Mushibah Aceh: “Miniatur Kiamat”

Mei 2, 2007

Pada hari ahad, 14 Dzulqo’idah 1425 H atau bertepatan dng tanggal 26-12-2004 M, penghuni planet bumi dikejutkan oleh bencana yang tidak diperkiraan oleh para pakar sebelumnya. Gelombang air pasang tsunami yang muncul setelah gempa dahsyat berkekuatan 8,5 – 8,9 pada skala Richter menerjang beberapa negara. Ribuan orang meninggal dunia dan sejuta lebih menderita luka-luka, demikian data yang ditulis oleh sebuah harian ibu kota. Saat musibah terjadi, masing-masing sibuk menyela matkan diri. Harta dan kekayaan yang selama ini dikejar-kejar tanpa kenal waktu dan aturan ditinggal begitu saja. Mobil yang mahal lagi mewah, rumah yang bagus laksana istana, ternak yang banyak dan sawah-ladang yang luas seakan tak berarti sama sekali. Semua tidak dihiraukan lagi, yang penting bagaimana agar dirinya selamat dari bencana. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman -dalam menggambarkan kejadian hari kiamat :
“Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berantakan, dan apa bila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Infithaar ayat 1-9)

Bagi seorang mukmin, kejadian-kejadian itu telah mengantarkan dirinya kepada kesadaran bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sebaik-baik perencana. Seorang mukmin tetap harus berprasangka baik kepada setiap rencana-Nya. Ia harus tetap berusaha maksimal menta’ati segala perintah serta menjauhi segala larangan-Nya, kemudian ia memperbaiki akhlak dan memperbagusnya. Allah SWT berfirman :”Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk ayat 1-2) . Seorang mukmin harus memahami bahwa suatu bencana memiliki beberapa maksud, bisa sebagai ujian dan peringatan bagi dirinya atau hukuman bagi orang-orang kafir. Bencana berarti ujian bagi hamba-hamba yang ta’at untuk kenaikan tingkat dan kedudukan di sisi Allah SWT. Dari setiap bencana seorang mu’min akan senantiasa mengambil hikmah dan kebaikan. Ia akan sabar melaluinya dan berusaha menolong untuk meringankan beban saudaranya yang tertimpa musibah. Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu meriwayatkan : “Ujian akan terus datang kepada seorang mukmin atau mukminah mengenai jasadnya, hartanya, dan anaknya sehingga ia menghadap Allah tanpa membawa dosa.” (HR. Ahmad dalam Musnad II/287, at-Tirmidzi dalam az-Zuhd VII/80. Ia berkomentar, hasan shahih).
Juga riwayat al-Hakim dalam ar-Raqaiq IV/214 dan dinyatakan sebagai hadits shahih sesuai dengan syarat Muslim. Disepakati oleh adz-Dzahabi dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Syakir dalam Musnad no.7846.

Bencana berarti peringatan bagi manusia yang banyak melakukan kedurhakaan dan kema’siatan. Peringatan diturunkan agar mereka ingat dan bertaubat kepada Allah SWT, serta memperbaiki dirinya dengan ibadah yang benar dan ta’at yang ikhlas kepada-Nya. Bencana bisa juga merupakan hukuman, sebagaimana banjir besar yang menerjang manusia-manusia durhaka lagi kafir pada zaman Nabi Nuh alaihis salam. Allah SWT menggambarkan peristiwa di harikiamat sbb :”Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap.” (QS. At-Takwir ayat 1-6).

Bandingkan gambaran kiamat dengan peristiwa gelombang tsunami yang baru saja terjadi, di mana baru sebagian lautan diluapkan, ribuan orang tewas dan tidak berdaya bahkan sejuta lainnya hidup terkatung-katung. Bisakah dibayangkan jika seluruh lautan diluapkan?! Tidak ada lagi tempat berlari dan berlindung pada saat itu kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Gagah Perkasa, Maha Agung, Maha Rahman dan Maha Pengampun.
Di ayat lain Allah SWT berfirman :”Apabila terjadi kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya dan gunung-gunung dihancur-luluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu yang berterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan.” (QS. Al-Waqi’ah ayat 1-7). Bayangkanlah bagaimana pula jika bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya ? baru gempa dengan kekuatan 6.3 skala Richter Desember 2003 lalu di Iran 30.000 orang tewas seketika, Demikian pula ketika terjadi gempa di India (Januari 2001) berke kuatan 7,9 skala Richter 24.000 orangpun tewas. Bagi Allah mudah jika hendak mematikan seluruh manusia.

Musibah demi musibah Allah timpakan silih berganti namun manusia durhaka tetap saja tak mau sadar. Bahkan dengan kepongahannya, mereka mengemas setiap kemaksiyatan sedemikian rapi, sehingga tidak terasa lagi kalau perbuatan tersebut adalah mendurhakai Allah SWT. Marilah kita renungkan bersama firman Allah SWT :”Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid ayat 16)

Saudaraku, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa dan mendorong jiwa untuk ta’at dan khusyu’ kepada Allah Yang Maha Ghafur. Wa Allahu A’lam bish-shawwab. (**dari khilafah.or.id)

http://blog.efx2.com/user/aceh/Refleksi%20sahabat/
note : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu terdekat”. (QS.Asy Syu’araa : 214). Semoga bermanfaat.

“Tidak ada paksaan dalam beragama, sesungguhnya sudah nyata petunjuk pada kesesatan. Barang siapa yang tak percaya kepada thaghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang pada tali yang teguh yang tidak akan putus. Allah Maha Mengetahui.” (QS.Al Baqarah : 256)
Keterangan :
Dalam ayat ini terang benar, bahwa dalam agama Islam tidak boleh memaksa seseorang agar memeluk agama Islam. Melainkan seseorang itu diberi kemerdekaan memilih agama apa yang akan dianutnya, karena sudah jelas mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar mana yang salah, yaitu jika kita mau memikirkannya dengan pikiran yang jernih. Kewajiban kita ummat Islam hanyalah memberi keterangan yang cukup kepada umum atas kebenaran Islam. Kemudian itu mereka diberi kesempatan untuk memikirkannya, karena agama itu adalah keyakinan hati, sedang keyakinan itu tidak bisa dimasukkan ke dalam hati seseorang dengan jalan paksa. (Tafsir Qur’an Karim, Prof.Dr.HM.Mahmud Yunus)

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan padamu pengetahuan untuk membedakan antara yang haq dengan yang bathil dan menghapuskan segala kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu dan Allah maha besar karuniaNya.” (QS.Al-Anfaal 29)

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.009/th.02/2005

Iklan

Vox populi vox dei…

April 18, 2007

Kalau kebanyakan orang berpendapat bahwa A itu baik, maka sebaiknya kita juga menyukai A”. Itulah saran yang sering kita dengar dari orang-orang di sekitar kita, atau mungkin malah kita sendiri pernah memberi saran seperti itu kepada orang lain. Suara/pendapat dari kebanyakan orang seringkali kita jadikan dasar acuan untuk membenarkan sesuatu dan mengikutinya.

Lumrah, namanya juga ‘orang awam’. Di belahan bumi mana pun juga berlaku ‘hukum’ seperti itu. Di dunia barat bahkan lebih ‘berani’, mereka punya istilah “vox populi vox dei”, yang artinya bahwa suara kebanyakan orang atau suara rakyat itu adalah suara tuhan. Tuhan dalam kalimat itu sekedar kiasan atau Tuhan dalam arti sebenarnya, entahlah. Namun, sebagai muslim, semoga kita tidak dengan mudahnya ikutan ‘mencatut’ nama Tuhan sebagaimana terjadi di dunia barat itu. Suara manusia ya suara manusia, suara Tuhan ya Kalamullah. Suara manusia biasanya mengandung berbagai kepentingan, sering kali malah ‘ada udang di balik batu’. Adapun suara Tuhan itu bersih, suci, murni untuk kemaslahatan semua makhluk-Nya. Suara manusia, meskipun dalam jumlah yang sangat banyak, masih memungkinkan mengandung kesalahan, sedang suara Tuhan pasti benar, mutlak benar, karena Tuhan itu Maha Benar.

Sehubungan dengan suara kebanyakan manusia ini, Allah SWT telah ‘mewanti-wanti’ melalui beberapa ayat Al Qur’an, misalnya :

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar dari pada penciptaan manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. 40 : 57)

“Sesungguhnya hari kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan tentangnya, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman”. (QS. 40 : 59)

“Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan kepada manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur”. (QS. 40 : 61).

Itulah sebagian contoh peringatan Allah SWT tentang suara kebanyakan manusia. Insya Allah kita tidak kesulitan mencari contoh ayat yang lain, asalkan kita rajin membuka terjemah/atau tafsir Al Qur’an.

Mengikuti pendapat kebanyakan orang kalau ternyata salah tentu kita turut kena getahnya, kalau ternyata batil tentu kita ikut menanggung dosanya, kalau ternyata maksiat tentu kita ikut tersesat.

Lain halnya bila pendapat itu berasal dari kebanyakan ulama, atau biasa disebut ‘jumhur ulama’. Kalau yang berpendapat kebanyakan ulama, insya Allah itu benar merupakan cerminan suara Allah SWT, karena seorang ulama, apalagi dalam jumlah banyak, apabila berpendapat insya Allah tidak sembarangan, mereka punya rambu-rambu berupa syariat. Ada dalil-dalil atau nash, baik Al Qur’an, Hadist atau ijma’, yang bisa digunakan untuk menopang pendapatnya tersebut. Maka kalau kebanyakan ulama berpendapat bahwa ‘B’ itu baik, sebaiknya kita juga ikut menyukai ‘B’, kalau pun ternyata salah kita tidak sepenuhnya menanggung dosanya, karena memang ilmu yang kita dapat dari para ulama seperti itu. Sedang bila ternyata benar insya Allah kita akan selamat dunia akherat. Untuk mengetahui berbagai pendapat dari jumhur ulama, tentu dengan banyak mempelajari islam, banyak mengikuti taklim, banyak membaca buku-buku islam, dll.

Ulama adalah pewaris nabi, mari mulai ikut menapaki jalan para ulama …

[dari : Mukaddimah Labbaik edisi 009/th.01/Syawal-Dzulqoidah 1425H/2005M]


Benteng Terakhir Barshisha

Mei 15, 2006

Seribu satu cara untuk menggoda manusia. Itulah sumpah Iblis terlaknat dalam memburu anggota. Pantang mundur sebelum menang, siapa pun dihadapi. Semakin teguh yang dibujuk rayu, semakin canggih pula cara yang ditempuh. Dengan keuletan Iblis ini, jatuh pula Imam Barshisha, manusia alim tiada tara.
Siapa Barshisha, seorang ulama yang dikisahkan bahwa selama 200 tahun hayatnya tidak pernah berbuat maksiat, walau hanya sekejap. Diceritakan pula, berkat ibadah dan kealimannya, 9.000 muridnya bisa berjalan di atas bumi. Sampai-sampai malaikat pun kagum terhadap hamba Allah yang satu ini.

Tetapi, apa kata Allah atas kekaguman malaikat kepada Barshisha, “Apa yang kamu herankan darinya ? Sesungguhnya aku lebih mengetahhui dari apa yang tidak pernah kamu ketahui. Dan, sesungguhnya Barshisha dalam pengetahuanku,” kata Allah. Pada akhir hidupnya, Barshisha yang terkenal alim itu, berbalik menjadi kafir dan masuk neraka selama-lamanya, hanya sebab minum khamr (minuman keras). Mendengar perkataan Allah ini, Iblis merasa menemukan kunci kelemahan Barshisha. Maka datanglah Iblis ke biara Barshisha dengan menyamar sebagai orang yang alim, dengan mengenakan kain zuhudnya berupa kain tenun.
“Siapa engkau ini, dan apa maumu?” tanya Barshisha. “Aku adalah hamba Allah yang datang untuk menolongmu, dalam rangka mengabdi dan menyembah Allah,” jawab Iblis.

Dengan hati yang tegar Barshisha berkata, “Siapa yang hendak mengabdi kepada Allah, cukuplah Allah sendiri yang menolongnya dan bukan engkau.”
Kulihat mangsanya begitu tegar pendiriannya, Iblis melangkahkan jurusnya yang lain, selama tiga hari tiga malam Iblis beribadah tanpa makan, minum, dan tidur.
Melihat tamunya beribadah dengan khusyu, hati Barshisha mulai goyah. Ia kagum atas kekhusyuan tamunya yang terus-menerus beribadah kepada Allah tiga hari tiga malam tanpa makan, minum, dan tidur. Padahal, yang sealim ini tetap makan, minum, dan tidur bila beribadah kepada Allah.
Didorong rasa ingin tahu, Barshisha lalu bertanya kepada tamunya bagaimana dia bisa beribadah semacam itu. Iblis mengatakan bahwa ia pernah berbuat dosa, sehingga apabila dia teringat dosanya dia tidak bisa makan dan tidur.
“Bagaimana agar aku bisa beribadah seperti kamu ?” desak Barshisha yang mulai terpikat taktik Iblis. Kemudian Iblis menyarankan agar sekali waktu Barshisha berbuat maksiat kepada Allah, kemudian bertobat kepadanya. Dengan demikian Barshisha akan bisa merasakan kenikmatan beribadah setelah mengenang dosanya.

Kiat Iblis ini ternyata mampu menggoyahkan Barshisha. Dia bertanya kepada Iblis, “Apa yang harus aku kerjakan ?”
“Berzina,” jawab Iblis.
“Tidak mungkin, aku tidak akan melakukan dosa besar itu,” bantah Barshisha.
Iblis berkata, “Jika tidak mau berzina, membunuh orang saja, atau minum khamr yang dosanya lebih ringan.”
“Aku memilih minum khamr, tetapi di mana aku bisa mendapatkannya ?” sahut Barshisha.
“Pergilah ke desa ini,” ujar Iblis sambil menunjukkan nama desa yang dimaksud.
Atas saran Iblis, Barshisha pergi menuju desa yang dimaksud. Di sana dia bertemu dengan seorang perempuan cantik yang berjualan khamr. Ia langsung membelinya dan langsung meneguknya. Karena tidak terbiasa, maka Barshisha langsung mabuk hingga kehilangan kontrol. Kemudian dengan nafsunya, ia memaksa perempuan penjual khamr itu untuk diajak berzina. Malangnya, saat dia memperkosa perempuan tersebut, ia kepergok suaminya, maka dipukullah dia hingga hampir mati.

Saat korbannya dalam kepayahan, Iblis yang menyamar sebagai seorang alim itu berubah menjadi manusia biasa. Ia melaporkan peristiwa itu ke pengadilan dengan Barshisha sebagai terdakwa. Oleh pengadilan Barshisha dijatuhi hukuman cambuk 80 kali, sebagai hukuman minum khamr. Ditambah cambukan 100 kali atas hukuman zina, dan hakim memutuskan Barshisha dihukum gantung sebagai ganti darah.

Saat Barshisha digantung itu, Iblis datang menghampirinya dan berkata, “Bagaimana keadaanmu Barshisha ?”
Barshisha menjawab, “Siapa yang mengikuti orang jahat, inilah akibatnya,” jawab Barshisha.
Iblis berkata, “Aku sudah berupaya 200 tahun menggodamu sampai berhasil hari ini engkau digantung. Jika engkau ingin turun, aku dapat menolongmu tetapi ada syaratnya. Sujudlah kepadaku,” ujar Iblis yang masih berupaya menjebloskan mangsanya.
Barshisha, yang sudah kehilangan benteng imannya berkata, “Bagaimana aku dapat bersujud kepadamu sedang tubuhku berada dalam gantungan ?” “Tidak perlu cukup engkau bersujud dan beriman dalam hati kepadaku,” kata Iblis menegaskan. Maka, bersujudlah Barshisha dalam hatinya menuruti saran Iblis. Matilah ia dalam kekafiran menyembah Iblis.

[Sumber : Buku 1001 Kisah-Kisah Nyata oleh Achmad Sunarto telah diterbitkan oleh penerbit CV Firdaus, Jln. Kramat Sentiong Masjid, No. E 105, Telp. (021) 3144738, Jakarta Pusat]

http://www.alislam.or.id/comments.php?id=1391_0_11_0_C
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik Edisi no : 009/th.01/Syawwal-DzulQoidah 1425H/2005M


Gunung Jangan Pula Meletus

Mei 15, 2006

(Oleh : Emha Ainun Nadjib)

KHUSUS untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai Sudrun. Apakah kita mampu mengucapkan kedahsyatannya ? Apakah sastra mampu menuturkan kedalaman dukanya ? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai-nilai kandungannya ?. Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, barang siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh lantak terkeping-keping, niscaya akan aku bunuh dia. “Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh !,” aku menyerbu.
“Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran,” Sudrun menyambut dengan kata kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati.
“Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta ?”
“Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh dinikahkan dengan surga.” “Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan paling menderita di banding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke kubangan kesengsaraan sedalam itu ?”. “Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya sehingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan.”
“Termasuk Kiai….”

Cuh ! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini. Sejak dahulu kala. Kuusap dengan kesabaran.
“Kalau itu hukuman, apa salah mereka ? Kalau itu peringatan, kenapa tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta ? Kalau itu ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan rakyat Aceh selama ini, di tengah perang politik dan militer tak berkesudahan ?”
Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari kata-kataku. Badannya terguncang-guncang. “Kamu mempersoalkan Tuhan ? Mempertanyakan tindakan Tuhan ? Mempersalahkan ketidak adilan Tuhan ?” katanya.
Aku menjawab tegas, “Ya.”
“Kalau Tuhan diam saja bagaimana ?”
“Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa Indonesia akan terus mempertanyakan.” “Sampai kapan ?”. “Sampai kapan pun !”
“Sampai mati ?”. “Ya !”. “Kapan kamu mati ?”. “Gila !”
“Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu mempertanyakan kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di Aceh. Kamu bahkan tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima menit mendatang. Kamu juga tidak tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu pengecut. Untuk apa mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidak melawanNya. Kenapa kamu memberontak secara tegas kepada Tuhan. Kami menyingkir dari bumiNya, pindah dari alam semestaNya, kemudian kamu tabuh genderang perang menantangNya !”
“Aku ini, Kiai !” teriakku, “datang kemari, untuk merundingkan hal-hal yang bisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah diktator dan otoriter….”

Sudrun malah melompat-lompat. Yang tertawa sekarang seluruh tubuhnya. Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku. “Kamu jahat,” katanya, “karena ingin menghindar dari kewajiban.”
“Kewajiban apa ?”
“Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu belajar menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu-satunya yang ada , yang berhak bersikap diktator dan otoriter, seperti pelukis berhak menyayang lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke tempat sampah.
Tuhan tidak berkewajiban apa-apa karena ia tidak berutang kepada siapa-siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun. Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru Dialah yang menciptakan baik buruk. Tuhan tidak harus patuh kepada benar atau salah, karena benar dan salah yg harus taat kepadaNya. Ainun, ainun, apa yang kamu lakukan ini ? Sini, sini…”-ia meraih lengan saya dan menyeret ke tembok, “Kupinjamkan dinding ini kepadamu….”
“Apa maksud Kiai ?,” aku tidak paham.
“Pakailah sesukamu.” “Emang untuk apa ?”
“Misalnya untuk membenturkan kepalamu….”. “Sinting !”
“Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh.”

Ia membawaku duduk kembali.
“Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk manusia menurut pertimbanganmu ?,” ia pegang bagian atas bajuku. Kamu tahu Muhammad ?”, ia meneruskan, “Tahu ? Muhammad Rasulullah SAW, tahu ? Ia manusia mutiara yang memilih hidup sebagai orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih dari tiga hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan lagi. Ia menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri. Panjang rumahnya 4,80 cm, lebar 4,62 cm. Ia manusia yang paling dicintai Tuhan dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya berdarah. Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat panas badan oleh racun Zaenab wanita Yahudi. Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua dibiarkan oleh Tuhan dipenggal kepalanya kemudian kepala itu diseret dengan kuda sejauh ratusan kilometer sehingga ada dua kuburannya. Muhammad dijamin surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan sehingga menangis di setiap sujudnya. Sedangkan kalian yang pekerjaannya mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yang politik kalian busuk, perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah, menginginkan nasib lebih enak dibanding Muhammad ? Dan kalau kalian ditimpa bencana, Tuhan yang kalian salahkan ?”
Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga saya jatuh ke belakang.
“Kiai,” kata saya agak pelan, “Aku ingin mempertahankan keyakinan bahwa icon utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan Rahim….”
“Sangat benar demikian,” jawabnya, “Apa yang membuatmu tidak yakin ?”

“Ya Aceh itu, Kiai, Aceh…. Untuk Aceh-lah aku bersedia Kiai ludahi.”
“Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang terjadi adalah bahwa kamu pantas diludahi.”
“Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu….”
“Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta sosial, Rahim cinta lubuk hati. Kenapa ?”
“Aceh, Kiai, Aceh.”
“Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh dari bawah bumi. Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera dipisahkan oleh Tuhan dari dunia. Ribuan malaikat mengangkut mereka langsung ke surga dengan rumah-rumah cahaya yang telah tersedia. Kepada saudara- saudara mereka yang ditinggalkan, porak poranda kampung dan kota mereka adalah medan pendadaran total bagi kebesaran kepribadian manusia Aceh, karena sesudah ini Tuhan menolong mereka untuk bangkit dan menemukan kembali kependekaran mereka. Kejadian tersebut dibikin sedahsyat itu sehingga mengatasi segala tema Aceh Indonesia yang menyengsarakan mereka selama ini. Rakyat Aceh dan Indonesia kini terbebas dari blok-blok psikologis yang memenjarakan mereka selama ini, karena air mata dan duka mereka menyatu, sehingga akan lahir keputusan dan perubahan sejarah yang melapangkan kedua pihak”.

“Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban sukar dibayangkan akan mampu tertanggungkan.”
“Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu. Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna, dan nyawa tidak melayang, itulah kebaikan; sementara yang sebaliknya adalah keburukan- berhentilah memprotes Tuhan, karena toh Tuhan tak berlaku di dalam skala berpikirmu, karena bagimu kehidupan berhenti ketika kamu mati.”
“Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa, sementara membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat hidup nikmat sejahtera ?”
“Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di neraka kelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu mereka memperbanyak dosa dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh negerimu yang baik yang justru Tuhan bersegera mengambilnya, sementara yang kamu doakan agar cepat mati karena luar biasa jahatnya kepada rakyatnya malah panjang umurnya ?”

“Gusti Gung Binathoro !,” saya mengeluh, “Kami semua dan saya sendiri, Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir setakaran dengan yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan.”
“Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola perilaku Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan terus penyakit itu sehingga politiknya memuakkan, ekonominya nggragas dan kebudayaannya penuh penghinaan atas martabat diri manusia sendiri-maka Tuhan justru menambahi penyakit itu, sambil menunggu mereka dengan bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat. Yang di Aceh bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan bagi mereka yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan pembangkitan bagi yang masih dibiarkan hidup.”
“Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai ketidakadilan….”, kataku.
“Alangkah dungunya kamu !” Sudrun membentak, “Sedangkan ayam menjadi riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan manusia meski ayam tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia sedang riang dan bersyukur.”
“Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera hidupnya ?”
“Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan berturut-turut, baik berupa bencana alam, teknologi dan manusia, dengan frekuensi jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tetapi, karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin itu menjadikan Tuhan mengambil keputusan untuk memberi peringatan dalam bentuk lebih dahsyat. Kalau kedahsyatan Aceh belum mengguncangkan jiwa Jakarta untuk mulai belajar menundukkan muka, ada kemungkinan….”
“Jangan pula gunung akan meletus, Kiai !” aku memotong, karena ngeri membayangkan lanjutan kalimat Sudrun.
“Bilang sendiri sana sama gunung !” ujar Sudrun sambil berdiri dan ngeloyor meninggalkan saya.
“Kiai !” aku meloncat mendekatinya, “Tolong katakan kepada Tuhan agar beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam….”
“Kenapa kau sebut bencana alam ? Kalau yang kau salahkan adalah Tuhan, kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan ?”
Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.

http://blog.efx2.com/user/aceh/Refleksi%20sahabat/

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah apa yang selalu kamu hindari dan kamu lari menjauhinya”. (QS.50 : 19)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik Edisi no : 009/th.01/Syawwal-DzulQoidah 1425H/2005M


Musibah, rahmat atau murka Allah ?

April 4, 2006

(oleh : Prof. DR.M. Quraish Shihab, Metro TV)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, tiada suatu wujud yang dipuji dan dipuja walau dalam bencana kecuali kepada Allah. Jangan menggerutu, jangan bersangka buruk kepada Tuhan. Pujilah Dia walau dalam bencana. Memang pasti banyak pertanyaan yang muncul. Setiap ada musibah, setiap ada malapetaka, pasti kita bertanya-tanya. Mengapa demikian ? Apalagi malapetaka ini yang demikian besar, yang sementara orang mengatakan “tidak mampu lagi dipikul oleh manusia”.

Kita boleh bertanya, kita boleh mencari tahu, tetapi sekali lagi jangan bersangka buruk kepada Tuhan, tapi bersangka baiklah kepadaNya. Allah Rabbul ‘Alamin. Dia pemelihara seluruh Alam. Dia mengatur keseimbangan alam raya ini. Terkadang diambilnya disini sedikit, untuk diberinya disana. Diberinya disana banyak untuk diserahkan kemari. Karena Dia pemelihara seluruh alam. Dalam surah Ar Rahman, Allah berfirman : “Seluruh makhluk yang ada di alam raya ini, bermohon kepada Tuhan, dan setiap saat Tuhan melayani mereka”. Kita tidak hanya hidup di dunia, karena itu jangan mengukur sesuatu dengan ukuran dunia saja. Masih ada hidup yang jauh lebih panjang. Mereka yang menderita di dunia, belum tentu menderita di akhirat. Dan kata orang, tidak jarang ada hari-2 dimana kita menangis, setelah berlalu hari-2 itu kita menangis lagi, merenung, mengapa dulu kita menangis ?. Kita tidak tahu banyak hal, karena itu Allah berfirman :”Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal baik buat kamu”, boleh jadi kamu tidak senang kepada sesuatu tapi di balik itu Allah menjadikan kebaikan yang banyak buat kamu.

Itu prinsip-2 dasar setiap kita menghadapi musibah. Sekali lagi jangan menggerutu. Silahkan menangis. Rasulpun sewaktu mendapat musibah, beliau menangis. Sahabat-2nya bertanya, apa ini wahai Rasul ? Beliau bersabda : “Ini adalah pertanda rahmat dan kasih sayang, kita tidak berucap kecuali apa yang diridhai Allah”. Mari kita lihat lembaran-lembaran Al-Quran, bagaimana uraiannya tentang musibah. Sebenarnya ada paling tidak ada 4 kata yang digunakan Al-Quran untuk menggambarkan sesuatu yang tidak berkenan di hati seseorang, diantaranya :

– Musibah (sudah masuk perbendaharaan bahasa Indonesia),
– Bala’ (sudah masuk juga dalam perbendaharaan bahasa Indonesia),
– Fitnah (masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia, tetapi dalam pengertian yang lain
– Fitnah dalam bahasa Al-Quran, artinya ujian atau siksaan),
– Imtihan (ujian yang maknanya melapangkan qalbu seseorang.

Tujuan dari setiap ujian adalah melapangkan qalbunya sehingga kualitasnya naik). Kita akan bahas 2 dari keempat kata tersebut yaitu Musibah dan Bala’. Musibah dalam bahasa Indonesia diartikan bencana, kemalangan, cobaan. Dalam AlQuran ada 67 kali kata yang seakar dengan kata ‚musibah’ dan 10 kali kata ‚musibah’. Musibah pada mulanya berarti sesuatu yang menimpa atau mengenai. Sebenarnya sesuatu yang menimpa itu tidak selalu buruk. Hujan bisa menimpa kita dan itu dapat merupakan sesuatu yang baik. Memang kata musibah konotasinya selalu buruk, tetapi karena boleh jadi apa yang kita anggap buruk itu, sebenarnya baik, maka AlQuran menggunakan kata ini untuk sesuatu yang baik dan buruk.

Memang Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa “tidak disentuh seseorang oleh musibah kecuali karena ulahmu”, tetapi disisi lain, ketika AlQuran berbicara tentang Bala’, dikatakannya musibah itu datang dari Allah swt. Tidak ada musibah yang terjadi kecuali atas ijin Allah ketika kita berbicara tentang Bala’ (yang diartikan juga bencana). Sebenarnya Bala’ pada mulanya berarti menguji bisa juga berarti menam pakkan. Seseorang yang diuji itu dinampakkan kemampuannya. Hidup ini adalah ujian. Itu sebabnya Allah swt menyatakan :”Allah yang menciptakan hidup dan mati, untuk menguji kamu, untuk melihat bagaimana kualitas kamu, siapa yang diantara kamu yang lebih baik amalnya”. Kita lihat ujian/bala’ datangnya dari Tuhan. “Kami pasti akan menguji kamu sampai Kami tahu siapa orang-2 yang berjihad di jalan Allah dan bersabar”. Allah menurunkan bala’ tanpa campur tangan manusia. “Kami pasti menurunkan sedikit rasa takut, sedikit rasa lapar, kematian sanak keluarga”. “Berilah berita gembira kepada orang2 yang sabar”.

Hidup ini ujian. Ujian ini bisa berupa sesuatu yang disenangi, bisa juga berbentuk sesuatu yang tidak disenangi. Siapa yang menduga bahwa kekayaan dan kesehatan adalah tanda cinta Tuhan ? Dia telah keliru. Siapa yang menduga bahwa suatu hal yang terasa negatif adalah tanda benci Tuhan ? Itupun dia telah keliru. Allah mengecam kepada orang-2 yang apabila diberi nikmat oleh Tuhan, lantas berkata “saya disenangi Tuhan”, dan kalau Tuhan menguji dia sehingga mempersempit hidupnya, dia lantas berkata “Tuhan membenci saya, Tuhan menghina saya”. Jangan duga, saudara-2 kita di Aceh yang meninggal dan ditimpa musibah, dibenci Tuhan. Jangan duga, yang menderita itu dimurkai Tuhan. Jangan duga yang berfoya-2 disenangi Tuhan. “KALLAA” (TIDAK). Disini Allah menggunakan kata BALA’ -yang artinya menguji, karena itu jangan cepat-cepat berkata bahwa bencana itu murka Tuhan.

Dulu jaman Nabi, banyak sahabat gugur di medan perang, terluka sekian banyak sahabat Nabi, bahkan Nabipun terluka. Allah swt pasti tidak benci pada Nabi, sehingga beliau terluka. Allah pasti merestui sahabat-2 yg gugur itu, walaupun mereka menderita. Ketika itu turun ayat :”Jangan merasa rendah hati, jangan merasa terhina, jangan larut dalam kesedihan. Kamu adalah orang-2 yang mendapat kedudukan yang tinggi selama kamu beriman”. Di Surat Ali Imran, Allah berfirman, tujuan Allah turunkan cobaan ini adalah supaya Allah mengangkat dari kalangan kamu sebagai syuhada’. Kita bisa berkata bahwa yang gugur mendapatkan bencana ini, disiapkan oleh Tuhan tempat yang tinggi, karena mereka adalah orang-2 mukmin. Dan tujuan Allah turunkan bencana ini adalah supaya Allah mengetahui siapa orang2 yang benar-2 beriman dan yang tidak. Karena itu jangan menggerutu, karena Allah memberikan tempat yang sebaik-2nya. Allah berfirman bahwa Allah juga akan membersihkan hati kamu dan menghapus dosa-2 kamu.

Melihat kondisi saudara-2 kita di Aceh, kita jadi sedih, kita menjadi menangis , tapi agama mengingatkan kita semua bahwa Tuhan punya tujuan. Dalam hidup ini, Allah menciptakan orang-2 untuk tujuan-2 tertentu. Dalam sebuah hadits, Allah menciptakan makhluk-2 yang ditugaskannya untuk memenuhi kebutuhan makhluknya yang lain. Ada orang-2 kaya yang diberi kekayaan, yang sebenarnya dipilih Allah agar orang-2 itu memberi bantuan kepada orang-2 yang butuh. Mudah-2an kita termasuk orang-2 yang dipilih Allah itu. Ada lagi orang-2 yang diciptakan Allah untuk menjadi alatnya Tuhan untuk mengingatkan orang lain. Para syuhada’ ini adalah alat-2 yang dipilih Allah. Itu sebabnya kita baca di dalam Al Quran ada istilah “IBADULLOHIL MUKHLASHIN atau hamba-2 Allah yang dipilih”.
Sekarang ini banyak orang yang lengah dan lupa kepada Allah. Memang rutinitas sering menjadikan kita lupa kepada Allah. Karena itu kita perlu diingatkan. Ada orang-2 yang tidak menyadari adanya Allah karena melihat segala sesuatu berjalan harmonis. Tuhan ingin mengingatkan orang-2 tersebut, bahwa jangan duga Allah telah lepas tangan. Diingatkannya manusia melalui bencana. Kalau dulu sekian banyak orang yang lupa Allah, sekarang Dia mengingatkan kita melalui rahmatNya. Itu sebabnya di dalam AlQuran, disebutkan :”Apakah mereka tidak sadar bahwa setiap tahun Kami mencoba mereka, Kami menurunkan ujian kepada mereka supaya mereka sadar, supaya mereka bertaubat ?”.

Jadi sekali lagi, saya (Quraish Shihab) tidak melihat ini sebagai murka Allah. Ini rahmatNya kepada kita yang hidup, supaya kita ingat kepada Allah, supaya lebih dalam lagi solidaritas kita, supaya kita lebih dekat lagi kita kepada Allah, supaya lebih terasa lagi kehadiran Allah. Dan yang gugur, yang luka, yang menderita itu dijadikan oleh Allah sebagai alat-2Nya untuk mengingatkan kita, itulah mereka yang dinamai dengan “Ibadullohil Mukhlashin atau Hamba2 Allah yang terpilih”. Dia pilih orang-2 yang gugur, Dia pilih anak-2, Dia pilih orang-2 yang tidak berdosa, Dia pilih orang-2 tua, untuk Dia jadikan syuhada, Dia jadikan saksi-2, Dia jadikan alat-2Nya. Untuk siapa ? Untuk kita yang hidup. Allah tidak menyia-2kan mereka. Di dalam hadits, Allah katakan, Seandainya bukan karena anak-2 yang masih menyusu, seandainya bukan karena orang tua yang sedang bungkuk, seandainya bukan karena binatang-2, niscaya Allah akan menjatuhkan siksa kepada kamu, siksaan yang luar biasa. Tapi mengapa yang diambil olehNya disana anak-2, orang tua, binatang ? Itu yang menjadikan kita bersangka baik kepada Allah dan menyatakan bahwa ini bukan murka, ini hanya peringatan. Kita terima itu. Peringatan untuk kita yang hidup. Kita tidak perlu larut dalam kesedihan, tetapi kita perlu mengambil pelajaran. Salah satu pelajaran adalah kita lihat di televisi, kita lihat badan-2 mereka, rupanya begitulah badan kita. Jangan terlalu memberi perhatian kepada badan, namun melupakan ruh. Itu pelajaran yang dapat kita angkat. Jangan menilai orang dari penampilannya. Lihatlah itu semua, dan ingat dalam Al Quran, Allah berulang kali, apakah penduduk negeri itu merasa aman, bahwa peringatan Kami datang secara tiba-2 ketika mereka sedang bermain-2. Ini yang kita lihat. Ini sebenarnya kiamat kecil, bahkan boleh jadi yang mengalaminya tak menduga itulah kiamat.

TIBA-2, begitulah jadinya nanti. Sebenarnya tujuannya adalah untuk kita. Allah merahmati kita dengan memberi peringatan. Belum sampai pada murkaNya, dan jangan duga itu murkaNya.
Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib, ditikam, beliau berteriak : “Demi Allah, saya telah memperoleh keberuntungan”. Beruntung karena mati. Allah mengangkat derajat beliau, Allah mendudukkan pada kedudukan yang demikian tinggi karena mati syahid. Nah, kalau kita membaca ayat di Surat Ali Imran :”… supaya Dia mengangkat diantara kamu Syuhada (orang-2 yang menjadi saksi) dan untuk membersihkan hati kamu dari segala macam dosa'”. Untuk orang-2 yang meninggal, kita antar dengan rasa sedih tetapi dalam saat yang sama beruntunglah mereka. Dan yang tinggal, kita harapkan mendapatkan pelajaran dari ujian ini, dari bencana ini. Mudah-2an kita dapat menyusul mereka dalam kematian yang diridhai Allah. Itu sebabnya ada doa yang diajarkan Nabi :”Wahai Allah, kami bermohon kepadamu, hidup yang sebaik-2nya, dan kematian yang sebaik-2nya, serta segala yang baik yang berada diantara hidup dan mati. Ya Allah, hidupkanlah kami dalam kehidupan orang-2 yang bahagia, kehidupan orang-2 yang Engkau senangi agar dia tetap hidup, dan wafatkanlah dalam wafat orang-2 yang syahid (orang-2 yang Engkau sukai untuk bertemu dengannya).

Ya Allah, ampunilah orang-2 yang meninggal dan yang masih hidup, anak-2 kecil, orang-2 dewasa, baik yang perempuan maupun yang laki-2″. “RABBANAA AATINA FIDDUNYA HASANAH WA FIL AKHIRATI HASANAH WA QINA ADZABANNAR” (Ya Tuhanku, berilah kepadaku kehidupan dunia yang baik, kehidupan akhirat yang baik dan jauhkan kami dari siksa api neraka)

http://blog.efx2.com/user/aceh/Refleksi%20sahabat/

“Amal (yang menentukan) itu tak lain adalah amalan yang terakhir” (HR.Bukhari)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.009/th.01/Syawwal – DzulQoidah 1425H/2005M