Menyikapi Hadits yang Berbeda-Beda

Maret 11, 2008

Pertanyaan :
Assalamualaikum wr. wb.
Ustadz Ahmad Sarwat yang mudah-mudahan terus dirahmati ALLAH. Begini ustadz, saya ingin menanyakan mengenai adanya hadits yang subtansinya sama tapi hukum yang dihasilkannya berbeda semisal hadist mengenai pemakain semir rambut, satu sisi ada ulama yang mengatakan makruh, sisi lainya haram. Dengan keadaan seperti ini bagaimana kita menyikapinya (mana yang harus dijadikan panutan)?. Demikian ustadz, atas terjawab pertanyaan saya ini, saya sampaikan terima kasih.
[Mochamad Junus – mojun@eramuslim.com]

Jawaban :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebenarnya perbedaan esensi dalil-dalil itu bukan sesekali yang kebetulan kita temukan, tetapi seringkali, bahkan boleh jadi tiap kali. Lakukanlah eksperimen sederhana. Anda buka kitab hadits ahkam tertentu, misalnya Bulughul Maram karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah kita akan menemukan banyak kebingungan. Mengapa ?. Karena hadits-hadits itu meski diletakkan secara berurutan, tetapi acap kali satu hadits dengan hadits lainnya justru saling bertentangan. Dan demikian selalu yang terjadi di tiap bab hingga akhir kitab. Lalu bagaimana kita harus bersikap ? Hadits yang mana yang harus kita pilih ? Mengapa Ibnu Hajar tidak menuliskan hadits yang satu versi saja biar kita tidak bingung ?. Untuk menjawab masalah ini, kita harus tahu bahwa memang demikianlah permasalahan besar di dalam ilmu syariah. Ternyata slogan kembali kepada Qur’an dan sunnah tidak sesederhana mengucapkannya.

Ternyata untuk bisa merujuk kepada kedua sumber agama itu, tidak cukup hanya dengan membaca sekilas terjemahan masing-masing. Karena ada begitu banyak ayat dan hadits terkait dengan masalah hukum. Kadang satu dengan yang lain saling berbeda, bahkan terjadi ta’arudh (saling pertentangan). Padahal semua diakui bersumber dari nabi SAW juga. Maka di situlah peran ijtihad para ulama selalu diperlukan, bahkan bukan satu atau dua ijithad, dibutuhkan sistematika dalam berijtihad , agar kita betul-betul menerima hasil akhir yang siap pakai. Maka peran mazhab fiqih dan metode istimbath hukum menjadi mutlak diperlukan. Tidak cukup hanya berbekal mushaf dan kitab hadits saja, tetapi lebih dari itu, kita butuh hasil kajian ilmiyah para ulama serta arahan dan argumentasi mereka atas semua dalil yang beragam itu.

Maka kita patut mengucapkan terima kasih atas jasa para ulama di masa lalu yang telah mencurahkan segala daya dan upaya untuk meretas jalan. Kita hanya tinggal berjalan di belakang mereka dengan mudah, bahkan tinggal memilih saja. Ibarat software, sudah ada wizardnya, kita tinggal install dan sedikit melakukan konfigurasi di sana sini sesuai selera dan semua siap jalan. Kita tidak perlu membuat coding yang bikin pusing kepala. Para ulama di masa lalu sudah membuat codingnya , kita tinggal ‘customize’ saja.

Memanfaatkan Kitab Syarah Hadits

Lebih fokus kepada pertanyaan anda, bila anda merasa bingung membaca hadits-hadits yang saling bertentangan, ada cara yang mudah, yaitu memanfaatkan kitab-kitab syarah hadits. Kitab syarah adalah kitab penjelasan atas kitab matan hadits.
Misalnya, kalau anda bingung baca hadits-hadits yang ada di dalam shahih Bukhari, anda bisa baca kitab Fathul Bari karya Ibnu Rajab Al-Hanbali atau kitab Umdatul Qari karya Badruddin Al-Aini.
Kalau hadits itu ada di shahih Muslim, anda bisa baca Syarah Shahih Muslim karya Al-Imam An-Nawawi. Juga anda bisa baca kitab Tuhfatul Ahzawi karya Al-Mubarakfury. Begitu pula untuk penjelasan hadits-hadits dari Sunan At-Tirmizi, dll. Dan kalau kitab matan hadits Bulughul Maram bikin kepala anda pusing, silahkan buka kitab Subulussalam karya Ash-Shan’ani. Atau kita bisa juga anda membaca kitab Nailul Authar karya ASy-Syaukani rahimahullah yang isinya sudah termasuk matan dan syarahnya sekaligus.

Biasanya di dalam kitab-kitab syarah itu, kita akan mendapatkan berbagai informasi seputar hadits yang kita butuhkan, termasuk derajat kekuatannya dan juga penjelasan secara fiqihnya.
Sekedar informasi, kitab-kitab yang kami sebutkan di atas dan sekitar 3.000-an kitab lainnya tersedia secara gratis di internet, anda boleh langsung meng-klik di http://saaid.net/book . Jadi anda tidak perlu keluarkan dana untuk memiliki bukunya, tinggal baca saja. Yang penting anda bisa bahasa Arab dan melek internet serta punya akses tak terbatas untuk mendownloadnya. Selamat mendownload.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

[oleh : Ustadz Ahmad Sarwat, Lc.]

http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/6b10103438-cara-menyikapi-hadits-berbeda-beda.htm?other

Pentingnya Penggunaan Hadits

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum wr. wb.
Pak ustadz, saya seorang muslim sejak saya dilahirkan karena saya terlahir dari keluarga muslim. Sejak saya menerima pendidikan agama Islam, baik dari majlis ta’lim maupun sekolah, saya mengetahui bahwa kitab suci kita adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an jelas merupakan pegangan kita sebagai muslim dalam mengarungi hidup kita hingga akhir hayat. Selain Al-Qur’an, kita juga menggunakan hadits sebagai pegangan kita. Saya mengetahui bahwa Rasulullah SAW telah meninggalkan dua perkara agar terus dipegang umatnya hingga akhir hayat yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Yang saya ingin tanyakan yaitu: Mengapa kita harus menggunakan Al-Hadits ? Bagaimana kedudukan Al-Hadits terhadap Al-Qur’an ? Apakah ada ayat suci Al-Qur’an yg menjelaskan tentang kedudukan Al-Hadits ? Apakah dalil naqli dan aqli tentang penggunaan Al-Hadits ? Apakah akibatnya jika kita beragama Islam dengan hanya menggunakan Al-Qur’an saja ?. Saya mohon maaf jika pertanyaan terlalu banyak. Semoga jawaban pak ustadz dapat memberikan saya keyakinan yang lebih dalam beragama Islam.
Alhamdulillah, Jaza Kallohu Khoiron.
[Anang Sobari – doneey@eramuslim.com]

Jawaban :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Seorang muslim yang tidak beriman kepada hadits Rasulullah SAW, hukumnya kafir. Sebabnya sederhana saja, karena hadits itu hakikatnya adalah wahyu dari Allah SWT juga. Hadits bukan karangan ulama, shahabat atau semata-mata perkataan nabi SAW. Meskipun secara lahiriyah seolah keluar dari mulut nabi, namun pada hakikatnya hadits itu adalah wahyu yang bersumber dari Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya :
”Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. n-Najm: 3-4)

Itulah sebabnya para ulama sepanjang zaman telah berijma’ bahwa orang yang mengingkari hadits nabawi hukumnya kafir dan bukan lagi dikatakan sebagai muslim.
Hadits nabi itu adalah wahyu dari Allah SWT sebagaimana Al-Qur’an, kecuali dalam beberapa hal saja. Misalnya, Al-Qur’an memiliki bahasa yang teramat indah sehingga orang Arab ditantang untuk membuat yang sepertinya. Sedangkan hadits meski juga berbahasa Arab, namun Allah SWT tidak sampai menantang orang Arab untuk membuat yang sepertinya.

Selain itu Al-Qur’an bila dibaca akan mendatangkan pahala, bahkan meski tidak diketahui artinya, seperti membaca Alif Laam Miim. Sedangkan membaca hadits baru berpahala bila diiringi dengan pemahaman dan pengamalannnya. Al-Qur’an itu diriwayatkan secara mutawatir, sedangkan hadits ada yang diriwayatkan dengan mutawatir dan ada yang ahad. Namun intinya, meski antara Al-Qur’an dan hadits ada perbedaan, tetap saja keduanya merupakan wahyu dari Allah SWT. Sehingga mengingkari hadits itu sama saja ingkar kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam bishshawab, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

[oleh : ustadz Ahmad Sarwat, Lc.]
http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/6520190644-dasar-penggunaan-hadits.htm?other
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 037/th.04/Muharram-Safar 1429H/2008M


Bagaimana Membedakan Hadist Palsu, Dhaif Dan Shahih ?

Maret 11, 2008

Pertanyaan :
Assalamualaikum wr. wb.
Ustadz, Ana mau tanya, bagaimana kita bisa tahu kalau hadist itu paslu, lemah atau dhaif serta shahih, karena ada teman yang bertanya, kalau dilihat berdasarkan perawinya atau yang meriwayatkannya, bukankah mungkin itu sifatnya subjektif ? Dan hadist itu kan dibukukan jauh setelah Rasulullah wafat. Itu aja yang ana tanyakan. Jazakallah. Wassalamualaikum wr. wb.
(Lili Suheli – tzuhailee@eramuslim.com)

Jawaban :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Yang bisa menetapkan status sebuah hadits bukanlah kita yang awam ini, melainkan para ulama hadits. Mereka saja yg punya kapasitas, legalitas, otoritas dan tools (perlengkapan) untuk melakukannya. Dan buat kita, cukuplah membaca karya-karya agung mereka lewat kitab-kitab hasil naqd (kritik) mereka. Menetapkan status suatu hadits dikenal dengan istilah al-hukmu ‘alal hadits. Upaya ini adalah bagian dari kerja besar para ulama hadits (muhadditsin). Mereka punya sekian banyak kriteria dalam menentukan derajat suatu hadits.

Secara umum, studi ini dilakukan pada dua sisi. Yaitu sisi para perawinya dan juga sisi matan haditsnya, atau isi materinya. Jadi yang dinilai bukan hanya salah satunya saja, melainkan keduanya. Keshahihan suatu hadits akan dinilai pertama kali dari masalah siapa yang meriwayatkannya. Dan yang dinilai bukan hanya perawi pada urutan paling akhir saja. Akan tetapi mulai dari level pertama yaitu para shahabat, kemudian level kedua yaitu para tabi’in, kemudian level ketiga yaitu para tabi’it-tabi’in dan seterusnya hingga kepada perawi paling akhir atau paling bawah.

Nama para perawi paling akhir itu adalah yang sering kita dengar sebagai hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Majah, At-Tirmiziy, Abu Daud dan lainnya. Akan tetapi, yang dijadikan ukuran bukan semata-mata para perawi di level paling bawah atau paling akhir saja. Melainkan keadaan para perawi dari level paling atas hingga paling bawah dijadikan objek penelitian. Khususnya pada level di bawah para shahabat. Sebab para ulama sepakat bahwa para shahabat itu seluruhnya orang yang ‘adil dan tsiqah. Sehingga yang dinilai hanya dari level tabi’in ke bawah saja.

Satu persatu biografi para perawi hadits itu diteliti dengan cermat. Penelitian dipusatkan pada dua kriteria. Yaitu kriteria al-‘adalah dan kriteria adh-dhabth.

a. Kriteria al-‘adalah
Kriteria pertama adalah masalah ‘adalah. Maksudnya sisi nilai ketaqwaan, keIslaman, akhlaq, ke-wara’-an, kezuhudan dan kualitas pengamalan ajaran Islam. Kriteria ini penting sekali, sebab ternyata kebanyakan hadits palsu itu lahir dari mereka yang kualitas pengamalan keIslamannya kurang. Misalnya mereka yang sengaja mengarang atau memalsu hadits demi menjilat penguasa. Atau demi kepentingan politik dan kedudukan. Atau untuk sekedar mengejar kemasyhuran. Orang-orang yang bermasalah dari segi al-‘adalah ini akan dicatat dan dicacat oleh sejarah. Mereka akan dimasukkan ke dalam daftar black-list bila ketahuan pernah melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan aqidah, akhlaq dan etika Islam.

Bahkan para ulama sampai melahirkan disiplin ilmu khusus yang disebut ilmu al-jarhu wa at-ta’dil. Ilmu ini mengkhususkan diri pada database catatan hitam seseorang yang memiliki cacat atau kelemahan. Orang-orang yang dianggap cacat mendapatkan julukan khas dalam ilmu ini. Misalnya si fulan adalah akzabunnass (manusia paling pendusta), fulan kazzab (pendusta), si fulan matruk (haditsnya ditinggalkan) dan sebagainya.

b. Krieria adh-dhabth
Kriteria adh-dhabth adalah penilaian dari sisi kemampuan seorang perawi dalam menjaga originalitas hadits yang diriwayatkanya. Misalnya, adakah dia mampu menghafal dengan baik hadits yang dimilikinya. Atau punyakah catatan yang rapi dan teratur.
Sebab boleh jadi seorang perawi memiliki hafalan yang banyak, akan tetapi tidak dhabith atau tidak teratur, bahkan boleh jadi acak-acakan bercampur-baur antara rangkaian perawi suatu hadits dengan rangkaian perawi hadits lainnya. Biasanya dari sisi adh-dhabth ini para perawi memang orang yg shaleh. Tetapi kalau hafalan atau database periwayatan haditsnya acak-acakan, maka dia dikatakan tidak dhaabith. Cacat ini membuatnya menempati posisi lemah dalam daftar para perawi hadits. Hadits yg diriwayatkan lewat dirinya bisa saja dinilai dha’if (lemah).

Kebutuhan pada Ensiklopedi Hadits Lengkap
Untuk mendapatkan kumpulan hadits yang shahih, kita bisa membuka kitab yang disusun oleh para ulama. Di antara yang terkenal adalah kitab Ash-Shahih yang disusun oleh Al-Imam Al-Buhkari dan kitab Ash-Shahih yang disusun oleh Imam Muslim. Akan tetapi bukan berarti semua hadits menjadi tidak shahih bila tidak terdapat di dalam kedua kitab ini.

Sesungguhnya, kedua kitab ini hanya menghimpun sebagian kecil dari hadits-hadits yang shahih. Di luar kedua kitab ini, masih banyak lagi hadits yang shahih. Keberadaan kedua kitab itu meski sudah banyak bermanfaat, namun masih diperlukan kerja keras para ulama untuk mengumpulkan semua hadits yang ada di muka bumi, lalu satu per satu diteliti para perawinya. Dan seluruhnya disusun di dalam suatu database. Sehingga setiap kali kita menemukan suatu hadits, kita bisa lakukan pencarian (searching), lalu tampil matan-nya beserta para perawinya dengan lengkap mulai dari level shahabat hingga level terakhir, sekaligus juga catatan rekord tiap perawi itu secara lengkap sebagaimana yang sudah ditulis oleh para ulama.

Yang sudah ada sekarang ini baru program sebatas hadits-hadits yang ada di dalam 9 kitab saja, yang dikenal dengan kutubus-sittah. Program ini sudah lumayan membantu, karena bisa dikemas dalam satu keping CD saja. Bahkan Kementerian Agama, Wakaf, Dakwah dan Irsyad Saudi Arabia membuka situs yang memuat database kesembilan kitab hadits ini, sehingga bisa diakses oleh siapa saja dan dari mana saja di seluruh dunia secara gratis, Anda bisa kunjungi website berikut ini  http://hadith.al-Islam.com

Sayangnya, hadits-hadits yang ada di program di atas masih terbatas pada 9 kitab hadits saja, meski sudah dilengkapi dengan kitab-kitab penjelasnya (syarah). Padahal ada begitu banyak hadits yang belum tercantum di dalam kutubus-sittah. Lagi pula program itu pun belum dilengkapi dengan al-hukmu ‘alal hadits. Baru sekedar membuat database hadits yang terdapat di 9 kitab itu. Dan meski setiap hadits itu sudah dilengkapi nama-nama perawinya, namun belum ada hasil penelitian atas status para perawi itu. Jadi hadits-hadits itu masih boleh dibilang mentah. Proyek ini cukup besar untuk bisa dikerjakan oleh perorangan. Harus ada kumpulan team yang terdiri dari ribuan ulama hadits dengan spesifikasi ekspert. Mereka harus bekerja full-time untuk jumlah jam kerja yang juga besar. Tentu saja masalah yang paling besar adalah anggaran.

Sampai hari ini, sudah ada beberapa lembaga yang merintisnya. Para ulama di Al-Azhar Mesir, para ulama di Kuwait, para ulama di Saudi dan di beberapa tempat lain, masing-masing sudah mulai mengerjakan. Sayangnya hasilnya belum juga nampak. Barangkali karena mereka bekerja sendiri-sendiri dan tidak melakukan sinergi. Padahal kalau semua potensi itu disatukan dalam sebuah managemen profesioal, insya Allah kita bisa menyumbangkan sesuatu yang berharga di abad 15 hijriyah ini.
Hitung-hitung sebagai kado untuk kebangkitan Islam yang sudah sejak lama didengung-dengungkan itu. Sebuah warisan pekerjaan dari generasi lampau untuk kita demi mencapai masterpiece. Wallahu a’lam bishshawab.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
(dijawab oleh : Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc.)

http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/6322125708-membedakan-hadist-palsudhaif-shahih….htm?other
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 037/th.04/Muharram-Safar 1429H/2008M


Membedakan Antara Hadits Dengan Ijtihad Rasulullah SAW

Maret 11, 2008

(dari kolom : Ustadz Menjawab, bersama Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc.)

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum wr. wb.
Ustadz yang terhormat, saya membaca ulasan ustadz tentang kodok yang mayoritas ulama katakan haram dengan dalil hadits percakapan Rasulullah dengan seorang tabib. Dan juga ulasan tentang hadits “kalian lebih tahu urusan dunia kalian.”
Yang saya ingin tanyakan bagaimana kita bisa membedakan apakah suatu hadits itu juga ijtihad Rasulullah juga atau tidak. Banyak hadits Rasulullah yang mengharamkan berbagai jenis binatang, seperti ular, binatang yang hidup dua alam, bercakar, menjijikkan, dan sebagainya. Menurut hemat saya bukankah hal ini akan menyulitkan ummat untuk menentukan ? Misalnya cacing, yang menjijikkan, ternyata bisa menjadi obat berbagai penyakit. Apakah hadits-hadits Rasulullah tentang jenis-jenis makanan yang diharamkan itu dapat diterima semua ? Ataukah ada yang merupakan ijtihad semata ?. Demikian pertanyaan saya. Saya harapkan penjelasan ustadz. Maaf jika ada yang kurang berkenan.

(Shofura Raniya – shofura at eramuslim.com)

Jawaban :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Tidak semua orang bisa membedakan suatu hadits itu ijtihad nabi atau bukan. Juga tidak semua ulama bisa melakukannya. Pekerjaan seperti ini memang hanya bisa di lakukan oleh para ulama spesialis, yakni mereka yang expert di bidang penelitian ini. Selain urusan jam terbang, juga ilmu-ilmu dasar dan pelengkapnya tentu sangat rumit. Maka buat kita, cukuplah kita meminta fatwa mereka saja, tanpa harus melakukan penelitian sendiri. Atau kita bisa membaca hasil penelitian mereka dalam masalah ini. Kajian seperti ini termasuk agak langka, tetapi ketahuilah bahwa para ulama sudah melakukan penelitian mendalam. Di antara mereka yang menulis tentang masalah ini antara lain Imam Waliyullah Ad-Dahlawi (wafat 179 H). Selain itu Al-Qarafi juga menuliskannya. Di masa sekarang ini, di antara mereka yang tertarik menuliskan hal ini adalah Syaikh Muhammad Syaltut, Rasyid Ridha dan juga Dr. Yusuf Al-Qaradawi.

Dalam kitabnya, Hujjatullah Al-Balighah, Ad-Dahlawi mengatakan bahwa sunnah nabi itu terbagi menjadi dua klasifikas, yaitu yang bersifat tasyri’ dan yang bukan tasyri’. Kemudian beliau menjelaskan mana saja yang merupakan termasuk kelompok tasyri’ dan mana saja yang bukan.
Di antara sunnah yang bukan termasuk tasyri’ menurut pendapat mereka umumnya adalah perkara-perkara yang bersifat teknis kehidupan sehari-hari, di mana hal itu masuk rekaman hadits nabawi, namun sebenarnya hanya setting lokal yang tidak terkait dengan syariah. Misalnya, seringkali diriwayatkan bahwa nabi SAW makan kurma, roti, kambing atau beliau minum susu, semua hanyalah setting yang menggambarkan keadaan masa dan tempat di mana beliau hidup. Namun tidak mengandung pesan bahwa kita diharuskan menirunya sebagai bagian dari syariah Islam. Juga masalah kedokteran atau medis yang kebetulan dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, termasuk kebiasaan beliau SAW dalam memilih model pakaian, atau hal-hal berkaitan dengan adat suatu daerah, penegasan untuk mengingatkan masyarakat dan sebagainya. Semua itu meski tercantum dalam hadits nabawi, namun fungsinya tidak terkait dengan masalah pensyariatan.

Contoh lainnya yg berkaitan dalam hal ini adalah anjuran beliau untuk memelihara kuda yang berbintik putih, sebagaimana tercantum dalam hadits nabawi berikut ini :”Peliharalah kuda hitam yg di dahinya ada bintik berwarna putih. (HR Ahmad).
Adanya hadits ini tidak berarti umat Islam di seluruh dunia dianjurkan untuk memelihara kuda, apalagi yang berbintik putih. Kalau mau melakukannya lantaran seseorang punya keluasan dalam masalah rizqi dan kehidupannya, boleh-boleh saja. Tapi jangan dibuat sebuah hukum bahwa melakukan hal yang demikian adalah bagian dari produk syariah Islamiyah.

Dan juga termasuk anjuran beliau SAW untuk memakai celak mata, sebagaimana tercantum dalam hadits Nabi berikut ini :”Sebaik-baik yang kalian gunakan untuk bercelak adalah itsmid (batu bahan celak), karena dia menjernihkan mata. (HR Tirmidzy).

Kedua perintah di atas menurut para ulama itu tidak bernilai tasyri, meski terekam di dalam hadits nabawi. Sebab hal-hal tersebut tidak berkaitan dengan ajaran agama tetapi berkaitan dengan pengalaman beliau untuk masalah keduniaan saja. Demikian juga dengan berbagai advis beliau tentang masalah pengobatan, seperti yang dikerjakan Rasulullah SAW tidak termasuk tasyri` atau tidak berkaitan dengan hukum-hukum syariat baik wajib atau sunnah. Sebab semua hal di atas tidak sejalan dengan fungsi dan tugas seorang nabi, yaitu pembawa risalah. Masalah detail obat dan pengobatan tidak termasuk masalah syariah, melainkan merupakan masalah tajribiyyah, atau ilmu yang didapat lewat sekian banyak eksperimen, serangkaian test, prosedur dan analisa ilmiyah. Di mana porsinya memang bukan tugas para nabi dan kitab suci untuk menjelaskannya. Kalau pun para nabi dan kitab suci sempat menyinggungnya, lebih merupakan isyarat dan anjuran untuk melakukan penelitian. Namun kita tetap boleh melakukannya. Bahkan bila motivasi melakukannya adalah untuk ittiba` dan tabarruk (mengambil barakah) dari Nabi SAW, maka itu lebih utama. Wallahu a’lam bishshawab.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/6725102943-bagaimana-membedakan-antara-ijtihad-rasul-sebagai-manusia-hadits.htm?other”>http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/6725102943-bagaimana-membedakan-antara-ijtihad-rasul-sebagai-manusia-hadits.htm?other

Hadits Shahih al-Bukhari Dan Muslim Yang Dikritik ?

TANYA :
”Berapa jumlah hadits di dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim yang dikritik Imam ad-Daaruquthni ? Apakah Imam ad-Daaruquthni mengeritik seluruh aspek ?”.

JAWAB :
”Secara global ada sekitar dua ratusan hadits. Terhadap Shahih al-Bukhari sebanyak 110 hadits, termasuk 32 hadits yang juga dikeluarkan oleh Imam Muslim. Dan terhadap Shahih Muslim sebanyak 95 hadits termasuk di dalamnya hadits yang dikeluarkan juga oleh Imam al-Bukhari. Silahkan lihat, mukaddimah kitab Fathul Bari karya al-Hafizh Ibn Hajar dan Risaalah Bayna al-Imaamain; Muslim Wa ad-Daaruquthni karya Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali serta Risaalah al-Ilzaamaat Wa at-Tatabbu’ karya Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’iy”. Kritikannya tidak meliputi semua aspek, sebagian yang dinyatakannya ada benarnya dan sebagian lagi keliru. Terkadang –bahkan seringkali- ia hanya mengkritik sisi sanad (jalur transmisi) hadits tanpa matan (teks)-nya”.
(Sekalipun demikian, adanya kritik ini tidak mengurangi atau pun mempengaruhi kesepakatan umat Islam untuk menerima hadits-hadits dalam shahih al-Bukhari dan Muslim dan penilaian bahwa keduanya adalah yang paling mendekati kesempurnaan keshahihannya setelah al-Qur’an al-Karim-red.)

(SUMBER: As’ilah Wa Ajwibah Fi Mushthalah al-Hadiits karya Syaikh Mushthafa al-‘Adawy, hal.37) [www.alsofwah.or.id]

“Apa yang diperintahkan oleh Rosul maka lakukanlah dan apa yang dilarang maka jauhilah”. (QS Al Hasyr :7)

“Barang siapa yang menta’ati Rosul, maka dia telah mentaati Allah”. (QS Annisaa : 80).

“Katakanlah (wahai Muhammad) jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian”. (QS Ali Imron : 31)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 037/th.04/Muharram-Safar 1429H/2008M


Menggunakan Dalil Dari Al-Kitab

Maret 3, 2008

Labbaik edisi no.36 ini secara khusus berusaha mengungkap perihal keberadaan nubuat-nubuat (tanda kenabian) rasulullah SAW yang terdapat dalam injil, baik dalam perjanjian lama maupun yang baru. Dan nyata-nyata dalam edisi kali ini bertebaran dalil-dalil yang berasal dari alkitab (injil). Lantas timbul pertanyaan, “Bolehkah kita memakai dalil-dalil berasal dari injil? Bukankah Al Qur’an itu merupakan penasakh dari kitab-kitab sebelumnya ?”.

Benar, Al Qur’an adalah penasakh dari kitab-kitab sebelumnya. Namun bukankah di dalam Al Qur’an telah tercantum ayat yang artinya :”“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil (menutupi firman-firman Allah yang termaktub dalam Taurat dan Injil dengan perkataan-perkataan yang dibuat-buat mereka (ahli Kitab) sendiri), dan menyembunyikan kebenaran (maksudnya: kebenaran tentang kenabian Muhammad SAW yang tersebut dalam Taurat dan Injil), pada hal kamu mengetahuinya ?“. (QS.Ali ‘Imran : 71). Juga dalam ayat, yg artinya : “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS.Ash Shaff : 6).

Untuk membuktikan ayat-ayat sebagaimana tersebut di atas, mau tidak mau, suka tidak suka, ya terpaksa harus membuka kitab-kitab mereka itu. Dan setelah ditemukan bukti-bukti dalam alkitab, maka sudah selayaknya kita sampaikan bukti-bukti yang berasal dari ayat-ayat injil tersebut.

Bayangkan, apa yang bakal terjadi, seandainya kita ingin menyampaikan tentang kebenaran yang haq kepada golongan ahli kitab namun hanya menggunakan dalil-dalil dari Al Qur’an dan sunnah rasulullah SAW saja ?. Berbagai reaksi dengan sangat mudah bisa kita gambarkan, terutama reaksi-reaksi yang sifatnya negatif.
Memang benar, apapun permasalahannya, sebagai seorang muslim tidak bisa tidak, harus selalu berpedoman kepada Al Qur’an dan hadits, karena kedua pusaka inilah yg dipesankan nabi SAW supaya dipegang teguh agar tidak sampai tersesat. Termasuk juga dalam menyampaikan kebenaran jalan hidup terhadap kaum ahli kitab. Namun harus diingat bahwa, lain masalah lain pula caranya. Betapa mudahnya kita membayangkan bakal menghadapi muka-muka berwarna merah karena marah, apabila kita ngotot menggunakan Al Qur’an (dan Hadits) sebagai dalil-dalil untuk mengawalinya, apalagi bila melihat bahwa dalam Al Qur’an bertebaran ayat yang jelas-jelas mengkafirkan para ahli kitab itu.

Kesimpulannya, secara teori, apabila kita tetap ngotot mengutamakan dan mendahulukan Al Qur’an dan hadits sebagai dalil-dalilnya, niscaya akan sulit untuk meraih keberhasilan. Memang ada sebagian kecil dari para ahli kitab itu yang cukup dihadapi dengan menggunakan kedua dalil ( Al Qur’an dan hadits), dan hal itu sudah mampu untuk menyadarkan mereka tentang kebenaran Islam. Tapi faktanya kejadian seperti ini sangat-sangat langka.
Cara yang paling jitu adalah memulainya dengan memakai dalil-dalil yang ada dalam kitab-kitab para ahli kitab itu sendiri, untuk menunjukkan berbagai kelemahan dan kesalahannya, baru kemudian menjelaskan tentang kebenaran dengan menggunakan dalil-dalil dari Al Qur’an dan hadits. Meski pun cara seperti ini tidak menjamin pasti berhasil, namun fakta membuktikan bahwa strategi seperti ini memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih baik.

Atas dasar argumentasi di atas, sehingga kebanyakan ulama-ulama Islam ahli kristologi apabila bermaksud menyampaikan dalil-dalil perihal kebenaran yg haq, termasuk perihal nubuat-nubuat kerasulan Muhammad SAW dalam ayat-ayat al-kitab, maka yg biasa disampaikan justru dalil-dalil yg diambil dari alkitab itu sendiri. Banyak ulama-ulama Islam ahli kristologi yang menggunakan metode seperti ini, dari kalangan ulama klasik tercatat antara lain : Ibnu Hazm, Ibnu al-Qayyim, Rahmatullah bin Khalil al-Hindi, dll. Adapun di abad modern ini lebih banyak lagi kita dapat menemukannya, misalnya : Syaikh Ahmed Deedat, Abu Deedat, LS.Mokoginta, Irene Handono, Prof.HS.Tharick Chehab, Dr.Jerald F.Dirk, dll. Hal ini dipertegas oleh pernyataan Syeikh Abdullah Bin Abdurrahman Al Jibrin, “Cara seperti ini tidak melanggar syariat Islam. Penggunaan dalil-dalil kitab para ahli kitab (Injil) adalah lebih mudah, karena di samping tidak bertentangan dengan kondisi Al-Qur’an yang berlaku sebagai penasakh kitab-kitab mereka, juga untuk membuktikan terlebih dulu berbagai kesalahan yang ada dalam kitab para ahli kitab tersebut (Injil)”.

Dalil-dalil kedekatan hubungan antara Isa AS dengan Muhammad SAW :

Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Tajriidu Asmaaish-Shahabah 1 : 432, berkata : “Isa putra Maryam adalah seorang sahabat dan seorang Nabi, karena pernah melihat Nabi SAW pada malam isra’ dan mengucapkan salam kepadanya. Maka dia adalah sahabat yang paling akhir meninggalnya.” Khususiyyah (keistimewaan) Isa didasarkan pada sabda Nabi SAW yang artinya :”Aku adalah orang yang paling dekat dengan Isa putra Maryam. Antara aku dan dia tidak diselingi oleh Nabi lain.” [Shahih Bukha ri 6 : 477-478, Kitab Ahadiitsil Anbia’, Bab Qaulilah “Wadzkur fil Kitaabi Maryam”; juga dlm Shahih Muslim 15 : 119, Kitab Al-Fadhaail, Bab.Fadhaail Isa AS].

Rasulullah SAW adalah orang yang paling istimewa dan paling dekat dengan Isa AS, karena Isa lah yang menyampaikan berita akan datangnya Rasulullah SAW, dan menyeru manusia untuk membenarkan dan mengimaninya, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaff : 6 di atas. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Minhaj Fi Syu’abil Imam 1 : 424-425 oleh Al-Hummi; dalam At-Tadzkiroh oleh Al-Qurthubi : 679; juga dalam Fathul-Bari 6 : 493; dan catatan kaki kitab At-Tashrih bimaa Tawaata ro Fii Nusuulil Masiih: 94 oleh Syekh Abdul Fattah Abu Ghodah.

Dalam sebuah riwayat disebutkan :”Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, maukah engkau memberitahukan kepada kami tentang dirimu ?’. Beliau menjawab, ‘Mau, aku adalah realisasi do’a Ibrahim dan kabar gembira yang pernah disampaikan saudaraku Isa. ” [Ibnu Ishaq dalam As-Siroh, riwayat di atas dinukil pula dalam Tahdzib Siroh Ibnu Hisyam : 45 oleh Abdus-Salam Harun, penerbit Al-Majma’ul Ilmi Al-‘Arabi Al-Islami, Beirut]. Ibnu Katsir mengomentari tentang isnad riwayat ini, beliau berkata, “Ini isnad yang bagus. ” Dan beliau mengemukakan beberapa riwayat sebagai syahidnya yang berasal dari riwayat oleh Imam Ahmad. Penjelasan ini dapat dilihat dalam Tafsir Ibnu Katsir 8 : 136; dan dalam Musnad Imam Ahmad 4 : 127, 5: 262.

Dalil-dalil perihal kedekatan hubungan antara rasulullah SAW dengan Isa AS, sebagaimana dikutip di atas tentu sangat kecil kemungkinannya dibaca oleh saudara kita dari kalangan ahli kitab, apalagi kalau sampai memunculkan hubungan-hubungan antara Isa AS (yang menurut mereka adalah Tuhan) dengan Muhammad SAW. Karena kebanyakan dari mereka mempunyai anggapan, bahwa Yesus itulah utusan paling akhir, tidak ada lagi sesudahnya. Maka betapa sulitnya apabila tidak menggunakan dalil-dalil dari kitab para ahli kitab itu ?. Wallahu a’lam.

Maraji’ :
– Syeikh Abdullah Bin Abdurrahman Al Jibrrin, “Sosok Isa Dalam Sorotan Ulama”.
– Asyratus Sa’ah (Tanda-Tanda Hari Kiamat), Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabl MA, Penerjemah Drs As’ad Yasin, Penerbit CV Pustaka Mantiq.

[dari : Mukaddimah Labbaik edisi : 036/th.04/Dzulhijjah-Muharram 1428H/2008M]


ZIARAH KE MASJID RASUL SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Januari 22, 2008

Pertama : Disunatkan bagi anda pergi ke Madinah kapan saja, dengan niat ziarah ke Masjid Nabawi dan shalat di dalamnya. Karena shalat di Masjid Nabawi lebih baik dari pada seribu kali shalat di masjid lain, kecuali Masjid Haram.

Kedua : Ziarah ke Masjid Nabawi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ibadah haji, oleh karena itu tidak perlu berihram maupun membaca talbiyah.

Ketiga : Apabila anda telah sampai di Masjid Nabawi, masuklah dengan mendahulukan kaki sebelah kanan, bacalah ” Bismillahir-Rahmanir-Rahim” dan salawat untuk Nabi Muhammad SAW. Dan mohonlah kepada Allah agar Ia membukakan untuk anda segala pintu rahmat-Nya, dan bacalah :”‘Audzu billahil-‘azhiimi wa-wajhihil-kariimi wa-sulthanihil-qadiimi minas syaithanir-rajiimi, Allahuma iftahlii abwaba rahmatika”. (“Artinya : Aku berlindung kepada Allah yg Maha Agung, kepada wajah-Nya yang Maha Mulia, dan kepada kekuasaan-Nya yang Maha Dahulu (Qadim), dari godaan syetan yang terkutuk. Ya Illahi, bukakanlah bagiku segala pintu rahmat-Mu”).
Do’a ini juga dianjurkan untuk dibaca setiap masuk masjid-masjid yang lain.

Keempat : Setelah memasuki Masjid Nabawi, segeralah anda melakukan shalat sunnah Tahiyat-al-masjid. Baik juga shalat ini dilakukan di Raudhah, jika tidak mungkin , maka lakukanlah di tempat lain didalam masjid itu.

Kelima : Kemudian menujulah ke kubur Rasulullah SAW, dan berdirilah di depannya menghadap ke arahnya, kemudian ucapkanlah dengan sopan dan suara lirih :”Assalamu ‘alaika ayuhal-nabiyyu warahmatullahi wabarakaatuhu”. (“Artinya : Semoga salam sejahtera, rahmat IIlahi dan berkah-Nya terlimpah kepadamu wahai Nabi (Muhammad)”. “Allahuma atihil-lawasilata walfadhiilah wab’astuhul-maqamal- mahmuuda-ladzii wa’adutahu, Allahuma ijazihi ‘an umatihi afdhalal-jazaai”. (“Artinya : Ya Allah, berilah beliau kedudukan tinggi di sorga serta kemulyaan, dan bangkitkanlah beliau di tempat terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya. Ya Allah, limpahkan lah kepadanya sebaik-baik pahala, beliau yang telah menyampaikan risalah kepada umatnya”.) Kemudian bergeserlah anda sedikit ke sebelah kanan, agar dapat berada di hadapan kubur Abu Bakar Ra., ucapkanlah salam kepadanya dan berdo’alah memohonkan ampunan dan rahmat Illahi untuknya. Kemudian bergeserlah lagi sedikit kesebelah kanan, agar anda dapat berada di hadapan kubur Umar Ra., ucapkanlah salam dan berdo’alah untuknya.

Keenam : Disunatkan bagi anda berziarah ke Masjid Quba’ dalam keadaan telah bersuci dari hadats, dan lakukan shalat didalamnya, karena Nabi SAW melakukan hal itu dan menganjurkannya.

Ketujuh : Disunatkan pula bagi anda berziarah ke pekuburan Baqi kubur Utsman Ra. di Baqi, dan juga kubur para Syuhada’ Uhud dan kubur Hamzah Ra., ucapkanlah salam dan berdo’alah untuk mereka, karena Nabi SAW pernah menziarahi mereka dan berdo’a untuk mereka, dan beliau pun mengajarkan para sahabat beliau apabila mereka berziarah agar mengucapkan :
“Assalamu ‘alaikum ahladdiyar minal-mu’miniina wal muslimiina wa-inaa insyaa allahu bikum laahiquuna nas alullaha lanaa walaku mul ‘aafiyah” (“Artinya : Semoga salam sejahtera terlimpah untuk kamu sekalian, wahai para penghuni kubur yang mu’min dan muslim, dan kamipun insya Allah akan menyusul kamu sekalian, semoga Allah mengaruniai keselamatan untuk kami dan kamu sekalian”.)

Di Madinah Munawwarah tidak ada masjid ataupun tempat yang disunatkan untuk di ziarahi, selain Masjid Nabawi dan tempat-tempat yang tersebut tadi, oleh karena itu janganlah anda memberatkan diri atau berpayah-payah mengerjakan sesuatu yang tidak ada pahalanya, bahkan mungkin anda akan mendapatkan dosa karena perbuatan tersebut. –
Wallahu waliyyut-taufiq

[Dari buku Petunjuk Jama’ah Haji dan Umrah Serta Penziarah Masjid Rasul SAW, Pengarang : Kumpulan Ulama, hal. 28-31, penerbit Departement Agama, Waqaf, Dakwah dan Bimbingan Islam, Saudi Arabia]
http://almanhaj.or.id/
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 035/th.04/DzulQoidah–DzulHijjah 1428H/2007M


Kewajiban Menunaikan Haji Hanya Sekali Seumur Hidup

Januari 22, 2008

Bagi orang yang telah memiliki kemampuan dan memenuhi segala persyaratan, wajib untuk segera melaksanakan ibadah haji. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam :
“Barangsiapa hendak melaksanakan haji, hendaklah segera ia lakukan, karena terkadang seseorang itu sakit, binatang (kendaraannya) hilang, dan adanya suatu hajat yang menghalangi.”( HR. Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh al-Albani. Lihat Shahih Ibni Majah No. 2331).
Dan sabda beliau :”Bersegeralah melaksanakan haji, karena sesungguhnya salah seorang di antara kamu tidak mengetahui apa yang akan merintanginya.”( HR. Ahmad dan dihasankan oleh al-Albani dalam Irwaa-ul Ghaliil No. 990).)

Kewajiban Haji Hanya Sekali Seumur Hidup
Melaksanakan ibadah haji dan umrah diwajibkan hanya sekali seumur hidup bagi setiap orang yang telah memenuhi persyaratan dibawah ini:
* Muslim.
* Baligh.
* Berakal.
* Merdeka (bukan hamba sahaya).
* Memiliki kemampuan (istitha’ah).

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “…Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah…” (QS. Ali ‘Imran: 97)
Dan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda dalam sebuah khutbahnya, yang artinya, “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kamu untuk melaksanakan haji, maka laksanakanlah haji ! Lalu seorang Sahabat bertanya : ‘Apakah pada setiap tahun, ya Rasulullah ?’. Beliau pun diam hingga orang itu mengulangi pertanyaannya tiga kali. Kemudian beliau bersabda :’Seandainya aku mengatakan: ‘Ya’, niscaya akan menjadi wajib dan pasti kalian tidak akan mampu (melaksanakannya). Selanjutnya kata beliau :’Biarkan aku, apa-apa yang kubiarkan bagimu, karena sesungguhnya orang-orang sebelummu telah dibinasakan hanya karena banyaknya pertanyaan dan penyelisihan mereka terhadap Nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepadamu, maka kerjakanlah semampumu, dan jika aku melarangmu dari sesuatu, maka tinggalkanlah.'” ( HR. Muslim. Lihat Mukhtasar Shahih Muslim ditahqiq oleh al-Albani No. 639, dan an-Nasa-i: 5/110, lihat pula kitab al-Wajiz hal: 230.)

Pembatal-Pembatal Haji
Ibadah haji menjadi batal (tidak sah) karena melaksanakan salah satu dari dua hal sebagai berikut :
* Jima’ (hubungan intim suami isteri) yang dilakukan sebelum melempar jumratul ‘Aqabah. Adapun apabila dilakukan sesudah melempar jumratul ‘Aqabah dan sebelum melaksanakan thawaf Ifadhah, maka hal itu tidak membatalkan hajinya. Meski demikian, pelakunya (tetap) berdosa.
* Meninggalkan salah satu diantara rukun-rukun haji.
Apabila haji seseorang batal karena melaksanakan satu dari dua hal tersebut di atas, maka dia berkewajiban untuk mengulangi ibadah hajinya pada tahun berikutnya jika mampu. Sesuai dengan apa yang telah dijelaskan pada “Makna Istitha’ah”. Namun jika tidak mampu, maka kapan saja ia mampu (wajib baginya untuk mengulangi hajinya,-Pent) sebab, kewajiban bersegera dalam ibadah haji tergantung pada adanya kemampuan.

[Dari Kajian Islam : Meneladani Manasik haji Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, oleh : Mubarak bin Mahfudh Bamualim Lc. – http://www.AlSofwah.or.id]

Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :”Bersegeralah melaksanakan haji, karena sesungguhnya salah seseorang di antara kamu tidak mengetahui apa yang akan merintanginya.”
( HR.Ahmad dan dihasankan oleh al-Albani dlm Irwaa-ul Ghaliil No.990).
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 035/th.04/DzulQoidah–DzulHijjah 1428H/2007M


Beberapa Kesalahan Dalam Melakukan Ibadah Haji

Januari 22, 2008

Pertama : Beberapa Kesalahan Dalam Ihram.
Melewati miqat dari tempatnya tanpa berihram dari miqat tersebut, sehingga sampai di Jeddah atau tempat lain di daerah miqat, kemudian melakukan ihram dari tempat itu. Hal ini menyalahi perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengharuskan setiap jama’ah haji agar berihram dari miqat yang dilaluinya.
Maka bagi yang melakukan hal tersebut, agar kembali ke miqat yang dilaluinya tadi, dan berihram dari miqat itu kalau memang memungkinkan. Jika tidak mungkin, maka ia wajib membayar fidyah dengan menyembelih binatang kurban di Mekkah dan memberikan keseluruhannya kepada orang-orang fakir. Ketentuan tersebut berlaku bagi yang datang lewat udara, darat maupun laut. Jika tidak melintasi salah satu dari kelima miqat yang sudah maklum itu, maka ia dapat berihram dari tempat yang sejajar dengan miqat pertama yang dilaluinya.

Kedua : Beberapa Kesalahan Dalam Tawaf.
[1] Memulai tawaf sebelum Hajar Aswad, sedang yang wajib haruslah dimulai dari Hajar Aswad.
[2] Tawaf didalam Hijr Ismail. Karena yang demikian itu berarti ia tidak mengelilingi seluruh Ka’bah, tapi hanya sebagiannya saja, karena Hijir Ismail itu termasuk Ka’bah. Maka dengan demikian Tawafnya tidak sah (batal).
[3] Ramal (berjalan cepat) pada seluruh putaran yang tujuh. Padahal ramal itu hanya dilakukan pd tiga putaran pertama, itupun tertentu dalam tawaf Qudum saja.
[4] Berdesak-desakan untuk dapat mencium Hajar Aswad, dan kadang-kadang sampai pukul-memukul dan saling mencaci-maki. Hal itu tidak boleh, karena dapat menyakiti sesama muslim disamping memaki dan memukul antar sesama muslim itu dilarang kecuali dengan jalan yang dibenarkan oleh Agama. Tidak mencium Hajar Aswad sebenarnya tidak membatalkan Tawaf, bahkan Tawafnya tetap dinilai sah sekalipun tidak menciumnya. Maka cukuplah dengan berisyarat (mengacungkan tangan) dan bertakbir disaat berada sejajar dengan Hajar Aswad, walaupun dari jauh.
[5] Mengusap-ngusap Hajar Aswad dengan maksud untuk mendapatkan barakah dari batu itu. Hal ini adalah bid’ah, tidak mempunyai dasar sama sekali dalam syari ‘at Islam. Sedang menurut tuntunan Rasulullah cukup dengan menjamah dan menciumnya saja, itupun kalau memungkinkan.
[6] Menjamah seluruh pojok Ka’bah, bahkan kadang-kadang menjamah dan mengusap-ngusap seluruh dindingnya. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menjamah bagian-bagian Ka’bah kecuali Hajar Aswad dan Rukun Yamani saja.
[7] Menentukan do’a khusus untuk setiap putaran dalam tawaf. Karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun yang beliau lakukan setiap melewati Hajar Aswad adalah bertakbir dan pada setiap akhir putaran antara Hajar Aswad dan rukun Yamani beliau membaca :” Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wa fil akhirati hasanah wa qinaa ‘adzaa bannaar” Artinya : “Wa hai Tuhan kami, berilah kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksaan api neraka”.
[8] Mengeraskan suara pada waktu Tawaf sebagaimana dilakukan oleh sebagian jama’ah atau para Mutawwif, yang dapat mengganggu orang lain yang juga melekukan tawaf.
[9] Berdesak-desakan untuk melakukan shalat di dekat Maqam Ibrahim. Hal ini menyalahi sunnah, disamping mengganggu orang-orang yang sedang Tawaf. Maka cukup melakukan shalat dua raka’at Tawaf itu di tempat lain didalam Masjid Haram.

Ketiga : Beberapa Kesalahan Dalam Sa’i.
[1] Ada sebagian jama’ah haji, ketika naik ke atas Safa dan Marwah, mereka menghadap Ka’bah dan mengangkat tangan ke arahnya sewaktu membaca takbir, seolah-olah mereka bertakbir untuk shalat. Hal ini keliru, karena Nabi Shallallahu ‘ala ihi wa sallam mengangkat kedua telapak tangan beliau yang mulia hanyalah disaat berdo’a. Di bukit itu, cukuplah membaca tahmid dan takbir serta berdo’a kepada Allah sesuka hati sambil menghadap Kiblat. Dan lebih utama lagi membaca dzikir yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat beliau di bukit Safa dan marwah.
[2] Berjalan cepat pada waktu Sa’i antara Safa dan Marwah pada seluruh putaran. Padahal menurut sunnah Rasul, berjalan cepat itu hanyalah dilakukan antara kedua tanda hijau saja, adapaun yang lain cukup dengan berjalan biasa.

Keempat : Beberapa Kesalahan di Arafah.
[1] Ada sebagian jama’ah haji yang berhenti di luar batas Arafah dan tetap tinggal di tempat tersebut hingga terbenam matahari. Kemudian mereka berangkat ke Muzdalifah tanpa berwuquf di Arafah. Ini suatu kesalahan besar, yang mengakibatkan mereka tidak mendapatkan arti haji. Karena sesungguhnya haji itu ialah wuquf di Arafah, untuk itu mereka wajib berada di dalam batas Arafah, bukan diluarnya. Maka hendaklah mereka selalu memperhatikan hal wuquf ini dan berusaha untuk berada dalam batas Arafah. Jika mendapatkan kesulitan, hendaklah mereka memasuki Arafah sebelum terbenam matahari, dan terus menetap disana hingga terbenam matahari. Dan cukup bagi mereka masuk Arafah di waktu malam khususnya pada malam hari raya kurban.
[2] Ada sebagian mereka yang pergi meninggalkan Arafah sebelum terbenam matahari. Ini tidak boleh, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, melakukan wuquf di Arafah sampai matahari terbenam dengan sempurna.
Berdesak-desakan untuk dapat naik ke atas gunung Arafah dan sampai ke puncaknya, yang dapat menimbulkan banyak mudarat. Sedangkan seluruh padang Arafah adalah tempat berwuquf, dan naik ke atas gunung Arafah tidak disyari’atkan, begitu juga shalat di tempat itu.
[3] Ada sebagian jama’ah haji yang menghadap ke arah gunung Arafah ketika berdo’a. Sedang menurut sunnah, adalah menghadap Kiblat.
[4] Ada sebagian jama’ah haji membikin gundukan pasir dan batu kerikil pada hari Arafah di tempat-tempat tertentu. Ini suatu perbuatan yang tidak ada dasarnya sama sekali dalam syari’at Allah.

Kelima : Beberapa Kesalahan di Muzdalifah.
Sebagian jama’ah haji, di saat pertama tiba di Muzdalifah, sibuk dengan memungut batu kerikil sebelum melaksanakan shalat Maghrib dan Isya dan mereka berkeyakinan bahwa batu-batu kerikil pelempar Jamrah itu harus diambil dari Muzdalifah.
Yang benar, adalah dibolehkannya mengambil batu-batu itu dari seluruh tempat di Tanah Haram. Sebab keterangan yang benar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwasanya beliau tak pernah menyuruh agar dipungutkan untuk beliau batu-batu pelempar Jamrah Aqabah itu dari Muzdalifah. Hanya saja beliau pernah dipungutkan untuknya batu-batu itu diwaktu pagi ketika meninggalkan Muzdalifah setelah masuk Mina. Ada pula sebagian mereka yang mencuci batu-batu itu dengan air, padahal inipun tidak disyari’atkan.

Keenam : Beberapa Kesalahan Ketika Melempar Jamrah.
[1] Ketika melempar Jamrah, ada sebagian jama’ah haji yang beranggapan, bahwa mereka itu adalah melempar syaithan. Mereka melemparnya dengan penuh kemarahan disertai dengan caci maki terhadapnya. Padahal melempar Jamrah itu hanyalah semata-mata disyari’atkan untuk melaksanakan dzikir kepada Allah.
[2] Sebagian mereka melempar Jamrah dengan batu besar, atau dengan sepatu, atau dengan kayu. Perbuatan ini adalah berlebih-lebihan dalam masalah agama, yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang disyariatkan dalam melemparnya hanyalah dengan batu-batu kecil sebesar kotoran kambing.
[3] Berdesak-desakan dan pukul-memukul didekat tempat-tempat Jamrah untuk dapat melempar. Sedang yang disyari’atkan adalah agar melempar dengan tenang dan hati-hati, dan berusaha semampu mungkin tanpa menyakiti orang lain.
[4] Melemparkan batu-batu tersebut seluruhnya sekaligus. Yang demikian itu hanya dihitung satu batu saja, menurut pendapat para Ulama. Dan yang disyariatkan, adalah melemparkan batu satu persatu sambil bertakbir pada setiap lemparan.
[5] Mewakilkan untuk melempar, sedangkan ia sendiri mampu, karena menghindari kesulitan dan desak-desakan. Padahal mewakilkan untuk melempar itu hanya dibolehkan jika ia sendiri tidak mampu, karena sakit atau semacamnya.

Ketujuh : Beberapa Kesalahan Dalam Tawaf Wada’.
[1] Sebagian jamaah haji meninggalkan Mina pada hari Nafar (tgl. 12 atau 13 DzulHijjah) sebelum melempar Jamrah, dan langsung melakukan Tawaf Wada’, kemudian kembali ke Mina untuk melempar Jamrah. Setelah itu, mereka langsung pergi dari sana menuju negara masing-masing ; dengan demikian akhir perjumpaan mereka adalah dengan tempat-tempat Jamrah, bukan dengan Baitullah. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Janganlah sekali-kali seseorang meninggalkan Mekkah, sebelum mengakhiri perjumpaannya (dengan melakukan Tawaf) di Baitullah”. Maka dari itu, Tawaf Wada wajib dilakukan setelah selesai dari seluruh amalan haji, dan langsung beberapa saat sebelum bertolak. Setelah melakukan Tawaf Wada’ hendaknya jangan menetap di Mekkah, kecuali untuk sedikit keperluan.
[2] Seusai melakukan Tawaf Wada’, sebagian mereka keluar dari Masjid dengan berjalan mundur sambil menghadapkan muka ke Ka’bah, karena mereka mengira bahwa yg sedemikian itu adalah merupakan penghormatan terhadap Ka’bah. Perbuatan ini adalah bid’ah, tidak ada dasarnya sama sekali dalam agama.
[3] Saat sampai di pintu Masjid Haram, setelah melakuan Tawaf Wada’, ada sebagian mereka yang berpaling ke Ka’bah dan mengucapkan berbagai do’a seakan-akan mereka mengucapkan selamat tinggal kepada Ka’bah. Ini pun bid’ah, tidak disyari ‘atkan.

Kedelapan : Beberapa Kesalahan Ketika Ziarah ke Masjid Nabawi.
[1] Mengusap-ngusap dinding dan tiang-tiang besi ketika menziarahi kubur Rasul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengikatkan benang-benang atau semacamnya pada jendela-jendela untuk mendapatkan berkah. Sedangkan keberkahan hanyalah terdapat dalam hal-hal yang disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan dalam bid’ah.
[2] Pergi ke gua-gua di Gunung Uhud, begitu juga ke Gua Hira dan Gua Tsur di Mekkah, dan mengikatkan potongan-potongan kain di tempat tempat itu, disamping membaca berbagai do’a yang tidak diperkenankan oleh Allah, serta bersusah payah untuk melakukan hal-hal tersebut. Kesemuanya ini adalah bid’ah, tidak ada dasarnya sama sekali dalam Syari’at Islam yang suci ini.
[3] Menziarahi beberapa tempat yang dianggapnya sebagai tanda peninggalan Rasul Allah Shallallahu alaihi wa sallam, seperti tempat mendekamnya unta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sumur khatam mupun sumur Usman, dan mengambil pasir dari tempat-tempat ini dengan mengharapkan barakah.
[4] Memohon kepada orang-orang yang telah mati ketika berziarah ke pekuburan Baqi’ dan Syhadah Uhud, serta melemparkan uang ke pekuburan itu demi mendekatkan diri dan mengharapkan barakah dari penghuninya. Ini adalah termasuk kesalahan besar, bahkan termasuk perbuatan syirik yang terbesar, menurut pendapat para Ulama, berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya ibadah itu hanyalah ditujukan kepada Allah semata, tidak boleh sama sekali mengalihkan tujuan ibadah selain kepada Allah, seperti dalam berdo’a, menyembelih kurban, bernadzar dan jenis ibadah lainnya, karena firman Allah, yang artinya :”Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”. (QS.Az-Zumar : 11).
Kita memohon kepada Allah, semoga Ia memperbaiki keadaan ummat Islam ini dan memberi mereka kefahaman dalam agama serta melindungi kita dan seluruh ummat Islam dari fitnah-fitnah yang menyesatkan. Sesungguhnya Ia Maha Mendengar dan Mengabulkan do’a hamba-Nya.

[Dari buku Petunjuk Jama’ah Haji dan Umrah serta Penziarah Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Pengarang Kumpulan Ulama, hal 31-37, diterbitkan dan diedarkan oleh Departement Agama dan Waqaf Dakwah dan Bimbingan Islam, Saudi Arabia]
Sumber :http://almanhaj.or.id/
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 035/th.04/DzulQoidah–DzulHijjah 1428H/2007M