Al ‘Awar Setan Penyeru Zina

Juni 6, 2006

Memoles kesesatan agar tampak baik dan menarik hati adalah jurus abadi iblis dan antek-anteknya. Bahkan inilah jurus pertama iblis sebelum menggoda manusia untuk bergumul dengan dosa. Allah berfirman :”Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka meman dang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (Al-Hijr 39). Maka setan menghiasi perbuatan keji terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan menyesatkan manusia. Ibnul Qayyim mengomentari ayat tersebut :”Di antara strategi iblis adalah menyihir akal secara kontinyu hingga terpedaya, tidak ada yang selamat darinya kecuali yang dikehendaki Allah”. Dia menghiasi perbuatan yang hakekatnya menimbulkan madharat sehingga tampak sebagai perbuatan yang paling bermanfaat. Begitupun sebaliknya, dia mencitrakan buruk perbuatan yang bermanfaat sehingga nampak mendatangkan madharat…”

Komandan Setan Penyeru Zina
Strategi yang sama ditempuh oleh iblis laknatullah ‘alaih untuk menyebar luaskan perbuatan zina yang merupakan dosa besar di dalam Islam. Tidak hanya itu, iblis menjadikan hal ini sebagai target utama, sehingga dia melakukan sayembara bagi setan manapun yang mampu menjerumuskan manusia kepada zina, maka iblis akan memakaikan mahkota di kepalanya sebagai tanda jasa. Rasululah bersabda tentang hal ini :”Jika datang pagi hari, Iblis menyebar para tentaranya ke muka bumi lalu berkata, “Siapa di antara kalian yang menyesatkan seorang muslim akan aku kenakan mahkota di kepalanya.” Salah satu tentaranya menghadap dan berkata, “Aku terus menggoda si fulan hingga mau menceraikan istrinya.” Iblis berkata :”Ah, bisa jadi dia akan menikah lagi.” Tentara yang lain menghadap dan berkata :”Aku terus menggoda si fulan hingga ia mau berzina.” Iblis berkata :”Ya, kamu (yang mendapat mahkota)!” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1280)
Iblis juga menyiapkan pasukan khusus yang dikomandani oleh anaknya sendiri bernama Al-A’war. Mujahid bin Jabr, murid utama Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Iblis memiliki 5 anak, satu di antaranya bernama Al-A’war. Dia memiliki tugas khusus menyeru orang untuk berbuat zina dan menghiasinya agar nampak baik dalam pandangan manusia. (Talbisul Iblis, Ibnu Al-Jauzy hal. 41). Al-A’war juga merekrut para setan dari golongan manusia sebagai tim sukses untuk mengkampanyekan perbuatan zina. Segala cara ditempuh, segala sarana dan media digunakan.

Memasang Banyak Umpan
Sebagaimana seorang pemancing, dia harus memasang umpan agar ikan mau mendekati kailnya. Maka setan memasang umpan agar si korban mau mendatangi perangkapnya. Umpan tersebut berupa ‘Nisa’un kaasiyat ‘ariyat’, wanita yang berpakaian telanjang, pornografi, porno aksi dan perangkatnya. Umpan tersebut dipasang di tempat-tempat yang strategis, sehingga memungkinkan bagi mangsa untuk melihatnya. Di antara tempat strategis tersebut adalah televisi dan media cetak. Maka jika kita lihat di televisi kita banyak berjejal wanita yang berpakaian tapi telanjang, lagu dan tarian erotis, film-film jorok yang bisa disaksikan oleh semua orang. Itu pertanda setan Al-A’war telah berhasil merekrut banyak orang untuk dia jadikan sebagai umpannya. Demikian pula dengan tabloid, koran dan majalah-majalah yang menjadikan pornografi sebagai menu utama.

Dibumbui Dengan Istilah Penyedap Rasa
Al-A’war tidak membiarkan umpan-umpan itu menyebar begitu saja. Karena masih banyak orang-orang waras yang akan merusak umpannya. Akan banyak orang-orang sehat yang akan menegur, mencela dan memusuhinya. Untuk itu, dia menciptakan istilah dan kilah sebagai penyedap rasa. Sehingga yang antipati menjadi netral, yang netral menjadi simpati, yang simpati menjadi bala-tentaranya. Di antara istilah yang diilhamkan Al-A’war kepada para anteknya dari golongan manusia adalah mena makan budaya telanjang sebagai bentuk kemajuan, pacaran sebagai upaya penjajakan dan persiapan, nyanyian jorok dan tarian erotis sebagai seni dan porno aksi disebut sebagai kebebasan berekspresi.
Bisa dibilang bahwa menamakan perbuatan keji dengan istilah yang berasumsi baik adalah jurus tersendiri di antara jurus iblis yang diwariskan kepada generasinya. Seperti ketika dia membujuk Adam dengan perkataannya :”Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, ‘”Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa ?” (Thaha: 120).
Dia menyebut pohon yang dilarang dimakan buahnya dengan pohon Khuldi, pohon yang apabila dimakan buahnya menyebabkan dia kekal di jannah. Tidak berbeda dengan yang dilakukan setan hari ini, mereka memberi istilah perbuatan keji dengan nama yang disukai hati. Informasi yang menyesatkan diiringi dengan gambar yang menggiurkan jika datang secara bertubi-tubi akhirnya dianggap sebagai hal yang biasa, atau seakan kebenaran yang layak untuk dibela. Sebagaimana yang telah dimaklumi bahwa dengan pemberitaan yang terus menerus, berita dusta dianggap fakta, kesesatan menjelma sebagai kebenaran dalam pandangan manusia. Konon media barat tidak mengenal berita yang benar atau yang salah, tetapi berita cerdas atau bodoh. Berita cerdas adalah yang dikemas sehingga tak nampak kedustaannya sedangkan berita bodoh adalah berita yang tampak kedustaannya.

Nampaknya usaha Al-A’war dan bala tentaranya betul-betul menuai panen raya. Begitu banyak generasi kita yang jatuh ke dalam pelukannya. Mereka mengikuti bujuk rayu Al-A’war, mendatangi umpannya, lalu menelan kailnya. La haula walaa quwwata illa billah. Akan tetapi, tidak sepantasnya kita berputus asa, karena betapapun gigihnya usaha setan, bagi orang yang beriman dan konsisten dengan keimanannya, tipu daya setan itu lemah :”Karena sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (An-Nisa’: 76). Menjauhi umpan setan, merusaknya hingga nampak maksud jahatnya di hadapan manusia adalah sebagian solusi dan benteng bagi kita dan umat Islam dari serangan Al-A’war dan bala tentaranya, Wallahul muwaffiq. (sumber : Majalah Ar Risalah)

http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=2414_0_4_0_m
note : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu terdekat”. (QS.26 : 214)

JIL Mencari Sensasi Lagi

Baru saja film kontroversial Buruan Cium Gue (BCG) ditarik dari peredaran. Kita semua yang berusaha meminimalisasi tontonan yang penuh kekerasan dan pornografi, tentu bersyukur. Elemen masyarakat yang dikomandoi oleh MUI dan tokoh-tokoh agama bahu membahu memperjuangkan agar film itu dihentikan peredarannya. Kita sudah lelah dengan banyak tontonan tidak bermutu dan mendidik.

Namun, di tengah upaya memperjuangkan penjagaan terhadap moralitas bangsa ini, masih ada kelompok yang bersuara miring terhadap usaha itu. Kalau suara minor datang dari sekelompok orang yang hidupnya memang memuja hedonisme dan permisifisme dengan berlindung di balik dalih kebebasan berekspresi, mungkin bisa dimaklumi. Tetapi suara minor justru datang dari kelompok beratribut Islam, yaitu Jaringan Islam Liberal (JIL). Ulil Abshar-Abdalla dari JIL menyatakan bahwa “Seharusnya penyikapan terhadap film BCG tidak dikaitkan dengan agama”.

Ini bukan hanya ganjil, tetapi terasa lebih mencari sensasi. JIL seakan selalu ingin menampilkan sosok dan suara yang beda dengan kelompok-kelompok Islam yang mendengungkan penjagaan moralitas atau kelompok lain yang masih peduli dengan kondisi moralitas anak-anak muda yang semakin memprihatinkan. JIL seakan memegang prinsip “yang penting beda”. Predikat liberal JIL, tampaknya tidak hanya dalam pola pemahaman dan interpretasi terhadap sumber-sumber agama, tetapi sudah mengarah liberalisasi bidang kehidupan yang nyata. Selama ini, JIL juga selalu meneriakkan komitmen moral. Tetapi moral yang mana ? Jangan-jangan sama dengan kebanyakan ide-ide JIL yang melangit dan absurd, pandangan moralitas JIL juga absurd (tidak masuk akal / mustahil).

http://swaramuslim.net/more.php?id=2263_0_1_0_m

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.015/th.02/Jumada Al Awwal- Jumada Al Tsani 1426H/2005M

Iklan

Abdullah Bin Abbas Berhati Emas Berotak Brillian

Juni 6, 2006

Ketika bocah itu memasuki usia tamyiz, sekitar 6 hingga 7 tahun, dia tinggal di rumah Rasulullah. Hubungan antara keduanya seperti adik dan kakak yang saling mengasihi. Dia menyediakan air wudhu untuk Nabi SAW. Tak jarang, anak itu ikut sholat di belakang Rasulullah. Jika Beliau bepergian, dia membonceng di belakang. Hebatnya, anak itu dapat menyimpan dalam hati dan pikirannya segala peristiwa yang dilihat dan kata-kata yang didengarnya tanpa perlu alat tulis. Siapakah sosok si anak itu ? Dia adalah Abdullah bin Abbas, putra paman Nabi SAW, Abbas bin Abdul Muthalib. Ketika Rasulullah SAW wafat, dia baru berumur 13 tahun. Di usia ambang remaja, dia sudah menunjukkan kelebihan dengan kemampuan menghafal 1.660 hadist yang diterimanya langsung dari Nabi SAW. Hadist-hadist itu dicatat oleh Bukhori dan Muslim dalam kitab Shahih. Sikap taqwanya patut diacungi jempol. Simak kebiasaannya puasa di siang hari dan menegakkan shalat pada malam hari. Beristighfar waktu sahur sambil meneteskan air mata karena takut akan siksa Allah.

Ibnu Abbas, demikian sapaan akrabnya, mengisahkan peristiwa yang selalu membekas dalam benaknya ketika bersama Nabi SAW. “Pada suatu ketika Rasulullah SAW hendak sholat, memberi isyarat kepadaku supaya berdiri di sampingnya, tapi, aku berdiri di belakang Beliau. Setelah selesai sholat, beliau menoleh kepadaku seraya bertanya, “Mengapa engkau tidak berdiri disampingku ?”. Ibnu Abbas menjawab, “Anda sangat tinggi dalam pandanganku dan sangat mulia untukku, bagaimana aku berdiri di samping Anda.” Maka Rasulullah menadahkan tangannya, lalu berdoa, “Ya Allah, berilah dia hikmah.” Allah memperkenankan doa Rasulullah tersebut. Dia memberi cucu Hasyim tersebut hikmah, melebihi hikmah para ahli hikmah yang besar. Namun, sahabat Rasulullah yang satu ini tak hanya berpangku tangan meski sudah memiliki bekal berupa doa langsung dari Nabi SAW. Ia tak kenal lelah menuntut ilmu sehingga mencengangkan ulama-ulama besar, Masruq bin Ajda’, orang besar ulama Tabi’in berkata, “Paras Ibnu Abbas sangat elok. Bila dia berbicara sangat fasih. Bila menyampaikan hadits, dia sangat ahli.”

Setelah mumpuni, Ibnu Abbas beralih menjadi guru. Rumahnya berubah menjadi Jami’ ah (Universitas) bagi kaum muslimin. Rumahnya selalu dipenuhi orang yang antri untuk belajar ilmu apa saja. “Siapa yang hendak belajar Tafsir Al-Quran dan Ta’ wilnya suruhlah mereka masuk ?”, Ibnu Abbas bertanya. Maka bergantian bagi mereka yang ingin belajar masalah fiqh, ilmu faraidh, sastra Arab, dan seterusnya. Kemudian Ibnu Abbas membuat jadwal pelajaran guna mencegah orang berdesak-desakkan antri untuk mendengarkan pelajaran yang disampaikannya. Ada hari yang khusus membahas Ilmu Tafsir, Ilmu Fiqh, Ilmu Peperangan (Sejarah peperangan Rasulullah) atau strategi perang, Ilmu Syi’ir, dan Sastra Arab.

Bila ada seseorang yang ingin menyampaikan sebuah hadist yang diperolehnya dari seorang sahabat Rasulullah, maka Ibnu Abbas ringan kakinya untuk mendatanginya. Bila orang itu masih tidur, ia pun rela untuk menunggunya sampai bangun. “Aku bentangkan sorbanku di dekat tangga rumahnya dan aku duduk di situ menunggu dia bangun. Sementara itu angin bertiup memenuhi tubuhku dengan debu tanah.” Kata Ibnu Abbas. Ilmu itu harus didatangi, bukan ilmu yang harus mendatangi. Ibnu Abbas rendah hati dalam menuntut ilmu. Tetapi dia menghormati derajat ulama. Pada suatu hari Zaid bin Tsabit, penulis wahyu dan Ketua pengadilan Madinah bidang Fiqh, Qiraah, dan Faraidh, mendapat kesulitan karena hewan yang ditungganginya bertingkah. Lalu Abdullah bin Abbas berdiri di hadapannya seperti seorang hamba di hadapan majikannya. Ditahannya hewan kendaraan Zaid bin Tsabit dan dipegangnya kendalinya. Kata Zaid, “Biarkan saja, wahai anak paman Rasulullah ?”. Jawab Ibnu Abbas,”Beginilah caranya kami diperintahkan Rasulullah terhadap ulama kami.” Kata Zaid bin Tsabit, “Coba perlihatkan tangan Anda kepada saya !”, Ibnu Abbas mengulurkan tangannya kepada Zaid, lalu diciumi oleh Zaid.
“Begitulah caranya kami diperintahkan Rasulullah menghormati keluarga Nabi kami” ,kata Zaid. Ibnu Abbas tidak termasuk orang-orang yang hanya pandai berkata tetapi tidak berbuat. Dia senantiasa puasa siang hari dan sholat malam hari. Abdullah bin Mulaikah bercerita, “saya pernah menemani Ibnu Abbas dalam suatu perjalanan dari Makkah ke Madinah. Ketika kami berhenti di suatu tempat, dia bangun tengah malam, sementara yang lain-lain tidur karena lelah. Saya pernah pula melihatnya pada suatu malam membaca ayat 19 Surah Qaf berulang-ulang sambil menangis hingga terbit fajar. Dia senantiasa menangis tengah malam karena takut akan siksa Allah sehingga air mata membasahi kedua pipinya”.

Karena kealiman dan kemahirannya dalam berbagai bidang ilmu, dia senantiasa diajak bermusyawarah oleh Khalifah Al Rasyidah. Khalifah Umar bin Khatab memujinya “Dia pemuda tua, banyak bertanya (belajar), dan sangat cerdas.” Apabila Khalifah Umar bin Khattab menghadapi suatu persoalan yang rumit, diundangnya ulama-ulama terkemuka termasuk Ibnu Abbas yang muda belia. Bila Ibnu Abbas hadir, Khalifah Umar memberikan tempat duduk yang lebih tinggi bagi Ibnu Abbas dan Khalifah sendiri duduk ditempat yang lebih rendah seraya katanya, “Anda lebih berbobot dari pada kami.” Sampai suatu ketika ketika Khalifah Umar mendapat kritik karena perlakuan yang diberikan kepada Ibnu Abbas melebihi daripada perlakuan kepada ulama-ulama yang tua-tua. “Dia lebih banyak belajar, dan berhati terang,” kata Khalifah Umar menanggapi kritik itu.
Meski banyak dimintai nasehat oleh khalifah, toh Ibnu Abbas tidak melupakan kewa jibannya terhadap orang-orang awam. Dibentuklah majelis-majelis Wa’azh dan Tadzkir (pendidikan dan pengajaran). Di antara pengajarannya dia berkata kepada orang-orang yang berdosa , “Wahai orang yang berbuat dosa ! Jangan sepelekan akibat-akibat perbuatan dosa itu, sebab ekornya jauh lebih gawat daripada dosa itu sendiri. Kalau engkau tidak merasa malu kepada orang lain padahal engkau telah berbuat dosa, maka sikap tidak punya malu itu sendiri adalah juga dosa.”

Selain alim lagi cerdas, Ibnu Abbas juga lihai berdiplomasi. Ketika sebagian sahabat memencilkan dan menghina Khalifah Ali bin Thalib, Abdullah bin Abbas minta ijin Khalifah Ali untuk mendatangi mereka. Kata Ali, “Saya khawatir resiko yang mungkin engkau terima dari mereka.” Jawab Ibnu Abbas, “Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa.” Maka Ibnu Abbas pun berangkat menemui mereka, lalu bertanya :”Mengapa tuan-tuan membenci Khalifah ?”. Mereka menjawab, “Pertama, karena Khalifah bertahkim (mengangkat hakim) tentang urusan agama Allah, kedua, berperang tapi tidak menawan wanita, dan ketiga, Ali menanggalkan gelar “Amirul Mukminin padahal kaum muslimin yang mengukuhkan dan mengangkatnya.”

Untuk persoalan pertama, Ibnu Abbas menjawabnya dengan membaca firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman ! Janganlah kalian membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak yang seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil diantara kamu…”(Al Maidah: 95)
“Saya bersumpah dengan tuan-tuan menyebut nama Allah; apakah putusan seseorang tentang hak darah atau jiwa, dan perdamaian antara kaum muslimin yang lebih penting ataukah seekor kelinci yang harganya seperempat dirham ?”. Maka merekapun menjawab, “Tentu darah kaum muslimin dan perdamaian diantara kita yang lebih penting.” Kata Ibnu Abbas, “Marilah kita keluar dari pearsoalan ini.” Dan mereka pun kemudian menjawab, “Baiklah, kami tinggalkan masalah itu.”

Ibnu Abbas melanjutkan, “Masalah kedua, Ali berperang tetapi dia tidak menawan para wanita seperti terjadi pada masa Rasulullah. Mengenai masalah ini, sudikah tuan-tuan memperhatikan Aisyah, lantas tuan-tuan halalkan dia seperti wanita-wanita tawanan yang lain. Jika tuan-tuan menjawab, ‘dia bukan ibu kami’, maka tuan tuan telah berlaku kafir . Allah SWT berfirman :”Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri, dan istri-istri Nabi adalah ibu-ibu mereka”. (Al Ahzab : 6). Lalu Ibnu Abbas bertanya, “Pilih mana yang tuan-tuan suka. Mengakui ibu atau tidak ?”. Karena itu, kata Ibnu Abbas selanjutnya, “Marilah kita tinggalkan persoalan ini !”. Hasilnya, mereka pun setuju.
Selanjutnya, Ibnu Abbas berkata, “Ali menanggalkan gelar “Amirul mukminin” dari dirinya. Sesungguhnya ketika Perjanjian Hudaibiyah ditanda tangani, mula-mula Rasulullah menyuruh menulis “Inilah perjanjian dari Muhammad Rasulullah.” Lalu kata kaum musyrikin, “Seandainya kami mengakui engkau Rasulullah, tentu kami tidak menghalangi engkau mengunjungi Baitullah dan tidak memerangi engkau. Karena itu tuliskan saja nama “Muhammad bin Abdullah”. Rasulullah setuju.
“Bagaimana ?”, Tanya Ibnu Abbas, “tidak pantaskah masalah memakai atau tidak memakai gelar Amirul Mukminin itu kita tinggalkan saja ?”. Akhirnya, dengan penjelasan ketiga ini meraka pun menjawab, “Ya Allah, kami setuju.”
Hasil pertemuan Ibnu Abbas dengan kaum Khawarij berikut kepandaian Ibnu Abbas berargumentasi menyebabkan 20.000 orang yang membenci Ali kembali masuk ke dalam barisan Ali, dan hanya tinggal seribu orang saja yang masih memusuhi Ali.

Kemasyhuran Ibnu Abbas terbukti kembali, yakni ketika musim haji, Khalifah Mu’a wiyah bin Abi Sufyan pergi haji. Bersamaan dengan Khalifah, pergi pula Abdullah bin Abbas, Khalifah Mu’awiyah diiringi oleh pasukan pengawal kerajaan. Sedang Abdullah bin Abbas diiringi oleh murid-muridnya yang berjumlah lebih banyak dari pada pengiring Khalifah.
Usia Abdullah bin Abbas mencapai tujuh puluh satu tahun. Selama itu dia telah memenuhi dunia dengan ilmu, paham, hikmah dan taqwa. Ketika meninggal, Muhammad bin Hanfiyah turut melakukan sholat atas jenazahnya bersama-sama dengan para sahabat, dan para pemuka Tabi’in.

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhoi-Nya. Masuklah ke dalam kelompok jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke surga-Ku.”
(Al-Fajr : 27-30). Wallahu ‘alam bishshowab.

[Artikel Lainnya di Bank Data Majalah, Online sejak 2 Mei 2002/19 Safar 1423 H]
http://www.fosmil.org/adzan/09.kisah/kis07.html
note : Al hubb fillah wa lillah, ikatlah ilmu dengan menuliskan dan mengamalkannya.

Dasar Tauhid

Pada tahun-tahun permulaan masuk SD di kampung, saya ingat pendekatan indah guru saya yang menanamkan dasar-dasar ajaran tauhid dengan cara sederhana, tetapi langsung menghujam ke lubuk hati terdalam :”Gusti Allah iku siji, tanpo konco, tanpo romo lan ibu , tanpo anak, tur ora ono samubarang kang madani” (Allah itu Esa, tak ada sekutu bagiNya, tidak berbapak dan beribu, tak beranak, serta tak ada sesuatu pun yang menyamaiNya).
Ajaran ini kemudian dilagukan, diberi cengkok dengan ritme yang enak, dan berulang kali dinyanyikan di dalam kelas sampai anak-anak hafal di luar kepala. Maka kemudian di sawah, di surau, di kali, di ayunan, atau di dahan-dahan pohon, di atas punggung kerbau atau di tanggul jembatan, bocah-bocah menyanyikan sambil pelan-pelan menyerap isi pesan utamanya. Ajaran telah menjadi jiwa masyarakat, mewujud dalam tradisi lisan yang memperkaya warna-warni kebudayaan kita.
(Oleh : Mohammad Sobary)

Pakaryan (Pekerjaan/Hasil Karya)

“Aja sira kepingin age-age nandhangi pakaryan gedhe utawa ngarep-arep tekane pakaryan gedhe amarga pakaryan gedhe iku arang tekane, sing kereb sira sandhung iku pakaryan kang cilik-cilik. Sira aja ngremehake marang pakaryan cilik. Yok opo anggonira bisa nandhangi pakaryan gedhe yen sira durung kulina nandhangi pakaryan cilik. Mulane samubarang kang tinemu ing tangan ira, lakonana kalawan temen-temen, atasna awit karsa ning Gusti, amarga ing ndonya iki ora ana pakaryan kang ora saka karsa ning Pangeran, snadyan to katon remeh babar pisan.”

(Janganlah ingin cepat-cepat mengerjakan pekerjaan besar, atau selalu mengharap datangnya pekerjaan besar, karena pekerjaan besar itu jarang datangnya. Yang sering kali datang adalah pekerjaan kecil-kecil. Janganlah meremehkan pekerjaan kecil. Bagaimana bisa mengerjakan pekerjaan besar kalau belum terbiasa mengerjakan pekerjaan kecil ? Maka, pekerjaan apa pun yang sudah ada di depan mata, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Ucapkan “Bismillah” sebelum mengerjakannya, karena di dunia ini tidak ada pekerjaan yang tidak berasal dari kehendak-Nya, walau yang kelihatan amat sepele.” (Oleh : Sasongko Jati)


Ketika Hati Bersimpuh Di Hadapan Ilahi

Juni 6, 2006

Ma`iz bin Malik datang menemui Rasulullah saw. seraya berkata :”Ya Rasulullah, bersihkanlah saya dari dosa yang telah saya lakukan.” Rasulullah saw. menjawab: “Celaka engkau ! Pulanglah , Mintalah ampun kepada Allah swt. dan bertaubatlah kepada-Nya !”. Ma`iz lalu berpaling, tapi tidak berapa jauh dari tempat itu, ia kembali lagi menghadap Rasulullah saw. dan berkata lagi :”Ya, Rasulullah. Suci kanlah diri saya dari dosa yang telah saya lakukan.” Nabi saw pun berkata seperti sebelumnya, sampai terulang kejadian semacam itu tiga kali. Dan ketika untuk keempat kalinya Ma`iz menghadapnya dan mengulangi perkataannya itu, maka Rasul akhirnya bertanya kepadanya :”Dalam perkara apa ?”, ia menjawab :”Dari perbuatan zina”. Kemudian Rasulullah saw bertanya kepada yang hadir ketika itu: “Apakah ia gila ?”, dan salah seorang sahabat mengabari bahwa Ma`iz sama sekali tidak gila. “Apa ia mabuk khamr ?” tanya Rasulullah saw selanjutnya. Lalu salah seorang di antara para sahabat itu bangkit dan mencium nafas yang keluar dari mulut Ma’iz, namun ia sama sekali tidak mencium bau minuman keras. Kemudian Rasulullah saw. mengintrogasinya :”Apa engkau telah berzina ?”, Ma`iz menjawab: “Benar, ya Ra sulullah.” Segera Rasulullah saw memerintahkan kepada para sahabat untuk merajamnya. Pada saat itu, yang hadir terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pihak yang tidak senang atas perbuatan zina dengan berpendapat :”Celakalah, ia telah terjerat oleh dosa-dosanya.” Sedang pihak yang simpati atas pengakuan Ma`iz mengatakan : “Tidak ada taubat yang melebihi taubatnya Ma`iz.” Akhirnya Ma`iz menghampiri Rasulullah saw, dan berjabat tangan dengannya. Kemudian ia berkata :”Lemparilah aku dengan batu-batu sampai aku mati.” Maka ia dirajam dua atau tiga hari, kemudian datanglah Rasul sambil memberikan salam kepada para sahabat yang sedang duduk, dan beliau pun ikut duduk. Lantas Rasulullah saw. berkata :”Mintalah ampunan kepada Allah swt untuk Ma`iz bin Malik, sungguh ia telah benar-benar bertaubat kepada Allah swt, seandainya taubatnya itu kamu bagi-bagikan kepada satu ummat pasti akan mencukupinya.”

 

Beberapa hari sesudah itu, tiba-tiba datang seorang wanita dari daerah Ghamid menghadap Rasulullah saw seraya berkata :”Ya Rasulullah saw., sucikanlah diriku dari dosa-dosa yang telah aku lakukan.” Rasul menjawab :”Celakalah engkau, pulanglah!, mintalah ampun kepada Allah swt dan bertaubatlah kepada-Nya!”. Namun wanita itu kemudian bertanya :”Apakah tuan akan mengulangi sikap tuan terhadap Ma`iz kemarin kepada saya?”. “Ada apa dengan anda ?” Rasul bertanya kepadanya. Sambil mengusap perutnya yang sedang hamil, wanita itu menjawab :”Kehamilanku ini adalah hasil dari perbuatan mesum yang aku lakukan bersama Ma`iz!”. Dengan terkejut Rasûlullâh saw berkata :”Jadi engkau adalah wanita yang dihamilinya?”. Wanita itu menjawab “Benar!”. Baiklah, tunggu sampai engkau melahirkan anak yang ada dalam perutmu ini.” (Diriwayatkan dari Buraidah). Buraidah selanjutnya berkata :”Kemudian wanita itupun dirawat oleh seorang Anshar sampai akhirnya ia melahirkan anaknya. Kemudian ia pun kembali mendatangi Rasulullah saw dan berkata :”Aku telah melahirkan bayi dalam kandunganku”. Namun Rasulullah saw menjawab :”Tetapi saya tidak akan merajamnya dengan meninggalkan bayinya tanpa seorangpun yang menyusuinya.” Saat itu tampillah seorang dari kaum Anshar seraya berkata :”Saya akan menanggung penyusuannya ya Nabiyullah.” Selanjutnya Buraidah berkata :”Kemudian dirajamnya wanita itu.” (HR.Muslim No.1695).

Dalam riwayat An-Nasa`i, disebutkan bahwa Rasulullah saw memerintahkan menggali sebuah lubang dan mengubur wanita itu sampai ke dadanya, kemudian memerintahkan kepada kaum muslimin untuk merajamnya. Pada saat itu datanglah Khalid bin al-Walid dengan menggenggam sebuah batu dan melemparkannya ke arah wanita itu, sehingga darahnya memercik mengenai wajah atau dahi Khalid. Melihat itu, Khalid pun menyumpahi wanita itu, Rasulullah saw mendengar umpatan Khalid, dan memperingatinya :”Wahai Khalid, jangan engkau berkata demikian, demi Zat Yang jiwaku berada ditangan-Nya, Sungguh wanita ini telah melakukan taubat yang sebenar-benarnya, yang apabila taubatnya dibagikan kepada satu kaum pasti akan mencukupinya.” Setelah itu Rasulullah saw. memerintahkan mengangkat mayat wanita itu untuk di shalatkan dan dikuburkan. (HR.An-Nasa`i, dalam As-Sunan Al-Kubra, No. 7197). Dari fakta historis Islam ini, kita dapat menangkap betapa tingginya kesadaran kaum muslimin terdahulu terhadap penarapan syariat Islam, kisah Ma`iz bin Malik dan kekasihnya merupakan salah satu dari banyak contoh tentang kesadaran dan semangat penerapan syariat Allah. Meski tidak ada seorang pun mengetahui perbuatan zina yang mereka lakukan, dan sekalipun terbuka berbagai kesempatan untuk terhindar dari jeratan hukum atas perbuatan mesum yang dilakukannya, namun mereka berdua menutup semua pintu dan celah itu bagi dirinya, bahkan sebaliknya ia mengakui segala kesalahannya dan memohon untuk diterapkan hukum pidana Islam atas dirinya. Ungkapan historis yang terlontar dari Ma`iz dan kekasihnya, “Bersihkan diri saya, ya Rasulullah !”, mencerminkan suatu kesadaran yang kuat, mengalahkan keinginan manusiawi mereka berdua untuk tetap survival (bertahan hidup) di dunia yang fana ini. Mereka berdua lebih senang memilih disucikan dari dosa melalui rajam terhadap perbuatan yang tidak diketahui oleh siapa pun selain Allah swt dan terbebas dari pengadilan akhirat, daripada menutup-nutupi kesalahan dirinya demi untuk tetap mempertahankan keinginan menikmati manisnya kehidupan dunia sambil bermohon ampunan kepada Allah atas kesalahannya, yang siapa tahu akan dapat di ampuni-Nya juga tanpa melalui hukum rajam tersebut.Kekuatan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap yang dimiliki Ma`iz dan kekasihnya, maupun para sahabat lainnya r.a tidak semata-mata muncul begitu saja me lainkan lahir dari sebuah konsepsi yang sama di kalangan mereka mengenai wahyu Allah swt, sebuah konsepsi yang terpatri kuat dalam hati dan pikiran mereka, konsepsi yang ditanamkan oleh Rasulullah saw melalui berbagai peperangan, dakwah, dan berbagai cobaan kehidupan dunia, dan dengan konsepsi ini mereka mampu mene rapkan syariat Islam dan menciptakan keadilan, perluasan wilayah pembebasan dan menjaga stabilitas regional. Bahkan melalui konsepsi ini terbentuklah komunitas Muslim yang pertama secara unik (QS. 3 : 110). Konsepsi itu adalah keharusan bagi mereka untuk menerima al-Qur`an dan melaksanakannya dalam kehidupan keseharian, baik yang berkaitan dengan segala urusan pribadi maupun dalam komunitas yang hidup bersamanya (Q.S. 2 : 285). Sikap mereka kepada al-Qur`an tak ubahnya bagaikan prajurit yang menerima “perintah harian” di lapangan, dengan segera melaksanakannya setelah mendengar perintah tersebut. Dari Ibnu Mas`ud r.a. berkata : “Dahulu kami, jika mempelajari 10 ayat kami tidak melaluinya sehingga kami mengerti maknanya dan mengimplementasikannya”. (Lihat “Tafsir Al Qur`an Al`Azhim” Ibnu Katsir, dalam Muqaddimah At-Tafsir / 22). Konsepsi ini sangat berbeda dengan sistem kajian sebagian orang “Tokoh pembaharu Islam” dalam menelaah al-Qur`an. Mereka tidak menghadap al-Qur`an untuk dimplementasikan melainkan hanya untuk mengkritisi, mengkoreksi bahkan merombak tatanan nilai di dalamnya. Kalau dulu para sahabat sebelum menghadap ke al-Qur`an membuang terlebih dahulu segala persepsi dan ketentuan pribadinya, untuk selanjutnya mengambil jawaban al-Qur`an atas segala pertanyaan yang bergejolak dalam diri mereka, sedang para “Tokoh pembaharu Islam” menghadap al-Qur`an dengan membawa persepsi dan ketentuan personal sebagai parameternya dalam menilai atau menafsirkan al-Qur`an untuk kemudian mencari dalil yang membenarkan apa yang telah ada dalam pemikiran dan benak mereka. Sehingga lebih mudahnya mereka menjadikan akal mereka sebagai timbangan terhadap wahyu. Maka wajar sekali apabila karya-karya mereka banyak mengandung kerancuan dan jauh dari semangat Qur`ani. Sampa-sampai seorang penafsir mengatakan bahwa nash al-Qur`an wajib ditakwilkan agar cocok dengan pemahaman akal !, suatu prinsip yang berbahaya mengingat wahyu dan akal bukanlah merupakan dua hal yang sepadan karena wahyu adalah pokok rujukan bagi akal, yang menimbang dan menguji kesimpulan serta meluruskan kekurangan dan penyimpangan akal. Sesungguhnya menerima otoritas wahyu tidaklah berarti mendepak akal , diantara keduanya tentu saja terdapat kesesuaian dan keserasian, namun akal bukanlah pemegang keputusan terakhir. Ringkasnya, menjadikan kitab Allah swt sebagai sumber petunjuk satu-satunya dalam kehidupan dan mengembalikan segala masalah hanya kepada-Nya merupakan suatu keharusan dari setiap diri kita. Kita sama-sama bersepakat bahwa dalam menanggulangi masalah kerusakan sebuah pesawat terbang, kita harus memanggil seorang insinyur yang membuat pesawat itu, dan kita sama-sama bersepakat bahwa seorang pilot yang akan mengoperasionalkan suatu pesawat terbang harus mengikuti buku petunjuk operasional pesawat yang dikeluarkan dari perusahaan yang memproduksinya. Tetapi mengapa kita tidak mau menerapkan prinsip ini dalam diri kita sendiri. Allah swt lah yang menciptakan kita dan hanya petunjuk-Nya yang benar. Sedang kita mengetahui bahwa pegangan yang mantap dan pengarahan yang benar hanyalah : Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. (QS. 2:120)

http://www.aldakwah.org/modules.php?name=News&file=article&sid=514


ORANG YANG PALING BERANI

Al Bazzar meriwayatkan dalam kitab Musnadnya dari Muhammad bin Aqil katanya, “Pada suatu hari Ali bin Abi Talib pernah berkhutbah di hadapan kaum Muslimin dan beliau berkata, “Hai kaum Muslimin, sia pakah orang yang paling berani ?”. Mereka menjawab, “Orang yang paling berani adalah engkau sendiri, hai Amirul Mukminin.” Kata Ali, “Orang yang paling berani bukan aku tapi adalah Abu Bakar. Ketika kami selesai membuatkan Nabi sebuah gubuk di medan Badar, kami tanyakan siapakah yang berani menemani Rasulullah saw dalam gubuk itu dan menjaganya dari serangan kaum Musyrik ? Di saat itu tiada seorang pun yang bersedia kecuali Abu Bakar sendiri. Dan beliau menghunus pedangnya di hadapan Nabi untuk membunuh siapa saja yang mendekati gubuk Nabi saw. Itulah orang yang paling berani.” “Pada suatu hari aku juga pernah menyaksikan ketika Nabi sedang berjalan kaki di kota Mekah, datanglah orang Musyrik sambil menghalau beliau dan menyakitinya, mereka berkata, “Apakah kamu menjadikan beberapa tuhan menjadi satu tuhan ?” Di saat itu tidak ada seorang pun yang berani mendekat dan membela Nabi selain Abu Bakar. Beliau maju ke depan dan memukul mereka sambil berkata, “Apakah kamu hendak membunuh orang yang bertuhankan Allah ?”. Kemudian sambil mengangkat kainnya, beliau mengusap air matanya. Kemudian Ali berkata, “Adakah orang yang beriman dari kaum Fir’aun yang lebih baik daripada Abu Bakar ?” Semua jamaah diam saja tidak ada yang menjawab. Ali melanjutkan, “Sesaat dengan Abu Bakar lebih baik daripada orang yang beriman dari kaum Fir’aun walaupun mereka sepuluh dunia, karena orang beriman dari kaum Fir’ aun hanya menyembunyikan imannya sedang Abu Bakar menyiarkan imannya.” Bagaimana dengan kita ?

http://www.masjidits.com/detail2.php?IDNews=1776

Sabda Nabi Muhammad saw :”Hampir masanya akan terjadi, seseorang diantara kamu bertelekan diatas kursinya, kemudian disampaikan kepadanya sebuah hadits dari padaku (Rasul) maka jawabnya : ‘Dihadapan kita cukup Kitab Allah, apa yang kita peroleh halal didalamnya kita halalkan dan apa yang kita peroleh haram didalamnya kita haramkan’. Seterusnya Nabi bersabda :”Ingatlah! Sesungguhnya apa yang diharamkan Rasul sama dengan yang diharamkan Allah”. (Diriwayatkan oleh Ahmad, Hakim dan Ibnu Majah, dari Miqdam bin Ma’dikarib).

note : Artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.006/th.01/Rajab 1425 H/2004M


Mereka Takut Kepada Al Qur’an

Juni 6, 2006

Penelitian al-A’zami, meruntuhkan usaha memalsukan kebenaran al-Qur’an oleh orientalis, Snouck Hurgronje dan Goldziher yang kini diwarisi kadernya berbaju Islam Liberal di Indonesia. Spesialis penakluk tesis kaum orientalis. Predikat itu tepat disematkan pada sosok Prof.Dr.Muhammad Mustafa al-A’zami, 73 tahun, guru besar ilmu hadis Universitas King Saud, Riyadh, Arab Saudi. Popularitas A’zami mungkin tidak setenar Dr.Yusuf Qardlawi dan ulama fatwa (mufti) lainnya. Namun kontribusi ilmiahnya sungguh spektakuler.

Sumbangan penting A’zami terutama dalam ilmu hadis. Disertasinya di Universitas Cambridge, Inggris, ”Studies in Early Hadith Literature” (1966), secara akademik mampu meruntuhkan pengaruh kuat dua orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher (1850 -1921) dan Joseph Schacht (1902-1969), tentang hadis. Riset Goldziher (1890) berkesimpulan bahwa kebenaran hadis sebagai ucapan Nabi Muhammad SAW tidak terbukti secara ilmiah. Hadis hanyalah bikinan umat Islam abad kedua Hijriah. Pikiran pengkaji Islam asal Hongaria itu jadi pijakan banyak orientalis lain, termasuk Snouck Hurgronje (1857-1936), penasihat kolonial Belanda. Tahun 1960, tesis Goldziher diperkuat Joseph Schacht, profesor asal Jerman, dengan teori “proyeksi ke belakang”. Hadis, kata Schacht, dibentuk para hakim abad kedua Hijriah untuk mencari dasar legitimasi produk hukum mereka. Lalu disusunlah rantai periwayatnya ke belakang hingga masa Nabi.

Saking kuatnya pengaruh Goldziher-Schacht, sejumlah pemikir muslim juga menyerap tesisnya, seluruh atau sebagian. Seperti A.A.A. Fyzee, hakim muslim di Bombay, India, dan Fazlur Rahman, pemikir neomodernis asal Pakistan yang cukup populer di Indonesia. Definisi hadis ala Goldziher-Schacht berbeda dengan keyakinan umum umat Islam. Bahwa hadis adalah ucapan, perbuatan, dan ketetapan Nabi yang telah diuji akurasinya oleh para ulama hadis seperti Bukhari dan Muslim. Namun belum ada sanggahan telak atas pikiran Goldziher-Schacht dengan standar ilmiah, selain disertasi A’zami. “Cukup mengherankan,” tulis Abdurrahman Wahid saat pertama mempromosikan A’zami di Indonesia tahun 1972, “hanya dalam sebuah disertasi ia berhasil memberi sumbangan demikian fundamental bagi penyelidikan hadits.” Gus Dur menyampaikan itu dalam Dies Natalis Universitas Hasyim Asy’ari, Jombang, tak lama setelah pulang kuliah dari Baghdad. Temuan naskah kuno hadis abad pertama Hijriah dan analisis disertasi itu secara argumentatif menunjukkan bahwa hadis betul-betul otentik dari Nabi.

A’zami secara khusus juga menulis kritik tuntas atas karya monumental Joseph Schacht, judulnya On Schacht’s Origins of Muhammadan Jurisprudence. Versi Indonesia, buku ini dan disertasi A’zami sudah beredar luas di Tanah Air. Murid A’zami di Indonesia, Prof. Ali Mustafa Yaqub, berperan banyak mempopulerkan pikiran ulama kelahiran India itu. Ali Mustafa membandingkan jasa A’zami dengan Imam Syafi’i (w. 204 H). Syafi’i pernah dijuluki “pembela sunah” oleh penduduk Mekkah karena berhasil mematahkan argumen pengingkar sunah –sebutan lain hadis. “Pada masa kini,” kata Ali Mustafa, “Prof. A’zami pantas dijuluki ‘pembela eksistensi hadits’ karena berhasil meruntuhkan argumentasi orientalis yang menolak hadis berasal dari Nabi.”
Setelah lama mapan dalam studi hadis, belakangan A’zami merambah bidang studi lain : Al-Quran. Namun inti kajiannya sama : menyangkal studi orientalis yang menyangsikan otentisitas Al-Quran sebagai kitab suci. Ia menulis buku The History of The Qur’anic Text (2003), yang juga berisi perbandingan dengan sejarah Perjanjian Lama dan Baru. “Ini karya pertama saya tentang Al-Quran,” kata peraih Hadiah Internasional Raja Faisal untuk Studi Islam tahun 1980 itu.

Sabtu pekan lalu, A’zami meluncurkan versi Indonesia buku itu dalam Pameran Buku Islam di Istora, Senayan Jakarta. Gus Dur, yang mengaku pengagum A’zami, bertindak sebagai panelis bersama pakar Quran dan hadits lainnya. Prof.Kamal Hasan, dalam pengantar buku itu, menilai karya A’zami ini relevan untuk meng-counter maraknya buku Hassan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zayd, dan Mohammad Arkoun di Indonesia. Melihat pentingnya kajian A’zami ini, Hidayatullah.com menurunkan wawancaranya dengan majalah Gatra, yang diturunkan edisi 11 April 2005.

Berikut ini petikan wawancaranya :

Apa yang mendorong Anda menggeser objek studi dari hadis ke Al-Quran ?.

Al-Quran dan hadis keduanya pegangan penting seorang muslim. Keduanya sama-sama berasal dari Allah SWT. Selain itu, kini orang-orang Barat, para orientalis, banyak mengkaji Al-Quran sekehendak mereka. Mereka begitu ketakutan pada Al-Quran. Bagi mereka, Al-Quran seperti bom. Karena itu, mereka ingin ada proses peraguan (tasykik) atas kebenaran Al-Quran. Studi orientalis generasi lama memang antipati pada Islam. Namun ada penilaian, arah kajian mereka akhir-akhir ini makin membaik : makin apresiatif dan empati pada Islam.

Apanya yang membaik ?.

Bila Anda hendak menyimpulkan, jangan dari fakta parsial. Anda harus menyimpulkan dari keseluruhan fakta. Masih ada orientalis yang menulis sejarah Nabi dan mengatakan bahwa musuh terbesar manusia di dunia adalah Muhammad, Al-Quran, dan pedangnya Muhammad. Dan problem mendasar kajian orientalis, mereka memulai kajiannya dengan tidak mempercayai Nabi Muhammad. Kita mengatakan, Muhammad adalah Nabi dan Rasul Allah. Menurut mereka, itu bohong besar. Jadi, mereka mengawali pembahasan dengan dasar pikiran bahwa Muhammad adalah pembohong, bukan rasul sebenarnya.

Mungkinkah mengkaji Islam semata-mata untuk tujuan studi, tanpa tujuan dan bekal keimanan, sebagaimana kaum orientalis ?.

Tidak mungkin. Agama apa saja, pada kenyataannya, sulit sekali mengkajinya tanpa keimanan. Kita lebih mudah mengkaji dan memahami Yahudi dan Kristen, karena kita percaya dan menghormati Musa, Harun, Maryam, dan Isa. Sementara orang Yahudi dan Nasrani tidak bisa memahami Islam, karena mereka mendustakan dan tak beriman pada Muhammad. Bila Anda baca tulisan orang Yahudi tentang Isa dan Maryam, Anda akan temukan ungkapan mereka sangat kotor dan menjijikkan. Ada yang menuding Isa telah berzina tiga kali. Kalau penulisnya muslim, tidak mungkin bilang begitu. Haram ! Karena kita memuliakan para nabi terdahulu. Persoalannya, berapa banyak orang Islam yang mau mengkaji lebih jauh tentang keyakinan Yahudi dan Nasrani ? Sedangkan mereka sangat intens melakukan kajian tentang Islam.

Benarkah buku Anda sebagai counter atas corak kajian Al-Quran ala pemikir semacam Hassan Hanafi, Abu Zayd, dan Arkoun yang populer di Indonesia ?.

Ini bukan counter langsung. Tapi ada hal penting yang harus digarisbawahi disini bahwa otoritas menafsirkan Al-Quran ada di tangan Rasulullah. Kita percaya, Al-Quran berasal dari Allah dan diturunkan pada Muhammad. Allah berfirman, “Dan kami turunkan Al-Quran pada kamu agar kamu jelaskan pada manusia.” Sama saja, bila ada problem konstitusi di Indonesia, misalnya, maka yang berwenang membuat in terpretasi adalah para hakim Indonesia. Meski meraih gelar doktor di Universitas Cambridge, saya tidak punya otoritas menyelesaikan problem konstitusi di Indonesia. Jadi, kalau ada orang berpikir liberal, lalu menafsirkan perintah salat da lam Al-Quran semaunya, tidak mengindahkan tuntunan Rasul sebagai penafsir yang mendapat mandat dari Allah, maka saya katakan, “Siapa Anda ? Siapa yang memberi Anda otoritas membuat tafsir sendiri ?” Orang-orang seperti Hassan Hanafi dan Abu Zayd itu adalah “anak-cucu” Barat. Tak perlu meng-counter langsung mereka. Kecuali kalau terpaksa. Saya sebenarnya tidak peduli pada pemikiran-pemikiran mereka. Saya ingin membentuk pandangan saya sendiri.

Dalam pandangan Anda, apa yang membuat beberapa pemikir muslim menyerap pengaruh Barat ? Tidakkah karena kekuatan argumentasi Barat ?.

Persoalan pokok sebenarnya adalah soal iman. Dari berbagai informasi, sangat nyata kebanyakan dari mereka adalah fasik (banyak berbuat dosa) dan sedikit sekali yang religius (mutadayyin). Mereka tidak puasa dan tidak salat. Ketika bulan Ramadan, subuh mereka bangun, makan pagi, tapi ketika magrib, ikut berbuka bersama lainnya, malamnya juga ikut sahur, ha, ha, ha….

Hasan Hanafi dan Nasr Abu Zeid misalnya, tidak belajar di sekolah-sekolah Barat. Tapi pemikiran mereka seperti mewakili pemikiran Barat. Mungkinkah ?.
Tentu. Karena buku-buku kajian mereka berasal dari Barat. Tapi Nasr Abu Zeid pernah belajar secara khusus di Jepang.

Kami pernah mengulas buku Prof.Christhop Luxenberg (nama samaran) yang berkesimpulan, bahasa asli Al-Quran adalah Aramaik, jadi yang beredar sekarang Quran palsu. Komentar Anda ?

Ah, dia pemikir bodoh. Beberapa penulis mengomentari bahwa pengetahuannya tentang bahasa Syiriya-Aramaik sangat dangkal. Kata dia, Al-Quran berasal dari bahasa Aramaik, kemudian setelah 100 tahun beralih ke bahasa Arab. Sehingga disebut Quran kondisional. Itu sama sekali bukan kajian ilmiah.

Apakah pemikiran Chistof ilmiah atau tidak ?

Tidak. Sama sekali jauh dari pemikiran ilmiah…

Apakah ini merupakan salah satu cara dari para orientalis untuk merusak umat Islam ?
Itu nggak ada artinya. Tapi sekarang beberapa kali dan akan berkali-kali, mereka menginginkan bahwa ketika Al-Quran dibuat tidak ada titik dan tasydid. Nah, sekarang mereka menginginkan agar Al-Quran diperbarui dari sisi titik dan tasydid-nya. Lalu, membacanya seperti yang kita kehendaki, memberi tanda-baca baru, dan menjadikannya baru. Al-Quran lalu menjadi Al-Quran sesuai kebutuhan/kondisional.

Apakah mereka juga memiliki kaidah dasar untuk membuat Al-Quran kondisional tersebut ?

Kaidahnya ya sekehendak hati mereka. Karena mereka memberi tanda baca sesuai kebutuhan mereka.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Al-Quran merupakan produk budaya. Apa komentar Anda ?
Itu pendapat Nasr Abu Zeid. Tapi apa yang sebenarnya disebut produk budaya ? Ini tak ubahnya ketika orang menyebut “terorisme”. Semua berbicara terrorism. Tapi tidak pernah ada satu pun definisi yang muttafaq alaihi tentang terorisme. Terorisme justru kerap dikaitkan dengan Islam. Kita perlu memahami apa pengertiannya dulu.

Dalam hal ini, apakah pengertian produk budaya sama dengan asbabun nuzul (memahami Quran secara kontekstual) ?
Tidak (sama). Memahami Quran secara kontekstual bisa dilakukan, jika “sesuatu” mempunyai kaitan dengan asbabun nuzul, tapi tak bisa diterapkan di semua tempat. Kecuali di beberapa tempat khusus yang merupakan sebab turunnya (ayat). Jadi, Anda tak bisa datang dan langsung mengatakan aqiimus shalat. Padahal di sana tidak ada asbabun nuzul, karena di sana adalah amr (perintah). Seharusnya, sebelum itu ada sebab. Allah adalah pencipta seluruh makhluk. Tentunya Dia tahu mana yang berbahaya dan bermanfaat bagi makhluk-Nya. Jangan bermain dengan Api ! Tidak ada …konteks di sini. Tidak hanya berlaku se karang tapi selamanya.

Ini wacana yang elit. Apa hal penting dari buku Anda bagi orang-orang awam ?

Saya tak bisa mengemukakan sesuatu untuk semua orang. Jadi saya sudah kepikiran untuk menulis buku baru, yang bisa dibaca dan dipahami oleh semua ummat Islam.

Anda pernah belajar dan lulus dari sebuah universitas di Barat. Tapi sikap anda tampak konservatif, dalam arti tidak liberal orang-orang seperti Hassan Hanafi atau Nasr Abu Zeid.

Mengapa ?
No ! Saya kira ini pertanyaan dan persoalan tentang iman. Ha…ha..ha…

Menurut anda, apa yang salah dengan Barat ?
Apa yang salah dengan Barat adalah sikap (attitude)-nya.

Apa tantangan terbesar bagi umat Islam saat ini ?

Kitalah sesungguhnya tantangan terbesarnya. Karena kita tidak mempraktekkannya. Man ghassa falaisa minna. “Barangsiapa yang menipu tidak termasuk golongan kami”. Kalau anda mengambil hadits dan mengujinya di dalam kehidupan (Adzami memberi contoh, bagaimana ia menemukan seorang penjual susu yang menempelkan hadis ini di atas tokonya, tapi ternyata ia menambah air dalam susu yang dijualnya). Meskipun Anda percaya Al-Quran dan Hadits, tapi dalam praktek kehidupan kita kita jauh dari sunnah. Ini salah satu kesulitan kita. Kalau kita menjadi good practicese-nya moslem. Saya tidak bicara tentang Islamisasi ilmu di sini. Tapi saya ingin menegaskan bahwa pengetahuan di Islam masih sangat jauh dari praktek. Islam itu sebenarnya praktek, bukan teori.

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1802&Itemi

Pemerintah AS Harus Minta Maaf atas Pelecehan Qur’an

Tindakan para prajurit Amerika yang memasukkan kitab suci Al Qur’an ke dalam toilet terus mendapat protes dan tantangan. Rais Syuriyah PBNU KH Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa pemerintah Amerika Serikat harus meminta maaf atas tindakan pelecehan tersebut. “Melecehkan kitab suci Al Qur’an sama dengan melecehkan umat Islam. Karena itu pemerintah AS harus minta maaf kepada umat Islam. Jika tidak ini akan dicatat oleh umat Islam selama-lamanya” tandas nya kepada NU Online (13/5).
Selanjutnya pemerintah AS juga harus menghukum para pelaku tindakan, termasuk pimpinanya agar kejadian tersebut tak terulang kembali dimasa yang akan datang.
Ketua Dewan Syariah Nasional MUI tersebut mengungkapkan bahwa selama ini Amerika Serikat selalu menggembar-gemborkan sebagai negara yang cinta damai, saling menghormati dan lainnya. Akan terdapat kontradiksi dengan kenyataan yang dihadapi.
“Jika pemerintah AS ingin dihormati oleh kaum muslimin, maka mereka juga harus menghormati umat Islam,” tambahnya. Mantan ketua dewan syuro PKB tersebut menilai wajar-wajar saja adanya protes dan demonstrasi yang mengutuk kejadian tersebut. Namun demikian, diharapkan mereka tidak berlaku emosional.

http://www.nu.or.id/data_detail.asp?kategori=WARTA&id_data=5018 – (c)2003, PBNU.

“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS.An Nahl : 64).

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.012/th.02/Safar-Rabi’ul Awwal 1426H/2005M


Pernyataan Bersama Mengutuk Pelecehan Al Qur’an Di Kamp Guantanamo

Juni 6, 2006

Berkaitan dengan penghinaan terhadap al-Qur’an, sebagai kitab suci umat Islam, yang dilakukan oleh pasukan Amerika Serikat (AS) di Kamp Guantanamo, kami atas nama umat Islam di Indonesia, dengan ini menyatakan :

1- Mengutuk tindakan penghinaan terhadap al-Qur’an yang telah dilakukan oleh pasukan AS tersebut. Sesungguhnya tindakan ini bukan hanya menghina kitab suci umat Islam, tetapi juga menghina Islam dan umatnya.

2- Sesungguhnya pelecehan terhadap kesucian Islam, sebagaimana yang dilakukan terhadap kitab suci al-Qur’an, hanya bisa dibela dan dipertahankan oleh penguasa kaum Muslim yang membela kepentingan Islam dan kaum Muslim, sehingga dia akan bisa menjadi perisai bagi Islam dan kaum Muslim. Sebagaimana sabda Rasulullah saw :”Seorang imam (penguasa/kepala negara) itu bagaikan perisai.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Tanpanya, niscaya kesucian Islam dan kemuliaan umatnya akan senantiasa dinodai oleh kaum Kufar.

3- Menyerukan kepada seluruh umat Islam di Indonesia, khususnya, juga umat Islam di seluruh dunia, baik yang duduk di jajaran legislatif, eksekutif, judikatif, kepolisian, militer, termasuk para ulama’, intelektual maupun masyarakat awam agar segera bersatu di bawah naungan Islam. Hanya dengan itulah, kita akan mempunyai kekuatan, sehingga kesucian agama dan kehormatan kita sebagai umat Islam akan tetap bisa dipertahankan.

4- Sesungguhnya perang Amerika dan sekutunya, dengan dalih perang melawan terorisme, baik yang dilakukan terhadap Afganistan, Irak maupun negeri-negeri kaum Muslim yang lain, hanyalah kedok untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Tujuannya tidak lain hanyalah untuk mengangkat dan mengukuhkan rezim boneka, yang bisa mereka peralat untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Maka, seluruh komponen umat Islam harus mewaspadai propaganda jahat negara-negara Kafir imperialis tersebut, yang bertujuan untuk menjajah dan menguasai negeri mereka dengan cara mengadu domba mereka, dan memecah belah kesatuan dan persatuan mereka.

5- Menuntut pemerintah Amerika agar meminta maaf secara terbuka kepada umat Islam di seluruh dunia, dan menghentikan perlakuan keji terhadap Islam dan umatnya di seluruh dunia.

6- Menuntut pemerintah Indonesia dan seluruh dunia Islam untuk mengambil sikap tegas terhadap penghinaan dan pelecehan terhadap kitab suci umat Islam.

Jakarta, 13 Mei 2005

Atas Nama Umat Islam Indonesia :
01. Komite Islam untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI),
02. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI),
03. Al-Irsyad Al Islamiyyah,
04. Badan Koordinasi dan Silaturrahmi Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI),
05. Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al Azhar,
06. Front Pembela Islam (FPI),
07. Majelis Mujahidin Indonesia (MMI),
08. Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII),
09. Ikatan Da’i Indonesia (IKADI),
10. Tim Pembela Muslim (TPM),
11. Gerakan Pemuda Muslim Indonesia (GPMI),
12. Korp Ulama’ Betawi,
13. dan Organisasi Islam lain.

Lampiran Acara :
1. Pemutaran Film Dokumenter : Membongkar Kekejaman Amerika di Irak atas nama Freedom dan Demokrasi (durasi 12:25 menit)
2. Pembukaan Tabligh Akbar : MC (Sudadi – HTI)

Para Orator :
01 – Mashadi- KISDI
02 – KH Hussein Umar – DDII
03 – H. Ahmad Soemargono – GPMI
04 – Habib Riziq Shihab – FPI
05 – Ust. Abu Jibril – MMI
06 – KH Muhammad al-Khatthath – HTI
07 – Farouk Bajeber – Al Irsyad
08 – Geys Amar – Al Irsyad
09 – Mahendrata – TPM
10 – Ahmad Sathori Ismail – IKADI
11 – Ridwan Saidi – Ulama’ Betawi

Pembacaan Pernyataan Bersama: Mengutuk Penghinaan Al-Qur’an Di Kamp Guantamo Oleh Tentara Amerika – KH Kholil Ridhwan – BKSPPI
Doa: Ustadz Arifin Ilham – Majelis al-Dzikra
Konferensi Pers: Pembacaan Press Release: Mengutuk Penghinaan Al-Qur’an Di Kamp Guantanamo Oleh Tentara Amerika, Ustadz Muhammad Ismail Yusanto. – HTI

http://www.hizbut-tahrir.or.id/modules.php?name=News&file=article&sid=519

RI : Pelecehan Al Qur’an oleh Tentara AS ‘Nista’ dan ‘Tak Bermoral’

Pemerintah Indonesia mengecam pelecehan terhadap Al-Qur’an yang diduga dilakukan oleh tentara Amerika Serikat di pusat tahanan pangkalan Angkatan Laut AS di Teluk Guantanamo baru-baru ini dan menyebut tindakan tersebut sebagai “nista” dan “tidak bermoral”.
“Saya ingin tegaskan, tindakan ini adalah tindakan yang nista, tindakan yang ‘imoral’. Tindakan terhadap kitab suci seperti Al Qur’an, Injil atau apapun seperti itu sama sekali tidak bisa dibenarkan,” kata Juru Bicara Deplu-RI, Marty Natalegawa, di Jakarta, Jumat. Marty ketika itu ditanya komentarnya mengenai sikap Indonesia –negara Muslim terbesar di dunia– terhadap laporan media tentang pelecehan terhadap Al Qur’an yang dilakukan prajurit AS yang sedang berupaya menjatuhkan mental tahanan Afghanistan di Penjara Guantanamo.

Majalah Newsweek baru-baru ini melaporkan bahwa sejumlah aparat AS melakukan penghinaan terhadap kitab suci umat Islam di penjara Guantanamo. Di antara bentuk penghinaan oleh petugas interogasi tersebut adalah mereka menaruh Al Qur’an itu di toilet. “Kita sangat menyesali dan tidak dapat menerima insiden tersebut “, ujar Marty. Marty berharap pihak otoritas AS segera melakukan investigasi mengenai kasus tersebut karena sangat menyangkut masalah sensitif keagamaan.
Keberatan Indonesia mengenai pelecehan terhadap Al Qur’an, menurutnya, sudah di sampaikan kepada Pemerintah AS melalui pembicaraan diplomasi. (Ant)

http://www.elenda.net/4-9.htm

“Harus ada segolongan dari kamu yang mengajak pada kebaikan, menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dan merekalah orang yang beruntung lagi bahagia.” – (QS Al-Imron : 104)

“Janganlah kamu lemah, dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang yang beriman” (QS Ali-Imran: 139)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.014/th.02/Rabi’ul Tsani-Jumada Al Awwal 1426H/2005M


Mangkuk Yang Cantik, Madu dan Sehelai Rambut

Juni 6, 2006

Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abakar ra., Umar ra., Utsman ra., dan ‘Ali ra., bertamu ke rumah Ali ra. Di rumah Ali ra. istrinya Sayidatina Fathimah rha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).

Abubakar ra. berkata, “Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.

Umar ra. berkata, “Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Utsman ra. berkata, “Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

‘Ali ra. berkata, “Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Fatimah rha. berkata, “Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Rasulullah SAW berkata, “Seorang yang mendapat taufiq untuk ber’amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber’amal dengan ‘amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat ‘amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Malaikat Jibril AS berkata, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Allah SWT berfirman, “Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
[Sahabat Nabi, Last Revised : Ahad, 7 Maret 2005]

http://www.geocities.com/ahmad_dir/tarbiyah/mmr.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.013/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1426H/2005M