Sang Presenter Yang Terbuka Hatinya

Mei 16, 2007

 

“Aku menemukan bahwa Al-Quran sarat dengan hal-hal rasional. Dan pandangan lamaku tentang Islam berubah”

 

“Saya menemukan kenyataan bahwa Islam berpihak kepada perempuan dan laki-laki. Di dalam Islam perempuan telah memiliki hak untuk memilih pada tahun 600 Masehi. Perempuan dan laki-laki di dalam Islam berpakaian dengan cara yang sopan. Mereka pun tidak diperkenankan saling menggoda. Bahkan, kaum perempuannya diperintahkan untuk memanjangkan pakaian mereka.”

 

Kristiane Backer lahir dan tumbuh dewasa ditengah keluarga Protestan di Hamburg, Jerman. Pada usia 21 tahun, ia bergabung dengan Radio Hamburg sebagai wartawati radio. Dua tahun kemudian, ia terpilih sebagai presenter MTV Eropa diantara ribuan pelamar. Sebagai konsekuensi pekerjaannya, ia pun pindah ke London, Inggris.

 

“Begitu luar biasa. Pada usia 20-an, aku tinggal di Notting Hill. Sebagai gadis muda di kota yang sama sekali baru, aku diundang ke mana-mana, difoto banyak papparazi, dan bekerja sebagai presenter. Saat itu aku bertemu dengan banyak orang-orang terkenal. Aku merasakan kehidupan yang sangat menyenangkan. Rasa-rasanya hampir semua gaji yang aku terima habis untuk membeli baju dan pernak-pernik yang bagus dan trendy. Aku pun sering melakukan perjalanan ke seluruh tempat-tempat menarik di Eropa”, begitulah Kristiane menceritakan awal kehidupannya sebagai selebritis muda.

 

Sekali waktu, Kristiane pergi ke Boston mewawancari Rolling Stone dan mengikuti tur-tur besar para artis terkenal. Kristiane bahkan dinobatkan sebagai presenter perempuan nomor satu di MTV sehingga selalu muncul di layar kaca. Kristiane juga pernah menjadi presenter untuk acara Coca-Cola Report dan Europe Top 20. Boleh dibilang, jika ada kelompok musik baru, maka Kristiane-lah orang pertama yang mewawancarai mereka. Jutaan orang di Eropa pun mengenal gaya Kristiane dengan seksama dan banyak acara besar dengan penonton sebanyak 70.000 penonton sering ia bawakan.

 

Di tengah kehidupan glamornya, ia mengalami keguncangan spiritual. Kemudian di tahun 1992, Backer bertemu dengan Imran Khan atau memang ditakdirkan oleh Allah SWT demikian. Imran Khan adalah anggota tim kriket Pakistan. Pertemuan itu adalah pertemuan pertama kali antara Backer dengan seorang bintang yang beragama Islam. Backer dan Khan yang sama-sama mendalami Islam, selalu berdiskusi tentang Islam. Khan selalu memberikan buku-buku tentang Islam kepada Backer dan dengan penuh semangat pula Backer mengkajinya.

 

“Aku menemukan bahwa Al-Quran sarat dengan hal-hal rasional. Dan pandangan lamaku tentang Islam berubah. Karena apa yang kupelajari berbeda dengan anggapan orang-orang di sekitarku. Bahkan ketika aku mengkaji masalah perempuan dalam Islam, aku menemukan bahwa Islam menjunjung tinggi hak-hak wanita yang sekarang tengah diperjuangkan di seluruh dunia. Akan tetapi Islam telah menjunjung tinggi hak-hak wanita sejak ratusan tahun yang lalu. Perempuan dan laki-laki berpakaian dan bertingkah dengan cara yang sopan”, jelas Backer.

 

Backer menceritakan bahwa sejak mengenal Islam dan membaca terjemahan Al-Quran, ia tak lagi menggunakan rok pendek dan pakaian yang buka-bukaan. Ia mulai mengenakan pakaian longgar dan panjang jika tampil di televisi. Ia dengan tegas mengatakan bahwa wanita yang membeberkan tubuhnya di depan publik adalah melecehkan seluruh wanita di muka bumi ini.

 

Akhirnya, Backer menerima Islam dengan lapang dada dan sukacita. Setelah mengucap syahadat, perlahan ia mempelajari shalat lima waktu dan berpuasa ramadhan. “Dulu aku sering sekali minum campagne di pesta-pesta malam, kini saya tidak lagi menyentuh minuman seperti itu”, kisahnya.

 

Pada tahun 2001, Backer pergi menunaikan ibadah haji. Ia begitu terkesan dengan perjalanan ibadah haji. Ia menceritakan bahwa ia sedang di puncak karirnya pada saat itu. Akan tetapi ia memilih mengundurkan diri dari dunia gemerlap selebritis yang merusak jiwa dan batinnya, “Aku sudah tak sanggup lagi meneruskannya”, ujarnya mengenai pekerjaannya sebagai presenter kondang MTV.

 

Secara total dunia showbiz ia tinggalkan. Dan Backer pun mencoba untuk menekuni bidang lain. Ia kuliah di Westminter University dan mempelajari pengobatan alami, termasuk herbal, aromatherapy, quigong (obat Cina), sari bunga dan homeopathy.

“Kuliah-kuliah seperti itu membuka dunia baru bagi saya, yaitu cara baru untuk melihat hubungan antara manusia, alam dan kesehatan dengan penyakit dan juga hubungan dengan alam semesta. Seluruh penyakit ada obatnya, dan alam menyediakan ini semua”, papar Backer.

 

Kini Backer memiliki klinik Homeopathis sendiri di Jerman. Ia pun terlibat dalam proyek pengembangan berbagai jenis kosmetika alami dan makanan tambahan (suplemen) yang memanfaatkan obat-obatan tradisional dan berbagai jenis minyak dari tumbuhan eksotik yang ditemukan di negara-negara Arab.

Tak hanya itu ia juga mengkaji masalah agama, terutama sosial budaya, pengobatan Islami dan sosial politik Islam di Birkbeck University. Dengan begini Backer banyak terlibat dalam kegiatan sosial dan keorganisasian. Bahkan di tahun 1998, ia sukses mengorganisasikan dan mengkoordinasikan Art Exhibition and Concert yang bekerja sama dengan Duta Besar Bosnia untuk PBB, Muhammad Sacirbey. Dimana kegiatan itu dilakukan dalam rangka menyambut kedatangan presiden Bosnia Herzegovina sebagai bagian dari Bridge Project yang dimaksudkan bagi penyatuan tiga fraksi yang berbeda di tengah masyarakat Bosnia.

Backer pun aktif sebagai anggota eksekutif organisasi sosial Learning for Life. Pada tahun 2001, organisasi itu menyelenggarakan pengumpulan dana bagi penguasa Afghanistan dan ia menjadi pemandu acaranya. Backer beberapa kali mengunjungi Pakistan bersama teman-temannya dan mengamati cara hidup dan sistem nilai yang sangat berbeda dengan Barat. Ia sadar bahwa meskipun hidup miskin, ternyata masyarakat Pakistan sangat hangat dan ramah.

Kunjungannya beberapa kali ke Pakistan, bersama suaminya Imran Khan, membuat Backer merasa tersentuh dengan gaya Islam Pakistan dalam berpakaian. Seabreg pakaian panjang ala baratnya segera diganti dengan pakaian ala pakistan dan kerudung pakistannya. Bukan hanya karena agama atau suaminya yang membuat ia nyaman dengan pakaian yang tertutup. “Aku merasakan kenyamanan dengan pakaian seperti ini”, jelasnya.

 

Inilah yang membedakan antara kehidupan Barat dengan Islam. Bahwa dua peradaban ini tidak mungkin bersatu untuk kemudian membentuk peradaban yang normal. Gaya Barat akan mengikis ke-Islaman diri kita. Dan Backer pun membuktikan bahwa Dunia Barat tidak akan mampu memuaskan jiwa kita. Backer yang telah hidup sekian waktu dalam lubang budaya Barat, menjadi sadar dan memberitahukan kepada kita, “Bahwa tak satu pun dari mereka merasakan kebahagiaan. Aku adalah buktinya. Senyum yang mengembang tidak mampu seindah senyum seorang Pakistan yang hidupnya jauh lebih miskin”, jelas Backer.

Backer kini melanjutkan karirnya sebagai pemandu banyak acara sosial yang disiarkan di televisi di Eropa. Selain berbahasa Jerman, ia mampu berbahasa Inggris, Italia dan Perancis. Di dalam Islamlah Backer menemukan makna hidup yang sebenarnya, “Sungguh ini merupakan karunia terbesar yang pernah saya dapatkan.”

Semoga Kristiane Backer tetap kukuh mempertahankan aqidah Islam.

 

[NA/ berbagai sumber]

http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=355_0_4_0_m

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 020/th.02/Dzulhijjah-Muharram/1426H/2006M

Iklan

Perempuan Terbaik

April 11, 2007

Wahai bunda, hanya Tuhan saja yang dapat membalas jasamu karena Tuhan saja yang tahu penderitaanmu (Nasyid dari Nowseeheart)

Saat itu saya masih empat belas tahun. Untuk pertama kalinya, saya harus berpisah ‘jauh’ dengannya, perempuan terbaik yang pernah saya kenal. Tat kala tangan-tangan itu melambai, rasa bersalah berdentum-dentum di rongga dada. “Ahhh…kenapa saya tega meninggalkannya sejauh itu. Belum terbayang, kapan lagi saya akan kembali bertemu dengannya”. Sebelum perpisahan jarak jauh itu, jarang sekali bunda memberi izin, bila saya minta izin bepergian. Suatu ketika, saya pamit untuk pergi camping, mengikuti kemah pramuka Sabtu-Minggu di dekat gua stalagnit di kampung kami. Untuk pamitan dua hari itu pun, izinnya didapat dengan alot sekali. “Hati-hati ya nak…jangan merusak alam, jangan berbuat macam-macam hati-hati…jangan…”. Berkali-kali nasehat itu diperdengarkan, risau sekali beliau akan keselamatan puteranya. Padahal, namanya juga acara anak SMP, camping perkemahan Sabtu-Minggu itu di back-up puluhan guru pembina. Jumlah guru yang menyertai camping hampir sama banyak dengan jumlah murid, sebagai bukti keseriusan pihak sekolah untuk menjamin keselamatan kami. Tapi, namanya bunda, ia tetap saja penuh kekhawatiran pada keselamatan anaknya. Raut wajahnya tampak sangat mencemaskan puteranya yang berkeras untuk tetap pergi.

Tak lama berselang setelah perpisahan ‘Sabtu-Minggu’ itu, perpisahan ‘jauh’ benar-benar terjadi. Kali itu bukan camping di pinggir kecamatan. Tapi saya harus terbang menyeberangi lautan. Untuk melanjutkan studi ke sekolah dambaan. Tak terbayangkan bagaimana perasaan bunda melepas bocah kecilnya sejauh itu. Satu tahun berselang, di sebuah libur panjang sekolah, saya kembali bertemu bunda. Sejuk wajahnya dan binar ketulusannya masih sama. Pehatian dan kasih sayangnya pun belum berubah. Cuma mungkin penampilannya sedikit berubah. Kilau perak mulai terselip di rambutnya.Sejak saat itu, dengan dalih cita-cita, berulang kali saya meninggalkannya. Berulang kali beliau harus membekap kerinduan, memasung rasa kasih pada buah hatinya. Pada saat saya tergelak tertawa dengan konco sekodan, mungkin bunda sedang tenggelam dalam isak tangis kerinduannya. Saya sendiri, bukan tidak rindu padanya, warung bubur kacang ijo gang Masjid mungkin pelampiasan paling manjur, kalau rasa kangen padanya sedang meradang. Maklum setiap libur sekolah bunda selalu setia menanti dengan bubur ijo kesukaan puteranya. Jauh hari sebelum puteranya datang, berkilo-kilo kacang ijo sudah dipesannya untuk putera tersayang, yang belum jelas tanggal kedatangannya. Saat melihat ibu-ibu lanjut usia yang berjalan sendiri di keramaian pasar, ingin rasanya menyapa mereka, mengajak bersenda-gurau, sambil berharap bunda juga diperlakukan ramah pula oleh lingkungannya. Kala menjumpai nenek yang beringsut membawa belanjaannya, terketuk keinginan untuk menawarkan bantuan, karena terbayang wajah bunda yang tertatih-tatih dengan bebannya. Jika sudah mengkhayal begini, pertanda kerinduan padanya telah mengkristal. Cuma doa yang mampu dirangkum saat itu, semoga Allah Yang Menguasai langit dan bumi, menjaga dan menyayangi bunda. Bila melihat pertikaian di tengah kampung kami, berbincang dengan bunda adalah solusi terbaik. “Jangan pikirkan apa perlakuan orang yang mendzalimi kita, pikir saja kekhilafan kita, coba memperbaiki diri, jangan menghiraukan kata-kata sampah yang datang dari kaum jahil, persekongkolan para pendengki itu sudah jelas sejak perang Khandaq. Belajarlah untuk menjadi hamba yang tulus, yang tak terganggu dengan perlakuan manusia, tapi niat karena-Nya harus benar, jangan pernah berharap pada makhluk.” Plong !. Kepala yang tadinya cekot-cekot sepulang meli hat perseteruan di balai desa langsung terobati.

Berbicara tentang ketulusan, ketulusan seorang ibu mungkin nomor satu. Saat bayi lemah tanpa gelar kesarjanaan itu lahir, dengan penuh khidmat, kasih sayangnya mengalir lancar tanpa pamrih. Menabur benih kebaikan kepada makhluk yang ‘bukan siapa-siapa’ memang aneh di era kapitalisme ini. Tapi itulah bunda, yang tak pernah berharap apa yang akan didapatnya dengan membesarkan kami.

Memperoleh senyum manis kerabat saat kenduri tetangga mungkin sudah lumrah, tapi mendapatkan perhatian penuh kasih bunda saat demam meradang menjelang subuh, itu baru luar biasa. Dari Abu Hurairah RA berkata : Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku ?”. Beliau menjawab, “Ibumu.” Tanyanya lagi, “Kemudian siapa ?”. Beliau menjawab, “Ibumu.” Tanyanya lagi, “Kemudian siapa ?”. Beliau menjawab, “Ibumu”. Kemudian tanyanya lagi, “Kemudian siapa ?”. Beliau mejawab, “Bapakmu.” (Muttafaq ‘alaih).***

http://muslimdelft.nl/kolom/atas_nama_cinta/perempuan_terbaik.php

Menikah Dengan Bekas Pezina

Pertanyaan sdr.Achmad :

”Assalamu ‘alaikum wr wb. Sehubungan dengan An Nuur ayat 3, apakah dibolehkan seseorang yang tidak pernah berzina menikahi laki-laki/perempuan yang sering berzina dimasa lalunya (sekarang sudah bertaubat). Saya ambil contoh secara ekstrim, ada seorang laki-laki beriman ingin menikahi mantan pelacur (sudah bertaubat tapi belum berpakaian secara syar’i), apakah hal itu diperbolehkan ? Atau sebaiknya laki-laki itu mencari yang lebih baik ?.

Jazakumullahu khoiron”.

Dijawab Oleh Ust. Abu Ukasyah Aris Munandar :

”Ibnu Katsir mengatakan “dari ayat ini (An-nur: 3), Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa akad nikah antara laki-laki yang menjaga kehormatan dan pelacur itu tidak sah selama dia (perempuan tersebut – red) masih melacur dan belum bertaubat. Jika perempuan tersebut sudah bertaubat maka akad nikah sah, dan sebaliknya jika belum bertaubat maka tidak sah. Demikian juga akad nikah wanita merdeka yang menjaga kehormatan dengan laki-laki hidung belang itu tidak sah, kecuali jika orang tersebut (laki-laki tersebut – red) sudah bertaubat dengan benar” (Tafsir Ibnu Katsir 3/352). Disamping itu, laki-laki tersebut harus bisa menjaga lisan agar jangan sampai mengungkit-ungkit masa lalu isterinya saat terjadi pertengkaran. Meskipun demikian, mencari yang lebih baik itu jelas lebih baik ditinjau dari banyak sisi.http://muslim.or.id/?p=168

Pernikahan Masa Jahiliyah

(oleh : Dr. M. Quraish Shihab, M.A., sumber : WAWASAN ALQURAN- Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat)

“Imam Bukhari meriwayatkan melalui istri Nabi, Aisyah, bahwa pada masa Jahiliah, dikenal empat macam pernikahan. Pertama, pernikahan sebagaimana berlaku kini, dimulai dengan pinangan kepada orang tua atau wali, membayar mahar dan menikah. Kedua, adalah seorang suami yang memerintahkan kepada istrinya apabila telah suci dari haid untuk menikah (berhubungan suami istri) dengan lelaki lain, dan bila ia telah hamil, maka ia kembali untuk digauli suaminya; ini dilakukan guna mendapat keturunan yang baik. Ketiga, sekelompok lelaki kurang dari sepuluh orang, kesemuanya menggauli seorang wanita, dan bila ia hamil kemudian melahirkan, ia memanggil seluruh anggota kelompok tersebut –tidak boleh ada yang absen– kemudian ia menunjuk salah seorang yang dikehendakinya untuk dinisbahkan kepadanya nama anak itu, dan yang bersangkutan tidak boleh mengelak. Keempat, hubungan suami istri yang dilakukan oleh wanita tunasusila, yang memasang bendera atau tanda di pintu-pintu kediaman mereka dan “bercampur” dengan siapa pun yang suka kepadanya. Kemudian Islam datang melarang cara perkawinan tersebut kecuali cara yang pertama.”

http://www.ukhuwah.or.id/artikel/t_artikel.phtml?id=195&kategori=sejarah

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 020/th.02/Dzulhijjah-Muharram/1426H/2006M


Do’a Seorang Ibu

April 11, 2007

Doa seorang ibu sungguh mustajab. Baik doa kebaikan ataupun doa buruk. Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan suatu kisah menarik berkaitan dengan doa ibu. Suatu kisah yang terjadi pada masa sebelum Rasulullah, yang mana patut diambil sebagai ibroh bagi orang-orang yang beriman.

Dahulu, ada tiga orang bayi yang bisa berbicara. Salah satunya adalah seorang bayi yang hidup pada masa Juraij. Juraij adalah seorang ahli ibadah, dia memiliki sebuah tempat ibadah yang sekaligus jadi tempat tinggalnya. Suatu ketika Juraij sedang melaksanakan sholat, tiba-tiba ibunya datang memanggilnya :”Wahai Juraij”. Dalam hatinya, Juraij bergumam :”Wahai Robbku, apakah yang harus aku dahulukan ? meneruskan sholatku ataukah memenuhi panggilan ibuku ?”. Dalam kebimbangan, dia tetap meneruskan sholatnya. Akhirnya sang ibu pulang. Esok harinya, sang ibu datang lagi dan memanggil :”Wahai Juraij !”. Juraij yang saat itu pun sedang sholat bergumam dalam hatinya :”Wahai Robbku, apakah aku harus meneruskan sholatku…atau (memenuhi) panggilan ibuku ?”. Tetapi dia tetap meneruskan sholatnya. Sang ibu kembali pulang untuk kedua kalinya. Ketiga kalinya, ibunya datang lagi seraya memanggil :”Wahai Juraij !”. Lagi-lagi Juraij sedang menjalankan sholat. Dalam hatinya, ia bergumam :”Wahai Robbku, haruskah aku memilih meneruskan sholatku ataukah memenuhi panggilan ibuku ?”. Tetapi dia tetap meneruskan sholatnya. Akhirnya, dengan kecewa setelah tiga kali panggilannya tidak mendapat sahutan dari anaknya, sang ibu berdoa :”Ya Allah, janganlah engkau matikan Juraij hingga dia melihat wajah wanita pelacur”.

Orang-orang bani Israil (ketika itu) sering menyebut-nyebut nama Juraij serta ketekunan ibadahnya, sehingga ada seorang wanita pelacur berparas cantik mengatakan :”Jika kalian mau, aku akan menggodanya (Juraij)”. Wanita pelacur itupun kemudian merayu dan menawarkan diri kepada Juraij. Tetapi sedikitpun Juraij tak memperdulikannya. Namun apa yang kemudian dilakukan oleh wanita itu ?. Ia mendatangi seseorang yang tengah menggembala di sekitar tempat ibadah Juraij. Lalu demi terlaksananya tipu muslihat, wanitu itu kemudian merayunya. Maka terjadilah perzinahan antara dia dengan penggembala itu. Hingga akhirnya wanita itu hamil.

Dan manakala bayinya telah lahir, dia membuat pengakuan palsu dengan berkata kepada orang-orang :”Bayi ini adalah anak Juraij”. Mendengar hal itu, masyarakat percaya dan beramai-ramai mendatangi tempat ibadah Juraij, memaksanya turun, merusak tempat ibadahnya dan memukulinya. Juraij yg tidak tahu masalahnya bertanya dgn heran :”Ada apa dengan kalian ?”. “Kamu telah berzina dengan wanita pelacur lalu dia sekarang melahirkan anakmu”, jawab mereka. Maka, tahulah Juraij bahwa ini adalah makar wanita lacur itu. Lantas bertanya :”Dimana bayinya ?”. Merekapun membawa bayinya. Juraij berkata : “Biarkan saya melakukan sholat dulu”, kemudian dia berdiri sholat. Seusai menunaikan sholat, dia menghampiri si bayi lalu mencubit perutnya seraya bertanya : “Wahai bayi, siapakah ayahmu ?”. Si bayi menjawab :”Ayahku adalah si fulan, seorang penggembala”. Seketika masyarakat bergegas menghampiri Juraij, mencium dan mengusapnya. Mereka minta maaf dan berkata :”Kami akan membangun tempat ibadahmu dari emas”. Juraij mengatakan :”Tidak, bangun saja seperti semula yaitu dari tanah Hat”. Lalu merekapun mengerjakannya.

Hikmah yang bisa dipetik dari kisah ini :

1. Wajibnya mendahulukan birrul walidain daripada perkara-perkara sunnah, seperti sholat (sunnah) dan sejenisnya.

2. Doa ibu adalah mustajab (terkabulkan).

3. Fitnah terbesar yang menimpa suatu umat adalah fitnah wanita.

4. Fitnah tidaklah membahayakan bagi orang yang beriman.

5. Apapun problematika yang menimpa, solusinya adalah memohon pertolongan kepada Allah SWT saja dengan sholat dan doa.

(Disarikan dari : Bahjatun Nadhirin (1/345-347) karya Syaikh Salim Al-Hilali cet. Darr Ibnu Jauzy)

http://vbaitullah.or.id/index.php?option=content&task=view&id=524&Itemid=43

note : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu terdekat” (QS.26 : 214)“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman” (QS.51 : 55)

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 020/th.02/Dzulhijjah-Muharram/1426H/2006M


Berbakti Kepada Ibu

April 11, 2007

Dari Muhammad bin Sirin diriwayatkan bahwa ia berkata :”Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, harga pokok kurma mencapai seribu dirham. Maka Usamah 1) mengambil dan menebang sebatang pokok kurma dan mencabut umbutnya, yakni bagian di ujung pangkal kurma berwarna putih, berlemak berbentuk seperti punuk unta, biasa dimakan bersama madu) lalu diberikannya kepada ibunya untuk dimakan. Orang-orang bertanya :”Apa yang menyebabkan engkau melakukan hal itu ? padahal engkau tahu bahwa pokok kurma kini harganya mencapai seribu dirham ?”. Beliau menjawab : ”Ibuku menghendakinya. Setiap ibuku menginginkan sesuatu yang mampu kudapatkan, aku pasti memberikannya” . Dari Abdullah bin Al-MUbarak diriwayatkan bahwa ia berkata :”Muhammad bin Al-Munkadir pernah berkata :”Umar (yakni saudaranya) suatu malam melakukan shalat, sementara aku memijit-mijit kaki ibuku. Aku tidak ingin kalau malamku kugunakan seperti malamnya” . Dari Ibnu Aun diriwayatkan bahwa ia berkata :”Seorang lelaki datang menemui Muhammad bin Sirin dirumah ibunya, ia bertanya :”Bagaimana keadaan Muhammad di rumah ini ? Apakah ia mengeluhkan sesuatu ?”. Orang-orang disitu menjwab :”Tidak sama sekali !. Demikianlah keadaannya bila berada dirumah ibunya”Dari Hisyam bin Hissan, dari Hafsah binti Sirin diriwayatkan bahwa ia berkata : ”Muhammad, apabila menemui ibunya, tidak pernah berbicara dengannya, dengan mengumbar omongan, demi menghormati ibunya tersebut”. Dari Ibnu Aun diriwayatkan bahwa ia berkata :”Suatu hari ibunya memanggil beliau, namun beliau menyambut panggilan itu dengan suara yang lebih keras dari suara ibunya. Maka beliau segera membebaskan dua orang budak”. Dari Hisyam bin Hasan diriwayatkan bahwa ia berkata :”Hudzail bin Hafshah biasa mengumpulkan kayu bakar pada musim panas untuk dikuliti. Ia juga mengambil bambu dan membelahnya. Hafshah (ibunya) berkata :”Aku tinggal mendapatkan enaknya saja. Dan bila datang musim dingin, dia membawakan tungku dan meletakkannya di belakang punggungku, sementara aku sendiri berdiam di tempat shalatku. Kemudian dia duduk, membakar kayu bakar yang sudah dikupas kulitnya berikut bambu sehingga telah dibelah-belah untuk dijadikan bahan bakar sehingga asapnya tidak mengganggu, tetapi bisa menghangatkan tubuhku.Demikianlah waktu berlaku menurut kehendak Allah” Hafshah melanjutkan :”Sebenarnya ada yang bersedia mencukupi kebutuhannya, kalau dia mau.” Ia melanjutkan lagi :”Dan kadangkala aku ingin mendatanginya, lalu kukatakan kepada anakku itu :”Wahai anakku, kamu bisa pulang dulu kerumah istrimu” Setelah itu aku memberitahukan kepada anakku itu apa yang menjadi kebutuhannya, lalu aku membiarkannya”. Hafshah melanjutkan kisahnya : ”Ketika anakku itu menjelang wafatnya, Allah memberikan kepadanya kesabaran yang begitu tinggi, hanya saja aku merasakan suatu ganjalan yang tidak bisa hilang”. Ia melanjutkan :”Suatu malam aku membaca ayat dalam surat An-Nahl berikut :”Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Apa yang dari sisimu akan lenyap, dan apa yang ada disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (An-Nahl:95-96). Aku terus mengulang-ulang ayat tersebut, hingga Allah menghilangkan kegundahan dalam hatiku”. Hisyam berkata :”Beliau memiliki unta bersusu banyak dan segar. Hafshah mengisahkan:”Dia pernah mengirimkan kepadaku susu perasan disuatu pagi. Aku berkata :” Hai, anakku, kamu tentu tahu bahwa aku sedang tidak bisa meminumnya, aku sedang puasa”. Dia menanggapi ucapanku :”Wahai Ummu Hudzail, sesungguhnya susu yang paling bagus adalah yang sempat bermalam di tetek unta. Kalau engkau mau, silahkan beri orang yang kamu suka”

1) Beliau adalah Usamah bin Zaid bin Haritsah, orang kesayangan Nabi kita SAW, dan juga anak dari orang kesayangan beliau. Ibu beliau adalah Ummu Aiman, orang yang merawat Rasulullah dimasa kecilnya.

(Dikutip dari : Panduan Akhlak Salaf, hal:143-145, Abdul Aziz Nashir Al-Jalil, At-Tibyan, Solo,September 2000)

http://jilbab.vbaitullah.or.id/contents.php?id=110

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 020/th.02/Dzulhijjah-Muharram/1426H/2006M


BALASAN SURGA BAGI PARA WANITA

April 11, 2007

Keadaan wanita yang meninggal di dunia ini antara lain sbb :

1. Wanita meninggal sebelum sempat menikah.

2. Wanita meninggal setelah diceraikan suami, dan belum sempat menikah lagi.

3. Wanita meninggal setelah menikah. (akan tetapi suaminya tidak bersamanya di surga, semoga Allah SWT melindungi kita dari hal ini).

4. Wanita meninggal setelah suaminya meninggal.

5. Suaminya meninggal dan dia tetap tidak bersuami lagi hingga meninggal.

6. Suaminya meninggal kemudian dia meninggal setelah dinikahi suami baru.

Keadaan di atas masing-masing kelak akan mempunyai balasan tersendiri saat mereka di surga, yakni sebagai berikut :

*. Wanita yang meninggal sebelum sempat menikah, maka Allah SWT akan menikahkan mereka di surga dengan seorang laki-laki dari penduduk dunia, ini berdasarkan sabda Rasulullah saw : ” Di surga tidaklah ada orang yang membujang (tidak memiliki pasangan)” (HR.Muslim). Syeikh Ibn ‘Utsaimin berkata :”Apabila seseorang belum menikah, yaitu seorang wanita di dunia ini, maka sesungguhnya Allah SWT akan menikahkan dengan laki-laki yang ia sukai di surga. Karena kenikmatan surga tidaklah hanya khusus untuk laki-laki saja, akan tetapi semuanya, laki-laki dan wanita termasuk bentuk kenikmatan (surga) adalah perkawinan.”(Al-Majmu’ al-Tsamin, 1/175). Dan juga seperti mereka yang meninggal setelah diceraikan.

*. Wanita yang suaminya tidak masuk surga. Syeikh Ibn ‘Utsaimin berkata : “Seorang apabila termasuk ahli surga dan belum menikah atau suaminya tidak termasuk ahli surga, maka sesungguhnya bila ia masuk surga, di sana akan ada laki-laki ahli surga yang akan memperisterinya.” (Al-Majmu’ al-Tsamin, 1/173) Maksudnya akan menikah dengan salah seorang dari mereka.

*. Wanita yang meninggal setelah sempat menikah, maka saat di surga ia untuk suaminya yang dahulu.

*. Wanita yang suaminya meninggal kemudian tetap tidak menikah setelah kematian suaminya hingga ia pun meninggal, maka ia akan tetap menjadi isterinya di surga.

*. Wanita yang suaminya meninggal dan kemudian menikah dengan laki-laki lain, maka ia untuk suami yang paling terakhir, walaupun sempat menikah berkali-kali, berdasarkan sabda Rasulullah saw :”Wanita adalah untuk suami terakhirnya.” (Silsilah al-Ahadits al-Shahihah li al-Albani, 1281). Dan berdasarkan perkataan Hudzaifah ra. kepada isterinya: “Jika kamu tetap ingin menjadi isteriku di surga, maka janganlah menikah dengan siapapun sepeninggalku. Sesungguhnya wanita saat di surga adalah untuk suami terakhirnya di dunia karena itulah Allah SWT pun mengharamkan isteri-isteri Nabi untuk dinikahi oleh orang lain sepeninggalnya, karena mereka itu kelak akan menjadi isteri-isterinya di surga.” (Silsilah al-Ahadits al-Shahihah li al-Albani, 1281).

Pertanyaan :”Bila ada yang berkata, “Sesungguhnya tersebut dalam do’a jenazah kita membaca :”Dan gantikanlah (untuknya) suami yang lebih baik dari suami (yang terdahulu).”(Hr.Muslim). Maka jika ia telah bersuami, bagaimana kita mendo’akan untuknya dengan do’a seperti itu dan kita mengetahui bahwa suami di dunia akan menjadi suami di surga, akan tetapi bila belum punya suami dimanakah suaminya ?”

Jawaban : Adalah seperti yang disebutkan oleh Syeikh Ibn ‘Utsaimin yaitu: “Jika dia belum menikah, maka yang dimaksud adalah suami yang lebih baik dari suami yang ditakdirkan untuknya jika dia tetap hidup. Adapun jika dia sudah menikah, maka yang dimaksud dengan suami yang lebih baik adalah yang lebih baik sifat-sifatnya di dunia, karena yang disebut dengan menggantikan adalah bisa dengan menggantikan orangnya seperti bila kita menukar kambing dengan unta, atau bisa dengan mengganti sifat-sifatnya seperti bilamana kita berkata : semoga Allah menggantikan kekufuran orang itu dengan keimanan, atau seperti pada firman Allah SWT “(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit,… (QS. Ibrahim:48). Dimana buminya adalah tetap bumi ini akan tetapi diratakan dan langitnya adalah tetap langit ini akan tetapi terbelah.” (Al-Bab al-Maftuh, 3/23-24). (sumber : AlDakwah.org)

http://van.9f.com/article%20islam/surga_wanita.htm

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 020/th.02/Dzulhijjah-Muharram/1426H/2006M


Sekularisme di Belakang Pornografi dan Pornoaksi

April 11, 2007

Dosen Institut Agama Islam (IAIN) Sumatera Utara Prof Dr Syahrin Harahap mengatakan, saat ini kegiatan pornografi di Tanah Air sudah sangat meresahkan warga. “Pemerintah dan DPR agar secepatnya untuk mengesahkan UU Anti Pornografi tersebut,” kata Prof Syahrin menjawab pertanyaan wartawan di Medan. Hal itu dikemukakannya menanggapi laporan Kantor Berita Associated Press (AP) yang menyebutkan, Indonesia berada di urutan kedua setelah Rusia yang menjadi surga bagi pornografi.

Fakta di lapangan pun membenarkan hal itu. Di seluruh dunia, tak ada negara di mana VCD porno lebih mudah didapatkan selain di negeri ini. Demikian pula peredaran media cetak (majalah, tabloid), maupun media interaktif (internet) yang menjurus pada hal-hal yang berbau porno -sekalipun tidak memajang gambar bugil di sampul depan ala majalah Playboy atau Hustler.
Tayangan dan obrolan seks di radio dan televisi juga semakin “berani”. Pemberitaan tentang berbagai aktivitas seksual yang menyimpang dari syariat itu justru di bungkus dengan nada yang berkesan dirayakan. Sebuah buku yang berjudul Jakarta Undercover telah mengejutkan banyak kalangan bahwa ternyata Jakarta sudah tidak jauh berbeda dengan Paris, Amsterdam, atau Moskow, dalam soal pornografi maupun pornoaksi (menyangkut aksi-aksi porno). Orang menduga bahwa perputaran uang yang terkait dengan “bisnis” ini sudah ratusan miliar rupiah setiap hari.

Menyoal Sikap Ulama, Masyarakat, dan Pemerintah ini semua jelas ironi. Mengapa negeri Muslim terbesar di dunia ini tidak bisa mencegah semua itu terjadi ?. Masyarakat cenderung diam dan membiarkan proses itu dianggap sebagai ekses wajar modernisasi dan globalisasi. Sementara itu, kaum ulama, yang mestinya memiliki tugas mengingatkan masyarakat dan penguasa, juga rata-rata hanya mengungkapkan sebatas “keprihatinan”. Dalam bahasa politik, ungkapan keprihatinan ini merupakan bentuk ketidaksetujuan yang paling rendah; jauh di bawah “protes” apalagi “aksi pencegahan”. Kalaupun ada satu-dua ulama yang protes keras trhadap pornografi maupun pornoaksi, hasilnya justru sering kontraproduktif.

Pasalnya :

Pertama, si ulama tersebut akan dituduh ramai-ramai sebagai “munafik”.
Kedua, yang akhirnya akan dibela oleh publik yang dikendalikan opini media justru aktor pornografi/pornoaksi tersebut; bukannya masyarakat beserta generasi muda yang menjadi harapan umat pada masa depan. Akibatnya, makin banyak ulama yang akhirnya memilih sikap diam daripada justru menjadi “promotor gratis” bagi aktor maksiat.
Di sisi lain, usaha melarang pornografi dan pornoaksi melalui jalur hukum dengan membuat RUU atau dengan memasukkan pornografi dan pornoaksi sebagai tindak pidana dalam KUHP, ternyata justru banyak dimentahkan anggota dewan. Status pornografi dan pornoaksi akan hanya ilegal kalau suatu pasal-pasal karet ditarik agak longgar (dan ini makin dijauhi karena dianggap bertentangan dengan HAM). Namun juga tidak akan menjadi delik apapun kalau orang membaca KUHP secara tekstual. Inilah yang sering dipakai para pembela pornografi dan pornoaksi. Mereka akan memulai dengan pertanyaan seputar definisi pornografi dan pornoaksi. Jawaban yang diberikan tentu saja justru akan makin membingungkan.
Namun demikian, ini tidak aneh. Kebingungan di atas terjadi karena tolok ukur yang dipegang adalah “kesepakatan” masyarakat tentang apa yang dianggap bermanfaat atau berbahaya. Padahal, masyarakat itu selalu berubah dan bisa jadi pada suatu saat tidak sadar bahwa kesepakatan-kesepakatan di antara mereka akan berdampak serius bagi keberlangsungan masyarakat itu pada masa depan. Yang jelas, kesepakatan masyarakat itu selalu disetir oleh para opinion leader (pengendali opini) atau para pembuat pendapat yang tentu saja memiliki kepentingan tertentu, apakah itu bisnis, reputasi, dll. Tidak jarang, di suatu negeri, penguasa sengaja mengobral berbagai bentuk maksiat (judi, minuman keras, pornografi dan porno aksi) untuk mengalihkan perhatian masyarakat pada kezaliman mereka. Tolok ukur seperti ini muncul ketika suatu masyarakat memutuskan untuk memisahkan agama dari kehidupan (fashluddîn ‘an al-hayat) atau yang disebut dengan sekularisme.

Dalam negara yang dibangun di atas sistem sekular, agama tidak mendapat peran untuk mengatur masyarakat melalui undang-undang, kecuali sebagian kecil (UU zakat, UU pernikahan). Di samping banyak pihak-pihak tertentu yang memang bermental bejat, banyak pula orang yang terlibat dalam pornografi dan pornoaksi ini yang sesungguhnya juga hanya menjadi korban. Dengan imbalan yang sebenarnya tak seberapa dibandingkan dengan sebuah nama baik, keutuhan keluarga, dan ridha Allah, banyak orang rela menjadi pengedar VCD porno ataupun menjadi pekerja seks komersial (pelacur). Banyak dari mereka terpaksa melakukan ini karena desakan ekonomi. Karena itu, tdk aneh, berbagai razia yang dilakukan aparat maupun beberapa kelompok yang menyatakan perang terhadap maksiat tidak mampu menghilangkan -atau bahkan sekadar mengurangi- bisnis haram ini secara permanen. Mungkin akan lain halnya bila desakan ekonomi bisa diatasi. Bagaimanapun, orang akan cenderung pada suatu jenis profesi yang terhormat, aman, dan menenteramkan untuk menuju hari tua. Karena itu, melihat masalah ekonomi yang sangat kompleks yang membelit negeri ini, tak ada cara lain kecuali menerapkan sistem ekonomi yang lebih adil dan manusiawi. Sistem ini yang akan mengentaskan banyak orang dari “bisnis setan” sehingga diharapkan tak ada lagi orang yang memasuki dunia pornografi/pornoaksi karena alasan kesulitan ekonomi.

Oleh karena itu, bagi kaum Muslim, yang urgen dan fundamental adalah bagaimana agar seluruh sistem kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan bernegara yang ada ini dibangun kembali di atas dasar yang lebih kokoh; bukan sekularisme lagi. Dasar itu adalah Islam ! Mungkinkah itu ?

Batasan Pornografi dan Pornoaksi Menurut Islam
Islam memberikan definisi yang jelas dan tidak mengambang tentang pornografi dan pornoaksi. Pornografi adalah produk grafis (tulisan, gambar, film) -baik dalam bentuk majalah, tabloid, VCD, film-film atau acara-acara di TV, situs-situs porno di internet, ataupun bacaan-bacaan porno lainnya- yang mengumbar sekaligus menjual aurat. Artinya, aurat menjadi titik pusat perhatian. Sedangkan pornoaksi adalah sebuah perbuatan memamerkan aurat yang digelar dan ditonton secara lang sung, dari mulai aksi yang “biasa-biasa” saja seperti aksi para artis di panggung-panggung hiburan umum hingga yang luar biasa dan atraktif seperti tarian telanjang atau setengah telanjang di tempat-tempat hiburan khusus (diskotek-dis kotek, klab-klab malam, dll). Tentu saja, dalam konteks pornografi dan pornoaksi yang mengumbar aurat ini, yang dimaksud adalah aurat menurut syariat Islam. Seorang wanita yang memperlihatkan sekadar rambut atau bagian bawah kakinya, misalnya, jelas termasuk orang yang mengumbar aurat. Sebab, aurat wanita dalam pandangan Islam adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Secara fikih, menyaksikan secara langsung aurat seseorang yang bukan haknya (pornoaksi) adalah haram, kecuali untuk tujuan yang dibolehkan oleh syara, misalnya memberi pertolongan medis. Ini akan berlaku juga pada para pembuat pornografi kamerawan, pengarah gaya, sutradara, dsb.). Sementara itu, sebuah benda dengan muatan pornografi dihukumi sebagai benda, yaitu mubah. Namun demikian, kemubahan ini bisa berubah menjadi haram ketika benda (baca: sarana/wasilah) itu dipastikan dapat menjerumuskan pada tindakan keharaman. Sebab, kaidah ushul fikih yang mu’tabar menyebutkan “Sarana yang menjerumuskan pada tindakan keharaman adalah haram”. Karena itu, kemubahan ini juga tidak berlaku untuk penyebarluasan dan propaganda pornografi dan pornoaksi yang akan memiliki dampak serius di masyarakat. Seseorang yang dihadapkan pada suatu media porno, misalnya, memang dipandang belum melakukan aktivitas haram (karena media sebagai benda adalah mubah). Akan tetapi, bila orang itu ikut dalam usaha membuat dan/atau menyebar-luaskan media porno, maka menurut syariat, dia dianggap telah melakukan aktivitas yang haram.

Solusi Islam
Islam menghargai kebebasan seseorang untuk berekspresi, namun dalam koridor syariat. Islam juga mengakui bahwa setiap manusia memiliki naluri seksual, namun mengarahkannya supaya disalurkan dalam cara-cara sesuai syariat. Islam sebagai mabda’ (ideologi) memiliki cara-cara yang khas, untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi manusia tanpa menelantarkan kebutuhannya yang lain, dan juga tanpa mengabaikan kebutuhan manusia lainnya dalam masyarakat.
Oleh karena itu, Islam tidak sekadar menetapkan agar tak ada seorang pun dalam wilayah Islam yang mengumbar aurat, kecuali dalam hal-hal yang dibenarkan syariat; namun Islam juga memberikan satu perangkat agar ekonomi berjalan dengan be nar, sehingga tak perlu ada orang yang harus mencari nafkah dalam bisnis pornografi dan pornoaksi. Islam juga memberikan tuntunan hidup dan aturan bermasyara kat yang akan menjaga agar setiap orang memahami tujuan hidup yang sahih serta tolok ukur kebahagiaan yang hakiki sehingga demand (permintaan) pada bisnis pornografi dan pornoaksi pun akan merosot tajam. Bagaimanapun, setiap bisnis hanya akan berputar kalau ada supply (penawaran) dan demand (permintaan). Karena itu, keduanya harus dihancurkan.
Pemerintah Islam akan mendidik rakyatnya untuk berpola sikap dan perilaku islami. Media massa akan diarahkan agar tidak lagi memprovokasi umat dengan stimula si-stimulasi yang merangsang kebutuhan pornografi dan pornoaksi. Demikian juga keberadaan berbagai sarana hiburan yang selama ini menjadi ajang pertemuan pelaku kemaksiatan akan dibersihkan, tanpa harus merusak fisiknya.
Jika setelah langkah-langkah ini dilakukan, setelah negara mengatasi masalah di sisi supply (penawaran) dengan perbaikan pendidikan dan ekonomi, kemudian mengatasi masalah di sisi demand (permintaan) dengan menghilangkan “para provokator”-nya, tetap ada yang nekad melanggar hukum, maka negara tak akan ragu-ragu lagi menerapkan sanksi represif. Hukuman jilid atau rajam akan diterapkan kepada pezina. Hukuman ta’zir akan diterapkan bagi para pengelola dan pendukung bisnis ini.
Definisi zina dalam Islam adalah jelas, yakni setiap hubungan seksual yang dikehendaki dari pihak-pihak yang tidak diikat pernikahan. Ini jelas berbeda dengan definisi KUHP yang hanya membatasi perzinaan sebatas pada orang-orang yang berstatus kawin dan pasangannya keberatan atas selingkuhnya. Definisi KUHP ini jelas belum akan mampu melibas aktor-aktor pornografi dan pornoaksi yang statusnya tidak kawin atau justru atas ‘doa-restu’ pasangannya. Walhasil, memberantas pornografi dan pornoaksi tak bisa sepotong-sepotong, namun harus komprehensif. Ini tak bisa tidak harus dimulai dari dasar fundamentalnya, yakni dengan melibas sistem hukum sekular dan menggantinya dengan sistem hukum Islam. Bukankah Allah Swt. telah berfirman: “Apakah hukum Jahiliah yang kalian kehendaki ? Siapakah yang lebih baik hukumnya selain Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (QS al-Maidah [5]: 50).

* Penulis adalah Sekjen Forum Umat Islam Peduli Syari’ah (FUIPS) Malang Raya
http://jawapos.com/index.php?act=detail_radar&id=115667&c=88

Fitrah Wanita Selalu butuh dilindungi

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…” (QS. An-Nisaa'(4) : 34)
Ayat tersebut menyatakan bahwa suka berkuasa dan melindungi merupakan fitrah la ki-laki, sedangkan membutuhkan perlindungan dan penjagaan dari laki-laki merupa kan fitrah wanita. Oleh karena itu, kaum wanita tidak dapat dijadikan sebagai pi hak yang dapat memberikan perlindungan kepada orang lain.
Para laki-laki yang tidak mampu memberi perlindungan dan penjagaan kepada wanita akan kehilangan kewibawaan di hadapan wanita yang dibawah kekuasaannya. Demikianlah sebab wanita bersangkutan tidak akan menghargai dan menghormati kekuasaannya yang lemah.


http://www.ukhuwah.or.id/muslimah/t_muslimah.phtml?id=59&kategori=masalah-kewanitaan

” Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS.Al Israa’ : 32)

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 020/th.02/Dzulhijjah-Muharram/1426H/2006M


Hijab Wanita

April 11, 2007

Di Dunia Islam, seksualitas dan percintaan tidak dipamerkan dijalan jalan. Pornografi tidak bisa diterima. Gadis-gadis yang ingin menikah lazimnya tidak mau melakukan hubungan seks sebelum menikah. Anak haram merupakan sesuatu yang amat langka. Kebanyakan mempelai wanita masih perawan saat mereka menikah. Iklan-iklan yang menawarkan pertukaran istri, pesta nudis di pantai, bar homoseks, komune mahasiswa jarang ditemui di negara-negara Muslim pada umumnya. Pakaian pria dan wanita, termasuk apa yang dinamakan hijab, mencerminkan ini; sebab dari sudut pandang Islam, logis saja bahwa kita (wanita) tidak berusaha memancing sesuatu hal yang tidak kita inginkan untuk terjadi.

Sepanjang menyangkut tubuh manusia, ada satu consensus dasar antara Timur dan Barat, kedua peradaban ini tidak mengizinkan orang, kecuali bayi, untuk berjalan telanjang kesana kemari dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, ada banyak perbedaan menyangkut sejauh mana pakaian dibutuhkan di muka umum. Di dunia Islam sendiri, tidak ada pandangan yang seragam mengenai masalah ini, seperti yang dapat kita lihat dari pakaian wanita di Maroko, Aljazair, Tunisia, Anatolia, Mesir, Yordania. Negara-negara Teluk, Saudi Arabia, Pakistan, Malaysia, dan Indonesia.

 

Di dalam al Quran, ini hanya protokoler yang diterapkan bagi istri-istri Nabi. Sedangkan untuk Perempuan Muslim di Mesir diartikan “pakaian dengan tangan dan muka saja yang terbuka”, sedangkan di Iran diinterprestasikan dengan Chador (cadar). Sedangkan laki-laki diwajibkan untuk berpakaian pantas, namun perempuan tidak disuruh mencadari diri dari pandangan, atau memencilkan diri dari laki-laki dalam bagian terpisah di rumah. Ini merupakan perkembangan kemudian, dan tidak menyebar di kerajaan Islam sampai tiga atau empat generasi setelah wafatnya Rasulullah SAW. Terlihat bahwa adat pencadaran dan pemisahan perempuan memasuki dunia Muslim dari Persia dan Byzantium, dimana perempuan sudah lama diperlakukan demikian. Kenyataannya, cadar atau hijab tidak dirancang untuk merendahkan istri-istri Rasulullah SAW melainkan sebagai symbol status tertinggi. Setelah kematian Rasulullah SAW, istri-istrinya menjadi orang-orang yang amat berpengaruh. Mereka memiliki otoritas dalam hal agama dan kerap dimintai konsultasi tentang praktik (sunnah) dan pendapat-pendapat Rasulullah SAW, Aisyah menjadi amat penting di dunia politik. Tampak bahwa kelak perempuan-perempuan lain iri akan status istri-istri Rasulullah SAW dan menuntut agar mereka diizinkan memakai cadar juga. Kebudayaan Islam sangat egaliter dan tampak tidak pantas bahwa istri-istri Nabi harus dibedakan dan dihormati dengan cara ini. Maka banyak perempuan Muslim yang mula-mula memakai cadar memandangnya sebagai simbol kekuatan dan pengaruh, bukan sebagai tanda tekanan laki-laki.

 

Jelas, ketika para istri prajurit Perang Salib (kafir) melihat penghormatan yang didapat oleh perempuan Muslim, mereka juga mengenakan cadar dengan harapan mengajari laki-laki mereka untuk memperlakukan mereka dengan lebih baik. Selalu sulit untuk mengerti simbol-simbol dan praktik-praktik kebudayaan lain.

Maka sulit dimengerti bila Dr.Robert Morey menguraikan bahwa hijab dianggap sebagai memaksakan busana gurun kepada para wanita di manapun mereka berada, dan hal itu merupakan suatu bentuk imperialisme budaya. Hal ini menunjukkan kurangnya pengetahuan dia terhadap sejarah. Di Eropa, orang barat mulai menyadari bahwa mereka kerap salah interprestasi dan memandang rendah kebudayaan tradisi lain di koloni-koloni dan protektoriat mereka.

 

Banyak perempuan Muslim hari ini, bahkan mereka yang dibesarkan di Barat, merasa tersinggung ketika kaum feminis Barat mengutuk kebudayaan mereka sebagai kebencian terhadap perempuan. Kebanyakan agama berisikan hal-hal (bersifat) laki-laki & memiliki bias patriarki. Namun salah bila memandang Islam sebagai yg lebih buruk dalam hal ini dibanding dengan tradisi lainnya. Di Abad Pertengahan, posisinya adalah kebalikannya, pd masa itu kaum Muslim terperangah melihat cara-cara orang Kristen Barat memperlakukan perempuan-perempuan mereka di negara-negara Perang Salib. Kaum terpelajar Kristen mencela Islam karena memberikan terlalu banyak kekuatan kpd makhluk yg mereka pandang rendah seperti para budak & perempuan. Kini ketika sebagian perempuan Muslim kembali pada busana tradisional mereka, ini tdk selalu berarti bahwa otak mereka telah dicuci oleh agama, melainkan krn mereka menemukan bahwa kembali ke akar budaya sangat memberikan kepuasan.

Jika kita simak Bibel, ternyata ada kewajiban bagi umat Kristiani yang perempuan untuk berkerudung. “Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.” (Keluaran 2 : 11-12, Majalah Modus edisi 2 hal 26)

Ini merupakan bantahan pada sikap imperialis Barat yang mengaku lebih memahami tradisi-tradisi dari pada mereka sendiri.

(Sumber : Islam Dihujat [menjawab buku Islamic invation-Robert Morey], Hj.Irine Handono. et al, pen.Bima Rhodeta-Kudus, cet.IV, April 2004, hal : 133-135)

Wanita Sholehah

(Oleh : KH.Abdullah Gymnastiar)

Wanita yang di dunianya sholehah akan menjadi cahaya bagi keluarganya, melahirkan keturunan yang baik dan jika wafat di akhirat akan menjadi bidadari.

Hikam : Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara faraj-nya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara farajnya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Rosulullah saw bersabda :”Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang sholehah.” (HR.Muslim)

Wanita sholehah merupakan penentram batin, menjadi penguat semangat berjuang suami, semangat ibadah suami. Suami yakin tidak akan dikhianati, kalau ditatap benar-benar menyejukkan qolbu, kalau berbicara tutur katanya menentramkan batin, tidak ada keraguan terhadap sikapnya. Pada prinsipnya wanita sholehah adalah wanita yang taat pada Allah, taat pada Rasul. Kecantikannya tidak menjadikan fitnah pada orang lain. Kalau wanita muda dari awal menjaga dirinya, selain dirinya akan terjaga, juga kehormatan dan kemuliaan akan terjaga pula, dan dirinya akan lebih dicintai Allah karena orang yang muda yang taat lebih dicintai Allah dari pada orang tua yang taat. Dan, Insya Allah nanti oleh Allah akan diberi pendamping yang baik. Agar wanita sholehah selalu konsisten yaitu dengan istiqomah menimba ilmu dari alam dan lingkungan di sekitarnya dan mengamalkan ilmu yang ada. Wanita yang sholehah juga dapat berbakti terhadap suami dan bangsanya dan wanita yang sholehah selalu belajar. Tiada hari tanpa belajar. ————————-

(Rubrik ini merupakan hasil kerjasama detikcom dengan RCTI. Acara “Telaga Rasul” ditayangkan setiap hari selama Ramadhan oleh RCTI pd pukul 04.00 WIB-04.30 WIB)

Surga Berada di Bawah Telapak Kaki Ibu

“Surga berada dibawah telapak kaum ibu. Barangsiapa dikehendakinya maka dimasuk annya, dan barangsiapa dikehendaki maka dikeluarkan darinya.” Ini Hadits maudhu’ (palsu). Telah diriwayatkan oleh Ibnu Adi (I/325) dan juga oleh al-Uqaili dalam adh-Dhu’afa dengan sanad dari Musa bin Muhammad bin Atha’, dari Abul Malih, dari Maimun, dari Abdullah Ibnu Abbas r.a. Kemudian al-Uqaili mengatakan bahwa hadits ini mungkar. Bagian pertama dari riwayat tersebut mempunyai sanad lain, namun mayoritas rijal sanadnya majhul. Untuk mengetahui makna yang shahih dari kandungan makna hadits tersebut, saya kira cukuplah dengan riwayat shahih yang dikeluarkan oleh Imam Nasa’i dan Thabrani dengan sanad hasan. Yaitu kisah seorang yang datang menghadap Rasulullah saw. Seraya minta izin untuk ikut andil berjihad bersama beliau saw., maka beliau bertanya, “Adakah engkau masih mempunyai ibu ?” Orang itu menjawab, “Ya, masih.” Maka beliaupun kemudian bersabda, “Baik-baiklah dalam bergaul dengannya, karena sesungguhnya surga itu berada dibawah kedua kakinya.”

(sumber : Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu’ Jilid 2, Penulis: Muhammad Nashrud din al-Albani Cetakan 1, Jakarta, Gema Insani Press, 1994)

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 020/th.02/Dzulhijjah-Muharram/1426H/2006M