Ketika Akal Berpikir Imanpun Bertambah

Mei 15, 2007

“Fenomena alam adalah fakta, kenyataan, yang tunduk pada hukum hukum yang menyebabkan fenomena itu muncul, kemudian ada keterlibatan siapa di balik fenomena tersebut ?” .

Salah satu ciri makhluk dikatakan hidup adalah bergerak, manusia disibukan oleh rutinitas masing masing. Secara visual kita bisa membedakan keadaan manusia yg diam dan yg disibukan dengan kegiatan kegiatan. Kita ambil contoh orang yg duduk di rumah sambil berpikir dengan seorang pekerja lapangan atau olahragawan yg senantiasa melatih tubuhnya. Secara spontan, maka yang kita pikirkan adalah hasil dari usaha kedua orang tersebut. Lalu pernahkah anda berpikir mereka adalah dua makhluk hidup yang bergerak ? lalu kenapa mereka bisa bergerak ?

Secara ilmu hayat, tubuh manusia terdiri dari miliaran sel-sel yang membentuk jaringan sel-sel, otot otot, tulang, organ tubuh dan sebagainya. Kalau ditinjau lebih seksama, maka ia memiliki karakter frekwensi getaran tersendiri, frekwensi dari tubuh seseorang merupakan kumpulan dari semua frekwensi sel-sel pembentuk tubuhnya, sehingga orang yang bersangkutanpun ditentukan oleh keadaan sel-sel tubuhnya, selanjutnya di dalam setiap sel terdapat satu “unit pikiran” (mind stuff) yang secara kolektif akan membentuk pikiran orang tersebut.

Jadi, pikiran seseorang dipengaruhi langsung oleh keadaan sel-sel ini. Sel-sel pembentuk tubuh ini terbuat sebagian besar oleh makanan yang kita makan. Begitu pun ia juga tumbuh dan berkembang dari makan, udara dan air yang kita peroleh dari lingkungan kita, sel-sel dalam tubuh berusia 21-28 hari, sel yang mati diganti dengan sel yang baru terbentuk. Disini jelas dapat kita lihat bahwa makanan sangat mempengaruhi kondisi sel dalam tubuh kita yang berarti menentukan tingkat kesehatan tubuh dan pikiran.

Di atas secara ringkas penulis memaparkan keadaan tubuh yang disusun dari bagian -bagian yang sangat kecil dimana satu sama lain saling mempengaruhi dan saling mengisi. Ketika salah satu sel tidak berfungsi, maka akan menyebabkan kecacatan dalam tubuh dan menyebabkan keterbatasan dalam bergerak, dan seorang olahragawan tidak bisa menggerakan sebagian anggota badannya seperti biasa, berkurangnya kecepatan berfikir bahkan bisa menyebabkan gangguan jiwa ketika salah satu saraf otaknya terganggu atau tidak berfungsi lagi. Dalam hal ini, sengaja penulis mengambil tubuh sebagai contoh, karena pada dasarnya tubuh dimiliki setiap orang dan bisa secara langsung merasakan keadaannya masing masing, lain halnya ketika dibicarakan benda atau mahluk hidup di luar tubuh kita, akan sangat jarang sekali kita dapati orang yang memperhatikan keadaan di luar tubuhnya.

Tubuh merupakan salah satu contoh kecil dari fenomena alam, masih banyak fenomena yang belum terungkap di alam semesta ini. Dan sering kita dapatkan dalam al-Qur’an, ayat ayat yang mengungkap fenomena alam, sering pula Allah swt. Mengingatkan manusia untuk selalu berpikir, merenungkan kekuasaan Allah swt. seperti “Falyanzhur al-Insânu Mimmâ Khuliq” (QS. Al-Thâriq : 5), “Afalâ Yanzhurûn” (QS. Al-Ghâsyiyah : 17), “Am Khuliqû Min Ghairi Syai-in Am Hum al-Khâliqûn” (QS. Al-Thûr : 35), yang semuanya itu Allah swt. tujukan kepada manusia sebagai hayawan al-nâtiq.

Pernahkah kita perhatikan seekor kucing yang dilempar dengan sebuah batu ? Kemudian apa yang kucing lihat ? Batunya atau orang yang melemparnya ? Fakta membuktikan bahwa kucing itu tidak melihat pada batunya tapi melihat kepada orang yang melempar batu itu. Begitu pula kita melihat kehidupan ini, kita hanya sering melihat benda-benda, makhluk-makhluk yang ada di sekitar atau musibah yang datang dan tidak pernah melihat siapa yang menciptakan kesemuanya tersebut. Padahal, seharusnya kita melihat kepada siapa yang mendatangkan benda-benda, makhluk-makhluk dan musibah tersebut, karena ini akan lebih mudah dalam memahami keeksistensian Allah swt. Sekarang banyak para ilmuan yang membuktikan kebenar an al-Qur’an , seperti karya Harun Yahya dan yang lainnya, sebagai bendungan dari usaha kaum orientalis yang mencoba menghancurkan Islam melalui science dan sekaligus membuktikan kebenaran al Qur’an. Fenomena alam dan al Qur’an merupakan dua unsur yang Allah swt datangkan sebagai pengisi kehidupan manusia dan petunjuk dalam menjalani kehidupan, ketika fenomena datang maka al-Qur’an menjawabnya. Setelah kita tahu kebenaran al Qur’an yang tidak diragukan lagi kebenarannya, apakah keimanan kita tidak bertambah ?

(Oleh : A Barri Mukhlis, Mahasiswa Jurusan Syari’ah Islamiyyah al-Azhar Kairo). – http://www.persis.or.id/site/modules.php?name=News&file=article&sid=354
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 029/th.03/Safar-Rabi’ul Awal 1428H/2007M

Iklan

Berpikir dapat membebaskan dari belenggu ketertipuan

Mei 15, 2007

Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?”. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?”. “Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (QS. Al-Mu’minuun, 23: 84-90)

Dalam ayat di atas, Allah bertanya kepada manusia, “…maka dari jalan manakah kamu ditipu (disihir)?. Kata disihir atau tertipu di sini mempunyai makna kelumpuhan mental atau akal yang menguasai manusia secara menyeluruh. Akal yang tidak digunakan untuk berpikir berarti bahwa akal tersebut telah lumpuh, penglihatan menjadi kabur, berperilaku sebagaimana seseorang yang tidak melihat kenyataan di depan matanya, sarana yang dimiliki untuk membedakan yang benar dari yang salah menjadi lemah. Ia tidak mampu memahami sebuah kebenaran yg sederhana sekali pun. Ia tidak dapat membangkitkan kesadarannya untuk memahami peristiwa-peristiwa luar biasa yang terjadi di sekitarnya. Ia tidak mampu melihat bagian-bagian rumit dari peristiwa-peristiwa yang ada. Apa yang menyebabkan masyarakat secara keseluruhan tenggelam dalam kehidupan yang melalaikan selama ribuan tahun serta menjauhkan diri dari berpikir sehingga seolah-olah telah menjadi sebuah tradisi adalah kelumpuhan akal ini ?.

Pengaruh sihir (tipuan) yang bersifat kolektif tersebut dapat dikiaskan sebagai berikut : Dibawah permukaan bumi terdapat sebuah lapisan mendidih yg dinamakan magma, padahal kerak bumi sangatlah tipis. Tebal lapisan kerak bumi dibandingkan keseluruhan bumi adalah sebagaimana tebal kulit apel dibandingkan buah apel itu sendiri. Ini berarti bahwa magma yang membara tersebut demikian dekatnya dengan kita, dibawah telapak kaki kita !. Setiap orang mengetahui bahwa di bawah permukaan bumi ada lapisan yang mendidih dengan suhu yang sangat panas, tetapi manusia tidak terlalu memikirkannya. Hal ini dikarenakan para orang tua, sanak saudara, kerabat, teman, tetangga, penulis artikel di koran yang mereka baca, produser acara-acara TV dan professor mereka di universitas tidak juga memikirkannya.

Ijinkanlah kami mengajak anda berpikir sebentar tentang masalah ini. Anggaplah seseorang yang telah kehilangan ingatan berusaha untuk mengenal sekelilingnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada setiap orang di sekitarnya. Pertama-tama ia menanyakan tempat dimana ia berada. Apakah kira-kira yang akan muncul di benaknya apabila diberitahukan bahwa di bawah tempat dia berdiri terdapat sebuah bola api mendidih yang dapat memancar dan berhamburan dari permukaan bumi pada saat terjadi gempa yang hebat atau gunung meletus ?.

Mari kita berbicara lebih jauh dan anggaplah orang ini telah diberitahu bahwa bumi tempat ia berada hanyalah sebuah planet kecil yang mengapung dalam ruang yang sangat luas, gelap dan hampa yang disebut ruang angkasa. Ruang angkasa ini memiliki potensi bahaya yg lebih besar dibandingkan materi bumi tersebut, misalnya : meteor-meteor dengan berat berton-ton yang bergerak dengan leluasa di dalamnya. Bukan tidak mungkin meteor-meteor tersebut bergerak ke arah bumi dan kemudian menabraknya. Mustahil orang ini mampu untuk tidak berpikir sedetikpun ketika berada di tempat yang penuh dengan bahaya yang setiap saat mengancam jiwanya. Ia pun akan berpikir pula bagaimana mungkin manusia dapat hidup dalam sebuah planet yg sebenarnya senantiasa berada di ujung tanduk, sangat rapuh dan membahayakan nyawanya. Ia lalu sadar bahwa kondisi ini hanya terjadi karena adanya sebuah sistim yang sempurna tanpa cacat sedikitpun. Kendatipun bumi, tempat ia tinggal, memiliki bahaya yang luar biasa besarnya, namun padanya terdapat sistim keseimbangan yang sangat akurat yang mampu mencegah bahaya tersebut agar tidak menimpa manusia. Seseorang yang menyadari hal ini, memahami bahwa bumi dan segala makhluk di atasnya dpt melangsungkan kehidupan dengan selamat hanya dengan kehendak Allah, disebabkan oleh adanya keseimbangan alam yang sempurna dan tanpa cacat yang di ciptakan-Nya. Contoh di atas hanyalah satu diantara jutaan, atau bahkan trilyunan contoh-contoh yang hendaknya direnungkan oleh manusia. Satu lagi contoh yang mudah-mudahan membantu dalam memahami bagaimana “kondisi lalai” dapat mempengaruhi sarana berpikir manusia dan melumpuhkan kemampuan akalnya.

Manusia mengetahui bahwa kehidupan di dunia berlalu dan berakhir sangat cepat. Anehnya, masih saja mereka bertingkah laku seolah-olah mereka tidak akan pernah meninggalkan dunia. Mereka melakukan pekerjaan seakan-akan di dunia tidak ada kematian. Sungguh, ini adalah sebuah bentuk sihir atau mantra yang terwariskan secara turun-temurun. Keadaan ini berpengaruh sedemikian besarnya sehingga ketika ada yang berbicara tentang kematian, orang-orang dengan segera menghentikan topik tersebut karena takut kehilangan sihir yang selama ini membelenggu mereka dan tidak berani menghadapi kenyataan tersebut. Orang yang mengabiskan seluruh hidupnya untuk membeli rumah yang bagus, penginapan musim panas, mobil dan kemudian menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah yang bagus, tidak ingin berpikir bahwa pada suatu hari mereka akan mati dan tidak akan dapat membawa mobil, rumah, ataupun anak-anak beserta mereka. Akibatnya, daripada melakukan sesuatu untuk kehidupan yang hakiki setelah mati, mereka memilih untuk tidak berpikir tentang kematian.Namun, cepat atau lambat setiap manusia pasti akan menemui ajalnya. Setelah itu, percaya atau tidak, setiap orang akan memulai sebuah kehidupan yang kekal. Apakah kehidupannya yang abadi tersebut berlangsung di surga atau di neraka, tergantung dari amal perbuatan selama hidupnya yang singkat di dunia. Karena hal ini adalah sebuah kebenaran yang pasti akan terjadi, maka satu-satunya alasan mengapa manusia bertingkah laku seolah-olah mati itu tidak ada adalah sihir yang telah menutup atau membelenggu mereka akibat tidak berpikir dan merenung. Orang-orang yang tidak dapat membebaskan diri mereka dari sihir dengan cara berpikir, yang mengakibatkan mereka berada dalam kelalaian, akan melihat kebenaran dengan mata kepala mereka sendiri setelah mereka mati, sebagaimana yg diberitakan Allah kepada kita dalam Al-Qur’an :”Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (QS. Qaaf, 50: 22)

Dalam ayat di atas penglihatan seseorang menjadi kabur akibat tidak mau berpikir, akan tetapi penglihatannya menjadi tajam setelah ia dibangkitkan dari alam kubur dan ketika mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di akhirat. Perlu digaris bawahi bahwa manusia mungkin saja membiarkan dirinya secara sengaja untuk dibelenggu oleh sihir tersebut. Mereka beranggapan bahwa dengan melakukan hal ini mereka akan hidup dengan tentram. Syukurlah bahwa ternyata sangat mudah bagi seseorang untuk merubah kondisi yang demikian serta melenyapkan kelumpuhan mental atau akalnya, sehingga ia dapat hidup dalam kesadaran untuk mengetahui kenyataan. Allah telah memberikan jalan keluar kepada manusia; manusia yang merenung dan berpikir akan mampu melepaskan diri dari belenggu sihir pada saat mereka masih di dunia. Selanjutnya, ia akan memahami tujuan dan makna yang hakiki dari segala peristiwa yang ada. Ia pun akan mampu memahami kebijaksanaan dari apapun yang Allah ciptakan setiap saat.

(dari : Bagaimana seorang Muslim berpikir ?, Harun Yahya, penerjemah Mustapha Ahmad, First Published by Vural Yay, Istanbul, Turkey in September 1999, First English Edition published in April 2000, Published by: Ta-Ha Publishers Ltd.)

Website: http: // http://www.harunyahya.org atau http: // www.harunyahya.com

Penghalang dalam menuntut ilmu syar’i :

1. Tidak mengamalkan ilmu yang diperoleh
2. Tidak belajar dengan bimbingan ulama atau puas belajar secara otodidak
3. Menimba ilmu dari ahli bid’ah, orang jahil, tidak selektif dalam menimba ilmu
4. Tidak menapaki jenjang ilmu secara teratur
5. Sombong, ujub dan takabbur
6. Tergesa-gesa
7. Lemah motivasi
8. Sering berandai-andai dan suka mengulur waktu
9. Lemah hubungan kepada Allah SWT

(Ustadz : Abu Ihsan Al Atsary)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 029/th.03/Safar-Rabi’ul Awal 1428H/2007M


Siapa Cendekiawan Sejati ?

Mei 15, 2007

Menurut ilmu kalam, manusia dikatagorikan sebagai hayawanun-nathiq yang berarti hewan yang bisa berfikir, atau dikatakan juga makhluk yang memiliki akal. Sehingga “wajarlah” bila dalam kehidupan sehari-hari ada manusia yg melakukan perbuatan sadis atau biadab, ia dikatakan sebagai manusia yg tidak berperi-kemanusiaan alias tak berbeda dengan kelompok binatang.

Al-Islam memiliki visi tersendiri berkaitan dengan sebutan manusia yang berakal ini. Di antaranya ada beberapa pen dapat dari orang-orang yang memiliki pandangan mendalam dalam memahami seluk-beluk al-Islam sebagaimana dikutip berikut ini. Hasan bin Ali ra menyatakan bahwa “ucapan orang yang berakal berada di belakang hatinya, maka bila ia ingin berbicara niscaya merujuk terlebih dahulu kepadanya. Sedangkan ucapan orang yang bodoh berada di depan hatinya, sehingga ia selalu mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan hatinya.” Kita mafhum, yang namanya hati nurani sering bisa difungsikan sebagai patokan untuk menilai apakah perbuatan tersebut benar atau salah. Karena makin bersih kondisi hati seseorang akan semakin peka atau semakin besar kecenderungannya dalam memihak kebenaran. Hanya sayangnya, tidak setiap insan menginsyafi dan menyadari akan keberadaan hatinya sendiri, apakah hati kita dalam keadaan sehat atau dalam keadaan sakit ?.

Karunia akal

Manusia telah dianugerahi Tuhan akal yang mempunyai kemampuan sedemikian luar biasa hebatnya. Sebagai buktinya sekarang dapat dilihat kemajuan iptek yang serba canggih. Akan tetapi, apakah hanya untuk itu saja kegunaan akal tersebut atau ada hal lain yang lebih spesifik secara ruhani ?. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw pernah bersabda, “Tiada yang lebih utama dari apa yang diperoleh seseorang, kecuali akal yang mampu memberi petunjuk kepada kebenaran dan menghindarkan dari segala kekejian.” (maaf dalam artikel aslinya memang tidak disebutkan perawinya : red). Dengan demikian, dari akal yang sehat sebenarnya seseorang bisa membedakan mana kebenaran dan mana kebathilan. Jadi fungsi akal itu sebenarnya adalah untuk menilai, dilandasi kejujuran terhadap diri sendiri mau mengikuti yg mana. Termaktub dalam al-Qur’an ungkapan tentang karakteristik manusia yang berakal (ulul albab), “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang, sungguh terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yg berakal.” (QS Ali ‘Imran: 190) .

Secara umum, manusia yang bisa mempergunakan akalnya akan dapat menangkap pesan dan tanda-tanda kekuasan Allah. Tanda-tanda kekuasaan Allah itulah yang mendorong dilahirkannya berbagai macam ilmu dan teori yang terus berkembang hingga kini. Semuanya adalah hasil olah nalar akal dalam mentafakkuri keserasian dan keteraturan alam semesta. Di sisi lain ada juga hal buruknya karena banyak manusia yang memiliki kemampuan akal brillian, justru lantas takabur dan saling mengintimidasi satu dengan lainnya. Yang paling mengkhawatirkan jika Iptek ini menjadi ‘agama’ yg secara tidak langsung menjadi norma untuk dasar menilai sesuatu. Puncaknya lahirlah anggapan Iptek sebagai Tuhan. Bila sudah demikian, maka segala tolok ukur dikembalikan kepada Iptek, sehingga benar dan salah bisa ditentukan oleh logika semata. Kenyataan ini akan menyulitkan manusia. Salah satu buktinya, adalah dilema setelah teknologi duplikasi (clonning) makhluk hidup dapat dicapai.

Teladan dari Ibrahim

Mentafakkuri rahasia alam semesta dalam rangka mencari kebenaran yg hakiki yakni untuk menelusuri af’alullah (tindakan-tindakan Allah), pernah dicontohkan oleh Nabiyullah Ibrahim as dalam sebuah debut yang sangat monumental. Kisah ini diabadikan dalam al-Qur’an. Beliaulah satu-satunya manusia di bumi ini yang digelari-Nya sebagai Khalilullah (kekasih Allah). Kejeniusan Ibrahim as mampu mengambil kesimpulan yang tepat. Terlukis bagaimana kiprahnya dalam membandingkan gejala alam yang relatif serba berubah dengan sifat Tuhan yang diyakininya serba mutlak dan Maha Sempurna. Sehingga pada akhirnya sampailah pada kenyataan akhir beliau, Innii aslamtu lirabbil-‘aalamin, saya berserah diri kepada Rabbul aalamiin.

Kisah Ibrahim itu merupakan sebuah contoh bagaimana memfungsikan kemampuan akal pada tempatnya yang mengantarkan beliau pada petunjuk-Nya, kebenaran yg hakiki. Dialah manusia yang hanif sebagai protipe seorang ulil albab, seorang cendekiawan sejati. Allah berfirman, (Ulul Albab) “Yaitu orang-orang yang selalu mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri, dalam keadaan duduk atau dalam keadaan berbaring dan mentafakuri tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berdo’a): “Ya Tuhan kami tiadalah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka jagalah kami dari siksa api neraka.'” (QS Ali Imran: 191) Firman di atas merupakan rincian tahap-tahap proses tafakkur dari sejak awal yang hanya ditujukan untuk ber-dzikrullah. Maka sewaktu terbuka alam pemahaman diri dan nalar fikirnya, akan muncul kesadaran terhadap kekerdilan manusia dan ketakberdayaan diri dan tiada tempat lain yang pantas untuk menyerahkan kepasrahan diri secara totalitas selain kepada-Nya. Akhirnya keluarlah pernyataan, “Rabbana maa khalakta haadza baathila, subhaanaka faqinaa ‘adzaaban-nar.” Jadi yang sepatutnya terjadi sesudah bertafakkur itu justru akan terbentuk manusia yang tahu diri tentang eksistensi manusia yang sesungguhnya di hadapan Sang Pencipa jagad raya. Tersurat dalam sebuah hadits Nabi yang mengulas lebih nyata dalam sabdanya, “Allah swt mewasiatkan tujuh hal kepadaku yang aku wasiatkan pula kepadamu; hendaklah engkau ikhlas baik terang-terangan maupun sendirian, bersikap adil baik ketika sedang damai maupun sedang marah, sederhana di kala kaya dan miskin, memaafkan orang yang berlaku zhalim, memberi kepada orang yang tidak mau memberi, menghubungkan tali persaudaraan kepada yang memutuskannya serta menjadikan diam sebagai kegiatan berfikir dan berbicara sebagai dzikir.” (maaf dalam artikel aslinya memang tidak disebutkan perawinya : red)

Khusus poin ketujuh (diam sebagai kegiatan berfikir & berbicara sebagai dzikir) dari wasiat Rasul tadi menunjukkan dengan sangat lugas bahwa anjuran itu berlaku secara umum bukan hanya dikhususkan kepada kelompok tertentu. Anjuran mulia itu diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin mengikuti wasiat para rasul, yakni sosok manusia pencari dan pelaku kebenaran. Sosok ini tergambar jelas: apabila berbicara tidak asal ngomong melainkan terlebih dahulu menimbang melalui kacamata wahyu Ilahi. Lisan dan perbuatan mereka semata untuk membicarakan dan mempertunjukkan keagungan yang dikandung mutiara ayat Allah swt. Merekalah kiranya yang pantas disebut cendekiawan atau ulil albab sejati.

(dari : Lembar Jum’at, Al Qalam Diterbitkan Oleh : Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya Edisi : 40/VII, 27 Rajab 1418, 28 Nopember 1997)

http://alqalam.8m.com/vii/qal40.htm

Bertanya adalah Kunci Ilmu

Kebanyakan yg menjadikan penuntut ilmu berpaling (sehingga terhalang dari ilmu) adalah permasalahan-permasalahan yg membuat dia musykilah (samar) atau bingung, maka ketika itu wajib baginya untuk menanyakannya kepada ulama dengan meminta bimbingan, beradab terhadap mereka, dan tawadhu’ di depan mereka. Allah ta’ala berfirman, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. Surat An Nahl: 43).
Dari ‘A`isyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Semoga Allah merahmati wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk menanyakan perkara agama mereka.”[1] Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra., beliau berkata, “Tambahannya ilmu adalah dengan mencarinya, sedangkan untuk mendapatkan ilmu adalah dengan bertanya.”[2] Dikatakan kepada Ibnu ‘Abbas ra., “Dengan apa engkau mendapatkan ilmu ?” Beliau menjawab, “Dengan lisan yang sering bertanya dan hati yang cerdas.”[3] Dari Ibnu Syihab, beliau berkata, “Ilmu itu perbendaharaan-perbendaharaan, dan kunci-kuncinya adalah bertanya.”[4]

catatan kaki :
[1] Diriwayatkan Al Bukhori – Kitaab Al ‘Ilm – bab Al Hayaa` fil ‘Ilmi – 1/41.
[2] Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi 1/87.
[3] Ta’liimul Muta’allim karya Az Zarnuji halaman 106.
[4] Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi 1/89.

http://salafy.iwebland.com/baca.php?id=37
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 029/th.03/Safar-Rabi’ul Awal 1428H/2007M


KEDUDUKAN AKAL DALAM ISLAM

Mei 15, 2007

Ilmu dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah

Dalam mendudukkan ilmu dan dalil-dalil syar’i, ada kekeliruan yang hampir menjadi konsumsi umum, tidak saja kalangan orang awam, tapi juga sebagian kalangan intelektual bahkan mereka yang biasa mengajarkan din (baca: ustadz). Umumnya mereka menyamaratakan terminologi ilmu, baik ilmu syar’i maupun ilmu duniawi. Ironinya, yang mereka pakai untuk mendalili masalah ilmu itu justeru dalil-dalil yang sesungguhnya khusus untuk ilmu syar’i. Nabi bersabda :”Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, niscaya ia dipahamkan dalam urusan agama.” (HR.Bukhari-Muslim).

“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu, barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian (warisan) yang banyak.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Kita sangat paham, yang diwariskan para nabi tidak lain adalah ilmu syar’i, bukan ilmu-ilmu lain. Karena itu, sangat wajar ketika Nabi salah menegur para sahabat yang mengawinkan bunga pohon kurma. Sehingga beliau bersabda :”Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.”(HR. Muslim). Jika yang dimaksud ilmu dalam terminologi Al-Qur’an dan As-Sunnah itu termasuk juga ilmu duniawi, tentu Nabi saw. adalah orang yg mestinya paling lebih tahu. (Mujammad Ibn Utsmain, Kitabul Ilmi, 5-7). Maka yang dimaksud orang alim ditinggikan derajatnya oleh Allah dalam surat Al-Mujadalah ayat 11, adalah alim dalam ilmu syar’i. Allah SWT berfirman :”Allah meninggikan orang-orang yg beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (Al-Mujadalah: 11).

Asy-Syaukani dalam tafsirnya, Fathul Qadir, mengatakan: “Makna ayat tersebut adalah Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman atas orang-orang yang tidak beriman beberapa derajat. Dan Allah akan mengangkat derajat (orang-orang beriman) yang berilmu atas orang-orang yang beriman (saja, tetapi tidak berilmu) beberapa derajat. Dan barangsiapa menghimpun iman dan ilmu dalam dirinya maka dengan imannya Allah akan mengangkatnya beberapa derajat, dan dengan ilmunya pula Allah akan mengangkatnya (lagi) beberapa derajat. Ada pendapat yang mengatakan, yang dimaksud ilmu di sini adalah orang-orang yang ahli dalam bacaan Al-Qur’an (Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, h.418). Namun konteks ayat itu sesungguhnya adalah umum. Yakni setiap mukmin yang berilmu syar’i dalam berbagai disiplinnya seperti ilmu aqidah, Tafsir, Hadis, dll. Sebab tidak ada dalil yg menunjukkan adanya pengkhususan ilmu syar’i tertentu atas ilmu-ilmu yang lain (dalam konteks ayat tersebut).” (Syaukani, Fathul Qadir, h.189)

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa sebegitu superior kedudukan ilmu syar’i dibanding ilmu-ilmu lain (baca: duniawi) ? Analisa empiriknya adalah sebagai berikut; Tidak ada satu materi pun dari ilmu syar’i yang secara substantif membahayakan atau berdampak negatif. Semua ilmu syar’i adalah bermanfaat dan untuk kemaslahatan umat manusia. Berbeda dengan ilmu duniawi, ia memiliki dua sisi ketajaman; sarana kemanfaatan umat manusia dan atau sarana penghancur kehidupan. Karena itu, menentukan hukum ilmu duniawi harus terlebih dahulu ditinjau dari sisi kemanfaatan dan kemudharatannya. Dan secara umum, bila ilmu duniawi itu baik dan untuk kemaslahatan manusia, maka hukum mempelajarinya bisa menjadi fardhu kifayah. Demikian itulah sudut pandang agama terhadap ilmu secara umum.

Hukum Menuntut Ilmu Syar’i

Dari segi obyeknya, menuntut ilmu syar’i (agama) secara muthlak hukumnya adalah fardhu kifayah. Hal ini berdasarkan firman Allah :”Tidaklah sepatutnya segenap kaum mukminin itu berangkat berperang. Mengapa tidak ada segolongan dari mereka yang berangkat untuk mendalami urusan din (agama) dan agar mereka memberi peringatan kepada kaum mereka bila mereka telah kembali, mudah-mudahan mereka menjadi ingat.” (QS. al-Taubah: 122)

Tapi ditinjau dari sisi subyeknya, maka hukum menuntut ilmu syar’i bisa menjadi fardhu ain (wajib secara individu). Dalam arti, setiap orang wajib mengetahui (mengilmui) setiap ibadah atau muamalah yang dikerjakannya. Karena Islam sangat menekankan ilmu sebelum beramal. Seorang pribadi muslim adalah seorang yang bertindak dan berbuat berdasarkan pengetahuan, bukan latah dan asal melangkah. Dalam bahasa modern, pribadi muslim adalah pribadi yang profesional, yang berbuat berdasarkan ilmu dan konsep yang matang. Allah berfirman :”Dan janganlah engkau berpijak (bertindak) tidak atas berdasarkan ilmu. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan & hati, semuanya itu ada pertanggung-jawabannya.”(QS. al-Isra’: 36).Setiap manusia memiliki naluri ingin mengetahui. Apa yang ingin diketahui manusia itu bersifat umum, kompleks dan mengandung pengertian yang sangat luas. Dan yang paling utama adalah kegelisahan untuk mengetahui ilmu agama, tetapi juga termasuk di dalamnya segala disiplin ilmu. Kegelisahan manusia untuk selalu mengetahui, termasuk mengetahui hal-hal baru tersebut, bagi para ilmuwan adalah sebuah keniscayaan, kecuali jika ajaran atau ilmu tersebut jelas-jelas berten tangan dengan aqidah. Dengan kata lain, menfungsikan akal secara dinamis kreatif haruslah dengan memposisikan akal di bawah superioritas wahyu (baca: landasan syar’i). Sehingga ketika terjadi kontradiksi antara keduanya, maka yang didahulukan adalah wahyu, bukan akal sebagaimana prinsip kaum Mu’tazilah. Karena kebebasan berfikir sebagai akibat dari, di antaranya, pesatnya perkembangan berbagai ilmu pengetahuan, utamanya dalam hal ini adalah filsafat maka tak sedikit intelektual muslim (demikian biasa disebut orang) yang kebablasan. Dengan gegap gempita mereka menyuarakan perlunya merekonstruksi kembali tatanan dan hukum-hukum agama yg telah baku sejak awal sejarah Islam.

Ironinya, mereka senang mengutak-atik hal-hal yang telah clear and distinc (jelas dan tegas) dalam agama daripada membahas persoalan-persoalan aktual yang muncul yang belum ada pembahasan sebelumnya. Hal-hal yang mereka bahas itu entah dengan motivasi apa dan karena siapa di antaranya adalah masalah hukum waris, salam, gender, jilbab dan sejenisnya yang sebetulnya telah selesai dibahas dengan dalil-dalil yg autentik dan tegas kesahihannya, kecuali jika interpretasinya diplintir dan konstruksi kebenaran agama diporak-porandakan parameternya.Bila kita cermati kehidupan masyarakat, ada dua fenomena menonjol yang saling berlawanan tentang penggunaan akal, yang ironinya masing-masing menunjukkan ekstrimitas. Yang pertama adalah fenomena filsafat yang identik dengan kebebasan berfikir tanpa batas, tanpa mau mengenal petunjuk-petunjuk wahyu dan agama. Bahkan menurut mereka berbicara dengan memakai dalil wahyu atau agama akan menjadi ‘sesuatu yang lucu dan dihinakan’. Karena itu, para filsuf besar lebih banyak ‘beragama’ filsafat, ilmu yang digelutinya tiap saat. Men-tuhan-kan akal pikir annya, atau bahkan tidak bertuhan sama sekali (atheis). Yang sangat memiriskan, tidak sedikit intelektual muslim yang bergelut dengan filsafat terkena pengaruh tradisi dan pola pikir filsafat.

Fenomena kedua adalah adanya kelompok manusia, juga sebagian umat Islam yang sangat meremehkan penggunaan akal. Bahkan kenyataan yg ada mengesankan, sebaiknya orang tidak usah berfikir dan menggunakan akalnya. Orang yang berbicara dengan metode berfikir yang runut, logis, kritis dan argumentatif serta merta dijuluki sebagai ‘aqlani, menyimpang dan sebagainya, padahal belum tentu menyimpang dari wahyu.

Rambu-rambu Akal

Penggunaan akal tanpa batas adalah sangat berbahaya. Sebab jika terlalu jauh, ia akan men-tuhan-kan akalnya, menjauhi ilmu syar’i dan imannya hilang. Untuk itu, dalam hal penggunaan akal, paling tidak ada rambu-rambu yg mesti diperhatikan :

Pertama, memahami bahwa dasar agama bukanlah akal atau logika manusia, melainkan wahyu Allah; Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena seberapa pun canggih akal manusia, tetapi di hadapan wahyu Allah ia adalah lemah.

Kedua, memahami adanya ayat-ayat muhkamat (yang terang dan tegas maksudnya dan dapat dipahami dengan mudah) dan ayat-ayat mutasyabihat; ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti dan maknanya kecuali sesudah diselidiki secara mendalam, atau ayat-ayat yg pengertiannya hanya Allah yang mengetahui, seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan hal-hal yang ghaib. Ini tentunya agar tidak terjebak dalam memahami ayat al-Qur’an, sebagaimana para filsuf-filsuf.

Ketiga, Apabila suatu masalah telah ada dalilnya, baik dari Al-Qur’an maupun Hadits sahih, maka akal atau logika manusia harus tunduk, karena ia adalah tuntunan dan wahyu Allah.

Keempat, tidak mengubah pengertian dalil dari pengertian aslinya. Biasanya hal ini dilakukan dengan memotong-motong dalil disesuaikan dengan keinginan dan hawa nafsu.

Kelima, Tidak menggunakan takwil. Yakni pengalihan dari makna yang dekat kepada makna yang jauh.

Keenam, tidak menggunakan qiyas (analog) yang bertentangan dengan dalil. Para ulama Salaf mengatakan, menggunakan qiyas yang bertentangan dengan nash (dalil) adalah cara iblis.

Ketujuh, memahami mana yang termasuk wilayah ijtihad dan mana yang bukan. Karena tidak semua masalah dalam agama bisa dimasuki daya kritis otak manusia.

Kedelapan, menahan diri dari membahas hal-hal yang tidak perlu, karena hal itu bisa memporak-porandakan hukum agama.

Kesembilan, memiliki landasan pemahaman agama yang kuat dan mendalam melalui penguasaan berbagai disiplin ilmu agama.

Kesepuluh, berusaha menguasai bahasa Arab dengan baik. Karena mayoritas teks-teks agama adalah ditulis dengan bahasa Arab.

Kesebelas, memiliki motivasi yang ikhlas untuk pengembangan kajian keilmuan Islam, bukan motivasi-motivasi lain yang bersifat duniawiyah dan sesa’at.

Bila kesebelas rambu-rambu di atas diperhatikan sebelum daya kritis dan berfikir filosofis diterapkan dalam kajian Islam, maka insya Allah out put yang kita panen adalah ke-terarah-an kajian Islam pada rel yang benar dan kebergairahan pengembangan metodologi dan berfikir kritis analitis demi kemajuan pengembangan kajian-kajian Islam.

Kebutuhan ilmu syar’i dan kaderisasi

Ada banyak alasan bahwa kebutuhan kita terhadap ilmu syar’i saat ini sangat mendesak, di antaranya :

Pertama, semakin merebaknya berbagai bid’ah di tengah-tengah umat Islam. Apalagi di era reformasi ini, hampir tidak ada yang mampu membendung berbagai kreasi dan inovasi baru dalam perkara agama (baca: bid’ah), karena kran kebebasan dibuka seluas-luasnya.

Kedua, semakin suburnya orang-orang yang berbaju ulama, tetapi bukan ulama. Mereka dengan mudahnya memberikan fatwa-fatwa agama tanpa didasari ilmu, melainkan dengan logika/akal dan atau pada perasaan mereka. Di sisi lain, masyarakat buta untuk bisa membedakan fatwa yang benar dengan fatwa yang menyalahi dalil.

Ketiga, kecenderungan untuk mendudukkan diri sendiri sejajar dengan para ulama salafush shalih. Misalnya dengan jargon, mereka laki-laki, maka kita juga laki-laki. Dalam arti, punya kewenangan dan otoritas yg sama dalam membahas dan atau mencermati kemudian mengambil kesimpulan hukum/berijtihad. Implikasinya, banyak berbagai persoalan yang menurut para ulama telah jelas, diutak-atik kembali dan dijungkir-balikkan dengan tanpa ditopang dalil yang kuat, malahan terkadang hanya berdasarkan logika yang lemah. Istilah mereka, perlu diadakan rekonstruksi syari’ah, atau peninjauan dan pembongkaran kembali makna, kandungan, dan hukum-hukum syari’ah. Sebab gejala yang ada adalah banyak orang yang secara teori menguasai ilmu/pemahaman terhadap berbagai persoalan agama (namun mereka bukan ulama), tetapi tidak mau memperhatikan bagaimana cara mendidik, memperbaiki dan mengarahkan umat yg merupakan tujuan dakwah.

http://majalah.aldakwah.org/artikel.php?art=maqalah&edisi=007&urutan=01

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 029/th.03/Safar-Rabi’ul Awal 1428H/2007M


Membangun Keluarga Berilmu

April 26, 2007

Membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis memang menjadi dambaan. Tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa menikah berarti menjalani hidup baru. Pernikahan juga merupakan kehidupan orang dewasa. Sebab, banyak hal yang harus dihadapi dan diselesaikan dengan pikiran orang yang dewasa, bukan dengan pikiran kanak-kanak. Masalah hubungan suami istri, pendidikan anak, ekonomi keluarga, hubungan kemasyarakatan, dan lain sebagainya, mau tidak mau akan hadir dalam kehidupan mereka yang telah berkeluarga. Maka, tidak salah pula bila dikatakan untuk menikah itu butuh ilmu syar’i, baik istri, terlebih lagi suami sebagai qawwam (pemimpin) bagi keluarganya. Karena dengan ilmu yang disertai amalan, akan tegak segala urusan dan akan lurus jalan kehidupan. Namun sangat disayangkan, sisi yang satu ini sering luput dari persiapan dan sering terabaikan, baik sebelum pernikahan terlebih lagi pasca pernikahan. “Kaum laki-laki (suami) adalah qawwam bagi kaum wanita (istri).” (An-Nisaa’: 34) . Salah satu tugas suami sebagai qawwam adalah memberikan pendidikan agama kepada istri dan anak-anaknya, meluruskan mereka dari penyimpangan, dan Allah berfirman :”Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6)
Menjaga keluarga yang dimaksud dalam ayat yang mulia ini adalah dengan cara mendidik, mengajari, memerintahkan mereka, membantu mereka untuk, serta melarang mereka dari bermaksiat kepada-Nya. Seorang suami wajib mengajari keluarganya tentang perkara yang di-fardhu-kan. Bila ia mendapati mereka berbuat maksiat segeralah dinasehati. (Tafsir Ath-Thabari, 28/166, Ruhul Ma’ani, 28/156).

Seorang hamba tidak akan selamat kecuali bila ia menegakkan perkara Allah pada dirinya dan pada orang-orang yang berada di bawah perwaliannya seperti istri, anak-anak, dan selain mereka.” Hal ini bisa dilakukan dengan cara mendidik dan mengajari mereka, serta memaksa mereka untuk taat kepada perintah Allah. (Tafsir Al-Karimir Rahman, hal. 874). “Perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam menegakkannya.” (Thaha: 132) “Berilah peringatan kepada karib kerabatmu yang terdekat.” (Asy-Syu`ara: 214). Ini menunjukkan keluarga yang paling dekat dengan kita memiliki kelebihan dibanding yang lain dalam hal memperoleh pengajaran”. (Ahkamul Qur’an, 3/697)

Dengan penjelasan ini, dapat dipahami bahwa seorang suami/kepala rumah tangga harus memiliki ilmu yang cukup untuk mendidik anak istrinya, mengarahkan mereka kepada kebenaran, dan menjauhkan mereka dari penyimpangan. Namun sangat disayangkan, kenyataan yang kita lihat banyak kepala keluarga yang melalaikan hal ini. Yang ada di benak mereka hanyalah bagaimana mencukupi kebutuhan materi keluarganya sehingga mereka tenggelam dalam perlombaan mengejar dunia, sementara kebutuhan spiritual tidak masuk dalam hitungan. Anak dan istri mereka hanya dijejali dengan harta dunia, bersenang-senang dengannya, namun bersamaan dengan itu mereka tidak mengerti tentang agama. Paling tidak, bila seorang suami tidak bisa mengajari keluarganya, mungkin karena kesibukannya atau keterbatasan ilmunya, ia mencarikan pengajar agama untuk anak istrinya, atau mengajak istrinya ke majelis taklim, menyediakan buku-buku agama, kaset-kaset ceramah/taklim sesuai dengan kemampuannya, dan menganjurkan keluarganya untuk membaca/mendengarnya.

[Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=131″>http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=131
note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang akan terus mengalir walau seseorang telah mati adalah imu yang bermanfaat.

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim: 6)

“Kembalilah kalian kepada keluarga kalian, tinggallah di tengah mereka dan ajari mereka, serta perintahkanlah mereka.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 628 dan Muslim no. 674)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 029/th.03/Safar-Rabi’ul Awal 1428H/2007


Amalkan Ilmu

April 26, 2007

Kita semua sepakat bahwa sebuah gedung yang tinggi (misalnya masjid Istiqlal di Jakarta) pasti memerlukan banyak ahli ilmu teknik bangunan yang mereka benar-benar ahli (Insiyur Teknik Sipil dan Arsitektur) alias berilmu dalam bidangnya dan berpengalaman agar gedung itu berdiri dengan kuat,kokoh dan awet. Juga seseorang yang mengobati penyakit haruslah berpendidikan kesehatan (dokter misalnya.)
Namun ketika orang-orang ditanya bagaimanakah membangun umat Islam ini ? Maka mayoritas orang tidak terlalu memikirkan bagaimana kapasitas da’i pembangun umat ini apakah mereka berilmu tentang dien/agamanya yg akan dida’wakan atau tidak ? Dan ini adalah musibah Innalillahi wa innalillahi rojiun.

Ilmu merupakan sandi terpenting dari hikmah. Sebab itu, Allah memerintahkan manusia agar mencari ilmu atau berilmu sebelum berkata dan beramal. Firman Allah :“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah selain Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu serta bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha & tempat tinggalmu. (QS Muhammad :19). Imam Bukhari rahimahullah membicarakan masalah ini dalam bab khusus, yakni bab Ilmu sebelum berkata dan beramal. Sehubungan dengan ini Allah memerintahkan Nabi-Nya dengan dua hal, yaitu berilmu lalu beramal, atau berilmu sebelum beramal. Ilmu merupakan syarat keabsahan perkataan dan perbuatan. Shahihnya amal karena shahihnya ilmu. Disamping, itu ilmu merupakan tempat tegaknya dalil. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang disampaikan Rasul atau bisa juga ilmu yang bukan dari Rasul, yaitu ilmu-ilmu yang diluar masalah diniyah, misalnya beberapa segi ilmu kedokteran, pertanian dan perdagangan. Seorang da’i tidak dikatakan bijaksana, kecuali bila ia memahami ilmu syar’i. Jika dari awal hingga akhir perjalanan dakwahnya ia tidak melalui jalur ilmu ini, ia akan kehilangan jalan petunjuk dan keberuntungan. Inilah konsensus orang arif. Tidak diragukan lagi bahwa pembenci ilmu adalah penyamun dan pelaku perbuatan iblis dan pengawalnya.

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa ilmu yang terpuji, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an dan As Sunnah, ilmu yg diwariskan para nabi. Rasulullah SAW bersabda : ”Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dirham dan dinar, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya, ia sangat beruntung. (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Ibnu Taimiyah membagi ilmu yang bermanfaat, menjadi tiga bahagian, yaitu :

Pertama, ilmu tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan lain-lain, seperti yang disebutkan adalah Al-Qur’an surat Al Ikhlas.
Kedua, ilmu tentang persoalan-persoalan masa lalu yang dikabarkan Allah; persoalan-persoalan masa kini, dan persoalan-persoalan masa mendatang, seperti yang di kabarkan dalam Al-Qur’an, yaitu ayat-ayat tentang kisah-kisah, janji-janji, ancaman, surga, neraka, dan sebagainya.
Ketiga, ilmu tentang perintah Allah yang berhubungan dengan hati dan anggota badan, seperti iman kepada Allah melalui pengenalan hati serta amaliah anggota badan. Pemahaman ini bersumber pada pengetahuan dasar-dasar iman dan kaidah-kaidah islam. Berawal dari pemahaman ini, tersusunlah pemahaman tentang ketetapan perbuatan-perbuatan lahiriah, sebagaimana dapat dijumpai dalam kitab-kitab fiqh yg dimaksudkan untuk mengetahui hukum-hukum perbuatan lahir. Hukum-hukum tersebut merupakan dari ilmu dinniyah.

Banyak orang yang masih keliru memahami masalah ilmu. Mereka memahami Al-Qur’an dan As Sunnah hanya sebatas verbalitas semata, dan tidak memahami hakekat yang terkandung di dalamnya. Betapa banyak orang yang hafal ayat Al- Qur’an, namun tidak memahami isinya. Perbuatan seperti ini tentu saja bukan termasuk perbuatan orang-orang beriman, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :”Perumpamaan orang yang beriman membaca Al Qur’an seperti jeruk sitrun yang baunya wangi dan rasanya manis. Perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Al-Qur’an seperti kurma yang tidak berbau dan rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti sekuntum bunga yang baunya wangi, tetapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti labu yang tidak berbau dan rasanya pahit. (HR Bukhari dan Muslim)

Seorang mukmin yang tidak hafal huruf-huruf dan surat-surat Al Qur’an lebih baik dari pada seorang tidak beriman atau munafik yang menghafal Al Qur’an. Namun seorang mukmin yang berpengetahuan dan bijak-yaitu mukmin yang dikaruniai ilmu dan iman-jauh lebih baik dari pada mukmin yang tidak berilmu.
Ilmu yang sempurna adalah ilmu yang diendapkan dalam hati, kemudian diamalkan. Inilah yang juga disebut ilmu bermanfaat, yang merupakan sendi terpenting dari hikmah. Ilmu ini akan memberikan kebaikan kepada pemiliknya, sedangkan ilmu tanpa amal akan menghujat pemiliknya pada hari kiamat. Oleh karena itu, Allah memperingatkan kaum beriman yang hanya bisa berbicara tetapi tidak melakukan apa-apa. Firman-Nya :”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak perbuat ? Amat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu kerjakan.” (Ash Shaaf: 2 – 3) . Allah juga memperingatkan kita agar tidak meyembunyikan ilmu. Kita diperintahkan untuk menyampaikan ilmu yang merupakan karunia Allah itu sebatas kemampuan kita. Allah tidak memaksakan seseorang kecuali dalam batas kemampuannya. Allah berfirman :”Sesungguhnya orang -orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan, berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati. (Al Baqarah:159)
Meskipun ayat diatas ditujukan kepada Ahli Kitab, hukumnya berlaku umum bagi setiap orang yang menyembunyikan ilmu pengetahuan dan petunjuk-petunjuk kebenaran yang diturunkan Allah. Dengan demikian, jelaslah jalan menunju surga dan jalan menuju neraka. Orang yang rugi adalah orang yang menyembunyikan sesuatu yang diturunkan Allah, apalagi menipu hamba-hamba-Nya. Ia akan dilaknat Allah dan semua makhluk-Nya, karena dia telah menipu makhluk, merusak dien/agama, dan menjauhkan diri dari rahmat Allah. Sebaliknya, orang yang mengajarkan kebenaran dan kebaikan kepada manusia, akan dimintakan ampun oleh setiap makhluk, termasuk ikan-ikan dan burung-burung, karena dia telah berbuat untuk kemaslahatan makhluk, menegakkan dien, dan mendekatkan makhluk kepada Allah.

Masih dalam kaitan ini , Nabi SAW bersabda :”Orang yang ditanya tentang ilmu, lalu menyembunyikannya (merahasiakannya), maka kelak pada hari kiamat pada mulutnya akan dipasang kendali dari api neraka. (HR Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Demikianlah, sebuah ilmu dikatakan bermanfaat jika disertai amal. Sehubungan dengan ini, Sufyan bin Uyainah berkomentar, manusia paling bodoh adalah yang membiarkan kebodohannya, manusia paling pandai adalah yang mengandalkan ilmunya, sedangkan manusia paling utama adalah yang takut kepada Allah. Ali bin Abi Thalib r.a. berpesan :”Wahai orang-orang berilmu, amalkan ilmu kalian, karena orang yang mengamalkan ilmunya atau orang yang perbuatannya sesuai dengan ilmunya, dialah mukmin sejati.” Abu Darda berkata :”Tidaklah kamu menjadi orang yang berfatwa sebelum kamu berilmu, dan tidaklah kamu indah dengan berilmu, sebelum kamu beramalkannya.”

Simak pula perkataan seorang penyair :”Jika ilmu tidak kau amalkan, ia akan menjadi bukti atasmu. Dan kamu beralasan jika kamu tidak mengetahuinya. Kalau kamu memperoleh ilmu. Sesungguhnya, setiap perkataan seseorang akan dibenarkan oleh perbuatannya.

Dari penjelasan di atas kita dapat mengetahui bahwa ilmu tidak akan menjadi bagian dari sendi-sendi hikmah kecuali jika disertai amal. Setiap ilmu yang dipelajari sahabat nabi atau generasi salafus shaleh selalu disertai amal. Karena itu, segala perkataan, perbuatan, dan gerak-gerik mereka senantiasa penuh hikmah. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda :”Tidak ada iri kecuali terhadap dua oang, yakni: orang yang dikaruniai harta lalu disalurkannya pada jalan yang hak dan orang yang diberi hikmah (ilmu) lalu dia amalkan dan ajarkan. (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi pernah mendoakan Abdullah bin Abbas r.a. agar ia diberi hikmah dan pemahaman dalam agama. Doa beliau SAW, “Ya Allah, ajarilah ia hikmah”. Dalam la fazh lain, “Ya Allah ajarilah ia Al Kitab.” Atau, “Ya Allah, berilah ia pemahaman dalam agama”. (HR. Bukhari).

Banyak cara untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat. Namun yang terpenting adalah sebagai berikut:

1. Seorang hamba hendaknya meminta ilmu yang bermanfaat kepada Rabb-nya. Allah telah memerintahkan kepada Nabi SAW agar minta ditambahkan ilmu kepada-Nya. Allah berfirman :”…Dan katakanlah,’Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu. (Thaha:114). Salah satu doa beliau SAW adalah :”Ya Allah, berilah manfaat ilmu yang Engkau ajarkan kepadaku. Ajarkanlah aku sesuatu yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah aku ilmu.”

2. Bersungguh-sungguh dan berkeinginan keras dalam mencari ilmu, serta dengan mengharap ridha Allah SWT. Terlebih dalam menuntut ilmu Al Kitab dan As Sunnah.
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki telah datang kepada Abu Hurairah, dan berkata, “Aku ingin belajar ilmu dan aku khawatir akan menyia-nyiakannya”. Abu Hurairah menjawab, “Cukuplah jika engkau tidak menyia-nyiakannya”.
Ketika ditanya tentang bagaimana cara memperoleh ilmu, sebagian ahli hikmah mengatakan bahwa cara memperoleh ilmu adalah dengan kemauan keras, senang mendengar dan mencarinya, mengajarkan kepada yang tidak tahu, dan belajar kepada yang tahu. Jika hal itu telah dilakukan, berarti kita telah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya, dan memelihara sesuatu yang telah kita ketahui. Dalam kaitan ini, Imam Syafi’i mengatakan, “Kamu tidak akan memperoleh ilmu, kecuali dengan enam hal: kecerdasan, gemar belajar, sungguh-sungguh, memiliki biaya, bergaul dengan guru, dan perlu waktu”.

3. Menjauhi segala maksiat dengan bertakwa kepada Allah. Hal ini merupakan faktor terpenting untuk memperoleh ilmu. Allah berfirman :”…Dan bertakwalah kepada Allah. Allah mengajarmu, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah: 282). “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan/pembeda… (QS.Al Anfal: 29) . Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa orang yang bertakwa kepada Allah akan diberi ilmu, sehingga ia akan mampu membedakan yang hak dan yang bathil. Dalam kaitan ini, Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Seorang hakim hendaknya mempunyai lima sifat, yaitu: faham, sabar, tidak maksiat, tegas dan menyadari tanggung jawab ilmu”. Imam Syafi’i pernah mengeluh kepada Waki’ (guru) tentang kesulitannya dalam menghafal. Kemudian dikatakan kepada imam Syafi’i bahwa ilmu merupakan cahaya Allah, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.

4. Tidak sombong dan tidak malu dalam mencari ilmu. Aisyah pernah mengatakan, “Wanita terbaik adalah wanita kaum Anshar, karena mereka tidak malu bertanya tentang agama”. Sebuah riwayat mengatakan bahwa Ummu Sulaiman pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu kepada yg hak, apakah wanita wajib mandi jika mimpi ?” Nabi SAW menjawab, “Ya, jika melihat air.” Seorang Mujahid mengatakan, “Orang yg malu belajar dan sombong tidak akan mendapat ilmu.”

5. Ikhlas dalam mencari ilmu. Rasulullah SAW bersabda :”Barang siapa belajar suatu ilmu yang terkait dengan maksud karena Allah, tetapi dipelajari untuk tujuan keuntungan dunia, maka dia tidak akan mencium harumnya surga pada hari kiamat. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

6. Mengamalkan ilmu. Telah dibahas sebelumnya bahwa ilmu tidak menjadi hikmah, kecuali jika diamalkan dengan ikhlas dan berkesinambungan.

——————

[sumber : Dakwah Islam Dakwah Bijak, Said bin Ali bin Wahif Al Qahthani, Penerjemah Masykur Hakim dan Ubaidillah, GIP 1994 hal. 32-39]

http://www.salafyoon.net/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=162&PHPSESSID=3b42d4a0a5235333b2322947028e205c

“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu[*], dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS.Thaahaa : 114)

[*] Maksudnya: Nabi Muhammad SAW dilarang oleh Allah menirukan bacaan Jibril as. kalimat demi kalimat, sebelum Jibril as. selesai membacakannya, agar Nabi Muhammad SAW menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan itu.

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 029/th.03/Safar-Rabi’ul Awal 1428H/2007M

 

 

 

 

 

 


Ilmu Dihilangkan Dan Kebodohan Merajalela

April 26, 2007

Di antara tanda akan datangnya kiamat lagi ialah akan dihapuskannya ilmu (tentang Ad-Din) dan merajalelanya kejahilan. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, artinya :”Di antara tanda-tanda akan datangnya kiamat ialah dihilang kannya ilmu (tentang Ad-Din) dan tetapnya kejahilan”. (Shahih Bukhari, Kitab Al-Ilm, Bab Raf’i Al-Ilmi wa Zhuhuri Al-Jahli 1:178, Shahih Muslim, Kitab Al-Ilm, Bab Raf’i Al-Ilmi wa Qabdhihi wa Zhuhuri Al-Jahli wa Al-Fitan fi Akhir Az-Zaman 16:222). Imam Bukhari meriwayatkan dari Syaqiq, katanya : Saya pernah bersama-sama dengan Abdullah dan Abu Musa, mereka berkata : Nabi SAW bersabda, artinya : “Sesungguhnya menjelang datangnya hari kiamat akan ada hari-hari diturunkannya kejahilan dan dihilangkannya ilmu (Ad-Din)”. (Shahih Bukhari, Kitab Al-Fitan, Bab Zhuhuri Al-Fitan 13:13). Dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Haurairah Ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, artinya :”Jangka waktu akan semakin dekat, ilmu (tentang Ad-Din) akan dihilangkan, fitnah akan merajalela, penyakit kikir akan dicampakkan (dalam hati), dan peperangan akan banyak terjadi”. (Shahih Muslim, Kitab Al-Ilm, Bab Raf’i Al-Ilm 16 : 222-223).

Ibnu Baththal berkata :”Tanda-tanda akan datangnya kiamat yang dikandung dalam hadits ini telah kita lihat dengan jelas, yaitu ilmu tentang Ad-Din telah berkurang, kebodohan merajalela, penyakit kikir telah dicampakkan dalam hati banyak orang, fitnah merajalela, dan peperangan banyak terjadi”. (Fathul Bari 13:16)

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengomentarinya demikian :”Yang nampak, bahwa diantara tanda-tanda tersebut yang disaksikannya itu memang banyak terjadi di samping adanya keadaan yang merupakan kebalikan dari itu. Dan yang dimaksud oleh hadits tersebut ialah dominannya hal-hal itu sehingga tidak ada yang tidak demikian melainkan sangat jarang. Inilah yang ditunjuki oleh hadits dengan ungkapannya ‘dihilangkan ilmu (Ad-Din)’, maka yang tinggal hanyalah kebodohan.

Namun hal ini tidak mencegah kemungkinan adanya segolongan ahli ilmu, karena pada waktu itu golongan tertutup di tengah-tengah masyarakat yang jahil tentang ilmu Ad-Din”. (Fathul-Bari 13:16). Dan penghapusan ilmu Ad-Din ini ialah dengan kematian para ulamanya. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Ra., ia berkata : saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, artinya : “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu (tentang Ad-Din) dengan serta merta dari hamba-hamba-Nya, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mematikan para ulama. Sehingga apabila tidak ada lagi orang yang alim (mengerti tentang Ad-Din), maka orang-orangpun mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil, lantas mereka ditanya, kemudian memberikan fatwa tanpa berdasarkan ilmu, sehingga mereka sendiri sesat dan menyesatkan (orang lain)”. (Shahih Bukhari, Kitab Al-Ilm, Bab Kaifa Yuqbadhu Al-Ilm 1:94, Shahih Muslim, Kitab Al-Ilm, Bab Raf’i Al-Ilm wa Qabdhihi wa Zhuhuri Al-jahl wa Al-Fitan 16: 223-224)

Imam Nawawi berkata :”Hadits ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan mencabut ilmu (sebagaimana yang tersebut dalam hadits-hadits di muka secara mutlak) bukanlah menghapuskannya dari dada (hati) para penghafalnya. Tetapi, yang dimaksud ialah dengan matinya para pemilik ilmu tersebut. Lantas manusia mengangkat orang-orang yang jahil untuk menghukum (menetapkan dan memutuskan hukum) dengan kejahilannya sehingga mereka sendiri sesat dan menyesatkan orang lain”. (Syarah Muslim 16:223). Yang dimaksud dengan ilmu di sini ialah ilmu tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah, yaitu ilmu yang diwarisi dari para Nabi, karena para ulama adalah pewaris (yang mewarisi) para Nabi. Dengan lenyapnya para ulama maka lenyap pulalah ilmu (tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah). Sunnah mati, bid’ah-bid’ah bermunculan, dan kejahilan merajalela.

Adapun ilmu tentang keduniaan, maka ia semakin bertambah dan ia bukan yang dimaksud dalam hadits-hadits tersebut. Persepsi ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW, artinya :”Lalu mereka ditanya, lantas mereka memberi fatwa tanpa berdasarkan ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lain”. Sedang kesesatan itu hanya terjadi karena kejahilannya terhadap Ad-Din (agama). Dan ulama yang sebenarnya ialah ulama yang mengamalkan (menerapkan) ilmu dan mengarahkan dan menunjukkan umat ke jalan yang lurus dan petunjuk. Karena ilmu tanpa amal itu tidak ada faedahnya, bahkan menjadi bencana bagi pemiliknya. Dan di sebutkan dalam Shahih Bukhari, dengan lafal, artinya :”Dan amal pun berkurang”. (Shahih Bukhari, Kitab Al-Adab, Bab Husnil Khuluq was-Sakha’ wa Maa Yukraha min Al-Bukhl 10:10; 456). Sejarawan Islam, Imam Adz-Dzahabi, setelah menyebut segolongan ulama, beliau berkata, “Dan mereka tidak diberi ilmu melainkan hanya sedikit. Dan sekarang tidak ada yang tersisa dari ilmu-ilmu yang sedikit itu melainkan sedikit sekali yg ada pada orang yang jumlahnya sedikit. Alangkah sedikitnya orang yang mengamalkan ilmu yang sedikit itu. Semoga Allah mencukupi kita, dan Dia-lah sebaik-baik Pengurus”. (Tadzkiratul-Huffazh 3: 1031)

 

Kalau keadaan pada zaman Imam Adz-Dzahabi saja demikian, maka bagaimana lagi dengan zaman kita sekarang ini ? Sesungguhnya semakin jauh zaman itu dari zaman kenabian maka semakin sedikitlah ilmu tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah dan semakin banyak kebodohan. Karena, para sahabat Radhiyallahu anhum adalah orang-orang yang paling mengerti di kalangan umat ini, kemudian para tabi’ut tabi’in, dan mereka inilah sebaik-baik generasi sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yg artinya : “Sebaik-baik manusia ialah generasiku, kemudian orang yang sesudah mereka, kemudian orang yang sesudah mereka lagi”. (Shahih Muslim, Kitab Fadhail Ash-Shaha bah, Bab Fadlish Shahabah Radhiyallahu anhum Tsumma Al-Ladzina Yaluunahum 16: 86) . Ilmu tentang Ad-Din itu akan senantiasa berkurang dan kebodohan akan senantiasa bertambah, sehingga orang tidak tahu lagi apa-apa yang difardhukan oleh Islam. Hudzaifah Ra., katanya : Rasulullah SAW bersabda, artinya :”Akan hancur Islam ini seperti hancurnya kain yg telah usang, sehingga tidak diketahui orang lagi apa itu puasa, apa itu shalat, apa itu ibadah haji, dan apa itu zakat. Dan terbanglah Kitab Allah pada suatu malam, sehingga tidak ada lagi yang tinggal di bumi satu ayat pun, dan tinggallah beberapa golongan manusia laki-laki dan wanita yang telah berusia lanjut dan lemah, yang berkata. ‘Kami dapati bapak-bapak kami dahulu mengucapkan kaimat ini : Laa Ilaaha Ilallah, maka kami mengucapkan kalimat ini”. Maka Shilat (salah seorang perawi hadits ini) bertanya kepada Hu dzaifah, “Apa gunanya Laa ilaaha illallah kalau mereka tidak tahu lagi apa itu shalat, apa itu puasa, apa itu haji, dan apa itu zakat ?”. Lalu Hudzaifah berpaling tidak menjawabnya. Kemudian Shilat menanyakan lagi sampai tiga kali, dan Hudzaifah pun selalu berpaling, dan pada kali yang ketiga itulah Hudzaifah menjawab :”Wahai Shilat, kalimat Laa ilaaha illallah ini akan dapat menyelamatkannya dari api neraka”. Demikian diucapkan oleh Hudzaifah sebanyak tiga kali. (Sunan Ibnu Majah, Kitab Al-Fitan, Bab Dzahabi Al-Qur’an wa Al-Ilm 2 : 1344-1345, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 4:473, dan dia berkata, “Ini adalah hadist shahih menurut syarat Muslim, hanya saja beliau berdua (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya”. Dan Adz-Dzahabi menyetujui pendapat Al-Hakim. Ibnu Hajar berkata. “Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang kuat”. Fathul-Bari 13:16. Dan Al-Albani berkata : “Shahih”. Shahih Al-Jami’ ASh-Shaghir 6:339, hadits nomor 7933).

 

Abdullah bin Mas’ud Ra. berkata :”Sungguh Al-Qur’an akan dicabut dari kalian, yaitu ia akan diterbangkan pada suatu malam, hingga ia lenyap dari hati manusia dan tidak ada lagi yang tinggal di muka bumi”. (Riwayat Thabrani, dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih, kecuali Syaddad bin Ma’qil, dan dia adalah orang kepercayaan. Majmu’uz Zawaid 7: 329-330. Ibnu Hajar berkata. “Riwayat ini sanadnya shahih, tetapi mauquf. Fathul-Bari 13:16”. Saya (Yusuf bin Abdullah) berkata. “Isi riwayat seperti ini tidak mungkin diucapkan berdasarkan pikiran semata-mata, karena itu dihukum marfu”.)

Ibnu Taimiyah berkata. “Al-Qur’an akan diterbangkan pada malam hari dari mushaf-mushaf dan dari dalam hati pada akhir zaman, maka tidak ada satu pun kalimat yg tertinggal dalam dada, dan tidak ada satu huruf pun yang tertinggal dalam mushaf-mushaf”. (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 3: 198-199)

Dan yg lebih besar lagi dari ini ialah akan tidak disebut-sebut lagi lafal Allah di muka bumi. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Anas Ra. , bahwa Rasulullah SAW bersabda, artinya :”Tidak akan datang kiamat sehingga di muka bumi tidak diucapkan lagi lafal Allah”. (Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Dzahaabil Iman Akhiruzzaman 2:178)

Ibnu Katsir berkata : “Terdapat dua pendapat mengenai makna hadits ini, yaitu :

1. Maknanya, bahwa tak ada lagi orang yang mengingkari kemungkaran dan melarang orang lain melakukannya. Pengertian ini diambil dari sabda beliau : “…. sehingga tidak ada lagi diucapkan Allah, Allah”. sebagaimana pula yang tertera dalam hadits Abdullah bin Amr :”Maka pada waktu itu hanya tinggal orang-orang bodoh yg tidak mengerti kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran”. (Musnad Ahmad 11:181 -182 dengan syarah Ahmad Syakir. Beliau berkata. “Isnadnya shahih”. Mustadrak Al-Hakim 4: 435, dan beliau berkata. “Ini adalah hadits shahih menurut syarat Syaikhani (Bukhari dan Muslim) apabila Al-Hasan mendengarnya dari Abdullah bin Amr”. Perkataan Al-Hakim ini juga disetujui oleh Adz-Dzahabi)

2. Sehingga lafal Allah tidak disebut lagi di muka bumi dan tidak lagi dikenal nama itu. Hal ini terjadi ketika zaman sudah rusak, nilai kemanusiaan telah hancur, kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan telah merajalela. (An-Nihayah fil fitan wal Malahin 1: 186 dengan tahqiq Dr Thaha Zain)

 

[Disalin dari buku Asyratus Sa’ah, Pasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil, MA. edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat peterbit Pustaka Mantiq, hal. 101-105. Penerjemah Drs As’ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi.]

http://assunnah.org/

note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang akan terus mengalir walau seseorang telah mati adalah imu yang bermanfaat.

 

Menghadiri Majelis Ilmu

Dari Abu Waqid Al Laitsi ra, “Ketika Nabi sedang duduk dalam masjid bersama-sama dengan jamaah, datang tiga orang, yang dua orang masuk ke dalam masjid, yang seorang terus saja pergi. Setelah kedua orang yang masuk itu sampai di hadapan Rasulullah, yang seorang melihat tempat lowong di tengah-tengah jamaah, maka duduklah dia disitu. Sedang yang seorang lagi duduk di belakang mereka. Dan orang ke tiga terus saja pergi. Ketika Rasulullah saw selesai memberikan ceramah, beliau berkata, :”Baiklah saya jelaskan kepada Anda tentang orang bertiga itu; yang seorang mencari tempat di sisi Allah, maka diberi oleh Allah 1], yg kedua merasa malu-malu, maka Allah malu pula kepadanya 2], sedang yg ketiga tidak mau tahu, maka Allah tak mau tahu pula kepadanya 3]”. – Shahih Bukhari, jld.1 hadits no.55

Keterangan :

1] Mencari tempat di sisi Allah, artinya masuk ke dalam majlis pengajaran agama Allah. Diberi tempat oleh Allah, artinya diberi pahala.

2] Dia malu meninggalkan majlis pengajaran Allah, dan Allah ‘malu’ pula kepadanya, artinya Allah tetap memberi pahala kepadanya.

3] Dia tidak mau mendengarkan pengajaran agama Allah, karena itu Allah tidak hendak mengacuhkan kepadanya.

 

Humaid bin Abdurrahman ra mengatakan bahwa ia mendengar Muawiyah berkhutbah, katanya, “Dia mendengar Rasulullah saw bersabda :”Barangsiapa dikehendaki akan beroleh kebaikan, diberi-Nya pengertian dalam hal agama. Saya hanya membagi-bagikan , sedang yang memberi ialah Allah *]. Selama (ummat islam) berdiri teguh di atas agama Allah, tidak satu pun penentang-penentang mereka yang sanggup membinasakan mereka sapi hari kiamat”. – Shahih Bukhari, jld 1, hadits no.58

Keterangan :

*] Nabi hanya membagi-bagikan (menyiarkan, meyampaikan) ilmu; sedang yang memasukkan ilmu itu ke dalam hati manusia ialah Allah.

(sumber : Terjemah Hadits Shahih Bukhari, A.Rahman Zainuddin MA, dkk. Penerbit Wijaya Jakarta. Cetakan 13, 1992).

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. Surat An Nahl: 43).

 

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 029/th.03/Safar-Rabi’ul Awal 1428H/2007M