Semua Agama Sama ?

Januari 14, 2008

Definisi agama di Barat terus menjadi polemik. Di Indonesia, para santri sudah mengatakan, “Semua Agama Sama”. Boleh jadi, besok akan ada kiai yang mengatakan, “Yesus Tuhan kita juga”.

Di pinggir jalan kota Manchester Inggris terdapat papan iklan besar bertuliskan kata-kata singkat “It’s like Religion”. Iklan itu tidak ada hubungannya dengan agama atau kepercayaan apapun. Di situ terpampang gambar seorang pemain bola dengan latar belakang ribuan supporternya yang fanatik. Saya baru tahu kalau itu iklan klub sepakbola setelah membaca tulisan di bawahnya ‘Manchester United’.
Sepak bola dengan supporter fanatik itu biasa, tapi tulisan it’s like religion itu cukup mengusik pikiran saya. Kalau iklan itu dipasang di jalan Thamrin Jakarta ummat beragama pasti akan geger. Ini pelecehan terhadap agama. Tapi di Barat agama bisa difahami seperti itu. Agama adalah fanatisme, kata para sosiolog. Bahkan ketika seorang selebritinya mengatakan “My religion is song, sex, sand and champagne” juga masih dianggap waras. Mungkin ini yang disinyalir al-Qur’an “Ara’ayta man ittakhadna ilaahahu hawaahu” (QS.25:43).

Pada dataran diskursus akademik, makna religion di Barat memang problematik. Bertahun-tahun mereka mencoba mendefinisikan religion tapi gagal. Mereka tetap tidak mampu menjangkau hal-hal yang khusus. Jikapun mampu mereka terpaksa menafikan agama lain. Ketika agama didefinisikan sebagai kepercayaan, atau kepercayaan kepada yang Maha Kuasa (Supreme Being), kepercayaan primitif di Asia menjadi bukan agama. Sebab agama primitif tidak punya kepercayaan formal, apalagi doktrin.

F.Schleiermacher kemudian mendefinisan agama dengan tidak terlalu doktriner : “Agama adalah rasa ketergantungan yang absolut” (feeling of absolute dependence). Demikian pula Whitehead :”Agama adalah apa yang kita lakukan adalah kesendirian”. Di sini faktor-faktor terpentingnya adalah emosi, pengalaman, intuisi dan etika. Tapi definisi ini hanya sesuai untuk agama primitif yang punya tradisi penuh dengan ritus-ritus, dan tidak cocok untuk agama yang punya stuktur keimanan, ide-ide dan doktrin-doktrin.

Tapi bagi sosiolog dan antropolog memang begitu. Bagi mereka religion sama sekali bukan seperangkat ide-ide, nilai atau pengalaman yang terpisah dari matrik kultural. Bahkan, kata mereka, beberapa kepercayaan, adat istiadat atau ritus-ritus keagamaan tidak difahami kecuali dengan matrik kultural tersebut. Emile Durkheim malah yakin bahwa masyarakat itu sendiri sudah cukup sebagai faktor penting bagi rasa berkebutuhan dalam jiwa. (Lihat The Elementary Forms of the Religious Life, New York, 1926, 207). Tapi bagi pakar psikologi agama justeru harus diartikan dari faktor kekuatan kejiwaan manusia ketimbang faktor sosial dan intelektual. Para psikolog Barat nampaknya trauma dengan makna agama yang doktriner, sehingga tidak peduli dengan aspek ekstra-sosial, ekstra-sosiologis ataupun ekstra psikologis. Aspek immanensi lebih dipentingkan daripada aspek transendensi.

Sejatinya, akar kebingungan Barat mendefinisikan religion karena konsep Tuhan yang bermasalah. Agama Barat -Kristen- kata Amstrong dalam History of God justeru banyak bicara Yesus Kristus ketimbang Tuhan. Padahal, Yesus sendiri tidak pernah mengklaim dirinya suci, apalagi Tuhan. Dalam hal ini kesimpulan Profesor Al-Attas sangat jitu, yakni “Islam, sebagai agama, telah sempurna sejak diturunkan” Konsep Tuhan, agama, ibadah, manusia dan lain-lain telah jelas. Konsep-konsep selanjutnya hanyalah penjelasan dari konsep-konsep itu tanpa merubah konsep asalnya. Sedang di Barat konsep Tuhan mereka sejak awal bermasalah sehingga perlu direkayasa agar bisa diterima akal manusia.

Kita mungkin akan tersenyum membaca judul buku yang baru terbit di Barat, “Tomorrow’s God” (Tuhan Masa Depan), karya Neale Donald Walsch. Tuhan dari agama agama yang sudah ada sebelumnya, dianggap tidak lagi cocok untuk masa kini. Tuhan haruslah seperti apa yang digambarkan oleh akal modern. Manusia makhluk berakal (rational animal) terpaksa menggusur pengertian ‘manusia adalah makhluk Tuhan’. Pada puncaknya nanti manusialah yang menciptakan Tuhan dengan akalnya.
Kata-kata Socrates: “Wahai warga Athena ! Aku percaya pada Tuhan, tapi tidak akan berhenti berfilsafat”, bisa berarti “Saya beriman tapi saya akan tetap menggambarkan Tuhan dengan akal saya sendiri”. Wilfred Cantwell Smith nampaknya setuju. Dalam makalahnya berjudul ‘Philosophia as One of the Religious Tradition of Man kind’, ia mengkategorikan tradisi intelektual Yunani sebagai agama. Akhirnya, sama juga mengamini Nietzche bahwa ‘Tuhan hanyalah realitas subyektif dalam fikiran manusia’, alias ‘khayalan manusia yang tidak ada dalam realitas obyektif’. Konsep Tuhan inilah yang justeru menjadi lahan subur bagi atheisme. Sebab Tuhan bisa dibunuh atau ditiadakan keberadaannya.

Jika Imam Al-Ghazzali dikaruniai umur hingga abad ini mungkin ia pasti sudah menulis berjilid-jilid Tahafut. Sekurang-kurangnya ia akan menolak jika Islam di masukkan ke dalam devinisi religion versi Barat dan Allah disamakan dengan Tuhan spekulatif. Jika konsep ‘Unmoved Mover’ Aristotle saja ditolak, kita bisa bayangkan apa reaksi al-Ghazzali ketika mengetahui tuhan di Barat kini ‘is not longer Supreme Being’ (Tidak lagi Maha Kuasa).
Konsep Tuhan di Barat kini sudah hampir sepenuhnya rekayasa akal manusia. Bukti tuhan ‘harus’ mengikuti peraturan akal manusia adalah : ia ‘tidak boleh’ menjadi tiran, ‘tidak boleh’ ikut campur dalam kebebasan dan kreativitas manusia, tuhan yang ikut mengatur alam semesta adalah absurd, tuhan yang personal dan tiranik itulah yang pada abad ke-19 ‘dibunuh’ Nietzche dari pikiran manusia. Tuhan pen cipta, tidak ada pada nalar manusia produk kebudayaan Barat. Agama disana akhir nya tanpa tuhan atau bahkan tuhan tanpa tuhan. Disini kita baru faham mengapa Manchester United dengan penyokongnya itu ‘like religion’. Malu mengatakan ‘it’s really religion but without god’.

Kini di Indonesia dan di negeri-negeri Muslim lainnya, cendikiawan Muslim mulai ikut-ikutan risih dengan konsep Allah Maha Kuasa (Supreme Being). Tuhan tidak lagi mengatur segala aspek kehidupan manusia. Bahkan kekuasaan Tuhan harus dibatasi. Benteng pemisah antara agama dan politik dibangun kokoh. Para kyai dan cendekiawan Muslim seperti berteriak “Politik Islam, No” tapi lalu berbisik “Berpo litik, Yes”…”Money politik la siyyana”.
Tapi ketika benteng pemisah agama dan politik dibangun, tiba-tiba tembok pemisah agama-agama dihancurkan. “Ini proyek besar bung !” kata fulan berbisik. “Ini zaman globalisasi”, kata Profesor pakar studi Islam. Santri-santri diajari berani bilang “Ya Akhi, tuhan semua agama itu sama, yang beda hanya namaNya”.
“Gus ! maulud Nabi sama saja dengan maulud Isa atau Natalan”. Mahasiswa Muslimpun diajari logika realitas “Jangan ada yang menganggap agamanya paling benar”.
Para ulama diperingati “Jangan mengatasnamakan Tuhan”. Kini semua orang “harus” menerima pluralitas dan pluralisme sekaligus, pluralisme seperi juga sekularisme dianggap hukum alam. Samar-samar seperti ada suara besar mengingatkan “Kalau Anda tidak pluralis pasti, maka anda adalah teroris”.

Kini agar menjadi seorang pluralis kita tidak perlu meyakini kebenaran agama kita. Kata-kata Hamka “Yang bilang semua agama sama berarti tidak beragama” mungkin dianggap kuno.
Kini yang laris manis adalah konsep global theology-nya F. Schuon. Semua agama sama pada level esoteris. Di negeri Muslim terbesar di dunis ini, lagu-lagu lama Nietzche tentang relativisme dan nihilisme dinyanyikan mahasiswa Muslim dengan penuh emosi dan semangat. “Tidak ada yang absolut selain Allah” artinya ‘tidak ada yang tahu kebenaran selain Allah’. Syari’ah, fiqih, tafsir wahyu, ijtihad para ulama adalah hasil pemahaman manusia, maka semua relatif. Walhasil, Tuhan ti dak pernah meminta kita memahami yang absolut apalagi menjadi absolut.

Yang relatif pun bisa mengandung yang absolut. Secara kelakar seorang kawan membayangkan di Jakarta nanti ada papan iklan besar bergambar seorang kyai dengan latar belakang ribuan santri dengan tulisan singkat “Yesus Tuhan kita juga”.

(ket : Pemimpin Redaksi ISLAMIA, majalah pemikiran dan peradaban Islam. Penulis kini menyelesaikan S3 nya di ISTAC (International Islamic Thought and Civiliza tion), KL. Artikel ini diambil dari Jurnal ISLAMIA edisi 3 Sept-Nopember 2004)

http://www.hidayatullah.com/modules.php?name=News&file=article&sid=1394
note : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu terdekat”. (QS.Asy-Syu’araa : 214) “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”. (QS.Adz-Dzariyaat : 55)

Rencana Tuhan itu Indah

Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet. Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut :”Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini; nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.”

Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil :
“Anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu. “
Waktu aku sudah duduk di pangkuan, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet. Kemudian ibu berkata :”Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan”.

Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah ; “Allah, apa yang Engkau lakukan ?”. Ia menjawab :” Aku sedang menyulam kehidupanmu.” Dan aku membantah,” Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah ?”. Kemudian Allah menjawab, “Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke sorga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu.” Subhanallah, Maha Suci Allah SWT.

http://cbd.lapenkop.coop/index.php?op=article_view&id_news=26

“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS An Nahl : 64).

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?”. (QS Al-baqarah 2:28)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.012/th.01/Safar-Rabi’ul Awwal 1426H/2005M


Mereka Takut Kepada Al Qur’an

Juni 6, 2006

Penelitian al-A’zami, meruntuhkan usaha memalsukan kebenaran al-Qur’an oleh orientalis, Snouck Hurgronje dan Goldziher yang kini diwarisi kadernya berbaju Islam Liberal di Indonesia. Spesialis penakluk tesis kaum orientalis. Predikat itu tepat disematkan pada sosok Prof.Dr.Muhammad Mustafa al-A’zami, 73 tahun, guru besar ilmu hadis Universitas King Saud, Riyadh, Arab Saudi. Popularitas A’zami mungkin tidak setenar Dr.Yusuf Qardlawi dan ulama fatwa (mufti) lainnya. Namun kontribusi ilmiahnya sungguh spektakuler.

Sumbangan penting A’zami terutama dalam ilmu hadis. Disertasinya di Universitas Cambridge, Inggris, ”Studies in Early Hadith Literature” (1966), secara akademik mampu meruntuhkan pengaruh kuat dua orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher (1850 -1921) dan Joseph Schacht (1902-1969), tentang hadis. Riset Goldziher (1890) berkesimpulan bahwa kebenaran hadis sebagai ucapan Nabi Muhammad SAW tidak terbukti secara ilmiah. Hadis hanyalah bikinan umat Islam abad kedua Hijriah. Pikiran pengkaji Islam asal Hongaria itu jadi pijakan banyak orientalis lain, termasuk Snouck Hurgronje (1857-1936), penasihat kolonial Belanda. Tahun 1960, tesis Goldziher diperkuat Joseph Schacht, profesor asal Jerman, dengan teori “proyeksi ke belakang”. Hadis, kata Schacht, dibentuk para hakim abad kedua Hijriah untuk mencari dasar legitimasi produk hukum mereka. Lalu disusunlah rantai periwayatnya ke belakang hingga masa Nabi.

Saking kuatnya pengaruh Goldziher-Schacht, sejumlah pemikir muslim juga menyerap tesisnya, seluruh atau sebagian. Seperti A.A.A. Fyzee, hakim muslim di Bombay, India, dan Fazlur Rahman, pemikir neomodernis asal Pakistan yang cukup populer di Indonesia. Definisi hadis ala Goldziher-Schacht berbeda dengan keyakinan umum umat Islam. Bahwa hadis adalah ucapan, perbuatan, dan ketetapan Nabi yang telah diuji akurasinya oleh para ulama hadis seperti Bukhari dan Muslim. Namun belum ada sanggahan telak atas pikiran Goldziher-Schacht dengan standar ilmiah, selain disertasi A’zami. “Cukup mengherankan,” tulis Abdurrahman Wahid saat pertama mempromosikan A’zami di Indonesia tahun 1972, “hanya dalam sebuah disertasi ia berhasil memberi sumbangan demikian fundamental bagi penyelidikan hadits.” Gus Dur menyampaikan itu dalam Dies Natalis Universitas Hasyim Asy’ari, Jombang, tak lama setelah pulang kuliah dari Baghdad. Temuan naskah kuno hadis abad pertama Hijriah dan analisis disertasi itu secara argumentatif menunjukkan bahwa hadis betul-betul otentik dari Nabi.

A’zami secara khusus juga menulis kritik tuntas atas karya monumental Joseph Schacht, judulnya On Schacht’s Origins of Muhammadan Jurisprudence. Versi Indonesia, buku ini dan disertasi A’zami sudah beredar luas di Tanah Air. Murid A’zami di Indonesia, Prof. Ali Mustafa Yaqub, berperan banyak mempopulerkan pikiran ulama kelahiran India itu. Ali Mustafa membandingkan jasa A’zami dengan Imam Syafi’i (w. 204 H). Syafi’i pernah dijuluki “pembela sunah” oleh penduduk Mekkah karena berhasil mematahkan argumen pengingkar sunah –sebutan lain hadis. “Pada masa kini,” kata Ali Mustafa, “Prof. A’zami pantas dijuluki ‘pembela eksistensi hadits’ karena berhasil meruntuhkan argumentasi orientalis yang menolak hadis berasal dari Nabi.”
Setelah lama mapan dalam studi hadis, belakangan A’zami merambah bidang studi lain : Al-Quran. Namun inti kajiannya sama : menyangkal studi orientalis yang menyangsikan otentisitas Al-Quran sebagai kitab suci. Ia menulis buku The History of The Qur’anic Text (2003), yang juga berisi perbandingan dengan sejarah Perjanjian Lama dan Baru. “Ini karya pertama saya tentang Al-Quran,” kata peraih Hadiah Internasional Raja Faisal untuk Studi Islam tahun 1980 itu.

Sabtu pekan lalu, A’zami meluncurkan versi Indonesia buku itu dalam Pameran Buku Islam di Istora, Senayan Jakarta. Gus Dur, yang mengaku pengagum A’zami, bertindak sebagai panelis bersama pakar Quran dan hadits lainnya. Prof.Kamal Hasan, dalam pengantar buku itu, menilai karya A’zami ini relevan untuk meng-counter maraknya buku Hassan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zayd, dan Mohammad Arkoun di Indonesia. Melihat pentingnya kajian A’zami ini, Hidayatullah.com menurunkan wawancaranya dengan majalah Gatra, yang diturunkan edisi 11 April 2005.

Berikut ini petikan wawancaranya :

Apa yang mendorong Anda menggeser objek studi dari hadis ke Al-Quran ?.

Al-Quran dan hadis keduanya pegangan penting seorang muslim. Keduanya sama-sama berasal dari Allah SWT. Selain itu, kini orang-orang Barat, para orientalis, banyak mengkaji Al-Quran sekehendak mereka. Mereka begitu ketakutan pada Al-Quran. Bagi mereka, Al-Quran seperti bom. Karena itu, mereka ingin ada proses peraguan (tasykik) atas kebenaran Al-Quran. Studi orientalis generasi lama memang antipati pada Islam. Namun ada penilaian, arah kajian mereka akhir-akhir ini makin membaik : makin apresiatif dan empati pada Islam.

Apanya yang membaik ?.

Bila Anda hendak menyimpulkan, jangan dari fakta parsial. Anda harus menyimpulkan dari keseluruhan fakta. Masih ada orientalis yang menulis sejarah Nabi dan mengatakan bahwa musuh terbesar manusia di dunia adalah Muhammad, Al-Quran, dan pedangnya Muhammad. Dan problem mendasar kajian orientalis, mereka memulai kajiannya dengan tidak mempercayai Nabi Muhammad. Kita mengatakan, Muhammad adalah Nabi dan Rasul Allah. Menurut mereka, itu bohong besar. Jadi, mereka mengawali pembahasan dengan dasar pikiran bahwa Muhammad adalah pembohong, bukan rasul sebenarnya.

Mungkinkah mengkaji Islam semata-mata untuk tujuan studi, tanpa tujuan dan bekal keimanan, sebagaimana kaum orientalis ?.

Tidak mungkin. Agama apa saja, pada kenyataannya, sulit sekali mengkajinya tanpa keimanan. Kita lebih mudah mengkaji dan memahami Yahudi dan Kristen, karena kita percaya dan menghormati Musa, Harun, Maryam, dan Isa. Sementara orang Yahudi dan Nasrani tidak bisa memahami Islam, karena mereka mendustakan dan tak beriman pada Muhammad. Bila Anda baca tulisan orang Yahudi tentang Isa dan Maryam, Anda akan temukan ungkapan mereka sangat kotor dan menjijikkan. Ada yang menuding Isa telah berzina tiga kali. Kalau penulisnya muslim, tidak mungkin bilang begitu. Haram ! Karena kita memuliakan para nabi terdahulu. Persoalannya, berapa banyak orang Islam yang mau mengkaji lebih jauh tentang keyakinan Yahudi dan Nasrani ? Sedangkan mereka sangat intens melakukan kajian tentang Islam.

Benarkah buku Anda sebagai counter atas corak kajian Al-Quran ala pemikir semacam Hassan Hanafi, Abu Zayd, dan Arkoun yang populer di Indonesia ?.

Ini bukan counter langsung. Tapi ada hal penting yang harus digarisbawahi disini bahwa otoritas menafsirkan Al-Quran ada di tangan Rasulullah. Kita percaya, Al-Quran berasal dari Allah dan diturunkan pada Muhammad. Allah berfirman, “Dan kami turunkan Al-Quran pada kamu agar kamu jelaskan pada manusia.” Sama saja, bila ada problem konstitusi di Indonesia, misalnya, maka yang berwenang membuat in terpretasi adalah para hakim Indonesia. Meski meraih gelar doktor di Universitas Cambridge, saya tidak punya otoritas menyelesaikan problem konstitusi di Indonesia. Jadi, kalau ada orang berpikir liberal, lalu menafsirkan perintah salat da lam Al-Quran semaunya, tidak mengindahkan tuntunan Rasul sebagai penafsir yang mendapat mandat dari Allah, maka saya katakan, “Siapa Anda ? Siapa yang memberi Anda otoritas membuat tafsir sendiri ?” Orang-orang seperti Hassan Hanafi dan Abu Zayd itu adalah “anak-cucu” Barat. Tak perlu meng-counter langsung mereka. Kecuali kalau terpaksa. Saya sebenarnya tidak peduli pada pemikiran-pemikiran mereka. Saya ingin membentuk pandangan saya sendiri.

Dalam pandangan Anda, apa yang membuat beberapa pemikir muslim menyerap pengaruh Barat ? Tidakkah karena kekuatan argumentasi Barat ?.

Persoalan pokok sebenarnya adalah soal iman. Dari berbagai informasi, sangat nyata kebanyakan dari mereka adalah fasik (banyak berbuat dosa) dan sedikit sekali yang religius (mutadayyin). Mereka tidak puasa dan tidak salat. Ketika bulan Ramadan, subuh mereka bangun, makan pagi, tapi ketika magrib, ikut berbuka bersama lainnya, malamnya juga ikut sahur, ha, ha, ha….

Hasan Hanafi dan Nasr Abu Zeid misalnya, tidak belajar di sekolah-sekolah Barat. Tapi pemikiran mereka seperti mewakili pemikiran Barat. Mungkinkah ?.
Tentu. Karena buku-buku kajian mereka berasal dari Barat. Tapi Nasr Abu Zeid pernah belajar secara khusus di Jepang.

Kami pernah mengulas buku Prof.Christhop Luxenberg (nama samaran) yang berkesimpulan, bahasa asli Al-Quran adalah Aramaik, jadi yang beredar sekarang Quran palsu. Komentar Anda ?

Ah, dia pemikir bodoh. Beberapa penulis mengomentari bahwa pengetahuannya tentang bahasa Syiriya-Aramaik sangat dangkal. Kata dia, Al-Quran berasal dari bahasa Aramaik, kemudian setelah 100 tahun beralih ke bahasa Arab. Sehingga disebut Quran kondisional. Itu sama sekali bukan kajian ilmiah.

Apakah pemikiran Chistof ilmiah atau tidak ?

Tidak. Sama sekali jauh dari pemikiran ilmiah…

Apakah ini merupakan salah satu cara dari para orientalis untuk merusak umat Islam ?
Itu nggak ada artinya. Tapi sekarang beberapa kali dan akan berkali-kali, mereka menginginkan bahwa ketika Al-Quran dibuat tidak ada titik dan tasydid. Nah, sekarang mereka menginginkan agar Al-Quran diperbarui dari sisi titik dan tasydid-nya. Lalu, membacanya seperti yang kita kehendaki, memberi tanda-baca baru, dan menjadikannya baru. Al-Quran lalu menjadi Al-Quran sesuai kebutuhan/kondisional.

Apakah mereka juga memiliki kaidah dasar untuk membuat Al-Quran kondisional tersebut ?

Kaidahnya ya sekehendak hati mereka. Karena mereka memberi tanda baca sesuai kebutuhan mereka.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Al-Quran merupakan produk budaya. Apa komentar Anda ?
Itu pendapat Nasr Abu Zeid. Tapi apa yang sebenarnya disebut produk budaya ? Ini tak ubahnya ketika orang menyebut “terorisme”. Semua berbicara terrorism. Tapi tidak pernah ada satu pun definisi yang muttafaq alaihi tentang terorisme. Terorisme justru kerap dikaitkan dengan Islam. Kita perlu memahami apa pengertiannya dulu.

Dalam hal ini, apakah pengertian produk budaya sama dengan asbabun nuzul (memahami Quran secara kontekstual) ?
Tidak (sama). Memahami Quran secara kontekstual bisa dilakukan, jika “sesuatu” mempunyai kaitan dengan asbabun nuzul, tapi tak bisa diterapkan di semua tempat. Kecuali di beberapa tempat khusus yang merupakan sebab turunnya (ayat). Jadi, Anda tak bisa datang dan langsung mengatakan aqiimus shalat. Padahal di sana tidak ada asbabun nuzul, karena di sana adalah amr (perintah). Seharusnya, sebelum itu ada sebab. Allah adalah pencipta seluruh makhluk. Tentunya Dia tahu mana yang berbahaya dan bermanfaat bagi makhluk-Nya. Jangan bermain dengan Api ! Tidak ada …konteks di sini. Tidak hanya berlaku se karang tapi selamanya.

Ini wacana yang elit. Apa hal penting dari buku Anda bagi orang-orang awam ?

Saya tak bisa mengemukakan sesuatu untuk semua orang. Jadi saya sudah kepikiran untuk menulis buku baru, yang bisa dibaca dan dipahami oleh semua ummat Islam.

Anda pernah belajar dan lulus dari sebuah universitas di Barat. Tapi sikap anda tampak konservatif, dalam arti tidak liberal orang-orang seperti Hassan Hanafi atau Nasr Abu Zeid.

Mengapa ?
No ! Saya kira ini pertanyaan dan persoalan tentang iman. Ha…ha..ha…

Menurut anda, apa yang salah dengan Barat ?
Apa yang salah dengan Barat adalah sikap (attitude)-nya.

Apa tantangan terbesar bagi umat Islam saat ini ?

Kitalah sesungguhnya tantangan terbesarnya. Karena kita tidak mempraktekkannya. Man ghassa falaisa minna. “Barangsiapa yang menipu tidak termasuk golongan kami”. Kalau anda mengambil hadits dan mengujinya di dalam kehidupan (Adzami memberi contoh, bagaimana ia menemukan seorang penjual susu yang menempelkan hadis ini di atas tokonya, tapi ternyata ia menambah air dalam susu yang dijualnya). Meskipun Anda percaya Al-Quran dan Hadits, tapi dalam praktek kehidupan kita kita jauh dari sunnah. Ini salah satu kesulitan kita. Kalau kita menjadi good practicese-nya moslem. Saya tidak bicara tentang Islamisasi ilmu di sini. Tapi saya ingin menegaskan bahwa pengetahuan di Islam masih sangat jauh dari praktek. Islam itu sebenarnya praktek, bukan teori.

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1802&Itemi

Pemerintah AS Harus Minta Maaf atas Pelecehan Qur’an

Tindakan para prajurit Amerika yang memasukkan kitab suci Al Qur’an ke dalam toilet terus mendapat protes dan tantangan. Rais Syuriyah PBNU KH Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa pemerintah Amerika Serikat harus meminta maaf atas tindakan pelecehan tersebut. “Melecehkan kitab suci Al Qur’an sama dengan melecehkan umat Islam. Karena itu pemerintah AS harus minta maaf kepada umat Islam. Jika tidak ini akan dicatat oleh umat Islam selama-lamanya” tandas nya kepada NU Online (13/5).
Selanjutnya pemerintah AS juga harus menghukum para pelaku tindakan, termasuk pimpinanya agar kejadian tersebut tak terulang kembali dimasa yang akan datang.
Ketua Dewan Syariah Nasional MUI tersebut mengungkapkan bahwa selama ini Amerika Serikat selalu menggembar-gemborkan sebagai negara yang cinta damai, saling menghormati dan lainnya. Akan terdapat kontradiksi dengan kenyataan yang dihadapi.
“Jika pemerintah AS ingin dihormati oleh kaum muslimin, maka mereka juga harus menghormati umat Islam,” tambahnya. Mantan ketua dewan syuro PKB tersebut menilai wajar-wajar saja adanya protes dan demonstrasi yang mengutuk kejadian tersebut. Namun demikian, diharapkan mereka tidak berlaku emosional.

http://www.nu.or.id/data_detail.asp?kategori=WARTA&id_data=5018 – (c)2003, PBNU.

“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS.An Nahl : 64).

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.012/th.02/Safar-Rabi’ul Awwal 1426H/2005M


Akibat Si Ulil …

April 6, 2006

AlhamduLillah, (Terima Kasih Buat Ulil) *]

Puji Tuhan, sudah sekian lama saya mencari dan mencari jawaban dari pertanyaan yang selama ini mengungkung diri saya. Akhirnya saya hampir saja menemukan jawabannya di Islam Liberal, dengan membaca tulisal Ulil Abshar : “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”.

Tetapi saya ingin lebih jauh lagi menanyakan dan memastikan supaya saya dapat mantap dengan keyakinan saya. Saya sangat terkesan sekali dengan tulisan Mas Ulil Abshar mengenai :”Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama : yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.” “Semua agama adalah baju, sarana, wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok : penyerahan diri kepada Yang Maha Benar.”

Sudah lama saya merasa terbelenggu dengan aturan-aturan yang umum dilaksanakan muslim. Saya orang yang cinta kedamaian, tidak suka berbuat rusak, mengakui Tuhan yang Esa, takut berbuat dosa, tetapi saya sangat tidak suka sekali jika harus diperintah-perintah harus mensucikan diri dengan wudlu, bersujud sembah yang, berlapar puasa, berhaji. Karena saya sudah tahu itu semua tujuannya. Jalan panjang menuju Yang Maha Benar yang saya lalui kiranya tidak salah sedikitpun. Saya islam dalam arti yang disebutkan di atas dan saya ingin melakukannya seperti agama-agama yang lain tidak seperti Islam Umumnya (seperti yang Ulil). Saya ingin seperti orang Budha yang penyabar, seperti Kristiani yang jika saya berdosa, bisa ditebus langsung melalui pengakuan dosa ke padre karena dosa saya sudah ditebus oleh Yesus. Demi Tuhan saya merasa gerah kalau harus bersujud komat-kamit dengan bahasa yang bukan bahasa saya sendiri dan sulit dimengerti. (bolehkah saya ganti dengan bahasa indonesia, supaya sujud saya mantap ?).

Semua agama adalah benar dengan variasi dus kemudian saya ingin variasi yang tidak membuat saya membenci Tuhan karena merasa dikungkung, variasi yang saya sukai sesuai dengan nilai universal di Islam Liberal. Tuhan kan tidak pernah menurunkan Hukumnya ? Tidak ada Hukum Tuhan mengenai ini kan ? Mas Ulil, saya gemetar saking gembiranya. Saya tidak dihukum karena tidak Sholat kan ? karena saya ingin ikut Islam seperti orang Kristiani yang tidak pakai Sholat 5 waktu. Tuhan tahu kan Mas ? ini urusan manusia. Tuhan tahu kan mas bahwa saya tunduk, patuh dan mengakui Tuhan yang satu? Tuhan tidak menurunkan hukumnya buat ini kan mas ? ini kan hanya kebiasaan orang arab kan ? yang harus berbincang-bincang arab kalau berdo’a ? saya kan bisa berdoa bahasa indonesia kan ?

Saya sangat tidak suka sekali kata-kata bahasa Arab, seperti Allahu-Akbar, Alhamdulillah, Astaghfirullah. Karena sesungguhnya itu ucapan dimulut, tidak pernah menyentuh hati. Lagian kan itu bahasanya orang Arab, budaya Arab ?. kenapa harus ikut ? yang penting kan intinya saya membesarkan nama Tuhan, Beryukur, dan memohon ampun ? Benar kan Mas Ulil Abshar ? Bukankah nilai universal ketundukan saya sudah Tuhan ketahui, apakah saya ada di jalan yang benar ? akankah saya masuk surga jika terus mengamalkan keyakinan saya ?

Demi Tuhan saya muslim, tapi saya tidak ingin seperti muslim yang mas Ulil sebut , muslim dogmatis. Jika saya punya banyak uang tidak perlu saya sisihkan sejumlah berapa persen, suka-suka saya, serelanya saya, soalnya kadang saya merasa berat kalau harus dipotong 2,5% gaji saya. Saya ingin kalau saya rela saja, 1% atau berapa saja yang saya inginkan. Tuhan kan tidak pernah menurunkan Hukumnya untuk ini kan ? ini adalah urusan manusia kan mas ? Yang penting intinya sudah saya pahami, harus berbagi dengan sesama. Mengenai berapanya kan urusan manusia kan ?

Kedua, aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab. Pernah saya mencuri dalam artian seperti korupsi. Saya takut benar bahwa sesungguhnya saya sebenarnya sudah di potong tangan. Tetapi baru sekarang saya lega, ternyata saya sudah menunaikan kewajiban saya. Saya sudah kembalikan uang nya, kemudian saya tambahi dengan uang tebusan. Saya dan kantor sama-sama ikhlas. saya sudah menebus dosa saya, memberi kesenangan orang lain. Sudah benar kan mas apa yang saya lakukan ? saya sudah terbebas dari dosa mencuri kan mas ? Demi Tuhan saya ingin mas Ulil menjawab ini. Supaya saya dapat keyakinan, saya orang awam. Kalau mas Ulil bisa memberi ketenangan saya, saya bersyukur.

Ketiga, bagaimana mengikuti Rasul ? Di sini, saya mempunyai perbedaan dengan pandangan dominan. Dalam usaha menerjemahkan Islam dalam konteks sosial-politik di Madinah, Rasul tentu menghadapi banyak keterbatasan. Rasul memang berhasil menerjemahkan cita-cita sosial dan spiritual Islam di Madinah, tetapi Islam sebagaimana diwujudkan di sana adalah Islam historis, partikular, dan kontekstual. Memang mas, saya kadang agak ragu, karena saya tidak pernah mendengar dan melihat Rasul secara langsung. Cuma cerita-cerita sejarah saja. Al-Qur’an bagi saya cuma sejarah. Yang penting menghayati nilai-nilai universal yang dikandungnya. Rasul tidak lebih hanya sekedar tokoh sejarah saja, saya setuju. Itu juga yang menyebabkan saya enggan untuk sholawat-sholawat. Apa hubungannya saya menyebut-nyebut Rasul ? Masa sih dengan menyebut Rasul saja saya dapat syafaat (katanya), dapat pertolongan di hari perhitungan ? kan tidak mungkin kan mas ? orang cuman menyebut saja kan ringan ? kenapa ganjarannya begitu besar ? Tapi saya juga masih bingung mas, soalnya waktu saya ke gereja, saya juga disuruh menyebut-nyebut Yesus. Sama temen-2 budha, saya disuruh menyebut-nyebut Budha.

Saya yakin kalau pandangan Mas Ulil benar karena teman-2 kristiani ternyata menyembah Tuhan Allah, cuman Tuhan Yesus juga dipujanya. Makanya saya ikut mereka pada waktu pengakuan dosa, tidak perlu susah-susah sholat Jum’at atau tahajut ?

Mohon mas Ulil, meneguhkan hati saya karena Demi Tuhan saya gelisah. Saya sangat menghargai jawaban mas Ulil karena dapat menjawab kegelisahan dan kegundahan saya selama ini. Saya menemukan kedamaian di Islam Liberal.

Salam

Mochammad Arfan – arfan@medifast.com

*] Artikel di atas aslinya tanpa judul, sehingga kami coba memberikan sendiri judul yang pas untuk artikel ini. Artikel ini adalah salah satu surat terbuka yang kebetulan kami temukan dalam sebuah situs internet. Nama penulis yang ter cantum di atas nama samaran atau asli tak diketahui. Benar muslim atau mengada-ada juga tidak diketahui. Barangkali ada jamaah ingin menghubungi yang bersangkutan, maka bisa melalui alamat email yang dia tinggalkan : arfan@medifast.com . Yang terpenting, tetap terus mengingatkan saudara / kerabat kita agar tidak sampai terpeleset sebagaimana kejadian di atas.

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’ : 115).

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.012/th.01/Safar-Rabi’ul Awwal 1426H/2005M


Hakekat islam Liberal

April 6, 2006

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum..
Pak Ustadz…Saya mohon penjelasan secara garis besar kecil tentang islam liberal ? sebab saya sering mempelajari faham-fahamnya namun sampai saat ini saya belum memberikan vonis apapun terhadapnya, & belum bersikap apapun juga. maka dari itu saya mohon petunjuk dari pak ustadz . Wassalamu’alaikum Wr.Wb. – Abdul-Aziz Sukarnawadi – Kairo Mesir, 2003-07-28 10:03:53

Jawaban :
Wassalamu `alaikum Wr. Wb.
Menanggapi tulisan Ulil :
Ulil menulis : “Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab.” Tidak mungkin Ulil tidak tahu bahwa jilbab, potong tangan, qishash, rajam itu semata-mata budaya arab. Karena semua itu ada dalilnya dalam Al-Quran dan Sunnah. Kalau jubah dan jenggot, barangkali masih bisa ditolelir bahwa ada faktor budayanya. Jenggot meski bukan merupakan kewajiban, paling tidak ada nash yang menganjurkannya. Sedangkan jubah, memang murni budaya arab yang tidak mengandung tasyri`. Tapi kalau urusan potong tangan, qishash dan rajam, bukan sekedar kewajiban, bahkan masuk dalam perkara hudud yang penerapannya sangat mutlak. Tidak ada ulama yang menentangnya sepanjang sejarah kecuali pada zindiq dan munafikin.
Jilbab bukan sekedar pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum. Ini penafsiran yang sesat sekali. Masalahnya, standar kepantasan umum itu apa ? Dan umum yang mana ? Indian Amerika, Aborigin, suku asmat ? Koteka ? Kalau sekedar standar kepantasan umum, seharusnya surat Annur : 31 dan Al-Ahzab : 59 itu dihapus terlebih dahulu. Ganti dengan ayat yang bunyinya “Wahai orang yang beriman, pakailah pakaian yang sesuai dengan selera masing-masing daerah”. Silahkan buat sendiri nama surat dan nomor ayatnya. Dan bila meminjam logika Ulil, toh tidak sulit bagi Tuhan yang kuasa untuk membuat satu ayat seperti itu. Nyata tidak kita temukan ayat dan hadist demikian.

Larangan kawin antara perempuan Islam dan laki-laki non muslim yang Ulil katakan tidak relevan lagi, peraturan itu bukan semata-mata dari Al-Quran tapi dari Sunnah dan sumber syariah yang lain. Rupanya anda ingin mengecoh dengan mengatakan kalau Al-Quran tidak mengatakan secara tegas, berarti boleh digonta-ganti seenaknya. Tidak demikian.

Ulil menulis :”kita membutuhkan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Agama adalah urusan pribadi; sementara pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat melalui prosedur demokrasi”. Ungkapan ini adalah jiplakan total dari para tokoh sekuleris dan orientalis. Memisahkan agama dan negara. Barat pernah melakukannya dan kini mereka terpuruk dalam jurang kehancuran moral dan kemanusiaan. Hidup mereka terlalu kering dan hampa. Lalu tenggelam dalam aneka kriminalitas, penyimpangan sosial, kegamangan dan akhirnya kehancuran nilai-nilai kemanusiaan. Jadi ide ini terbukti tidak baik. Cukuplah barat jadi korban ide liar yang sering dihembuskan oleh para yahudi.

Ulil menulis :”Islam -seperti pernah dikemukakan Cak Nur dan sejumlah pemikir lain-adalah “nilai generis” yang bisa ada di Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, dan sebagainya. Bisa jadi, kebenaran “Islam” bisa ada dalam filsafat Marxisme.” Kalimat ini mudah sekali dibengkokkan maksudnya. Bila kita arahkan pada kalimat terakhir, jelas Ulil mengatakan bahwa kebenaran Islam bisa ada dalam filsafat Marxisme. Di satu sisi memang benar, tetapi bisa saja ditafsirkan terbalik, bahwa Marxisme itu pun mengandung nilai-nilai kebenaran Islam. Penafsiran terbalik ini mungkin yang diharapkan Ulil agar dipahami demikian, tetapi dia siap-siap menghindar bila dituduh menyamakan Islam dengan Marxisme dengan menggunakan gaya ungkapan ‘bisa jadi’.

Ulil menulis :”Upaya menegakkan syariat Islam, bagi saya, adalah wujud ketidak berdayaan umat Islam dalam menghadapi masalah yang mengimpit mereka dan menyelesaikannya dengan cara rasional. Umat Islam menganggap, semua masalah akan selesai dengan sendirinya manakala syariat Islam, dalam penafsirannya yang kolot dan dogmatis, diterapkan di muka bumi.” Ungkapan ini sangat subjektif dan terlalu jauh. Umat Islam memang tidak berdaya dan punya masalah menghimpit. Tetapi penegakkan syariah bukan sekedar berangkat dari ketidakberdayaan apalagi meninggalkan cara rasional. Dalam alam pikiran Ulil, pokoknya yang berbau syariah berarti tidak rasional. Jelas ini pelecehan sepihak. Justru sebaliknya, syariah itu sangat rasional. Sebagai contoh, bunga dari hutang luar negeri kita tiap hari mencapai 20 juta US. Ini akibat dari di terapkanya sistem bunga yang ribawi dan dimusuhi semua agama. Islam datang dengan solusi rasional, hilangkan riba dan ganti dengan bagi hasil dimana semua pihak punya tanggung-jawab dan bisa sama-sama untung. Makan bunga dari hutang negara miskin macam Indonesia justru tidak rasional. Kalau pencuri hanya sekedar dipenjara, maka tidak ada lagi ruang yang cukup untuk menampung para pencuri di negeri ini. Selain itu, negara pun dirugikan karena harus memberi makan, pakaian, kesehatan dan sebagainya kepada ribuan pencuri yang menghuni penjara. Islam datang dengan solusi rasional dan hemat. Pencuri dengan nisab yang memadai dan terbukti secara sah, potonglah tangannya. Ini menjadi pelajaran bagi calon pencuri yang lain untuk tidak main-main dengan hukum. Uang belanja negara pun hemat karena tidak perlu memberi makan, pakaian dan semua biaya penjara. Dan shock terapi ini selama 15 abad lamanya terbukti manjur. Negeri yang masih menjalankan potong tangan adalah negeri teraman di dunia dari segi pencurian. Silahkan gunakan rasio dan tinggalkan tuduhan meng ada-ada.

Ulil menulis :”Pandangan bahwa syariat adalah suatu “paket lengkap” yang sudah jadi, suatu resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman, adalah wujud ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan itu sendiri. Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah sebentuk kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah; sebentuk eskapisme dengan memakai alasan hukum Tuhan.” Memang syariah Islam itu datang dari Allah bukan dalam bentuk jadi seperti sebuah kitab undang-undang hukum pidana lengkap dengan bab dan pasalnya. Semua itu membutuhkan kodifikasi dan penyusunan ulang yang -alhamdulillah- sebagian besarnya telah dikerjakan oleh para ulama terdahulu. Tapi dalam penyusunnan itu, tidak ada nilai yang dibuang dan tak satupun aturan itu yang diselewengkan. Tapi dalam ungkapan Ulil, seolah-olah semua produk syariah itu merupakan kemalasan berpikir atau lari dari masalah. Padahal para ulama ketika menyusun kitab-kitab fiqih telah melakukan ijtihad yang sangat dalam dan sampai hari ini pintu ijti had itu tidak pernah tertutup. Terutama pada hal-hal yang terkait dengan perkem bangan zaman dan budaya. Tapi kalau masalah yang memang tidak memerlukan perubahan karena akan selalu sama kapan dan dimanapun, buat apa diotak-atik lagi.

Ulil menulis : “Oleh karena itu, Islam sebetulnya lebih tepat disebut sebagai sebuah “proses” yang tak pernah selesai, ketimbang sebuah “lembaga agama” yang sudah mati, baku, beku, jumud, dan mengungkung kebebasan. Ayat Innaddina ‘indallahil Islam (QS 3:19), lebih tepat diterjemahkan sebagai, “Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar adalah proses-yang-tak-pernah-selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha Benar). Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama : yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.” Paragraf yang ini intinya jelas ingin mengatakan bahwa semua agana sama karena intinya semua menuju kepada kebenaran. Dengan gaya bahasa ini, diharapkan orang akan menfsirkan bahwa terserah kita mau beragama apa, semuanya baik. Bahkan pada waktunya, berpindah-pindah pun tidak apa-apa toh semuanya juga menuju kepada ke benaran. Juga diharapkan orang tidak perlu lagi merasa bahwa agama yang dianutnya adalah paling benar, karena mungkin saja salah.

Ulil lupa barangkali pendapatnya ini pun mungkin benar dan mungkin salah. Dan kalau salah, berarti agama yang benar itu adalah Islam dan yang lain salah. atau sebaliknya. Ulil dan rombongan JIL-nya tentu sangat menikmati kepopuleran mendadak karena tulisan anehnya ini. Orang arab pernah bilang, bila kamu ingin terkenal, kencingi saja sumur zam-zam. Kalau ingin dikenal orang, upayakan melakukan hal-hal yang aneh dan melawan arus, maka kamu akan dikenal. Rupanya ilmu para artis untuk selalu bikin gossip mengenai dirinya sendiri agar selalu dimuat media, juga dipakai oleh makhluk macam Ulil ini.
Kami yakin bahwa Ulil bukan tidak tahu resiko tulisannya itu pasti mendapat tentangan dari para ulama dan umat Islam. Bahkan forum ulama Bandung pun sudah menjatuhkan ‘vonis mati’ baginya. Namun dengan santainya Ulil hanya mengatakan bahwa itukan cuma fatwa, jadi tidak mengikat. Justru makin mendapat kecaman dan tentangan, makin ‘besar hidungnya’. Rupanya reaksi keras dari umat dijadikan semacam nutrisi dan sel penambah darah yang makin menyehatkan tubuhnya.

Setelah generasi tua kehabisan nafas, macam Cak Nur, Gusdur, Atho` Muzhar, Munawir dan rombongannya, kini giliran juniornya masuk gelanggang permainan. Tapi nampaknya mereka kehabisan thema dan ide. Karena lagu yang dinyanyikan hanya itu-itu saja. ‘Islam bukan formalitas, semua agama sama, perlu penafsiran ulang dll’. Tema-tema itu lebih mirip paket lagu lama yang diaransemen ulang. Sebuah proses miskin kreatifitas yang cenderung sekedar mencari untung tanpa mau capek-capek. Yang beda hanya kemasan dan penamaan saja. Lainnya, ya itu lagi-itu lagi. Tema itu oleh generasi tua mereka sudah sering diperdengarkan. Ibarat rombongan pengamen yang kurang kreatif tidak bisa mengarang lagu baru. Thema itu oleh para pendahulu mereka macam Hasan Hanafi di Mesir pun sudah sering dinyanyikan. Dan benang merah antara satu generasi ke generasi kelihatan jelas sekali.
Hanya bedanya dengan semacam Caknur, gaya Ulil ini tidak senang ‘mengoreksi’ atau mengelak sedikit sedikit. Caknur biasanya bila ‘diserang’ balik atas lontaran-lontaran anehnya, dengan santai dan cerdik akan menjawab, ?…”Anda tidak mengerti maksud saya ?…Maksud saja tidak seperti itu. . .?..Oh maksud saya begini ?”. Begitu juga Gusdur dan yang segenerasi. Ulil belum kita dengar apologinya. Apakah dia termasuk yang hobi membentur tembok karena kurang cerdas, atau memang trendnya sedikit bergeser.

Tapi satu hal yang pasti, apa-apa yang ditawarkan oleh para penjaja ‘sampah pikiran’ ini tidak pernah laku. Ingatlah bahwa sejak tahun 1971 dengan lantang Caknur sudah cuap-cuap dengan ide-ide sekulernya, anti jilbab, anti simbolisme dan penafsiran ulang. Tapi apa yang kita lihat justru sebaliknya, gairah menjalankan syariah Islam justru semakin menggebu di tengah umat Islam. Ide mengganti Assalamu `alaikum dengan selamat pagi made in Gusdur, justru kandas dan kini di mana-mana orang-orang lebih fasih mengucapkan salam khas Islam ini. Tuduhan jilbab itu pakaian arab pun tidak ada yang beli, justru makin banyak saja orang pakai jilbab bahkan kalangan artis pun berduyun-duyun menggunakannya. Yang perlu kita lakukan justru memberi belas kasihan kepada rombongan JIL ini. Mereka sudah habis-habisan mengobral semua harga bahkan ada yang dijual dengan diskon 100 persen, tapi tetap sepi pembeli dan pasar lesu.

Buat ulil, sudahlah sebaiknya dia cooling down sejenak, karena jalan yang dia lewati itu cuma jalan buntu, sudah banyak orang gagal lewat jalan itu dan terpaksa kembali lagi. Sebelum terlalu jauh, kembali saja dan cari arah yang lebih tepat. Persis seperti yang dikatakan Steven Covey, lebih baik berhenti sebentar untuk berpikir jernih daripada terus bekerja yang tidak jelas hasilnya. Generasi tua sebelum Ulil sudah gagal menurutnya. Dan nampaknya bayang-bayang kegagalan terus mengintai generasinya juga. Kegagalan mereka bukan pada cara, tapi pada isi dagangan yang kurang sesuai dengan selera masyarakat pembeli di sini. Mungkin kalau dagangan ini dijual di Amerika sana yang memang tidak kenal Islam sebelumnya, siapa tahu ada yang beli. Tapi umumnya pembeli disini cerdas dan orang betawi bilang, ‘Buaya nggak bisa dikadalin’.
Kenapa Ulil tidak meneruskan saja kuliah dengan baik, mengambil spesialisasi bidang-bidang ilmu-ilmu ke-Islaman yang beragam. Otaknya kan termasuk encer dan penanya pun cukup tajam. Bahwa dia pernah dikeluarkan (DO) dari LIPIA tempat anda belajar dahulu karena tidak lulus tiga mata kuliah, ya sudahlah lupakan saja. Toh kesempatan belajar masih banyak dan dia masih muda. Sekarang ini ilmunya masih tanggung, ulama bukan ilmuwan, pun tidak mirip. Dari pada setiap hari di doakan yang jelek-jelek oleh umat Islam, mendingan dia khusyu` beribadah dan menuntut ilmu lebih tinggi lagi. Biasanya makin dalam ilmu seseorang, makin me runduklah dia dan makin berbobot suaranya. Insya Allah lahan penghidupan bagi Ulil masih terbuka lebar. Dan ingat, umat Islam ini pemaaf lho. Kalau suatu hari Ulil muncul dan berbicara yang baik-baik sesuai dengan nuraninya sendiri, mereka pasti akan menjadi pendukungnya. Tidakkah Ulil merindukan untuk menjadi ulama kharismatik model KH. Hasyim Asy`ari, Prof.Dr.Buya Hamka, M Natsir, A. Hasan dll, yang hingga kini masih dikenang dengan manis oleh umat ini. Bukan menjadi cacat dalam sejarah sebagai orang yang dijadikan contoh buruk sebagai tokoh sekuler dan anti Islam. Kasihan sekali anak cucunya nanti yang akan mewarisi nama buruk orangtuanya.

Hari ini tidak ada orang kenal Ahmad Wahib yang bergolak itu. Padahal dia sudah mati-matian kepingin populer dengan semua pergolakannya. Toh namanya tidak pernah disebut dan malah dilupakan orang. Sebagai saudara muslim, kami mendoakan Ulil kembali ke jalan yang terang dan diberi hidayah oleh Allah. Maafkan bila ada kata yang menyinggung hati Ulil dan pendukung setianya. Semoga Allah menegakkan Islam ini dengan keinsyafaannya. Semoga Allah melapangkan hatimu, nak.

Wallahu a`lam bishshowab.

http://www.syariahonline.com/konsultasi/

“…pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agamamu…” (QS.5 : 3)

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.012/th.01/Safar-Rabi’ul Awwal 1426H/2005M


Mengapa Minder Terhadap Barat ?

April 6, 2006

(Eksposisi Tesis Prof. Naquib al-Attas tentang Islam dan Barat)

Kebanyakan sikap sinis dan hujatan terhadap Islam belakangan ini terjadi akibat kebodohan, kesilauan, rasa minder terhadap peradaban Barat. (Baca CAP Adian Husaini, MA ke 75) Pada tanggal 23-26 Oktober 2004, saya bersama beberapa peneliti INSISTS menyampaikan presentasi dalam sejumlah workshop tentang pemikiran Islam dan Barat di Solo dan Yogya. Ada sejumlah fenomena dan cerita menarik yang perlu kita telaah. Ada berita, bahwa seorang dosen wanita di satu perguruan Islam, menjadi imam salat bagi suami dan anak-anaknya, karena ia lebih baik bacaan Qur’annya, dibandingkan suaminya. Ini adalah pengaruh dari paham gender equality (persamaan hak dengan wanita). Ada dosen yang berbicara di depan kelas, bahwa kita perlu al-Quran baru. Menurut mereka, metode Hermeneutika sudah menjadi harga mati untuk diterapkan dalam penafsiran al-Quran, sehigga tidak perlu digugat lagi. Kucuran dana dari Amerika Serikat untuk proyek liberalisasi Islam sungguh luar biasa. Ada seorang hakim agama bercerita bahwa training-training tentang kesetaraan gender terus-menerus diadakan untuk mengubah pemikiran mereka. Selain dilakukan di hotel-hotel berbintang, peserta pun dibayar. Fenomena westernisasi dalam pemikiran dan studi Islam begitu kental dan menggejala serta ngetrend. Disamping dampak serius dari penggunaan metode liberal dalam studi Islam, yang juga memprihatinkan adalah kualitas ilmiah dari penyebaran-penyebaran paham itu. Paham ini disebarkan dalam bentuk dogma, tidak diikuti sikap kritis yang memadai ketika mengadopsi teori-teori Barat. Sebaliknya, sikap kritis dan hujatan sering ditujukan kepada ilmuwan-ilmuwan besar Islam, seperti Imam Syafii, al-Ghazali, dan sebagainya. Kebanyakan, sikap sinis dan hujatan terhadap ilmuwan-ilmuwan muslim, terjadi akibat kebodohan, ketidaktahuan, dan kesilauan terhadap kemajuan material yang dicapai peradaban Barat sekarang ini. Soal kemajuan Barat dalam bidang sains dan teknologi serta perlunya kaum Muslim belajar tentang hal itu, tidaklah diragukan. Sejak awal-awal kelahirannya, Islam sudah bersentuhan dengan peradaban besar ketika itu, yaitu Romawi dan Persia. Tetapi, peradaban Islam tumbuh sebagai satu peradaban yang khas yang berbeda dengan peradaban besar sebelumnya. Islam menyerap dan mengadopsi sebagian unsur peradaban asing, namun sekaligus melakukan seleksi, filterisasi, dan adapsi terhadap nilai dan unsur asing itu. Jika kita cermati sejarah perjalanan Islam, maka tampak, bahwa kaum Muslim ketika itu memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan tidak minder dalam menghadapi peradaban lain. Apa yang terjadi saat ini sungguh memprihatinkan. Hegemoni Barat bukan hanya menonjol dalam bidang politik, ekonomi, dan social, tetapi juga dalam pemahaman keagamaan. Metode kajian Islam diubah mengikuti tradisi Yahudi dan Kristen. Jejak kaum Yahudi-Kristen yang meliberalkan agamanya diikuti oleh para sarjana dari kalangan umat Muslim. Anehnya, semua itu tampak dilakukan dengan semangat dan kurang kritis. Misalnya, satu organisasi Islam mengadopsi metode tafsir al-Jabiri, tetapi tidak melakukan kajian kritis terhadap teori itu sendiri. Padahal puluhan buku telah terbit di Timur Tengah yang mengkritik metode al-Jabiri.

Ironisnya lagi, jika kita kritik, dan kita ingatkan, bahwa metode yang diterapkan adalah metode asing yang digunakan kaum Yahudi dan Kristen terhadap agama mereka, maka tidak jarang kita dituduh anti-Barat dan fundamentalis, sehingga seolah-olah kita adalah makhluk yang pantas dimusnahkan dari muka bumi, karena tidak mengikuti jejak mereka. Semua itu sebenarnya bermula dari cara pandang yang keliru terhadap Islam dan Barat. Tidak sedikit juga yang tergiur dengan iming-iming duniawi yang menggiurkan jika mau memeluk paham dan pandangan hidup Barat, seperti sekularisme, dengan konsekuensi meninggalkan pandangan hidup Islam. Oleh sebab itu, dalam beberapa kesempatan Catatan Akhir Pekan, kita akan menam pilkan dengan lebih jelas, pandangan cendekiawan Muslim Prof.Dr.Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang Islam dan Barat. Naquib al-Attas saat ini merupakan satu diantara ilmuwan terbesar di dunia Islam yang pendapatnya tentang Barat menjadi kajian ilmiah di dunia internasional. Hal itu bisa dilihat dari karya-karya ilmiah dan perjalanan intelektualnya.

Prof.Naquib Al-Attas lahir di Bogor, Jawa Barat, tahun 1931, dan menjalani pendidikan dasar di Sukabumi dan Johor Baru. Lalu, menempuh pendidikan di The Royal Military Academy, Sandhurst, England, lalu ke University of Malaya, Singapura. Gelar master diraihnya di McGill University, Montreal, Canada, dan PhD di Univer sity of London, London, Inggris, dengan konsentrasi bidang ‘Islamic philosophy’, ‘theology’ dan ‘metaphysics’.Berbagai jabatan penting dalam dunia pendidikan yang dialaminya, antara lain : ketua Department of Malay Language and Literature, Dekan the Faculty of Arts, dan pemegang pertama ‘the Chair of Malay Language and Literature’, dan Direktur pertama The Institute of Malay Language, Literature and Culture, yang ia dirikan tahun 1973. Ia juga mengetuai The Division of Literature di Department of Malay Studies, University of Malaya, Kuala Lumpur. Juga, ia pernah memegang posisi UNESCO expert on Islamics; Visiting Scholar and Professor of Islamics at Temple University and Ohio University, distinguished Professor of Islamic Studies and the first holder of the Tun Abdul Razak Distinguished Chair of Southeast Asian Studies at the American University, Washington, Ibn Khaldun Chair of Islamic Studies (1986), dan Life Holder Distinguished Al-Ghazali Chair of Islamic Thought, International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), 1993. Professor al-Attas telah memberikan kuliah di berbagai belahan dunia dan menulis lebih dari 30 buku dan berbagai artikel tentang Islam, menyangkut masalah filsafat Islam, teologi, metafisika, sejarah, sastra, agama, dan peradaban. Beberapa bukunya yang ditulis dalam bahasa Melayu dan Inggris telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Persia, Turki, Urdu, Jerman, Italia, Rusia, Bosnia, Albania, Jepang, Korea, India, dan Indonesia. Atas jasanya yang besar dalam pengembangan bidang comparative philosophy, ‘The Empress of Iran’ mengangkatnya sebagai Fellow di Imperial Iranian Academy of Philosophy tahun 1975. Presiden Pakistan memberikan penghargaan ‘Iqbal Medal’ tahun 1979. Sejak tahun 1974, Marquis Who’s Who in the World telah memasukkan Al-Attas ke dalam daftar nama orang-orang yang menunjukkan prestasi istimewa dalam bidangnya. Al-Attas dikenal sebagai pelopor konseptualisasi Universitas Islam, yang ia formulasikan pertama kalinya pada saat acara ‘First World Conference on Muslim Education’, di Makkah (1977). Tahun 1987, ia mewujudkan gagasannya dengan mendirikan The International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC). Ia merancang dan membuat arsitektur sendiri bangunan ISTAC, merancang kurikulum, dan membangun perpustakaan ISTAC yang kini tercatat salah satu perpustakaan terbaik di dunia dalam Islamic Studies. Raja Hussein mengangkatnya sebagai ‘Member of the Royal Academy of Jordan (1994). The University of Khartoum menganugerahinya ‘Degree of Honorary Doctora te of Arts (D.Litt.), 1995. The Organization of Islamic Conference (OIC), atas nama dunia Islam, melalui ‘The Research Centre for Islamic History, Art and Cul ture (IRCICA) menganugerahi Al-Attas ‘The IRCICA Award’ atas kontribusi besarnya terhadap peradaban Islam (2000); The Russian Academy of Science memberikan kehormatan kepada al-Attas untuk memberikan ‘Special Presentation’ kepada para akademisi di Moskow (2001). Pemerintah Iran, melalui lembaganya, ‘Society for the Appreciation of Cultural Works and Dignitaries’, memberikan penghargaan kepada al-Attas ‘a special Award of Recognition’ (2002). Disamping itu, Prof. al-Attas juga anggota ‘The Advisory Board of Al-Hikma Islamic Translation Series, Institute of Global Cultural Studies, Binghamton University, SUNY, Brigham Young University; anggota ‘The Advisory Board of the Royal Academy for Islamic Civilization Research, Encyclopaedia of Arab Islamic Civili zation, Amman, Jordan; dan anggota ‘The Assembly of the Parliament of Cultures, International Cultures Foundation’, Turki. Tentang sifat asasi dan perjalanan sejarah peradaban Islam dan Barat, al-Attas mengungkapkan bahwa antara peradaban Barat dan peradaban Islam akan terjadi apa yang ia sebut sebagai satu “permanent confrontation” (konfrontasi permanen), atau konflik abadi. Al-Attas mengungkap teorinya itu sejak awal dekade 1970-an, jauh dari hingar-bingar politik internasional, ketika Perang Dingin masih berlangsung, dan secara politis-militer, Barat masih menjadikan komunis sebagai musuh utamanya. Setelah menyelam jauh ke dalam lubuk peradaban Barat, selepas meraih gelar PhD dari University of London, pada awal tahun 1970-an, Al-Attas mulai aktif menulis dan berceramah tentang tantangan dan ancaman peradaban Barat terhadap kaum Muslim dan dunia Islam, khususnya dalam bidang keilmuan dan kebudayaan. Ia kemudian dikenal luas sebagai cendekiawan yang sangat kritis dalam menyorot masalah sekularisme dan menulis satu buku yang sangat terkenal di dunia internasional yaitu buku “Islam and Secularism”.Tentang konflik abadi Islam-Barat ini, Naquib al-Attas mencatat dalam buku ‘klasik’-nya, Islam and Secularism, bahwa konfrontasi antara peradaban Barat dengan Islam telah bergerak dari level sejarah keagamaan dan militer ke level intelektual; dan bahwasanya, konfrontasi itu secara histories bersifat permanent. Islam dipandang Barat sebagai tantangan terhadap prinsip yang paling asasi dari pandangan hidup Barat. Islam bukan hanya tantangan bagi Kekristenan Barat tetapi juga prinsip-prinsip Aristotellianisme dan epistemologi serta dasar-dasar filosofi yang diwarisi dari pemikiran Greek-Romawi. Unsur-unsur itulah yang membentuk komponen dominan yang mengintegrasikan elemen-elemen kunci dalam berbagai dimensi pandangan hidup Barat. (The confrontation between Western culture and civilization and Islam, from the historical religious and military levels, has now moved on to the intellectual level; and we must realize, then, that this confrontation is by nature a histori cally permanent one. Islam is seen by the West as posing a challenge to its very way of life; a challenge not only to Western Christianity, but also to Aristote lianism and the epistemological and philosophical principles deriving from Grae co-Roman thought which forms the dominant component integrating the key elements in dimensions of the Western worldview).” Untuk menyadarkan kaum Muslim akan tantangan besar yang mereka hadapi, khususnya dari peradaban Barat, al-Attas memberikan banyak ceramah dan menulis berbagai buku dan risalah. Salah satu kumpulan ceramahnya pada tahun 1973 kemudian dibukukan dalam sebuah buku berjudul “Risalah untuk Kaum Muslimin”. Ia menyeru kaum Muslimin agar benar-benar mengenal peradaban Barat, sebab peradaban inilah yang kini sedang menguasai dan tidak henti-hentinya melakukan serangan terhadap Islam. “Seperti juga dalam ilmu peperangan kau harus mengenali siapakah dia seterumu itu; di manakah letaknya kekuatan dan kelemahan tenaganya; apakah celah dan tipu muslihatnya bagi mengalahkanmu; bagaimanakah cara dia menyerang dan apakah yang akan diserangnya; dari jurusan manakah akan serangan itu didatangkan; siapakah yang membantunya, baik dengan secara disadari maupun tidak disadari – dan sebagainya. Maka begitulah kau akan lebih insaf lagi memahami nasib serta kedudukan Islam dan kau sendiri dewasa ini apabila penjelasan mengenai seterumu itu dapat dipaparkan terlebih dahulu.” Dalam pandangan Al-Attas, kedatangan Islam, sejak awal memang telah memberikan tantangan yang sangat fundamental terhadap sendi-sendi utama agama Kristen yang merupakan suatu unsur penting bagi peradaban Barat. Islam menjelaskan bahwa agama Kristen yang dikenal sekarang bukanlah agama yang ditanzilkan oleh Allah SWT, dan bukan agama yang mendapat pengesahan daripada-Nya. Nabi Isa as adalah utusan Allah yang diperintahkan membetulkan semua penyelewenangan agama Yahudi dan menyampaikan khabar baik tentang kedatangan Nabi Muhammad saw. Jadi, Nabi Isa as. tidaklah diutus untuk membawa agama baru yang kemudian dikenal dengan nama Kristen. Allah berfirman :”Wahai Bani Israel, aku ini adalah utusan Allah yang diutus kepadamu bagi membenarkan apa yang sebelumnya dari Taurat yang telah datang sebelumku dan untuk menyampaikan kabar baik tentang seorang Rasul yang akan datang sesudahku bernama Ahmad.” (QS al-Shaff: 6).

Karena itu, dalam memandang agama Kristen sekarang, al-Attas mempunyai pandangan yang jelas :”Maka agama Kristian, agama Barat -sebagaimana juga agama-agama lain yang bukan Islam- adalah agama kebudayaan, agama ‘buatan’ manusia yang terbina dari pengalaman sejarah, yang terkandung oleh sejarah, yang dilahirkan serta dibela dan diasuh dan dibesarkan oleh sejarah.”

(sumber : Hidayatullah.com, Jumat, 29 Oktober 2004) http://www.hidayatullah.com/modules.php?name=News&file=article&sid=1445

note : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu terdekat” (QS. 26 : 214) “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaatbagi orang-orang beriman (QS. 51 : 55)

Man A’jabal Khalqi Imanan ?

(Wahai manusia, siapakah makhluk Allah yang imannya paling menakjubkan ?)

Demikian pertanyaan Nabi Muhammad kepada sahabatnya di suatu pagi. Para sahabat langsung menjawab, “Malaikat!”. Nabi menukas, “Bagaimana para malaikat tidak beriman sedangkan mereka pelaksana perintah Allah ?”. Sahabat menjawab lagi, “Kalau begitu, para Nabi-lah yang imannya paling menakjubkan !”. “Bagaimana para Nabi tidak beriman, padahal wahyu turun kepada mereka,” sahut Nabi. Untuk ketiga kalinya, sahabat mencoba memberikan jawaban, “Kalau begitu, sahabat-sahabatmu ya Rasul.” Nabi pun menolak jawaban itu dengan berkata, “Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman, sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan.” Rasul yang mulia meneruskan kalimatnya, “Orang yang imannya paling menakjubkan adalah kaum yang datang sesudah kalian. Mereka beriman kepadaku, walaupun mereka tidak melihatku. Mereka benarkan aku tanpa pernah melihatku. Mereka temukan tulisan dan beriman kepadaku. Mereka amalkan apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka bela aku seperti kalian membela aku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan ikhwanku itu!” .Nabi Muhammad menghibur kita, “Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku,” Nabi ucapkan kalimat ini satu kali. “Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku.” Nabi ucapkan kalimat terakhir ini tujuh kali. (http://go.to/sahabatnabi)

AKU TINGGALKAN KAMU DALAM KEADAAN TERANG BENDERANG DIMANA MALAMNYA SEPERTI SIANGNYA. TIDAK AKAN TERGELINCIR DARIPADA SESUDAHKU KECUALI ORANG-ORANG YANG CELAKA (HR.HAKIM – IBNU MAJAH – AHMAD)

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.012/th.02/Safar-Rabi’ul Awwal 1426H/2005M


Hakekat islam liberal..

Maret 4, 2006

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum..
Pak Ustadz…Saya mohon penjelasan secara garis besar kecil tentang islam liberal ? sebab saya sering mempelajari faham-fahamnya namun sampai saat ini saya belum memberikan vonis apapun terhadapnya, & belum bersikap apapun juga. maka dari itu saya mohon petunjuk dari pak ustadz . Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Abdul-Aziz Sukarnawadi – Kairo Mesir, 2003-07-28 10:03:53

Jawaban:
Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Sekedar tanggapan :
Ulil menulis : “Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab.”
Tidak mungkin Ulil tidak tahu bahwa jilbab, potong tangan, qishash, rajam itu semata-mata budaya arab. Karena semua itu ada dalilnya dalam Al-Quran dan Sunnah. Kalau jubah dan jenggot, barangkali masih bisa ditolelir bahwa ada faktor budayanya. Jenggot meski bukan merupakan kewajiban, paling tidak ada nash yang menganjurkannya. Sedangkan jubah, memang murni budaya arab yang tidak mengandung tasyri`. Tapi kalau urusan potong tangan, qishash dan rajam, bukan sekedar kewajiban, bahkan masuk dalam perkara hudud yang penerapannya sangat mutlak. Tidak ada ulama yang menentangnya sepanjang sejarah kecuali pada zindiq dan munafikin.

Jilbab bukan sekedar pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum. Ini penafsiran yang sesat sekali. Masalahnya, standar kepantasan umum itu apa ? Dan umum yang mana ? Indian Amerika, Aborigin, suku asmat ? Koteka ?

Kalau sekedar standar kepantasan umum, seharusnya surat Annur : 31 dan Al-Ahzab : 59 itu dihapus terlebih dahulu. Ganti dengan ayat yang bunyinya “Wahai orang yang beriman, pakailah pakaian yang sesuai dengan selera masing-masing daerah”. Silahkan buat sendiri nama surat dan nomor ayatnya. Dan bila meminjam logika Ulil, toh tidak sulit bagi Tuhan yang kuasa untuk membuat satu ayat seperti itu. Nyata tidak kita temukan ayat dan hadist demikian.

Larangan kawin antara perempuan Islam dan laki-laki non muslim yang Ulil katakan tidak relevan lagi, peraturan itu bukan semata-mata dari Al-Quran tapi dari Sunnah dan sumber syariah yang lain. Rupanya anda ingin mengecoh dengan mengatakan kalau Al-Quran tidak mengatakan secara tegas, berarti boleh digonta-ganti seenaknya. Tidak demikian.

Ulil menulis :”kita membutuhkan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan mana kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Agama adalah urusan pribadi; sementara pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil kesepakatan masyarakat melalui prosedur demokrasi”.
Ungkapan ini adalah jiplakan total dari para tokoh sekuleris dan orientalis. Memisahkan agama dan negara. Barat pernah melakukannya dan kini mereka terpuruk dalam jurang kehancuran moral dan kemanusiaan. Hidup mereka terlalu kering dan hampa. Lalu tenggelam dalam aneka kriminalitas, penyimpangan sosial, kegamangan dan akhirnya kehancuran nilai-nilai kemanusiaan. Jadi ide ini terbukti tidak baik. Cukuplah barat jadi korban ide liar yang sering dihembuskan oleh para yahudi.

Ulil menulis :”Islam -seperti pernah dikemukakan Cak Nur dan sejumlah pemikir lain-adalah “nilai generis” yang bisa ada di Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan kepercayaan lokal, dan sebagainya. Bisa jadi, kebenaran “Islam” bisa ada dalam filsafat Marxisme.”

Kalimat ini mudah sekali dibengkokkan maksudnya. Bila kita arahkan pada kalimat terakhir, jelas Ulil mengatakan bahwa kebenaran Islam bisa ada dalam filsafat Marxisme. Di satu sisi memang benar, tetapi bisa saja ditafsirkan terbalik, bahwa Marxisme itu pun mengandung nilai-nilai kebenaran Islam. Penafsiran terbalik ini mungkin yang diharapkan Ulil agar dipahami demikian, tetapi dia siap-siap menghindar bila dituduh menyamakan Islam dengan Marxisme dengan menggunakan gaya ungkapan ‘bisa jadi’.

Ulil menulis :”Upaya menegakkan syariat Islam, bagi saya, adalah wujud ketidak berdayaan umat Islam dalam menghadapi masalah yang mengimpit mereka dan menyelesaikannya dengan cara rasional. Umat Islam menganggap, semua masalah akan selesai dengan sendirinya manakala syariat Islam, dalam penafsirannya yang kolot dan dogmatis, diterapkan di muka bumi.”

Ungkapan ini sangat subjektif dan terlalu jauh. Umat Islam memang tidak berdaya dan punya masalah menghimpit. Tetapi penegakkan syariah bukan sekedar berangkat dari ketidakberdayaan apalagi meninggalkan cara rasional. Dalam alam pikiran Ulil, pokoknya yang berbau syariah berarti tidak rasional. Jelas ini pelecehan sepihak. Justru sebaliknya, syariah itu sangat rasional. Sebagai contoh, bunga dari hutang luar negeri kita tiap hari mencapai 20 juta US. Ini akibat dari di terapkanya sistem bunga yang ribawi dan dimusuhi semua agama. Islam datang dengan solusi rasional, hilangkan riba dan ganti dengan bagi hasil dimana semua pihak punya tanggung-jawab dan bisa sama-sama untung. Makan bunga dari hutang negara miskin macam Indonesia justru tidak rasional.

Kalau pencuri hanya sekedar dipenjara, maka tidak ada lagi ruang yang cukup untuk menampung para pencuri di negeri ini. Selain itu, negara pun dirugikan karena harus memberi makan, pakaian, kesehatan dan sebagainya kepada ribuan pencuri yang menghuni penjara. Islam datang dengan solusi rasional dan hemat. Pencuri dengan nisab yang memadai dan terbukti secara sah, potonglah tangannya. Ini menjadi pelajaran bagi calon pencuri yang lain untuk tidak main-main dengan hukum. Uang belanja negara pun hemat karena tidak perlu memberi makan, pakaian dan semua biaya penjara. Dan shock terapi ini selama 15 abad lamanya terbukti manjur. Negeri yang masih menjalankan potong tangan adalah negeri teraman di dunia dari segi pencurian. Silahkan gunakan rasio dan tinggalkan tuduhan meng ada-ada.

Ulil menulis :”Pandangan bahwa syariat adalah suatu “paket lengkap” yang sudah jadi, suatu resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman, adalah wujud ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan itu sendiri. Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah sebentuk kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah; sebentuk eskapisme dengan memakai alasan hukum Tuhan.”

Memang syariah Islam itu datang dari Allah bukan dalam bentuk jadi seperti sebuah kitab undang-undang hukum pidana lengkap dengan bab dan pasalnya. Semua itu membutuhkan kodifikasi dan penyusunan ulang yang -alhamdulillah- sebagian besarnya telah dikerjakan oleh para ulama terdahulu. Tapi dalam penyusunnan itu, tidak ada nilai yang dibuang dan tak satupun aturan itu yang diselewengkan. Tapi dalam ungkapan Ulil, seolah-olah semua produk syariah itu merupakan kemalasan berpikir atau lari dari masalah. Padahal para ulama ketika menyusun kitab-kitab fiqih telah melakukan ijtihad yang sangat dalam dan sampai hari ini pintu ijti had itu tidak pernah tertutup.
Terutama pada hal-hal yang terkait dengan perkem bangan zaman dan budaya. Tapi kalau masalah yang memang tidak memerlukan perubahan karena akan selalu sama kapan dan dimanapun, buat apa diotak-atik lagi.

Ulil menulis : “Oleh karena itu, Islam sebetulnya lebih tepat disebut sebagai sebuah “proses” yang tak pernah selesai, ketimbang sebuah “lembaga agama” yang sudah mati, baku, beku, jumud, dan mengungkung kebebasan. Ayat Innaddina ‘indallahil Islam (QS 3:19), lebih tepat diterjemahkan sebagai, “Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar adalah proses-yang-tak-pernah-selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha Benar). Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama : yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.”

Paragraf yang ini intinya jelas ingin mengatakan bahwa semua agana sama karena intinya semua menuju kepada kebenaran. Dengan gaya bahasa ini, diharapkan orang akan menfsirkan bahwa terserah kita mau beragama apa, semuanya baik. Bahkan pada waktunya, berpindah-pindah pun tidak apa-apa toh semuanya juga menuju kepada ke benaran. Juga diharapkan orang tidak perlu lagi merasa bahwa agama yang dianutnya adalah paling benar, karena mungkin saja salah.
Ulil lupa barangkali pendapatnya ini pun mungkin benar dan mungkin salah. Dan kalau salah, berarti agama yang benar itu adalah Islam dan yang lain salah. atau sebaliknya. Ulil dan rombongan JIL-nya tentu sangat menikmati kepopuleran mendadak karena tulisan anehnya ini. Orang arab pernah bilang, bila kamu ingin terkenal, kencingi saja sumur zam-zam. Kalau ingin dikenal orang, upayakan melakukan hal-hal yang aneh dan melawan arus, maka kamu akan dikenal. Rupanya ilmu para artis untuk selalu bikin gossip mengenai dirinya sendiri agar selalu dimuat media, juga dipakai oleh makhluk macam Ulil ini.

Kami yakin bahwa Ulil bukan tidak tahu resiko tulisannya itu pasti mendapat tentangan dari para ulama dan umat Islam. Bahkan forum ulama Bandung pun sudah menjatuhkan ‘vonis mati’ baginya. Namun dengan santainya Ulil hanya mengatakan bahwa itukan cuma fatwa, jadi tidak mengikat. Justru makin mendapat kecaman dan tentangan, makin ‘besar hidungnya’. Rupanya reaksi keras dari umat dijadikan semacam nutrisi dan sel penambah darah yang makin menyehatkan tubuhnya.

Setelah generasi tua kehabisan nafas, macam Cak Nur, Gusdur, Atho` Muzhar, Munawir dan rombongannya, kini giliran juniornya masuk gelanggang permainan. Tapi nampaknya mereka kehabisan thema dan ide. Karena lagu yang dinyanyikan hanya itu-itu saja. ‘Islam bukan formalitas, semua agama sama, perlu penafsiran ulang dll’. Tema-tema itu lebih mirip paket lagu lama yang diaransemen ulang. Sebuah proses miskin kreatifitas yang cenderung sekedar mencari untung tanpa mau capek-capek. Yang beda hanya kemasan dan penamaan saja. Lainnya, ya itu lagi-itu lagi.

Tema itu oleh generasi tua mereka sudah sering diperdengarkan. Ibarat rombongan pengamen yang kurang kreatif tidak bisa mengarang lagu baru. Thema itu oleh para pendahulu mereka macam Hasan Hanafi di Mesir pun sudah sering dinyanyikan. Dan benang merah antara satu generasi ke generasi kelihatan jelas sekali.
Hanya bedanya dengan semacam Caknur, gaya Ulil ini tidak senang ‘mengoreksi’ atau mengelak sedikit sedikit. Caknur biasanya bila ‘diserang’ balik atas lontaran-lontaran anehnya, dengan santai dan cerdik akan menjawab, ?…”Anda tidak mengerti maksud saya ?…Maksud saja tidak seperti itu. . .?..Oh maksud saya begini ?”. Begitu juga Gusdur dan yang segenerasi. Ulil belum kita dengar apologinya. Apakah dia termasuk yang hobi membentur tembok karena kurang cerdas, atau memang trendnya sedikit bergeser.

Tapi satu hal yang pasti, apa-apa yang ditawarkan oleh para penjaja ‘sampah pikiran’ ini tidak pernah laku. Ingatlah bahwa sejak tahun 1971 dengan lantang Caknur sudah cuap-cuap dengan ide-ide sekulernya, anti jilbab, anti simbolisme dan penafsiran ulang. Tapi apa yang kita lihat justru sebaliknya, gairah menjalankan syariah Islam justru semakin menggebu di tengah umat Islam. Ide mengganti Assalamu `alaikum dengan selamat pagi made in Gusdur, justru kandas dan kini di mana-mana orang-orang lebih fasih mengucapkan salam khas Islam ini. Tuduhan jilbab itu pakaian arab pun tidak ada yang beli, justru makin banyak saja orang pakai jilbab bahkan kalangan artis pun berduyun-duyun menggunakannya.

Yang perlu kita lakukan justru memberi belas kasihan kepada rombongan JIL ini. Mereka sudah habis-habisan mengobral semua harga bahkan ada yang dijual dengan diskon 100 persen, tapi tetap sepi pembeli dan pasar lesu.

Buat ulil, sudahlah sebaiknya dia cooling down sejenak, karena jalan yang dia lewati itu cuma jalan buntu, sudah banyak orang gagal lewat jalan itu dan terpaksa kembali lagi. Sebelum terlalu jauh, kembali saja dan cari arah yang lebih tepat. Persis seperti yang dikatakan Steven Covey, lebih baik berhenti sebentar untuk berpikir jernih daripada terus bekerja yang tidak jelas hasilnya.

Generasi tua sebelum Ulil sudah gagal menurutnya. Dan nampaknya bayang-bayang kegagalan terus mengintai generasinya juga. Kegagalan mereka bukan pada cara, tapi pada isi dagangan yang kurang sesuai dengan selera masyarakat pembeli di sini. Mungkin kalau dagangan ini dijual di Amerika sana yang memang tidak kenal Islam sebelumnya, siapa tahu ada yang beli. Tapi umumnya pembeli disini cerdas dan orang betawi bilang, ‘Buaya nggak bisa dikadalin’.

Kenapa Ulil tidak meneruskan saja kuliah dengan baik, mengambil spesialisasi bidang-bidang ilmu-ilmu ke-Islaman yang beragam. Otaknya kan termasuk encer dan penanya pun cukup tajam. Bahwa dia pernah dikeluarkan (DO) dari LIPIA tempat anda belajar dahulu karena tidak lulus tiga mata kuliah, ya sudahlah lupakan saja. Toh kesempatan belajar masih banyak dan dia masih muda. Sekarang ini ilmunya masih tanggung, ulama bukan ilmuwan, pun tidak mirip. Dari pada setiap hari di doakan yang jelek-jelek oleh umat Islam, mendingan dia khusyu` beribadah dan menuntut ilmu lebih tinggi lagi. Biasanya makin dalam ilmu seseorang, makin me runduklah dia dan makin berbobot suaranya.

Insya Allah lahan penghidupan bagi Ulil masih terbuka lebar. Dan ingat, umat Islam ini pemaaf lho. Kalau suatu hari Ulil muncul dan berbicara yang baik-baik sesuai dengan nuraninya sendiri, mereka pasti akan menjadi pendukungnya. Tidakkah Ulil merindukan untuk menjadi ulama kharismatik model KH. Hasyim Asy`ari, Prof.Dr.Buya Hamka, M Natsir, A. Hasan dll, yang hingga kini masih dikenang dengan manis oleh umat ini. Bukan menjadi cacat dalam sejarah sebagai orang yang dijadikan contoh buruk sebagai tokoh sekuler dan anti Islam. Kasihan sekali anak cucunya nanti yang akan mewarisi nama buruk orangtuanya.

Hari ini tidak ada orang kenal Ahmad Wahib yang bergolak itu. Padahal dia sudah mati-matian kepingin populer dengan semua pergolakannya. Toh namanya tidak pernah disebut dan malah dilupakan orang.

Sebagai saudara muslim, kami mendoakan Ulil kembali ke jalan yang terang dan diberi hidayah oleh Allah. Maafkan bila ada kata yang menyinggung hati Ulil dan pendukung setianya. Semoga Allah menegakkan Islam ini dengan keinsyafaannya. Semoga Allah melapangkan hatimu, nak.

Wallahu a`lam bishshowab.

http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view=2115

“…pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agamamu…” (QS.5 : 3)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.012/th.01/Safar-Rabi’ul Awal 1426H/2005M