Lisan kita …

Juli 1, 2008
Lisan merupakan bagian tubuh yang paling banyak digunakan dalam keseharian kita. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga lisan kita. Apakah banyak kebaikannya dengan menyampaikan yang haq ataupun malah terjerumus ke dalam dosa dan maksiat ?. Pada berbagai pertemuan, seringkali kita mendapati pembicaraan berupa gunjingan (ghibah), mengadu domba (namimah) atau maksiat lainnya. Padahal, Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang hal tersebut. Alloh menggambarkan ghibah dengan suatu yang amat kotor dan menjijikkan. Alloh berfirman yang artinya, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya.” (Al-Hujurat: 12)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan makna ghibah (menggunjing) ini. Beliau bersabda, yang artinya :”Tahukah kalian apakah ghibah itu ?”. Sahabat menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau bersabda, “Engkau mengabarkan tentang saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Kemudian beliau ditanya lagi, “Bagaimana jika yang aku katakan itu memang terdapat pada saudaraku ?”. Maka beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya.” (HR. Muslim)
Jadi, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, baik tentang agama, kekayaan, akhlak, atau bentuk lahiriyahnya, sedang ia tidak suka jika hal itu disebutkan, dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-olok.

Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Alloh ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya :
“Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya.” (As-Silsilah As-Shahihah, 1871)
Wajib bagi orang yang hadir dalam majelis (kelompok/perkumpulan) yang sedang menggunjing orang lain, untuk mencegah kemunkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan hal itu, sebagaimana dalam sabdanya, yang artinya :”Barangsiapa membela (ghibah atas) ke hormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Alloh akan menghindarkan api Neraka dari wajahnya.” (HR. Ahmad)

Demikian pula halnya dalam mengadu domba (namimah). Mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara keduanya adalah salah satu faktor yang menyebabkan terputusnya ikatan, serta menyulut api kebencian dan permusuhan antar manusia. Alloh mencela pelaku perbuatan tersebut dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah.” (Al-Qalam: 10-11). Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga al-qattat (tukang adu domba).” (HR. Bukhari). Ibnu Atsir menjelaskan, “Al-Qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan), tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.” (An-Nihayah 4/11)

Oleh karena itu ada beberapa hal penting perlu kita perhatikan dalam menjaga lisan. Pertama, hendaknya pembicaraan kita selalu diarahkan ke dalam kebaikan. Alloh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (An-Nisa: 114). Kedua, tidak membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagi diri kita maupun orang lain yang akan mendengarkan. Rosululloh shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yg tidak berguna.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Ketiga, tidak membicarakan semua yang kita dengar. Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu berkata, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar.” (HR. Muslim)
Keempat, menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kita berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda.” (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albani). Kelima, Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah rodhiallohu ‘anha berkata, “Sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu hal, dan ada orang yang mau menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya” (HR. Bukhari-Muslim). Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga diri kita, sehingga diri kita senantiasa berada dalam kebaikan. Amin.

http://muslim.or.id/portal/index.php?option=com_content&task=view&id=289&Itemid=62

Ghibah Tidak Terbatas Hanya Pada Dengan Lisan

Ghibah dengan lisan itu diharamkan karena dengan ucapan itu menjadikan orang lain tahu tentang kekurangan orang lain, dan juga merupakan pembeberan dari sesuatu yang ia benci. Menunjukkan sesuatu sama artinya dengan penegasan, perbuatan dalam hal ini sama saja dengan ucapan, demikian pula isyarat, tulisan, gerakan dan segala sesuatu yag menjadikan orang lain faham akan maksudnya maka masuk dalam kategori ghibah, dan ini semua haram. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, rasul  Allah SAW bersabda, yang artinya :
“Masuk ke rumah kami seorang wanita, tatkala ia telah pergi aku berisyarat dengan tanganku (untuk menunjukkan) bahwa ia seorang wanita yang pendek maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”Engkau telah melakukan ghibah terhadapnya.” (HR. Abu Dawud No. 4875, kitabul adab bab ghibah dan Ahmad No. 189, 206/6, dan sanadnya Shahih).
Termasuk juga dalam hal ini menceritakan keadaan seseorang, meniru orang cacat, atau menyerupai jalannya, maka ini juga termasuk ghibah, bahkan lebih parah dari sekedar Ghibah karena dalam hal ini bukan sekedar memberi gambaran dan menjelaskan namun lebih dari semua itu, bisa jadi dengan maksud untuk melecehkan.

Demikian pula Ghibah dengan tulisan, karena pena merupakan salah satu dari dua lisan (dalam fungsinya menjelaskan kepada orang, pent). Semua ini meskipun benar apa-apa yang diucapkannya maka tetap saja ini dinamakan ghibah termasuk bermaksiat kepada Rabbnya dan memakan daging saudaranya, Naudzubillah min dzalik. Kalau saja yang ia ucapkan itu adalah dusta maka disini terkumpul antara Ghibah dan dusta. Berkata Mu’adz bin Jabal, yang artinya :”Seorang laki-laki disebut-sebut di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka mereka mengatakan :”Orang ini sangat lemah !. Maka Nabi bersabda :
“Kalian semua telah melakukan Ghibah terhadap saudaramu.” Mereka lalu mengatakan :
“Wahai Rasulullah kami mengatakan apa adanya”. Maka beliau menjawab :”Jika yang kalian katakan benar adanya maka kalian telah Ghibah terhadapnya, dan jika yang kalian ucapkan tidak benar adanya maka berarti kalian berdusta (menuduhnya)”. (HR. Abu Dawud 4875 dalam Adab, At Tirmi dzi No. 2503 dan 2504), dan Ahmad 136/6 dan Isnadnya Shahih).
Berkata Al-Hasan :”Menggunjing orang ada tiga macam yaitu: al-Ghibah, al-Buhtan dan al-Ifk. Keseluruhanya ada dalam Kitabullah. al-Ghibah yaitu : kamu katakan sesuatu (aib) yang benar-benar terjadi apa adanya. al-Buhtan yaitu : kamu katakan apa-apa yang tidak benar adanya. al-ifk yaitu : kamu katakan segala sesuatu yang sampai ke telingamu. Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya :”Semua muslim terhadap muslim yang lain adalah haram, baik itu darahnya, hartanya dan juga kehormatannya. (Penggalan hadits Riwayat Muslim No. 2564). Wallahu a’lam.

YAYASAN AL-SOFWA
Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810 Jakarta Selatan – Indonesia
Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326.
http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&parent_id=1264&parent_section=kj048&idjudul=1247
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 039/th.04/Rabi’ul Tsani-Jummadil Awwal 1429H/2008M


Adab Berbicara

Juli 1, 2008

“Barangsiapa yang memberi jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada antara dua tulang rahangnya (lisan) dan apa yang ada antara dua pahanya (farji) maka aku menjamin Surga untuknya.” (HR. Al-Bukhari). Seorang muslim wajib menjaga lisannya, tidak boleh berbicara batil, dusta, menggunjing, mengadu domba dan melontarkan ucapan-ucapan kotor, dan sejenisnya. Sebab kata-kata memiliki dampak yang luar biasa. Perang, pertikaian antar negara atau perseorangan sering terjadi karena perkataan dan provokasi kata. Sebaliknya, ilmu pengetahuan lahir, tumbuh dan berkembang juga melalui kata-kata. Perdamaian bahkan persaudaraan bisa terjalin melalui kata-kata. Ironinya, banyak orang yang tidak menyadari dampak luar biasa dari kata-kata. Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, yang artinya :”Sungguh seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang membawa keridhaan Allah, dan dia tidak menyadarinya, tetapi Allah mengangkat dengannya beberapa derajat. Dan sungguh seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang membawa kemurkaan Allah, dan dia tidak mempedulikannya, tetapi ia menjerumuskannya ke Neraka Jahannam” (HR. Bukhari). Hadits Hasan lain riwayat Imam Ahmad menyebutkan, bahwa semua anggota badan tunduk kepada lisan. Jika lisannya lurus maka anggota badan semuanya lurus, demikian pula sebaliknya. Ath-Thayyibi berkata, “Lisan adalah penerjemah hati dan penggantinya secara lahiriyah. Karena itu, hadits Imam Ahmad di atas tidak bertentangan dengan sabda Nabi yang lain, yang artinya :”Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal darah, jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan bila rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Adab Nabawi dalam berbicara adalah berhati-hati dan memikirkan terlebih dahulu sebelum berkata-kata. Setelah direnungkan bahwa kata-kata itu baik, maka hendaknya baru ia mengatakan. Sebaliknya, bila kata-kata yang ingin diucapkannya jelek, hendaknya ia menahan diri dan lebih baik diam. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, yang artinya :”Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari). Adab Nabawi ini tidak lepas dari prinsip kehidupan seorang muslim yang harus produktif menangguk pahala dan kebaikan sepanjang hidupnya. Menjadikan semua gerak diamnya sebagai ibadah dan sedekah. Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, yang artinya :”Dan kalimat yang baik adalah sedekah. Dan setiap langkah yang ia langkahkan untuk shalat (berjamaah di masjid) adalah sedekah, dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari).
Orang yang senang berbicara lama-lama akan sulit mengendalikan diri dari kesalahan. Kata-kata yang meluncur bak air mengalir akan menghanyutkan apa saja yang di terjangnya, dengan tak terasa akan meluncurkan kata-kata yang baik dan yang buruk. Karena itu Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam melarang kita banyak bicara. Beliau Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, yang artinya :”Dan (Allah) membenci kalian untuk qiila wa qaala.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Imam Nawawi rahimahullah berkata, qiila wa qaala adalah asyik membicarakan berbagai berita tentang seluk beluk seseorang (ngerumpi). Bahkan dalam hadits hasan gharib riwayat Tirmidzi disebutkan, orang yang banyak bicara diancam oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam sebagai orang yang paling beliau murkai dan paling jauh tempatnya dari Rasulullah pada hari Kiamat. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu berkata, “Tidak ada baiknya orang yang banyak bicara”. “Umar bin Khathab Radhiallaahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang banyak bicaranya, akan banyak kesalahannya”.

Dunia kata di tengah umat manusia adalah dunia yang campur aduk. Seperti manusianya sendiri yg beragam & campur aduk; shalih, fasik, munafik, musyrik dan kafir. Karena itu, kata-kata umat manusia tentu ada yang benar, yang dusta; ada yang baik dan ada yang buruk. Karena itu, kata-kata tentu ada yang benar, yang dusta; ada yang baik dan ada yang buruk. Sehingga ada kaidah dalam Islam soal kata-kata , ‘Siapa yang membicarakan setiap apa yang didengarnya, berarti ia adalah pembicara yang dusta’. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam , yang artinya :”Cukuplah seseorang itu berdosa, jika ia membicarakan setiap apa yang didengarnya.” Atau dalam riwayat lain disebutkan :”Cukuplah seseorang itu telah berdusta, jika ia membicarakan setiap apa yang didengarnya.” (HR. Muslim).
Mengutuk dan sumpah serapah sekarang ini seperti menjadi hal yang dianggap biasa. Seorang yang sempurna akhlaknya adalah orang yang paling jauh dari kata-kata kotor, kutukan, sumpah serapah dan kata-kata keji lainnya. Ibnu Mas’ud r.a. meriwayatkan, Nabi SAW bersabda, yang artinya :”Seorang mukmin itu bukanlah seorang yang tha’an, pelaknat, (juga bukan) yang berkata keji dan kotor.” (HR. Bukhari). Tha’an adalah orang yang suka-merendahkan kehormatan manusia, dengan mencaci, menggunjing dan sebagainya.
Melaknat atau mengutuk adalah do’a agar seseorang dijauhkan dari rahmat Allah. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Mendo’akan agar seseorang dijauhkan dari rahmat Allah bukanlah akhlak orang-orang beriman. Sebab Allah menyifati mereka dengan rahmat (kasih sayang) di antara mereka dan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa. Mereka dijadikan Allah sebagai orang-orang yang seperti bangunan, satu sama lain saling menguatkan, juga diumpamakan sebagaimana satu tubuh. Seorang mukmin adalah orang yang mencintai saudara mukminnya yang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Maka, jika ada orang yang mendo’akan saudara muslimnya dengan laknat (dijauhkan dari rahmat Allah), itu berarti pemutusan hubungan secara total. Padahal laknat adalah puncak doa seorang mukmin terhadap orang kafir. Karena itu disebutkan dalam hadits shahih, yang artinya :”Melaknat seorang mukmin adalah sama dengan membunuhnya.” (HR. Bukhari). Sebab seorang pembunuh memutuskan orang yang dibunuhnya dari berbagai manfaat duniawi. Sedangkan orang yang melaknat memutuskan orang yang dilaknatnya dari rahmat Allah dan kenikmatan akhirat.

Saat ini, di alam yang katanya demokrasi, perdebatan menjadi hal yang lumrah, bahkan malah digalakkan. Tetapi, berdebat tanpa ilmu yang cukup, apalgi tentang masalah ghaib atau dalam hal yang tidak berguna seperti tentang jumlah Ashhabul Kahfi atau yang sejenisnya maka hal itu hanya membuang-buang waktu dan berpengaruh pada retaknya persaudaraan. (Lihat Tafsir Sa’di, 5/24, surat Kahfi: 22) Maka, jangan sampai seorang mukmin hobi berdebat. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :”Saya adalah penjamin di rumah yang ada di sekeliling Surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meski dia benar. Dan di tengah-tengah Surga bagi orang yang meninggalkan dusta, meskipun dia bergurau. Juga di Surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud, dihasankan oleh Al-Albani).

Dunia hiburan (entertainment) menjadi dunia yang digandrungi oleh sebagian besar umat manusia. Salah satu jenis hiburan yang digandrungi orang untuk menghilangkan stress dan beban hidup yang berat adalah lawak. Dengan suguhan lawak ini orang menjadi tertawa terbahak-bahak, padahal di dalamnya campur baur antara kebenaran dan kedustaan, seperti memaksa diri dengan mengarang cerita bohong agar orang tertawa. Mereka inilah yang mendapat ancaman melalui lisan Rasulullah SAW  dengan sabda beliau, yang artinya :
“Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang-orang tertawa. Celakalah dia, dan celakalah dia !”.
(HR. Abu Daud, dihasankan oleh Al-Albani).

Meninggikan suaranya, berteriak dan membentak. Dalam pergaulan sosial, tentu orang yang semacam ini sangat dibenci. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan, ‘Orang yang meninggikan suaranya terhadap orang lain, maka tentu semua orang yang berakal mengetahui, bahwa orang tersebut bukanlah orang yang terhormat.’ Ibnu Zaid berkata , ‘Seandainya mengeraskan suara (dalam berbicara), adalah hal yang baik, tentu Allah tidak menjadikannya sebagai suara keledai.’ Abdurrahman As-Sa’di berkata, ‘Tidak diragukan lagi, bahwa (orang yang) meninggikan suara kepada orang lain adalah orang yang tidak beradab dan tidak menghormati orang lain.’ Karena itulah termasuk adab berbicara dalam Islam adalah merendahkan suara ketika berbicara. Allah berfirman, artinya: “Dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS. Luqman: 19). Wallahu a’lam.

YAYASAN AL-SOFWA
Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35 PostCode:12810 Jakarta Selatan – Indonesia
Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326. e-mail: info @alsofwah.or.id  website: http://www.alsofwah.or.id
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 039/th.04/Rabi’ul Tsani-Jummadil Awwal 1429H/2008M


Menjaga Kehormatan Muslimin Dengan Menjauhi Ghibah

Juli 1, 2008

Al Imam An Nawawi rahimahullah berkata dalam Al Adzkar :”Adapun ghibah adalah engkau menyebut seseorang dengan apa yang ia tidak sukai, sama saja apakah (ghibah itu menyangkut) tubuhnya, agamanya, dunianya, jiwanya, fisiknya, akhlaknya, hartanya, anaknya, orang tuanya, istrinya, pembantunya, budaknya, sorbannya, pakaiannya, cara jalannya, gerakannya, senyumnya, muka masamnya, atau yang selainnya dari perkara yang menyangkut diri orang tersebut. Sama saja apakah engkau menyebut tentang orang tersebut dengan lafadhmu (ucapan bibirmu) atau tulisanmu, atau melalui tanda dan isyarat matamu, atau dengan tanganmu, atau kepalamu atau yang semisalnya.

Adapun ghibah yang menyangkut badan seseorang misalnya engkau mengatakan : Si Fulan buta, atau pincang, picak, gundul, pendek, tinggi, hitam, dan lain-lain.
Ghibah yang berkaitan dengan agama, misalnya engkau berkata : Si Fulan itu fasik, atau pencuri, pengkhianat, dhalim, meremehkan shalat, bermudah-mudah dalam perkara najis, tidak berbuat baik pada orang tuanya, tidak memberikan zakat pada tempatnya, tidak menjauhi ghibah, dan lain-lain.
Ghibah yang menyangkut urusan dunia seseorang, misalnya engkau berkata : Si Fulan kurang adabnya, meremehkan manusia, tidak memandang ada orang yang punya hak terhadapnya, banyak bicara, banyak makan dan tidur, tidur bukan pada waktunya, duduk tidak pada tempatnya, dan lain-lain.
Ghibah yang bersangkutan dengan orang tuanya, misalnya engkau mengatakan : Si Fulan itu ayahnya fasik. Atau mengatakan dengan nada merendahkan : Si Fulan anaknya tukang sepatu, anaknya penjual kain, anaknya tukang kayu, anaknya pandai besi, anaknya orang sombong, dan lain-lain.
Ghibah yang menyangkut akhlak, misalnya engkau berkata : Si Fulan jelek akhlaknya, sombong, ingin dilihat bila beramal (riya), sifatnya tergesa-gesa, lemah hatinya, dan lain-lain.
Ghibah yang berkaitan dengan pakaian seseorang, misalnya engkau berkata : Si Fulan lebar kerah bajunya, bajunya kepanjangan, dan lain-lain.

Yang jelas, batasan ghibah adalah engkau menyebut seseorang dengan apa yang ia tidak sukai, apakah dengan ucapan bibirmu atau yang lainnya. Dan setiap perkara yang dapat dipahami oleh orang lain bahwa itu menyangkut kekurangan seorang Muslim maka hal tersebut merupakan ghibah yang diharamkan.
Dan termasuk ghibah adalah meniru-nirukan tingkah laku seseorang untuk menunjukkan kekurangan yang ada padanya, misalnya menirukan cara berjalannya dengan membungkuk dan sebagainya. Termasuk pula dalam ghibah ini apabila seorang penulis kitab menyebutkan tentang seseorang dalam kitabnya, dengan mengatakan :”Telah berkata Fulan begini dan begitu … .” Yang ia inginkan dengan tulisannya tersebut untuk menjatuhkan si Fulan dan menjelekkannya. Namun apabila tujuan penulisan tersebut untuk menjelaskan kesalahan si Fulan agar orang lain tidak mengikutinya, atau untuk menjelaskan kelemahannya dalam bidang ilmu agar manusia tidak tertipu dengannya dan tidak menerima pendapatnya, maka hal ini bukanlah termasuk ghibah. Bahkan ini merupakan nasihat yang wajib dan diberi pahala bagi pelakunya.
Demikian pula bila seorang penulis atau yang lainnya berkata :”Telah berkata satu kaum atau satu kelompok begini dan begitu, dan perkataan ini salah dan menyimpang … .” Maka ini bukan termasuk ghibah karena tidak langsung menyebut individu atau kelompok tertentu.
Termasuk ghibah bila dikatakan kepada seseorang :”Bagaimana keadaan si Fulan ?” Lalu orang yang ditanya menjawab :”Alhamdulillah, keadaan kita tidak seperti dia, semoga Allah menjauhkan kita dari kejelekan dan kurangnya rasa malu … .” Atau ucapan-ucapan lain yang dipahami maksud dibaliknya untuk menjelekkan orang lain, walaupun si pengucap berlagak memanjatkan doa.

(Demikian kami ringkaskan dari nukilan Asy Syaikh Salim Al Hilali dalam kitabnya Bahjatun Nadhirin 3/25-27)

Yang Dikecualikan Dari Ghibah
Al Imam Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Riyadlus Shalihin menyebutkan beberapa perkara yang dikecualikan dari ghibah :

Pertama : Mengadukan kedhaliman seseorang kepada penguasa atau hakim atau orang yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan kedhaliman tersebut.

Kedua : Meminta tolong kepada orang yang memiliki kemampuan untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan pelaku maksiat kepada kebenaran.

Ketiga : Mengadukan seseorang dalam rangka meminta fatwa kepada mufti, seperti perbuatan Hindun ketika mengadukan suaminya Abu Sufyan kepada Rasulullah SAW, ia berkata :”Sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang kikir, ia tidak memberi nafkah yang mencukupi aku dan anakku, kecuali bila aku mengambilnya tanpa sepengetahuannya (apakah ini dibolehkan)?”.  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab :”Ambillah sekedar dapat mencukupi dirimu dan anakmu dengan ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim nomor 1714 dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

Keempat : Dalam rangka memperingatkan kaum Muslimin dari kejelekan dan menasehati mereka. Hal ini dari beberapa sisi, di antaranya :
a) Men-jarh (menyebutkan kejelekan) para perawi hadits, misalnya dikatakan : Si Fulan rawi yang dusta, dlaif.
b) Ketika diminta pendapat (diajak musyawarah) dalam memilih pasangan hidup, atau yang lainnya. Maka wajib bagi yang diajak musyawarah untuk tidak menyembunyikan kejelekan yang diketahuinya dengan meniatkan nasihat. Sebagaimana hal ini dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika dimintai pandapat oleh Fathimah bintu Qais radhiallahu ‘anha dalam menentukan pilihan antara menerima pinangan Muawiyyah atau Abu Jahm radhiallahu ‘anhuma. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menasehatkan :
“Adapun Muawiyyah, maka dia seorang yang fakir, tidak memiliki harta. Sedangkan Abu Jahm dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya (yakni suka memukul wanita, pent.).” (HR. Bukhari dan Muslim nomor 1480)
c) Ketika melihat ada seseorang yang sering bertamu ke rumah ahlul bid’ah atau orang fasik dan dikhawatirkan orang itu akan terpengaruh/kena getahnya, maka wajib menasehatinya dengan menjelaskan keadaan ahlul bid’ah atau orang fasik itu.

Kelima : Menyebutkan kejelekan orang yang terang-terangan berbuat maksiat atau bid’ah seperti minum khamar, merampas harta orang lain, dan lain-lain.

Keenam : Menyebut seseorang dengan gelaran/perkara yang dia terkenal/masyhur dengannya, misalnya : Si buta, si pendek, si hitam, dan lain-lain.

(diringkas dari Riyadlus Shalihin halaman 450-451. Cetakan Maktaba tul Ma’arif)

Apakah Ghibah Termasuk Dosa Besar ?
Al Imam Ash Shan’ani rahimahullah dalam kitabnya Subulus Salam berkata :”Ulama berselisih apakah ghibah ini termasuk dosa kecil atau dosa besar. Al Imam Al Qurthubi menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa ghibah termasuk dosa besar.” (Lihat Subulus Salam 4/292. Cetakan Maktabah Al Irsyad. Shan’a). Dan pendapat bahwasanya ghibah adalah dosa besar inilah yang didukung oleh dalil sebagaimana diterangkan Al Imam Ash Shan’ani. Termasuk dalil yang menunjukkan besarnya dosa ghibah adalah hadits yang diriwayatkan Abu Daud dalam Sunan-nya dari Said bin Zaid, ia berkata bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :”Sesungguhnya termasuk perbuatan riba yang paling puncak adalah melanggar kehormatan seorang Muslim tanpa haq.” (Hadits ini dishahihkan oleh Asy Syaikh Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud nomor 4081. Ash Shahihah 1433 dan 1871 dan dishahihkan pula oleh Asy Syaikh Muqbil bin Hadi dalam kitabnya Ash Shahihul Musnad)

Haramnya Mendengarkan Ghibah
Al Imam An Nawawi dalam Al Adzkar :”Ketahuilah sebagaimana ghibah itu diharamkan bagi pelakunya, diharamkan pula bagi pendengar untuk mendengarkannya. Maka wajib bagi orang yang mendengar seseorang ingin berbuat ghibah untuk melarangnya apa bila ia tidak mengkhawatirkan terjadinya mudlarat. Apabila ia khawatir terjadi mudlarat maka hendaknya ia mengingkarinya dengan hatinya dan meninggalkan majelis itu bila memungkinkan. Apabila ia mampu untuk mengingkari dengan lisannya atau memotong pembicaraan ghibah dengan membelokkan pada pembicaraan lain, maka wajib baginya untuk melakukannya.
Bila tidak ia lakukan maka sungguh ia telah bermaksiat. Dan apabila ia berkata dengan lisannya : ‘Diam’ (berhentilah dari ghibah) sementara hatinya menginginkan ghibah itu diteruskan, maka yang demikian itu adalah nifak dan pelakunya berdosa. Seharusnya ketika lisan melarang, hati pun turut mengingkari. Dan kapan seseorang terpaksa berada di majelis yang diucapkan ghibah padanya sementara ia tidak mampu untuk mengingkarinya atau ia mengingkari namun ditolak dan ia tidak mendapatkan jalan untuk meninggalkan majelis tersebut, maka haram baginya untuk bersengaja mencurahkan pendengaran dan perhatian pada ghibah yg diucapkan.

Namun hendaknya ia berdzikir kepada Allah dengan lisan dan hatinya, atau dengan hatinya saja, atau ia memikirkan perkara lain agar ia tersibukkan dari mendengarkan ghibah tersebut. Setelah itu apabila ia menemukan jalan untuk keluar dari majelis itu sementara mereka yang hadir terus tenggelam dalam ghibah, maka wajib baginya untuk meninggalkan tempat itu.” (Dinukil dari Bahjatun Nadhirin 3/29-30)
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya :”Dan apabila mereka (Mukminin) mendengar ucapan laghwi, mereka berpaling darinya. (Al Qashshash : 55). “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya.” (Al Isra’ : 36)

Cara Bertaubat Dari Ghibah
Ada dua pendapat ulama dalam masalah ini dan keduanya merupakan riwayat dari Al Imam Ahmad, yaitu :
1) Apakah cukup bertaubat dari ghibah dengan memintakan ampun kepada Allah untuk orang yang dighibah ?
2) Ataukah harus memberitahukannya dan meminta kehalalannya ?
Yang benar adalah tidak perlu memberitahukan ghibah itu kepada yang dighibahi, tapi cukup memintakan ampun untuknya dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya di tempat dia mengghibah saudaranya tersebut. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah dan selainnya. (Nashihati lin Nisa’ halaman 31. Cetakan Darul Haramain)

Demikian kami tutup pembahasan ghibah ini dengan mengajak kepada diri kami dan pembaca untuk selalu bertakwa kepada Allah dengan menjauhi perbuatan ghibah dan menyibukkan diri dengan aib/kekurangan yang ada pada diri sendiri. Dan barangsiapa sibuk dengan aibnya sendiri dan tidak mengorek aib orang lain bahkan ia menjunjung kehormatan orang lain, maka sungguh ia telah mengenakan salah satu dari perhiasan akhlak yang mulia. Wallahu A’lam Bis Shawwab.

Daftar Pustaka
1. Bahjatun Nadhirin. Asy Syaikh Salim Al Hilali
2. Fathul Bari. Al Hafidh Ibnu Hajar
3. Nashihati lin Nisa’. Ummu Abdillah Al Wadi’iyyah bintu Asy Syaikh Muqbil Al Wadi’i
4. Riyadlus Shalihin. Al Imam An Nawawi
5. Subulus Salam. Al Imam Ash Shan’ani

Ta’rif tentang ghibah ini disebutkan oleh Imam Muslim dalam hadits yang ia keluarkan pada kitab Shahih-nya (nomor 2589) dari shahabat Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :”Tahukah kalian apakah ghibah itu ?” Para shahabat menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Lalu beliau menyebutkan sebagaimana tertera dalam riwayat Abu Daud yang dibawakan oleh Ibnu Katsir di atas. Namun ijma’ yang disebutkan ini tidaklah benar karena Al Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan bahwa penulis kitab Ar Raudlah dan Al Imam Ar Rafi’i berpendapat bahwa ghibah termasuk dosa kecil. (Fathul Bari 10/480. Al Maktabah As Salafiyyah)

“Cukuplah kejelekan bagi seseorang bila ia merendahkan saudaranya yang Muslim. Setiap Muslim terhadap Muslim yang lain haram darahnya, kehormatannya, dan hartanya.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya nomor 2564 dari shahabat Abu Hurairah r.a.)

(Penulis : Ummu Ishaq Al Atsariyyah)
[sumber : MUSLIMAH Edisi 39/ 1422 H/ 2001 M]
http://www.geocities.com/dmgto/muslimah201/ghibah.htm
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 039/th.04/Rabi’ul Tsani-Jummadil Awwal 1429H/2008M


Nikmatnya Mampu Berbicara Dan Menjelaskan

Juli 1, 2008

[Oleh : Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr]
“Sesungguhnya kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba-hambaNya tak terhitung dan terhingga banyaknya. Dan termasuk salah satu nikmat agung yang diberikan oleh Allah kepada kita adalah nikmat mampu berbicara. Dengan kemampuan tersebut seseorang bisa mengutarakan keinginannya, mampu menyampaikan perkataan yang benar dan mampu beramar ma’ruf dan nahi mungkar. Orang yang tidak diberi nikmat mampu berbicara, jelas dia tidak akan mampu melakukan hal di atas. Dia hanya bisa mengutarakan sesuatu dan memahamkan orang dengan isyarat atau dengan cara menulis, jika dia mampu menulis. Allah Ta’ala berfirman, “Artinya : Dan Allah membuat (pula) perumpamaan dua orang lelaki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban bagi penanggungnya, kemana saja dia suruh oleh penanggungnya itu dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan yang berada di atas jalan yang lurus ?”. [An-Nahl : 76]

“Tentang tafsir ayat di atas, ada yang mengatakan bahwasanya Allah memberikan permisalan perbandingan antara diriNya dengan berhala yang disembah manusia. Ada pula yang mengatakan bahwa Allah memberi permisalan antara orang kafir dan orang yang beriman”. Imam Qurthubi menjelaskan dalam kitab Tafsirnya (IV/149), diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa penjelasan-penjelasan tersebut semuanya baik, karena telah mencakup permisalan di atas secara jelas, menerangkan kisah tentang kekurangan seorang budak bisu yang tidak mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Pemiliknya pun tidak mampu mengambil manfaat saat dia membutuhkannya.

Allah Ta’ala berfirman, “Artinya : Demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya apa yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan”. [Adz-Dzariyat : 23]. Allah bersumpah dengan diriNya akan pastinya kedatangan hari kebangkitan dan pembalasan amal manusia, sebagaimana pastinya ucapan yang menjadi perwujudan dari orang yang berbicara. Pada ayat tersebut Allah memaparkan sebagian karuniaNya yang berupa ucapan”. Allah Ta’ala juga berfirman, “Artinya : Dia menciptakan manusia, dan mengajarinya berbicara ?”. [Ar-Rahman : 2-3]”
“Al-Hasan Al-Bashri menafsirkan bahwa al-bayan (penjelasan) adalah berbicara. Jadi, Allah menyebutkan nikmat berbicara ini, karena dengan berbicara manusia bisa mengutarakan apa yang diinginkannya.” Allah Ta’ala berfirman, “Artinya : Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir ?”. [Al-Balad : 8-9]. “Dalam kitab Tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan, Firman Allah : (Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata), maksudnya dengan kedua mata tersebut dia mampu melihat. Dan lidah, yaitu dengan lidahnya dia mampu berbicara ; mampu mengungkapkan apa yang tersimpan dalam hatinya. Dan kedua bibirnya, yaitu dengan bibirnya dia dapat mengucapkan sebuah perkataan, atau memakan makanan ; juga sebagai penghias wajah dan mulutnya.”
“Akan tetapi, kita tahu bahwa nikmat berbicara ini akan menjadi kenikmatan yang hakiki apabila digunakan untuk membicarakan hal-hal yang baik. Apabila digunakan untuk perkara yang jelek, maka hal itu justru akan menjadi musibah bagi pemiliknya. Dalam keadaan seperti itu, maka orang yang tidak diberi nikmat berbicara lebih baik keadaannya dibandingkan dengan orang yang menggunakan nikmat ini dalam perkara yang jelek.”


[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr, hal 17-21, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]”


Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=mo re&article_id=686&bagian=0
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 039/th.04/Rabi’ul Tsani-Jummadil Awwal 1429H/2008M


Fatwa Tentang Larangan Saling Mencaci

Juli 1, 2008

Dalam fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Islam Kerajaan Saudi Arabia, tanggal 17/6/1414 H, Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baaz (telah wafat pada bulan Mei 1999) mengatakan :”Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan kita untuk berlaku adil dan berbuat baik, serta meninggalkan segala bentuk penganiayaan, kesewenangan dan permusuhan. Allah SWT telah mengutus Nabi Muhammad SAW dengan risalah yg juga telah diemban oleh para Rasul-rasul sebelumnya, berupa seruan untuk bertauhid dan memurnikan ibadah kepada Allah SWT semata. Allah juga memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menegakkan keadilan dan melarangnya dari segala bentuk ketidak-adilan; baik berupa penyembahan selain Allah, atau perpecahan, perselisihan dan penganiayaan atas hak-hak orang lain.

Akhir-akhir ini, telah menjadi wacana publik bahwa ada sekelompok orang yang di kenal sering bergelut dengan masalah-masalah keilmuan Islam dan dakwah, melecehkan kehormatan saudara-saudara mereka dari kalangan aktivis dakwah Islam terkemuka. Mereka juga melecehkan kehormatan para penuntut ilmu, para da’i dan para penceramah. Kadang mereka melakukannya secara tersembunyi di tempat-tempat pengajian mereka atau direkam di kaset-kaset dan disebarkan di tengah-tengah masyarakat. Dan kadang pula hal itu dilakukan secara terang-terangan dalam pengajian-pengajian umum di masjid-masjid. Perbuatan ini sangat bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allah SWT kepada Rasul-Nya.

Lebih jelasnya pertentangan itu dapat dilihat dari berbagi sisi sbb :
1. Perbuatan ini adalah bentuk penganiayaan terhadap hak-hak umat Islam. Apalagi bila mereka yang dilecehkan tersebut adalah para penuntut ilmu dan para da’i yang telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk membangun kesadaran beragama masyarakat, membimbing mereka, serta memperbaiki kekeliruan-kekeliruan pemahaman mereka tentang akidah dan system hidup. Dan mereka pulalah yang telah bekerja keras untuk mengorganisir pengajian-pengajian dan ceramah-ceramah agama, serta menulis buku-buku yang bermanfaat.

2. Perbuatan ini adalah upaya pemecah-belah persatuan umat Islam dan pengoyakan barisan mereka. Sementara mereka sangat membutuhkan adanya persatuan dan tiadanya perpecahan, perselisihan dan perdebatan yang sia-sia di antara mereka. Apalagi bila para da’i yang dilecehkan tersebut berasal dari kalangan ahlu sunnah wal jamaah yang terkenal dengan kerja nyata mereka dalam memerangi bid’ah dan khurafat, menentang para penyerunya, serta menyingkap makar dan tipu daya mereka. Kami memandang bahwa tidak ada sedikit pun maslahat dibalik perbuatan ini kecuali bagi musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir dan munafiq, atau ahli bid’ah dan kesesatan yang sangat mengidam-idamkan kehancuran umat Islam.

3. Perbuatan ini mengandung dukungan dan dorongan kepada para sekularis, westernis dan musuh-musuh Islam lainnya yang terkenal sebagi kelompok-kelompok yang selalu melecehkan, menyebarkan isu-isu bohong dan menghasut masyarakat untuk memusuhi para aktivis dakwah Islam lewat buku-buku dan kaset mereka. Adalah bertentangan dengan konsekwensi ukhuwwah Islamiyah ketika orang-orang yang tergesa-gesa ini mendukung musuh-musuh mereka menghadapi saudara-saudara mereka sendiri dari kalangan para penuntut ilmu dan para aktivis dakwah Islam.

4. Perbuatan ini sangat berandil besar dalam merusak hati dan perasaan seluruh lapisan masyarakat, menyebar luaskan berbagai kebohongan dan isu-isu dusta, menjadi sebab maraknya gunjing menggunjing dan adu domba serta membuka pintu selebar-lebarnya bagi manusia-manusia berjiwa kerdil yang hobinya menyebarkan isu-isu negatif, menguatkan simpul-simpul fitnah dan selalu ingin menyakit orang-orang beriman dengan dalil dan alasan yang dibuat-buat.

5. Banyak sekali pernyataan-pernyataan yang dimunculkan itu, tidak benar adanya. Sebaliknya, pernyataan-pernyataan tersebut hanyalah praduga-praduga atau sangkaan-sangkaan yg dihiasi oleh syetan kepada mereka yg termakan oleh tipu dayanya.
Allah SWT berfirman :”Hai orang-orang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian orang diantara kamu menggunjing sebagian yang lain” (Al Hujuraat : 12) . Seorang muslim sebaiknya berusaha memahami perkataan saudaranya sesama muslim dengan penafsiran yang paling baik. Sebagian ulama salaf pernah berkata :”Janganlah berprasangka buruk tentang sebuah pernyataan yang diungkapkan oleh saudaramu sesama muslim, sementara engkau dapat memahaminya dengan penafsiran yang baik”.

6. Ijtihad yang dilakukan oleh seorang ulama atau penuntut ilmu yang laik ijtihad pada masalah-masalah ijtihadiyah tidak boleh diingkari dan ditentang. Bila ada yang berbeda pendapat dengannya pada masalah-masalah tersebut, maka yang lebih tepat dilakukan adalah mengajaknya berdiskusi (berdebat) dengan cara yang paling baik, demi mencapai kebenaran dengan mudah dan menutup jalan bagi bisikan-bisikan syetan berikut tipu dayanya untuk memecah-belah persatuan umat Islam. Tapi bila itu sulit dilakukan, sedang orang yang berbeda pendapat tersebut ingin menjelaskan kesalahan ijtihad ulama’ atau penuntut ilmu yang lain, maka hendaklah itu dilakukan dengan ungkapan yang baik, sindirian yang lembut dan tanpa pelecehan, pencelaan atau kata-kata kasar yang bisa menyebabkan penolakan terhadap kebenaran, serta tanpa tudingan terhadap pribadi-pribadi, tuduhan terhadap niat-niat orang lain, atau pembicaraan berlebihan yang tidak dibutuhkan. Bukankah dalam hal-hal seperti ini Rasulullah SAW selalu berkata :
“Mengapa ada orang-orang yang mengatakan begini dan begitu ?”

Maka yang ingin aku nasehatkan kepada ikhwah (saudara-saudaraku) yang melecehkan kehormatan para da’i dan menghina mereka, supaya bertobat kepada Allah SWT dari apa-apa yang pernah dituliskan oleh tangan-tangan mereka atau diucapkan oleh lidah-lidah mereka yang telah ikut andil dalam merusak hati dan perasaan sebagian umat Islam, memenuhinya dengan rasa iri dan dengki, menyibukkan mereka dengan gunjing-menggunjing, membahas tentang fulan dan fulan, memaksakan diri untuk mencari-cari kesalahan orang lain yang akhirnya memalingkan mereka dari menuntut ilmu yang bermanfaat dan berdakwah di jalan Allah SWT.

Aku juga menasehati mereka agar menebus (kaffarah) kesalahan yang mereka lakukan dengan cara menulis atau lainnya, untuk membebaskan diri mereka dari perbuatan seperti ini dan menghilangkan pemikiran-pemikiran salah yang telah tertanam di benak sebagian orang yang sering mendengarkan pembicaraan mereka, berikut mengalihkan perhatian mereka kepada amal-amal produktif yang mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT dan bermanfaat bagi hamba-hambaNya. Aku juga menasehati mereka agar berhati-hati untuk tidak tergesa-gesa dalam menyebutkan hukum kafir, fasik atau bid’ah kepada orang lain tanpa bukti dan kejelasan, karena Rasulullah SAW bersabda :”Barang siapa yang berkata kepada saudaranya sesama muslim wahai kafir maka makna kata itu pasti berlaku bagi salah seorang di antara mereka berdua” (Mutafaqun ‘ala shihatihi).

Secara syar’i adalah tepat bagi para da’i dan penuntut ilmu yang menemukan kesulitan dalam memahami perkataan sebagian ulama ataupun selain ulama, untuk merujuk dan bertanya kepada para ulama yang berkompeten agar mereka mendapatkan penjelasan yang gamblang, memahami subtansi masalah dan menghilangkan segala keragu-raguan dan subhat yang ada pada diri mereka, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW :”Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti syetan, kecuali sebagian kecil saja (diantara kamu)” (Annisa’ : 83)

Semoga Allah SWT -yang hanya kepadaNya kita meminta- memperbaiki keadaan umat Islam seluruhnya, menyatukan hati-hati mereka dan memberikan taufiq-Nya kepada para ulama dan para dai untuk selalu melakukan hal-hal yang diridloinya, bermanfaat bagi hamba-hambaNya, menyatukan konsep mereka di atas petunjukNya.  Menghindarkan mereka dari pemicu-pemicu perpecahan dan pertentangan, serta menjadikan mereka sebagai pembela kebenaran dan pemberantas kebatilan. Sesungguhnya hanya Allah SWT yang sanggup dan mampu melakukannya.

(Oleh : Abdulaziz bin Abdullah bin Baaz, Ketua Umum Dewan Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Islam Kerajaan Saudi Arabiyah)
http://ulwani.tripod.com/larangan_mencaci.htm

Siksa kubur bagi pengghibah

Diriwayatkan dari Abi Barkah, dia berkata : Ketika aku berjalan bersama Rasul  Allah SAW, beliau memegang (menuntun) tanganku, dan di sebelah kirinya ada seorang laki-laki, kemudian kami mendapatkan dua buah kuburan di depan kami. Maka Rasulullah SAW bersabda :”Sesungguhnya mereka itu disiksa bukan karena dosa yang besar, akan tetapi sebaliknya, maka siapakah diantara kalian yang mau membawakan pelepah kurma ?”. Kemudian kami berlomba mendapatkan pelepah kurma itu. Aku mendapatkannya dan membawanya kepada Rasulullah. Kemudian beliau membelahnya menjadi dua bagian, lalu beliau menancapkannya pada masing-masing kuburan tersebut. Dan beliau bersabda :
”Sesungguhnya hal itu akan meringankan mereka selama pelepah ini masih basah, dan tidaklah mereka itu disiksa melainkan karena ghibah dan buang air kecil”.
(hadits ini telah dihasankan oleh Syeikh Al Albani dalam kitabnya Ghayatul Al Maram no.429)

[sumber : Ghibah dan Pengarunya Dalam Kehidupan, Syeikh Husein Al Awayisyah, penerbit : At Tauhid Jakarta, cetakan I maret 2003]
Nasehat Bukanlah Gunjingan

Pertanyaan :
Seseorang hendak menugaskan orang lain dengan suatu pekerjaan. Saya tahu bahwa orang tersebut tidak mampu melaksanakannya karena tidak mempunyai keahlian di bidang tersebut. Bolehkah saya memberitahu orang yang hendak memberinya tugas itu tentang kekurangan-kekurangan orang yang hendak diberi tugas itu. Apakah ini termasuk menggunjing ?”.

Jawaban :
Jika maksudnya nasehat maka bukan berarti menggunjing. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw ,  “Agama adalah nasehat.”  Ditanyakan kepada beliau, “Bagi siapa ya Rasulullah?” beliau menjawab, “Bagi Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin umumnya. ”
Disebutkan dalam ash-Shahihain dari Jabir bin Abdullah al-Bajali, ia berkata, “Aku berbai’at kepada Rasulullah saw untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat dan memberi nasehat kepada setiap muslim.” Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang semakna dengan ini. Hanya Allah-lah yang mampu memberi petunjuk.

[Sumber : Majalah ad-Da’wah, nomor 1172, Syaikh Ibn Baaz]
Sabtu, 26 Februari 05 – http://www.alsofwah.or.id
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam”. (HR. Bukhari)
“Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam”. (HR. Ahmad)
“Diam (tidak bicara) adalah suatu kebijaksanaan dan sedikit orang yang melakukannya”. (HR. Ibnu Hibban)
“Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya”. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
“Barangsiapa banyak bicara maka banyak pula salahnya dan barangsiapa banyak salah maka banyak pula dosanya, dan barangsiapa banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya”. (HR. Ath-Thabrani)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 039/th.04/Rabi’ul Tsani-Jummadil Awwal 1429H/2008M