Terorisme Militer A.S.

Januari 14, 2008

(kisah Samir Gustavo Jerez)

Sesungguhnya di neraka jahanam itu ada tempat mengintai, dan menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. (QS 78:21-22)

Menurut Muslim in the Military, sebuah organisasi yang bermarkas di Pentagon, pada 90 persen pangkalan militer AS di seluruh dunia ada anggota militer yang beragama Islam. Pada 1993, populasi umat Islam di angkatan bersenjata AS seluruhnya berjumlah sekitar 5.000 orang. Anggota militer yang beragama Islam kini tengah berupaya untuk memperoleh perlakuan dan pengakuan yang sama sebagaimana pemeluk agama lainnya. Sementara ini, anggota militer yang beragama Islam di Pentagon memanfaatkan kantor bagian Bintal untuk menyelenggarakan shalat Jumat dan kegiatan dakwah lainnya. Kursi-kursi dan mebel lain mereka sisihkan untuk memungkinkan shalat berjamaah, dan mereka gunakan kertas tisu sebagai sajadah. Mereka juga menerbitkan majalah kecil dengnn judul, “Muslim Military Members, Unity in Uniform “.

Samir Jerez, lahir di New York dari keturunan Cuba dan Puerto Rico, masuk Islam ketika berpangkat E4 di pangkalan militer Camp Pedleton, California. Sebuah film yang disaksikannya dalam program latihan kemiliteran di Troop Info Day, telah mengusik keyakinan religiusnya.

Setiap orang dengan pangkat sersan atau yang lebih rendah wajib mengikuti rangkaian program pelatihan tertentu. Salah satu di antaranya adalah mengenai terorisme. Pelatihan itu diselenggarakan oleh angkatan laut, berupa pemutaran sebuah film dengan judul American Expose, diproduksi oleh Jack Anderson. Film ini menggambarkan kaum Muslim, dan hanya kaum Muslim, sebagai teroris. Semestinya program ini memberi gambaran global tentang masalah terorisme di seluruh dunia. Nyatanya film itu lebih memfokuskan ke wilayah Timur Tengah.

Film dimulai dengan musik pembukaan dan tayangan potongan adegan orang-orang buntung yang anggota badannya berserakan di jalan, orang-orang ditembak dan ditikam. Orang-orang lainnya dipertontonkan bersimbah darah atau luka-luka. Sementara itu sekelompok lainnya tengah menangis, dan ironisnya, orang-orang yang menangis itu digambarkan sebagai Muslim, karena mengenakan hijab.

Adegan berikutnya adalah kaum Muslimin yang sedang menunaikan shalat berjamaah, diiringi dengan komentar bahwa era baru fundamentalisme kini sedang bangkit. Adegan orang-orang yang sedang shalat itu dimunculkan silih berganti dengan adegan ledakan bom dan tubuh hancur berkeping-keping, disusul dengan seorang perempuan yang menangisi tubuh korban.
Lantas ada komentar, “Kalau mereka bersedia mati untuk Tuhannya, mungkin kita perlu datang ke sana untuk menyelematkan mereka.”

Film itu benar-benar membuat darah saya mendidih. Selama empat puluh menit pertunjukan film itu, saya berusaha menahan diri untuk tidak meledak marah. Ketika di layar muncul seorang wanita tua bertubuh kecil sedang berjalan, naratornya berucap: “Dia bisa saja merupakan teroris berikutnya.” Begitu pula pada saat layar memperlihatkan gambar sekelompok anak-anak Muslim, si narator berkata, “Mereka boleh jadi merupakan teroris masa depan.”

Begitu pemutaran film selesai, pertanyaan pertama yang diajukan adalah, “Bagaimana kalau kita angkat senjata dan hancurkan mereka ?” Kalimat itu sunguh-sungguh membuat saya tersinggung. Jawabannya adalah sebuah respon sarkastik tentang perintah Presiden yang melarang pembunuhan.

Yang sedang saya ceritakan itu berkaitan dengan sekelompok anggota Marinir yang baru saja menonton adegan rekan-rekan mereka yang tewas akibat serangan bom bunuh diri di Beirut. Saya dapat merasakan apa-apa yang mereka rasakan. Saya mendengar ada yang berkomentar, “Rasanya kita benar-benar perlu turun tangan untuk menghancurkan mereka. Dengan begitu, dunia ini akan menjadi aman dan damai.”
Sebenarnya sulit juga untuk menyalahkan mereka. Program-program pemutaran film semacam itu adalah satu-satunya sarana mereka untuk mengenal Islam dan Muslim. Dan terus terang, sebelum saya mengetahui apa-apa tentang Islam, ingin rasanya saya bertemu dengan salah satu teroris di sebuah pesawat dan membunuhnya sebelum mereka sempat membajak pesawat itu.

Lantas saya bertanya kepada instruktur, “Anda bilang bahwa Yaser Arafat adalah seorang teroris. Bagaimana dengan Mafia ?”

“Mafia bukanlah teroris. Menurut pemerintah AS, terorisme diciptakan oleh Yaser Arafat pada 1968,” jawab instruktur itu.
Merasa tak puas, saya menantangnya, “Anda yakin dengan pernyataan itu ?”
“Ya, saya yakin,” jawabnya.
Saya bertanya lagi, “Apakah ini gambaran terorisme global. Kenapa yang dipertontonkan hanya tentang Timur Tengah, padahal terorisme muncul di seluruh dunia ?”
“Saya kira film itu sudah bagus, dan sesuai dengan kondisi sebenarnya,” katanya.
Sekitar tujuh sampai delapan pertanyaan muncul dalam diskusi sesudah pemutaran film itu. Ketika waktu istirahat, saya dekati dia. “Saya bersedia melakukan riset kecil-kecilan untuk memperdalam pengetahuan tentang terorisme. Bolehkah saya mendapatkan satu rekaman film itu ? Saya yakin itu akan sangat bermanfaat.”
“Oh, tentu saja; ” jawabnya sambil memberikan kaset film itu.
Langsung saja saya kirimkan kaset itu ke hagian audiovisual untuk direkam.

Tiga pekan lamanya saya harus menunggu untuk bertemu dengan salah satu pejabat di pangkalan itu. Ketika tiba saatnya untuk bertemu, dia hanya memberi saya waktu tiga menit, seraya menekankan bahwa dia tak mau berurusan dengan soal-coal keagamaan maupun politik. Dia juga mengatakan bahwa walau apa pun yang terjadi dia tak akan menghilangkan film itu dari program pelatihan.

Saya tak menemukan organisasi yang memperjuangkan hak-hak umat Islam untuk tidak diperlakukan sewenang-wenang. Akhirnya saya hubungi American-Arab Anti-Discrimination Commitee (ADC). Saya bawa rekaman film itu ke ADC, dan mereka kemudian mengirimkannya ke kantor cabangnya di Washington. Kantor Washington menggelar sebuah konferensi pets. Mereka juga menulis surat kepada Komandan Korps Marinir, dan mengirim rekaman film itu kepada Menteri Pertahanan dan Komandan Pangkalan Militer tempat saya bertugas. Komandan pangkalan memberi jawaban yang cukup melegakan, “Kami tidak akan memutar film itu sambil menunggu penelaahan lanjutan.” Media massa lantas memunculkan isu ini, dan memberitakan bahwa Korps Marinir akhirnya bersedia melakukan perbaikan. Mereka telah memutuskan untuk tidak memutar film itu lagi.

Sayangnya, kami bukanlah grup pertama yang menyaksikan film tersebut. Telah banyak kelompok-kelompok sebelum kami yang menonton pemutaran film itu; di pangkalan ini maupun pangkalan-pangkalan militer lainnya. Banyak anggota militer yang tak suka dengan tindakan tersebut, karena mereka senang menonton film itu.

Saya kemudian memasukkan pengaduan setebal 200 halaman, dan menggelar konperensi pers di Islamic Education Center, Walnut, California. Konferensi pers itu diliput dan disiarkan oleh stasiun TV setempat. Hingga kini kami masih menunggu jawaban atas pengaduan saya.
Saya berharap kaset itu akan dihancurkan. Dan saya juga berharap kejadian ini akan membuat semua lebih waspada, baik kaum Muslimin maupun orang-orang yang bukan Muslim. Bayangkan, betapa banyak anggota Marinir seperti saya yang telah berkeliling dunia, termasuk Somalia yang merupakan negeri Muslim, tapi telah diajarkan untuk membenci kaum Muslimin. Karena itu saya masih mengharapkan adanya sebuah program pelatihan ulang untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang Islam. Saya sadar bahwa ini merupakan harapan yang berlebihan, tetapi saya pikir hal itu memang benar-benar dibutuhkan. Itulah harapan saya.

Sepucuk surat dari Komite Anti-Diskriminnsi Arab-Amerika (ADC) yang ditujukan kepadn jenderal Carl E. Munday Jr., Komandan Korps Marinir AS, tertanggal 8 Pebruari 1993, menyoroti pernyataan-pernyataan Korps Marinir AS yang mengemukakan bahwa menurut laporan dari Biro Keamanan Diplomatik Deplu AS, hanya 8 dari 233 insiden anti-AS pada 1990 yang ada kaitannya dengan negara-negara Timur Tengah. Surat itu juga mengemukakan bahwa menurut laporan Deplu AS 1990 tentang “Pole Terorisme Global”, terorisme lebih banyak terjadi di negara-negara Amerikan Latin (762) dan Asia (96), ketimbang di Timur Tengah (hanya 63 kali), dan menyatakan bahwa ketidakakuratan dalam film itu memang tak dapat dipungkiri. Timur tengah didefinisikan sebagai “sarang teroris” dan anak-anak Palestina disebutnya sebagai “Teroris masa depan”, dan bahwa Muslim disamakan dengan “jutaan orang yang bersedia mati untuk mencapai tujuan (dengan cara kekerasan).”

(dari : Jihad Gaya Amerika, Islam Setelah Malcolm X oleh Steven Barbosa, Judul Asli: American Jihad, Islam After Malcolm X, Terbitan Bantam Doubleday, Dell Publishing Group, Inc., New York 1993, Penterjemah: Sudirman Teba dan Fettiyah Basri, Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124, Cetakan 1, Jumada Al-Tsaniyah 1416/Oktober 1995
Telp.(022) 700931 Fax.(022) 707038)

http://media.isnet.org/v01/index.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.017/th.02/Rajab-Sha’ban 1426H/2005M


‘Teologi Pluralis’ yang Merusak (Kerukunan) Beragama

Januari 14, 2008

(Penulis : Adian Husaini)

Melalui artikelnya di harian ini edisi 24 Juni 2000 yang berjudul ‘Mengembalikan Kerukunan Umat Beragama’, Budhy Munawar-Rachman (BMR) mengajukan pemikiran bahwa kerukunan umat beragama dapat dicapai jika para pemeluk agama menganut — dan mengembangkan — teologi pluralis atau teologi inklusif. Sebaliknya, teologi eksklusif tidak kondusif dan menjadi akar munculnya konflik agama (SARA).
Teologi pluralis, menurut BMR, melihat agama-agama lain dibanding dengan agamanya sendiri dalam rumusan: ‘other religions are equally valid ways to the same truth (John Hick); Other religions speak of different but equally valid truths (John B Cobb Jr); Each religion expresses an important part of the truth (Raimundo Panikkar). Intinya, penganut teologi pluralis meyakini bahwa ‘semua agama memiliki tujuan yang sama’. Dalam istilah lain, teologi pluralis dirumuskan sebagai ‘satu Tuhan, dalam banyak jalan.’ Untuk menguatkan pendapatnya, BMR mengutip ucapan Rumi : ‘Meskipun ada bermacam-macam agama, tujuannya adalah satu. Apakah Anda tidak tahu bahwa ada banyak jalan menuju Ka’bah ?’

Teologi pluralis, menurut BMR, menolak paham ekslusivisme, sebab dalam eksklusifisme itu ada kecenderungan opresif terhadap agama lain. Teologi eksklusif dirumuskan sebagai pandangan yang menganggap bahwa hanya ada satu jalan keselamatan: Agama mereka sendiri. BMR mencatat : ‘Pandangan ini jelas mempunyai kecenderungan fanatik, dogmatis, dan otoriter!’. Dengan bahasa yang lebih sederhana bisa dirumuskan bahwa untuk terjadinya kerukunan umat beragama, maka seorang Muslim — dan pemeluk agama lain — harus menghindarkan sikap fanatik, dogmatis, dan otoriter, yang menganggap bahwa hanya agama yang dipeluknya yang benar. Pemeluk suatu agama harus menganut teologi pluralis: Ia harus meyakini bahwa agama lain juga benar, yang berbeda hanya cara saja. Tapi, tujuannya adalah sama.

Ide lama kemasan baru

Gagasan BMR sebenarnya gagasan lama yang dikemas dengan istilah-istilah yang lebih indah, seperti ‘inklusif’, ‘pluralis’, dan sejenisnya. Ide ini sama saja dengan gagasan sinkretisme, pendangkalan aqidah, atau sekularisme, yang semakin menjadi-jadi setelah World Parliement of Religions di Chicago tahun 1993 menyepakati perlunya suatu ‘global ethics’ untuk membangun perdamaian dunia. Sejumlah tokoh di Indonesia juga rajin mengkampanyekan gagasan ini. Salah satunya adalah Gus Dur.
Baru empat hari terpilih sebagai Presiden RI, Gus Dur sudah mengeluarkan pernyataan yang bernada sinkretik ketika berkunjung ke Bali: ‘Kalau kita benar-benar beragama, maka akan menolak kebenaran satu-satunya di pihak kita dan mengakui kebenaran semua pihak. Kebenaran mereka yang juga kita anggap berbeda dari kita. Ini yang paling penting. Oleh karena itu semuanya benar. Semuanya benar.’ Dalam bukunya berjudul Samakah Semua Agama ?, misionaris Dr J Verkuyl memuat hikayat Nathan der Weise (Nathan yang Bijaksana). Nathan adalah seorang Yahudi yang ditanya oleh Sultan Saladin tentang agama manakah yang terbaik, apakah Islam, Yahudi, atau Nasrani. Ujungnya, dikatakan, bahwa semua agama itu intinya sama saja. Hikayat Nathan itu ditulis oleh Lessing (1729-1781), seorang Kristen yang mempercayai bahwa intisari agama Kristen adalah Tuhan, kebajikan, dan kehidupan kekal. Intisari itu, menurutnya, juga terdapat pada Islam, Yahudi, dan agama lainnya.

Ungkapan penyamaan agama juga pernah diungkap oleh Mahatma Gandhi : ‘Setelah mempelajari lama dan seksama serta melalui pengalaman, saya sampai kepada kesimpulan bahwa (1) semua agama itu benar, (2) semua agama itu memiliki beberapa kesalahan di dalamnya, dan (3) semua agama itu bagi saya sama berharganya sebagaimana agama saya sendiri yaitu Hindu.’ Menurut Gandhi, agama ibarat jalan yang berbeda-beda namun menuju titik yang sama (Gandhi, 1958).
Jadi paham persamaan agama sebenarnya bukanlah hal baru. Kaum sekular, sinkretis, bahkan kaum Zionis, pun telah mengembangkan paham ini ratusan tahun yang lalu. Jika BMR, Gus Dur, dan kawan-kawan kemudian ikut-ikutan menyuarakan paham persamaan agama, maka mereka adalah sebenarnya hanya menjadi bagian kecil dari kampanye global dari paham sekular atau sinkretis.

Pada kutub yang lebih ekstrem, para penganut paham penyamaan agama akan meragukan kebenaran agamanya sendiri atau menganggap semua agama sama saja dan benar, tidak ada yang salah. Wacana dilematis semacam ini pernah diungkapkan oleh Ahmad Wahib dalam catatan hariannya, ‘Pergolakan Pemikiran Islam’ yang sangat kontroversial. Wahib yang sempat bergaul akrab dan diasuh selama lima tahun oleh romo HC Stolk SJ dan romo Willenborg, menulis: ‘Aku tak tahu, apakah Tuhan sampai hati memasukkan dua orang bapakku itu ke dalam api neraka. Semoga tidak.’ Program ‘Free Masonry’

Bila ditelusuri secara mendalam, pemikiran sinkretis yang berupaya menyamakan semua agama, pada dasarnya adalah bentuk pelecehan terhadap agama. Pemikiran sinkretis semacam itu juga pernah dikembangkan oleh kelompok organisasi rahasia Yahudi Free Masonry. Kelompok ini pernah mendirikan perkumpulan teosofi di Indonesia dengan nama Nederlandsch Indische Theosofische Vereeniging (Perkumpulan Teosofi Hindia Belanda, yang merupakan cabang dari perkumpulan teosofi yang bermarkas di Adyar, Madras, India (Saidi, 1994: 10-13).

Selain menyamakan agama-agama, kelompok ini juga berupaya menggabungkan nilai-nilai kebajikan pelbagai agama. Malah, menurut mereka, pelbagai agama itu masih harus disempurnakan lagi dengan ajaran teosofi versi mereka. (Majalah Teosofie In Nederlands Indie, No 1/Th 1, Mei 1910).

Pokok-pokok ajaran teosofi di antaranya, (1) menjalankan persaudaraan tanpa memandang bangsa, agama, dan warna kulit, (2) semua agama yang digelarkan di dunia ini sama saja maksudnya. Semua agama berisi teosofi, (3) semua agama memerlukan tambahan ‘ilmu kebersihan’ seperti yang diajarkan teosofi. Secara lebih lejas, misi teosofi digambarkan oleh Ketua Theosofische Vereeniging Hindia Belanda, D Van Hinloopen Labberton, pada majalah Teosofi bulan Desember 1912:
‘Kemajuan manusia itu dengan atau tidak dengan agama ? Saya kira bila beragama tanpa alasan, dan bila beragama tidak dengan pengetahuan agama yang sejati, mustahil bisa maju batinnya. Tidak usah peduli agama apa yang dianutnya. Sebab yang disebut agama itu sifatnya: Cinta pada sesama, ringan memberi pertolongan, dan sopan budinya. Jadi yang disebut agama yang sejati itu bukannya perkara lahir, tetapi perkara dalam hati, batin. Sepintas, ajaran-ajaran itu tampak indah. Padahal, ajaran-ajaran itu sebenarnya racun halus yang secara perlahan membetot keimanan seorang Muslim. Seorang Muslim yang menganut paham semacam itu, akan tidak terlalu peduli dengan konsep-konsep teologis agamanya sendiri, demi tujuan ‘persaudaraan’ kemanusiaan.

Kerancuan teologis

Hamka (alm) pernah menyatakan, orang yang mengatakan bahwa semua agama itu sama dan benar, sebenarnya orang itu tidak beragama. Logikanya, jika semua agama sama, maka buat apa beragama ? Lalu, agama mana saja ?
Bagi Muslim, ‘teologi pluralis’ versi BMR sangatlah aneh dan menyesatkan. Dalam tataran teologis, Islam memiliki konsep ‘eksklusif’ dan tegas. Hanya Islam yang benar, yang lain adalah kafir dan sesat. Hanya Islam jalan keselamatan. (QS 3:19, 3:85; 98:6; 5:72-75; dsb).
Di era 1970-an dan 1980-an, pemerintah Orde Baru dengan gerakan sekularisasinya juga sibuk membuat program pendangkalan aqidah dan ‘pengikisan fanatisme’ keagamaan. Gerakan itu disisipkan melalui buku-buku PMP yang sempat menyulut protes para pemimpin Islam. Pada intinya, program ini berusaha mengikis keyakinan keagamaan yang menganggap kebenaran hanya pada agamanya sendiri.

Teologi sinkretis (pluralis) yang dikembangkan Orde Baru itu terbukti amburadul dan kontraproduktif. Konflik SARA justru melonjak tajam di masa ‘orde’ itu. Data perusakan gereja yang dikeluarkan FKKI/FKKS (1997) menunjukkan lonjakan tajam perusakan/pembakaran gereja di era Orba.


Jumlah gereja yang ditutup, dirusak, atau dibakar di Indonesia Periode Tahun 1945-1997

Periode          Jumlah       Persentase (%)      Rata-rata/tahun
1945-1954          0                  0                            0
1955-1964          2                  0                            0,2
1965-1974         46                13                           4,6
1975-1984         89                25                           8,9
1985-1994        132               36                          13,2
1995-1997          89               25                          44,2
T O T A L          358              100
 
Sumber: FKKS-FKKI, 1997

Banyak analisis terhadap maraknya perusakan gereja di Indonesia di masa Orba. Yang jelas, rezim Orba melakukan penyeragaman ideologi dan ‘mengharamkan’ perdebatan (dialog) di tengah masyarakat, dan memunculkan ‘hantu SARA’. Kepemimpinan BJ Habibie yang hanya berumur sekitar 500 hari juga tak melakukan perubahan berarti dalam penyelesaian kasus konflik SARA. Masih serba tertutup dan tabu bicara soal SARA, khususnya dialog antaragama. Rezim Gus Dur, selain mengembangkan sinkretisme, juga cenderung pro-Kristen.

Masing-masing kelompok agama sebenarnya menginginkan dialog yang lebih terbuka, jujur, dan transparan, sehingga konflik ideologis tidak berlangsung dalam suasana intrik yang sangat tidak sehat, tidak jujur, dan didominasi semangat kemunafikan. Orang Kristen tidak jujur dengan proyek Kristenisasinya. Orang Islam juga enggan terbuka soal konsep-konsep ideologis dan keagamaan Islam tentang kaum Nasrani. Jika dialog agama sudah berpijak kepada ‘ketidakjujuran’ dan ‘kemunafikan’, maka dialog itu akan berujung kepada kesia-siaan.
Teologi pluralisme versi BMR pada ujungnya hanya akan mengulang tragedi konflik SARA di masa Orde baru dan mengembangkan kemunafikan seperti ini.

http://media.isnet.org/v01/index.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.017/th.02/Rajab-Sha’ban 1426H/2005M


Mereka Ketakutan Pada Al-Quran

Januari 3, 2008

 

Penelitian Muhammad Mustafa al-A’zami, meruntuhkan usaha memalsukan kebenaran al-Qur’an oleh orientalis, Snouck Hurgronje dan Goldziher yang kini diwarisi kadernya berbaju Islam Liberal di Indonesia. Spesialis penakluk tesis kaum orientalis. Predikat itu tepat disematkan pada sosok Prof.Dr.Muhammad Mustafa al-A’zami, 73 tahun, guru besar ilmu hadis Universitas King Saud, Riyadh, Arab Saudi. Popularitas A’zami mungkin tidak setenar Dr.Yusuf Qardlawi dan ulama fatwa (mufti) lainnya. Namun kontribusi ilmiahnya sungguh spektakuler.

Sumbangan penting A’zami terutama dalam ilmu hadis. Disertasinya di Universitas Cambridge, Inggris, ”Studies in Early Hadith Literature” (1966), secara akademik mampu meruntuhkan pengaruh kuat dua orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher (1850 -1921) dan Joseph Schacht (1902-1969), tentang hadis. Riset Goldziher (1890) berkesimpulan bahwa kebenaran hadis sebagai ucapan Nabi Muhammad SAW tidak terbukti secara ilmiah. Hadis hanyalah bikinan umat Islam abad kedua Hijriah. Pikiran pengkaji Islam asal Hongaria itu jadi pijakan banyak orientalis lain, termasuk Snouck Hurgronje (1857-1936), penasihat kolonial Belanda. Tahun 1960, tesis Goldziher diperkuat Joseph Schacht, profesor asal Jerman, dengan teori “proyeksi ke belakang”. Hadis, kata Schacht, dibentuk para hakim abad kedua Hijriah untuk mencari dasar legitimasi produk hukum mereka. Lalu disusunlah rantai periwayatnya ke belakang hingga masa Nabi.

Saking kuatnya pengaruh Goldziher-Schacht, sejumlah pemikir muslim juga menyerap tesisnya, seluruh atau sebagian. Seperti A.A.A. Fyzee, hakim muslim di Bombay, India, dan Fazlur Rahman, pemikir neomodernis asal Pakistan yang cukup populer di Indonesia. Definisi hadis ala Goldziher-Schacht berbeda dengan keyakinan umum umat Islam. Bahwa hadis adalah ucapan, perbuatan, dan ketetapan Nabi yang telah diuji akurasinya oleh para ulama hadis seperti Bukhari dan Muslim.

 

Namun belum ada sanggahan telak atas pikiran Goldziher-Schacht dengan standar ilmiah, selain disertasi A’zami. “Cukup mengherankan,” tulis Abdurrahman Wahid saat pertama mempromosikan A’zami di Indonesia tahun 1972, “hanya dalam sebuah disertasi ia berhasil memberi sumbangan demikian fundamental bagi penyelidikan hadits.” Gus Dur menyampaikan itu dalam Dies Natalis Universitas Hasyim Asy’ari, Jombang, tak lama setelah pulang kuliah dari Baghdad. Temuan naskah kuno hadis abad pertama Hijriah dan analisis disertasi itu secara argumentatif menunjukkan bahwa hadis betul-betul otentik dari Nabi. A’zami secara khusus juga menulis kritik tuntas atas karya monumental Joseph Schacht, judulnya On Schacht’s Origins of Muhammadan Jurisprudence. Versi Indonesia, buku ini dan disertasi A’zami sudah beredar luas di Tanah Air. Murid A’zami di Indonesia, Prof. Ali Mustafa Yaqub, berperan banyak mempopulerkan pikiran ulama kelahiran India itu.

Ali Mustafa membandingkan jasa A’zami dengan Imam Syafi’i (w. 204 H). Syafi’i pernah dijuluki “pembela sunah” oleh penduduk Mekkah karena berhasil mematahkan argumen pengingkar sunah –sebutan lain hadis. “Pada masa kini,” kata Ali Mustafa, “Prof. A’zami pantas dijuluki ‘pembela eksistensi hadits’ karena berhasil meruntuhkan argumentasi orientalis yang menolak hadis berasal dari Nabi.”

Setelah lama mapan dalam studi hadis, belakangan A’zami merambah bidang studi lain : Al-Quran. Namun inti kajiannya sama : menyangkal studi orientalis yang menyangsikan otentisitas Al-Quran sebagai kitab suci. Ia menulis buku The History of The Qur’anic Text (2003), yang juga berisi perbandingan dengan sejarah Perjanjian Lama dan Baru. “Ini karya pertama saya tentang Al-Quran,” kata peraih Hadiah Internasional Raja Faisal untuk Studi Islam tahun 1980 itu.

 

Sabtu pekan lalu, A’zami meluncurkan versi Indonesia buku itu dalam Pameran Buku Islam di Istora, Senayan Jakarta. Gus Dur, yang mengaku pengagum A’zami, bertindak sebagai panelis bersama pakar Quran dan hadits lainnya. Prof.Kamal Hasan, dalam pengantar buku itu, menilai karya A’zami ini relevan untuk meng-counter maraknya buku Hassan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zayd, dan Mohammad Arkoun di Indonesia. Melihat pentingnya kajian A’zami ini, Hidayatullah.com menurunkan wawancaranya dengan majalah Gatra, yang diturunkan edisi 11 April 2005.

 

Berikut ini petikan wawancaranya :

 

Apa yang mendorong Anda menggeser objek studi dari hadis ke Al-Quran ?

Al-Quran dan hadis keduanya pegangan penting seorang muslim. Keduanya sama-sama berasal dari Allah SWT. Selain itu, kini orang-orang Barat, para orientalis, banyak mengkaji Al-Quran sekehendak mereka. Mereka begitu ketakutan pada Al-Quran. Bagi mereka, Al-Quran seperti bom. Karena itu, mereka ingin ada proses peraguan (tasykik) atas kebenaran Al-Quran. Studi orientalis generasi lama memang antipati pada Islam. Namun ada penilaian, arah kajian mereka akhir-akhir ini makin membaik : makin apresiatif dan empati pada Islam.

 

Apanya yang membaik ?

Bila Anda hendak menyimpulkan, jangan dari fakta parsial. Anda harus menyimpulkan dari keseluruhan fakta. Masih ada orientalis yang menulis sejarah Nabi dan mengatakan bahwa musuh terbesar manusia di dunia adalah Muhammad, Al-Quran, dan pedangnya Muhammad. Dan problem mendasar kajian orientalis, mereka memulai kajiannya dengan tidak mempercayai Nabi Muhammad. Kita mengatakan, Muhammad adalah Nabi dan Rasul Allah. Menurut mereka, itu bohong besar. Jadi, mereka mengawali pembahasan dengan dasar pikiran bahwa Muhammad adalah pembohong, bukan rasul sebenarnya.

 

Mungkinkah mengkaji Islam semata-mata untuk tujuan studi, tanpa tujuan dan bekal keimanan, sebagaimana kaum orientalis ?

Tidak mungkin. Agama apa saja, pada kenyataannya, sulit sekali mengkajinya tanpa keimanan. Kita lebih mudah mengkaji dan memahami Yahudi dan Kristen, karena kita percaya dan menghormati Musa, Harun, Maryam, dan Isa. Sementara orang Yahudi dan Nasrani tidak bisa memahami Islam, karena mereka mendustakan dan tak beriman pada Muhammad. Bila Anda baca tulisan orang Yahudi tentang Isa dan Maryam, Anda akan temukan ungkapan mereka sangat kotor dan menjijikkan. Ada yang menuding Isa telah berzina tiga kali. Kalau penulisnya muslim, tidak mungkin bilang begitu. Haram ! Karena kita memuliakan para nabi terdahulu. Persoalannya, berapa banyak orang Islam yang mau mengkaji lebih jauh tentang keyakinan Yahudi dan Nasrani ? Sedangkan mereka sangat intens melakukan kajian tentang Islam.

 

Benarkah buku Anda sebagai counter atas corak kajian Al-Quran ala pemikir semacam Hassan Hanafi, Abu Zayd, dan Arkoun yang populer di Indonesia ?

Ini bukan counter langsung. Tapi ada hal penting yang harus digarisbawahi disini bahwa otoritas menafsirkan Al-Quran ada di tangan Rasulullah. Kita percaya, Al-Quran berasal dari Allah dan diturunkan pada Muhammad. Allah berfirman, “Dan kami turunkan Al-Quran pada kamu agar kamu jelaskan pada manusia.” Sama saja, bila ada problem konstitusi di Indonesia, misalnya, maka yang berwenang membuat in terpretasi adalah para hakim Indonesia. Meski meraih gelar doktor di Universitas Cambridge, saya tidak punya otoritas menyelesaikan problem konstitusi di Indonesia. Jadi, kalau ada orang berpikir liberal, lalu menafsirkan perintah salat dalam Al-Quran semaunya, tidak mengindahkan tuntunan Rasul sebagai penafsir yang mendapat mandat dari Allah, maka saya katakan, “Siapa Anda ? Siapa yang memberi Anda otoritas membuat tafsir sendiri ?” Orang-orang seperti Hassan Hanafi dan Abu Zayd itu adalah “anak-cucu” Barat. Tak perlu meng-counter langsung mereka. Kecuali kalau terpaksa. Saya sebenarnya tidak peduli pada pemikiran-pemikiran mereka. Saya ingin membentuk pandangan saya sendiri.

Dalam pandangan Anda, apa yang membuat beberapa pemikir muslim menyerap pengaruh Barat ? Tidakkah karena kekuatan argumentasi Barat ?

Persoalan pokok sebenarnya adalah soal iman. Dari berbagai informasi, sangat nyata kebanyakan dari mereka adalah fasik (banyak berbuat dosa) dan sedikit sekali yang religius (mutadayyin). Mereka tidak puasa dan tidak salat. Ketika bulan Ramadan, subuh mereka bangun, makan pagi, tapi ketika magrib, ikut berbuka bersama lainnya, malamnya juga ikut sahur, ha, ha, ha….

 

Hasan Hanafi dan Nasr Abu Zeid misalnya, tidak belajar di sekolah-sekolah Barat. Tapi pemikiran mereka seperti mewakili pemikiran Barat. Mungkinkah ?

Tentu. Karena buku-buku kajian mereka berasal dari Barat. Tapi Nasr Abu Zeid pernah belajar secara khusus di Jepang.

 

Kami pernah mengulas buku Prof.Christhop Luxenberg (nama samaran) yang berkesimpulan, bahasa asli Al-Quran adalah Aramaik, jadi yang beredar sekarang Quran palsu. Komentar Anda ?

Ah, dia pemikir bodoh. Beberapa penulis mengomentari bahwa pengetahuannya tentang bahasa Syiriya-Aramaik sangat dangkal. Kata dia, Al-Quran berasal dari bahasa Aramaik, kemudian setelah 100 tahun beralih ke bahasa Arab. Sehingga disebut Quran kondisional. Itu sama sekali bukan kajian ilmiah.

 

Apakah pemikiran Chistof ilmiah atau tidak ?

Tidak. Sama sekali jauh dari pemikiran ilmiah…

 

Apakah ini merupakan salah satu cara dari para orientalis untuk merusak umat Islam ?

Itu nggak ada artinya. Tapi sekarang beberapa kali dan akan berkali-kali, mereka menginginkan bahwa ketika Al-Quran dibuat tidak ada titik dan tasydid. Nah, sekarang mereka menginginkan agar Al-Quran diperbarui dari sisi titik dan tasydid-nya. Lalu, membacanya seperti yang kita kehendaki, memberi tanda-baca baru, dan menjadikannya baru. Al-Quran lalu menjadi Al-Quran sesuai kebutuhan/kondisional.

 

Apakah mereka juga memiliki kaidah dasar untuk membuat Al-Quran kondisional tersebut ?

Kaidahnya ya sekehendak hati mereka. Karena mereka memberi tanda baca sesuai kebutuhan mereka.

 

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Al-Quran merupakan produk budaya. Apa komentar Anda ?

Itu pendapat Nasr Abu Zeid. Tapi apa yang sebenarnya disebut produk budaya ? Ini tak ubahnya ketika orang menyebut “terorisme”. Semua berbicara terrorism. Tapi tidak pernah ada satu pun definisi yang muttafaq alaihi tentang terorisme. Terorisme justru kerap dikaitkan dengan Islam. Kita perlu memahami apa pengertiannya dulu.

 

Dalam hal ini, apakah pengertian produk budaya sama dengan asbabun nuzul (memahami Quran secara kontekstual) ?

Tidak (sama). Memahami Quran secara kontekstual bisa dilakukan, jika “sesuatu” mempunyai kaitan dengan asbabun nuzul, tapi tak bisa diterapkan di semua tempat. Kecuali di beberapa tempat khusus yang merupakan sebab turunnya (ayat). Jadi, Anda tak bisa datang dan langsung mengatakan aqiimus shalat. Padahal di sana tidak ada asbabun nuzul, karena di sana adalah amr (perintah). Seharusnya, sebelum itu ada sebab. Allah adalah pencipta seluruh makhluk. Tentunya Dia tahu mana yang berbahaya dan bermanfaat bagi makhluk-Nya. Jangan bermain dengan Api ! Tidak ada …konteks di sini. Tidak hanya berlaku se karang tapi selamanya.

 

Ini wacana yang elit. Apa hal penting dari buku Anda bagi orang-orang awam ?

Saya tak bisa mengemukakan sesuatu untuk semua orang. Jadi saya sudah kepikiran untuk menulis buku baru, yang bisa dibaca dan dipahami oleh semua ummat Islam.

 

Anda pernah belajar dan lulus dari sebuah universitas di Barat. Tapi sikap anda tampak konservatif, dalam arti tidak liberal orang-orang seperti Hassan Hanafi atau Nasr Abu Zeid. Mengapa ?

No ! Saya kira ini pertanyaan dan persoalan tentang iman. Ha…ha..ha…

 

Menurut anda, apa yang salah dengan Barat ?

Apa yang salah dengan Barat adalah sikap (attitude)-nya.

 

Apa tantangan terbesar bagi umat Islam saat ini ?

Kitalah sesungguhnya tantangan terbesarnya. Karena kita tidak mempraktekkannya. Man ghassa falaisa minna. “Barangsiapa yang menipu tidak termasuk golongan kami”. Kalau anda mengambil hadits dan mengujinya di dalam kehidupan (Adzami memberi contoh, bagaimana ia menemukan seorang penjual susu yang menempelkan hadis ini di atas tokonya, tapi ternyata ia menambah air dalam susu yang dijualnya). Meskipun Anda percaya Al-Quran dan Hadits, tapi dalam praktek kehidupan kita kita jauh dari sunnah. Ini salah satu kesulitan kita. Kalau kita menjadi good practicese-nya moslem. Saya tidak bicara tentang Islamisasi ilmu di sini. Tapi saya ingin menegaskan bahwa pengetahuan di Islam masih sangat jauh dari praktek. Islam itu sebenarnya praktek, bukan teori.

 

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1802&Itemi

 

Pemerintah AS Harus Minta Maaf atas Pelecehan Qur’an

Tindakan para prajurit Amerika yang memasukkan kitab suci Al Qur’an ke dalam toilet terus mendapat protes dan tantangan. Rais Syuriyah PBNU KH Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa pemerintah Amerika Serikat harus meminta maaf atas tindakan pelecehan tersebut. “Melecehkan kitab suci Al Qur’an sama dengan melecehkan umat Islam. Karena itu pemerintah AS harus minta maaf kepada umat Islam. Jika tidak ini akan dicatat oleh umat Islam selama-lamanya” tandas nya kepada NU Online (13/5).

Selanjutnya pemerintah AS juga harus menghukum para pelaku tindakan, termasuk pimpinanya agar kejadian tersebut tak terulang kembali dimasa yang akan datang.

Ketua Dewan Syariah Nasional MUI tersebut mengungkapkan bahwa selama ini Amerika Serikat selalu menggembar-gemborkan sebagai negara yang cinta damai, saling menghormati dan lainnya. Akan terdapat kontradiksi dengan kenyataan yang dihadapi.

“Jika pemerintah AS ingin dihormati oleh kaum muslimin, maka mereka juga harus menghormati umat Islam,” tambahnya. Mantan ketua dewan syuro PKB tersebut menilai wajar-wajar saja adanya protes dan demonstrasi yang mengutuk kejadian tersebut. Namun demikian, diharapkan mereka tidak berlaku emosional.

 

 

http://www.nu.or.id/data_detail.asp?kategori=WARTA&id_data=5018 – (c)2003, PBNU.

 

“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS.An Nahl : 64).


Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.014/th.02/Rabi’ul Tsani-Jumada Al Awwal 1426H/2005M


Laa royba fiihi…..

Januari 3, 2008

“Dzaalikal kitaabu laa royba fiihi”, artinya : Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya. Kutipan dari sebagian ayat 2 surat Al Baqarah ini cukup dikenal kalangan yang biasa mempelajari islamologi, yakni para orientalis dan missionaris. Bagi umat Islam, kalimat itu dapat meningkatkan keimanan terhadap Al Qur’an, karena kata “laa royba fiihi” merupakan salah satu dalil yang menjamin kebenaran semua isinya, tak ada yang perlu diragukan !. Bahkan merupakan satu-satunya kitab suci yang secara tegas mencantumkan jaminan kebenaran tersebut.
Namun tidak demikian halnya bagi kalangan orientalis dan missionaris, kata “laa royba fiihi” justru membuatnya tidak suka dan dengki. Dari niat awalnya mempelajari islam yang sudah salah, yakni dilandasi dengan sikap yang anti islam, dan mempelajari islam hanya untuk mengorek-ngorek kelemahannya, maka kata “laa royba fiihi” itu merupakan ganjalan bagi semua langkah mereka.

Para orientalis dan missionaris tersebut dengan segala daya telah mencurahkan usaha untuk menggoyahkan keyakinan manusia, khususnya terhadap ummat Islam, agar timbul keraguan terhadap kebenaran Al Qur’an. Mereka membangun sekolah-sekolah bergengsi, mendatangkan pengajar-pengajar bertitel tinggi, mengobral beasiswa bagi umat islam yang kelihatan vokal, agar nantinya setelah lulus memiliki rasa bangga terhadap almamaternya dan diharapkan bisa menyambung suara mereka. Para orientalis dan missonaris itu mampu menyusup dalam berbagai bidang, baik dunia politik, keamanan, budaya, dll. Bahkan pura-pura menjadi muslim pun mereka sudi melakukannya.

Tercatat sederet nama para orientalis-missionaris yang telah berusaha mengutak-utik kesucian Al Qur’an, antara lain :

Gustav Fluegel (1834), orientalis Jerman, yang menerbitkan ‘mushaf’ dengan judul Corani Textus Arabicus, dan sempat dipakai “tadarrus” oleh sebagian aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL).
Theodor Noeldeke (1860) menerbitkan Geschichte des Qorans, sebuah karya yang berusaha merekonstruksi ulang sejarah Al Qur’an.
Alphonse Mingana (1927) pendeta Kristen asal Iraq, guru besar Universitas Birmingham Inggris, mengatakan bahwa “sudah tiba saatnya melakukan kritik teks Al-Qur’an sebagaimana yang telah kita lakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani”. Dan masih ada beberapa nama lagi yang tak mungkin dirinci dalam selembar mukaddimah ini.

Menghadapi musuh dari kalangan berpendidikan tinggi, tentu harus berbekal ilmu yang tinggi pula. Salah satu tokoh Islam bernama Prof.Dr.Muhammad Mustafa Azami sangat layak disebut sebagai salah satu pejuang Islam abad ini. Beliau seorang ulama, pemikir, peneliti, juga menulis berbagai karya yang diakui banyak kalangan sebagai karya tulis bermutu tinggi, sehingga pada tahun 1980 sempat mendapat hadiah international dari raja Faisal untuk bidang studi Islam. Karya-karyanya yang bermutu tinggi membuat banyak kalangan menjulukinya dengan bermacam predikat. Beliau dijuluki sebagai Pembela Eksistensi Hadits karena berhasil meruntuhkan argumentasi orientalis yang menolak hadits-hadits Nabi SAW. Dijuluki Spesialis Penakluk Orientalis, karena berhasil mematahkan tesis-tesis orientalis yang terus berusaha mendiskreditkan penafsiran Al Qur’an, bahkan memalsukan teks-teksnya.

Dan dari karya spektakulernya berjudul “The History of The Qur’anic Text”, guru besar Studi Islam di Universitas Raja Saud, Riyadh-Saudi Arabia ini benar-benar menunjukkan kemahirannya dalam mematahkan serangan para orientalis. Prof Azami mampu menjawab berbagai permasalahan dengan sangat ilmiah, obyektif dan terperinci perihal sejarah teks Al Qur’an, yang mana selama ini sering mendapat kecaman dan gangguan dari para orientalis terkemuka. Buku beliau ini sangat layak dimiliki setiap muslim, karena di dalamnya tercakup berbagai fakta dan argumentasi yang sangat meyakinkan mengenai keaslian teks-teks Al Qur’an. Wallahu a’lam.

[dari : Mukaddimah Labbaik, edisi : 034/th.04/Sya’ban-Ramadhan 1428H/2007M]


Apakah mereka tidak memperhatikan unta ?

Desember 29, 2007

Lima puluh lima derajat celcius adalah suhu yang panas membakar. Itulah cuaca panas di gurun pasir, daerah yang tampak tak bertepi dan terhampar luas hingga di kejauhan. Di sini terdapat badai pasir yang menelan apa saja yang dilaluinya, dan yang sangat mengganggu pernafasan. Padang pasir berarti kematian yang tak terelakkan bagi seseorang tanpa pelindung yang terperangkap di dalamnya. Hanya kendaraan yang secara khusus dibuat untuk tujuan ini saja yang dapat bertahan dalam kondisi gurun ini.

Kendaraan apapun yang berjalan di kondisi yang panas menyengat di gurun pasir, harus didisain untuk mampu menahan panas dan terpaan badai pasir. Selain itu, ia harus mampu berjalan jauh, dengan sedikit bahan bakar dan sedikit air. Mesin yang paling mampu menahan kondisi sulit ini bukanlah kendaraan bermesin, melainkan seekor binatang, yakni unta.

Unta telah membantu manusia yang hidup di gurun pasir sepanjang sejarah, dan telah menjadi simbul bagi kehidupan di gurun pasir. Panas gurun pasir sungguh mematikan bagi makhluk lain. Selain sejumlah kecil serangga, reptil dan beberapa binatang kecil lainnya, tak ada binatang yang mampu hidup di sana. Unta adalah satu-satunya binatang besar yang dapat hidup di sana. Allah telah menciptakannya secara khusus untuk hidup di padang pasir, dan untuk melayani kehidupan manusia. Allah mengarahkan perhatian kita pada penciptaan unta dalam ayat berikut :
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan. (QS. Al-Ghaasyiyah, 88:17)

Jika kita amati bagaimana unta diciptakan, kita akan menyaksikan bahwa setiap bagian terkecil darinya adalah keajaiban penciptaan. Yang sangat dibutuhkan pada kondisi panas membakar di gurun adalah minum, tapi sulit untuk menemukan air di sini. Menemukan sesuatu yang dapat dimakan di hamparan pasir tak bertepi juga tampak mustahil. Jadi, binatang yang hidup di sini harus mampu menahan lapar dan haus, dan unta telah diciptakan dengan kemampuan ini.

Unta dapat bertahan hidup hingga delapan hari pada suhu lima puluh derajat tanpa makan atau minum. Ketika unta yang mampu berjalan tanpa minum dalam waktu lama ini menemukan sumber air, ia akan menyimpannya. Unta mampu meminum air sebanyak sepertiga berat badannya dalam waktu sepuluh menit. Ini berarti seratus tiga puluh liter dalam sekali minum; dan tempat penyimpanannya adalah punuk unta. Sekitar empat puluh kilogram lemak tersimpan di sini. Hal ini menjadikan unta mampu berjalan berhari-hari di gurun pasir tanpa makan apapun.

Kebanyakan makanan di gurun pasir adalah kering dan berduri. Namun sistem pencernaan pada unta telah diciptakan sesuai dengan kondisi yang sulit ini. Gigi dan mulut binatang ini telah dirancang untuk memungkinkannya memakan duri tajam dengan mudah. Perutnya memiliki disain khusus tersendiri sehingga cukup kuat untuk mencerna hampir semua tumbuhan di gurun pasir. Angin gurun yang muncul tiba-tiba biasanya menjadi pertanda kedatangan badai pasir. Butiran pasir menyesakkan nafas dan membutakan mata. Tapi, Allah telah menciptakan sistem perlindungan khusus pada unta sehingga ia mampu bertahan terhadap kondisi sulit ini. Kelopak mata unta melindungi matanya dari dari debu dan butiran pasir. Namun, kelopak mata ini juga transparan atau tembus cahaya, sehingga unta tetap dapat melihat meskipun dengan mata tertutup. Bulu matanya yang panjang dan tebal khusus diciptakan untuk mencegah masuknya debu ke dalam mata. Terdapat pula disain khusus pada hidung unta. Ketika badai pasir menerpa, ia menutup hidungnya dengan penutup khusus.

Salah satu bahaya terbesar bagi kendaraan yang berjalan di gurun pasir adalah terperosok ke dalam pasir. Tapi ini tidak terjadi pada unta, sekalipun ia membawa muatan seberat ratusan kilogram, karena kakinya diciptakan khusus untuk berjalan di atas pasir. Telapak kaki yang lebar menahannya dari tenggelam ke dalam pasir, dan berfungsi seperti pada sepatu salju. Kaki yang panjang menjauhkan tubuhnya dari permukaan pasir yang panas membakar di bawahnya. Tubuh unta tertutupi oleh rambut lebat dan tebal. Ini melindunginya dari sengatan sinar matahari dan suhu padang pasir yang dingin membeku setelah matahari terbenam. Beberapa bagian tubuhnya tertutupi sejumlah lapisan kulit pelindung yang tebal. Lapisan-lapisan tebal ini ditempatkan di bagian-bagian tertentu yang bersentuhan dengan permukaan tanah saat ia duduk di pasir yang amat panas. Ini mencegah kulit unta agar tidak terbakar. Lapisan tebal kulit ini tidaklah tumbuh dan terbentuk perlahan-lahan; tapi unta memang terlahir demikian. Disain khusus ini memperlihatkan kesempurnaan penciptaan unta.

Marilah kita renungkan semua ciri unta yang telah kita saksikan. Sistem khusus yang memungkinkannya menahan haus, punuk yang memungkinkannya bepergian tanpa makan, struktur kaki yang menahannya dari tenggelam ke dalam pasir, kelopak mata yang tembus cahaya, bulu mata yang melindungi matanya dari pasir, hidung yang dilengkapi disain khusus anti badai pasir, struktur mulut, bibir dan gigi yang memungkinkannya memakan duri dan tumbuhan gurun pasir, sistem pencernaan yang dapat mencerna hampir semua benda apapun, lapisan tebal khusus yang melindungi kulitnya dari pasir panas membakar, serta rambut permukaan kulit yang khusus dirancang untuk melindunginya dari panas dan dingin.

Tak satupun dari ini semua dapat dijelaskan oleh logika teori evolusi, dan kesemuanya ini menyatakan satu kebenaran yang nyata: Unta telah diciptakan secara khusus oleh Allah untuk hidup di padang pasir, dan untuk membantu kehidupan manusia di tempat ini. Begitulah, kebesaran Allah dan keagungan ciptaan-Nya tampak nyata di segenap penjuru alam ini, dan Pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu. Allah menyatakan hal ini dalam ayat Alquran :”Sesungguhnya, Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan – Nya meliputi segala sesuatu. (QS. Thaahaa, 20:98)

http://www.harunyahya.com/indo/artikel/032.htm

Keajaiban Sidik Jari
Ilmu pengetahuan modern menyingkap banyak hal yang membuat keimanan seorang mukmin terhadap keterangan Al Quran semakin mantap. Ayat-ayat Allah di dalam Al Qur-an menjadi benar-benar jelas tergambar dan terbukti kebenarannya manakala kita melihat bukti-bukti nyata dalam alam semesta dan kemajuan ilmu pengetahuan.
Dalam kasus pembunuhan misalnya, Polisi dapat mengidentifikasi kejahatan berdasarkan sidik jari yang ditinggalkan oleh pelaku di tubuh korban. Hal ini disebabkan struktur sidik jari setiap orang berbeda satu dengan lainnya. Bila kelak penjahat itu telah ditemukan maka untuk membuktikan kejahatannya sidik jarinya akan dicocokkan dengan sidik jari yang ada dalam tubuh korban.. Maka si penjahat tidak dapat memungkiri perbuatannya di hadapan polisi.
Karena itu pula seorang yang mau menggunakan ATM (Anjungan tunai Mandiri) di masa depan mungkin tidak perlu lagi menggunakan kode-kode PIN yang perlu dia ingat. Cukup dengan menaruh telapak tangan di atas mesin yang dapat mengidentifikasi dirinya. Jumlah uang yang diinginkan pun tidak perlu ditekan-tekan lagi tetapi cukup dengan diucapkan dan komputer akan menerjemahkannya dalam bahasa angka. Berapa jumlah uang yang Anda minta akan diberikan dan uang di rekening Anda akan dipotong dengan sendirinya.
Pintu rumah di zaman yang akan datang tidak perlu lagi dikunci dengan alat kunci tradisional tetapi bisa dibuka oleh alat sensor yang hanya mengenal jari-jari orang tertentu saja… Demikian juga stir mobil akan mengenal hanya pengemudi tertentu saja karena ada sensor yang mengenal jari pemiliknya.

Keistimewaan pada jari jemari manusia menunjukkan kebenaran firman Allah yang menyatakan bahwa segala sesuatu ada bekasnya. Allah tidak akan menyia-nyiakan bekas-bekas ini untuk dituntut di yaumil akhir nanti.
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. 36. Yaasin:12)

http://www.pesantrenonline.com/MutiaraShubuh/detailMS.php3?detail=217&huruf=K”

Sidik Jari
Saat dikatakan dalam Al Qur’an bahwa adalah mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia setelah kematiannya, pernyataan tentang sidik jari manusia secara khusus ditekankan :”Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya ? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) ujung jari-jarinya dengan sempurna.” (Al Qur’an, 75:3-4)

Penekanan pada sidik jari memiliki makna sangat khusus. Ini dikarenakan sidik jari setiap orang adalah khas bagi dirinya sendiri. Setiap orang yang hidup atau pernah hidup di dunia ini memiliki serangkaian sidik jari yang unik dan berbeda dari orang lain.
Itulah mengapa sidik jari dipakai sebagai kartu identitas yang sangat penting bagi pemiliknya dan digunakan untuk tujuan ini di seluruh penjuru dunia.

Akan tetapi, yang penting adalah bahwa keunikan sidik jari ini baru ditemukan di akhir abad ke-19. Sebelumnya, orang menghargai sidik jari sebagai lengkungan-lengkungan biasa tanpa makna khusus. Namun dalam Al Qur’an, Allah merujuk kepada sidik jari, yang sedikitpun tak menarik perhatian orang waktu itu, dan mengarahkan perhatian kita pada arti penting sidik jari, yang baru mampu dipahami di zaman sekarang.

http://www.keajaibanalquran.com/biology_10.htm
Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.006/th.01/Rajab 1425H/2004M


P a l e s t i n a

September 11, 2007

Yang pertama terlintas dalam pikiran seorang muslim bila mendengar kata “Palestina” adalah Masjid Al Aqsa, Kota Al Quds (Yerusalem) dan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Hal itu dikarenakan, terutama dari ketiga hal tersebut terpancar makna yang amat dalam dan erat hubungannya dengan aqidah, ibadah, jihad, Qur’an dan rasulullah SAW. Dari ketiga hal tersebut merupakan simbol peralihan kepemimpinan dari seluruh ummat manusia kepada ummat Muhammad SAW, sebagaimana firman Allah SWT, yg artinya, :” Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (QS.Al Baqarah : 124).

Namun dengan pandangan picik, mulut-mulut para pembesar Yahudi, Amerika dan konco-konconya meneriakkan bahwa Palestina adalah milik masyarakat Yahudi. Dan mereka mengaku-aku, bahwa Al Quds adalah ibu kota negerinya. Sungguh ini bukan sekedar tudingan yang tidak ada dasarnya, seorang Perdana Menteri Yahudi, Ehud Barak, telah berani secara terang-terangan mengatakan, “Kelak Yerusalem akan menjadi sebuah kerajaan yang besar, lebih besar dari masa-masa sebelumnya, bahkan lebih besar dibanding saat pemerintahannya dipegang oleh Daud. Yerusalem akan menjadi kota pemersatu (Yahudi) dan kota yang diakui kalangan internasional sebagai ibu kota Israel”.(Al Ahram Al Qahiriyah, 1 Rajab 1421, 29/9/2000, hal : 1).

Disaat yang sama, Ariel Sharon, pemimpin partai oposan Israel (saat ini jabatan perdana menteri telah beralih ke tangannya) berusaha keras untuk memmbabat habis eksistensi Arab dan Islam dari bumi Palestina, khususnya Al Quds. Maka dikirim 3.000 pasukan untuk melindungi dirinya saat membuat provokasi di Al Quds pada bulan Rajab 1421H (atau 29 September 2000), tanggal tersebut bertepatan dengan hari pembebasan Palestina oleh Shalahuddin Al Ayyubi pd bulan September 1187 M atau Rajab 583 H.
Yang menyedihkan, sejak provokasi tersebut, dunia menyaksikan dengan sikap diam seribu bahasa, Yahudi mulai melakukan Collective Extermination (pembantaian massal) terhadap kaum muslimin Palestina dengan sangat biadab. Demi melihat berbagai kezalimaan yang terus dilakukan Yahudi, maka Amerika juga konco-konconya yg kemana-mana terus membual tentang demokrasi dan hak asasi manusia, mereka hanya melirik sebelah mata, bahkan menganggap tidak ada apa-apa segala perilaku destruktif, diskriminatif, manipulatif, yg dilakukan Yahudi. Pembunuhan anak-anak, kaum wanita, orang-orang jompo, hingga darahnya terus membasahi bumi suci itu.

Sadarlah wahai kaum muslimin, motto Yahudi, menjadikan kota Al Quds sebagai ibu kota Israel, dan langkah-langkah membebaskan Palestina tersebut dari bangsa Arab dan umat Islam. Motto ini pertama kali disuarakan oleh para tokoh agama yahudi dengan alasan, bahwa Palestina adalah negeri yang dijanjikan Allah untuk umat Yahudi melalui lisan ‘rasul-rasulnya’. Berbagai rekayasa telah mereka laksanakan untuk pencapaian tujuan tersebut, dipelopori oleh Hertzl dengan mendirikan negara Yahudi secara politis. Dan seluruh umat Yahudi yang masih tersebar di berbagai belahan dunia kelak akan diminta pulang kembali ke ‘tanah yang dijanjikan’ tersebut. Namun usaha ini tidak mudah, karena banyak juga orang Yahudi yang sudah terlanjur suka berdomisili di tanah ‘rantau’, enggan disuruh tinggal di ‘tanah yang dijanjikan’. Menyadari kenyataan ini, maka para rahib dan petinggi Yahudi merubah strategi, bukan lagi pendekatan politik yang dilakukan, tetapi pendekatan agamis. Dan ternyata pendekatan inilah yang akhirnya menggugah hati kebanyakan bangsa Yahudi ‘diperantauan’, apalagi menurut ‘aqidah’ bathil Yahudi, bahwa Palestina adalah satu-satunya negeri yang dijanjikan oleh tuhan. Maka dengan berbagai usaha para ‘perantau’ itu pun mendukung, menyokong, menyumbang, membantu berbagai usaha untuk membebaskan tanah Palestina dari bangsa Arab dan penduduk Islam.

Pada perang dunia I dan II, Inggris punya banyak negara jajahan, baik di daerah Timur Tengah dan Afrika. Uganda salah satu daerah jajahannya pernah ditawarkan kepada bangsa Yahudi untuk tempat domisili baru bagi para Yahudi perantau. Namun daerah Uganda itu ditolak para Yahudi ‘perantau’ dan Konferensi Zionis, dikarenakan kemiskinan dan kekayaan alamnya yang terbatas. Begitu pula sebelumnya, yakni pada th.1902 pernah ditawarkan daerah Sinai yang teduh untuk pemukiman Yahudi, tapi daerah ini ditolak pula, alasannya daerah tersebut masih jadi wilayah kekuasaan Daulah Utsmaniyah. Begitu juga halnya ketika ditawarkan daerah di tepian sungai Yordania, tetap ditolak oleh mereka. Kemudian muncul ide untuk memilih daerah Palestina, yg mana ide ini dimulai oleh seorang Yahudi Perancis (Musaheis), kemudian ditindak lanjuti oleh Hertzl. Ide ini langsung disetujui oleh Inggris, karena jumlah imigran Yahudi dari Rusia dan Eropa Timur terus saja bertambah, dan lagi ada alasan menempati Palestina karena merupakan warisan keagamaan menurut para rahib Yahudi. Dan sangat klop dengan semangat Eropa yang tidak begitu suka dengan bangsa Yahudi.

Sejak saat itulah Inggris, dan Eropa pada umumnya mendukung proyek Zionis, sekaligus untuk mengacaukan negara-negara Islam, termasuk untuk melakukan tekanan-tekanan thd Daulah Utsmaniyah, maka ditancapkanlah sosok-sosok manusia asing di negara tersebut, yang siap menyedot sumber daya, kekuatan dan kekayaannya. Dari sinilah terungkap bualan dan ketidak-benaran seruan nasionalisme, demokrasi, hak asasi manusia yang selalu mereka dengungkan. Padahal klaim terhadap negeri ‘yang dijanjikan’ (Palestina) itu adalah dusta belaka. (Baca : Al Imbarialiyah wa Shayyuniyah, Dr.Busyair Nafi’, hal : 82 atau baca juga : Al Quds Arabiyah islamiyah, Dr.Faraj Rasyid, hal 207).
Maka sejak saat itulah, yakni sejak munculnya ide dari Hertzl yang berhasil mengetuk emosional seluruh bangsa Yahudi, maka Hertzl dan para pengikutnya mulai merancang untuk menjatuhkan pemerintahan Sultan Abdul Hamid II, khalifah umat islam yg saat itu merupakan ganjalan yang sangat diperhitungkan, dan akan meng halangi mimpi Yahudi untuk menguasai Palestina. Sejak saat itulah bangsa Yahudi dikomandoi oleh International Jewish Conference, dan dibantu oleh bangsa-bangsa kafir yang tidak menyukai Islam, mulia melakukan perongrongan terhadap khalifah Islamiyah.

Puncaknya adalah ketika menteri luar negeri Inggris pd tanggal 2 nopember 1917, di Balfour, memberi wewenang kepada Yahudi International untuk mendirikan sebuah negara yang resmi di tanah Palestina. Sejak peristiwa Balfour inilah, kemudian banyak peristiwa begitu terjadi, dalam waktu relatif cepat. Dan pada tgl. 15 Mei 1948 Israel memproklamirkan berdirinya negara tersebut di atas tanah Palestina. Hanya dalam tempo 8 menit kemudian Rusia menyatakan setuju atas berdirinya negara Israel, disusul setengah jam kemudian oleh Amerika. Kedua negara kafir ini menyatakan, “Israel memang tercipta untuk menempati daerah itu (Palestina)…”.

Pemutar-balikan ayat-ayat Al Qur’an

Tidak lama kemudian dunia Islam dikejutkan oleh pernyataan seorang perdana menteri Israel, Menaham Beigin, dalam upayanya merekayasa keabsahannya menduduki tanah Palestina, dia membuat pernyataan-pernyataan berikut :

“Sesungguhnya hak Israel atas Palestina secara historis adalah merupakan hak abadi, yang diperkuat oleh kitab-kitab yang diantaranya adalah Al Qur’an sendiri”.

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”. (QS.Al Maidah : 21)

Itulah salah satu ayat Al Qur’an yang dimanipulasi, padahal maksud sebenarnya dari ayat di atas adalah: tanah Palestina itu ditentukan Allah bagi kaum Yahudi selama mereka iman dan taat kepada Allah. Membaca ayat di atas seharusnya tidak diputus sampai disitu saja, karena ayat 21 itu masih dilanjutkan kisahnya pada ayat-ayat berikutnya. Kalau ditelaah ayat-ayat lanjutannya, maka akan terlihat jelas rekayasa ucapan di atas. Tidak semestinya hanya diambil ayat 21 saja untuk dijadikan dalil, karena ayat-ayat berikutnya adalah penjelasan ayat 21 tersebut. Bahkan dalam tafsir Ibnu Katsir, tercatat bahwa mulai ayat 20-26 adalah merupakan satu bahasan pokok.

Bunyi ayat-ayat tersebut selengkapnya adalah sbb :

TENTANG : KEENGGANAN BANGSA YAHUDI MENTAATI PERINTAH NABI MUSA A.S MEMASUKI PA LESTINA DAN AKIBATNYA.

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”. (QS.Al Maaidah : 20).

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu [a], dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS.Al Maaidah : 21)

“Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya”. (QS.Al Maaidah : 22)

“Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.” (QS.Al Maaidah : 23)

“Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”. (QS.Al Maaidah : 24)

“Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”. (QS.Al Maaidah : 25)

“Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (QS.Al Maaidah : 26)

keterangan : [a] Maksudnya: tanah Palestina itu ditentukan Allah bagi kaum Yahudi selama mereka iman dan taat kepada Allah.

Itulah susunan ayat selengkapnya, Allah SWT berfirman, memberitahukan tentang hamba, dan rasul-Nya, sekaligus kalim-Nya (orang yang diajak bicara oleh Allah SWT), yakni Musa bin ‘Imran berkaitan dengan peringatan yang disampaikan oleh Musa kepada kaumnya (bangsa Yahudi), mengenai nikmat-nikmat Allah yang telah di anugerahkan kepada mereka, serta karunia yang Allah limpahkan kepada mereka, serta penyatuan nikmat dunia akhirat oleh-Nya, jika mereka tetap berada di jalan yang lurus.

Selanjutnya Allah SWT memberitahukan ajakan Musa kepada bangsa Yahudi untuk berjihad dan memasuki Baitul Maqdis yg pd jaman nenek moyang mereka, yaitu Ya’qub, Baitul Maqdis tersebut berada di tangan mereka. Setelah Ya’qub beserta keluarganya pergi ke Mesir pd masa pemerintahan nabi Yusuf, dan mereka menetap di Mesir hingga akhirnya mereka meninggalkan Mesir bersama nabi Musa.
Ternyata disana mereka mendapatkan bangsa Amaliq yang gagah perkasa telah menakutkan dan menguasainya. Maka nabi Musa menyuruh mereka itu untuk memasuki negeri itu dan memerangi musuh-musuh mereka itu. Setelah itu Musa menyampaikan kabar gembira berupa kemenangan & keberuntungan atas mereka. Namun mereka membangkang, mendurhakai dan menentang perintahnya, sehingga mereka dihukum agar pergi ke padang Tiih (padang Sahara yang sering membingungkan dan menyesatkan orang) dan berkutat (berputar-putar) pada perjalanan mereka dalam keadaan bingung, tidak tahu bagaimana mereka harus mencapai tujuan, selama 40 tahun, sebagaimana hukuman bagi mereka akibat sikap meremehkan terhadap perintah Allah SWT. (kisah kelanjutannya silahkan dibaca dalam tafsir Ibnu Katsir, juz 6 hal : 61 dst).

Setelah merekayasa ayat al Qur’an, perdana menteri tersebut masih menambah lagi dengan pernyataan yang meng-klaim bahwa Al Quds adalah milik Israel saja, bukan untuk bangsa lain. “Sesungguhnya Allah telah menjadikan kota Al Quds khusus buat kami bangsa Yahudi saja, bukan untuk bangsa lain. Oleh sebab itu tidak boleh ada seorang pun yang berseteru dengan kami mengenai kota tersebut”. (Al Quds Qodhiyyatu Kulli Muslim, DR.Yusuf Qorodhowi, hal.97)

Menyadari kenekadannya hingga berani merekayasa ayat Al Qur’an, menyadari bahwa mereka telah nekad meng-klaim kota Al Quds hanya untuk Yahudi saja. Maka buat apa bermanis muka dengan Yahudi ini. Harun Yahya mengingatkan, “Dalam rentang waktu hampir satu abad, jutaan orang tak berdosa telah terbunuh oleh teror, pembantaian, dan penyiksaan bangsa Israel. Jutaan orang Palestina yang tak bersalah dipaksa keluar dari rumah dan tanah air mereka dan terpaksa hidup dalam kemiskinan, terancam kelaparan, dalam kamp-kamp pengungsian. Semua upaya untuk menyelesaikan penindasan dan kekejaman, yang disaksikan oleh dunia, dan untuk membangun sebuah perdamaian wilayah yg berkesinambungan telah gagal. Pembicaraan-pembicaraan perdamaian palsu yang dilakukan di bawah sokongan pemerintahan Barat terbukti tak ada gunanya, selain memberi kesempatan Israel melaksanakan taktik baru untuk membersihkan wilayah yang ditempatinya dari penduduk Palestina. Palestina lebih dari sekedar perang antara Arab dengan Israel. Sebuah perjuangan untuk hidup tengah dilakukan oleh bangsa Palestina, yang tanah dan hak-haknya dirampas paksa oleh kekuatan pendudukan Israel. Lebih-lebih lagi, tanah yang kita bicarakan ini berisi tempat-tempat yang suci bagi umat Islam. Palestina itu sangat penting bagi umat Islam karena Yerusalem adalah kiblat pertama umat Islam, dan tempat mikraj (perjalanan malam) Nabi Muhammad SAW. Di samping itu, Palestina itu tidak hanya suci bagi umat Yahudi dan Islam, melainkan juga bagi umat Nasrani.”

“Satu kenyataan penting tidak bisa diabaikan: Orang-orang Palestina menderita kekejaman dan penghinaan dan seluruh dunia menyaksikannya. Sementara warga Palestina setiap hari menjadi sasaran peluru tentara Israel, sementara jutaan manusia menjalani bertahun-tahun dalam kelaparan dan kemiskinan di kamp-kamp pengungsian, sementara banyak orang Islam (termasuk wanita) disiksa di penjara-penjara Israel. Maka sebuah tanggung jawab serius pun dibebankan kepada semua orang Islam yang beriman kepada Allah dan takut kepada Hari Pembalasan. Ketika Anda membaca tulisan ini, ketahuilah bahwa perjuangan ribuan orang-orang Palestina yang tertekan untuk bertahan di tanah ini terus berlanjut dalam semua kekerasannya. Tentara pendudukan Israel mungkin tengah mengebom kota-kota Palestina atau kamp-kamp pengungsian. Di setiap bagian Jalur Gaza, Tepi Barat, atau Yerusalem, orang -orang Palestina hari ini menanggung penindasan dan kekejaman yang sebagian besar karena mereka adalah orang Islam.”

Tanggung jawab kita karena mengikuti berita-berita di media massa tentang kekejaman dan perbuatan tak berprikemanusiaan ini, tapi kemudian terus menjalani keseharian seolah-olah tak ada yang terjadi, tak disangkal lagi akan menjadi beban teramat berat untuk ditanggung. Sebenarnya, Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa setiap orang yang beriman dan yang memiliki kesadaran akan yang hak dan yang batil bertanggung jawab untuk berjuang atas nama orang-orang yang tengah tertindas.
“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau !” (Qur’an, 4:75).

Tanggung jawab yang ditanggung oleh orang-orang yang mendengar ayat tersebut dan mau mengucurkan bantuan kepada orang yang mengalami kekejaman, diterangkan oleh: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran :104).

Tanggung jawab kita adalah melawan ideologi rasis, sosial Darwinisme yang mementingkan ras dan tidak toleran, yang menjadi dasar semua ketidakadilan dan ketidak bijaksanaan di dunia.

Tanggung jawab kita adalah mengajak semua manusia untuk beriman kepada Allah dan memperlihatkan keindahan akhlak agama, dan menjalankan perjuangan intelektual melawan semua ideologi yang membenci agama Allah dan tata prilaku Al-Qur’an.

[Disarikan dari :
1. 10 Fakta Di Balik Klaim Yahudi Atas Baitul Maqdis, Dr.Abu Hudzaifah Muhammad Ad Dasuqi, Pustaka At Tauhid, Jakarta.
2. Tragedi Palestina, Harun Yahya-www.harunyahya.com]

SEORANG TENTARA ISRAEL MELUKISKAN KEKEJAMANNYA

Serangan Libanon pertama saya adalah pada tahun 1986. Saya wajib militer Israel berusia 19 tahun, dan peleton penerjun payung saya dikirim ke suatu desa yang saya lupa namanya. Kami mendobrak pintu sebuah rumah, memeriksa keluarga di dalamnya, dan mengeluarkan seorang pria berusia separuh baya. Setelah menutup matanya dan mengikat tangannya di belakang punggungnya, kami membawanya ke sebuah jalanan sepi, memaksanya berlutut, dan menaruh senjata di kepalanya, mengancam menembak jika ia tidak bicara. Seorang petugas perdamaian PBB muncul dan meng akhiri insiden itu, tapi masih akan ada lagi yang terjadi.

Hari berikutnya kami melakukan hukuman mati yang tidak masuk akal atas seorang anak Libanon berusia 10 tahun. Kami memaksa keluarganya masuk dapur dan menyeretnya ke samping kebun. Letnan saya memasukkan kepalanya ke dalam kotoran dan saya memukulkan senapan saya ke kepalanya. Meskipun tentara itu mengancam menembak kepalanya, bocah itu tidak menjawab, tetap membisu …

Saya adalah prajurit pindahan dari satuan lain, dan rekan saya lebih terbiasa dengan aksi seperti ini … Orang desa yang sudah tua, wanita, dan anak kecil di jebak di rumah mereka, diperintah menjalani jam malam 24 jam. Para lelaki mereka dikumpulkan di suatu ruangan terpusat, mata ditutup, dan diseret untuk disidik.

Kebrutalan tak bertanggung jawab ini tak terbatas pada prajurit berpendapatan rendah. Omri, anak seorang pejabat terpandang, suka menembak dengan memberondong orang-orang desa yang mengintip melalui pintu-pintu … Selama serangan bulan-bulan pertama, Israel membunuh 12.000 hingga 15.000 orang dan kehilangan 360. Meskipun korban di pihak Israel itu adalah para prajurit, sebagian besar korban mereka (Palestina) justru orang-orang sipil.

James Ron, penulis artikel ini, asisten profesor sosiologi pada John Hopkins University, adalah seorang penyidik lapangan sebuah kelompok hak asasi manusia. (Boston Globe, 25 Mei 2000)

{Note : This website is based on the works of HARUN YAHYA}

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,” (QS.Al Hajj : 39-40)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M


Negara Palestina dan Mimpi Bangsa Kafir

September 11, 2007

Selain Yahudi, kelompok penting di balik Bush adalah neo-konservatif yang berbahaya. Merekalah yang mempengaruhi kebijakan luar negeri AS di dunia Islam.
[Baca CAP (Catatan Akhir Pekan} Adian Husaini, MA ke : 77]

Belum lama ini cendekiawan terkenal Inggris Ziauddin Sardar dan seorang wartawati dan seorang antropologist bernama Merryl Wyn Davies menerbitkan buku berjudul American Dream, Global Nightmare (2004), (Mimpi Amerika, Mimpi Buruk Dunia). Buku ini merupakan kelanjutan dari buku terkenal mereka: “Why Do People Hate America ?” (Mengapa Orang Benci Amerika ?). Dalam buku ini mereka mengungkapkan AS begitu dibenci oleh banyak manusia, karena invasi dan infeksi berbagai produk dan budayanya ke berbagai budaya asli dari jutaan penduduk dunia. AS adalah ‘hyperpower’ pertama di dunia yang menjalankan politik luar negerinya dengan ditopang kekuatan militer yang belum pernah ada tandingannya dalam sejarah dunia. AS pun mengekspor sistem nilai mereka, menentukan negara mana yang beradab, rasional, dan demokratis. Bahkan, mana yang manusiawi dan tidak.

Kini, dalam buku barunya, American Dream, Global Nightmare, Ziauddin Sardar dan Merryl Wyn Davies, lebih jauh memaparkan, bagaimana impian AS akan menjadi mimpi buruk bagi umat manusia. Buku ini ditulis sebelum Presiden George W. Bush memenangkan pemilihan Presiden untuk periode kedua, melawan John Kerry. Dan tentu saja, kemenangan Bush akan semakin mengkhawatirkan banyak umat manusia di muka bumi. Masa depan perdamaian dunia akan semakin pudar, jauh dari harapan umat manusia. Perang atas terorisme bisa diperkirakan akan semakin panjang, sebab sejatinya ada agenda utama lain dibalik slogan (propaganda) “War Againts Terrorism”.

Mengapa dikatakan ada agenda lain ? Karena definisi tentang “terrorism” itu sendiri tak pernah jelas. Pada 11 September 2003, Harian terkemuka di Timur Tengah, Al-Syarqul Awsat, menulis, bahwa setelah dua tahun peristiwa 11 September 2001 berlalu, AS masih belum mampu mengatasi aksi terorisme. Bahkan perluasan konsep terorisme yang dipegangnya menciptakan banyak masalah baru. “Dua tahun setelah peristiwa 11 September seharusnya AS sadar bahwa konsep terorisme yang dipegangnya tidak relevan dan harus mendengar usul dunia Arab sebab terbukti AS makin kepayahan menghadapi aksi tersebut,” demikian Al-Sharqul Awsat. Diingatkan, agar AS mendengar usul dunia Arab untuk menyepakati terlebih dahulu definisi dan maksud dari terorisme. “Usul Arab agar terlebih dahulu menentukan definisi terorisme yang disetujui dunia adalah salah satu cara untuk keluar dari perang jangka panjang dan melelahkan. Kita berharap agar kejadian di Irak menyadarkan kelompok konservatif di Washington,” demikian laporan harian terbesar Arab itu.

an logis semacam itu sebenarnya terlalu banyak telah diluncurkan berbagai kalangan internasional. Namun tidak dipedulikan oleh ‘sang penguasa’ itu. Berbagai paradoks terus dibiarkan berjalan. Logika-logika yang saling bertabrakan dipaksakan karena memang AS dan sekutu-sekutunya memegang hegemoni politik, ekonomi, militer, dan informasi. Banyak pemimpin negara berpikir serius jika sampai tidak mendapat restu dari AS. Maka demi mempertahankan kekuasaan atau kemaslahatan tertentu, berbagai paradoks dlm terorisme itu terpaksa harus dibiarkan terjadi. Maka, bagi masyarakat AS yang memahami masalah sebenarnya, dan bukan hanya terpukau oleh opini media massa, bisa dipahami, jika kemenangan Bush atas saingannya John Kerry memunculkan keresahan dan protes keras dari berbagai kalangan rakyatnya. Berbagai aksi protes digelar di AS, dengan membentangkan poster-poster anti -Bush dan anti-perang. Sejumlah poster terang-terangan menyebut Bush sebagai teroris. Bahkan, karena kecewa dengan kemenangan Bush, Andrew Veal (25), datang ke Ground Zero – bekas lokasi Gedung WTC – dan melakukan aksi bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri. Di Malaysia, mantan Perdana Menteri Mahathir Mohammad menyatakan rasa duka cita atas kemenangan Bush. “Saya sungguh duka cita dengan perkara ini dan sudah tentu Bush akan membawa malapetaka kepada Islam dalam tempo empat tahun akan datang,” kata Mahathir, seperti dikutip koran Berita Harian (edisi tgl.8/11/2004).

Bagi yang mencermati perkembangan politik AS, kemenangan Bush sebenarnya tidak sulit diperkirakan. Hegemoni kelompok neo-konservatif dalam dunia publikasi, keuangan, dan pemerin tahan AS sudah sangat dominan dan sulit ditembus. Majalah Time, edisi 6 Septem ber 2004, memuat ‘cover story’ berjudul “The World According to George Bush”. Majalah ini membuat polling yang menunjukkan Bush meraih dukungan 46 persen suara dibandingkan Kerry yang meraih dukungan 44 persen. Kepada majalah ini, Bush mengungkapkan visinya tentang politik luar negeri AS yang tegas dan tidak mengenal kompromi, politik yang mengandalkan kekuatan militer, dan bukan politik yang rendah hati (humble). Tim Bush tidak ingin mengikuti garis politik yang ‘humble’ agar dihormati dunia. Sebab, menurut mereka, tantangan utama memecahkan ancaman besar yang dihadapi negara itu. Maka, dalam soal Irak, tim Bush berpendapat, bahwa dukungan internasional akan diraih AS, jika AS menang perang. “The way to win international acceptance is to win,” kata seorang pembantu senior Bush.

Untuk melegitimasi pembangunan kekuatan militer, harus ada ancaman yang dianggap riil oleh publik AS. Karena itulah, mitos-mitos tentang ancaman terorisme yang dibangkitkan oleh Bush dalam kampanye untuk menarik dukungan rakyat ternyata cukup ampuh untuk meraup suara. Dalam “American Dream, Global Nightmare” Ziauddin Sardar dan Merryl Wyn Davies, mencatat adanya 10 hukum dalam mitologi Amerika (the ten laws of American mythology).
Ke-10 hukum dalam mitologi Amerika itu ialah: (1) Fear is essential, (2) Escape is the reason for being, (3) Ignorance is bliss, (4) America is the idea of nati on (5) Democratisation of everything is the essence of America, (6) American de mocracy has the right to be imperial and express itself throuh empire, (7) Cine ma is the engine of the empire (8) Celebrity is the common currency of empire, (9) War is necessity, (10) American tradition and history are universal narrati ves applicable across all time and space.
“Ketakutan”, tulis Sardar dan Davies, “adalah esensial bagi AS”. Tanpa ‘ketakutan’ tidak ada AS. Ketakutan adalah energi yang memotivasi kekuatan dan menentukan aksi dan reaksi. Dalam kasus kemenangan Bush, formula “menjual ketakutan” ini tampak meraih sukses. Ketakutan dapat menghilangkan logika sehat. Isu keamanan menjadi sentral, bahwa rakyat AS memang selalu berada dalam ancaman teroris Islam, terutama dari jaringan Al-Qaeda. Entah mengapa, menjelang pemilihan Presiden AS, video Osama yang mengancam AS, lagi-lagi muncul & disiarkan luas oleh jaringan televisi internasional. Ini mirip dengan kemenangan John Howard yang mengiringi peledakan bom di Keduataan Australia di Jakarta.

Apa yang ditulis oleh Huntington dalam bukunya, Who Are We ? bahwa peristiwa 11 September 2001 mengakhiri pencarian AS terhadap musuh baru pasca berakhirnya Perang Dingin, juga menyiratkan adanya rancangan yang matang tentang mimpi global sebuah imperium bernama “Imperium Americanum”. Sebuah imperium yang merupakan superpower tunggal di muka bumi, tanpa saingan. Rancangan ini dibuat oleh kelompok yang populer dengan sebutan “neo-konservatif” (neo-kon). Kemenangan Bush tidak dapat dilepaskan dari kerja kelompok neo-kon. Adalah sulit membayangkan John Kerry memenangkan pemilihan Presiden AS. Sebab salah satu programnya adalah menarik tentara AS dari Irak – sebuah kondisi yang mirip dengan kasus Perang Vietnam dan sikap John F. Kennedy. Sejak berakhirnya Perang Dingin, kelompok neo-kon sudah merancang agenda global dlm politik internasional. Isu-isu global dirancang dengan matang. Salah satu isu utama adalah doktrin “the clash of civilizations” yang secara resmi diterima sebagai kebijakan politik pada Konvensi Platform Partai Republik George W. Bush di Philadelphia, 3 Agustus 2002. Banyak agenda penting disepakati dalam konvensi tersebut. Diantaranya, unilateralisme AS dan statusnya sebagai “the only super power” harus tetap dipertahankan; ditetapkannya ‘the rogue states’ (negara-negara jahat) sebagai musuh baru – tanpa memberikan definisi apa yang dimaksudkan dengan ‘rogue state’. Definisinya diserahkan kepada imajinasi dan ketentuan “The Shadow Power”; juga diputuskan bahwa rezim Saddam Hussein harus diganti. Tidak semua agenda kelompok neo-kon ini telah tercapai. Misalnya, rencana mereka untuk memindahkan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Jerusalem. – (Abdulhay Y. Zalloum, Painting Islam as The New Enemy, (Kuala Lumpur: Crescent News: 2003).

Dalam bukunya, Sardar dan Davies juga menyebut peran kelompok neo-konservatif dalam penentuan kebijakan luar negeri AS. Kelompok pemikir (think-tank) neo-kon dikenal sebagai Project for the New American Century (PNAC), yang didirikan oleh Dick Cheney, Donald Rumsfeld, Paul Folfowitz, Richard Perle, dan tokoh-tokoh neo -kon lainnya. Proyek ini dirancang sejak awal 1990-an. Namun, terhenti dengan kemenangan Clinton. Proyek neo-kon berlanjut lagi dengan kemenangan Bush yunior dan semakin menemukan momentumnya pasca 11 September 2001. Salah satu proyek terkenal diluncurkan pada September 2000 berjudul “Rebuilding America’s Defenses: Strategy, Forces, and Resources for a New Century”. Dikatakan, bahwa saat ini AS tidak menghadapi rival global. Strategi besar AS harus diarahkan untuk mengambil keuntungan dari posisi ini semaksimal mungkin. Rancangan Pertahanan yang disusun oleh Paul Wolfowitz berkaitan dengan Tata Dunia Baru menyebutkan: “Our first ob jective is to prevent the reemergence of new rival.”

Michel Colin Piper, melalui bukunya “The High Priests of War” (2004) menyebutkan , belum pernah dalam sejarah AS terjadi dominasi politik AS yg begitu besar dan mencolok oleh ‘tokoh-tokoh pro-Israel’ seperti dimasa Presiden George W. Bush. Sebagian besar anggota neo-kon adalah orang Yahudi. Salah satu gerakan besar kelompok ini adalah memaksakan serangan AS atas Irak, meskipun elite-elite militer AS dan Menlu Colin Powell sendiri, semula menentangnya. Jaringan neo-kon bisa di katakan semacam kolaborasi “the unholy trinity” (Zionis Israel-Kristen Fundamentalis-imperialisme AS), yang telah berhasil menjadikan Presiden Bush sebagai kendaraan untuk menjalankan satu kebijakan berbasis pada ‘unilateralism’, ‘preventive war’ (menyerang terlebih dulu terhadap negara/bangsa yang dicurigai akan menyerang AS), dan ‘permanent mobilisation’, Kata Piper. “President Bush seems to be driven by Christian fundamentalism and strong influence of the Jewish lobby.”

Dalam wawancara dengan Time, 6 September 2004, Bush juga menegaskan tekadnya untuk mewujudkan sebuah negara Palestina “merdeka”. Kata Bush, “As you know, I’m the fisrt President ever to have articulated a position that there ought to be a Palestinian state. I believe that a Palestinian state will emerge.” Bush ingin menunjukkan bahwa kasus Iraq dapat dijadikan contoh untuk menumbangkan sistem pemerintahan dimana satu orang dapat menentukan nasib seluruh rakyatnya. Ia menunjuk pada figur Yasser Arafat, yang ia sebut sebagai “a failed leader” (pemimpin yang gagal). Ia bangga, dan merasa dialah pemimpin pertama yang menyatakan hal itu tentang figur Arafat. Kini, Arafat sudah pergi. Apakah impian Bush untuk terbentuknya sebuah negara Palestina merdeka akan terwujud ? Mungkin saja, jika para pemimpin Palestina selepas Arafat mau berkompromi soal pembagian wilayah Tepi Barat, khususnya soal Jerusalem. Namun, ini tidak mudah, dilihat dari dua sisi, baik sisi Israel maupun sisi Palestina. Yang mungkin terjadi adalah menjadikan Jerusalem di bawah pengawasan internasional, atau satu Tim beranggotakan berbagai negara – termasuk sejumlah negara Arab. Kita tunggu saja, bagaimana skenario Bush akan berjalan. Yang pasti, masalahnya, Bush dan AS, juga Israel, memang tidak lagi melihat negara Palestina sebagai ancaman. Sebab, ancaman utama bagi mereka adalah para pejuang Palestina yang mereka cap sebagai “fundamentalis”, “militan”, “atau “teroris”, seperti “Jihad Islam”, dan “Hamas”.

Khalil Shikaki, profesor ilmu politik di Universitas Nasional an-Najah Nablus, dalam artikelnya berjudul “Peace Now or Hamas Later” mencatat ada tiga kekuatan politik utama di Palestina saat perjanjian Oslo ditandatangani, yaitu :
(1) Kekuatan utama, yaitu kelompok nasionalis. Secara ideologis, kelompok yang dipimpin oleh Arafat dan Fatah — faksi terbesar di PLO — adalah “semi-sekular pragmatis”. Kelompok utama ini menolak Islam politik dan mengadopsi sejumlah pemikiran demokrasi;
(2) Kelompok oposisi nasionalis kiri, yg memiliki dua kekuatan utama yaitu Front Palestina untuk Kemerdekaan Palestina (Popular Front for Liberatuon of Palestine /PFLP) dan Front Demokrasi untuk Kemerdekaan Palestina (Democratic Front for Li ration of Palestine/DFLP), yang lebih kiri, sekular, dan menolak demokrasi Barat atau kapitalisme. Kelompok ini menolak Kesepakatan Oslo dan tidak terlibat dalam perundingan Oslo, sehingga memboikot pemilu 1996 di Tepi Barat dan Jalur Gaza;
(3) kelompok Hammas dan Jihad Islam. Kedua kelompok ini sangat menekankan pada perilaku individual, mengadopsi nilai-nilai politik Islam, dan berusaha mendirikan negara Islam. Mereka juga menolak perdamaian dengan Israel — termasuk kesepakatan Oslo — dan bahkan menolak legitimasi negara Israel. (Jurnal Foreign Affairs, Agustus 1998.)

Edward N. Luttwak dalam tulisannya berjudul “Strategic Aspecs of U.S.–Israeli Relations”, menyebutkan, saat ini, para pembuat kebijakan di AS dan Israel cenderung merasa bahwa Islam “fundamentalis” adalah ancaman terhadap elite-elite Barat di negara-negara Islam, kepentingan-kepentingan keduanya (dan negara-negara Barat lainnya) di negara-negara Islam, bahkan kepentingan keduanya di negara masing-masing. Jadi, bisa dianalisis, karena adanya persepsi yang sama antara AS dan Israel tentang ancaman bersama, maka dibutuhkan juga satu negara Palestina yg mempunyai sikap yang sama dengan AS dan Israel. Dimana tugas utamanya adalah memberangus ‘gerakan-gerakan Islam’ di Palestina. Namun, rencana Bush ini juga tidak mudah, Neo-kon telah berhasil mementahkan Pembicaraan Camp David II antara Arafat dengan Ehud Barak, yang ketika itu sudah menyepakati pengembalian 99 persen Jalur Gaza. Lalu, dengan menjual isu “keamanan” dan “hak Yahudi” atas Jerusalem, Ariel Sharon memenangkan pemilu Israel, mengalahkan Barak tahun 2001. Pembentukan negara Palestina akan membentur tembok tebal yang sulit dijebol, yakni soal Jerusalem. Apalagi, kelompok neo-kon lebih mengikuti garis partaiLikud yang memegang kepercayaan “hak histories” bangsa Yahudi atas Jerusalem. Karena itu, dominasi kelompok neo-kon memang mengkhawatirkan banyak warga AS. Colin Piper sampai menyerukan melalui bukunya, “It’s time to declare war on The High Priest of War”. Sebab, agenda kelompok ini memang menyeret dunia ke kancah perang global. Dan serangan atas Irak adalah tahap pertamanya. Kelompok ini lebih bekerja dengan ideologi, dengan keyakinan, bukan dengan mengandalkan kepentingan dan logika. Michel Lind, seorang penulis AS, mengungkapkan, bahwa impian kelompok neo-kon untuk menciptakan sebuah “imperium Amerika” sebenarnya ditentang oleh sebagian besar elite perumus kebijakan luar negeri AS dan mayoritas rakyat AS. Lind juga menyebut, bahwa koalisi Bush-Sharon juga berkaitan dengan keyakinan, bukan karena faktor kebijakan. Itu bisa dilihat dari latar belakang Bush yg berasal dari keluarga Kristen fundamentalis. Kata Lind: “There is little doubt that the bonding between George W. Bush and Ariel Sharon was based on convicti on, not expedience. Like the Christian Zionist base of the Republican Party, George W. Bush was a devout Southern fundamentalist.”

Melihat kuatnya cengekeraman kelompok neo-kon dalam politik AS, wajar jika dunia pantas khawatir dengan kemenangan Bush yang kedua kali. Benarkah kekhawatiran Mahathir akan terbukti ? Benarkah dunia akan berhasil diseret menuju Perang Global dengan kendali Zionis Yahudi ? Mari kita lihat bersama-sama.
Wa makaruu wa makarallah. (Kuala Lumpur, 12 November 2004).

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1467&Itemid=0

“Biar seluruh kafir di dunia menjuluki kita teroris dan ekstrem, tetapi merekalah sesungguhnya sumber segala kejahatan dan terror. Bukankah seluruh dunia sekarang merasa terganggu oleh teror mereka ? Bukankah apa yang dilakukan Israel adalah teror ? Bukankah yang terjadi di Kashmir adalah teror ? Bukankah yang terjadi sekarang ini adalah penjajahan seluruh dunia Islam ? Bukankah mereka menjajah Iraq dan menyebar teror disana ? Bukankah mereka yang membunuhi ibu-ibu dan anak-anak kita di Afghanistan ? Bukankah itu semua terorisme ? . Tetapi jika kita mengangkat senjata untuk membela Islam kita, iman kita, agama kita, kita dituduh teroris dan ekstrem. Baiklah, jika semua pembelaan itu anda namakan te rorisme, maka ketahuilah kami memang teroris. Dan kami tahu benar bahwa semua itu hanya propaganda kotor kalian. Cukuplah Allah sebagai pelindung bagi kami, karena Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong.” (Mujahid : Mulla Bilal – divisi anticraft)

note : artikel di atas telah dimuat dalam llabbaik, edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M