Hidayah Allah Dari Buku Islam

Mei 9, 2007

THERESIA DELLI SUJARMINI nama saya. Lahir di Gunung Kidul, 7 Mei 1981. Saya terlahir dari keluarga non-Islam yang fanatik. Karena orang tua saya, Bapak Herominus Samino dan Ibu Lusia Jumini, adalah aktifis agama yang saya anut waktu itu, sehingga orang tua saya pun mendidik saya secara fanatik pula.

Waktu saya kelas 1 SMU, saya sempat merasa ragu, bimbang dengan agama yang saya anut. Dan itu membuat saya jarang pergi ke tempat ibadah. Jarangnya saya ke tempat ibadah ini, membuat orang tua marah pada saya. Tapi anehnya, kemarahan orang tua tidak pernah saya pedulikan. Bahkan, hal tersebut membuat saya semakin malas beribadah. Sempat suatu waktu, saya kembali membaca Al Kitab dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Dengan alasan untuk lebih meyakinkan akan kebenaran agama yang saya anut. Dan saya pun mulai aktif lagi ke tempat ibadah. Karena saya menganggap keraguan serta kebimbangan yang saya alami saat ini karena saya jauh dari Tuhan. Tapi, bukan ketenangan yang saya dapatkan. Justru keraguan dan kebimbangan itu semakin bertambah, dan itu membuat saya mengalami kegoncangan hati.

Saya sangat suka membaca. Buku apapun sering saya baca. Dan untuk mengisi kegelisahan serta kegoncangan hati saya, saya sering pergi ke Shopping Centre hanya untuk membaca buku-buku. Shopping Centre adalah Pusat buku terlengkap di Yogyakarta. Dan secara tidak sengaja, tiba-tiba saya tertarik pada buku-buku agama Islam. Dan secara diam-diam, tanpa sepengetahuan orang tua, saya pun mulai mempelajari Islam lewat buku-buku yang saya beli di shopping Centre. Di Shopping Centre, saya sering bertemu dengan Atin teman sekolah saya. Ia seorang muslimah yang taat. Dan itu saya ketahui dari pakaiannya yang selalu menutupi kepala (Jilbab) dan seringnya saya melihat Atin Shalat.

Ada sesuatu yang membuat saya tertarik dari gerakan-gerakan shalat Atin. Ya, gerakan-gerakan shalat Atin menunjukkan sebuah kepasrahan dan penyembahan yang sungguh-sungguh dari seorang makhluk kepada penciptaNya, Atin kepada Tuhannya. Dari situ saya mulai giat lagi membaca tentang keislaman. Atas bantuan Atin pula saya bisa memahami sedikit demi sedikit tentang Islam. Dan Subhanallah, Buku-buku tentang Islam yang saya baca ternyata dapat menjawab semua persoalan yang saya hadapi dan dapat pula menenangkan kegelisahan serta kegoncangan hati saya.

Buku-buku Islam yang saya baca, sangat mempengaruhi keadaan hati saya. Lalu timbullah keinginan saya untuk memeluk Islam. Dan hal itu saya utarakan pada Atin. Atin tidak langsung menyambut keinginan saya tersebut selain menyarankan saya untuk lebih banyak lagi membaca tentang Islam. Agar lebih yakin katanya. Dan ak hirnya Atin mengajak saya ke Perpustakaan Mabullir milik Bapak H.Dauzan Farouk di daerah Kauman. Karena menurut Atin buku-buku tentang Islam sangat lengkap di Perpustakaan tersebut. Kami berkenalan dengan Pak Dauzan pemilik perpustakaan tersebut. Dan Alhamdulillah pak Dauzan sangat antusias membantu saya. Dan Beliau pula yang sengaja menyediakan buku-buku tentang Islam untuk saya baca serta membimbing dan membina saya. Berkat pembinaan dan bimbingan serta buku-buku yang disediakan Pak Dauzan, alhamdulillah keyakinan saya untuk memeluk agama Islam pun semakin kuat.

Dan pada tanggal 6 Agustus 2001, saya berikrar dengan mengucapkan dua kalimah syahadat di Masjid Gedhe Yogyakarta, yaitu dihadapan Ketua Takmir Masjidnya, Drs. H. Marwazi NZ yang di saksikan oleh Pak Dauzan dan Pak Rahman Kusuma MA. Dan subhanallah, perasaan yang mengganjal selama ini pun sirna.
Saya berusaha untuk menyembunyikan keislaman saya pada keluarga. Tapi akhirnya orang tua mengetahui juga. Dan mereka sangat marah dan kecewa pada saya. Sampai pada akhirnya, mereka tak mau mengakui saya lagi sebagai anaknya dan mengusir saya dari rumah. Dengan berat hati, sayapun pergi dari rumah. Namun, Alhamdulillah Allah memberi kekuatan pada saya. Kecintaan saya pada Islam, mengalahkan rasa cinta saya pada keluarga yang selama ini memanjakan saya. Berat memang, tapi apa boleh buat, konsekuensi berat harus saya ambil. Saya pun akhirnya menum pang di rumah nenek di Pati. Satu bulan saya di sana. Karena merasa tidak kera san, saya pun pamit untuk pergi ke Lamongan ke tempat teman saya. Dan Alhamdulillah keluarga teman saya di Lamongan sangat baik pada saya. Mereka orang-orang yang taat pada Islam. Oleh karena itu mereka mengajari saya mengaji. Sehingga banyak hal yang saya dapatkan dari mereka.

Karena malu terlalu lama menumpang, akhirnya saya pamit untuk pulang ke Yogyakarta. Di Yogyakarta, saya ikut Pak Dauzan Farouk mengelola perpustakaan Mabulir. Subhanallah, pak Dauzan yang baik mengangkat saya sebagai anaknya. Pak Dauzan yang baik, tidak pernah berhenti membantu saya. Beliau sering mengajak saya untuk mengikuti kajian tentang keislaman di berbagai Majelis Ta’lim. Saya kembali belajar mengaji kepada beliau. Dan alhamdulillah sedikit demi sedikit, saya su dah mulai bisa membaca Alquran. Semoga Allah membalas kebaikan Pak Dauzan.
[Sumber : Tabloid MQ EDISI 12/TH.II/APRIL 2002]

http://www.kotasantri.com/modules.php?

Membalas Kekasaran Musuh dengan Permohonan Ampunan
Dari Abi Abdirrahman Abdillah ibni Mas’ud ra berkata, “Seolah aku masih melihat Rasulullah SAW tengah menceritakan seorang nabi di antara para nabi shalawatuhu wa salamuhu alaihim yang dipukul oleh kaumnya hingga berdarah. Nabi itu lalu menyeka darah dari wajahnya seraya berdoa, “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak tahu””. (HR. Muttafaqun ‘alaihi)

keterangan
1. Kisah tentang kesabaran para nabi dalam menanggung siksaan ketika menyampaikan dakwah kepada manusia.
2. Di antara akhlaq nabi adalah menjawab kejahilan dengan permohonan ampun dan toleransi
3. Anjuran untuk tidak meladeni kekasaran orang jahil dengan tindakan yang seper ti mereka lakukan. –
[Sumber : Shahih Bukhari, Darussalaam (CD)]

http://www.eramuslim.com/hd/hn/49/12966,1,v.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.016/th.02/Jumada Al Thani-Rajab 1426H/2006M

Iklan

Beban Sejarah Umat Islam Indonesia

April 4, 2006

(Oleh H. USEP ROMLI, H.M.)

UMAT Islam Indonesia menanggung beban sejarah amat berat. Berupa citra atau gambaran negatif, yang berkembang sejak zaman Kolonial, hingga sekarang. Pemerintah kolonial Belanda (1596-1942) menganggap umat Islam sebagai pemberontak, ekstre mis, sekaligus kolot dan fanatik. Hal ini disebabkan perlawanan yang muncul ter hadap penjajahan Belanda, sebagian besar dari kalangan umat Islam. Mulai dari yang berskala besar, seperti Sultan Agung Mataram (1628-1629), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Padri (1831), Perang Aceh (1881), hingga yang berskala lokal setingkat Bagus Rangin di Cirebon, Haji Wasid di Banten, Haji Hasan Cimareme Garut, Antasari di Kalimantan, Hasanuddin di Makassar, dan lain-lain. Semua dipelopori tokoh-tokoh Islam, melibatkan institusi Islam (sosok kiai dan lembaga pesantren).

Zaman penjajahan Jepang (1942-1945), sama saja. Salah satu perlawanan legendaris terhadap Jepang, dilakukan oleh Kiai Zainal Mustofa dan para santrinya di Pesan tren Sukamanah, Singaparna, Tasikmalaya. Ketika Kolonialis-Imperialis Belanda mencoba kembali bercokol di Indonesia (1945-1950), umat Islam yang bertekad mempertahankan kemerdekaan, membentuk barisan-barisan perlawanan “Sabilillah” dan “Hizbullah”. Sebelum berangkat ke garis depan, para anggota “Sabilillah” dan “Hizbullah” yang hanya bersenjatakan bambu runcing dan sama sekali tidak memiliki pengalaman tempur, meminta restu para kiai di pesantren-pesantren. Almarhum K.H. Saifuddin Zuhri, dalam bukunya Berangkat dari Pesantren (1986), mengisahkan, ribuan anggota lasykar “Sabilillah” dan “Hizbullah” dari Banyumas, Kedu, Purwokerto, dan sekitarnya, berbondong-bondong datang ke pesantren Parakan, Magelang. Meminta berkah dari Kiai Subeki, seorang ulama sepuh termasyhur berusia 90 tahun.

Pada pertempuran “10 November 1945” di Surabaya, tokoh pejuang Bung Tomo membakar pratiotisme rakyat dengan seruan “Allahu Akbar”. Pada pertempuran “Hari Pahlawan” itu, Jenderal Mansergh, panglima pasukan sekutu asal Inggris, yang mencoba akan menyerahkan kembali Indonesia kepada penjajah Belanda, tewas terbunuh. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, mendapat dukungan diplomatik dari negara-negara Arab. Termasuk dari Mufti Besar Palestina, Syeikh Amin Al-Hussaini. Padahal waktu itu, Palestina sedang menghadapi masalah yang sama dengan Indonesia. Negaranya diserahkan oleh Inggris kepada orang-orang Yahudi, untuk dijadikan negara Israel (14 Mei 1948).
Usai penyerahan kedaulatan (1950), pemerintah dan rakyat Indonesia masih harus menghadapi pemberontakan bersenjata. Beberapa daerah ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di ujung timur berkobar pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pimpinan Dr.Soumokil, yang didukung diam-diam oleh Belanda dan pasukan Letkol Andi Azis di Makassar. Pemberontakan ini dapat ditumpas (1951).
Di Kalimantan Selatan, timbul pemberontakan Ibnu Hajar, yang segera dapat dipadamkan. Di kawasan barat, terutama Jawa Barat, Sekarmaji Marijan (SM) Kartosuwiryo memproklamasikan “Negara Islam Indonesia” (NII) tanggal 7 Agustus 1949. Seluruh Jawa Barat dianggap wilayah “Darul Islam”. Memiliki kekuatan “Tentara Islam Indonesia” (TII), yang cukup terorganisasi, “NII” Kartosuwiryo mampu bertahan hingga 13 tahun. Baru berakhir Juni 1962 dengan tertangkapnya Kartosuwiryo oleh Pasukan Kujang II/328 Siliwangi, pimpinan Letda Suhanda, di Gunung Rakutak, Kecamatan Pacet Majalaya, Kabupaten Bandung.

Pemberontakan-pemberontakan lain terjadi di Aceh, pimpinan Daud Beureuh, dan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan. Keduanya mempunyai hubungan organisatoris dengan NII/DI/TII Kartosuwiryo. Di Sumatera Barat, 15 Februari 1958, berdiri Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang melibatkan beberapa tokoh Islam dari Partai Masyumi, antara lain Moh. Natsir, dan Syafruddin Prawiranegara, serta tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI) Sumitro Joyohadikusumo. PRRI mendapat dukungan politik dan militer dari Letkol D.J. Somba, Komandan Kodam Sulawesi Utara, dan perwira-perwira Kodam Sulut lainnya, seperti Letkol HNV Sumual, dan Mayor D. unturambi.

Semua pemberontakan tersebut dapat ditumpas pada awal tahun 1960-an. Walaupun yang memberontak mayoritas mengatasnamakan Islam, tapi yang menjadi korban terbesar adalah umat Islam. Di Jawa Barat, DI/TII membakari rumah, masjid, pesantren. Membunuh para kiai, santri dan masyarakat yang notabene beragama Islam. Orang-orang pedesaan yang rata-rata taat beragama (Islam), hidup dalam kesulitan amat sangat. Oleh pihak tentara dicurigai sebagai anggota atau simpatisan DI/TII karena sama-sama Islam. Oleh DI/TII disangka mendukung TNI karena tidak mau ikut “naik” ke gunung. Di tengah tekanan dari kedua belah pihak, masyarakat pedesaan hidup dalam kesengsaraan lahir batin. Tapi mereka tetap tabah dan tak (mampu) menyalahkan siapa-siapa, kecuali menggerutu di belakang.

Pemberontakan DI/TII Jawa Barat, yang meluas ke Aceh, Sumatra Barat, dan Sulawesi Selatan, serta bertahan hingga lebih satu dasawarsa (1949-1962), menimbulkan korban harta dan jiwa tidak terhitung, menjadi stigma tersendiri bagi umat Islam Indonesia. DI/TII dianggap sebagai satu ideologi yang harus terus dicurigai. Pada masa Orde Lama di bawah Presiden Soekarno (1945-1966), Partai Komunis Indonesia (PKI) mendapat angin segar di puncak kekuasaan. Sehingga PKI leluasa melakukan manuver-manuver untuk menyudutkan umat Islam. Apalagi setelah berhasil mendesak Presiden Soekarno untuk membubarkan Masyumi dan PSI (17 Agustus 1960). Tokoh-tokoh Masyumi dan PSI langsung ditangkapi dimasukkan ke penjara tanpa diadili. Jangankan tokoh-tokoh Masyumi yang langsung terlibat PRRI, seperti Moh. Natsir dan Syafruddin Prawiranegara, tokoh-tokoh Masyumi yang tidak terlibat pun — bahkan mengecam pemberontakan — seperti Buya Hamka, K.H.E.Z.Muttaqien, K.H. Isa Ansyori, Moh.Roem, Prawoto Mangkusasmito, Sumarso Sumarsono, dll. ikut dijebloskan. Ikut pula masuk penjara, tokoh Islam non-Masyumi K.H.Imron Rosyadi (NU) dan tokoh pers nasional Mochtar Lubis. Mereka dikerangkeng karena dianggap menentang kebijakan Presiden Soekarno yang cenderung pro komunis.

Setelah rezim Orde Lama dan Presiden Soekarno tersingkir akibat dampak pemberontakan G-30-S/PKI, stigma tersebut tidak ikut lenyap, bahkan semakin menguat. Rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto (1966-1998), sangat represif terhadap Islam dan umat Islam. Heru Cahyono, penulis buku “Peranan Ulama dalam Golkar, 1971-1980, dari Pemilu Sampai Malari” (Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1992), mengutip pendapat Kenneth E.Ward, menyatakan, rezim Orde Baru (yang dimotori Jenderal Ali Moertopo, Kepala Opsus/Aspri Presiden) memandang Islam melulu identik dengan “Darul Islam” sehingga cenderung hendak menghancurkan Islam. Maka tidak mengherankan, jika kemudian kebijaksanaan politik pemerintah Orde Baru terhadap Islam, amat merugikan umat Islam sendiri, karena kelompok Ali Moertopo yang memegang kendali begitu besar dalam pendekatan kepada umat Islam, berintikan tokoh-tokoh yang tidak Islami bahkan diduga cenderung hendak memusuhi umat Islam (hlm. 130-131). Heru Cahyono mengungkapkan, Presiden Soeharto dan rezimnya, menyadari, bahwa kemenangan mereka dapat tercapai antara lain berkat dukungan tokoh-tokoh umat Islam. Termasuk dari ormas-ormas simpatisan Masyumi. Tapi ketika muncul tuntutan dari tokoh-tokoh Masyumi yang baru bebas dari tahanan rezim Orde Lama, untuk merehabilitasi partainya, Soeharto tegas menolak dengan alasan “yuridis, ketatanegaraan dan psikologis” (hal. 76). Bahkan Soeharto dengan nada agak marah, menegaskan, ia menolak setiap teror keagamaan dan akan menindak setiap usaha eksploitasi masalah agama untuk maksud-maksud kegiatan politik yang tidak pada tempatnya. Dalam kata lain, pemerintah Orde Baru yang didominasi militer tidak menyukai kebangkitan politik Islam (hlm. 74-75).

Maka dapat dimengerti, jika selama pemerintahan Orde Baru, tokoh-tokoh dan umat Islam yang dinilai “keras” langsung dibungkam. Semua tokoh eks Masyumi terkena persona nongrata di segala bidang karena dianggap selalu memperjuangkan “Piagam Jakarta” dan negara Islam, di tengah ketekunan pemerintah Orde Baru memasyara katkan UUD 1945 dan Pancasila.
Untuk memperlemah posisi umat Islam, sekaligus mendiskreditkan Islam, lembaga Opsus Ali Moertopo, di satu pihak bergerak mengumpulkan tokoh-tokoh mantan DI/ TII dan menghidupkan organisasi Gabungan Usaha Pendidikan Pesantren Indonesia (GUPPI). Di pihak lain merekrut tokoh-tokoh Nasrani dan Cina, seperti Harry Tjan Silalahi, Liem Bian Khoen (Sofyan Wanandi), Liem Bian Kie (Yusuf Wanandi), Murdopo, dan dihimpun dalam lembaga The Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Di dalam GUPPI — demikian Harry Cahyono — bercokol orang-orang kepercayaan Ali Moertopo dan Soejono Humardani (Aspri Presiden). Antara lain Ramadi. Sedangkan toko-tokoh eks DI/TII mendapat binaan tersendiri. Kedua kelompok yang dikendalikan Ali Moertopo itu, diterjunkan untuk mengacaukan gerakan mahasiswa anti Orde Baru awal Januari 1974. Sehingga demonstrasi mahasiswa anti Orde Baru dan anti modal asing Jepang, berubah menjadi huru-hara malapetaka yang terkenal dengan sebutan peristiwa “Malari” (15 Januari 1974). Banyak tokoh mahasiswa ditangkapi sehubungan dengan peristiwa “Malari”. Beberapa surat kabar dan majalah (Indonesia Raya, Nusantara, Pedoman, Express, Abadi), dibredel. Tokoh GUPPI Ramadi dan beberapa kawannya, serta beberapa tokoh eks DI/TII, ikut pula ditangkap. Menurut Harry Cahyono, para mahasiswa tidak menyadari jika penangkapan Ramadi cs. dan tokoh-tokoh eks DI/TII akibat keterlibatan mereka dalam “Malari”.

Dalam kata lain, untuk menghancurkan gerakan mahasiswa yang tulus dan murni, konspirasi rezim Orde Baru di bawah penggalangan Ali Moertopo, menggunakan organisa si Islam GUPPI dan eks DI/TII. Lebih jauh lagi, eks DI/TII binaan Opsus dijerumuskan pada skenario mendirikan “negara Islam” dan teror “Komando Jihad” (1976-1982). Setelah wacana dan gerakan mereka berkembang, lalu ditangkapi dan diajukan ke meja hijau, setiap menjelang pemilu. Tujuannya adalah melemahkan kekuatan politik umat Islam (terutama simpatisan PPP) untuk kemenangan mutlak Golkar yang didukung pemerintah. Sekaligus mempertebal trauma, stigma, dan kebencian terhadap Islam.

Teror bom Bali, Marriot, dan baru-baru ini di depan Kedubes Australia, dikait-kaitkan dengan label Islam. Dengan “Jamaah Islamiyah”, “Al-Qaeda”, atau entah apa lagi. Padahal belum tentu umat Islam terlibat langsung di sana, dan belum tentu dasar perjuangan mereka benar-benar menjunjung tinggi kaidah Islam secara murni dan konsekuen. Jangan-jangan mereka hanya semacam orang-orang binaan Opsus dulu, seperti yang dialami Ramadi cs. dan eks tokoh-tokoh DI/TII pada peristiwa “Malari” Januari 1974. Mereka hanya pelaksana-pelaksana kecil dari sebuah skenario besar dan sutradara yang ahli dan sangat membenci Islam.

Pemberontakan DI/TII sendiri, yang memiliki qanun asasi (sumber hukum) dari Al quran dan Sunnah Rasulullah saw., dengan qanun syar’i (UUD) berupa adaptasi dari kitab fiqh Taqrib karya Syekh Abi Suja (ulama ahli fiqh Mazhab Syafi’i), dalam pelaksanaannya justru mengorbankan harta dan nyawa umat Islam. Apalagi pemberon takan yang dilatarbelakangi ideologi non-Islam, seperti RMS, baik era Soumokil tahun 1950-an, maupun era Alex Manuputty tahun 1990-an.
Perlakuan penguasa Orde Baru terhadap upaya politik umat Islam sangat berlebihan. Peristiwa-peristiwa Tanjung Priok (1984), Talangsari Lampung (1989), Haur Koneng (1996), merupakan bukti nyata. Tembak dan bunuh dijadikan pilihan utama dan pertama. Hal serupa menimpa individu-individu yang memperjuangkan aspirasi Islam. Abubakar Baasyir harus terus mendekam di penjara dengan tuduhan mendalangi teror bom Bali dan JW Marriot (kemungkinan juga bom Kuningan), walaupun di pengadilan hanya terbukti melanggar hukun imigrasi dan dikenai hukumam 4 bulan penjara. Sedangkan Alex Manuputty yang sudah divonis 4 tahun penjara karena terbukti berbuat makar dan kasasinya ditolak Mahkamah Agung, malah leluasa pergi ke Amerika Serikat.
Ini merupakan “tradisi” dari zaman kejayaan Opsus era Orde Baru dulu, ketika tokoh-tokoh Islam dijerumuskan ke dalam teror, huru-hara, dan makar yang dirancang sendiri oleh Opsus, sementara tokoh-tokoh non-Islam mendapat fasilitas melimpah di CSIS dan dunia usaha. “Tradisi” yang tampaknya dipertahankan, bahkan dipertegas, oleh rezim “Reformasi”. Umat Islam Indonesia menanggung beban sejarah amat berat. Dibantai habis oleh pemerintah kolonial Belanda dan Jepang, ditekan oleh rezim Orde Lama Presiden Soekarno, dicurigai dan diperalat oleh rezim Orde Baru Soeharto, dan dijadikan kambing hitam teror bom oleh penguasa era “Reformasi”. Sampai kapan ?

***

(Penulis wartawan senior “Pikiran Rakyat” Bandung – Pikiran Rakyat Cyber Media)
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0904/18/0802.htm
nore : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.016/th.02/Jumada Al Tsani-Rajab 1426H/2005M


Mengabdi Total Lewat Perpustakaan MABULIR

April 4, 2006

Jam belum menunjukkan pukul 10.30 saat Dauzan Farook (79), pemilik perpustakaan Mabulir -yang tengah duduk di sofa usang di ruang tamu yang menjadi satu dengan perpustakaannya-menyapa kami. Ia baru saja bangun dari tidurnya. Senyum tuanya mengembang. “Maaf, tadi sudah kemari ya ?” sapanya. Pria yang kerap dipanggil Pak Farook atau Pak Dauzan Farook ini memang terbiasa tidur kembali setelah men jalankan ibadah shalat subuh. Namun, sebelum tidur kembali, ia biasa terlebih du lu mempersiapkan buku-buku lama yang akan diperbaiki karyawannya. Maklum, usia lanjut menuntutnya untuk cukup istirahat. Meski tidak terlalu berat, pekerjaan nya menyita waktu dan tenaga. Menjelang siang, ia kembali bergelut dengan buku-buku koleksinya yang mencapai 5.000 buah lebih. Belum lagi jika ditambah dengan majalah yang jumlahnya hampir sama. Sore harinya, seusai shalat ashar, ia kembali disibukkan dengan berkeli ling, mengunjungi peminjam yang tersebar di sekitar kota Yogyakarta. Aktivitas nya berlanjut pada malam hari, saat Dauzan biasa pergi ke pasar buku-buku bekas untuk membeli buku-buku guna menambah koleksinya. Aktivitas Dauzan Farook memang tidak bisa dilepaskan dari perpustakaan. Rumahnya yang berada di sebuah gang sempit di Kampung Kauman, kota Yogyakarta, mudah dikenali. Dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain, rumahnya kelihatan paling mencolok. Di dindingnya terpasang majalah dinding dan juga nama Mabulir, singkatan dari Majalah dan Buku Bergilir.

Di perpustakaan itu memang peminjam dapat memilih, membaca, sekaligus meminjam buku untuk dibawa pulang secara bergiliran. Semuanya tanpa dipungut biaya. “Saya tidak menarik sepeser pun dana dari peminjam. Walaupun saya selalu defisit setiap bulan untuk membiayai operasional perpustakaan ini,” jelasnya.Sebaliknya, peminjam hanya diwajibkan menjaga koleksi buku-buku tersebut melalui doktrin yang ia berikan dalam label “Amanat Umat”, yang berarti “dari umat, oleh umat, dan untuk umat”. Apabila peminjam menghilangkan atau merusakkan buku, berarti mereka telah merugikan orang banyak (umat). Keyakinan seperti itu terus dijaganya hingga saat ini.“Kami juga tidak menuntut mereka untuk mengembalikan. Berdasar kesadaran, biasanya mereka sendiri yang menggantinya dengan buku lain apabila ada yang hilang. Kalau mereka susah mengembalikan, saya yang harus datang mengambil ke tempat tinggal mereka,” tambahnya. Upaya mendatangi peminjam bukan saja untuk mengambil buku, melainkan juga memin jami. Ia rela berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan tujuan peminjam dapat memperoleh buku untuk dibaca. Sebagian besar peminjam buku di Perpustakaan Mabulir adalah orang dewasa. Namun, tidak sedikit pula anak-anak muda. Mereka umumnya remaja masjid, penghuni asrama, masyarakat umum, hingga tukang becak sekalipun. Untuk menjaga koleksinya, mulai beberapa tahun terakhir Perpusta kaan Mabulir tidak lagi melayani perorangan. Bagi peminjam baru diharuskan membuat kelompok minimal lima orang. Salah satu anggotanya akan menjadi koordinator yang nantinya akan memfasilitasi peminjaman buku untuk anggota kelompok yang lain. Menurut dia, tidak semua kelompok akan lulus tes. Biasanya, sebelum ditetapkan lebih jauh, ia sendiri yang akan menguji. Dua kali berturut-turut, kelompok itu hanya akan dipinjami tabloid. Baru, setelah keseriusannya terlihat, kelompok tersebut akan dipinjami buku.

UNTUK menjalankan operasional sehari-hari, sejak tiga tahun terakhir ia dibantu empat orang karyawan. Mereka bertugas mulai dari menjaga perpustakaan, melayani peminjam, memberi sampul, memperbaiki buku yang rusak, hingga menjadi pengawalnya saat mengunjungi para peminjam. Karyawan-karyawan yang bekerja di Perpusta kaan Mabulir tidak bekerja secara cuma-cuma. Mereka juga memdapat gaji Rp 10.000 per hari. Dari mana dana untuk menggaji karyawan didapat, sementara tak ada pemasukan dari pelanggan perpustakaan ?

Rupanya Dauzan rela untuk menggunakan uang pensiun. Bahkan, tidak jarang biaya operasional yang harus dikeluarkan jauh lebih besar dari uang pensiun yang ia terima. Menurut Dauzan, biaya operasional untuk merawat buku setiap hari mencapai Rp 5.000. “Itu belum termasuk biaya ojek setiap harinya. Untuk berkeliling dan menemui pelanggan, saya selalu memakai ojek langganan,” jelasnya. Untuk menutup kekurangan itulah, ia mengaku harus menggunakan uang simpanannya. Tak heran kalau setiap bulan defisit bisa mencapai lebih dari Rp 1.000.000 lebih. “Banyak orang bilang, kekurangan itu sebenarnya bisa sedikit saya tutup dengan bayaran pinjaman buku. Namun saya tidak mau. Saya ingin memberi contoh bahwa budaya pengabdian dalam bidang pendidikan itu dilakukan dengan sepenuh hati,” ungkapnya. Sedangkan untuk membeli buku, ia memanfaatkan uang yang diperoleh dari sumbangan orang lain. Selama ini, sumbangan dari peminjam dan orang yang mengenalnya kerap kali mengalir. Selain itu, ia juga mendapatkan buku dari penerbit-penerbit di Yogyakarta. Ada beberapa penerbit yang setia memberikan buku kepada Perpustakaan Mabulir. Salah satunya adalah Penerbit Pustaka Pelajar yang selalu mengiriminya buku setiap kali peluncuran buku baru. “Tidak semuanya buku diberi oleh penerbit. Kita juga kerap kali membeli dari mereka. Tentunya dengan harga yang murah, atau beli yang reject-an (maksudnya yang tidak layak jual),” jelasnya. Menurut dia, dari 5.000 buku yang ada di perpustakaannya, sebagian besar merupakan buku-buku agama. Sebagian lainnya buku-buku ilmu pengetahuan, sejarah, serta aneka kamus bahasa asing. Jenis buku-buku yang menjadi koleksi Perpustakaan Mabulir bukan atas kemauan sendiri, melainkan mengikuti kemauan pasar. Untuk buku-buku yang lama, seperti buku mengenai agama, ia sengaja menyisipkan suplemen berupa buku lain yang lebih kecil. Sedangkan buku-buku yang tidak terpakai, ia berikan pada orang lain, termasuk masjid-masjid yang belum memiliki perpustakaan. Tidak jarang, ia memberikan ke masyarakat di pedesaan melalui mahasiswa yang tengah mengikuti kuliah kerja nyata (KKN).

DAUZAN Farook lahir tahun 1925 di Kampung Kauman Yogyakarta. Kecintaannya terha dap buku mulai ada sejak kecil. Bapaknya, H Muhammad Bajuri, menjadi pengelola Taman Pustaka Muhammadiyah atau Perpustakaan Muhammadiyah.

Ketika remaja, ia juga turut berjuang. Dirinya pernah bergabung dengan para gerilyawan dalam pasukan Sub Wehrkreise (SWK) 101. Ia juga terlibat kontak fisik dalam penyerbuan gudang senjata Jepang di Kota Baru 6 Juli 1947. Bahkan, Dauzan Farook juga terlibat dalam Serangan Oemoem 1 Maret 1949. “Saya dulu juga tergabung dalam Hisbullah yang ditugaskan di Kota Baru, sebuah laskar pejuang dari kalangan Islam. Kemudian saya terekrut dan menjadi tentara pelajar. Saya sendiri belajar cara berperang justru dari Jepang, saat itu niat Jepang ke Indonesia masih baik,” jelasnya. Sejalan dengan perkembangan waktu, muncul keinginan dari dirinya untuk melanjutkan usaha batik orangtuanya. Akhirnya ia memilih keluar dari ketentaraan, saat itu pangkatnya masih letnan dua. Ketika usaha batik orangtuanya hancur tahun 1957, ia memutuskan untuk berdagang emas dan menjadi distributor buku. Ia kemudian berbuat sesuatu sesuai dengan potensinya. Sejak tahun 1993, ia mulai membuka Perpustakaan Mabulir.

Semua ini berawal dari kesadarannya untuk memanfaatkan uang pensiun veteran sebesar Rp 500.000 per bulan untuk kemajuan negara. “Saya seperti mendapat amanah besar untuk memakai uang itu sebaik-baiknya,” ujarnya. Dengan sistem multi-level reading, ia berharap buku yang ia pinjamkan dapat dibaca banyak orang. Saat ini, jumlah kelompok bacaan yang dimilikinya mencapai 100-an buah, dengan masing-masing anggota kelompok mencapai 4-20 orang. Mabulir memiliki perwakilan di lima kota, yaitu Jakarta, Solo, Brebes, Purworejo, dan Ma gelang. Para pemilik cabang tersebut sebelumnya adalah pelanggannya. Usianya yang semakin tua, membuatnya tidak kuat lagi membaca buku-buku yang ada. Alasan utamanya tidak memiliki kesempatan untuk membaca buku tebal. Kalaupun ada ia hanya membaca pengantar dan sinopsisnya saja. Ketika ditanya siapa yang akan meneruskan perpustakaan itu, sementara tak satu pun dari delapan anaknya yang berminat untuk meneruskan, Dauzan tercenung. “Saya hanya bisa menyebarkan ‘virus‘ untuk mengangkat minat baca masyarakat dengan sistem perpustakaan keliling. “Entah siapa yang meneruskan, bisa siapa saja”, katanya . usia sudah senja, namun dedikasinya luar biasa…

http://www.penerbit.net/

Siapa Berani Bayar Mahal

Di jaman khalifah Umar bin Khattab RA, kota Madinah pernah dilanda musim pacek lik. Datanglah kafilah dari negeri Syam dengan 1000 onta membawa bahan makanan untuk dijual kepada sahabat Ustman bin Affan RA. Dibelilah barang itu olehnya. Menyusul setelah itu banyak pedagang yang berminat mau membeli barang tersebut dari beliau untuk dijual kembali dengan harga tinggi agar mendapat keuntungan yang besar. “Berapa kau berani bayar barangku,” tanya Ustman bin Affan. “Kubayar dengan keuntungan lima kali lipat,” jawab mereka. “Oh, saya masih rugi.” “Aku berani kasih keuntungan kepadamu sepuluh kali lipat,” jawab yang lain. “Masih rugi.” Jawab Ustman bin Affan. “Tak ada pedagang lain yang berani beri keuntungan lebih dari itu,” kata orang itu. “Ada,” jawab beliau. “Siapa?.” “Allah.” Lalu beliau Ustman bin Affan RA menukil surat Al-Baqaroh ayat 261 bahwa mereka yang menafkahkan harta di jalan Allah akan dibalasnya oleh-Nya dengan 700 kali lipat. “Adakah di antara kalian berani memberi keuntungan lebih dari itu?,” tanya beliau. Tentu semua pedagang hanya tercengang mendengar jawaban beliau RA. Mereka tak berani menawarnya. “Saksikan kalian para pedagang, semua barang ini kami sedekahkan kepada fakir miskin, sebab Dia-lah (Allah) yang berani membayar mahal.”

http://www.almuhajir.net/article.php?fn=kisahhikmah1

Hati Yang Tersentuh

Karena wataknya yang tegas dan keras, Umar bin Khatthab dijuluki Al-Faruq, yang berarti pembeda antara yang haq dan yang batil. Tubuh beliau gagah dan kekar, suaranya lantang, dengan pedang selalu disandangnya. Suatu hari beliau naik kuda. Tiba-tiba ia mendengar seseorang membaca Al-Quran surat An-Thuur ayat 7-8, maka jatuhlah beliau dari kudanya. Beliau pingsan. Beberapa Sahabat lalu menggotong beliau ke rumahnya. Sejak itu, hampir sebulan beliau tak pernah keluar dari rumah. Apa sebenarnya yang terjadi ?. Meski berhati keras, rupanya Sayyidina Umar sangat halus perasaannya. Hatinya peka, gampang tersentuh dan melelehkan air mata. Setiap hari, beliau mencatat semua amalannya dalam buku harian. Hari Jum’at baru beliau buka. Bila beliau membaca catatan tentang sesuatu amalan yang tidak diridhai Allah, maka dipukullah dirinya dengan cemeti sambil berkata, “Apa demikian ini perbuatanku ?.” Rupanya ayat yang membuat Sayyidina Umar pingsan adalah tentang azab Tuhan, “Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi, tidak seorangpun yang dapat menolaknya.”

http://www.almuhajir.net/article.php?fn=kisahhikmah9

Tuntutlah ilmu, tetapi tidak melupakan ibadah, dan kerjakanlah ibadah, tetapi tidak melupakan ilmu – (Hasan al-Bashri)

nore : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.016/th.02/Jumada Al Tsani-Rajab 1426H/2005M


Penjajahan

Maret 13, 2006

Kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, maka penjajahan di atas dunia ini harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Di mata bangsa-bangsa yang pernah menjajah negara kita tercinta ini, para pahlawan kita yang begitu berjasa, hanyalah sekedar kaum pemberontak, pengacau, ekstremis, entah apa lagi. Penjajah memberi berbagai cap negatif untuk mendiskreditkannya, karena dengan adanya perlawanan itu, mau tak mau telah mengganggu kepentingan mereka di tanah jajahan. Maka penjajah itu berusaha menangkisnya dengan berbagai cara, baik dengan senjata, kata-kata dan propaganda. Memberi cap negatif adalah propaganda yang sangat intens dilakukan para penjajah di berbagai pelosok dunia, dari zaman baheula hingga zaman khiwari.

Hal di atas sama persis dengan yang dilakukan para penjajah jaman sekarang, terutama yang saat ini sedang menjajah negara-negara Islam. Begitu ada perlawanan dari bangsa terjajah, maka para penjajah berusaha dengan segala cara memberantasnya, bahkan berusaha mempengaruhi opini dunia agar bersedia untuk membenarkan segala kedzaliman yang mereka lakukan. Tak peduli akibat dari ulah mereka itu akan sangat dahsyat dan fatal. Puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan nyawa akan mati. Belum lagi kerugian material. Rusaknya peradaban dan kebudayaan. Penduduk yang sebelumnya hidup tentram, sejahtera di tengah anggota keluarga dan handai taulan, tiba-tiba saja harus kehilangan anggota keluarga dan kerabat, mendadak tak punya rumah karena rata dengan tanah, tiba-tiba saja tak ada pekerjaan dan penghasilan karena perekonomian goncang, ibu dan anak-anak tiba-tiba saja menurun kesehatannya karena kekurangan makanan dan gizi, pendidikan tiba-tiba saja terkatung-katung. Kekacauan, pencurian, berbagai kejahatan, tiba-tiba saja merebak, merajalela. Maka hukum rimba pun berlaku…

Menghadapi keadaan yang sangat merugikan lahir bathin ini, sangat wajar bila kemudian bangkit kesadaran dan semangat patriotik melawan penjajahan itu. Kebiadaban demi kebiadaban akan terus terjadi selama penjajah itu belum diusir. Berbagai pernyataan yang dimanipulasi dan pemutar-balikan fakta akan terus dibangun penjajah, “Bahwa kami datang untuk menjalankan misi kemanusiaan yang mulia, bahwa kami telah berkorban mati-matian, baik harta, darah dan nyawa”. Namun begitu ada satu saja pasukan penjajah yang mati, maka diberitakan ke seluruh penjuru dunia, seakan-akan nyawa seorang penjajah itu jauh lebih berharga, ketimbang nyawa ribuan atau jutaan yang telah dihilangkan, tak diberitakan dan tak pernah jelas jumlahnya. Biadab …

Nafsu syetani benar-benar telah melingkupi seluruh akal pikiran mereka, tertutup mata hatinya, tak ada rasa haru menyaksikan berbagai kesengsaraan akibat ulahnya . Alih-alih terharu, sudah nyata-nyata terlihat penderitaan yang amat dalam, begitu dikritik, diprotes dan dilawan, maka muncul kalimat-kalimat syetani yang langsung dipropagandakan ke seluruh dunia, “Kami berjuang mati-matian untuk membebaskan negeri ini, mewujudkan sebuah negara yang demokratis, menegakkan HAM, membebaskan nasib wanita yang selama ini terabaikan.
Akan kami basmi para ekstremis, kaum radikal, garis keras dan para teroris dari negeri ini !”.

Nelangsanya, dalam keadaan yang begitu sengsara, selalu saja muncul para penjilat, pencari kesempatan dalam kesempitan, melacurkan martabat bangsa dan harga dirinya kepada penjajah, musuh dalam selimut bagi bangsa sendiri. Diam-diam para penjilat itu telah menjadi kaki tangan penjajah. Pengkhianat !.

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya, dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan” (QS.26:183)

“Dan bila dikatakan kepada mereka ‘Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi”, maka mereka menjawab ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS.2:11)

[dari : mukaddimah Labbaik edisi no.002/th.02/Jumada Al Tsani – Rajab 1426H/2005M]


Dauzan, mengabdi total untuk Islam..

Maret 2, 2006

Jam belum menunjukkan pukul 10.30 saat Dauzan Farook (79), pemilik perpustakaan Mabulir -yang tengah duduk di sofa usang di ruang tamu yang menjadi satu dengan perpustakaannya- menyapa kami. Ia baru saja bangun dari tidurnya. Senyum tuanya mengembang. “Maaf, tadi sudah kemari ya ?” sapanya. Pria yang kerap dipanggil Pak Farook atau Pak Dauzan Farook ini memang terbiasa tidur kembali setelah menjalankan ibadah shalat subuh. Namun, sebelum tidur kembali, ia biasa terlebih dulu mempersiapkan buku-buku lama yang akan diperbaiki karyawannya. Maklum, usia lanjut menuntutnya untuk cukup istirahat. Meski tidak terlalu berat, pekerjaannya menyita waktu dan tenaga.

Menjelang siang, ia kembali bergelut dengan buku-buku koleksinya yang mencapai 5.000 buah lebih. Belum lagi jika ditambah dengan majalah yang jumlahnya hampir sama. Sore harinya, seusai shalat ashar, ia kembali disibukkan dengan berkeliling, mengunjungi peminjam yang tersebar di sekitar kota Yogyakarta. Aktivitasnya berlanjut pada malam hari, saat Dauzan biasa pergi ke pasar buku-buku bekas untuk membeli buku-buku guna menambah koleksinya. Aktivitas Dauzan Farook memang tidak bisa dilepaskan dari perpustakaan. Rumahnya yang berada di sebuah gang sempit di Kampung Kauman, kota Yogyakarta, mudah dikenali. Dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain, rumahnya kelihatan paling mencolok. Di dindingnya terpasang majalah dinding dan juga nama Mabulir, singkatan dari Majalah dan Buku Bergilir.

Di perpustakaan itu memang peminjam dapat memilih, membaca, sekaligus meminjam buku untuk dibawa pulang secara bergiliran. Semuanya tanpa dipungut biaya. “Saya tidak menarik sepeser pun dana dari peminjam. Walaupun saya selalu defisit setiap bulan untuk membiayai operasional perpustakaan ini,” jelasnya.

Sebaliknya, peminjam hanya diwajibkan menjaga koleksi buku-buku tersebut melalui doktrin yang ia berikan dalam label “Amanat Umat”, yang berarti “dari umat, oleh umat, dan untuk umat”. Apabila peminjam menghilangkan atau merusakkan buku, berarti mereka telah merugikan orang banyak (umat). Keyakinan seperti itu terus di jaganya hingga saat ini.
“Kami juga tidak menuntut mereka untuk mengembalikan. Berdasar kesadaran, biasa nya mereka sendiri yang menggantinya dengan buku lain apabila ada yang hilang. Kalau mereka susah mengembalikan, saya yang harus datang mengambil ke tempat tinggal mereka,” tambahnya.

Upaya mendatangi peminjam bukan saja untuk mengambil buku, melainkan juga memin jami. Ia rela berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan tujuan pe minjam dapat memperoleh buku untuk dibaca. Sebagian besar peminjam buku di Perpustakaan Mabulir adalah orang dewasa. Namun, tidak sedikit pula anak-anak muda. Mereka umumnya remaja masjid, penghuni asrama, masyarakat umum, hingga tukang becak sekalipun. Untuk menjaga koleksinya, mulai beberapa tahun terakhir Perpustakaan Mabulir tidak lagi melayani perorangan. Bagi peminjam baru diharuskan membuat kelompok minimal lima orang. Salah satu anggotanya akan menjadi koordinator yang nantinya akan memfasilitasi peminjaman buku untuk anggota kelompok yang lain. Menurut dia, tidak semua kelompok akan lulus tes. Biasanya, sebelum ditetapkan lebih jauh, ia sendiri yang akan menguji. Dua kali berturut-turut, kelompok itu hanya akan dipinjami tabloid. Baru, setelah keseriusannya terlihat, kelompok tersebut akan dipinjami buku.

UNTUK menjalankan operasional sehari-hari, sejak tiga tahun terakhir ia dibantu empat orang karyawan. Mereka bertugas mulai dari menjaga perpustakaan, melayani peminjam, memberi sampul, memperbaiki buku yang rusak, hingga menjadi pengawalnya saat mengunjungi para peminjam. Karyawan-karyawan yang bekerja di Perpustakaan Mabulir tidak bekerja secara cuma-cuma. Mereka juga memdapat gaji Rp 10.000 per hari. Dari mana dana untuk menggaji karyawan didapat, sementara tak ada pemasukan dari pelanggan perpustakaan ?

Rupanya Dauzan rela untuk menggunakan uang pensiun. Bahkan, tidak jarang biaya operasional yang harus dikeluarkan jauh lebih besar dari uang pensiun yang ia terima. Menurut Dauzan, biaya operasional untuk merawat buku setiap hari mencapai Rp 5.000. “Itu belum termasuk biaya ojek setiap harinya. Untuk berkeliling dan menemui pelanggan, saya selalu memakai ojek langganan,” jelasnya. Untuk menutup kekurangan itulah, ia mengaku harus menggunakan uang simpanannya. Tak heran kalau setiap bulan defisit bisa mencapai lebih dari Rp 1.000.000 lebih. “Banyak orang bilang, kekurangan itu sebenarnya bisa sedikit saya tutup dengan bayaran pinjaman buku. Namun saya tidak mau. Saya ingin memberi contoh bahwa budaya pengabdian dalam bidang pendidikan itu dilakukan dengan sepenuh hati,” ungkapnya. Sedangkan untuk membeli buku, ia memanfaatkan uang yang diperoleh dari sumbangan orang lain. Selama ini, sumbangan dari peminjam dan orang yang mengenalnya kerap kali mengalir.

Selain itu, ia juga mendapatkan buku dari penerbit-penerbit di Yogyakarta. Ada beberapa penerbit yang setia memberikan buku kepada Perpustakaan Mabulir. Salah satunya adalah Penerbit Pustaka Pelajar yang selalu mengiriminya buku setiap kali peluncuran buku baru. “Tidak semuanya buku diberi oleh penerbit. Kita juga kerap kali membeli dari mereka. Tentunya dengan harga yang murah, atau beli yang reject-an (maksudnya yang tidak layak jual),” jelasnya. Menurut dia, dari 5.000 buku yang ada di perpustakaannya, sebagian besar merupakan buku-buku agama.

Sebagian lainnya buku-buku ilmu pengetahuan, sejarah, serta aneka kamus bahasa asing. Jenis buku-buku yang menjadi koleksi Perpustakaan Mabulir bukan atas kemauan sendiri, melainkan mengikuti kemauan pasar. Untuk buku-buku yang lama, seperti buku mengenai agama, ia sengaja menyisipkan suplemen berupa buku lain yang lebih kecil. Sedangkan buku-buku yang tidak terpakai, ia berikan pada orang lain, termasuk masjid-masjid yang belum memiliki perpustakaan. Tidak jarang, ia memberikan ke masyarakat di pedesaan melalui mahasiswa yang tengah mengikuti kuliah kerja nyata (KKN).

DAUZAN Farook lahir tahun 1925 di Kampung Kauman Yogyakarta. Kecintaannya terhadap buku mulai ada sejak kecil. Bapaknya, H Muhammad Bajuri, menjadi pengelola Taman Pustaka Muhammadiyah atau Perpustakaan Muhammadiyah. Ketika remaja, ia juga turut berjuang. Dirinya pernah bergabung dengan para gerilyawan dalam pasukan Sub Wehrkreise (SWK) 101. Ia juga terlibat kontak fisik dalam penyerbuan gudang senjata Jepang di Kota Baru 6 Juli 1947. Bahkan, Dauzan Farook juga terlibat dalam Serangan Oemoem 1 Maret 1949. “Saya dulu juga tergabung dalam Hisbullah yang ditugaskan di Kota Baru, sebuah laskar pejuang dari kalangan Islam. Kemudian saya terekrut dan menjadi tentara pelajar. Saya sendiri belajar cara berperang justru dari Jepang, saat itu niat Jepang ke Indonesia masih baik,” jelasnya.

Sejalan dengan perkembangan waktu, muncul keinginan dari dirinya untuk melanjutkan usaha batik orangtuanya. Akhirnya ia memilih keluar dari ketentaraan, saat itu pangkatnya masih letnan dua. Ketika usaha batik orangtuanya hancur tahun 1957, ia memutuskan untuk berdagang emas dan menjadi distributor buku.
Ia kemudian berbuat sesuatu sesuai dengan potensinya. Sejak tahun 1993, ia mulai membuka Perpustakaan Mabulir. Semua ini berawal dari kesadarannya untuk memanfa atkan uang pensiun veteran sebesar Rp 500.000 per bulan untuk kemajuan negara. “Saya seperti mendapat amanah besar untuk memakai uang itu sebaik-baiknya,” ujar nya. Dengan sistem multi-level reading, ia berharap buku yang ia pinjamkan dapat dibaca banyak orang. Saat ini, jumlah kelompok bacaan yang dimilikinya mencapai 100-an buah, dengan masing-masing anggota kelompok mencapai 4-20 orang. Mabulir memiliki perwakilan di lima kota, yaitu Jakarta, Solo, Brebes, Purworejo, dan Magelang. Para pemilik cabang tersebut sebelumnya adalah pelanggannya.

Usianya yang semakin tua, membuatnya tidak kuat lagi membaca buku-buku yang ada. Alasan utamanya tidak memiliki kesempatan untuk membaca buku tebal. Kalaupun ada ia hanya membaca pengantar dan sinopsisnya saja. Ketika ditanya siapa yang akan meneruskan perpustakaan itu, sementara tak satu pun dari delapan anaknya yang berminat untuk meneruskan, Dauzan tercenung. “Saya hanya bisa menyebarkan virus untuk mengangkat minat baca masyarakat dengan sistem perpustakaan keliling. “Entah siapa yang meneruskan, bisa siapa saja”, katanya .

Usianya sudah senja, namun dedikasinya sangat luar biasa…

http://www.penerbit.net/
pesan : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang akan terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat.

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.016/th.02/JUmada Al Tsani-Rajab 1426H/2005M


Beban sejarah ummat Islam Indonesia

Maret 2, 2006

UMAT Islam Indonesia menanggung beban sejarah amat berat. Berupa citra atau gambaran negatif, yang berkembang sejak zaman Kolonial, hingga sekarang. Pemerintah kolonial Belanda (1596-1942) menganggap umat Islam sebagai pemberontak, ekstremis, sekaligus kolot dan fanatik. Hal ini disebabkan perlawanan yang muncul terhadap penjajahan Belanda, sebagian besar dari kalangan umat Islam. Mulai dari yang berskala besar, seperti Sultan Agung Mataram (1628-1629), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Padri (1831), Perang Aceh (1881), hingga yang berskala lokal setingkat Bagus Rangin di Cirebon, Haji Wasid di Banten, Haji Hasan Cimareme Garut, Antasari di Kalimantan, Hasanuddin di Makassar, dan lain-lain. Semua dipelopori tokoh-tokoh Islam, melibatkan institusi Islam (sosok kiai dan lembaga pesan tren).

Zaman penjajahan Jepang (1942-1945), sama saja. Salah satu perlawanan legendaris terhadap Jepang, dilakukan oleh Kiai Zainal Mustofa dan para santrinya di Pesantren Sukamanah, Singaparna, Tasikmalaya. Ketika Kolonialis-Imperialis Belanda mencoba kembali bercokol di Indonesia (1945-1950), umat Islam yang bertekad mempertahankan kemerdekaan, membentuk barisan-barisan perlawanan “Sabilillah” dan “Hizbullah”. Sebelum berangkat ke garis depan, para anggota “Sabilillah” dan “Hizbullah” yang hanya bersenjatakan bambu runcing dan sama sekali tidak memiliki pengalaman tempur, meminta restu para kiai di pesantren-pesantren. Almarhum K.H. Saifuddin Zuhri, dalam bukunya Berangkat dari Pesantren (1986), mengisahkan, ribuan anggota lasykar “Sabilillah” dan “Hizbullah” dari Banyumas, Kedu, Purwokerto, dan sekitarnya, berbondong-bondong datang ke pesantren Parakan, Magelang. Meminta berkah dari Kiai Subeki, seorang ulama sepuh termasyhur berusia 90 tahun.

Pada pertempuran “10 November 1945” di Surabaya, tokoh pejuang Bung Tomo membakar pratiotisme rakyat dengan seruan “Allahu Akbar”. Pada pertempuran “Hari Pahlawan” itu, Jenderal Mansergh, panglima pasukan sekutu asal Inggris, yang mencoba akan menyerahkan kembali Indonesia kepada penjajah Belanda, tewas terbunuh.

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, mendapat dukungan diplomatik dari negara-negara Arab. Termasuk dari Mufti Besar Palestina, Syeikh Amin Al-Hussaini. Padahal waktu itu, Palestina sedang menghadapi masalah yang sama dengan Indonesia. Negaranya diserahkan oleh Inggris kepada orang-orang Yahudi, untuk dijadikan negara Israel (14 Mei 1948).

Usai penyerahan kedaulatan (1950), pemerintah dan rakyat Indonesia masih harus menghadapi pemberontakan bersenjata. Beberapa daerah ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di ujung timur berkobar pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pimpinan Dr.Soumokil, yang didukung diam-diam oleh Belanda dan pasukan Letkol Andi Azis di Makassar. Pemberontakan ini dapat ditumpas (1951). Di Kalimantan Selatan, timbul pemberontakan Ibnu Hajar, yang segera dapat dipadamkan. Di kawasan barat, terutama Jawa Barat, Sekarmaji Marijan (SM) Kartosuwiryo memproklamasikan “Negara Islam Indonesia” (NII) tanggal 7 Agustus 1949. Seluruh Jawa Barat dianggap wilayah “Darul Islam”. Memiliki kekuatan “Tentara Islam Indonesia” (TII), yang cukup terorganisasi, “NII” Kartosuwiryo mampu bertahan hingga 13 tahun. Baru berakhir Juni 1962 dengan tertangkapnya Kartosu wiryo oleh Pasukan Kujang II/328 Siliwangi, pimpinan Letda Suhanda, di Gunung Rakutak, Kecamatan Pacet Majalaya, Kabupaten Bandung.

Pemberontakan-pemberontakan lain terjadi di Aceh, pimpinan Daud Beureuh, dan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan. Keduanya mempunyai hubungan organisatoris dengan NII/DI/TII Kartosuwiryo. Di Sumatera Barat, 15 Februari 1958, berdiri Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang melibatkan beberapa tokoh Islam dari Partai Masyumi, antara lain Moh.Natsir, dan Syafruddin Prawiranegara, serta tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI) Sumitro Joyohadikusumo. PRRI mendapat dukungan politik dan militer dari Letkol D.J. Somba, Komandan Kodam Sulawesi Utara, dan perwira-perwira Kodam Sulut lainnya, seperti Letkol HNV Sumual, dan Mayor D. Runturambi.

Semua pemberontakan tersebut dapat ditumpas pada awal tahun 1960-an. Walaupun yang memberontak mayoritas mengatasnamakan Islam, tapi yang menjadi korban terbesar adalah umat Islam. Di Jawa Barat, DI/TII membakari rumah, masjid, pesantren. Membunuh para kiai, santri dan masyarakat yang notabene beragama Islam. Orang-orang pedesaan yang rata-rata taat beragama (Islam), hidup dalam kesulitan amat sangat. Oleh pihak tentara dicurigai sebagai anggota atau simpatisan DI/TII karena sama-sama Islam. Oleh DI/TII disangka mendukung TNI karena tidak mau ikut “naik” ke gunung. Di tengah tekanan dari kedua belah pihak, masyarakat pedesaan hidup dalam kesengsaraan lahir batin. Tapi mereka tetap tabah dan tak (mampu) menyalahkan siapa-siapa, kecuali menggerutu di belakang.

Pemberontakan DI/TII Jawa Barat, yang meluas ke Aceh, Sumatra Barat, dan Sulawesi Selatan, serta bertahan hingga lebih satu dasawarsa (1949-1962), menimbulkan korban harta dan jiwa tidak terhitung, menjadi stigma tersendiri bagi umat Islam Indonesia. DI/TII dianggap sebagai satu ideologi yang harus terus dicurigai. Pada masa Orde Lama di bawah Presiden Soekarno (1945-1966), Partai Komunis Indonesia (PKI) mendapat angin segar di puncak kekuasaan. Sehingga PKI leluasa melakukan manuver-manuver untuk menyudutkan umat Islam. Apalagi setelah berhasil mendesak Presiden Soekarno untuk membubarkan Masyumi dan PSI (17 Agustus 1960). Tokoh-tokoh Masyumi dan PSI langsung ditangkapi dimasukkan ke penjara tanpa diadili. Jangankan tokoh-tokoh Masyumi yang langsung terlibat PRRI, seperti Moh. Natsir dan Syafruddin Prawiranegara, tokoh-tokoh Masyumi yang tidak terlibat pun — bahkan mengecam pemberontakan — seperti Buya Hamka, K.H.E.Z.Muttaqien, K.H. Isa Ansyori, Moh.Roem, Prawoto Mangkusasmito, Sumarso Sumarsono, dll. ikut dijebloskan. Ikut pula masuk penjara, tokoh Islam non-Masyumi K.H.Imron Rosyadi (NU) dan tokoh pers nasional Mochtar Lubis. Mereka dikerangkeng karena dianggap menentang kebijakan Presiden Soekarno yang cenderung pro komunis.

Setelah rezim Orde Lama dan Presiden Soekarno tersingkir akibat dampak pemberontakan G-30-S/PKI, stigma tersebut tidak ikut lenyap, bahkan semakin menguat. Rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto (1966-1998), sangat represif terhadap Islam dan umat Islam. Heru Cahyono, penulis buku “Peranan Ulama dalam Golkar, 1971-1980, dari Pemilu Sampai Malari” (Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1992), mengutip pendapat Kenneth E.Ward, menyatakan, rezim Orde Baru (yang dimotori Jenderal Ali Moertopo, Kepala Opsus/Aspri Presiden) memandang Islam melulu identik dengan “Darul Islam” sehingga cenderung hendak menghancurkan Islam. Maka tidak mengherankan, jika kemudian kebijaksanaan politik pemerintah Orde Baru terhadap Islam, amat merugikan umat Islam sendiri, karena kelompok Ali Moertopo yang memegang kendali begitu besar dalam pendekatan kepada umat Islam, berintikan tokoh-tokoh yang tidak Islami bahkan diduga cenderung hendak memusuhi umat Islam (hlm. 130-131). Heru Cahyono mengungkapkan, Presiden Soeharto dan rezimnya, menyadari, bahwa kemenangan mereka dapat tercapai antara lain berkat dukungan tokoh-tokoh umat Islam. Termasuk dari ormas-ormas simpatisan Masyumi. Tapi ketika muncul tuntutan dari tokoh-tokoh Masyumi yang baru bebas dari tahanan rezim Orde Lama, untuk merehabilitasi partainya, Soeharto tegas menolak dengan alasan “yuridis, ketatanegaraan dan psikologis” (hal. 76). Bahkan Soeharto dengan nada agak marah, menegaskan, ia menolak setiap teror keagamaan dan akan menindak setiap usaha eksploitasi masalah agama untuk maksud-maksud kegiatan politik yang tidak pada tempatnya. Dalam kata lain, pemerintah Orde Baru yang didominasi militer tidak menyukai kebangkitan politik Islam (hlm. 74-75).

Maka dapat dimengerti, jika selama pemerintahan Orde Baru, tokoh-tokoh dan umat Islam yang dinilai “keras” langsung dibungkam. Semua tokoh eks Masyumi terkena persona nongrata di segala bidang karena dianggap selalu memperjuangkan “Piagam Jakarta” dan negara Islam, di tengah ketekunan pemerintah Orde Baru memasyarakatkan UUD 1945 dan Pancasila.

Untuk memperlemah posisi umat Islam, sekaligus mendiskreditkan Islam, lembaga Opsus Ali Moertopo, di satu pihak bergerak mengumpulkan tokoh-tokoh mantan DI/TII dan menghidupkan organisasi Gabungan Usaha Pendidikan Pesantren Indonesia (GUPPI). Di pihak lain merekrut tokoh-tokoh Nasrani dan Cina, seperti Harry Tjan Silalahi, Liem Bian Khoen (Sofyan Wanandi), Liem Bian Kie (Yusuf Wanandi), Murdopo, dan dihimpun dalam lembaga The Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Di dalam GUPPI — demikian Harry Cahyono — bercokol orang-orang kepercayaan Ali Moertopo dan Soejono Humardani (Aspri Presiden). Antara lain Ramadi. Sedangkan toko-tokoh eks DI/TII mendapat binaan tersendiri. Kedua kelompok yang dikendali kan Ali Moertopo itu, diterjunkan untuk mengacaukan gerakan mahasiswa anti Orde Baru awal Januari 1974. Sehingga demonstrasi mahasiswa anti Orde Baru dan anti modal asing Jepang, berubah menjadi huru-hara malapetaka yang terkenal dengan sebutan peristiwa “Malari” (15 Januari 1974). Banyak tokoh mahasiswa ditangkapi sehubungan dengan peristiwa “Malari”. Beberapa surat kabar dan majalah (Indonesia Raya, Nusantara, Pedoman, Express, Abadi), dibredel. Tokoh GUPPI Ramadi dan beberapa kawannya, serta beberapa tokoh eks DI/TII, ikut pula ditangkap. Menurut Harry Cahyono, para mahasiswa tidak menyadari jika penangkapan Ramadi cs. dan tokoh-tokoh eks DI/TII akibat keterlibatan mereka dalam “Malari”.

Dalam kata lain, untuk menghancurkan gerakan mahasiswa yang tulus dan murni, kon spirasi rezim Orde Baru di bawah penggalangan Ali Moertopo, menggunakan organisa si Islam GUPPI dan eks DI/TII. Lebih jauh lagi, eks DI/TII binaan Opsus dijerumuskan pada skenario mendirikan “negara Islam” dan teror “Komando Jihad” (1976-1982). Setelah wacana dan gerakan mereka berkembang, lalu ditangkapi dan diajukan ke meja hijau, setiap menjelang pemilu. Tujuannya adalah melemahkan kekuatan politik umat Islam (terutama simpatisan PPP) untuk kemenangan mutlak Golkar yang didukung pemerintah. Sekaligus mempertebal trauma, stigma, dan kebencian terhadap Islam.

Teror bom Bali, Marriot, dan baru-baru ini di depan Kedubes Australia, dikait-kaitkan dengan label Islam. Dengan “Jamaah Islamiyah”, “Al-Qaeda”, atau entah apa lagi. Padahal belum tentu umat Islam terlibat langsung di sana, dan belum tentu dasar perjuangan mereka benar-benar menjunjung tinggi kaidah Islam secara murni dan konsekuen. Jangan-jangan mereka hanya semacam orang-orang binaan Opsus dulu, seperti yang dialami Ramadi cs. dan eks tokoh-tokoh DI/TII pada peristiwa “Malari” Januari 1974. Mereka hanya pelaksana-pelaksana kecil dari sebuah skenario besar dan sutradara yang ahli dan sangat membenci Islam.

Pemberontakan DI/TII sendiri, yang memiliki qanun asasi (sumber hukum) dari Al quran dan Sunnah Rasulullah saw., dengan qanun syar’i (UUD) berupa adaptasi dari kitab fiqh Taqrib karya Syekh Abi Suja (ulama ahli fiqh Mazhab Syafi’i), dalam pelaksanaannya justru mengorbankan harta dan nyawa umat Islam. Apalagi pemberontakan yang dilatarbelakangi ideologi non-Islam, seperti RMS, baik era Soumokil tahun 1950-an, maupun era Alex Manuputty tahun 1990-an.

Perlakuan penguasa Orde Baru terhadap upaya politik umat Islam sangat berlebihan. Peristiwa-peristiwa Tanjung Priok (1984), Talangsari Lampung (1989), Haur Koneng (1996), merupakan bukti nyata. Tembak dan bunuh dijadikan pilihan utama dan pertama. Hal serupa menimpa individu-individu yang memperjuangkan aspirasi Islam. Abubakar Baasyir harus terus mendekam di penjara dengan tuduhan mendala ngi teror bom Bali dan JW Marriot (kemungkinan juga bom Kuningan), walaupun di pengadilan hanya terbukti melanggar hukun imigrasi dan dikenai hukumam 4 bulan penjara. Sedangkan Alex Manuputty yang sudah divonis 4 tahun penjara karena terbukti berbuat makar dan kasasinya ditolak Mahkamah Agung, malah leluasa pergi ke Amerika Serikat.

Ini merupakan “tradisi” dari zaman kejayaan Opsus era Orde Baru dulu, ketika tokoh-tokoh Islam dijerumuskan ke dalam teror, huru-hara, dan makar yang dirancang sendiri oleh Opsus, sementara tokoh-tokoh non-Islam mendapat fasilitas melimpah di CSIS dan dunia usaha. “Tradisi” yang tampaknya dipertahankan, bahkan dipertegas, oleh rezim “Reformasi”. Umat Islam Indonesia menanggung beban sejarah amat berat. Dibantai habis oleh pemerintah kolonial Belanda dan Jepang, ditekan oleh rezim Orde Lama Presiden Soekarno, dicurigai dan diperalat oleh rezim Orde Baru Soeharto, dan dijadikan kambing hitam teror bom oleh penguasa era “Reformasi”. Sampai kapan ? ***

(Oleh H. USEP ROMLI, H.M. – Penulis wartawan senior “Pikiran Rakyat” Bandung – Pikiran Rakyat Cyber Media)

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0904/18/0802.htm
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.016/th.02/Jumada Al Tsani-Rajab 1426H/2005M