DAN BERBAHAGIALAH ‘UKASYAH …

Maret 28, 2006

Aku pernah melihat Al-Musthafa pada sebuah malam
Langit cerah tanpa banyak awan , kupandangi wajah Rasulullah. Lalu mataku beralih menatap rembulan , ternyata menurut penglihatanku, Beliau lebih cemerlang dibanding pendar rembulan – (Jabir Bin Samurah, Sahabat Rasulullah)

Madinah muram. Di setiap sudut rumah wajah-wajah tertunduk terpekur menatap tanah. Tak ada senyuman yang mengembang, atau senandung cinta yang dilantunkan para ibunda untuk membuai buah hatinya. Sebutir hari terus bergulir, namun semua tetap sama, kelabu. Ujung waktu selalu saja hening, padahal biasanya kegembiraan mewarnai keseharian mereka. Padahal semangat selalu saja menjelma. Namun kali ini, semuanya luruh. Tatapan-tatapan kosong, desah nafas berat yang terhembus bahkan titik-titik bening air mata keluar begitu mudah. Sahara menetaskan kese nyapan, lembah-lembah mengalunkan untaian keheningan. Kabar sakitnya manusia yang tercinta, itulah penyebabnya.

Setelah peristiwa Haji Wada’ kesehatan nabi Muhammad SAW memang menurun. Islam telah sempurna, tak akan ada lagi wahyu yang turun. Semula, kaum muslimin bergem bira dengan hal ini. Hingga Abu Bakar mendesirkan angin kematian Rasulullah. Sa habat terdekat ini menyatakan bahwa kepergian kekasih Allah akan segera tiba dan saat itu adalah saat-saat perpisahan dengan Sang Purnama Madinah telah dekat. Selanjutnya bayang-bayang akan kepergian sosok yang selalu dirindu sepanjang masa terus saja membayang, menjelma tirai penghalang dari banyak kegembiraan.

Dan masa pun berselang.
Mesjid penuh sesak, kaum Muhajirin beserta Anshar. Semua berkumpul setelah Bilal memanggil mereka dengan suara adzan. Ada sosok cinta di sana, kekasih yang baru saja sembuh, yang membuat semua sahabat tak melewatkan kesempatan ini. Setelah mengimami shalat, nabi berdiri dengan anggun di atas mimbar. Suaranya basah, menyenandungkan puji dan kesyukuran kepada Allah yang Maha Pengasih. Senyap segera saja datang, mulut para sahabat tertutup rapat, semua menajamkan pendengaran menuntaskan kerinduan pada suara sang Nabi yang baru berada lagi. Semua menyiapkan hati, untuk disentuh serangkai hikmah. Selanjutnya Nabi bertanya. “Duhai sahabat, kalian tahu umurku tak akan lagi panjang, Siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini ? bangkitlah sekarang untuk mengambil kisas, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik”.

Semua yang hadir terdiam, semua mata menatap lekat Nabi yang terlihat lemah. Tak akan pernah ada dalam benak mereka perilaku Nabi yang terlihat janggal. Apapun yang dilakukan Nabi, selalu saja indah. Segala hal yang diperintahkannya, selalu membuihkan bening saripati cinta. Tak akan rela sampai kapanpun, ada yang menyentuhnya meski hanya secuil jari kaki. Apapun akan digadaikan untuk membela Al-Musthafa.

Melihat semua yang terdiam, nabi mengulangi lagi ucapannya, kali ini suaranya terdengar lebih keras. Masih saja para sahabat duduk tenang. Hingga ucapan yang ketiga kali, seorang laki-laki berdiri menuju Nabi. Dialah ‘Ukasyah Ibnu Muhsin.
“Ya Rasul Allah, Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu, duhai kekasih Allah, Saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung sampingku” ucap ‘Ukasyah.
Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putri kesayangannya, Fatimah. Tampak keengganan menggelayuti Bilal, langkahnya terayun begitu berat, ingin sekali ia menolak perintah tersebut. Ia tidak ingin cambuk yang dibawanya itu melecut tubuh Al-Musthafa yang baru saja sembuh.

Namun ia juga tidak mau mengecewakan Rasulullah. Segera setelah sampai, cambuk diserahkannya kepada Rasul mulia. Dengan cepat cambuk berpindah ke tangan ‘Ukasyah. Masjid seketika mendengung semua yang hadir seperti sarang lebah.
Sekonyong-konyong melompatlah dua sosok dari barisan terdepan, melesat maju. Yang pertama berwajah sendu, janggutnya basah oleh air mata yang menderas sejak dari tadi, dia lah Abu Bakar. Dan yang kedua, sosok pemberani, yang ditakuti para musuhnya di medan pertempuran, Nabi menyapanya sebagai Umar Ibn Khattab. Gemetar mereka berkata: “Hai ‘Ukasyah, pukullah kami berdua, sesuka yang kau dera. Pilihlah bagian manapun yang paling kau ingin, kisaslah kami, jangan sekali-kali engkau pukul Rasul” . “Duduklah kalian sahabatku, Allah telah mengetahui kedudukan kalian”, Nabi memberi perintah secara tegas. Ke dua sahabat itu lemah sangsai, langkahnya surut menuju tempat semula. Mereka pandangi sosok ‘Ukasyah dengan pandangan memohon. ‘Ukasyah tidak bergeming……………….
Melihat Umar dan Abu Bakar duduk kembali, Ali bin Abi thalib tak tinggal diam. Berdirilah ia di depan ‘Ukasyah dengan berani. “Hai hamba Allah, inilah aku yang masih hidup siap menggantikan kisas Rasul, inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah aku” . “Allah Swt sesungguhnya tahu kedudukan dan niatmu duhai Ali, duduklah kembali” Tukas Nabi.
“Hai ‘Ukasyah, engkau tahu, aku ini kakak-beradik, kami adalah cucu Rasulullah, kami darah dagingnya, bukankah ketika engkau mencambuk kami, itu artinya mengkisas Rasul juga”, kini yang tampil di depan ‘Ukasyah adalah Hasan dan Husain. Tetapi sama seperti sebelumnya Nabi menegur mereka. “Duhai penyejuk mata, aku tahu kecintaan kalian kepadaku. Duduklah”.

Masjid kembali ditelan senyap. Banyak jantung yang berdegup kian cepat. Tak terhitung yang menahan nafas. ‘Ukasyah tetap tegap menghadap Nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri ingin menghalangi ‘Ukasyah mengambil kisas. “Wahai ‘Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil kisas, inilah Ragaku,” Nabi selangkah maju mendekatinya. “Ya Rasul Allah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang menghalangi lecutan cambuk itu”. Tanpa berbicara, Nabi langsung melepaskan ghamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh suci Rasulullah. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis pedih.
Melihat tegap badan manusia yang di maksum itu, ‘Ukasyah langsung menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta direngkuhnya Nabi, sepuas ke inginannya ia ciumi punggung Nabi begitu mesra. Gumpalan kerinduan yang mengkristal kepada beliau, dia tumpahkan saat itu. ‘Ukasyah menangis gembira, ‘Ukasyah bertasbih memuji Allah, ‘Ukasyah berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu, “Tebusanmu, jiwaku ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengkisas manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka”. Dengan tersenyum, Nabi berkata: “Ketahuilah duhai manusia, siapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini”.

‘Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah. Sedangkan yang lain berebut mencium ‘Ukasyah. Pekikan takbir menggema kembali. “Duhai, ‘Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti, bergembiralah engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul di surga”. Itulah yang kemudian dihembuskan semilir angin ke seluruh penjuru Madinah.

Indah nian pabila kita dapat berjumpa dengan kekasih Allah di surga. ‘Ukasyah mencari setiap celah kesempatan agar dapat merengkuh anugerah ini. Lalu, seperti apakah usaha kita? Astagfirullahaladzim, tak berani saya membandingkan jejak kehidupan saya dengan kemilau ‘Ukasyah.

Ya Allah, dalam hening ini …..kisah ‘Ukasyah telah menitikkan air mataku…..

(dari : eramuslim.com)

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 002/th.01/rabi’ul awal 1424H/2004M

Iklan

Islam dan Kapitalisme Dunia Entertainment

Maret 22, 2006

Fenomena goyang erotis mampu menenggelamkan berita-berita politik nasional, seperti soal Aceh, misalnya. Atau agresi AS yang sampai kini berlangsung di negeri muslim, Irak. Apalagi setelah adanya pro-kontra antara yang menghujat dan yang mendukung goyang tersebut. PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia) menganggapnya tidak bermoral dan mengumbar kemudaratan. Kata mereka, hal itu sangat berpotensi dalam menyumbang hancurnya moral negeri ini.

Jauh sebelumnya MUI sendiri telah mengharamkan goyang tersebut. Akan tetapi, desakan dan cercaan tersebut diabaikan begitu saja. Alasannya, seperti kata anggota/sesepuh sebuah partai, “Itu adalah kebebasan berekspresi. Juga kata beliau, agama jangan dibawa-bawa dalam permasalahan ini, ini murni permasalahan seni, bukan agama, agama jauh dari seni. Dalam alam demokrasi, kebebasan berekspresi seperti itu harus dibela mati-matian. Itulah kebebasan berekspresi yang merupakan salah satu pilar demokrasi !”.

Alasan yang sama digunakan AS untuk menghancurkan Irak. Dengan alasan demokrasi dan membebaskan rakyat Irak, maka bom-bom diluncurkan, ribuan peluru dimuntahkan, ribuan orang dibunuh, dan peradaban Islam di sana diporak-porandakan. Seusai pertempuran, presidennya dengan berpakaian militer berdiri di kapal induk mengatakan, “Kita menang ! Kita akan bentuk masyarakat demokrasi di Irak !.” Sementara itu rakyat Irak tetap menentang kehadiran sang penjajah tersebut.

Itulah dua gambaran sekilas kebebasan dalam demokrasi.
Bedanya, goyangan erotis merupakan kebebasan berekspresi yang didukung oleh hegemoni media massa. Sedangkan serangan AS merupakan kebebasan berekspresi yang diusung oleh hegemoni politik negara besar. Dalam demokrasi, mereka yang kuat itulah yang dapat berekspresi apa pun tanpa mengenal halal-haram. Itulah kebebasan mengekspresikan kemaksiatan !.

Haruskah Kebebasan Berekspresi ?
Goyangan erotis dan kebebasan untuk mengekspresikan kemaksiatan lainnya melengkapi kenyataan tentang betapa bobroknya seruan-seruan demokrasi. Goyangan yang mengumbar aurat dan mengundang syahwat telah dianggap sebagai bagian dari hak asasi yang tak boleh dilanggar. Sebaliknya, hukum-hukum Allah yang nyata-nyata mengharamkan siapa pun mengumbar aurat dan membangkitkan syahwat tidak dipedulikan, seolah-olah tidak mengapa jika dilanggar, karena memang tidak mengganggu hak asasi manusia.

Begitu juga penjajahan AS dianggap wajar asalkan setelah itu rakyat Irak setuju untuk berdemokrasi. Negara besar bebas mengekspresikan penjajahannya atas nama demokrasi sekalipun mengorbankan masyarakat. Ironis ! Mereka membela hak-hak manusia sembari menginjak hak-hak Allah yang notabene Pencipta manusia untuk ditaati. Demikianlah watak buruk demokrasi, yang juga membentuk watak buruk masyarakat penganut dan pengamalnya.

Kebebasan Yang Menyesatkan.
Kebebasan umum bagi setiap individu yang diagung-agungkan dan dijaga pelaksanaannya dalam atmosfer demokrasi tercakup dalam empat hal, yaitu kebebasan beragama (freedom of religion); kebebasan berpendapat (freedom of speech); kebebasan kepemilikan (freedom of ownership); kebebasan berperilaku (personal freedom).
Pertama, kebebasan beragama, yang berarti bahwa seseorang berhak meyakini suatu agama/keyakinan yang dikehendakinya atau memeluk agama yang disenanginya tanpa tekanan atau paksaan. Dia berhak pula meninggalkan agama dan keyakinannya, lalu berpindah pada agama atau keyakinan baru, berpindah pada kepercayaan non-agama (animisme/paganisme); bahkan berpindah pada ateisme.
Dia berhak melakukan semua itu sebebas-bebasnya tanpa adanya tekanan atau paksaan. Oleh karena itu, dalam demokrasi seseorang berhak mengganti agamanya untuk kemudian memeluk agama Kristen, Yahudi, Buddha, atau komunisme dengan sebebas-bebasnya tanpa larangan atas dirinya, baik dari negara ataupun pihak lain.
Hal semacam ini bertentangan dengan akidah Islam. Islam telah mengharamkan seorang Muslim murtad dari Islam. Siapa saja yg murtad dari agama Islam, dia akan diminta untuk bertobat. Akan tetapi, jika tidak bertobat, dia akan dijatuhi hukuman mati, disita hartanya, dan diceraikan dari istrinya.
Rasul SAW, bersabda: “Siapa saja yang mengganti agamanya (Islam), jatuhkanlah hukuman mati atasnya.” [HR. Muslim dan Asshab as-Sunan]. Jika yg murtad adalah sekelompok orang, sementara mereka tetap berkeras untuk murtad, maka mereka diperangi hingga kembali pada Islam atau dibinasakan.

Kedua, kebebasan berpendapat, yang berarti bahwa setiap individu berhak untuk mengembangkan pendapat atau ide apa pun dan bagaimana pun bentuknya. Dia berhak menyatakan atau menyerukan ide dengan sebebas-bebasnya. Tanpa tolok ukur halal-haram. Dengan kebebasan berpendapat, siapa pun bisa mengatakan agama tidak ada kaitannya dengan seni seperti terjadi sekarang.
Aturan Islam dalam masalah ini sangatlah berbeda. Seorang Muslim, dalam seluruh perkataan dan perbuatannya, wajib terikat dengan apa yang terkandung dalam nash-nash syariat. Dengan demikian, dia tidak boleh melakukan suatu perbuatan atau mengucapkan suatu perkataan, kecuali jika dalil-dalil syariat telah membolehkannya. Dengan kata lain, seorang Muslim berhak bahkan didorong mengembangkan, menyerukan, dan menyatakan pendapat apa pun selama dibolehkan oleh syariat. Sebaliknya, syariat akan memberikan hukuman, bahkan sanksi yang berat, jika apa yang dikatakan dan diperbuat tidak sesuai dengan syariat. Ummu ‘Athiyah menuturkan, riwayat dari Abu Sa’id RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jihad paling utama adalah (menyampaikan) perkataan yang hak (sesuai dengan syariat) di hadapan penguasa zalim.” [HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Nasa’i].
Tindakan semacam ini tidak dipandang sebagai bagian dari kebebasan berpendapat, melainkan justru merupakan cerminan realitas dalam keterikatan para sahabat dengan hukum-hukum syariat, yakni kebolehan menyampaikan pendapat dalam rangka menasihati/mengoreksi penguasa. Menyampaikan pendapat dlm keadaan ini adalah kewajiban.

Ketiga, kebebasan kepemilikan, yang bermakna bahwa seseorang boleh memiliki harta (modal) sekaligus mengembangkannya dengan sarana dan cara apapun. Seorang penguasa dianggap berhak memiliki harta dan mengembangkannya melalui imperialisme, perampasan, dan penjajahan harta kekayaan alam bangsa-bangsa yang akan atau sudah dijajah. Apa yg terjadi di Afghanistan & di Irak adalah contoh real bagaimana AS dan sekutunya menerapkan standar ini: kebebasan kepemilikan. Sudah menjadi rahasia umum, di balik penyerangan Afghanistan dan Irak terdapat kepentingan untuk menguasai minyak. Itu terbukti dengan sigapnya AS memperbaiki fasilitas kilang minyak Irak dg meninggalkan perbaikan fasilitas-fasilitas penopang kehidupan rakyat Irak, dg dalih, semua itu untuk kepentingan rakyat Irak juga.

Islam sangat bertolak belakang dengan ide kebebasan kepemilikan tersebut. Islam telah memerangi ide penjajahan bangsa-bangsa serta ide perampokan dan penguasaan kekayaan alam bangsa-bangsa di dunia. Islam telah menutupkan sebab-sebab kepemilikan harta, cara-cara pengembangannya, dan cara-cara pengelolaannya. Islam mewajibkan seorang Muslim untuk terikat dengan hukum-hukum Islam dalam usahanya memiliki, mengembangkan, dan mengelola hartanya. Islam tidak memberikan kebebasan kepadanya untuk mengelola harta sekehendaknya.
Keempat, kebebasan berperilaku, yg berarti bahwa setiap orang bebas untuk melepaskan diri dari segala macam ikatan & dari setiap nilai keruhanian, akhlak, dan kemanusiaan. Dengan kata lain, bebas berekspresi, termasuk mengekspresikan kemaksiatan. Kebebasan ini menetapkan bahwa setiap orang dlm perilaku kehidupan pribadinya berhak untuk berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya, sebebas-bebasnya, tanpa boleh ada larangan, baik dari negara atau pihak lain terhadap perilaku yang disukainya.

Ide kebebasan ini telah membolehkan seseorang untuk bergoyang ‘ngebor’, berzina, melakukan praktik homoseksual dan lesbianisme, menjajah suatu negeri, dan melakukan perbuatan apa saja walaupun sangat hina dg sebebas-bebasnya, tanpa ada ikatan atau batasan, tanpa tekanan atau paksaan.

Hukum-hukum Islam sangat bertentangan degan kebebasan berperilaku semacam ini, tidak ada kebebasan berperilaku seperti itu dalam Islam. Seorang Muslim wajib terikat dengan perintah dan larangan Allah SWT dalam seluruh perbuatan dan perilakunya. Dalam konteks zina, misalnya, Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu mendekati zina.” (Qs. al-Israa’ : 32). Allah SWT juga berfirman: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.” (Qs. an-Nuur : 2).
Dengan demikian, ide kebebasan mutlak tanpa batas bagi setiap individu bertentangan secara total dengan hukum-hukum Islam, seluruhnya merupakan ide-ide, peradaban, peraturan, dan undang-undang kufur. Islam hanya mengenal kebebasan yang bukan kemaksiatan.

(ditulis : Ustadz Harry Mukti, Aktivis Hizbut Tahrir Indonesia ; Mantan Artis)
http://www.swaramuslim.net/more.php?id=1790_0_1_0_M
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik
edisi : 020/th.02/Dzulhijjah-Muharram/1427H/2006M


Tanganmu, Ibu…

Maret 22, 2006

Siang sudah sampai pada pertengahan. Dan Ibu begitu anggun menjumpai saya di depan pintu. Bergegas saya rengkuh punggung tangannya, menciumnya lama. Ternyata rindu padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ibu juga mendaratkan kecupan sayang di ubun-ubun ini, lama. “Alhamdulillah, kamu sudah pulang” itu ucapannya kemudian. Begitu masuk ke dalam rumah, saya mendapati ruangan yang sungguh bersih. Sudah lama tidak pulang.

Ba’da Ashar,
“Nak, tolong angkat panci, airnya sudah mendidih”. Cepat saya angkat pancinya dan dahipun berkerut, panci kecil itu diisi setengahnya. “Ah mungkin hanya untuk membuat beberapa gelas teh saja” pikir saya.
“Eh, tolong bawa ember ini ke depan, Ibu mau menyiram”. Sebuah ember putih ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya. Saya memindahkannya ke halaman depan dengan mudahnya. Saya pandangi bunga-bunga peliharaan Ibu. Subur dan terawat. Dari dulu Ibu suka sekali menanam bunga.

“Nak, Ibu baru saja mencuci sarung, peras dulu, abis itu jemur di pagar yah” pinta Ibu.
“Eh, bantu Ibu potong daging ayam” sekilas saya memandang Ibu yang tengah bersusah payah memasak. Tumben Ibu begitu banyak meminta bantuan, biasanya beliau anteng dan cekatan dalam segala hal.
Sesosok wanita muda, sedang menyapu ketika saya masuk rumah sepulang dari ziarah. “Neng..” itu sapanya, kepalanya mengangguk ke arah saya. “Bu, siapa itu ?” tanya saya. “Oh itu yang bantu-bantu Ibu sekarang” pendeknya. Dan saya semakin termangu, dari dulu Ibu paling tidak suka mengeluarkan uang untuk mengupah orang lain dalam pekerjaan rumah tangga. Pantesan rumah terlihat lebih bersih dari bia sanya. Dan, semua pertanyaan itu seakan terjawab ketika saya menemaninya tilawah selepas maghrib. Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk yang terbuat dari kertas koran yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf al-qur’an. Dan mata ini memandang lekat pada jemarinya. Keriput, urat-uratnya menonjol jelas, bukan itu yang membuat saya tertegun.
Tangan itu terus bergetar. Saya berpaling, menyembunyikan bening kristal yang tiba-tiba muncul di kelopak mata. Mungkinkah segala bantuan yang ia minta sejak saya pulang, karena tangannya tak lagi paripurna melakukan banyak hal ?.
“Dingin” bisik saya, sambil beringsut membenamkan kepala di pangkuannya. Ibu masih terus tilawah, sedang tangan kirinya membelai kepala saya. Saya memeluknya, merengkuh banyak kehangatan yang dilimpahkannya tak berhingga.

Adzan isya berkumandang,
Ibu berdiri di samping saya, bersiap menjadi imam. Tak lama suaranya memenuhi udara mushalla kecil rumah. Seperti biasa surat cinta yang dibacanya selalu itu, Ad-Dhuha dan At-Thariq. Usai shalat, saya menunggunya membaca wirid, dan seperti tadi saya pandangi lagi tangannya yg terus bergetar. “Duh Allah, sayangi Mamah” spontan saya memohon. “Neng” suara ibu membuyarkan lamunan itu, kini tangannya terangsur di depan saya, kebiasaan saat selesai shalat, saya rengkuh tangan berkah itu dan menciumnya. “Tangan ibu kenapa ?” tanya saya pelan. Sebelum menjawab, ibu tersenyum manis sekali. “Penyakit orang tua. Sekarang tangan ibu hanya mampu melakukan yang ringan-ringan saja, irit tenaga” tambahnya.

Udara semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap berlatarkan langit biru tak berpenyangga. Saya memandangnya dari teras depan rumah. Ada bulan yang sudah memerak sejak tadi. Malam perlahan beranjak jauh. Dalam hening itu, saya membayangkan senyuman manis Ibu sehabis shalat isya tadi. Apa maksudnya ? Dan mengapa ?, saya seperti melayang. Telah banyak hal yang dipersembahkan tangannya untuk saya. Tangan yang tak pernah mencubit, sejengkel apapun perasaannya menghadapi kenakalan saya. Tangan yang selalu berangsur ke kepala dan membetulkan letak jilbab ketika saya tergesa pergi sekolah. Tangan yang selalu dan selalu mengelus lembut ketika saya mencari kekuatan di pangkuannya saat hati saya bergemuruh. Tangan yang menengadah ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian yang saya jalani. Tangan yang pernah membuat bunga dari pita-pita berwarna dan menyimpannya di meja belajar saya ketika saya masih kecil yang katanya biar saya lebih semangat belajar.

Sewaktu saya baru memasuki bangku kuliah dan harus tinggal jauh darinya, suratnya selalu saja datang. Tulisan tangannya kadang membuat saya mengerutkan dahi, pasalnya beberapa huruf terlihat sama, huruf N dan M nya mirip sekali. Ibu paling suka menulis surat dengan tulisan sambung. Dalam suratnya, selalu Ibu menyisipkan puisi yang diciptakannya sendiri. Ada sebuah puisinya yang saya sukai.
Ibu memang suka menyanjung :

Kau adalah gemerlap bintang di langit malam,
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana,
Bukan!, kau lebih dari itu,
Kau adalah benderang matahari di tiap waktu,
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah Sinopsis semesta .
Itu saja.

Tangan ibunda adalah perpanjangan ‘tangan’ Tuhan. Itu yang saya baca dari sebuah buku. Jika saya renungkan, memang demikian. Tangan seorang ibunda adalah perwujudan banyak hal : Kasih sayang, kesabaran, cinta, ketulusan.. Pernahkah ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja makan untuk sarapan ? Pernahkan ia meminta upah dari tengadah jemari ketika mendoakan anaknya agar diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki hidup ? Pernahkah ia menagih uang atas jerih payah tangannya membereskan tempat tidur kita ? Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan tangannya ? Pernahkah..?

Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, saya masih merajuknya “Bu, ikutlah ke jakarta, biar dekat dengan anak-anak”. “Ah, Allah lebih perkasa di banding kalian, Dia menjaga Ibu dengan baik di sini. Kamu yang seharusnya sering datang, Ibu akan lebih senang” Jawabannya ringan. Tak ada air mata seperti saat-saat dulu melepas saya pergi. Ibu tampak lebih pasrah, menyerahkan semua hanya kepada kehendak Allah. Sebelum pergi, saya merengkuh kembali punggung tangannya, selagi sempat, saya reguk seluruh keikhlasan yang pernah dipersembahkannya untuk saya. Selagi sisa waktu yang saya punya masih ada, tangannya saya ciumi sepenuh takzim. Saya takut, sungguh takut, tak dapati lagi kesempatan meraih tangannya, meletakannya di kening.
***
Bagaimana dengan kalian para sahabat ? Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau ada, belajar dan berkarya. Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau bisa menjadi seseorang yang jadi kebanggaan. Engkau sangat tahu, dibanding siapapun juga. Maka, usah kau tunggu hingga tangannya gemetar, untuk mengajaknya bahagia. Inilah saatnya, inilah masanya.

Ibumu adalah Ibunda darah dagingmu,
Tundukkan mukamu,
Bungkukkan badanmu,
Raih punggung tangan beliau
Ciumlah dalam-dalam,
Hiruplah wewangian cintanya
Dan rasukkan ke dalam kalbumu,
Agar menjadi azimah bagi rizki dan kebahagiaan

(Emha Ainun Najib)

http://www.dudung.net/news/detailnya.php?ArtID=505
note : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu terdekat” (QS.26 : 214).“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman” (QS.51 : 55)

“Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka”. (QS.Maryam : 14)

“Carilah rizki dengan menikah” (Ibnu Abbas)

“Carilah, kejarlah kekayaan itu di dalam nikah” (Ibnu Mas’ud)

“Sesungguhnya kelak kalian akan melakukan perbuatan yang kalian anggap lebih tipis dari rambut, sedangkan kami menganggapnya pada zaman rasulullah SAW termasuk dosa besar.” (Anas ra.)

“Janganlah anda melihat pada kecilnya dosa yang dilakukan, tapi lihatlah kepada kebesaran Allah yang perintah-Nya engkau langgar.” (Bilal ra.)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 020/th.02/Dzulhijjah-Muharram/1426H/2006M


Multi Level Pahala dan Dosa

Maret 21, 2006

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa menyeru kepada petunjuk (kebenaran dan kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala yang di dapat oleh orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan, barang siapa yang menyeru kepada kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR Muslim)

Dalam menjalani kehidupannya, manusia tidak mungkin lepas dari interaksi dengan orang lain. Dalam memenuhi kebutuhannya, dalam berbagi rasa, dalam upaya mencapai tujuannya, dan dalam banyak hal lainnya manusia pasti membutuhkan orang lain. Hal itu karena manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia sangat beragam keadaannya, baik fisik (macam dan etnis) maupun budaya pemikirannya. Dalam beriteraksi dengan sesama, manusia harus memperhatikan aturan-aturan dan norma-norma yang ada dalam masyarakat tersebut.

Meskipun terdapat norma dan aturan dalam sebuah masyarakat, tidak jarang masih didapati berbagai macam perilaku menyimpang, yang kadang hanya ditimbulkan oleh segelintir orang dari suatu masyarakat, yang kemudian berkembang meluas karena perilaku itu diikuti dan dicontoh oleh sebagian yang lain. Di samping itu, ada juga sebagian orang yang tampil di masyarakat sebagai pembaharu, atau sebagai orang yang memberikan contoh yang baik dan menganjurkannya.

Dua kelompok tersebut adalah sedikit gambaran tentang beragamnya anggota masyarakat. Namun, yang perlu diperhatikan dari hal itu adalah apa pun yang dihasilkan oleh seseorang dalam masyarakat, ditinjau dari sisi pandang Islam, maka orang tersebut bertanggung jawab terhadap perilakunya dan bertanggung jawab juga apabila ada yang mencontoh dan mengikuti perilakunya itu. Hadis di atas menerangkan bahwa orang yang menganjurkan kebaikan akan mendapatkan pahala ditambah lagi pahala orang yang mengikuti anjurannya itu tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya sedikit pun. Sebaliknya, orang yang menyeru kepada kejahatan akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya. Jadi, dari hadis di atas terkandung pengertian sebagai berikut.

1. Orang yang menjadi penyebab dilakukannya suatu perbuatan, dan orang yang melakukan perbuatan tsb mempunyai nilai yang sama, baik dalam pahala maupun dosa.

2. Seorang muslim harus memperhatikan akhir dari segala sesuatu dan nilai-nilai amalnya. Sehingga, dia akan berusaha berbuat baik agar menjadi suri teladan yang baik.

3. Orang muslim hendaklah menghindari seruan-seruan yang tidak baik dan menjauhi bergaul dengan orang (lingkungan) yang tidak baik, sebab ia ikut bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan.

4. Orang yang menjadi penyebab dikerjakannya suatu perbuatan baik akan memperoleh pahala yang berlipat ganda, sebagaimana penyebab dikerjakannya perbuatan jahat juga akan mendapat siksaan yang berlipat ganda.

Rasulullah saw. juga bersabda, “Barang siapa membuat suatu hal yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sepeninggalnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa membuat hal yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya sepeninggalnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR Muslim).
Beliau mengatakan hal itu tatkala para sahabat sedang berada bersamanya pada siang hari. Tiba-tiba datang sekelompok kaum dalam keadaan telanjang dan hanya memakai kain bergaris-garis yang terbuat dari bulu dengan menggantungkan pedang di leher-leher mereka. Mereka itu berasal dari Mudhar. Ketika melihat kemiskinan yang mereka alami, wajah Rasulullah saw. berubah.
Kemudian, setelah mengerjakan salat, beliau berkhotbah. Setelah beliau membacakan dua ayat tentang takwa, kemudian bersabda, “Ada seseorang yang menyedekahkan sebagian dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, satu sha’ gandum, satu sha’ kurma, atau meskipun hanya dengan setengah biji kurma.” Mendengar hal itu, kemudian datanglah seorang sahabat dari kaum Anshar dengan membawa satu pundi yang tangannya hampir tidak mampu mengangkatnya, bahkan tidak mampu lagi. Kemudian, orang-orang lain pun mengikutinya hingga terkumpullah menjadi dua gundukan besar yang terdiri dari makanan dan pakaian. Jadi, seorang dari kaum Anshar yang mengawali menyedekahkan sebagian hartanya itu akan mendapatkan pahala yang banyak karena orang-orang akhirnya mengikuti amal kebaikan yang ia lakukan itu.
Sebaliknya, orang yang mengawali perbuatan jahat akan mendapat dosa yang sangat banyak jika ada orang yang mengikutinya, karena dia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya. Hal ini seperti diterangkan dalam sebuah hadis, dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya Nabi saw. bersabda, “Tidak satu jiwa pun terbunuh dengan penganiayaan, melainkan putra Nabi Adam a.s. yang pertama akan mendapatkan bagian dosa dari penumpahan darah itu. Sebab, ia adalah orang yang pertama kali melakukan pembunuhan.” (Muttafaq ‘alaih).

Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa sekecil apa pun kebaikan dan kejahatan, hal itu bisa berkembang menjadi besar. Sebab, orang yang melakukan sesuatu, tanggung jawabnya tidak sebatas pada apa yang ia lakukan saja. Tetapi, dia juga harus bertanggung jawab apabila ada yang mengikuti perbuatan dan perilakunya, baik perilaku itu berupa kebaikan maupun kejahatan.

Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah SWT agar memberikan kekuatan kepada kita, sehingga kita mampu mengerjakan kebaikan dan menganjurkannya, dan agar kita mampu menghindari perbuatan kejahatan, apalagi sampai memberikan contoh yang tidak baik kepada orang lain.

http://www.alislam.or.id/comments.php?id=1924_0_4_0_C

Datang Dan Pergi

Kehidupan yang penuh tantangan sangatlah berat untuk dijalani, mulai dari ketika kita lahir hingga kembali lagi ke pangkuan-Nya. Kehidupan yang penuh tantangan sangatlah berat untuk dijalani, mulai dari ketika kita lahir hingga kembali lagi ke pangkuan-Nya . Seorang ahli hikmah (hukama) menulis dalam kata-kata hikmahnya: “Kedatangan kita di dunia, begitu keluar dari rahim ibunda, disambut senyum riang, bahkan gelak tawa. Semua orang terutama sanak saudara, bergembira ria; sedangkan kita menangis menjerit-jerit.

Apakah kelak ketika kita meninggalkan dunia, keadaan akan tetap sama. Orang lain terbahak-bahak mengiringi kepergiaan kita. Mereka senang karena ketiadaan kita. Mereka merasa bebas dari kekejian dan kezaliman yang kita kerjakan selama hidup; sedangkan kita sendiri menangis, pedih-pilu karena tak punya amal kebaikan untuk bekal di akhirat dan takut menghadapi azab Allah. Alangkah baiknya apabila keadaan terbalik seratus delapan puluh derajat; ketika mati, senyum tersungging di bibir kita, karena optimis dengan amal kebajikan yang kita kerjakan tatkala hidup, akan menjadi modal menempuh alam kekal yang penuh rahmat dan ampunan Allah; sedangkan orang lain meratapi kepergian kita dan kebaikan kita.”

http://www.pesantrenonline.com/MutiaraShubuh/detailMS.php3
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.005/th.01/Jumada Al Tsani 1425H/2004M


Kekuatan Ummat Islam

Maret 21, 2006

Ummat Islam kuat bukan karena senjata, bukan karena jumlah orang, bukan karena teknologi atau ekonomi. Ummat Islam kuat karena MELAKSANAKAN SEGALA PERINTAH ALLAH SWT. Sejarah telah membuktikan. Penyerahan kunci Jerusalem oleh pendeta kristen, Sophronius, pada tahun 16H (636/637 M) kepada seseorang yang tanda-tandanya telah tertulis di dalam kitab mereka, Umar bin Khathab ra. Alim ulama menyampaikan bahwa 1 bulan perjalanan sebelum para Sahabat yang terdiri dari beberapa jema’ah besar dan dipimpin oleh Khalid bin Walid, Abu Ubaidah dan Amr bin Al-Ash ra. sampai ke Jerusalem mereka sudah merasa gentar. Mereka mengirim mata-mata untuk melihat keadaan pasukan Islam. Senjata, perbekalan dan jumlahnya.

Setelah mendapatkan laporan bahwa jumlah pasukan, senjata dan perbekalan pasukan Islam tidak sebanyak yang mereka miliki maka panglima perang mereka merasa yakin masih bisa mengalahkan tentara Islam. Tapi pendeta mereka menahan mereka dengan meminta supaya mereka mengirimkan mata-mata lagi untuk melihat apa yang menjadi kebiasaan para Sahabat. Setelah mata-mata tersebut kembali pendeta itu menanyakan, apa yang biasa mereka lakukan di siang hari, dan apa yang selalu mereka lakukan di malam hari. Mata-mata itu berkata, “Di siang hari mereka menjumpai orang dan menyerunya kepada Agama mereka dan Tuhan mereka dan di malam hari mereka berdiri dan bersujud menyembah Tuhan mereka”. Pendeta itu mengatakan, “Kalau begitu kita tidak akan mungkin dapat mengalahkan mereka”. “Bagaimana kita tidak dapat mengalahkan mereka, pasukan kita lebih banyak dari mereka, senjata kita lebih baik dari milik mereka”, kata panglima perang. “Kalian tidak akan dapat mengalahkan mereka”, kata pendeta tersebut. “Adakah cara untuk mengalahkan mereka”, tanya panglima perang lagi. Pendeta tersebut berkata, “Kalian tidak dapat mengalahkan mereka dan itu sudah tertulis di dalam kitab kita bahwa mereka akan menguasai negeri ini kecuali…”. “Apa?”, tanya panglima perang itu. “Kecuali kalau hati mereka telah cenderung kepada 2 perkara, harta benda dunia dan wanita. Dan kita akan uji mereka dengan 2 perkara itu”, kata sang pendeta itu lagi.

Maka dikirimlah satu utusan ke daerah di mana pasukan Islam bermarkas. Mereka membuat rencana. Di antara perkemahan dan tempat pasukan Islam melakukan sholat mereka tebarkan harta, emas dan intan berlian dan mereka memajang anak-anak gadis mereka dalam keadaan setengah telanjang supaya orang Islam tertarik dan menjadi lemah. Mereka punya makar tetapi Allah SWT juga mempunyai makar. Allah SWT telah mengilhamkan kepada panglima perang Muslim untuk memberikan nasihat (targhib) kepada pasukannya. Alim ulama menerangkan bahwa. Panglima perang pasukan Muslim hanya menyampaikan satu ayat Al-Qur’an saja, ayat 30 surah An-Nur.
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Hanya itu. Tidak lebih dari itu.

Mereka yang memang dalam kesehariannya sudah mengamalkan apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an yang menjadi perintah Allah, setelah mendengar apa yang disampaikan oleh pimpinan mereka maka mereka bertambah-tambah lagi menjaga dan melaksana kan perintah Allah ta’ala tersebut. Sehingga ketika mereka melalui jalan yang telah disebar di atasnya harta benda dan anak-anak gadis telanjang berbaris tidak menyebabkan mereka terfitnah.

Ketika dikumpulkan semua pemilik harta dan gadis-gadis pilihan tersebut untuk dimintai keterangan maka tidak ada satu harta-pun yang telah mereka tebarkan hilang dan anak-anak gadis itu diminta agar tidak malu mengatakan apakah mereka telah diganggu, dilihat atau bahkan dizinahi… maka mereka berkata, “Kepada siapa kami dipertontonkan? Apakah mereka itu batu atau apa? jangankan untuk memegang tubuh kami melihat dengan ujung matapun tidak!”.

Begitulah keadaan orang-orang dulu. Allah SWT menurunkan pertolongan dan memberikan kekuatan kepada mereka bukan karena mereka banyak, bukan karena mereka kenyang, bukan karena mereka kaya, bukan karena mereka canggih, tapi karena mereka melaksanakan perintah Allah SWT. Satu lagi pelajaran dari kisah tersebut. Sholat berjema’ah di masjid adalah syi’ar kalau kita fikir bukankah mereka cukup sholat di dekat mereka berkemah, mengapa mereka pergi ketempat lain untuk sholat? Ketahuilah bergeraknya seorang muslim kepada Allah SWT telah cukup untuk memberi kan pengaruh kepada lingkungan bahkan alam semesta ini. Segala permasalahan ummat yang ada sekarang hanya dan hanya akan selesai jika setiap kita laksanakan semua perintah Allah SWT. Dan semua itu berawal dari masalah Iman bukan karena masalah yang lain. Alim ulama telah memberitahukan bahwa. IMAN AKAN DIDAPAT HA NYA DENGAN MUJAHADAH. IMAN AKAN TERSEBAR HANYA DENGAN DA’WAH. Allah SWT telah menyampaikan bahwa sesungguhnya orang-orang yang bermujahadah bagi mereka pasti dan pasti Kami berikan jalan-jalan hidayah. Jadi. ‘Izzah ummat Islam hanya akan kembali apabila tiap kita dan seluruh ummat Islam bergerak. Bergerak sebagaimana “assabiquunal awwaluun” bergerak.
Hanya dengan Da’wah dan Jihad -titik-

Ajak saudara muslim kita kepada Allah SWT saja. (jangan ajak dari satu makhluk ke makhluk yang lain)

http://go.to/sahabatnabi

Taubat Seorang Wanita Buta

Saleh Al-Muri bercerita, bahwa dia pernah melihat seorang perempuan tua memakai baju kasar di Mihrab Daud Alaihissalam. Perempuan yang telah buta matanya itu sedang mengerjakan sholat sambil menangis terisak-isak. Setelah selesai sholat dia mengangkat wajahnya ke langit dan berdoa: ”Wahai Tuhan Engkaulah tempatku memohon dan Pelindungku dalam hidup. Engkaulah penjamin dan pembimbingku dalam mati. Wahai Yang Maha Mengetahui perkara yang tersembunyi dan rahasia, serta setiap getaran batin tidak ada Raja bagiku selain Engkau yang kuharap dapat meng hindarkan bencana yang dahsyat.”

Saleh Al-Muri memberi salam kepada perempuan tersebut dan bertanya: ”Wahai Ibu! Apa yang menyebabkan hilangnya penglihatanmu?”. ”Tangisku yang disebabkan sedihnya hatiku karena terlalu banyaknya maksiatku kepada-Nya, dan terlalu sedikitnya ingatan dan pengabdianku kepada-Nya. Jika Dia mengampunkan aku dan menggantinya di akhirat nanti, adalah lebih baik dari kedua mataku ini. Jika Dia tidak mengampunkan aku, buat apa mata di dunia tetapi akan dibakar di neraka nanti?” Kata perempuan tua itu.

Saleh pun ikut menangis karena sangat terharu mendengar hujjah wanita yang mengharukan itu.
”Wahai Saleh! Sudikah kiranya engkau membacakan sesuatu dari ayat Al-Quran un tukku, karena aku sudah sangat rindu kepadanya.” Pinta perempuan itu.
Lalu Saleh membacakan ayat yang artinya: ”Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya.” (Al-An’am: 91)

”Wahai Saleh, siapakah yang berkhidmat kepada-Nya dengan sebenarnya?” Kata perempuan itu lalu menjerit kuat-kuat dengan jeritan yang bisa menggoncangkan hati orang yang mendengar. Dia jatuh ke bumi dan meninggal dunia seketika itu juga.
Pada suatu malam Saleh Al-Muri bermimpi berjumpa dengan perempuan tua itu dalam keadaan memakai baju yang sangat bagus. Dalam mimpi tersebut Saleh bertanya: ”Bagaimana keadaanmu sekarang?”. Perempuan itu menjawab: ”Lebih baik rohku di cabut, aku didudukkan di hadapan-Nya dan berkata: ”Selamat datang wahai orang yang mati akibat terlalu sedih karena merasa sedikitnya khidmatnya kepada-Ku.”

(dari : Milis Padhang Mbulan.com)
http://www.geocities.com/ahmad_dir/tarbiyah/wanitabuta.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.005/th.01/Jumada Al Tsani 1425H/2004M


Pada Kemana Mereka ?

Maret 21, 2006

Malam itu di sebuah masjid ada pengajian dalam rangka memperingati Isra Mi’raj nabi Muhammad SAW. Cukup ramai jamaah yang datang pada pengajian itu, ratusan orang lebih. Salah satu sebabnya adalah penceramahnya seorang ulama kondang yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat sekitar. Disamping cara penyampaiannya bagus, masuk akal, juga kadang diselingi ‘guyonan’ ringan yang membuat mata jadi tidak cepat mengantuk. Materi ceramah Isra Mi’raj yang intinya adalah diterimanya perintah sholat dari Allah SWT kepada Muhammad SAW diangkat amat menarik oleh sang ulama. Begitu pula ketika membahas masalah sholat wajib, sholat sunnah, khususnya tahajjud, apalagi ketika membahas tentang keutamaan sholat bila dilakukan secara berjamaah di masjid.

Begitu piawai sang ulama, sangat simpatik dalam berdakwah, sehingga jamaah ba nyak yang terpukau dan menyimak (mendengar secara serius) tentang kehebatan peristiwa Isra Mi’raj tersebut, banyak jamaah yang manggut-manggut karena banyak yang menjadi sadar akan kealpaan atau kelalaiannya selama ini, dan terkadang jamaah bisa dibuat ‘geeerrrrr’ pada ketawa ngakak karena ‘guyonan’ sang ulama. Jamaah seperti tersihir oleh daya tarik sang ulama, tak ingin meninggalkan masjid meski hari sudah cukup larut. Hampir semua jamaah ingin menuntaskan dalam mengikuti ceramah tersebut sampai selesai. “Sayang rasanya kalau ditinggalkan, ceramahnya bagus, banyak ilmu kita peroleh, ceramahnya tidak membuat ngantuk. Apalagi suasana ukhuwah seperti ini….wah, sulit bisa kita dapatkan dihari-hari yang lain”, begitu komentar salah seorang jamaah.

Tak terasa telah lewat jam 24.00……
Namun sang ulama masih cukup fit dan bersemangat, jamaah pun masih tetap terpukau. Beberapa orang tua terpaksa tetap mendengar ceramah sembari menggendong anaknya yang tertidur, daripada harus pulang untuk menidurkan anak terlebih dulu “Tanggung ah, toh besok kan hari libur, sekali-sekali pulang malam tak apa kan ?” kata seorang ibu. Rata-rata seperti itulah pendapat yang ada dalam benak para jamaah. Baik para bapak, para ibu maupun para remaja juga anak-anak.

Mendekati pukul 01.00 …….
Akhirnya tuntaslah materi Isra’ Mi’raj yang disampaikan oleh ulama yang amat mempesona tersebut. Setelah ditutup dengan kalimat permohonan maaf bila dalam ceramah ada terselip kalimat atau kata yang salah, kemudian pembacaan sholawat dan do’a, maka sang ulama pun mohon pamit. Para jamaah pun satu per satu mulai meninggalkan tempat untuk pulang ke rumah masing-masing. Umumnya para jamaah pulang sambil berbincang-bincang tentang keterkaguman pada sang ulama, juga materi yang disampaikan benar-benar telah membuka wawasan mereka.

Pukul 02.00 lewat….
Para panitia masih sibuk membereskan kursi-kursi, meja, tenda, sampah-sampah, lampu penerangan, sound system, dan lain sebagainya.

Pukul 03.00 …..
Selesailah pekerjaan beres-beres yang dilakukan oleh panitia. Sebagian besar panitia terus pulang untuk istirahat, hanya satu-dua yang memilih istirahat di masjid sembari menjaga sound system dan peralatan lain yang memerlukan penjagaan.

Ini adalah waktu yang terbaik untuk melakukan doa.
Abu Hurairah mengatakan, bahwa Nabi Muhammad bersabda,
“Pada sepertiga malam, Tuhan ‘turun’ ke langit dunia dan mengumumkan, bahwa barang siapa yang berdoa mendekatkan diri kepadaKu, maka Aku akan penuhi keinginannya, barang siapa yang memohon akan Aku kabulkan permohonannya, barang siapa yang mencari pengampunan, akan Aku ampuni dosanya. – (HR.Bukhari- Muslim).

Para jamaah yang tadi begitu terpukau, manggut-manggut, merasa mendapat ilmu, merasa ingat dari kelalaian selama ini, ternyata sudah pada tertidur lelap. Tak mampu membuka mata yang tadi malam telah digunakan untuk ‘begadang’. Berat nian rasanya membuka mata, menarik selimut, apalagi turun dan mengambil air wudlu untuk bertahajjud.

Pukul 04.00 lebih………
Terdengarlah kumandang adzan dari masjid tersebut untuk memangggil para jamaahnya agar melaksanakan sholat shubuh. “Asholatu Khoirum Minan Nauum……….. Asholatu Khoirum Minan Nauum”. Namun ditunggu sampai selesai sholat sunnat fajar, selesai iqomah, ternyata jamaah yang terkumpul, yang merasa terpanggil untuk datang ke masjid tidak lebih dari 5 ( lima ) orang.

Kemana jamaah yang tadi malam jumlahnya ratusan ?
Kemana jamaah yang tadi malam bilang betapa pentingnya ukhuwah ?
Kemana jamaah yang tadi malam telah sadar akan pentingnya sholat wajib ?
Kemana jamaah yang tadi malam terbuka hatinya untuk mulai melaksanakan sholat berjamaah di masjid ?
Kemana yang tadi malam tertawa ngakak ?

Sudah lupakah pada ayat yang semalam juga disitir oleh sang ulama ini ? Dirikanlah shalat mulai dari matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula) shalat shubuh. Sesungguhnya shalat shubuh itu disaksikan ( oleh malaikat ). (QS. 17:78)

Pada kemana mereka ?
Astaghfirullah al adziiim………..

http://alhikmah.com/contents.php?id=642

” … Janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik daripada orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke syurga dan ampunan dengan izin-Nya … ” (QS Al-Baqarah: 221)

“Bila datang seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya, hendaklah kamu nikahkan dia karena kalau engkau tidak mau menikahkannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (HR.Tirmidzi dan Ahmad)

Dari Ibnu Umar r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda:
“Berbaktilah kepada kedua orang tua kalian, niscaya kelak anak-anak kalian berbakti kepada kalian dan peliharalah kehormatan (istri-istri orang), niscaya kehormatan istri-istri kalian terpelihara.” (HR. Thabarani, hadits hasan)

Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits:
“Nasihatilah para wanita itu baik-baik karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang teratas. Jika engkau berlaku keras dalam meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Akan tetapi jika engkau biarkan ia tentu akan tetap bengkok. Oleh karena itu berikanlah nasihat baik-baik kepada para wanita.” (HR Bukhari dan Muslim)

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 004/th.01/jumada al awwal 1425H/2004M


Penjelasan (bag.2) Mengenai Surat berantai khurafat dari “Sheikh Ahmad”

Maret 21, 2006

[oleh : Asyraf Wajdi – majalah DAKWAH, Mei 1978]

Majlis Fatwa Kebangsaan 1978 mengesahkan surat ini (surat palsu sheik Ahmad) ditulis oleh paderi-paderi biara Blessings of St.Antonio, Texas, USA pada tahun 1974/75 untuk mengelirukan umat Islam. Penulis asal surat ini ialah mendiang Father Francis Jose de Villa, seorang paderi Katolik dari Argentina berketurunan Arab-Syria (bekas penganut Islam), nama asalnya Mohamed Elias Skanbeg). Dia pernah bertugas di Instituto Sacristo Convocione Reliogioso di Brindisi, Itali sebagai mubaligh katolik antara tahun 1966-1968 di bawah Cardinal Agostino Casaroli. Father de Villa meninggal dunia pada tahun 1980 di Texas dalam usia 54 tahun.

Menurut Allahyarham Sayyed Mohamed Raisuddin Al-Hashimi Al-Quraisy, penjaga makam Rasulullah SAW di Madinah antara tahun 1967-hingga 1979, tidak ada penjaga makam bernama Sheik Ahmad antara tahun 1881 hingga 1979.

Penjaga makam di Madinah ialah :
Sayyed Turki Abu Mohamed Abdul Razaque Al-Hashimi Al-Quraisy (1881-meninggal dunia 1932), anaknya Sayyed Hashim Abu Faisal Abdul Jalil Al-Hashimi Al-Quraisy (1932-meninggal dunia 1934), adiknya Sayyed Abdul Karim Mutawwi Al-Hashimi Al-Quraisy (1934-bersara 1966). Dan anak saudaranya Sayyed Mohamed Raisuddin bin Mohamed bin Abdul Razaque Al-Hashimi Al-Quraisyi (1967-meninggal dunia 1979).

Bekas menteri besar Perak Allahyarham Tan Sri Mohamed Ghazali Jawi bertaubat dan mengucap kalimat syahadat sekali lagi di hadapan Kadi Daerah Kinta pada tahun 1976 setelah beliau mengaku pernah menerima dan mengirim surat ini kepada dua puluh orang kawannya. Peristiwa ini terjadi tidak lama sebelum beliau meninggal dunia. Bekas Kadi Daerah Kinta meminta beliau mengucap ulang kalimat syahadat karena khawatir beliau telah gugur syahadatnya (murtad). Allahyarham Datuk Shafawi Mufti Selangor mengisytiharkan bagi pihak Majlis Fatwa Kebangsaan bahwa barang siapa dengan sengaja menyebarkan risalah ini adalah “melakukan syirik dan tidak mustahil jatuh murtad melainkan dia bertaubat dan menarik balik perbuatannya itu terhadap siapa yang telah dikirimi risalah ini”. (Surat Keputusan Majlis Fatwa Kebangsaan Malaysia Bil.7/78/I). Keputusan ini diiktiraf oleh Majlis Raja-raja Melayu dalam mesyuaratnya di Pekan pada 16 Oktober 1978, dipengerusikan oleh Almarhum Sultan Idris Shah, Perak.

Menurut Majlis Fatwa Kebangsaan 1978, menyebar surat ini “termasuk dalam menyekutukan Allah S.W.T. dengan syirik yang amat besar (shirk-i-kubra) serta mempermainkan Rasulullah S.A.W. serta menyebar dengan niat tidak baik kekeliruan dan muslihat di kalangan umat Islam.” Dan lagi, “surat ini menggambarkan kebohongan yang amat besar terhadap junjungan kita nabi Muhammad SAW. serta ajaran baginda karena menggambarkan SHEIK AHMAD sebagai perawi hadith sesudah wafatnya baginda”. Allahyarham Datuk Sheik-ul-Islam Mufti Kedah dalam Risalah Al-Aman 1983/Bil 8, surat ini “paling sedikit menimbulkan syirik kecil dan murtad secara tidak sengaja bisa keluar dari Islam, serta syirik yang besar jika sengaja maka taubatnya tidak sah melainkan dibuat dengan sesungguhnya. Adapun jika seseorang itu menyalin surat ini kepada umat Islam lain, jatuhlah hukum atasnya mentablighkan perkara syirik dan khurafat. Sesungguhnya ulama sependapat perbuatan ini sungguh besar syiriknya dan bisa mengakibatkan murtad walaupun tanpa disadari si pengirim”.

http://www.geocities.com/bkinrara4/berantai.htm

Note :
– Penjelasan di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 004/th.01/jumada al awwal 1425H/2004M
– melihat surat wasiat palsu sheikh ahmad, klik di bawah ini :
http://labbaik.multiply.com/photos/photo/7/2