Apa Kata Mereka Tentang Muhammad ?

Mei 1, 2007

Edward Gibbon :
“Citra baik Muhammad mengalahkan ketenaran raja-raja. Nabi yang diutus Tuhannya ini melakukan pekerjaan sehari-hari. Ia menyalakan api, menyapu, memeras susu kambing, dan menambal sendiri sepatu dan pakaiannya yg terbuat dari wol. Seakan menolak pencitraan dirinya sebagai seorang pertapa suci yang diagungkan, ia menjalani hidup seperti seorang bangsa Arab dan seorang prajurit – dengan sedikit makan. Dalam suatu acara yang hikmat, ia menjamu para tamunya dengan cara sederhana dan penuh keramahan. Namun dalam kehidupan pribadinya, minggu-minggu terlewatkan dengan serba kekurangan di dalam rumahnya. Ia tidak mengenal anggur dalam kebiasaan hidupnya. Rasa laparnya cukup terpuaskan oleh sepotong roti: ia merasa amat bahagia dengan seteguk susu dan madu, sebab kurma dan air adalah menu sehari-harinya.” – [Edward Gibbon, The History of the Decline And Fall of The Roman Empire, Vol. VI, London: The Folio Society, p.264.]

Bosworth Smith :
“Dia adalah kepala negara sekaligus pemimpin agama, dia adalah Kaisar dan Paus jadi satu. Tapi, dia adalah Paus tanpa kekuasaan kepausan, dan Kaisar tanpa pasukan kekaisaran, tanpa bala-tentara yang siap tempur, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa pemasukan yang tetap. Jika ada seorang manusia yang berhak untuk menyatakan bahwa ia memerintah atas perintah Ilahi, maka itu adalah Muhammad, karena ia memiliki seluruh kekuasaan tanpa perangkat dan pendukung yang dibutuhkan bagi sebuah kekuasaan seperti itu.” – [Bosworth Smith, Mohammad and Mohammadanism, London, 1874, p. 92.]

Annie Besant :
“Adalah tidak mungkin bagi seseorang yang mempelajari kehidupan dan karakter seorang Nabi besar dari bangsa Arab itu – yang mengetahui bagaimana ia mengajar dan menjalani hidup – hanya akan tiba pada sekedar rasa hormat saja atas kemuliaan Nabi yang menakjubkan ini, salah seorang utusan Tuhan yang teragung. Dan walaupun dalam karya-karya saya yang mungkin dikenal banyak orang, saya menulis banyak tentangnya tetap saja ketika saya membacanya berulang kali, rasa hormat, penghargaan dan takjub saya tak pernah ada habisnya bagi mahaguru dari bangsa Arab itu.” – [Annie Besant, The Life and Teachings of Muhammad, Madras, 1932, p.4.]

Mahatma Gandhi :
“Saya ingin mengetahui tentang manusia paling berpengaruh dalam hati jutaan umat manusia… Saya semakin bertambah yakin bahkan kemenangan yang didapat oleh Islam pada masa-masa itu bukanlah dari ayunan pedang. Kemenangan itu buah dari kesederhanaan Nabi yang gigih, keikhlasan Nabi yang telah mencapai puncaknya, kehati-hatian terhadap semua amanat yang diembannya, pengabdian yang mendalam terha dap para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, ketidaktakutannya, keyakinan yang sempurna terhadap Tuhan dan misinya. Inilah semua dan bukanlah jalan pedang yang mengatasi semua halangan-halangan itu. Ketika saya menyelesaikan Bab ke-dua dari biografi sang Nabi, saya menyesal: sudah tidak ada lagi kehidupan agung lain yang bisa saya pelajari.” – [Young India, 1922.]

Dr.TVN Persaud :
Menurutku, Muhammad adalah seorang lelaki biasa. Dia tidak bisa membaca dan menulis. Dia buta huruf. Kita membicarakan masa 1.400 tahun yg lalu. Dimana seorang yang buta huruf membuat pernyataan-pernyataan menakjubkan, yang secara ilmiah luar biasa akurat. Saya secara pribadi tidak bisa melihat hal ini sebagai sebuah kebetulan belaka. Terlalu banyak akurasi yang dia berikan, seperti Dr. Moore, saya tidak punya keraguan dalam fikiran saya bahwa adalah wahyu Tuhan yang membimbing Muhammad dalam membuat pernyataan-pernyataan itu” – [Dr.TVN Persaud, Profe sor Anatomi, Ahli Kesehatan & Penyakit Anak. Mempublikasikan lebih dari 181 tulisan ilmiah. Th.1991 menerima penghargaan tertinggi bidang anatomi di Kanada.]

Profesor Tagata Tagasone :
“Dari penelitian-penelitian saya dan apa yang telah saya pelajari dari konferensi ini, saya percaya bahwa segala yang telah ditulis di Qur’an 1.400 tahun yang lalu adalah kebenaran yang dapat dibuktikan dengan penelitian ilmiah. Karena Muhammad tidak dapat menulis dan membaca, Muhammad pastilah seorang utusan yang menyampaikan kebenaran yang diwahyukan kepadanya sebagai pencerahan dari yang Maha Pencipta. Sang pencipta ini pastilah Tuhan, atau Allah. Karena itu, saya rasa inilah waktunya saya mengucapkan “Laa ilaaha illallah, dan tidak ada Tuhan yang pantas disembah melainkan Allah, ‘Muhammad Rasool Allah’, Muhammad adalah utusan Allah …” – [Profesor Tagata Tagasone, Mantan Kepala Fakultas Anatomi dan Embriologi di Universitas Chiang Mai, Thailand.]

Alphonsso De Lamartine (1790-1869) :
Apabila tujuan yang luar biasa besar, dengan bekal memulai yang amat minim, dan hasil yang juga luar biasa besar, adalah tiga syarat untuk seseorang disebut jenius, siapa yang berani membandingkan manusia hebat mana pun dlm sejarah modern ini dengan Muhammad ? Orang-orang yang paling terkenal hanya menghasilkan senjata, hukum dan kekaisaran. Mereka menemukan tak lain hanya kekuatan material yang seringkali lenyap begitu saja di depan mata. Orang ini (Muhammad) tidak hanya mengendalikan pasukan, undang-undang, kerajaan-kerajaan, orang-orang dan dinasti, tetapi jutaan manusia di sepertiga dunia yg dihuni masa itu; dan lebih dari itu. Dia menggoyangkan altar-altar, dewa-dewa, agama-agama, ide-ide, kepercayaan-kepercayaan dan jiwa manusia…keuletannya untuk mencapai kemenangan, tekadnya… kesemuanya semata dicurahkan untuk satu gagasan mulia, dan sama sekali bukan untuk membangun sebuah kekaisaran. Doanya yg terus-menerus, wahyu yang dia peroleh dari Tuhan, kematiannya dan pencapaiannya setelah kematian, semuanya ini tidak lain membuktikan pendiriannya yg gigih, yg memberikannya kekuatan untuk menegakkan sebuah ajaran. Ajaran ini ada dua sisi : Keesaan Tuhan dan Tuhan sebagai dzat yang immaterial. Ajaran yang pertama manjelaskan tentang apa Tuhan itu, ajaran kedua menjelaskan tentang apa yg bukan Tuhan. Yang pertama menghancurkan tuhan-tuhan palsu melalui perlawanan, yang kedua menjelaskan tentang Tuhan melalui kata-kata.

Filosof, orator, rasul, pembuat undang-undang, pejuang, pencetus ide-ide, pelestari ajaran yang rasional dan keyakinan tanpa simbol-simbol, pendiri duapuluhtiga kerajaan dengan satu agama, itulah Muhammad. Dengan menggunakan standar manusiawi apa pun, kita boleh bertanya, adakah orang yang lebih hebat dari dia ?. [Lamartine, Histoire de la Turquire, Paris, 1854, Vol. II, pp 276-277.]

Maxime Rodinson :
Muhammad yang dulunya seorang bocah dan pria muda yang gelisah telah menjadi Muhammad Sang Nabi. Berkat kepatutan pendekatan, baik secara pribadi, agama mau pun sosial, pesannya disambut dengan penuh semangat oleh sekelompok kecil orang yang selanjutnya menjadi sahabat setia. Kelompok ini kemudian menjadi sebuah komunitas, komunitas agama. Di Madinah, Muhammad menemukan dirinya dalam situasi yang memungkinkan – bahkan mengharuskan dia melakukan perjuangan untuk mempero leh kekuasaan di daerah oase itu…

Lima tahun kemudian setelah peristiwa hijrah, kelompok tadi telah mentransformasikan dirinya menjadi sebuah negera yang dihormati oleh para tetangganya…

Sejarah, dan khususnya sejarah Islam, mengenal para tokoh pembaharu lainnya di bidang agama, yang memiliki posisi untuk memainkan peran politik. Namun sering mereka terbukti tak mampu beradaptasi pada bekerjanya kekuatan-kekuatan “political interplay” yang ada. Mereka telah gagal bertindak pada saat dan tempat yang diperlukan, mereka tidak tahu cara bagaimana “membaca” berbagai tujuan jangka panjang, dan juga tidak berhasil menjalankan kegiatan praktis yang terus-menerus dapat berubah, untuk memenuhi kebutuhan yang juga terus-menerus berubah sesuai kebutuhan pada saat itu juga. Terkadang para pemimpin agama itu pun harus bekerja sama dengan orang yang memiliki kepiawaian menyiasati – yang tinggi tingkat kesulitannya – dan yang mampu mewujudkan rencana-rencana.

Tetapi Muhammad menemukan dalam dirinya semua hal itu: dia memiliki semua bekal yang dibutuhkan untuk memenuhi peran gandanya tersebut.

Di Medina, sang penyeru kebenaran abadi tersebut telah muncul pula sebagai seorang politisi yang ulet dan handal. Mampu mengendalikan perasaannya dan tidak memperbolehkan perasaan tersebut terlihat kecuali pada waktunya yang tepat. Mampu menunggu sekali pun untuk waktu yang lama, dan bertindak cepat jika saat yang tepat datang… Dengan cara yang sama – sebagian besarnya – dia juga telah membuk tikan dirinya sebagai jendral piawai, yang mampu dalam merancang peperangan secara cerdik, dan mengambil langkah tepat yang diperlukan di setiap pertempuran”. [Maxime Rodinson, Muhammad, diterjemahkan dari bahasa Perancis oleh Anne Carter, London.] –

[http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=1819_0_4_0_M]


Napoleon Bonaparte (Napoleon I), (1769-1821) :
Tokoh penting Perancis, panglima perang kenamaan, pendiri imperium Perancis, banyak negeri yang telah ditaklukkan. Kata-kata Nalopeon pernah disitir oleh seorang penulis bernama Cherfils dalam bukunya berjudul “Bonaparte et l’Islam”, sebagai berikut :
“Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada bangsa Romawi, Muhammad kepada seluruh dunia”. “Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentosaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang sifat tuhan bapa, tuhan anak dan roh kudus… Muhamad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak, dan Trinitas itu kemasukan ide-ide sesat.. “. “Muhammad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum muslimin dapat menguasai separoh bola bumi. Jiwa manusia yang mereka selamatkan, berhala-berhala yang mereka hancurkan. Dan tempat-tempat pemujaan yang mereka runtuhkan selama 15 tahun, jauh lebih banyak dibanding dengan yang pernah dilakukan para pengikut Musa dan Isa selama 15 tahun. Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkan itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin dia sudah dipandang sebagai dewa. Ketika dia muncul, bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam perang saudara”.

Monseur Dinet :
Setelah banyak mempelajari, menekuni dan mengkaji semua segi ajaran islam, dan setelah membanding-bandingkan dengan agama lain, akhirnya ia memeluk Islam. Hingga akhir hayatnya ia tetap sebagai muslim yang baik. Setelah menunaikan ibadah haji, dia menulis buku khusus dengan cara yang sangat indah dan menarik : Indah susunan kalimatnya, jauh jangkauannya, kuat argumentasinya dan mudah dicerna karena gaya bahasanya yang sederhana. Dialah yang dengan tegas mengalamatkan kata-katanya kepada H.A.Lamens, pendeta Nasrani, pengarang, yang mana dalam semua karyanya mengenai Islam. Dan tidak pernah jemu menyerang Islam juga nabi yang membawa ajaran Islam. Kepada Lames itulah Dinet berkata :”Kami berada di suatu lembah, dan tuan berada di lembah yang lain”.

Lebih jauh beliau mengatakan :”Kesalahan orang eropa (barat) yang sangat fatal ialah, karena mereka mengkaji dan menganalisa kehidupan Muhammad dgn cara menurut tabiat orang barat, padahal Nabi Muhammad bukan orang barat. Lagi pula logika barat tdk mungkin mendatangkan kesimpulan yg benar jika digunakan untuk memahami sejarah kehidupan para nabi & rasul yg mana kesemuanya adalah orang timur”.

Prod.Dinet kemudian menyebut barisan nama kaum orientalis fanatik yang anti Islam, antara lain : H.A.Lamens, Dozzy, Noldeke, Goethe, Sprenger, Grimme, Snouck Horgronye, dll. Setelah meneliti pendapat mereka, Prof.Dinet mengatakan :”Apabila kita perhatikan pendapat mereka, baik yang berkebangsaan Perancis, Inggris, Belanda, atau yang lainnya; maka kita temukan pendapat yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain, hingga orang tidak dapat memilih mana yang benar, karena semuanya jauh menyimpang dari sumber-sumber riwayat yang benar”.

(diketik ulang dari : “Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad SAW”, HMH.Al Hamid Al Husaini, Yayasan Al Hamidiy Jakarta, cetakan kelima, 1995, hal : 936-953)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 022/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1427H/2006M


Rasulullah, Masa Pra Kelahiran, Akhlak dan Fungsi Kenabian

Mei 1, 2007

Masa Pra Kelahiran

Al-Quran menegaskan bahwa para nabi pernah diangkat janjinya untuk percaya dan membela Nabi Muhammad SAW. “Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi, Sungguh apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad) yang membenarkan kamu, niscaya kamu sungguh-sungguh akan beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berfirman , ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku yang demikian itu ?’. Mereka menjawab, ‘Kami mengakui.'” (QS Ali’Imran: 81)

Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Demi (Allah) yang jiwaku berada pada genggaman-Nya, seandainya Musa AS hidup, dia tidak dapat mengelak dan mengi kutiku” (HR.Imam Ahmad) Tidak jelas kapan dan bagaimana perjanjian yang disinggung ayat tersebut. Setidaknya, ia mengisyaratkan bahwa Allah SWT telah merencanakan sesuatu untuk Nabi Muhammad SAW. jauh sebelum kelahiran beliau. Karena itu pula sementara ulama menyatakan bahwa kematian ayah beliau sebelum kelahiran, kepergiannya ke pedesaan menjauhi ibunya, serta ketidakmampuannya membaca dan menulis merupakan strategi yang dipersiapkan Tuhan kepada beliau untuk dijadikan utusan-Nya kepada seluruh umat manusia kelak. Bahkan ulama lain meyakini bahwa pemilihan hal-hal tertentu berkaitan dengan beliau bukanlah kebetulan. Misalnya bulan lahir, hijrah, dan wafatnya pada bulan Rabi’ul Awal (musim bu nga). Nama beliau Muhammad (yang terpuji), ayahnya Abdullah (hamba Allah), ibunya Aminah (yang memberi rasa aman), kakeknya yang bergelar Abdul Muththalib bernama Syaibah (orangtua yang bijaksana), sedangkan yang membantu ibunya melahirkan bernama Asy-Syifa’ (yang sempurna dan sehat), serta yang menyusukannya adalah Halimah As-Sa’diyah (yang lapang dada dan mujur). Semuanya mengisyaratkan keistimewaan berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW. Makna nama-nama tersebut memiliki kaitan yang erat dengan kepribadian Nabi Muhammad SAW.

Al-Quran surat Al-A’raf : 157 juga menginformasikan bahwa Nabi Muhammad SAW pada hakikatnya dikenal oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini antara lain disebabkan mereka mendapatkan (nama)-nya tertulis di dalam Taurat dan Injil (QS. Al-A’raf : 157). Menurut pakar agama Islam, yang ditegaskan oleh Al-Quran itu, dapat terbaca antara lain dalam Pertanjian Lama, Kitab Ulangan 33 ayat 2: “… bahwa Tuhan telah datang dari Torsina, dan telah terbit untuk mereka itu dari Seir, kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran.” Pemahaman mereka berdasarkan analisis berikut :”Gunung Paran” menurut Kitab Perjanjian Lama, Kejadian ayat 21, adalah tempat putra Ibrahim -yakni Nabi Ismail- bersama ibunya Hajar memperoleh air (Zam-Zam). Ini berarti bahwa tempat tersebut adalah Makkah, dan dengan demikian yang tercantum dalam Kitab Ulangan di atas mengisyaratkan tiga tempat terpancarnya cahaya wahyu Ilahi : Thur Sina tempat Nabi Musa AS, Seir tempat Nabi Isa AS, dan Makkah tempat Nabi Muhammad SAW. Sejarah membuktikan bahwa beliau satu-satunya Nabi dari Makkah. Karena itu pula wajar jika Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 146 menyatakan bahkan mereka itu mengenalnya (Muhammad SAW), sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka, bahkan salah seorang penganut agama Yahudi yang kemudian masuk Islam, yaitu Abdullah bin Salam pernah berkata, “Kami lebih mengenal dan lebih yakin tentang kenabian Muhammad SAW daripada pengenalan dan keyakinan kami tentang anak-anak kami. Siapa tahu pasangan kami menyeleweng.”

Akhlak dan Fungsi Kenabian Muhammad SAW

Al-Quran mengakui secara tegas bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki akhlak yg sangat agung. Bahkan dapat dikatakan bahwa konsideran pengangkatan beliau sebagai nabi adalah keluhuran budi pekertinya. Hal ini dipahami dari wahyu ketiga yang antara lain menyatakan bahwa :”Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yg agung” (QS Al-Qalam : 4). Kata “di atas” tentu mempunyai makna yang sangat dalam , melebihi kata lain, misalnya, pada tahap/dalam keadaan akhlak mulia. Seperti dikemukakan di atas, Al-Quran surat Al-An’am ayat 90 menyebutkan dalam rangkaian ayat-ayatnya 18 nama Nabi/Rasul. Setelah kedelapan belas nama disebut, Allah berpesan kepada Nabi Muhammad SAW, “Mereka itulah yang telah memperoleh petunjuk dari Allah, maka hendaknya kamu meneladani petunjuk yang mereka peroleh.”

Para ulama tafsir menyatakan bahwa Nabi SAW pasti memperhatikan benar pesan ini. Hal itu terbukti antara lain, ketika salah seorang pengikutnya mengecam kebijaksanaan beliau saat membagi harta rampasan perang, beliau menahan amarahnya dan menyabarkan diri dengan berkata, “Semoga Allah merahmati Musa AS, dia telah diganggu melebihi gangguan yang kualami ini, dan dia bersabar (maka aku lebih wajar bersabar daripada Musa AS).” Karena itu pula sebagian ulama tafsir menyimpulkan, bahwa pastilah Nabi Muhammad SAW telah meneladani sifat-sifat terpuji para nabi sebelum beliau.

Nabi Nuh AS dikenal sebagai seorang yang gigih dan tabah dalam berdakwah. Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai seorang yang amat pemurah, serta amat tekun bermujahadah mendekatkan diri kepada Allah. Nabi Daud AS dikenal sebagai nabi yang amat menonjolkan rasa syukur serta penghargaannya terhadap nikmat Allah. Nabi Zakaria AS, Yahya AS, dan Isa AS adalah nabi-nabi yang berupaya menghindari kenikmatan dunia demi mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nabi Yusuf AS terkenal gagah, dan amat bersyukur dalam nikmat dan bersabar menahan cobaan. Nabi Yunus AS diketahui sebagai nabi yang amat khusyuk ketika berdoa, Nabi Musa AS terbukti sebagai nabi yang berani dan memiliki ketegasan, Nabi Harun AS sebaliknya, adalah nabi yang penuh dengan kelemahlembutan. Demikian seterusnya, dan Nabi Muhammad SAW menela dani semua keistimewaan mereka.

Ada beberapa sifat Nabi Muhammad SAW yang ditekankan oleh Al-Quran, antara lain, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu (umat manusia), serta sangat menginginkan kebaikan untuk kamu semua, lagi amat tinggi belas kasihannya dan penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS Al-Taubah: 128). Begitu besar perhatiannya kepada seluruh umat manusia, sehingga hampir-hampir saja ia mencelakakan diri demi mengajak mereka beriman (QS.Syu’ara: 3). Begitu luas rahmat dan kasih sayang yang dibawanya, sehingga menyentuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk-makhluk tak bernyawa. Sebelum Eropa memperkenalkan Organisasi Pecinta Binatang, Nabi Muhammad SAW. telah mengajarkan :”Bertakwalah kepada Allah dalam perlakuanmu terhadap binatang-binatang, kendarailah dan beri makanlah dengan baik”. “Seorang wanita terjerumus ke dalam neraka karena seekor kucing yang dikurungnya.” “Seorang wanita yang bergelimang dosa diampuni Tuhan karena memberi minum seekor anjing yg kehausan.”

Rahmat dan kasih sayang yang dicurahkannya sampai pula pada benda-benda tak bernyawa. Susu, gelas, cermin, tikar, perisai, pedang, dan sebagainya, semuanya beliau beri nama, seakan-akan benda-benda tak bernyawa itu mempunyai kepribadian yang membutuhkan uluran tangan, rahmat, kasih sayang, dan persahabatan. Diakui bahwa Muhammad SAW diperintahkan Allah untuk menegaskan bahwa, “Aku tidak lain kecuali manusia seperti kamu, (tetapi aku) diberi wahyu …” (QS Al-Kahf : 110). Beliau adalah manusia seperti manusia yang lain dalam naluri, fungsi fisik, dan kebutuhannya, tetapi bukan dalam sifat-sifat dan keagungannya, karena beliau mendapat bimbingan langsung dari Allah dan kedudukan istimewa di sisi-Nya, sedang yang lain tidak demikian. Seperti halnya permata adalah jenis batu yang sama jenisnya dengan batu yang di jalan, tetapi ia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh batu-batu lain. Dalam bahasa tafsir Al-Quran, “Yang sama dengan manusia lain adalah basyariyah bukan pada insaniyah.” Perhatikan bunyi firman tadi : ”basyarun mitslukum bukan insan mitslukum”.

Atas dasar sifat-sifat yg agung dan menyeluruh itu, Allah SWT menjadikan beliau sebagai teladan yang baik sekaligus sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan) “Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik bagi yang mengharapkan (ridha) Allah dan ganjaran di hari kemudian.” (QS Al-Ahzab : 2l). Keteladanan tersebut dapat dilakukan oleh setiap manusia, karena beliau telah memiliki segala sifat terpuji yang dapat dimiliki oleh manusia. Dalam kon teks ini, Abbas Al-Aqqad, seorang pakar Muslim kontemporer menguraikan bahwa manusia dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe : seniman, pemikir, pekerja, dan yang tekun beribadah. Sejarah hidup Nabi Muhammad SAW membuktikan bahwa beliau menghimpun dan mencapai puncak keempat macam manusia tersebut.

Karya-karyanya, ibadahnya, seni bahasa yang dikuasainya, serta pemikiran-pemikirannya sungguh mengagumkan setiap orang yang bersikap objektif. Karena itu pula seorang Muslim akan kagum berganda kepada beliau, pada saat memandangnya melalui kacamata ilmu dan kemanusiaan, dan kedua kali pada saat memandangnya dengan kaca mata iman dan agama. Banyak fungsi yang ditetapkan Allah bagi Nabi Muhammad SAW antara lain sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan) (QS Al-Fath: 8), yang pada akhirnya bermuara pada penyebarluasan rahmat bagi alam semesta. Disini fungsi beliau sebagai syahid/saksi akan dijelaskan agak mendalam. “Demikian itulah Kami jadikan kamu umat pertengahan, agar kamu menjadi saksi terhadap manusia, dan agar Rasul (Muhammad SAW) menjadi saksi terhadap kamu…” (QS Al-Baqarah : 143). Kata syahid/saksi antara lain berarti “menyaksikan,” baik dengan pandangan mata maupun dengan pandangan hati (pengetahuan). Ayat itu menjelaskan keberadaan umat Islam pada posisi tengah, agar mereka tidak hanyut pada pengaruh kebendaan, tidak pula mengantarkannya membumbung tinggi ke alam ruhani sehingga tidak berpijak lagi di bumi. Mereka berada diantara keduanya (posisi tengah), sehingga mereka dapat menjadi saksi dalam arti patron/teladan & skala kebenaran bagi umat -umat yang lain, sedangkan Rasulullah SAW yang juga berkedudukan sebagai syahid (saksi) adalah patron dan teladan bagi umat Islam. Kendati ada juga yang berpendapat bahwa kata tersebut berarti bahwa Nabi Muhammad SAW akan menjadi saksi di hari kemudian terhadap umatnya dan umat-umat terdahulu, seperti bunyi firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Nisa’ : 41 “Maka bagaimanakah halnya orang-orang kafir nanti apabila Kami menghadirkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami hadirkan pula engkau (hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka ?”.

Tingkat syahadat (persaksian) hanya diraih oleh mereka yang menelusuri jalan lurus (shirath al-mustaqim), sehingga mereka mampu menyaksikan yang tersirat di balik yang tersurat. Mereka yang menurut Ibnu Sina disebut “orang yang arif,” mampu memandang rahasia Tuhan yang terbentang melalu qudrat-Nya. Tokoh dari segala saksi adalah Rasulullah Muhammad SAW yang secara tegas di dalam ayat ini dinyatakan “diutus untuk menjadi syahid (saksi).”

Sikap Allah SWT, terhadap Nabi Muhammad SAW

Dari penelusuran terhadap ayat-ayat Al-Quran ditemukan bahwa para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW telah diseru oleh Allah dengan nama-nama mereka; Ya Adam…, Ya Musa…, Ya Isa…, dan sebagainya. Tetapi terhadap Nabi Muhammad SAW, Allah SWT sering memanggilnya dengan panggilan kemuliaan, seperti Ya Ayyuhan Nabi…, Ya ayyuhar Rasul…, atau memanggilnya dengan panggilan-panggilan mesra, seperti Ya Ayyuhal Muddatstsir, atau Ya Ayyuhal Muzzammil (wahai orang yang berselimut). Kalaupun ada ayat yang menyebut namanya, nama tersebut dibarengi dengan gelar kehormatan. Perhatikan firman-Nya dalam surat Al-‘Imran : 144, Al-Ahzab : 40, Al-Fat-h : 29, dan Al Shaff : 6. Dalam konteks ini dapat dimengerti mengapa Al-Qur’ an berpesan kepada mukmin, Janganlah kamu menjadikan panggilan kepada Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain… (QS Al-Nur : 63). Sikap Allah kepada Rasul SAW dapat juga dilihat dengan membandingkan sikap-Nya terhadap Musa AS. Nabi Musa AS bermohon agar Allah menganugerahkan kepadanya kelapangan dada, serta memohon agar Allah memudahkan segala persoalannya. “Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku.” (QS Thaha : 25-26). Sedangkan Nabi Muhammad SAW memperoleh anugerah kelapangan dada tanpa mengajukan permohonan. Perhatikan firman Allah dalam surat Alam Nasyrah, “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu ?” (QS Alam Nasyrah : 1). Dapat diambil kesimpulan bahwa yang diberi tanpa bermohon tentunya lebih dicintai daripada yg bermohon, baik permohonannya dikabulkan, lebih-lebih yang tidak. Permohonan Nabi Musa AS adalah agar urusannya dipermudah, sedangkan Nabi Muhammad SAW bukan sekedar urusan yang dimudahkan Tuhan, melainkan beliau sendiri yang dianugerahi kemudahan. Sehingga betapapun sulitnya persoalan yg dihadapi dng pertolongan Allah, beliau akan mampu menyelesaikannya. Mengapa demikian ? Karena Allah menyatakan kepada Nabi Muhammad dalam surat Al-A’la : 8, “Dan Kami mudahkan kamu ke jalan yang mudah.”

Mungkin saja urusan telah mudah, namun seseorang, karena satu dan lain sebab, tidak mampu menghadapinya. Tetapi jika yang bersangkutan telah memperoleh kemudahan, walaupun sulit urusan tetap akan terselesaikan. Keistimewaan yang dimiliki beliau tidak berhenti di situ saja. Juga dengan keistimewaan kedua, yaitu “jalan yang beliau tempuh selalu dimudahkan Tuhan” sebagaimana tersurat dalam firman Allah, “Dan Kami mudahkan kamu ke jalan yang mudah.” (QS Al-A’la : 8). Dari sini jelas bahwa apa yang diperoleh oleh Nabi Muhammad SAW melebihi apa yang diperoleh oleh Nabi Musa AS, karena beliau tanpa bermohon pun memperoleh kemudahan berganda, sedangkan Nabi Musa AS baru memperoleh anugerah “kemudahan urusan” setelah mengajukan permohonannya. Itu bukan berarti bahwa Nabi Muhammad SAW dimanjakan oleh Allah, sehingga beliau tidak akan ditegur apabila melakukan sesuatu yg kurang wajar sebagai manusia pilihan. Dari Al-Quran ditemukan sekian banyak teguran-teguran Allah kepada beliau, dari yang sangat tegas hingga yg lemah lembut. Perhatikan teguran firman Allah ketika beliau memberi izin kepada beberapa orang munafik untuk tidak ikut berperang. “Allah telah memaafkan kamu. Mengapa engkau mengizinkan mereka ? (Seharusnya izin itu engkau berikan) setelah terbukti bagimu siapa yang berbohong dalam alasannya, dan siapa pula yang berkata benar (QS. Al-Tawbah : 43). Dalam ayat tersebut Allah mendahulukan penegasan bahwa beliau telah dimaafkan, baru kemudian disebutkan “kekeliruannya.” Teguran keras baru akan diberikan kepada beliau terhadap ucapan yang mengesankan bahwa beliau mengetahui secara pasti orang yang diampuni Allah, dan yang akan disiksa-Nya, maupun ketika beliau merasa dapat menetapkan siapa yang berhak disiksa. “Engkau tidak mempunyai sedikit urusan pun. (Apakah) Allah menerima tobat mereka atau menyiksa mereka (QS. Ali ‘Imran : 18).

Disadari sepenuhnya bahwa uraian tentang Nabi Muhammad SAW amat panjang, yang dapat diperoleh secara tersirat maupun tersurat dlm Al-Quran, maupun dari sunnah, riwayat, dan pandangan para pakar. Tidak mungkin seseorang dapat menjangkau dan menguraikan seluruhnya, karena itu sungguh tepat kesimpulan yang diberikan oleh penyair Al-Bushiri, “Batas pengetahuan tentang beliau, hanya bahwa beliau adalah seorang manusia, dan bahwa beliau adalah sebaik-baik makhluk Allah seluruhnya.” Allahumma Shalli wa Sallim ‘alaih.

(Artikel Lainnya di Bank Data Majalah, Online sejak 2 Mei 2002/19 Safar 1423 H)

http://www.fosmil.org/bankdata/majalah.html

http://www.fosmil.org/adzan/01.laputama/04.html

NABI MUHAMMAD DALAM KITAB MALAKHI

Didalam kitab Nabi Malakhi pasal 3:1:2 dinyatakan :”Bahwasanya Aku menyuruh utusanKu, yang menyediakan jalan dihadapan haderatKu, dan dengan segera akan datang , kepada ka’bahNya Tuhan, yang kamu rindukan itu. Bahwasanya ia akan datang, demikianlah firman Tuhan seru sekalian alam. Tetapi siapakah gerangan yang akan menderita di hari kedatangannya ? Dan siapa tahan berdiri apabila kelihatan oleh dia ? Karena dia akan seperti api pandai emas dan akan seperti sabun binara.”

“Akan datang seorang utusan,” yang seperti nyala api dan sabun binara. Kedatangannya dengan membawa anasir-anasir yang panas, keras seperti sabun binara. Ia tidak datang seperti Yesus yang lembut dan “sunyi senyapnya.” Iapun tidak bersikap selemah lembut Yesus, yang mengasuh ummat seperti seekor induk ayam mengumpulkan dan menaungi anak-anaknya. Alangkah penyabarnya Yesus ini. Tetapi akan orang yang datang sesudah Yesus itu ? Dengan panas seperti panasnya api pandai emas, juga ia membakar bumi Arabia bahkan sampai ke ujung Hispanola dengan seruan jihadnya yang sangat menggetarkan hati lawan lawannya : “Allahu Akbar.”

(sumber : MENGAPA SAYA MASUK AGAMA ISLAM dan MENGAPA SAYA MENGAKUI MUHAMMAD

SEBAGAI RASUL ALLAH S.W.T. oleh: ZULKARNAIN (Eddy Crayn Hendrik), Penerbit: C.V. “RAMADHANI” – Semarang, Penyiar: “AB. SITTI SYAMSIYAH” – Sala)

http://media.isnet.org/antar/Eddy/DalamMalakhi.html

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 022/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1427H/2006M


Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam Yang Ummi (Buta Huruf)

Mei 1, 2007

Tanya:

Adakah dalil bahwa Nabi Muhammad SAW tidak bisa membaca dan menulis ?

Jawab:

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.

Allah berfirman :”Orang-orang yang mengikuti Rasul, seorang nabi yang ummi yang mereka temukan (namanya) tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka kepada yang ma’ruf dan melarang mereka dari yang mungkar, yang menghalalkan bagi mereka semua yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan kepadanya. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Al-A’raaf: 157)

Al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat ini berkata :”Firman Allah pada al-ummi, berkata Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu : Nabi kalian Shalallahu ‘Alaihi Wassalam adalah buta huruf tidak bisa menulis dan membaca’. Allah berfirman :”Dan kamu (Muhammad) tidak pernah membaca satu kitab pun sebelumnya dan tidak pernah menulis satu kitab pun dengan tangan kananmu.” (Q.S. Al-Ankabuut: 48)”

Ibnu Katsir berkata ketika menafsirkan ayat yang terakhir ini :”Kemudian Allah berfirman : “Dan kamu tidak pernah membaca membaca satu kitab pun sebelumnya dan tidak pernah menulis dengan tangan kananmu”, artinya kamu telah tinggal di tengah kaummu, hai Muhammad, sebelum kamu datang dengan Qur’an ini, sedang kamu tidak bisa membaca kitab dan tidak dapat menulis, bahkan setiap orang dari kaummu dan selain mereka mengetahui bahwa kamu seorang yang buta huruf yang tidak bisa membaca dan menulis. Dan ini adalah sifat beliau yang tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu sebagaimana firman Allah :”Orang-orang yang mengikuti Rasul, seorang nabi yang ummi yang mereka temukan (namanya) tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka kepada yang ma’ruf dan melarang mereka dari yang mungkar”. Demikianlah keadaan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam selamanya sampai hari kiamat, tidak bisa menulis, baik satu baris atau pun satu huruf dengan tangannya. Bahkan, beliau mempunyai catatan yang ditulis oleh para shahabat berupa wahyu dan surat-surat ke beberapa negeri. Allah berfirman :”Dan kamu tidak pernah”, artinya tidak pernah membaca “Sebuah kitab pun sebelumnya.” Ini untuk menguatkan ketidak-pernahan tadi. “Dan tidak pernah menulis dengan tangan kananmu.” Inipun menguatkan juga. Dan firman Allah : “(Andai kamu bisa membaca dan menulis) pasti ragulah orang-orang yang mengingkarimu,” artinya kalau kamu bisa menulis pasti beberapa orang yang bodoh akan ragu, lalu akan berkata :”Kamu hanyalah mengetahui ini dari kitab-kitab sebelumnya yang diambil dari para nabi, padahal mereka mengetahui bahwa Nabi ini buta huruf, tidak bisa menulis, “Dan mereka berkata : ‘Ini adalah dongeng-dongeng masa lalu yang dituliskannya’.”

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Dialah yang telah mengutus seorang rasul dari kalangan mereka ke tengah ummat, yang ummi, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka tentang kitab dan hikmah padahal sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Jumu’ah : 2)

Al-Qurthubi berkata ketika menafsirkan ayat ini : “Al-Ummiyyun adalah orang-orang yang tidak bisa menulis. Demikianlah keadaan orang-orang Quraisy dulu. Manshur meriwayatkan dari Ibrahim, dia berkata :”Al-Ummiy adalah orang yang tidak bisa membaca dan menulis. “Seorang rasul dari mereka,” artinya Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia seorang ummi tidak bisa membaca dan menulis dan tidak pernah belajar.

Berkata Al-Marwadi : “Bila ditanyakan : apakah bentuk karunia dalam hal diutusnya seorang Nabi yang ummi ?”. Maka jawabnya adalah ada tiga bentuk, yakni :

Pertama : Untuk menunjukkan sesuainya keadaan dia dengan kabar dari nabi-nabi sebelumnya.

Kedua : Agar keadaannya sesuai dengan keadaan mereka (kaumnya) sehingga lebih memungkinkan diterima.

Ketiga : Untuk menghindari buruk sangka dalam mengajarkan apa-apa yang didakwahkannya berupa kitab yang dia baca dan hikmah-hikmah yang dia sampaikan.”

Menurut pendapatku (Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid), semua itu merupakan dalil mukjizatnya dan bukti kenabiannya. [kutipan ringkas dari Tafsir Al-Qurthubi].

 

(dari : Islam, Tanya & Jawab, oleh : Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid)

(www.islam-qa.com)-http://63.175.194.25/index.php?ln=ind&ds=qa&lv=browse&QR=1108&dgn=3

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 022/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1427H/2006M


NABI MUHAMMAD DALAM KITAB ORANG-ORANG KAFIR (bag.4)

Mei 1, 2007

Dalam pembicaraan yang telah lalu, hanya tersimpul dalam Taurat Musa, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, maka khusus mengenai Muhammad ini, terpaksa kami, akan membuka buku-buku suci yang lainnya pula, seperti kitab Weda, kitab suci ummat Hindu yang usianya sudah 2.500 tahun, sejak lahirnya Sang Sidharta Gautama (623 – 543 SM), bahkan mungkin lebih lama lagi. (Hindu usianya lebih tua daripada Budha, sedangkan Sidharta Gautama adalah pembawa agama Budha). Didalam kitab Weda konon ada tertulis: “Hai sekalian manusia, dengarkanlah berita penting ini. Nanti aku bangunkan seorang laki-laki yang terpuji diantara manusia.” Laki-laki terpuji dalam bahasa Arab disebut “Muhammad.”

Meskipun tafsiran ini mungkin benar, tetapi saya kira belum ada kekuatan sama sekali, sebab dalam masa 2.500 tahun itu telah banyak bermunculan laki-laki terpuji dan orang-orang popular seperti Selon, Zarahudza, Socrates, Aristoteles, Iskandar Zulkarnain, Yesus, Darius yang Agung, Napoleon, Hitler dan masih seribu nama lagi barangkali. Untuk kita mengetahui , “laki-laki terpuji yang mana yang dimaksudkan,” maka baiklah kini kita baca dalam kitab Beha Pesiyaporana (kitab Hindu) yang bunyinya :

“Pada masa itu datanglah seorang laki-laki dari tanah Arab namanya Akhmad bergelarkan Muhammad, dan dia akan mendapatkan penolong-penolong. Hai orang-orang Arab, hai tuan-tuan seluruh alam ini, kepada engkaulah taqdis (penghormatan)Ku yang suci. Hai orang-orang yang mengadakan beberapa jalan yang banyak untuk membinasakan sekalian syaithan, dan dunia ini, kepada engkaulah taqdisKu.”

Suatu keterangan berharga, yang sayangnya tetap tersembunyi, sebab adanya peraturan kasta-kasta, dimana yang berhak membaca Weda hanyalah kaum Brahmana saja, sedangkan bagi orang diluar Brahmana, sangat tabu, apalagi bagi kasta Paria dan Sudra, bila saja membaca Weda atau mendengarkan ayat-ayatnya sekalipun, dapatlah ia dihukum mati. Mereka, kaum Brahmana kuatir, kalau-kalau kasta lainnya diperbolehkan membaca Weda, akan jatuhlah martabat dirinya, bahkan mungkin akan pula terbuka beberapa ajaran-ajarannya yang salah.

(sumber : MENGAPA SAYA MASUK AGAMA ISLAM dan MENGAPA SAYA MENGAKUI MUHAMMAD SEBAGAI RASUL ALLAH S.W.T. – oleh: ZULKARNAIN (Eddy Crayn Hendrik), Penerbit: C.V. “RAMADHANI” – Semarang , Penyiar: “AB. SITTI SYAMSIYAH” – Sala
http://media.isnet.org/antar/Eddy/DalamHindu.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 022/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1427H/2006M


NABI MUHAMMAD DALAM KITAB ORANG-ORANG KAFIR (bag.3)

Mei 1, 2007

New Delhi, India.

Seorang professor bahasa dari ALAHABAD UNIVERSITY INDIA dalam salah satu buku terakhirnya berjudul “KALKY AUTAR” (Petunjuk Yang Maha Agung) yang baru diter bitkan memuat sebuah pernyataan yang sangat mengagetkan kalangan intelektual Hindu. Sang professor secara terbuka dan dengan alasan-alasan ilmiah, mengajak para penganut Hindu untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus mengimani risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw, karena menurutnya, sebenarnya Muhammad Rasulullah saw adalah sosok yang dinanti-nantikan sebagai sosok pembaharu spiritual.

Prof. WAID BARKASH (penulis buku) yang masih berstatus pendeta besar kaum Brahmana mengatakan bahwa ia telah menyerahkan hasil kajiannya kepada delapan pendeta besar kaum Hindu dan mereka semuanya menyetujui kesimpulan dan ajakan yang telah dinyatakan di dalam buku. Semua kriteria yang disebutkan dalam buku suci kaum Hindu (Wedha) tentang ciri-ciri “KALKY AUTAR” sama persis dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh Rasulullah Saw. Dalam ajaran Hindu disebutkan mengenai ciri KALKY AUTAR diantaranya, bahwa dia akan dilahirkan di jazirah, bapaknya bernama SYANUYIHKAT dan ibunya bernama SUMANEB. Dalam bahasa sansekerta kata SYANUYIHKAT adalah paduan dua kata yaitu SYANU artinya ALLAH sedangkan YAHKAT artinya anak laki atau hamba yang dalam bahasa Arab disebut ABDUN. Dengan demikian kata SYANUYIHKAT artinya “ABDULLAH”. Demikian juga kata SUMANEB yang dalam bahasa sansekerta artinya AMANA atau AMAAN yang terjemahan bahasa Arabnya “AMINAH”. Sementara semua orang tahu bahwa nama bapak Rasulullah Saw adalah ABDULLAH dan nama ibunya AMINAH.

Dalam kitab Wedha juga disebutkan bahwa Tuhan akan mengirim utusan-Nya kedalam sebuah goa untuk mengajarkan KALKY AUTAR (Petunjuk Yang Maha Agung). Cerita yang disebut dalam kitab Wedha ini mengingatkan akan kejadian di Gua Hira saat Rasu lullah didatangi malaikat Jibril untuk mengajarkan kepadanya wahyu tentang Islam. Bukti lain yang dikemukakan oleh Prof Barkash bahwa kitab Wedha juga men ceritakan bahwa Tuhan akan memberikan Kalky Autar seekor kuda yang larinya sangat cepat yang membawa kalky Autar mengelilingi tujuh lapis langit. Ini merupakan isyarat langsung kejadian Isra’ Mi’raj dimana Rasullah mengendarai Buroq

[Dikutip buletin Aktualita Dunia Islam no 58/II Pekan III/februari 1998. Lihat: Pundit verifies Messenger was foretold]
http://van.9f.com/nabi_hindu.htm

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 022/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1427H/2006M


NABI MUHAMMAD DALAM KITAB ORANG-ORANG KAFIR (bag.2)

Mei 1, 2007

 

NABI MUHAMMAD DALAM KITAB ORANG PARSI

 

Selainnya dari Weda, nama Muhammad dapat pula kita jumpai dalam kitab orang Parsi. Kita baca umpamanya dalam Kitab Datasir 14, berkatalah Susan, Nabi orang Parsi :”Apabila orang-orang Parsi sudah terjerumus dalam budi pekerti yang begitu rendah,”‘maka seorang akan lahir ditanah Arab” yang pengikut-pengikutnya membalikkan takhta kerajaan agama dan segala barang mereka itu. Seseorang yang berkepala batu yang amat berkuasa di Parsi akan dihalaukan. Rumah yang didirikan itu, dimana berhala-berhala banyak terdapat disitu akan disucikan daripada berhala-berhala itu, dan banyak orang-orang akan menjalankan shalatnya dengan menghadap mukanya ke ka’bah. Pengikut-pengikutnya akan menawan kota-kota Persi, Taush dan Bulhuh serta lain-lain tempat besar sekelilingnya. Rakyat akan kacau menjadi satu, dan orang pandai-pandai di tanah Persi akan menggabungkan diri dengannya.”

Alangkah tepatnya nubuatan ini, yang digenapi pada tahun 17 Hijrah atau Mei 638M didalam pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab pasukan-pasukan Islam menyerbu ke Persia, dan gugurlah takhta kerajaan orang Persi. Rajanya yg kejam melarikan diri ke Asyria meminta suaka. Hal ini tepat 29 tahun sesudah kedatangan Nabi Mu hammad SAW. Heran, heran benar saya jadinya kalau Kraemer, doctor orientalis barat menuliskan keadaan Muhammad sebagai “seorang yg kurang Ilmu”, “pawang unta” , “Muhammad yang tidak pernah melihat Qur’an yang sekarang ini.” (Apakah Yesus dan Paulus juga sudah melihat Injil yang seperti sekarang ini Doctor ???). Yang kemudian, oleh pengikut-pengikutnya dikhayalkan Muhammad pernah naik ke surga. Atau pada ucapan “Qur’an adalah hanya karangan Muhammad yang dipaksakan kepada pengikut-pengikutnya, berisi jiplakan Perjanjian Lama yang bersifat sajak yang kadang sangat pelong bunyinya dan dibuat-buatnya saja” (supaya lebih memuaskan, bagaimana dan sampai dimana penilaian Dr.Kraemer, baiklah dibaca saja buku “Agama Islam” karangan Dr.Kraemer, yang diterbitkan oleh BPK Kwitang 22 Jakarta terbitan tahun 1953).

 

NABI MUHAMMAD DALAM KITAB NABI YESAYA

 

Kitab Nabi Yesaya pasal 41 ayat 1-4 bunyinya :

1. Berdiam dirilah kamu hai sekalian pulau, hendaklah segala bangsa memperbaharui kuat dan kuasanya, serta datang kemari, hendaklah mereka itu memutuskan hukum. Kami hendak bersama-sama datang hampir akan berhukum.

2. Siapa gerangan yang, sudah membangkitkan Dia dari musyrik dan bertemu dengan segala kebenaran pada segala langkahnya ? Siapa Dia, yang menyerahkan segala orang-orang kafir di hadapan haderatnya dan akan memberikan kuasa atas segala raja-raja dan menyerahkan mereka seperti duli dan kepada busurnya seperti jerami diterbangkan angin ?

3. Pada masa diusirnya mereka itu ? Dengan selamat juga ia terus kepada jalan yang belum pernah dilangkahinya,

4. Siapa gerangan sudah mengadakan dan membuat dia, sambil memanggil segala bangsa asal mulanya. Aku ini Tuhan yg pertama, maka Aku ini yg kemudian sama saja.

Didalam kutipan di atas, juga dijelaskan lagi, betapa nabi itu akan mengadakan peperangan dan akan mengalahkan orang orang dan raja-raja kafir sekalipun. Di dalam ayat ke-3 diceriterakan betapa Nabi itu harus, “Hijrah” ke tanah yang belum pernah dijejakinya, dengan selamat. Hal ini mengingatkan kita kepada “Hijrah Rasulullah” dari Mekkah ke Medinah dengan selamat. Ayat ke-2 menceriterakan bagaimana Muhammad mengalahkan raja-raja dan orang-orang kafir hanya sebagai duli yang diterbangkan angin, serta anakpanah-anakpanah lawan yang seolah-olah hanya jerami belaka, artinya tidak sampai melumpuhkan Muhammad dan tentaranya. Yesus belum pernah melakukan peperangan selama hidupnya. Sebab doktrin Yesus kita ke nal yaitu : Bila ditempeleng pipi kiri berikanlah pula pipi yang kanan, dan cin tailah sesamamu manusia, bahkan musuhmu juga. Dengan doktrin ini Yesus tidak mungkin akan mengadakan peperangan-peperangan dan serbuan, apalagi Yesus bukankah pernah mengatakan, bahwa kerajaannya bukanlah di dunia ini ? (Yahya 18: 36).

 

(sumber : MENGAPA SAYA MASUK AGAMA ISLAM dan MENGAPA SAYA MENGAKUI MUHAMMAD SEBAGAI RASUL ALLAH SWT, oleh : ZULKARNAIN (Eddy Crayn Hendrik), Penerbit: C.V. “RAMADHANI” – Semarang, Penyiar : “AB. SITTI SYAMSIYAH” – Sala)

 

http://media.isnet.org/antar/Eddy/DalamYesaya.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 022/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1427H/2006M


NABI MUHAMMAD DALAM KITAB ORANG-ORANG KAFIR (bag.1)

Mei 1, 2007

 

NABI MUHAMMAD DALAM PERJANJIAN LAMA

 

Didalam perjanjian lama, kita dapat pula menjumpai tentang Muhammad ini, misalnya dalam kitab Ulangan 18:18 yang bunyinya :”Maka pada masa itu berfirmanlah Allah kepadaku, benarlah perkataan mereka itu. Bahwa Aku akan menjadikan bagi mereka itu seorang Nabi diantara segala saudara-saudaranya yang seperti engkau ya Musa. dan Aku akan memberikan segala firmanKu dalam mulutnya dan iapun akan mengatakan segala yang Kusuruh akan dia.”

Dalam ayat ini dijelaskan akan kedatangan seorang Nabi yang sebesar Nabi Musa, yg datangnya dari antara saudara-saudara Nabi Musa. Allah sudah terlalu ‘kesal’ terhadap pembangkangan bangsa Israel. Itulah sebabnya Allah tidak lagi akan membangkitkan Nabi-nabinya dari keturunan Israel (Yahudi) tetapi dari pada saudara Israel, yaitu Arab. Ini kuat, sebab kalau ditarik garis keturunan yang lurus, maka Nabi Musa adalah keturunan Ishak, sedangkan Nabi Muhammad adalah keturunan Ismail. Ishak dan Ismail adalah dua bersaudara anak Ibrahim. Hal ini ditegaskan pula dalam kitab (Taurat Musa) Ulangan 33: 1-3, yang bunyinya :

1. Bermula, maka inilah berkat yang telah diberikan Musa khalil Allah pada Bani Israil dahulu daripada matinya.

2. Maka katanya :”Tuhan telah datang dari Thursina, dan telah terbit bagi mereka itu dari Seir. Kelihatanlah ia gemerlapan cahayanya dari gunung Paran, lalu datang hampir dengan Bukit Kades. Maka pada kanannya adalah tiang api bagi mereka itu.”

3. Bagaimana dikasihinya akan mereka itu, yaitu segala suku bangsa itu, segala kesuciannya dalam tangannya, dan mereka itu duduk dikakinya masing-masing akan mendapat perkataannya.

 

Didalam ayat 1 dijelaskan akan hikmah ini, suatu berkat, suatu kebahagiaan yang diberikan oleh Musa khalil Allah untuk Bani Israil. Ayat ke-2 membicarakan lebih jauh isi dari hikmah ini, yaitu tentang tiga tempat : Thursina, Seir dan Paran. Thursina adalah bukit dimana Nabi Musa a.s. mendapatkan dua log batu dan Tauratnya dari Allah, Seir menyebutkan suatu bukit ditanah Kanaan yg dalam hal ini menunjukkan dimana gerangan Nabi Isa a.s. akan lahir, yakni di Baitlahim, sedangkan tempat ketiga “Paran” namanya adalah menunjukkan di mana Nabi Muhammad akan lahir, sebab Paran itulah nama Mekkah yang asli. Pada tempat ketiga akan muncul seseorang. Siapakah dia ? Yaitu yang datang hampir atau mendekati Kades yang artinya Baitullah. Alangkah hebatnya tiang yang muncul dari Paran ini, yaitu Tiang Api, (suatu kesalahan lagi. Dalam Perjanjian Lama berbahasa Belanda di sebutkan bukan tiang api, tetapi Hukum Api (Vuurwet) suatu unsur yang sanggup dan akan dapat membinasakan unsur-unsur kimia apapun didepannya, apakah ia baja sekalipun. Jadi yang dimaksud dengan tiang atau hukum api, ialah sudah tentu munculnya suatu agama atau keyakinan yang sendi-sendinya sangat kuat, sebagaimana tiang api itupun kuat. Agama apakah yang muncul dari Paran ? Tidak ada duanya, selain agama Islam yang mempunyia 4 sendi yang kokoh yaitu Tauhid (Keesaan Tuhan), Ibadah (sembahyang dan puasa serta haji), Muamalah (cinta sesama manusia, sosialis yang merata), dan Akhlak (budi luhur manusia).

Ayat ke-3 selanjutnya menggambarkan betapa bangsa itu lalu dikasihi oleh Allah, serta berkenan menerima perkataan-perkataan dari Dia, yang muncul dari Mekkah (Paran) itu. Kesimpulan yang diperoleh dari seluruh tafsiran ini, ialah :”Dari Mekkah akan datang Nabi itu, yaitu Nabi Muhammad s.a.w.”

 

(sumber : MENGAPA SAYA MASUK AGAMA ISLAM dan MENGAPA SAYA MENGAKUI MUHAMMAD SEBAGAI RASUL ALLAH S.W.T., oleh: ZULKARNAIN (Eddy Crayn Hendrik), Penerbit: C.V. “RAMADHANI” – Semarang, Penyiar: “AB. SITTI SYAMSIYAH” – Sala)

 

http://media.isnet.org/antar/Eddy/DalamPL.html

 

Seandainya dia (Muhammad) mengada-ada berbagai perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar sudah Kami jatuhi hukuman berat, kemudian benar-benar Kami potong urat-urat jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat itu. (QS.Al Haqqah : 44-47)

 

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 022/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1427H/2006M