Aku Memanggil Kalian…

Mei 24, 2007

Bismillah, Perkenalkan ! Namaku Bilal. Ayahku bernama Rabah, seorang budak dari Abesinia, oleh karena itu nama panjangku Bilal Bin Rabah. Aku tidak tahu mengapa Ayah dan Ibuku sampai di sini, Makkah. Sebuah tempat yang hanya memiliki benderang matahari, hamparan sahara dan sedikit pepohonan. Aku seorang budak yang menjadi milik tuannya. Umayyah, begitu biasanya tuanku dipanggil. Beliau seorang bangsawan Quraisy, yang hanya tahu dan peduli pada harta dan kefanaan. Setiap jeda, setiap saat aku harus siap kapan saja diperintah. Jika tidak, maka ada cambuk yang menanti dan akan mendera bagian tubuhku yang mana pun yang disukainya. Setiap waktu adalah sama, semua hari juga serupa tak ada bedanya, yakni melayani majikan dengan sempurna.
Hingga suatu hari aku mendengar seseorang menyebutkan nama Muhammad. Tadinya aku tak peduli, namun aku terus berusaha mencari kabar, mencuri dengar, hingga membuatku selalu memasang telinga baik-baik. Muhammad, mengajarkan agama baru, yaitu menyembah Tuhan yang Maha Tunggal. Tidak ada tuhan yang lain. Aku tertarik dan akhirnya, aku bersyahadat diam-diam.

Namun, pada suatu hari majikanku mengetahuinya. Aku sudah tahu kelanjutannya. Mereka memancangku di atas pasir sahara yang membara. Matahari begitu terik, seakan belum cukup, sebuah batu besar menindih dada ini. Mereka mengira aku akan segera menyerah. Haus seketika berkunjung, ingin sekali minum. Aku memintanya pada salah seorang dari mereka, dan mereka membalasnya dengan lecutan cemeti berkali-kali. Setiap mereka memintaku mengingkari Muhammad, aku hanya berucap “Ahad… ahad”. Batu diatas dada mengurangi kemampuanku berbicara sempurna. Hingga suatu saat, seseorang menolongku, Abu Bakar menebusku dengan uang sebesar yang Umayyah minta. Aku pingsan, tak lagi tahu apa yang terjadi.
Segera setelah sadar, aku dipapah Abu Bakar menuju sebuah tempat tinggal Nabi Muhammad. Kakiku sakit tak terperi, badanku hampir tak bisa tegak. Ingin sekali rubuh, namun Abu Bakar terus membimbingku dengan sayang. Tentu saja aku tak ingin mengecewakannya. Aku harus terus melangkah menjumpai seseorang yang kemudian kucinta sampai nafas terakhir terhembus dari raga. Aku tiba di depan rumahnya. Ada dua sosok disana. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib sepupunya yang masih sangat muda dan yang di sampingnya adalah dia, Muhammad.

Muhammad, aku memandangnya lekat, tak ingin mata ini berpaling. Ku terpesona, jatuh cinta, dan merasakan nafas yang tertahan dipangkal tenggorokan. Wajahnya melebihi rembulan yang menggantung di angkasa pada malam-malam yang sering kupandangi disela-sela waktuku. Matanya yang indah menatapku hangat. Badannya tidak terlalu tinggi tidak juga terlau pendek. Dia adalah seorang yang jika menoleh maka seluruh badannya juga. Dia tersenyum padaku, dan aku semakin mematung, merasakan ada sebuah aliran sejuk sambangi semua pori-pori yang baru saja dijilati cemeti. Dia bangkit, dan menyongsongku dengan kegembiraan yang nampak sempurna. Bahkan hampir tidak kupercaya, ada genangan air mata di pelupuk pandangannya. Ali, saat itu bertanya “Apakah orang ini telah menjahati engkau, hingga engkau menangis ?”. “Tidak, orang ini bukan penjahat, dia adalah seorang yang telah membuat langit bersuka cita”, demikian Muhammad menjawab. Dengan kedua tangannya, aku direngkuhnya, dipeluk dan didekapnya, lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti saat itu aku merasa terbang melayang ringan menjauhi bumi. Belum pernah aku diperlakukan demikian istimewa.

Selanjutnya aku dijamu begitu ramah oleh semua penghuni rumah. Aku duduk di sebelah Muhammad, dan karena demikian dekat, aku mampu menghirup bau wangi yang harumnya melebihi aroma kesturi dari tegap raganya. Dan ketika tangan Nabi menyentuh tangan ini begitu mesra, aku merasakan semua derita yang mendera sebelum ini seketika terkubur di kedalaman sahara. Sejak saat itu, aku menjadi sahabat Muhammad.

Kau tidak akan pernah tahu, betapa aku sangat beruntung menjadi salah seorang sahabatnya. Itu aku syukuri setiap detik yang menari tak henti. Aku Bilal, yang kini telah merdeka, tak perlu lagi harus berdiri sedangkan tuannya duduk, karena aku sudah berada di sebuah keakraban yang mempesona. Aku, Bilal budak hitam yang terbebas, mereguk setiap waktu dengan limpahan kasih sayang Al-Musthafa. Tak akan ada yang kuinginkan selain hal ini.

Beberapa waktu kemudian Al-Musthafa hijrah ke Yasthrib, dan aku…Bilal bin Rabah adalah salah satu dari orang-orang yang setia mengkuti beliau. Sebuah pengalaman terindah dan terbesar dalam hidup kualami di negeri baru itu.

Di Yathrib, mesjid, tempat kami, umat Rasulullah beribadah telah berdiri. Bangunan ini dibangun dengan bahan-bahan sederhana. Sepanjang hari, kami semua bekerja keras membangunnya dengan cinta, hingga kami tidak pernah merasakan lelah. Nabi memuji hasil kerja kami, senyumannya selalu mengembang menjumpai kami. Ia begitu bahagia, hingga selalu menepuk setiap pundak kami sebagai tanda bahwa ia begitu berterima kasih. Tentu saja hati kami melambung. Kami semua berkumpul, meski mesjid telah selesai dibangun, namun terasa masih ada yang kurang. Ali mengatakan bahwa mesjid membutuhkan penyeru agar semua muslim dapat mengetahui waktu shalat telah menjelang. Dalam beberapa saat kami terdiam dan berpandangan. Kemudian beberapa sahabat membicarakan cara terbaik untuk memanggil orang-orang.

“Kita dapat menarik bendera” seseorang memberikan pilihan. “. “Bendera tidak menghasilkan suara, tidak bisa memanggil mereka”

“Bagaimana jika sebuah genta ?”. “Bukankah itu kebiasaan orang Nasrani”.

“Jika terompet tanduk ?”. “Itu yang digunakan orang Yahudi, bukan ?”

Semua yang hadir di sana kembali terdiam, tak ada yang merasa puas dengan pilihan-pilihan yang dibicarakan. Kulihat Nabi termenung, tak pernah kusaksikan beliau begitu muram. Biasanya wajah itu seperti matahari di setiap waktu, bersinar terang. Sampai suatu ketika, adalah Abdullah Bin Zaid dari kaum Anshar, mendekati Nabi dengan malu-malu. Aku bergeser memberikan tempat kepadanya, karena kutahu ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Nabi secara langsung. “Wahai, utusan Allah” suaranya perlahan terdengar. Mesjid hening, semua mata beralih pada satu titik. Kami memberikan kepadanya kesempatan untuk berbicara. “Aku bermimpi, dalam mimpi itu kudengar suara manusia memanggil kami untuk berdoa…” lanjutnya pasti. Dan saat itu, mendung di wajah Rasulullah perlahan memudar berganti wajah bahagia berseri-seri. “Mimpimu berasal dari Allah, kita seru manusia untuk mendirikan shalat dengan suara manusia juga….”. Begitu nabi bertutur.

Kami semua sepakat, tapi kemudian kami bertanya-tanya, suara manusia seperti apa, lelakikah ?, anak-anak ?, suara lembut ?, keras ? atau melengking ? Aku juga sibuk memikirkannya. Tiba-tiba kurasakan sesuatu di atas bahuku, ada tangan Al-Musthafa di sana. “Suaramu Bilal” ucap Nabi pasti. Nafasku tiba-tiba seperti terhenti.
Kau tidak akan pernah tahu, saat itu aku langsung ingin beranjak menghindarinya, apalagi semua wajah-wajah teduh di dalam mesjid memandangku sepenuh cinta.
“Subhanallah, saudaraku, betapa bangganya kau mempunyai sesuatu untuk kau persembahkan kepada Islam”, kudengar suara Zaid dari belakang. Aku semakin tertunduk dan merasakan sesuatu bergemuruh di dalam dada. “Suaramu paling bagus duhai hamba Allah, gunakanlah”, perintah nabi kembali terdengar. Pujian itu terdengar tulus. Dan dengan memberanikan diri, kuangkat wajah ini menatap Nabi Allah, ada senyuman rembulannya untukku. Dan aku pun mengangguk.
Akhirnya, kami semua keluar dari mesjid. Nabi berjalan paling depan, dan bagai anak kecil aku mengikutinya. “Naiklah ke sana, dan panggillah mereka di ketinggian itu” Nabi mengarahkan telunjuknya ke sebuah atap rumah kepunyaan wanita dari Banu’n Najjar, dekat mesjid. Dengan semangat, kunaiki atap itu, namun sayang kepalaku kosong, aku tidak tahu panggilan seperti apa yang harus aku kumandangkan. Aku terdiam lama.

Di bawah, kulihat wajah-wajah menengadah. Wajah-wajah yang memberiku semangat, menelusupkan banyak harapan. Mereka memandangku, mengharapkan sesuatu keluar dari bibir ini. Berada di ketinggian sering memusingkan kepala, dan kulihat wajah-wajah itu tak mengharapkan aku terjatuh. Lalu kucari sosok Nabi, ada Abu Bakar dan Umar di sampingnya. “Ya Rasul Allah, apa yang harus aku ucapkan ?”, aku memohon petunjuknya. Dan kudengar suaranya yang bening membumbung sampai di telinga, “Pujilah Allah, ikrarkan Utusan-Nya, Serulah manusia untuk shalat”. Maka aku berpaling dan memikirkannya. Aku memohon kepada Allah untuk membimbing ucapanku. Kemudian, aku pandangi langit megah tak berpenyangga. Lalu di kedalaman suaraku, aku berseru :

Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah
Aku bersaksi bahwa Muhammad Utusan Allah
Marilah Shalat, Marilah Mencapai Kemenangan
Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Tiada Tuhan Selain Allah.

Ku sudahi lantunan. Aku memandang Nabi, dan kau akan melihat saat itu Purnama Madinah itu tengah memandangku bahagia. Ku turuni menara, dan aku disongsong begitu banyak manusia yang berebut memelukku. Dan ketika Nabi berada di hadapanku, ia berkata “Kau Bilal, telah melengkapi Mesjidku”.
Aku, Bilal, anak seorang budak, berkulit hitam, telah dipercaya menjadi muadzin pertama, oleh dia, Muhammad, yang telah mengenyahkan begitu banyak penderitaan dari kehidupan yang kutapaki. Engkau tidak akan pernah tahu, mengajak manusia untuk shalat adalah pekerjaan yang dihargai Nabi begitu tinggi. Aku bersyukur kepada Allah, telah mengaruniaku suara yang indah. Selanjutnya jika tiba waktu shalat, maka suaraku akan memenuhi udara-udara Madinah dan Makkah.

Hingga suatu saat, manusia yang paling kucinta itu dipanggil Allah dengan kematian terindahnya. Purnama Madinah tidak akan lagi hadir mengimami kami. Sang penerang telah kembali. Tahukah kau, betapa berat ini ku tanggung sendirian. Aku seperti terperosok ke sebuah sumur yang dalam. Aku menangis sedih, namun aku tahu sampai darah yang keluar dari mata ini, Nabi tak akan pernah kembali. Di pangkuan Aisyah, Nabi memanggil ‘ummatii… ummatiii’ sebelum nafas terakhirnya perlahan hilang. Aku ingat shubuh itu, terakhir nabi memohon maaf kepada para sahabatnya, mengingatkan kami untuk senantiasa mencintai kalam Ilahi. Kekasih Allah itu juga mengharapkan kami untuk senantiasa mendirikan shalat. Jika ku kenang lagi, aku semakin ingin menangis. Aku merindukannya, sungguh, betapa menyakitkan ketika waktu senggang yang kupunya pun aku tak dapat lagi mendatanginya.

Sejak kematian nabi, aku sudah tak mampu lagi berseru, kedukaan yang amat membuatku lemah. Pada kalimat pertama lantunan adzan, aku masih mampu menahan diri, tetapi ketika sampai pada kata ‘Muhammad’, aku tak sanggup melafalkannya dengan sempurna. Adzanku hanya berisi isak tangis belaka. Aku tak sanggup melafalkan seluruh namanya, ‘Muhammad’. Jangan kau salahkan aku. Aku sudah berusaha, namun, adzanku bukan lagi seruan. Aku hanya menangis di ketinggian, mengenang manusia pilihan yang menyayangiku pertama kali. Dan akhirnya para sahabat memahami kesedihan ini. Mereka tak lagi memintaku untuk berseru.

Sekarang, ingin sekali aku memanggil kalian… memanggil kalian dengan cinta. Jika kalian ingin mendengarkan panggilanku, dengarkan aku, akan ada manusia-manusia pilihan lainnya yang mengumandangkan adzan. Saat itu, anggaplah aku yang memanggil kalian. Karena, sesungguhnya aku sungguh merindui kalian bersegera mendirikan shalat.

Sahabat, jika adzan bergema, kita tahu yang seharusnya kita lakukan. Ada Bilal yang memanggil. Tidakkah, kita tersanjung dipanggil Bilal. Bersegeralah menjumpai Allah, hadirkan hatimu dalam shalatmu, dan Allah akan menatapmu bahagia. Masihkah anda mengingat salah satu ucapan Al-Musthafa ini …..”Shalatlah sebelum kamu di shalatkan”. Sebuah kalimat yang sarat makna jika direnungkan dalam-dalam.

Bila Bilal memanggil, ingatkan teman dan sudara untuk bersama berangkat ke mesjid, meramaikan masjid, memakmurkan masjid, berjamaah…satukan langkah, satukan tujuan, rapatkan barisan……….

http://www.eramoslem.com/artikel/oase/

Manusia Oh Manusia

Ini cerita atau tamsil mengenai kondisi kita sebagai manusia, Insya Allah ada hikmah/manfaatnya .

Telah datang seorang bijak di hadapan rumah seorang lelaki. Orang bijak itu terkejut apabila mendapati lelaki itu sedang memukul seekor kucing. Orang bijak itu bertanya kepada lelaki tersebut ‘Kenapa kamu pukul kucing yg lemah ini ??’, Jawab lelaki tersebut’ Aku telah menemukannya di sebuah lorong ketika ia dalam keadaan yang sangat lemah & kedinginan , kemudian aku mengambilnya & memberinya makanan serta minuman. Aku pelihara sehingga ia benar-benar sehat, tetapi sesudah kucing itu sehat ,ia membuang najis/kotoran pada seembarang tempat di rumahku. Kemudian berkatalah si orang bijak : ‘Ini sebenarnya peringatan & tamsilan antara kita dgn Allah. Dia telah memelihara kita sejak dari kecil yang sangat lemah & dhaif, lalu Allah memberi kita makan, pakaian dan segalanya, tetapi setelah begitu banyak kebaikan dan nikmat Allah yg kita rasakan, kita durhaka kepada-NYA dan tidak melaksanakan perintah-NYA , dan belum ikut cara hidup kekasihnya yaitu Rasulullah . Lihatlah betapa baiknya dan rahmatnya Allah, walaupun kita durhaka kepada-NYA, Dia masih belum menyiksa atau memukul kita dgn azab-NYA.’

Kemudian pergilah orang bijak itu dan beristighfarlah lelaki tersebut karena mengenang dosa-dosanya terhadap Allah. Jika ia lambat diperingatkan oleh orang bijak itu, sudah tentu lebih besar pertanggung-jawaban atas kesalahannya di mahkamah Allah kelak karena telah mencoba menyiksa kucingnya……………

http://van.9f.com/renungan%20islam/ohh_manusia.htm

Catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.001/th.01/safar 1425H/2004M

Iklan

Tiga Pertanyaan

Mei 24, 2007

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ke tanah air. Sesampainya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, kiai atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang yang dicari.

Pemuda : Anda siapa ? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya ?
Kyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.

Pemuda : Anda yakin ? sedang profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Kyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.

Pemuda : Saya punya 3 buah pertannyaan.
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya ?
2. Apakah yang dinamakan takdir ?
3. Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syetan sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu ?

Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si pemuda dengan keras. Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada saya ?
Kyai : Saya tidak marah… tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.
Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti !

Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya ?
Pemuda: Tentu saja saya merasakan sakit.
Kyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada ?
Pemuda: Ya
Kyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu !
Pemuda: Saya tidak bisa
Kyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.

Kyai melanjutkan : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya ?
Pemuda: Tidak
Kyai : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini ?
Pemuda: Tidak
Kyai : Itulah yang dinamakan Takdir

Kyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda ?
Pemuda : kulit
Kyai : Terbuat dari apa pipi anda ?
Pemuda : kulit
Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya ?
Pemuda: sakit
Kyai : Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan menjadi tempat menyakitkan untuk syeitan.

“Rasulullah Saw bersabda : Berfikirlah mengenai makhluk Allah dan jangan berfikir mengenai Dzat Allah, sebab kamu semua tentu tidak dapat mencapai kadar perkiraannya”. (HR. Muslim)

“Dari Abu Hurrairah r.a Rasulullah bersabda : “Orang banyak senantiasa tanya bertanya (tentang ini dan itu) sehingga akhirnya mereka bertanya: Alam ini ciptaan Allah, maka siapakah yang menciptakan Allah ? . Sabda Rasulullah Saw, Hendaklah kamu jawab, Aku iman dengan Allah !” (HR.Muslim)

[Dipublikasi pada Thursday, 10 October 2002 oleh DZIKIR]

Catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.001/th.01/safar 1425H/2004M


Jejak Indah Sang Pemimpin

Maret 15, 2006

Malam telah pekat, selimut-selimut semakin dirapatkan para pemiliknya untuk menambah lelap. Angin sahara menderu akrab ditelinga, dingin menusuk, kesunyian hadir sejak tadi. Dia mengendap-endap keluar dari petak rumah sederhana, menyusuri setiap lorong perkampungan Madinah. Jubah kumal bertambalan itu menemaninya pergi. Ditajamkannya pendengaran, adakah rakyatnya menyelami derita yang luput dari perhatian. Diawaskannya mata, terdapatkah rakyat alami duka akibat kepemimpinannya. Jika dia berlalu dan mendengar dengkuran halus pemilik rumah, senyuman menemaninya berpatroli.

Sendirian, dia memamah malam, langkahnya berjinjit khawatir mengganggu istirahat rakyat yang begitu dicintai. Dari setiap detik yang mengalir, selalu kecemasan yang membayang di wajah pemberaninya, jangan-jangan di rumah ini ada janda dengan anak-anak yang kelaparan, atau khawatir di rumah selanjutnya orang tua terkapar kesakitan tanpa sanak saudara, adakah di rumah itu yang sakit hati karena pajak terlalu tinggi. Sendirian dia menikmati paruh malam, menyulam harapan keadaan rakyat sentosa senantiasa, merajut do’a agar rakyat dibawah naungan perlindungannya dilingkupi pilinan kedamaian.

Langkahnya terhenti, ketika beberapa wanita terdengar bersenandung, dari bilik sebuah rumah:
“Adakah jalan untuk minuman memabukkan,
Dan aku akan meminumnya
Atau adakah jalan,
Kepada Nashr bin Hajjaj?”

Saat itu, beliau berdiam lama, menghafal sebuah nama asing dalam hatinya, Nashr bin Hajjaj. Selanjutnya patrolinya dilanjutkan, hingga waktu fajar sebentar lagi menjemput.
Pagi harinya, dia mencari tahu nama yang didapatinya tadi malam. Salah seorang pembantunya menghadapkan seorang laki-laki dari suku Sulaym, Nashr bin Hajjaj. Berdiri tegap sang pemuda. Dia memandangnya lekat. Pemuda yang menakjubkan, ketampanannya mempesona, rambutnya indah. Dia mengingat syair wanita semalam. Akhirnya sang pemuda diperintahkan untuk memotong rambut, ketika kembali, Nashr tampak lebih tampan, dia pun menyuruhnya mengenakan ikat kepala, kali ini pun Nashr terlihat lebih mempesona. Khawatir menimbulkan banyak fitnah dan kemudharatan di tempat berdiamnya selama ini, Dia pun mengamanahkan Nashr tugas mulia, menjadi anggota pasukan tentara dengan jaminan kehidupan yang lebih baik. Wajah Sang pemuda pun berbunga.

Siapakah dia, yang sangat khawatir terjadi kerusakan akhlak para wanita hingga memikirkan solusi terbaik dengan memindahkan Nashr? Tebak, siapa pemimpin yang begitu tulus mencintai rakyatnya dengan berjalan dari satu lorong ke lorong yang lain untuk mencari tahu adakah rakyatnya yang tidak dapat tidur nyenyak? . Ya, saya sepakat denganmu sahabat, Dia adalah Umar Bin Khattab, khalifah kedua bergelar amirul mu’minin, pemimpin bagi orang-orang mu’min. Begitu Mahsyur.

Suatu periode dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.
Putus asa mendera dimana-mana. Saat itu, Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya seksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari diinstruksikan menyembelih onta-onta potong dan disebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong ribuan rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran ditangan ini”.

Sejarah menorehkan kisah Umar yang mengharamkan daging, samin dan susu untuk perutnya, khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si pemberani itu hanya menyantap minyak zaitun dengan sedikit roti. Akibatnya, perutnya terasa panas dan kepada pembantunya ia berkata “Kurangilah panas minyak itu dengan api”. Minyak pun dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, hingga rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar”.

Tahun abu pun berlalu. Daerah kekuasaan Islam bertambah luas, pendapatan negara semakin besar. Masyarakat semakin makmur. Apakah umar berhenti berpatroli? Masih dengan jubah kumal, umar didampingi pembantunya berkeliling merambahi rumah-rumah berpelita. Kehidupan keluarga umar, masih saja pas-pasan. Padahal para gubernur di beberapa daerah hidup dalam kemewahan. Para sahabat, mulai berkasak-kusuk, mereka mengusulkan untuk memberi tunjangan dan kenaikan gaji yang besar untuk Umar. Namun, para sahabat tidak berani menyampaikan usul ini langsung kepada umar. Lewat Hafsah putri Umar, yang juga janda Rasulullah, usul ini disampaikan. Sebelumnya mereka berpesan supaya tidak disebut nama-nama mereka yang mengusulkan.
“Siapa mereka yang mempunyai pikiran beracun itu, akan ku datangi mereka satu persatu dan menamparnya dengan tanganku ini !?” berangnya kepada Hafsah. Selanjutnya tatapannya meredup, dipandanginya putri kesayangan itu, “Anakku, makanan apa yang menjadi santapan suamimu, Rasulullah?” Hafsah terdiam, pandangannya terpekur di lantai tanah. Ingatan hidup indah bersama Sang Purnama Madinah, tergambar. Terbata Hafsah menjawab, “Roti tawar yang keras, ayah. Roti yang harus terlebih dahulu dicelup ke dalam air, agar mudah ditelan”.
“Hafsah, pakaian apa yang paling mewah dari suamimu,” seraknya masih dengan nada kecewa. Hafsah semakin menunduk, pelupuk mata sudah tergenang. Terbayanglah tegap Manusia Sempurna, yang selalu berlaku baik kepada para istrinya. “Selembar jubah kemerahan, ayah, karena warnanya memudar. Itulah yang dibangga-banggakan untuk menerima tamu kehormatan”. Pada saat menjawab, kerongkongan Hafsah tersekat, menahan kesedihan.
“Apakah, Rasulullah membaringkan tubuh diatas tilam yang empuk?” pertanyaan ini langsung dipotong Hafsah “Tidakk!” pekiknya. “Beliau berbantal pelepah keras kurma, beralaskan selimut tua. Jika musim panas datang, selimut itu dilipatnya menjadi empat, supaya lebih nyaman ditiduri. Lalu kala musim dingin menjelang, dilipatnya menjadi dua, satu untuk alas dan bagian lainnya untuk penutup. Sebagian tubuh beliau selalu berada diatas tanah”. Saat itu meledaklah tangis Hafsah.
Mendengar jawaban itu, Umar pun berkata, “Anakku! Aku, Abu Bakar dan Rasulullah adalah tiga musafir yang menuju cita-cita yang sama. Mengapakah jalan yang harus kutempuh berbeda? Musafir pertama dan kedua telah tiba dengan jalan yang seperti ini.” Selanjutnya Umar pun menambahkan “Rasulullah pernah berkata: Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang berpergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak dibawah pohon, kemudian berangkat meninggalkannya”.
Pada saat kematian menjelang lewat tikaman pisau Abu Lu’lu’a, budak Mughira bin Syu’bah, dengan ringan beliau bertutur, “Alhamdulillah, bahwa aku tidak dibunuh oleh seorang muslim”. Mata yang jarang terlelap karena mengutamakan rakyatnya itu menutup untuk selama-lamanya. Umar pun syahid, dalam usia 60 tahun. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raajiiun.

Madinah berduka, sebuah syair menghantarkan kepergiannya:
Allah membalas kebaikan kepada Imam
Memberi berkah ke kulit bumi yang terkoyak
Kau raih kemilau sejarah gemilang
Kau tinggalkan retak-retak belum selesai
Siapa terbang di sayap burung unta
Akan terkejar apa yang sudah berlalu sebelumnya?

Setelah pembunuhan di Madinah
Dunia pun gelap
Pohon-pohon tersentak bergetar,
Dan tidak kuharapkan
Kematiannya dikuku singa
Bermata biru, kepala merunduk
(Muzarrad bin Dzirar)

Pemilu, tinggal menunggu hitungan bulan, sungguh saya merindukan sosok pemimpin yang meneladani Umar dalam mengayomi rakyatnya.

Note: Ajak kerabat dan saudara untuk mengenal Umar RA lebih dalam, sungguh beliau adalah sosok pemimpin yang mengayomi rakyatnya.
http://www.eramoslem.com/ar/oa/36/6794,1,v.html

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.001/th/01/safar/1425 H/2004 M


Taubatnya seorang lelaki penuh dosa

Maret 15, 2006

Dia tinggal di Riyadh, hidup dalam kesesatan dan tidak mengenal Allah kecuali hanya sedikit.Bertahun-tahun tidak pernak masuk masjid dan tidak pernah bersujud kepada Allah meski hanya sekali. Allah menghendaki taubatnya ditangan puteri kecilnya.

Dia menceritakan kisahnya:

Aku biasa begadang sampai pagi bersama teman-temanku untuk beramain-main dan bersenda gurau. Aku tinggalkan isteriku dalam kesendirian dan kesusahannya yang hanya Allah yang mengetahuinya. Isteriku yang setia tak mempu lagi menasehatiku yang sudah tak mempan lagi diberi nasehat.

Pada suatu malam, aku baru pulang dari begadang, jarum jam menunjukkan pukul 03.00 pagi, aku lihat isteri dan puteri kecilku terlelap tidur. Lalu aku masuk ke kamar sebelah untuk menghabiskan sisa-sisa malam dengan melihat film-film porno melalui video, waktu itu, waktu dimana Allah azza wajalla turun dan berkata: “Adakah orang yang berdoa sehingga aku mengabulkannya ?. Adakah orang yang meminta ampun sehingga aku mengampuninya?, Adakah orang yang meminta kepadaku sehingga aku memberinya”.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan kulihat puteriku yang belum genap berusia 5 tahun. Dia melihatku dan berkata: “Bapak, ini suatu aib bagimu, takutlah kepada Allah”, dan mengulanginya tiga kali kemudian menutup pintu dan pergi. Aku terkejut lalu aku matikan video. Aku duduk termenung dan kata-katanya terngiang-ngiang ditelingaku dan hampir membinasakanku, lalu aku keluar mengikutinya tapi dia sudah kembali lagi ketempat tidurnya.

Aku seperti gila, tidak tahu apa yang baru saja menimpaku waktu itu. Tak lama kemudian terdengar suara adzan dari masjid dekat rumah yang memecah kegelapan malam, menyeru untuk shalat subuh.
Aku berwudlu lalu pergi ke masjid. Aku tidak bersemangat untuk shalat, hanya saja karena kata-kata puteriku membuatku gelisah.

Shalat dimulai, imam bertakbir dan membaca beberapa ayat Al-Qur’an. Ketika dia bersujud, akupun bersujud dibelakangnya dan meletakkan dahiku di atas tanah sampai aku menangis keras tanpa kuketahui sebabnya. Inilah sujud pertama kali kulakukan kepada Allah azza wajalla sejak tujuh tahun yang lalu.

Tangisan itu adalah pembuka kebaikan bagiku, tangisan itu telah mengeluarkan apa yang ada dalam hatiku berupa kekafiran, kemunafikan dan kerusakan. Aku merasakan butir-butir keimanan mulai meresap kedalam jiwaku.

Setelah shalat aku pergi bekerja. Ketika bertemu dengan temanku, dia heran melihatku datang cepat padahal biasanya selalu terlambat akibat begadang sepanjang malam. Ketika dia menanyakan penyebabnya, aku menceritakan apa yang kualami tadi malam. Kemudian dia berkata: “Bersyukurlah kepada Allah yang telah menggerakkan anak kecil itu sehingga menyadarkanmu dari kelalaianmu sebelum datang kematianmu.”

Setelah tiba waktu dzuhur, aku merasa cukup lelah karena belum tidur sejak malam. Lalu aku minta kepada temanku untuk menggantikan tugasku, dan aku pulang ke rumah untuk beristirahat. Aku ingin cepat-cepat melihat puteriku yang menjadi sebab hidayahku dan kembaliku kepada Allah.

Aku masuk kerumah dan disambut oleh isteriku sambil menangis, lalu aku bertanya, “Ada apa denganmu, isteriku?”, jawaban yang keluar darinya laksana halilintar. “Puterimu telah meninggal dunia”.
Aku tak bisa mengendalikan diri dan menangis.

Setelah jiwaku tenang, aku sadar bahwa apa yang menimpaku semata-mata ujian dari Allah azza wajalla untuk menguji imanku. Aku bersyukur kepada Allah azza wajalla. Aku mengangkat gagang dan menghubungi temanku. Aku memintanya datang untuk membantuku.

Temanku datang dan membawa puteriku, memandikannya dan mengafaninya lalu kami menshalatkannya dan membawanya kepemakaman, temanku berkata: “Tidak ada yang pantas memasukkannya ke liang kubur kecuali engkau”, lalu aku mengangkatnya dengan berlinang air mata dan meletakkannya di liang kubur. Aku tidak mengubur puteriku, tapi mengubur cahaya yang telah menerangi jalan hidupku. Aku bermohon kepada Allah SWT agar menjadikannya penghalang bagiku dari api neraka dan memberi balasan kebaikan kepada isteriku yang penyabar.

(Dikutip dari : Hakikat Taubat, website http://www.alirsyad-alislamy.or.id/)

http://surau.org/modules.php?name=News;file=articlesid=323

Catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.001/th.01/safar 1425H/2004M


Cinta Kepada Rasulullah

Maret 15, 2006

Dahulu, di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual kembang cempaka. Ia menjual kembangnya di pasar, dengan berjalan kaki cukup jauh. Dan usai berjualan, ia biasa langsung pergi ke masjid Agung di kota itu.

Begitu pula yang terjadi pada siang itu, ia masuk masjid terus berwudhu, ia kemudian melakukan salat Zhuhur. Selesai sholat ia membaca beberapa wirid. Tak lama kemudian ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia biasa mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. Demi melihat hal itu, maka banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya.

Pada suatu hari takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan yang ada sebelum perempuan tua itu datang.

Esoknya, seperti biasa siang hari itu si nenek datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia keluar lagi ke halaman masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Lantas orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya.
“Jika kalian kasihan kepadaku, berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya,” sergah si nenek tersebut.
Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan seperti biasa.

Seorang kiai yang cukup dihormati diminta untuk menanyakan, kepada perempuan tua itu begitu bersemangat membersihkan dedaunan di halaman masjid. Namun perempuan tua itu hanya mau menjelaskan tetapi dengan dua syarat : pertama, hanya Kiai itu yang boleh mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia (si nenek) masih hidup.

Sekarang perempuan tua itu sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya ini tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat dari Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.”

Kisah yang diceriterakan oleh seorang Kiai Madura,D. Zawawi Imran, ini bisa membuat bulu kuduk kita merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw ?.

“Dan tiadalah Kamu mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta”. (QS.Al Anbiyaa’ : 107).

“Allahumma Shollii Alaa Muhammad wa ‘Alaa Aali Muhammad”.

[Diketik ulang dari buku “Rindu Rosul”, karangan Jalaluddin Rakhmat, penerbit Rosda, Bandung, hal : 31-33].

http://tausyiah275.blogsome.com/2006/02/27/cinta-kepada-rasulullah-saw/
Catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.001/th.01/safar 1425H/2004M


Analisa Sederhana Tentang Kejadian Manusia

Maret 15, 2006

Banyak orang bilang, bahwa manusia itu tercipta dari setetes sperma…memang benar. Sekarang ada pertanyaan, sperma itu kandungannya apa saja ? Menurut ilmu kedokteran, ‘bahwa pada sperma itu mengandung berbagai zat, antara lain protein, gizi dan segala macamnya’ ….benar juga. Pertanyaan selanjutnya, darimana berbagai zat itu ? jawabnya..’ ya otomatis dari segala makanan yang kita makan’ ….lagi-lagi benar.
Makanan itu kalau kita pilah-pilah sebetulnya makanan itu hanya terdiri dari dua, kalau tidak tumbuhan ya hewan..benar bukan ?

Sekarang kita lihat hewan…apa yang dimakan hewan ? jawabnya ‘sama’ seperti yang dimakan manusia…kalau tidak tumbuhan yang hewan lainnya…benar bukan ?. Nah, sekarang ada pertanyaan lagi…lantas apa yang dimakan oleh tumbuhan….maka coba saja amati akarnya…..kemana akar itu menjulur mencari makan ? jawabnya …pasti ke dalam tanah !
Artinya… memang benar-benar manusia itu dari tanah !

Bukankah tanah itu benda mati ? kenapa manusia bisa hidup, bisa berpikir, bisa menangis, bisa tertawa, bahkan bisa berbohong dan ingkar kepada Allah ?
Sampai disini orang masih banyak yang mencoba berpaling, mereka menyanggah :”Ah, itu kan karena manusia bernyawa !”.

Sekarang pikirkan…darimana nyawa itu ? apa dari tanah itu tadi ? apa dari hewan atau tumbuhan yang kita makan ? pasti tidak bukan ? dalam tubuh manusia benar-benar ada unsur lain, yaitu….roh. Inilah yang membuat kita bisa merasa senang, susah, mendustakan ayat-ayat Allah dan lain sebagainya. Tak bisa dipungkiri lagi…itu semua karena adanya roh, yang biasa disebut juga dengan nama lain, yaitu jiwa/hati/sanubari/kalbu dan lain sebagainya.

Pertanyaan terakhir, darimana roh itu ? semoga kita semua tidak termasuk orang yang ingkar…..bahwa roh itu memang berasal dari Allah. Subhanallah…Maha Suci Allah.

Perhatikanlah diri kita….yang sebelumnya tidak ada menjadi ada di dunia ini. Dari tanah yang mati menjadi manusia yang mulia dan hidup. Dari tanah yang terinjak-injak, kadang bercampur segala kotoran……

[1] (Tuhan) Yang Maha Pemurah,
[2] Yang telah mengajarkan Al Qur’an.
[3] Dia menciptakan manusia,
[4] Mengajarnya pandai berbicara.
[5] Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.
[10] Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk (Nya).
[14] Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,
[15] dan Dia menciptakan jin dari nyala api.
[16] Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
[26] Semua yang ada di bumi itu akan binasa.
[27] Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Ayat-ayat diatas berasal dari surat ar-rahman (masih banyak ayat lainnya yang berbicara tentang kejadian manusia) yang kebetulan kami cukup terpesona ketika mendengar As-Sudays membaca surat ini…merdu dan ‘intonasinya’ enak sekali didengar.

[Dipublikasi pada Thursday, 26 June 2003 oleh DZIKIR
All the rest (c) 2002 by dzikir.org]
pesan : silahkan perbanyak untuk kerabat,teman atau saudara, semoga bermanfaat.

Catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.001/th.01/safar 1425H/2004M


Berapa Tarikan Nafas Lagi Usia Kita ?

Maret 15, 2006

(Aku berlindung kepada Allah dari godaan syeitan yang terkutuk, artikel ini sama sekali bukan bermaksud mendahului ketentuan Allah, melainkan semata-mata agar kita semua ingat akan pentingnya waktu)

Sampai dengan tahun 80-an, sering terbaca oleh kita bahwa umur rata-rata orang Indonesia adalah 60 tahun. Setelah era 80-an sampai saat ini umur rata-rata tersebut naik menjadi 65-an, hal ini kemungkinan disebabkan makin banyaknya orang yang sadar akan kesehatan, juga bisa disebabkan makin banyaknya fasilitas kesehatan yang mudah diperolehan masyakarat, misalnya makin menjamurnya puskesmas-puskesmas, dll . Yang pasti, itu merupakan kehendak Allah.

Namanya saja ‘rata-rata’ berarti bisa saja seseorang meninggal sebelum usia 65 tahun, namun juga bisa setelah melampaui usia itu. Untuk memudahkan pembahasan , maka angka (usia) 65 di atas sebaiknya kita jadikan patokan, agar bahasan bisa lebih terfokus.

Misalnya usia kita saat ini adalah 30 tahun, jadi sisa hidup kita ‘tinggal’ : 65 tahun – 30 tahun = 35 tahun.

Bila 1 tahun itu lamanya 365 hari, maka usia kita ‘tinggal’ : 35 x 365 hari = 12.775 hari.

Bila 1 hari itu 24 jam, maka usia kita ‘tinggal’ :
12.775 x 24 jam = 306.600 jam .

Harap kita ingat, dalam 24 jam itu seseorang pasti mempunyai waktu tidak aktif, artinya waktu dimana seseorang harus istirahat, baik jasmani maupun rohani, yakni tidur. Misalnya waktu tak aktif itu adalah 7 jam, maka waktu aktif seseorang ‘sebetulnya’ hanya 17 jam .

Jadi waktu hidup yang aktif itu hanya ‘tinggal’ :
12.775 x 17 jam = 217.175 jam .

Bila 1 jam itu adalah 60 menit, maka usia kita ‘tinggal’ : 217.175 x 60 menit = 13.030.500 menit.

Bila 1 menit itu adalah 60 detik, maka usia kita ‘tinggal’ : 13.030.500 x 60 detik = 781.830.000 detik

Terakhir………bila seseorang itu sekali menarik nafas lamanya rata-rata 2 detik, maka usia kita ‘tinggal’ = 781.830.000 : 2 = 390.915.000 tarikan nafas.

Sadarkan diri kita akan hal di atas, hitung-hitunglah ‘tinggal’ berapa tarikan nafas usia kita masing-masing..
Mumpung kita masih punya ‘sekian juta’ tarikan nafas, sebaiknya kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, lakukan segala aktifitas dengan mengatas namakan Allah, agar semua langkah kita insya Allah bisa bernilai ibadah, karena kita dicipta oleh Allah tujuannya adalah supaya beribadah kepadaNya. (QS.adz-dzaariyaat : 56)

Sesali dan bertaubatlah kalau pada tarikan nafas yang telah lalu kita pernah berbuat salah, kita pernah lupa menjaga lidah, kita pernah lalai menjaga pandangan, kita tak pernah merawat hati dengan baik sehingga hanya terisi nafsu duniawi, tak pernah mengingat Allah, dan senantiasa lupa akan mati.

Mumpung masih dianugerahi Allah untuk menikmati tarikan nafas pada saat ini, dan insya Allah masih ‘sekian juta’ lagi. Alangkah ruginya bila tak kita manfaatkan untuk mengingatNya, tunduk padaNya, beribadah kepadaNya. Sungguh kita tak akan mampu memperpanjang tarikan nafas itu bila Allah tak mengijinkan………
walau hanya satu tarikan saja……….

Demi masa sesungguhnya manusia dalam kerugian
Melainkan yang beriman dan beramal sholeh
Demi masa sesungguhnya manusia dalam kerugian
Melainkan nasehat kepada kebenaran dan kesabaran
Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan karena ia takkan kembali

Ingat lima perkara sebelum lima perkara :
Sehat sebelum sakit
Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati

Note : syair di atas dikutip dari lagu ‘demi masa’ Raihan, yang bersumber dari QS.al ashr : 1-3 dan hadist .
http://www.aldakwah.org/modules.php?name=News;file=articlesid=480

Abu Bakar ash-Shiddiq r.a :
—————————
Barangsiapa masuk kubur tanpa bekal, seakan-akan ia menempuh laut tanpa kapal.
Kegelapan itu terdapat pada lima macam dan pelita untuk meneranginya juga terdapat pada lima macam :
Cinta dunia adalah kegelapan dan pelitanya adalah ketaqwaan
Dosa adalah kegelapan dan pelitanya adalah taubat
Kubur adalah kegelapan dan pelitanya adalah Syahadat (menghayati dan mengamalkannya) Laa ilaaha illallah Muhammadan rasulullah
Akhirat adalah kegelapan dan pelitanya adalah amal shalih
Shirat adalah kegelapan dan pelitanya adalah keyakinan
Perbaikilah dirimu, niscaya orang lain akan berbuat baik kepadamu
——————

Umar bin Khaththab r.a :
———————–
Bertemu dengan saudara (teman) dapat menghilangkan kesedihan.
Barangsiapa meninggalkan bicara yang tidak perlu, ia akan diberi hikmah
Barangsiapa meninggalkan pandangan yang tak perlu, ia akan diberi sifat khusyu’
Barangsiapa meninggalkan senda gurau, ia akan diberi keindahan
Barangsiapa meninggalkan kesibukan mengurusi kejelekan orang lain, ia akan dikaruniai kesibukan memperbaiki kejelekan dirinya
Barangsiapa meninggalkan penyelidikan tentang cara Allah swt berbuat sesuatu, ia akan dikaruniai kebersihan dari sifat munafiq

[dari : Ithaaful ahimmaa’bi kalaamil hukama-H.Shaleh Muhammad Basalamah]
Catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.001/th.01/safar 1425H/2004M