Mereka Ketakutan Pada Al-Quran

Januari 3, 2008

 

Penelitian Muhammad Mustafa al-A’zami, meruntuhkan usaha memalsukan kebenaran al-Qur’an oleh orientalis, Snouck Hurgronje dan Goldziher yang kini diwarisi kadernya berbaju Islam Liberal di Indonesia. Spesialis penakluk tesis kaum orientalis. Predikat itu tepat disematkan pada sosok Prof.Dr.Muhammad Mustafa al-A’zami, 73 tahun, guru besar ilmu hadis Universitas King Saud, Riyadh, Arab Saudi. Popularitas A’zami mungkin tidak setenar Dr.Yusuf Qardlawi dan ulama fatwa (mufti) lainnya. Namun kontribusi ilmiahnya sungguh spektakuler.

Sumbangan penting A’zami terutama dalam ilmu hadis. Disertasinya di Universitas Cambridge, Inggris, ”Studies in Early Hadith Literature” (1966), secara akademik mampu meruntuhkan pengaruh kuat dua orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher (1850 -1921) dan Joseph Schacht (1902-1969), tentang hadis. Riset Goldziher (1890) berkesimpulan bahwa kebenaran hadis sebagai ucapan Nabi Muhammad SAW tidak terbukti secara ilmiah. Hadis hanyalah bikinan umat Islam abad kedua Hijriah. Pikiran pengkaji Islam asal Hongaria itu jadi pijakan banyak orientalis lain, termasuk Snouck Hurgronje (1857-1936), penasihat kolonial Belanda. Tahun 1960, tesis Goldziher diperkuat Joseph Schacht, profesor asal Jerman, dengan teori “proyeksi ke belakang”. Hadis, kata Schacht, dibentuk para hakim abad kedua Hijriah untuk mencari dasar legitimasi produk hukum mereka. Lalu disusunlah rantai periwayatnya ke belakang hingga masa Nabi.

Saking kuatnya pengaruh Goldziher-Schacht, sejumlah pemikir muslim juga menyerap tesisnya, seluruh atau sebagian. Seperti A.A.A. Fyzee, hakim muslim di Bombay, India, dan Fazlur Rahman, pemikir neomodernis asal Pakistan yang cukup populer di Indonesia. Definisi hadis ala Goldziher-Schacht berbeda dengan keyakinan umum umat Islam. Bahwa hadis adalah ucapan, perbuatan, dan ketetapan Nabi yang telah diuji akurasinya oleh para ulama hadis seperti Bukhari dan Muslim.

 

Namun belum ada sanggahan telak atas pikiran Goldziher-Schacht dengan standar ilmiah, selain disertasi A’zami. “Cukup mengherankan,” tulis Abdurrahman Wahid saat pertama mempromosikan A’zami di Indonesia tahun 1972, “hanya dalam sebuah disertasi ia berhasil memberi sumbangan demikian fundamental bagi penyelidikan hadits.” Gus Dur menyampaikan itu dalam Dies Natalis Universitas Hasyim Asy’ari, Jombang, tak lama setelah pulang kuliah dari Baghdad. Temuan naskah kuno hadis abad pertama Hijriah dan analisis disertasi itu secara argumentatif menunjukkan bahwa hadis betul-betul otentik dari Nabi. A’zami secara khusus juga menulis kritik tuntas atas karya monumental Joseph Schacht, judulnya On Schacht’s Origins of Muhammadan Jurisprudence. Versi Indonesia, buku ini dan disertasi A’zami sudah beredar luas di Tanah Air. Murid A’zami di Indonesia, Prof. Ali Mustafa Yaqub, berperan banyak mempopulerkan pikiran ulama kelahiran India itu.

Ali Mustafa membandingkan jasa A’zami dengan Imam Syafi’i (w. 204 H). Syafi’i pernah dijuluki “pembela sunah” oleh penduduk Mekkah karena berhasil mematahkan argumen pengingkar sunah –sebutan lain hadis. “Pada masa kini,” kata Ali Mustafa, “Prof. A’zami pantas dijuluki ‘pembela eksistensi hadits’ karena berhasil meruntuhkan argumentasi orientalis yang menolak hadis berasal dari Nabi.”

Setelah lama mapan dalam studi hadis, belakangan A’zami merambah bidang studi lain : Al-Quran. Namun inti kajiannya sama : menyangkal studi orientalis yang menyangsikan otentisitas Al-Quran sebagai kitab suci. Ia menulis buku The History of The Qur’anic Text (2003), yang juga berisi perbandingan dengan sejarah Perjanjian Lama dan Baru. “Ini karya pertama saya tentang Al-Quran,” kata peraih Hadiah Internasional Raja Faisal untuk Studi Islam tahun 1980 itu.

 

Sabtu pekan lalu, A’zami meluncurkan versi Indonesia buku itu dalam Pameran Buku Islam di Istora, Senayan Jakarta. Gus Dur, yang mengaku pengagum A’zami, bertindak sebagai panelis bersama pakar Quran dan hadits lainnya. Prof.Kamal Hasan, dalam pengantar buku itu, menilai karya A’zami ini relevan untuk meng-counter maraknya buku Hassan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zayd, dan Mohammad Arkoun di Indonesia. Melihat pentingnya kajian A’zami ini, Hidayatullah.com menurunkan wawancaranya dengan majalah Gatra, yang diturunkan edisi 11 April 2005.

 

Berikut ini petikan wawancaranya :

 

Apa yang mendorong Anda menggeser objek studi dari hadis ke Al-Quran ?

Al-Quran dan hadis keduanya pegangan penting seorang muslim. Keduanya sama-sama berasal dari Allah SWT. Selain itu, kini orang-orang Barat, para orientalis, banyak mengkaji Al-Quran sekehendak mereka. Mereka begitu ketakutan pada Al-Quran. Bagi mereka, Al-Quran seperti bom. Karena itu, mereka ingin ada proses peraguan (tasykik) atas kebenaran Al-Quran. Studi orientalis generasi lama memang antipati pada Islam. Namun ada penilaian, arah kajian mereka akhir-akhir ini makin membaik : makin apresiatif dan empati pada Islam.

 

Apanya yang membaik ?

Bila Anda hendak menyimpulkan, jangan dari fakta parsial. Anda harus menyimpulkan dari keseluruhan fakta. Masih ada orientalis yang menulis sejarah Nabi dan mengatakan bahwa musuh terbesar manusia di dunia adalah Muhammad, Al-Quran, dan pedangnya Muhammad. Dan problem mendasar kajian orientalis, mereka memulai kajiannya dengan tidak mempercayai Nabi Muhammad. Kita mengatakan, Muhammad adalah Nabi dan Rasul Allah. Menurut mereka, itu bohong besar. Jadi, mereka mengawali pembahasan dengan dasar pikiran bahwa Muhammad adalah pembohong, bukan rasul sebenarnya.

 

Mungkinkah mengkaji Islam semata-mata untuk tujuan studi, tanpa tujuan dan bekal keimanan, sebagaimana kaum orientalis ?

Tidak mungkin. Agama apa saja, pada kenyataannya, sulit sekali mengkajinya tanpa keimanan. Kita lebih mudah mengkaji dan memahami Yahudi dan Kristen, karena kita percaya dan menghormati Musa, Harun, Maryam, dan Isa. Sementara orang Yahudi dan Nasrani tidak bisa memahami Islam, karena mereka mendustakan dan tak beriman pada Muhammad. Bila Anda baca tulisan orang Yahudi tentang Isa dan Maryam, Anda akan temukan ungkapan mereka sangat kotor dan menjijikkan. Ada yang menuding Isa telah berzina tiga kali. Kalau penulisnya muslim, tidak mungkin bilang begitu. Haram ! Karena kita memuliakan para nabi terdahulu. Persoalannya, berapa banyak orang Islam yang mau mengkaji lebih jauh tentang keyakinan Yahudi dan Nasrani ? Sedangkan mereka sangat intens melakukan kajian tentang Islam.

 

Benarkah buku Anda sebagai counter atas corak kajian Al-Quran ala pemikir semacam Hassan Hanafi, Abu Zayd, dan Arkoun yang populer di Indonesia ?

Ini bukan counter langsung. Tapi ada hal penting yang harus digarisbawahi disini bahwa otoritas menafsirkan Al-Quran ada di tangan Rasulullah. Kita percaya, Al-Quran berasal dari Allah dan diturunkan pada Muhammad. Allah berfirman, “Dan kami turunkan Al-Quran pada kamu agar kamu jelaskan pada manusia.” Sama saja, bila ada problem konstitusi di Indonesia, misalnya, maka yang berwenang membuat in terpretasi adalah para hakim Indonesia. Meski meraih gelar doktor di Universitas Cambridge, saya tidak punya otoritas menyelesaikan problem konstitusi di Indonesia. Jadi, kalau ada orang berpikir liberal, lalu menafsirkan perintah salat dalam Al-Quran semaunya, tidak mengindahkan tuntunan Rasul sebagai penafsir yang mendapat mandat dari Allah, maka saya katakan, “Siapa Anda ? Siapa yang memberi Anda otoritas membuat tafsir sendiri ?” Orang-orang seperti Hassan Hanafi dan Abu Zayd itu adalah “anak-cucu” Barat. Tak perlu meng-counter langsung mereka. Kecuali kalau terpaksa. Saya sebenarnya tidak peduli pada pemikiran-pemikiran mereka. Saya ingin membentuk pandangan saya sendiri.

Dalam pandangan Anda, apa yang membuat beberapa pemikir muslim menyerap pengaruh Barat ? Tidakkah karena kekuatan argumentasi Barat ?

Persoalan pokok sebenarnya adalah soal iman. Dari berbagai informasi, sangat nyata kebanyakan dari mereka adalah fasik (banyak berbuat dosa) dan sedikit sekali yang religius (mutadayyin). Mereka tidak puasa dan tidak salat. Ketika bulan Ramadan, subuh mereka bangun, makan pagi, tapi ketika magrib, ikut berbuka bersama lainnya, malamnya juga ikut sahur, ha, ha, ha….

 

Hasan Hanafi dan Nasr Abu Zeid misalnya, tidak belajar di sekolah-sekolah Barat. Tapi pemikiran mereka seperti mewakili pemikiran Barat. Mungkinkah ?

Tentu. Karena buku-buku kajian mereka berasal dari Barat. Tapi Nasr Abu Zeid pernah belajar secara khusus di Jepang.

 

Kami pernah mengulas buku Prof.Christhop Luxenberg (nama samaran) yang berkesimpulan, bahasa asli Al-Quran adalah Aramaik, jadi yang beredar sekarang Quran palsu. Komentar Anda ?

Ah, dia pemikir bodoh. Beberapa penulis mengomentari bahwa pengetahuannya tentang bahasa Syiriya-Aramaik sangat dangkal. Kata dia, Al-Quran berasal dari bahasa Aramaik, kemudian setelah 100 tahun beralih ke bahasa Arab. Sehingga disebut Quran kondisional. Itu sama sekali bukan kajian ilmiah.

 

Apakah pemikiran Chistof ilmiah atau tidak ?

Tidak. Sama sekali jauh dari pemikiran ilmiah…

 

Apakah ini merupakan salah satu cara dari para orientalis untuk merusak umat Islam ?

Itu nggak ada artinya. Tapi sekarang beberapa kali dan akan berkali-kali, mereka menginginkan bahwa ketika Al-Quran dibuat tidak ada titik dan tasydid. Nah, sekarang mereka menginginkan agar Al-Quran diperbarui dari sisi titik dan tasydid-nya. Lalu, membacanya seperti yang kita kehendaki, memberi tanda-baca baru, dan menjadikannya baru. Al-Quran lalu menjadi Al-Quran sesuai kebutuhan/kondisional.

 

Apakah mereka juga memiliki kaidah dasar untuk membuat Al-Quran kondisional tersebut ?

Kaidahnya ya sekehendak hati mereka. Karena mereka memberi tanda baca sesuai kebutuhan mereka.

 

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Al-Quran merupakan produk budaya. Apa komentar Anda ?

Itu pendapat Nasr Abu Zeid. Tapi apa yang sebenarnya disebut produk budaya ? Ini tak ubahnya ketika orang menyebut “terorisme”. Semua berbicara terrorism. Tapi tidak pernah ada satu pun definisi yang muttafaq alaihi tentang terorisme. Terorisme justru kerap dikaitkan dengan Islam. Kita perlu memahami apa pengertiannya dulu.

 

Dalam hal ini, apakah pengertian produk budaya sama dengan asbabun nuzul (memahami Quran secara kontekstual) ?

Tidak (sama). Memahami Quran secara kontekstual bisa dilakukan, jika “sesuatu” mempunyai kaitan dengan asbabun nuzul, tapi tak bisa diterapkan di semua tempat. Kecuali di beberapa tempat khusus yang merupakan sebab turunnya (ayat). Jadi, Anda tak bisa datang dan langsung mengatakan aqiimus shalat. Padahal di sana tidak ada asbabun nuzul, karena di sana adalah amr (perintah). Seharusnya, sebelum itu ada sebab. Allah adalah pencipta seluruh makhluk. Tentunya Dia tahu mana yang berbahaya dan bermanfaat bagi makhluk-Nya. Jangan bermain dengan Api ! Tidak ada …konteks di sini. Tidak hanya berlaku se karang tapi selamanya.

 

Ini wacana yang elit. Apa hal penting dari buku Anda bagi orang-orang awam ?

Saya tak bisa mengemukakan sesuatu untuk semua orang. Jadi saya sudah kepikiran untuk menulis buku baru, yang bisa dibaca dan dipahami oleh semua ummat Islam.

 

Anda pernah belajar dan lulus dari sebuah universitas di Barat. Tapi sikap anda tampak konservatif, dalam arti tidak liberal orang-orang seperti Hassan Hanafi atau Nasr Abu Zeid. Mengapa ?

No ! Saya kira ini pertanyaan dan persoalan tentang iman. Ha…ha..ha…

 

Menurut anda, apa yang salah dengan Barat ?

Apa yang salah dengan Barat adalah sikap (attitude)-nya.

 

Apa tantangan terbesar bagi umat Islam saat ini ?

Kitalah sesungguhnya tantangan terbesarnya. Karena kita tidak mempraktekkannya. Man ghassa falaisa minna. “Barangsiapa yang menipu tidak termasuk golongan kami”. Kalau anda mengambil hadits dan mengujinya di dalam kehidupan (Adzami memberi contoh, bagaimana ia menemukan seorang penjual susu yang menempelkan hadis ini di atas tokonya, tapi ternyata ia menambah air dalam susu yang dijualnya). Meskipun Anda percaya Al-Quran dan Hadits, tapi dalam praktek kehidupan kita kita jauh dari sunnah. Ini salah satu kesulitan kita. Kalau kita menjadi good practicese-nya moslem. Saya tidak bicara tentang Islamisasi ilmu di sini. Tapi saya ingin menegaskan bahwa pengetahuan di Islam masih sangat jauh dari praktek. Islam itu sebenarnya praktek, bukan teori.

 

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1802&Itemi

 

Pemerintah AS Harus Minta Maaf atas Pelecehan Qur’an

Tindakan para prajurit Amerika yang memasukkan kitab suci Al Qur’an ke dalam toilet terus mendapat protes dan tantangan. Rais Syuriyah PBNU KH Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa pemerintah Amerika Serikat harus meminta maaf atas tindakan pelecehan tersebut. “Melecehkan kitab suci Al Qur’an sama dengan melecehkan umat Islam. Karena itu pemerintah AS harus minta maaf kepada umat Islam. Jika tidak ini akan dicatat oleh umat Islam selama-lamanya” tandas nya kepada NU Online (13/5).

Selanjutnya pemerintah AS juga harus menghukum para pelaku tindakan, termasuk pimpinanya agar kejadian tersebut tak terulang kembali dimasa yang akan datang.

Ketua Dewan Syariah Nasional MUI tersebut mengungkapkan bahwa selama ini Amerika Serikat selalu menggembar-gemborkan sebagai negara yang cinta damai, saling menghormati dan lainnya. Akan terdapat kontradiksi dengan kenyataan yang dihadapi.

“Jika pemerintah AS ingin dihormati oleh kaum muslimin, maka mereka juga harus menghormati umat Islam,” tambahnya. Mantan ketua dewan syuro PKB tersebut menilai wajar-wajar saja adanya protes dan demonstrasi yang mengutuk kejadian tersebut. Namun demikian, diharapkan mereka tidak berlaku emosional.

 

 

http://www.nu.or.id/data_detail.asp?kategori=WARTA&id_data=5018 – (c)2003, PBNU.

 

“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS.An Nahl : 64).


Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.014/th.02/Rabi’ul Tsani-Jumada Al Awwal 1426H/2005M

Iklan

Ketika Hati Bersimpuh Di Hadapan Ilahi

Juni 6, 2006

Ma`iz bin Malik datang menemui Rasulullah saw. seraya berkata :”Ya Rasulullah, bersihkanlah saya dari dosa yang telah saya lakukan.” Rasulullah saw. menjawab: “Celaka engkau ! Pulanglah , Mintalah ampun kepada Allah swt. dan bertaubatlah kepada-Nya !”. Ma`iz lalu berpaling, tapi tidak berapa jauh dari tempat itu, ia kembali lagi menghadap Rasulullah saw. dan berkata lagi :”Ya, Rasulullah. Suci kanlah diri saya dari dosa yang telah saya lakukan.” Nabi saw pun berkata seperti sebelumnya, sampai terulang kejadian semacam itu tiga kali. Dan ketika untuk keempat kalinya Ma`iz menghadapnya dan mengulangi perkataannya itu, maka Rasul akhirnya bertanya kepadanya :”Dalam perkara apa ?”, ia menjawab :”Dari perbuatan zina”. Kemudian Rasulullah saw bertanya kepada yang hadir ketika itu: “Apakah ia gila ?”, dan salah seorang sahabat mengabari bahwa Ma`iz sama sekali tidak gila. “Apa ia mabuk khamr ?” tanya Rasulullah saw selanjutnya. Lalu salah seorang di antara para sahabat itu bangkit dan mencium nafas yang keluar dari mulut Ma’iz, namun ia sama sekali tidak mencium bau minuman keras. Kemudian Rasulullah saw. mengintrogasinya :”Apa engkau telah berzina ?”, Ma`iz menjawab: “Benar, ya Ra sulullah.” Segera Rasulullah saw memerintahkan kepada para sahabat untuk merajamnya. Pada saat itu, yang hadir terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pihak yang tidak senang atas perbuatan zina dengan berpendapat :”Celakalah, ia telah terjerat oleh dosa-dosanya.” Sedang pihak yang simpati atas pengakuan Ma`iz mengatakan : “Tidak ada taubat yang melebihi taubatnya Ma`iz.” Akhirnya Ma`iz menghampiri Rasulullah saw, dan berjabat tangan dengannya. Kemudian ia berkata :”Lemparilah aku dengan batu-batu sampai aku mati.” Maka ia dirajam dua atau tiga hari, kemudian datanglah Rasul sambil memberikan salam kepada para sahabat yang sedang duduk, dan beliau pun ikut duduk. Lantas Rasulullah saw. berkata :”Mintalah ampunan kepada Allah swt untuk Ma`iz bin Malik, sungguh ia telah benar-benar bertaubat kepada Allah swt, seandainya taubatnya itu kamu bagi-bagikan kepada satu ummat pasti akan mencukupinya.”

 

Beberapa hari sesudah itu, tiba-tiba datang seorang wanita dari daerah Ghamid menghadap Rasulullah saw seraya berkata :”Ya Rasulullah saw., sucikanlah diriku dari dosa-dosa yang telah aku lakukan.” Rasul menjawab :”Celakalah engkau, pulanglah!, mintalah ampun kepada Allah swt dan bertaubatlah kepada-Nya!”. Namun wanita itu kemudian bertanya :”Apakah tuan akan mengulangi sikap tuan terhadap Ma`iz kemarin kepada saya?”. “Ada apa dengan anda ?” Rasul bertanya kepadanya. Sambil mengusap perutnya yang sedang hamil, wanita itu menjawab :”Kehamilanku ini adalah hasil dari perbuatan mesum yang aku lakukan bersama Ma`iz!”. Dengan terkejut Rasûlullâh saw berkata :”Jadi engkau adalah wanita yang dihamilinya?”. Wanita itu menjawab “Benar!”. Baiklah, tunggu sampai engkau melahirkan anak yang ada dalam perutmu ini.” (Diriwayatkan dari Buraidah). Buraidah selanjutnya berkata :”Kemudian wanita itupun dirawat oleh seorang Anshar sampai akhirnya ia melahirkan anaknya. Kemudian ia pun kembali mendatangi Rasulullah saw dan berkata :”Aku telah melahirkan bayi dalam kandunganku”. Namun Rasulullah saw menjawab :”Tetapi saya tidak akan merajamnya dengan meninggalkan bayinya tanpa seorangpun yang menyusuinya.” Saat itu tampillah seorang dari kaum Anshar seraya berkata :”Saya akan menanggung penyusuannya ya Nabiyullah.” Selanjutnya Buraidah berkata :”Kemudian dirajamnya wanita itu.” (HR.Muslim No.1695).

Dalam riwayat An-Nasa`i, disebutkan bahwa Rasulullah saw memerintahkan menggali sebuah lubang dan mengubur wanita itu sampai ke dadanya, kemudian memerintahkan kepada kaum muslimin untuk merajamnya. Pada saat itu datanglah Khalid bin al-Walid dengan menggenggam sebuah batu dan melemparkannya ke arah wanita itu, sehingga darahnya memercik mengenai wajah atau dahi Khalid. Melihat itu, Khalid pun menyumpahi wanita itu, Rasulullah saw mendengar umpatan Khalid, dan memperingatinya :”Wahai Khalid, jangan engkau berkata demikian, demi Zat Yang jiwaku berada ditangan-Nya, Sungguh wanita ini telah melakukan taubat yang sebenar-benarnya, yang apabila taubatnya dibagikan kepada satu kaum pasti akan mencukupinya.” Setelah itu Rasulullah saw. memerintahkan mengangkat mayat wanita itu untuk di shalatkan dan dikuburkan. (HR.An-Nasa`i, dalam As-Sunan Al-Kubra, No. 7197). Dari fakta historis Islam ini, kita dapat menangkap betapa tingginya kesadaran kaum muslimin terdahulu terhadap penarapan syariat Islam, kisah Ma`iz bin Malik dan kekasihnya merupakan salah satu dari banyak contoh tentang kesadaran dan semangat penerapan syariat Allah. Meski tidak ada seorang pun mengetahui perbuatan zina yang mereka lakukan, dan sekalipun terbuka berbagai kesempatan untuk terhindar dari jeratan hukum atas perbuatan mesum yang dilakukannya, namun mereka berdua menutup semua pintu dan celah itu bagi dirinya, bahkan sebaliknya ia mengakui segala kesalahannya dan memohon untuk diterapkan hukum pidana Islam atas dirinya. Ungkapan historis yang terlontar dari Ma`iz dan kekasihnya, “Bersihkan diri saya, ya Rasulullah !”, mencerminkan suatu kesadaran yang kuat, mengalahkan keinginan manusiawi mereka berdua untuk tetap survival (bertahan hidup) di dunia yang fana ini. Mereka berdua lebih senang memilih disucikan dari dosa melalui rajam terhadap perbuatan yang tidak diketahui oleh siapa pun selain Allah swt dan terbebas dari pengadilan akhirat, daripada menutup-nutupi kesalahan dirinya demi untuk tetap mempertahankan keinginan menikmati manisnya kehidupan dunia sambil bermohon ampunan kepada Allah atas kesalahannya, yang siapa tahu akan dapat di ampuni-Nya juga tanpa melalui hukum rajam tersebut.Kekuatan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap yang dimiliki Ma`iz dan kekasihnya, maupun para sahabat lainnya r.a tidak semata-mata muncul begitu saja me lainkan lahir dari sebuah konsepsi yang sama di kalangan mereka mengenai wahyu Allah swt, sebuah konsepsi yang terpatri kuat dalam hati dan pikiran mereka, konsepsi yang ditanamkan oleh Rasulullah saw melalui berbagai peperangan, dakwah, dan berbagai cobaan kehidupan dunia, dan dengan konsepsi ini mereka mampu mene rapkan syariat Islam dan menciptakan keadilan, perluasan wilayah pembebasan dan menjaga stabilitas regional. Bahkan melalui konsepsi ini terbentuklah komunitas Muslim yang pertama secara unik (QS. 3 : 110). Konsepsi itu adalah keharusan bagi mereka untuk menerima al-Qur`an dan melaksanakannya dalam kehidupan keseharian, baik yang berkaitan dengan segala urusan pribadi maupun dalam komunitas yang hidup bersamanya (Q.S. 2 : 285). Sikap mereka kepada al-Qur`an tak ubahnya bagaikan prajurit yang menerima “perintah harian” di lapangan, dengan segera melaksanakannya setelah mendengar perintah tersebut. Dari Ibnu Mas`ud r.a. berkata : “Dahulu kami, jika mempelajari 10 ayat kami tidak melaluinya sehingga kami mengerti maknanya dan mengimplementasikannya”. (Lihat “Tafsir Al Qur`an Al`Azhim” Ibnu Katsir, dalam Muqaddimah At-Tafsir / 22). Konsepsi ini sangat berbeda dengan sistem kajian sebagian orang “Tokoh pembaharu Islam” dalam menelaah al-Qur`an. Mereka tidak menghadap al-Qur`an untuk dimplementasikan melainkan hanya untuk mengkritisi, mengkoreksi bahkan merombak tatanan nilai di dalamnya. Kalau dulu para sahabat sebelum menghadap ke al-Qur`an membuang terlebih dahulu segala persepsi dan ketentuan pribadinya, untuk selanjutnya mengambil jawaban al-Qur`an atas segala pertanyaan yang bergejolak dalam diri mereka, sedang para “Tokoh pembaharu Islam” menghadap al-Qur`an dengan membawa persepsi dan ketentuan personal sebagai parameternya dalam menilai atau menafsirkan al-Qur`an untuk kemudian mencari dalil yang membenarkan apa yang telah ada dalam pemikiran dan benak mereka. Sehingga lebih mudahnya mereka menjadikan akal mereka sebagai timbangan terhadap wahyu. Maka wajar sekali apabila karya-karya mereka banyak mengandung kerancuan dan jauh dari semangat Qur`ani. Sampa-sampai seorang penafsir mengatakan bahwa nash al-Qur`an wajib ditakwilkan agar cocok dengan pemahaman akal !, suatu prinsip yang berbahaya mengingat wahyu dan akal bukanlah merupakan dua hal yang sepadan karena wahyu adalah pokok rujukan bagi akal, yang menimbang dan menguji kesimpulan serta meluruskan kekurangan dan penyimpangan akal. Sesungguhnya menerima otoritas wahyu tidaklah berarti mendepak akal , diantara keduanya tentu saja terdapat kesesuaian dan keserasian, namun akal bukanlah pemegang keputusan terakhir. Ringkasnya, menjadikan kitab Allah swt sebagai sumber petunjuk satu-satunya dalam kehidupan dan mengembalikan segala masalah hanya kepada-Nya merupakan suatu keharusan dari setiap diri kita. Kita sama-sama bersepakat bahwa dalam menanggulangi masalah kerusakan sebuah pesawat terbang, kita harus memanggil seorang insinyur yang membuat pesawat itu, dan kita sama-sama bersepakat bahwa seorang pilot yang akan mengoperasionalkan suatu pesawat terbang harus mengikuti buku petunjuk operasional pesawat yang dikeluarkan dari perusahaan yang memproduksinya. Tetapi mengapa kita tidak mau menerapkan prinsip ini dalam diri kita sendiri. Allah swt lah yang menciptakan kita dan hanya petunjuk-Nya yang benar. Sedang kita mengetahui bahwa pegangan yang mantap dan pengarahan yang benar hanyalah : Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. (QS. 2:120)

http://www.aldakwah.org/modules.php?name=News&file=article&sid=514


ORANG YANG PALING BERANI

Al Bazzar meriwayatkan dalam kitab Musnadnya dari Muhammad bin Aqil katanya, “Pada suatu hari Ali bin Abi Talib pernah berkhutbah di hadapan kaum Muslimin dan beliau berkata, “Hai kaum Muslimin, sia pakah orang yang paling berani ?”. Mereka menjawab, “Orang yang paling berani adalah engkau sendiri, hai Amirul Mukminin.” Kata Ali, “Orang yang paling berani bukan aku tapi adalah Abu Bakar. Ketika kami selesai membuatkan Nabi sebuah gubuk di medan Badar, kami tanyakan siapakah yang berani menemani Rasulullah saw dalam gubuk itu dan menjaganya dari serangan kaum Musyrik ? Di saat itu tiada seorang pun yang bersedia kecuali Abu Bakar sendiri. Dan beliau menghunus pedangnya di hadapan Nabi untuk membunuh siapa saja yang mendekati gubuk Nabi saw. Itulah orang yang paling berani.” “Pada suatu hari aku juga pernah menyaksikan ketika Nabi sedang berjalan kaki di kota Mekah, datanglah orang Musyrik sambil menghalau beliau dan menyakitinya, mereka berkata, “Apakah kamu menjadikan beberapa tuhan menjadi satu tuhan ?” Di saat itu tidak ada seorang pun yang berani mendekat dan membela Nabi selain Abu Bakar. Beliau maju ke depan dan memukul mereka sambil berkata, “Apakah kamu hendak membunuh orang yang bertuhankan Allah ?”. Kemudian sambil mengangkat kainnya, beliau mengusap air matanya. Kemudian Ali berkata, “Adakah orang yang beriman dari kaum Fir’aun yang lebih baik daripada Abu Bakar ?” Semua jamaah diam saja tidak ada yang menjawab. Ali melanjutkan, “Sesaat dengan Abu Bakar lebih baik daripada orang yang beriman dari kaum Fir’aun walaupun mereka sepuluh dunia, karena orang beriman dari kaum Fir’ aun hanya menyembunyikan imannya sedang Abu Bakar menyiarkan imannya.” Bagaimana dengan kita ?

http://www.masjidits.com/detail2.php?IDNews=1776

Sabda Nabi Muhammad saw :”Hampir masanya akan terjadi, seseorang diantara kamu bertelekan diatas kursinya, kemudian disampaikan kepadanya sebuah hadits dari padaku (Rasul) maka jawabnya : ‘Dihadapan kita cukup Kitab Allah, apa yang kita peroleh halal didalamnya kita halalkan dan apa yang kita peroleh haram didalamnya kita haramkan’. Seterusnya Nabi bersabda :”Ingatlah! Sesungguhnya apa yang diharamkan Rasul sama dengan yang diharamkan Allah”. (Diriwayatkan oleh Ahmad, Hakim dan Ibnu Majah, dari Miqdam bin Ma’dikarib).

note : Artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.006/th.01/Rajab 1425 H/2004M


Pernyataan Bersama Mengutuk Pelecehan Al Qur’an Di Kamp Guantanamo

Juni 6, 2006

Berkaitan dengan penghinaan terhadap al-Qur’an, sebagai kitab suci umat Islam, yang dilakukan oleh pasukan Amerika Serikat (AS) di Kamp Guantanamo, kami atas nama umat Islam di Indonesia, dengan ini menyatakan :

1- Mengutuk tindakan penghinaan terhadap al-Qur’an yang telah dilakukan oleh pasukan AS tersebut. Sesungguhnya tindakan ini bukan hanya menghina kitab suci umat Islam, tetapi juga menghina Islam dan umatnya.

2- Sesungguhnya pelecehan terhadap kesucian Islam, sebagaimana yang dilakukan terhadap kitab suci al-Qur’an, hanya bisa dibela dan dipertahankan oleh penguasa kaum Muslim yang membela kepentingan Islam dan kaum Muslim, sehingga dia akan bisa menjadi perisai bagi Islam dan kaum Muslim. Sebagaimana sabda Rasulullah saw :”Seorang imam (penguasa/kepala negara) itu bagaikan perisai.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Tanpanya, niscaya kesucian Islam dan kemuliaan umatnya akan senantiasa dinodai oleh kaum Kufar.

3- Menyerukan kepada seluruh umat Islam di Indonesia, khususnya, juga umat Islam di seluruh dunia, baik yang duduk di jajaran legislatif, eksekutif, judikatif, kepolisian, militer, termasuk para ulama’, intelektual maupun masyarakat awam agar segera bersatu di bawah naungan Islam. Hanya dengan itulah, kita akan mempunyai kekuatan, sehingga kesucian agama dan kehormatan kita sebagai umat Islam akan tetap bisa dipertahankan.

4- Sesungguhnya perang Amerika dan sekutunya, dengan dalih perang melawan terorisme, baik yang dilakukan terhadap Afganistan, Irak maupun negeri-negeri kaum Muslim yang lain, hanyalah kedok untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Tujuannya tidak lain hanyalah untuk mengangkat dan mengukuhkan rezim boneka, yang bisa mereka peralat untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Maka, seluruh komponen umat Islam harus mewaspadai propaganda jahat negara-negara Kafir imperialis tersebut, yang bertujuan untuk menjajah dan menguasai negeri mereka dengan cara mengadu domba mereka, dan memecah belah kesatuan dan persatuan mereka.

5- Menuntut pemerintah Amerika agar meminta maaf secara terbuka kepada umat Islam di seluruh dunia, dan menghentikan perlakuan keji terhadap Islam dan umatnya di seluruh dunia.

6- Menuntut pemerintah Indonesia dan seluruh dunia Islam untuk mengambil sikap tegas terhadap penghinaan dan pelecehan terhadap kitab suci umat Islam.

Jakarta, 13 Mei 2005

Atas Nama Umat Islam Indonesia :
01. Komite Islam untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI),
02. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI),
03. Al-Irsyad Al Islamiyyah,
04. Badan Koordinasi dan Silaturrahmi Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI),
05. Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al Azhar,
06. Front Pembela Islam (FPI),
07. Majelis Mujahidin Indonesia (MMI),
08. Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII),
09. Ikatan Da’i Indonesia (IKADI),
10. Tim Pembela Muslim (TPM),
11. Gerakan Pemuda Muslim Indonesia (GPMI),
12. Korp Ulama’ Betawi,
13. dan Organisasi Islam lain.

Lampiran Acara :
1. Pemutaran Film Dokumenter : Membongkar Kekejaman Amerika di Irak atas nama Freedom dan Demokrasi (durasi 12:25 menit)
2. Pembukaan Tabligh Akbar : MC (Sudadi – HTI)

Para Orator :
01 – Mashadi- KISDI
02 – KH Hussein Umar – DDII
03 – H. Ahmad Soemargono – GPMI
04 – Habib Riziq Shihab – FPI
05 – Ust. Abu Jibril – MMI
06 – KH Muhammad al-Khatthath – HTI
07 – Farouk Bajeber – Al Irsyad
08 – Geys Amar – Al Irsyad
09 – Mahendrata – TPM
10 – Ahmad Sathori Ismail – IKADI
11 – Ridwan Saidi – Ulama’ Betawi

Pembacaan Pernyataan Bersama: Mengutuk Penghinaan Al-Qur’an Di Kamp Guantamo Oleh Tentara Amerika – KH Kholil Ridhwan – BKSPPI
Doa: Ustadz Arifin Ilham – Majelis al-Dzikra
Konferensi Pers: Pembacaan Press Release: Mengutuk Penghinaan Al-Qur’an Di Kamp Guantanamo Oleh Tentara Amerika, Ustadz Muhammad Ismail Yusanto. – HTI

http://www.hizbut-tahrir.or.id/modules.php?name=News&file=article&sid=519

RI : Pelecehan Al Qur’an oleh Tentara AS ‘Nista’ dan ‘Tak Bermoral’

Pemerintah Indonesia mengecam pelecehan terhadap Al-Qur’an yang diduga dilakukan oleh tentara Amerika Serikat di pusat tahanan pangkalan Angkatan Laut AS di Teluk Guantanamo baru-baru ini dan menyebut tindakan tersebut sebagai “nista” dan “tidak bermoral”.
“Saya ingin tegaskan, tindakan ini adalah tindakan yang nista, tindakan yang ‘imoral’. Tindakan terhadap kitab suci seperti Al Qur’an, Injil atau apapun seperti itu sama sekali tidak bisa dibenarkan,” kata Juru Bicara Deplu-RI, Marty Natalegawa, di Jakarta, Jumat. Marty ketika itu ditanya komentarnya mengenai sikap Indonesia –negara Muslim terbesar di dunia– terhadap laporan media tentang pelecehan terhadap Al Qur’an yang dilakukan prajurit AS yang sedang berupaya menjatuhkan mental tahanan Afghanistan di Penjara Guantanamo.

Majalah Newsweek baru-baru ini melaporkan bahwa sejumlah aparat AS melakukan penghinaan terhadap kitab suci umat Islam di penjara Guantanamo. Di antara bentuk penghinaan oleh petugas interogasi tersebut adalah mereka menaruh Al Qur’an itu di toilet. “Kita sangat menyesali dan tidak dapat menerima insiden tersebut “, ujar Marty. Marty berharap pihak otoritas AS segera melakukan investigasi mengenai kasus tersebut karena sangat menyangkut masalah sensitif keagamaan.
Keberatan Indonesia mengenai pelecehan terhadap Al Qur’an, menurutnya, sudah di sampaikan kepada Pemerintah AS melalui pembicaraan diplomasi. (Ant)

http://www.elenda.net/4-9.htm

“Harus ada segolongan dari kamu yang mengajak pada kebaikan, menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dan merekalah orang yang beruntung lagi bahagia.” – (QS Al-Imron : 104)

“Janganlah kamu lemah, dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang yang beriman” (QS Ali-Imran: 139)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.014/th.02/Rabi’ul Tsani-Jumada Al Awwal 1426H/2005M


Islam Koq Ndak Ekstrem ?

April 25, 2006

Yang bahaya dan ditakuti oleh penguasa bumi ini bukan Kaum Muslimin atau Ummat Islam. Yang kuat dan hebat juga bukan Ummat Islam. Tidak ada yang perlu ditakuti dari Ummat Islam. Biarpun Israel hanya sekabupaten yang bertetangga dengan sepropinsi negara-negara Islam, si kabupaten bisa berbuat apa saja. Jangankan sekedar mengurung Yasser Arafat di dalam metoda Khondaq, jangankan sekedar mengancam dan mengebom Masjidil Aqsha, sedangkan kalaupun Ka’bah di Mekah dan Masjid Nabawi di duduki oleh kumpulan pasukan-pasukan penguasa dunia -akan tidak banyak yang bisa diperbuat oleh Ummat Islam.

Ummat Islam di timur tengah hidup dalam negara-negara suku yang secara ideologis dan sosiologis menyalahi prinsip universalisme (rahmatan lil’alamin) yang merupakan inti ajaran Rasulullah Muhammad saw. Ada kerajaan suku Arab Saudi, kerajaan suku Yordan, Kuwait, dlsb. Para khotib Jum’at selalu menyatakan rasa syukur “Kita panjatkan puja dan puji kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw, yang telah membawa kita dari alam jahiliyah menuju alam nur yang terang benderang…”
Kalimat itu belum selesai, karena di ekornya masih ada anak kalimat, “….kemudian sesudah Muhammad tiada, kita kembali ke dunia jahiliyah….”
Ummat Islam Indonesia yang jumlahnya terbesar di dunia juga terbagi dalam berbagai suku dengan fanatisme, kebanggaan dan egosentrismenya masing-masing. Ada suku NU, suku Muhammadiyah, suku darul Arqam, suku PKB dan sub-sukunya, suku PPP dan sub-sukunya, suku PBB, PK dan banyak lagi. Firman Allah “syu’ub wa qaba-il” itu bukan hanya bermakna genekologis atau antropologis – tetapi juga melebar ke berbagai segmentasi sosial yang jumlahnya tak terbilang. Bahkan di dalam suku-suku Ummat Islam terdapat pula sub-suku Yahudi, Nasrani, Sekuler, Kebatinan dan macam-macam lagi – sekurang-kurangnya dalam cara pandang dan pola sikap kesejarahannya. Sungguh mengasyikkan isi dunia ini, dan Ummat Islam di muka bumi seluruhnya atau khusus di Indonesia, dengan modal dasar kebanggaan suku – tidaklah akan mampu berbuat banyak kepada kekuatan-kekuatan di luar dirinya. Jika kekuatan di luar mereka memusuhinya, Ummat Islam akan kalah, dan jika kekuatan di luar dirinya itu bersahabat dengannya – Ummat Islam akan lebih kalah lagi.
Dan kalau terhadap persepsi saya ini Ummat Islam marah, maka menjadi terbukti bahwa ternyata keadaan mental dan budaya Ummat Islam jauh lebih parah dibanding yang tergambar dalam uraian ini.
***

Yang ditakuti oleh dunia, sekali lagi, bukanlah Ummat Islam, melainkan kebenaran nilai-nilai Islam. Oleh karena itu nanti zaman demi zaman akan berlalu, dan jika Ummat Islam dimusuhi, lantas mereka ada yang melawan, ada yang tidak melawan dan bahkan banyak yang justru menjadi alat untuk memusuhi Islam sendiri meskipun si alat ini naik haji 19 kali dan dikenal sebagai tokoh Islam – maka para penguasa dunia itu tidak akan bisa dikalahkan oleh Ummat Islam, melainkan akan dieliminir dan ditaklukkan secara ridho oleh nilai-nilai Islam sendiri yang tumbuh diam-diam dari dalam diri mereka sendiri.
Anda tidak perlu percaya pada kata-kata saya ini tetapi juga sebaiknya tak usah tidak percaya, daripada kelak Anda mundur isin untuk mengakuinya. Sebagaimana kepada sorga dan neraka Anda tidak saya tuntut untuk percaya, tetapi sebaiknya juga tak usah repot-repot tak percaya – supaya kelak kalau ada sorga beneran Anda tidak malu-malu kucing untuk mendaftar masuk ke dalamnya.

Sekarang para penguasa dunia silahkan berbuat semaunya kepada Ummat Islam. Ummat Islam bisa dibunuh, ditembaki, dimusnahkan dengan tidak terlalu sukar karena dari segala segi maintenance peperangan, Ummat Islam kalah mutlak. Tetapi yang tak bisa diapa-apakan adalah nilai Islam. Sebab kandungan nilai Islam tidak bisa di tembak atau dibom. Nilai Islam terletak di lubuk hati setiap orang yang memusuhinya.
Jadi kalau, umpamanya, Anda ingin menangkap saya, memenjarakan saya, membunuh sa ya, memberangus pekerjaan sosial saya, mengucilkan saya, menghancurkan eksistensi saya, membuang saya, membakar nama saya, menginjak-injak harga diri saya, menendang kepala saya, bahkan melabuh abu bakaran mayat saya di pantai selatan -sedikitpun Anda tidak akan mendapatkan kesulitan. Sebab saya sangat lemah. Tetapi yang tidak akan terbunuh adalah keyakinan yang saya jalani, sebab keyakinan itu juga berdomisili di dalam diri Anda sendiri.
***

Nilai Islam sangat ditakuti eksistensinya oleh para penguasa dunia, tetapi Ummat Islam atau Kaum Muslimin amat diperlukan oleh mereka. Para penguasa dunia sangat membutuhkan Ummat Islam, tidak akan membiarkan Ummat Islam kelaparan, tidak membiarkan Ummat Islam kehilangan tokoh serta penampilan formalnya. NU, Muhammadiyah, MUI atau apa saja, harus terus ada, jangan sampai tidak ada. Kalau Ummat Islam sampai mengalami busung lapar dan musnah, itu akan merugikan para penguasa dunia, karena dengan demikian mereka tidak punya partner untuk menjalankan dialektika kekuasaan. Ummat Islam harus tetap eksis di muka bumi, sebab penguasa dunia membutuhkan budak dan orang-orang jajahan. Budak jangan sampai ndak makan dan loyo, sebab kalau loyo ndak bisa diperintah-perintah. Kalau kelaparan tidak enak ditempelengi. Ummat Islam dibutuhkan keberadaannya oleh penguasa dunia, dan manfaat keberadaan Ummat Islam adalah untuk proses penghancuran dan pelenyapan nilai-nilai Islam itu sendiri. Ummat Islam dipelihara, digurui, diajari, dididik untuk memiliki cara berpikir, cara bersikap dan cara hidup yang menghancurkan nilai-nilai Islam. Dan itu gampang dilaksanakan : kiai-kiai, ulama-ulama, cendekiawan muslim, mahasiswa islam, jurnalis, budayawan seniman, warga ormas keislaman, anak-anak muda Islam dll – sangat gampang digiring menjadi pegawai penghancur nilai-nilai Islam.

Ummat Islam harus dipelihara keberadaannya, sebab mereka yang sangat effektif untuk mempermalukan nilai-nilai Islam. Kalau ada kelompok Muslimin yang membangun kesejukan, kebersamaan, demokratisasi, egaliterisasi, defeodalisasi, menegakkan cinta kasih sosial – jangan diberi ruang di pemberitaan media massa dan peta opinion making – sebab mereka ini kontra-produktif untuk proses mempermalukan nilai-nilai Islam. Yang dibutuhkan oleh penguasa dunia adalah Muslim Ekstrem, radikal , ngamukan, berkepala batu, bodoh, terbelakang, suka mengancam, hobi mengasah pedang.
Rumus baku di kampus, media massa dan internet adalah “Islam harus ekstrem”. Mosok Islam ndak ekstrem. Islam ekstrem adalah Islam ideal bagi para penguasa dunia, sebab memang itulah senjata bumerang paling ampuh untuk mengeliminir ketakutan mereka terhadap kebenaran nilai Islam. Untuk menciptakan muslim ekstrem, maka harus dilaksanakan sejumlah kecurangan opini dan ketidakadilan di bidang-bidang politik, hukum, ekonomi dan kebudayaan. Kalau orang disakiti terus menerus, pasti lama-lama ia akan menjadi keras dan gampang dipancing untuk mengamuk.
Di setiap segmen sosial, di tempat kerja, di lingkungan birokrasi, di kampus, di kampung dan di manapun saja – harus terus menerus diciptakan pencitraan bahwa orang Islam itu suka menindas. Orang Islam itu mayoritas yang kejam. Meskipun kalangan Islam yang ditindas tapi opini yang dibangun harus sebaliknya.

Kalau ternyata dipancing-pancing dan dijelek-jelekkan kok orang-orang Islam itu masih saja bersabar, bersikap lembut dan merangkulkan kemesraan pluralisme – maka harus pada momentum-momentum yang berkala dan berirama harus diciptakan skenario seakan-akan ada tokoh ekstremis teroris – umpamanya Abu Bakar Baasyir — yang diupayakan untuk dihardik terus menerus di media massa, dicari-carikan pasal untuk menangkap dan menghukumnya.*****

(Pustaka Digital Emha Ainun Nadjib)

http://www.padhangmbulan.com/modules.php?name=NukeJokes&func=JokeView&jokeid=3

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.014/th.02/Rabi’ul tsani-Jumada Al Awwal 1426H/2005M


Vox populi vox dei …

Maret 1, 2006

Kalau kebanyakan orang berpendapat bahwa A itu baik, maka sebaiknya kita juga menyukai A”. Itulah saran yang sering kita dengar dari orang-orang di sekitar kita, atau mungkin malah kita sendiri pernah memberi saran seperti itu kepada orang lain. Suara/pendapat dari kebanyakan orang seringkali kita jadikan dasar acuan untuk membenarkan sesuatu dan mengikutinya. Lumrah, namanya juga ‘orang awam’. Di belahan bumi mana pun juga berlaku ‘hukum’ seperti itu. Di dunia barat bahkan lebih ‘berani’, mereka punya istilah “vox populi vox dei”, yang artinya bahwa suara kebanyakan orang atau suara rakyat itu adalah suara tuhan.

Tuhan dalam kalimat itu sekedar kiasan atau Tuhan dalam arti sebenarnya, entahlah. Namun, sebagai muslim, semoga kita tidak dengan mudahnya ikutan ‘mencatut’ nama Tuhan sebagaimana terjadi di dunia barat itu. Suara manusia ya suara manusia, suara Tuhan ya Kalamullah. Suara manusia biasanya mengandung berbagai kepentingan, sering kali malah ‘ada udang di balik batu’. Adapun suara Tuhan itu bersih, suci, murni untuk kemaslahatan semua makhluk-Nya. Suara manusia, meskipun dalam jumlah yang sangat banyak, masih memungkinkan mengandung kesalahan, sedang suara Tuhan pasti benar, mutlak benar, karena Tuhan itu Maha Benar.

Sehubungan dengan suara kebanyakan manusia ini, Allah SWT telah ‘mewanti-wanti’ melalui beberapa ayat Al Qur’an, misalnya :

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar dari pada penciptaan manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. 40 : 57)

“Sesungguhnya hari kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan tentangnya, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman”. (QS. 40 : 59)

“Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan kepada manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur”. (QS. 40 : 61).

Itulah sebagian contoh peringatan Allah SWT tentang suara kebanyakan manusia. Insya Allah kita tidak kesulitan mencari contoh ayat yang lain, asalkan kita rajin membuka terjemah/atau tafsir Al Qur’an.

Mengikuti pendapat kebanyakan orang kalau ternyata salah tentu kita turut kena getahnya, kalau ternyata batil tentu kita ikut menanggung dosanya, kalau ternyata maksiat tentu kita ikut tersesat. Lain halnya bila pendapat itu berasal dari kebanyakan ulama, atau biasa disebut ‘jumhur ulama’. Kalau yang berpendapat kebanyakan ulama, insya Allah itu benar merupakan cerminan suara Allah SWT, karena seorang ulama, apalagi dalam jumlah banyak, apabila berpendapat insya Allah tidak sembarangan, mereka punya rambu-rambu berupa syariat. Ada dalil-dalil atau nash, baik Al Qur’an, Hadist atau ijma’, yang bisa digunakan untuk menopang pendapatnya tersebut. Maka kalau kebanyakan ulama berpendapat bahwa ‘B’ itu baik, sebaiknya kita juga ikut menyukai ‘B’, kalau pun ternyata salah kita tidak sepenuhnya menanggung dosanya, karena memang ilmu yang kita dapat dari para ulama seperti itu. Sedang bila ternyata benar insya Allah kita akan selamat dunia akherat. Untuk mengetahui berbagai pendapat dari jumhur ulama, tentu dengan banyak mempelajari islam, banyak mengikuti taklim, banyak membaca buku-buku islam, dll.

Ulama adalah pewaris nabi, mari mulai ikut menapaki jalan para ulama …

note : artikel di atas telah dimuat dalam Mukaddimah Labbaik edisi 014/th.02/Rabi’ul tsani-Jumada Al Awwal 1426H/2005M)