Suka Mengeluh dan Kikir

April 23, 2007

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Bila ditimpa kesusahan berkeluh kesah, dan bila mendapat kebaikan amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya; dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak punya apa-apa (namun tidak mau memintanya), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka …..”. (Q.S. Al-Ma’arij, 19 -30) Salah satu sifat manusia yang tidak baik adalah suka mengeluh atau berkeluh ke sah. Begitu rupa keluhannya, sehingga tidak ada cerita yang menyenangkan selain keluhan. Tidak punya uang, mengeluh. Sakit sedikit, mengeluh. Masakan tak enak, mengeluh. Tidak bisa tidur, mengeluh. Anak menangis, mengeluh. Layanan istri ti dak memuaskan, mengeluh. Kehujanan, mengeluh. Kepanasan, mengeluh. Untung sedikit, mengeluh. Begitu seterusnya. Suka mengeluh itu merupakan sifat yang tercela. Mengapa ? Karena menunjukkan ia tidak mau menerima ketetapan dari Allah. Tidak mau mensyukuri karunia Allah. Padahal apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi para hamba-Nya, merupakan sesuatu yang terbaik bagi yang bersangkutan, betapa pun sangat pahit dirasakan. Ketetapan yang sangat pahit dirasakan itu bisa berupa kesulitan hidup, kemiskinan, penyakit, dan lain lain yang sejenis. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :”Tiadalah musibah yang menimpa orang beriman, baik berupa sakit, sedih, susah, maupun terkena duri di kakinya, kecuali Allah akan menjadikannya sebagai tebusan (kafarat) atas perbuatan dosa yang telah dilakukannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).Pada riwayat lain disebutkan, bahwa Rasulullah bersabda :”Tiada seorang muslim yang terkena duri atau musibah yang lebih ringan dari itu, kecuali Allah mencatatnya sebagai suatu derajat yang tinggi di sisi-Nya, serta memberikan ampunan atas kesalahan yang telah diperbuatnya”. (H.R. Muslim)Ketetapan yang sangat pahit dirasakan itu, pada hakekatnya merupakan salah satu wujud kasih sayang Allah kepada yang bersangkutan. Karena dengan cara seperti itu, Allah akan memberikan derajat yang tinggi dan ampunan atas dosa-dosa yang dilakukannya selama ini. Sehingga ketika menghadap ke hadirat-Nya nanti di Yaumil Hisab, atau Hari Perhitungan, akan menjadi ringan tidak dibebani oleh dosa-dosa yang dilakukan semasa di dunia. Oleh karena itu, sepatutnya manusia mau menerima semua itu dengan (1) lapang dada, seraya (2) introspeksi ke dalam dirinya , (3) bertaubat, dan (4) menyusun langkah-langkah ke depan dengan sebaik-baiknya agar tidak mengulang kembali kesalahan yang telah diperbuat sebelumnya. Suka mengeluh juga memperlihatkan sikap yang tidak optimis dalam menghadapi suatu kenyataan yang ada di depannya. Jika sikap ini dibiarkan terus akan membahayakan bagi yang bersangkutan. Dia menjadi skeptis, peragu dan pesimis, serta sulit untuk maju, karena sebelum melangkah yang tergambar dalam fikirannya adalah kesulitan demi kesulitan, bahkan kegagalan demi kegagalan. Oleh karena itu jauhilah sikap suka mengeluh dan berkeluh kesah.

Selain suka mengeluh, manusia juga kikir, pelit atau bakhil. Tidak mau menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan. Bila datang ajakan untuk bershodaqoh tidak mau menanggapi. Bila ada tromol di masjid atau majelis taklim tidak mau mengisi. Berbagai alasan dikemukakan untuk menghindarinya. Dia tidak sadar, bahwa semua harta benda yang ada pada dirinya, dan semua kenikmatan dunia yang direguknya, mengandung dua sisi yang saling berhadapan. Yaitu, benar-benar akan menjadi kebahagiaan bila dipergunakan dengan baik dan benar sesuai tuntunan Allah yang memberikan rezeki kepadanya.

Atau sebaliknya, berubah menjadi bencana karena digunakan tidak secara proporsional dan sembrono, seperti boros, royal, dan atau kikir alias pelit. Tidak mempedulikan kebutuhan atau kepentingan orang lain. Padahal di dalam hartanya itu terdapat bagian orang lain baik diminta atau tidak diminta. Mereka adalah orang-orang fakir miskin, orang-orang yang sedang dililit hutang (ghorimin), dan orang -orang yang berada di jalan Allah (fi sabilillah), dan lain lain. Banyak orang yang tidak menyadari, bahwa harta yang ada pada dirinya itu adalah milik Allah. Dia hanya sekedar mendapat titipan, amanah untuk menjaganya dengan sebaik-baiknya. Dan kelak, Allah selaku Pemberi amanah, akan mengambilnya kembali dan meminta pertanggung-jawabannya. Kalau dia bisa mempergunakan amanah itu dengan baik dan benar, Allah tentu akan senang dan memberikan hadiah kepadanya, berupa keridhoan dan surga. Tapi sebaliknya, bila dia tidak bisa melaksanakan amanah itu dengan baik dan benar, tentulah Allah akan murka dan memberikan balasan yang setimpal atas kelakuan dia yang tidak amanah itu. Allah telah memberi-tahukan dalam Qur’an surat Asy-Syura 27 dan Al-Alaq 6-7, tentang sikap sebagian orang yang suka melampaui batas bila mendapatkan rezeki. Tidak mau mengeluarkan zakat, infaq atau shodaqoh, seperti Qorun yang berakhir dengan kehancuran pada dirinya dan seluruh harta bendanya. Lalu Tsa’labah yang di tolak zakatnya oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddieq dan Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu anhum, sampai akhirnya Tsa’labah sendiri meninggal dalam keadaan tertolak zakatnya. Padahal zakat adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim yang telah memenuhi ketentuan berzakat. Penolakan Rasulullah, disusul penolakan serupa dari Khulafaur-Rasyidin itu meru pakan isyarat, betapa beratnya hukuman yang bakal diterima Tsa’labah di akhirat, na’udzubillahi mindzalik. Apalagi dia sudah berjanji pada Nabi, kalau kaya akan berzakat. Dia juga telah berulangkali mendesak kepada Nabi agar didoakan menja di kaya. Allah Subhanahu wa-ta’ala berfirman :”Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksaan yang pedih, pada hari dipanaskannya emas dan perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar bersama dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka :’Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan.” (QS. At-Taubah 34-35).

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :”Barang siapa yang dianugerahi harta benda oleh Allah, lalu tidak mau berzakat, maka kelak di hari kiamat, harta itu akan menjadi ular jantan yang botak dan mempunyai dua taring. Ular tadi akan membelitnya lalu mematuknya sambil berkata :’Inilah aku hartamu, dan inilah aku harta simpananmu” (HR. Bukhari).

Sifat keluh kesah dan kikir merupakan sifat yang sangat tercela, karena itu haruslah kita buang sejauh-jauhnya.

Bagaimana caranya ? Allah selaku pencipta alam semesta memberikan jalan keluarnya, melalui firman-Nya sebagaimana dikutipkan pada permulaan tulisan ini, yaitu dengan cara :(1) Melaksanakan shalat secara tertib dan teratur, jangan sampai ada yang tertinggal, karena shalat itu merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan. Kemudian, lakukan shalat itu tepat pada waktunya, jangan ditunda-tunda karena besar sekali resikonya. Lalu dalam melaksanakan shalat, lakukan dengan khusyu’ dan tuma’ninah, sambil meresapi gerakan dan bacaannya ke dalam hati, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berbagai bujuk rayu syaitan.(2) Menginfakkan sebagian dari hartanya untuk membantu fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan baik mereka itu meminta langsung maupun tidak meminta karena berbagai alasan. (3) Mempercayai dengan sepenuh hati terhadap adanya hari pembalasan yang datangnya merupakan suatu keniscayaan untuk mengadili dan membalas semua perilaku manusia hingga yang sekecil-kecilnya. Balasan yang diberikan Allah itu bersifat total dan mutlak. Bila mendapat balasan baik, maka surga yang tak terbayangkan nikmatnya oleh indra duniawi akan segera ditempati. Sebaliknya bila balasannya berupa keburukan, maka siksaan yang amat pedih melebihi pedihnya siksaan dunia, juga akan segera ditempati.(4) Menjaga pandangan mata sekaligus kehormatan dirinya agar tidak jatuh ke lembah kehancuran.(5) Menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya, baik amanah yang diberikan Allah maupun amanah yang diberikan oleh sesama manusia.(6) Seiring dengan itu bersungguh-sungguh untuk memenuhi janji-janjinya, baik janji kepada Allah maupun janji kepada sesama manusia. (7) Jangan berlebihan dalam melakukan suatu perbuatan. Sedikit tapi berkesinambungan itu lebih baik katimbang berlebihan tapi cuma sekali saja.

Itulah solusi yang diberikan Penciptanya, Allah Rabbul Izati, untuk menghindari sifat-sifat buruk yang ada pada diri kita, berupa suka mengeluh dan kikir. Allahu a’lam bish-showab.

(oleh : H.Badruzzaman Busyairi)

http://www.muhajirien.or.id/mukaddimah/buletin/mi_edisi_99.htm

note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat.

Permohonan Si Miskin dan Si Kaya

Nabi Musa AS memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang panjang. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa AS. Ia begitu miskinnya pakaiannya compang-camping, lusuh dan berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Nabi Musa AS, “Ya Nabi Allah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya. Nabi Musa AS tersenyum dan berkata kepada orang itu, “Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah SWT”. Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, “Bagaimana aku harus banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan hanya satu lembar ini !”. Maka si miskin pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa AS. Orang tersebut bersih badannya dan rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa AS, “Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu”. Nabi Musa AS pun tersenyum, lalu ia berkata, “Wahai saudaraku, tidakkah kamu bersyukur kepada Allah SWT.”“Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Alah SWT ?. Allah SWT telah memberiku mata yang dengannya aku melihat. Telinga yang dengannya aku mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya”, jawab si kaya itu. Maka si kaya itu pun pulang ke rumahnya. Yang terjadi kemudian adalah si kaya itu semakin Allah SWT tambah kekayaannya karena ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah SWT meng ambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah SWT. – (sumber : kisah teladan)

http://meorjay2.tripod.com/kisahteladan2.html#atas

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.11/th.2/2005


Menjadi Orang Beragama atau Orang Baik ?

April 23, 2007

Seorang lelaki berniat untuk menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah. Dan Seorang nenek yang merasa iba melihat kehidupan si lelaki membantunya dengan membuatkan sebuah pondok kecil dan memberinya makan, sehingga lelaki itu dapat beribadah dengan tenang. Setelah berjalan selama 20 tahun, si nenek ingin melihat kemajuan yang telah dicapai lelaki itu. Ia memutuskan untuk mengujinya dengan seorang wanita cantik. ”Masuklah ke dalam pondok,” katanya kepada wanita itu, ”Peluklah ia dan katakan ‘Apa yang akan kita lakukan sekarang?”. Maka wanita itu pun masuk ke dalam pondok dan melakukan apa yang disarankan oleh si nenek. Ternyata lelaki itu menjadi sangat marah karena tindakan yang tak sopan itu. Ia mengambil sapu dan mengusir wanita itu keluar dari pondoknya. Ketika wanita itu kembali dan melaporkan apa yang terjadi, si nenek menjadi marah juga. ”Percuma saya beri makan orang itu selama 20 tahun,” serunya. ”Ia tidak menunjukkan bahwa ia memahami kebutuhanmu, tidak bersedia untuk membantumu keluar dari kesalahanmu. Ia tidak perlu menyerah pada nafsu, namun sekurang-kurangnya setelah sekian lama beribadah seharusnya ia memiliki rasa kasih pada sesama.”

Apa yang menarik dari cerita diatas ? Ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara taat beribadah dengan memiliki budi pekerti yang luhur. Taat beragama ternyata sama sekali tak menjamin perilaku seseorang. Ada banyak contoh yang dapat kita kemukakan disini. Anda pasti sudah sering mendengar cerita mengenai guru mengaji yang suka memperkosa muridnya. Seorang kawan yang rajin shalat lima waktu baru-baru ini di PHK dari kantornya karena memalsukan dokumen. Seorang kawan yang berjilbab rapi ternyata suka berselingkuh. Kawan yang lain sangat rajin ikut pengajian tapi tak henti-hentinya menyakiti orang lain. Adapula kawan yang berkali-kali menunaikan haji dan umrah tetapi terus melakukan korupsi di kantornya. Lantas dimana letak kesalahannya ?

Persoalan utamanya adalah pada kesalahan cara berpikir. Banyak orang yang memahami agama dalam pengertian ritual dan fiqih belaka. Dalam konsep mereka, beragama berarti melakukan shalat, puasa, zakat, haji dan melagukan (bukannya membaca) Alquran. Padahal esensi beragama bukan disitu. Esensi beragama justru pada budi pekerti yang mulia. Kedua, agama sering dipahami sebagai serangkaian peraturan dan larangan. Dengan demikian makna agama telah tereduksi sedemikian rupa menjadi kewajiban dan bukan kebutuhan. Agama diajarkan dengan pendekatan hukum (outside-in), bukannya dengan pendekatan kebutuhan dan komitmen (inside-out). Ini menjauhkan agama dari makna sebenarnya yaitu sebagai sebuah cara hidup (way of life), apalagi cara berpikir (way of thinking). Agama seharusnya dipahami sebagai sebuah kebutuhan tertinggi manusia. Kita tidak beribadah karena surga dan neraka tetapi karena kita lapar secara rohani. Kita beribadah karena kita menginginkan kesejukan dan kenikmatan batin yang tiada tara. Kita beribadah karena rindu untuk menyelami jiwa sejati kita dan merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita. Kita berbuat baik bukan karena takut tapi karena kita tak ingin melukai diri kita sendiri dengan perbuatan yang jahat.

Ada sebuah pengalaman menarik ketika saya bersekolah di London dulu. Kali ini berkaitan dengan polisi. Berbeda dengan di Indonesia, bertemu dengan polisi di sana akan membuat perasaan kita aman dan tenteram. Bahkan masyarakat Inggris memanggil polisi dengan panggilan kesayangan : Bobby. Suatu ketika dompet saya yang berisi surat-surat penting dan sejumlah uang hilang. Kemungkinan tertinggal di dalam taksi. Ini tentu membuat saya agak panik, apalagi hal itu terjadi pada hari-hari pertama saya tinggal di London. Tapi setelah memblokir kartu kredit dan sebagainya, sayapun perlahan-lahan melupakan kejadian tersebut. Yang menarik, beberapa hari kemudian, keluarga saya di Jakarta menerima surat dari kepolisian London yang menyatakan bahwa saya dapat mengambil dompet tersebut di kantor kepolisian setempat. Ketika datang kesana, saya dilayani dengan ramah. Polisi memberikan dompet yang ternyata isinya masih lengkap. Ia juga memberikan kuitansi resmi berisi biaya yang harus saya bayar sekitar 2,5 pound. Saking gembiranya, saya memberikan selembar uang 5 pound sambil mengatakan, ”Ambil saja kembalinya.” Anehnya, si polisi hanya tersenyum dan memberikan uang kembalinya kepada saya seraya mengatakan bahwa itu bukan haknya. Sebelum saya pergi, ia bahkan meminta saya untuk mengecek dompet itu baik-baik seraya mengatakan bahwa kalau ada barang yang hilang ia bersedia membantu saya untuk menemukannya. Hakekat keberagamaan sebetulnya adalah berbudi luhur. Karena itu orang yang ”beragama” seharusnya juga menjadi orang yang baik. Itu semua ditunjukkan dengan integritas dan kejujuran yang tinggi serta kemauan untuk menolong dan melayani sesama manusia. “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang paling baik akhlaknya” – Hadis riwayat Al-Bukhari & Muslim –

http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=2333_0_4_0_m

Note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang akan terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat.

Renungan

Berikut ini saya dapatkan wasiat ke-14 dari Syekh Abdul Qodir Jaelani pada pengajian madrasah-nya, semoga bermanfaat. Wahai budak nafsu! Janganlah sekali-kali engkau menentukan maqam para rabbani untuk dirimu sendiri. Sesungguhnya engkau adalah pemuja nafsu, sedangkan mereka adalah penyembah ALLAH. Engkau hanya mendambakan dunia sedangkan mereka mendam bakan akhirat. Matamu hanya terpaku melihat dunia ini, sedangkan mereka melihat Tuhannya. Kamu hanya mencintai ciptaan-NYA sedangkan mereka pencinta Yang menciptakan (ALLAH). Hatimu terpaut yang ada di bumi semata, sedangkan mereka terpaut pada Tuhan Arsy. Sesungguhnya engkau adalah korban dari segala yang kau lihat. Mereka hanya melihat Sang Pencipta, yang tak mungkin terlihat (oleh mata ini). Orang yang demikian telah meraih tujuan hidupnya, dan keselamatan mereka terjamin sedangkan dirimu tetap menjadi korban hawa nafsu duniawi. Akhirnya dunia menjadi rahmat dan membuat ruhaninya tenang, bagaikan di surga saja. Sebab mereka ini jika melihat sesuatu ciptaan ALLAH, maka yang dilihat atau dipandang bukan kenyataan atau wujud dari ciptaan itu. Tetapi yang dilihat nya ialah hikmahnya, yaitu Yang menciptakan. Orang-orang demikian ini adalah bagaikan gunung sebagai pasak bumi dan berdiri kokoh. Mereka diciptakan di tengah tengah umat ini bak lentera. Semoga kedamaian dari ALLAH melimpah kepadanya, salam dan rahmat-NYA selama di bumi dan ke langit maujud.

http://www.ukhuwah.or.id/artikel/t_artikel.phtml?id=76&kategori=hikmah

Dari Anas r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Janganlah seorang dari kamu mengharap-harapkan maut disebabkan oleh penderitaan yang dialaminya maka jika harus terpaksa berkata, ucapkanlah, ALLAAHUMMA AHYINII MAAKAANATIL HA AATU KHAIRAN LII WA TAWAFFANII IDZAA KAANATIL WAFAATU KHAIRAN LII (Ya Allah, hidup kanlah aku selama hidup ini lebih baik bagiku dan matikanlah aku apabila mati itu lebih baik bagiku).” (Bukhari – Muslim)

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.011/th.2/Dzulhijjah-Safar 1426H/2005M


Seorang Muslim Itu Dermawan

April 23, 2007

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat haluu’a (keluh kesah lagi kikir). Apa bila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir. Kecuali, orang-orang yang mengerjakan salat. Yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak punya apa-apa (yang tidak mau meminta).” (Al Ma’aarij:19-25). Seorang mukmin yang salatnya ajeg dan benar, ia tidak gampang berkeluh kesah. Karena, kesulitan atau kemudahan baginya mengandung hikmah.

Manusia cenderung bersikap haluu’a. Apakah itu ? Ia ditafsirkan dengan dua ayat berikutnya (20-21): Sebuah perangai buruk suka berkeluh kesah lagi kikir. Ketika ia tertimpa kesulitan, hatinya terasa sempit, goncang, dan mudah berputus asa. Ketika beroleh nikmat dan kebaikan, ia bersikap kikir. Yaitu, kikir dari hak Allah dan kikir dari hak sesama. Tentu tidak semua manusia berperilaku demikian. Seorang muslim semestinya tidak haluu’a. Mengapa ? Karena, seorang muslim itu ajeg menjaga salatnya. “Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (daimun).” Dengan salat, hati menjadi tenteram. Juga, dengan salat perbuatan keji dan mungkar dapat ditahan. Maka, seorang mukmin yang salatnya ajeg dan benar, ia tidak gampang berkeluh kesah. Karena, kesulitan atau kemudahan baginya mengandung hikmah. Sebagian sahabat bahkan meman dang kesulitan sebagai nikmat, seperti perkataan Abu Dzar Al-Ghifari, “Miskin lebih aku sukai daripada kaya, dan sakit lebih aku sukai daripada sehat.” Seorang muslim semestinya tidak haluu’a. Mengapa ? Karena, seorang mukmin menyadari pada hartanya ada hak bagi orang yang meminta (as-sail) dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (al-mahruum). “Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa.” As-sail adalah orang yang meminta. Terhadap orang semacam ini terdapat hak bagi dia, seperti dalam sabda Rasulullah SAW, “Bagi orang yang meminta minta terdapat hak, meskipun ia datang mengendarai kuda.” (HR Abu Dawud dari hadis Sufyan ats-Tsauri, dalam riwayat lain disandarkan kepada Ali bin Abu Thalib). Adapun al-mahrum, seperti didefinisikan Ibnu Abbas, adalah orang yang bernasib buruk. Ia tidak memiliki bagian dalam baitul mal, tidak memiliki pendapatan, dan tidak memiliki pekerjaan yang dapat menopang. Rasulullah pernah bersabda, “Orang miskin bukanlah orang yang keliling dan engkau memberinya sesuap atau dua suap makanan dan sebutir atau dua butir kurma, akan tetapi orang miskin adalah orang yang tidak memiliki kekayaan yang mencukupinya sedangkan orang lain tidak mengetahuinya sehingga bersedekah kepadanya.” (HR Bukhari dan Muslim). Jadi, seorang muslim semestinya dermawan, tidak kikir dan tidak bakhil. Karena, seorang muslim senantiasa merenungkan ayat-ayat Allah, seperti dalam ayat berikut. “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.” (Al-Munafiqun: 10).

Suatu ketika Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya, “Manakah yang lebih kalian cintai : harta ahli waris atau harta sendiri ?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, tentu tidak seorang pun di antara kita kecuali lebih mencintai hartanya sendiri.” Rasulullah meneruskan, “Sesungguhnya harta seseorang ialah apa yang telah ia gunakan, dan harta ahli waris adalah apa yang belum ia gunakan.” (HR Bukhari). Abu Bakar Al-Jazairi menceritakan sebuah kisah yang mengagumkan di dalam Minhajul Muslim, dikisahkan bahwa Ibunda Aisyah r.a. mendapat kiriman uang sebanyak 180.000 dirham dari Muawiyah bin Abi Sufyan. Oleh beliau uang itu disimpan di mangkuk dan dibagikan kepada manusia hingga tak tersisa. Pada sore harinya, Aisyah berkata kepada budak wanitanya, “Antarkan makanan berbuka untukku.” Budak wanita tersebut menghidangkan roti dan minyak kepada Aisyah. Beliau berkata kepada budak, “Mengapa engkau tidak mengambil uang satu dirham dari uang yang aku bagikan tadi buat membeli daging untuk buka puasa kita ?” Budak tersebut menjawab, “Jika engkau mengingatkanku sejak tadi, aku pasti melakukan.” Dalam kekinian, betapa banyak kita temukan dua tipe masusia di atas. Tipe orang miskin meminta-minta karena kondisi memaksa, juga tipe orang yang tidak memiliki kekayaan, penghasilan, pekerjaan, namun ia enggan untuk meminta. Terhadap tipe pertama, akan lebih mudah bagi kita untuk mengetahuinya, namun terhadap tipe ke dua, diperlukan sedikit perhatian untuk mengetahuinya. Di sinilah perlunya sikap peka terhadap lingkungan. Budaya modernisme sering berdampak pada menjadikan orang berperilaku egois, tidak mengenal tetangga, tidak mengenal lingkungan. Setiap hari ia makan enak, namun ia tidak mengetahui bahwa orang-orang di sekitarnya tengah kelaparan. Terlebih al-mahrum, tidak mesti mereka kelompok marginal yang tidak mampu bekerja. Kadang mereka kelompok profesional yang tidak tertopang situasi dan sarana yang mendukung untuk bekerja, seperti tidak adanya lapangan pekerjaan atau tertimpa bencana perang. Dalam konteks ini, perlu aktualisasi kedermawanan bagi muslim yang “kuat”, tentu tidak sekadar berpikir memberi ikan, melainkan harus juga berpikir bagaimana memberi kail. Wallahu a’lam bish-shawab.

(sumber : Al Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia)

http://www.portalinfaq.org/g02x01_article_view.php?article_id=57

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” (QS.Ali Imran : 92)

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) dijalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS.Al Baqarah : 195)

“Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.” (QS.Al Anfaal : 60)

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya diantara hamba-hambaNya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)’ , Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya”. (QS.Saba : 39)

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS.Adz Dzaariyat : 19)

“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah melipat gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (QS.Al Hadid : 11)

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang kafir siksa yang menghinakan.” (QS.An Nisa : 36-37)

 

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.011/th.2/Dzulhijjah-Safar 1426H/2005M


Mata pena seringkali lebih tajam daripada mata pedang…..

April 18, 2007

Kalau kita saban hari melihat berita di TV, dengar radio atau baca koran. Pernahkah terbetik pikiran dalam benak kita, kenapa kalau ada saudara-saudara kita sesama muslim yang sedang berjuang mempertahankan negaranya, misalnya di Palestina, Irak, Bosnia, Chehnya, Philipina, atau dimana saja. Lantas semua berita menyebut para pejuang yang saudara kita itu dengan ’embel-embel’ : militan, fundamental, garis keras bahkan yang akhir-akhir ini gencar di’populerkan’ adalah istilah teroris ?.

Misalkan yang ‘diobok-obok’ itu adalah negara kita, kemudian kita membela negara kita mati-matian. Tiba-tiba saja semua TV, radio dan koran menyiarkan, bahwa kita yang sedang berjuang itu ternyata diberitakan sebagai kaum fundamentalis, militan, garis keras dan teroris. Tentu marah besar kita. Bisa jadi semangat kita dalam berjuang jadi berlipat-lipat karena bercampur rasa marah itu.

Sekarang pertanyaannya, kenapa TV, radio dan koran kita memberitakannya seperti itu ?. Inilah salah satu kelemahan perusahaan-perusahaan media kita, hampir semua berita, maksudnya berita luar negeri yang berhubungan dengan kejadian-kejadian di negara-negara muslim, semua media kita biasanya hanya membeli beritanya dari perusahaan-perusahaan media asing, misal : CNN, BBC, AFP, Washington Post, AP , Reuters, dll. Kemudian oleh media kita diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, lantas diterbitkan. Esok harinya, kita semua sebagai pembaca yang hanya ‘tahu jadi’, langsung saja mengkonsumsi kata-kata ‘militan-fundamental-garis keras dan teroris’. Padahal semua perusahaan media asing yang disebut di atas, bisa dipastikan bukan milik orang muslim, termasuk wartawan/reporter yang menulis berita di tempat kejadian. Maka masuk akal bila mereka suka menyebut saudara-saudara kita dengan istilah-istilah seperti itu. Yang patut disayangkan, banyak pembaca yang masih saudara kita sesama muslim ternyata menelan begitu saja semua istilah itu. Maka jadilah sesama (negara) muslim saling curiga dan waspada.
Itulah Ghazwul Fikri…….!

Nuansa pemberitaan lain akan kita jumpai bila kita membaca majalah-majalah Islam seperti : Sabili, Hidayatullah, Hidayah, Tarbawi, dll. Majalah-majalah ini cukup selektif dan cerdik. Mereka mencari berita dari sumber-sumber Islami, dari kantor-kantor berita asing di negara Islam. Sehingga yang muncul adalah istilah-istilah yang sesuai dan layak, misalnya : Pejuang, Mujahid, Syuhada, Pahlawan,dll. Nada beritanyapun tidak terkesan ‘miring’. Hal demikian terlihat pula pada web site/situs islami di internet. Pada kasus yang sama, namun nampak nyata perbedaan kandungan beritanya.

Sahabat, meskipun (masih) dalam skala kecil, Labbaik akan berusaha ‘bergerilya’ guna memperbaiki citra Islam yang rusak akibat pemberitaan media asing di atas. Labbaik akan senantiasa mencarinya dari sumber-sumber Islami. Kalau memang manis insya Allah isi artikelnya manis pula, sebaliknya kalau adanya pahit, maka isi artikel akan ditampilkan insya Allah pahit pula. “Katakanlah yang benar walau pun pahit”, demikian pesan Rasulullah SAW.

[sumber : mukaddimah Labbaik edisi no.011/th.02/Dzulhijjah-Safar 1426H/2005M)


Al Maidah Berkumandang di New York

April 6, 2006

Lagi, putera Indonesia dipilih mewakili Islam Amerika tampil dalam acara doa untuk Amerika yang diikuti pemuka Protestan, Katolik, Sikh, Hindu, dan Islam lainnya di stadion terkenal olah raga baseball Yankee Stadium, The Bronx, New York (NY).
M Syamsi Ali, MA. nama ustad asal Sulawesi Selatan itu. Bagaimana ceritanya sampai Syamsi bisa satu panggung bersama mantan Presiden AS Bill Clinton, Senator Hillary Clinton, Wali Kota New York Rudolph Giuliani, Gubernur New York Robert Pataki, Oprah Winfrey dan selibritis dunia di stadion yang lokasinya dekat reruntuhan gedung kembar 110 tingkat World Trade Center (WTC) itu ?

New York City, Minggu 23 September pukul 16.45 atau Senin subuh WIB. Seorang pria bersosok tinggi sedang mengenakan kemeja muslim coklat dan peci coklat muncul di mimbar “a Prayer for America” di Stadion Yankee, New York City. Sekitar 50 ribu orang memadati stadion kebanggaan di New York yang didirikan pada 1923 : tua-muda, dewasa dan anak-anak, laki dan perempuan, kulit putih maupun Blacks, dan pelbagai ras dan bangsa di AS. Di panggung, persis beberapa meter dari sosok muda itu, tampak selebritis Oprah Winfrey, mantan Presiden Bill Clinton, senator Hillary Clinton, Gubernur Negara Bagian New York George Pataki, Wali Kota New York Rudolph Giuliani, artis Bette Midler, penyanyi country Lee Greenwood dan banyak selebritis New York lainnya. Hadir pula para pemuka agama di Amerika, seperti para tokoh Yahudi, Protestan, Katolik, Sikh, Hindu dan sebagainya. Pria kelahiran 1967 yang berdiri di mimbar tadi bernama M. Syamsi Ali MA.

Syamsi, yang fasih khotbah berbahasa Arab dan Inggris ini, menyebut : ‘Bismillahirahmanirrahim’ dari bibirnya. Lalu, puluhan ribu publik AS mendengar syahdunya kalimat-kalimat Allah dibacakan Syamsi di luar kepala. Tidak ada suara, kecuali alunan merdu suara pemuda asal Sulawesi tersebut. Ayat-ayat suci Al Quran yang dikumandangkan Syamsi di depan publik yang mayoritas non-muslim tersebut diambil dari beberapa surat.

Pertama, surat Al-Hujurat ayat 13 soal asal-usul manusia, (yaitu Adam dan Hawa), yang lalu dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Tapi, yang termulia adalah yang paling bertakwa.
“Saya bacakan ayat ini untuk menggambarkan bahwa Islam adalah agama yang mengakui persaudaraan umat manusia. Islam tak membenci umat lain. Justru Islam datang untuk mengangkat derajat semua manusia,” kata Syamsi, kepada Jawa Pos.

Ayat kedua yang dilafalkan Syamsi di depan Clinton, Giuliani, Pataki dan yang lain adalah surat Al-Maidah ayat 8. Ayat ini memerintahkan orang-orang beriman untuk selalu konsisten dengan kebenaran dan keadilan. Jangan hendaknya kebencian kita terhadap suatu kaum menjadikan kita tidak adil. Lewat ayat itu, Syamsi ingin berpesan kepada pemerintah George Walker Bush dan pengambil keputusan AS bahwa, jangan sampai karena kebencian yang tertanam, bukan keadilan yang dijunjung. Tapi, pembalasan dendam. Tentu saja ini dikaitkan dengan rumor keinginan AS menggempur negeri-negeri yang dianggap terlibat konspirasi teroris. “Semoga bacaan ayat ini dapat menyentuh nurani para pengambil keputusan di negeri ini (AS, Red). Jadi, apapun yang dilakukan untuk menumpas para teroris didasarkan pada kebenaran dan keadilan,” tuturnya.

Ayat ketiga yang dibacakan Syamsi adalah surat An-Nasr. “Sengaja saya kutipkan ayat ini karena saya yakin, soon or later, kebenaran itu akan berada pada posisi kemenangan,” ujar pria yang sering tampil berdakwah di teve-teve AS itu.

Jelas ayat-ayat itu punya makna ketika ditujukan dengan doa dan perenungan AS atas Tragedi WTC dan Pentagon 11 September lalu.

Bagaimana ceritanya Syamsi dipilih di acara yang dijadikan pusat perenungan dan doa NY atas tragedi WTC itu ? “. Tadinya, diminta membawakan doa mewakili umat Islam. Tapi, saya pikir lebih baik membacakan ayat-ayat suci. Ya sekalian dakwah,” papar Syamsi. Seluruh bacaan Syamsi diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh muslimah Amerika. Belakangan diketahui, tampilnya muslimah itu atas permintaan Syamsi. “Dibacakannya artinya oleh muslimah dengan maksud diketahui artinya. Kedua, untuk diketahui bahwa wanita dalam Islam tak selalu ada di belakang pintu,” paparnya.
Tampilnya Syamsi dalam event ini– disiarkan di seluruh jaringan teve utama nasi onal AS, termasuk CNN– bukan yang pertama. Sepekan sebelumnya dia juga digandeng Presiden George W. Bush untuk bersama-sama mengunjungi reruntuhan WTC.

Syamsi selama ini memang sudah berhubungan baik dengan wali kota New York. Di setiap acara yang berhubungan dengan Islam, Giuliani kerap menggaet Syamsi. Sebagai dai yang sering khotbah di masjid-masjid besar NY, dia sudah dikenal luas.
Kapan diberitahu tampil di Yankee Stadium ? “Saya diberitahu dua hari sebelumnya lewat Imam Izekil Pasha, kepala Kerohaniaan New York Police Department (NYPD),” jelas Syamsi.

Ketika membacakan ayat-ayat Quran di depan khalayak Amerika, wajah Syamsi tampak sendu dan khusuk. Seperti ada airmata yang menggenang di samudera batinnya. “Saya memang agak tersentuh dan luluh. Saya merasa tersentuh, ketika membacakan ayat-ayat tersebut. Saya teringat situasi umat di jagat raya. Hati saya trenyuh. Apalagi, setelah melihat di sekeliling saya, ada pembesar kota New York, dan pembesar semua agama. Ternyata, ayat-ayat Allah cukup menyentuh perasaan banyak kalangan,” paparnya.
Mestinya Syamsi bisa kian masygul jika tahu, mungkin, untuk kali pertama dalam sejarah New York, bahkan Amerika, bacaan kalam Ilahi dikumandangkan di tengah-tengah ribuan non-Muslim. Lebih-lebih acara itu disiarkan live oleh berbagai TV nasional maupun internasional. Belum termasuk liputan media massa.

Ada juga pembacaan adzan. Panggilan shalat itu dikumandangkan seorang muallaf (baru masuk Islam, Red) bernama Abdul Wali. Di New York dia penyanyi profesional. Juga ada ceramah singkat dari Imam Izekil Pasha, yakni imam Masjid Malcom Shahbaz dan juga Ketua Kerohanian (Chaplain) NYPD. Syamsi, staf lokal di Indonesian Mission untuk PBB (PTRI New York) berkantor di 325 East 38th Street, New York, NY 10016, USA ini, memiliki kebanggaan khusus pula sebagai anak bangsa.

“Bagi saya pribadi, itu kehormatan bagi negara dan bangsa kita sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia,” katanya dengan vokal rendah.

Yang agak ganjil dari tampilnya Syamsi di depan 50 ribu massa non-muslim ini, stadion Yankee bergemuruh dan tepuk tangan pun membahana setelah usai ayah Maryam ini membacakan ayat-ayat Quran. Ada juga pemandangan lain. Wali Kota NY dan Gubernur NY berdiri dan memeluk Syamsi erat-erat seusai acara.

(sumber : http://www.jawapos.co.id/print/index.php?view=detail;id=40652)

NB: M. Syamsi Ali adalah seorang muslim anggota ISNET yang tinggal di New York.
http://media.isnet.org

PESAN MUTIARA :
“Sesungguhnya lidah orang bijak itu ada dibalik hatinya. Apabila dia ingin berkata maka dia kembali kepada hatinya. Jika itu bermanfaat baginya maka dia berkata. Namun jika itu berdampak buruk baginya maka diapun menahan mulutnya. Sedangkan orang bodoh, hatinya berada diujung lidahnya. Dia tidak kembali kepada hatinya. Apa saja yang ada dimulutnya maka dia ucapkan.
(dari : Manajemen Lisan, Darul Haq)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.011/th.01/Dzulhijjah-Safar 1426H/2005M


Lihatlah lebih dekat lagi…

April 6, 2006

Didalam kendaraan umum yang lumayan padat, seorang wanita berjilbab yang duduk di bangku dekat jendela terlihat sedang khusyu’ membaca Al Qur’an sakunya. Hingar bingar pedagang asongan dan peminta-minta tak mengusik konsentrasinya. Sementara di sebelahnya, seorang wanita lainnya, menyodorkan sejumlah receh kepada peminta tak berkaki yang melewati mereka dengan cara ngesot. Seringkali di dalam sebuah kendaraan umum kita menyaksikan fenomena seperti itu, entah si pembaca Al Qur’an atau orang-orang yang cukup dermawan menyisihkan sebagian rezekinya untuk kaum dhuafa, bahkan keduanya. Kita yang biasa berkendaraan umum, juga sudah sangat hapal dengan teriakan-2 ‘artis jalanan’, atau para penyair bus kota setelah mereka beraksi, “Kami hanya harapkan bunga-bunga sosial dari anda, tidak perlu berpura-pura tidur dan jangan berlagak sombong jika tak memberi. Senyuman dan tangan terangkat anda lebih kami hargai” begitu kira-kira. Namun rupanya, masih banyak diantara kita yang malas sekedar mengangkat tangan dan sekedar senyum dibarengi kata “maaf” pertanda tidak memberi. Berbagai bermacam alasan orang untuk tidak memberi ; tidak ada receh, susah ngambil uangnya, sebal dengan pengamennya (baik lagu yang dibawakan atau tampilan yang tidak sedap) atau memang da sarnya pelit. Sopan, hormat dan sangat menghargai anda sebagai orang yang dimata mereka, sudah sukses dan mendapatkan kesempatan hidup lebih baik. Meski harus diakui ada sebagian kecil yang terang-terangan bersikap kasar sewaktu meminta dengan dalih kapok masuk penjara, plus tampang yang rada kriminal. Masalahnya kemudian, pantaskah sikap angkuh kita perlihatkan hanya karena kebetulan memiliki rezeki lebih dibanding mereka. Haruskah hingar bingar suara gitar dan teriakan suara sumbang mereka dibalas dengan cibiran ? Atau yang juga perlu ditanyakan dalam diri ini, apakah Islam membedakan kaumnya berdasarkan profesi, lusuh-rapihnya pakaian, kumal-klimisnya penampilan atau aroma tubuh seseorang ?. Padahal ditempat lain, kita begitu rela menghabiskan sekian puluh, bahkan ratusan ribu untuk mentraktir kolega dan rekan kerja yang kalau mau jujur nilainya cuma sampai dimata para kolega itu. Namun jumlah yang tidak sepersepuluhnya yang kita keluarkan untuk para fakir miskin, anak yatim, peminta-minta, sumbangan masjid dan lain-lain. Padahal recehan yang kita lemparkan untuk kaum dhu’afa itu sungguh jauh lebih bernilai, hingga dimata Allah.

Banyak ayat yang sudah kita baca yang mestinya menyadarkan bahwa ayat Al Qur’an yang membahas ibadah sosial lebih banyak ketimbang ibadah ritual. Mungkin itu sangat terkait dengan posisi manusia sebagai makhluk sosial, yang juga merupakan makna dibalik penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Bahwa keberadaan manusia yang satu tidak bisa terlepas dari keberadaan manusia (makhluk) lainnya. Itu artinya, keberadaan mereka yang lemah juga terkait dengan diri ini yang mungkin saja menjadi bagian dari proses keterpurukan mereka. Atau setidaknya menambah lekat status lemahnya dari sikap arogansi dan kikir kita. Padahal sesungguhnya, sangat banyak keuntungan yang kita raih dari orang-orang miskin, kaum fakir , anak-anak yatim piatu dan sebagainya. Setidaknya, predikat kita sebagai kaum ‘the have’, dan sebagai orang sukses karena mereka yang berstatus miskin dan tertinggal. Tidak ada sebutan orang kaya jika tidak ada orang miskin. Selain itu, bayangkan jika tidak ada mereka, tidak ada yang akan melakukan pekerjaan-pekerja an seperti mengeruk sampah, menjadi pembantu rumah tangga, sopir dan kondektur, penyapu jalan, tukang koran, pelayan toko dan lain sebagainya. Bayangkan jika kita harus melayani semuanya sendiri tanpa bantuan mereka. Disinilah makna kebersamaan hidup, berdampingan dan saling membutuhkan berdasar aturan simbiosis mutu alis dan win-win solution. Belum lagi keuntungan yang dapat kita raih yakni berupa surga Allah hanya dengan menghormati hak-hak kaum dhu’afa, mengangkat yang jatuh dan membela yang lemah. Membangkitkan mereka dari keterpurukan yang mungkin saja menyeretnya kepada kekafiran. Dan itu bisa juga menyeret kita di depan pertanggung-jawaban Allah karena membiarkan orang miskin berpaling dari islam dengan sebab kemiskinannya.

Tentu kita bisa belajar dari Abu Dzar Al Ghifari, sahabat Rasulullah yang mendapat gelar pahlawan kaum lemah, pembela kaum tertindas diyakinkan Rasulullah menjadi salah satu penghuni surga. Sahabat, mari melihat lebih dekat, tak perlu membusungkan dada hanya untuk memperjelas status sosial dihadapan mereka. Sekedar senyum mungkin sedikit membebaskan kita dari tuntutan pengadilan Allah. Sentuhan kasih sayang dan cinta yang kita berikan kepada saudara kita itu, bukan hanya menorehkan do’a dari mulut mereka kepada kita, melainkan juga mengembalikan kunci surga yang pernah kita biarkan terlewat begitu saja selama ini. Wallahu a’lam bishshowaab.(http://www.eramoslem.com/ar/oa/28/3278,1,v.html)

Kunci Surga

“Ya Rasulullah, mereka yang kaya datang kepadamu dengan berbagai hadiah, akupun ingin seperti mereka, namun tak satupun hartaku yang pantas untuk kuhadiahkan kepadamu”, ucap ibu Anas bin Malik dengan memelas, “Kini aku datang dengan buah hatiku satu-satunya, yaitu Anas, ia “kuhadiahkan” kepadamu agar dapat membaktikan dirinya bagimu”. Sahabat Anas akhirnya hidup bersama Rasulullah SAW dan ia sendiri menuturkan, “Aku menjadi pembantu Rasulullah SAW selama 10 tahun, selama waktu itu beliau tak pernah menghardik dengan ‘Uf’ (hus). Tidak pernah pula beliau berkata kepadaku karena sesuatu yang kukerjakan (dengan perkataan): ‘Mengapa kau kerjakan begini’. Dan tidak pula karena sesuatu yg tak kukerjakan. Beliau menegur dengan berkata: ‘Mengapa tak kau kerjakan’ “.Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Beliau bukan sekedar memerintahkan seseorang untuk berakhlak mulia, namun telah mendahului dengan perbuatan nyata sebagai tauladan. Dan Allah memujinya “Dan sesungguhnya engkau memiliki akhlaq yang mulia” (QS; 68: 4).Dalam masyarakat yang mendewakan kekayaan, Rasulullah SAW biasa berpihak dan duduk bersama si miskin serta budak belian. Pada dasarnya kaum kafir Quraisy tak keberatan dengan ajaran tauhid yang dibawa Islam, termasuk Yahudi dan Nashara. Namun mereka terusik dengan ajaran persamaan hak si miskin dengan si kaya, persamaan persaudaraan dan lain-lain. Terhadap mereka yang menyombongkan diri karena harta, pangkat, darah keturunan, Beliau mengingatkan, “Diharamkan masuk surga, orang yang di dalam hatinya ada perasaan takabbur (sombong), walau hanya sebesar debu”. Ajaran ini menjadi ancaman serius bagi kedudukan, hak istimewa dan ekonomi yang sebelumnya mereka dapat, karena itu juga mereka sepakat untuk menumpas. Pada kenyataannya, misi dakwah Rasulullah SAW berhasil dengan sangat gemilang. Dan kunci dari keberhasilan tersebut, diantaranya adalah dengan mengedepankan akhlak yang mulia. Bila sahabat Anas yang nota bene pembantu diperlakukan sedemi kian rupa, bagaimana dengan yang lain ? Kita sebagai ummatnya sering melupakan misi utama Rasulullah, menyempurnakan akhlak yang mulia. Praktek-praktek kejahiliyahan kembali terulang tanpa pernah kita sadari sebagai suatu kesalahan. Dan hal ini karena kita telah puas dengan predikat sebagai muslim dengan cukup menjalankan berbagai ketaatan, seperti shalat, puasa, haji dan lain-lain. Sementara terhadap mereka yang papa sering di jadikan warga kelas 10, objek pemerasan, pembodohan dan lain-lain. Para buruh diperas selama masih “manis” dan dibuang setelah menjadi sepah. Kita merasa terbebani dengan keberadaan mereka, dan beranggapan tak perlu berakhlak mulia kepada mereka. Padahal Rasulullah SAW pernah mengingatkan, “Kamu ditolong dan diberi rizki karena bantuan orang-orang lemah (miskin) diantara kamu”. Kepada salah seorang istrinya Beliau SAW pernah berpesan, “Cintailah orang miskin dan akrablah dengan mereka, supaya Allah akrab denganmu di hari kiamat kelak”. Dan untuk kita semua Beliau berwasiat, “Segala sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga ialah mencintai orang-orang miskin”. (http://www.fosmil.org/bankdata/majalah.html)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.011/th.01/Dzulhijjah-Safar 1426H/2005M