Memang lidah tak bertulang, tak terbatas kata-kata…

April 18, 2007

Saat kita mulai rajin ikut sebuah kelompok pengajian (majelis taklim), jangan kaget bila suatu saat ada suara “Silahkan ikut pengajian, tapi jangan membentuk kelompok sendiri”. Itulah suara yang sepintas terkesan bijaksana, namun kenyataannya sering meruntuhkan niat seseorang, suara seperti itu sering membuat orang yang mulai rajin ikut pengajian jadi mundur, tidak jadi menuntut ilmu dan malas menambah wawasan. Seharusnya kita tetap istiqomah, sebelum berangkat tetapkan niat, “Bismillah, Ya Allah, sesungguhnya saya berniat baik, saya ingin menuntut ilmu….”. Langkahkan kaki dengan mantap. Insya Allah, selama perjalanan saja sudah merupakan syiar, dakwah, mengajak pada kebaikan, mengingatkan yang lalai, maka kalau sampai ada yang bisa membuat langkah kita surut, pulang ke rumah dan berhenti mengaji, urung menuntut ilmu, dan mandeg total, maka pastikan itu adalah ajakan syetan !.

Syetan akan senantiasa berdendang untuk melalaikan saat kita berusaha mendekat kepada Allah SWT. Dimana saja, kapan saja, kepada siapa saja.
Saat kita mulai belajar menyimak lantunan ayat-ayat Al Qur’an di rumah, baik lewat kaset/CD/VCD atau apa saja, jangan heran bila suatu saat ada yang bilang “Ah, kayak di masjid saja pakai ‘nyetel’ ayat suci segala”.
Saat kita mulai membiasakan memutar lagu-lagu islami, nasyid, qasidah atau sholawat, untuk membantu tercipta suasana islami di rumah. Jangan kaget bila tiba-tiba muncul komentar “Wah, lagi ada hajatan, nih ?”.
Saat kita berusaha selalu menyisihkan dana untuk infaq dan sedekah, jangan gusar bila tiba-tiba ada yang menyanyi “Ah, sok sosial amat sih ?!”.
Saat kita terbata-bata karena masih taraf belajar membaca Al Qur’an, tetaplah istiqomah bila tiba-tiba saja ada yang menukas “Ah, baca Qur’an saja masih kayak gitu, sudah gitu nggak enak lagi suaranya”.
Saat hati kita terketuk melihat penderitaan saudara-saudara muslim kita di daerah lain, atau di negara lain, sehingga muncul niat untuk membantu, jangan bingung bila tiba-tiba ada yang memberi ‘petuah’, “Ah, daerah/negara sendiri saja masih begini keadaannya, mengapa mesti mikiran yang jauh disana ?”.
Saat kita mulai belajar mendalami islam, jangan patah semangat bila tiba-tiba ada wejangan, “Mbok jangan fanatik begitu, biasa-biasa sajalah”.

Begitu banyak dan mudah contoh sehari-hari bisa ditemukan. Suatu kegiatan atau bahkan amalan yang sudah nyata-nyata kita pahami nilai kebaikannya, dan berpahala bila dikerjakan, akhirnya kita gugurkan begitu saja karena suara-suara yang menghembus-hembuskan keraguan dalam hati kita.

“Kita tidak bisa sesuci malaikat, sebenar malaikat, sebaik malaikat. Tapi kita juga tak punya cita-cita untuk selaknat syetan, sedurhaka syetan dan segelap syetan. Malaikat itu makhluk statis, meskipun dia hadir atau diletakkan di tempat pelacuran, tempat perjudian, tempat minum-minum, tetap baik yang dia lakukan. Syetan juga makhluk statis, meskipun dia hadir di masjid, di kuil, di gereja, tetap jelek yang dia lakukan. Sementara kita di tengah-tengahnya. Kita memiliki pilihan, dua kemungkinan untuk kita pilih. Menuju kebaikan atau menuju kebrengsekan”. – (Emha Ainun Nadjib)

(dari : Mukaddimah Labbaik edisi no.013/Rabi’ul Tsani 1426H /Juni 2005)


Mangkuk Yang Cantik, Madu dan Sehelai Rambut

Juni 6, 2006

Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abakar ra., Umar ra., Utsman ra., dan ‘Ali ra., bertamu ke rumah Ali ra. Di rumah Ali ra. istrinya Sayidatina Fathimah rha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).

Abubakar ra. berkata, “Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut”.

Umar ra. berkata, “Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Utsman ra. berkata, “Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

‘Ali ra. berkata, “Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Fatimah rha. berkata, “Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Rasulullah SAW berkata, “Seorang yang mendapat taufiq untuk ber’amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber’amal dengan ‘amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat ‘amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Malaikat Jibril AS berkata, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.

Allah SWT berfirman, “Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut”.
[Sahabat Nabi, Last Revised : Ahad, 7 Maret 2005]

http://www.geocities.com/ahmad_dir/tarbiyah/mmr.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.013/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1426H/2005M


D U A H A T I . . .

Mei 16, 2006

Melinda meremas-remas rambutnya. Fuh ! Pusing kepalanya melihat berkas-berkas yang menumpuk di depan matanya. Meja kerjanya benar-benar seperti dilanda topan. Dengan malas perempuan bertubuh semampai itu bangkit. Dibukanya tirai dan berdiri mematung di depan jendela. Kesibukan malam di jantung kota Jakarta bisa dilihatnya dengan jelas. “Bosan”, keluh Melinda dalam hati. Dari hari ke hari hidup ini dirasakannya begitu menjemukan. Perempuan itu tersenyum getir. Dalam kesendirian, tiba-tiba ia merasa begitu rapuh. Sosok wanita karier yang sukses dan sedang naik daun lenyap begitu saja.
Melinda menghela nafas. Sekarang sudah masuk pekan kedua bulan Maret. Rangkaian acara tema Derap Emansipasi Wanita Indonesia atau DEWI untuk menyambut Hari Kartini sudah dirancangnya sedemikian rupa. Paling tidak 70 persen masa persiapan sudah ia rampungkan. Awak majalah Wanita benar-benar bekerja keras siang dan malam. Promosi sudah dilemparkan kepada publik. Berbagai pihak sudah ia hubungi. Tapi…Aaah. Entah kenapa hatinya kadang-kadang berkata lain. Ada sesuatu yang dirasakannya begitu berat.

Melinda melihat jam tangannya. Hampir pukul 9. Ia harus mencek bagian fotografi untuk memastikan kehadiran gadis-gadis model yang baru. Setelah berkaca sejenak, ia segera keluar. Keluar dari lift, mata Melinda langsung melihat tubuh-tubuh yang dibungkus pakaian gemerlapan. Gadis-gadis yang doyan pamer aurat itu sedang bercanda ria di depan studio. Melinda terus melangkah menuju ruang pemotretan. Mendadak kakinya terhenti mendengar celotehan gadis-gadis model itu.
“Apa ? Aida sudah balik ke Jakarta ?”
“Aida Yusuf ? Apa ? Masak sih ?”
Lalu terdengar suara cekikikan.

Aida ? Kening Melinda berkerut. Tiba-tiba matanya berbinar. Perempuan itu memutar tubuhnya menuju lift. Setelah menunggu beberapa detik, pintu lift terbuka. Melinda bersandar pada dinding lift. Terbayang di depan wajahnya sosok Aida. Delapan tahun yang lalu, Aida pernah juara dalam kontes Gadis Masa Kini di majalah Wanita. Saat itu ia masih menjadi penanggung jawab rubrik. Ah, ia kenal betul dengan Aida. Cantik, cerdas, dan supel. Sebelum ia terbang ke Paris, wajah dan gayanya banyak menghiasi majalah-majalah ibukota. Aku harus bergerak cepat, pikir Melinda. Kalau tidak, kesempatan emas ini akan disambar orang lain.
Begitu sampai di ruang kerjanya, Pemimpin Redaksi majalah Wanita itu langsung menyambar telepon.
“Halo ? Lia, tolong cari informasi tentang Aida. Segera !”
“Aida Yusuf, Bu ?”
“Ya, saya tunggu.”
“Tapi Bu…”
“Kamu ini bagaimana ? Ini masalah penting !”
“Baik Bu…” suara Lia terdengar gugup.

Melinda menatap rumah mungil nan asri di depannya. Sekali lagi dilihatnya secarik kertas yang dipegangnya. Cocok. Tanpa ragu ia memasuki halaman rumah tak berpagar itu, setelah mengunci pintu BMW nya.
Ting-tong! Ting-tong!
Dari dalam rumah terdengar suara langkah tergesa. Kemudian pintu terbuka. “Ooo… saya pikir Non Aida,” seorang perempuan setengah baya tersenyum lebar memandang wajah Melinda. “Cari siapa, ya ?”
“Saya temannya Aida, Bi.”
“Non Aida sedang mengantar Ahmad ke TQ. Nngg…sebentar lagi pulang,” si Bibi tersenyum. “Silakan duduk dulu !”

Ahmad ? TQ ? Kening Melinda berkerut. Pikiran Melinda masih diliputi tanda tanya ketika si Bibi datang menawarkan minuman. Ia hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian diam membisu.
Beberapa saat kemudian sebuah Honda Accord meluncur masuk dan berhenti di samping teras tempat Malinda duduk. Perempuan itu bangkit untuk melihat siapa yang datang. Pintu mobil terbuka. Sorang bocah berseragam hijau muda turun dengan riang. Gemas juga hati Melinda mendengar celotehan anak kecil itu. Namun perhatiannya segera beralih kepada perempuan berkerudung putih yang sedang mengunci pintu mobil. Melinda menatap tak percaya. Aida … Itu Aida ?

“Aku datang sebagai sahabat, Aida,” Melinda menatap mata sebening telaga wanita berjilbab di sampingnya. “Ceritamu ini tidak akan kujadikan obyek berita majalahku. Sungguh.”
Aida menahan nafasnya. Ini kali yang ketiga Melinda datang menemuinya. Hatinya agak ragu. Namun melihat keseriusan wanita itu, akhirnya ia mengalah.
“Dua tahun setelah kepergianku ke Paris, Papa meninggal.” Suara Aida terdengar sendu. “Sejak itu aku seperti kehilangan identitas diri. Aku begitu mencintai Papa.” Kata Aida sambil tertunduk. Berat rasanya menceritakan masa lalu yang te lah lama terkubur. “Mama mendesakku untuk kembali ke Paris. Aku menolak. Tapi Mama terus membujuk. Akupun berangkat dengan hati galau. Tiga bulan pertama aku masih bisa bertahan. Namun setelah itu, diriku hanyut entah kemana. Nyaris aku tenggelam dalam obat bius. Alhamdulillah, aku segera tersadar kalau semua itu hanyalah pelarian belaka”.
“Suatu malam, Michelle datang ke apartemenku. Temanku di sekolah mode itu bicara macam-macam. Memang begitu tingkahnya setiap kali bertamu. Pembicaraan akhirnya lari pada soal emansipasi. Ia memuji-muji wanita barat yang berani menuntut haknya. Kemudian menyindir wanita-wanita timur yang dinilainya kurang agresif. Dengan sikap jijik ia mencela wanita-wanita Eropa yang sudah terkena “virus” Islam yang dikatakannya kolot. Kebetulan saat itu sedang hangat-hangatnya demonstrasi jilbab. Aku melihat sendiri wanita-wanita berjilbab itu memenuhi jalan. Michelle mencela mereka habis-habisan”.
“Tentu saja aku tersinggung, Mbak. Bagaimanapun aku tetap seorang Muslimah. Ketika aku menyatakan hal itu, Michelle terkejut. Ia mengira aku bukan orang Islam. Ia tidak pernah melihatku shalat atau apalah yang menunjukkan keislamanku.
Aku tercenung. Shalat ? Berdo’a saja rasanya amat jarang kulakukan”.

“Hari-hari selanjutnya kugunakan untuk merenung. Lalu sebuah dorongan kuat memaksaku untuk memberi salam seorang wanita berjilbab di perpustakaan umum. Kami berkenalan, dan segera menjadi akrab. Ia banyak bertanya tentang Muslimah Indonesia Aku cerita apa adanya sekadar yang aku tahu. Sarah, wanita asal Inggris itu mengajakku menghadiri pertemuan-pertemuan yang membahas masalah keislaman. Aku sangat tertarik dan kagum. Mereka begitu gigih mempertahankan identitas”.
“Aku mulai shalat. Pertama kali air wudlu menyentuh wajahku, kurasakan kesejukan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Air mataku mengalir deras dalam ruku’ dan sujud”.
“Dua bulan kemudian kutinggalkan sekolah mode. Dan dengan penuh kesadaran kukenakan busana muslimah. Mula-mula memang rikuh Mbak. Tapi aku yakin pada jalan yang kutempuh”. “Ketika Mama datang berkunjung, ia sangat terkejut. Menangis-nangis ia memintaku untuk melepaskan kerudung. Dengan halus aku menolak. Dan untuk yang satu ini aku tidak bersedia mengalah. Mama pulang dengan hati remuk”.

“Atas saran teman-teman dekatku, aku pulang. Namun aku tidak langsung ke Jakarta Mama tidak mau menerima kepulanganku”, lanjut Aida sambil tersenyum.
“Ketika pesawat transit di Singapura, aku menelpon pamanku yang tinggal di Palembang. Alhamdulillah, paman bisa dan sangat memahami keadaanku. Aku tinggal di kota itu dengan aman.”
“Lalu kau menikah di sana ?”
“Ketika seorang ikh…maksudku, seorang laki-laki datang menemui pamanku….” kata-kata Aida mengambang di udara. “Maaf Mbak. Ini sangat pribadi.”
Melinda tertawa kecil. Ia tidak mengerti maksud Aida.
“Kapan tiba di Jakarta ?”
“Awal bulan ini.” Aida membetulkan letak kerudungnya. “Mama yang memintaku. Setelah si kecil Fatiya lahir, hati Mama terbuka. Ia merasa kesepian setelah kakak dan adikku sibuk dengan urusannya masing-masing. Suamiku setuju saja. Ia sendiri berasal dari Jakarta.”
“Kau tidak menyesal, Aida ? Kau kubur masa depanmu sendiri ?” Aida menatap Melinda dalam-dalam.
“Aku tidak akan sanggup menukar kebahagiaan yang dilimpahkan Allah saat ini dengan kehidupan semu. Jalan yang kulalui begitu terang. Dan aku tidak mau terseret dalam kegelapan. Aku bersyukur, Mbak, bisa menjadi istri dan ibu.”

Melinda memalingkan wajahnya. Wanita itu menatap daun-daun mawar dengan pandangan kosong. Angin membelai wajah Melinda, ketika wanita itu membuka sebuah kisi jendela. Dari kamar hotel berbintang lima itu ia mengintip kehidupan malam Jakarta. Kebiasaan yang kerap ia lakukan di ruang kerjanya. Beberapa saat lamanya wanita itu berdiri termangu. Tadi pagi ia melihat Aida di Cibodas. Bahagia sekali Aida ketika memimpin serombongan anak-anak berseragam hijau muda turun dari bis. Ingin rasanya ia menemui Aida. Tapi ia sendiri sedang sibuk memberi instruksi. Beberapa orang model akan diambil gambarnya untuk cover Majalah Wanita. Melinda tersenyum pahit. Ia benar-benar cemburu saat itu.
“Aida…Aku mungkin tak sejujur engkau dalam memandang hidup ini. Aku mungkin tidak mampu melepaskan apa yang aku miliki saat ini. Kita memang berbeda.”

Tok! Tok!
“Yaa, masuk!” Melinda tersentak.
“Maaf, Bu, orang-orang sudah menunggu di lobby.” Lia muncul dari balik pintu.
“Oke saya segera turun.” Melinda menyibakkan rambutnya.
“Kau temui mereka dulu.”

Melinda segera mematut diri. Ia harus tampil sempurna dalam acara pembukaan ini. Kemudian wanita itu segera keluar menyambut para undangan dengan senyum dan gaya ceria. Namun sinar matanya tidak mampu menyembunyikan kepedihan hatinya…

http://sakinah.8k.com/duahati.htm

“Janganlah anda memandang kepada kecilnya dosa itu, tetapi pandanglah siapa yang anda durhakai. Apabila anda memandang besar suatu dosa, berarti anda telah mengagungkan hak Allah. Tetapi bila anda memandang enteng suatu dosa, ia akan menjadi besar dalam pandangan Allah. Dan tiada suatu dosa pun yang anda pandang besar kecuali disisi Allah menjadi kecil. (Ali bin abi Thalib)

Mari mendekat kepada Allah lebih dekat, agar tunduk disaat yang lain angkuh, dan agar teguh dikala yang lain runtuh (Tarbawi)

“Umurmu akan mencair seperti mencairnya es, ” (Imam Ibnul Jauzi) – (Luthfu fil Wa’z, 31)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.013/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1426H/2005M


Siapa Bilang Saya Gadis Porno ?

Mei 16, 2006

Kafemuslimah.com. – Gadis itu masih sangat belia. Cantik, muda dan rona merah muda yang biasa hadir di wajah seorang gadis belia terlihat nyata di wajahnya yang cantik. Tubuhnya pun masih amatlah indah. Tak ada garis-garis seperti jeruk purut atau selulit di kulit tubuhnya seperti yang khas dimiliki oleh gadis yang telah beranjak dewasa. Yang ada adalah kulit yang kencang dan bentuk tubuh yang masih utuh sintal. Juga tak tampak sinar “loyo” seperti yang biasa hadir di wanita yang dewasa matang. Yang ada adalah keceriaan. Keceriaan inilah yang mendorong semangat hidup untuk selalu optimis dan berbahagia menghadapi segala sesuatunya yang dihadapi dalam hidup. Optimistik dan pikiran positif pada akhirnya memompa aliran darah ke seluruh tubuh lebih lancar sehingga hadirlah wajah yang dipenuhi rona merah muda dan sumringah yang membuat siapapun senang memandang. Itu yang dimiliki oleh para gadis belia dan memang itu yang dimiliki oleh kelebihan mereka dibanding gadis dewasa matang. Mungkin itu pula sebabnya banyak media massa yang seakan berebut untuk mengabadikan masa muda para gadis belia tersebut sebagai penghias sajian media mereka. Jika diperhatikan, kian hari, pemain sinetron yang muncul di layar televisi kita setiap harinya selalu memunculkan deretan ga dis-gadis yang masih belia. Tayangan sinetron pun banyak bertaburan dengan cerita-cerita seputar dunia remaja. Begitu juga dengan para model.

Terus terang, waktu saya masih SMP dahulu (era 80-an), selalu ada pandangan aneh jika ada teman sebaya yang sudah berani bertingkah seperti orang dewasa. Lipstik adalah sebuah tabu yang harus dihindari oleh pelajar SMP. Ajang model sudah ada dulu, tapi kebanyakan pesertanya adalah mereka-mereka yang hampir tamat SMU. Usianya berkisar antara 17 – 25 tahun. Kian ke depan, ternyata selera ini kian bergeser. Kebetulan adik saya langganan majalah gadis. Setiap kali muncul ajang pemilihan model, maka deretan nama gadis yang menjadi pesertanya adalah gadis-gadis yang masih sangat muda belia. Usianya berkisar antara 12 – 19 tahun. Juga jika kita jalan-jalan ke Mall-Mall, maka sudah menjadi pemandangan yang amat lazim jika melihat gadis SMP yang berdandan bak buruk merak. Lengkap dengan accesoris beraneka warna yang menghiasi tangan, leher dan kaki mereka. Industrialisasi memang telah berhasil merubah persepsi masyarakat terhadap gaya hidup yang pantas.

Tidak berhenti sampai disitu. Eksploitasi kemudaan para belia tersebut ternyata tidak sampai disitu saja. Media massa kini juga mulai melirik lahan bisnis baru. Yaitu menjadikan sensualitas wanita belia sebagai komoditas yang sangat menjanji kan keuntungan. Ya. Jangan kaget jika mode yang dikembangkan saat ini, sebenarnya adalah sebuah alur pembentukan persepsi dalam masyarakat bahwa adalah hak asasi semua manusia untuk memperlihatkan sisi tubuhnya yang terindah. Kalau sudah bicara hak asasi, artinya, tidak ada seorang pun yang boleh melarang tanpa alasan yang jelas. Jadi, jika ada seorang gadis yang wara-wiri dengan gaun super ketat dan super mininya, jangan protes dulu. Alasannya, jika suka boleh lihat kok, gratis, tapi jika tidak suka yah jangan dilihat, sama gratisnya . Dan itulah yang terjadi pada jawaban para gadis model yang telah memutuskan untuk mengambil jalur menampilkan sisi terindah dari tubuh mereka lebih sering dengan menjadi gadis model pakaian minim. Setidaknya itu yang pernah terekam dari acara “Derap Hukum Khusus” di stasiun televisi SCTV, pada tanggal 13 Juli 2004 lalu dengan judul tema, “Pornokah Mereka?”.

Dengan pakaian yang amat minim mereka berpose tanpa malu-malu. Kebanyakan mengan dalkan bentuk payudaranya yang memang aduhai karena berukuran maksi. Pengambilan gambar dilakukan di banyak tempat, di kolam renang, di atas ranjang, di bawah pancuran air, di atas ban, dan sebagainya. Bisa jadi, yang mereka pakai adalah barang dagangan yang sedang dipromosikan. Seperti memperdagangkan ranjang yang nyaman untuk tidur; atau mesin pompa air yang bagus keluar airnya; atau ban mobil yang handal dan terpercaya (apa hubungannya dengan gadis berpakaian mini yang duduk di atas ban tersebut ?). Proses pengambilan gambar para model tersebut, biasanya bermula dari redaksi media massa yang telah memilih dan menentukan mereka sebagai gadis model untuk sesuatu yang ingin ditawarkan. Setelah itu, fotografer dan para modelnya mencari lokasi pemotretan. Seterusnya, untuk gaya yang akan ditampilkan para model inilah yang menentukan apa yang sekiranya “indah”. Tapi kadang bisa juga mendapat arahan dari fotografer yang ingat dengan misi yang ingin dibawa dari pemotretan tersebut. Soal honor untuk para gadis tersebut, biasanya berkisar antara Rp 250.000 hingga Rp 500.000 per sesi pemotretan. Tapi bisa juga tergantung dari nilai jual si model itu sendiri dan oplah media yang mengontrak mereka. Dengan begitu sebenarnya ada hubungan mutualisme antara para gadis model dan produser mereka (media massa). Bagi media massa, mereka memanfaatkan para gadis belia ini untuk menaikkan oplah produksi mereka (sebaiknya suatu saat ada sebuah penelitian khusus. “Apa benar, orang yang membeli ban merek tertentu karena kesengsem dengan gadis model yang duduk di atas ban yang diiklankan? Apa betul ada korelasi antara penjualan mesin printer yang meningkat dengan iklan gadis berpakaian minim yang sedang menggendong mesin printer tersebut?” ). Sedangkan bagi para gadis belia tersebut , mereka memanfaatkan media tersebut untuk menaikkan popularitas mereka sebagai gadis model. Maklum, persaingan sekarang kian ketat, padahal semakin tinggi popularitas yang mereka miliki akan semakin membuat nilai jual mereka miliki juga terderek tinggi.

Lalu, kalau ditanya apakah mereka tidak malu atau sungkan dengan ulah tingkah pose tersebut? Jawabannya tentu saja ‘tidak !’ (kalau malu mah dah pasti mereka pensiun dini). Lalu, apakah mereka merasa bahwa mereka sebenarnya termasuk kategori gadis porno? Sekali lagi jawabannya menurut mereka adalah ‘tidak !’. Kenapa? Ini beberapa alasan mengapa mereka tidak merasa sebagai gadis porno :

– Bagi masyarakat yang berpikiran negatif, tentu saja saya akan dipandang sebagai gadis porno, tapi bagi masyarakat yang berpikiran positif, apa yang saya tampilkan tersebut sama sekali tidak porno. Ini adalah seni dan keindahan .
– Sebenarnya, tidak ada kan landasan apa itu porno? Kalau belum ada mengapa kami harus dituduh dengan sesuatu yang tidak punya landasan? Apa buktinya bahwa kami gadis porno ?
– Porno itu kan tidak berbusana. Telanjang sama sekali. Sangat berbeda dengan apa yang kami lakukan dan tampilkan. Kami masih mengenakan busana kok, tidak seluruhnya tubuh kami terbuka. Itu sebabnya saya heran mengapa diberi cap gadis porno?

Nilai dan norma sudah terbalik ? Jadi sebenarnya siapa yang salah ? Ketidak jelasan standar ini memang tidak bisa dihindari meski sudah ada perangkat undang-undang yang mengatur hal-hal tersebut. Yaitu KUHP pasal 81 ayat 1 yang menyebutkan bahwa barang siapa berpose panas dan telanjang di muka umum akan dikenai sanksi pidana (ini ketentuan undang-undang untuk para gadis model); Serta UU Pres no. 40/99 yang berbunyi barang siapa menyiarkan gambar panas dan telanjang di muka umum akan bisa dikenai sanksi pidana. Perangkat undang-undang tersebut masih menyisakan celah yang bisa dikutak-katik masyarakat. Yaitu definisi telanjang dan panas. Telanjang itu kan artinya tidak berpakaian sama sekali (kalau istilah umumnya, “tanpa sehelai benang pun). Sedangkan argumen mereka yang berkecimpung di dunia tersebut di atas, mereka tidak seperti itu. Masih ada sisa-sisa benang yang cukup banyak yang menutupi bagian-bagian tertentu dari tubuh mereka. Mereka juga berpose biasa-biasa saja, tidak berpose panas.
Itu kata mereka. (“padahal kalau mereka diphoto ketika sedang dipanggang di atas bara api juga mereka tidak mau melakukannya, dan memang tidak ada seorang pun {bahkan mereka yang sangat tolol sekalipun} yang mau melakukannya. Jadi sebenarnya berpose panas itu apa definisinya?”
Di tengah kesimpang siuran pembelaan tersebut, dan proses pembentukan persepsi di masyarakat yang kian menyesatkan, rupanya kita masih harus bersabar dengan proses panjang yang terjadi di DPR/MPR berkenaan dengan pembahasan RUU Anti Pornografi. KENAPA RUU ANTIPORNOGRAFI TIDAK SEGERA DISAHKAN JADI UNDANG-UNDANG, OLEH DPR ? TUNGGU APA LAGI?.

http://www.ikhtiaronline.com/km/detail.php?id=562
note : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu terdekat”. (QS.Asy-Syu’araa 214), semoga bermanfaat.

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.013/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1426H/2005M


Sekali Lagi, Imam Wanita di New York

Mei 16, 2006

Oleh : M.Syamsi Ali*)

Dunia Islam, sekali lagi, dikejutkan oleh peristiwa langka dan bersejarah. Peristiwa dilaksanakannya shalat Jum’at dengan khatib dan Imamnya seorang wanita, Dr. Amina Wadud, seorang muslimah Amerika keturunan Afrika (African American). Acara jum’atan ini sendiri didalangi oleh sebuah organisasi yang berbasis dunia maya, Wake Up, yang beranggotakan sekelompok Muslim dengan pandangan-pandangan radikal untuk merombak tradisi-tradisi Islam yang ada, termasuk masalah-masalah ritual.
Sekitar 2 minggu sebelumnya, sebuah Koran harian New York, Daily News, memuat sebuah artikel yang pada intinya mengkritik sistim peribadatan Islam yang dianggap didominasi oleh kaum pria. Mulai dari masalah Imam, pemisahan shaf antara wanita dan pria, hingga kepada masalah-masalah teknis lainnya seperti pintu masuk (entrance) yang berbeda untuk kaum wanita dan pria di mesjid-mesjid. Mereka yang di wawancarai juga adalah beberapa wanita Muslim yang didominasi oleh pemikiran “non Islam”, di antaranya seorang lesbian dari Toronto, Kanada.
Bersamaan dengan pemuatan artikel di Daily News tersebut, di PPB New York juga sedang berlangsung Konferensi Internasional tentang Wanita. Lebih dari 300 peserta, baik wakil resmi dari negara-negara dan pemerintahan maupun dari berbagai LSM mengikuti konferensi tersebut. Di tengah-tengah acara konferensi yang padat itu, juga dilakukan minimal tiga kegiatan seminar tentang wanita dalam Islam, dengan para pembicara yang didominasi oleh kaum feminist dari dunia Islam. Menurut salah seorang peserta dari Malaysia, Dr. Harlina Siraj, Ketua Perhimpunan Wanita JIM (Jama’ah Islah Malaysia), pembahasan wanita dalam Islam memang menjadi topik yang hangat dalam diskusi-diskusi selama konferensi tersebut.

Tak dapat disangkal bahwa Islam memang menjadi fenomena tersendiri dalam dunia kita saat ini. Bayangkan, setiap ada kejadian-kejadian, walau itu mayoritasnya bersifat negative, Islam selalu menjadi sorotan. Jauh sebelum runtuhnya WTC di New York, terjadi kekerasan-kekerasan di Afrika dan Asia, yang pada umumnya dikaitkan dengan ajaran Islam. Ketika terjadi banyak kebodohan dan kemiskinan di dunia ketiga, biasanya Islam dinilai sebagai inspirasi kemiskinan dan kebodohan. Ketika terjadi korban mutilasi anak-anak wanita di Afrika, Islam yang kemudian dianggap sebagai sumber. Dan puncaknya ketika tuduhan jatuh kepada segelintir orang yang beragama Islam melakukan pemboman WTC, Islam sedemikian disudutkan dalam berbagai format dan cara.
Sebaliknya, ketika antar kelompok beragama di Irlandia Utara saling membunuh, tak satupun yang mengaitkannya dengan ajaran Kristen atau Katolik. Sebaliknya, dengan enteng dianggap permasalahan politik murni. Ketika kemiskinan dan kekerasan-kekerasan menimpa dunia ketiga di bagian Amerika Tengah dan Selatan, tak pernah terbetik di benak siapapun bahwa itu adalah karena ajaran Katolik. Bahkan ketika terjadi kekerasan seksual terjadi kepada anak-anak di dunia yang didomi nasi oleh ajaran Katolik, juga tidak dihubungkan dengan ajaran gereja Katolik. Bahkan ketika seorang Katolik membom pusat dagang Oklahoma, juga tidak dikaitkan dengan ajaran Katolik.

Ketika wanita Muslim dengan segala kesadaran beragama yang dimilikinya memakai jilbab atau kerudung, semua gatal menentang dan menganggapnya “kungkungan” terhadap kaum Hawa. Tapi ketika the Virgin Mary disimbolkan dengan seorang wanita yang berjilbab, Mother Theresa yang berjilbab, para Biarawati dengan jilbab, wanita Jewish Orthodox dengan jilbab, tak ada yang peduli dengan mereka.
Sebaliknya, mereka adalah wanita panutan dan dianggap sebagai symbol “religiusitas”. Bukankah ini sebuah kehormatan bagi Islam, yang selalu mendapat perhatian di mata orang lain ? Nampaknya Islam, walau selalu dikaitkan dengan hal-hal negative, semakin tidak terbendung untuk populer. Inilah yang terbukti, setelah 11 September, dengan segala perangkat propaganda untuk menjelek-jelekkan Islam, justeru Islam semakin populer dan berkembang tanpa terhalangi.
Mereka yang masuk Islam setelah tragedy 11 September lebih besar (estimasi mengatakan 4 kali lipat) ketimbang sebelumnya. Apalagi mereka yang hanya mempelajari Islam, tentu jauh lebih besar. Padahal, masyarakat Amerika adalah masyarakat yang tidak peduli dengan agama, apalagi agama yang mereka anggap berada di bawah level mereka.

Peristiwa Jum’atan dengan segala hal yang terkait dengan itu, nampaknya juga menuju kearah yang sama. Tiga malam lalu, Public Television atau PBS (Public Broadcasting Station) menyiarkan acara yang sangat menarik, Women of Islam. Acara tersebut sangat positif dan imbang. Bahkan seorang murid saya di Islamic Center (non Muslim) bangga dengan acara tersebut, karena memperlihatkan kebanggaan wanita-wanita Muslimah. Selain menyoroti masalah kedudukan wanita dalam sejarah Islam, sejak zaman Rasulullah hingga dunia modern saat ini, juga menyoroti secara khusus cara berpakaian orang-orang Muslimah dari berbagai latar belakang budaya. Alhamdulillah, intinya persis seperti konsepsi Islam itu sendiri.

Jum’atan Sebagai Cover Up

Perdebatan-perdebatan tentang Jum’atan yang dipimpin oleh Dr.Amina Wadud sebenarnya bukan inti permasalahan yang sedang digulirkan. Jum’atan, dalam pandangan saya pribadi, tak lebih dari sebuah “cover up” untuk sebuah agenda yang lebih besar. Agenda itu tak lain adalah merombak komposisi ajaran Islam dalam mengatur hubungan antar gender (pria-wanita), termasuk dalam masalah-masalah ritual seperti shalat berjama’ah. Agenda yang paling utama saat ini adalah untuk mendapatkan justifikasi bahwa memang ajaran Islam itu diskriminatif terhadap kaum wanita. Usaha seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Dari sejak dulupun sudah ada usaha-usaha yang sama, mempertanyakan keabsahan ajaran Islam dalam pengaturan antar gender, seperti masalah warisan, persaksian, poligami, hingga kepada masalah pakaian. Tapi hingga saat ini semua hal yang dijadikan dasar belum bisa menjadi “justifikasi” klaim bahwa Islam itu ajaran yang diskriminatif terhadap kaum wanita. Untuk itu, sebuah kegiatan radikal perlu dilakukan, yaitu menggugat “imamah” dalam shalat yang hanya dimiliki oleh kaum pria.

Agenda selanjutnya adalah menggerogoti “esensi” ajaran itu sendiri. Mulai dari masalah-masalah sosial, misalnya tidak perlunya ada batasan-batasan pergaulan antara pria dan wanita. Kalau pemisahan dalam shaf shalat saja digugat, bagaimana pengaturan etika sosial dalam beriteraksi antara pria dan wanita ? Tentu akan semakin mudah dirombak dan dianggap seharusnya dilebur. Tidak perlu ada batas-batas dalam pergaulan antara pria dan wanita. Tidak perlu dikhawatirkan pergaulan anak-anak, karena logikanya mereka sudah semakin maju sebagai generasi dunia modern. Lebih jauh, agenda selanjutnya adalah mempertanyakan masalah-masalah teologis lainnya, seperti benarkah semua nabi dan rasul itu dari kalangan pria ?
Selanjutnya mereka akan menuntut agar konsepsi rasul dan nabi sebagai pria segera dirombak karena hanya memperlihatkan dominasi kaum lelaki. Demikian pula dengan masalah-masalah ritual lainnya, seperti larangan shalat bagi wanita ketika haidh dan nifas. Bahkan tidak mustahil jika tuntutan selanjutnya adalah bahwa wanita dalam melakukan ritual tidak perlu memakai pakaian yang berbeda dengan kaum pria.
Intinya adalah Jum’atan dengan Imam wanita minggu lalu di New York tidak lebih dari cover up dari berbagai agenda-agenda selanjutnya. Jum’atan feminist ini memang dobrakan sehingga wajar jika terpublikasikan secara besar-besaran karena memang banyak pihak yang memiliki kepentingan, termasuk di dalamnya beberapa media massa yang selalu menjual hal-hal yang sensasi.
Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana reaksi kaum Muslimin di kota New York dan Amerika umumnya ? Apakah mereka diam dan tidak memberikan reaksi ? Tidakkah melakukan counter publicity menentang pelaksanaan Jum’atan tersebut ?

Majelis As-Shura atau Imams Council of New York City telah melakukan rapat untuk membahas masalah ini di kantor ICNA dua pekan sebelum Jum’atan dilaksanakan. Pada intinya, rapat menyetujui untuk tidak terlalu “over reactive” dengan rencana Jum’atan ketika itu. Dalam bahasa Imam Siraj Wahhaj, salah seorang Imam di NYC, tidak perlu di “Salman Rushdi-kan” rencana Amina Wadud ini. Kenapa demikian ? Karena kita memahami latar belakang kegiatan Jum’atan ini dengan berbagai agenda yang tersembunyi. Jika direspon dengan emosi, maka tujuan mereka mengadakan kegiatan ini telah berhasil. Yaitu terjustifikasinya tuduhan bahwa memang Islam itu tidak memberikan kemerdekaan kepada kaum wanita untuk melaklukan ekspresi kebebasannya. Selain itu, jika umat Islam melakukan demontrasi misalnya, maka media massa akan semakin mendapatkan masukan dari tangan pertama untuk agenda-agenda selanjutnya. Untuk itu, disepakati bahwa yang perlu dilakukan adalah melakukan kegiatan-kegiatan edukasi bagi semua pihak, khususnya mereka yang mungkin saja salah faham dengan ajaran Islam. Selain itu, mereka yang terlibat dalam kegiatan tersebut juga diundang secara baik (da’wah bil hikmah), dan jika perlu diajak berdialog secara positif (mujadalah billati hiwa ahsan). Pada saat yang sama, dilakukan pembahasan-pembahasan secara serius dan menyeluruh tentang permasalahan ini, dari berbagai sudut pandang seperti agama, politik sosial budaya.
Selain dikarenakan oleh isu-isu yang disebutkan di atas, Jum’atan ini juga merupakan reaksi sosial terhadap berbagai praktek-praktek sosial, khususnya dalam ma salah wanita di komunitas Muslim. Praktek-praktek sosial yang biasanya banyak dipengaruhi oleh praktek-praktek budaya local, seperti Timur Tengah, Indo Pakistan , Afrika, dll., terkadang dianggap praktek-praktek Islami. Padahal belum tentu semua praktek-praktek tersebut memang murni ajaran Islam. Sejujurnya diakui, masih ada, jika bukan masih banyak, praktek-praktek sosial dalam masalah gender ini yang menempatkan kaum wanita pada posisi yang lemah.

Wanita dalam berbagai dunia Islam, justeru di negara-negara yang dianggap kental dengan pelaksanaan Syariat Islam, masih menempatkan wanita pada posisi yang tidak nyaman. Ekslusifitas (ketertutupan) kehidupan menjadikan kaum wanita sering kali menjadi korban “domestic violence” tapi tidak teridentifikasi. Kalau saja di Amerika, hampir setiap tidak menit ada “abuse” yang terhadap kaum wanita, ba gaimana dengan dunia yang tertutup dan ekslusif ? Yang nampak kemudian memang adalah penganiyaan terhadap pembantu misalnya. Jika kita memperhatikan kehidupan komunitas Muslim di Amerika saja, terkadang dalam kegiatan-kegiatan komunitas kaum wanita nampak termarginalkan. Tempat-tempat ibadah seolah hanya diperuntukkan untuk kaum pria. Pengajian-pengajian, atas nama takut fitnah, kaum wanita tidak diikutkan. Ruangan-ruangan shalat bagi wanita tidak lebih dari tempat “gantungan jaket” di musim dingin. Terkadang di musim panas tidak ber AC, di musim dingin tidak punya heater, dll. Semua ini mengun dang reaksi sosial kaum wanita, khususnya setelah kita hidup dengan dunia yang bermottokan “freedom”. Selain secara esensi Islam mengajarkan kebebasan bereks presi, walau harus dengan tanggung jawab, juga karena lingkungan hidup di sekitar yang memberikan peluang untuk itu. Maka jangan heran, jika kaum feminis ini melakukan reaksi radikal seperti ingin menjadi Imam shalat berjama’ah.

Maka, selain dilihat sisi-sisi negatifnya, juga seharusnya memang membuka mata bagi komu nitas Muslim untuk membenahi hal-hal yang perlu dibenahi sesuai dan dalam limitasi ruang pergerakan ajaran Islam itu sendiri. Masanya untuk diteliti lagi, mana praktek-praktek sosial kita yang memang murni ajaran Allah dan RasulNya, dan mana yang sebenarnya hanya praktek-praktek budaya local yang tidak sesuai, tapi kemudian diklaim sebagai ajaran Islam. Jika tidak, jangan terkejut jika suatu ketika di sebuah mesjid Imamnya adalah Imam Fatimah, Imam Khadijah, Imam Aisha. Atau boleh jadi juga imam masjid itu bernama Imam Clara, Imam Nichole, Imam Suzanne, Imam Lorena, Imam Shinoa. Atau mungkin juga beberapa tahun ke depan, Imam mesjid-mesjid itu berada di antara nama-nama Muhammad dan Khadijah, Omar dan Hafsah, Ali dan fatimah, karena Imam sudah mengaku tidak tahu lagi orientasi seksualnya. Naudzu billah! – New York, 24 Maret 2005,
*) M.Syamsi Ali adalah ustad asal Makasar sahabat isnet tinggal di New York. – http://www.mentaritimur.com/

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.013/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1426H/2005M


Sholat Jum’at Versi Aminah Wadud Menyesatkan dan Munkar

Mei 16, 2006

eramuslim – Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami (MFI), rujukan tertinggi dalam masalah hukum Fiqih Islam di dunia, mengecam keras aksi ‘nyeleneh’ yang dilakukan Aminah Wadud, seorang profesor wanita studi Islam di Virginia Commonhealth University, yang mengimami pelaksanaan sholat Jumat (18/3) yang diselenggarakan di Synod House, gereja Katedral St.John milik keuskupan di Manhattan, New York. Pelaksanaan sholat jumat yang diikuti oleh sekitar 100 jemaah ini, bukan hanya diikuti oleh jemaah wanita tapi juga laki-laki. Demikian seperti dilansir kantor berita Arab Saudi SPA.

Lembaga hukum Fiqih Islam yang bernaung di bawah OKI ini menilai apa yang dilakukan Wadud ini sebagai bid’ah yang menyesatkan dan musibah, yang tercermin dengan majunya seorang wanita untuk pertama kalinya untuk mengimami shalat jamaah dalam shalat Jum’at di sebuah katederal Kristen di kota Manhattan Amerika. Pernyataan resmi yang dikeluarkan MFI itu juga menjelaskan bahwa apa yang telah terjadi itu dinilai sebuah pelanggaran hukum-hukum syariat dari beberapa segi yaitu, khutbah Jum’at oleh wanita, imam wanita atas jamaah pria, jamaah wanita dan pria yang berdiri sejajar dan berdampingan serta terjadinya Ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan wanita) di katedral Kristen. MFI menambahkan, apa yang telah terjadi itu melanggar apa yang telah disepakati mayoritas ulama Islam dan ahli Fiqih yang terpercaya, bisa jadi mereka yang melaksanakan shalat seperti itu berpegang kepada pendapat-pendapat lemah atau tak terpercaya yang terdapat di beberapa buku-buku Fiqih. MFI menyiratkan, ahli Fiqih Islam sepakat bahwa shalat Jum’at itu diwajibkan atas kaum pria saja dan bukan wanita, maka mereka (laki-laki) itu sajalah yang melaksanakan khutbah dan shalatnya, wanita boleh menghadiri shalat Jum’at itu, dan itu dianjurkan serta bukan keharusan, maka bagaimana wanita itu dibolehkan maju (menjadi khatib dan imam) sedangkan di sana ada yang lebih berhak atas itu. Selain itu, seperti diketahui bahwa posisi wanita di depan laki-laki dalam barisan itu akan membatalkan shalatnya laki-laki. Dalam penjelasannya itu MFI mencantumkan hadits-hadits yang berkaitan dengan masalah ini. Lalu MFI mengatakan bahwa shalatnya Wadud dan rekan-rekannya itu tak memenuhi syarat dan mereka harus menggantinya dengan shalat Dzuhur.
Senada dengan MFI, ulama besar Syaikh Yusuf Al-Qardhawi juga mengecam keras atas shalat Jum’at versi Wadud itu. Al-Qardhawi menyebutnya sebagai bid’ah yang munkar. Menurutnya, dalam sejarah Muslimin selama 14 abad tak dikenal seorang wanita menjadi khatib Jum’at dan mengimami laki-laki. Bahkan kasus seperti ini pun tak terjadi di saat seorang wanita menjadi penguasa pada era Mamalik di Mesir.

Al-Qardhawi menegaskan bahwa terdapat konsensus (ijma’) meyakinkan yang menolak tindakan Wadud itu. Pasalnya, mazhab yang empat bahkan yang delapan sepakat bahwa wanita tak boleh menjadi imamnya laki-laki dalam shalat-shalat wajib, meski sebagian membolehkan seorang wanita yang pandai membaca Al-Qur’an untuk menjadi imam di rumahnya saja. Adapun imamnya wanita bagi wanita lainnya inilah yang diakui dalil-dalil hadits, tambah Al-Qardhawi sambil menyarankan agar Muslimah yang bersemangat dengan hak-hak wanita itu menghidupkan sunnah yang telah mati yaitu shalat berjamaah wanita ketimbang menciptakan bid’ah munkar ini, yaitu wanita menjadi imamnya laki-laki.
Al-Qardhawi menjelaskan bahwa dalam Islam ibadah itu pada dasarnya tak dibolehkan dan terlarang kecuali syariat membolehkannya dengan dalil-dalil yang valid dan tegas, sehingga tak sembarang orang membuat aturan sendiri yang tak diperbolehkan oleh Allah. Terkait dengan anggapan Wadud yang menyatakan bahwa tabunya imam shalat Jum’at ini akibat tradisi dan adat yang sudah usang, Al-Qardhawi menyanggahnya bahwa hukum-hukum syariat ini ditetapkan oleh hadits-hadits sahih, ijma’ Muslimin, yang dipraktekkan oleh mereka berabad-abad di semua mazhab dan aliran, bukan sekedar karena tradisi dan adat.
Al-Qardhawi menambahkan, shalat dalam Islam bukan hanya doa seperti dalam sembah yangnya Kristen, tapi dalam shalat terdapat gerakan-gerakan, duduk, rukuk dan sujud. Dan gerakan-gerakan itu tak etis dilakukan seorang wanita di depan laki-laki, apalagi shalat merupakan ibadah yang dituntut adanya khusyu hati, ketenangan jiwa dan konsentrasi dalam bermunajat kepada Allah. Sedangkan tubuh wanita tercipta berbeda dengan tubuh laki-laki, dimana seorang wanita memiliki tubuh yang dapat merangsang laki-laki. Karena itu, lanjutnya, untuk menghindari fitnah dan upaya preventif, maka syariat menjadikan masalah imam, adzan dan iqomat untuk laki-laki, posisi shaf shalat wanita di belakang shaf laki-laki dan menjadikan shaf paling utama laki-laki di depan dan bagi wanita paling belakang.

http://www.eramuslim.com/br/dn/53/17951,1,v.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.013/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1426H/2005M


Jangan Malu Belajar Agama

Mei 16, 2006

“Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui ?” (Az-Zumar: 9).

Dari Ummu Salamah, dia berkata, Ummu Sulaim pernah datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran. Lalu, apakah seorang wanita harus mandi jika dia bermimpi ? Nabi SAW menjawab, “Jika dia melihat air (mani).” Lalu, Ummu Salamah menutup wajahnya dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah wanita itu juga bisa bermimpi ?” Beliau menja wab, “Ya, bisa. Maka, sesuatu yang menyerupai dirinya adalah anaknya.” (Hadits Sahih, ditakhrij Ahmad 6/306, al-Bukhari 1/44, Muslim 3/223, at-Tirmizi, hadis nomor 122, an-Nasa’i 1/114, Ibnu Majah hadits nomor 600, ad-Darimi 1/195, al-Baihaqi 1/168-169).

Ummu Salamah datang kepada Rasulullah saw untuk belajar. Ia memulai dengan ucapan, “Sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran.” Maksudnya, tidak ada halangan untuk menjelaskan yang benar, sehingga Allah membuat perumpamaan dengan seekor nyamuk dan yang serupa lainnya, seperti dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.” (Al-Baqarah: 26).
Ummu Sulaim demikian pula, ia tidak malu untuk bertanya kepada yang lebih tahu perihal apa-apa yang mestinya ia ketahui dan pelajari, meskipun mungkin hal itu dianggap aneh. Sungguh benar perkataan Ummul Mukminin, Aisyah ra, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Tidak ada rasa malu yang menghalangi mereka untuk memahami agama.” (Diriwayatkan al-Bukhari 1/44).
Ummu Sulaim bertanya, “Apakah seorang wanita itu harus mandi jika dia mimpi bersetubuh ?” Nabi saw menjawab, “Jika dia melihat air.” Maksudnya, ia harus mandi jika benar bermimpi dan ada bukti bekas air mani di pakaian. Namun, jika tidak, tidak perlu mandi. Setelah diberi jawaban yang singkat dan padat ini, Ummu Salamah langsung menutupi wajahnya seraya bertanya, “Apakah wanita itu juga bermimpi ?”. Keheranan Ummu Salamah itu bukanlah sesuatu yang aneh. Hal yang sama pernah terjadi pada diri Aisyah yang lebih berilmu, seperti disebutkan dalam suatu riwayat dia berkata, “Kecelakaan bagimu. Apakah wanita akan mengalami seperti itu ?” Dia berkata seperti itu dengan maksud untuk mengingkari bahwa wanita juga bisa bermimpi.

Keheranan Ummu Salamah dan Aisyah ra lebih disebabkan ketidaktahuan. Karena, tidak seluruh wanita bisa bermimpi, melainkan sebagian mereka. Namun, keheranan ini bisa dituntaskan oleh jawaban Nabi saw, “Na’am, taribat yaminuki,” (“Benar, seorang wanita bisa bermimpi).” Kemudian ada bukti nubuwwah di akhir ucapan beliau :”Sesuatu yang bisa menyerupai dirinya adalah anaknya.”
Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan perkataan itu. Laki-laki dan wanita saling bersekutu dalam pembentukan janin. Benih datang dari pasangan laki-laki menuju indung telur dalam tubuh wanita. Lalu, keduanya bercampur, dalam pengertian separo sifat-sifat yang diwariskan kira-kira bersumber dari laki-laki dan separo lainnya kira-kira berasal dari perempuan. Kemudian bisa juga terjadi pertukaran dan kesesuaian, sehingga ada sifat-sifat yang lebih menonjol antara ke duanya. Dari sinilah terjadi penyerupaan.

Pelajaran berharga yang bisa dipetik, selagi kita dikungkung rasa malu dan tidak mau mengetahui hukum-hukum din, maka ini merupakan kesalahan yang amat besar, bahkan bisa berbahaya. Ada baiknya kita membiasakan diri untuk tidak merasa malu dalam mempelajari hukum-hukum Islam, baik hukum yang kecil maupun hukum yang besar. Sebab, jika seseorang, terutama wanita, lebih banyak dikungkung rasa malu, dia terhalang untuk mengetahui sesuatu.

Mujahid Rahimahullah berkata, “Orang yang malu dan sombong tidak akan mau mempelajari ilmu.” Sebuah nasihat berharga yang secara eksplisit menganjurkan orang-orang yang mencari ilmu agar tidak merasa lemah dan takkabur, sebab kedua hal tersebut dapat menghalangi semangat mencari ilmu. Di antara kebaikan keislaman seseorang adalah jika dia mengetahui dinnya. Karena itu, Islam mewajibkan, baik kepada laki-laki maupun wanita untuk mencari ilmu. Bukankah Allah juga berfirman, “Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui ?” (Az-Zumar: 9). Bahkan, terdapat ayat yang secara khusus di tujukan kepada ummahatul mukminin, berupa anjuran mempelajari kandungan Alquran dan sunah, “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah mu dari ayat-ayat Allah dan hikmah.” (Al-Ahzab: 34). Karena perintah Allah inilah, para Sohabiyah merasakan keutamaan ilmu. Mereka pun pergi menemui Nabi saw dan menuntut suatu majlis belajar din bagi mereka.

(sumber : Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia. Jl. Pahlawan Revolusi, No 100, Jakarta 13430. Telpon: 62-21-86600703, 86600704).

KETIKA ALLAH BERKATA “TIDAK”

Ya Allah ambillah kesombonganku dariku, Allah berkata, “Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya.”
Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat, Allah berkata, “Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara.”
Ya Allah beri aku kesabaran, Allah berkata, “Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri.”
Ya Allah beri aku kebahagiaan, Allah berkata, “Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu.”
Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan, Allah berkata, “Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada Ku.”
Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat, Allah berkata, “Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal.”
Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku, Allah berkata… “Akhirnya kau mengerti !”

Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya. Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirim kan tak ada jawaban sama sekali — orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya-tanpa susah payah. Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan. Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat.

Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu. Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari “pilek” dan “demam”…. dan terus berdoa.

http://www.dudung.net/index.php?naon=depan&action=detail&id=95&cat=2

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.013/th.02/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1426H/2005M