S e t a n

Januari 30, 2008

Akhir-akhir ini kisah-kisah misteri/mistik marak sekali ditayangkan di televisi. Hampir setiap malam pemirsa disuguhi kisah dan cerita misteri/mistik dalam bentuk dan cara yang berbeda-beda. Seolah-olah ‘kisah dunia lain itu lebih penting dari dunia nyata yang kita hadapi sehari-hari. Penayangan kisah-kisah misteri dan mistik ini sudah sangat berlebihan, sangat mengganggu dan mempengaruhi jiwa masyarakat. Saking keterlaluannya sampai mengundang keprihatinan para ulama dan para tokoh nasional. Mereka telah menghimbau dan melayangkan surat supaya insan pertelevisian kita menghentikan tayangan-tayangan tersebut, tetapi tampaknya tidak digubris. Buktinya penayangan kisah-kisah misteri itu malah makin menjadi-jadi. Jika dikaitkan dengan peran setan, agaknya ini adalah salah satu daya upaya setan untuk merusak akidah umat manusia, agar manusia lebih takut kepada setan daripada kepada Allah, dan agar manusia mengabdi kepada setan demi kejayaan setan.

Apa Itu Setan ?
Setan (Syaithan) berasal dari kata kerja syathana yang mengandung arti menyalahi, menjauhi. Setan artinya pembangkang pendurhaka. Secara istilah, setan adalah makhluk durhaka yang perbuatannya selalu menyesatkan dan menghalangi dari jalan kebenaran (al-haq). Makhluk durhaka seperti ini bisa dari bangsa jin dan manusia (QS.114: 1-6 / QS. 6:112). Makhluk yang pertama kali durhaka kepada Allah adalah iblis. Maka iblis itu disebut setan. Keturunan iblis yang durhaka juga disebut setan (QS.2 : 36 / 4 : 118).

Dalam menggoda manusia, setan dari bangsa jin itu masuk ke dalam diri manusia, membisikkan sesuatu yang jahat dan membangkitkan nafsu yang rendah (syahwat). Selain menggoda dari dalam diri manusia, setan juga menjadikan wanita, harta, tahta, pangkat dan kesenangan duniawi lain sebagai umpan/perangkapnya. Dihiasinya kesenangan duniawi itu sedemikian menarik hingga manusia tergoda, terlena, tertutup mata hatinya, lalu memandang semua yang haram jadi halal. Akhirnya manusia terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan/kemungkaran. Maka manusia yang telah mengikuti ajakan setan, menjadi hamba setan, dalam al-Quran juga di sebut setan (QS.38 : 37-38) dan golongan mereka juga disebut golongan setan (hizbusy-syaithan – QS.58 : 19).
Baik setan dari bangsa jin maupun dari bangsa manusia terus menerus berupaya untuk menyesatkan manusia, mereka bahu membahu untuk menyebarkan kemungkaran dan kemaksiatan. Mereka kuasai berbagai media, termasuk televisi, mereka sebarkan kisah-kisah misteri dan kemaksiatan demi uang dan kesenangan duniawi tanpa peduli umat manusia rusak atau tidak akidahnya dan akhlaknya. Itulah sumpah setan di hadapan Allah untuk menggoda manusia dari berbagai sudut yang bisa mereka masuki. (QS.7:17).

Mudharat Tayangan Setan
Dalam Islam sangat jelas bahwa penayangan seperti itu diharamkan, karena :

Pertama, tayangan mistik seperti itu mempersubur kemusyrikan, membuat manusia lebih takut kepada setan, khurafat dan tahyul daripada takut kepada Allah. Padahal tidak ada yang bisa memberi manfaat dan mudharat di dunia ini kecuali hanya Allah (QS.39 : 38), tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya dari Allah.

Kedua, tayangan mistik seperti itu adalah bentuk pembodohan masyarakat, hanya membuat bangsa semakin jumud dan terbelakang.

Ketiga, tayangan seperti itu sarat dengan praktek perdukunan. Dengan maraknya penayangan kisah-kisah mistik, maka praktek-praktek perdukunan juga semakin marak. Sedangkan perdukunan juga diharamkan dalam Islam.

Dan keempat, rezeki yang dihasilkan dari usaha yang diharamkan, maka rezeki itu juga haram dan tidak diberkahi Allah. Oleh karenanya penayangan kemusyrikan itu mestilah dihilangkan karena tidak ada manfaatnya selain mudharat dunia-akhirat.

Hikmah Diciptakannya Setan
Al Quran menjelaskan, Allah SWT menciptakan alam semesta dan semua yang ada di dalamnya, satu pun tidak ada yang batil atau sia-sia (QS Ali Imran : 191). Oleh karena itu Allah menciptakan iblis atau makhluk yang disebut setan itu, bila dilihat dari sisi nilai ibadah, pada hakikatnya juga ada hikmahnya.
Imam al-Ghazali pernah menyatakan; jika ingin melihat kesalahan/kelemahan kita, carilah pada sahabat karib kita, karena sahabat kitalah yang tahu kesalahan/kelemahan kita. Jika kita tidak mendapatkannya pada sahabat kita, carilah pada musuh kita, karena musuh kita itu paling tahu kesalahan/kelemahan kita. Sifat mu suh adalah selalu mencari kelemahan lawan untuk dijatuhkan.

Demikian pula setan, dia selalu mencari kesalahan/kelemahan orang-orang beriman untuk kemudian digelincirkan dengan segala macam cara. Jika kita telah mengetahui kesalahan/kelemahan kita, entah dari kawan, lawan, bahkan dari setan, lalu kita memperbaiki diri, insya Allah kita akan menjadi orang baik dan sukses. Jadi, kalau kita berpikir positif, ada juga hikmahnya setan itu buat orang-orang beriman.

Lebih rinci, di antara hikmah dari penciptaan setan ialah :

1. Untuk menguji keimanan dan komitmen manusia beriman terhadap perintah Allah. Karena setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah pasti akan diuji. (QS.29 : 2). Jika dengan godaan setan seorang mukmin tetap istiqamah dengan keimanannya, maka derajatnya akan ditinggikan oleh Allah dan hidupnya akan bahagia. Tetapi jika ia tergoda dan mengikuti ajakan setan, dera jatnya akan jatuh, hina kedudukannya dan dipersulit hidupnya oleh Allah. (QS.41 : 30-31).

2. Menguji keikhlasan manusia beriman dalam mengabdi kepada Allah. Allah SWT menjelaskan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia tidak lain supaya mereka mengabdi kepada-Nya (QS.51 : 56). Kemudian setan datang menggoda manusia, membangkit-bangkitkan syahwat kepada kenikmatan duniawi, membisikkan ke dalam hatinya angan-angan kosong dan keraguan, supaya manusia lupa terhadap tujuan dan tugas hidupnya di dunia. Jika manusia tetap sadar akan tujuan dan tugas hidupnya di dunia, dia akan tetap ridha menjadi hamba Allah dan mengabdi kepada-Nya. Terhadap hamba Allah seperti ini, setan tidak akan mampu menggodanya (QS. 15 : 40). Tetapi jika manusia tergoda, pada giliranya ia akan menjadi hamba setan.

3. Untuk meningkatkan perjuangan di jalan Allah. Sebab tanpa ada setan yang memusuhi kebenaran, maka tidak akan ada semangat perjuangan (jihad) untuk mempertahankan kebenaran. Sedangkan jihad di jalan Allah juga merupakan bukti penting manusia beriman dan ridha sebagai hamba Allah.

4. Allah hendak memberi pahala yang lebih besar kepada para hamba-Nya. Semakin besar godaan setan kepada manusia dan dia mampu menghadapinya dengan baik, maka semakin besar pahalanya di sisi Allah (QS.3 : 195).

5. Agar manusia waspada setiap saat, selalu memperbaiki kesalahan, meningkatkan kualitas ibadah dengan bertaqarrub kepada Allah. Karena setan senantiasa mengintai kelengahan manusia. Sekejap saja manusia lengah, setan akan masuk, lalu mengacaukan hati dan syahwat. Tapi orang yang selalu waspada, akan senantiasa ingat kepada Allah sehingga setan tidak punya kesempatan untuk mengganggunya.

Jadi, bagi orang yang sudah kuat imannya, gangguan setan itu tidak akan merusak ibadahnya. tetapi malah mempertinggi kualitas iman dan ibadahnya. Masalahnya, tayangan-tayangan setan yang makin marak di televisi, tidak ditonton oleh mereka yang telah kuat imannya, melainkan oleh masyarakat dari berbagai lapisan umur dan kadar iman yang terbanyak masih memerlukan bimbingan. Bagi mereka ini, tayangan-tayangan itu sangat kontra produktif, bahkan bisa mendangkalkan iman mereka. Apakah ini tidak terpikirkan oleh insan pertelevisian kita ?

http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=2368_0_4_0_M

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) jika Dia disekutukan dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya” (QS.An-Nisa : 48)
“Sesungguhnya syirik adalah kedzaliman yang besar” (QS.Lukmman : 13).
“Sesungguhnya barangsiapa menyekutukan Allah, maka Allah telah mengharamkan baginya surga, dan tempat tinggalnya adalah neraka” (QS.Al Maidah : 72).

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.015/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1426H/2005M


Tak Ada Kompromi Dengan Setan

Januari 30, 2008

SEEKOR kucing mendadak bertingkah pada saat Nabi SAW sedang menjalankan shalat pada suatu malam. Suara meongnya terdengar memekakkan telinga. Si kucing itu mencoba menjahili Rasulullah dengan tujuan agar konsentrasi Beliau terganggu. Lalu ditangkaplah kucing tadi, dan ternyata merupakan jelmaan setan. Semula Nabi SAW hendak mengikat setan yang berwujud kucing itu pada sebuah tiang di masjid sampai menjelang pagi agar para sahabat dapat melihatnya. Tapi, Rasulullah SAW teringat apa yang dikatakan Nabi Sulaiman :”Tuhan, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun jua sesudahku. Sesung guhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Ash-Shad:35). Demikianlah menurut riwayat Abdurrazzaq.

Rupanya, setan memang tak kenal putus asa untuk selalu mengganggu Nabi SAW. Padahal, Al-Qadhi Iyadh berkata :
“Ketahuilah, bahwa seluruh umat berijma’ (sepakat) kalau Nabi SAW itu dilindungi dan terpelihara, serta disucikan Allah dari segala macam gangguan dan bisikan setan, baik tubuhnya maupun hatinya.”
Simak saja, sebuah hadist yang diriwayatkan Abu Darda’, iblis datang membawa nyala api yang hendak dilemparkan ke wajah Rasulullah SAW ketika sedang shalat. Maka beliau bertaawudz, meminta perlindungan Allah dari kejahatan makhluk yang terkutuk itu. Begitu juga ketika Nabi SAW sedang melakukan perjalanan Isra’ pada malam hari, Beliau dihadang oleh iblis dengan api. Maka Jibril mengajarkan kepada Rasulullah doa yang langsung dibacanya. Padamlah api itu lalu rontok menjadi abu yang bertebaran, sebagaimana yang diriwayatkan Malik dalam Al-Muwaththa. Hadist serupa juga diriwayatkan ‘Aisyah dan lain-lainnya. Dalam beberapa riwayat disebutkan, bukan sekali dua kali setan mencoba menghadangnya untuk memadamkan cahaya dan mengganggunya di berbagai tempat. Namun setelah gagal dan putus asa, mencoba mengganggunya di waktu beliau sedang shalat. Dan pernah ditangkap dan ditindak oleh Nabi SAW.

Oleh karena setan tidak bisa mengganggu secara langsung, maka ia memperalat musuh-musuh Rasulullah. Seperti yang termaktub dalam sebuah riwayat, bahwa pada malam hijrah Nabi SAW, Quraisy berembuk dan bersekongkol merencanakan pembunuhan Beliau dalam sebuah pertemuan. Ada lagi, suatu kali, iblis menyamar sebagai orang tua yang datang dari Najed. Di lain kesempatan, iblis menyamar sebagai Suraqah bin Malik waktu perang Badar. Tentang masalah ini, Allah berfirman: “Dan ketika setan menjadikan mereka yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya Aku ini adalah pelindungmu. Maka tatkala kedua pasukan itu telah saling berhadapan, setan itu balik ke belakang seraya berkata: Sesungguhnya aku lepas darimu, sesunguhnya aku dapat melihat apa yang tidak dapat kau lihat, sesungguhnya aku takut kepada Allah dan Allah itu sangat keras siksanya.” (Al-Anfal: 48).

Sebelum peristiwa itu, yakni pada waktu berlangsungnya baiat yang populer dalam sejarah disebut Baitul Aqabah sebelum Nabi SAW hijrah. Untuk menghadapi seabrek godaan setan itu, Nabi SAW tetap terlindung dan terpelihara dari segala macam rongrongan dan kejahatan. Misalnya: tatkala Nabi SAW sedang minum obat, ada yang berkata kepadanya :”Kiranya penyakit yang dideritanya itu sejenis paru-paru.” Beliau spontan menjawab : “Tidak, itulah dari setan, sedang setan tidak dibiarkan oleh Allah berbuat sesuatu terhadap diriku.”

Di sisi lain, mungkin muncul perta nyaan bagaimana dengan firman Allah :”Dan jika engkau ditimpa sesuatu godaan, maka berlindunglah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-A’raf: 200). Maksud ayat itu bukan tertuju khusus kepada Nabi SAW, tapi kepada umatnya, seperti perintah-perintah lain, yang menurut susunan kali matnya seakan-akan dihadapkan kepada Nabi SAW. Namun yang dituju adalah umatnya.
Demikian pula firman Allah :”Dan Kami mengutus sebelum kamu seorang Rasul pun, dan tidak pula seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan-keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu, Allah menguatkan ayat-ayat-Nya, dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.”
Dalam menafsirkan ayat yang satu ini, banyak ulama tergelincir karena kalimat (tamanna) diartikan membaca. Sebagai dalilnya dikemukakan kisah Al-Gharanieq yang bohong dan isapan jempol semata, baik dilihat dari segi akal maupun naqli.

Tahukah anda apakah kisah Al-Gharanieq itu ? Itu sebuah kisah yang sengaja diselundupkan oleh musuh-musuh Islam, yang kemudian termakan oleh sebagian orang. Konon, Nabi SAW pernah membaca surat Wannajmi hingga sampai ke ayat :”Pantaskah kalian menganggap Al-Latta, Al-Uzza, dan Al-Manat ketiganya yang paling kemudian. Lalu meluncurlah dari mulut Nabi SAW sebagai tambahan kalimat-kalimat : “Itulah berhala-berhala tinggi yang diharapkan syafaatnya.” Setelah itu, maka Nabi SAW sujud dan diikuti oleh orang-orang Islam, serta berhala-berhalanya”.
Dalam riwayat yang lain, setanlah yang menginginkan kata-kata itu melalui lidah Nabi SAW karena Beliau menginginkan sesuatu yang dapat mendekatkan dirinya kepada kaumnya. Maka, setelah kejadian itu hati beliau menjadi sedih, dan Allah menurunkan ayat tersebut untuk menghibur kegundahan hati Nabi SAW. Demikianlah kisah-kisah bohong yang sengaja dihembuskan oleh musuh-musuh Islam mengenai kisah Al-Gharanieq.
Penafsiran ayat itu yang benar dan sah seperti yang diuraikan oleh As-Syaikh Abdul Aziz Ab-Dabbagh, bahwa Allah tidak mengutus seorang Rasul atau Nabi melainkan Rasul itu mengharapkan sepenuhnya dan menginginkan dengan sungguh-sungguh agar umatnya beriman. Sebagaimana firman Allah :”Maka, barangkali kamu membinasakan dirimu, karena bersedih hati, sesudah mereka berpaling sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.” (Al-Kahfi: 6).

Dalam surat Yunus 103 :”Dan sebagian besar manusia tidak beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.” Juga di dalam surat Yunus 99 :”Apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya.”
Umat yang dihadapi para Nabi dan Rasul itu berbeda-beda, seperti firman Allah :”Akan tetapi mereka berselisih, maka diantara mereka ada yang beriman, dan ada diantaranya yang kafir.” (Al-Baqarah: 253).
Begitulah polah tingkah setan yang sudah berjanji kepada Allah untuk selalu menggoda manusia terus berlanjut sampai kiamat tiba. Sebuah hadist dari Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi SAW bersabda :
“Tak seorang pun diantara kalian, melainkan Allah mengikut-sertakan kepadanya seorang jin dan malaikat.” Ada sahabat yang bertanya :”Apakah engkau juga demikian, ya Rasulullah ?” Nabi menjawab, “Juga aku. Hanya saja Allah menolongku, maka aku terlindung dari gangguannya.”

Meskipun Allah sudah menggaransi untuk melindungi Nabi SAW dari gangguan setan, toh Rasulullah secara tegas tetap menyatakan perang dengan setan, sekaligus memberi teladan bagaimana cara kita menghadapi setan, yakni hanya dengan memohon perlindungan kepada Allah. Tentu, sebagai umatnya kita pun harus pegang prinsip tak ada kompromi dengan setan !.

(Artikel Lainnya di Bank Data Majalah, Online sejak 2 Mei 2002M/19 Safar 1423H)
http://www.fosmil.org/adzan/02.uswah/us05.html

Iblis dan Syaithon.
1. Iblis adalah makhluq halus dari golongan jin ( al-Kahfi : 50 ).
2. Iblis adalah kafir ( al-Baqarah : 34 ).
3. Iblis hidup sampai kiamat ( Shod : 80 dan 81 ).
4. Iblis adalah nenek moyang syaithon ( iblis mempunyai keturunan, yang kemudian biasa disebut syaithon ) –
( al-Kahfi : 50 ).
5. Syaithon bekerja mengganggu dan menyesatkan manusia
( an-Nahl : 63; al-Anfal : 48; Maryam : 83; dan al-Hasyr : 16 )
6. Setiap manusia disertai syaithon ( al-An’am : 112 ).
7. Melanggar ketentuan Allah berarti memperkuat kedudukan syaithon dalam diri (az-Zuhruf : 36-39 ).
8. Syaithon dinilai sebagai musuh manusia ( Fathir : 6; al-Baqarah : 168-169 ).
9. Kata-kata syaithon dipergunakan untuk pemimpin jahat
( al-Baqarah : 14; Ali-‘Imran : 174 ).
10. Do’a untuk terhindar dari syaithon ( al-Mu’minun : 98-99; an-Nas : 1-6; al-Falaq : 1-6 ).

http://nursyifa.hypermart.net/ajaran_islam/index1.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaikedisi no.015/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1426H/2005M


Waspadai Bujukan Setan

Januari 30, 2008

Sejak dahulu ajaran agama ini selalu mendapat perlawanan aktif dari para penentangnya. Bentuknya bermacam-macam, mulai sekedar mencibir, mengolok-olok, mengadu domba, sampai kepada menantang secara terang terangan akan kekuasaan Allah SWT. Mereka telah berani menggoyang ‘wilayah’ kekuasaan Allah dengan berbagai cara yang diakal-akali (na’udzubillah). Kelompok yang masuk kategori terakhir ini belakangan semakin aktif dengan memasuki jaring-jaring ilmiah. Ilmu dan teknologi di zaman ini telah dimanfaatkan pula untuk kepentingan-kepentingan itu. Keilmuan telah mereka pergunakan sedemikian rupa untuk melakukan missi pengikisan tauhid dengan cara yang paling kontemporer, dengan langkah yang mudah dipa hami oleh manusia yang kini hidup di zaman global.

Dahulu ketika komputer hadir untuk pertama kali, masyarakat awam sempat dibuat terperangah. Perangkat lunak yang sekarang telah dikenal luas di tengah masyarakat itu konon akan pandai membaca nasib manusia. Menerjemahkan nasibnya di hari esok. Dengan memainkan keyboard, manusia bisa memprediksi masa depannya. Bahkan jodoh dan peluang-peluang bisnis yang akan menguntungkan sudah tergambar di sana. Bagaimanakah kenyataan yang terjadi selanjutnya ? Komputer yang menawarkan program ramalan-ramalan seperti itu kini malah menjadi barang cibiran. Setidaknya program ramalan seperti itu lebih terkesan sebagai bagian dari program dusta. Memang untuk kepentingan-kepentingan menyelesaikan persoalan sesuai dengan bidangnya, komputer menjadi jago. Bahkan juara dunia catur berkali-kali Garry kasparov-pun akhirnya ditundukkan oleh Deep Blue-nya IBM.

Tetapi untuk sesuatu yang tidak menjadi bagiannya, maka komputer tidak bisa melakukan apa-apa. Perhitungan-perhitungan manusia yang dibantu komputerpun tetap tidak bisa menjamin hasil akan sesuai dengan prediksi awal. Betapa sering terjadi kecelakaan pesawat terbang, misalnya. Sekalipun sejak berangkat pesawat dinyatakan sehat. Kejadian-kejadian di luar jangkauan manusia itu bisa saja terjadi secara tiba-tiba. Terlalu banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya, yang kadang untuk gam pangnya disebut sebagai ‘faktor X’. Faktor-faktor XYZ itu sebenarnya merupakan peringatan bagi manusia, bahwa masih ada kekuasaan di atas kekuasaan mereka. Itulah kekuasaan Allah SWT.

Tetapi manusia-manusia yang hadir ke dunia membawa misi kerusakan, sekalipun sadar akan adanya kekuasaan di atas yang nampak, tetap berupaya mengesankannya tidak ada. Mereka terus mengotak-atik agar umat beragama menjadi ragu. sampai-sampai ada yang menyatakan, bahwa Laut Merah terbelah bukan oleh tongkat Nabi Musa, melainkan karena adanya lintasan benda angkasa yang kebetulan lewat persis di atasnya, bertepatan dengan momen Musa dikejar Fir’aun. Manusia dibuat lupa terhadap firman Allah :”Allahlah yang menciptakan kamu, kemudian memberi rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali)”. (QS. 30 : 40)

Tidak henti berfikir, para penentang agama tidak henti-hentinya melakukan upaya perongrongan. Bahkan mereka bekerja sangat keras tidak kenal berhenti. Kalau kita memanfaatkan waktu hanya 8 sampai 12 jam sehari untuk bekerja, mereka menganggap waktu yang 24 jam itu tidak cukup untuk mewujudkan keinginannya. Waktu sehari bagi mereka sangatlah sempit. Diantaranya mereka bahkan bangga memperoleh gelar sebagai penggila kerja (workaholik). Kerja adalah segala-galanya. Bahkan mereka cenderung telah mengubah tanggungjawab kerja menjadi ideologinya, menjadi tuhannya.

Dan kini mereka kembali melempar isu bahwa jiwa (ruh) manusia juga mulai dapat ditebak kapan berakhirnya. Kematian bukan lagi rahasia Tuhan. Dengan teknologi mereka seolah hendak berolok-olok tentang Tuhan. Ayat ini hendak dikaburkannya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh adalah urusan Tuhanku. dan tidaklah manusia diberi ilmu, kecuali amat sedikit'” (QS. 17 : 85).

File data tentang ruh milik Tuhan seolah telah mereka curi, kemudian dengan lantang mereka memproklamirkannya. Dengan bahasa keangkuhan mereka tertawa sambil menepuk dada yang penuh kedustaan. Bahwa Tuhan telah mati bersama mitos-mitos sesembahan selama ini. Melalui itu mereka menginginkan kaum muslimin secara perlahan-lahan mengubah keyakinannya. Setidaknya sasaran yang paling mudah disentuh adalah kalangan remaja muslim yang jumlahnya makin banyak di negeri ini.
Merekalah ladang subur untuk menanam benih pemurtadan. Usia pertumbuhan mereka sangat rentan terhadap rumor-rumor ideologi yang menyimpang itu. Melalui konser musik keras sebagai ciri khas produk lingkungan yang semakin keras, telah lahir untaian-untaian syair yang tidak kalah gamangnya dalam mendiskritkan Tuhan.

Kita pasti menikmati neraka
Tidak ada sisa yang tersembunyi
Bunuhlah dirimu dengan belati suci
Jika kau ingin pergi ke sana
Janganlah khawatir terhadap agama
Buanglah Tuhan bangsatmu itu
Waspadalah selamanya terhadap surga.

Syair-syair begini baru-baru ini terdengar nyaring di kalangan sekelompok remaja di kota Bandung dan Malang. Mereka mendendangkannya penuh khidmat dengan dilengkapi seragam dan acara ritual, membakar kemenyan dan mengenakan pakaian serba hitam. Mereka hendak memanggil syetan sebagai tanda sahabat. Tidak ada Tuhan, yang ada hanya syetan, kata mereka. Sungguh tragis apa yang telah mereka lakukan itu.
Anak-anak muda itu telah termakan isu syetan. Telah terjerat bujuk rayunya. Mereka telah dibikin lupa oleh syetan tentang jati diri yang sebenarnya sebagai makhluk bertuhan. “Syetan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah,” firman Allah dalam surah al-Mujaadillah : 19. Dalam ayat lain disebutkan :”Dan jika syetan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini) maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu….” (QS. 6 : 68).

Tidak ada yang dapat menikmati untaian syair tersebut dengan perasaan nikmat, selain mereka yang sudah kesyetanan. Semakin ngawur maknanya, akan semakin membuat mereka berbunga-bunga. Girang dan tawa riang menjadi ciri khasnya. Berjingkrak dan berhura-hura menjadi penyedapnya. Fisik dan jiwa mereka sudah dikendalikan oleh pengaruh-pengaruh syetan yang bersemayam dalam hati dan pikirannya.

Sungguh sedikit sebenarnya ilmu yang dimiliki manusia. Karena sedikitnya manusia sering dibuat pusing oleh masalah yang diciptakannya sendiri. Tidak jarang manusia dibuat pusing tujuh keliling dengan masalah yang sangatlah sederhana, menyangkut kebutuhan hidupnya, misalnya. Namun sering dengan itu, bila manusia menemukan sesuatu, melahirkan gagasan tertentu, tiba-tiba ia akan tampil sebagai tuhan, sebagai makhluk yang superior. Seolah-olah dirinyalah yang terbesar, terbaik dan termulia. Mereka, para perongrong ajaran aqidah sering melewati celah ini untuk menggoda agar kaum muslimin meninggalkan pos keyakinannya. Bahwa manusia memang besar, serba bisa. Sedikit demi sedikit, setahap demi setahap, pernyataan yang penuh ‘bisa’ ini diharapkan membuat kaum muslimin lengah dan lepas dari keyakinannya. Menghadapi hal yang seperti ini, kita hendaklah kembali ke jalan yang lurus, seperti apa yang diingatkan Allah SWT kepada kita, “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu jika begitu termasuk golongan orang-orang yang zhalim.” (QS. 2:145).

(sumber : Lembar Jum’at, Al Qalam Diterbitkan Oleh : Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya Edisi : 18/VII, 22 Shafar 1418, 27 Juni 1997).
http://alqalam.8m.com/vii/qal18.htm
pesan : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu terdekat”. (QS.26 : 214)

Sayang-sayang kita nggak tahu kemana pergi, tak sanggup kita dengarkan suara yang sejati, langkah kita mengabdi pada nafsu sendiri, yang bisa kita pandang hanya kepentingan sendiri.
Sayang sayang orang pintar tak mau ngaji, kepala tengadah merasa benar sendiri, semua dituding tuding dan dicacimaki, yang lainnya salah hanya dia yang suci.
Sayang sayang orang hebat tinggi hati, omong demokrasi pidato berapi-api, ternyata karena menginginkan kursi, sementara rakyat kerepotan cari nasi.

(Pustaka Digital Emha Ainun Nadjib)
http://www.padhangmbulan.com/
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.015/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1426H/2005M


TUJUH MACAM TIPUAN SETAN

Januari 30, 2008

Kita perlu mengetahui tipuan setan yang mengajak kita meninggalkan ibadah kepada Allah. Ada tujuh macam cara yang dilakukan setan :

1. Setan melarang manusia untuk taat kepada Allah.
Orang yang dipelihara Allah akan menolak ajakan dan larangan setan tersebut, seraya berkata, “Aku sangat membutuhkan pahala dari Allah, karena aku harus mengumpulkan bekal dari dunia untuk akhiratku yang abadi.”

2. Setan mengajak manusia mengakhiri ketaatan (berhenti taat).
Misalnya membisikkan dalam hati, bahwa taat tak perlu tergesa-gesa dilaksanakan, nanti saja kalau sudah tua dan menjelang mati. Orang yang dipelihara Allah, akan menolak ajakan setan dan mengatakan, “Ajal bukan pada kekuasaanku, jika aku menunda amal hari ini untuk esok, maka amal hari esok kukerjakan kapan lagi, pada hal tiap hari mengandung amal tersendiri.

3. Sewaktu-waktu setan mendorong manusia agar terburu-buru mengerjakan amal baik, seraya berkata, “Ayo cepat beramal agar engkau dapat memburu amal lain sebanyak-banyaknya !”. Namun orang yang dipelihara Allah akan berkata, “Amal yang sedikit tapi sempurna lebih baik daripada amal banyak tidak sempurna.”

4. Setan menyuruh manusia mengerjakan amal baik yang sempurna, kalau tidak nanti akan dicela orang lain. Maka orang yang dipelihara Allah akan menyanggah. “Untukku, cukup dinilai Allah saja, dan tidak ada manfaatnya orang lain menilai amal baikku”.

5. Setan menancapkan perasaan dalam hati orang yang beramal baik dengan membisikkan, “Betapa tingginya derajatmu karena dapat beramal shalih. Engkau cerdik dan sempurna !”. Orang yang dipelihara Allah akan menyanggah bahwa semua keagungan dan kesempurnaan adalah milik Allah, bukan karena kekuatan manusia dan kekuasaan manusia. Allah jualah yang memberi taufiq kepada manusia sehingga dapat mengerjakan amal baik yang diridhai-Nya. Hanya Allah yang berhak memberikan karunia-Nya. Jika sekiranya tanpa karunia Allah, maka amal manusia tak ada harganya dibandingkan dengan kenikmatan yang diberikan-Nya.

6. Setan berbisik dalam hati manusia, “Hendaknya engkau bersungguh-sungguh melakukan amal dengan sir (rahasia). Jangan sampai diketahui oleh manusia, sebab hanya Allah yang akan mendhahirkan amalmu nanti terhadap manusia, dan akan mengatakan bahwa kamu adalah seorang hamba yang Ikhlas !”. Tapi orang yang iman dipelihara Allah akan menolak nasihat itu, “Hai setan laknat, tidak henti-hentinya engkau menggodaku untuk merusak amal baikku dengan berbagai cara. Sekarang kau berpura-pura memperbaiki amalku. Padahal sebenarnya tujuanmu hanyalah ingin merusaknya. Aku ini hamba Allah. Dialah yang menjadikanku. Jika Dia berkehendak menjadikan aku sebagai hamba mulia atau terhina, maka semua itu urusan Allah. Bukan urusanku. Aku tak pernah gelisah tentang apakah amalku itu diperlihatkan kepada manusia atau tidak. Karena itu bukan urusanku !”.

7. Jika dengan cara keenam gagal, maka setan mencari cara lain yaitu membisikkan tipuannya yang halus sekali di hati manusia :
“Wahai manusia, engkau tak perlu menyusahkan dirimu untuk beramal ibadah, karena jika Allah menetapkanmu di jaman azali dan dijadikan makhluk yang berbahagia, maka tidak akan menjadi madharat apa-apa bagimu untuk meninggalkan amal. Engkau akan tetap menjadi orang yang beruntung. Sebaliknya jika engkau dikehendaki Allah menjadi celaka, maka tidak ada gunanya lagi amal baik yang kau lakukan, karena engkau tetap celaka.”

Tapi bagi orang beriman akan membantah,”Aku ini seorang hamba yang berkewajiban menuruti perintah-Nya. Allah yang Maha Mengetahui, menetapkan kehendak-Nya dan berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya. Amalku tetap akan bermanfaat. Jika aku ditakdirkan menjadi orang beruntung, maka aku tetap beribadah untuk menambah pahala. Jika aku dijadikan orang yang celaka, aku tetap beramal ibadah agar tidak menyesal meninggalkan amal itu. Jika sekiranya aku dimasukkan ke neraka padahal aku taat, aku akan lebih senang demikian daripada aku dimasukkan ke neraka dalam keadaan ingkar. Tetapi keadaannya tidak mungkin begitu, karena janji Allah pasti benar. Allah telah menjanjikan kepada siapa saja yang beramal taat kepada-Nya tak akan masuk neraka. Tapi pasti masuk surga. jadi masuknya seseorang ke surga bukanlah karena kekuatan amalnya, tetapi karena janji Allah semata yang pasti dan suci.”

(Sumber Dari Buku: Memerangi Bujukan Setan IMAM AL GHOZALI hal 25-28)
http://www.geocities.com/info_hikmah/hi12d.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam mukaddimah Labbaik edisi no.015/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1426H/2005M


Hati Yang Bercahaya

Januari 30, 2008

Adakah diantara kita yang merasa mencapai sukses hidup karena telah berhasil meraih segalanya : harta, gelar, pangkat, jabatan, dan kedudukan yang telah menggenggam seluruh isi dunia ini ? Marilah kita kaji ulang, seberapa besar sebenarnya nilai dari apa-apa yang telah kita raih selama ini.

Di sebuah harian pernah diberitakan tentang penemuan baru berupa teropong yang diberi nama telescope Hubble. Dengan teropong ini berhasil ditemukan sebanyak lima milyar gugusan galaksi. Padahal yang telah kita ketahui selama ini adalah suatu gugusan bernama galaksi bimasakti, yang di dalamnya terdapat planet-planet yang membuat takjub siapa pun yang mencoba bersungguh-sungguh mempelajarinya. Matahari saja merupakan salah satu planet yang sangat kecil, yang berada dalam gugusan galaksi di dalam tata surya kita.
Nah, apalagi planet bumi ini sendiri yang besarnya hanya satu noktah. Sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lima milyar gugusan galaksi tersebut. Sungguh alangkah dahsyatnya.

Sayangnya, seringkali orang yang merasa telah berhasil meraih segala apapun yang dirindukannya di bumi ini – dan dengan demikian merasa telah sukses – suka tergelincir hanya mempergauli dunianya saja. Akibatnya, keberadaannya membuat ia bangga dan pongah, tetapi ketiadaannya serta merta membuat lahir batinnya sengsara dan tersiksa. Manakala berhasil mencapai apa yang diinginkannya, ia merasa semua itu hasil usaha dan kerja kerasnya semata, sedangkan ketika gagal mendapatkannya maka ia serta merta merasa diri sial. Bahkan tidak jarang kesialannya itu ditimpakan atau dicarikan kambing hitamnya pada orang lain.
Orang semacam ini tentu telah lupa bahwa apapun yang diinginkannya dan diusahakan oleh manusia sangat tergantung pada izin Allah Azza wa Jalla. Mati-matian ia berjuang mengejar apa-apa yang diinginkannya, pasti tidak akan dapat dicapai tanpa izin-Nya. Laa haula walaa quwwata illaabillaah !

Begitulah kalau orang hanya bergaul dengan dunia yang ternyata tidak ada apa-apanya ini. Padahal, seharusnya kita bergaul hanya dengan Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Menguasai jagat raya, sehingga hati kita tidak akan pernah galau oleh dunia yang kecil mungil ini. Laa khaufun alaihim walaa hum yahjanuun ! Samasekali tidak ada kecemasan dalam menghadapi urusan apapun di dunia ini. Semua ini tidak lain karena hatinya selalu sibuk dengan Dia, Zat Pemilik Alam Semesta yang begitu hebat dan dahsyat.
Sikap inilah sesungguhnya yang harus senantiasa kita latih dalam mempergauli kehidupan di dunia ini. Tubuh lekat dengan dunia, tetapi jangan biarkan hati turut lekat dengannya. Ada dan tiadanya segala perkara dunia ini di sisi kita jangan sekali-kali membuat hati goyah karena toh sama pahalanya di sisi Allah. Sekali hati ini lekat dengan dunia, maka adanya akan membuat bangga, sedangkan tiadanya akan membuat kita terluka. Ini berarti kita akan sengsara karenanya, karena ada dan tiada itu akan terus menerus terjadi.
Betapa tidak !? Tabiat dunia itu senantisa dipergilirkan. Datang, tertahan, diambil. Mudah, susah. Sehat, sakit. Dipuji, dicaci. Dihormati, direndahkan. Semuanya terjadi silih berganti.

Nah, kalau hati kita hanya akrab dengan kejadian-kejadian seperti itu tanpa akrab dengan Zat pemilik kejadiannya, maka letihlah hidup kita. Lain halnya kalau hati kita selalu bersama Allah.
Perubahan apa saja dalam episode kehidupan dunia tidak akan ada satu pun yang merugikan kita. Artinya, memang kita harus terus menerus meningkatkan mutu pengenalan kita kepada Allah Azza wa Jalla.
Di antara yang penting yang kita perhatikan sekiranya ingin dicintai Allah adalah bahwa kita harus zuhud terhadap dunia ini. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah mencintainya, dan barangsiapa yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintainya.” Zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangan kita. Bagi orang-orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun yang dimiliki sama sekali tidak akan membuat hati merasa tentram karena ketentraman itu hanyalah apa-apa yang ada di sisi Allah.
Rasulullah SAW bersabda, “Melakukan zuhud dalam kehidupan di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah.” (HR. Ahmad, Mauqufan)

Andaikata kita merasa lebih tentram dengan sejumlah tabungan di bank, maka berarti kita belum zuhud. Seberapa besarpun uang tabungan kita, seharusnya kita lebih merasa tentram dengan jaminan Allah. Ini dikarenakan apapun yang kita miliki belum tentu menjadi rizki kita kalau tidak ada izin Allah.
Sekiranya kita memiliki orang tua atau sahabat yang memiliki kedudukan tertentu, hendaknya kita tidak sampai merasa tentram dengan jaminan mereka atau siapa pun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali dengan izin Allah. Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang dimilikinya tidak menjadi ja minan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita. Jangan ukur kemuliaan seseorang dengan adanya dunia di genggamannya. Sebaliknya jangan pula meremehkan seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita tidak menghormati seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita menghormati seseorang karena kedudukan dan kekayaannya, kalau meremehkan seseorang karena ia papa dan jelata, maka ini berarti kita sudah mulai cinta dunia. Akibatnya akan susah hati ini bercahaya disisi Allah.
Mengapa demikian ? Karena, hati kita akan dihinggapi sifat sombong dan takabur dengan selalu mudah membeda-bedakan teman atau seseorang yang datang kepada kita. Padahal siapa tahu Allah mendatangkan seseorang yang sederhana itu sebagai isyarat bahwa Dia akan menurunkan pertolongan-Nya kepada kita.

Hendaknya dari sekarang mulai mengubah sistem kalkulasi kita atas keuntungan-keuntungan. Ketika hendak membeli suatu barang dan kita tahu harga barang tersebut di supermarket lebih murah ketimbang membelinya pada seorang ibu tua yang berjualan dengan bakul sederhananya, sehingga kita mersa perlu untuk menawarnya dengan harga serendah mungkin, maka mulailah merasa beruntung jikalau kita menguntungkan ibu tua berimbang kita mendapatkan untung darinya. Artinya, pilihan membeli tentu akan lebih baik jatuh padanya dan dengan harga yang ditawarkannya daripada membelinya ke supermarket. Walhasil, keuntungan bagi kita justru ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.

Lain halnya dengan keuntungan diuniawi. Keuntungan semacam ini baru terasa ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. Sedangkan arti keuntungan bagi kita adalah ketika bisa memberi lebih daripada yang diberikan oleh orang lain. Jelas, akan sangat lain nilai kepuasan batinnya juga.
Bagi orang-orang yang cinta dunia, tampak sekali bahwa keuntungan bagi dirinya adalah ketika ia dihormati, disegani, dipuji, dan dimuliakan. Akan tetapi, bagi orang-orang yang sangat merindukan kedudukan di sisi Allah, justru kelezatan menikmati keuntungan itu ketika berhasil dengan ikhlas menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain. Cukup ini saja ! Perkara berterima kasih atau tidak, itu samasekali bukan urusan kita. Dapatnya kita menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain pun sudah merupakan keberuntungan yang sangat luar biasa.

Sungguh sangat lain bagi ahli dunia, yang segalanya serba kalkulasi, balas membalas, serta ada imbalan atau tidak ada imbalan. Karenanya, tidak usah heran kalau para ahli dunia itu akan banyak letih karena hari-harinya selalu penuh dengan tuntutan dan penghargaan, pujian, dan lain sebagainya, dari orang lain. Terkadang untuk mendapatkan semua itu ia merekayasa perkataan, penampilan, dan banyak hal demi untuk meraih penghargaan.
Bagi ahli zuhud tidaklah demikian. Yang penting kita buat tatanan kehidupan ini seproporsional mungkin, dengan menghargai, memuliakan, dan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Inilah keuntungan-keuntungan bagi ahli-ahli zuhud. Lebih merasa aman dan menyukai apa-apa yang terbaik di sisi Allah daripa da apa yang didapatkan dari selain Dia.
Walhasil, siapapun yang merindukan hatinya bercahaya karena senantiasa dicahayai oleh nuur dari sisi Allah, hendaknya ia berjuang sekuat-kuatnya untuk mengubah diri, mengubah sikap hidup, menjadi orang yang tidak cinta dunia, sehingga jadi lah ia ahli zuhud.

Adakalanya nuur Illahi itu turun kepadamu”, tulis Syaikh Ibnu Atho’illah dalam kitabnya, Al Hikam, “tetapi ternyata hatimu penuh dengan keduniaan, sehingga kembalilah nuur itu ke tempatnya semula. Oleh sebab itu, kosongkanlah hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Allah akan memenuhinya dengan ma’rifat dan rahasia-rahasia.”
Subhanallaah, sungguh akan merasakan hakikat kelezatan hidup di dunia ini, yang sangat luar biasa, siapapun yang hatinya telah dipenuhi dengan cahaya dari sisi Allah Azza wa Jalla. “Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing (seorang hamba) kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki …” (QS. An Nuur [24] : 35).

(Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar, bisa dihubungi melalui gymnastiar@hotmail.com, Pondok Pesantren Daarut Tauhiid)

Bagaimanakah Hati Kita…?
Hati itu ada hati yang keras, membatu yang tidak mau menerima segala bentuk kebenaran. Lawannya adalah hati yang lembut, yang mempunyai keteguhan, dan itulah hati yang sehat, yang mau menerima segala bentuk kebenaran dengan kelembutan dan menjaganya melalui keteguhannya. Dan sebaik-baik hati adalah hati yang keras, jernih dan lembut yaitu hati yang dapat melihat kebenaran dengan kejernihannya itu, menerima kebenaran dengan kelembutannya dan menjaga kebenaran itu dengan kekerasannya. Dalam beberapa buku hadist telah diriwayatkan , dari Nabi SAW bersabda: ” Hati itu adalah bejana Allah di bumi-Nya ini. Hati yang paling dicintai-Nya adalah yang paling keras, lembut dan jernih “.

Ketika hati menjadi tempat pengetahuan, ilmu, cinta dan kepasrahan maka semuanya itu tidak akan dapat memasukinya kecuali jika hatinya itu benar-benar terbuka luas untuknya. Dan jika Allah Jalla wa ‘alaa berkehendak memberikan petunjuk kepada seorang hamba, maka Dia akan melapangkan dadanya, sehingga petunjuk itu bisa masuk dan bersemayam didalamnya. Dan jika berkehendak menyesatkan seorang hamba, maka Dia akan mempersempit dan menyesakkan dadanya, sehingga tidak ada lagi jalan bagi petunjuk untuk memasukinya. Semua tempat kosong jika sudah dimasukkan kedalamnya sesuatu, maka ia akan menjadi sempit. Akan tetapi halnya dengan hati, setiap kali hati itu dimasukkan iman dan ilmu maka hati itu akan semakin luas dan lebar. Demikian itulah salah satu tanda kekuasaan Allah Ta’alaa. Dalam buku Sunan Tirmidzi dan juga lainnya diriwayatkan sebuah hadist dari Nabi SAW, beliau bersabda : ” Jika suatu cahaya itu telah memasuki hati, maka hati itu akan semakin luas dan lebar “. Mendengar itu , para sahabat pun bertanya , ” Lalu apa tanda-tanda dari hal itu , ya Rasulullah ?”. Beliau menjawab . “Yaitu kembali (mengingat) kepada kehidupan akhirat, menjauhi kehidupan yang penuh tipu daya (dunia) dan mempersiapkan diri menghadapi kematian sebelum ia datang “.

[*Diambil dari buku Qadha dan Qadar , Ibnu Qayyim Al Jauziyah hal. 265 – 268]

note : artikel di atas telah dimuat dalam mukaddimah Labbaik edisi no.015/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1426H/2005M


Al ‘Awar Setan Penyeru Zina

Juni 6, 2006

Memoles kesesatan agar tampak baik dan menarik hati adalah jurus abadi iblis dan antek-anteknya. Bahkan inilah jurus pertama iblis sebelum menggoda manusia untuk bergumul dengan dosa. Allah berfirman :”Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka meman dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (Al-Hijr 39). Maka setan menghiasi perbuatan keji terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan menyesatkan manusia. Ibnul Qayyim mengomentari ayat tersebut :”Di antara strategi iblis adalah menyihir akal secara kontinyu hingga terpedaya, tidak ada yang selamat darinya kecuali yang dikehendaki Allah”. Dia menghiasi perbuatan yang hakekatnya menimbulkan madharat sehingga tampak sebagai perbuatan yang paling bermanfaat. Begitupun sebaliknya, dia mencitrakan buruk perbuatan yang bermanfaat sehingga nampak mendatangkan madharat…”

Komandan Setan Penyeru Zina
Strategi yang sama ditempuh oleh iblis laknatullah ‘alaih untuk menyebar luaskan perbuatan zina yang merupakan dosa besar di dalam Islam. Tidak hanya itu, iblis menjadikan hal ini sebagai target utama, sehingga dia melakukan sayembara bagi setan manapun yang mampu menjerumuskan manusia kepada zina, maka iblis akan memakaikan mahkota di kepalanya sebagai tanda jasa. Rasululah bersabda tentang hal ini :”Jika datang pagi hari, Iblis menyebar para tentaranya ke muka bumi lalu berkata, “Siapa di antara kalian yang menyesatkan seorang muslim akan aku kenakan mahkota di kepalanya.” Salah satu tentaranya menghadap dan berkata, “Aku terus menggoda si fulan hingga mau menceraikan istrinya.” Iblis berkata :”Ah, bisa jadi dia akan menikah lagi.” Tentara yang lain menghadap dan berkata :”Aku terus menggoda si fulan hingga ia mau berzina.” Iblis berkata :”Ya, kamu (yang mendapat mahkota)!” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1280)
Iblis juga menyiapkan pasukan khusus yang dikomandani oleh anaknya sendiri bernama Al-A’war. Mujahid bin Jabr, murid utama Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Iblis memiliki 5 anak, satu di antaranya bernama Al-A’war. Dia memiliki tugas khusus menyeru orang untuk berbuat zina dan menghiasinya agar nampak baik dalam pandangan manusia. (Talbisul Iblis, Ibnu Al-Jauzy hal. 41). Al-A’war juga merekrut para setan dari golongan manusia sebagai tim sukses untuk mengkampanyekan perbuatan zina. Segala cara ditempuh, segala sarana dan media digunakan.

Memasang Banyak Umpan
Sebagaimana seorang pemancing, dia harus memasang umpan agar ikan mau mendekati kailnya. Maka setan memasang umpan agar si korban mau mendatangi perangkapnya. Umpan tersebut berupa ‘Nisa’un kaasiyat ‘ariyat’, wanita yang berpakaian telanjang, pornografi, porno aksi dan perangkatnya. Umpan tersebut dipasang di tempat-tempat yang strategis, sehingga memungkinkan bagi mangsa untuk melihatnya. Di antara tempat strategis tersebut adalah televisi dan media cetak. Maka jika kita lihat di televisi kita banyak berjejal wanita yang berpakaian tapi telanjang, lagu dan tarian erotis, film-film jorok yang bisa disaksikan oleh semua orang. Itu pertanda setan Al-A’war telah berhasil merekrut banyak orang untuk dia jadikan sebagai umpannya. Demikian pula dengan tabloid, koran dan majalah-majalah yang menjadikan pornografi sebagai menu utama.

Dibumbui Dengan Istilah Penyedap Rasa
Al-A’war tidak membiarkan umpan-umpan itu menyebar begitu saja. Karena masih banyak orang-orang waras yang akan merusak umpannya. Akan banyak orang-orang sehat yang akan menegur, mencela dan memusuhinya. Untuk itu, dia menciptakan istilah dan kilah sebagai penyedap rasa. Sehingga yang antipati menjadi netral, yang netral menjadi simpati, yang simpati menjadi bala-tentaranya. Di antara istilah yang diilhamkan Al-A’war kepada para anteknya dari golongan manusia adalah mena makan budaya telanjang sebagai bentuk kemajuan, pacaran sebagai upaya penjajakan dan persiapan, nyanyian jorok dan tarian erotis sebagai seni dan porno aksi disebut sebagai kebebasan berekspresi.
Bisa dibilang bahwa menamakan perbuatan keji dengan istilah yang berasumsi baik adalah jurus tersendiri di antara jurus iblis yang diwariskan kepada generasinya. Seperti ketika dia membujuk Adam dengan perkataannya :”Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, ‘”Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa ?” (Thaha: 120).
Dia menyebut pohon yang dilarang dimakan buahnya dengan pohon Khuldi, pohon yang apabila dimakan buahnya menyebabkan dia kekal di jannah. Tidak berbeda dengan yang dilakukan setan hari ini, mereka memberi istilah perbuatan keji dengan nama yang disukai hati. Informasi yang menyesatkan diiringi dengan gambar yang menggiurkan jika datang secara bertubi-tubi akhirnya dianggap sebagai hal yang biasa, atau seakan kebenaran yang layak untuk dibela. Sebagaimana yang telah dimaklumi bahwa dengan pemberitaan yang terus menerus, berita dusta dianggap fakta, kesesatan menjelma sebagai kebenaran dalam pandangan manusia. Konon media barat tidak mengenal berita yang benar atau yang salah, tetapi berita cerdas atau bodoh. Berita cerdas adalah yang dikemas sehingga tak nampak kedustaannya sedangkan berita bodoh adalah berita yang tampak kedustaannya.

Nampaknya usaha Al-A’war dan bala tentaranya betul-betul menuai panen raya. Begitu banyak generasi kita yang jatuh ke dalam pelukannya. Mereka mengikuti bujuk rayu Al-A’war, mendatangi umpannya, lalu menelan kailnya. La haula walaa quwwata illa billah. Akan tetapi, tidak sepantasnya kita berputus asa, karena betapapun gigihnya usaha setan, bagi orang yang beriman dan konsisten dengan keimanannya, tipu daya setan itu lemah :”Karena sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (An-Nisa’: 76). Menjauhi umpan setan, merusaknya hingga nampak maksud jahatnya di hadapan manusia adalah sebagian solusi dan benteng bagi kita dan umat Islam dari serangan Al-A’war dan bala tentaranya, Wallahul muwaffiq. (sumber : Majalah Ar Risalah)

http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=2414_0_4_0_m
note : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu terdekat”. (QS.26 : 214)

JIL Mencari Sensasi Lagi

Baru saja film kontroversial Buruan Cium Gue (BCG) ditarik dari peredaran. Kita semua yang berusaha meminimalisasi tontonan yang penuh kekerasan dan pornografi, tentu bersyukur. Elemen masyarakat yang dikomandoi oleh MUI dan tokoh-tokoh agama bahu membahu memperjuangkan agar film itu dihentikan peredarannya. Kita sudah lelah dengan banyak tontonan tidak bermutu dan mendidik.

Namun, di tengah upaya memperjuangkan penjagaan terhadap moralitas bangsa ini, masih ada kelompok yang bersuara miring terhadap usaha itu. Kalau suara minor datang dari sekelompok orang yang hidupnya memang memuja hedonisme dan permisifisme dengan berlindung di balik dalih kebebasan berekspresi, mungkin bisa dimaklumi. Tetapi suara minor justru datang dari kelompok beratribut Islam, yaitu Jaringan Islam Liberal (JIL). Ulil Abshar-Abdalla dari JIL menyatakan bahwa “Seharusnya penyikapan terhadap film BCG tidak dikaitkan dengan agama”.

Ini bukan hanya ganjil, tetapi terasa lebih mencari sensasi. JIL seakan selalu ingin menampilkan sosok dan suara yang beda dengan kelompok-kelompok Islam yang mendengungkan penjagaan moralitas atau kelompok lain yang masih peduli dengan kondisi moralitas anak-anak muda yang semakin memprihatinkan. JIL seakan memegang prinsip “yang penting beda”. Predikat liberal JIL, tampaknya tidak hanya dalam pola pemahaman dan interpretasi terhadap sumber-sumber agama, tetapi sudah mengarah liberalisasi bidang kehidupan yang nyata. Selama ini, JIL juga selalu meneriakkan komitmen moral. Tetapi moral yang mana ? Jangan-jangan sama dengan kebanyakan ide-ide JIL yang melangit dan absurd, pandangan moralitas JIL juga absurd (tidak masuk akal / mustahil).

http://swaramuslim.net/more.php?id=2263_0_1_0_m

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.015/th.02/Jumada Al Awwal- Jumada Al Tsani 1426H/2005M


Kang Sejo Mencari Tuhan

April 25, 2006

Bukan salah saya kalau suatu hari saya ceramah agama di depan sejumlah mahasiswa Monash yang, satu di antaranya, Islamnya menggebu. Artinya, Islam serba berbau Arab. Jenggot mesti panjang. Ceramah mesti merujuk ayat, atau Hadis. Lauk mesti halal meat. Dan, semangat mesti ditujukan buat meng-Islam-kan orang Australia. Tanpa itu semua jelas tidak Islami. Saya pun dicap tidak Islami. Iman saya campur aduk dengan wayang. Dus, kalau pakai kaca mata Geertz, seislam-islamnya saya, saya ini masih Hindu. Memang salah saya, sebab ketika itu saya main ibarat: Gatutkaca itu sufi. Ia satria-pandita. Tiap saat seperti tidur, padahal berzikir qolbi. Jasad di bumi, roh menemui Tuhan. Ini turu lali, mripat turu, ati tangi: mata tidur hati melek, seperti olah batin dalam dunia kaum sufi. Biar masih muda, hidup Gatutkaca seimbang, satu kaki di dunia satu lagi di akhirat. Mirip Nabi Daud: hari ini puasa, sehari esoknya berbuka. Dan saya pun dibabat …

Juli tahun lalu saya dijuluki Gus Dur sebagai orang yang doanya pendek. Bukan harfiah cuma berdoa sebentar. Maksudnya, tak banyak doa yang saya hafal. Namun, yang tak banyak itu saya amalkan. “Dan itu betul. Artinya, banyak ilmu ndak diamalkan buat apa?” kata Pak Kiai sambil bergolek-golek di Hotel Sriwedari, Yogya. Apa yang lebih indah dalam hidup ini, selain amal yang memperoleh pengakuan Romo Kiai ? Saya merasa hidup jadi kepenak, nikmat.
Dalam deretan Sufi, Al Adawiah disebut “raja.” Wanita ini hamba yang total. Hidupnya buat cinta. Gemerlap dunia tak menarik berkat pesona lain: getaran cinta ilahi. Pernah ia berkata, “Bila Kau ingin menganugerahi aku nikmat duniawi, berikan itu pada musuh-musuh-Mu. Dan bila ingin Kau limpahkan padaku nikmat surgawi, berikanlah pada sahabat-sahabat-Mu. Bagiku, Kau cukup.”
Ini tentu berkat ke-“raja”-annya. Lumrah.
Lain bila itu terjadi pada Kang Sejo. Ia tukang pijit -maaf, Kang, saya sebut itu- tunanetra. Kang Sejo pendek pula doanya. Bahasa Arab ia tak tahu. Doanya bahasa Jawa: Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah tidur): potongan ayat Kursi itu. Zikir ia kuat. Soal ruwet apa pun yang dihadapi, wiridannya satu: “Duh, Gus ti, Engkau yang tak pernah tidur …” Cuma itu. “Memang sederhana, wong hidup ini pun dasarnya juga sederhana,” katanya, sambil memijit saya.

Saya tertarik cara hidupnya. Saya belajar. Guru saya ya orang macam ini, antara lain. Rumahnya di Klender. Kantornya, panti pijat itu, di sekitar Blok M. Ketika saya tanya, apa yang dilakukannya di sela memijit, dia bilang,
“Zikir Duh, Gusti …” Di rumah, di jalan, di tempat kerja, di mana pun, doanya ya Duh, Gusti … itu. Satu tapi jelas di tangan.
“Berapa kali Duh Gusti dalam sehari ?” tanya saya.
“Tidak saya hitung.”
“Lho, apa tak ada aturannya ? Para santri kan dituntun kiai, baca ini sekian ribu, itu sekian ribu,” kata saya
“Monggo mawon (ya, terserah saja),” jawabnya. “Tuhan memberi kita rezeki tanpa hitungan, kok. Jadi, ibadah pun tanpa hitungan.”
“Sampeyan itu seperti wali, lo, Kang,” saya memuji.
“Monggo mawon. Ning (tapi) wali murid.” Dia lalu ketawa.
Diam-diam ia sudah naik haji. Langganan lama, seorang pejabat, mentraktirnya ke Tanah Suci tiga tahun yang lalu. ‘Senang sampeyan, Kang, sudah naik haji ?”
“Itu kan rezeki. Dan rezeki datang dari sumber yang tak terduga,” katanya.
“Ayat menyebutkan itu, Kang ?” Tanya saya.
“Monggo mawon. Saya tidak tahu.”
Ketularan bau Arab, saya tanya kenapa doanya bahasa Jawa.
“Apa Tuhan tahunya cuma bahasa Arab ?”
“Kalau sampeyan Dah Duh Gusti di bis apa penumpang lain …”
“Dalam hati, Mas. Tak perlu diucapkan.”

Ia, konon, pernah menolak zakat dari seorang tetangganya. Karena disodor-sodori, ia menyebut, “Duh, Gusti, yang tak pernah tidur…”. Pemberi zakat itu, entah bagaimana, ketakutan. Ia mengaku uang itu memang kurang halal. Ia minta maaf.
“Mengapa sampeyan tahu uang zakat itu haram ?” tanya saya.
“Rumah saya tiba-tiba panas. Panaaaas sekali.”
“Kok sampeyan tahu panas itu akibat si uang haram ?”
“Gusti Allah ora sare, Mas,” jawabnya.

Ya, saya mengerti, Kang Sejo. Ibarat berjalan, kau telah sampai. Dalam kegelapan matamu kau telah melihat-Nya. Dan aku ? Aku masih dalam taraf terpesona. Terus-menerus. ————— (oleh : Mohammad Sobary – Tempo, 12 Januari 1991)

http://www.isnet.org/~media/sufi/Sejo/KangSejo.html

Cincin Zun Nun

Beberapa waktu yang telah berlalu, di Mesir hidup seorang sufi yang tersohor bernama Zun-Nun. Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya :”Tuan, saya belum paham mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di zaman kini berpakaian necis amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk tujuan banyak hal lain.”
Sang sufi hanya tersenyum, ia lalu melepas cincin dari salah satu jarinya, dan berkata :”Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Cobalah, bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas.”  Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu; “Satu keping emas, saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu ?.”
“Cobalah dulu sobat muda, siapa tahu kamu berhasil,” Jawab Zun Nun.
Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor ;”Tuan, tak seorang pun yang berani menawar lebih dari satu keping perak.”
Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas disana. Jangan buka harga, dengarkan saja, bagaimana ia memberi penilaian.”  Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud.
Tak berapa lama pemuda itu kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor ;”Tuan, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”

Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih ;”Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya ‘Para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar’ yang menilai demikian. Namun tidak bagi ‘pedagang emas’. Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses wahai sobat mudaku. Kita tak bisa meni lainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang di sangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.”
 
http://www.kotasantri.com/modules.php?name=Beranda&file=detail&sid=239
note : Al-Hubb Fillah wa Lillah – IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKAN DAN MENGAMALKANNYA

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.015/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1426H/2005M