Melayani si sakit secara syar’i

November 19, 2007

Kalimat yang tertulis pada judul di atas maksudnya adalah, “Apa yang seharusnya diperbuat apabila ada saudara atau kerabat yang sedang sakit keras ?”, jadi bukan dimaksudkan untuk penyakit yang kadarnya biasa-biasa saja, sebab untuk penyakit yang ringan-ringan, semisal masuk angin, sakit kepala, mulas, gatal-gatal, dll, mungkin kita tidak begitu akan mengkhawatirkan terhadap si sakit. Rasa khawatir dan was-was itu biasanya baru muncul ketika penyakit yang diderita sudah tergolong berbahaya atau sakit keras, apalagi bila sudah sampai tingkat kronis atau akut.

Menghadapi saudara/kerabat yang sedang menderita sakit keras ini, umumnya kita sebagai orang awam, baik awam terhadap masalah medis dan awam pula terhadap cara melayaninya secara syar’i, maka yang sering muncul dalam benak kita adalah perasaan kalut, was-was, gelisah, dan lain sebagainya. Hal ini disebabkan karena kita tidak tahu banyak tentang penyakit tersebut, tidak tahu seberapa jauh dampaknya, berapa persen kemungkinannya untuk sembuh. Dan bila mengingat kita sebagai umat Islam, tentu dalam hati selalu ingin melayaninya sebisa mungkin tidak sampai melanggar hukum-hukum syar’i.

Kalau kebetulan kerabat/saudara yang sakit itu dalam menjalani rawat inapnya di rumah sakit semacam RS. Al Ihsan Baleendah Bandung, mungkin perasaan si sakit dan keluarganya relatif akan menjadi lebih tenang, sebab di rumah sakit tersebut selain ditangani oleh para dokter ahli, ternyata pihak rumah sakit juga menyediakan seorang Pembina Rohani, yakni KH. Maulana Ibrahim. Beliau ini seorang ulama yang cukup berpengalaman sebagai pembina rohani. Nasehat-nasehatnya mampu menenangkan emosi si sakit, dan membuat perasaan sanak keluarga si sakit menjadi lebih tentram. Tapi sayang, sepertinya belum banyak rumah sakit yang menyediakan layanan rohani sebagaimana RS. Al Ihsan ini, termasuk di berbagai rumah sakit-rumah sakit Islam. Padahal, adanya ulama semacam beliau itu amatlah penting, terutama bila penyakit yang diderita pasien tergolong keras, kronis, fatal dan tingkat kesembuhannya amat kecil. Maka Insya Allah, nasehat-nasehat pembina rohani semacam KH. Maulana tersebut akan mampu mengantar si sakit menjalani masa-masa akhir hayatnya dengan lebih tenang, bahkan insya Allah akan mampu mengantar si sakit mengucap kalimat syahadat di ujung nafasnya.

Kerisauan sebagaimana dijelaskan di atas, agaknya terdeteksi oleh sekelompok intelektual muslim yang berjiwa mulia dari Al Azhar Mesir. Sehingga mereka tergerak dan berusaha keras untuk menerbitkan sebuah buku, walau tanpa imbalan materi sepersen pun. Tidak tanggung-tanggung, sekelompok manusia yang berjiwa mulia ini sudi bersusah-payah menghubungi dan mengajak berbagai ahli medis dan ulama yang terkait, agar bersedia menyumbangkan buah pikiran dan buah penanya meski tanpa diberi imbalan. Dan usaha keras mereka itu akhirnya berhasil dengan baik, maka terbitlah sebuah buku, semacam buku panduan tentang bagaimana sebaiknya merawat dan melayani saudara/kerabat yang sedang sakit keras. Salah satu tokoh intelektual, yang juga seorang ulama kondang, yang turut menyumbangkan buah pikirannya adalah Dr.Yusuf Qardhawi. Beliau menyumbang berbagai artikel yang mengulas banyak hal mengenai bagaimana memperlakukan saudara yang sedang sakit keras dalam tinjauan syar’i.

Sebagian besar materi Labbaik edisi kali ini mengambil dari tulisan Dr.Yusuf Qardhawi tersebut. Semoga usaha penerbitan ini sedikit banyak akan dapat memberi manfaat, baik terhadap si sakit, maupun bagi keluarga dan kerabatnya. Amin.

[dari : Mukaddimah Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M ]

Iklan

Mengenal Penginjil Dr. Peter Youngren

September 17, 2007

Dr. Peter Youngren ialah seorang penginjil dari Kanada. Dia telah melakukan perjalanan penginjilan ke lebih dari 85 negara di dunia. Di Indonesia, dia telah mengadakan Festival Penyembuhan di berbagai kota, seperti Semarang, Bandung dan Manado. Dia juga telah melatih lebih dari 110 ribu pendeta dan pemimpin dalam seminar ‘Global Harvest Praise’. Tentang penyembuhan atau mukjizat yang ditawarkannya, dia mengatakan, “Kita menawarkan hidup baru dalam Kristus. Saya percaya bahwa setelah mereka terima Kristus mereka akan mengerti bahwa mereka harus pergi ke gereja.” (lihat : Bethanygraha.org dan Wikipedia). Dia juga mengatakan, “Saya sudah berkunjung ke banyak negara selama 30 tahun. Baik negara dengan penduduk Hindu, Islam, Budha, sampai penganut atheis sekalipun dan responnya cukup positif,” (Denpost). Kaum muslimin, yang semoga senantiasa mendapat taufiq dari Allah, di antara program kunjungan Dr. Peter Youngren adalah rencana kedatangannya di kota Yogyakarta pada hari Rabu, 30 Mei 2007 sampai dengan hari Sabtu, 2 Juni 2007 di Stadion Mandala Krida Yogyakarta. Tema Acara ini adalah Jogja Festival 2007 yang berisi acara pengobatan/penyembuhan massal yang diiringi dengan kebaktian rohani.

Membongkar Kedok Pemurtadan di Balik Pengobatan Dr. Peter Youngren
Kaum muslimin, yang semoga senantiasa mendapat taufiq dari Allah, keimanan seorang muslim terhadap Allah dan Rasul-Nya, Muhammad SAW tidaklah boleh ada keragu-raguan sedikit pun di dalamnya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.”(QS. Al-Hujuraat : 15)
Seorang muslim haruslah yakin bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan yang berhak untuk disembah dan sesembahan selain Allah adalah batil. Dalam suatu wawancara, Dr. Peter Youngren pernah ditanya, “Seringkali orang Kristen memiliki suatu konsep yang salah dalam hal bersaksi tentang Kristus kepada orang lain yaitu dengan cara membawa orang ke gereja atau menjadikan dia Kristen dan bukan memberitakan Kristus kepada orang tersebut. Apakah pendapat Bapak tentang hal ini ?”. Kemudian ia menjawab, “Kita tidak pernah meminta orang-orang untuk menja di Kristen tetapi menjadikan mereka orang yang percaya kepada Yesus (Jesus’ believers). Bukan merubah agama orang itu. Yesus dan Petrus sendiri tidak pernah menggunakan istilah Kristen untuk orang percaya. Saya juga tidak gunakan istilah ini. Kalau hal ini terjadi maka kita akan disangka mengkristenkan mereka. Kita menawarkan hidup baru dalam Kristus. Saya percaya bahwa setelah mereka terima Kristus mereka akan mengerti bahwa mereka harus pergi ke gereja.” (lihat : Bethanygraha.org)

Dalam festival penyembuhan massal yang dilakukannya, dia juga menyatakan, “Saya doakan mereka secara umum dan dalam doa kesembuhan itu saya ucapkan apa yang Yesus telah lakukan.” Ia juga menyatakan, “Kesembuhan massal didasarkan pada penanganan Tuhan secara pribadi dengan umat-Nya, juga iman si individu di dalam Kristus. Tetapi itu semua terjadi pada waktu yang bersamaan.” (lihat : Bethanygraha.org). Dari ucapan ini, dapat diketahui bahwa Dr. Peter Youngren ingin agar setiap orang (pemeluk agama selain Nashrani) percaya pada Yesus atau beriman kepadanya. Setelah mereka beriman kepadanya barulah dia akan terseret masuk ke gereja (alias ‘murtad’ secara perlahan-lahan). Dan seseorang tidaklah mungkin menjadi sembuh dari sakitnya dalam acara festival tersebut kecuali setelah sebelumnya ia yakin (beriman) pada Yesus yang dengan ini dapat membuatnya keluar (murtad) dari Islam.
Dr. Peter Youngren juga telah mengelabui kaum muslimin dengan memberi nama acara pengobatan massal yang dia lakukan dengan nama ‘Festival’ semacam Jogja Festival , Bandung Festival, atau Balikpapan Festival. Padahal di dalam acara festival pengobatan massal tersebut diiringi pula dengan acara peribadatan ala Nashrani (kebaktian rohani) yaitu diiringi dengan lagu-lagu kidung rohani versi Nashrani. Mengapa dia tidak menamai acara tersebut dengan Kebaktian Rohani Kristen saja ?.

Bahkan umat Islam dikelabui dengan Festival yang seolah-olah terbuka untuk semua umat beragama. Ada apa di balik itu semua ?.
Dalam suatu wawancara, Dr. Peter pernah ditanya, “Mengapa dalam ibadah kesembuhan anda menyebutnya sebagai Festival dan bukan Crusade atau Revival Meetings (KKR -Kebaktian Kebangunan Rohani-). Ia menjawab, “Kata Crusade (KKR) adalah kata yang melukai saudara sepupu kita dari agama lain (maksudnya adalah umat islam, pen), sedangkan kata Revival tidak kita gunakan dalam ibadah kita. Kita menyebutnya Festival atau Celebration (perayaan). Misalkan kalau diadakan di Surabaya, kami menyebutkan di poster sebagai Surabaya Festival bukan Jesus Festival atau Festival Injil. Ini sama sekali tidak memberikan kesan agamawi. Orang bertanya apa ini ? Mereka tidak tahu dan akan datang menghadirinya. Kita bahkan tidak gunakan lambang gereja seperti salib dan sebagainya. Ada yang bertanya kepada saya apakah saya telah berkompromi ?. Kita tidak berkhotbah di poster atau di iklan tetapi kita berkhotbah di festival. Setelah mereka berada di festival, baru kita sampaikan Injil kepada mereka.” (lihat : Bethanygraha.org)

Kaum muslimin, yang semoga senantiasa mendapat taufik dari Allah, bentuk pemurtadan yang lain dalam acara festival tersebut adalah ditujukannya suatu ibadah kepada selain Allah. Padahal memalingkan suatu ibadah kepada selain Allah termasuk kesyirikan. Dan di antara bentuk ibadah yang paling agung adalah do’a, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Do’a adalah ibadah.” (HR.Tirmidzi, hasan sho hih). Apabila seseorang berdo’a kepada selain Allah (seperti berdo’a kepada Yesus, jin, mayit, atau bahkan kepada para Nabi yang telah wafat) maka ia telah berbuat kesyirikan dan pelakunya adalah kafir (keluar dari Islam). Demikian pula orang yang meridhoi perbuatan kesyirikan dan tidak membencinya, maka ia juga telah kafir.

Himbauan
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Balikpapan, mengeluarkan fatwa terkait pelaksanaan ‘Balikpapan Festival 2003’, yang dilaksanakan pada tanggal 1-5 Oktober 2003 di Gelora Patra, dengan menghadirkan pembicara utama Pdt. Peter Youngren dari Kanada. Ketua komisi Fatwa MUI Balikpapan mengatakan, “Jadi kalau ada umat Islam yang menghadiri acara ritual itu dan meyakini bahwa pengobatan yang diberikan Peter Youngren bakal membawa kesembuhan, maka bisa digambarkan bahwa keyakinan yang orang bersangkutan mulai goyah. Bahkan condong ke arah kemurtadan.” (Kaltim Post, Cybernews, Rabu 1 Oktober 2003). Oleh sebab itu, kami juga menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat muslim untuk tidak hadir dalam acara-acara tersebut, meskipun mereka mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah kristenisasi. Karena tentu saja kalau acara kekufuran itu disebut kristenisasi niscaya tidak ada seorang pun di antara kaum muslimin yang mau menghadirinya. Inilah tipu muslihat mereka untuk menjerat kaum muslimin !
Wajib bagi kaum muslimin untuk mengingkari acara-acara semacam ini sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia merubah dengan tangannya, apabila tidak sanggup maka dengan lisannya, apabila tidak sanggup maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim). Jadi hendaknya setiap kaum muslimin juga melarang anggota keluarga, saudara, kerabat, dan tetangganya agar tidak manghadiri acara pemurtadan berkedok pengobatan/penyembuhan massal tersebut.

Sikap seorang muslim dalam menghadapi musibah Kaum muslimin -semoga Allah senan tiasa memberikan taufik kepada kita- dalam hidup di dunia ini tentunya kita tidak akan lepas dari berbagai macam cobaan. Allah berfirman yang artinya, “Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji ?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3). Allah juga berfirman yang artinya, “Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’:35).

Kaum muslimin -semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus-, Nabi kita, Muhammad SAW telah bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Demikianlah keadaan seorang mukmin …. Jika ia mendapatkan nikmat maka bersyukur dan menggunakan kenikmatan tersebut untuk ketaatan kepada Allah. Namun apa bila ia mendapatkan cobaan atau musibah (misalnya dengan kebutaan dan lumpuh) tidaklah hal itu menjadikankan berpaling dari Allah atau menjadi kafir kepada-Nya -na’udzubillah-, akan tetapi ia bersabar menghadapi cobaan itu dengan mengharap pahala dari Allah. Sungguh indah dan mulia agama kita.

Perlu diingat pula bahwa di balik musibah terdapat hikmah yang begitu banyak. Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah yang dapat kita gali. Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas). Ingatlah pula bahwa cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih).
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini.

Maka carilah sebab agar mendapatkan kesembuhan dari penyakit dengan berobat. Karena Rasulullah menganjurkan pada umatnya untuk berobat. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Wahai hamba Allah berobatlah, karena tidaklah ada suatu penyakit kecuali Allah memberi obatnya.” (HR. Tirmidzi, hasan shohih) Namun seseorang harus memperhatikan pula hukum yang terkait dengan pengambilan sebab.
Pertama, sebab yang diambil harus terbukti secara syar’i atau qodari (penelitian ilmiah).
Kedua, tidak bersandar pada sebab namun bersandar pada Allah. Maka hendaklah setiap yang ingin berobat tidak menyandarkan hatinya kepada dokter atau obat, namun hendaklah selalu bertawakkal pada Allah.
Ketiga, keampuhan suatu sebab hanya tergantung pada taqdir Allah. Maka pahami dan perhatikanlah ketiga hukum pengambilan sebab ini ketika hendak berobat dari suatu penyakit.
Terakhir, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba yang ditimpa musibah, lalu mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un, Allahumma’jurni fi mushibati wa akhlif li khoiron minha’. Maka Allah akan memberi ganjaran padanya dalam musibah yang dihadapi dan Allah akan memberi ganti yg lebih baik darinya.” (HR. Muslim)

Semoga Allah menjaga dan meneguhkan keimanan kita sampai datangnya kematian, menjaga urusan kaum muslimin dari makar musuh-musuhnya serta menjadikan para pemimpin kita termasuk orang-orang yang memperjuangkan syariat-Nya dan berjalan di atas jalan Islam yang lurus. Amin Yaa Mujibad Da’awat.

[Disusun oleh Al-Akh Ari Wahyudi, Al-Akh Ibnu Sutopo & Al-Akh Muhammad Abduh T, Pengurus LBIA Al-Atsary. Tulisan ini juga telah diterbitkan oleh Bulletin At-Tauhid edisi 118, 25 Mei 2007]

Pesantren UGM – Media Informasi Islam – Keluarga Muslim Fakultas MIPA UGM ::
http://mii.fmipa.ugm.ac.id/new/?p=230
note :“Dan berilah peringatan kepada kerabatmu terdekat” (QS.Asy-Syu’araa : 214) “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS.Adz-Dzaariyaat : 55)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M


BERKEDOK PENGOBATAN MASSAL

September 13, 2007

 

FORUM UKHUWAH ISLAMIYAH,

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA,
Jl. IPDA Tut Harsono No. 3A Yogyakarta Telp. 0274-7430742.

PERNYATAAN SIKAP TENTANG PENJAGAAN AQIDAH UMAT DARI UPAYA PEMURTADAN.

Dalam rangka mengakomodasi keresahan umat Islam di DI Yogyakarta, terkait adanya kegiatan pihak-pihak tertentu yang disinyalir merupakan sebuah upaya pemurtadan atas umat Islam secara terselubung, maka segenap umat Islam DI Yogyakarta menyerukan dan menghimbau :

1. Umat Islam menolak Jogja Festival 2007 karena merupakan [aksi] missionaris yang dalam aktivitasnya [melakukan] Kristenisasi dan Pemurtadan Umat Islam.

2. Event ini harus digagalkan karena rentan memicu persoalan masalah SARA.

3. Kepada semua pihak agar memahami bahwa kondisi DI Yogyakarta yang damai serta sikap toleransi antar umat beragama yang telah terbangun, tidak diusik dengan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang meresahkan kehidupan umat beragama, terlebih lagi bila kegiatan tersebut mengarah pada upaya pemurtadan dengan berkedok pengobatan atau apa pun.

4. Kepada semua pihak agar tidak menggunakan kesempatan atas sikap toleransi umat Islam dengan memancing-mancing keresahan umat melalui kegiatan yang mengarah kepada pemurtadan baik secara sembunyi-sembunyi ataupun secara terbuka apalagi melalui promosi besar-besaran di seantero jalan di DI Yogyakarta serta melalui media elektronik maupun cetak.

5. Kepada pihak berwenang agar tidak memberikan ijin dan membatalkan ijin setiap kegiatan yang hanya menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat semata. Terlebih lagi bila kegiatan tersebut mengarah pada upaya pemurtadan umat Islam. Hal tersebut karena pemerintah adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kondisi masyarakat yang aman dan damai.

6. Kepada segenap umat Islam, untuk selalu mewaspadai berbagai iming-iming, apa pun bentuknya, yang ditawarkan pihak mana pun juga, serta tidak perlu menghadiri kegiatan yang penuh janji, jika ternyata berujung pada pemurtadan kaum muslimin.

7. Kepada segenap umat Islam agar tidak terpancing dengan provokasi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang ingin agar kondisi aman damai di DI Yogyakarta menjadi rusak. Agar tidak mudah terbawa emosi sehingga terpancing melakukan kegiatan anarkis. Harus selalu diingat bahwa segenap upaya untuk membawa DI Yogyakarta menjadi daerah konflik antar umat beragama tidak perlu ditanggapi, jika perlu dilaporkan kepada aparat.

8. Kepada seluruh masjid dan organisasi Islam agar selalu tetap sadar dan berkontribusi melawan upaya-upaya pemurtadan dengan melalui lisan dan tulisan [pamflet, spanduk, dan sebagainya] sehingga umat terjaga aqidahnya.

Yogyakarta, 26 Mei 2007

Dukungan Ormas-Ormas terhadap penolakan Kristenisasi berkedok “Jogja Festival 2007 & Pengobatan Massal” :

01. Abu Haidar (Komandan Laskar), Majelis Mujahidin Indonesia
02. M. Rosyid, DPD I Hizbut Tahrir Indonesia DIY
03. Himawan, PKS DIY
04. Abu Usamah, FKAM
05. Abu Faishal, FKRM
06. Dodiek, GPII Yogya
07. Hidayat Arifianto, Gema Pembebasan DIY
08. G. Nurhamidi, GAM (Gerakan Anti Maksiat) Yogyakarta
09. Eko Ari Murwanto, FSLDK (Forum Silaturrahmi Lembaga Dakwah Kampus) Yogya
10. Thoha Abdurrahman, MUI DIY
11. Achmad Mursyidi, FUI (Forum Ukhuwah Islamiyah)
12. Abdul Muhaimin, Hidayatullah DIY
13. M. Syukri Fadholi, PPP DIY
14. Drs. H. Chamim Z., PDM (Pengurus Daerah Muhammadiyah) Kota Yogyakarta
15. Achmad Zuhdi, PWNU (Pengurus Wilayah NU) DIY
16. Subaeri H.M, Majelis Mujahidin, LPW DIJ

BERITA TERKAIT :
JOGJA FESTIVAL 2007
Kaum missionaris tidak jera-jeranya merongrong aqidah ummat Islam. Hal ini di buktikan dengan digelarnya sebuah festival penyembuhan di berbagai kota, dan yang akan datang adalah Jogja Festival 2007, yang akan digelar di Stadion Man dala Krida pada tanggal 30 Mei – 2 Juni 2007. Event ini akan menghadirkan artis kafir ibukota, Adon “Base Jam” dan seorang evangelist terkenal dari Kanada, Dr. Peter Youngren, yang tak lain adalah tukang sihir kelas wahid. Dr.Peter sudah cukup dikenal di kalangan Nasrani sebagai seorang penginjil, sekaligus sudah berhasil memurtadkan (bahasa mereka : membuat orang-orang non Nasrani ikhlas kepada mukjizat Tuhan Yesus). Beberapa event sudah digelar oleh Dr. Peter, antara lain Festival Timika Indah (tahun 2006), Bali Gospel Festival (19 Juni 2006) dan masih banyak lagi acara serupa di berbagai kota. Di Bandung belum lama ini, acara kristenisasi massal berkedok penyembuhan ini berhasil digagalkan dan panitia penyelenggara memindahkan acara ke gereja.
Beberapa indikasi adanya unsur-unsur kristenisasi pada acara ini antara lain :

1. Tidak adanya tulisan “untuk kristen”, “untuk nasrani”, atau “untuk kalangan sendiri” pada publikasi acara. Panitia justru mengundang semua orang, tidak memandang suku agama dan golongan. Undangan ini jelas sangat berbahaya dan mengancam aqidah ummat Islam, karena mereka mengundang ummat berbeda agama pada acara ibadah (pemberkatan) mereka.

2. Menghadirkan evangelist terkenal dari luar negri, Dr.Peter Youngren, yang telah dikenal sebagai seorang penginjil handal yang menyebarkan agama nasrani dengan metode penyembuhan (memasukkan jin kafir ke tubuh pasien), sehingga pasien yang tadinya buta bisa melihat, tuli bisa mendengar dan lumpuh bisa berjalan.

3. Acara dilaksanakan menabrak waktu sholat. Jelas, ini adalah upaya untuk membuat ummat jauh dari masjid dan melalaikan sholat. Acara tanggal 30 Mei 2007 di Mandala Krida Yogya dimulai pukul 17.00 WIB.

4. Adanya protes dari berbagai ormas Islam di Bandung, menunjukkan acara ini bermasalah dan bukan lagi merupakan acara kerukunan, apalagi perdamaian ummat. Toleransi bukan berarti mengundang ummat beragama lain untuk hadir di sebuah acara pemberkatan.

Usaha-usaha Kristenisasi massal ini harus kita waspadai dan sebisa mungkin kita gagalkan. Sekedar informasi, publikasi acara ini ditempel secara masif, antara lain di baliho-baliho kota Jogja (jembatan Kewek, perempatan Ringroad jalan Ma gelang, Pingit, Wirobrajan) dan tertempel di berbagai sudut kota Yogyakarta.
Bagi kita yang sudah membaca artikel ini, beritahukan kepada saudara, teman dan tetangga kita untuk tidak menghadiri acara ini. Insya Allah, ormas Islam yang ada akan sebisa mungkin menggagalkan acara ini, baik dengan cara lobi politis (melalui kekuatan parlemen), audiensi dengan pejabat kota Yogya (walikota, ang gota dewan) dan dengan cara non formal lainnya.

AWAS, KRISTENISASI MASSAL ! GEMPA AQIDAH SIAP MELANDA JOGJA !
Baca artikel terkait pada link website di bawah ini :
http://www.denpost.net/2006/06/20/hiburan1.htm
http://bethanygraha.org/pubs/newsmain.asp?id=108&curpage=5
http://www.cenderawasihpos.com/Timika/Timika.3.html
http://muslim.or.id/2007/05/25/membongkar-kedok-jogja-festival-2007-awas-permurtadan-di-balik-pengobatan-2/

Semoga mengingatkan kita sebagai umat muslim bahwa mereka tidak senang dengan jatidiri kita sebagai muslim dan akan selalu berusaha merusak aqidah kita dan mencoba menjauhkan kita dari dien kita.

Simaklah kata-kata “mereka” :
“Kita tidak pernah meminta orang-orang untuk menjadi Kristen tetapi menjadikan mereka orang yang percaya kepada Yesus …”

http://www.khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=384&Itemid=2
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M


Bapak Saya Sudah Sakit-sakitan Dan Ingin Masuk Islam

September 12, 2007

Tanya : Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ustadz, bapak saya adalah orang katholik dan pada saat nikah dengan ibu saya (alm), bapak masuk ke agama islam (menurut bpk saya). Tetapi setelah itu bapak saya menjalankan agama lamanya lagi yaitu Katholik. Waktu telah berlalu, sekarang umur bapak saya 75 tahun dalam kondisi terkena penyakit stroke dan lumpuh sebelah. Hari demi hari saya meyakinkan kalau agama Islam adalah agama yang benar. Setiap setelah sholat saya selalu minta diberi petunjuk dan hidayah untuk bapak saya. Waktu terus berlalu, sekarang bapak saya menyadari kalau agama katholik itu bukan identik dengan Injil, karena Injil yang asli tidak pernah
mengajarkan bentuk agama katholik.
Pertanyaan saya, apa yang saya harus perhatikan dan persiapan, apa yang saya harus lakukan supaya bapak saya ihklas menjadi orang muslim. Karena terus terang, paman saya (adik dari bapak) adalah seorang aktifis missionaris katholik.
1. Apakah dalam hal ini saya harus bicarakan dengan paman saya di depan keluarga besar supaya paman saya tidak sakit hati dan tidak mempengaruhi lagi keadaannya.
2. Kapan bapak saya harus menyebut 2 kalimat syahadat.
3. Bagaimana sholat wajib bapak saya karena bapak sudah lumpuh sehingga setiap hari badan dan pakaiannya penuh dengan najis (air kencing dan mungkin kotoran lainnya).
4. Niat saya syukuran untuk bapak saya adalah tanggal 21 Desember 2005 tepat hari kelahirannya.
5. Pembacaan 2 kalimat syahadat tersebut harus di depan siapa ? orang yang ahli dalam agama ?
Mohon penjelasan dari ustadz. Terima kasih atas perhatiannya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb. – (dari : Hamba Allah)

Jawaban:
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ba’du.
Menjadi seorang muslim adalah hak asasi setiap orang, sekaligus juga kewajiban. Tidak ada seorang pun yang berhak menghalangi seorang anak Adam untuk beriman kepada Allah SWT, termasuk ayah dan ibu pun tidak berhak menghalangi. Bahkan menjadi seorang muslim pun tidak membutuhkan restu dari siapa pun. Sebab menjadi muslim itu adalah hak sekaligus kewajiban setiap manusia.
Dan Allah SWT menjamin bahwa orang yang mati dalam keadaan muslim akan masuk surga, meski tetap harus mempertanggung-jawabkan amal perbuatannya terlebih dahulu.

Sebaliknya, mereka yang mati dalam keadaan kufur tidak akan masuk surga. Sebab di mata Allah, semua amal dan perbuatannya sirna tanpa arti. Di sisi lain, tidak ada seorang pun yang tahu berapa lama usianya di dunia ini. Maka bersegera menjadi seorang muslim adalah tindakan yang perlu dilakukan. Agar jangan sampai mati dalam keadaan belum menjadi muslim.

Tentang bagaimana tindakan yang seharusnya anda lakukan terhadap ayahanda yang berminat masuk Islam atas kesadarannya, Anda bisa melihat contoh dari diri Rasulullah SAW sendiri. Dalam hemat kami, apa yang anda alami sekarang ini nyaris mirip dengan yang pernah dialami juga oleh beliau SAW. Perhatikanlah bagaimana Rasulullah SAW memohon kepada pamannya, Abu Thalib, untuk segera mengucapkan 2 kalimat syahadat, ketika menjelang ajalnya. Hal itu semata-mata karena Rasulullah SAW teramat sayang kepada pamannya yang telah banyak berjasa itu. Beliau tidak rela kalau pamannya harus mati dan masuk neraka. Sementara itu, para pemuka kafir Quraisy pun tidak tinggal diam. Mereka ikut datang menunggui Abu Thalib yang sedang sakit menjelang ajalnya. Mereka berupaya menghalangi Abu Thalib agar jangan sampai menyatakan ke-Islamannya.

Ada sebuah perlombaan antara Rasulullah SAW di satu sisi dengan para pemuka kafir Quraisy dalam mengambil kesempatan terakhir atas kemungkinan masuk Islamnya Abu Thalib. Tetapi yang menarik, Rasulullah SAW tidak merasa risih atau takut sedikit pun berhadapan sendirian di depan para pembesar Quraisy. Baginya, keselamatan Abu Thalib di akhirat jauh lebih berharga dari pada alam dan seisinya. Maka dengan sekuat tenaga beliau bermohon kepada pamannya itu untuk mengucapkan 2 kalimat syahadat. Hanya itu dan tidak lebih.
Dan tidak mungkin lagi mengharapkan Abu Thalib untuk shalat, puasa atau melakukan ibadah lainnya, sebab dia telah tergeletak lemah menjelang ajal. Jadi cukuplah baginya pada saat menjelang ajal itu menyatakan diri masuk Islam, meniadakan tuhan kecuali Allah saja dan mengakui kenabian Muhammad.

Menjadi seorang muslim memang sama sekali tidak disyaratkan harus di depan lembaga tertentu, atau di depan tokoh tertentu. Cukup seseorang berikrar saja menyatakan diri menjadi muslim, dengan mengucapkan syahadat. Anda berhak untuk bertindak sebagaimana Rasulullah SAW bertindak kepada Abu Thalib. Bukankah anda menyayangi orang tua anda sendiri ? Bukankah anda kasihan kalau beliau sampai masuk neraka ? Bukankah anda tidak tega kalau sampai beliau dibakar dan disiksa di alam neraka ? Maka lakukanlah sebagaimana Rasulullah SAW melakukannya. Meski seluruh orang sedunia menghalangi langkah anda. Tapi apalah artinya dunia dan seisinya, bila anda harus menerima kenyataan beliau wafat bukan dalam keadaan muslim. Pastilah anda akan menyesal seumur hidup dan menyesal pernah dilahirkan ke dunia.
Wallahu a’lam bish-shawab, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh. (dijawab oleh : ustadz Ahmad Sarwat, Lc.)

http://www.eramuslim.com/ks/us/5c/22121,1,v.html

APA YANG HARUS DILAKUKAN SETELAH SI SAKIT MATI ?

Beberapa adab syar’iyah yang harus dilakukan secara langsung setelah si sakit mati dan sebelum dimandikan perlu saya kemukakan disini, karena berkaitan dengan saat ihtidhar (menghadapi kematian). Selain itu, banyak hal yang memerlukan penanganan dokter yang merawatnya, sebab kadang-kadang si sakit meninggal dunia di hadapannya. Apakah yang harus dilakukan saat itu ?

Pertama: dipejamkan kedua matanya, mengingat hadits yang diriwayatkan Imam Muslim bahwa Rasulullah saw. pernah masuk ke tempat Abu Salamah setelah dia meninggal dunia dan matanya dalam keadaan terbuka, lalu beliau memejamkannya seraya bersabda: “Sesungguhnya ruh apabila dicabut, ia diikuti oleh pandangan.”105]. Disamping itu, apabila kedua matanya tidak dipejamkan maka akan terbuka dan melotot, sehingga timbul anggapan yang buruk.

Kedua: diikat janggutnya (dagunya) dengan bebat yang lebar yang dapat mengenai seluruh dagunya, dan diikatkan dengan bagian atas kepalanya, supaya mulutnya tidak terbuka.

Ketiga: dilemaskan persendian atau pergelangan-pergelangannya, yaitu dilipat lengannya ke pangkal lengannya, kemudian dijulurkan lagi; dilipat (ditekuk) betisnya ke pahanya, dan pahanya ke perutnya, kemudian dikembalikan lagi; demikian juga jari-jemarinya dilemaskan supaya lebih mudah memandikannya. Sebab beberapa saat setelah menghembuskan napas terakhir badan seseorang masih hangat, sehingga jika sendi-sendinya dilemaskan pada saat itu ia akan menjadi lemas. Tetapi jika tdk segera dilemaskan, tidak mungkin dapat melemaskannya sesudah itu.

Keempat: dilepas pakaiannya, agar badannya tidak cepat rusak dan berubah karena panas, selain kadang-kadang keluar kotoran (najis) yang akan mengotorinya.

Kelima: diselimuti dengan kain yang dapat menutupinya, berdasarkan riwayat dari Aisyah bahwa Nabi saw. ketika wafat diselimuti dengan selimut yang bergaris-garis.106]

Keenam: di atas perutnya ditaruh suatu beban yang sesuai agar tidak mengembung.
Para ulama mengatakan, “Yang melakukan hal-hal ini hendaklah orang yang lebih lemah lembut di antara keluarga dan mahramnya dengan cara yang paling mudah.”107]

Adapun hal-hal lain setelah itu yang berkenaan dengan pengurusan mayit, seperti memandikan, mengafani, menshalati, dan lainnya tidaklah termasuk dalam kerangka hukum orang sakit, hal itu termasuk dalam kandungan hukum orang mati atau Ahkamul-jana’iz. Ada dalam pembahasan tersendiri. Wallahu a’lam.

Catatan kaki :
105] HR Muslim dalam “al-Jana’iz,” hadits nomor 920.
106] Ibid., nomor 942.
107] Fathul-Aziz fi Syarhil-Wajiz, karya ar-Rafi’i yang diterbitkan bersama dengan al-Majmu’ (Imam Nawawi), juz 5, hlm. 112-114.

[sumber : Fatwa-fatwa Kontemporer, Dr. Yusuf Qardhawi, Gema Insani Press, Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740, Telp. (021) 7984391-7984392, Fax. (021) 7984388]

http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Sakit25.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M


Sakit Berbuah Hidayah

September 12, 2007

Saya lahir di Wonosari, Gunung Kidul, 9 Desember 1950, dengan nama Teofilus Sarjiono. Orangtua saya adalah penganut Kristen Pantekosta. Saya termasuk orang yang taat dalam menjalankan ibadah. Sepanjang masa saya menjalani agama lamaku itu kehidupan saya terjamin. Uang bukan masalah, sebab semua biaya hidup ditanggung agama saya saat itu. Semua fasilitas itu membuat saya sering lupa diri. Makan pun harus yang enak-enak. Seminggu sekali saya harus makan tongseng Amerika (makanan yang bahan dasarnya daging anjing).

Saat saya menjalani aktivitas agama lama saya kala itu, tiba-tiba saja saya jatuh sakit. Penyebabnya mungkin karena saya rakus makan daging. Badan saya membengkak dan perut membuncit. Beberapa penyakit seperti kolesterol, gula, dan ginjal, mulai menggerogoti tubuh saya. Dokter menganjurkan saya berhenti makan daging. Tapi saya tidak menggubrisnya, hingga ginjal saya makin parah. Akhirnya, dokter menganjurkan saya untuk cuci darah. Dari semenjak cuci darah inilah harta saya ikut “tercuci” pula. Malangnya, penyakitku tak kunjung sembuh, bahkan makin hari kian terlihat makin parah. Saya tidak bisa apa-apa saat itu.
* * *
Sekitar pukul 04.30 suatu pagi, saya mendengar suara adzan dari sebuah masjid. Dengan spontan saya menirukan lafadz “Laa ilaha ilallah “. Aneh, penyakit saya terasa hilang. Kata-kata itu saya ucapkan berulang-ulang, hingga ratusan kali. Ketika istri mengetahui bahwa saya mengucapkan kata-kata itu, dia mengingatkan, “Mas, bacaan Laa illaha ilallah itu bacaan orang Islam. Bapak ‘kan orang Kristen, tidak baik mengucapkan kata-kata itu !”. Saya jawab, “Biar berasal dari setan belang atau dari agama manapun akan saya ucapkan terus, karena setiap kali dibaca sakit saya berkurang !”.

“Keajaiban” itu tidak berhenti di situ. Suatu malam saya bermimpi seperti mendengar sebuah bisikan, “Pak Theo, kalau kamu ingin sembuh berobatlah kepada Bapak Abu !”. Maka saya pun berusaha mencari tahu orang yang bernama Pak Abu itu. Alhamdulillah, saya berhasil menemukannya. Beliau adalah seorang tabib beragama Islam.

Saat pertama kali bertemu, saya langsung mengatakan bahwa saya seorang Kristen yang ingin berobat. Pak Abu menjawab, “Saya ini mengobati penyakit, bukan mengobati agama. Saya tidak menolak siapa saja yang ingin berobat kemari. Insya Allah akan saya terima dengan baik.”
Setelah berdialog tentang penyakit yang saya derita, Pak Abu kemudian mengobati saya dengan cara Islam. Saya disuruh membaca Basmallah berulang-ulang, dan Pak Abu pun terus berdoa sambil memegang bagian badan saya yang sakit. Aneh, selama prosesi itu badan saya terasa sembuh sama sekali. Yang paling mengharukan, Pak Abu memberi saya obat secara gratis, karena saat itu saya tidak membawa uang.
* * *
Semenjak itulah saya mulai tertarik pada Islam. Saya mulai menghadiri pengajian di kampung, hingga rasa simpati saya pada Islam semakin besar. Akhirnya, 18 September 1993 saya mengucapkan kalimat syahadat di kampus UII Yogyakarta. Setelah itu istri dan kedua anak saya pun masuk Islam.
Setelah menjadi Muslim, saya sering diundang untuk mengisi ceramah pengajian. Saya pun aktif mengikuti kegiatan dakwah. Saya ingin menebus dosa. Jika dahulu saya banyak mengkristenkan orang Islam, sekarang saya ingin mendakwahkan Islam.
Karena sering menjadi penceramah, nama saya pun mulai dikenal. Bahkan saya pernah didaulat untuk menjadi pembicara pada sebuah tabligh akbar di Cirebon yang dihadiri sekitar 10.000 orang.

Seperti halnya teman-teman saya yang sudah masuk Islam terlebih dahulu, saya pun mengalami ujian berat, terutama dalam bidang ekonomi. Kehilangan pekerjaan, dikucilkan dari pergaulan, dicaci maki, adalah hal yang saya terima. Saya dipecat dari pekerjaan tanpa mendapat pesangon. Walaupun demikian, rasa percaya diri dan iman kepada Allah semakin tebal. Semua itu saya hadapi dengan tabah.

Setelah menghadapi berbagai kesulitan, Allah SWT membukakan pintu anugerah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Allah menitipkan sebuah rumah dan tanah kepada saya sekeluarga. Beberapa bulan lalu Allah mengundang saya dan istri untuk menunaikan ibadah haji dengan gratis. Alhamdulillah, hidup saya pun lebih dari cukup. Di balik itu semua, ada hal terindah yang saya rasakan, yaitu bertambahnya saudara dan lahirnya kedamaian hidup dalam naungan Islam. (dari : MQ)

http://www.kotasantri.com/modules.php?name=Beranda&file=detail&sid=144
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M


Anjuran tetap berakhlak mulia dan sabar dikala sakit

September 12, 2007

[Oleh : K.H. Abdullah Gymnastiar]

Mudah-mudahan kita semua dikaruniai nikmatnya bersabar, karena kesabaran begitu tinggi nilainya dalam Islam. Kedudukan seseorang di sisi Allah, keakraban seseorang dengan Allah bisa ditempuh dengan kesabaran, Innallaha maas shobirin, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. (QS.Al baqarah : 153)

Jadikanlah sabar dan sholat sebagai kunci pembuka pertolongan Allah. Adalah salah jika kita mengatakan bahwa sabar itu ada batasnya, berarti kita membatasi pahala. Mengatakan sabar itu ada batasnya, mencerminkan kita kurang sabar dalam bersabar. Sabar akan membuahkan pesona yg tiada terputus, oleh karenanya jika kita ingin menikmati kehidupan, kita harus menikmati setiap kejadian karena orang yang beriman tidak pernah merasa rugi. Diberi nikmat dia bersyukur, diberikan musibah dia bersabar. Syukur berarti kebaikan bagi dirinya, sabar juga kebaikan bagi dirinya. Maka tidak ada yang harus kita takuti dalam hidup ini, kecuali kita tidak punya rasa syukur dan tidak punya rasa sabar.

Asma Allah yang bersesuaian adalah “As-Shobur”, kata Shobur terambil dari kata shod, ba’ dan ro’ , maknanya asalnya adalah menahan ketinggian sesuatu atau sejenis batu yang amat keras, jadi seseorang yang mempunyai kemampuan menahan diri adalah termasuk orang-orang yang sabar.

Sabar bagi manusia bukan berarti pasrah, sabar adalah kegigihan kita untuk tetap berpegang teguh kepada ketetapan Allah. Jadi kesabaran itu adalah sebuah proses aktif, kombinasi antara ridho dan ikhtiar. Kesabaran bukan proses diam dan pasif melainkan proses aktif yaitu akal aktif, tubuh aktif dan iman yang aktif. Justru dari musibah yg disikapi dengan sabar akan lahir rahmat dan tuntunan dari Allah.

Ditimpa musibah sakit, misalnya. Semua orang pernah sakit, bahkan orang yang tidak pernah sakit mungkin saja dia tidak disukai oleh Allah. Sakit adalah bagian dari penggugur dosa. Rosullullah bersabda dalam sebuah hadis, “Tidaklah seseorang merasakan sakit dihina atau tertusuk duri kecuali Allah menggugurkan dosanya, bagai gugurnya daun-daun”, jadi proses sakit itu proses pengguguran dosa. Bagaimana sabar menghadapi sakit ?

Yang pertama, kalau kita suatu saat diuji dengan sakit, kita harus sadar bahwa kesabaran pertama yang harus dimiliki adalah sabar Husnuzon (berbaik sangka) kepada Allah, karena seburuk-buruk perilaku adalah berburuk sangka kepada Allah. Husnuzon karena tubuh kita adalah milik Allah, bukan milik kita. Kalau Allah mau membuat penyakit pada diri kita, sehebat apa pun diri kita tetap sakit. Allah berkuasa terhadap diri kita dan Allah mudah berbuat apa saja. “Allah Tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya.” Yang menciptakan semua syaraf kita adalah Allah dan Allah tahu rasa sakit yang kita pikul karena dia yang menciptakan sakit.

Sabar yang kedua adalah sabar untuk tidak mengeluh. Sebenarnya menceritakan penderitaan kita kepada orang lain adalah mencerminkan ketidaksabaran, apalagi jika kita menceritakan sesuatu seakan lebih dari kenyataan. Hati-hati menceritakan penderitaan kepada orang lain sebab jika tidak hati-hati bisa menjadi kufur nikmat, sepertinya mengadukan perbuatan Allah yang Maha Agung kepada manusia, mahluk yang lemah. Jangan keluh kesah apalagi sampai mendramatisir, jangan sampai memprotes perbuatan Allah yang Maha Adil. Sakit tidak membuat seseorang jadi hina kalau disikapi dengan akhlak yang mulia.

Sabar yg ketiga adalah sabar mentafakuri hikmah sakit. Tidak ada perbuatan Allah yang sia-sia, semua presisi. Setiap sakit itu ada hikmahnya, maka evaluasi dan renungkanlah, mungkin kita terlalu sibuk, dikasih sakit, sehingga kita bisa istirahat. Kita sakit berada di kamar, bayangkan saudara kita yang sakit di kolong jembatan, yang tidak punya tempat tidur. Tafakuri, ketika kita gagah dan hebat, dikasih sakit diare saja bisa menjadi lemas. Harusnya setiap sakit dapat meningkatkan kesadaran kita bahwa kesehatan itu amat berharga.

Sabar yang keempat adalah bersabar ketika ikhtiar. Ketahuilah bahwa yang menyembuhkan itu bukan dokter, bukan paranormal, yang menyembuhkan itu hanya Allah, karena Dia yang paling tahu penyakit kita, “Tiada musibah menimpa kecuali karena izin Allah.” Ketika kita sudah berobat ke sana sini tapi tidak juga sembuh, tidak akan rugi sebab akan menjadi amal. Barangsiapa ridho kepada ketentuan Allah, maka Allah akan ridho, hidup terus maju, ikhtiar saja.

Sabar yang kelima, sabar untuk berniat sembuh dan punya niat untuk beribadah. Milikilah tekad untuk mengisi rasa sehat yang Allah karuniakan dengan meningkatkan ibadah. Jangan sampai kita tidak punya visi tentang bagaimana menggunakan kesehatan. Tidak sedikit orang terangkat derajatnya karena sakit atau cacat, bahkan ada orang yang cemerlang justru karena kebutaannya, karena seburuk-buruk penyakit justeru hati yang sakit.
Oleh karena itu, waspadalah jangan sampai kesehatan ini mengecoh kita. Dengan sehat tapi banyak maksiat, itu jauh lebih berbahaya dibanding sakit yang bisa membuat kita dekat dengan Allah. Tidak ada musibah yang terburuk kecuali orang yang tidak punya rasa syukur dan tidak punya kemampuan bersabar.
[dari : http://www.detik.com]

http://faisal.winwinfaisal.info/isi.php?II=30″

Pengobatan Jarak Jauh Lewat Televisi, Apakah Menggunakan Jin ?

Tanya : Assalamualaikum Wr. Wb.
Akhir-akhir ini di televisi sering diadakan pengobatan alternatif jarak jauh lewat televisi. Dalam tayangan itu, si penyembuh meminta pada si penelpon (pasien) untuk melakukan gerakan-gerakan tertentu, sehingga sakit yang diderita pasien bisa sembuh. Apakah orang tersebut (ahli pengobatan) menggunakan jasa jin ? Bagaimana pandangan Islam tentang hal ini ?. Mohon penjelasan dari pak Ustadz. Jazakumullah khairan katsira.
Wassalamualaikum Wr. Wb. – Mahatir

Jawaban :
Wa’alaikumsalaam wr. wb.
Saudara Mahatir, terlepas dari apa yang dilakukan si pengobat itu di televisi dan terlepas siapa dia. Tapi dalam Islam ada kajian-kajiannya tentang pengobatan jarak jauh. Pada dasarnya, pengobatan ruqyah syar’iyyah adalah pengobatan langsung tatap muka berhadapan antara pengruqyah dengan si pasien. Sebagaimana yang dilakukan oleh seorang sahabat Usman bin Abdil ‘Ash, di mana ketika ia mengalami gangguan yang disebabkan oleh jin, yang mengganggu konsentrasinya dalam sholat, maka ia pergi ke Madinah untuk bertemu dengan Nabi SAW dan mengadukan masalahnya. Kemudian ia meminta didoakan dan diruqyah oleh Nabi SAW. Padahal untuk bertemu Nabi SAW harus menempuh perjalanan yang sangat jauh, hal ini menunjukan bahwa usahanya harus datang ke Madinah untuk bertemu langsung dengan Nabi SAW, lalu diruqyah dan sembuh.

Masalahnya sekarang, karena teknologi sudah canggih seperti adanya handphone dan telepon. Jadi intinya bacaan ruqyah itu sampai ke telinga si pasien, sebagian ulama pun memfatwakan bolehnya ruqyah mulalui telepon, karena suaranya sampai. Atau melalui televisi, di mana si Ustadz membacakan ayat di televisi dan si pasien di rumah mendengarkannya, artinya ada suara yang sampai. Di luar itu, kalau kemudian ada gerakan tertentu atau jurus-jurus tertentu yang harus dilakukan, bahkan harus menempelkan tangan di layar kaca TV menunjukan indikasi bahwa ilmu yang dipakai si pengobat tidak benar, karena tidak ada dalam syariat Islam. Biasanya ilmu yang ditransfer jarak jauh menggunakan bantuan jin. Transfer ilmu jarak jauh, mengobati lewat telepon tanpa membaca ayat ruqyah. Namun kalau sifatnya hanya merupakan senam kesegaran jasmani, itu namanya senam. Tapi, kalau kemudian ada disebutkan pengobatan alternatif yang menggunakan gerakan, dan tidak ada kajian medisnya. Maka hal itu tidak ada dalam kajian Islam, karena pada ruqyah pun tidak ada gerakan-gerak atau jurus tertentu. Biasanya yang memakai gerakan atau jurus tertentu, ada dalam ilmu perdukunan. Demikian kesimpulan dari saya, dan itu terlepas dari siapa yang ada di televisi tersebut. Wassalaam, –
(dijawab oleh : Ustadz Budi Ashari)

http://www.eramuslim.com/i.php/ksl/view/018b.htm
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M


Mengkarantina Penderita Aids

September 12, 2007

[Mengkarantina Penderita Aids Dan Hukum Bagi Orang Yang Sengaja Menyebarkannya (Menularkannya)]

Tanya :”Sekarang ini penyakit virus AIDS menyebar dimana-mana yang menimbulkan banyak reaksi sosial dan berbagai pertanyaan seputar masalah ini. Misalnya, haruskah mengkarantina penderita virus AIDS ? dan apa hukumnya orang yang sengaja menyebarkan (menularkan) virus berbahaya ini kepada orang lain ? Apakah penderita virus AIDS dianggap sebagai penderita penyakit mematikan ? Sebab hal ini sangat berkaitan erat dengan hukum talak dan penggunaan hartanya.

Jawab :
Alhamdulillah.
Pertama: Tentang hukum mengkarantina penderita AIDS:
Beberapa keterangan medis menegaskan bahwa penularan penyakit AIDS atau penyakit menurunnya kekebalan tubuh tidak terjadi melalui percampuran, persentuhan, udara, serangga, makan atau minum bersama penderita, mandi bersama di kolam atau duduk bersama di bangku, satu tempat makan atau bentuk-bentuk percampuran lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi penularan penyakit ini secara khusus adalah melalui salah satu cara berikut :
1. Berhubungan seks dengan penderita bagaimanapun bentuknya.
2. Transfusi darah yang tercemar virus AIDS atau cara-cara tranfusi lainnya.
3. Penggunaan jarum yang tidak steril, terutama di kalangan pengguna obat terlarang, demikian pula dapat menular melalui pisau cukur.
4. Penularan melalui ibu yg terkena virus AIDS kepada bayinya ketika hamil atau pun saat melahirkan.

Berdasarkan keterangan di atas maka tidaklah menjadi keharusan mengkarantinakan penderita AIDS dari teman-temannya jika tidak dikhawatirkan akan menular. Perlakuan terhadap penderita harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan medis yang dapat dipercaya.

Kedua: Hukum orang yang menularkan virus AIDS secara sengaja.
Menularkan virus AIDS secara sengaja kepada orang yang sehat bagaimanapun bentuknya adalah perbuatan haram. Perbuatan itu termasuk dosa besar. Pelakunya berhak mendapat sanksi hukum di dunia. Berat ringannya sanksi hukum ini sesuai dengan besar kecilnya bahaya yang timbul akibat perbuatannya terhadap masyarakat. Jika maksud menularkannya untuk menebarkan virus berbahaya ini di tengah masyarakat, maka perbuatan tersebut termasuk tindak perusakan di atas muka bumi. Berhak di tindak dengan salah satu sanksi yang disebutkan dalam ayat yang berbunyi :“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik [a], atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar” . (QS.Al Maa’idah : 33).

Ket : [a]. Maksudnya ialah: memotong tangan kanan dan kaki kiri; dan kalau melakukan lagi maka dipotong tangan kiri dan kaki kanan.

Namun jika tujuannya untuk memindahkan penyakit ini kepada orang tertentu, kemudian benar-benar menular hanya saja tidak sampai merenggut nyawa orang tersebut maka pelakunya diberi hukum ta’zir (sanksi keras) yang sesuai dengan kejahatannya. Dan jika ternyata si korban mati, maka perlu dipertimbangkan hukuman mati bagi pelakunya. Adapun jika maksudnya hanyalah menularkannya kpd seseorang tertentu namun ternyata tidak menular maka pelakunya berhak mendapat hukum ta’zir.

Ketiga: Bilakah penyakit AIDS digolongkan sebagai penyakit yang mematikan. Yaitu apabila virusnya telah menjalar ke seluruh tubuh dan si penderita tidak dapat lagi melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari & tinggal menunggu kematian.

(dari : Islam Tanya & Jawab – Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid)
http://www.islam-qa.com/special/index.php?ref=1182&subsite=154&ln=ind
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M