S e t a n

Januari 30, 2008

Akhir-akhir ini kisah-kisah misteri/mistik marak sekali ditayangkan di televisi. Hampir setiap malam pemirsa disuguhi kisah dan cerita misteri/mistik dalam bentuk dan cara yang berbeda-beda. Seolah-olah ‘kisah dunia lain itu lebih penting dari dunia nyata yang kita hadapi sehari-hari. Penayangan kisah-kisah misteri dan mistik ini sudah sangat berlebihan, sangat mengganggu dan mempengaruhi jiwa masyarakat. Saking keterlaluannya sampai mengundang keprihatinan para ulama dan para tokoh nasional. Mereka telah menghimbau dan melayangkan surat supaya insan pertelevisian kita menghentikan tayangan-tayangan tersebut, tetapi tampaknya tidak digubris. Buktinya penayangan kisah-kisah misteri itu malah makin menjadi-jadi. Jika dikaitkan dengan peran setan, agaknya ini adalah salah satu daya upaya setan untuk merusak akidah umat manusia, agar manusia lebih takut kepada setan daripada kepada Allah, dan agar manusia mengabdi kepada setan demi kejayaan setan.

Apa Itu Setan ?
Setan (Syaithan) berasal dari kata kerja syathana yang mengandung arti menyalahi, menjauhi. Setan artinya pembangkang pendurhaka. Secara istilah, setan adalah makhluk durhaka yang perbuatannya selalu menyesatkan dan menghalangi dari jalan kebenaran (al-haq). Makhluk durhaka seperti ini bisa dari bangsa jin dan manusia (QS.114: 1-6 / QS. 6:112). Makhluk yang pertama kali durhaka kepada Allah adalah iblis. Maka iblis itu disebut setan. Keturunan iblis yang durhaka juga disebut setan (QS.2 : 36 / 4 : 118).

Dalam menggoda manusia, setan dari bangsa jin itu masuk ke dalam diri manusia, membisikkan sesuatu yang jahat dan membangkitkan nafsu yang rendah (syahwat). Selain menggoda dari dalam diri manusia, setan juga menjadikan wanita, harta, tahta, pangkat dan kesenangan duniawi lain sebagai umpan/perangkapnya. Dihiasinya kesenangan duniawi itu sedemikian menarik hingga manusia tergoda, terlena, tertutup mata hatinya, lalu memandang semua yang haram jadi halal. Akhirnya manusia terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan/kemungkaran. Maka manusia yang telah mengikuti ajakan setan, menjadi hamba setan, dalam al-Quran juga di sebut setan (QS.38 : 37-38) dan golongan mereka juga disebut golongan setan (hizbusy-syaithan – QS.58 : 19).
Baik setan dari bangsa jin maupun dari bangsa manusia terus menerus berupaya untuk menyesatkan manusia, mereka bahu membahu untuk menyebarkan kemungkaran dan kemaksiatan. Mereka kuasai berbagai media, termasuk televisi, mereka sebarkan kisah-kisah misteri dan kemaksiatan demi uang dan kesenangan duniawi tanpa peduli umat manusia rusak atau tidak akidahnya dan akhlaknya. Itulah sumpah setan di hadapan Allah untuk menggoda manusia dari berbagai sudut yang bisa mereka masuki. (QS.7:17).

Mudharat Tayangan Setan
Dalam Islam sangat jelas bahwa penayangan seperti itu diharamkan, karena :

Pertama, tayangan mistik seperti itu mempersubur kemusyrikan, membuat manusia lebih takut kepada setan, khurafat dan tahyul daripada takut kepada Allah. Padahal tidak ada yang bisa memberi manfaat dan mudharat di dunia ini kecuali hanya Allah (QS.39 : 38), tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya dari Allah.

Kedua, tayangan mistik seperti itu adalah bentuk pembodohan masyarakat, hanya membuat bangsa semakin jumud dan terbelakang.

Ketiga, tayangan seperti itu sarat dengan praktek perdukunan. Dengan maraknya penayangan kisah-kisah mistik, maka praktek-praktek perdukunan juga semakin marak. Sedangkan perdukunan juga diharamkan dalam Islam.

Dan keempat, rezeki yang dihasilkan dari usaha yang diharamkan, maka rezeki itu juga haram dan tidak diberkahi Allah. Oleh karenanya penayangan kemusyrikan itu mestilah dihilangkan karena tidak ada manfaatnya selain mudharat dunia-akhirat.

Hikmah Diciptakannya Setan
Al Quran menjelaskan, Allah SWT menciptakan alam semesta dan semua yang ada di dalamnya, satu pun tidak ada yang batil atau sia-sia (QS Ali Imran : 191). Oleh karena itu Allah menciptakan iblis atau makhluk yang disebut setan itu, bila dilihat dari sisi nilai ibadah, pada hakikatnya juga ada hikmahnya.
Imam al-Ghazali pernah menyatakan; jika ingin melihat kesalahan/kelemahan kita, carilah pada sahabat karib kita, karena sahabat kitalah yang tahu kesalahan/kelemahan kita. Jika kita tidak mendapatkannya pada sahabat kita, carilah pada musuh kita, karena musuh kita itu paling tahu kesalahan/kelemahan kita. Sifat mu suh adalah selalu mencari kelemahan lawan untuk dijatuhkan.

Demikian pula setan, dia selalu mencari kesalahan/kelemahan orang-orang beriman untuk kemudian digelincirkan dengan segala macam cara. Jika kita telah mengetahui kesalahan/kelemahan kita, entah dari kawan, lawan, bahkan dari setan, lalu kita memperbaiki diri, insya Allah kita akan menjadi orang baik dan sukses. Jadi, kalau kita berpikir positif, ada juga hikmahnya setan itu buat orang-orang beriman.

Lebih rinci, di antara hikmah dari penciptaan setan ialah :

1. Untuk menguji keimanan dan komitmen manusia beriman terhadap perintah Allah. Karena setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah pasti akan diuji. (QS.29 : 2). Jika dengan godaan setan seorang mukmin tetap istiqamah dengan keimanannya, maka derajatnya akan ditinggikan oleh Allah dan hidupnya akan bahagia. Tetapi jika ia tergoda dan mengikuti ajakan setan, dera jatnya akan jatuh, hina kedudukannya dan dipersulit hidupnya oleh Allah. (QS.41 : 30-31).

2. Menguji keikhlasan manusia beriman dalam mengabdi kepada Allah. Allah SWT menjelaskan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia tidak lain supaya mereka mengabdi kepada-Nya (QS.51 : 56). Kemudian setan datang menggoda manusia, membangkit-bangkitkan syahwat kepada kenikmatan duniawi, membisikkan ke dalam hatinya angan-angan kosong dan keraguan, supaya manusia lupa terhadap tujuan dan tugas hidupnya di dunia. Jika manusia tetap sadar akan tujuan dan tugas hidupnya di dunia, dia akan tetap ridha menjadi hamba Allah dan mengabdi kepada-Nya. Terhadap hamba Allah seperti ini, setan tidak akan mampu menggodanya (QS. 15 : 40). Tetapi jika manusia tergoda, pada giliranya ia akan menjadi hamba setan.

3. Untuk meningkatkan perjuangan di jalan Allah. Sebab tanpa ada setan yang memusuhi kebenaran, maka tidak akan ada semangat perjuangan (jihad) untuk mempertahankan kebenaran. Sedangkan jihad di jalan Allah juga merupakan bukti penting manusia beriman dan ridha sebagai hamba Allah.

4. Allah hendak memberi pahala yang lebih besar kepada para hamba-Nya. Semakin besar godaan setan kepada manusia dan dia mampu menghadapinya dengan baik, maka semakin besar pahalanya di sisi Allah (QS.3 : 195).

5. Agar manusia waspada setiap saat, selalu memperbaiki kesalahan, meningkatkan kualitas ibadah dengan bertaqarrub kepada Allah. Karena setan senantiasa mengintai kelengahan manusia. Sekejap saja manusia lengah, setan akan masuk, lalu mengacaukan hati dan syahwat. Tapi orang yang selalu waspada, akan senantiasa ingat kepada Allah sehingga setan tidak punya kesempatan untuk mengganggunya.

Jadi, bagi orang yang sudah kuat imannya, gangguan setan itu tidak akan merusak ibadahnya. tetapi malah mempertinggi kualitas iman dan ibadahnya. Masalahnya, tayangan-tayangan setan yang makin marak di televisi, tidak ditonton oleh mereka yang telah kuat imannya, melainkan oleh masyarakat dari berbagai lapisan umur dan kadar iman yang terbanyak masih memerlukan bimbingan. Bagi mereka ini, tayangan-tayangan itu sangat kontra produktif, bahkan bisa mendangkalkan iman mereka. Apakah ini tidak terpikirkan oleh insan pertelevisian kita ?

http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=2368_0_4_0_M

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) jika Dia disekutukan dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya” (QS.An-Nisa : 48)
“Sesungguhnya syirik adalah kedzaliman yang besar” (QS.Lukmman : 13).
“Sesungguhnya barangsiapa menyekutukan Allah, maka Allah telah mengharamkan baginya surga, dan tempat tinggalnya adalah neraka” (QS.Al Maidah : 72).

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.015/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1426H/2005M


Tak Ada Kompromi Dengan Setan

Januari 30, 2008

SEEKOR kucing mendadak bertingkah pada saat Nabi SAW sedang menjalankan shalat pada suatu malam. Suara meongnya terdengar memekakkan telinga. Si kucing itu mencoba menjahili Rasulullah dengan tujuan agar konsentrasi Beliau terganggu. Lalu ditangkaplah kucing tadi, dan ternyata merupakan jelmaan setan. Semula Nabi SAW hendak mengikat setan yang berwujud kucing itu pada sebuah tiang di masjid sampai menjelang pagi agar para sahabat dapat melihatnya. Tapi, Rasulullah SAW teringat apa yang dikatakan Nabi Sulaiman :”Tuhan, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun jua sesudahku. Sesung guhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Ash-Shad:35). Demikianlah menurut riwayat Abdurrazzaq.

Rupanya, setan memang tak kenal putus asa untuk selalu mengganggu Nabi SAW. Padahal, Al-Qadhi Iyadh berkata :
“Ketahuilah, bahwa seluruh umat berijma’ (sepakat) kalau Nabi SAW itu dilindungi dan terpelihara, serta disucikan Allah dari segala macam gangguan dan bisikan setan, baik tubuhnya maupun hatinya.”
Simak saja, sebuah hadist yang diriwayatkan Abu Darda’, iblis datang membawa nyala api yang hendak dilemparkan ke wajah Rasulullah SAW ketika sedang shalat. Maka beliau bertaawudz, meminta perlindungan Allah dari kejahatan makhluk yang terkutuk itu. Begitu juga ketika Nabi SAW sedang melakukan perjalanan Isra’ pada malam hari, Beliau dihadang oleh iblis dengan api. Maka Jibril mengajarkan kepada Rasulullah doa yang langsung dibacanya. Padamlah api itu lalu rontok menjadi abu yang bertebaran, sebagaimana yang diriwayatkan Malik dalam Al-Muwaththa. Hadist serupa juga diriwayatkan ‘Aisyah dan lain-lainnya. Dalam beberapa riwayat disebutkan, bukan sekali dua kali setan mencoba menghadangnya untuk memadamkan cahaya dan mengganggunya di berbagai tempat. Namun setelah gagal dan putus asa, mencoba mengganggunya di waktu beliau sedang shalat. Dan pernah ditangkap dan ditindak oleh Nabi SAW.

Oleh karena setan tidak bisa mengganggu secara langsung, maka ia memperalat musuh-musuh Rasulullah. Seperti yang termaktub dalam sebuah riwayat, bahwa pada malam hijrah Nabi SAW, Quraisy berembuk dan bersekongkol merencanakan pembunuhan Beliau dalam sebuah pertemuan. Ada lagi, suatu kali, iblis menyamar sebagai orang tua yang datang dari Najed. Di lain kesempatan, iblis menyamar sebagai Suraqah bin Malik waktu perang Badar. Tentang masalah ini, Allah berfirman: “Dan ketika setan menjadikan mereka yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya Aku ini adalah pelindungmu. Maka tatkala kedua pasukan itu telah saling berhadapan, setan itu balik ke belakang seraya berkata: Sesungguhnya aku lepas darimu, sesunguhnya aku dapat melihat apa yang tidak dapat kau lihat, sesungguhnya aku takut kepada Allah dan Allah itu sangat keras siksanya.” (Al-Anfal: 48).

Sebelum peristiwa itu, yakni pada waktu berlangsungnya baiat yang populer dalam sejarah disebut Baitul Aqabah sebelum Nabi SAW hijrah. Untuk menghadapi seabrek godaan setan itu, Nabi SAW tetap terlindung dan terpelihara dari segala macam rongrongan dan kejahatan. Misalnya: tatkala Nabi SAW sedang minum obat, ada yang berkata kepadanya :”Kiranya penyakit yang dideritanya itu sejenis paru-paru.” Beliau spontan menjawab : “Tidak, itulah dari setan, sedang setan tidak dibiarkan oleh Allah berbuat sesuatu terhadap diriku.”

Di sisi lain, mungkin muncul perta nyaan bagaimana dengan firman Allah :”Dan jika engkau ditimpa sesuatu godaan, maka berlindunglah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-A’raf: 200). Maksud ayat itu bukan tertuju khusus kepada Nabi SAW, tapi kepada umatnya, seperti perintah-perintah lain, yang menurut susunan kali matnya seakan-akan dihadapkan kepada Nabi SAW. Namun yang dituju adalah umatnya.
Demikian pula firman Allah :”Dan Kami mengutus sebelum kamu seorang Rasul pun, dan tidak pula seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan-keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, Allah menguatkan ayat-ayat-Nya, dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.”
Dalam menafsirkan ayat yang satu ini, banyak ulama tergelincir karena kalimat (tamanna) diartikan membaca. Sebagai dalilnya dikemukakan kisah Al-Gharanieq yang bohong dan isapan jempol semata, baik dilihat dari segi akal maupun naqli.

Tahukah anda apakah kisah Al-Gharanieq itu ? Itu sebuah kisah yang sengaja diselundupkan oleh musuh-musuh Islam, yang kemudian termakan oleh sebagian orang. Konon, Nabi SAW pernah membaca surat Wannajmi hingga sampai ke ayat :”Pantaskah kalian menganggap Al-Latta, Al-Uzza, dan Al-Manat ketiganya yang paling kemudian. Lalu meluncurlah dari mulut Nabi SAW sebagai tambahan kalimat-kalimat : “Itulah berhala-berhala tinggi yang diharapkan syafaatnya.” Setelah itu, maka Nabi SAW sujud dan diikuti oleh orang-orang Islam, serta berhala-berhalanya”.
Dalam riwayat yang lain, setanlah yang menginginkan kata-kata itu melalui lidah Nabi SAW karena Beliau menginginkan sesuatu yang dapat mendekatkan dirinya kepada kaumnya. Maka, setelah kejadian itu hati beliau menjadi sedih, dan Allah menurunkan ayat tersebut untuk menghibur kegundahan hati Nabi SAW. Demikianlah kisah-kisah bohong yang sengaja dihembuskan oleh musuh-musuh Islam mengenai kisah Al-Gharanieq.
Penafsiran ayat itu yang benar dan sah seperti yang diuraikan oleh As-Syaikh Abdul Aziz Ab-Dabbagh, bahwa Allah tidak mengutus seorang Rasul atau Nabi melainkan Rasul itu mengharapkan sepenuhnya dan menginginkan dengan sungguh-sungguh agar umatnya beriman. Sebagaimana firman Allah :”Maka, barangkali kamu membinasakan dirimu, karena bersedih hati, sesudah mereka berpaling sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.” (Al-Kahfi: 6).

Dalam surat Yunus 103 :”Dan sebagian besar manusia tidak beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.” Juga di dalam surat Yunus 99 :”Apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya.”
Umat yang dihadapi para Nabi dan Rasul itu berbeda-beda, seperti firman Allah :”Akan tetapi mereka berselisih, maka diantara mereka ada yang beriman, dan ada diantaranya yang kafir.” (Al-Baqarah: 253).
Begitulah polah tingkah setan yang sudah berjanji kepada Allah untuk selalu menggoda manusia terus berlanjut sampai kiamat tiba. Sebuah hadist dari Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi SAW bersabda :
“Tak seorang pun diantara kalian, melainkan Allah mengikut-sertakan kepadanya seorang jin dan malaikat.” Ada sahabat yang bertanya :”Apakah engkau juga demikian, ya Rasulullah ?” Nabi menjawab, “Juga aku. Hanya saja Allah menolongku, maka aku terlindung dari gangguannya.”

Meskipun Allah sudah menggaransi untuk melindungi Nabi SAW dari gangguan setan, toh Rasulullah secara tegas tetap menyatakan perang dengan setan, sekaligus memberi teladan bagaimana cara kita menghadapi setan, yakni hanya dengan memohon perlindungan kepada Allah. Tentu, sebagai umatnya kita pun harus pegang prinsip tak ada kompromi dengan setan !.

(Artikel Lainnya di Bank Data Majalah, Online sejak 2 Mei 2002M/19 Safar 1423H)
http://www.fosmil.org/adzan/02.uswah/us05.html

Iblis dan Syaithon.
1. Iblis adalah makhluq halus dari golongan jin ( al-Kahfi : 50 ).
2. Iblis adalah kafir ( al-Baqarah : 34 ).
3. Iblis hidup sampai kiamat ( Shod : 80 dan 81 ).
4. Iblis adalah nenek moyang syaithon ( iblis mempunyai keturunan, yang kemudian biasa disebut syaithon ) –
( al-Kahfi : 50 ).
5. Syaithon bekerja mengganggu dan menyesatkan manusia
( an-Nahl : 63; al-Anfal : 48; Maryam : 83; dan al-Hasyr : 16 )
6. Setiap manusia disertai syaithon ( al-An’am : 112 ).
7. Melanggar ketentuan Allah berarti memperkuat kedudukan syaithon dalam diri (az-Zuhruf : 36-39 ).
8. Syaithon dinilai sebagai musuh manusia ( Fathir : 6; al-Baqarah : 168-169 ).
9. Kata-kata syaithon dipergunakan untuk pemimpin jahat
( al-Baqarah : 14; Ali-‘Imran : 174 ).
10. Do’a untuk terhindar dari syaithon ( al-Mu’minun : 98-99; an-Nas : 1-6; al-Falaq : 1-6 ).

http://nursyifa.hypermart.net/ajaran_islam/index1.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaikedisi no.015/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1426H/2005M


Waspadai Bujukan Setan

Januari 30, 2008

Sejak dahulu ajaran agama ini selalu mendapat perlawanan aktif dari para penentangnya. Bentuknya bermacam-macam, mulai sekedar mencibir, mengolok-olok, mengadu domba, sampai kepada menantang secara terang terangan akan kekuasaan Allah SWT. Mereka telah berani menggoyang ‘wilayah’ kekuasaan Allah dengan berbagai cara yang diakal-akali (na’udzubillah). Kelompok yang masuk kategori terakhir ini belakangan semakin aktif dengan memasuki jaring-jaring ilmiah. Ilmu dan teknologi di zaman ini telah dimanfaatkan pula untuk kepentingan-kepentingan itu. Keilmuan telah mereka pergunakan sedemikian rupa untuk melakukan missi pengikisan tauhid dengan cara yang paling kontemporer, dengan langkah yang mudah dipa hami oleh manusia yang kini hidup di zaman global.

Dahulu ketika komputer hadir untuk pertama kali, masyarakat awam sempat dibuat terperangah. Perangkat lunak yang sekarang telah dikenal luas di tengah masyarakat itu konon akan pandai membaca nasib manusia. Menerjemahkan nasibnya di hari esok. Dengan memainkan keyboard, manusia bisa memprediksi masa depannya. Bahkan jodoh dan peluang-peluang bisnis yang akan menguntungkan sudah tergambar di sana. Bagaimanakah kenyataan yang terjadi selanjutnya ? Komputer yang menawarkan program ramalan-ramalan seperti itu kini malah menjadi barang cibiran. Setidaknya program ramalan seperti itu lebih terkesan sebagai bagian dari program dusta. Memang untuk kepentingan-kepentingan menyelesaikan persoalan sesuai dengan bidangnya, komputer menjadi jago. Bahkan juara dunia catur berkali-kali Garry kasparov-pun akhirnya ditundukkan oleh Deep Blue-nya IBM.

Tetapi untuk sesuatu yang tidak menjadi bagiannya, maka komputer tidak bisa melakukan apa-apa. Perhitungan-perhitungan manusia yang dibantu komputerpun tetap tidak bisa menjamin hasil akan sesuai dengan prediksi awal. Betapa sering terjadi kecelakaan pesawat terbang, misalnya. Sekalipun sejak berangkat pesawat dinyatakan sehat. Kejadian-kejadian di luar jangkauan manusia itu bisa saja terjadi secara tiba-tiba. Terlalu banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya, yang kadang untuk gam pangnya disebut sebagai ‘faktor X’. Faktor-faktor XYZ itu sebenarnya merupakan peringatan bagi manusia, bahwa masih ada kekuasaan di atas kekuasaan mereka. Itulah kekuasaan Allah SWT.

Tetapi manusia-manusia yang hadir ke dunia membawa misi kerusakan, sekalipun sadar akan adanya kekuasaan di atas yang nampak, tetap berupaya mengesankannya tidak ada. Mereka terus mengotak-atik agar umat beragama menjadi ragu. sampai-sampai ada yang menyatakan, bahwa Laut Merah terbelah bukan oleh tongkat Nabi Musa, melainkan karena adanya lintasan benda angkasa yang kebetulan lewat persis di atasnya, bertepatan dengan momen Musa dikejar Fir’aun. Manusia dibuat lupa terhadap firman Allah :”Allahlah yang menciptakan kamu, kemudian memberi rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali)”. (QS. 30 : 40)

Tidak henti berfikir, para penentang agama tidak henti-hentinya melakukan upaya perongrongan. Bahkan mereka bekerja sangat keras tidak kenal berhenti. Kalau kita memanfaatkan waktu hanya 8 sampai 12 jam sehari untuk bekerja, mereka menganggap waktu yang 24 jam itu tidak cukup untuk mewujudkan keinginannya. Waktu sehari bagi mereka sangatlah sempit. Diantaranya mereka bahkan bangga memperoleh gelar sebagai penggila kerja (workaholik). Kerja adalah segala-galanya. Bahkan mereka cenderung telah mengubah tanggungjawab kerja menjadi ideologinya, menjadi tuhannya.

Dan kini mereka kembali melempar isu bahwa jiwa (ruh) manusia juga mulai dapat ditebak kapan berakhirnya. Kematian bukan lagi rahasia Tuhan. Dengan teknologi mereka seolah hendak berolok-olok tentang Tuhan. Ayat ini hendak dikaburkannya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh adalah urusan Tuhanku. dan tidaklah manusia diberi ilmu, kecuali amat sedikit'” (QS. 17 : 85).

File data tentang ruh milik Tuhan seolah telah mereka curi, kemudian dengan lantang mereka memproklamirkannya. Dengan bahasa keangkuhan mereka tertawa sambil menepuk dada yang penuh kedustaan. Bahwa Tuhan telah mati bersama mitos-mitos sesembahan selama ini. Melalui itu mereka menginginkan kaum muslimin secara perlahan-lahan mengubah keyakinannya. Setidaknya sasaran yang paling mudah disentuh adalah kalangan remaja muslim yang jumlahnya makin banyak di negeri ini.
Merekalah ladang subur untuk menanam benih pemurtadan. Usia pertumbuhan mereka sangat rentan terhadap rumor-rumor ideologi yang menyimpang itu. Melalui konser musik keras sebagai ciri khas produk lingkungan yang semakin keras, telah lahir untaian-untaian syair yang tidak kalah gamangnya dalam mendiskritkan Tuhan.

Kita pasti menikmati neraka
Tidak ada sisa yang tersembunyi
Bunuhlah dirimu dengan belati suci
Jika kau ingin pergi ke sana
Janganlah khawatir terhadap agama
Buanglah Tuhan bangsatmu itu
Waspadalah selamanya terhadap surga.

Syair-syair begini baru-baru ini terdengar nyaring di kalangan sekelompok remaja di kota Bandung dan Malang. Mereka mendendangkannya penuh khidmat dengan dilengkapi seragam dan acara ritual, membakar kemenyan dan mengenakan pakaian serba hitam. Mereka hendak memanggil syetan sebagai tanda sahabat. Tidak ada Tuhan, yang ada hanya syetan, kata mereka. Sungguh tragis apa yang telah mereka lakukan itu.
Anak-anak muda itu telah termakan isu syetan. Telah terjerat bujuk rayunya. Mereka telah dibikin lupa oleh syetan tentang jati diri yang sebenarnya sebagai makhluk bertuhan. “Syetan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah,” firman Allah dalam surah al-Mujaadillah : 19. Dalam ayat lain disebutkan :”Dan jika syetan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini) maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu….” (QS. 6 : 68).

Tidak ada yang dapat menikmati untaian syair tersebut dengan perasaan nikmat, selain mereka yang sudah kesyetanan. Semakin ngawur maknanya, akan semakin membuat mereka berbunga-bunga. Girang dan tawa riang menjadi ciri khasnya. Berjingkrak dan berhura-hura menjadi penyedapnya. Fisik dan jiwa mereka sudah dikendalikan oleh pengaruh-pengaruh syetan yang bersemayam dalam hati dan pikirannya.

Sungguh sedikit sebenarnya ilmu yang dimiliki manusia. Karena sedikitnya manusia sering dibuat pusing oleh masalah yang diciptakannya sendiri. Tidak jarang manusia dibuat pusing tujuh keliling dengan masalah yang sangatlah sederhana, menyangkut kebutuhan hidupnya, misalnya. Namun sering dengan itu, bila manusia menemukan sesuatu, melahirkan gagasan tertentu, tiba-tiba ia akan tampil sebagai tuhan, sebagai makhluk yang superior. Seolah-olah dirinyalah yang terbesar, terbaik dan termulia. Mereka, para perongrong ajaran aqidah sering melewati celah ini untuk menggoda agar kaum muslimin meninggalkan pos keyakinannya. Bahwa manusia memang besar, serba bisa. Sedikit demi sedikit, setahap demi setahap, pernyataan yang penuh ‘bisa’ ini diharapkan membuat kaum muslimin lengah dan lepas dari keyakinannya. Menghadapi hal yang seperti ini, kita hendaklah kembali ke jalan yang lurus, seperti apa yang diingatkan Allah SWT kepada kita, “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu jika begitu termasuk golongan orang-orang yang zhalim.” (QS. 2:145).

(sumber : Lembar Jum’at, Al Qalam Diterbitkan Oleh : Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya Edisi : 18/VII, 22 Shafar 1418, 27 Juni 1997).
http://alqalam.8m.com/vii/qal18.htm
pesan : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu terdekat”. (QS.26 : 214)

Sayang-sayang kita nggak tahu kemana pergi, tak sanggup kita dengarkan suara yang sejati, langkah kita mengabdi pada nafsu sendiri, yang bisa kita pandang hanya kepentingan sendiri.
Sayang sayang orang pintar tak mau ngaji, kepala tengadah merasa benar sendiri, semua dituding tuding dan dicacimaki, yang lainnya salah hanya dia yang suci.
Sayang sayang orang hebat tinggi hati, omong demokrasi pidato berapi-api, ternyata karena menginginkan kursi, sementara rakyat kerepotan cari nasi.

(Pustaka Digital Emha Ainun Nadjib)
http://www.padhangmbulan.com/
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.015/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1426H/2005M


TUJUH MACAM TIPUAN SETAN

Januari 30, 2008

Kita perlu mengetahui tipuan setan yang mengajak kita meninggalkan ibadah kepada Allah. Ada tujuh macam cara yang dilakukan setan :

1. Setan melarang manusia untuk taat kepada Allah.
Orang yang dipelihara Allah akan menolak ajakan dan larangan setan tersebut, seraya berkata, “Aku sangat membutuhkan pahala dari Allah, karena aku harus mengumpulkan bekal dari dunia untuk akhiratku yang abadi.”

2. Setan mengajak manusia mengakhiri ketaatan (berhenti taat).
Misalnya membisikkan dalam hati, bahwa taat tak perlu tergesa-gesa dilaksanakan, nanti saja kalau sudah tua dan menjelang mati. Orang yang dipelihara Allah, akan menolak ajakan setan dan mengatakan, “Ajal bukan pada kekuasaanku, jika aku menunda amal hari ini untuk esok, maka amal hari esok kukerjakan kapan lagi, pada hal tiap hari mengandung amal tersendiri.

3. Sewaktu-waktu setan mendorong manusia agar terburu-buru mengerjakan amal baik, seraya berkata, “Ayo cepat beramal agar engkau dapat memburu amal lain sebanyak-banyaknya !”. Namun orang yang dipelihara Allah akan berkata, “Amal yang sedikit tapi sempurna lebih baik daripada amal banyak tidak sempurna.”

4. Setan menyuruh manusia mengerjakan amal baik yang sempurna, kalau tidak nanti akan dicela orang lain. Maka orang yang dipelihara Allah akan menyanggah. “Untukku, cukup dinilai Allah saja, dan tidak ada manfaatnya orang lain menilai amal baikku”.

5. Setan menancapkan perasaan dalam hati orang yang beramal baik dengan membisikkan, “Betapa tingginya derajatmu karena dapat beramal shalih. Engkau cerdik dan sempurna !”. Orang yang dipelihara Allah akan menyanggah bahwa semua keagungan dan kesempurnaan adalah milik Allah, bukan karena kekuatan manusia dan kekuasaan manusia. Allah jualah yang memberi taufiq kepada manusia sehingga dapat mengerjakan amal baik yang diridhai-Nya. Hanya Allah yang berhak memberikan karunia-Nya. Jika sekiranya tanpa karunia Allah, maka amal manusia tak ada harganya dibandingkan dengan kenikmatan yang diberikan-Nya.

6. Setan berbisik dalam hati manusia, “Hendaknya engkau bersungguh-sungguh melakukan amal dengan sir (rahasia). Jangan sampai diketahui oleh manusia, sebab hanya Allah yang akan mendhahirkan amalmu nanti terhadap manusia, dan akan mengatakan bahwa kamu adalah seorang hamba yang Ikhlas !”. Tapi orang yang iman dipelihara Allah akan menolak nasihat itu, “Hai setan laknat, tidak henti-hentinya engkau menggodaku untuk merusak amal baikku dengan berbagai cara. Sekarang kau berpura-pura memperbaiki amalku. Padahal sebenarnya tujuanmu hanyalah ingin merusaknya. Aku ini hamba Allah. Dialah yang menjadikanku. Jika Dia berkehendak menjadikan aku sebagai hamba mulia atau terhina, maka semua itu urusan Allah. Bukan urusanku. Aku tak pernah gelisah tentang apakah amalku itu diperlihatkan kepada manusia atau tidak. Karena itu bukan urusanku !”.

7. Jika dengan cara keenam gagal, maka setan mencari cara lain yaitu membisikkan tipuannya yang halus sekali di hati manusia :
“Wahai manusia, engkau tak perlu menyusahkan dirimu untuk beramal ibadah, karena jika Allah menetapkanmu di jaman azali dan dijadikan makhluk yang berbahagia, maka tidak akan menjadi madharat apa-apa bagimu untuk meninggalkan amal. Engkau akan tetap menjadi orang yang beruntung. Sebaliknya jika engkau dikehendaki Allah menjadi celaka, maka tidak ada gunanya lagi amal baik yang kau lakukan, karena engkau tetap celaka.”

Tapi bagi orang beriman akan membantah,”Aku ini seorang hamba yang berkewajiban menuruti perintah-Nya. Allah yang Maha Mengetahui, menetapkan kehendak-Nya dan berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya. Amalku tetap akan bermanfaat. Jika aku ditakdirkan menjadi orang beruntung, maka aku tetap beribadah untuk menambah pahala. Jika aku dijadikan orang yang celaka, aku tetap beramal ibadah agar tidak menyesal meninggalkan amal itu. Jika sekiranya aku dimasukkan ke neraka padahal aku taat, aku akan lebih senang demikian daripada aku dimasukkan ke neraka dalam keadaan ingkar. Tetapi keadaannya tidak mungkin begitu, karena janji Allah pasti benar. Allah telah menjanjikan kepada siapa saja yang beramal taat kepada-Nya tak akan masuk neraka. Tapi pasti masuk surga. jadi masuknya seseorang ke surga bukanlah karena kekuatan amalnya, tetapi karena janji Allah semata yang pasti dan suci.”

(Sumber Dari Buku: Memerangi Bujukan Setan IMAM AL GHOZALI hal 25-28)
http://www.geocities.com/info_hikmah/hi12d.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam mukaddimah Labbaik edisi no.015/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1426H/2005M


Hati Yang Bercahaya

Januari 30, 2008

Adakah diantara kita yang merasa mencapai sukses hidup karena telah berhasil meraih segalanya : harta, gelar, pangkat, jabatan, dan kedudukan yang telah menggenggam seluruh isi dunia ini ? Marilah kita kaji ulang, seberapa besar sebenarnya nilai dari apa-apa yang telah kita raih selama ini.

Di sebuah harian pernah diberitakan tentang penemuan baru berupa teropong yang diberi nama telescope Hubble. Dengan teropong ini berhasil ditemukan sebanyak lima milyar gugusan galaksi. Padahal yang telah kita ketahui selama ini adalah suatu gugusan bernama galaksi bimasakti, yang di dalamnya terdapat planet-planet yang membuat takjub siapa pun yang mencoba bersungguh-sungguh mempelajarinya. Matahari saja merupakan salah satu planet yang sangat kecil, yang berada dalam gugusan galaksi di dalam tata surya kita.
Nah, apalagi planet bumi ini sendiri yang besarnya hanya satu noktah. Sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lima milyar gugusan galaksi tersebut. Sungguh alangkah dahsyatnya.

Sayangnya, seringkali orang yang merasa telah berhasil meraih segala apapun yang dirindukannya di bumi ini – dan dengan demikian merasa telah sukses – suka tergelincir hanya mempergauli dunianya saja. Akibatnya, keberadaannya membuat ia bangga dan pongah, tetapi ketiadaannya serta merta membuat lahir batinnya sengsara dan tersiksa. Manakala berhasil mencapai apa yang diinginkannya, ia merasa semua itu hasil usaha dan kerja kerasnya semata, sedangkan ketika gagal mendapatkannya maka ia serta merta merasa diri sial. Bahkan tidak jarang kesialannya itu ditimpakan atau dicarikan kambing hitamnya pada orang lain.
Orang semacam ini tentu telah lupa bahwa apapun yang diinginkannya dan diusahakan oleh manusia sangat tergantung pada izin Allah Azza wa Jalla. Mati-matian ia berjuang mengejar apa-apa yang diinginkannya, pasti tidak akan dapat dicapai tanpa izin-Nya. Laa haula walaa quwwata illaabillaah !

Begitulah kalau orang hanya bergaul dengan dunia yang ternyata tidak ada apa-apanya ini. Padahal, seharusnya kita bergaul hanya dengan Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Menguasai jagat raya, sehingga hati kita tidak akan pernah galau oleh dunia yang kecil mungil ini. Laa khaufun alaihim walaa hum yahjanuun ! Samasekali tidak ada kecemasan dalam menghadapi urusan apapun di dunia ini. Semua ini tidak lain karena hatinya selalu sibuk dengan Dia, Zat Pemilik Alam Semesta yang begitu hebat dan dahsyat.
Sikap inilah sesungguhnya yang harus senantiasa kita latih dalam mempergauli kehidupan di dunia ini. Tubuh lekat dengan dunia, tetapi jangan biarkan hati turut lekat dengannya. Ada dan tiadanya segala perkara dunia ini di sisi kita jangan sekali-kali membuat hati goyah karena toh sama pahalanya di sisi Allah. Sekali hati ini lekat dengan dunia, maka adanya akan membuat bangga, sedangkan tiadanya akan membuat kita terluka. Ini berarti kita akan sengsara karenanya, karena ada dan tiada itu akan terus menerus terjadi.
Betapa tidak !? Tabiat dunia itu senantisa dipergilirkan. Datang, tertahan, diambil. Mudah, susah. Sehat, sakit. Dipuji, dicaci. Dihormati, direndahkan. Semuanya terjadi silih berganti.

Nah, kalau hati kita hanya akrab dengan kejadian-kejadian seperti itu tanpa akrab dengan Zat pemilik kejadiannya, maka letihlah hidup kita. Lain halnya kalau hati kita selalu bersama Allah.
Perubahan apa saja dalam episode kehidupan dunia tidak akan ada satu pun yang merugikan kita. Artinya, memang kita harus terus menerus meningkatkan mutu pengenalan kita kepada Allah Azza wa Jalla.
Di antara yang penting yang kita perhatikan sekiranya ingin dicintai Allah adalah bahwa kita harus zuhud terhadap dunia ini. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah mencintainya, dan barangsiapa yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintainya.” Zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangan kita. Bagi orang-orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun yang dimiliki sama sekali tidak akan membuat hati merasa tentram karena ketentraman itu hanyalah apa-apa yang ada di sisi Allah.
Rasulullah SAW bersabda, “Melakukan zuhud dalam kehidupan di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah.” (HR. Ahmad, Mauqufan)

Andaikata kita merasa lebih tentram dengan sejumlah tabungan di bank, maka berarti kita belum zuhud. Seberapa besarpun uang tabungan kita, seharusnya kita lebih merasa tentram dengan jaminan Allah. Ini dikarenakan apapun yang kita miliki belum tentu menjadi rizki kita kalau tidak ada izin Allah.
Sekiranya kita memiliki orang tua atau sahabat yang memiliki kedudukan tertentu, hendaknya kita tidak sampai merasa tentram dengan jaminan mereka atau siapa pun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali dengan izin Allah. Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang dimilikinya tidak menjadi ja minan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita. Jangan ukur kemuliaan seseorang dengan adanya dunia di genggamannya. Sebaliknya jangan pula meremehkan seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita tidak menghormati seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita menghormati seseorang karena kedudukan dan kekayaannya, kalau meremehkan seseorang karena ia papa dan jelata, maka ini berarti kita sudah mulai cinta dunia. Akibatnya akan susah hati ini bercahaya disisi Allah.
Mengapa demikian ? Karena, hati kita akan dihinggapi sifat sombong dan takabur dengan selalu mudah membeda-bedakan teman atau seseorang yang datang kepada kita. Padahal siapa tahu Allah mendatangkan seseorang yang sederhana itu sebagai isyarat bahwa Dia akan menurunkan pertolongan-Nya kepada kita.

Hendaknya dari sekarang mulai mengubah sistem kalkulasi kita atas keuntungan-keuntungan. Ketika hendak membeli suatu barang dan kita tahu harga barang tersebut di supermarket lebih murah ketimbang membelinya pada seorang ibu tua yang berjualan dengan bakul sederhananya, sehingga kita mersa perlu untuk menawarnya dengan harga serendah mungkin, maka mulailah merasa beruntung jikalau kita menguntungkan ibu tua berimbang kita mendapatkan untung darinya. Artinya, pilihan membeli tentu akan lebih baik jatuh padanya dan dengan harga yang ditawarkannya daripada membelinya ke supermarket. Walhasil, keuntungan bagi kita justru ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.

Lain halnya dengan keuntungan diuniawi. Keuntungan semacam ini baru terasa ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. Sedangkan arti keuntungan bagi kita adalah ketika bisa memberi lebih daripada yang diberikan oleh orang lain. Jelas, akan sangat lain nilai kepuasan batinnya juga.
Bagi orang-orang yang cinta dunia, tampak sekali bahwa keuntungan bagi dirinya adalah ketika ia dihormati, disegani, dipuji, dan dimuliakan. Akan tetapi, bagi orang-orang yang sangat merindukan kedudukan di sisi Allah, justru kelezatan menikmati keuntungan itu ketika berhasil dengan ikhlas menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain. Cukup ini saja ! Perkara berterima kasih atau tidak, itu samasekali bukan urusan kita. Dapatnya kita menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain pun sudah merupakan keberuntungan yang sangat luar biasa.

Sungguh sangat lain bagi ahli dunia, yang segalanya serba kalkulasi, balas membalas, serta ada imbalan atau tidak ada imbalan. Karenanya, tidak usah heran kalau para ahli dunia itu akan banyak letih karena hari-harinya selalu penuh dengan tuntutan dan penghargaan, pujian, dan lain sebagainya, dari orang lain. Terkadang untuk mendapatkan semua itu ia merekayasa perkataan, penampilan, dan banyak hal demi untuk meraih penghargaan.
Bagi ahli zuhud tidaklah demikian. Yang penting kita buat tatanan kehidupan ini seproporsional mungkin, dengan menghargai, memuliakan, dan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Inilah keuntungan-keuntungan bagi ahli-ahli zuhud. Lebih merasa aman dan menyukai apa-apa yang terbaik di sisi Allah daripa da apa yang didapatkan dari selain Dia.
Walhasil, siapapun yang merindukan hatinya bercahaya karena senantiasa dicahayai oleh nuur dari sisi Allah, hendaknya ia berjuang sekuat-kuatnya untuk mengubah diri, mengubah sikap hidup, menjadi orang yang tidak cinta dunia, sehingga jadi lah ia ahli zuhud.

Adakalanya nuur Illahi itu turun kepadamu”, tulis Syaikh Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Al Hikam, “tetapi ternyata hatimu penuh dengan keduniaan, sehingga kembalilah nuur itu ke tempatnya semula. Oleh sebab itu, kosongkanlah hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Allah akan memenuhinya dengan ma’rifat dan rahasia-rahasia.”
Subhanallaah, sungguh akan merasakan hakikat kelezatan hidup di dunia ini, yang sangat luar biasa, siapapun yang hatinya telah dipenuhi dengan cahaya dari sisi Allah Azza wa Jalla. “Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing (seorang hamba) kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki …” (QS. An Nuur [24] : 35).

(Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar, bisa dihubungi melalui gymnastiar@hotmail.com, Pondok Pesantren Daarut Tauhiid)

Bagaimanakah Hati Kita…?
Hati itu ada hati yang keras, membatu yang tidak mau menerima segala bentuk kebenaran. Lawannya adalah hati yang lembut, yang mempunyai keteguhan, dan itulah hati yang sehat, yang mau menerima segala bentuk kebenaran dengan kelembutan dan menjaganya melalui keteguhannya. Dan sebaik-baik hati adalah hati yang keras, jernih dan lembut yaitu hati yang dapat melihat kebenaran dengan kejernihannya itu, menerima kebenaran dengan kelembutannya dan menjaga kebenaran itu dengan kekerasannya. Dalam beberapa buku hadist telah diriwayatkan , dari Nabi SAW bersabda: ” Hati itu adalah bejana Allah di bumi-Nya ini. Hati yang paling dicintai-Nya adalah yang paling keras, lembut dan jernih “.

Ketika hati menjadi tempat pengetahuan, ilmu, cinta dan kepasrahan maka semuanya itu tidak akan dapat memasukinya kecuali jika hatinya itu benar-benar terbuka luas untuknya. Dan jika Allah Jalla wa ‘alaa berkehendak memberikan petunjuk kepada seorang hamba, maka Dia akan melapangkan dadanya, sehingga petunjuk itu bisa masuk dan bersemayam didalamnya. Dan jika berkehendak menyesatkan seorang hamba, maka Dia akan mempersempit dan menyesakkan dadanya, sehingga tidak ada lagi jalan bagi petunjuk untuk memasukinya. Semua tempat kosong jika sudah dimasukkan kedalamnya sesuatu, maka ia akan menjadi sempit. Akan tetapi halnya dengan hati, setiap kali hati itu dimasukkan iman dan ilmu maka hati itu akan semakin luas dan lebar. Demikian itulah salah satu tanda kekuasaan Allah Ta’alaa. Dalam buku Sunan Tirmidzi dan juga lainnya diriwayatkan sebuah hadist dari Nabi SAW, beliau bersabda : ” Jika suatu cahaya itu telah memasuki hati, maka hati itu akan semakin luas dan lebar “. Mendengar itu , para sahabat pun bertanya , ” Lalu apa tanda-tanda dari hal itu , ya Rasulullah ?”. Beliau menjawab . “Yaitu kembali (mengingat) kepada kehidupan akhirat, menjauhi kehidupan yang penuh tipu daya (dunia) dan mempersiapkan diri menghadapi kematian sebelum ia datang “.

[*Diambil dari buku Qadha dan Qadar , Ibnu Qayyim Al Jauziyah hal. 265 – 268]

note : artikel di atas telah dimuat dalam mukaddimah Labbaik edisi no.015/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1426H/2005M


Tidak Berhaji Namun Mendapat Pahala Haji Mabrur

Januari 22, 2008

Suatu ketika Hasan Al-Basyri menunaikan ibadah haji. Ketika beliau sedang istirahat, beliau bermimpi. Dalam mimpinya beliau melihat dua Malaikat sedang membicarakan sesuatu.
“Rasanya orang yang menunaikan haji tahun ini, banyak sekali,” komentar salah satu Malaikat. “Betul,” jawab malaikat yang lain. “Berapa kira-kira jumlah keseluruhan ?”
“Tujuh ratus ribu.”
“Pantas.”
“Kamu tahu nggak, dari jumlah tersebut berapa kira-kira yang mabrur ?”, Tanya Malaikat yang mengetahui jumlah orang-orang haji tahun itu.
“Wah, itu sih urusan Allah.”
“Dari jumlah itu, tak satupun yang mendapatkan haji Mabrur.” “Kenapa ?”
“Macam-macam, ada yang karena riya’, ada yang tetangganya lebih memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah haji, ada yang hajinya sudah berkali-kali, sementara masih banyak orang yang tidak mampu, dan berbagai sebab lainnya.”
“Terus ?”
“Tapi masih ada, orang yang mendapatkan pahala haji mabrur, tahun ini.”
“Katanya tidak ada sama sekali ?!”.
“Ya, karena orangnya tidak naik haji.”
“Bagaimana bisa begitu ?”.
“Begitulah yang terjadi”.
“Siapa orang tersebut ?”
“Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq.”
Mendengar ucapan itu, Hasan Al-Basyri langsung terbangun.

Sepulang dari Makkah, ia tidak langsung ke Mesir, tapi langsung menuju kota Damsyiq (Syria). Sesampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, dan memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.
“Ada, ditepi kota,” jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana Hasan Al-Basyri menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh.
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah ?” tanya Hasan Al-Basyri.
“Betul, kenapa ?”

Sejenak Hasan Al-Basyri kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaannya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya.
“Sekarang saya tanya, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, barangkali mimpi itu benar,” selidik Hasan Al-Basyri sambil mengakhiri ceritanya.
“Saya sendiri tidak tahu, yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya memang sangat rindu Makkah, untuk menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan tahun ini biaya itu sebenarnya telah tercukupi.”
“Tapi anda tidak berangkat haji ?.”
“Benar”
“Kenapa ?”
“Waktu saya hendak berangkat ternyata istri saya hamil, dan saat itu dia sedang ngidam.”
“Terus ?”
“Ngidamnya aneh, saya disuruh membelikan daging yang dia cium, saya cari sumber daging itu, ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh, disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang tidak boleh, hingga saya bilang bahwa dijual berapapun akan saya beli, dia tetap menolak. Akhirnya saya tanya, kenapa ?.”
“Daging ini halal untuk kami dan haram untuk Tuan,” katanya.
“Kenapa ?” tanyaku lagi.
“Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah halal, ka rena andai kami tak memakannya tentulah kami akan mati kelaparan,” jawabnya sambil menahan air mata.
Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang, saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis. Akhirnya uang bekal hajiku kuberikan semuanya untuk dia.”

Mendengar cerita tersebut Hasan Al-Basyri pun tak bisa menahan air mata. “Kalau begitu engkau memang patut mendapatkannya,” ucapnya.
Wallahu a’lam.

[Kisah ini diceritakan oleh Imam dan Khotib Masjid Rohmah, Cairo Mesir. Shahih tidaknya tidak disebutkan. Meski demikian kisah ini perlu menjadi renungan].
(dari : Milis Padhang Mbulan : Senin, 27 Juli 2004)
http://www.geocities.com/ahmad_dir/tarbiyah/saidibnumuhafah.html

Arti Kemampuan Melaksanakan Haji
Pertanyaan :”Apakah yang dimaksudkan kemampuan melaksanakan haji ? Apakah pahala haji yang terbesar ketika pergi ke Mekkah ataukah setelah kembali darinya ? Dan apakah pahala haji di sisi Allah lebih besar jika dia kembali dari Mekkah menuju tanah airnya ?

Jawaban :”Arti kemampuan dalam haji adalah sehat badan, ada kendaraan sampai ke Masjidil Haram, baik dengan kapal terbang, mobil, binatang atau ongkos membayar kendaraan sesuai keadaan. Juga memiliki bekal yang cukup selama perjalanan sejak pergi sampai pulang. Dan perbekalan itu harus merupakan kelebihan dari nafkah orang-orang yang menjadi tanggungannya sampai dia kembali dari haji. Dan jika yang haji atau umrah seorang perempuan maka harus bersama suami atau mahramnya.
Adapun pahala haji maka tergantung kadar keikhlasannya kepada Allah, ketekunan melaksanakan manasik, menjauhi hal-hal yang merusak kesempurnaan haji dalam mencurahkan harta dan tenaga, baik dia kembali, mukim, atau meninggal sebelum merampungkan haji ataupun setelahnya. Allah Maha Mengetahui kondisi seseorang akan memberikan balasannya. Sedang kewajiban setiap mukallaf adalah beramal dengan tekun dan memperhatikan amalnya dalam kesesuaiannya dengan syari’at secara lahir dan batin seakan dia melihat Allah. Sebab meskipun dia tidak dapat melihat-Nya tapi Allah selalu melihat dia dan memperhatikan setiap gerak hati dan langkah fisiknya. Maka janganlah seseorang mencari-cari apa yang menjadi hak Allah. Karena Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, melipat-gandakan pahala kebaikan, mengampuni keburukan dan tidak akan menzhalimi siapa pun. Maka hendaklah setiap orang memperhatikan dirinya dan membiarkan apa yang menjadi hak Allah.
Dan dalam pertanyaan yag sama, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin menjawab sbb :”Tentang kemampuan haji dijelaskan dalam hadits, yaitu bila seorang mendapatkan bekal dan kendaraan. Barangkali yang lebih umum dari itu adalah, bahwa orang yang mampu sampai ke Mekkah dengan cara apapun maka dia wajib haji dan umrah. Jika dia mampu dengan berjalan dan membawa bekalnya atau mendapatkan orang yang membawakan bekalnya maka dia wajib haji. Jika seseorang mempunyai ongkos transportasi modern seperti kapal laut, kapal udara dan mobil, maka dia wajib haji. Dan jika dia mendapatkan bekal dan kendaraan, tapi tidak mendapatkan orang yang menjaga harta dan keluarganya, atau tidak mendapatkan apa yang dia nafkahkan kepada keluarganya selama dia pergi haji maka dia tidak wajib haji karena dia tidak mempunyai kemampuan. Demikian pula jika di jalan terdapat sesuatu yang menakutkan atau ditakutkan seperti perampok, atau diharuskan membayar pajak mahal, atau waktunya tidak cukup untuk sampai ke Mekkah, atau tidak mampu naik kendaraan apapun karena sakit atau akan mendatangkan mudharat lebih berat, maka kewajiban haji gugur darinya dan dia wajib menggantikannya kepada orang lain jika dia mempunyai kemampuan harta, dan jika tidak maka tidak wajib haji.
Wallahu a’lam. – (Oleh : Al-Lajnah Ad-Daiman Lil Ifta)

[Dari Buku Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah, penulis Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad, penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i hal. 54-56. Penerjemah H.Asmuni Solihan Zamakhsyari Lc.]
http://almanhaj.or.id/
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 035/th.04/DzulQoidah–DzulHijjah 1428H/2007M


Menanti Undangan Allah SWT

Januari 22, 2008

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkarinya, maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (QS. Ali Imran: 97). SETIAP orang yang berusaha taat menjalankan perintah Allah, pasti menginginkan bisa menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Siapapun dia, kaya atau miskin. Tetapi, tak jarang pula orang yang telah dicukupkan hartanya dan diberi nikmat sehat, sering menunda-nunda kewajiban tersebut dengan berbagai alasan. Sementara, sebagian orang belum mampu berangkat haji karena masalah uang.

Sahabat, perkara haji sama sekali bukan perkara ada tidaknya uang. Betapa banyak orang yang dititipi harta melimpah, tapi tetap saja ia tidak bisa berangkat haji. Tak sedikit di antara mereka pulang-pergi ke luar negeri, namun toh tetap tidak pernah sampai ke Tanah Suci. Mengapa demikian ? Seseorang bisa menunaikan ibadah haji apabila telah di “diundang” oleh Allah Yang Mahakaya. Allah mengundang hamba-Nya disebabkan karena dua hal. Ada yang diundang karena niatnya baik, dan ada pula yang diundang karena niatnya jelek. Ada yang membedakan antara dua kelompok orang ini yaitu setelah kepulangannya dari Tanah Suci.

Yang pertama, akan menyandang gelar haji mabrur dan yang kedua menyandang gelar haji mardud. Apa yang menyebabkan haji seseorang itu mabrur atau mardud ? Penyebab utamanya adalah faktor niat. Bila seseorang pergi haji karena ingin mendapatkan titel haji agar terlihat lebih bonafid, misalnya, maka niat seperti ini hanya akan menjerumuskan diri pada kesia-siaan. Ibadah haji adalah panggilan hati dan kewajiban setiap Muslim. Bahkan, dapat dianggap hutang bila belum ditunaikan. Alangkah indahnya andai sebelum mati, kita bisa menggenapkan keislaman kita, hingga Allah pun berkenan menyempurnakan karunia nikmatnya pada kita.

Motivasi kedua adalah ingin menghapus dosa. Dosa-dosa itu Insya Allah akan terhapuskan bila hajinya diterima. Jika kita sudah memiliki keyakinan seperti ini, sebesar apapun biaya yang harus dikeluarkan untuk ibadah haji, maka akan terasa kecil nilainya dibandingkan dengan hikmah dan manfaat yang diperoleh. Bukankah uang yang kita keluarkan itu hakikatnya milik Allah juga ?

Yang ketiga adalah jaminan dari Allah dan Rasul-Nya bahwa tiada balasan yang lebih pantas bagi haji mabrur, kecuali surga ! Barangsiapa yakin dengan janji ini, niscaya nilai harta yang dikeluarkan terlalu murah bila dibandingkan dengan pahala yang akan didapat. Betapa tidak, sudah dosa diampuni, mendapat jaminan surga, semua biaya yang telah dikeluarkan pun insya Allah akan diganti dengan berlipat ganda ketika di dunia ini juga. Belum pernah terdengar ada orang yang pulang dari Tanah Suci dan setelah pulangnya itu nampak sekali banyak perubahan ke arah yang lebih baik dibanding sebelum berangkat haji, lantas jatuh miskin. Sebaliknya, Allah SWT akan memudahkan ia dalam mendapatkan rezeki. Jadi, tidak ada yang paling merugi di dunia ini, kecuali orang yang tidak mau berhaji padahal ia mampu.

Bagaimana caranya agar Allah SWT berkenan mengundang kita ke rumah-Nya ?
Seseorang yang mencintai sahabatnya, pasti mau berbuat apa saja bagi sahabatnya tersebut. Mungkin, suatu saat ia akan mengundang sang teman ke rumahnya. Andaikan sahabatnya tersebut tidak mempunyai ongkos, ia akan memberinya ongkos bahkan menjemputnya. Semakin dia mencintai sahabatnya, maka akan semakin senang dan ikhlas pula ia menjamunya. Demikian pula bila kita ingin diundang oleh Allah. Jadilah orang yang dicintai-Nya. Bila kita sudah dicintai Allah, maka Allah-lah yang akan memudahkan kita agar dapat menghadap-Nya. Kuncinya, amalkan semua perbuatan yang disukai Allah. Ternyata amalan pertama yang paling disukai Allah adalah shalat tepat waktu. Syarat ini terlihat begitu sederhana. Tapi, bila kita mampu istiqamah menjaganya, insya Allah doa kita akan mustajab. Amalan kedua adalah shalat tahajud di sepertiga malam terakhir. Kedudukan shalat sunnat yang satu ini begitu istimewa, bahkan perintahnya beriringan dengan perintah shalat yang lima waktu (QS. Al-Israa: 78). Waktu pelaksanaannya pun menjadi saat yang sangat istimewa bagi diijabahnya doa-doa. Semakin kita gemar membiasakan diri shalat tahajud, maka akan semakin mudah pula kita meraih semua yang dicita-citakan, termasuk menunaikan ibadah haji.

Amalan selanjutnya adalah birul walidain; memuliakan orangtua. Allah SWT berfirman, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (QS. Lukman: 14). Termasuk ke dalam birul walidain ini adalah mendidik anak-anak kita agar menjadi insan-insan shalih yang akan menyelamatkan kita dari adzab neraka–baik dunia maupun akhirat.

Amalan keempat yang disukai Allah adalah sedekah. Siapa saja yang ingin cita-citanya terkabul, hendaklah ia gemar bersedekah. Bersedekah dengan ikhlas, tidak hanya membuat doa-doa kita mustajab, tetapi akan melahirkan pula kebaikan-kebaikan lainnya. Bersedekah tidak harus selalu dengan uang, senyuman yang tulus termasuk pula sedekah. Barangsiapa yang ingin dibahagiakan Allah, maka bahagiakanlah orang lain. Barangsiapa ingin ditolong Allah, maka tolonglah orang lain. Barang siapa ingin dimudahkan urusannya oleh Allah, maka mudahkanlah urusan orang lain. Pendek kata, begitu banyak peluang untuk menjadi hamba yang disukai Allah. Kita ini milik Allah, begitupun harta yang kita miliki. Sebanyak apapun harta yang kita belanjakan di jalan Allah, pasti Ia akan mengganti harta yang kita belanjakan tersebut dengan yang lebih banyak dan berkah. Karena itu Rasulullah SAW jika melepas orang yang berhaji diiringinya dengan sebuah doa, “Semoga Allah menerima hajimu, mengampuni dosamu, dan mengganti biaya-biayamu” (HR. Ad-Dainuri). Jadi, apalagi yang kita cemaskan dari janji-janji Allah tersebut ?.
(oleh : KH. Abdullah Gymnastiar )

http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=7&id=149526&kat_id=105&kat_id1=232&kat_id2=234

Prioritas Amalan
Di antara prioritas yang sebaiknya diterapkan dalam pekerjaan manusia ialah prioritas terhadap perbuatan yang banyak mendatangkan manfaat kepada orang lain. Seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh orang lain, sebesar itu pula keutamaan dan pahalanya di sisi Allah SWT. Oleh sebab itu, jenis perbuatan jihad adalah lebih afdal daripada ibadah haji, karena manfaat ibadah haji hanya dirasakan pelakunya, sedangkan manfaat jihad dirasakan oleh umat. Sehubungan dengan hal ini, Allah SWT berfirman :”Apakah (orang-orang) yg memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yg beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah ? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk; kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda ; diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yg mendapat kemenangan.” (at-Taubah: 19-20)

Berjuang di jalan Allah yang manfaatnya lebih dirasakan oleh umat adalah lebih afdal di sisi Allah dan lebih besar pahalanya daripada ibadah yang kita lakukan berkali-kali, tetapi kemanfaatannya hanya untuk kita sendiri. “Abu Hurairah r.a. berkata, ‘Ada salah seorang sahabat Rasulullah saw yang berjalan di suatu tempat yang memilih sumber mata air kecil, yang airnya tawar, dan dia merasa kagum kepa danya kemudian berkata, ‘Amboi, seandainya aku dapat mengucilkan diri dari manusia kemudian tinggal di tempat ini ! (Yakni untuk beribadah). Namun, aku tidak akan melakukannya sebelum aku meminta izin terlebih dahulu kepada Rasulullah saw.’ Maka Nabi saw bersabda, ‘Jangan lakukan, karena sesungguhnya keterlibatanmu dalam perjuangan di jalan Allah adalah lebih utama daripada shalat selama tujuh puluh tahun. Tidakkah kamu senang apabila Allah SWT mengampuni dosamu, dan memasukkan kamu ke surga. Berjuanglah di jalan Allah. Barangsiapa yang menyingsingkan lengan baju untuk berjuang di jalan Allah, maka wajib baginya surga.”

(Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dianggap sebagai hadits hasan olehnya (1650), beserta Hakim yang menganggapnya sebagai hadits shahih berdasarkan syarat Muslim, dan juga disepakati).
[Dari : FIQH PRIORITAS, Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, Dr.Yusuf Al Qardhawy, Robbani Press, Jakarta Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M]
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 035/th.04/DzulQoidah – DzulHijjah 1428H/2007M