Ingin Masuk Islam Tetapi Tidak Mau Meninggalkan Suami yang Kafir

Mei 16, 2007

Tanya: Dalam tugas berdakwah kepada wanita-wanita kafir kami dari beberapa Islamic Centre menghadapi satu problematika berkaitan dengan persoalan isteri yang suaminya kafir. Wanita itu ingin masuk Islam, tetapi sulit untuk mengorbankan rumah tangganya, terutama ketika mereka sudah dikarunia beberapa orang anak dan kebetulan suaminya baik, sehingga ia di kuasai rasa cinta kepada suaminya tersebut. Sementara kami tahu bahwa wanita kafir yang masuk Islam, tidak boleh meneruskan rumah tangganya dengan suaminya yang kafir, berdasar kan firman Allah :”Wanita-wanita mukminah itu tidak halal bagi mereka, dan mereka juga tidak halal bagi wanita-wanita itu.” Bagaimana kami menghadapi problematika ini ? Apakah boleh kita memvokuskan perhatian pada keislaman mereka, dan mengabaikan persoalan tsb ?

Jawab:
Pertanyaan di atas telah kami ajukan kpd Syaikh Muhammadi Shalih Al-Utsaimin.

Ada seorang wanita yang ingin masuk Islam, sementara suami saya baik budi dan saya tidak ingin berpisah dengannya. Apa yang harus saya lakukan ?”. Beliau menjawab :”Ia harus berpisah dengan suaminya. Akan tetapi apakah masih mungkin baginya untuk mendakwahi suaminya itu ? Misalnya ia katakana :”Saya ingin masuk Islam. Kalau saya masuk Islam, nikah kita batal, kecuali bila engkau juga masuk Islam juga.” Mudah-mudahan bila ia mengingatkan demikian, sang suami akan menyetujui ajakannya tersebut.”

Kalau wanita itu masuk Islam, apakah ia tetap di rumah itu ketika mendakwahi suaminya, atau harus meninggalkan rumah ?”
Beliau menjawab :”Kalau ia masih mengharapkan keislaman suaminya, ia bisa tinggal di rumah itu hingga berakhir masa iddah.”
“Apakah si wanita boleh memperlihatkan auratnya dalam masa iddah tersebut ?”
Beliau menjawab :”Untuk menjaga-jaga, sebaiknya ia tidak membuka auratnya. Karena belum pasti si suami akan setuju masuk Islam.”
“Bagaimana dengan berkhalwat ?”
Beliau menjawab :”Berkhalwat (berduaan di kamar) juga tidak boleh.”

Kalau dengan diberitahukan semacam itu si wanita menjadi terhalangi masuk Islam, apakah boleh menurut syariat kita menutupi bagian kedua dari jawaban tersebut. Misalnya kita katakan kepadanya :”Masuk Islam dulu, baru nanti kami beri jawaban tentang boleh tidaknya meneruskan pernikahan.”
Beliau menjawab :”Tidak. Kalau kita katakan demikian, lalu kita beritahukan hukumnya, kemudian ia kembali murtad, persoalannya akan lebih besar lagi. Oleh sebab itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib ketika beliau mengutuskan ke Ahli Khaibar :”Ajaklah mereka masuk Islam dan beritahukan kepada mereka hak Allah yang harus mereka tunaikan dalam hal itu.”

Kalau wanita itu tetap saja hidup dengan suaminya setelah Islam, berarti ia melakukan dosa besar ?”
Beliau menjawab :”Ya. Tetapi apa boleh terus-menerus dalam zina ?”
Apa kesimpulan dari jawaban kita kepadanya ?”
Beliau berkata :”Masuk Islam dan harus Saudari ketahui bahwa kalau saudari masuk Islam, berarti pernikahan saudari dengan suami saudari sudah batal.”

Ketika berdakwah kepada wanita-wanita yang hendak masuk Islam itu, hendaknya divokuskan beberapa hal berikut dengan penjelasan yang gambling :

A. Mendahulukan cinta kepada Allah & Rasul-Nya, daripada cinta kepada selain keduanya.

B. Kalau wanita itu iklas dalam mendakwahi suaminya dan mendoakannya, bisa jadi sang suami akan masuk Islam di tangannya.

C. Orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, akan diganti oleh Allah dengan yang lebih baik darinya.

D. Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berkorban dengan yang dia cintai karena Allah.

Demikian pula hendaknya harus diselesaikan persoalan wanita tersebut kalau ternyata ia masuk Islam dan berpisah dengan suaminya; dengan mencarikan saudara seiman yang mau menikahinya dan mengikutsertakan anak-anak mereka. Atau bila ada di antara dermawan kaum muslimin yang mau bersedekah kepada mereka semua. Kami memohonkan hidayah, taufik dan kebenaran kepada Allah. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

(sumber : Syaikh Muhammad Shalih bin Utsaimin) – (www.islam-qa.com)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 021/th.02/Safar-Rabi’ul Awwal 1427H

Iklan

K a f i r

April 12, 2007

Kafir, berasal dari kata dasar yang terdiri dari huruf kaf, fa’ dan ra’. Arti dasarnya adalah “tertutup” atau “terhalang”. Secara istilah, kafir berarti “terhalang dari petunjuk Allah”. Maka orang kafir adalah orang yang tidak mengikuti pentunjuk Allah SWT karena terhalang darinya. Kafir adalah lawan dari iman. Dalam Qur’an terutama surah an-Nuur, Allah SWT menganalogikan kekafiran dengan kegelapan, dan keimanan dengan terang benderang, serta petunjuk (huda) sebagai cahaya.Kategorisasi manusia dlm hal mensikapi petunjuk dari Allah SWT memang hanya dua: Taqwa dan Kafir (lihat surah Al-Baqarah ayat 2 s/d 6).

Dan kelompok kafir sendiri ada beberapa macam, menurut sikap terhadap kitab-kitab yang pernah diturunkan disebut “Ahli Kitab” dan ada “Musyrikin” (lihat surah Al-Bayyinah). Sementara dalam hal kesadaran mereka terhadap kebenaran adapula kategori “fasik”, yaitu mereka yang sudah faham mana yang benar dan mana yang salah tapi tetap saja melakukan kerusakan (Al-Baqarah ayat 26 dan 27). Ada yang lain lagi, yakni diantara orang yang mengaku beriman sendiripun ada orang-orang yang ingin menipu Allah dan ingin menipu orang-orang beriman lainnya, yaitu mereka pura-pura iman pada hal mereka ingkar, mereka ini disebut kaum “munafik” (Al-Baqarah ayat 8 sd 20).

Bagaimana menyikapi orang-orang kafir tsb ? Mari ikuti lagi tuntunan Qur’an :

1. Berusaha menghilangkan “penutup” yang menyebabkan mereka kafir, dengan cara mendakwahi mereka. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (QS.16:125)“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka…” (QS.42:15)

2. Tetap berbuat baik terhadap mereka, terutama yang memiliki hubungan kekerabatan. “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, …” (QS.31:15).

keterangan : ayat ini berbicara tentang orangtua yang kafir, dan kita tetap diperintah untuk memperlakukan mereka dengan baik.“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS.76:8)

keterangan : adapun “orang yang ditawan” dalam ayat ini juga tiada lain adalah orang-orang kafir.“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS.60:8)

3. Tidak memaksa mereka untuk menjadi muslim.“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…” (QS.2:256)“Dan katakanlah :”Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir…” (QS.18:29)“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya…” (QS.2:272)

4. Berbuat adil dan tidak mendzalimi mereka, selama mereka tidak memerangi. “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS.60:8)“…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” (QS.5:8)“Doa seorang yang teraniaya (diperlakukan tidak adil), meskipun ia orang kafir, tidak ada tirai yg menutupinya (untuk dikabulkan).” (HR.Ahmad dalam musnadnya).

5. Memerangi mereka, tatkala mereka memerangi muslimin. “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu; dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang dzalim.” (QS.2:190-193). “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata :”Tuhan kami hanyalah Allah…” (QS.22:39-40)

6. Tidak menjadikan mereka sebagai kawan, pemimpin atau penolong, kalau mereka memerangi muslimin.“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yg memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS.60:9). “Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (QS.3:28)

keterangan: “wali” bentuk jamaknya adalah “auliyaa” yang artinya teman yg akrab, pemimpin, penolong atau pelindung. “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,” (QS.4:89)

7. Menyambut tawaran damai dari mereka setelah terlibat peperangan.“tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu (menyerah) maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.” (QS.4:90)“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.8:61)

Mengenai hubungan dengan non-muslim, Al Qur’an telah secara jelas membedakannya, dan membagi kaum kafir itu menjadi dua golongan :

A. Golongan “Muharribin” (yang memerangi)Yaitu kafirin yang memerangi umat Islam karena agama mereka, yang mengusir muslimin dari kampung-kampung halaman mereka, dan yang membantu pihak-pihak yang mengusir atau mendlzalimi ummat Islam. Termasuk disini juga mereka yang menghalangi muslimin dari melaksanakan kewajiban syari’at. Terhadap golongan ini, ummat Islam wajib memberlakukan point no.5, 6 dan 7.

B. Golongan “Musalim” (yang berdamai) atau Golongan “Mu’ahidin” (yang membuat perjanjian).Adalah kaum kafirin yang tidak memerangi, dan sama sekali tidak turut andil dalam konspirasi apapun untuk memusuhi muslimin. (Lihat Surah Al-Mumtanah : 8-9).Terhadap golongan ini, ummat Islam harus melaksaknakan point.1 s/d 4.

Golongan ini,juga dibagi dua klasifikasi lagi, yaitu : 1. Mereka yang mempunyai perjanjian damai sementara. Maka terhadap mereka diwajibkan untuk menjaga perdamaian itu dan melindungi mereka sampai batas waktu perjanjiannya habis. 2. Mereka yang mempunyai perjanjian tetap selama-lamanya. Merekalah yang disebut sebagai “Ahlu Dzimmah”, yaitu orang-orang yang mendapat jaminan Allah SWT, jaminan Rasul SAW, dan jaminan dari komunitas muslimin.

Dalam level negara/pemerintahan, Ahlu Dzimmah memiliki hak sebagaimana hak kaum muslimin (termasuk politik), dan memiliki kewajiban sebagaimana kewajiban muslimin (kecuali dalam hal yang menyangkut konsekuensi syari’at masing-2). Ahlu Dzimmah wajib dibela dan dilindungi sebagaimana muslimin membela dan melindungi saudaranya sesama muslim. Amirul Mukminin ‘Umar ibnul Khattab pernah menghapus istilah “Jizyah” bagi Ahlu Dzimmah dari nasrani arab Bani Taghlib, ketika mereka keberatan pungutannya disebut demikian. Dan pungutan tsb oleh ‘Umar ra, disebut sebagai “zakat” sesuai permohonan mereka agar tidak dibedakan dari kaum muslimin. Khalifah ‘Umar menyetujui permohonan ini sambil mengatakan, “Mereka itu orang yang dungu (tidak faham) , mereka itu rela muatan, artinya, menolak sebutannya.” (Fiqhuz Zakat II/708). Imam Al-Auza’i mendukung dan bersama Ahlu Dzimmah di Libanon yang bersikap menentang seorang gubernur dari kerabat dinasti Abasiyah yang berlaku tidak adil.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menghadap Kaisar Mongol Timur Leng dan meminta pembebasan tawanan. Ketika Timur Leng menawarkan hanya membebaskan tawanan yang muslim, Ibnu Taimiyah menolak hal itu, kecuali Timur Leng mau membebaskan juga Ahlu Dzimmah yang ditawan bersama kaum muslimin. Melihat aturan Islam terhadap kaum kafir, dan bukti-bukti sejarah pelaksanaan hal ini, maka toleransi mana lagi yang lebih tinggi kecuali toleransi yang diajarkan oleh Al Qur’an dan Sunnah ??. Wallahu a’lam bishsshowwabb,

(dari : musholla@egroups.com) http://media.isnet.org/islam/Etc/Kafir.html

Dalam Peperangan Antar Sahabat Tidak Ada Yang Dikafirkan

Pertanyaan : Dlm peperangan antar sahabat (perang Shiffin/Jamal), apakah ada yg dikafirkan ?

Jawab : Di dalam peperangan (Shiffin atau Al-Jamal) Ali bin Abi Thalib r.a. tidak menganggap orang-orang yang melawannya telah keluar dari Islam dan kafir, tetapi hanya dikatakan mereka itu Bughah (berbuat kebatilan). Sebagaimana sabda Nabi saw. kepada seorang sahabat yang bernama Ammar, sabda beliau, “Kamu akan dibunuh oleh golongan Al-Bughah, orang-orang yang zalim, atau orang-orang yang berontak (tidak taat kepada penguasa).” Arti kufur dalam hadis atau As-Sunnah bukan keluar dari Islam dan bukan menjadi kafir, sebagaimana yg dipahami oleh sebagian orang-orang pada saat ini yg tidak tepat. Dalam uraiannya, Nabi saw bersabda :”Barangsiapa melakukan sumpah selain kepada Allah, maka orang itu kafir atau musyrik.” Nabi saw. juga bersabda :”Barangsiapa yang mendatangi (berobat) kepada dukun dan percaya pada apa yang dikatakannya, maka dia kafir atau mengingkari apa yang dibawa oleh Rasul.” Hal-hal demikian itu sering dilakukan oleh orang-orang Islam, seakan-akan menjadi tradisi mengunjungi dukun -dukun dan bersumpah atas nama orang, tidak atas nama Allah, tetapi tidak ada satu pun di antara ulama yang memvonis mereka kafir.Jadi, kata “kufur” itu dapat diartikan mengingkari nikmat, tidak bersyukur kepada Allah, tidak kenal budi dan sebagainya. Dengan kata lain, “kufur” mempunyai arti yang luas dan berbeda-beda.

—————————————————

FATAWA QARDHAWI, Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah, Dr. Yusuf Al-QardhawiPenerbit Risalah Gusti, Cetakan Kedua, 1996, Jln. Ikan Mungging XIII/1 Surabaya 60177

http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Fatawa/KafirPerang.html

catatan : artikel ini telah dimuat dalam Majalah Islami “Labbaik“, edisi : 021/th.02/Safar-Rabi’ul Awwal 1427H/2006M


Cara Yang Ganjil Dalam Memahami Agama

April 12, 2007

(oleh : Mukhlas Hasyim MA*)

 

 

Pemahaman-pemahaman agama yang menyimpang dari kaidah-kaidah penafsiran nash serta prinsip-prinsip Usuluddin sudah muncul sejak generasi pertama umat Islam (Assalaf Ash shalih). Pemahaman-pemahaman ini muncul dalam bentuk yang berbeda-beda dan tentu dengan latar belakang atau dorongan yang berbeda-beda pula. Di penghujung kepemimpinan Imam Ali bin Abi Thalib R.A, sekelompok orang yg terbakar dendam politik mengangkat isu aqidah dengan slogan laa hukma illa lillah, Mereka mengkafirkan dan berlaku kejam kepada umat muslim yang tidak sepaham. Itulah ke lompok yang kemudian dikenal dengan sebutan Al Khawarij atau Al Haruriyah.

Di masa dinasti Abbasiyah, seorang penyair yakni, Abul ‘Ala Al Ma’ri mengkritik hukuman potong tangan bagi pencuri, Ia mengatakan :”Yadun bihomsi mi iina ‘asjadin fudiyat # Maa baa luhaa quti’at fi rub’i diinarin” (Satu tangan harus ditebus dengan lima ratus dinar, kenapa hanya karena mencuri seperempat dinar tangan itu harus dipotong ?). Kritikan ini boleh jadi karena faktor keingintahuan si penyair tentang suatu hukum yang dianggap tidak rasional atau boleh jadi ia sengaja membuat keraguan terhadap syari’ah Islam sebab pada masa itu terdapat banyak orang Zanadiqah yang tidak jelas keyakinannya. Pada masa ini pula muncul kelompok Ikhwanushshafa yang tidak jelas siapa orang-orangnya tetapi pikiran mereka dituangkan dalam tulisan-tulisan yang menggabungkan antara sastra dan filsafat.

 

Pada intinya mereka mengajak manusia untuk berbuat kebajikan tanpa harus berpegang pada aturan-aturan syari’ah. Kemudian lahir pula kelompok Bathiniyah yang menganggap ayat-ayat Alqur’an mempunyai dua jenis makna yaitu makna lahir dan makna batin. Aliran ini terus eksis meski Imam Al Ghazali telah berupaya untuk merobohkannya lewat bukunya Fadlaih Al Bathiniyah.

Belakangan pada masa kebangkitan Eropa dan kemunduran negara-negara Islam, ketika wilayah Islam menjadi seperti kue yang dibagi-bagi diantara negara-negara penjajah dan ketika dinasti Ottoman (Utsmaniyah) – simbol otoritas khilafah Islam – menjadi semacam orang tua yang sakit dan ditunggu kematian dan warisannya oleh bangsa-bangsa Eropa, ketika itulah bermunculan para orientalis yang giat mempelajari ilmu-ilmu keislaman bukan untuk melihat kebesarannya, tetapi sebagian besar mereka melakukannya hanya untuk mencari-cari kelemahan untuk mengobati rasa dendam atau fobia mereka terhadap agama terakhir ini. Maka tidak heran jika mereka seringkali mendasarkan kritikannya kepada syari’ah pada kutipan-kutipan yang diambil dari buku semacam Al Aghani karya Al Ashfihani.

 

Dalih Pembaharuan

Di tengah kemajuan Barat yang semakin pesat dan kemunduran umat Islam yang semakin parah, Barat tidak segan-segan untuk mengkampanyekan bahwa kemajuan mereka tidak lain karena mereka sukses dalam menjadikan agama sebagai urusan pribadi antara manusia dengan Tuhannya dan tidak ada sangkut pautnya dengan dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Karena itu umat Islam pun kalau ingin maju harus melakukan hal yang sama. Kampanye ini diterima oleh sebagian umat Islam khususnya setelah runtuhnya dinasti Ottoman dan digantikan dengan negara sekuler pimpinan Kamal Ataturk. Muncul kemudian pemikir-pemikir yang mengatakan bahwa hukum Islam sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman. Hukum-hukum itu hanya cocok untuk seribu tahun yang lalu ketika masyarakat Arab masih dalam kondisi primitif. Pemikiran ini menjadi eksis di kalangan tokoh-tokoh yang memperjuangkan hak-hak rakyat miskin yang semakin tertindas seiring dengan menguatnya pemikiran sosialis di Eropa yang diilhami oleh pandangan-pandangan Karl Marx. Para tokoh sosialis (kiri) ini kemudian mencari justifikasi (pembenar) dari agama agar pendapat mereka itu kelihatan sah dan dibenarkan agama. Maka ditampilkanlah sahabat Nabi SAW seperti Abi Dzar R.A yang berseberangan dengan sayyidina Utsman R.A yang mereka anggap mewa kili kaum borjuis. Pemikiran ini kemudian merembet ke sebagian kaum terpelajar Islam yang gencar mengkampanyekan pembaharuan agama. Mereka menganggap selama ini terdapat kekeliruan umat Islam dalam memahami agamanya sehingga menyebabkan umat ini begitu terpuruk nasibnya.

Di lain pihak lahir pemikiran yang bertolak belakang dengan pemikiran di atas. Yakni bahwa keterpurukan umat Islam tidak lain karena mereka semakin jauh dari ajaran agamanya. Agama tinggal masalah-masalah ibadah, itupun dalam kadar yang semakin menurun. Sementara persoalan ekonomi, politik, hukum, sosial budaya dll, sudah sangat jauh dari agama. Padahal semuanya ini sama-sama mendapatkan perhatian serius dari agama. Mereka rata-rata selalu berdalih pada perlunya pembaharuan agama. Dalih dan Pemikiran mereka ini tentu mendapat respon dan dukungan sangat positif dari dunia Barat sehingga pemikiran mereka pada umumnya diekspos dari sana. Hampir setiap sesuatu yang datang dari Barat atau mendapat acungan jempol darinya selalu memikat orang-orang Indonesia tidak terkecuali pemikiran-pemikiran islam. Begitulah kemudian pemikiran-pemikiran atau paling tidak ide dasar mereka laku keras di kalangan muda NU. Maka lahirlah Jaringan Islam Liberal (JIL) yang mengkampanyekan ajaran-ajaran islam yang liberal, pluralis, humanis, demokratis yang dikomandani oleh Ulil Abshar Abdalla. Muncul pula Islam Emansi patoris, madzhab yang dirintis oleh Masdar F. Masudi yang mengajak untuk mendialogkan Islam dengan problem real (nyata) yang dihadapi umat Islam. Kemudian Islam Post. Tradisionalisme-nya Ahmad Baso dkk dan Islam Kirinya LKIS dan entah apa lagi. – Wallahu A’lam ***

 

*) Kepala Madrasah Aliyah Al Hikmah 2, Alumni Al-Azhar Mesir

http://www.padhangmbulan.com/modules.php?name=News&file=article&sid=143

 

Kafir dan munafik

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. Di antara manusia ada yang mengatakan :”Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka :”Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” Mereka menjawab :”Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman ?”. Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan :”Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan :”Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dlm kesesatan mereka”. (QS.Al Baqarah: 6- 15)

 

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata, Rasulullah saw. Bersabda : “Mencaci-maki orang Islam adalah kefasikan & memeranginya adalah kekafiran”.- (Sahih Muslim, hadits no.97)

Hadis riwayat Jarir ra., ia berkata, Ketika haji wada, Nabi saw. bersabda kepadaku : ”Suruhlah orang-orang diam. Setelah orang-orang diam, beliau bersabda : “Janganlah sesudah kutinggalkan, kalian kembali menjadi orang-orang kafir, dimana sebagian membunuh sebagian yang lain”. – (Sahih Muslim, hadits no.98)

Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata, Nabi saw. Bersabda :”Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan)” – (Sahih Muslim, hadits no.91)

Hadis riwayat Anas ra., ia berkata, Nabi saw. Bersabda :”Ada tiga hal yg barang siapa mengamalkannya, maka ia dapat menemukan manisnya iman, yaitu orang yang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain, mencintai orang lain hanya karena Allah, tidak suka kembali ke dalam kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya) sebagaimana ia tidak suka di lemparkan ke dalam neraka”. – (Sahih Muslim, hadits no.60)

 

catatan : artikel ini telah dimuat dalam majalah islami “Labbaik“, edisi : 021/th.02/Safar-Rabi’ul Awwal 1427H/2006M


MENGKAFIRKAN SESAMA MUSLIM

April 12, 2007

Pertanyaan:

Paham yang menamakan dirinya “Jamaah Attakfir,” “Jamaah Alhijrah,” “fundamentalis Islam” dan sebagainya, mereka beranggapan bahwa orang yang melakukan dosa besar dan tidak mau berhenti dicap kafir. Sebagian lagi beranggapan bahwa orang-orang Islam pada umumnya tidak Muslim, salat mereka dan ibadat lainnya tidak sah, karena murtad. Bagaimana pendirian dan pandangan Islam terhadap mereka ?

Jawab:

Hal tersebut amat berbahaya dan telah menjadi perhatian besar bagi kaum Muslimin khususnya, karena timbulnya pikiran yang terlampau ekstrim. Dalam hal ini, saya sudah menyiapkan sebuah buku khusus mengenai masalah tersebut diatas. Saya kemukakan perlunya pengkajian akan sebab-sebab timbulnya pikiran yang ekstrim dan cara-cara menghadapinya, sehingga dapat diatasi dengan seksama.

Pertama, tiap-tiap pikiran atau pendapat harus dilawan dengan pikiran, pandangan dan diobati dengan keterangan serta dalil-dalil yang kuat, sehingga dapat menghilangkan keragu-raguan dan pandangan yang keliru itu. Jika kita menggunakan kekerasan sebagai alat satu-satunya, maka tentu tidak akan membawa faedah.

Kedua, mereka itu (orang-orang yang berpandangan salah) umumnya adalah orang-orang baik, kuat agamanya dan tekun ibadatnya, tetapi mereka dapat digoncang oleh hal-hal yang bertentangan dengan Islam dan yang timbul pada masyarakat Islam. Misalnya akhlak buruk, kerusakan di segala bidang, kehancuran dan sebagainya. Mereka selalu menuntut dan mengajak pada kebaikan, dan mereka ingin masyarakatnya berjalan di garis yang telah ditentukan oleh Allah, walaupun jalan atau pikirannya menyimpang pada jalan yang salah dan sesat karena mereka tidak mengerti. Maka, sebaiknya kita hormati niat mereka yang baik itu, lalu kita beri penerangan yang cukup, jangan mereka digambarkan atau dikatakan sebagai binatang yang buas atau penjahat bagi masyarakat. Tetapi hendaknya diberi pengarahan dan bimbingan ke jalan yang benar, karena tujuan mereka adalah baik, akan tetapi salah jalan.

Mengenai sebab-sebab timbulnya pikiran-pikiran tersebut adalah sebagai berikut :

1. Tersebarnya kebatilan, kemaksiatan dan kekufuran, yang secara terang-terangan dan terbuka di tengah masyarakat Islam tanpa ada usaha pencegahannya. Bahkan sebaliknya, untuk meningkatkan kemungkaran dan kemaksiatan dia menggunakan agama sebagai alat propaganda untuk menambah kerusakan-kerusakan akhlak & sebagainya.

2. Sikap para ulama yang amat lunak terhadap mereka yang secara terang-terangan menjalankan praktek orang-orang kafir dan memusuhi orang-orang Islam.

3. Ditindaknya gerakan-gerakan Islam yang sehat dan segala dakwah yang berdasar kan AlQur’an dan As-Sunnah. Maka, tiap-tiap perlawanan bagi suatu pikiran yang bebas, tentu akan melahirkan suatu tindakan kearah yang menyimpang, yang nantinya akan melahirkan adanya gerakan bawah tanah (ilegal).

4. Kurangnya pengetahuan mereka tentang agama dan tidak adanya pendalaman ilmu-ilmu dan hukum-hukum Islam secara keseluruhan. Oleh karena itu, mereka hanya mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain, dengan paham yang keliru dan menyesatkan. Keikhlasan dan semangat saja tidak cukup sebagai bekal diri sendiri, jika tidak disertai dasar yang kuat dan pemahaman yang mendalam mengenai hukum-hukum Islam. Terutama mengenai hukum syariat dan ilmu fiqih, maka mereka ini akan mengalami nasib yang sama dengan para Al-Khawarij di masa lampau, sebagaimana keterangan Al-Imam Ahmad. Oleh karena itu, orang-orang saleh yang selalu menganjurkan untuk menuntut ilmu dan memperkuat diri dengan pengetahuan Islam sebelum melakukan ibadat dan perjuangan, agar teguh pendiriannya dan tidak kehilangan arah. Al-Hasan Al-Bashri berkata :”Segala amalan tanpa dasar ilmu, seperti orang yang berjalan tetapi tidak pada tempatnya berpijak (tidak pada jalannya)”.Tiap-tiap amal tanpa ilmu akan menimbulkan kerusakan lebih banyak daripada kebaikannya. Tuntutlah ilmu sehingga tidak membawa madharat pada ibadat dan tuntutlah ibadat yang tidak membawa madharat pada ilmu. Maka, ada segolongan kaum yang melakukan ibadat dan meninggalkan ilmu, sehingga mereka mengangkat pedangnya untuk melawan ummat Muhammad saw. yang termasuk saudaranya sesama Muslim (saling berperang tanpa adanya alasan). Jika me reka memiliki ilmu, tentu ilmu itu tidak akan membawa ke arah perbuatan itu.”

—————————————————

FATAWA QARDHAWI, Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah, Dr. Yusuf Al-Qardhawi, Penerbit Risalah Gusti, Cetakan Kedua, 1996, Jln. Ikan Mungging XIII/1, Surabaya 60177

http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Fatawa/Kafir.html

catatan : artikel ini sudah dimuat dalam Majalah Islami “Labbaik“, edisi : 021/th.02/Safar-Rabi’ul Awwal 1427H/2006M


KUFUR , DEFINISI DAN MACAMNYA

April 12, 2007

Dakwah – Saudara pembaca yang budiman, dalam edisi lalu kita telah membahas tentang berhukum dengan syariat Allah, yang merupakan tuntutan tauhid, juga konsekwensi dari iman kita kepada Allah swt. Sehingga jika hal ini diabaikan dalam arti, jika seorang mukmin tidak berhukum atau tidak menjalankan syariat Allah, bahkan menggantinya dengan hukum buatan manusia yang menyalahi, maka ia termasuk dalam golongan orang yang diberi gelar kafir, dhalim dan fasik.

Selanjutnya dalam edisi kali ini, mari kita mencoba menelaah apa yang dimaksud dengan kufur tersebut, lalu apakah kufur itu bermacam-macam ? sehingga dengan demikian kita tidak gampang nantinya jatuh terjebak dalam kekufuran dan bisa terhindar sejauh-jauhnya dari hal tersebut. Dalam hal ini Syeikh Sholih al-Fauzan telah menjelaskan secara rinci dalam kitab tauhidnya, mari kita simak.

A. Arti KufurSecara etimologi, kufur artinya menutupi, sedangkan menurut terminology syariat, kufur artinya ingkar terhadap Allah swt, atau tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, baik dengan mendustakannya maupun tidak. Perbedaannya, kalau mendustakan berarti menentang dan menolak, tetapi kalau tidak mendustakan artinya hanya sekedar tidak iman dan tidak percaya. Dengan demikian kufur yang disertai pendustaan itu lebih berat dari pada kufur sekedar kufur.

B. Jenis KufurKufur, ditinjau dari berat tidaknya dosa ada dua macam ; yaitu kufur besar dan kufur kecil. Kufur besar adalah kufur yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam, dan kufur besar ini ada lima macam :– Kufur karena mendustakan. Allah swt berfirman :”Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya ? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir ?” (QS. 29:68)– Kufur karena enggan dan sombong, padahal ia tahu dan membenarkannya. Allah berfirman :”Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat :”Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. (QS. 2:34)– Kufur karena ragu. Allah berfirman :”Dan dia memasuki kebunnya sedang ia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata :”Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu”. (QS. 18:35-36). Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya : “Apakah kamu kafir kepada (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna”. Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Rabbku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Rabbku”. (QS. 18:37-38)– Kufur karena berpaling, dalilnya adalah firman Allah swt :”Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka”. (QS. 46:3)– Kufur karena nifaq, dalilnya firman Allah :”Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti”. (QS. 63:3) Kufur kecil, adalah kufur yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, dan ia adalah kufur amali. Kufur amali adalah dosa-dosa yang disebut dalam al-Quran dan as-sunnah sebagai dosa-dosa kufur, tetapi tidak mencapai derajat kufur besar. Contohnya seperti kufur nikmat sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya :”Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir”. (QS. 16:83). Termasuk juga membunuh orang muslim, Rasulullah SAW bersabda :”Mencaci seorang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran”. Termasuk juga bersumpah dengan selain Allah, Rasulullah SAW bersabda :”Barang siapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah kafir atau musyrik”. Para pelaku dosa-dosa tersebut bukan menjadi kafir, walaupun dalam redaksi hadits disebut kafir, karena Allah berfirman :”Hai orang-orang yang beriman, di wajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; (QS. 2:178). Allah tidak mengeluarkan si pembunuh dari golongan orang-orang beriman, bahkan menjadikannya sebagai saudara bagi wali yang berhak melakukan qishosh, lihatlah firman Allah : ”Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula).. (QS. 2:178). Bahkan dalam ayat lain, lebih jelas lagi Allah menyebut kelompok yang saling bunuh dengan sebutan mukmin, “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesung guhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. 49:9). Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua sauda ramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS. 49:10)

Demikian pembagian kufur ditinjau dari berat dan tidaknya ancaman dan dosa. Ada pun dilihat dari segi macam, maka kufur ada tiga macam : kufur qouliy, kufur amaliy, dan kufur I’tiqodi. Tiga macam kekufuran ini dilihat dari mana timbulnya, karena ada yang timbul dari ucapan, ini disebut kufur qouliy (ucapan), seperti bersumpah dengan nama selain Allah, ada yang timbul dari perbuatan, ini disebut kufur amaliy, seperti membunuh orang mukmin, ada yang timbul dari keyakinan disebut kufur I’tiqodiy, seperti meyakini bahwa tidak ada tuhan yang menciptakan alam, atau Isa adalah anak Allah, dll. Jenis kufur ini ada yang termasuk kufur besar, yang dapat mengeluarkan dari agama, ada juga termasuk kufur kecil.

C. Perbedaan kufur besar dan kecilKufur besar mengeluarkan pelakunya dari Islam, dan menghapuskan pahala amalnya, sedangkan kufur kecil tidak mengeluarkan pelaku dari agama dan tidak menghapus pahala amalnya, hanya saja dapat menguranginya. Kufur besar menjadikan pelakunya kekal di neraka, sedangkan kufur kecil tidak, bisa jadi Allah mengampuninya, bisa juga Dia menghukumnya dalam neraka untuk beberapa waktu sesuai dengan kehendak-Nya. Kufur besar menjadikan halal darah dan harta pelakunya, sedangkan kufur kecil tidak. Kufur besar mengharuskan permusuhan yang sesungguhnya, bagi orang-orang mukmin tidak boleh mencintainya, walaupun kerabat sendri. Sedangkan kufur kecil tidak mengharuskan permusuhan total, tetapi pelakunya masih berhak mendapatkan loyalitas dari kaum mukminin sesuai dengan imannya, dan harus mendapatkan kebencian sesuai dengan kadar kekufuran ( dosa ) yang dilakukannya.

D. Kesimpulan

Pertama : Kufur adalah ingkar terhadap Allah swt dan Rasul-Nya.

Kedua : Kufur ada dua macam ; kufur besar dan kufur kecil.

Ketiga : Kufur besar adalah kufur yang mengeluarkan pelakunya dari agama. Sedangkan kufur kecil adalah perbuatan kufur yang tidak sampai menjadikan pelakunya keluar dari Islam.Keempat : Dari segi timbulnya kekufuran, maka ia terbagi menjadi tiga ; kufur ucapan (qouliy), kufur perbuatan (amaliy), dan kufur keyakinan (I’tiqodiy).

Demikian sekilas tentang kufur, arti dan macamnya, semoga Allah menjaga kita dari kekufuran, dan menjadikan kita hamba-hamba Nya yang beriman, amin.

http://majalah.aldakwah.org/artikel.php?art=dirasah&edisi=013&urutan=01

note :“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu terdekat” (QS.26 : 214)

catatan : artikel ini telah dimuat dalam majalah islami “Labbaik“, edisi : 021/th.02/Safar-Rabi’ul Awwal 1427H/2006M


MUNAFIQ (NIFAQ)

April 12, 2007

 

Dakwah – Para pembaca yang budiman, setelah kita mengetahui tentang kufur arti serta macam-macamnya, maka dalam edisi kali ini kita mencoba untuk lebih memperdalam lagi pengetahuan kita tentang hal-hal yang berseberangan dengan ajaran agama kita yang lurus: al-Islam, dan yang akan kita kaji saat ini adalah masalah nifaq dan fisq. Dua hal ini terlalu sering kita dengarkan, karena memang merupakan musuh agama, nifaq sudah menjadi musuh bebuyutan Islam sejak zaman Rasulullah saw, sedangkan fisq adalah tindakan yang keluar dari jalur ketaatan dalam beragama, maka untuk lebih jelasnya mari kita mulai dari pengertian dua hal tersebut.

 

 

A. Makna Nifaq

Secara bahasa, nifaq berarti lobang tempat keluarnya yarbu ( binatang sejenis tikus ) dari sarangnya, di mana jika ia dicari dari lobang yang satu, maka ia akan keluar dari lobang yang lain. Dikatakan pula, kata nifaq berasal dari kata yang berarti lobang bawah tanah tempat bersembunyi. ( al-Mu’jamul wasith 2/942 ).

Adapun nifaq menurut syara’ artinya : menampakkan Islam dan kebaikan, tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan.

 

 

B. Jenis nifaq

Nifaq terbagi menjadi dua jenis: nifaq I’tiqodiy dan nifaq amaliy.

Nifaq I’tiqodiy (keyakinan), Nifaq I’tiqadiy adalah nifaq besar, di mana pelakunya menampakkan ke-Islaman, tetapi dalam hatinya tersimpan kekufuran dan kebencian terhadap Islam. Jenis nifaq ini menyebabkan pelakunya murtad, keluar dari agama & khirat kelak ia akan berada dalam kerak Neraka. Allah berfirman :”Sesungguhnya orang-orang munafik berada dalam kerak Neraka.” (QS. An-Nisa : 145)

Allah swt mensifati orang-orang munafik dengan banyak sifat, diantaranya kekufuran, tiada iman, mengolok-olok dan mencaci maki agama, seperti dalam firman Allah :”Mereka juga mengata-ngatai agama dan pemeluknya, serta kecenderungan kepada musuh-musuh agama untuk bergabung dengan mereka dalam memusuhi Islam. Orang-orang munafik jenis ini senantiasa ada pada setiap zaman. Lebih-lebih ketika tampak kekuatan Islam dan mereka tidak mampu membendungnya secara lahiriyah. Dalam keadaan seperti ini mereka masuk ke dalam Islam untuk melakukan tipu daya terhadap kaum muslimin secara tersembunyi, juga agar mereka bisa hidup bersama umat Islam dan merasa tenang dalam hal jiwa dan harta benda mereka. Al hasil mereka masuk Islam hanya untuk kepentingan mereka, menyelamatkan harta benda dan nyawa mereka. Karena itu, seorang munafik manampakkan keimanannya kpd Allah, malaika-malaikatNya, kitab-kitab Nya dan hari akhir, tetapi dalam batinnya mereka berlepas diri dari semua itu dan mendustakannya.

Allah swt berfirman :”Dan di antara manusia ada yang mengatakan ; Kami beriman kepada Allah dan hari Akhir’ padahal mereka tidak beriman.” (Al-Baqoroh ayat delapan)

 

 

Nifaq jenis ini ada empat macam :

1. Mendustakan Rasulullah saw atau mendustakan sebagian dari apa yg beliau bawa.

2. Membenci Rasulullah saw atau membenci sebagean apa yang beliau bawa.

3. Merasa gembira dengan kemunduran agama Rasulullah saw.

4. Tidak senang dengan kemenangan agama Rasulullah saw.

 

Nifaq ‘amaliy (perbuatan), Nifaq ‘amaliy yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada iman di dalam hati. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkannya dari agama, namun merupakan washilah (perantara) kepada yang demikian. Pelakunya berada dalam keadaan iman dan nifaq, dan jika perbuatan nifaqnya lebih banyak maka hal itu bisa menjadi sebab terjerumusnya dia ke dalam nifaq sesungguhnya, berdasarkan hadits Nabi saw :”Ada empat hal, yg jika berada pada diri seseorang maka ia menjadi seorang munafiq sesungguhnya, dan jika seseorang memiliki kebiasaan salah satu dari padanya, maka berarti ia memiliki satu kebiasaan (ciri) nifaq sampai ia meninggalkannya ; bila dipercaya ia berkhianat, dan jika berbicara ia bohong, jika berjanji ia ingkari, dan jika bertengkar ia berucap kotor.” (Muttafaqun alaihi)

 

Seperti diketahui bahawasanya manusia itu adalah tidak terjaga dari kesalahan dan dosa, sehingga sering kali dalam diri manusia itu terkumpul kebiasaan-kebiasaan iman dan kebiasaan-kebiasaan kufur, kebiasaan baik dan kebiasaan buruk.
Karena itulah ia mendapatkan pahala dan siksa sesuai dengan konsekuensi dari apa yang mereka lakukan, seperti kebiasaan malas dalam melakukan shalat jama’ah di masjid. Ini adalah sebagian dari sifat-sifat orang munafiq. Sifat nifaq adalah sifat yang sangat buruk dan berbahaya, karena itulah para sahabat sangat takut kalau diri mereka terjerumus dlm kemunafikan. Ibnu abi Mulaikah berkata :”Aku bertemu dengan 30 sahabat Rasulullah saw, mereka semua tahu kalau-kalau ada nifaq dalam dirinya.”

 

 

C. BAHAYA NIFAQ

Nifaq seperti kita kemukakan di depan adalah sifat yang sangat berbahaya, baik dunia maupun akhirat. Bahaya nifaq di dunia kembali kepada pelaku dan orang lain, dan di antara bahaya itu adalah :

 

1. Kerusakan di muka bumi, ini adalah inti dari bahaya yang ditimbulkan oleh seorang munafiq, jadi nifaq dapat mengakibatkan segala kerusakan bagaimanapun bentuknya, Allah berfirman :”Ingatlah sesungguhnya mereka itu adalah perusak, akan tetapi mereka tidak merasa.” (QS.Al-Baqoroh : 12)

 

2. Tersebarnya fitnah, ini termasuk salah satu bentuk kerusakan yang timbul akibat sifat nifaq, Allah berfirman :”Andaikan mereka ikut keluar bersama kalian (untuk berjihad), niscaya tidak akan bermanfaat bagi kalian selain hanya akan menambah kerusakan, dan niscaya mereka akan sebarkan fitnah untuk memecah belah kalian.” (QS.Al-Taubah : 47)

 

3. Perpecahan di antara umat Islam, dan ini adalah salah satu bentuk kerusakan yang sangat besar bagi umat Islam, bukan hanya sekarang dengan munculnya banyak orang yang mengatasnamakan Islam yang memberikan pengaruh hebat di dunia internasional, padahal Islam terbebas darinya, akan tetapi sejak zaman Rasulullah saw, kaum munafiq selalu mencari celah untuk mengadu domba dan memecah belah umat. Allah swt berfirman :”Dan orang-orang yang membangun masjid untuk membahayakan, serta keingkaran, dan dengan tujuan memecah belah antara orang-orang yang beriman…” (QS.Al-Taubah : 107).

 

Inilah beberapa bahaya yang timbul akibat nifaq, semoga Allah melindungi kita darinya – yang mana nifaq hanya akan menimbulkan kerusakan di muka bumi.

 

 

D. BALASAN BAGI ORANG MUNAFIQ

Dikarenakan buruknya sifat ini, maka Allah telah menyiapkan bagi para pelaku nifaq, atau orang munafiq dengan balasan yang setimpal, dan dengan redaksi yang bermacam-macam, di antaranya, perintah untuk memerangi dan sikap tegas (keras) terhadap mereka, dan akhirnya dalam kerak neraka Jahannamlah tempat mereka, Allah berfirman :”Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan munafiq, dan ber sikap kasarlah (tegas) terhadap mereka !” (QS.At-Taubah : 73)

 

 

E. KESIMPULAN

– Nifaq adalah sifat menampakkan iman dan menyembunyikan kekufuran.

– Nifaq ada dua macam, nifaq I’tiqodiy (keyakian) dan nifaq ‘amaliy (perbuatan).

– Perbedaan antara nifak besar ( nifaq I’tiqodiy ) & kecil ( nifaq ‘amaliy ).

Nifak besar mengeluarkan pelakunya dari agama, dan nifak kecil tidak demikian.

Nifaq besar adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal keyakinan, sedangkan nifaq kecil perbedaan dalam amal perbuatan. Nifaq besar tidak terjadi dari seorang mukmin, sedangkan nifaq kecil mungkin terjadi dari seorang mukmin. Pada umumnya, pelaku nifaq besar tidak bertobat, dan andaikan bertobat, para ulama berbeda pendapat dalam masalah diterima atau tidak tobatnya. Adapun nifaq kecil, pelakunya umumnya bertobat. Orang munafiq berada dalam kerak neraka Jahannam.

Demikianlah semoga kita dihindarkan oleh Allah dari nifaq, dan semoga kita dijadikan orang-orang yang beriman dengan sesungguhnya, amin.

 

 

http://majalah.aldakwah.org/artikel.php?art=dirasah&edisi=014&urutan=01


catatan : artikel di atas sudah pernah dimuat dalam majalah islami “Labbaik“, edisi : 021/th.02/Safar-Rabi’ul Awwal 1427H/2006M


SIKAP MUSLIM TERHADAP HARI RAYA ORANG KAFIR

April 12, 2007

Sesungguhnya nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya adalah nikmat Islam dan iman serta istiqomah di atas jalan yang lurus. Allah SWT telah memberita hukan bahwa yang dimaksud jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh hamba-hamba-Nya yang telah diberi nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhadaa dan sholihin (Qs. An Nisaa :69). Jika diperhatikan dengan teliti, maka kita dapati bahwa musuh-musuh Islam sangat gigih berusaha memadamkan cahaya Islam, menjauhkan dan menyimpangkan ummat Islam dari jalan yang lurus, sehingga tidak lagi istiqomah. Hal ini diberitahukan sendiri oleh Allah SWT dalam firman-Nya, diantaranya, yang artinya :”Sebagian besar Ahli Ki tab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. 2:109). Dan firman Allah SWT yang lain, artinya :”Katakanlah, Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan”. Allah sekali-kali tdk lalai dari apa yg kamu kerjakan. (QS. 3:99). Juda pada Firman yang lain, yang artinya :”Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta ati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu kebelakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi”. (QS. 3:149) Salah satu cara mereka untuk menjauhkan umat Islam dari agama (jalan yang lurus) yakni dengan menyeru dan mempublikasikan hari-hari besar mereka ke seluruh lapisan masyarakat serta dibuat kesan seolah-olah hal itu merupakan hari besar yang sifatnya umum dan bisa diperingati oleh siapa saja. Oleh karena itu, Komisi Tetap Urusan Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi telah memberikan fatwa berkenaan dengan sikap yang seharusnya dipegang oleh setiap muslim terhadap hari-hari besar orang kafir. Secara garis besar fatwa yang dimaksud adalah :

1. Sesungguhnya kaum Yahudi dan Nashara menghubungkan hari-hari besar mereka dengan peristiwa-peritiwa yang terjadi dan menjadikannya sebagai harapan baru yang dapat memberikan keselamatan, dan ini sangat tampak di dalam perayaan milenium baru (tahun 2000 lalu), dan sebagian besar orang sangat sibuk memperangatinya, tak terkecuali sebagian saudara kita -kaum muslimin- yang terjebak di dalamnya. Padahal setiap muslim seharusnya menjauhi hari besar mereka & tak perlu menghiraukannya.

2. Perayaan yang mereka adakan tidak lain adalah kebatilan semata yang dikemas sedemikian rupa, sehingga kelihatan menarik. Di dalamnya berisikan pesan ajakan kepada kekufuran, kesesatan dan kemungkaran secara syar’i seperti : Seruan ke arah persatuan agama dan persamaan antara Islam dengan agama lain. Juga tak dapat dihindari adanya simbul-simbul keagamaan mereka, baik berupa benda, ucapan ataupun perbuatan yang tujuannya bisa jadi untuk menampakkan syiar dan syariat Yahudi atau Nasrani yang telah terhapus dengan datangnya Islam atau kalau tidak agar orang menganggap baik terhadap syariat mereka, sehingga biasanya menyeret kepada kekufuran. Ini merupakan salah satu cara & siasat untuk menjauhkan umat Islam dari tuntunan agamanya, hingga akhirnya merasa asing dg agamanya sendiri.

3. Telah jelas sekali dalil-dalil dari Al Quran, Sunnah dan atsar yang shahih tentang larangan meniru sikap dan perilaku orang kafir yang jelas-jelas itu merupakan ciri khas dan kekhususan dari agama mereka, termasuk di dalam hal ini adalah Ied atau hari besar mereka. Ied di sini mencakup segala sesuatu baik hari atau tempat yang diagung-agungkan secara rutin oleh orang kafir, tempat di situ mereka berkumpul untuk mengadakan acara keagamaan, termasuk juga di dalam hal ini adalah amalan-amalan yang mereka lakukan. Keseluruhan waktu dan tempat yang diagungkan oleh orang kafir yang tidak ada tuntunannya di dalam Islam, maka haram bagi setiap muslim untuk ikut mengagungkannya.

4. Larangan untuk meniru dan memeriahkan hari besar orang kafir selain karena adanya dalil yg jelas juga dikarenakan akan memberi dampak negatif, yakni : ** Orang-orang kafir itu akan merasa senang dan lega dikarenakan sikap mendukung umat Islam atas kebatilan yang mereka lakukan. ** Dukungan dan peran serta secara lahir akan membawa pengaruh ke dalam batin yakni akan merusak akidah yang bersangkutan secara bertahap tanpa terasa. ** Yang paling berbahaya ialah sikap mendukung dan ikut-ikutan terhadap hari raya mereka akan menumbuhkan rasa cinta dan ikatan batin terhadap orang kafir yang bisa menghapuskan keimanan. Ini sebagaimana yg difirmankan Allah SWT, artinya :“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin , maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tdk memberi petunjuk kpd orang-orang yang zalim”. (QS. 5:51)

5. Dari uraian di atas, maka tidak diperbolehkan bagi setiap muslim yang mengakui Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi dan rasul, untuk ikut merayakan hari besar yang tidak ada asalnya di dalam Islam, tidak boleh menghadiri, bergabung dan membantu terselenggaranya acara tersebut. Karena hal ini termasuk dosa dan melanggar batasan Allah. Dia telah melarang kita untuk tolong-menolong di dalam dosa & pelanggaran, sebagaimana firman Allah, artinya : “Dan tolong-menolonglah kamu di dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. 5:2)

6. Tidak diperbolehkan kaum muslimin memberikan respon di dalam bentuk apapun yg intinya ada unsur dukungan, membantu atau memeriahkan perayaan orang kafir, seperti : iklan dan himbauan; menulis ucapan pada jam dinding atau fandel; menyablon/membuat baju bertuliskan perayaan yang dimaksud; membuat cinderamata dan kenang-kenangan; membuat dan mengirimkan kartu ucapan selamat; membuat buku tulis; memberi keistimewaan seperti hadiah/diskon khusus di dalam perdagangan, atau pun (yang banyak terjadi) yaitu mengadakan lomba olah raga di dalam rangka memperingati hari raya mereka. Kesemua ini termasuk dlm rangka membantu syiar mereka.

7. Kaum muslimin tidak diperbolehkan beranggapan bahwa hari raya orang kafir seperti tahun baru (masehi), atau milenium baru sebagai waktu penuh berkah(hari baik) yang tepat untuk memulai babak baru di dalam langkah hidup dan bekerja, diantaranya adalah seperti melakukan akad nikah, memulai bisnis, pembukaan proyek-proyek baru dan lain-lain. Keyakinan seperti ini adalah batil dan hari tersebut sama sekali tidak memiliki kelebihan dan keistimewaan atas hari-hari yang lain.

8. Dilarang bagi umat Islam untuk mengucapkan selamat atas hari raya orang kafir , karena ini menunjukkan sikap rela terhadapnya di samping memberikan rasa gembira di hati mereka. Berkaitan dengan ini Ibnul Qayim rahimahullah pernah berkata, “Mengucapkan selamat terhadap syiar dan simbol khusus orang kafir sudah disepakati keharamannya seperti memberi ucapan selamat atas hari raya mereka, puasa mereka dengan mengucapkan, “Selamat hari raya (dan yang semisalnya), meskipun pengucapnya tidak terjerumus ke dalam kekufuran, namun ia telah melakukan keharaman yang besar, karena sama saja kedudukannya dengan mengucapkan selamat atas sujudnya mereka kepada salib. Bahkan di hadapan Allah, hal ini lebih besar dosanya daripada orang yang memberi ucapan selamat kapada peminum khamer, pembunuh, pezina dan sebagainya. Dan banyak sekali orang Islam yang tidak memahami ajaran agamanya, akhirnya terjerumus ke dalam hal ini, ia tidak menyadari betapa besar keburukan yang telah ia lakukan. Dengan demikian, barang siapa memberi ucapan selamat atas kemaksiatan, kebid’ahan dan lebih-lebih kekufuran, maka ia akan berhadapan dengan murka Allah”. Demikian ucapan beliau rahimahullah.

9. Setiap muslim harus merasa bangga dan mulia dengan hari rayanya sendiri termasuk di dalam hal ini adalah kalender dan penanggalan hijriyah yang telah disepakati oleh para shahabat Radhiallaahu anhu, sebisa mungkin kita pertahankan penggunaannya, walau mungkin lingkungan belum mendukung. Kaum muslimin sepeninggal shahabat hingga sekarang (sudah 14 abad), selalu menggunakannya dan setiap pergantian thn baru hijriyah ini, tdk perlu dg mangadakan perayaan-perayaan tertentu. Demikianlah sikap yg seharusnya dimiliki oleh setiap mukmin, hendaknya ia selalu menasehati dirinya sendiri & berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri dari apa-apa yang menyebabkan kemurkaan Allah dan laknatNya. Hendaknya ia mengambil petunjuk hanya dari Allah dan menjadikan Dia sebagai penolong.

(Disarikan dari: Fatwa Komisi Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi tentang Perayaan Milenium Baru tahun 2000. Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh, Anggota: Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Ghadyan, Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan – [Dept Ilmiah])

http://van.9f.com/terhadap_hari_raya_kafir.htm

catatan : artikel ini telah dimuat dalam Majalah Islami “Labbaik“, edisi : 021/th.02/Safar-Rabi’ul Awwal 1427H/2006M