Tombo Ati

April 25, 2006

tombo ati iku ono limang perkoro
kaping pisan, moco Qur’an sa’maknane
kaping pindo, sholat wengi lakonono
kaping telu, wong kang sholeh kumpulono
kaping papat, weteng iro ingkang luwe
kaping limo, dzikir wengi ingkang suwe
salah sak wijine sopo biso ngelakoni
insya Allah Gusti Pangeran ngijabahi
—————————————————————-
ada lima obat penentram jiwa
cinta Qur’an dengan menyelami maknanya
sujudkan jiwa raga di tengah sunyi malam
kepada orang sholeh dirimu senantiasa dekatkan
adapun terhadap rasa lapar upayakan bertahan
dan atas keasyikan dzikir jangan pernah bosan
salah satu saja engkau khusyu’ melakukannya
insya Allah nasibmu akan dirawat oleh Yang Maha Kuasa
—————————————————————-
ADAPTASI DARI SAYIDINA ALI BIN ABI THALIB DITERJEMAHKAN DAN DIPOPULERKAN OLEH KYAI BISRI MUSTOFA. MERUPAKAN SALAH SATU LAGU DARI ALBUM “KADO MUHAMMAD” EMHA AINUN NADJIB .

Manusia Oh Manusia

Ini cerita atau tamsil mengenai kondisi kita sebagai manusia, Insya Allah ada hikmah/manfaatnya.
Telah datang seorang bijak di hadapan rumah seorang lelaki. Orang bijak itu terkejut mendapati si lelaki itu sedang memukuli seekor kucing. Orang bijak itu bertanya kepada lelaki tersebut ‘Kenapa kamu pukul kucing yang lemah ini??’. Si lelaki tersebut menjawab ‘ Aku telah melihatnya di sebuah lorong ketika kucing itu dalam keadaan yang sangat lemah & kedinginan , kemudian aku mengambilnya & memberinya makanan serta minuman. Aku pelihara hingga ia benar-benar sehat, tetapi se sudah kucing itu sehat ,ia membuang najis/kotoran pada semua tempat di rumahku. Maka berkatalah si orang bijak : ‘Ini sebenarnya peringatan & tamsilan antara kita dengan Allah SWT. Dia telah memelihara kita sejak dari kecil yang sangat lemah & dhaif, lalu Allah memberi kita makan, pakaian dan segala-galanya, tetapi setelah begitu banyak kebaikan dan nikmat Allah yang kita rasakan, kita durhaka kepada-NYA dan tidak melaksanakan perintah-NYA dan belum mengikuti cara hidup kekasihnya yaitu Rasulullah saw. Lihatlah betapa maha baik dan maha rahmat Allah ? Walaupun kita durhaka kepada-NYA, Dia masih belum menyiksa atau memukul kita dengan azab-NYA.’

Setelah orang bijak itu pergi, maka beristighfarlah si lelaki tersebut karena mengenang dosa-dosanya terhadap Allah. Jika ia terlambat diperingatkan oleh orang bijak itu, sudah tentu akan ia pertanggung-jawabkan kesalahannya di mahkamah Allah kelak, karena telah mencoba menyiksa seekor kucing……………

http://van.9f.com/renungan%20islam/ohh_manusia.htm

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 002/th.01/rabi’ul ‘awal 1424H/2004M


Muhammad Al Fatih

April 25, 2006

Antrian panjang muda-mudi pada loket-loket penjualan tiket hari pertama pemutaran film “The Lord of the Rings” atau pada peluncuran buku “Harry Potter” adalah pemandangan keseharian di negeri-negeri Barat. Fenomena yang sama terjadi juga di negeri kita, seperti yang baru-baru ini dimuat di berita photo detik.com. Mereka yang sebagian besar adalah muda-mudi, termasuk yang “berjilbab”, ada dalam antrian panjang untuk membeli buku Harry Potter Jilid V yang harganya Rp. 140.000. Uang sejumlah itu bukanlah sedikit untuk masyarakat kita umumnya. Masih ingatkah kita kisah seorang anak SD yang mencoba mengakhiri hidupnya gara-gara malu karena tidak bisa membayar uang untuk kegiatan sekolah yang besarnya hanya Rp. 2500.
Harry Potter … hampir semua remaja, bahkan dewasa, begitu mengenalnya. Bukunya laris manis bak kacang goreng. Film-film-nya sangat ditunggu-tunggu. Asesorisnya menjadi bahan koleksi para penggemarnya. Mereka hafal secara detil petualangan tokoh yang bernama Harry Potter ini. Bahkan pernah dilaporkan di majalah Time, kacamata model Harry Poter, sangat digandrungi oleh anak-anak dan remaja di Inggris, dan saya yakin juga di negara-negara lain, termasuk negara kita. Believe it or not, bahkan ada sebuah keluarga yang memberi nama anaknya yang baru lahir Harry Potter …. karena begitu kagumnya terhadap tohoh yang satu ini. Sedikit, bahkan bias dikatakan hampir tidak ada, remaja kita yang tidak kenal dengan nama Harry Potter. Dan yang sedikit ini umumnya dikategorikan sebagai kuno, tidak gaul, dan ketinggalan zaman.

“…saya berkewajiban menemani dia membeli buku”,ujar seorang Profesor yang juga ketua salah satu komisi di DPR. Meski hanya fiksi, penulis buku Harry Potter sering menyisipkan falsafah hidup yang dapat membuat anak-anak lebih bijak, demikian alasan sang Profesor seperti yang ditulis di detikhot.com. Kalau alasannya untuk mencari falsafah hidup, tidak cukupkah Islam sebagai minhaaj al-hayaah (pedoman hidup) memberikan itu semua? Bila kemudian alasannya agar bisa menjadi manusia yang lebih bijak dan berakhlak, lantas apa arti hadist Rasulullah SAW “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang manusia”. Tidak cukupkah itu semua, sehingga kita mesti mengambilnya dari sumber-sumber lain, yang belum tentu sejalan dengan tuntunan Islam.

Muhammad Al-Fatih …. siapakah dia ? Jika pertanyaan ini diajukan ke 1000 Remaja muslim, mungkin hanya 1 diantaranya yang tahu jawabannya. Dialah pemuda muslim yang dalam usia 23 tahun berhasil memimpin penaklukan konstantinopel (sekarang bernama Istambul), yang merupakan pusat peradaban barat di abad pertengahan. Sang pemuda ini berhasil mengambil alih konstantinopel dari tangan kerajaan Bizantium yang merupakan kelanjutan dari Roman Empire dan telah menguasai Konstantinopel lebih dari 10 abad. Remaja Muslim sekarang lebih kenal dengan tokoh Harry Potter, ketimbang tokoh Muhammad Al-Fatih. Mahasiswa-mahasiswa muslim di negeri ini lebih mengenal dan mengagumi sosok Einstein, Louis Pasteur dan Aristoteles ketimbang sosok Khwarizmi si-penemu sistem aljabar dalam dunia matematika, Ibn Sina (Avicenna) yang telah menulis buku “The Canon” yang telah menjadi buku rujukan utama di dunia kedokteran Eropa selama lebih dari 5 abad dan Ibu Rushd (Averroes) yang fikiran-fikirannya telah mempengaruhi filsuf-filsuf terkenal Eropa seperti Roger Bacon, padahal ilmuwan-ilmuwan muslim ini sangat dikenal di dunia barat.

Begitulah nasib muslim di negeri ini yang terkadang lebih ‘kebarat-baratan’ daripada orang-orang barat sendiri. Lihatlah buku-buku yang terpajang di rak dinding ruang tamu kita, berapa banyak dari buku-buku tersebut yang merupakan kitab tafsir, fiqh sunah dan buku-buku kisah para sahabat, lalu bandingkan dengan koleksi buku-buku semacam Harry Potter …

Bila tangan kita dengan mudahnya meraih lembaran-lembaran 50 atau 100 ribuan di dompet untuk membeli buku semacam Harry Potter, buku-buku komputer terbaru, buku-buku manajemen dan psikologi modern, sementara hanya lembaran uang ribuan atau bahkan koin recehan yang keluar dari saku kita guna membeli buku-buku Islam, menyumbang kegiatan keislaman, dan mengisi kotak amal di masjid-masjid. Waktu yang kita gunakan untuk kegiatan-kegiatan keislaman pun biasanya waktu-waktu sisa, saat kita sudah letih dan tak mampu lagi berfikir jernih. Terlalu naif rasanya bila kemudian kita masih bertanya mengapa umat (Islam) ini menjadi umat yang terbelakang, umat sisa, umat yang menjadi bulan-bulanan umat-umat yang lain. (Negeri batu cadas, Swedia, 11 Desember 2003)

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak mengingat Allah” (Al-Ahzab : 21)

http://www.eramoslem.com/ar/oa/41/8939,1,v.html

ANAK KECIL YANG TAKUT API NERAKA

Dalam sebuah riwayat menyatakan bahwa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, sedang dia berjalan-jalan dia terpandang seorang anak kecil sedang mengambil wudhu’ sambil menangis.
Apabila orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, “Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?”
Maka berkata anak kecil itu, “Wahai pakcik saya telah membaca ayat al-Qur’an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, “Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum” yang bermaksud, ” Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu.” Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka.”
Berkata orang tua itu, “Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalm api neraka.”
Berkata anak kecil itu, “Wahai pakcik, pakcik adalah orang yang berakal, tidakkah pakcik lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa.”
Berkata orang tua itu, sambil menangis, “Sesungguh anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?”

Sumber : Kisah Teladan.

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 002/th.01/rabi’ul awal 1424H/2004M


Karena Az-Zumar 42

April 25, 2006

Namaku Arthur Alison, seorang profesor yang menjabat Kepala Jurusan Teknik Elektro Universitas London. Sebagai orang eksak, bagiku semua hal bisa dikatakan benar jika masuk akal dan sesuai rasio. Karena itulah, pada awalnya agama bagiku tak lebih dari objek studi. Sampai akhirnya aku menemukan bahwa Al Quran, mampu menjangkau pemikiran manusia. Bahkan lebih dari itu. Maka aku pun memeluk Islam.

Itu bermula saat aku diminta tampil untuk berbicara tentang metode kedokteran spiritual. Undangan itu sampai kepadaku karena selama beberapa tahun, aku mengetuai Kelompok Studi Spiritual dan Psikologis Inggris. Saat itu, aku sebenarnya telah mengenal Islam melalui sejumlah studi tentang agama-agama. Pada September 1985 itu, aku diundang untuk mengikuti Konferensi Islam Internasional tentang ‘Keaslian Metode Pengobatan dalam Al Quran’ di Kairo. Pada acara itu, aku mempresentasikan makalah tentang ‘Terapi dengan Metode Spiritual dan Psikologis dalam Al Quran’. Makalah itu merupakan pembanding atas makalah lain tentang ‘Tidur dan Kematian’, yang bisa dibilang tafsir medis atas Quran surat Az Zumar ayat 42 yang disampaikan ilmuwan Mesir, Dr. Mohammed Yahya Sharafi.

Fakta-fakta yang dikemukakan Sharafi atas ayat yang artinya, “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir,” telah membukakan mata hatiku terhadap Islam.

Secara parapsikologis, seperti dijelaskan Al Quran, orang tidur dan orang mati adalah dua fenomena yang sama. Yaitu dimana ruh terpisah dari jasad. Bedanya, pada orang tidur, ruh dengan kekuasaan Allah bisa kembali kepada jasad saat orang itu terjaga. Sedangkan pada orang mati, tidak. Ayat itu merupakan penjelasan, mengapa setiap orang yang bermimpi sadar dan ingat bahwa ia telah bermimpi. Ia bisa mengingat mimpinya, padahal saat bermimpi ia sedang tidur.

Quran surat Az Zumar ayat 42 ini juga menjadi penjelasan atas orang yang mengalami koma. Secara fisik, orang yang koma tak ada bedanya dengan orang mati. Tapi ia tak dapat dinyatakan mati, karena secara psikis ada suatu kesadaran yang masih hidup. “Bagaimana Al Quran yang diturunkan 15 abad silam, bisa menjelaskan sebuah fenomena yang oleh teori parapsikologis baru bisa dikonsepsikan pada abad ini?” Jawaban atas pertanyaan inilah yang akhirnya meyakinkan aku untuk memeluk Islam. Selepas sesi pemaparan kesimpulan dalam konferensi itu, disaksikan oleh Syekh Jad Al-Haq, Dr. Mohammed Ahmady dan Dr. Mohammed Yahya Sharafi, akupun menyatakan dengan tegas bahwa Islam adalah agama yang nyata benarnya. Terbukti, isi Al Quran yang merupakan firman Allah pencipta manusia, sesuai dengan fakta-fakta ilmiah. Kemudian dengan yakin, aku melafadzkan dua kalimat syahadat yang sudah sangat fasih kubacakan. Sejak itu aku pun menjadi seorang Muslim dan mengganti namaku menjadi Abdullah Alison.
Sebagai Ketua Kelompok Studi Spiritual dan Psikologi Inggris, aku telah mengenal banyak agama melalui sejumlah studi yang dilakukan. Aku mempelajari Hindu, Budha dan agama serta kepercayaan lainnya. Entah kenapa, ketika aku mempelajari Islam, aku juga terdorong untuk melakukan studi perbandingan dengan agama lainnya.

Walaupun baru pada saat konferensi di Mesir, aku yakin benar bahwa Islam sebuah agama besar yang nyata perbedaannya dengan agama lain. Agama yang paling baik diantara agama-agama lain adalah Islam. Ia cocok dengan hukum alam tentang proses kejadian manusia. Maka hanya Islam-lah yang pantas mengarahkan jalan hidup manusia. Aku merasakan benar, ada sesuatu yang mengontrol alam ini. Dia itulah Sang Kreator, Allah Swt. Dari pengalaman bagaimana aku mengenal dan masuk Islam, aku pikir pendekatan ilmiah Al Quran bisa menjadi sarana efektif untuk mendakwahkan Islam di Barat yang sangat rasional itu. …

(Sumber : http://pesantren.net)

http://masjidits.cjb.net/

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 002/th.01/rabi’ul awal 1424H/2004M


Mohon Petunjuk

April 25, 2006

Ketika manusia masih berada di dalam rahim seorang ibu, ketika ruh akan ditiupkan kepada janin, Allah mempersaksikan kepadanya akan hakekat ketuhanan. Allah bertanya kepada ruh, “Apakah Aku ini Tuhanmu ?” maka ruh itu menjawab, “Ya, benar. Engkau adalah Tuhanku”. Persaksian ruh akan ketuhanan Allah ini menjadikan naluri manusia senantiasa cenderung untuk mengikuti kebenaran. Secara verbal, manusia relatif bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Hanya saja, dalam kenyataannya naluri manusia sering terpengaruh oleh kebodohannya, kelemahannya, atau oleh hawa nafsunya sehingga mudah berbelok meninggalkan syari’at-Nya. Betapa banyak orang yang mengetahui bahwa mencuri itu buruk, tetapi dengan kesadarannya ia lakukan juga. Semua orang pasti tahu bahwa berzina itu tidak benar, toh tempat-tempat mesum bukan semakin berkurang. Sebaliknya, siapapun mengetahui bahwa shalat itu kewajiban yang diperintahkan Allah swt, tetapi banyak pula orang yang meninggalkannya. Demikian seterusnya.

Pada prinsipnya, hal yang menjadikan seseorang terkena dosa itu ada dua, yaitu; Pertama, meninggalkan kewajiban. Kedua melakukan larangan. Apabila suatu kesalahan dilakukan oleh manusia yang menyebabkan ia terkena dosa maka akan menyebabkan dirinya semakin jauh dari jalan kebenaran. Dan semakin jauh manusia meninggalkan jalan kebenaran, semakin jauh ia menempuh jalan kesesatan. Jika telah terjadi hal demikian, semakin sulit ia kembali menemukan jalan yang lurus. Oleh karena itulah, agar manusia selamat di dalam menempuh kehidupan dunianya hingga akhirat kelak, ia harus selalu memohon petunjuk dari Allah. Tak ada do’a yang lebih penting untuk dilantunkan selain do’a. Tak ada permohonan yang lebih dibutuhkan manusia kecuali permohonan ini.

Permohonan ini sangat diperlukan karena sesung guhnya hati manusia sangat labil. Hati dalam bahasa Arab adalah qolb, yang berasal dari unsur qaf-lam-ba’ yang berarti berbolak-balik. Dengan kata ini setidaknya Bahasa Arab menunjukkan bahwa hati manusia memang labil. Hari ini memiliki keyakinan A, esok hari menjadi B. Bahkan di dalam salah satu hadisnya Rasulullah mengingatkan akan adanya suatu manusia yang pagi harinya beriman sore harinya menjadi kafir, atau sore harinya beriman dan pagi hari esoknya menjadi kafir. Terlebih lagi, sebagaimana diinfor masikan oleh Allah swt di dalam Alqur’an, hati yang labil ini masih menghadapi godaan eksternal yang berupa bisikan setan (waswasah). Musuh-musuh Allah itu membisikkan keraguan, kebimbangan kepada Allah, dan keinginan untuk berbuat jahat ke dalam hati manusia. Bisikan itu dilakukan dengan cara yang sangat halus, sehingga ia tidak menyadari adanya bisikan itu. Salah satu diantara bentuk bisikan itu adalah menjadikan hal-hal yang buruk menjadi baik dalam pandangan manusia. Firman Allah swt; “Iblis berkata; Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik perbuatan maksiat di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya (al-Hijr:39)

Apabila program waswasah setan ini sukses, maka manusia akan kehilangan hati nuraninya, sehingga ia tidak lagi bisa mengenali yang benar dan yang salah. Dengan demikian, ia akan merasa benar dan di atas kebenaran meskipun sesungguhnya ia berada dalam kesesatan. Firman Allah swt; Katakanlah; Maukah aku beritahukan tentang orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang yang sia-sia perbuatannya (dalam kehidupan dunia ini) sedangkan mereka menyangka bahwa diri mereka telah berbuat sebaik-baiknya (al-Kahfi:103-104)

Melihat begitu besarnya bahaya yang ditimbulkan oleh waswasah setan, maka seraya memohon petunjuk ke jalan yang lurus Allah pun mengajarkan cara memohon perlindungan dari bisikan syetan, sebagaimana terdapat pada surat an-Nas; Katakanlah, Aku berlindung kepada Rabb manusia, raja manusia, ilah manusia, dari kejahatan waswasah (bisikan) setan, yang membisikkan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia. (an-Nas:1-6)

http://www.assalaam.or.id
Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 002/th.01/rabi’ul awal 1424H/2004M


Al Wala wa Al Bara (idola)

April 25, 2006

Beberapa waktu belakangan ini kita kerap disuguhi berita tentang tewasnya beberapa remaja kita, ketika sedang berusaha menyaksikan dan melihat secara dekat dan langsung penampilan artis idola mereka. Sebut saja misalnya tragedi yang terjadi di Lampung beberapa waktu silam, ketika sebuah grup musik yang sedang melejit ‘ Sheila On 7’ sedang manggung, terjadilah tragedi yang menewaskan beberapa remaja putri penggemar mereka. Dan yang masih hangat adalah tewasnya empat orang remaja putri !- akibat berdesak-desakan ingin bertemu dengan salah satu grup musik manca negara yang kebetulan datang ke Indonesia : a1 (a-one) namanya. Bagi sebagian pengamat sosial, kejadian-kejadian ini menjadi sebuah fenomena yang patut diteliti lebih jauh sebagai fenomena baru di kalangan anak muda kita. Namun sebagai seorang muslim, kita tentu harus melihatnya dari kacamata Islam. Menurut penulis, semua tragedi ini tidak lebih merupakan akibat dari salah memilih dan memperlakukan idola.

Dalam Islam kita diajarkan sebuah konsep bersikap atau kalau Anda mau, Anda dapat mengatakan : konsep beridola . Para ulama menyebutnya dengan konsep Al-Wala wa Al-Bara. Al-Wala artinya kita wajib memberikan loyalitas kepada Allah, RasulNya dan orang-orang beriman tanpa terikat zaman dan tempat. Sedangkan Al-Bara adalah kewajiban untuk berlepas diri dari segala tindak kekufuran dan kedurhakaan serta pelaku-pelakunya, tentu yang pertama kali masuk dalam kategori ini adalah syetan dan pengikut-pengikutnya serta orang- orang kafir-.
Berdasarkan konsep ini maka ada beberapa hal yang dapat disimpulkan :
Pertama, manusia-manusia yang patut diidolakan oleh seorang muslim adalah Rasulullah SAW dan orang-orang shaleh yang mengikuti beliau para shahabat dan generasi pendahulu yang shaleh (As-Salaf Ash-Shaleh)-,
Kedua, cara kita mengidolakan mereka tentu saja harus sesuai dengan ketentuan Allah, tidak kurang dan tidak lebih (ghuluw). Itulah sebabnya, Rasulullah SAW melarang kita memperlakukan beliau sebagaimana orang nashrani memperlakukan Isa alahissalam- yang memperlakukan beliau sebagai tuhan.
Ketiga, jenis manusia yang tidak pantas diidolakan adalah manusia-manusia yang kafir dan durhaka kepada Allah Azza wa Jalla. Maka orang-orang yang profesinya hanya membuat orang lain (baca :penggemarnya) lalai dan lupa kepada Allah – seperti para artis film dan penyanyi- tentulah termasuk dalam kategori ini.

Inilah renungan kita kali ini ; sebuah renungan yang patut direnungkan oleh setiap orang tua, utamanya yang seringkali salah memilihkan idola bagi anaknya-, setiap pemuda-pemudi -utamanya yang masih belum memiliki ukuran yang jelas dalam mencari idola- dan bagi siapa saja yang sampai saat ini belum mengidolakan Rasulullah SAW dan para pengikut beliau hingga akhir zaman.
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak mengingat Allah” (Al-Ahzab : 21)
_______________________________________________________
(Abul Miqdad, iccang@ekilat.com )
al-madina.s5.com, Mei 2001

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 002/th.01/rabi’ul awal 1424H/2004M


Fenomena Al Qur’an

April 25, 2006

Ketika seseorang mempelajari Al Qur’an dengan seksama, dia akan menemukan nilai-nilai kebenaran yang tiada bandingnya. Al Qur’an adalah mata kebenaran yang tidak pernah kering sepanjang masa. Pelepas dahaga bagi ulama, penjelas bagi fuqoha dan penerang jalan ghuroba. Al Qur’an juga merupakan obat yang tak meninggalkan sakit, cahaya yang tidak memberi tempat bagi kegelapan dan ikatan kokoh yang tidak mudah terlepaskan serta benteng yang tak pernah rapuh pertahanannya. Al Qur’an juga cahaya yang tak pernah padam apinya, lautan dalam yang tak terjangkau dasarnya, atau jalan yang takkan tersesat siapa yang menitinya serta taman yang takkan pernah bosan seseorang berada didalamnya.

Namun demikian, adakalanya orang tidak dapat merasakan terangnya cahaya mentari atau makan lezat yang dihidangkan. Hal itu bukan karena mentari atau makanannya yang salah, akan tetapi manusianya yang sedang sakit mata atau pahit dimulutnya. Anehnya, seringkali bukan mata atau mulut yang diobati, tapi matahari dan makanan yang disalahkan. Demikian pula halnya dengan Al Qur’an. Betapa banyak orang yang mengambil ilmu, hikmah, serta ibroh darinya. Namun ada juga orang yang meninggalkan atau menjauhkan Al Qur’an sebagaimana disampaikan Rasul :’Ya Rabb, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan.’ [QS 25:30]

Imam Ibnul Qoyyim menjabarkan makna hajr [tak acuh] adalah sebagai berikut :

1. Tidak beriman kepadanya dan tidak mendengarkannya.

2. Tidak mengamalkan isinya dengan tidak memperhatikan halal haram yang ada padanya, meskipun dia membaca dan beriman padanya.

3. Tidak menjadikannya sebagai hakim [penentu] dan tidak menjadikannya sebagai pedoman dan penunjuk jalan dalam seluruh aspek kehidupan.

4. Tidak mentadabburi dan memahami serta mengetahui isinya, sebagaimana yang diinginkan oleh Allah.

5. Tidak menjadikannya penawar bagi setiap penyakit yang ada di hati seperti syirik, nifaq, hasad dll.

Al Qur’an adalah kekuatan. Dia lebih tajam dari pedang dan lebih kokoh dari batu karang. Namun, kekuatan Al Qur’an harus diimbangi oleh kekuatan nafs [diri]. Ketika Al Qur’an dibawa oleh Nabi Muhammad saw dan sahabatnya, mereka mampu menjadi umat terbaik sepanjang sejarah peradaban manusia. Tetapi ketika dia dibawa oleh si kerdil, yang terlihat hanyalah lembaran-lembaran tak bernyawa dan tulisan yang tak bermakna. ‘Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada [jalan] yang lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.’ [QS 17:9]

Dua hal yang hendaknya diperhatikan saat bermu’amalah dengan Al Qur’an :

1. Membaca Al Qur’an sambil memahami dan mentadabburi maknanya.

Ali bin Abi Thalib berkata : ‘Tidaklah baik, ibadah yang tidak dilandasi dengan fiqih dan qiroah yang tidak diiringi dengan tadabbur.’

Allah pun mempertanyakan orang yang membaca Al Qur’an tanpa tadabbur dengan firmannya : ‘Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?’ [QS 47:24]

2. Mengamalkan akhlaq al Qur’an. Diantara akhlaq al Qur’an adalah :

a. al ‘afw [pemaaf]

b. al Karom [dermawan]

c. at Tawadhu [tahu diri atau rendah hati]

d. al I’tibar [mengambil ‘ibroh atau pelajaran]

e. ash shabr [sabar]

Al Qur’an adalah sumber kedamaian dan kebahagiaan. Rasulullah saw, sahabat beliau serta generasi setelah mereka telah menemukan dan membuktikannya. Al Qur’an yang kita pegang sama dengan Al Qur’an yang mereka baca dan amalkan. Yang berbeda adalah antara kita dengan mereka. Namun jika kita ingin mengulang kisah sukses mereka, itu terserah kepada kita. Bukankah sarana yang mereka miliki juga ada pada kita ? Semoga Allah membuka hati kita dalam rangka membaca, memahami, mentadabburi, dan mengamalkan kitab-Nya. Amiin.

(Taken from Bulletin Jumat IMSA. ARTIKEL – Ahad, 4 Mei 2003) – (c) 2001-2002 Masjid Manarul ‘Ilmi Online.

TUJUH MACAM PAHALA YANG DAPAT DINIKMATINYA SESUDAH MATI

Dari Anas r.a. berkata bahawa ada tujuh macam pahala yang dapat diterima seseo rang itu selepas matinya, yakni :

1. Siapa yang mendirikan masjid maka ia tetap pahalanya selagi masjid itu digunakan orang untuk beramal ibadat di dalamnya.

2. Siapa yang mengalirkan air sungai selagi ada orang yang minum daripadanya.

3. Siapa yang menulis mushaf ia akan mendapat pahala selagi ada orang yang membacanya.

4. Orang yang menggali perigi selagi ada orang yang menggunakannya.

5. Siapa yang menanam tanaman selagi ada yang memakannya baik dari manusia atau burung (hewan).

6. Mereka yang mengajarkan ilmu yang berguna selama ilmu itu diamalkan oleh orang yang mempelajarinya.

7. Orang yang meninggalkan anak yang soleh yang mana si anak selalu mendoakan kedua orang tuanya dan beristighfar baginya, yakni anak yang selalu diajari ilmu Al-Qur’an maka orang yang mengajarnya akan mendapat pahala selagi anak itu mengamalkan ajaran-ajarannya tanpa mengurangi pahala anak itu sendiri.

Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah S.A.W. telah bersabda : “Apabila telah mati anak Adam itu, maka terhentilah amalnya melainkan tiga macam :

1. Sedekah yang berjalan terus (Sedekah Amal Jariah)

2. Ilmu yang berguna dan diamalkan.

3. Anak yang soleh yang mendoakan baik baginya.

TUJUH KALIMAT

Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia terpandang mulia di sisi Allah dan malaikat

serta diampuni dosa-dosanya :

1. Mengucap Bismillah pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.

2. Mengucap Alhamdulillah pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.

3. Mengucap Astagfirullah jika lidah terselip perkataan yang tidak patut

4. Mengucap Insya Allah jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok

5. Mengucap La haula wala quwwata illa billah jika menghadapi sesuatu tak disukai dan tak diingini.

6. Mengucap Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun jika menghadapi dan menerima musibah.

7. Mengucap La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah sepanjang siang malam sehingga tak terpisah dari lidahnya

(dari : tafsir hanafi).

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 002/th.01/rabi’ul awal 1424H/2004M


Si Tulang Bengkok..

April 25, 2006

Jangankan lelaki biasa, Nabi pun merasa sunyi tanpa wanita….
Tanpa mereka, hati, fikiran dan perasaan lelaki akan resah..
Masih mencari walaupun sudah ada segala-galanya…
Apalagi yang tidak ada di syurga, namun Nabi Adam.as. tetap rindukan Siti Hawa

Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, istri atau putri.
Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki.
Tapi kalau lelaki sendiri yang tak lurus, mana mampu untuk meluruskan wanita ?
Tidak logis kayu yang bengkok menghasilkan batang-batang yang lurus.
Luruskanlah wanita dengan cara yang ditunjuk Allah, karena mereka dicipta begitu rupa oleh Allah.
Didiklah mereka dengan panduan dariNya.

Jangan coba jinakkan mereka dengan harta, nanti semakin liar.
Jangan hiburkan mereka dengan kecantikan, nanti mereka semakin menderita.
Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah.
Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal.
Akal setipis rambutnya, tebalkan dengan ilmu.
Hati serapuh kaca, kuatkan dengan iman.
Perasaan selembut sutra, hiasilah dengan akhlak.

Suburkanlah, karena dari situ nanti akan nampak nilai dan keadilan Tuhan.
Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan. Itu bukan diskriminasi Tuhan.
Sebaliknya di situlah kasih sayang Tuhan.
Wanita yang lupa pada hakikat kejadiannya,
pasti tidak akan bahagia dan tidak membahagiakan.
Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka pula yang akan membengkokkannya.

Lebih banyak lelaki yang dirusak wanita ketimbang wanita yang dirusak lelaki.
Sebodoh-bodohnya wanita dapat menundukkan sepandai-pandainya lelaki.
Itulah akibatnya apabila wanita tidak mengenal Tuhan.
Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki.

Bila wanita durhaka, dunia lelaki akan huru-hara.
Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa.
Lelaki jangan hanya mengharapkan ketaatan, tetapi bina dan pimpinlah.
Pastikan, sebelum memimpin wanita menuju Allah,
pimpinlah diri sendiri terlebih dahulu kepada-Nya.
Jinakkan diri terhadap Allah, niscaya akan jinaklah segalanya
Jangan mengharapkan istri seperti sayyidatina Fatimah ra.,
kalau pribadi belum lagi seperti sayyidina Ali ra. ……..

————————————-
[dari : Malaysian dakwah].

WAHAI ORANG YANG BERIMAN, PELIHARALAH DIRIMU DAN KELUARGAMU DARI (DICAMPAK KAN) KE DALAM API NERAKA YANG BAHAN BAKARNYA TERDIRI DARI MANUSIA DAN BATU-BATU. (QS. AT-TAHRIIM : 6).

PATUHILAH SERUAN TUHANMU SEBELUM DATANG DARI ALLAH SUATU HARI YANG TIDAK DAPAT DITOLAK KEDATANGANNYA. KAMU TIDAK MEMPEROLEH TEMPAT BERLINDUNG PADA HARI ITU DAN TIDAK DAPAT MENGINGKARI (DOSA-DOSAMU). (QS. ASY SYUURA : 47).

Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi : 002/th.01/rabi’ul awal 1424H/2004M