadits-hadits yang terdapat dalam Shahih Muslim juga dipandang sebagai kitab yang dijadikan referensi utama dalam memahami Shahih Muslim. Contoh lain, Sunan Abi Dawud di-syarh oleh tiga kitab, salah satunya adalah ‘Aunul Ma’bud. Jadi sebelum kita terburu-buru mengomentari suatu hadits, marilah kita lihat syarh Hadits tersebut.

Disamping itu, terdapat pula kitab-kitab yang men-syarh atau menjelaskan Hadits-hadits berdasarkan topik tertentu. Jadi, tidak khusus kitab shahih bukhari saja, misalnya; tetapi satu hadits tentang satu topik dari sejumlah kitab hadits. Kitab hadits model ini antara lain adalah Subulus Salam, Nailul Awthar, dlsb.

Jadi secara metodologis, mari mengikuti langkah-lagkah berikut untuk memahami sebuah Hadits :

a. apakah hadits-hadits tersebut terdapat dalam sembilan kitab hadits utama ?
b. jika iya, bagaimana komentar ulama dalam kitab syarh utama tentang hadis tsb ?
c. jikalau keterangan itu belum cukup, bagaimana kitab hadits sekunder & kitab syarh sekunder bicara tentang hadits tersebut ?

3. Apakah semua Hadits dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim itu Shahih semua ?

Ini topik yang menjadi perdebatan ratusan tahun yang lalu. Berbeda dengan pemahaman kebanyakan ummat Islam, Ibn Hajar sebagai pen-syarh utama menganggap tidak semua Hadits dalam Shahih Bukhari itu bernilai Shahih, misalnya :

a. hadis Bukhari no. 115, kitab al-‘ilm tentang pembelaan abu hurairah. Ini adalah hadits mawquf (ucapan Sahabat Nabi) bukan Hadits marfu’ apalagi shahih.
b. fathul bari (1:47) mengomentari bahwa “iman itu perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang” adalah ucapan para ulama di berbagai negeri sehingga jatuh pada hadits maqthu’, bukan hadits marfu’ apalagi shahih.

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga berpendapat tidak semua hadits dalam shahih muslim itu bernilai shahih. Syaikh Al-Albani, yang dijadikan rujukan oleh sebagian kawan-kawan di Isnet (Islamic Network – isnet.com), juga berpendapat serupa. Al-Albani mendha’ifkan hadits dalam shahih muslim tentang kalau seorang makan-minum sambil berdiri lalu diperintah Nabi untuk memuntahkan makan-minum tersebut. Namun harus diakui, secara umum, hadits-hadits yang terdapat dalam shahihain (Shahih Bukhari ; Shahih Muslim) bernilai shahih. Karena penilaiannya bersifat umum (aghlabiyah), maka penelitian secara khusus akan kedudukan satu hadits dalam shahihain harus dilakukan. Maksud saya, seringkali kita langsung menshahihkan suatu hadits hanya karena diriwayatkan dalam dua kitab ini dan mendha’ifkan hadits sejenis yg terdapat dalam kitab lain (Sunan Ibn Majah, misalnya). Padahal belum tentu riwayat yang sampai pada Ibn Majah lebih jelek ketimbang yg diterima Bukhari. Bahkan boleh jadi, satu hadits dalam sunan At-Tirmizi lebih valid ketimbang dalam Shahih Muslim. Secara teori ‘ulumul hadits, hal ini dibenarkan.

4. Perbedaan kriteria menetapkan hadits shahih atau bukan
Boleh jadi, ada satu hadits dinyatakan shahih oleh satu ulama namun dinyatakan dho’if oleh ulama lain. Dari sinilah kita bisa menjelaskan mengapa terjadi perbedaan pendapat ulama padahal masing-masing mengaku berpegang pada hadits shahih. Sebagai contoh, masalah adzan subuh dua kali atau satu kali ternyata terdapat hadits yang sama-sama mendukung pendapat-pendapat ini. Kitab Subulus Salam dan Bidayatul Mujtahid berbeda dalam mendha’ifkan atau menshahihkan hadits-hadits seputar topik ini.
Celakanya, kadang kala ummat Islam tidak mau memahami perbedaan kriteria ini, sehingga setiap ibadah yang dijalankan berdasarkan hadis dha’if dipandang bid’ah. Masalahnya kita belum sempat mengecek kembali apakah benar ibadah yg dijalankan kelompok lain itu berdasarkan hadits dha’if. Boleh jadi mereka mengamalkannya berdasarkan hadits shahih yang kita dha’ifkan atau didha’ifkan ulama tertentu. Walhasil, ujung-ujungnya, kita pandang bid’ah semua orang yg berbeda pendapat dengan kita. Bid’ah bukan lagi perbuatan yg menyimpang dari sunnah Nabi, melainkan perbuatan yang “kita anggap” menyimpang dari sunnah Nabi. “Anggapan”, “asumsi”, bahkan “tuduhan” ini telah mencabik-cabik ukhuwah islamiyah diantara kita.

Ketimbang mengatakan, “masalah ini tidak ada haditsnya sehingga amalan ini adalah amalan bid’ah”, mengapa tidak kita katakan,”saya belum mendapati dan meneliti tentang hadits tersebut”. Atau “Sepanjang sepengetahuan saya amalan tsb tidak didukung oleh hadits yang shahih. Tetapi ok-lah saya akan teliti dulu nanti.”

Semua ulama sepakat bahwa salah satu unsur keshahihan hadits adalah apabila di riwayatkan oleh perawi yang adil. Namun, apa syarat-syarat seorang perawi dinyatakan adil? Para ulama berbeda pendapat soal ini. Imam Al-Hakim berpendapat bahwa mereka yang memiliki kriteria sbb : islam, tidak berbuat bid’ah, tidak berbuat maksiyat sudah dipandang memenuhi kriteria adil. Sementara itu,

Imam An-Nawawi berpendapat bahwa kriteria adil adalah mereka yang islam, baligh, berakal, memelihara muru’at, dan tidak fasik.
Ibn Al-Shalah memang hampir sama dg Nawawi ketika memberi kriteria adil, yaitu : islam, baligh, berakal, muru’at, dan tidak fasik. Namun antara Imam An-Nawawi dan Ibn Al-Shalah berbeda dlm menjelaskan soal memelihara muru’at tersebut. Perdebatan juga muncul, berapa orang yg harus merekomendasikan keadilan tersebut.

Apakah cukup dg rekomendasi (ta’dil) satu imam saja ataukah harus dua imam untuk satu rawi. Unsur lain yang jadi perdebatan adalah masalah bersambungnya sanad sebagai salah satu kriteria keshahihan suatu Hadits. Imam Bukhari telah mempersyaratkan kepastian bertemunya antara periwayat dan gurunya paling tidak satu kali. Sedangkan Imam Muslim hanya mengisyaratkan “kemungkinan” bertemunya antara perawi dan gurunya; bukan kepastian betul-betul bertemu. Perbedaan ini jelas menimbulkan perbedaan dalam menerima dan menilai kedudukan suatu hadits.

5. Mengapa Hadits Nabi bisa berbeda-beda
Ada sekelompok ummat Islam yang menganggap bahwa perbedaan pendapat mustahil muncul kalau kita kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits. Saya justru berpendapat bahwa perbedaan pendapat yang genuine muncul justru karena para ulama berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits. Ini disebabkan Al-Qur’an dan Hadits sendiri membuka pintu atau peluang perbedaan pendapat itu. Sebagai contoh, apa yang harus kita baca di saat kita ruku’ dan sujud dalam sholat ? Hadits pertama menceritakan bahwa Nabi membaca, “Subhana Rabbiyal A’dzim” ketika ruku’ dan “Subhana Rabbiyal A’la” ketika sujud. Hadits ini diriwayatkan oleh Hudzaifah (Sunan An-Nasa’i, Hadits Nomor 1.036). Akan tetapi Siti Aisyah (radhiyallahu ‘anha) meriwayatkan hadits lain (Shahih Muslim, Hadis Nomor [HN] 752, Sunan Abi Dawud, HN: 738, Sunan An-Nasa’i, HN 1.038). Dalam hadits ini, diriwayatkan bahwa Rasul membaca “Subbuhun quddussun rabul malaikati warruh” baik ketika ruku’ maupun ketika sujud. Yang menarik, ternyata Aisyah meriwayatkan pula bahwa Rasul membaca teks lain, “Subhanaka Allahumma Rabbana wa bihamdika Allahummafighrli” (Shahih Bukhari, HN 752 dan 3.955).

Jikalau benar bahwa perbedaan pendapat tidak akan terjadi kalau kita berpegang pada Hadits Nabi, maka bagaimana dengan fakta ini ? yang mana yang benar ? Yang mana yang sesuai dg sunnah Nabi dan yang mana yang bid’ah ? Beranikah kita bilang Hudzaifah berbohong ? Beranikah kita bilang bahwa Siti Aisyah, isteri Nabi, lupa teks mana yang sebenarnya dibaca Nabi ? Bagaimana mungkin dari satu perawi (Aisyah) terdapat dua teks yang berbeda. Bagi saya, jawabannya simple saja. Semua ummat Islam yang membaca teks yg berbeda tersebut adalah benar karena mereka punya dasarnya. Namun siapa yang paling benar, serahkan saja pada Allah SWT.

Begitu pula banyak persoalan klasik dan cukup sederhana sebenarnya namun telah membuat umat Islam tercerai berai dg tuduhan bid’ah [bukankah setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka ?]. Contoh lain, ketika anda sujud, yang mana duluan anda jatuhkan ke bumi: tangan anda atau lutut anda. Syaikh Al-Albani mengatakan tangan dulu dan yang menjatuhkan lutut dulu telah berbuat bid’ah. Syaikh Bin Baz berpendapat yang mana saja yang paling mudah untuk anda. Boleh lutut dan boleh juga tangan dulu. Ternyata kedua pendapat ini sama-sama ada riwayat yang mendukung. Ternyata pula kedua ulama besar yang berbeda pandangan ini sama-sama mencantumkan pandangannya dalam buku yang berjudul hampir sama, yaitu Sifat Sholat Nabi atau Bagaimana Sholat Nabi. Lalu yang mana sebenarnya cara yg dipilih Nabi atau sifat/model sholat Nabi ?

Saya tanya kawan saya, seorang bule yang baru masuk Islam, “Brother, ketika kamu sujud, tangan dulu atau lutut dulu yang kamu jatuhkan karena ada dua hadits yg berbeda soal ini.” Kawan saya dengan mantap menjawab, “Jikalau memang dua-duanya ada Haditsnya, itu menunjukkan bagi Rasul tidaklah penting tangan atau lutut dulu. Semuanya boleh saja. Bagi saya yang penting ketika sujud bukanlah soal tangan dan lutut itu tetapi bagaimana kita tundukkan diri kita sedemikian rendah, kita sujud mengakui kebesaran-Nya, kita buang semua ego kita dan kita serahkan diri kita di bawah kendali Allah SWT. Bukankah ini jauh lebih penting kita diskusikan, Brother ?”. Saya terpesona.
Seringkali perbedaan hal yang kecil-kecil membuat kita kehilangan waktu untuk merenungi esensi ibadah kita. Ternyata seorang muallaf mampu mengajari saya akan hal ini. Alhamdulillah.

Contoh berikutnya, ada Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwa ketika Nabi mengakhiri sholat dengan menoleh ke kanan beliau membaca, “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh” dan ketika menoleh ke kiri membaca salam “assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi” (tanpa “wa barakatuh”). Lihat Sunan Abi Dawud, HN 846. Hadits lain meriwayatkan bahwa baik ke kanan maupun ke kiri, Nabi menolehkan mukanya sambil membaca salam “tanpa wa barakatuh” [Sunan At-Tirmizi, HN 272; Musnad Ahmad, HN: 3.516, 3.549, 3.656, 3.694, 3.775, 3.849, 3.958, 4.020, 4.055; Sunan al-Tirmizi, HN: 1.302, 1.130, 1.303, 1.305, 1.307 dan 1.308].

Yang mengejutkan, Sunan Abi Dawud [HN: 845] juga meriwayatkan “tanpa wa barakatuh”, padahal pada Hadits Nomor [HN} 846 dia meriwayatkan dengan “wa barakatuh”. Sekali lagi, yang mana yang benar ? Kenapa pula Abu Dawud mencatat dua hadits berbeda ini dalam kitabnya ? Yang mana yang bid’ah dan mana yang sunnah ?. Mungkinkah kebenaran itu tidak satu tetapi berwajah banyak ? Mungkinkah yang kita anggap bid’ah selama ini ternyata juga diprakekkan Nabi ?.

Sebelum terburu-buru mengecam dan membid’ahkan saudara kita, maukah sejenak mena han diri sambil mempelajari argumen saudara kita yg berbeda pandangan. Kalaupun setelah menelaah argumentasi mereka dan tetap tidak sepakat dan menganggap argumen kita lebih kuat, masihkah kita tega menganggap mereka berbuat bid’ah padahal mereka melakukan itu beradasarkan pemahaman akan riwayat (yang kebetulan tidak kita terima) dari Nabi sebagai ekspresi kecintaan mereka terhadap Nabi ?.

[oleh : Nadirsyah Hosen, dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta]

http://media.isnet.org/isnet/Nadirsyah/Hadits.html

Apakah Rasulullah Pernah Melarang Penulisan Hadits

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum wr.wb. Ustadz, apakah benar Rasulullah pernah melarang penulisan hadist ?. Terima kasih.
[Roni Imron Rosadi – ronirosadi@eramuslim.com]

Jawaban :
Wa’alaikum salam wr.wb. Dimasa awal turunnya Al-Qur’an Al-Kariem, Rasulullah SAW memang pernah melarang para shahabat untuk menulis hadits-hadits beliau selain Al-Qur’an. Larangan ini sifatnya umum, namun dengan pengecualian beberapa orang shahabat yang dibolehkan bahkan diperintahkan untuk menulis hadits. Di antara latar belakangnya adalah karena dikhawatirkan para shahabat akan mengalami kerancuan dan tidak bisa membedakan mana yang ayat Al-Qur’an ; mana yg hadits nabi SAW. Sehingga kebijakan yg diambil saat itu, bahwa para shahabat hanya dibolehkan menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an saja, sedangkan hadits nabi SAW cukup diingat-ingat dan dihafal. Apalagi mengingat tingkat kepentingannya belum terlalu mendesak. Bukankah hadits itu adalah perkataan, perbuatan dan taqrir nabi SAW ? Lantas buat apa ditulis apabila nabi SAW masih ada bersama mereka ? Kalau ada hal-hal yg mereka tidak tahu, mereka bisa langsung bertanya kepada beliau, bukan ?. Namun sebagian orang memang secara khusus diperintahkan oleh beliau SAW untuk menulis hadits. Di masa Rasulullah SAW masih hidup, tidak kurang ada 52 orang shahabat yang kerjanya menulis dan mencatat hadits-hadits beliau. Sedangkan di kalangan tabi`in ada 247 orang yang melakukan hal serupa.

Pernyataan bahwa Rasulullah SAW melarang para shahabat untuk menulis hadits seringkali dimanfaatkan secara jahat oleh para orientalis untuk menafikan hadits-hadits nabawi serta menuduh bahwa hadits itu tidak bisa dipertanggung-jawabkan keasliannya. Mereka seringkali menyebutkan bahwa hadits baru ditulis seratus tahun lebih setelah Rasulullah SAW wafat. Sehingga sangat besar kemungkinan terjadinya pemalsuan. Tuduhan ini pun seringkali mengecoh orang awam untuk membenarkan tasykik (menyusupkan keragu-raguan). Yang benar Rasulullah SAW pernah memang pernah melarang penulisan hadits di zamannya, namun tidak benar bahwa hadits itu ditulis ratusan tahun setelahnya. Yang benar adalah bahwa secara umum ada pelarangan untuk menulis hadits, namun secara khusus dan kepada orang-orang tertentu, Rasulullah SAW justru memerintahkan penulisan hadits.

http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/5c27094830-apakah-rasulullah-pernah-melarang penulisan-hadits.htm?other
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 037/th.04/Muharram-Safar 1429H/2008M


Mengagungkan Sunnah Rasulullah SAW

Maret 11, 2008

[oleh : Redaksi taruna-alquran.org]

“Katakanlah: ‘Ta’atlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. (QS an-Nur: 54)

Ketika sampai kepada kita sunnah Rasulullah SAW, maka tidak selayaknya kita menganggap remeh dengan mengatakan ‘ini hanya sunnah’. Seorang yang mengagungkan sunnah tidak akan pernah berkata demikian. Bila sampai kepadanya sunnah, maka selayaknya akan memberi pengaruh pada jiwanya; yakni timbulnya perasaan takut dan berharap kepada Allah SWT agar diberikan kekuatan untuk dapat melakukan sunnah tersebut. Dan inilah yang terjadi pada para sahabat. Mereka tidak melihat apakah hukumnya wajib atau tidak, namun jika jelas dari Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali mengamalkannya. (QS al-Ahzab: 36)

Sahabat Abdullah bin Umar r.a, berusaha agar menjadi sangat mirip dengan Rasulullah SAW dengan mengikuti cara berpakaian, cara makan, bahkan bila Rasulullah SAW tidur di suatu tempat maka ia pun akan tidur di tempat tersebut. Anas bin Malik r.a, cinta untuk makan buah labu hanya karena melihat Rasulullah SAW senang dan selalu mencari buah tersebut. Ibnu Qudamah menegaskan, “Dalam mengikuti sunnah terdapat keberkahan, dan ridla Allah SWT, meninggikan derajat, hati menjadi nyaman, menguatkan badan dan menundukkan setan, dan berjalan diatas jalan yang lurus”. (Dzammul Muwas Wisin: 41)
Imam Ibnu Hibban menyatakan dalam muqaddimah shahihnya, “Sesungguhnya ber-iltizam (terus melakukan) dengan sunnah Nabi, adalah keselamatan yang sempurna, terkumpulnya kemuliaan, cahaya (sunnah) yang tidak akan pernah padam, tidak dapat dibantah hujjah-hujjahnya. Barangsiapa beriltizam dengan sunnah Nabi maka dia akan terjaga, dan yang menyelisihinya akan mendapatkan kerugian. Karena memang sunnah itu adalah benteng yang melindungi, tiang yang menguatkan, mengikuti sunnah mendapatkan keutamaan, tali yang kuat. Dan barangsiapa yg berpegang teguh akan beruntung, dan yang menyelisihi akan binasa”.

Banyak pesan dan pernyataan dari kalangan para sahabat dan tabi’in, tentang wajibnya dan anjuran untuk mengikuti sunnah Nabi SAW, Abu Bakar ash-Shiddiiq mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan satu pun, apa yang dilakukan oleh Nabi SAW, kecuali pasti aku melakukannya. Aku justru khawatir/takut, ketika aku meninggalkan sunnah, aku tersesat”. (Ta’dzimus Sunnah: 24) Jelasnya, mengagungkan sunnah Nabi SAW adalah dengan senantiasa terus dan berusaha melakukan dalam setiap amalan, sesuai dengan perilaku Rasul SAW, baik dalam akidah, ibadah dan mu’amalah. Karena hanya dengan megikuti sunnah beliau, dan hanya dengan sunnah pula hidayah dan bimbingan Allah dapat diperoleh. Begitu juga kemenangan dapat diraih, dan kebahagiaan dapat direguk, baik dunia dan akhirat.

Menghidupkan sunnah Rasulullah SAW pahalanya sangat besar terutama ketika sunnah tersebut sudah tidak dikenal oleh masyarakat dan itulah hakikat ihya’u sunnah (menghidupkan sunnah yang sudah dimatikan/tinggalkan oleh ummat ini). Orang yang menghidupkan sunnah ibarat pelopor (orang yang pertama mengamalkan) dan apa bila kemudian diikuti oleh orang lain maka ia akan mendapat pahala dari orang-orang yang mengikutinya. Inilah makna hadits Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang membuat sunnah di dalam Islam, sunnah yang baik maka baginya pahala dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya. Dan barangsiapa yang melakukan perbuatan percontohan dalam Islam, perbuatan percontohan yang buruk maka baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa orang tersebut”. (HR Muslim)
Hari yang membutuhkan kesabaran adalah, hari yang ketika banyak orang meninggalkan sunnah, bahkan banyak yang mencemooh orang yang mau menjalankan sunnah, mentertawai, mengejek bahkan mungkin mengintimidasi, memenjara dan sebagainya.

Faedah dari iltiizam dengan sunnah Nabi SAW, di antaranya :

a) Menyampaikan derajat mahabbatullah
Ketika orang mengakui dirinya telah cinta/mencintai sesuatu, maka dia tentu dituntut untuk membuktikan kecintaan tsb. Tanpa itu, maka pengakuan cintanya adalah palsu. Dalam hadits Qudsi, Allah memberikan penjelasan tentang hal ini. “Barang siapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku, maka Aku nyatakan perang padanya. Dan tidaklah hamba-Ku lebih aku cintai, ketika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan apa yang aku wajibkan. Dan tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah, hingga Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan Aku sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan Aku sebagai tangannya yang ia gunakan untuk bekerja, dan Aku merupakan kakinya yang gunakan untuk berjalan. Dan jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya, dan jika ia berlidung diri kepada-Ku, niscaya Aku akan melindunginya”. (HR Bukhari)
Hadits yang agung ini, sebagai dalil bahwa melakukan sunnah-sunnah Nabi SAW menjadikan salah satu diantara penyebab kecintaan Allah SWT pada hamba-Nya, terhadap perkara-perkara yang terpuji. Dan Allah senantiasa memberikan pertolongan, memberikan bimbingan, menghindarkan dari perkara-perkara yg buruk dan tercela, dan terus menuntunnya menuju rengkuhan dan kecintaan-Nya. Sehingga ia dapat mencapai derajat kemuliaan. Kecintaan Allah padanya, juga berdampak pada kecintaan makhluk Allah padanya. “Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril seraya berfirman, “Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai Fulan, maka cintailah dia”. Kemudian Jibril mencintai orang itu dan berkata pada penghuni langit, “Sesungguhnya Allah mencintailah Fulan, maka cintailah dia”. Maka penghuni langit pun mencintai orang itu. Setelah itu kecintaannya diteruskan pada penghuni bumi”. (HR Bukhari).
Demikianlah, kecintaan terhadap seseorang yang melakukan sunnah-sunnah Nabi SAW, menjadikannya dicintai Allah dan seluruh makhluk-Nya.

b) Menyempurnakan yang wajib
Merupakan hal cukup sulit bagi umat manusia untuk melakukan hal-hal yang wajib secara baik dan sempurna sebagaimana perintah Allah SWT. Seringkali di dalamnya banyak kekurangan. Misalnya, kurang khusyu’ dan tiada ketenangan dalam shalat. Begitu juga dalam hal lainnya, kadangkala seseorang mudah terjebak dalam ghibah, adu domba, atau melakukan hal yang tiada manfaat ketika dalam keadaan puasa, juga dalam berbagai hal lain, yang mana hal tersebut dapat mengurangi nilai pahala wajib. Allah SWT, Dzat Yang Maha Agung, dan Maha Luas rahmat-Nya, memberikan sarana dan fasilitas pada hamba-Nya, hal-hal yang kurang sempurna dalam melakukan kewajiban, dapat disempurnakan dengan melakukan amalan sunnah. Baik itu shalat, zakat, puasa, haji, maupun kewajiban lainya, semuanya dapat disempurnakan dengan melakukan amalan sunnah.

c) Mendapatkan keutamaan
Banyaknya godaan dan rintangan, serta usaha iblis yang tiada henti untuk mengajak manusia, khususnya umat Islam, untuk menjauh dari tuntunan al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW, menjadikan mereka semakin jauh dari nilai-nilai Qur’ani dan sunnah Nabawi. Karenanya, dalam sebuah hadits Rasulullah SAW, memberikan kabar gembira pada umatnya yang senantiasa mengerjakan sunnahnya. Hadits tersebut artinya : “Sesungguhnya di belakang kalian wahai sahabatku, ada yang dinamakan hari-hari yang membutuhkan kesabaran, orang-orang yang tamassuk pada hari itu terhadap apa-apa yang kalian pegangi saat ini akan mendapat pahala lima puluh”. Sahabat bertanya: “Perbandingannya itu dengan kami (para sahabat) atau dengan mereka (masyarakat saat itu)?”. Rasulullah menjawab: “(pahala lima puluh kali) dibandingkan dari kalian (para sahabatku)”. (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah, dengan sanad yang shahih).

d) Terjaga dari bid’ah dan perpecahan
Abu Muhammad Abdullah bin Manazil mengatakan, “Tidaklah seseorang meremehkan yg wajib, hingga ia diuji oleh Allah meremehkan yang sunnah. Tidaklah seseorang meremehkan yang sunnah, hingga ia diuji oleh Allah melakukan bid’ah (suatu amalan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW).
Di muka telah kami jelaskan, bahwa semakin dekat seseorang pada sunnah, maka ia akan terhindar dari bid’ah. Selain itu, seseorang akan terhindar dari perpecahan umat. Karena hanya ada satu jalan (QS al-An’am: 153); beramal sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah, sebagaimana yang difahami oleh para salaf. Orang yang berpegang teguh dengan sunnah Nabi SAW, hanya mengikuti satu jalan, sementara orang-orang yang jauh dari sunnah akan mengikuti banyak jalan, akan memudahkan untuk tergelincir hingga berjalan di luar syariat Islam.

e) Mengagungkan syiar Allah
Melakukan sunnah-sunnah Nabi SAW, yang merupakan syariat Allah, sebagaimana kami jelaskan di muka, bahwa perilaku Rasul adalah perwujudan dari syariat Allah; syariat Islam. Karenanya, mempelajari, mengajar dan mendakwahkannya, serta berusaha terus istiqomah untuk melakukannya, baik di tingkat individu maupun masyarakat, adalah mengagungkan syi’ar Allah SWT. Selain itu, juga merupakan tanda ketakwaan. “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (QS al-Hajj: 32)
Itulah diantara faedah beriltizam dengan sunnah Nabi SAW. Dan sebagai penutup materi ini, kami ingin sampaikan, bahwa melakukan sunnah Nabi SAW bukannya tiada rintangan dan cobaan. Disini Allah mewajibkan para hamba-Nya yang beriman untuk terus berjuang dalam membela syariat Allah, membela sunnah Nabi-Nya SAW yang mulia. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah ? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”. (QS at-Taubah: 111).

http://www.taruna-alquran.org/sq/art.php?artid=66

Keutamaan Mempelajari Ilmu Hadits

Ilmu hadits sangat menentukan sebagai pedoman beramal, tidak sedikit para ulama yg memberikan tanggapan atas hukum mempelajari ilmu hadits. Imam Sufyan Tsauri berkata (artinya), “Saya tidak mengenal ilmu yg lebih utama bagi orang yg berhasrat menundukkan wajahnya di hadapan Allah selain daripada ilmu hadits. Orang sangat memerlukan ilmu ini, sampai kepada soal-soal kecil sekalipun, seperti makan dan minum, memerlukan petunjuk dari al-hadits. Mempelajari ilmu hadits lebih utama daripada menjalankan shalat sunnah dan puasa sunnah, karena mempelajari ilmu ini adalah fardhu kifayah, sedangkan shalat sunnah dan puasa sunnah hukumnya sunnah.” Imam Asy-Syafiy berkata, “Demi umurku, soal ilmu hadits ini termasuk tiang agama yang paling kokoh dan keyakinan yang paling teguh. Tidak digemari untuk menyiar kannya selain oleh orang-orang yang jujur lagi takwa, dan tidak di benci untuk menyiarkannya selain oleh orang-orang munafik lagi celaka.”

Al-Hakim menandaskan, “Andaikata tidak banyak orang yang menghafal sanad hadits, niscaya menara Islam roboh dan niscaya para ahli bid’ah berkiprah membuat hadits–hadits palsu dan memutar-balikkan sanad.”

[Sumber : Ikhtisar Mushthalahul Hadits, Drs. Fatchur Rahman]
PUSAT INFORMASI DAN KOMUNIKASI ISLAM INDONESIA – http://www.alislam.or.id
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 037/th.04/Muharram-Safar 1429H/2008M


Semua Agama Sama ?

Januari 14, 2008

Definisi agama di Barat terus menjadi polemik. Di Indonesia, para santri sudah mengatakan, “Semua Agama Sama”. Boleh jadi, besok akan ada kiai yang mengatakan, “Yesus Tuhan kita juga”.

Di pinggir jalan kota Manchester Inggris terdapat papan iklan besar bertuliskan kata-kata singkat “It’s like Religion”. Iklan itu tidak ada hubungannya dengan agama atau kepercayaan apapun. Di situ terpampang gambar seorang pemain bola dengan latar belakang ribuan supporternya yang fanatik. Saya baru tahu kalau itu iklan klub sepakbola setelah membaca tulisan di bawahnya ‘Manchester United’.
Sepak bola dengan supporter fanatik itu biasa, tapi tulisan it’s like religion itu cukup mengusik pikiran saya. Kalau iklan itu dipasang di jalan Thamrin Jakarta ummat beragama pasti akan geger. Ini pelecehan terhadap agama. Tapi di Barat agama bisa difahami seperti itu. Agama adalah fanatisme, kata para sosiolog. Bahkan ketika seorang selebritinya mengatakan “My religion is song, sex, sand and champagne” juga masih dianggap waras. Mungkin ini yang disinyalir al-Qur’an “Ara’ayta man ittakhadna ilaahahu hawaahu” (QS.25:43).

Pada dataran diskursus akademik, makna religion di Barat memang problematik. Bertahun-tahun mereka mencoba mendefinisikan religion tapi gagal. Mereka tetap tidak mampu menjangkau hal-hal yang khusus. Jikapun mampu mereka terpaksa menafikan agama lain. Ketika agama didefinisikan sebagai kepercayaan, atau kepercayaan kepada yang Maha Kuasa (Supreme Being), kepercayaan primitif di Asia menjadi bukan agama. Sebab agama primitif tidak punya kepercayaan formal, apalagi doktrin.

F.Schleiermacher kemudian mendefinisan agama dengan tidak terlalu doktriner : “Agama adalah rasa ketergantungan yang absolut” (feeling of absolute dependence). Demikian pula Whitehead :”Agama adalah apa yang kita lakukan adalah kesendirian”. Di sini faktor-faktor terpentingnya adalah emosi, pengalaman, intuisi dan etika. Tapi definisi ini hanya sesuai untuk agama primitif yang punya tradisi penuh dengan ritus-ritus, dan tidak cocok untuk agama yang punya stuktur keimanan, ide-ide dan doktrin-doktrin.

Tapi bagi sosiolog dan antropolog memang begitu. Bagi mereka religion sama sekali bukan seperangkat ide-ide, nilai atau pengalaman yang terpisah dari matrik kultural. Bahkan, kata mereka, beberapa kepercayaan, adat istiadat atau ritus-ritus keagamaan tidak difahami kecuali dengan matrik kultural tersebut. Emile Durkheim malah yakin bahwa masyarakat itu sendiri sudah cukup sebagai faktor penting bagi rasa berkebutuhan dalam jiwa. (Lihat The Elementary Forms of the Religious Life, New York, 1926, 207). Tapi bagi pakar psikologi agama justeru harus diartikan dari faktor kekuatan kejiwaan manusia ketimbang faktor sosial dan intelektual. Para psikolog Barat nampaknya trauma dengan makna agama yang doktriner, sehingga tidak peduli dengan aspek ekstra-sosial, ekstra-sosiologis ataupun ekstra psikologis. Aspek immanensi lebih dipentingkan daripada aspek transendensi.

Sejatinya, akar kebingungan Barat mendefinisikan religion karena konsep Tuhan yang bermasalah. Agama Barat -Kristen- kata Amstrong dalam History of God justeru banyak bicara Yesus Kristus ketimbang Tuhan. Padahal, Yesus sendiri tidak pernah mengklaim dirinya suci, apalagi Tuhan. Dalam hal ini kesimpulan Profesor Al-Attas sangat jitu, yakni “Islam, sebagai agama, telah sempurna sejak diturunkan” Konsep Tuhan, agama, ibadah, manusia dan lain-lain telah jelas. Konsep-konsep selanjutnya hanyalah penjelasan dari konsep-konsep itu tanpa merubah konsep asalnya. Sedang di Barat konsep Tuhan mereka sejak awal bermasalah sehingga perlu direkayasa agar bisa diterima akal manusia.

Kita mungkin akan tersenyum membaca judul buku yang baru terbit di Barat, “Tomorrow’s God” (Tuhan Masa Depan), karya Neale Donald Walsch. Tuhan dari agama agama yang sudah ada sebelumnya, dianggap tidak lagi cocok untuk masa kini. Tuhan haruslah seperti apa yang digambarkan oleh akal modern. Manusia makhluk berakal (rational animal) terpaksa menggusur pengertian ‘manusia adalah makhluk Tuhan’. Pada puncaknya nanti manusialah yang menciptakan Tuhan dengan akalnya.
Kata-kata Socrates: “Wahai warga Athena ! Aku percaya pada Tuhan, tapi tidak akan berhenti berfilsafat”, bisa berarti “Saya beriman tapi saya akan tetap menggambarkan Tuhan dengan akal saya sendiri”. Wilfred Cantwell Smith nampaknya setuju. Dalam makalahnya berjudul ‘Philosophia as One of the Religious Tradition of Man kind’, ia mengkategorikan tradisi intelektual Yunani sebagai agama. Akhirnya, sama juga mengamini Nietzche bahwa ‘Tuhan hanyalah realitas subyektif dalam fikiran manusia’, alias ‘khayalan manusia yang tidak ada dalam realitas obyektif’. Konsep Tuhan inilah yang justeru menjadi lahan subur bagi atheisme. Sebab Tuhan bisa dibunuh atau ditiadakan keberadaannya.

Jika Imam Al-Ghazzali dikaruniai umur hingga abad ini mungkin ia pasti sudah menulis berjilid-jilid Tahafut. Sekurang-kurangnya ia akan menolak jika Islam di masukkan ke dalam devinisi religion versi Barat dan Allah disamakan dengan Tuhan spekulatif. Jika konsep ‘Unmoved Mover’ Aristotle saja ditolak, kita bisa bayangkan apa reaksi al-Ghazzali ketika mengetahui tuhan di Barat kini ‘is not longer Supreme Being’ (Tidak lagi Maha Kuasa).
Konsep Tuhan di Barat kini sudah hampir sepenuhnya rekayasa akal manusia. Bukti tuhan ‘harus’ mengikuti peraturan akal manusia adalah : ia ‘tidak boleh’ menjadi tiran, ‘tidak boleh’ ikut campur dalam kebebasan dan kreativitas manusia, tuhan yang ikut mengatur alam semesta adalah absurd, tuhan yang personal dan tiranik itulah yang pada abad ke-19 ‘dibunuh’ Nietzche dari pikiran manusia. Tuhan pen cipta, tidak ada pada nalar manusia produk kebudayaan Barat. Agama disana akhir nya tanpa tuhan atau bahkan tuhan tanpa tuhan. Disini kita baru faham mengapa Manchester United dengan penyokongnya itu ‘like religion’. Malu mengatakan ‘it’s really religion but without god’.

Kini di Indonesia dan di negeri-negeri Muslim lainnya, cendikiawan Muslim mulai ikut-ikutan risih dengan konsep Allah Maha Kuasa (Supreme Being). Tuhan tidak lagi mengatur segala aspek kehidupan manusia. Bahkan kekuasaan Tuhan harus dibatasi. Benteng pemisah antara agama dan politik dibangun kokoh. Para kyai dan cendekiawan Muslim seperti berteriak “Politik Islam, No” tapi lalu berbisik “Berpo litik, Yes”…”Money politik la siyyana”.
Tapi ketika benteng pemisah agama dan politik dibangun, tiba-tiba tembok pemisah agama-agama dihancurkan. “Ini proyek besar bung !” kata fulan berbisik. “Ini zaman globalisasi”, kata Profesor pakar studi Islam. Santri-santri diajari berani bilang “Ya Akhi, tuhan semua agama itu sama, yang beda hanya namaNya”.
“Gus ! maulud Nabi sama saja dengan maulud Isa atau Natalan”. Mahasiswa Muslimpun diajari logika realitas “Jangan ada yang menganggap agamanya paling benar”.
Para ulama diperingati “Jangan mengatasnamakan Tuhan”. Kini semua orang “harus” menerima pluralitas dan pluralisme sekaligus, pluralisme seperi juga sekularisme dianggap hukum alam. Samar-samar seperti ada suara besar mengingatkan “Kalau Anda tidak pluralis pasti, maka anda adalah teroris”.

Kini agar menjadi seorang pluralis kita tidak perlu meyakini kebenaran agama kita. Kata-kata Hamka “Yang bilang semua agama sama berarti tidak beragama” mungkin dianggap kuno.
Kini yang laris manis adalah konsep global theology-nya F. Schuon. Semua agama sama pada level esoteris. Di negeri Muslim terbesar di dunis ini, lagu-lagu lama Nietzche tentang relativisme dan nihilisme dinyanyikan mahasiswa Muslim dengan penuh emosi dan semangat. “Tidak ada yang absolut selain Allah” artinya ‘tidak ada yang tahu kebenaran selain Allah’. Syari’ah, fiqih, tafsir wahyu, ijtihad para ulama adalah hasil pemahaman manusia, maka semua relatif. Walhasil, Tuhan ti dak pernah meminta kita memahami yang absolut apalagi menjadi absolut.

Yang relatif pun bisa mengandung yang absolut. Secara kelakar seorang kawan membayangkan di Jakarta nanti ada papan iklan besar bergambar seorang kyai dengan latar belakang ribuan santri dengan tulisan singkat “Yesus Tuhan kita juga”.

(ket : Pemimpin Redaksi ISLAMIA, majalah pemikiran dan peradaban Islam. Penulis kini menyelesaikan S3 nya di ISTAC (International Islamic Thought and Civiliza tion), KL. Artikel ini diambil dari Jurnal ISLAMIA edisi 3 Sept-Nopember 2004)

http://www.hidayatullah.com/modules.php?name=News&file=article&sid=1394
note : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu terdekat”. (QS.Asy-Syu’araa : 214) “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”. (QS.Adz-Dzariyaat : 55)

Rencana Tuhan itu Indah

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet. Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut :”Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.”

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil :
“Anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. “
Waktu aku sudah duduk di pangkuan, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet. Kemudian ibu berkata :”Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan”.

Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah ; “Allah, apa yang Engkau lakukan ?”. Ia menjawab :” Aku sedang menyulam kehidupanmu.” Dan aku membantah,” Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah ?”. Kemudian Allah menjawab, “Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu.” Subhanallah, Maha Suci Allah SWT.

http://cbd.lapenkop.coop/index.php?op=article_view&id_news=26

“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS An Nahl : 64).

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?”. (QS Al-baqarah 2:28)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.012/th.01/Safar-Rabi’ul Awwal 1426H/2005M


Sifat Puasa Nabi (bag 19) – Malam Lailatul Qadar

Januari 2, 2008

Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al Qur-an Al Karim, yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkat ke derajat yang mulia dan abadi. Umat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menacapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini, akan tetapi mereka berlomba-lomba untuk bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.
Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur’aniyah dan hadits-hadits Nabawiyah yang shahih menjelaskan tentang malam tersebut.

1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman: Sesungguhnya Kami menurunkan Al Qur’an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu ? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, Pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Rabb mereka (untuk membawa) segala urusan, Selamatlah malam itu hingga terbit fajar. (Al Qadar : 1-5)
Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah : Sesungguhnya Kami menurunkan pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ad Dukhan : 3 – 6)

2. Waktunya
Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa malam tersebut terjadi pada tanggal malam 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan.1]
Imam Syafi’i berkata, Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, ‘Apakah kami mencarinya di malam ini ?’  Beliau menjawab, ‘Carilah di malam tersebut.’2]
Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada malam terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda :Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.3]
Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka janganlah sampai terluput tujuh hari sisanya.4]
Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, barangsiapa yang mencarinya carilah pada tujuh nari terakhir.5]
Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para shahabat. Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam keluar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang sahabat berdabat, beliau bersabda :
Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Lailatul Qadar, tapi ada dua orang berdebat hingga tidak bisa lagi diketahui kapannya, mungkin ini lebih baik bagi kalian, carilah di malam 29, 27, 25 (dan dalam riwayat lain, tujuh, sembilan dan lima).6]

Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa amalan Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan dimalam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum, sedang hadits kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum. Dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah, tidak ada masalah, dengan ini cocoklah hadits-hadits tersebut tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisah.

Kesimpulannya, jika seorang muslim mencari malam Lailatul Qadar carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir, 21, 23, 25, 27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari pada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25, 27 dan 29. Wallahu a’lam.

3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar
Sesungguhnya malam yang diberkahi ini barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh karena itu dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala-Nya yang besar, jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.7]
Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa dia bertanya, Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan ? Beliau menjawab Ucapkanlah, Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan Mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.8]

Saudaraku -semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaati-Nya- engkau telah mengetahui bagaimana keadaan Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan shalat) pada sepuluh malam terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada istrimu dan keluargamu untuktu, perbanyaklah perbuatan ketaatan.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha : Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya.9] menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.10]
Juga dari ‘Aisyah, dia berkata : Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk)malam kesepuluh (terakhir) yang tidak
pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.11]

4. Tanda-Tandanya
Ketahuilah hamba yang taat -mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh dari-Nya dan membantu dengan pertolongan-Nya- sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya.
Dari ‘Ubai Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.12]
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau bersabda : Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan seperti syiqi jafnah.13]
Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : (Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.14]
———————
Footnote :

1. Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda,Imam Iraqi telah mengaran suatu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bi Dzikri Lailatul Qadar, membawakan perkataan para ulama dalam masalah ini.
2. Sebagaimana dinukil Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah (6/388).
3. Bukhari (4/225) dan Muslim (1169).
4. HR. Bukhari (4/221) dan Muslim (1165).
5. Lihat maraji’ tadi.
6. HR. Bukhari (4/232).
7. HR. Bukhari (4/217) dan Muslim (759).
8. HR. Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850) dari ‘Aisyah, sanadnya shahih. Lih: syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan (55-57) karya Ibnu Rajab Al Hambali.
9. Menjauhi wanita (yaitu istri-istrinya) karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar.
10. HR. Bukhari (4/233) dan Muslim (1174).
11. Muslim (1174).
12. Muslim (762)
13. Muslim (1170) Perkataan, syiqi jafnah, syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadhi ‘Iyadh berkata, Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.
14. Thayalisi (394), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan.

IslahGateway
http://groups.yahoo.com/group/hidayahnet/message/4616
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no. 018/th.02/sha’ban-ramadhan 1426 H/2006 M