Waspadai H.Amos dkk !

Januari 22, 2008

Kalau mendengar penulis buku “islami” bernama H.Amos harap tidak salah sangka, huruf H di depan namanya bukan berarti singkatan dari haji, meskipun dia mengaku-aku telah berhaji. H itu singkatan dari nama nashraninya Himar. Himar Amos ini seorang pendeta Nehemia yang mesti diawasi dan diwaspadai. Dialah salah satu pendeta (missionaris) yang sering membikin buku yang ditampilkan samar-samar, agar dibilang islami, apalagi nama pengarangnya selalu dia tulis H.Amos, nama ini mudah membuat ummat Islam terkecoh.
Apa yang dia tulis tentang haji dalam bukunya berjudul “UPACARA IBADAH HAJI” Karya Drs. H. Amos ?. simak tulisannya :“Upacara Ibadah Haji adalah salah satu kewajiban yang ditetapkan dalam rukun Islam yang kelima. Sebab itu sangatlah penting dan berguna untuk diketahui, apa itu rukun Islam. Untuk mengetahui rukun Islam ada baiknya perlu terlebih dahulu memahami rukun Iman yg merupakan dasar prinsip keimanan dari agama bangsa Arab. (hal. 3).

Kalimat-kalimat menyesatkan itu langsung ditanggapi oleh sdr.H.Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus). Huruf H di depan nama Ihsan LS Mokoginta ini adalah benar singkatan dari haji. Beliau ini adalah seorang muallaf yang rajin dan sangat aktif membongkar kebejatan para missionaris yang memusuhi Islam. Berikut ini sedikit kutipan sebagai tanggapan beliau dalam untuk mengkonter serangan pendeta bejat itu :“Dalam tiga kalimat tersebut (pernyataan H.Amos di atas) terdapat dua kesalahan istilah yang mendasar dan sengaja dipakai dalam semua uraian dalam buku berjudul “Upacara Ibadah haji” :

Pertama, menyebut Ibadah Haji (rukun Islam yang kelima) dengan istilah ‘Upacara Ibadah Haji’, ini adalah penghinaan yang nyata kepada umat Islam. Jutaan umat Islam Indonesia dilecehkan H. Amos dengan mengatakan bahwa Ibadah Haji adalah satu bentuk ‘upacara’. Jadi, ibadah haji dikonotasikan seolah-olah bukan dari ajaran Allah, melainkan tata cara ritual buatan manusia. Hanya umat Islam dan jamaah haji yang lemah iman saja yang diam tanpa reaksi terhadap penghinaan murtadin Amos tersebut.

Kedua, mengganti istilah nama ‘Agama Islam’ dengan ‘Agama Bangsa Arab’, ini pun penghinaan yang sangat jelas dan menantang iman kepada umat Islam seluruh dunia. Dengan istilah ‘Agama Bangsa Arab’ ini, murtadin Amos menekankan seolah-olah Islam bukan agama untuk seluruh dunia, melainkan agamanya orang yang ada di Arab saja. Oleh sebab itu, sangat tidak wajar jika Kedutaan Arab Saudi tidak melaporkan pelecehan agama ini kepada pjhak yang berwajib –dalam hal ini pemerintah Indonesia– karena hal ini jelas merupakan pelecehan secara terang-terangan terhadap bangsa, agama dan nabi mereka (Muhammad SAW). Dan jika mereka mengadukan hal ini kepada pihak yang berwajib, umat Islam pasti akan mendukung.

Dari dua point tersebut, jelaslah bahwa yang dimaksudkan H. Amos dalam kata pengantarnya adalah tambahan informasi untuk menyulut api permusuhan antar agama. Drs. H. Amos yang nama aslinya Drs. Agam Poernama Winangun. Setelah pindah iman (murtad) dari Islam ke Kristen pada usia 58 tahun, dia berubah menjadi seorang Kristen Ekstrim. Dengan sangat agresif berusaha agar kaum muslimin lainnya mau mengikuti jejaknya untuk pindah agama.

Ditulisnya buku “Upacara Ibadah Haji” untuk mengelabuhi umat Islam. Dengan cover wajah Islam dan kutipan-kutipan Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang dikacaukan penafsirannya, terkesan seolah-olah buku tersebut ditulis oleh umat Islam untuk kalangan Islam. Padahal isinya murni melecehkan dan menyerang sekaligus menantang agama Islam dan umat Islam. Dikatakannya dalam kata pengantar halaman i bahwa buku “Upacara Ibadah Haji” tersebut disusun sebagai tambahan informasi bagi masyarakat yg akan menunaikan ibadah haji atau yang sudah menunaikan ibadah haji tetapi belum mengetahui tentang makna upacara ibadah haji.

Sementara itu dalam seluruh uraiannya dari Bab I sampai Bab V, semuanya murni melecehkan Islam dan umat Islam. Akhirnya, di bagian penutup (hal. 84), H. Amos berharap agar tambahan informasi bermuatan pelecehan itu dapat diterima dengan baik oleh para pembaca. H.Amos menghimbau agar umat Islam menyadari dan tidak menutup-nutupi kekeliruan dalam hal menyembah Allah serta bertanggung-jawab memperbaiki kekeliruan itu. Alasannya, karena pada dasarnya umat Islam itu menyembah setan, sesuai dengan Al-Qur’an surat Yasin 60.

Saking kerasnya sikap permusuhan yang ditampilkan oleh H.Amos, sehingga H.Ihsan LS Mokoginta menekankan agar ummat Islam tidak tinggal diam, “Kecuali jika yang membacanya adalah muslim abangan, tentu mereka hanya tinggal diam saja, masa bodoh”, demikian pesan beliau.

Sebagai muallaf mantan Kristen yang benar-benar sudah pernah menunaikan Ibadah Haji, kami menyambut baik risalah dari Bpk. Drs. H. Amos tersebut. Sebab risalah itu semakin membuktikan kebenaran firman Allah; “Orang- orang Yahudi dan Nasrani tidak senang kepadamu sampai kamu mengikuti agama mereka” (Al Baqarah : 120). “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yg diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman” (Ali ‘Imran : 100).

Dengan menyadari pemahaman yang sudah korslet tentang Islam, kami berharap kepada Drs. H. Amos cs. agar mulai mengkaji Islam dan membandingkannya dengan Kristen secara proporsional sebagaimana buku-buku yang kami tulis. Perlu diketahui sebelumnya, bahwa buku-buku kami jauh dari sifat emosional, melainkan terdorong oleh perasaan iba dan kasihan kepada Drs. H. Amos yang sudah tidak bisa berpikir sehat lagi. Sebab setelah murtad, beliau dicuci otaknya oleh para pendeta dan missionaris. Mudah-mudahan buku-buku kami banyak manfaatnya”. Demikian H.LS.Mokoginta menambahkan.

[maraji’ : PENDETA MENGHUJAT MUALLAF MERALAT, Penulis : H. Insan L.S. Mokoginta (Wenseslaus), Editor : Abu Mumtaz, Setting : Fakta Comp, Penerbit : Forum Antisi pasi Kegiatan Pemurtadan (FAKTA) PO Box 1426 Jkt 13014, Cetakan 1, Juni 1999]

Tambahan :
Dibandingkan agama-agama lainnya, Islam dan Kristen memiliki potensi paling kuat untuk melahirkan konflik antar agama. Konflik ini terjadi karena adanya gesekan Dakwah Islamiyah dan Missi Kristenisasi. Untuk mengatasi gesekan kedua agama tersebut, bukan Dakwah dan Missi yang harus dilarang dan dihilangkan. Sebab membela dan menyebarkan keyakinan agama kewajiban.

Di sini, kedua agama dituntut untuk berbesar jiwa dan berlapang dada untuk sama-sama tidak mengganggu agama orang lain. Nampaknya, pihak Kristen tidak bisa menyepakati statemen ini. Mereka lebih suka menempuh teori Machiavelli, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Teori Machiavelli sangat berbahaya. Karena untuk tujuan kesejahteraan, caranya boleh merampok, untuk kemakmuran boleh menipu, untuk hidup boleh membunuh, untuk membenarkan keyakinan boleh mencaci maki, mencela dan melecehkan keyakinan agama lain. Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa cara inilah yang sering kali dipakai para missionaris untuk menyebarkan Injil dan kekristenan. Di desa Langensari, Lembang, Bandung, Yayasan Sekolah Tinggi Theologi (STT) Doulos meyebarkan Kristen dengan cara merusak moral terlebih dahulu. Di sana, para pemuda usia 15 tahunan dicekoki minuman keras dan obat-obat terlarang sampai kecanduan berat. Setelah kecanduan, para pemuda harapan bangsa itu dimasukkan ke panti rehabilitasi Doulos untuk disembuhkan sambil dicekoki Injil supaya murtad dari Islam. –
(lihat : Republika, 10 dan 12 April 1999).

note : artikel di atas telah dimuat dalam Mukaddimah Labbaik, edisi : 035/th.04/DzulQoidah–DzulHijjah 1428H/2007M


ZIARAH KE MASJID RASUL SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Januari 22, 2008

Pertama : Disunatkan bagi anda pergi ke Madinah kapan saja, dengan niat ziarah ke Masjid Nabawi dan shalat di dalamnya. Karena shalat di Masjid Nabawi lebih baik dari pada seribu kali shalat di masjid lain, kecuali Masjid Haram.

Kedua : Ziarah ke Masjid Nabawi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ibadah haji, oleh karena itu tidak perlu berihram maupun membaca talbiyah.

Ketiga : Apabila anda telah sampai di Masjid Nabawi, masuklah dengan mendahulukan kaki sebelah kanan, bacalah ” Bismillahir-Rahmanir-Rahim” dan salawat untuk Nabi Muhammad SAW. Dan mohonlah kepada Allah agar Ia membukakan untuk anda segala pintu rahmat-Nya, dan bacalah :”‘Audzu billahil-‘azhiimi wa-wajhihil-kariimi wa-sulthanihil-qadiimi minas syaithanir-rajiimi, Allahuma iftahlii abwaba rahmatika”. (“Artinya : Aku berlindung kepada Allah yg Maha Agung, kepada wajah-Nya yang Maha Mulia, dan kepada kekuasaan-Nya yang Maha Dahulu (Qadim), dari godaan syetan yang terkutuk. Ya Illahi, bukakanlah bagiku segala pintu rahmat-Mu”).
Do’a ini juga dianjurkan untuk dibaca setiap masuk masjid-masjid yang lain.

Keempat : Setelah memasuki Masjid Nabawi, segeralah anda melakukan shalat sunnah Tahiyat-al-masjid. Baik juga shalat ini dilakukan di Raudhah, jika tidak mungkin , maka lakukanlah di tempat lain didalam masjid itu.

Kelima : Kemudian menujulah ke kubur Rasulullah SAW, dan berdirilah di depannya menghadap ke arahnya, kemudian ucapkanlah dengan sopan dan suara lirih :”Assalamu ‘alaika ayuhal-nabiyyu warahmatullahi wabarakaatuhu”. (“Artinya : Semoga salam sejahtera, rahmat IIlahi dan berkah-Nya terlimpah kepadamu wahai Nabi (Muhammad)”. “Allahuma atihil-lawasilata walfadhiilah wab’astuhul-maqamal- mahmuuda-ladzii wa’adutahu, Allahuma ijazihi ‘an umatihi afdhalal-jazaai”. (“Artinya : Ya Allah, berilah beliau kedudukan tinggi di sorga serta kemulyaan, dan bangkitkanlah beliau di tempat terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya. Ya Allah, limpahkan lah kepadanya sebaik-baik pahala, beliau yang telah menyampaikan risalah kepada umatnya”.) Kemudian bergeserlah anda sedikit ke sebelah kanan, agar dapat berada di hadapan kubur Abu Bakar Ra., ucapkanlah salam kepadanya dan berdo’alah memohonkan ampunan dan rahmat Illahi untuknya. Kemudian bergeserlah lagi sedikit kesebelah kanan, agar anda dapat berada di hadapan kubur Umar Ra., ucapkanlah salam dan berdo’alah untuknya.

Keenam : Disunatkan bagi anda berziarah ke Masjid Quba’ dalam keadaan telah bersuci dari hadats, dan lakukan shalat didalamnya, karena Nabi SAW melakukan hal itu dan menganjurkannya.

Ketujuh : Disunatkan pula bagi anda berziarah ke pekuburan Baqi kubur Utsman Ra. di Baqi, dan juga kubur para Syuhada’ Uhud dan kubur Hamzah Ra., ucapkanlah salam dan berdo’alah untuk mereka, karena Nabi SAW pernah menziarahi mereka dan berdo’a untuk mereka, dan beliau pun mengajarkan para sahabat beliau apabila mereka berziarah agar mengucapkan :
“Assalamu ‘alaikum ahladdiyar minal-mu’miniina wal muslimiina wa-inaa insyaa allahu bikum laahiquuna nas alullaha lanaa walaku mul ‘aafiyah” (“Artinya : Semoga salam sejahtera terlimpah untuk kamu sekalian, wahai para penghuni kubur yang mu’min dan muslim, dan kamipun insya Allah akan menyusul kamu sekalian, semoga Allah mengaruniai keselamatan untuk kami dan kamu sekalian”.)

Di Madinah Munawwarah tidak ada masjid ataupun tempat yang disunatkan untuk di ziarahi, selain Masjid Nabawi dan tempat-tempat yang tersebut tadi, oleh karena itu janganlah anda memberatkan diri atau berpayah-payah mengerjakan sesuatu yang tidak ada pahalanya, bahkan mungkin anda akan mendapatkan dosa karena perbuatan tersebut. –
Wallahu waliyyut-taufiq

[Dari buku Petunjuk Jama’ah Haji dan Umrah Serta Penziarah Masjid Rasul SAW, Pengarang : Kumpulan Ulama, hal. 28-31, penerbit Departement Agama, Waqaf, Dakwah dan Bimbingan Islam, Saudi Arabia]
http://almanhaj.or.id/
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 035/th.04/DzulQoidah–DzulHijjah 1428H/2007M


Kewajiban Menunaikan Haji Hanya Sekali Seumur Hidup

Januari 22, 2008

Bagi orang yang telah memiliki kemampuan dan memenuhi segala persyaratan, wajib untuk segera melaksanakan ibadah haji. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam :
“Barangsiapa hendak melaksanakan haji, hendaklah segera ia lakukan, karena terkadang seseorang itu sakit, binatang (kendaraannya) hilang, dan adanya suatu hajat yang menghalangi.”( HR. Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh al-Albani. Lihat Shahih Ibni Majah No. 2331).
Dan sabda beliau :”Bersegeralah melaksanakan haji, karena sesungguhnya salah seorang di antara kamu tidak mengetahui apa yang akan merintanginya.”( HR. Ahmad dan dihasankan oleh al-Albani dalam Irwaa-ul Ghaliil No. 990).)

Kewajiban Haji Hanya Sekali Seumur Hidup
Melaksanakan ibadah haji dan umrah diwajibkan hanya sekali seumur hidup bagi setiap orang yang telah memenuhi persyaratan dibawah ini:
* Muslim.
* Baligh.
* Berakal.
* Merdeka (bukan hamba sahaya).
* Memiliki kemampuan (istitha’ah).

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “…Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah…” (QS. Ali ‘Imran: 97)
Dan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda dalam sebuah khutbahnya, yang artinya, “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kamu untuk melaksanakan haji, maka laksanakanlah haji ! Lalu seorang Sahabat bertanya : ‘Apakah pada setiap tahun, ya Rasulullah ?’. Beliau pun diam hingga orang itu mengulangi pertanyaannya tiga kali. Kemudian beliau bersabda :’Seandainya aku mengatakan: ‘Ya’, niscaya akan menjadi wajib dan pasti kalian tidak akan mampu (melaksanakannya). Selanjutnya kata beliau :’Biarkan aku, apa-apa yang kubiarkan bagimu, karena sesungguhnya orang-orang sebelummu telah dibinasakan hanya karena banyaknya pertanyaan dan penyelisihan mereka terhadap Nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepadamu, maka kerjakanlah semampumu, dan jika aku melarangmu dari sesuatu, maka tinggalkanlah.'” ( HR. Muslim. Lihat Mukhtasar Shahih Muslim ditahqiq oleh al-Albani No. 639, dan an-Nasa-i: 5/110, lihat pula kitab al-Wajiz hal: 230.)

Pembatal-Pembatal Haji
Ibadah haji menjadi batal (tidak sah) karena melaksanakan salah satu dari dua hal sebagai berikut :
* Jima’ (hubungan intim suami isteri) yang dilakukan sebelum melempar jumratul ‘Aqabah. Adapun apabila dilakukan sesudah melempar jumratul ‘Aqabah dan sebelum melaksanakan thawaf Ifadhah, maka hal itu tidak membatalkan hajinya. Meski demikian, pelakunya (tetap) berdosa.
* Meninggalkan salah satu diantara rukun-rukun haji.
Apabila haji seseorang batal karena melaksanakan satu dari dua hal tersebut di atas, maka dia berkewajiban untuk mengulangi ibadah hajinya pada tahun berikutnya jika mampu. Sesuai dengan apa yang telah dijelaskan pada “Makna Istitha’ah”. Namun jika tidak mampu, maka kapan saja ia mampu (wajib baginya untuk mengulangi hajinya,-Pent) sebab, kewajiban bersegera dalam ibadah haji tergantung pada adanya kemampuan.

[Dari Kajian Islam : Meneladani Manasik haji Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, oleh : Mubarak bin Mahfudh Bamualim Lc. – http://www.AlSofwah.or.id]

Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :”Bersegeralah melaksanakan haji, karena sesungguhnya salah seseorang di antara kamu tidak mengetahui apa yang akan merintanginya.”
( HR.Ahmad dan dihasankan oleh al-Albani dlm Irwaa-ul Ghaliil No.990).
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 035/th.04/DzulQoidah–DzulHijjah 1428H/2007M


Beberapa Kesalahan Dalam Melakukan Ibadah Haji

Januari 22, 2008

Pertama : Beberapa Kesalahan Dalam Ihram.
Melewati miqat dari tempatnya tanpa berihram dari miqat tersebut, sehingga sampai di Jeddah atau tempat lain di daerah miqat, kemudian melakukan ihram dari tempat itu. Hal ini menyalahi perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengharuskan setiap jama’ah haji agar berihram dari miqat yang dilaluinya.
Maka bagi yang melakukan hal tersebut, agar kembali ke miqat yang dilaluinya tadi, dan berihram dari miqat itu kalau memang memungkinkan. Jika tidak mungkin, maka ia wajib membayar fidyah dengan menyembelih binatang kurban di Mekkah dan memberikan keseluruhannya kepada orang-orang fakir. Ketentuan tersebut berlaku bagi yang datang lewat udara, darat maupun laut. Jika tidak melintasi salah satu dari kelima miqat yang sudah maklum itu, maka ia dapat berihram dari tempat yang sejajar dengan miqat pertama yang dilaluinya.

Kedua : Beberapa Kesalahan Dalam Tawaf.
[1] Memulai tawaf sebelum Hajar Aswad, sedang yang wajib haruslah dimulai dari Hajar Aswad.
[2] Tawaf didalam Hijr Ismail. Karena yang demikian itu berarti ia tidak mengelilingi seluruh Ka’bah, tapi hanya sebagiannya saja, karena Hijir Ismail itu termasuk Ka’bah. Maka dengan demikian Tawafnya tidak sah (batal).
[3] Ramal (berjalan cepat) pada seluruh putaran yang tujuh. Padahal ramal itu hanya dilakukan pd tiga putaran pertama, itupun tertentu dalam tawaf Qudum saja.
[4] Berdesak-desakan untuk dapat mencium Hajar Aswad, dan kadang-kadang sampai pukul-memukul dan saling mencaci-maki. Hal itu tidak boleh, karena dapat menyakiti sesama muslim disamping memaki dan memukul antar sesama muslim itu dilarang kecuali dengan jalan yang dibenarkan oleh Agama. Tidak mencium Hajar Aswad sebenarnya tidak membatalkan Tawaf, bahkan Tawafnya tetap dinilai sah sekalipun tidak menciumnya. Maka cukuplah dengan berisyarat (mengacungkan tangan) dan bertakbir disaat berada sejajar dengan Hajar Aswad, walaupun dari jauh.
[5] Mengusap-ngusap Hajar Aswad dengan maksud untuk mendapatkan barakah dari batu itu. Hal ini adalah bid’ah, tidak mempunyai dasar sama sekali dalam syari ‘at Islam. Sedang menurut tuntunan Rasulullah cukup dengan menjamah dan menciumnya saja, itupun kalau memungkinkan.
[6] Menjamah seluruh pojok Ka’bah, bahkan kadang-kadang menjamah dan mengusap-ngusap seluruh dindingnya. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menjamah bagian-bagian Ka’bah kecuali Hajar Aswad dan Rukun Yamani saja.
[7] Menentukan do’a khusus untuk setiap putaran dalam tawaf. Karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun yang beliau lakukan setiap melewati Hajar Aswad adalah bertakbir dan pada setiap akhir putaran antara Hajar Aswad dan rukun Yamani beliau membaca :” Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wa fil akhirati hasanah wa qinaa ‘adzaa bannaar” Artinya : “Wa hai Tuhan kami, berilah kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksaan api neraka”.
[8] Mengeraskan suara pada waktu Tawaf sebagaimana dilakukan oleh sebagian jama’ah atau para Mutawwif, yang dapat mengganggu orang lain yang juga melekukan tawaf.
[9] Berdesak-desakan untuk melakukan shalat di dekat Maqam Ibrahim. Hal ini menyalahi sunnah, disamping mengganggu orang-orang yang sedang Tawaf. Maka cukup melakukan shalat dua raka’at Tawaf itu di tempat lain didalam Masjid Haram.

Ketiga : Beberapa Kesalahan Dalam Sa’i.
[1] Ada sebagian jama’ah haji, ketika naik ke atas Safa dan Marwah, mereka menghadap Ka’bah dan mengangkat tangan ke arahnya sewaktu membaca takbir, seolah-olah mereka bertakbir untuk shalat. Hal ini keliru, karena Nabi Shallallahu ‘ala ihi wa sallam mengangkat kedua telapak tangan beliau yang mulia hanyalah disaat berdo’a. Di bukit itu, cukuplah membaca tahmid dan takbir serta berdo’a kepada Allah sesuka hati sambil menghadap Kiblat. Dan lebih utama lagi membaca dzikir yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat beliau di bukit Safa dan marwah.
[2] Berjalan cepat pada waktu Sa’i antara Safa dan Marwah pada seluruh putaran. Padahal menurut sunnah Rasul, berjalan cepat itu hanyalah dilakukan antara kedua tanda hijau saja, adapaun yang lain cukup dengan berjalan biasa.

Keempat : Beberapa Kesalahan di Arafah.
[1] Ada sebagian jama’ah haji yang berhenti di luar batas Arafah dan tetap tinggal di tempat tersebut hingga terbenam matahari. Kemudian mereka berangkat ke Muzdalifah tanpa berwuquf di Arafah. Ini suatu kesalahan besar, yang mengakibatkan mereka tidak mendapatkan arti haji. Karena sesungguhnya haji itu ialah wuquf di Arafah, untuk itu mereka wajib berada di dalam batas Arafah, bukan diluarnya. Maka hendaklah mereka selalu memperhatikan hal wuquf ini dan berusaha untuk berada dalam batas Arafah. Jika mendapatkan kesulitan, hendaklah mereka memasuki Arafah sebelum terbenam matahari, dan terus menetap disana hingga terbenam matahari. Dan cukup bagi mereka masuk Arafah di waktu malam khususnya pada malam hari raya kurban.
[2] Ada sebagian mereka yang pergi meninggalkan Arafah sebelum terbenam matahari. Ini tidak boleh, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melakukan wuquf di Arafah sampai matahari terbenam dengan sempurna.
Berdesak-desakan untuk dapat naik ke atas gunung Arafah dan sampai ke puncaknya, yang dapat menimbulkan banyak mudarat. Sedangkan seluruh padang Arafah adalah tempat berwuquf, dan naik ke atas gunung Arafah tidak disyari’atkan, begitu juga shalat di tempat itu.
[3] Ada sebagian jama’ah haji yang menghadap ke arah gunung Arafah ketika berdo’a. Sedang menurut sunnah, adalah menghadap Kiblat.
[4] Ada sebagian jama’ah haji membikin gundukan pasir dan batu kerikil pada hari Arafah di tempat-tempat tertentu. Ini suatu perbuatan yang tidak ada dasarnya sama sekali dalam syari’at Allah.

Kelima : Beberapa Kesalahan di Muzdalifah.
Sebagian jama’ah haji, di saat pertama tiba di Muzdalifah, sibuk dengan memungut batu kerikil sebelum melaksanakan shalat Maghrib dan Isya dan mereka berkeyakinan bahwa batu-batu kerikil pelempar Jamrah itu harus diambil dari Muzdalifah.
Yang benar, adalah dibolehkannya mengambil batu-batu itu dari seluruh tempat di Tanah Haram. Sebab keterangan yang benar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwasanya beliau tak pernah menyuruh agar dipungutkan untuk beliau batu-batu pelempar Jamrah Aqabah itu dari Muzdalifah. Hanya saja beliau pernah dipungutkan untuknya batu-batu itu diwaktu pagi ketika meninggalkan Muzdalifah setelah masuk Mina. Ada pula sebagian mereka yang mencuci batu-batu itu dengan air, padahal inipun tidak disyari’atkan.

Keenam : Beberapa Kesalahan Ketika Melempar Jamrah.
[1] Ketika melempar Jamrah, ada sebagian jama’ah haji yang beranggapan, bahwa mereka itu adalah melempar syaithan. Mereka melemparnya dengan penuh kemarahan disertai dengan caci maki terhadapnya. Padahal melempar Jamrah itu hanyalah semata-mata disyari’atkan untuk melaksanakan dzikir kepada Allah.
[2] Sebagian mereka melempar Jamrah dengan batu besar, atau dengan sepatu, atau dengan kayu. Perbuatan ini adalah berlebih-lebihan dalam masalah agama, yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang disyariatkan dalam melemparnya hanyalah dengan batu-batu kecil sebesar kotoran kambing.
[3] Berdesak-desakan dan pukul-memukul didekat tempat-tempat Jamrah untuk dapat melempar. Sedang yang disyari’atkan adalah agar melempar dengan tenang dan hati-hati, dan berusaha semampu mungkin tanpa menyakiti orang lain.
[4] Melemparkan batu-batu tersebut seluruhnya sekaligus. Yang demikian itu hanya dihitung satu batu saja, menurut pendapat para Ulama. Dan yang disyariatkan, adalah melemparkan batu satu persatu sambil bertakbir pada setiap lemparan.
[5] Mewakilkan untuk melempar, sedangkan ia sendiri mampu, karena menghindari kesulitan dan desak-desakan. Padahal mewakilkan untuk melempar itu hanya dibolehkan jika ia sendiri tidak mampu, karena sakit atau semacamnya.

Ketujuh : Beberapa Kesalahan Dalam Tawaf Wada’.
[1] Sebagian jamaah haji meninggalkan Mina pada hari Nafar (tgl. 12 atau 13 DzulHijjah) sebelum melempar Jamrah, dan langsung melakukan Tawaf Wada’, kemudian kembali ke Mina untuk melempar Jamrah. Setelah itu, mereka langsung pergi dari sana menuju negara masing-masing ; dengan demikian akhir perjumpaan mereka adalah dengan tempat-tempat Jamrah, bukan dengan Baitullah. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Janganlah sekali-kali seseorang meninggalkan Mekkah, sebelum mengakhiri perjumpaannya (dengan melakukan Tawaf) di Baitullah”. Maka dari itu, Tawaf Wada wajib dilakukan setelah selesai dari seluruh amalan haji, dan langsung beberapa saat sebelum bertolak. Setelah melakukan Tawaf Wada’ hendaknya jangan menetap di Mekkah, kecuali untuk sedikit keperluan.
[2] Seusai melakukan Tawaf Wada’, sebagian mereka keluar dari Masjid dengan berjalan mundur sambil menghadapkan muka ke Ka’bah, karena mereka mengira bahwa yg sedemikian itu adalah merupakan penghormatan terhadap Ka’bah. Perbuatan ini adalah bid’ah, tidak ada dasarnya sama sekali dalam agama.
[3] Saat sampai di pintu Masjid Haram, setelah melakuan Tawaf Wada’, ada sebagian mereka yang berpaling ke Ka’bah dan mengucapkan berbagai do’a seakan-akan mereka mengucapkan selamat tinggal kepada Ka’bah. Ini pun bid’ah, tidak disyari ‘atkan.

Kedelapan : Beberapa Kesalahan Ketika Ziarah ke Masjid Nabawi.
[1] Mengusap-ngusap dinding dan tiang-tiang besi ketika menziarahi kubur Rasul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengikatkan benang-benang atau semacamnya pada jendela-jendela untuk mendapatkan berkah. Sedangkan keberkahan hanyalah terdapat dalam hal-hal yang disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan dalam bid’ah.
[2] Pergi ke gua-gua di Gunung Uhud, begitu juga ke Gua Hira dan Gua Tsur di Mekkah, dan mengikatkan potongan-potongan kain di tempat tempat itu, disamping membaca berbagai do’a yang tidak diperkenankan oleh Allah, serta bersusah payah untuk melakukan hal-hal tersebut. Kesemuanya ini adalah bid’ah, tidak ada dasarnya sama sekali dalam Syari’at Islam yang suci ini.
[3] Menziarahi beberapa tempat yang dianggapnya sebagai tanda peninggalan Rasul Allah Shallallahu alaihi wa sallam, seperti tempat mendekamnya unta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sumur khatam mupun sumur Usman, dan mengambil pasir dari tempat-tempat ini dengan mengharapkan barakah.
[4] Memohon kepada orang-orang yang telah mati ketika berziarah ke pekuburan Baqi’ dan Syhadah Uhud, serta melemparkan uang ke pekuburan itu demi mendekatkan diri dan mengharapkan barakah dari penghuninya. Ini adalah termasuk kesalahan besar, bahkan termasuk perbuatan syirik yang terbesar, menurut pendapat para Ulama, berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya ibadah itu hanyalah ditujukan kepada Allah semata, tidak boleh sama sekali mengalihkan tujuan ibadah selain kepada Allah, seperti dalam berdo’a, menyembelih kurban, bernadzar dan jenis ibadah lainnya, karena firman Allah, yang artinya :”Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”. (QS.Az-Zumar : 11).
Kita memohon kepada Allah, semoga Ia memperbaiki keadaan ummat Islam ini dan memberi mereka kefahaman dalam agama serta melindungi kita dan seluruh ummat Islam dari fitnah-fitnah yang menyesatkan. Sesungguhnya Ia Maha Mendengar dan Mengabulkan do’a hamba-Nya.

[Dari buku Petunjuk Jama’ah Haji dan Umrah serta Penziarah Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Pengarang Kumpulan Ulama, hal 31-37, diterbitkan dan diedarkan oleh Departement Agama dan Waqaf Dakwah dan Bimbingan Islam, Saudi Arabia]
Sumber :http://almanhaj.or.id/
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 035/th.04/DzulQoidah–DzulHijjah 1428H/2007M


Tidak Berhaji Namun Mendapat Pahala Haji Mabrur

Januari 22, 2008

Suatu ketika Hasan Al-Basyri menunaikan ibadah haji. Ketika beliau sedang istirahat, beliau bermimpi. Dalam mimpinya beliau melihat dua Malaikat sedang membicarakan sesuatu.
“Rasanya orang yang menunaikan haji tahun ini, banyak sekali,” komentar salah satu Malaikat. “Betul,” jawab malaikat yang lain. “Berapa kira-kira jumlah keseluruhan ?”
“Tujuh ratus ribu.”
“Pantas.”
“Kamu tahu nggak, dari jumlah tersebut berapa kira-kira yang mabrur ?”, Tanya Malaikat yang mengetahui jumlah orang-orang haji tahun itu.
“Wah, itu sih urusan Allah.”
“Dari jumlah itu, tak satupun yang mendapatkan haji Mabrur.” “Kenapa ?”
“Macam-macam, ada yang karena riya’, ada yang tetangganya lebih memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah haji, ada yang hajinya sudah berkali-kali, sementara masih banyak orang yang tidak mampu, dan berbagai sebab lainnya.”
“Terus ?”
“Tapi masih ada, orang yang mendapatkan pahala haji mabrur, tahun ini.”
“Katanya tidak ada sama sekali ?!”.
“Ya, karena orangnya tidak naik haji.”
“Bagaimana bisa begitu ?”.
“Begitulah yang terjadi”.
“Siapa orang tersebut ?”
“Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq.”
Mendengar ucapan itu, Hasan Al-Basyri langsung terbangun.

Sepulang dari Makkah, ia tidak langsung ke Mesir, tapi langsung menuju kota Damsyiq (Syria). Sesampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, dan memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.
“Ada, ditepi kota,” jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana Hasan Al-Basyri menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh.
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah ?” tanya Hasan Al-Basyri.
“Betul, kenapa ?”

Sejenak Hasan Al-Basyri kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaannya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya.
“Sekarang saya tanya, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, barangkali mimpi itu benar,” selidik Hasan Al-Basyri sambil mengakhiri ceritanya.
“Saya sendiri tidak tahu, yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya memang sangat rindu Makkah, untuk menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan tahun ini biaya itu sebenarnya telah tercukupi.”
“Tapi anda tidak berangkat haji ?.”
“Benar”
“Kenapa ?”
“Waktu saya hendak berangkat ternyata istri saya hamil, dan saat itu dia sedang ngidam.”
“Terus ?”
“Ngidamnya aneh, saya disuruh membelikan daging yang dia cium, saya cari sumber daging itu, ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh, disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang tidak boleh, hingga saya bilang bahwa dijual berapapun akan saya beli, dia tetap menolak. Akhirnya saya tanya, kenapa ?.”
“Daging ini halal untuk kami dan haram untuk Tuan,” katanya.
“Kenapa ?” tanyaku lagi.
“Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah halal, ka rena andai kami tak memakannya tentulah kami akan mati kelaparan,” jawabnya sambil menahan air mata.
Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang, saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis. Akhirnya uang bekal hajiku kuberikan semuanya untuk dia.”

Mendengar cerita tersebut Hasan Al-Basyri pun tak bisa menahan air mata. “Kalau begitu engkau memang patut mendapatkannya,” ucapnya.
Wallahu a’lam.

[Kisah ini diceritakan oleh Imam dan Khotib Masjid Rohmah, Cairo Mesir. Shahih tidaknya tidak disebutkan. Meski demikian kisah ini perlu menjadi renungan].
(dari : Milis Padhang Mbulan : Senin, 27 Juli 2004)
http://www.geocities.com/ahmad_dir/tarbiyah/saidibnumuhafah.html

Arti Kemampuan Melaksanakan Haji
Pertanyaan :”Apakah yang dimaksudkan kemampuan melaksanakan haji ? Apakah pahala haji yang terbesar ketika pergi ke Mekkah ataukah setelah kembali darinya ? Dan apakah pahala haji di sisi Allah lebih besar jika dia kembali dari Mekkah menuju tanah airnya ?

Jawaban :”Arti kemampuan dalam haji adalah sehat badan, ada kendaraan sampai ke Masjidil Haram, baik dengan kapal terbang, mobil, binatang atau ongkos membayar kendaraan sesuai keadaan. Juga memiliki bekal yang cukup selama perjalanan sejak pergi sampai pulang. Dan perbekalan itu harus merupakan kelebihan dari nafkah orang-orang yang menjadi tanggungannya sampai dia kembali dari haji. Dan jika yang haji atau umrah seorang perempuan maka harus bersama suami atau mahramnya.
Adapun pahala haji maka tergantung kadar keikhlasannya kepada Allah, ketekunan melaksanakan manasik, menjauhi hal-hal yang merusak kesempurnaan haji dalam mencurahkan harta dan tenaga, baik dia kembali, mukim, atau meninggal sebelum merampungkan haji ataupun setelahnya. Allah Maha Mengetahui kondisi seseorang akan memberikan balasannya. Sedang kewajiban setiap mukallaf adalah beramal dengan tekun dan memperhatikan amalnya dalam kesesuaiannya dengan syari’at secara lahir dan batin seakan dia melihat Allah. Sebab meskipun dia tidak dapat melihat-Nya tapi Allah selalu melihat dia dan memperhatikan setiap gerak hati dan langkah fisiknya. Maka janganlah seseorang mencari-cari apa yang menjadi hak Allah. Karena Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, melipat-gandakan pahala kebaikan, mengampuni keburukan dan tidak akan menzhalimi siapa pun. Maka hendaklah setiap orang memperhatikan dirinya dan membiarkan apa yang menjadi hak Allah.
Dan dalam pertanyaan yag sama, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin menjawab sbb :”Tentang kemampuan haji dijelaskan dalam hadits, yaitu bila seorang mendapatkan bekal dan kendaraan. Barangkali yang lebih umum dari itu adalah, bahwa orang yang mampu sampai ke Mekkah dengan cara apapun maka dia wajib haji dan umrah. Jika dia mampu dengan berjalan dan membawa bekalnya atau mendapatkan orang yang membawakan bekalnya maka dia wajib haji. Jika seseorang mempunyai ongkos transportasi modern seperti kapal laut, kapal udara dan mobil, maka dia wajib haji. Dan jika dia mendapatkan bekal dan kendaraan, tapi tidak mendapatkan orang yang menjaga harta dan keluarganya, atau tidak mendapatkan apa yang dia nafkahkan kepada keluarganya selama dia pergi haji maka dia tidak wajib haji karena dia tidak mempunyai kemampuan. Demikian pula jika di jalan terdapat sesuatu yang menakutkan atau ditakutkan seperti perampok, atau diharuskan membayar pajak mahal, atau waktunya tidak cukup untuk sampai ke Mekkah, atau tidak mampu naik kendaraan apapun karena sakit atau akan mendatangkan mudharat lebih berat, maka kewajiban haji gugur darinya dan dia wajib menggantikannya kepada orang lain jika dia mempunyai kemampuan harta, dan jika tidak maka tidak wajib haji.
Wallahu a’lam. – (Oleh : Al-Lajnah Ad-Daiman Lil Ifta)

[Dari Buku Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah, penulis Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad, penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i hal. 54-56. Penerjemah H.Asmuni Solihan Zamakhsyari Lc.]
http://almanhaj.or.id/
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 035/th.04/DzulQoidah–DzulHijjah 1428H/2007M


Menanti Undangan Allah SWT

Januari 22, 2008

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkarinya, maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (QS. Ali Imran: 97). SETIAP orang yang berusaha taat menjalankan perintah Allah, pasti menginginkan bisa menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Siapapun dia, kaya atau miskin. Tetapi, tak jarang pula orang yang telah dicukupkan hartanya dan diberi nikmat sehat, sering menunda-nunda kewajiban tersebut dengan berbagai alasan. Sementara, sebagian orang belum mampu berangkat haji karena masalah uang.

Sahabat, perkara haji sama sekali bukan perkara ada tidaknya uang. Betapa banyak orang yang dititipi harta melimpah, tapi tetap saja ia tidak bisa berangkat haji. Tak sedikit di antara mereka pulang-pergi ke luar negeri, namun toh tetap tidak pernah sampai ke Tanah Suci. Mengapa demikian ? Seseorang bisa menunaikan ibadah haji apabila telah di “diundang” oleh Allah Yang Mahakaya. Allah mengundang hamba-Nya disebabkan karena dua hal. Ada yang diundang karena niatnya baik, dan ada pula yang diundang karena niatnya jelek. Ada yang membedakan antara dua kelompok orang ini yaitu setelah kepulangannya dari Tanah Suci.

Yang pertama, akan menyandang gelar haji mabrur dan yang kedua menyandang gelar haji mardud. Apa yang menyebabkan haji seseorang itu mabrur atau mardud ? Penyebab utamanya adalah faktor niat. Bila seseorang pergi haji karena ingin mendapatkan titel haji agar terlihat lebih bonafid, misalnya, maka niat seperti ini hanya akan menjerumuskan diri pada kesia-siaan. Ibadah haji adalah panggilan hati dan kewajiban setiap Muslim. Bahkan, dapat dianggap hutang bila belum ditunaikan. Alangkah indahnya andai sebelum mati, kita bisa menggenapkan keislaman kita, hingga Allah pun berkenan menyempurnakan karunia nikmatnya pada kita.

Motivasi kedua adalah ingin menghapus dosa. Dosa-dosa itu Insya Allah akan terhapuskan bila hajinya diterima. Jika kita sudah memiliki keyakinan seperti ini, sebesar apapun biaya yang harus dikeluarkan untuk ibadah haji, maka akan terasa kecil nilainya dibandingkan dengan hikmah dan manfaat yang diperoleh. Bukankah uang yang kita keluarkan itu hakikatnya milik Allah juga ?

Yang ketiga adalah jaminan dari Allah dan Rasul-Nya bahwa tiada balasan yang lebih pantas bagi haji mabrur, kecuali surga ! Barangsiapa yakin dengan janji ini, niscaya nilai harta yang dikeluarkan terlalu murah bila dibandingkan dengan pahala yang akan didapat. Betapa tidak, sudah dosa diampuni, mendapat jaminan surga, semua biaya yang telah dikeluarkan pun insya Allah akan diganti dengan berlipat ganda ketika di dunia ini juga. Belum pernah terdengar ada orang yang pulang dari Tanah Suci dan setelah pulangnya itu nampak sekali banyak perubahan ke arah yang lebih baik dibanding sebelum berangkat haji, lantas jatuh miskin. Sebaliknya, Allah SWT akan memudahkan ia dalam mendapatkan rezeki. Jadi, tidak ada yang paling merugi di dunia ini, kecuali orang yang tidak mau berhaji padahal ia mampu.

Bagaimana caranya agar Allah SWT berkenan mengundang kita ke rumah-Nya ?
Seseorang yang mencintai sahabatnya, pasti mau berbuat apa saja bagi sahabatnya tersebut. Mungkin, suatu saat ia akan mengundang sang teman ke rumahnya. Andaikan sahabatnya tersebut tidak mempunyai ongkos, ia akan memberinya ongkos bahkan menjemputnya. Semakin dia mencintai sahabatnya, maka akan semakin senang dan ikhlas pula ia menjamunya. Demikian pula bila kita ingin diundang oleh Allah. Jadilah orang yang dicintai-Nya. Bila kita sudah dicintai Allah, maka Allah-lah yang akan memudahkan kita agar dapat menghadap-Nya. Kuncinya, amalkan semua perbuatan yang disukai Allah. Ternyata amalan pertama yang paling disukai Allah adalah shalat tepat waktu. Syarat ini terlihat begitu sederhana. Tapi, bila kita mampu istiqamah menjaganya, insya Allah doa kita akan mustajab. Amalan kedua adalah shalat tahajud di sepertiga malam terakhir. Kedudukan shalat sunnat yang satu ini begitu istimewa, bahkan perintahnya beriringan dengan perintah shalat yang lima waktu (QS. Al-Israa: 78). Waktu pelaksanaannya pun menjadi saat yang sangat istimewa bagi diijabahnya doa-doa. Semakin kita gemar membiasakan diri shalat tahajud, maka akan semakin mudah pula kita meraih semua yang dicita-citakan, termasuk menunaikan ibadah haji.

Amalan selanjutnya adalah birul walidain; memuliakan orangtua. Allah SWT berfirman, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (QS. Lukman: 14). Termasuk ke dalam birul walidain ini adalah mendidik anak-anak kita agar menjadi insan-insan shalih yang akan menyelamatkan kita dari adzab neraka–baik dunia maupun akhirat.

Amalan keempat yang disukai Allah adalah sedekah. Siapa saja yang ingin cita-citanya terkabul, hendaklah ia gemar bersedekah. Bersedekah dengan ikhlas, tidak hanya membuat doa-doa kita mustajab, tetapi akan melahirkan pula kebaikan-kebaikan lainnya. Bersedekah tidak harus selalu dengan uang, senyuman yang tulus termasuk pula sedekah. Barangsiapa yang ingin dibahagiakan Allah, maka bahagiakanlah orang lain. Barangsiapa ingin ditolong Allah, maka tolonglah orang lain. Barang siapa ingin dimudahkan urusannya oleh Allah, maka mudahkanlah urusan orang lain. Pendek kata, begitu banyak peluang untuk menjadi hamba yang disukai Allah. Kita ini milik Allah, begitupun harta yang kita miliki. Sebanyak apapun harta yang kita belanjakan di jalan Allah, pasti Ia akan mengganti harta yang kita belanjakan tersebut dengan yang lebih banyak dan berkah. Karena itu Rasulullah SAW jika melepas orang yang berhaji diiringinya dengan sebuah doa, “Semoga Allah menerima hajimu, mengampuni dosamu, dan mengganti biaya-biayamu” (HR. Ad-Dainuri). Jadi, apalagi yang kita cemaskan dari janji-janji Allah tersebut ?.
(oleh : KH. Abdullah Gymnastiar )

http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=7&id=149526&kat_id=105&kat_id1=232&kat_id2=234

Prioritas Amalan
Di antara prioritas yang sebaiknya diterapkan dalam pekerjaan manusia ialah prioritas terhadap perbuatan yang banyak mendatangkan manfaat kepada orang lain. Seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh orang lain, sebesar itu pula keutamaan dan pahalanya di sisi Allah SWT. Oleh sebab itu, jenis perbuatan jihad adalah lebih afdal daripada ibadah haji, karena manfaat ibadah haji hanya dirasakan pelakunya, sedangkan manfaat jihad dirasakan oleh umat. Sehubungan dengan hal ini, Allah SWT berfirman :”Apakah (orang-orang) yg memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yg beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah ? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk; kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda ; diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yg mendapat kemenangan.” (at-Taubah: 19-20)

Berjuang di jalan Allah yang manfaatnya lebih dirasakan oleh umat adalah lebih afdal di sisi Allah dan lebih besar pahalanya daripada ibadah yang kita lakukan berkali-kali, tetapi kemanfaatannya hanya untuk kita sendiri. “Abu Hurairah r.a. berkata, ‘Ada salah seorang sahabat Rasulullah saw yang berjalan di suatu tempat yang memilih sumber mata air kecil, yang airnya tawar, dan dia merasa kagum kepa danya kemudian berkata, ‘Amboi, seandainya aku dapat mengucilkan diri dari manusia kemudian tinggal di tempat ini ! (Yakni untuk beribadah). Namun, aku tidak akan melakukannya sebelum aku meminta izin terlebih dahulu kepada Rasulullah saw.’ Maka Nabi saw bersabda, ‘Jangan lakukan, karena sesungguhnya keterlibatanmu dalam perjuangan di jalan Allah adalah lebih utama daripada shalat selama tujuh puluh tahun. Tidakkah kamu senang apabila Allah SWT mengampuni dosamu, dan memasukkan kamu ke surga. Berjuanglah di jalan Allah. Barangsiapa yang menyingsingkan lengan baju untuk berjuang di jalan Allah, maka wajib baginya surga.”

(Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dianggap sebagai hadits hasan olehnya (1650), beserta Hakim yang menganggapnya sebagai hadits shahih berdasarkan syarat Muslim, dan juga disepakati).
[Dari : FIQH PRIORITAS, Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, Dr.Yusuf Al Qardhawy, Robbani Press, Jakarta Cetakan pertama, Rajab 1416H/Desember 1996M]
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 035/th.04/DzulQoidah – DzulHijjah 1428H/2007M


Ibadah Haji Perjalanan Mencari Teladan Umat

Januari 22, 2008

(Oleh Salahuddin Harahap, MA)

Mengawali tulisan ini, penulis mengajak para pembaca untuk merenungkan sebuah dialog yang sempat direkam ketika penulis sedang berada di kampung halaman. Seorang hamba Allah (calon jamaah haji) yang telah berusia sekitar 62 tahun rahimallauh ‘aliai berkata kepada anak-anaknya sebagai berikut : “Alangkah bahagianya ayah kalau saja kesempatan menunaikan ibada haji ini dapat ayah laksanakan 15 atau 10 tahun yang lalu”. Salah seorang anaknya berkata: ” Wahai ayahanda, sesungguhnya ibadah haji ini lebih sempurna jika dilaksanakan ketika tanggungan kita sudah tiada, agar lebih tenang dan lebih khusyu'”. Lalu sang ayah melanjutkan: “Ketahuilah sesungguhnya bukan umur tua yang mengharapkan ibadah haji, tetapi kerusakan dan kebobrokan akhlak umat inilah yang sedang menunggu-nunggu pembaharuan dari mereka yang berhaji, bukankah yang berangkat haji berarti telah menyempurnakan iman dan akhlaknya, dan bukankah mereka telah mengunjungi rumah Maha Guru Alam Semesta Allah SWT”.

Dialog yang berlangsung begitu sederhana, akan menyusup ke dalam relung perenungan kita, sebab di dalamnya termuat nilai kritik yang cukup mendalam menyangkut motivasi dan orientasi yang mengawal para jama’ah haji kita akhir-akhir ini. Untuk itu, melalui tulisan singkat ini penulis mengajak para pembaca untuk melakukan pemaknaan ulang terhadap tujuan pelaksanaan ibadah haji tersebut.

Ibadah Haji Sebagai Panggilan Nurani dan Intelektual
Ibadah haji adalah salah satu pilar penting yang harus dilaksanakan seorang muslim untuk dapat memperoleh kesempurnaan iman dan keislamannya. Setidaknya hal inilah yang kita pahami dari hadits Rasulullah yang menempatkan ibadah ini pada urutan kelima dari rukun Islam. Sebagai penyempurna keislaman tentu ibadah ini memiliki nilai dan hikmah penting dan strategis bagi pembinaan kepribadian seorang muslim baik sebagai individu maupun sebagai suatu umat. Hal tersebut karena sesungguhnya makna pemberdayaan dan pembaharuan yang terdapat dalam ibadah ini jauh lebih tinggi ketimbang makna “‘ubudiyahnya” sebagai salah satu ibadah mahdhah.

Setiap ibadah memiliki makna lahir dan makna batin, sebagaimana ia juga memiliki orientasi individual dan sosial. Makna lahir suatu ibadah biasanya dapat ditemukan dengan penyempurnaan syarat dan rukunnya yang semuanya telah diatur dalam fiqh. Sementara makna batin ibadah akan ditemukan melalui perenungan dan penghayatan secara intelektual dan spiritual hingga menyentuh aspek terdalam dan aspek sosial suatu ibadah yang hal ini terkandung dalam dimensi hikmah (‘irfan) atau ihsan. Seorang hamba yang hanya mendasarkan ibadahnya kepada makna lahir, tidak akan memperoleh apa-apa kecuali sebatas gugurnya kewajiban syar’i. Ibadah haji yang dilaksanakan tanpa dasar spiritual dan intelektual yang memadai tidak akan memberikan pengaruh apa-apa kecuali perolehan titel “Pak Haji atau Bu Hajjah” yang menghiasi namanya dan lepasnya ia dari kewajiban.

Padahal yang mewajibkan seseorang untuk melaksanakan ibadah haji selain pemenuhan pelbagai syarat yang tersimpul dalam istitha’ah, juga karena ia mendapat panggilan nurani dan panggilan intelektual. Yang dimaksud dengan panggilan nurani dan panggilan intelektual adalah kesiapan seorang hamba untuk melakukan pertemuan dengan Allah melalui jalan spiritual.
Berhaji dalam pandangan filosofi adalah diundangnya seorang hamba ke rumah Allah untuk kemudian mengadakan dialog spiritual dengan Allah agar memperoleh jawaban atas setiap persoalan yg dihadapinya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, baik masalah iman maupun persoalan-persoalan keumatan. Inilah yg menyebabkan hampir seluruh Nabi Allah dan para ulama kita telah melakukan kunjungan ke baitullah ini ketika mereka memulai dakwahnya atau menemukan kesulitan dalam menjalankan dakwahnya. Rasulullah SAW sendiri senantiasa menjadikan pelaksanaan ibadah haji sebagai wadah melakukan dialog dengan Allah dalam mencari jalan keluar dari setiap persoalan yang dihadapinya di lapangan dakwah. Karenanya setiap kali seorang hamba melaksanakan ibadah haji, hendaknya ia mampu mendorong lahirnya sebuah pembaharuan di tengah-tengah umat atau minimal dalam dirinya.

Tentu saja untuk mendapatkan panggilan spiritual dan intelektual ini, seorang hamba harus melakukan persiapan-persiapan lahir dan batin. Seorang hamba akan merasa dipanggil oleh Tuhannya ketika ia senantiasa menjalin komunikasi spiritual dan intelektual dengan Tuhannya, hingga ia benar-benar mengenal Tuhannya, mencintainya, dan merasa rindu untuk segera bertemu dengan-Nya. Bagaimana mungkin yang tidak kenal kemudian memiliki kerinduan, dan bagaimana mungkin yang tidak memiliki rasa rindu bergegas ingin bertemu. Selanjutnya bagaimana mungkin pertemuan dengan yang tidak dikenal dan tidak pernah diingat akan berlangsung secara hangat dan bernilai.

Ibadah Haji dan Keteladanan
Akhir-akhir ini kita sedang dihadapkan pada satu trend keberagamaan baik di kalangan artis, pengusaha, pejabat, dan orang-orang kaya lainnya termasuk beberapa orang tokoh agama atau yang mengaku ulama. Trend tersebut adalah berlomba-lomba untuk memperbanyak melaksanakan ibadah haji dan umrah. Harapan setiap ibadah yg dilakukan berulang kali adalah melahirkan kesempurnaan, tapi tentu hal tersebut mengandung sejumlah syarat. Kesempurnaan haji seseorang sangat ditentukan oleh perubahan yang diperolehnya pasca pelaksanaan ibadah tersebut. Sebab haji yang baik adalah yang mampu melahirkan pembaharuan baik di dalam diri pelaksananya maupun di tengah-tengah masyarakatnya. Seorang artis yang berangkat haji atau umrah hendaknya tidak menganggap ibadah tersebut sebagai sungai atau air yang akan membersihkan dosa-dosanya, sehingga meyakini bahwa semakin sering melaksanakannya ia akan merasa semakin suci, tetapi harus disadari bahwa profesi dan ketenarannya sama sekali tidak membuatnya lebih istimewa di hadapan Allah.

Sehingga dalam hajinya, ia harus mampu bertekad untuk merubah orientasi hidup dan profesinya dari sekedar mencari ketenaran, hiburan, dan menambah materi menuju pencerahan, mendidik akhlak dan tradisi umat, serta membantu umat untuk dapat keluar dari kesulitan hidupnya, bukan justru menambah masalah. Pasca pelaksanaan ibadah haji para artis diharapkan dapat tampil sebagai teladan khususnya di kalangan rekannya satu profesi, baik dari gaya hidup, keberagamaan, dan pemeliharaan akhlak. Para artis yang telah berhaji hendaknya mampu melahirkan paradigma baru di dunia artistik, bahwa profesi sebagai artis sama sekali tidak harus merendahkan mereka di hadapan agama dan di hadapan Allah. Seorang pengusaha yang melaksanakan ibadah haji, hendaknya tidak hanya bertujuan untuk menghindar dari tuduhan pelit atau karena kelebihan uang. Ia harus manyadari bahwa uang dan kekayaannya tidak membuat hajinya lebih baik, sebab Allah tidak membedakan orang yang berangkat haji dengan jalan kaki, naik bus, pesawat, ONH biasa, ONH Plus dan sebagainya. Yang menjadi ukuran adalah kesiapan spiritual, ketulusan hati, dan pembaharuan orientasi. Ia harus menyadari bahwa di hadapan Allah apa yang dilakukanlah yang akan dihitung bukan apa yang dimiliki atau berapa yang ditabung dan didepositokan.

Dengan kesadaran tersebut, hendaknya ia bergegas mendermakan uang dan kekayaannya untuk memberdayakan masyarakat miskin di sekitarnya. Ia harus menafkahkan uang dan kekayaannya untuk membebaskan masyarakatnya dari kebodohan, sebab hal semacam itulah yang akan dihitung di hadapan Allah.
Sepulangnya dari haji ia harus mampu menjadi teladan di kalangan rekan satu profesi baik dalam mengumpulkan kekayaan, mengelola perusahaan, memperlakukan karyawan, serta menafkahkan harta yang dimilikinya. Ia harus mampu mewarisi jiwa Abu Bakar R.A. sebagai bisnisman yang tidak pernah menghitung dan membanggakan berapa tabungan dan villa yang telah sah menjadi miliknya, ia adalah pengusaha yang tidak pernah terikat oleh harta yang dimilikinya, baginya penggunaanlah yang memiliki nilai, bukan kepemilikan.

Selain menjadi teladan bagi rekannya ia juga harus mampu menjadi teladan bagi karyawannya dan membimbing mereka untuk mewarisi kesadaran sebagaimana yang telah dimilikinya. Demikian juga halnya dengan para pejabat dan para ulama, mereka harus merasakan bahwa jabatan dan kedudukkan yang disandang sama sekali tidak menjadi bahan pertimbangan di hadapan Allah.
Allah tidak akan menghargai seorang pejabat yang melaksanakan haji berulang kali, sementara tugas dan kewajiban yang diamanahkan kepadanya tidak dapat dilakukannya dengan baik. Kunjungannya sebagai tamu Allah hendaknya menyadarkannya, bahwa Allah menutup pandangan dari jabatan yang diperolehnya, dan hanya akan melihat apa yang telah dilaksanakannya untuk pembaharuan dan perbaikan bagi umat yang dipimpinnya.
Seorang ulama yang hanya mengandalkan keulamaan dan penghormatan yang diperoleh dari jamaahnya tidak akan mendapatkan penghargaan dari Allah, karenanya ia harus menyadari bahwa bukan banyaknya ijazah, titel, buku yang dibaca, seringnya ia naik haji yg akan diperhitungkan Allah, melainkan pembaharuan intelektual dan pembaharuan akhlak yang dilakukanlah yang menjadi ukuran berharga tidaknya ia di hadapan Allah. Karenanya ia harus bertekad untuk membebaskan umat dari kebodohan dan kemerosotan akhlak pasca pelaksanaan ibadah haji. Ia harus tampil sebagai teladan bagi masyarakatnya dalam segala hal mulai dari cara hidup, pandangan terhadap dunia terutama dalam akhlak dan budi pekerti.

Penutup
Semakin sering seseorang melaksanakan ibadah hahji hendaknya semakin banyak pula pembaharuan dan perbaikan yang dapat dilakuannya di dalam diri, keluarga, lingkungan, maupun di tengah-tengah rekannya satu profesi. Selanjutnya harus semakin tinggi pula komitmennya untuk menjadi teladan bagi orang-orang disekitarnya. Sebab tanpa itu semua, haji yang dilaksanakan tidak akan memberi arti apa-apa.
Wa Allahu A’lam bi ash-Shawab.

Harian Waspada – Waspada Online
http://www.waspada.co.id/serba_waspada/mimbar_jumat/artikel.php?article_id=71334

Arti Ihram Dan Hal-Hal Yang Disunnahkan Di Dalamnya
Pertanyaan : Apakah arti ihram dan apa yang disunnahkan bagi orang yang sedang ihram ?

Jawaban : Ihram adalah niat haji atau umrah. Yaitu ikatan hati untuk masuk dalam ibadah haji atau umrah. Dan bila seseorang telah masuk dalam ibadah haji atau umrah maka dia terlarang melakukan hal-hal yg dilarang bagi orang yg sedang ihram. Jadi ihram bukan hanya sekedar pakaian. Sebab boleh jadi seseorang memakai kain dan selendang ketika berada di daerahnya dan dengan tanpa niat namun dia tidak disebut orang yang sedang ihram. Terkadang seorang yang telah ihram dengan hatinya dan membiarkan pakaian biasanya, seperti qamis, surban dan lain-lain dan dia membayar fidyah karena dia melanggar ketentuan dalam ihram.
Adapun yang disunahkan dalam ihram adalah mandi jika badannya tidak bersih dan ihramnya dalam waktu panjang, tapi jika telah mandi dalam hari itu maka tidak perlu memperbarui mandinya. Disunnahkan juga bagi orang yang sedang ihram yaitu membersihkan dari kotoran dan sepertinya, memotong kumis jika telah panjang karena takut semakin memanjang setelah ihram dan terganggu karenanya, memakai minyak wangi sebelum niat -karena ketika telah ihram dilarang memakai farfum- agar tidak terganggu oleh keringat dan kotorannya. Tetapi bila tidak mengkhawatirkan hal demikian itu, maka tidak mengapa jika tidak memakai parfum, dan inilah yang umum dalam masa-masa tersebut karena pendeknya masa ihram, baik dalam haji atau umrah. Wallahu a’lam. –
(dijawab oleh : Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin)

[Disalin dari Buku Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad, terbitan Pustaka Imam Asy-Sya fi’i hal 80 – 83. Penerjemah H.Asmuni Solihan Zamakhsyari Lc]
http://almanhaj.or.id/

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 035/th.04/DzulQoidah – DzulHijjah 1428H/2007M