Mengapa Hidup Seperti Burung ?

Juni 14, 2007

Dalam al-Qur’an terdapat kisah yang sangat menarik untuk dijadikan uswah. Di mana ada seorang ibu yang bercita-cita ingin menjadikan anaknya seorang hamba yang shalih. Hamba yang akan menegakkan agama Allah di permukaan bumi.

Kisah itu tertuang pada surah Ali ‘Imran 35: “(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yg dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.” Dia tidak menginginkan anaknya menjadi seorang yang punya gelar kesarjanaan, jabatan dan kedudukan yang terhormat. Dia tidak menginginkan sesuatu yang sifatnya duniawi yg hanya berkisar pada pemenuhan kebutuhan perut, syahwat dan tempat tinggal.

Mencari nafkah memang perlu, bahkan wajib. Demikian juga mencari tempat tinggal, juga perlu. Akan tetapi hidup yg dikaruniakan Allah ini, bukan hanya untuk mencari makan, lalu menikah dan beranak pinak saja. Setelah anaknya dewasa disuruhlah mereka mencari nafkah sendiri. Jika hidup hanya seperti ini, sama dengan hidupnya burung. Pagi-pagi sudah bertebaran mencari makanan, kembali ke sarang perutnya sudah kenyang. Anak-anaknya yang masih kecil-kecil di dalam sarang dikasih makanan yang dibawanya. Malamnya kumpul kembali sekeluarga di sarang. Pekerjaan ini terus berlangsung setiap hari sampai anaknya bisa mencari makan sendiri. Burung-burung yang telah dewasa mengerjakan pula rutinitas seperti seniornya. Mencari makan, kawin, bikin rumah dan membesarkan anak.

Bila gelar, pangkat dan kedudukan yang tinggi hanya untuk memenuhi kebutuhan perut dan di bawah perut, tentulah hidupnya berada pada derajat yang rendah. Tidak ada cita-cita lain dalam hidupnya selain untuk itu. Bekerja untuk mencari makan. Makan untuk bekerja. Berputar terus dari itu ke itu. Padahal tugas manusia bukan untuk itu. Tugas manusia adalah menjadi khalifah, wakil Allah di muka bumi. Sebagai wakil Allah, haruslah ia berusaha menjalankan aturan-aturan Allah di permukaan bumi. Menegakkan kalimah-Nya dan memenangkan agama-Nya. Jika hidup hanya unutk mencari makan saja, cicak pun bisa. Dia yang hanya menempel di dinding dan tidak bisa terbang, tapi tetap bisa hidup dengan memakan hewan-hewan yang punya sayap. Dia hanya menunggu nyamuk-nyamuk yang kekenyangan hinggap di dinding, sehingga dapat menangkapnya dengan mudah.

Lihatlah istri ‘Imran, dia hanya mencita-citakan anaknya menjadi anak yang shalih dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Dia tidak mencita-citakan anaknya mendapatkan pangkat, kedudukan, kekayaan dan lain sebagainya yang sifatnya hanya duniawi semata. Adakah di zaman sekarang ini orang tua yang mempunyai cita-cita seperti itu ? Rasanya hanya sedikit orang saja yang mempunyai cita-cita seperti itu. Pastilah kita dapati kebanyakan orang tua menghendaki anaknya mempunyai status sosial yang tinggi. Punya gelar, kedudukan, pangkat, jabatan, atau menjadi orang kaya. Cita-cita yg dimiliki istri ‘Imran ini memang langka dan aneh menurut ukuran dan pola pandang orang sekarang. Tapi itulah cita-cita yang akan membedakan kedudukan manusia dengan makhluk lainnya. Manusia mulia karena fungsi kekhalifa hannya didayagunakan. Yakni menegakkan kalimah tauhid di belahan bumi manapun. Itulah tugas utama seorang hamba. Dari tingkat rasul sampai kepada tingkat kita sebagai manusia biasa.

Orang tua bila mempunyai cita-cita mulia ini, janganlah lupa bila telah terlahir seorang anak, maka cepat-cepatlah meminta pertolongan, perlindungan dan pemeliharaan Allah dari syetan yang terkutuk. Syetan tidak akan tinggal diam membiarkan anak tersebut mencapai cita-citanya. Pastilah dia akan menggoda, merayu dan membisik-bisikan tipu daya agar anak tersebut langkah-langkahnya menyimpang dan tersesat. Syetan akan berusaha menggelincirkannya pada jalan yang menjerumuskannya pada kemungkaran. Inilah perlunya meminta pertolongan dan perlindungan Allah. Jika Allah telah melindunginya pastilah dia akan terpelihara dari godaan syetan yang akan menyesatkannya.
Akan tetapi cita-cita yang luhur, agung dan mulia saja belum cukup untuk mendapatkan anak yang diidam-idamkan itu. Masih ada perangkat lain yang menunjang tercapainya tujuan ini. Yakni pendidikan dan lingkungan.

Maryam -anak keluarga ‘Imran- menjadi hamba yang shalihah dan taat berkat adanya didikan dan lingkungan yang mengantarkannya. Dia dididik oleh manusia pilihan Allah, Nabi Zakaria. Maryam dididiknya dengan baik dan pemeliharaan yang penuh kasih sayang. Tumbuhlah Maryam menjadi seorang manusia yang suci. Manusia yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT. Jelaslah di sini bahwa untuk mewujudkan cita-cita itu perlu pendidikan, lingkungan dan suasana yang mendukung. Keinginan untuk menjadikan anak yg shalih harus didukung faktor-faktor tersebut. Tanpa itu, jangan harap bisa menjadi kenyataan. Berat untuk mewujudkan kalau anak-anak kita dididik dengan pendidikan yang jauh dari norma-norma agama.

Pendidikan yang berkiblat ke Barat yang sekuler, adalah pendidikan yang membentuk kepribadian anak menjadi materialistis dan hedonis. Ditambah lagi dengan lingkungan yang bisa menyeret pada tindak kelakuan menyimpang dari fitrah kemanusiaan. Yang hanya menumbuh-kembangkan dominasi nafsu dan mematikan peran serta ruh. Langkah-langkah yg dipakai atau digunakan untuk membentuk anak yang shalih dan mempunyai cita-cita menegakkan kalimah Allah adalah dengan memasukkan anak-anak kita pada tempat yang telah dikondisikan untuk itu. Di tempat yang sudah menyiapkan perangkat-perangkat yang memprogram proses penumbuhan cita-cita mulia ini. Lingkungan dan pendidikan yang bisa menjabarkan tentang tugas dan kewajiban seorang hamba yang diciptakan Allah.

Apa perlunya Allah menciptakan manusia ? Dan apa peranannya di muka bumi ? Apa kah hanya untuk makan, kawin dan bikin pondokan ? Perlu sekali kita sebagai seorang muslim untuk mengetahui itu semua. Apalah artinya kita hidup di dunia ini bila tidak mengetahui peran dan fungsi kita. Tidak ada nilai lebih yang kita dapat, bila dalam kehidupan ini tidak mengetahui arah dan tujuannya. Untuk mencari tempat atau lingkungan seperti itu di zaman sekarang ini memang cukuplah sulit. Lingkungan yang ditata secara alamiah, ilmiah dan Islamiah. Lingkungan yang menumbuh-kembangkan ghirah keislaman dan pendayagunaan peranan manusia sebagai seorang khalifah. Seseorang yang menjadi pesuruh-pesuruh Allah dalam menerapkan aturan-aturan-Nya, ayat-ayat-Nya atau ketentuan-ketentuan-Nya di permukaan bumi. Seseorang yang akan berjuang terus selama kalimah la ilaha illallah belum bisa ditegakkan. Selama syariat-syariat Allah belum dijalankan. Dan selama firman-firman Allah belum diterapkan. Kesulitan untuk mencari tempat seperti ini janganlah menjadikan kita berputus asa. Insya Allah bila kita telah mencita-citakan untuk li i’laikalimatillah yang mulia dan berusaha untuk terus mencari, pastilah Allah akan mengantarkan kita pada tempat yang diidamkan. Allah SWT akan mengantarkan dan menunjuki jalan kepada hamba-Nya yang selalu mencari kebenaran. Hidayah Allah akan diberikan kepada makhluk yang Dia kehendaki.

Sungguh agung cita-cita ini. Tiada lagi cita-cita yang bisa mengantarkan kemuliaan kecuali cita-cita menegakkan kalimah Allah. Berbahagialah hamba-hamba Allah yang berkeinginan mendapatkan derajat kemanusiaan yang tertinggi dan terhormat. Cita-cita yang akan mendapatkan imbalan dari Allah berupa kenikmatan yg tiada tara, yakni jannah. Kenikmatan yang belum pernah terlintas pada pendengaran, penglihatan, dan hati. Hidup kekal selamanya dalamnya.

[dari : Lembar Jum’at, Al Qalam Diterbitkan Oleh : Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Edisi : 08/VII, 10 Dzulhijjah 1417, 18 April 1997)

http://alqalam.8m.com/vii/qal08.htm

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut ? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. Al Insan : 1-3)

“Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat).” (QS.Al Insan : 27)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 030/th.03/Rabi’ul Awal-Rabi’ul Tsani 1428H/2007M

Iklan

Waktu itu adalah kehidupan

Juni 14, 2007

Imam Hasan Al Banna berkata :”Ada sebagian orang begitu gembira menyia-nyiakan waktu. Bila kita tanya kepada mereka, ‘Apa sebabnya kamu melakukan hal itu ?’ , maka mereka akan menjawab, ‘Saya hanya mengisi waktu senggang saja’.”

Sungguh malang orang-orang seperti itu, karena disaat menyia-nyiakan waktu, disaat yang bersamaan ia juga telah menyia-nyiakan hidupnya, bahkan membinasakan dirinya sendiri, karena pada hakikatnya waktu itu adalah kehidupan itu sendiri. Setiap hari saat fajar menyingsing, sang waktu seolah berkata kepada seluruh umat manusia, “Wahai anak Adam, saya adalah ciptaan Tuhan yang terbaru, yang akan menjadi saksi amal-amal kalian. Maka gunakanlah diriku dengan sebaik-baiknya untuk mencari bekal, karena diriku ini bila sudah pergi, maka tidak akan kembali lagi hingga hari akhir”.

Dengan berbekal sebuah hadits yang digunakannya sebagai dalil, ada seseorang yg ingin bersegera melakukan kebajikan-kebajikan dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, namun orang tersebut berkata, ‘Tidakkah kamu tahu ada hadits shahih yang mengatakan “Pelan-pelan (berhati-hati) itu adalah (ilham) dari Allah, dan terburu-buru itu adalah (ilham) dari setan” . (HR.Al Baihaqi. Syekh Al-Albani menghukumi hadits ini adalah hadits yang hasan).
Hadits yang dikemukakan orang tersebut memang shahih, namun ada kekeliruan dalam memahami makna hadits tersebut. Berhati-hati dalam menjalankan pekerjaan memang termasuk sikap yang terpuji, tapi tentu bukan berarti menunda-nunda. Kalau pun terpaksa ingin menunda, maka yang harus ditunda adalah pekerjaan duniawi, adapun untuk pekerjaan amal-amal ukhrowi sama sekali tak ditemukan dalil agar menunda pelaksanaannya. Sebab bila hadits tersebut diartikan dengan menunda pekerjaan amal ukhrowi, maka akan menyalahi dalil-dalil berikut ini : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu” (QS.Ali Imran : 133). “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan Tuhanmu”. (QS.Al Hadiid : 21). “Hendaknya orang berlomba-lomba”. (QS.Al Muthaffifiin : 26). “Gunakan waktu sehatmu sebaik mungkin sebelum kamu sakit” (HR.Al Bukhari). “Pelan-pelan dalam melakukan segala sesuatu adalah termasuk tindakan terpuji, kecuali melakukan amal-amal akherat” (HR.Abu Dawud dan Al Hakim. Hadits ini dinilai shahih oleh Syekh Al-Albani).

Jika seseorang hendak melakukan kebajikan, maka banyak setan yang membujuknya untuk menunda melaksanakan kebajikan itu. Setan-setan itu berbisik, ‘Kamu masih punya malam yang sangat panjang, tidurlah !’. Wahai manusia, kapan lagi kamu akan sadar, padahal ajal semakin dekat ? Kapan akan muncul rasa syukur di hatimu dengan mengisi waktu-waktu itu pada jalan yg diridhoi Allah ? Mungkin kamu akan sadar disaat semua amal yg dirahasiakan terungkap seluruhnya, dan kamu akan mengingat perkataanku disaat hal itu sudah tak ada lagi manfaatnya, yaitu kematian ?.

(sumber : Nasihat untuk orang-orang yang lalai, Khalid A.Mu’thi Khalif, Gema Insani Press Jakarta, cet.pertama Syawal 1426H/nop 2005)

“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas”. (QS.Al Baqarah : 212)

“Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”. (QS.Al Fushshilat : 26)

“Allah berfirman: ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ?”. (QS.Al Mu’minuun :114-115)

“Dan tidak Kuciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Allah).” (QS.Adz Dzaariyaat :56)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 030/th.03/Rabi’ul Awal-Rabi’ul Tsani 1428H/2007M


Mukjizat Al Qur’an Dalam Perkembangan Embriologi

Juni 14, 2007

Allohu Akbar… Maha Besar Alloh, yang telah menciptakan manusia dengan bentuknya yang sempurna, kemudian Alloh anugerahkan kecerdasan otak supaya manusia mau dan mampu berpikir akan ciptaan Alloh. Alloh Ta’ala berfirman :”Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS Adz-Dzaari yat : 20-21)

Al-Imam ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan ayat di atas :”Alloh Ta’ala menyeru hamba-hamba-Nya untuk bertafakkur (berfikir) dan mengambil i’tibar (pela jaran): “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin”, yg mencakup bumi itu sendiri dan apa-apa yg ada padanya, seperti pegunungan, lautan, sungai, pepohonan & tetumbuhan, untuk menunjukkan orang yg memikirkannya dan merenungkan maknanya, akan keagungan pencipta-Nya, kekuasannya -Nya yg maha luas, kebaikan-Nya yg umum mencakup semuanya dan ilmu-Nya yg mencakup zhahir dan bathin. Demikian pula, bahwa di dalam diri seorang hamba itu ada pelajaran, hikmah dan rahmat yang menunjukkan bahwa Alloh itu Maha Tunggal Al-Ahad…” [Taysir Karimir Rahman, tafsir surat adz-Dzariyat, juz 29, hal. 809).

Manusia zaman dahulu tidak mengetahui bahwa mereka mengalami perkembangan di dalam perut (uterus) hingga akhirnya sains modern menguaknya. Ilustrasi pertama yang diketahui tentang sebuah janin digambar oleh Leonardo Da Vinci pada abad ke-15. Pada abad ke-2 Masehi, Galen menggambarkan plasenta dan membran fetal dalam bukunya yang berjudul ‘On the Formation of the Fetus’. Kemungkinan besar berawal dari hal ini, maka para dokter pada abad ke-7 M mengetahui bahwa embrio manusia berkembang di dalam uterus, meski tetap saja tidak mungkin mereka mengetahui bahwa embrio tersebut berkembang secara bertahap. Walaupun Aristoteles telah menggambarkan tahap-tahap perkembangan embrio ayam pada abad ke-4 sebelum masehi. Namun pemahaman bahwa embrio manusia berkembang secara bertahap tidak dibahas dan diilustrasikan. Baru setelah Mikroskop ditemukan pd abad ke-17 oleh Leueewenhoek, deskripsi tentang embrio ayam dibuat, namun pengetahuan akan perkembangan embriologi manusia tidaklah diketahui secara mendetail, baru pada abad ke-20 setelah Streeter (1941) mengembangkan sistem pertama kali tentang tahap perkembangan embrio yang kemudian digantikan oleh sistem yang lebih akurat yg dikemukakan oleh O’Rahilly (1972).
Rasulullah SAW telah menjelaskan perkembangan embrio ini secara mendetail 14 abad yang lalu, dimana pada zaman itu mikroskop, USG dan semisalnya belum ditemukan. Alloh Ta’ala berfirman :”Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” (QS az-Zumar : 6).

Syaikh Ibnu Sa’di rahimahullahu menjelaskan penafsiran ayat ini, yaitu ‘Alloh menciptakan manusia thur ba’da thur (tahap demi tahap bentuknya), dan dalam keadaan dimana tidak ada satu tangan makhlukpun memegang (membantu) dan mata yang melihat (mengawasi), dan Dia-lah Alloh yang memelihara janin di dalam tempat yg sempit tersebut (kandungan ibu, uterus), “dalam tiga kegelapan” yaitu kegelapan perut [zhulmatul Bathni], kegelapan rahim [zhulmatur rahmi] kemudian kegelapan tembuni/ari-ari [zhulmatu masyimah].

Sains modern menjelaskan bahwa tahapan perkembangan embrio di dalam uterus memang terjadi secara bertahap, bentuk demi bentuk. Dan sains modern menjelaskan bahwa janin manusia berada pada tiga lapisan, yaitu :

1. Dinding anterior abdomen
2. Dinding uterus
3. Membran Amniochorionic

Tiga bagian inilah yang dimaksud dengan tiga kegelapan. Dan penafsiran ayat di atas tidak menyelisihi penjelasan sains modern, dimana “tiga kegelapan” tersebut yang dijelaskan oleh Syaikh as-Sa’di adalah sama dengan yang di sebutkan di dalam sains modern.
Zhulmatul Bathni (kegelapan perut) bisa diinterpretasikan sama dengan dinding anterior abdomen. Karena bathnun sama dengan abdomen. Zhulmatur rahmi (kegelapan rahim) sama dengan dinding uterus, karena rahim yang dimaksud adalah uterus. Zhulmatul Masyimah (kegelapan tembuni) identik dengan membran amnichorionic.

Alloh Ta’ala berfirman :”Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).” (QS Al-Mu’minun : 13)
Syaikh as-Sa’di rahimahullahu berkata : “Nuthfah adalah sesuatu yang keluar dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan kemudian menetap di “tempat yg kokoh” yaitu rahim, yang terpelihara dari kerusakan, cedera dan selainnya.”
Sesuatu yang keluar dari sulbi laki-laki adalah spermatozoa dan yang keluar dari wanita adalah ovum. Lantas keduanya bercampur sebagaimana firman Alloh Ta’ala : “Sesungguhnya kami menciptakan manusia dari tetesan air yang bercampur.” (QS Al-Insan : 2). Campuran keduanya ini membentuk zigot yang membelah diri membentuk blastocyst yang tertanam secara kuat di uterus (tempat yang kokoh). Kemudian Alloh Ta’ala berfirman :”Kemudian nuthfah itu Kami jadikan ‘alaqoh” (QS Al-Mu’minun : 14)

Kata ‘Alaqoh dari sisi bahasa Arab bermakna 3, yaitu :
1. Bermakna lintah.
2. Bermakna sesuatu yang tergantung.
3. Bermakna segumpal darah.

Dan Maha Suci Alloh, ternyata tiga makna yang terkandung di dalam kata ‘Alaqoh ini tidak ada yang menyelisihi fakta saintifik modern sedikitpun. ‘Alaqoh bermakna sebagai lintah, ini adalah deskripsi yang tepat bagi embrio manusia sejak berusia 1-24 hari ketika menempel di endometrium pada uterus, serupa sebagaimana ‘lintah’ menempel di kulit. Serupa pula dengan ‘lintah’ yang memperoleh darah dari inangnya, embrio manusia juga memperoleh darah dari “endometrium deciduas” saat hamil. Hal ini sangat luar biasa bagaimana embrio yang berumur 23-24 hari bisa menyerupai seekor lintah. Sebelum mikroskop dan lensa ditemukan (baru ditemukan pada abad ke-7), para dokter tidak akan tahu bahwa embrio manusia memiliki penampakan seperti lintah.

Ketika membandingkan lintah air tawar dengan embrio pada tahap ‘alaqoh, Profesor Moore, seorang profesor Emeritus ahli anatomi dan embriologi dari Universitas Toronto Kanada, menemukan kesamaan yang banyak pada keduanya. Beliau berkesimpulan bahwa embrio selama tahap ‘alaqoh memiliki penampakan yang sangat mirip dengan lintah. Profesor Moore lantas menempatkan sebuah gambar embrio dan lintah bersebelahan.

Arti kedua, ‘alaqoh adalah ‘sesuatu yang tergantung’, dan hal ini adalah apa yg dapat kita lihat pada penempelan embrio di uterus/rahim selama tahap ‘alaqoh. Dan ini adalah suatu fakta ilmiah.

Arti ketiga adalah ‘segumpal darah’. Hal ini signifikan untuk mengamati sebagaimana pernyataan Profesor Moore, bahwa embrio selama tahap ‘alaqoh mengalami peristiwa internal yang sudah dikenal, seperti pembentukan darah pada pembuluh tertutup, sampai siklus metabolisme selesai di plasenta. Selama tahap ‘alaqoh, darah ditangkap di dalam pembuluh tertutup dan inilah alasan mengapa embrio memiliki penampakan seperti gumpalan darah.
Ketiga deskripsi tersebut secara mengagumkan disodorkan oleh satu kata ‘alaqoh dalam Qur’an. Maha suci Alloh.

Alloh Ta’ala berfirman :”Kemudian ‘alaqoh itu kami jadikan mudhghoh” (QS Al-Mu’minun : 14). Kata Mudghah bisa bermakna “segumpal daging” dan bisa juga bermakna “sesuatu yg dikunyah”.
Akhir minggu ke empat, embrio manusia tampak seperti gumpalan daging atau sesuatu yang dikunyah. Penampakan seperti bekas kunyahan menunjukkan somit yang menyerupai tanda gigi. Somit merepresentasikan permulaan primordia dari vertebrae (bakal tulang belakang). Allah Ta’ala berfirman :”Kemudian kami jadikan mudghoh itu ‘idhoman (tulang belulang), lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan lahma (daging/otot)” (QS Al-Mu’minun : 14). Ayat ini mengindikasikan bahwa setelah tahap mudhghoh, tulang belulang dan otot terbentuk. Hal ini sesuai dengan perkembangan embriologi. Pertama tulang terbentuk sebagai model kartilago (tulang rawan) dan otot (daging) berkembang menyelimutinya dari mesodermal somatik.

Allah Ta’ala berfirman :”Kemudian kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain” (QS Al-Mu’minun : 14). Ayat ini mengimplikasikan bahwa tulang dan otot menghasilkan bentuk/formasi makhluk dengan bentuk yang lain. Hal ini bisa mengacu pada manusia yang masih berupa embrio yang terbentuk di akhir minggu ke delapan. Pada tahap ini, embrio memiliki karekteristik khusus dan memiliki primordia (bakal) seluruh organ dan bagian-bagiannya baik internal maupun eksternal. Setelah minggu ke delapan, embrio ini disebut fetus. Hal ini menjadikannya sebagai makhluk yang baru yang berbentuk lain. Maha Suci Alloh, Pencipta yang paling baik.

Allah Ta’ala berfirman :”dan Ia menjadikan bagimu pendengaran, pengelihatan dan pemahaman (hati)” (QS an-Nahl : 78). Ayat ini mengindikasikan bahwa indera khusus seperti pendengaran, pengelihatan dan peraba berkembang pada tahap ini, adalah benar. Primordia (bakal) telinga internal nampak sebelum permulaan perkembangan mata, dan otak (tempatnya pemahaman) berdiferensiasi terakhir kali.

Allah Ta’ala berfirman :”Kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna” (QS Al-Hajj : 5). Penggalan ayat ini mengindikasikan bahwa embrio tersusun atas jaringan yang berdiferensiasi (sempurna kejadiannya) dan jaringan yang tak berdiferensiasi (tidak sempurna). Sebagai contoh, ketika tulang kartilago (rawan) berdiferensiasi, jaringan ikat embrio atau mesenkim yg menyelubunginya tak berdifirensiasi. Dan ia akan berdiferensiasi kemudian menjadi otot dan ligamen yang menempel di tulang. Dan ini adalah suatu fakta ilmiah yang tak terbantahkan.

Allah Ta’ala berfirman :”Agar kami jelaskan kepadamu dan kami tetapkan di dalam rahim (uterus), apa yang kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan” (QS Al-Hajj : 5).
Penggalan ayat ini menyatakan bahwa Alloh telah menetapkan dan menentukan embrio di dalam uterus sampai masa penuhnya (kehamilan 9 bulan). Hal ini juga diketahui secara jelas bahwa banyak embrio gagal berkembang selama bulan pertama perkembangannya, dan hanya sekitar 30% zigot yang terbentuk, berkembang menjadi fetus yang selamat hingga kelahiran.

Di dalam buku “Developing Human”, DR. Moore menyatakan bahwa klasifikasi modern tentang tahap perkembangan embrionik, yang telah diadopsi hampir di seluruh dunia, adalah pengklasifikasian yang terlalu rumit dan tidak komprehensif. Klasifikasi modern di atas tidak memberikan kontribusi terhadap pemahaman mengenai tahapan perkembangan embrionik secara mudah dan jelas, karena tahap-tahap tersebut berdasarkan bentuk numerik, yaitu, tahap 1, tahap 2, tahap 3, dst.

Pembelahan yang telah disebutkan di dalam al-Qur’an tidaklah bergantung pada sistem numerik. Lebih jauh, klasifikasi perkembangan embrio yang terdapat di al-Qur ‘an berdasarkan pada pengidentifikasian bentuk (morfologi) dan ukuran yang lebih akurat, mudah difahami dan jelas.
Al-Qur’an mengeidentifikasikan tahapan perkembangan prenatal sebagai berikut:
* Nuthfah, yang berarti “setetes” atau “sejumlah kecil air”
* ‘Alaqoh yang berarti “struktur seperti lintah”, “segumpal daging” atau “sesuatu yang tergantung”.
* Mudghah yang berarti “struktur bekas kunyahan” atau “segumpal daging”
* ‘Idhaam yang berarti “tulang” atau “rangka”
* Kisaa al-‘Idham bil laham, yang bermakna membungkus tulang dengan daging atau otot.
* An-Nasy’a yang berarti “formasi/pembentukan fetus yang sudah jelas”.

Prof Moore telah menjelaskan bahwa pembelahan versi Qur’an ini benar-benar berdasarkan pada fase yang berbeda pada perkembangan prenatal. Beliau telah menggaris bawahi bahwa deskripsi saintifis yang elegan ini lebih komprehensif dan praktis. Dan seharusnya para saintis modern menjadikan dasar klasifikasi perkembangan embriologi di dalam Al-Qur’an ini sebagai dasar klasifikasi yang dipegang, karena lebih mudah difahami, akurat dan saintifis.
Dari paparan di atas, apakah mungkin Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam ini adalah kitab suci yang diada-adakan oleh beliau sebagaimana tuduhan kaum kuffar dan atheis ? Bagi orang-orang yang mempergunakan akal sehatnya tentu akan mengatakan, “Maha Suci Alloh, sesungguhnya ini semua berasal dari sisi-Mu.”

http://abusalma.wordpress.com/2007/01/22/mukjizat-embriologi-di-dalam-al-qur%e2%80%99an/”>http://abusalma.wordpress.com/2007/01/22/mukjizat-embriologi-di-dalam-al-qur%e2%80%99an/
note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang akan terus mengalir walau seseorang telah mati adalah ilmu yang bermanfaat.

Laron-laron yang lalai
Rasulullah SAW bersabda :”Jauhilah hal-hal yang diharamkan, niscaya engkau menjadi orang yang paling banyak ibadahnya”. (hadits diriwayatkan Ahmad dan Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :”Perumpamaanku adalah seperti seorang yang menyalakan api. Kemudian ketika api itu menyinari sekelilingnya, laron-laron dan serangga sejenisnya menjatuhkan tubuh mereka ke api itu. Orang berusaha menghalau laron-laron itu, tetapi laron-laron itu malah melawannya dan selanjutnya menjatuhkan tubuh mereka ke api. Seperti itulah perumpamaanku dengan kalian. Saya menghalau kalian dari api neraka, “Jauhkanlah diri kalian dari api neraka ! Jauhkanlah diri kalian dari api neraka !”, akan tetapi kalian kemudian melawan laranganku itu, dan selanjutnya kalian melemparkan diri kalian ke dalam api neraka”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Tirmidzi).
Laron-laron itu menyangka api sebagai cahaya, kemudian ia mengabaikan peringatan dan bersikukuh untuk menceburkan dirinya ke api yg membinasakan. Ia lalai atau sengaja melalaikan diri dari orang-orang yang menjaganya dan memberinya peringatan akan adanya api. Malah ia memberi nilai terhadap orang yang memberi peringatan itu sebagai musuh yang tidak menginginkan kebahagian dirinya. Ini adalah sifat hati yang terbalik, yang tidak mengenal kebaikan, bahkan tidak mengingkari terhadap hal-hal yang munkar, kecuali hanya mengikuti hawa nafsunya saja.

Kalah baik dibanding binatang
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) itu kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS.Al-A’raaf : 179).

Binatang-binatang saja tidak lalai dari tugasnya. Mereka selalu berdzikir dan bertasbih. Padahal binatang-binatang itu tidak mempunyai kewajiban hukum. Diriwayatkan dari Sahl bin Mu’adz, dari ayahnya, dari Nabi SAW, Rasulullah pernah melewati suatu kaum yang sedang berhenti sambil duduk di atas hewan kendaraannya. Mendapati hal itu Nabi SAW bersabda kepada mereka :”Kendarailah hewan-hewan itu dengan baik dan biarkanlah dalam keadaan sehat. Jangan jadikan mereka sebagai kursi tempat duduk kalian saat berbicara di jalan maupun di pasar. (Karena) Bisa saja hewan yg dikendarai itu lebih baik dari yang mengendarai, dan lebih banyak dzikirnya kepada Allah SWT dibanding yang mengendarainya itu.” (HR.Ahmad)

(sumber : Nasihat untuk orang-orang yang lalai, Khalid A.Mu’thi Khalif, Gema Insani Press Jakarta, cet.I/2005)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 030/th.03/Rabi’ul Awal-Rabi’ul Akhir 1428H/2007M


Kelalaian Yang Menipu

Juni 14, 2007

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia Muhammad saw. Wa ba’d.
Allah berfirman: “Telah dekat kepada manusia hari perhitungan segala amal mereka, sedang mereka ada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)” (Al-Anbiya’: 1)

Orang yang memperhatikan keadaan manusia pada zaman sekarang ini akan dapat melihat betapa tepatnya ayat ini dengan kenyataan yang ada. Mereka berpaling dari minhaj Allah serta lalai dari urusan akhirat dan tujuan manusia diciptakan. Mereka merasa seolah-olah tidak diciptakan untuk beribadah, melainkan untuk bersenang-senang mengikuti hawa nafsunya. Mereka berfikir tentang dunia, mereka mencintai karena dunia, dan mereka bekerja demi dunia. Mereka saling bersaing, bermusuhan bahkan saling membunuh hanya karena dunia. Itu semua disebabkan mereka meremehkan dan mengabaikan perintah-perintah Rabbnya. Bahkan sebagian mereka ada yg sudah berencana untuk meninggalkan shalat atau menunda hingga akhir waktu karena ada urusan pekerjaan atau menyaksikan pertandingan, atau karena janji dan lain sebagainya. Segala sesuatu dalam hidup ini memiliki porsi di hati mereka. Pekerjaan, perdagangan, olahraga, perjalanan, film, sinetron, lagu, musik, makan , minum, tidur, dan semuanya memiliki tempat tersendiri dalam hatinya, tapi tidak untuk Al-Qur’an & perintah-perintah agama. Engkau lihat bahwa salah seorang dari mereka begitu cerdas dan pandai dalam perkara dunia, akan tetapi si cerdas ini tidak dapat mengambil manfaat dari kepandaian dan kecerdasannya itu pada perkara yang bermanfaat baginya di akhirat kelak. Kepandaiannya tidak menuntunnya menuju jalan hidayah dan istiqomah di atas agama Allah yang padahal di sanalah dia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sungguh inilah bentuk terhalangnya seseorang dari merasakan kebahagiaan hakiki. “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-Rum: 7)

Kita katakan kepada mereka yang senantiasa tenggelam dalam kezhaliman, dosa, dan kemaksiatan bahwa mereka ini boleh jadi tidak mempercayai adanya neraka, atau meyakini bahwa neraka diciptakan untuk selain mereka. Mereka telah lupa akan hari perhitungan dan hari pembalasan dan mereka pura-pura tidak tahu nash-nash yang telah memberitakan tentang kedahsyatan, kesulitan dan kengeriannya. “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)” (Al-Hijr: 72) . Mereka sibuk mengurusi kenyamanan dan kebahagiaan fisik mereka di dunia yang fana ini dan mereka mengabaikan kebahagiaan dan kenyamanan di akhirat yang kekal selamanya. Betapa semangatnya mereka mengejar harta. Betapa seriusnya mereka dalam bekerja. Dan betapa telatennya mereka memperhatikan kesehatan tubuhnya. Akan tetapi, mempelajari urusan agama, memahami, mengamalkan, dan berpedoman padanya adalah perkara yang paling akhir dipikirkannya. Itupun kalau mereka masih punya sisa waktu dari kesibukannya mengejar dunia. Waktu telah mereka habiskan untuk dunia. Bahkan mayoritas dihabiskan untuk hal yang diharamkan dan melanggar yang diwajibkan. Mereka melakukannya dengan dalih mencari kesenangan dan kebahagiaan. Padahal apa yang mereka lakukan ini sama sekali tidak akan mengantarkan melainkan kepada kesengsaraan. Sadar atau tidakkah mereka itu dengan firman Allah swt: “Dan barangsiapa yg berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” ? (Thaha: 124).

Siangmu kau habiskan dalam kelalaian wahai orang yg tertipu. Dan malammu kau habiskan untuk tidur di dalam selimutmu. Engkau sibuk dengan hal-hal yg tidak akan engkau sukai akibatnya (kelak di akherat). Di dunia, engkau hidup tak ubahnya seperti binatang. Kesadaran mereka akan dosa telah mati dan kesadaran mereka akan segala kekurangan pun telah tiada. Sampai-sampai mereka mengira sedang berada di atas kebaikan, bahkan tidak terlintas sedikitpun di benaknya betapa minimnya dia menunaikan kewajiban. Dan begitu mengerjakan salah satu hal atau semata-mata menjaga pokok agama dan shalat, mereka merasa telah berada dalam kebaikan yang besar. Mereka mengira telah menghimpun Islam dan surga menanti kehadirannya di ujung sana.

Mereka telah melupakan ratusan bahkan ribuan dosa dan maksiat yang dilakukan siang dan petang. Ghibah, dusta, melihat yang haram, makan yang haram, dan kemaksiatan lainnya yang mereka anggap remeh telah mereka lupakan. Mereka menyangka itu semua tidaklah berbahaya dan tidak akan menjerumuskan mereka ke dalam kerugian dan kebinasaan di dunia dan akhirat. Tidakkah mereka sadar akan sabda Nabi saw :”Waspadalah kalian terhadap dosa-dosa kecil. Sesungguhnya dosa kecil itu apabila telah terkumpul maka akan membinasakan pelakunya” ? . Ditambah dengan dosa-dosa besar bahkan termasuk yang amat besar seperti riba, zina, liwath, suap, dan semisalnya. Tidakkah mereka sadar ?!

Sungguh mengherankan ! Tidakkah mereka bosan dengan hidup seperti itu ? Tidakkah mereka bertanya kepada diri sendiri, apa yang ada di akhir hidup nanti ? Apakah yang ada setelah kelezatan dan tenggelam dalam syahwat ini ? Apakah mereka lalai dengan apa yang ada di balik itu semua ? Apakah mereka lalai akan kematian, perhitungan, qubur, shirat, neraka dan adzab ? Tidakkah terbayang oleh mereka kengerian dan kedahsyatan itu semua ? Semua kelezatan ittu akan lenyap, dan tersisalah akibat yg menyakitkan. Tenggelam dalam syahwat mewariskan penyesalan dan kerugian yang mendalam. Kesenangan yang sedikit namun membuahkan adzab yang pedih serta ratapan di dasar Jahannam. Adakah orang berakal yang mau mengambil pelajaran ?! Adakah mau mentadabburi dan beramal untuk tujuan apa dia diciptakan dan mempersiapkan diri dengan apa yang akan disongsong di depan ?!.

Gemerlapnya dunia dan mudahnya mencari kesenangan dunia telah membuat buta mata mereka dan terbuai dalam kelalaian. Sungguh mereka akan sangat menyesal dengan sebenar-benarnya penyesalan apabila terus menerus dalam kelalaian, tenggelam dalam permainan dan senda gurau ini. “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (Al-Hijr: 3). Biarkan mereka hidup seperti binatang yang tidak memikirkan apa-apa kecuali makan, minum, pakaian, dan mencari pasangan. Belum tibakah saatnya bagi setiap muslim untuk mengetahui hakikat hidup dan untuk tujuan apa dia diciptakan ?

Diamlah sejenak bersama tulisan ini. Introspeksi dirilah, tanya pada dirimu dan lihatlah bagaimana engkau selama ini meenjalani kehidupan. Apakah dirimu seperti mereka yang lalai dan tenggelam dalam permainan dan senda gurau itu atau tidak ? Apakah engkau telah berada di atas jalan yang benar yang akan mengantarkanmu kepada keridlaan Allah dan surga-Nya yang penuh kenikmatan ? Atau apakah engkau mencari jalan yang sesuai dengan ambisi dan syahwatmu meskipun di dalamnya me ngandung kesengsaraan dan kebinasaan ? Lihatlah dua jalan ini wahai saudaraku. Sungguh ini bukanlah perkara yang remeh. Demi Allah ini adalah perkara yang besar dan perlu keseriusan. Saya yakin bahwa tidak ada yang lebih berharga di sisimu dari dirimu sendiri, maka bersungguh-sungguhlah untuk menyelamatkannya dari neraka dan dari murka Allah yang amat keras siksa-Nya.

Lihatlah saudaraku bagaimana engkau menyikapi perintah Allah dan Rasul-Nya saw ? Apakah engkau mengamalkan dan merealisasikannya dalam kehidupan atau engkau mengabaikannya dan hanya mengambil sebagian yang sesuai dengan ambisi dan nafsumu semata ?. Agama ini tidak bisa dipecah-pecah. Iltizam(berpegang) pada sebagian urusannya dan meninggalkan yang lain dapat dianggap sebagai penghinaan, meremehkan, dan mempermainkan perintah Allah swt. Sangatlah tidak layak bagi seorang muslim untuk berbuat demikian. Sungguh Allah telah melarang hal itu dan mengancam pelakunya dengan adzab yang pedih. “Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain ? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan di dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang amat berat.” (Al-Baqarah: 85).

Muslim yang sejati waktunya habis untuk beribadah. Agama baginya bukanlah hanya sekedar simbol ibadah.
Wahai yg tenggelam dalam kemaksiatan, sampai kapankah kelalaian ini akan berlangsung ? Sampai kapankah engkau berpaling dari Allah ? Tidakkah tiba saatnya engkau bangun dan bangkit dari kelalaian ini ? Belum tibakah saatnya hati yang keras ini menjadi lunak dan khusyu’ kepada Rabb semesta alam ? “Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” (Al-Hadid: 16).
Sampai kapankah engkau ingin menjadi bagian dari kelompok orang-orang yang bertaubat ? Tidakkah engkau menginginkan apa yang mereka inginkan ? Apakah engkau merasa lebih kaya dan tidak butuh kepada apa yang mereka dambakan berupa pahala di sisi Allah ? Apakah mereka takut kepada Allah sementara engkau merasa kuat sehingga tidak takut kepada-Nya ? Tidakkah engkau menginginkan surga ?

Bayangkanlah engkau bisa melihat wajah Rabbmu Yang Mulia di surga. Bayangkanlah engkau bisa berjabat tangan dengan manusia yang paling mulia Muhammad saw, engkau menciumnya, dan duduk bersamanya serta bersama para nabi dan shahabat lainnya di surga. Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah yaitu para nabi, shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh.” (An-Nisa: 69)

Bayangkanlah dirimu ada dalam puncak kebahagiaan di surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai air, sungai susu, dan sungai madu, beserta pendamping-pendamping yg senantiasa menyenangkan hati. Di dalamnya engkau bisa mendapatkan apa yg kau inginkan. Bayangkanlah semuanya ini, surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Kemudian bayangkanlah juga olehmu neraka, panasnya, luasnya, dalamnya, dahsyatnya dan kengeriannya. Adzab yang diderita oleh penghuninya berlangsung terus tanpa henti. “Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan): ‘Rasakanlah adzab yang membakar ini.'” (Al-hajj: 22)

Bayangkanlah semua itu mudah-mudahan akan membantumu untuk segera kembali kepada Allah. Demi Allah, kau selamanya tidak akan pernah menyesal karena taubat. Bahkan engkau akan mendapatkan kebahagiaan dengan izin Allah di dunia dan di akhirat dengan kebahagiaan yang sebenarnya. Berusahalah mulai hari ini untuk menempuh jalan tersebut dan janganlah menyerah. Bukankah engkau senantiasa membaca dalam shalatmu: “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 6)?. Maka selama engkau menghendaki jalan yang lurus, mengapa engkau tidak menempuh dan menelusurinya ?. Saudaraku, hati-hatilah jangan sampai tertipu oleh dunia dan condong kepadanya. Hati-hatilah engkau untuk menjadikan dunia sebagai cita-cita dan tujuan hidupmu. Sungguh setiap kali engkau melewati detik demi detik dari hidupmu ini dan engkau terbuai kenikmatannya dunia, berarti engkau telah menyia-nyiakan usiamu. Maka sangatlah disesalkan apabila kematian tiba-tiba datang menjemputmu sementara engkau masih dalam keadaan lalai. Sangatlah disayangkan ketika engkau diseru untuk bertaubat engkau tidak menyahutnya. Di depanmu telah menanti kemati an dan sekaratnya, qubur dan kegelapannya, padang mahsyar dan kedahsyatannya. Engkau akan berdiri di hadapan Allah dan akan ditanya tentang apa yang telah engkau kerjakan, baik kecil ataupun besar. Maka persiapkanlah jawaban untuk itu. “Maka demi Tuhanmu, Kami akan menanyai mereka semua, tentang apa yang mereka kerjakan dahulu.” (Al-Hijr: 92-93)

Demi Allah, tidaklah pantas sama sekali bagi seorang yang berakal untuk bermain-main dalam kesia-siaan di dunia ini serta bermaksiat kepada Allah swt. Sungguh tidaklah pantas bagi yang berakal, melakukan semua itu sementara di hadapannya telah menanti kengerian dan kedahsyatan siksa Allah. Sungguh merupakan kesempatan besar yang Allah karuniakan kepadamu dengan kehidupanmu sampai detik ini. Allah masih memberikan kesempatan untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya. Maka kembalilah kepada Allah. Janganlah engkau sia-siakan kesempatan yang ada. Segeralah bertaubat selama engkau masih hidup dan selama kematian belum datang menjemput. Ingatlah mereka yang telah keluar dari dunia, karena kelak engkau pun akan keluar dari dunia ini juga. Mumpung engkau sekarang masih berada di negeri amalan dan masih punya kesempatan bertaubat dan beramal.

Adapun mereka, mayoritas dari mereka yang telah diwafatkan Allah sangat berharap untuk bisa dihidupkan kembali agar bisa memperbaiki amal dan bertaubat. Mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu,” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya.” (Al-An’am: 31) . “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah”. Maka hati-hatilah, semoga tidak terus berbuat kesalahan sehingga engkau akan menyesal pada hari di mana tidak bermanfaat lagi penyesalan. Selamatkanlah dirimu & keluargamu dari neraka selama kesempatan itu masih ada di tanganmu dan sebelum engkau berkata: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembali kanlah aku (ke dunia)[1], agar aku berbuat amal yg saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yg diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan [2].” Mu’minuun : 99-100) . Dan saat itu keinginanmu itu tidak dikabulkan sama sekali.

keterangan :
[1]. Maksudnya: orang-orang kafir di waktu menghadapi sakratul maut, minta supaya diperpanjang umur mereka, agar mereka dapat beriman.
[2]. Maksudnya: mereka sekarang telah menghadapi suatu kehidupan baru, yaitu kehidupan dalam kubur, yang membatasi antara dunia dan akhirat.

(dari : Perpustakaan Islam.Com)

L a l a i

Hidup tanpa menyesuaikan diri dengan tuntunan Allah SWT berarti satu kerugian besar sebagaimana difirmankan Allah dalam QS.Al-‘Ashr ayat 1-3 :”Demi masa, sungguh manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran, dan nasehat menasehati supaya tetap bersabar”.

Betapa pun mewah dan kayanya seseorang, betapa pun tinggi jabatan dan berkuasanya seseorang, namun kalau tidak beriman, tidak mengerjakan kebajikan untuk menetapi kebenaran dengan kesabaran, maka tetap saja dia akan termasuk manusia yang rugi. Sebab kemewahan, kekuasaan dan harta itu hanya menolong dia selama hidup di dunia yang fana ini, dalam tempo yg sangat terbatas, 50-80 tahun, lebih atau kurang. Setelah dia mati maka terputuslah segala kemewahan, kekuasaan dan manfaat semua harta itu baginya. Dia akan hidup di alam akherat yang kekal dalam tempat kehinaan, kesengsaraan dan kesusahan yang tak terhingga. Tak ada guna lagi menyesal pada saat itu, “Sungguh Kami sudah memperingatkan kepadamu akan siksa yang telah dekat, pada hari manusia melihat akan apa saja yang telah diperbuat (dikerjakannya), sehingga mereka akan mengeluh “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah (dijadikan) tanah saja (tidak dijadikan sebagai manusia)”. (QS. An-Naba’ : 40). “Apakah engkau tidak tahu bahwa segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, juga burung-burung yang berbondong-bondong, masing-masing sudah mengetahui sembahyang dan me-Mahasuci-kan Allah, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS.An Nuur : 41)

Bagi orang-orang yang kafir, ingkar dan lalai, maka pada saat itu benar-benar nyata bahwa menjadi tanah, tumbuhan dan hewan adalah lebih baik daripada menjadi manusia yang akhirnya menanggung siksa yang amat pedih di neraka, sebab tanah, tumbuhan dan hewan tidak turut dihisap dan mendapat siksa. Seluruh makhluk ciptaan-Nya selama itu selalu tunduk pada segala ketentuan Allah, tunduk di bawah kemauan dan kekuasaan Allah SWT. Hanya makhluk bernama manusia yang nyata ada yang tunduk dan kebanyakan yang menentang ketentuan-ketentuan Allah selama menjalani kehidupannya di dunia ini. Itulah konsekuensi dari akal yang telah di amanatkan Allah untuk dipakai manusia, termasuk hati (perasaan) dan nafsu (keinginan) yang merangsang akal untuk mematuhi atau menentang ketentuan Allah, dengan berbuat kerusakan, kekejaman dan penganiayaan. Padahal Allah telah memberi petunjuk yang lurus, telah mengutus para nabi dan rasul untuk memberi peringatan kepada manusia agar menjalani hidup menurut ketentuan Allah. Tuntunan dan semua risalah yang dibawa para nabi dan rasul itulah yang disebut agama Islam.

(sumber : Hidup Sebelum Mati, KH.Bey Arifin, pen. Kinanta, Jakarta, cet. ke- IV, 1995)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 030/th.03/Rabi’ul Awal-Rabi’ul Tsani 1428H/2007M


Roh dan Tubuh Manusia

Juni 14, 2007

Semua manusia sudah mengetahui, bahwa pada diri manusia terdapat 2 unsur, yaitu roh dan jasad. Tetapi pengetahuan kebanyakan manusia tentang roh amat sederhana dan terbatas, sehingga kebanyakan manusia tidak memikirkan dan tidak merasa perlu dengan roh (jiwa)–nya sendiri. Yang banyak diketahui dan dipelajari manusia hanya mengenai jasad atau tubuh, karena itu kebanyakan manusia dalam menjalani hidup seringkali tidak seimbang, hanya mementingkan masalah jasmani, seperti makan, minum, pakaian, kesenangan-kesenangan duniawi saja.

Ilmu pengetahuan manusia tentang masalah jasmani dan duniawi selalu meningkat dan canggih. Namun pengetahuan tentang masalah rohani & akherat tetap sederhana, tidak bertambah, tidak maju, malah mungkin semakin berkurang dan mundur. Ini yg menyebabkan, bahwa sekalipun semakin maju manusia dalam pengetahuan duniawi dan jasmani, tetapi manusia semakin rusak dalam peradaban atau akhlaq mereka, manusia hanya mementingkan benda-benda (materi) melupakan soal akhlaq (rohani).
Keadaan seperti ini kalau terus berlanjut, maka manusia akan sampai pada titik atau taraf, dimana ilmu duniawi amat tinggi tapi lenyap akhlaqnya, budi pekertinya, moralnya, rasa malunya, jelek tabiatnya, kejam sifatnya. Disaat itulah manusia bak binatang modern.

Tubuh merupakan kumpulan daging, tulang, darah, kulit, bulu, yang mana semuanya merupakan kumpulan berjuta-juta sel yang tumbuh dan berkembang karena pengaruh roh, dan menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh Al Khaliq Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Kalau bukan karena roh, maka semua bagian tubuh itu hanya merupakan benda mati, seperti batu atau tanah, karena asalnya memang dari tanah jua.
Adapun roh adalah unsur Ilahi, yaitu hanya Allah saja yang mengetahui akan rahasianya. “Dan mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah : ”Roh itu urusan Tuhanku, dan kamu tidaklah diberi pengetahuan kecuali sedikit”. (QS. Al Isra’ : 85). Unsur roh ini pula yang menyebabkan manusia dapat melihat, mendengar, merasa, berfikir, berkasih sayang, membenci, marah. Unsur roh ini yang menjadikan manusia punya rasa malu, bermoral, bersusila, atau sebaliknya bisa menjadikan manusia tidak bermoral dan tidak tahu malu.

Roh disebut juga nyawa karena berfungsi menghidupkan, menumbuhkan dan memperkembang-biakkan. Roh berlaku sebagai akal, karena fungsinya untuk berfikir, menyelidiki, mencari sebab-akibat, mengingat, mengkhayal. Roh dinamai kalbu karena fungsinya sebagai perasa, sehingga manusia dapat merasakan riang, susah, malu, hormat, marah, lapar, dahaga. Dan roh disebut juga nafsu karena fungsinya berkeinginan, berkehendak, berkemauan. Maka roh itu merupakan kesatuan berbagai fungsi.

Bila roh keluar dari tubuh, maka tubuh akan mati, tak bergerak, tidak tumbuh, akhirnya hancur menjadi tanah kembali sesuai asalnya. Adapun roh karena dia menghi dupkan, maka dia hidup terus, tidak mengenal mati. Meski tubuh telah lebur bersama tanah, atau terbakar hangus jadi abu, atau tenggelam dalam air, roh akan tetap hidup, tetap merasa, tetap sadar dan mengerti, tetap melihat, mendengar, bahkan dengan penglihatan, pendengaran, kesadaran yg lebih sempurna. Roh akan tetap hidup meski tanpa tubuh kasar seperti hidupnya malaikat, jin dan makhluq halus lainnya. Berkata Ali bin Abi Thalib ra, :”Manusia hidup seperti orang yg tidur, bila sudah mati menjadi seperti orang yang sudah bangun dari tidur”. “Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami. Tetapi orang-orang yang dzalim pada hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata” (QS.Maryam : 38).

Seseorang yang yakin bahwa roh manusia akan hidup terus, kekal dengan segala kesadaran, maka ketakutan akan mati akan berkurang. Berkurang sedikit atau banyak tergantung dengan sedikit atau banyaknya keyakinan itu sendiri. Bagi seseorang yang tidak ada keyakinan bahwa roh itu akan hidup terus, maka bagi orang seper ti ini mati adalah sesuatu yang tak dapat dibayangkan kesengsaraannya dan amat menakutkan. Wallaahu ‘alam.

(sumber : Hidup Sesudah Mati, KH.Bey Arifin, penerbit Kinanda, cet.15 th.1998)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 030/th.03/Rabi’ul Awal-Rabi’ul Tsani 1428H/2007M


Dialog Perihal Kejadian Manusia Yang Berasal Dari Tanah

Juni 14, 2007

Artikel ini dinukil dari dialog yang terjadi di kota Sumenep Madura, antara seorang kyai pengasuh pondok pesantren, bernama KH.Bahauddin Mudhary (BM) dengan seorang penginjil bernama Antonius Widuri (AW). Dialog terjadi pada tanggal 09-18 Maret 1970. Selama sembilan malam secara terus-menerus, berturut-turut, atas inisiatif saudara Antonius Widuri, karena keingin-tahuannya terhadap agama Islam. Selama dialog berlangsung ramah, bertempat di rumah Bapak KH.Bahauddin Mudhary, dan disaksikan oleh warga sekitar. Sengaja disini Labbaik mengambil salah satu bab saja untuk dinukil, karena kebetulan pada edisi 30 ini topik pembicaraan adalah tentang manusia. Selamat membaca, semoga bermanfaat :

AW : “Kami telah membaca ayat-ayat Al-Qur’an mengenai asal kejadian manusia dalam kitab terjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesia, dalam sebuah surat yang nampaknya antara satu ayat dengan ayat yang lain ada berselisihan sehingga timbul dalam pi kiran saya bukan Bibel saja yg berselisih ayat-ayatnya, tetapi kitab Al-Qur’an demikian juga.

BM : “Silahkan saudara sebutkan ayat-ayat Al-Qur’an yang akan ditanyakan, Insya Allah yang diragukan oleh saudara itu akan terhapus.

AW : “Baiklah, Saya mencatat ayat-ayatnya, saya akan baca. Dikitab Al-Qur’an :

1. Surat Ar-Rahman ayat 14 menyebutkan bahwa Allah menjadikan manusia berasal dari tanah yang dibakar.

2. Di surat Al Hijr ayat 28 menyebutkan: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang manusia (Adam) dari tanah kering dan lumpur hitam yang berbentuk (berupa).”

3. Disurat As Sajadah ayat 7 menyebutkan: “dan Tuhan menciptakan manusia dari Tanah.”

4. Di Surat Ash Shafaat ayat 11 menyebutkan: “Sesungguhnya Aku (Allah) menciptakan manusia berasal dari tanah liat.”

5. Disurat Ali Imran ayat 59 menyebutkan: “Sesungguhnya Aku menciptakan manusia daripada tanah.”

Lima ayat yang saya sebutkan ini antara satu dengan ayat yang lain terdapat perselisihan. Cobalah kita teliti. Di ayat ketiga menyebutkan dari “tanah,”di ayat ke empat menyebutkan daripada “tanah liat.” Di ayat kelima menyebutkan dari pada “tanah.” Bukankah ayat-ayat Al-Qur’an nyata-nyata berselisihan antara yang satu dengan yang lain.

BM : “Ya, nampaknya memang demikian. Saya tidak akan mengecewakan saudara. Teruskan pertanyaan saudara.

AW : “Kami ingin bertanya; yang manakah yang benar tentang asal kejadian manusia itu. Apakah dari tanah yang dibakar, apakah dari tanah kering dan lumpur, atau dari pada tanah biasa, atau dari tanah liatkah ?. Jadi menurut pendapat saya, ayat-ayat Al-Qur’an terdapat perselisihan antara satu ayat dengan ayat yg lain. Bukan ayat-ayat Injil atau di Bibel saja terdapat perselisihan. Kiranya Bapak bisa menerangkan dengan jelas dan tepat.

BM : “Di kitab Al-Qur’an ada menyebutkan bahwa asal kejadian manusia terdiri dari 7 (tujuh) macam kejadian. Agar diketahui juga oleh saudara-saudara yang hadir di sini, saya sebutkan susunan ayat-ayatnya satu demi satu, sebagaimana yang saudara bacakan artinya tadi.

1. Di Surat Ar Rahman ayat 14: “Dia (Allah) menjadikan manusia seperti tembikar , (tanah yang dibakar).” Yang dimaksudkan dengan kata “Shal-shal” di ayat ini adalah: Tanah kering atau setengah kering yakni “Zat pembakar” atau Oksigen.

2. Di ayat itu disebutkan juga kata “Fakhkhar,” yg maksudnya ialah “Zat Arang” atau Carbonium.

3. Di surat Al Hijr, ayat 28: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat; sesungguhnya Aku (Allah) hendak menciptakan seorang manusia (Adam) dari tanah kering dan lumpur hitam yang berbentuk (berupa).” . Di ayat ini. Tersebut juga “shal-shal,” telah saya terangkan, sedangkan kata “Hamaa-in” di ayat tersebut ialah “Zat Lemas” atau Nitrogenium.

4. Di surat As Sajadah ayat 7: “Dan (Allah) membuat manusia berasal dari pada ‘tanah’.” Yang dimaksud dengan kata “thien” (tanah) di ayat ini ialah “Atom zat air” atau Hidrogenium.

5. Di Surat Ash Shaffaat ayat 11: “Sesungguhnya Aku (Allah) menjadikan manusia dari pada Tanah Liat.” Yang dimaksud dengan kata “lazib” (tanah liat) di ayat ini ialah “Zat besi” atau ferrum.

6. Di Surat Ali Imran ayat 59: “Dia (Allah) menjadikan Adam dari tanah kemudian Allah berfirman kepadanya ‘jadilah engkau,’ lalu berbentuk manusia.” Yang dimaksud dengan kata “turab” (tanah) di ayat ini ialah: “Unsur-unsur zat asli yang terdapat di dalam tanah” yang dinamai “zat-zat anorganis.”

7. Di surat Al Hijr ayat 28: “Maka setelah Aku (Allah) sempurnakan (bentuknya), lalu Kutiupkan ruh-Ku kepadanya (Ruh daripada-Ku).”

Ketujuh ayat Al-Qur’an yang saya baca ini Allah telah menunjukkan tentang proses kejadiannya Nabi Adam sehingga berbentuk manusia, lalu ditiupkan ruh kepadanya sehingga manusia bernyawa (bertubuh jasmani dan rohani). Sebagaimana disebutkan pada ayat yang keenam tentang kata “turab” (tanah) ialah zat-zat asli yang terdapat didalam tanah yang dinamai zat anorganis. Zat Anorganis ini baru terjadi setelah melalui proses persenyawaan antara “Fakhkhar” yakni Carbonium (zat arang) dengan “shal-shal” yakni Oksigenium (zat pembakar) dan “hamaa-in” yaitu Nitroge nium (zat lemas) dan Thien yakni Hidrogenium (Zat air). Jelasnya adalah persenyawaan antara: Fakhkhar (Carbonium = zat arang) dalam surat Ar Rahman ayat 14. Shal-shal (Oksigenium = zat pembakar) juga dalam surat Ar Rahman ayat 14. Hamaa-in (Nitrogenium = zat lemas) dalam surat Al Hijr ayat 28. Thien (Hidrogenium = Zat Air) dalam surat As Sajadah, ayat 7. Kemudian bersenyawa dengan zat besi (Ferrum), Yodium, Kalium, Silcum dan Mangaan, yang disebut “laazib” (zat-zat anorganis) dalam surat As Shafaat ayat 11. Dalam proses persenyawaan tersebut, lalu terbentuklah zat yang dinamai protein. Inilah yang disebut “Turab” (zat-zat anorganis) dalam surat Ali Imran ayat 59. Salah satu diantara zat-zat anorganis yang terpandang penting ialah “Zat Kalium,” yang banyak terdapat dalam jaringan tubuh, teristimewa di dalam otot-otot. Zat Kalium ini dipandang terpenting oleh karena mempunyai aktivitas dalam proses hayati, yakni dalam pembentukan badan halus. Dengan berlangsungnya “Proteinisasi,” menjelmakan “proses penggantian” yang disebut “Substitusi.” Setelah selesai mengalami substitusi, lalu menggempurlah electron-electron cosmic yg mewujudkan sebab pembentukan (Formasi), dinamai juga “sebab ujud” atau Causa Formatis. Adapun Sinar Cosmic itu ialah suatu sinar mempunyai kemampuan untuk merubah sifat-sifat zat yang berasal dari tanah. Maka dengan mudah sinar cosmic dapat mewujudkan pembentukan tubuh manusia (Adam) berupa badan kasar (jasmaniah), terdiri dari badan, kepala, tangan, mata, hidung, telinga dan seterusnya. Sampai disinilah ilmu pengetahuan exact dapat menganalisa tentang pembentukan tubuh kasar (jasmaniah, jasmani manusia/Adam). Sedangkan tentang rohani (abstract wetenschap) tentu dibutuhkan ilmu pengetahuan yang serba rohaniah pula, yang sangat erat hubungannya dengan ilmu Metafisika. Cukup jelas tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang saudara sangka berselisih antara satu ayat dengan ayat yang lain dalam hal kejadian manusia (Adam), pada hakikatnya bukanlah berselisih, melainkan menunjukkan proses asal kejadian tubuh jasmani Adam (visible), hingga pada badan halusnya (invisible), sampai berujud manusia.

Apakah belum jelas penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an yang saya sampaikan pada saudara ? Kalau ada waktu saya akan terangkan juga proses asal kejadian tubuh rohani dari segi ilmu metafisika.

AW : “Sangat jelas, malah betul-betul ilmiah dan saya tidak mengira sekali bahwa ayat-ayat Al-Qur’an itu mengandung ilmu pengetahuan yg tinggi. Mengenai kesang gupan Bapak yg akan menerangkan atau menguraikan proses asal kejadian tubuh rohani manusia itu, betul-betul menarik.

(sumber : Dialog Masalah Ketuhanan Yesus, KH.Bahaudin Mudhary, penerbit Kiblat Centre, Jakarta, cetakan ke : 3, th.1984, hal 73-78)

note : artikel ini telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 030/th.03/Rabi’ul Awal-Rabi’ul Tsani 1428H/2007M


Mengapa Manusia Rugi ?

Juni 11, 2007

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” QS: 103:1-3)

Pada dasarnya, Allah Swt cinta dan sayang kepada manusia, apalagi bila mereka beriman kepada-Nya. Bukti kecintaan itu adalah Allah Swt mengemukakan faktor-faktor yg menyebabkan manusia menjadi rugi. Secara harfiyah, Al-Qur’an menggunakan kata “khusr” untuk menyebut kerugian, khusr itu sendiri artinya berkurang, rugi, sesat, celaka, lemah, tipuan, dll, semuanya dengan makna negatif. Apa saja faktor-faktor yang membuat manusia menjadi rugi ?

Beriman kepada hari akhir merupakan salah satu keimanan yang sangat penting, karenanya Al-Qur’an dan Hadits seringkali merangkai penyebutan iman kepada Allah dengan iman kepada hari akhir. Kehidupan hari akhir merupakan hasil yang sesungguhnya dari apa yang dilakukan manusia dalam kehidupannya di dunia, baik maupun buruk. Kehidupan hari akhir juga kesempatan emas untuk bisa berjumpa langsung dengan Allah Swt, karena itu amat rugi orang yg mendustakan hari akhirat dan perjumpaan dengan Tuhannya, Allah Swt berfirman yang artinya: “Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: : “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu”, sambil memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu (QS 6:31).

Akibat dari pengingkaran manusia terhadap hari akhirat membuat manusia tidak memperoleh petunjuk dari Allah Swt, bukan karena Allah tidak memberinya petunjuk, tapi karena pemberian Allah itu tidak mau diambil, sehingga tidak ada yang mereka dapatkan kecuali kerugian dalam kehidupan di dunia dan akhirat, Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk (QS 10:45).
Disamping tidak memperoleh petunjuk, orang yg tidak beriman pada kehidupan akhirat akan membuat mereka menganggap kehidupan di dunia ini lebih baik, padahal kehidupan dunia ini hanya permainan dan senda gurau, dunia adalah sarana bukan tujuan sebagaimana permainan dan senda gurau itu sendiri, sarana bagi pencapaian tujuan tertentu, Allah Swt berfirman yang artinya: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS 6:32).

Salah satu yang harus kita waspadai terhadap orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan adalah apapun yang dilakukannya, meskipun hal itu merupakan sesuatu yang sangat buruk dia akan menganggapnya sebagai sesuatu yang baik, keburukan itu dikemas dengan kata-kata yang indah. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). Mereka itulah orang-orang yg mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yg paling merugi (QS 27:4-5).

Menjadi orang bodoh bukan hanya tidak menyenangkan, tapi juga bisa membahayakan, karenanya kebodohan akan membawa manusia pada kerugian yang nyata. Dalam bahasa Arab, kebodohan diistilahkan dengan kata “jahl”, kita sering mendengar istilah zaman jahiliyah, suatu zaman dimana manusia begitu bodoh, bukan karena tidak tahu, tapi tidak mau menerima kebenaran yang datang dari Allah Swt dan Rasul-Nya. Pada masa jahiliyah itulah, kebodohan telah membuat manusia membunuh anaknya sendiri, hanya karena anak itu berjenis kelamin wanita. Sementara jauh sebelum Nabi Muhammad Saw, dengan kejahilannya raja bernama Fir’aun ketakutan akan adanya pemimpin selain dirinya, hingga dia menginstruksikan kepada setiap orang tua untuk membunuh bayi berjenis kelamin laki-laki dan itupun dilaksanakan oleh rakyatnya yang juga bodoh dan takut.

Disamping itu, kebodohan juga membuat mereka mengharamkan apa-apa yang telah di rizkikan oleh Allah Swt atas mereka, padahal Allah telah menghalalkannya, inilah kerugian yang nyata, baik di dunia maupun di akhirat. “Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan sema ta, tanpa ilmu dan mengharamkan apa yang Allah telah rizkikan kepada mereka dengan dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk (QS 6:140).
Manusia seringkali tidak menyadari, syaitan yang seharusnya dianggap dan diperlakukan sebagai musuh tapi malah dijadikan sebagai pemimpin, apa saja perintah dan keinginan serta bisikan-bisikannya dituruti. Hal ini membuat manusia menjadi rugi, baik di dunia maupun di akhirat. Allah Swt berfirman tentang tekad syaitan untuk menyesatkan manusia: “Dan saya (syaitan) benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan saya suruh mereka (merobah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata (QS 4:119). “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi (QS 58:19). Apabila manusia tidak mau mengikuti syaitan, disamping harus menunjukkan sikapnya yang tegas terhadap syaitan dengan selalu bermusuhan, manusia juga harus berlindung kepada Allah dari segala godaan syaitan.

Salah satu faktor yang membuat kita beruntung dalam hidup kita di dunia dan akhirat adalah karena keimanan dan pengabdian kepada Allah Swt. Dengan itulah, kehidupan kita akan berjalan dan terarah dengan sebaik-baik dan selurus-lurusnya. Namun seringkali ada kendala untuk bisa melakukan hal itu dengan baik, salah satunya adalah tidak adanya konsistensi atau keistiqomahan, sehingga pengabdian kepada Allah tidak berkesinambungan. Manakala pengabdian itu bisa mendatangkan keuntungan duniawi, kita akan terus mengabdi kepada Allah dan bila malah mendatangkan ‘resiko’ tidak menyenangkan, maka kita menjauh dari pengabdian kepada-Nya. Sikap seperti ini merupakan bagian dari kemunafikan yang sangat tercela. Di dalam Islam, sikap seperti itu tidaklah berguna, karena seseorang tidak akan mendapatkan nilai apa-apa dari Allah Swt meskipun ia mengabdi, karena niatnya tidak ikhlas karena Allah dan ini merupakan kerugian yang nyata, Allah Swt berfirman yang artinya: “Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yg nyata (QS 22:11).

Oleh karena itu, menjadi amat penting bagi kita untuk memiliki sikap istiqomah (memiliki pendirian yang kuat) dalam keimanan dan pengabdian kita kepada Allah Swt. Enak dan tidak enak, senang dan sengsara, dipuji maupun dicela, menguntungkan atau malah merugikan semuanya tidak menggoyahkan kita dalam pengabdian kita kepada Allah Swt, karena inilah yang akan menguntungkan dan membawa ketenangan dalam jiwa kita, Allah Swt berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang yang mengatakan: “Tuhanku Allah”, kemudian mereka istiqomah, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan merekapun tidak berduka cita”. (QS 46:13).

Termasuk rugi adalah bila melakukan kebathilan. Secara harfiyah, bathil berarti tidak terpakai, tidak berfaedah, rusak dan sia-sia. Artinya, perbuatan bathil adalah perbuatan yang terlepas atau gugur dari ketentuan syari’at sehingga tidak berguna bahkan mengakibatkan kerusakan. Oleh karena itu perbuatan seseorang disebut bathil apabila bertentangan dengan syari’at, tidak ada faedahnya dan tidak sesuai dengan tuntunan syari’at. Bagi seorang muslim, jangankan melakukan kebathilan, mencampur-adukkan antara kebenaran dengan kebathilan saja sudah tidak dibenarkan, baik dalam bentuk melakukan kebenaran yang disertai dengan melakukan kebathilan atau melakukan kebathilan untuk mencapai tujuan yg haq. Sebab dari kebathilan ini, manusia akan mengingkari Allah Swt dan apa yg datang dari-Nya. Karena itu, manakala manusia mempercayai segala bentuk kebathilan yang menyebabkannya menjadi ingkar kepada Allah Swt, maka ia akan menjadi orang yang merugi. Allah Swt berfirman yang artinya: “Dan orang-orang yang percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yg merugi”. (QS 29:52).

Meskipun Allah dan Rasul-Nya beserta para penerus perjuangan da’wah telah mengingatkan agar manusia tidak melakukan kebathilan, tetap saja banyak manusia yang melakukannya, bahkan dengan peringatan dalam bentuk azab dan bencana pun belum juga bisa menyurutkannya dari jalan bathil. Mereka baru betul-betul paham akan kerugian yang besar di hari akhirat nanti, mereka tidak akan bisa mengelak dari kerugian yang nyata, Allah Swt berfirman yg artinya: “Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan (QS 45:27). Karena kebathilan merupakan sesuatu yg hanya mendatangkan kerugian, maka meski pun seseorang berkorban dengan hartanya yang banyak, tetap akan menjadi penyesalan yg sangat dalam karena tidak ada hasil yang mereka peroleh, di akhirat mereka akan menyesal tiada terkira, karena dimasukkan ke dalam neraka, Allah berfirman yg artinya : “Sesungguhnya orang-orang kafir membelanjakan hartanya untuk merintangi agama Allah, maka mereka tetap akan membelanjakan hartanya, kemudian akan menjadi penyesalan bagi mereka, kemudian mereka pasti kalah, sedang orang kafir pasti di kumpulkan dalam neraka jahannam. Untuk memisahkan yg jahat dari yang baik dan Allah akan menjadikan yang jahat setengahnya berkumpul (bertumpuk) dengan setengahnya, lalu dijadikan satu dan dilempar ke dalam jahannam, merekalah orang-orang yang rugi”. (QS 8:36-37).

Ketika seseorang telah menyatakan dirinya beriman kepada Allah Swt, salah satu yang harus dibuktikannya adalah menerima hukum-hukum yang datang dari Allah Swt. Sikap ini menjadi begitu penting agar pengakuan seseorang sebagai mu’min diakui keimanannya oleh Allah Swt. Disamping itu, seorang mu’min juga harus dengan senang hati dan siap menerima Rasulullah Saw sebagai hakim yang memutuskan perkara di antara kaum mu’min atas berbagai persoalan yang mereka hadapi berdasarkan hukum-hukum Allah Swt, tanpa ada rasa berat sedikitpun di dalam hati mereka. Seseorang yang sudah mengaku beriman tapi tidak mau menerima hukum-hukum Allah, maka dia tidak bisa diakui keimanannya oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapatkan rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan penerimaan sepenuhnya (QS 4:65). Manakala manusia berlaku demikian, maka dia akan termasuk orang yg rugi, baik di dunia maupun di akhirat, di dunia dia tidak mencapai martabat sebagai seorang mu’min, bahkan tidak memperoleh keuntungan yg bersifat duniawi, sedangkan di akhirat kerugiannya sudah pasti, karena Allah tidak menyukainya sehingga apapun amal yg dilakukannya di dunia meskipun nampaknya baik, tidak akan mendapat nilai & imbalan yg baik dari Allah Swt, amalnya menjadi sia-sia, Allah berfirman yang artinya: “Barang siapa yg kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam), maka hapuslah amal-amalnya dan di akhirat termasuk orang-orang yang merugi”. (QS 5:5).

Dari keterangan beberapa ayat di atas, menjadi amat penting bagi kita untuk selalu mewaspadai, agar tidak sampai tergolong sebagai manusia yang merugi. Amin.

http://alhikmah.com/contents.php?id=334

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS.Al Kahfi : 28)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 030/th.03/Rabi’ul Awal-Rabi’ul Tsani 1428H/2007M