Masuk Islam Karena Fatwa Babi

Mei 22, 2008

al-islahonline.com : Sudah lama Stefanus R.Sumangkir bergerak membangun kelompok yang menjadi ajang berkumpulnya para muallaf (orang yang masuk Islam) di Tegal, Jawa Tengah. Kelompok ini disebut sebagai Paguyuban Muallaf Kallama. Kini anggo tanya sudah mencapai 19 orang. Kelompok itu berusaha untuk mandiri. Dana untuk organisasi didapat dari iuran anggota dan sumbangan dermawan. “Paguyuban ini un tuk ajang komunikasi dan juga wahana mendalami Islam,” ujar Sumangkir.

Jalan yang ditempuh Sumangkir untuk bisa membangun komunitas muallaf ini cukup berliku. Mulanya, Sumangkir yang kini berusia 56 tahun itu adalah seorang penginjil. Ajaran Kristen memang telah melekat pada keluarga Sumangkir sejak dia masih kecil. Pada 1986-1987, Sumangkir dikirim untuk menuntut ilmu di sekolah teologi di Malang, Jawa Timur. Ilmu-ilmu yang diperlukan untuk jadi penginjil pun diserapnya. Hingga 1988, Sumangkir dipercaya Gereja Maranatha Slawi untuk membimbing jemaat.

Dia sempat dikirim ke Desa Karang Gedang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah untuk misi Kristenisasi. Di desa yang mayoritas berpenduduk eks-tapol Pulau Buru itu, Sumangkir rajin mendekati warga agar masuk Kristen. Dengan semangat tinggi, Sumangkir bisa meluluhkan sebagian hati warga sehingga ada yang memeluk Kristen.
Di Karang Gedang ini Sumangkir mengaku kali pertama mendapat hidayah dari Tuhan. “Saat saya menemui seorang yang akan kami Kristen-kan, orang itu bertanya kepada saya tentang Tuhan yang katanya satu tetapi mencipta dua hukum. Contohnya tentang babi, Kristen menghalalkan dan Islam mengharamkan. Atas pertanyaan itu saya kebingungan,” ujarnya mengenang.

HARAMKAN BABI
Sejak itu dia mencoba membuka-buka Injil yg menjadi pedoman bagi agama Kristen. Ternyata Surat Imamat 11 ayat 7 menyebutkan babi haram karena memiliki dua kuku yang terbelah. Namun, para pendeta Kristen saat mengajar di gereja-gereja tak menyatakan babi haram bagi umat Kristen.
Beberapa tahun berlalu, Sumangkir mendapat tugas mengajar di Gereja Maranatha dan GPPS Budimulya di Slawi, Kabupaten Tegal. Di situ Sumangkir berceramah di hadapan jemaat tentang babi yang diharamkan. Ternyata ceramah itu menjadi tidak berkenan bagi majelis gereja. Ia pun langsung diskors. Nama Stefanus Sumangkir dihapus dari daftar penceramah tanpa alasan.

Saat itu Sumangkir tidak langsung berganti agama, namun tetap saja pada pendirian sebagai penginjil. Secara mandiri dia aktif mencari sasaran di tengah masyarakat yang miskin. Kehidupan sebagai penginjil cukup menopang ekonominya pada waktu itu. Dua anaknya, Euneke Alfa Lidia (16 tahun) dan Critoper Pitagoras (13 tahun) bisa sekolah dan hidup layak.
Di tengah kegalauan jiwanya tentang keyakinan dalam beragama, Sumangkir mendapat hidayah yang kedua. Kali ini lewat tayangan televisi Indosiar yang memutar film Ramadan berjudul Jamaludin Al-Afghani. Film tentang tokoh Islam itu mengetuk hati keluarga Sumangkir untuk memeluk Islam. Dari sinilah ghirah Islamnya terus tumbuh, sampai akhirnya dia membangun Paguyuban Muallaf Kallama.

DIPERLAKUKAN TIDAK ADIL
Mulanya, kelompok ini menggelar pengajian rutin setiap malam Senin, bertempat di rumah Sumangkir di jalan Murbei No. 16, Kelurahan Kraton, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal. Mereka biasanya memanggil ustad untuk menambah ilmunya. Anggota paguyuban muallaf yang dipimpin Sumangkir ini terkadang harus lapang dada diperlakukan tidak adil.
Perlakuan tidak adil itu misalnya pernah dialami Gunawan yang bekerja di sebuah toko emas di Kota Tegal. Sejak lama Gunawan menjadi penganut Katolik yang taat, namun akhirnya dia memilih masuk Islam. Saat masih memeluk Katolik, lingkungan tempatnya bekerja terbilang kondusif. Namun, begitu Gunawan ketahuan setiap jum’at pamit ke masjid untuk salat jumat, pemilik toko menjadi kurang berkenan. Akhirnya Gunawan dipecat.
Karena desakan kebutuhan ekonomi, akhirnya para muallaf yang semula aktif mengikuti kegiatan pengajian menjadi berkurang. “Ya saya maklum, mereka harus bisa menghidupi keluarga juga. Sehingga, beberapa dari mereka memilih keluar kota untuk mencari pekerjaan,” tutur Sumangkir. Sumangkir sendiri menggantungkan hidupnya sebagai penceramah dibantu istrinya, Siti Fatimah, yang juga muallaf, yang tiap hari berjualan nasi gudeg. Karena faktor kesibukan itu, aktivitas Paguyuban Muallaf Kallama tak lagi rutin. Namun, Sumangkir tetap ingin menjalankannya. Kini sedang dirintis agar paguyuban itu bisa menjadi ajang usaha bersama. Beberapa anggota yang memiliki keahlian akan dirangkulnya. Sumangkir yang piawai dalam membuat papan reklame dan sablon, akan merintis usaha dalam bidang tersebut. Cuma, katanya, kini belum punya modal. Untuk membangun usaha reklame memang diperlukan peralatan seperti kompresor dan peralatan sablon yg harganya cukup mahal.
Bersama anggotanya, dia akan terus berupaya agar ada penghasilan yang bisa menghidupi keluarganya dan Paguyuban Muallaf Kallama.

[Sumber : Majalah Nurani Edisi 255]
http://al-islahonline.com/bca.php?idartikel=155

Hadiah Dari Penghasilan Haram

Pertanyaan :
“Saya mempunyai seorang saudara muhajir (yang hijrah) ke Prancis dan menjual minuman keras (khomer), bolehkah saya pergi berkunjung kepadanya dan makan dari sebagian hartanya, dan jika dia memberikan hadiah kepada saya, bolehkah saya menerimanya ?”.

Jawab :
“Adapun menyebutnya sebagai muhajir (yang hijrah) adalah salah, karena muhajir menurut pengertian syari’at adalah orang yang meninggalkan negeri orang-orang kafir menuju negeri Islam untuk mempertahankan agamanya, dan inilah yang disebut muhajir. Dan lafadz yang lebih umum, muhajir berarti setiap orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah, sedang orang yang pergi meninggalkan negeri Islam menuju negeri orang-orang kafir tidaklah disebut muhajir.

Adapun bahwa dia mengumpulkan hartanya dari jual beli minuman keras, maka Allah telah mengharamkan minuman keras dan mengharamkan harganya (hasil penjualannya), dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat minuman keras, melaknat penjualnya dan pemakan harganya (harta yg dihasilkan dari jual-beli minuman keras), mereka semua termasuk dalam sepuluh orang yang dilaknat oleh Rasulullah SAW, di karenakan minuman keras, semuanya dilaknat. Harga (harta yang dihasilkan dari) minuman keras adalah haram, oleh karena itu, jika penghasilan saudaramu seluruhnya bersumber dari jual-beli minuman keras, maka tidak boleh bagimu untuk memakan sebagian dari penghasilannya itu, dan tidak boleh kamu mengambil manfaat darinya sesuatu apapun. Karena Allah akan mencukupkan kamu agar tidak sampai menggunakan atau memakan dari harta haram tersebut. Tetapi kamu wajib menasehati dan mengingatkan saudaramu akan Allah dan menasehatinya karena Allah, semoga Allah memberikan taubat kepadanya dan agar dia segera meninggalkan pekerjaan yang jelek itu, dan jika dia terus-menerus melakukan pekerjaannya itu, maka janganlah kamu pergi kepadanya dan tinggalkan dia, dan jika kamu mengetahui bahwa hadiahnya itu berasal dari jual-beli minuman keras maka janganlah kamu menerimanya.

[Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan dalam kitab Muntaqa Fatawa Syaikh Al-Fauzan, jilid.III Hal. 220 fatwa no. 335]

(dari : http://www.alsofwah.or.id)
pesan : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu terdekat” (QS.asy-syu’araa 214), “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yg beriman. (QS.Adz-Dzaariyaat : 55)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 038/th.04/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1429H/2008M

Iklan

Menguak Misteri Muhammad

Januari 23, 2008

Kepalsuan ajaran Gereja terbongkar bersama ayat-ayat palsu yang dinisbahkan kepada Daud, Yohanes, Yesus, dan sebagainya. Misteri nabi Muhammad dalam Bible (alkitab) akhirnya berhasil dibongkar melalui penelitian yang dilakukan oleh seorang mantan pastur, Prof.David Benjamin Keldani, berjudul Menguak Misteri Muhammad.

Prof. David Benjamin Keldani seorang mantan pastur Katholik Roma sekte Uniate-Chaldean. Ujarnya: “Kepindahan saya ke Islam tak lain karena hidayah Allah. Tanpa bimbingan-Nya, semua pengetahuan, penelitian untuk menemukan kebenaran ini mungkin hanya akan membawa kepada kesesatan. Begitu saya mengakui keesaan mutlak Tuhan, maka nabi Muhammad SAW pun menjadi pola sikap dan perilaku saya.

David Benjamin Keldani lahir pada tahun 1867 di Urmia, Persia. Setelah masuk Islam, David Benjamin Keldani mengganti namanya menjadi Abdul Ahad Dawud. Ia adalah seorang mantan pendeta katolik Roma dari sekte Uniate-Khaldean. Ia mengenyam pendidikan sejak kecil dikota itu. Dari 1886-1889 (3 tahun) ia menjadi staf pengajar Arbischop of Canterbury’s Mission untuk Assyrian (Nestorian) Christians di Urmia.

Penobatan sebagai pendeta dan perjalanannya
Pada tahun 1892, ia diutus oleh Kardinal Vaughan ke Roma. Disana ia mempelajari filsafat dan teologi pada Propaganda Fide College, dan pada tahun 1895 dinobatkan sebagai pendeta. Pada tahun 1892 ia menulis serangkaian artikel di The Tablet tentang “Assyria, Romawi, dan Canterbury”; dan juga pada Irish Record tentang “keotentikan Pentateuch”. Pentateuch adalah lima kitab perjanjian lama yang terdiri atas Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Ia mempunyai beberapa terjemahan Ave Maria dalam bahasa berbeda-beda yang diterbitkan di Illustrated Catholic Missions.

Ketika berada di Istanbul, dalam perjalanannya ke Persia pada tahun 1895, ia menulis serangkaian artikel panjang tentang “Gereja-Gereja Timur” dalam bahasa Inggris dan Perancis di surat kabar harian yang terbit disana dengan nama The Levant Herald. Pada tahun 1895, ia bergabung dengan French Lazarist Mission di Urmia, dan terbit untuk pertama kali dalam sejarah misi itu sebuah majalah berkala dalam bahasa Syria yang bernama Qala-la-Syara (Suara Kebenaran).
Pada tahun 1897, ia diutus oleh dua uskup besar Uniate-Khaldean dari Urmia dan Salmas untuk mewakili Katolik Timur pada Kongres Ekaristi yang diselenggarakan di Paray-le-monial, Perancis, dibawah pimpinan Kardinal Perraud. Tentu saja, ini adalah undangan yang resmi. Makalah yang dibacakan di kongres oleh Benjamin disiarkan dalan Tawarikh Kongres Ekaristik dan disebut disebut “Le Pellerin”. Dalam makalah ini, Khaldean Arch-Priest (begitu gelar resminya) menyesalkan sistem pendidikan Katholik dikalangan Nestorian, dan meramalkan kemunculan yang su dah dekat dari pendeta Rusia di Urmia.

Pada tahun 1898, Benjamin kembali lagi ke Persia. Di kampung halamannya, Digala, sekitar 1 mil dari kota, ia membuka sekolah gratis. Tahun berikutnya ia dikirim oleh otoritas Gereja untuk memimpin Keuskupan Salmas, dimana konflik yang tajam dan berbau skandal antara Uskup Besar Uniate, Khudabash, dan para Bapa Lazarist yang sudah berlangsung lama telah mengancam terjadinya perpecahan.
Pada tahun 1900, Bapak Benjamin menyampaikan khotbah terakhirnya dan patut dikenang dihadapan banyak sekali jemaat, termasuk orang Armenia yang non-Katholik dan lain-lainnya, didalam Katedral Khorovabad St. George, Salmas. Pokok bahasan sang pengkhotbah adalah “Abad Baru dan Manusia Baru”. Ia mengingatkan kepada fakta bahwa misionaris Nestorian, sebelum munculnya Islam, telah mengabarkan ajaran-ajaran Yesus (injil) diseluruh Asia; Bahwa mereka memiliki banyak lembaga di India (khususnya pantai Malabar), di Tartar, Tiongkok, dan Mongolia; dan bahwa mereka menerjemahkan kitab Injil kedalam bahasa Turki, Uighur, dan bahasa-bahasa lainnya; Bahwa misi-misi Katholik, Amerika, dan Anglikan, meskipun mereka telah melakukan sedikit kebaikan untuk bangsa Assyro-Khaldean melalui pendidikan dasar, telah memecah bangsa itu di Persia, Kurdistan, dan Mesopotamia menjadi banyak sekali sekte yang bermusuhan; dan bahwa upaya-upaya mereka ditakdirkan untuk menyebabkan keruntuhan yang terakhir.

Konsekuensinya, ia menganjurkan kepada orang-orang pribumi untuk melakukan pengorbanan agar dapat berdiri diatas kaki sendiri sebagai manusia sejati, dan tidak tergantung pada misi-misi asing, dan sebagainya. Ucapan-ucapannya menyinggung para misionaris. Khotbah ini segera mendatangkan Delegasi Apostolik, Mgr. Lesne dari Urmia ke Salmas. Ia tetap menjadi teman yang terakhir bagi Benjamin. Mereka berdua kembali ke Urmia. Sebuah misi Rusia baru sudah diadakan di Urmia sejak tahun 1899. Kaum Nestorian dengan antusias memeluk agama Tsar untuk seluruh Rusia.
Lima misi yang besar dan angkuh (Amerika, Anglikan, Perancis, Jerman, dan Rusia) disertai universitas-universitas mereka, pers yang didukung oleh kalangan agamawan yg kaya, para konsul dan duta besar, berusaha keras mengajak sekitar 100.000 orang Assyro-Khaldean untuk pindah dari Bid’ah Nestorian ke salah satu dari lima bid’ah itu. Tetapi misi Rusia segera melampui misi-misi lainnya, dan misi inilah pada tahun 1915 mendorong bangsa Assyria dari Persia dan juga suku-suku pegunungan Kurdistan, yang kemudian pindah ke Salmas dan Urmia, untuk angkat senjata melawan pemerintah mereka masing-masing. Hasilnya adalah separuh pengikutnya lenyap dan sisanya terusir dari kampung halaman mereka.

Berpindah agama
Pertanyaan besar yang sudah lama berkecamuk dalam benak pendeta ini sekarang mendekati klimaksnya: “Apakah agama Kristen, dengan banyak sekali bentuk dan warnanya, dan dengan naskah-naskah sucinya yang tidak otentik, palsu, dan menyimpang, adalah agama Tuhan yang sejati ?”.
Pada musim panas tahun 1900, ia pensiun dan tinggal di villa mungilnya ditengah-tengah kebun anggur dekat air mancur Challi Boulaghi yang terkenal di Digala, dan disana selama sebulan ia habiskan waktunya untuk sembahyang dan meditasi, membaca berulang-ulang naskah-naskah suci dalam teks-teks aslinya. Krisis pun berakhir dengan pengunduran resmi yang dikirimkan ke Uskup Agung Uniate, Urmia, dimana ia secara terbuka menjelaskan kepada Mar (Mgr.) Touma Audu mengenai alasan-alasan dia melepaskan fungsi kependetaannya. Segala upaya yang dilakukan oleh otoritas kependetaan untuk membatalkan keputusannya sia-sia belaka. Tidak ada perselisihan atau permusuhan pribadi antara Benjamin dan para atasannya.
Selama beberapa bulan Mr. Dawud – begitulah panggilannya sekarang – dipekerjakan di Tibriz sebagai inspektur di Kantor Pos dan Bea Cukai Persia dibawah para ahli Belgia. Kemudian ia ditugaskan sebagai guru dan penerjemah Putera Mahkota Muhammad Ali Mirza.

Pada tahun 1903, sekali lagi ia mengunjungi Inggris dan disana ia bergabung dengan komunitas Unitarian. Pada tahun 1904 ia dikirim oleh British and Foreign Unitarian Association untuk menangani masalah pendidikan dan penerangan ditengah masyarakat desanya. Dalam perjalanan menuju Persia ia mengunjungi Istanbul; dan setelah mengadakan beberapa wawancara dengan syeikh Islam yang bernama Jamaluddin Effendi dan beberapa ulama lainnya, ia memeluk agama Islam. (dari wikipedia).

Ucapan Ilahi terhadap Arabia (Yesaya 21:13)
Periode kesarjanaan klasik yang mandul saat ini, disertai kurangnya pengetahuan kita tentang bahasa-bahasa kuno, telah melumpuhkan cita rasa modern dalam mengapresiasi setiap upaya seperti yang hendak saya lakukan. Halaman-halaman berikut ini telah menghasilkan serangkaian artikel yang sangat cerdas dari pena Rev. Profesor David Benjamin Keldani (Abdul Ahad Dawud), tetapi saya ragu apakah terdapat banyak orang, dikalangan hierarki gereja kristen sekalipun, yang dapat meng ikuti penjelasan terperinci dari seorang Profesor yg berpengetahuan tinggi ini. Malah saya benar-benar ragu ketika ia berusaha membawa para pembacanya kedalam sebuah labirin ilmu pengetahuan dari ratusan tahun silam.

Bagaimana dengan bahasa Arami, ketika sangat sedikit dikalangan pendeta sekali pun yang mampu memahami versi Perjanjian Baru dalam bahasa latin (Vulgate) dan versi bahasa Yunani ?. Khususnya lagi ketika riset-riset kami didasarkan hanya pada etimologi bahasa Yunani dan Latin !.
Bagaimanapun nilai disertasi-disertasi seperti itu di mata musuh kami, pada saat sekarang, sama sekali tidak mampu mengapresiasinya dari sudut ilmu pengetahuan; karena ambiguitas makna yang melekat pada ungkapan-ungkapan nubuat yg saya singgung membuat ungkapan-ungkapan itu cukup elastis untuk mencakup setiap kasus.
Yang dikatakan “paling kurang” dalam nubuat Johanes Pembaptis tidak mungkin adalah anak Maria, meskipun ia dipandang hina oleh masyarakat bangsanya sendiri. Asal tukang kayu suci itu dari kalangan sederhana. Ia dicemooh, diperolok, dan didiskreditkan, ia diremehkan dan dibuat kelihatan “paling kurang” dalam penilaian kalangan Scribe (ahli menulis) dan Pharisee (anggota sekte Yahudi yang menafsirkan hukum Musa secara keras).
Ekses dari semangat yang ditunjukkan oleh para pengikutnya pada abad kedua dan ketiga masehi, yang selalu cenderung loncat pada apa saja dalam bentuk nubuat dalam Alkitab, sudah pasti akan menyebabkan mereka meyakini bahwa Tuhan mereka adalah orang yang disinggung oleh Yohanes Pembaptis.

Namun, ada kesulitan lain yang menghadang, bagaimana seseorang dapat mempercayai kesaksian dari sebuah kitab yang tak dapat disangkal penuh dengan dongeng ? Keaslian Alkitab telah dipertanyakan oleh seluruh dunia. Tanpa menindak-lanjuti pertanyaan tentang keasliannya, paling tidak kita bisa mengatakan bahwa kita tidak bisa bergantung pada pernyataan-pernyataan Alkitab mengenai Yesus dan mukjizat-mukjizatnya. Sebagian orang malah lebih jauh lagi menegaskan bahwa eksistensi dia sebagai makhluk bersejarah dipertanyakan, dan menurut kitab Injil akan berbahaya kalau sampai pada sesuatu kesimpulan yang kelihatannya aman mengenai masalah ini.

Seorang Kristen Fundamentalis tidak bisa berkomentar apa pun terhadap pernyataan saya mengenai hal ini. Jika “kalimat-kalimat sesat” dan kata-kata yang objektif dalam Perjanjian Lama dapat dikhususkan oleh para penulis sinoptik sebagai berlaku bagi Yesus, maka segala komentar dari penulis yang berpengetahuan tinggi mengenai artikel-artikel ilmiah dan sangat menarik ini pasti menimbulkan respek dan apresiasi dalam segala hal sekalipun dari lembaga kependetaan.
Saya menulis dengan nada yang sama, tetapi saya telah berusaha mendasarkan argumen-argumen saya pada bagian-bagian Alkitab yang hampir tidak membolehkan adanya perselisihan linguistik apa pun. Saya tidak akan pergi ke bahasa Latin, Yunani, atau Arami, karena hal itu tidak ada gunanya. Saya hanya memberikan kutipan berikut dari Alkitab revisi Lembaga Alkitab Indonesia tahun 1974.

Kami membaca firman berikut dalam kitab Ulangan 18:18 : “Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.”
Jika firman diatas tidak tertuju kepada Muhammad, maka firman itu tetap masih belum terpenuhi. Yesus sendiri tidak pernah mengklaim sebagai nabi yang dimaksud. Bahkan murid-muridnya pun berpendapat sama. Mereka mengharapkan kedatangan Yesus yang kedua untuk memenuhi nubuat [2].
Sejauh ini tidak ada perselisihan bahwa kedatangan Yesus yang pertama bukanlah kelahiran “nabi seperti engkau”, dan kelahirannya yang kedua hampir tidak dapat memenuhi nubuat itu.

Yesus, sebagaimana diyakini oleh gerejanya, akan muncul sebagai “Hakim” dan bukan sebagai “Pemberi Hukuman”. Tetapi, orang yang dijanjikan haruslah membawa “api (hukum) yang menyala” ditangannya. Namun, dalam memastikan personalitas dari nabi yang dijanjikan, nubuat yang lain dari Musa sangatlah menolong yang berkata tentang sinar Tuhan dari Paran, pegunungan Mekah. Firman dalam naskah kitab King James Version Ulangan 33:2, berbunyi sebagai berikut : “Berkatalah ia: “Tuhan datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang dengan sepuluh ribu orang kudus; di sebelah kanannya tampak kepada mereka api yang menyala.”
Dalam firman ini, Tuhan diibaratkan dengan matahari. Dan Yesus sama sekali tidak pernah ke Paran. Yang ada hubungannya dengan Paran adalah Hajar dan anaknya yang bernama Ismail, berkeluyuran di padang gurun Bersyeba, yang kemudian menetap di padang gurun Paran. “Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir”.(Kejadian 21:21)

Ismail menikahi seorang wanita Mesir, dan dari kelahiran pertamanya, Kedar, memberikan keturunan kepada bangsa Arab yang dari sejak itu sampai sekarang menjadi penghuni padang gurun Paran. Dan jika tidak dapat disangkal lagi, bahwa silsilah keturunan Muhammad merujuk kepada Ismail melalui Kedar dan ia tampil sebagai seorang nabi di padang gurun Paran dan menaklukkan Mekah dengan 10.000 pasukan dan menegakkan api (hukum) yang menyala kepada kaumnya, maka bukankah nubuat tesebut terpenuhi sesuai bunyinya ?.
Bunyi nubuat dari Habakuk 3:3 sangat perlu diperhatikan. “Keagungannya menutupi segenap langit, dan bumipun penuh dengan pujian kepadanya.”
Mengenai padang gurun Paran juga telah diwahyukan :”Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar ! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung ! Baiklah mereka memberi penghormatan kepada Tuhan dan memberitakan pujian yang kepadanya di pulau-pulau. Tuhan keluar berperang seperti pahlawan, seperti orang perang Ia membangkitkan semangatnya untuk bertempur; Ia bertempik sorak, ya, Ia memekik, terhadap musuh-musuhnya Ia membuktikan kepahlawanannya. (Yesaya 42:11-13)

Sehubungan dengan itu, ada dua nubuat lain yang perlu diperhatikan yang merujuk kepada Kedar: Pertama dalam Yesaya 60:1-7 yang bunyinya :”Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu; anak-anakmu laki-laki datang dari jauh, dan anak-anakmu perempuan digendong. Pada waktu itu engkau akan heran melihat dan berseri-seri, engkau akan tercengang dan akan berbesar hati, sebab kelimpahan dari seberang laut akan beralih kepadamu, dan kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepadamu. Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta mem beritakan perbuatan masyhur TUHAN. Segala kambing domba Kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku.”

Nubuat lainnya, lagi-lagi dalam Yesaya 21:13-17 [3] :”Ucapan ilahi terhadap Arabia . Di belukar di Arabia kamu akan bermalam, hai kafilah-kafilah orang Dedan ! Hai penduduk tanah Tema, keluarlah, bawalah air kepada orang yang haus, pergilah, sambutlah orang pelarian dengan roti ! Sebab mereka melarikan diri terhadap pedang, ya terhadap pedang yang terhunus, terhadap busur yang dilentur, dan terhadap kehebatan peperangan. Sebab beginilah firman Tuhan kepadaku: “Dalam setahun lagi, menurut masa kerja prajurit upahan, maka segala kemuliaan Kedar akan habis. Dan dari pemanah-pemanah yang gagah perkasa dari bani Kedar, akan tinggal sejumlah kecil saja, sebab TUHAN, Allah Israel , telah mengatakannya.”

Bacalah nubuat-nubuat dari kitab Yesaya dan kitab Ulangan yang berbicara tentang sinar Tuhan dari Paran: Jika Ismail menghuni padang gurun Paran, tempat ia melahirkan Kedar, yakni nenek moyang bangsa Arab; dan jika anak-anak Kedar harus memberikan sambutan pada altar ilahi untuk mengagungkan “rumah keagunganNya” dimana kegelapan akan menyelimuti bumi selama beberapa abad, dan kemudian negeri itu akan menerima terang dari Tuhan; dan jika semua keagungan Kedar akan runtuh dan jumlah para pemanah, orang-orang perkasa dari anak-anak Kedar akan lenyap dalam setahun setelah orang itu melarikan diri dari pedang yang dihunus dan busur yang dilentur – Yang kudus dari Pegunungan paran (Habakuk 3:3) maka tidak lain adalah Muhammad.

Muhammad keturunan suci dari Ismail melalui Kedar, yang berdiam di padang gurun Paran. Melalui dia, maka Tuhan bersinar di Paran, dan Mekkah adalah satu-satunya tempat dimana rumah Allah (bait Allah) dimuliakan dan domba-domba Kedar memberikan sambutan diatas altarnya. Muhammad didzalimi oleh kaumnya dan terpaksa meninggalkan Mekkah. Dia kehausan dan melarikan diri dari pedang yang dihunus dan busur yang dilentur, dan setahun kemudian setelah Muhammad meninggalkan Mekkah, dalam perang Badar, dia berhasil mengalahkan penduduk Mekkah dan sejumlah bani Kedar yang gagah perkasa tewas dan semua kemuliaan Kedar tumbang dalam perang Badar.
Jika para nabi suci tidak diakui sebagai pemenuhan semua nubuat ini, maka nubuat-nubuat tersebut akan tetap tidak terpenuhi. “Rumah keagunganKu” yang disebut dalam kitab Yesaya adalah rumah Tuhan di Mekkah. Bukan Gereja Kristus sebagaimana perkiraan para ahli tafsir Kristen. Kawanan domba-domba Kedar, sebagaimana disebut dalam ayat 7, belum pernah datang ke Gereja Kristus, dan adalah fakta bahwa kampung-kampung Kedar dan penduduknya adalah satu-satunya kaum didunia ini yang tetap tidak dapat dimasuki pengaruh Gereja Kristus. Lagi-lagi, penyebutan 10.000 orang kudus dalam ulangan 33, sangatlah penting: Dia bersinar dari Paran. Dan ia datang bersama 10.000 orang kudus.

Bacalah seluruh sejarah padang gurun Paran dan Anda akan menemukan tidak ada peristiwa lain selain peristiwa penaklukan Mekkan yang dilakukan oleh nabi Muhammad bersama dengan 10.000 pengikutnya dari Madinah dan memasuki kembali “rumah keagunganNya”. Dia memberikan api (hukum) yang menyala kepada dunia dan melenyapkan hukum-hukum lainnya.
Sang Penghibur (The Comforter) atau roh kebenaran yang disebut oleh Yesus tidak lain adalah nabi Muhammad. Tidak bisa diartikan sebagai Holy Ghost (Roh Kudus), seperti versi Teolog Kristen. “Ada gunanya bagimu kalau aku pergi” Kata Yesus, “Karena kalau aku tidak pergi maka Sang Penghibur tidak akan datang kepadamu, tapi jika aku pergi, maka aku akan mengirim dia kepadamu”. Perkataan ini dengan jelas menunjukkan bahwa Sang Penghibur pasti datang setelah Yesus pergi, dan tidak berada bersama Yesus ketika ia mengucapkan kata-kata ini. Akankah kita menduka bahwa Yesus sama sekali tanpa Holy Ghost jika kedatangannya tergantung pada kepergian Yesus. Di samping itu, cara Yesus menggambarkan dia menunjukkan bahwa dia adalah seorang manusia, bukan roh !. “Dia tidak akan berbi cara mengenai dirinya sendiri, melainkan apa yang akan didengarnya yang akan ia bicarakan.” Akankah kita menduga bahwa Holy Ghost dan Tuhan adalah dua entitas yang berbeda dan bahwa Holy Ghost berbicara tentang dirinya sendiri dan juga apa yang ia dengar dari Tuhan ?!.

Ucapan-ucapan Yesus jelas sekali menunjuk kepada seorang pesuruh Tuhan. Ia menyebutnya Roh Kebenaran, dan begitulah Al-Qur’an berbicara tentang Muhammad.

(sumber : “Muhammad in the bible”, MENGUAK MISTERI MUHAMMAD , Prof.David Benjamin Keldani, diterbitkan di Indonesia, Sahara Publishers Cetakan ke : 11 Mei 2006).
http://swaramuslim.net/ebook/html/019/
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 036/th.04/Dzulhijjah-Muharram 1428H/2008M


Ali Selman Benoist

Desember 29, 2007

Saya adalah seorang Doktor dalam ilmu kesehatan, berasal dari keluarga Perancis Katolik. Pekerjaan yang saya pilih ini telah menyebabkan saya terpengaruh oleh corak kebudayaan ilmiah yang tidak banyak memberikan kesempatan dalam bidang kerohanian. Ini tidak berarti bahwa saya tidak percaya atas adanya Tuhan. Yang saya maksud ialah karena dogma-dogma dan peribadatan Kristen, khususnya Katolik, tidak membangkitkan pengertian dalam jiwa saya atas adanya Tuhan. Karena itulah maka naluri saya atas Esanya Tuhan Allah telah menjadi penghalang antara diri saya dan kepercayaan Trinitas, dan dengan sendirinya juga atas ketuhanan Yesus Kristus.

Sebelum saya memeluk agama Islam, saya telah percaya atas kebenaran kalimat syahadat pertama yang berbunyi ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH dan ayat-ayat Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas yang berbunyi :”Katakanlah: Dia itu Allah adalah Satu (Esa); Allah adalah Pelindung. Dia tidak melahirkan anak dan tidak pula dilahirkan sebagai anak, dan tidak ada sesuatu yang menyerupai Dia.” (QS. Al-Ikhlash 1-4).
Dengan demikian, maka saya menganggap bahwa percaya kepada alam gaib dan segala yang ada di belakang kebendaan (metafisika) itulah yang menyebabkan saya memeluk agama Islam, disamping lain-lain sebab yang membuat saya berbuat demikian. Saya tidak bisa menerima pengakuan para pendeta Katolik yang mengatakan bahwa salah satu kekuasaan mereka ialah “mengampuni dosa manusia” sebagai wakil Tuhan. Dan saya secara mutlak tidak percaya atas dogma Katolik tentang “makan malam ketuhanan”‘ (rite of communion) dan “roti suci” yang melambangkan jasad Yesus. Dogma ini menyerupai kepercayaan rakyat-rakyat pada abad primitif yang membuat lambang-lambang suci yang tidak boleh didekati orang. Kemudian bilamana badan lambang ini sudah mati, jiwanya mereka jadikan sebagai sumber ilham, dan jiwanya itu masuk ke dalam lingkungan mereka.

Soal yang lain lagi yang menyebabkan saya jauh dari agama Kristen, ialah ajaran-aiarannya yang sedikitpun tidak ada hubungannya dengan kebersihan badan, terutama sebelum melakukan sembahyang, sehingga saya anggap hal itu merupakan pelanggaran atas kehormatan Tuhan, karena sebagaimana Dia telah membuatkan jiwa buat kita, Dia juga telah membuatkan badan kita Dan adalah suatu kewajiban kita untuk tidak mensia-siakan badan kita. Saya juga menilai bahwa agama Kristen itu bersikap pasif mengenai logika kehidupan jasmani kemanusiaan, sedangkan Islam adalah satu-satunya agama yang memperhatikan alam kemanusiaan.

Adapun titik berat dan sebab pokok saya memeluk agama Islam ialah Al-Qur’an. Sebelum saya memeluk Islam, saya telah mempelajarinya dengan semangat kritik intelektual Barat, dan saya banyak terpengaruh oleh sebuah buku besar karangan Tuan Malik Bennabi yang bernama Addzahiratul-Qur’aniyah (atau Le Phenomene Coranique), sehingga yakinlah saya bahwa Al-Qur’an itu adalah wahyu yang diturunkan Allah. Sebahagian dari ayat-ayat Al-Qur’an yang diwahyukan lebih dari 13 abad yang lalu mengandung beberapa teori yang sekarang diketemukan oleh pembahasan ilmiah yang paling modern. Hal itu sudah cukup nienyebabkan saya menjadi yakin dan percaya (Iman) kepada Syahadat bagian kedua : MUHAMMADUR’RASULULLAH.

Begitulah, maka pada tanggal 30 Pebruari 1953, saya datang ke Mesjid di Paris untuk memberitahukan keimanan saya kepada Islam, dan Mufti Masjid Paris memasukkan saya dalam daftar kaum Muslimin, dan saya menerima nama baru sebagai orang Islam : Ali Selman.
Saya merasa sangat puas dengan kepercayaan/akidah saya yang baru dan sekali lagi saya kumandangkan: ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASULULLAH !. Salah satu sabda Rasulullah s.a.w. :”Berpikir satu jam lebih baik dari pada beribadah 60 tahun. — Riwayat Abu Hurairah.
Pengetahuan itu milik orang Mukmin yang hilang, di mana saja dia menemukannya, dia lebih berhak , atasnya. — Riwayat Turmudzi.

[dari : Mengapa Kami Memilih Islam, Oleh Rabithah Alam Islamy Mekah, Alih bahasa: Bachtiar Affandie, Cetakan Ketiga 1981, Penerbit: PT. Alma’arif, Bandung]

http://media.isnet.org/islam/Mengapa/Benoist.html
Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.006/th.01/Rajab 1425H/2004M


Islamnya Napoleon Bonaparte

Desember 29, 2007

Siapa yang tidak mengenal Napoleon Bonaparte, seorang Jendral dan Kaisar Prancis yang tenar kelahiran Ajaccio, Corsica 1769. Namanya terdapat dalam urutan ke-34 dari Seratus Tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah yang ditulis oleh Michael H. Hart.Sebagai seorang yang berkuasa dan berdaulat penuh terhadap negara Prancis sejak Agustus 1793, seharusnya ia merasa puas dengan segala apa yang telah diperolehnya itu.

Tapi rupanya kemegahan dunia belum bisa memuaskan batinnya, agama yang dianutnya waktu itu ternyata tidak bisa membuat Napoleon Bonaparte merasa tenang dan damai. Akhirnya pada tanggal 02 Juli 1798, 23 tahun sebelum kematiannya ditahun 1821, Napoleon Bonaparte menyatakan ke-Islamannya dihadapan dunia Internasional. Apa yang membuat Napoleon ini lebih memilih Islam daripada agama lamanya, Kristen ?

Berikut penuturannya sendiri yang pernah dimuat dimajalah Genuine Islam, edisi Oktober 1936 terbitan Singapura.

“I read the Bible; Moses was an able man, the Jews are villains, cowardly and cruel. Is there anything more horrible than the story of Lot and his daughters ?”
“The science which proves to us that the earth is not the centre of the celestial movements has struck a great blow at religion. Joshua stops the sun ! One shall see the stars falling into the sea… I say that of all the suns and planets,…”
(Saya membaca Bible; Musa adalah orang yang cakap, sedang orang Yahudi adalah bangsat, pengecut dan jahat. Adakah sesuatu yang lebih dahsyat daripada kisah Lut beserta kedua puterinya ?” (Lihat Kejadian 19:30-38). “Sains telah menunjukkan bukti kepada kita, bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, dan ini merupakan pukulan hebat terhadap agama Kristen. Yosua menghentikan matahari (Yosua 10: 12-13). Orang akan melihat bintang-bintang berjatuhan kedalam laut…. saya katakan, semua matahari dan planet-planet ….” ).

Selanjutnya Napoleon Bonaparte berkata :”Religions are always based on miracles, on such things than nobody listens to like Trinity. Yesus called himself the son of God and he was a descendant of David. I prefer the religion of Muhammad. It has less ridiculous things than ours; the turks also call us idolaters.”
(“Agama-agama itu selalu didasarkan pada hal-hal yang ajaib, seperti halnya Trinitas yang sulit dipahami. Yesus memanggil dirinya sebagai anak Tuhan, padahal ia keturunan Daud. Saya lebih meyakini agama yang dibawa oleh Muhammad. Islam terhindar jauh dari kelucuan-kelucuan ritual seperti yang terdapat didalam agama kita (Kristen); Bangsa Turki juga menyebut kita sebagai orang-orang penyembah berhala dan dewa.”)

Selanjutnya :”Surely, I have told you on different occations and I have intimated to you by various discourses that I am a Unitarian Musselman and I glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans.”
(“Dengan penuh kepastian saya telah mengatakan kepada anda semua pada kesempatan yang berbeda, dan saya harus memperjelas lagi kepada anda disetiap ceramah, bahwa saya adalah seorang Muslim, dan saya memuliakan nabi Muhammad serta mencintai orang-orang Islam.”)

Akhirnya ia berkata :”In the name of God the Merciful, the Compassionate. There is no god but God, He has no son and He reigns without a partner.”
(“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Allah. Ia tidak beranak dan Ia mengatur segala makhlukNya tanpa pendamping.”)

Napoleon Bonaparte mengagumi Al-Qur’an setelah membandingkan dengan kitab sucinya, Alkitab (Injil). Akhirnya ia menemukan keunggulan-keunggulan Al-Quran daripada Alkitab (Injil), juga semua cerita yang melatar belakanginya.

Referensi :
1. Memoirs of Napoleon Bonaparte by Louis Antoine Fauvelet de Bourrienne edited by R.W. Phipps. Vol. 1 (New York: Charles Scribner’s Sons, 1889) p. 168-169.
http://chnm.gmu.edu/revolution/d/612/
2. ‘Napoleon And Islam’ by C. Cherfils. ISBN: 967-61-0898-7
http://www.shef.ac.uk/%7Eics/whatis/articles/napoleon.htm
3. Satanic Voices – Ancient and Modern by David M. Pidcock, (1992 ISBN: 1-81012-03-1), it states on page 61, that the then official French Newspaper, Le Moniteur, carried the accounts of his conversion to Islam, in 1798 C.E

http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=56

Napoleon Bonaparte embraced Islam ?

England’s foe for many years has been France. The legacy remains as seen in the Capital of England, London, where monuments dedicated to defeats over France, are evident. The defeats have been most significant against that of when France was being ruled by Napoleon Bonaparte. (Nelson’s Column, Trafelgar Square, Waterloo Station to name but a few.)

Yet, history is seldom seen in the truthful light, and is nearly always partial to the ‘winning side’ – in whose hand the pen remains, long after both the battle and the war have been won. Yet, recent discoveries have seemed to suggest some interesting facts about Napoleon and his religious beliefs.

In the book, ‘Satanic Voices – Ancient and Modern’ by David M. Pidcock, (1992 ISBN: 1-81012-03-1), it states on page 61, that the then official French Newspaper, Le Moniteur, carried the accounts of his conversion to Islam, in 1798 C.E.

It mentions his new Muslim name, which was ‘Aly (Ali) Napoleon Bonaparte’. He commends the conversion of his General Jacques Menou, who became known as General ‘Abdullah-Jacques Menou’, who later married an Egyptian, Sitti Zoubeida – who was descended from the line of the Prophet Muhammad (on whom be peace).
Napoleon did recognise the superiority of the Islamic (Shari’ah) Law – and did attempt to implement this in his Empire. Most of this, as one can imagine, has been removed/replaced by modern-day secular laws in France and other parts of Europe, but some aspects of the Islamic (Shari’ah) Law do currently exist in French constitution as the basis for some of their laws from the Code Napoleone. One publicised case was that of the fatal car accident with Diana, Princess of Wales, and Dodi Al-Fayed. “The photographers were charged with an old part of the French Jurisprudence, for ‘not helping at the scene of an accident’- which is taken from the Shari’ah Law of Imam Malik.”
(David M. Pidcock, 1998 C.E.)

Further detailed accounts of this can be found in the book ‘Napoleon And Islam’ by C. Cherfils. ISBN: 967-61-0898-7

http://media.isnet.org/off/Islam/New/napoleon.html
Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.006/th.01/Rajab 1425H/2004M


Bapak Saya Sudah Sakit-sakitan Dan Ingin Masuk Islam

September 12, 2007

Tanya : Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ustadz, bapak saya adalah orang katholik dan pada saat nikah dengan ibu saya (alm), bapak masuk ke agama islam (menurut bpk saya). Tetapi setelah itu bapak saya menjalankan agama lamanya lagi yaitu Katholik. Waktu telah berlalu, sekarang umur bapak saya 75 tahun dalam kondisi terkena penyakit stroke dan lumpuh sebelah. Hari demi hari saya meyakinkan kalau agama Islam adalah agama yang benar. Setiap setelah sholat saya selalu minta diberi petunjuk dan hidayah untuk bapak saya. Waktu terus berlalu, sekarang bapak saya menyadari kalau agama katholik itu bukan identik dengan Injil, karena Injil yang asli tidak pernah
mengajarkan bentuk agama katholik.
Pertanyaan saya, apa yang saya harus perhatikan dan persiapan, apa yang saya harus lakukan supaya bapak saya ihklas menjadi orang muslim. Karena terus terang, paman saya (adik dari bapak) adalah seorang aktifis missionaris katholik.
1. Apakah dalam hal ini saya harus bicarakan dengan paman saya di depan keluarga besar supaya paman saya tidak sakit hati dan tidak mempengaruhi lagi keadaannya.
2. Kapan bapak saya harus menyebut 2 kalimat syahadat.
3. Bagaimana sholat wajib bapak saya karena bapak sudah lumpuh sehingga setiap hari badan dan pakaiannya penuh dengan najis (air kencing dan mungkin kotoran lainnya).
4. Niat saya syukuran untuk bapak saya adalah tanggal 21 Desember 2005 tepat hari kelahirannya.
5. Pembacaan 2 kalimat syahadat tersebut harus di depan siapa ? orang yang ahli dalam agama ?
Mohon penjelasan dari ustadz. Terima kasih atas perhatiannya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb. – (dari : Hamba Allah)

Jawaban:
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ba’du.
Menjadi seorang muslim adalah hak asasi setiap orang, sekaligus juga kewajiban. Tidak ada seorang pun yang berhak menghalangi seorang anak Adam untuk beriman kepada Allah SWT, termasuk ayah dan ibu pun tidak berhak menghalangi. Bahkan menjadi seorang muslim pun tidak membutuhkan restu dari siapa pun. Sebab menjadi muslim itu adalah hak sekaligus kewajiban setiap manusia.
Dan Allah SWT menjamin bahwa orang yang mati dalam keadaan muslim akan masuk surga, meski tetap harus mempertanggung-jawabkan amal perbuatannya terlebih dahulu.

Sebaliknya, mereka yang mati dalam keadaan kufur tidak akan masuk surga. Sebab di mata Allah, semua amal dan perbuatannya sirna tanpa arti. Di sisi lain, tidak ada seorang pun yang tahu berapa lama usianya di dunia ini. Maka bersegera menjadi seorang muslim adalah tindakan yang perlu dilakukan. Agar jangan sampai mati dalam keadaan belum menjadi muslim.

Tentang bagaimana tindakan yang seharusnya anda lakukan terhadap ayahanda yang berminat masuk Islam atas kesadarannya, Anda bisa melihat contoh dari diri Rasulullah SAW sendiri. Dalam hemat kami, apa yang anda alami sekarang ini nyaris mirip dengan yang pernah dialami juga oleh beliau SAW. Perhatikanlah bagaimana Rasulullah SAW memohon kepada pamannya, Abu Thalib, untuk segera mengucapkan 2 kalimat syahadat, ketika menjelang ajalnya. Hal itu semata-mata karena Rasulullah SAW teramat sayang kepada pamannya yang telah banyak berjasa itu. Beliau tidak rela kalau pamannya harus mati dan masuk neraka. Sementara itu, para pemuka kafir Quraisy pun tidak tinggal diam. Mereka ikut datang menunggui Abu Thalib yang sedang sakit menjelang ajalnya. Mereka berupaya menghalangi Abu Thalib agar jangan sampai menyatakan ke-Islamannya.

Ada sebuah perlombaan antara Rasulullah SAW di satu sisi dengan para pemuka kafir Quraisy dalam mengambil kesempatan terakhir atas kemungkinan masuk Islamnya Abu Thalib. Tetapi yang menarik, Rasulullah SAW tidak merasa risih atau takut sedikit pun berhadapan sendirian di depan para pembesar Quraisy. Baginya, keselamatan Abu Thalib di akhirat jauh lebih berharga dari pada alam dan seisinya. Maka dengan sekuat tenaga beliau bermohon kepada pamannya itu untuk mengucapkan 2 kalimat syahadat. Hanya itu dan tidak lebih.
Dan tidak mungkin lagi mengharapkan Abu Thalib untuk shalat, puasa atau melakukan ibadah lainnya, sebab dia telah tergeletak lemah menjelang ajal. Jadi cukuplah baginya pada saat menjelang ajal itu menyatakan diri masuk Islam, meniadakan tuhan kecuali Allah saja dan mengakui kenabian Muhammad.

Menjadi seorang muslim memang sama sekali tidak disyaratkan harus di depan lembaga tertentu, atau di depan tokoh tertentu. Cukup seseorang berikrar saja menyatakan diri menjadi muslim, dengan mengucapkan syahadat. Anda berhak untuk bertindak sebagaimana Rasulullah SAW bertindak kepada Abu Thalib. Bukankah anda menyayangi orang tua anda sendiri ? Bukankah anda kasihan kalau beliau sampai masuk neraka ? Bukankah anda tidak tega kalau sampai beliau dibakar dan disiksa di alam neraka ? Maka lakukanlah sebagaimana Rasulullah SAW melakukannya. Meski seluruh orang sedunia menghalangi langkah anda. Tapi apalah artinya dunia dan seisinya, bila anda harus menerima kenyataan beliau wafat bukan dalam keadaan muslim. Pastilah anda akan menyesal seumur hidup dan menyesal pernah dilahirkan ke dunia.
Wallahu a’lam bish-shawab, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh. (dijawab oleh : ustadz Ahmad Sarwat, Lc.)

http://www.eramuslim.com/ks/us/5c/22121,1,v.html

APA YANG HARUS DILAKUKAN SETELAH SI SAKIT MATI ?

Beberapa adab syar’iyah yang harus dilakukan secara langsung setelah si sakit mati dan sebelum dimandikan perlu saya kemukakan disini, karena berkaitan dengan saat ihtidhar (menghadapi kematian). Selain itu, banyak hal yang memerlukan penanganan dokter yang merawatnya, sebab kadang-kadang si sakit meninggal dunia di hadapannya. Apakah yang harus dilakukan saat itu ?

Pertama: dipejamkan kedua matanya, mengingat hadits yang diriwayatkan Imam Muslim bahwa Rasulullah saw. pernah masuk ke tempat Abu Salamah setelah dia meninggal dunia dan matanya dalam keadaan terbuka, lalu beliau memejamkannya seraya bersabda: “Sesungguhnya ruh apabila dicabut, ia diikuti oleh pandangan.”105]. Disamping itu, apabila kedua matanya tidak dipejamkan maka akan terbuka dan melotot, sehingga timbul anggapan yang buruk.

Kedua: diikat janggutnya (dagunya) dengan bebat yang lebar yang dapat mengenai seluruh dagunya, dan diikatkan dengan bagian atas kepalanya, supaya mulutnya tidak terbuka.

Ketiga: dilemaskan persendian atau pergelangan-pergelangannya, yaitu dilipat lengannya ke pangkal lengannya, kemudian dijulurkan lagi; dilipat (ditekuk) betisnya ke pahanya, dan pahanya ke perutnya, kemudian dikembalikan lagi; demikian juga jari-jemarinya dilemaskan supaya lebih mudah memandikannya. Sebab beberapa saat setelah menghembuskan napas terakhir badan seseorang masih hangat, sehingga jika sendi-sendinya dilemaskan pada saat itu ia akan menjadi lemas. Tetapi jika tdk segera dilemaskan, tidak mungkin dapat melemaskannya sesudah itu.

Keempat: dilepas pakaiannya, agar badannya tidak cepat rusak dan berubah karena panas, selain kadang-kadang keluar kotoran (najis) yang akan mengotorinya.

Kelima: diselimuti dengan kain yang dapat menutupinya, berdasarkan riwayat dari Aisyah bahwa Nabi saw. ketika wafat diselimuti dengan selimut yang bergaris-garis.106]

Keenam: di atas perutnya ditaruh suatu beban yang sesuai agar tidak mengembung.
Para ulama mengatakan, “Yang melakukan hal-hal ini hendaklah orang yang lebih lemah lembut di antara keluarga dan mahramnya dengan cara yang paling mudah.”107]

Adapun hal-hal lain setelah itu yang berkenaan dengan pengurusan mayit, seperti memandikan, mengafani, menshalati, dan lainnya tidaklah termasuk dalam kerangka hukum orang sakit, hal itu termasuk dalam kandungan hukum orang mati atau Ahkamul-jana’iz. Ada dalam pembahasan tersendiri. Wallahu a’lam.

Catatan kaki :
105] HR Muslim dalam “al-Jana’iz,” hadits nomor 920.
106] Ibid., nomor 942.
107] Fathul-Aziz fi Syarhil-Wajiz, karya ar-Rafi’i yang diterbitkan bersama dengan al-Majmu’ (Imam Nawawi), juz 5, hlm. 112-114.

[sumber : Fatwa-fatwa Kontemporer, Dr. Yusuf Qardhawi, Gema Insani Press, Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740, Telp. (021) 7984391-7984392, Fax. (021) 7984388]

http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Sakit25.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M


Sakit Berbuah Hidayah

September 12, 2007

Saya lahir di Wonosari, Gunung Kidul, 9 Desember 1950, dengan nama Teofilus Sarjiono. Orangtua saya adalah penganut Kristen Pantekosta. Saya termasuk orang yang taat dalam menjalankan ibadah. Sepanjang masa saya menjalani agama lamaku itu kehidupan saya terjamin. Uang bukan masalah, sebab semua biaya hidup ditanggung agama saya saat itu. Semua fasilitas itu membuat saya sering lupa diri. Makan pun harus yang enak-enak. Seminggu sekali saya harus makan tongseng Amerika (makanan yang bahan dasarnya daging anjing).

Saat saya menjalani aktivitas agama lama saya kala itu, tiba-tiba saja saya jatuh sakit. Penyebabnya mungkin karena saya rakus makan daging. Badan saya membengkak dan perut membuncit. Beberapa penyakit seperti kolesterol, gula, dan ginjal, mulai menggerogoti tubuh saya. Dokter menganjurkan saya berhenti makan daging. Tapi saya tidak menggubrisnya, hingga ginjal saya makin parah. Akhirnya, dokter menganjurkan saya untuk cuci darah. Dari semenjak cuci darah inilah harta saya ikut “tercuci” pula. Malangnya, penyakitku tak kunjung sembuh, bahkan makin hari kian terlihat makin parah. Saya tidak bisa apa-apa saat itu.
* * *
Sekitar pukul 04.30 suatu pagi, saya mendengar suara adzan dari sebuah masjid. Dengan spontan saya menirukan lafadz “Laa ilaha ilallah “. Aneh, penyakit saya terasa hilang. Kata-kata itu saya ucapkan berulang-ulang, hingga ratusan kali. Ketika istri mengetahui bahwa saya mengucapkan kata-kata itu, dia mengingatkan, “Mas, bacaan Laa illaha ilallah itu bacaan orang Islam. Bapak ‘kan orang Kristen, tidak baik mengucapkan kata-kata itu !”. Saya jawab, “Biar berasal dari setan belang atau dari agama manapun akan saya ucapkan terus, karena setiap kali dibaca sakit saya berkurang !”.

“Keajaiban” itu tidak berhenti di situ. Suatu malam saya bermimpi seperti mendengar sebuah bisikan, “Pak Theo, kalau kamu ingin sembuh berobatlah kepada Bapak Abu !”. Maka saya pun berusaha mencari tahu orang yang bernama Pak Abu itu. Alhamdulillah, saya berhasil menemukannya. Beliau adalah seorang tabib beragama Islam.

Saat pertama kali bertemu, saya langsung mengatakan bahwa saya seorang Kristen yang ingin berobat. Pak Abu menjawab, “Saya ini mengobati penyakit, bukan mengobati agama. Saya tidak menolak siapa saja yang ingin berobat kemari. Insya Allah akan saya terima dengan baik.”
Setelah berdialog tentang penyakit yang saya derita, Pak Abu kemudian mengobati saya dengan cara Islam. Saya disuruh membaca Basmallah berulang-ulang, dan Pak Abu pun terus berdoa sambil memegang bagian badan saya yang sakit. Aneh, selama prosesi itu badan saya terasa sembuh sama sekali. Yang paling mengharukan, Pak Abu memberi saya obat secara gratis, karena saat itu saya tidak membawa uang.
* * *
Semenjak itulah saya mulai tertarik pada Islam. Saya mulai menghadiri pengajian di kampung, hingga rasa simpati saya pada Islam semakin besar. Akhirnya, 18 September 1993 saya mengucapkan kalimat syahadat di kampus UII Yogyakarta. Setelah itu istri dan kedua anak saya pun masuk Islam.
Setelah menjadi Muslim, saya sering diundang untuk mengisi ceramah pengajian. Saya pun aktif mengikuti kegiatan dakwah. Saya ingin menebus dosa. Jika dahulu saya banyak mengkristenkan orang Islam, sekarang saya ingin mendakwahkan Islam.
Karena sering menjadi penceramah, nama saya pun mulai dikenal. Bahkan saya pernah didaulat untuk menjadi pembicara pada sebuah tabligh akbar di Cirebon yang dihadiri sekitar 10.000 orang.

Seperti halnya teman-teman saya yang sudah masuk Islam terlebih dahulu, saya pun mengalami ujian berat, terutama dalam bidang ekonomi. Kehilangan pekerjaan, dikucilkan dari pergaulan, dicaci maki, adalah hal yang saya terima. Saya dipecat dari pekerjaan tanpa mendapat pesangon. Walaupun demikian, rasa percaya diri dan iman kepada Allah semakin tebal. Semua itu saya hadapi dengan tabah.

Setelah menghadapi berbagai kesulitan, Allah SWT membukakan pintu anugerah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Allah menitipkan sebuah rumah dan tanah kepada saya sekeluarga. Beberapa bulan lalu Allah mengundang saya dan istri untuk menunaikan ibadah haji dengan gratis. Alhamdulillah, hidup saya pun lebih dari cukup. Di balik itu semua, ada hal terindah yang saya rasakan, yaitu bertambahnya saudara dan lahirnya kedamaian hidup dalam naungan Islam. (dari : MQ)

http://www.kotasantri.com/modules.php?name=Beranda&file=detail&sid=144
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M


Hidayah dari Biara

Juni 7, 2007

Aku dibesarkan dalam keluarga yang religius. Ayah dan ibuku merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibaptis, dan sekolah seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat. Ketika remaja aku aktif di organisasi gereja.
Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia, karena pengabdian total seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan satu-satunya dalam hidupku.

Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga yang kaya raya, kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya 1000 meter persegi. Bayangkan, betapa besarnya. Kami berasal dari etnis Tionghoa. Ayaku adalah seorang pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu donatur terbesar gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara. Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan. Selain materi, kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi akademikku selalu memuaskan. Aku pernah terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja. Ketika remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, aku dicintai oleh mereka, bahkan aku menjadi faforit bagi kawan-kawanku.

Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah. Namun demikian aku tidak larut dalam semaraknya pergaulan muda-mudi, walalupun semua fasilitas untuk hura-hura bahkan foya-foya ada. Keinginan untuk menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan itu.
Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk membiarkan anak gadisnya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai pemeluk Katholik yang taat, mereka akhirnya mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakaku, mereka justru bangga punya adik yang masuk biarawati.

Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang kurasakan. Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Instituit Filsafat Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya.
Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi.

Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam. Di awal kuliah, dosen memberi pengantar bahwa agama yang terbaik adalah agama kami sedangkan agama lain itu tidak baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia yang melarat itu siapa ?, Yang bodoh siapa ? Yang kumuh siapa ? Yang tinggal di bantaran sungai siapa ? Yang kehilangan sandal setiap hari jumat siapa ? Yang berselisih paham tidak bisa bersatu itu siapa ? Yang jadi teroris siapa ? Semua menunjuk pada Islam. Jadi Islam itu jelek.
Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat negara-negara lain, Philiphina, Meksiko, Itali, Irlandia, negara-negara yang mayoritas kristiani itu tak kalah amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai terbentuknya negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu tidak punya wilayah, lalu merampok negara Palestina.
Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi tertarik mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Usulan itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.

Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur’an, aku bingung. Kitab ini, mana yang depan, mana yang belakang, mana atas mana bawah. Kemudian aku amati bentuk hurufnya, aku semakin bingung. Bentuknya panjang-panjang, bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus mempelajari dari terjemah.
Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak mengerti bahwa membaca al-Quran dimulai dari kiri, aku justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Yang pertama kali aku pandang, adalah surat Al Ihlas. Aku membacanya, bagus surat al-Ikhlas ini, pujiku. Suara hatiku membenarkan bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. “Ini ‘kok bagus, dan bisa diterima !”, pujiku lagi.

Pagi harinya, saat kuliah Teologia, dosen saya mengatakan, bahwa Tuhan itu satu tapi pribadinya tiga, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan trinitas, atau tritunggal. Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk mengaji lagi surat al-Ihklas. “Allahhu ahad, ini yang benar,” putusku pada akhirnya. Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan dosen-dosen saya. Aku katakana, “Pastur (Pastur), saya belum paham hakekat Tuhan.”

“Yang mana yang Anda belum paham ?” tanya Pastur. Dia maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi, AB=BC=CA. Aku dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengana Tuhan Putra sama dengan kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan.
“Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah moderen, iptek semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi,” tanyaku lebih mendalam.
Dosen menjawab, “Tidak bisa !”
Aku jawab “bisa saja”, kemudian aku maju ke papan tulis. Saya gambar bujur sangkar. Kalau dosen saya mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga sama sisi, sekarang saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja saya simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat. Pastur bilang, tidak boleh. Mengapa tidak boleh ? Tanya saya semakin tak mengerti.
“Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja !” tegas Pastur. Aku katakan, kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana ?.
“Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya dosa !” tegas Pastur mengakhiri.

Walau pun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang mendorong saya untuk kembali mempelajari surat al-Ikhlas. Ini terus berkelanjutan, sampai akhirnya aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang membuat mimbar, membuat kursi, meja ?” Dia tidak mau jawab. “Coba Anda jawab !” Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga. Aku jawab, itu semua yang buat tukang kayu.
“Lalu kenapa ?” tanya Pastur lagi.
“Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai seratus tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satu pun yang membuat mereka berubah jadi tukang kayu,” saya mencoba menjelaskan.
“Apa maksud Anda ?” Tanya Pastur penasaran.
Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan seratus tahun lalu sampai seratus tahun kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh dipersamakan dengan manusia.

Malamnya, kembali kukaji surat al-Ikhlas. Hari berikutnya, aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang melantik RW ?” Saya ditertawakan. Mereka pikir, ini ‘kok ada suster yang tidak tahu siapa yang melantik RW ?.
“Sebetulnya saya tahu,” ucapku.
“Kalau Anda tahu, mengapa Anda Tanya ? Coba jelaskan !” tantang mereka.
“Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik RT jelas pelantikan itu tidak syah.”
“Apa maksud Anda ?” Mereka semakin tak mengerti.
Saya mencoba menguraikan, “Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi Tuhan, jelas pelantikan itu tidak syah.”

Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat al-Ikhlas. Kembali terjadi dialog-dialog, sampai akhirnya saya bertanya mengenai sejarah gereja. Menurut semua literratur yang saya pelajari, dan kuliah yang saya terima, Yesus untuk pertama kali disebut dengan sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi Tuhan pada tahun 325 Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Constantien kaisar romawi.
Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau muktamar) di kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus berpredikat sebagai Tuhan. Maka silahkan umat kristen di seluruh dunia ini, silahkan mencari cukup satu ayat saja dalam injil, baik Matius, Markus, Lukas, Yohanes, mana ada satu kalimat Yesus yang mengatakan ‘Aku Tuhanmu ‘ ? Tidak pernah ada.
Mereka kaget sekali dan mengaggap saya sebagai biarawati yang kritis. Dan sampai pada pertemua berikutnya, dalam al-Quran yang saya pelajari, ternyata saya tidak mampu menemukan kelemahan al-Qur’an. Bahkan, saya yakin tidak ada manusia yang mampu.

Kebiasaan mengkaji al-Qur’an tetap saya teruskan, sampai saya berkesimpulan bahwa agama yang hak itu cuma satu, Islam. Subhanaallah. Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu melalui proses berbagai pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan ayat. Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari al-Qur’an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik, Maryam menjadi tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam.
Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah. Tapi masih panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam tahun kemudian aku baru mengucapkan dua kalimah syahadat.

Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya diterpa dengan berbagai macam persoalan, baik yang sedih, senang, suka dan duka. Sedih, karena saya harus meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu bingung bercampur sedih.
Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya. Kemudian aku menikah dengan orang Katholik. Harapanku dengan menikah adalah, aku tidak lagi terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah menikah, ya selesai !
Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku adalah aktifis mahasiswa. Begitu pun dengan diriku, kami kerap kali berdiskusi. Setiap kali kami diskusi, selalu berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku mulai bicara tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka sesuatu dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku akan membelanya, maka jurang pemisah itu semakin membesar, sampai pada klimaksnya.

Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak bisa berlanjut, dan tidak mungkin bertahan lama. Aku mulai belajar melalui ustadz. Aku mulai mencari ustadz, karena sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua. Alhamdulillah Allah mempertemuka saya dengan ustadz yang bagus, diantaranya adalah Kyai Haji Misbah (alm.). Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang lalu.
Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk masuk Islam. Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang sama, “Masuk Islam itu gampang, tapi apakah Anda sudah siap dengan konsekwensinya ?”
“Siap !” jawabku.
“Apakah Anda tahu konsekwensinya ?” tanya beliau.
“Pernikahan saya !” tegasku. Aku menyadari keinginanku masuk Islam semakin kuat.
“Kenapa dengan dengan perkawinan Anda, mana yang Anda pilih ?” Tanya beliau lagi.
“Islam” jawabku tegas.

Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau. Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun. Setelah resmi memeluk Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada agamanya. Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun, dan telah dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Alhamdulillah, saat mereka telah menjadi muslim dan muslimah.

Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku sebagai seorang muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum ramadhan tahun dimana aku berikrar, aku langsung melaksanakan shalat. Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah cukup besar. Banyak kamar terdapat didalamnya. Kakakku berteriak mencariku. Ia kemudian membuka kamarku. Ia terkejut, ‘kok ada perempuan shalat ? Ia piker ada orang lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.

Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia menyaksikan bahwa yang sedang shalat itu aku. Selesai shalat, aku tidak mau lagi menyembunyikan agama baruku yang selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar biasa. Ia tidak menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat. Sejak saat itulah terjadi keretakan diantara kami. Agama baruku yang kupilih tak dapat diterima. Akhirnya aku meninggalkan rumah. Aku mengontrak sebuah rumah sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap datang menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu meninggal dunia. Setelah ibu saya meninggal, tidak ada kontak lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang lain sampai sekarang.

Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya ibuku. Walaupun ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan akhirnya terjadi terus. Islam, baginya identik dengan hal-hal negatif yang saya contohkan di atas. Pendapat ibu sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.

Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah aku diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan ibadah haji. Selama masuk Islam sampai pergi haji, aku selalu menggerutu kepada Allah, “kalau Engkau, ya Allah, menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak menakdirkan saya menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang Islam, sama seperti saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu. Dengan begitu, saya tidak perlu banyak penderitan. Mengapa jalan hidup saya harus berliku-liku seperti ini ?” ungkapku sedikit kesal.

Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan dengan sujud syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk dengan perjalan hidupku seperti ini. Aku merasakan nikmat iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang sudah Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan Islam.
Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi, diberi emosi, rasio. Agama Islam adalh agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya analisis kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah, “Apakah sama orang yang tahu dan tidak tahu ?”

Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas kehendak-Nya pula aku kemudian diberi kemudahan dalam belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah tidak banyak kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab.
Allah memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku begitu lancar dan banyak diundang untuk berceramah. Tak hanya di Surabaya, aku kerap kali iundang berdakwah di Jakarta. Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku, termasuk jodoh, melalui pertemuan yang Islami, aku dilamar seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua sama-sama aktif berdakwah sampai ke pelosok desa. Terjun di bidang dakwah tantangannya luar biasa. Alhamdulillah, dalam diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya karena Allah.

(sumber : Kisah Irene Handono – Majalah Hidayah)
http://www.kotasantri.com/modules.php?name=Beranda&file=detail&sid=197

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.010/th.01/DzulQoidah-Dzulhijjah 1425H/2005M