Menggunakan Dalil Dari Al-Kitab

Maret 3, 2008

Labbaik edisi no.36 ini secara khusus berusaha mengungkap perihal keberadaan nubuat-nubuat (tanda kenabian) rasulullah SAW yang terdapat dalam injil, baik dalam perjanjian lama maupun yang baru. Dan nyata-nyata dalam edisi kali ini bertebaran dalil-dalil yang berasal dari alkitab (injil). Lantas timbul pertanyaan, “Bolehkah kita memakai dalil-dalil berasal dari injil? Bukankah Al Qur’an itu merupakan penasakh dari kitab-kitab sebelumnya ?”.

Benar, Al Qur’an adalah penasakh dari kitab-kitab sebelumnya. Namun bukankah di dalam Al Qur’an telah tercantum ayat yang artinya :”“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil (menutupi firman-firman Allah yang termaktub dalam Taurat dan Injil dengan perkataan-perkataan yang dibuat-buat mereka (ahli Kitab) sendiri), dan menyembunyikan kebenaran (maksudnya: kebenaran tentang kenabian Muhammad SAW yang tersebut dalam Taurat dan Injil), pada hal kamu mengetahuinya ?“. (QS.Ali ‘Imran : 71). Juga dalam ayat, yg artinya : “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS.Ash Shaff : 6).

Untuk membuktikan ayat-ayat sebagaimana tersebut di atas, mau tidak mau, suka tidak suka, ya terpaksa harus membuka kitab-kitab mereka itu. Dan setelah ditemukan bukti-bukti dalam alkitab, maka sudah selayaknya kita sampaikan bukti-bukti yang berasal dari ayat-ayat injil tersebut.

Bayangkan, apa yang bakal terjadi, seandainya kita ingin menyampaikan tentang kebenaran yang haq kepada golongan ahli kitab namun hanya menggunakan dalil-dalil dari Al Qur’an dan sunnah rasulullah SAW saja ?. Berbagai reaksi dengan sangat mudah bisa kita gambarkan, terutama reaksi-reaksi yang sifatnya negatif.
Memang benar, apapun permasalahannya, sebagai seorang muslim tidak bisa tidak, harus selalu berpedoman kepada Al Qur’an dan hadits, karena kedua pusaka inilah yg dipesankan nabi SAW supaya dipegang teguh agar tidak sampai tersesat. Termasuk juga dalam menyampaikan kebenaran jalan hidup terhadap kaum ahli kitab. Namun harus diingat bahwa, lain masalah lain pula caranya. Betapa mudahnya kita membayangkan bakal menghadapi muka-muka berwarna merah karena marah, apabila kita ngotot menggunakan Al Qur’an (dan Hadits) sebagai dalil-dalil untuk mengawalinya, apalagi bila melihat bahwa dalam Al Qur’an bertebaran ayat yang jelas-jelas mengkafirkan para ahli kitab itu.

Kesimpulannya, secara teori, apabila kita tetap ngotot mengutamakan dan mendahulukan Al Qur’an dan hadits sebagai dalil-dalilnya, niscaya akan sulit untuk meraih keberhasilan. Memang ada sebagian kecil dari para ahli kitab itu yang cukup dihadapi dengan menggunakan kedua dalil ( Al Qur’an dan hadits), dan hal itu sudah mampu untuk menyadarkan mereka tentang kebenaran Islam. Tapi faktanya kejadian seperti ini sangat-sangat langka.
Cara yang paling jitu adalah memulainya dengan memakai dalil-dalil yang ada dalam kitab-kitab para ahli kitab itu sendiri, untuk menunjukkan berbagai kelemahan dan kesalahannya, baru kemudian menjelaskan tentang kebenaran dengan menggunakan dalil-dalil dari Al Qur’an dan hadits. Meski pun cara seperti ini tidak menjamin pasti berhasil, namun fakta membuktikan bahwa strategi seperti ini memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih baik.

Atas dasar argumentasi di atas, sehingga kebanyakan ulama-ulama Islam ahli kristologi apabila bermaksud menyampaikan dalil-dalil perihal kebenaran yg haq, termasuk perihal nubuat-nubuat kerasulan Muhammad SAW dalam ayat-ayat al-kitab, maka yg biasa disampaikan justru dalil-dalil yg diambil dari alkitab itu sendiri. Banyak ulama-ulama Islam ahli kristologi yang menggunakan metode seperti ini, dari kalangan ulama klasik tercatat antara lain : Ibnu Hazm, Ibnu al-Qayyim, Rahmatullah bin Khalil al-Hindi, dll. Adapun di abad modern ini lebih banyak lagi kita dapat menemukannya, misalnya : Syaikh Ahmed Deedat, Abu Deedat, LS.Mokoginta, Irene Handono, Prof.HS.Tharick Chehab, Dr.Jerald F.Dirk, dll. Hal ini dipertegas oleh pernyataan Syeikh Abdullah Bin Abdurrahman Al Jibrin, “Cara seperti ini tidak melanggar syariat Islam. Penggunaan dalil-dalil kitab para ahli kitab (Injil) adalah lebih mudah, karena di samping tidak bertentangan dengan kondisi Al-Qur’an yang berlaku sebagai penasakh kitab-kitab mereka, juga untuk membuktikan terlebih dulu berbagai kesalahan yang ada dalam kitab para ahli kitab tersebut (Injil)”.

Dalil-dalil kedekatan hubungan antara Isa AS dengan Muhammad SAW :

Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Tajriidu Asmaaish-Shahabah 1 : 432, berkata : “Isa putra Maryam adalah seorang sahabat dan seorang Nabi, karena pernah melihat Nabi SAW pada malam isra’ dan mengucapkan salam kepadanya. Maka dia adalah sahabat yang paling akhir meninggalnya.” Khususiyyah (keistimewaan) Isa didasarkan pada sabda Nabi SAW yang artinya :”Aku adalah orang yang paling dekat dengan Isa putra Maryam. Antara aku dan dia tidak diselingi oleh Nabi lain.” [Shahih Bukha ri 6 : 477-478, Kitab Ahadiitsil Anbia’, Bab Qaulilah “Wadzkur fil Kitaabi Maryam”; juga dlm Shahih Muslim 15 : 119, Kitab Al-Fadhaail, Bab.Fadhaail Isa AS].

Rasulullah SAW adalah orang yang paling istimewa dan paling dekat dengan Isa AS, karena Isa lah yang menyampaikan berita akan datangnya Rasulullah SAW, dan menyeru manusia untuk membenarkan dan mengimaninya, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaff : 6 di atas. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Minhaj Fi Syu’abil Imam 1 : 424-425 oleh Al-Hummi; dalam At-Tadzkiroh oleh Al-Qurthubi : 679; juga dalam Fathul-Bari 6 : 493; dan catatan kaki kitab At-Tashrih bimaa Tawaata ro Fii Nusuulil Masiih: 94 oleh Syekh Abdul Fattah Abu Ghodah.

Dalam sebuah riwayat disebutkan :”Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, maukah engkau memberitahukan kepada kami tentang dirimu ?’. Beliau menjawab, ‘Mau, aku adalah realisasi do’a Ibrahim dan kabar gembira yang pernah disampaikan saudaraku Isa. ” [Ibnu Ishaq dalam As-Siroh, riwayat di atas dinukil pula dalam Tahdzib Siroh Ibnu Hisyam : 45 oleh Abdus-Salam Harun, penerbit Al-Majma’ul Ilmi Al-‘Arabi Al-Islami, Beirut]. Ibnu Katsir mengomentari tentang isnad riwayat ini, beliau berkata, “Ini isnad yang bagus. ” Dan beliau mengemukakan beberapa riwayat sebagai syahidnya yang berasal dari riwayat oleh Imam Ahmad. Penjelasan ini dapat dilihat dalam Tafsir Ibnu Katsir 8 : 136; dan dalam Musnad Imam Ahmad 4 : 127, 5: 262.

Dalil-dalil perihal kedekatan hubungan antara rasulullah SAW dengan Isa AS, sebagaimana dikutip di atas tentu sangat kecil kemungkinannya dibaca oleh saudara kita dari kalangan ahli kitab, apalagi kalau sampai memunculkan hubungan-hubungan antara Isa AS (yang menurut mereka adalah Tuhan) dengan Muhammad SAW. Karena kebanyakan dari mereka mempunyai anggapan, bahwa Yesus itulah utusan paling akhir, tidak ada lagi sesudahnya. Maka betapa sulitnya apabila tidak menggunakan dalil-dalil dari kitab para ahli kitab itu ?. Wallahu a’lam.

Maraji’ :
– Syeikh Abdullah Bin Abdurrahman Al Jibrrin, “Sosok Isa Dalam Sorotan Ulama”.
– Asyratus Sa’ah (Tanda-Tanda Hari Kiamat), Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabl MA, Penerjemah Drs As’ad Yasin, Penerbit CV Pustaka Mantiq.

[dari : Mukaddimah Labbaik edisi : 036/th.04/Dzulhijjah-Muharram 1428H/2008M]

Iklan

Bukti-bukti Sejarah Bahwa Muhammad Adalah Nabi Terakhir Yang Ditunggu-tunggu

Januari 29, 2008

Dr. J. Verkuyl seorang tokoh nashrani membantah perihal kedatangan rasulullah SAW yang tanda-tandanya terungkap dalam injil, dia menulis sebagai berikut :”Apabila orang menyangka bahwa sesudah Tuhan Yesus, masih ada orang yang datang menambah pengajaran Tuhan Yesus atau menyangka masih ada orang yang seperti Yesus, maka salahlah ia. Allah telah berfirman dan menyatakan diri sesempurnanya didalam Tuhan Yesus Kristus. Seterusnya ia menulis lagi: “Jadi sesudah Kristus tidak ada lagi seorang nabi yang muncul, yang dapat menambah, mengubah, mengganti atau membatalkan pengajarannya. Sesudah Yesus tidak ada lagi seorang Nabi yg muncul yg dapat menambah, mengubah dan membatalkan ajaran Yesus. Pendapat itu menurut ajaran agama Kristen sudah seharusnya demikian. Seperti telah diterangkan, menurut ajaran agama Kristen, kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk menyelesaikan akibat kesalahan Adam mengenai pelanggaran dalam persoalan memakan buah kayu yang terlarang. Adam telah berdosa sebab memakan sebuah buah kayu di taman Firdaus dan manusia seluruhnya telah mewarisi dosa itu. Maka Yesus sebagai anak Allah lalu datang ke dunia menjelma menjadi manusia kemudian mati disalibkan untuk menebus dosa itu. Menurut ajaran agama Kristen, Yesus telah melaksanakan tugasnya. Dengan demikian persoalannya telah selesai. Maka tidak ada yang akan di tambah dan yang akan dibatalkan lagi”.

Menurut ajaran agama Islam Yesus hanya seorang manusia yang diutus Tuhan bertugas menjadi Nabi untuk memimpin manusia pada jalan kebaikan. Ia termasuk golongan Nabi-nabi yang sudah diutus Tuhan pada zaman-zaman yang lalu dan telah melakukan tugasnya sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang diwahyukan Tuhan kepadanya. Oleh karena manusia sesudah Yesus masih memerlukan petunjuk Tuhan yg benar dan yang lebih sempurna, maka Tuhan mengutus lagi Rasul-Nya menyampaikan petunjuk itu. Tuhan telah mengutus Nabi Muhammad SAW Sebagai Rasul yang terakhir dengan membawa petunjuk yang lebih lengkap dan sempurna.

Lebih jauh lagi, sesudah Yesus sebetulnya masih ada nabi-nabi lagi, hal ini terungkap dalam Alkitab. Antara lain :

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 11 tersebut: (27) Pada masa itu datanglah beberapa orang nabi dari Jeruzalem turun ke Antiochia. (28) Maka bangkitlah seorang dari antara mereka itu bernama Agabus, lalu menyatakan dengan ilham Roh, bahwa suatu bala kelaparan yang besar akan jadi di seluruh dunia ini. Maka berlakulah yang demikian itu pada zaman Kalaudius.

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 21 tersebut: (10) Sementara kami tinggal beberapa hari lamanya disitu, maka turunlah dari tanah Judea seorang nabi, namanya Agabus. (11) lalu datang kepada kami, mengambil ikat pinggang Paulus, mengikat kaki tangannya sendiri serta berkata: “Inilah sabda Rohul kudus, bahwa orang yang empunya ikat pinggang ini, sedemikian inilah akan diikat di Jerusalem oleh orang Yahudi dan diserahkan ke tangan orang kafir.

Ayat-ayat ini menyatakan bahwa pada zaman rasul-rasul Yesus beberapa orang nabi telah datang dari Jerusalem ke Antiochia, seorang diantaranya bernama Agabus.

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 13 tersebut: (1) Adalah di Antiochia di dalam sidah jumat beberapa nabi dan guru, yaitu Barnabas dan Simon yang bergelar Nigar, dan Lukas orang Kireni, dan Manahen saudara susuan Herodes, raja seperempat negeri, dan Saul.

Dalam Kisah Rasul-Rasul pasal 15 tersebut: (32) Maka Yudas dan Silas, yang sendirinyapun nabi juga, menyegarkan hati segala saudara itu sambil meneguhkan mereka itu dengan beberapa banyak perkataan.

Dalam ayat ini disebutkan lagi bahwa pada zaman murid-murid Yesus ada lagi seorang Nabi yang bernama Silas. Dengan demikian ternyata bahwa menurut Alkitab masih ada Nabi yang datang sesudah Yesus. Jadi Yesus bukanlah Nabi terakhir.

Menurut Yesus masih akan datang lagi Nabi yang benar kemudiannya, karena itu ia menunjukkan tanda-tandanya. Ada nabi yang benar dan ada nabi yang palsu. Oleh karena itu beliau menunjukkan tanda-tanda pengenalannya. Dalam Injil Matius pasal 7 tersebut :

(15) Jagalah dirimu dari pada segala nabi palsu, yang datang kepadamu mereka seperti serigala buas.
(16) Dari pada buah-buahnya kamu akan mengenal dia. Pernahkah orang memetik buah anggur dari pada pohon duri, atau buah ara dari pada pohon unak ?
(17) Demikian juga tiap-tiap pohon kayu yang baik, berbuahkan buah yang baik; tetapi pohon kayu yang jahat, berbuahkan buah yang jahat.
(18) Tiada dapat pohon kayu yang baik berbuahkan buah yang jahat, atau pohon yg jahat itu berbuahkan buah yang baik.
(19) Tiap-tiap pohon kayu, yang tiada memberi buah yang baik, akan dipotong dan dibuangkan ke dalam api.
(20) Sebab itu dari pada buahnya kamu akan mengenal dia.

Seterusnya dalam 1 Yahya pasal 4 tersebut demikian :
(1) Hari segala kekasihku, janganlah percaya akan sebarang roh, melainkan ujilah segala roh itu kalau-kalau dari pada Allah datangnya; karena banyak nabi palsu sudah keluar ke seluruh dunia.
(2) Dengan yang demikian dapatlah kamu mengenal Roh Allah, yaitu tiap-tiap roh, yang mengaku bahwa Yesus Kristus sudah datang dengan keadaan manusia, itu dari pada Allah.
(3) dan tiap-tiap roh, yang tiada mengaku Yesus itu, bukanlah dari pada Allah, melainkan inilah roh di Dajjal, yang telah kamu dengar yang akan datang, dan sekarang ini sudah ada di dalam dunia.

Dengan ayat-ayat yang tersebut diatas ini Yesus menyuruh menjaga diri dari pada nabi-nabi palsu yang akan datang. Yesus menyuruh mengenalnya dari pada buahnya, baik itu jahat. Seterusnya Yesus menyuruh pula menguji tiap-tiap roh yang datang , apakah dari pada Allah atau dari pada Dajjal. Keterangan Yesus ini memberi pengertian bahwa Nabi yang benar akan datang lagi sesudah Yesus, karena ia masih menyuruh memeriksa dan mengujinya dengan mengemukakan tanda-tanda Nabi dan roh yang benar itu. Seandainya tiap-tiap Nabi yang akan datang palsu, tentulah Yesus tidak mengatakan demikian, tetapi ia akan memperingatkan supaya jangan memperca yai tiap-tiap Nabi yang akan datang, karena Nabi yang benar tidak akan datang lagi. Menurut Yesus, Nabi yang benar itu akan dapat diketahui dari pada buahnya yang baik dan dari pada ajarannya yang mengakui bahwa Yesus Kristus sudah datang dengan keadaan manusia. Tanda itu kedua-duanya telah sesuai kepada Nabi Muhammad SAW yg datang setelah Yesus. Nabi Muhammad SAW dengan ajaran-ajarannya yang lengkap dan sempurna telah mengeluarkan buah yang baik.

Dalam masa 23 tahun ia telah mengubah keadaan masyarakat yang buruk menjadi masyarakat yang sebaik-baiknya. Seterusnya buah ajarannya yang baik itu telah mendatangkan kebahagiaan bagi manusia berabad-abad lamanya. Selanjutnya Nabi Muhammad SAW telah mengakui bahwa Yesus Kristus benar-benar telah datang dalam keadaan manusia dan ia menolak dengan tegas Yesus telah datang dalam keadaan Tuhan atau anak Tuhan.

Bukti-bukti Sejarah Bahwa Kedatangan Muhammad Memang Ditunggu-tunggu
Menurut sejarah, orang Yahudi dan Kristen di sekitar zaman kelahiran Nabi Muhammad SAW memang menunggu kedatangan seorang Nabi. Hal itu dapat dibuktikan oleh keterangan sejarah sbb :

1. Ketika Nabi Muhammad SAW, berumur dua belas tahun ia dibawa oleh Abu Thalib, pamannya, ikut berniaga ke negeri Syam (Syria). Ketika mereka tiba dekat suatu tempat bernama Bushra (sebuah kampung diperbatasan tanah Arab dengan Syam), mereka bertemu dengan seorang pendeta Kristen yang tinggal di tempat itu bernama Bahiera. Pendeta itu bertanya kepada mereka tentang kedatangan seorang Nabi dari bangsa Arab yang dijumpai dalam kitab-kitab sucinya. Ketika ia memperhatikan tanda-tanda yang terdapat pada Nabi Muhammad, ia mengatakan kepada Abu Tahlib bahwa suatu keadaan yang luar biasa terdapat pada anak itu dan ia berharap supaya anak itu dipelihara baik-baik. Pendeta itu melihat Muhammad senantiasa dilindungi sekumpulan awan. Dalam keterangan ini, Bahiera menyatakan bahwa masih ada seorang Nabi yang akan datang di tanah Arab.

2. Ketika Nabi Muhammad SAW telah berumur empat puluh tahun dan ia sedang berada di gua Hira, datang kepadanya seorang malaikat yang menyatakan bahwa ia adalah Malaikat Jibril. Lalu kepada Muhammad SAW disampaikannya wahyu Al-Quran yang mula-mula. Sesudah kejadian itu, Muhammad kembali ke rumahnya dengan gemetar dan ketakutan. Khadijah, isterinya, lalu membawanya kepada seorang laki-laki yang telah tua, anak saudara bapaknya yang bernama Waraqah bin Naufal yang beragama Kristen dan pandai menulis Injil dalam bahasa Ibrani. Waraqah menerangkan bahwa yang datang kepada Muhammad SAW itu adalah utusan Tuhan yang juga pernah datang kepada Nabi Musa dahulu dan Muhammad adalah Nabi bagi umat saat ini. Disini Waraqah sebagai seorang alim Kristen mengakui bahwa masih ada seorang Nabi yang diutus Tuhan pada masa itu.

3. Pada ketika Nabi Muhammad SAW sedang tinggal di Mekkah, ia dan kaum muslimin pernah diboikot oleh orang-orang kafir penduduk Mekkah tiga tahun lamanya, sampai mereka memakan daun-daun kayu karena ketiadaan makanan. Selama pemboikotan tersebut, Nabi Muhammad SAW menyuruh sahabat-sahabatnya mengungsi ke negeri Ethiopia, Afrika, untuk meringankan penderitaan mereka. Delapan puluh tiga orang laki-laki dan delapan belas orang perempuan berangkat diketuai Jafar, anak Abu Thalib. Disana mereka diterima dengan baik oleh Negus, raja Ethiopia. Pada tahun yang ke tujuh hijrah, Nabi Muhammad SAW mengirim surat kepada Negus untuk mengajaknya memeluk Islam. Di Ethiopia surat itu disampaikan oleh Jafar kepada Negus. Ketika surat itu diterimanya ia berkata: “Aku menjadi saksi kepada Allah bahwa sesungguhnya dialah Nabi yang ditunggu-tunggu Ahli Kitab”.
Lalu ia menulis jawaban surat Nabi itu, antara lain katanya: “Saya mengakui bahwa tuan utusan Allah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya saya telah berbaiat kepada tuan dan telah berbaiat kepada anak saudara bapak tuan (yaitu Jafar anak Abu Thalib). Dan saya telah memeluk agama Islam dihadapannya karena Allah Tuhan semesta alam”. Negus ini sebelum memeluk agama Islam adalah seorang yang beragama Kristen. Dalam keterangannya diatas ia mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang ditunggu-tunggu orang Yahudi dan Kristen.

4. Pada musim haji pada tahun kesebelas, banyak orang Arab datang berkunjung ke negeri Mekkah, diantaranya enam orang penduduk Medinah. Mereka itu acapkali mendengar dari orang-orang Yahudi yang tinggal disekeliling kota Medinah itu mengatakan, bahwa seorang Nabi akan datang pada masa itu. Manakala mereka berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW dan mendengar pengajarannya, teringatlah mereka kepada ucapan orang-orang Yahudi tersebut Mereka lalu berbicara dengan sesamanya : “Sebenarnya inilah Nabi yang selalu disebut-sebut orang Yahudi itu. Maka janganlah mereka mendahului kamu mengikutnya”. Mereka lalu beriman dan kembali ke negeri Medinah menjadi penyiar Islam. Sehingga pada tahun kedua belas datang dua belas orang lagi, semuanya beriman juga. Dan pada tahun ketiga belas datang pula tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan, semuanya lalu masuk Islam. Dengan perantaraan penduduk Medinah yang masuk Islam itu agama Islam telah tersiar dengan semakin luas sehingga merata di tiap-tiap rumah di Medinah.

5. Pada tahun ketujuh hijrah Nabi SAW mengirim surat kepada raja-raja yang ada pada waktu itu untuk mengajak mereka memeluk Islam. Antara lain Nabi Muhammad SAW telah mengirim surat kepada Maqauqas pembesar Kibti di Mesir. Dan pembesar tersebut membalas surat Nabi itu sebagai berikut :”Kepada Muhammad anak Abdullah, dari Maqauqas, pembesar Kibti. Salam kepada tuan. Kemudian itu saya telah membaca surat tuan dan telah memahami apa yang tuan sebutkan didalamnya dan apa yang tuan ajak. Dan sebenarnya saya mengetahui bahwa seorang Nabi masih ada lagi. Saya menduganya bahwa ia keluar di Syam (Syria). Saya telah menghormati utusan tuan”.
Maqauqas ini seorang pembesar yang beragama Kristen. Walaupun ia tidak memeluk Islam, tetapi dalam suratnya itu ia mengakui bahwa masih ada seorang Nabi yang akan datang lagi.

6. Ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Medinah, beberapa waktu kemudian beliau di datangi oleh seorang pendeta besar Yahudi, bernama Abdullah bin Salam. Setelah pendeta itu bertemu dengan Nabi, ia lalu menanyai Nabi beberapa hal. Jawaban nabi itu meyakinkan kepadanya bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Sebab itu ia lalu masuk Islam. Dia berkata kepada Nabi: “Saya menyaksikan bahwa tuan adalah Rasul Allah dan tuan datang membawa kebenaran. Orang Yahudi mengetahui bahwa saya ada lah penghulu orang Yahudi dan anak penghulu mereka. Dan saya seorang alim di antara mereka dan anak dari seorang yang teralim diantara mereka. Harap tuan tanyakan kepada mereka siapa saya, sebelum mereka mengetahui bahwa saya telah Islam. Karena jika mereka nanti mengetahui saya telah Islam, akan bermacam-macam perkataan mereka mengenai saya.”

Nabi lalu memanggil orang-orang Yahudi. Mereka datang. Dan Abdullah bin Salam bersembunyi. Nabi meminta kepada mereka agar takut kepada Allah. Dan Nabi mengatakan dengan sumpah bahwa mereka mengetahui Muhammad SAW adalah benar Rasul kepada mereka yang membawa kebenaran. Lalu orang-orang Yahudi menjawab: “Kami tidak mengetahui hal ini”. Lalu Rasul bertanya: “Bagaimana kedudukan Abdullah bin Salam pada kamu ?”. Mereka menjawab: “Dia penghulu kami dan anak penghulu kami. Dia orang yang amat alim pada kami dan anak orang yang amat alim pada kami”. Maka kata Nabi : “Bagaimana jika ia telah Islam ?”. Jawab mereka: “Ia tidak akan mau masuk Islam. Tiga kali Nabi mengatakan, bagaimana jika ia telah masuk Islam. Mereka menjawab tiga kali juga mengatakan jauh sekalilah jika ia mau masuk Is lam. Nabi SAW lalu menyuruh Abdullah bin Salam keluar dari tempat persembunyiannya. Iapun keluar lalu berpidato dihadapan orang-orang Yahudi itu mengajak mereka masuk Islam. Katanya: “Hai kaum Yahudi, takutlah kamu kepada Allah, Demi Allah, yang tidak ada Tuhan selain dari padaNya, dialah Rasul Allah yang kamu ketahui itu. Dia telah datang membawa kebenaran”.

Mendengar keterangan Abdullah bin Salam yang selama ini mereka hormati, mereka lalu berkata kepadanya: “Tuan telah berdusta !”. Nabi SAW lalu menyuruh orang-orang Yahudi itu keluar. Demikianlah riwayat Abdullah bin Salam, seorang alim Yahudi yang telah memeluk Islam. Ia telah menjadi saksi bahwa orang-orang Yahudi mengetahui Nabi Muhammad SAW itu benar, tetapi mereka tidak mau mengakui.

7. Dalam kisah Salman Farisi yang datang dari Persi (Iran) mencari Nabi Muhammad SAW hingga dia memeluk Islam, telah dinyatakan bahwa seorang pemuka agama Kristen memesankan kepadanya agar pergi mencari Nabi itu. Kata pemuka Kristen itu: “Hai anakku, tidak ada lagi saya ketahui sekarang seorang manusia yang seperti kita ini diantara seluruh manusia untuk tempat saya menyuruh engkau mendatanginya. Akan tetapi, sekarang telah dekat masanya seorang Nabi akan dilahirkan dengan membawa agama Ibrahim yang keluar dari tanah Arab. Tempat berhijrahnya di suatu tempat antara dua lapangan tanah yang berbatu-batu dan diatnara keduanya itu pohon-pohon kurma. Dia mau memakan pemberian, tetapi tidak mau memakan zakat. Diantara dua bahunya terdapat cap kenabian. Jika engkau sanggup peri ke negeri itu, lakukanlah”. Demikianlah keterangan pemuka agama Kristen itu kepada Salman Farisi. Akhirnya Salman sampai juga ke tempat itu bertemu dengan Nabi Mu hammad SAW dan memeluk Islam.

Dari bukti-bukti sejarah yang tersebut diatas ini dapat diketahui bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen di sekitar zaman kelahiran Nabi Muhammad SAW memang benar terbukti sedang menunggu-nunggu kedatangan seorang Nabi.

http://www.adriandw.com/jesaya.htm

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya para Rasul.” (QS.Ali Imran 3:144)

“Hai manusia ! sungguh, telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Dan telah Kami turunkan untukmu cahaya yang terang”. (QS.An-Nisa’ 4:174)

“Tidaklah ia itu berkata-kata menurut nafsunya sendiri melainkan apa yang diucapkannya itu adalah wahyu yang diberikan.”(QS. an-Najm 53:3-4)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 036/th.04/Dzulhijjah 1428H-Muharram 1429H/2008M


MENGAPA SAYA MENGAKUI MUHAMMAD SEBAGAI RASUL ALLAH ?

Januari 29, 2008

Tidak dapat disangkal lagi, bahwa Yesus disamping mengajarkan tentang keesaan Tuhan, cinta kasih dan kebenaran, maka jangan lupa pula bahwa Yesus juga mengajarkan tentang “Akan datangnya dia, sesudah aku.” Di dalam Perjanjian Baru pemberitaan ini sangat jelas kalimat-kalimatnya dan bahkan didalam Perjanjian Lama pun tiada ketinggalan.

Baiklah, kita baca sekarang di dalam Perjanjian Baru dahulu, yaitu dalam Injil Yahya (Yohanes) 14: 16-17 :”Aku, Yesus akan memintakan kepada Allah, supaya kamu diberinya Paraclet yang lain, supaya tinggal diantara kamu selama-lamanya. Yaitu Roh Kebenaran, maka isi dunia ini tiada mengenalnya, adapun kamu ini kenal akan dia, karena dia ada tinggal bersama-sama dengan kamu selamanya.”
Jelas saya kira, bahwa nabi Isa akan mengirimkan dia, Roh Kebenaran, yang akan dikenal oleh murid-muridnya. Di dalam kata-katanya yang asli, maka yang dipakai Isa bukannya Roh Kebenaran ataupun Rohul kudus, tetapi ia menggunakan istilah Paraclet. Paraclet atau Para-Cletos artinya ialah Yang Ikhlas atau Yang Terpuji. Kata-kata atau ayat inilah yang kemudian ditafsirkan oleh orang-orang Kristen dengan istilah Rohul kudus, sebagai penggenap bagi oknum Allah yg ketiga. Benarkah Paraclet berarti Rohul kudus ? Untuk mengkaji persoalan tersebut, baiklah kita lanjutkan pembacaan kita pada Injil Yahya (Yohanes) 16:5-14 yg bunyinya :

05. Tetapi sekarang itu Aku pergi kepada Dia yang menyuruh Aku. Tiada seorangpun diantara kamu yang bertanya kepadaku: Hendak kemana ?
06. Oleh sebab Aku mengatakan kepadamu perkara itu, penuhilah hatimu dengan duka-cita.
07. Tetapi Aku ini mengatakan yang sebenarnya kepadamu, bahwa berfaedahlah bagi kamu jika Aku undur daripadamu, karena jika Aku tiada undur, tiada juga penghibur itu akan datang kepadamu, tetapi jikalau aku pergi kelak, Aku akan menyuruhkan dia kepadamu.
08. Setelah dia datang akan menerangkan isi dunia ini dari hal dosa, dan kebenaran dan hukuman.
09. Dari hal dosa, sebab tiada orang percaya akan Daku.
10. Dari hal keadilan, sebab Aku pergi kepada Bapa dan tiada kamu melihat Aku lagi.
11. Dan dari hal hukuman, sebab penghulu dunia ini sudah dihukumkan.
12. Maka banyak perkara bagi yang hendak kukatakan kepadamu, tetapi sekarang tiada kamu boleh menanggung akan dia.
13. Melainkan apabila ia datang, yaitu Roh Kebenaran, maka ia akan membawa kepada segala jalan kebenaran, karena tiadalah dia berkata-kata daripadaku atas dari Yesus ini sehingga olehnya bolehlah kami mengetahui rahasia-rahasia yang sebenarnya.

Dengan perkataan lain yang susunannya lebih sederhana tetapi tidak pula menyimpang dari isinya maka dapatlah disusun sebagai berikut :

a. Kalau Isa tidak pergi maka dia tidak datang (ayat 5)
b. Nabi itu amat penting, sehingga olehnya Isa akan pergi
(ayat 7)
c. Nabi itu datang membersihkan dunia ini dari dosa (ayat 8)
d. Nabi itu datang menempelak dunia sebab manusia tidak
percaya Isa lagi (ayat 9)
e. Nabi itu menghukumkan seluruh dunia (ayat 11)
f. Nabi itu berkata-kata karena diperintah (ayat 12)
g. Ia mengabarkan perkara-perkara yang akan datang dan
kebenaran-kebenaran (ayat 13)
h. Ia memuliakan Yesus (ayat 14)
i. Dia mengambil apa yang dipunyai Isa yaitu kerasulan dan
kenabiannya (ayat 14)

Didalam Injil Kenyataan (wahyu kepada Yahya maksudnya) pasal 19 ayat 11 sampai 12, disana disebutkan :

11. Maka kulihat langit terbuka, maka adalah seekor kuda putih dan yang menunggang ialah yang bernama Kepercayaan dan Kebenaran. Maka dengan keadilan ia memutuskan hukum dan berperang.
12. Adapun matanya seperti nyala api, dan keningnya ada mahkota banyak. Maka ada satu nama yang tertulis padanya, yang tidak diketahui oleh seluruh dunia, kecuali oleh Dia sendiri.

Di dalam ayat ini, dijelaskan kedudukan Nabi Muhammad didalam pemerintahan dunia. Seperti lazimnya pada jaman dahulu orang besar-besar selalu berkendaraan kuda putih, karena warna putih berarti kebersihan. “Banyak mahkota” berarti “banyak kedudukan.” Dalam hal ini menjadi kenyataan pada diri Nabi Muhammad bahwa beliau banyak kedudukannya, di dunia seperti kedudukan atau jabatan Nabi, Panglima Perang, Pemimpin Negara, juga pemutus Hukum. Nabi Muhammad juga digelari orang sebagai “Orang yang Dipercaya dan Benar” atau “Al Amin.” Matanya seperti bola api, serta merta menunjukkan sifatnya yang sangat tegas, keras dan kuat. Dengan sitat-sifat inilah ia memutuskan hukum, dengan keadilan dan kebenarannya.
Kalau Dia disini umpamanya ditafsirkan dengan Kristus Yesus, maka saya kira tidak tepat, sebab :

1. Sepanjang pembacaan saya pada Injil, belum pernah saya jumpai keterangan bahwa Yesus pernah naik kuda. Yang pernah dinaikinya hanyalah keledai, itupun warnanya tidak jelas.
2. Yesus menurut Injil, malah tidak bermahkota banyak, sebab :
a. Kenabian Yesus tidak diakui bangsa Yahudi, bangsa mana
untuknya ia diutus.
b. Kerajaan Yesus juga tidak diakui, mereka bahkan
menyalibkan “rajanya” dengan ejekan Isa Nasrani Rex Israel
(INRI).
c. Yesus bahkan belum pernah sekalipun mengadakan perang
melawan musuh-musuh.
d. Didalam memutuskan hukum, Yesus mengambil jalan
diplomatis, bukan tindakan bijaksana. (Yahya 8: 2-11)

Didalam Injil Kenyataan (wahyu kepada Yahya maksudnya) ayat ke-15 dari pasal yg ke-19 tertulis bunyinya: “Sedang dari mulutnya keluarlah sebilah pedang yang tajam, supaya diparangkannya kepada sekalian bangsa. Maka iapun memerintah dengan tongkat besi, dan ialah yang akan mengirikkan anggur kehangatan murka Allah yang Maha Kuasa.”

Tafsir ayat itu ialah :
1. Sebilah pedang yang tajam artinya komando-komando perang
yang tegas.
2. Tongkat besi artinya kekuatan dan ketegasan
pemerintahannya.
3. Mengirikkan anggur, artinya memijak-mijak anggur.

Seluruh tafsir kemudian bunyinya: Sedang ia akan mengeluarkan komando-komando perang yang tegas, kepada sekalian bangsa kafir, dan para penyembah berhala. Ia, dengan kuat kekuasaan pemerintahannya akan menginjak-injak dan memerangi segala macam yang memabukkan yang mana barang tersebut termasuk khamr yang diharamkan.
Hidup Nabi Muhammad kalau diperhatikan, akan nampak, penuh dengan perang dan peperangan melawan orang-orang kafir, ia dengan perkasanya memerangi mereka, dan menghancurkan kejahiliyahan mereka. Kalau demikian maka yang dimaksud dengan Dia, pastilah Nabi Muhammad itu sendiri. Apakah Yesus pernah berperang ?

[Dari : MENGAPA SAYA MASUK AGAMA ISLAM, dan MENGAPA SAYA MENGAKUI MUHAMMAD SEBAGAI RASUL ALLAH SWT., oleh: ZULKARNAIN (Eddy Crayn Hendrik), Penerbit: C.V. “RAMADHANI” – Semarang, Penyiar: “AB. SITTI SYAMSIYAH” – Sala]
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 036/th.04/Dzulhijjah 1428H-Muharram 1429H/2008M


Yesaya Menukil Kejadian Saat Rasulullah di Gua Hira

Januari 29, 2008

Sebelum kita membahasnya, mari sejenak kita renungkan terlebih dahulu dua firman Allah yang terdapat didalam al-Qur’an akan pribadi Nabi Muhammad Saw al-Amin. “Orang-orang yg telah Kami beri Kitab itu (khususnya Yahudi dan Nasrani), mengenalnya (yaitu mengenal Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Tetapi ada sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 2:146)
“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya (khususnya Yahudi dan Nasrani), yang merugikan diri sendiri itu, mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri.” (QS. Al-An’am 6:20)

Sebagai umat Islam, memiliki kewajiban untuk menyingkapkan kebenaran yang telah disembunyikan oleh orang-orang fasik dalam kalangan Yahudi dan Nasrani untuk kita beritakan kepada seluruh dunia, agar mereka tersadar dan kembali kedalam kasih Tuhan yang sebenarnya, yaitu melalui petunjuk sang Kalky Authar, Ruh Kebenaran yang dijanjikan, Rasulullah Muhammad Saw.

Nabi Muhammad Saw al-Amin, dilahirkan pada hari Senin 12 Rabi’ul awal tahun gajah atau bertepatan dengan tahun 570 Masehi. Terlahir dari Ibu bernama Siti Aminah Binti Wahab dan ayahnya Abdullah Bin Abdul Muthalib, keturunan Bani Ismail, putra Nabi besar Ibrahim as yang dijanjikan oleh Allah, dan sekaligus merupakan kakak dari Nabi Ishak, putra Nabi Ibrahim dari Siti Sarah yang menurunkan Nabi-nabi besar untuk umat Israel.
Pada suatu malam tanggal 17 Ramadhan, bersamaan dengan 06 Agustus 610 Masehi 203 tahun 41 dari kelahirannya atau ketika usia manusia yang mulia yg digelari sebagai al-Amin itu mencapai 40 tahun 6 bulan 8 hari (tahun Qamariyah/Bulan) atau berusia 39 tahun 3 bulan 8 hari (tahun Syamsiah/Matahari), turunlah Malaikat Jibril kepadanya yang sedang bertahanuts didalam Gua Hira untuk menyampaikan wahyu yang telah ditetapkan oleh Tuhan, dan menyatakan Kalimah Allah bahwa pada malam itu juga beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah, menjadi penerus risalah para Nabi sebelumnya. Dalam salah satu hadist yang menceritakan mengenai turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad Saw disebutkan, “Telah datang malaikat Jibril as kepada Muhammad sambil berkata, “Bacalah!”, dengan terkejut dan penuh ketakutan Muhammad menjawab, “Aku tiada bisa membaca.”, Ia berkata lagi, “Bacalah!”, Muhammad kembali menjawab, “Aku tiada bisa membaca”, lalu malaikat memegang tubuh Muhammad dan berseru kembali: “Bacalah !”, Muhammad menjawab : “Apa yang akan saya baca ?”, kemudian malaikat Jibril berkata: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menjadikan manusia dari segumpal darah (‘alaq). Bacalah ! Karena Tuhanmu Yang Maha Mulia ! Yang mengajar dengan Qalam (ilmu pengetahuan) Mengajar manusia apa yang tiada ia ketahui.”
(QS.Al-Alaq 96 ayat 1-5)

Kejadian Nabi Muhammad Saw mendapatkan wahyu ini telah ternubuat dalam Kitab Yesaya pasal 29:12 . Dan kitab itu diberikan kepada seorang yang tiada tahu membaca dengan mengatakan: “Bacalah ini,” maka ia akan menjawab: “Aku tiada dapat membaca.”
(Yesaya 29:12)

Dalam satu riwayat yang lain, ketika Nabi Muhammad pertama kali mendapatkan wahyu dari Allah melalui perantaraan malaikat Jibril dalam pengasingannya di Gua Hira, dimana pada waktu itu beliau mengadukan hal ini pada istrinya, Khadijjah yg lantas oleh istri beliau ini mengkonfirmasikan pula kepada saudara sepupunya yg sebagai seorang penganut ajaran ‘Isa al-masih, Waroqah bin Naufal. Disana diriwa yatkan Waroqah bin Naufal menyatakan bahwa sesungguhnya Muhammad telah menerima Namus besar sebagaimana yang pernah diterima oleh Musa, dan dia merupakan seorang Nabi Allah. Kata “Namus besar” (an-namus’l-akbar) oleh beberapa penulis di jaman-jaman berikutnya diberi anotasi, bahwa kata namus berartikan Jibril. Sementara salah seorang orientalis bernama Montagomey Watt memberikan catatan bahwa kata namus ini diambil dari bahasa Yunani yaitu “noms” yg berarti undang-undang atau kitab suci yang diwahyukan. Waroqah bin Naufal sendiri mengimani akan kenabian Muhammad meski tidak dalam waktu yang lama karena beliau wafat sebelum Muhammad memulai seruannya kepada manusia sehingga mendapatkan tantangan, pengusiran, penyiksaan hingga upaya pembunuhan.

(Dikutip dari buku “Sejarah Hidup Muhammad” oleh Muhammad Husain Haekal)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 036/th.04/Dzulhijjah 1428H-Muharram 1429H/2008M


Siapa yang lebih mirip Musa AS, Yesus atau Muhammad SAW ?

Januari 23, 2008

(Diskusi antara seorang ulama ahli kristologi, Ahmed Deedat, dgn Hiten, yakni seorang pendeta dominee, terjadi pada sebuah ruangan bernama “Theatre Royal”, Durban, Afrika. Pendeta tersebut ditemani kawannya seorang lelaki berusia 70 th, sedang Deedat sendirian)

Ahmed Deedat meminta mereka untuk membuka Ulangan, pasal 18, ayat 18 (kitab kelima dari kitab Yahudi dan Kristen versi Afrika). “N Profeet Sal Ek Vir Hulle Verwek Uit Die Midde Van Hulle Broers, Soos Jy Is, En Ek Sal My Woorde In Sy Mond Le, En Hy Sal Aan Hulle Se Alles Wat Ek Hom Beveel” Deut. 18:18. (Terjemahannya sbb :”Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.” – Injil-Ulangan 18: 18). Maksud ayat tersebut, bahwa Tuhan bersabda kepada Musa tentang akan dibangkitkannya seorang nabi yang mempunyai kemiripan dengan nabi Musa). Oleh umat Kristen diterjemahkan, bahwa yang mempunyai kemiripan dengan Musa adalah Yesus, namun hal ini disanggah oleh Ahmed Deedat, dan terjadilah diskusi berikut :

Deedat :”Pada siapa ramalan (tentang kemiripan) tsb ditujukan?”. Tanpa keraguan sedikit pun Pendeta Dominee menjawab, “Yesus!”.
Deedat bertanya, “Mengapa Yesus namanya tidak disebut di sini?”.
Dominee menjawab, “Karena ramalan adalah kata-kata yang menggambarkan sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang, kita temukan kata-kata dalam ayat ini cukup melukiskannya. Anda lihat, kata yg paling penting dari ramalan ini adalah “Soos Jy Is” (like unto thee), –seperti kamu– seperti Musa, dan Yesus itu seperti Musa.

Deedat bertanya, “Dalam hal apa Yesus seperti Musa?”.
Pendeta menjelaskan, “Pertama, Musa adalah seorang Yahudi & Yesus juga seorang Yahudi; Kedua, Musa adalah seorang nabi & Yesus juga seorang nabi karena itu Yesus seperti Musa dan itu tepat sekali seperti yang dikatakan Tuhan kepada Musa– Soos Jy Is.
“Dapatkah Anda pikirkan persamaan-persamaan lain antara Musa dan Yesus?” tanya Deedat. Dominee mengatakan, :”Tidak dapat memikirkan yang lain”. Deedat menyambung, “Jika hanya dua kriteria ini saja untuk menentukan calon dalam ramalan pada Ulangan 18: 18, maka untuk kasus ini kriteria dapat dipenuhi oleh setiap tokoh setelah Musa pada kitab Injil: Solomon, Yesaya, Ezekiel, Daniel, Hosea, Yoel , Malachi, Yohanes Pembaptis dan lain-lain, karena mereka semua juga seorang “Yahudi” dan “Nabi”. Mengapa tidak menerapkan ramalan tersebut kepada salah satu nabi-nabi ini, dan mengapa harus Yesus? Mengapa kita harus menganggap yang satu ikan sementara yang lainnya unggas?”.
Dominee tidak menjawab.

Deedat meneruskan, “Perhatikan, kesimpulan saya adalah Yesus hampir tidak seperti Musa, dan jika salah, saya akan senang kalau Anda meluruskan saya.”
Deedat berkata, :”Pertama, Yesus tidak seperti Musa, karena, menu rut Anda “Yesus adalah Tuhan”, tetapi Musa bukanlah Tuhan. “Apakah hal ini benar?”. Dominee menjawab, “Ya.”
Deedat berkata, “Karena itu Yesus tidak seperti Musa!”.

Kedua, menurut Anda “Yesus Mati Untuk Dosa-dosa Dunia”, tapi Musa tidak mati untuk hal tersebut. “Apakah hal ini benar?”.
Dominee menjawab lagi, “Ya.”
Saya berkata, “Karena itu Yesus tidak seperti Musa!”.

Ketiga, menurut Anda “Yesus Pergi Ke Neraka Selama Tiga Hari”,
tetapi Musa tidak masuk ke sana. “Apakah hal ini benar?”.
Dominee menjawab tanpa perlawanan, “Ya.”
Saya menyimpulkan, “Karena itu Yesus tidak seperti Musa!”.
“Tetapi …,” kata Dominee menyela.

Saya lanjutkan dulu, kata Deedat, “Ini semua bukanlah fakta yang sukar, kokoh dan nyata. Hal ini adalah persoalan keyakinan belaka di mana seorang awam dapat tersandung dan jatuh. Marilah kita diskusikan sesuatu yang sangat sederhana, sangat mudah, jika orang awam diundang untuk mendengar diskusi tersebut mereka tidak akan kesulitan mengikutinya, bagaimana?”. Dominee sangat senang dengan usulan tersebut.

DELAPAN ARGUMEN YANG TAK TERBANTAHKAN

1. Ayah dan Ibu
Deedat berkata, “Musa punya ayah dan ibu. Muhammad juga mempunyai seorang ayah dan ibu. Tetapi Yesus hanya mempunyai seorang ibu, dan ayahnya bukan seorang manusia. Apakah hal ini benar?”.
Dominee menjawab, “Ya.”
Deedat berkata, “Daarom is Jesus nie soos moses nie, maar Muhummed is soos moses!”, artinya: “Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa!”.

2. Kelahiran Ajaib
Musa dan Muhammad lahir secara normal dan alamiah, yaitu melalui percampuran fisik antara seorang pria dan wanita, tetapi Yesus diciptakan dengan sebuah keajaiban istimewa. Dalam Kitab Matius 1: 18 , “… sebelum mereka (Yusuf dan Maria) hidup sebagai suami istri, ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus …”
Kitab Lukas mengatakan bahwa ketika berita gembira atas kelahiran anak suci tersebut diberitahukan kepada Maria, dia memberi alasan :”…bagaimana hal itu mungkin terjadi, sedang aku belum bersuami? Jawab malaikat kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Maha Tinggi akan menaungi engkau…” (Lukas l: 34-35).
Kitab Suci Al-Qur’an menegaskan kelahiran Yesus yang ajaib tersebut dalam istilah yang mulia dan luhur dalam menjawab pertanyaan yang logis dari Maria :”Ya Rabbku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun?”. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah cukup berkata kepadanya: “Jadilah” lalu jadilah dia.” (QS. Ali Imran: 47).
Bukanlah menjadi keharusan bagi Allah untuk menanam benih pada seseorang atau binatang. Jika Dia menghendakinya itu pasti akan terjadi. Ini adalah konsep umat Islam pada kelahiran Yesus.
Deedat bertanya, “Versi mana yang lebih Anda sukai untuk diberikan kepada anak perempuan Anda, Al-Qur’an atau Injil?”. Pendeta tersebut menundukkan kepalanya dan menjawab, “Versi Al-Qur’an.”
Dengan cepat saya berkata kepada Doominee, “Apakah benar kelahiran Yesus yang ajaib berlawanan dengan kelahiran Musa dan Muhammad yg alami?”. Dominee menjawab dengan bangga, “Ya!”.
Deedat langsung menegaskan, “Karena itu Yesus tidak seperti Musa tetapi Muhammad seperti Musa”.
Dan, Tuhan berkata kepada Musa pd Ulangan 18: 18 “Like unto thee” (Seperti kamu, seperti Musa) dan Muhammad seperti Musa.

3. Ikatan Perkawinan
“Musa dan Muhammad menikah dan mempunyai anak, tetapi Yesus tetap menjadi seorang bujangan selama hidupnya. “Apakah hal ini benar?”.
Dominee menjawab: “Ya.”
Deedat berkata, “Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad seperti Musa”.

4.Yesus Ditolak Oleh Kaumnya
“Musa dan Muhammad diterima sebagai nabi oleh kaumnya dalam kehidupan mereka. Tidak ada keraguan bahwa orang-orang Yahudi terus menerus memberi kesulitan kepada Musa, tetapi sebagai bangsa secara keseluruhan, mereka mengetahui bahwa Musa adalah utusan Allah yang dikirim untuk mereka. Bangsa Arab juga membuat kehidupan Muhammad menjadi menderita. Beliau sangat menderita akibat ulah mereka. Setelah 13 tahun berda’wah di Makkah, beliau harus pindah dari kota kelahirannya. Tetapi sebelum kematiannya, bangsa Arab secara keseluruhan telah menerimanya sebagai utusan Allah.
Tetapi berdasarkan Injil, “Dia (Yesus) datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerimanya.” (Yohanes 1: 11). Dan bahkan sampai hari ini, setelah 2000 tahun, kaumnya –orang-orang Yahudi, secara keseluruhan tetap menolaknya. “Apakah hal ini benar?” tanya Deedat.
Dominee berkata, “Ya.” Deedat menegaskan, “Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad yang seperti Musa.”

5. Kerajaan “Dunia Lain”
“Musa dan Muhammad adalah nabi dan juga raja. Nabi berarti seorang manusia yang menerima wahyu untuk menunjuki manusia dan menyampaikan petunjuk ini kepada ciptaan Allah seperti yang diterimanya tanpa ada penambahan atau pengurangan.
Raja adalah seorang manusia yang mempunyai kekuasaan atas hidup & mati rakyatnya. Tidaklah penting apakah orang tersebut mengenakan mahkota atau tidak, atau apakah dia mengenakan pakaian raja; Jika seseorang mempunyai hak untuk memberikan hukuman mati -Dia adalah raja-. Musa memiliki kekuasaan tersebut. Ingatkah Anda orang Israel yang pada hari Sabbath ditemukan sedang mengumpulkan kayu bakar , dan Musa menghukum mati orang tersebut dengan dilontari batu ? (Bilangan 15: 36). Terdapat tindakan kejahatan lainnya yang disebutkan dalam Injil yang karenanya Musa memberikan hukuman mati pada orang-orang Yahudi tersebut. Begitu juga Muhammad, beliau memiliki kekuasaan atas hidup dan mati kaumnya. Pada Injil terdapat beberapa contoh orang-orang yang hanya diberi kenabian, tetapi tidak dalam posisi untuk menerapkan petunjuk mereka. Beberapa orang suci Tuhan yang tidak berdaya menghadapi penolakan yang keras atas pesan yang disampaikan mereka ini adalah nabi Lot, Jonah, Daniel, Ezra dan Yohanes Pembaptis. Mereka hanya dapat menyampaikan pesan, tetapi tidak dapat memaksakan hukuman. Sayangnya nabi suci Yesus jg termasuk kategori ini. Para penginjil Kristen dengan jelas membenarkan hal ini: Ketika Yesus diseret sebelum Gubernur Roma (Pontius Pilate) menuduhnya sebagai pendusta, Yesus membuat sebuah pernyataan meyakinkan dalam pembelaannya untuk menyangkal tuduhan yg salah: “Jawab Yesus, ‘Kerajaanku bukan dari dunia ini; Jika kerajaanku dari dunia ini, pasti hamba-hambaku telah melawan, supaya aku jangan diserahkan kepada orang orang Yahudi, akan tetapi kerajaanku bukan dari sini. ” (Yohanes 18: 36).

Hal ini meyakinkan Pilatus (seorang penyembah berhala) dengan pemikiran bahwa Yesus tidak sepenuhnya berkuasa atas kemampuan ruhaninya, dia tidak menganggapnya orang yang membahayakan pemerintahannya. Yesus hanya menuntut sebuah kerajaan spiritual, dengan kata lain dia hanya menyatakan sebagai seorang nabi. “Apakah hal ini benar?” Tanya Deedat. Dominee menjawab, “Ya.”
Deedat menegaskan, “Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad yang seperti Musa.”

6. Tak Ada Hukum Baru
“Musa dan Muhammad membawa hukum dan aturan baru untuk kaumnya. Musa tidak hanya memberi 10 perintah Allah kepada orang-orang Israel , tetapi hukum-hukum peribadatan yang sangat luas sebagai petunjuk kaumnya. Muhammad datang kepada sebuah kaum yang sangat bodoh dan biadab. Mereka menikahi ibu tirinya, menguburkan anak perempuannya hidup-hidup, mabuk-mabukan, berzina, menyembah berhala dan berjudi dari hari ke hari. Gibbon melukiskan orang-orang Arab sebelum Islam dalam “Decline and Fall of the Roman Empire” (Kemunduran dan Keruntuhan Kekaisaran Romawi.), “Kebrutalan manusia, hampir tanpa perasaan, sulit dibedakan keburukannya dari sisa-sisa penciptaan hewan.” Sukar mendapatkan sesuatu yang membedakan antara manusia dan hewan pada saat itu. Mereka adalah hewan dalam wujud manusia.

Dari kebiadaban yang hina ini, Muhammad mengangkat mereka, dalam kata-kata Thomas Carlysle, “Menjadi pembawa obor penerangan dan pelajaran. Bagi bangsa Arab ini adalah kelahiran dari kegelapan menjadi cahaya. Untuk pertama kalinya Arab menjadi hidup karenanya. Masyarakat penggembala yang miskin, pengembara tidak dikenal di padang pasir sejak penciptaan dunia. Perhatikan, tidak dikenal menjadi terkemuka di dunia, yg kecil telah tumbuh menjadi dunia besar. Dalam satu abad kemudian Granada berada di tangan bangsa Arab dan Delhi di tangannya yang lain. Pandangan sekilas dalam keberanian, kemegahan, dan cahaya kecerdasan, Arab menyinari bagian yang besar dari dunia… “. “Fakta adalah Muhammad memberikan kaumnya sebuah hukum & peraturan yg belum pernah dimiliki mereka sebelumnya”.
“Mengenai Yesus, ketika orang-orang Yahudi merasa curiga terhadapnya bahwa ia mungkin seorang penipu dengan tujuan menyesatkan ajaran mereka, Yesus mengambil penderitaan untuk meyakinkan mereka bahwa dia tidak datang dengan agama baru. Tidak ada hukum baru dan tidak ada peraturan baru. Saya kutip kata-katanya: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau meniadakan kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu, ‘Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi’. “(Matius 5: 17-18).

Dengan kata lain, dia tidak datang dengan hukum atau aturan baru. Dia datang hanya untuk menggenapi hukum lama. Hal inilah yang diberikannya kepada orang-orang Yahudi untuk dimengerti. Kecuali jika ia sedang mencoba menggertak orang-orang Yahudi, agar menerimanya sebagai utusan Allah dan dengan dalih mencoba memasukkan agama baru kepada mereka. Tidak ! Utusan Tuhan ini tidak akan pernah berusaha dengan curang untuk menumbangkan agama Tuhan. Dia dengan sendirinya mematuhi hukum. Dia mematuhi perintah-perintah Musa, menghormati hari Sabbath. Tidak ada kesempatan seorang Yahudi menunjukkan jari padanya dan berkata, “Mengapa kamu tidak puasa” atau “Mengapa kamu tidak mencuci tanganmu sebelum membelah roti”. Yesus menuduh mereka selalu mengatakan bertentangan dengan muridnya, tetapi tidak pernah bertentangan dengannya. Hal ini karena sebagai seorang Yahudi yang baik, ia menghormati hukum-hukum nabi yang mendahuluinya. Singkatnya, ia tidak menciptakan agama baru dan tidak membawa hukum baru seperti Musa dan Muhammad”.
“Apakah hal ini benar?” Tanya Deedat.
Dan, Dominee menjawab, “Ya.”
Deedat menegaskan, “Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad yang seperti Musa.”

7. Bagaimana Mereka Pergi
“Musa dan Muhammad meninggal dalam kematian yang wajar, tetapi menurut agama Kristen, Yesus dengan kejam dibunuh di tiang salib. “Apakah hal ini benar?” Tanya Deedat. Dominee menjawab, “Ya.”
Deedat menegaskan, “Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad yang seperti Musa.”

8. Surga Sebagai Tempat Kediaman
“Musa dan Muhammad terbaring dikubur dalam bumi, tetapi menurut Anda, Yesus beristirahat di surga. “Apakah hal ini benar?” Tanya Deedat. Dominee setuju.
Deedat berkata, “Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammadlah yang seperti Musa.”

BUKTI LEBIH LANJUT
Sejak Dominee tanpa daya menyetujui setiap permasalahan, saya berkata, “Dominee, sejauh ini yang saya lakukan hanya membuktikan satu point (masalah) dari keseluruhan ramalan. Membuktikan rangkaian kata Like Unto Thee (Seperti kamu – Seperti Musa). Ramalan tersebut lebih banyak dari sebuah ungkapan berikut :
“Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini…” Penekanannya pada kata-kata “Dari antara saudara mereka.” Musa dan kaumnya, orang-orang Yahudi, di sini ditujukan sebagai satu kesatuan ras, dan sebagai ‘saudara’ mereka tanpa ragu-ragu adalah bangsa Arab.

Perhatikanlah, kitab suci Injil menyatakan Ibrahim (Abraham) sebagai “Sahabat Tuhan”. Ibrahim mempunyai 2 orang istri, Sarah dan Hajar. Hajar melahirkan seorang anak Ibrahim, putra pertamanya. “…dan Ibrahim menamai anak yang dilahirkan Hajar itu Ismail. “(Kejadian 16:15). “Dan, Ibrahim memanggil Ismail, anaknya…. ” (Kejadian 17: 23). “Dan, Ismail, anaknya, berumur 13 tahun ketika dikerat kulit khatannya.” (Kejadian 17: 25). Sampai usia 13 tahun Ismail adalah satu-satunya anak dan benih Ibrahim, ketika perjanjian disahkan antara Tuhan & Ibrahim. Tuhan memberi Ibrahim anak laki-laki melalui Sarah, yang di namakan Ishak, yang sangat muda dibandingkan Ismail.

Bangsa Arab dan Yahudi
“Jika Ismail dan Ishak adalah anak dari ayah yang sama (Ibrahim), maka mereka adalah kakak beradik. Karena itu, anak dari salah seorang mereka adalah saudara dari anak yang lain. Keturunan Ishak adalah bangsa Yahudi dan keturunan Ismail adalah bangsa Arab jadi mereka bersaudara satu sama lain. Injil menegaskan “…Dan, dia (Ismail) akan menentang semua saudaranya.” (Kejadian 16: 12). “Dan, dia (Ismail) wafat dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.” (Kejadian 25: 17). Anak-anak Ishak adalah saudara dari keturunan Ismail. Dengan cara yang sama Muhammad berasal dari saudara bangsa Israel, karena dia adalah keturunan anak Ismail putra Ibrahim. Hal ini tepat sekali dengan ramalan tersebut: “… dari antara saudaramu” (Ulangan 18: 18). Ramalan itu dengan jelas menyebutkan nabi yg akan datang yang seperti Musa, harus tidak berasal dari anak-anak Ishak atau diantara mereka sendiri, tetapi berasal dari antara saudara mereka. Karena itu Muhammad berasal dari saudara mereka.

Firman dalam Mulut
Lebih jauh ramalan mengatakan, “… dan Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya…” Apakah artinya jika dikatakan, “Saya akan menaruh firman saya dalam mulut Anda?” Perhatikan, ketika mula-mula saya meminta Anda (Dominee) untuk membuka Ulangan 18: 18 dan jika saya meminta Anda untuk membacanya, lalu Anda telah membacanya, apakah itu berarti saya telah menaruh firman saya dalam mulut Anda?”
Dominee menjawab, “Tidak.”
Deedat melanjutkan, “Jika saya mengajari Anda sebuah bahasa yang Anda tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, seperti bahasa Arab, dan bila saya meminta Anda untuk membaca atau mengulangi sesudah saya, apa yang saya ucapkan; yaitu : “Katakanlah, ‘Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan, tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’ (QS. Al-Ikhlas: 1-4).
Tidakkah saya sedang menaruh kata-kata asing yang belum pernah di dengar dan telah Anda ucapkan, ke dalam mulut Anda?”
Dominee tentu saja setuju.
“Dengan cara yang sama”, Deedat berkata; “Kata-kata kitab suci Al-Qur’an, wahyu yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada Muhammad diungkapkan.” Sejarah menyatakan bahwa Muhammad ketika itu berusia 40 tahun. Ia berada dlm sebuah gua kira-kira 3 mil ke utara kota Makkah. Hari itu adalah malam ke 17 bulan Ramadhan (dalam buku aslinya yang berbahasa Inggris ditulis: “malam ke 27 bulan Ramadhan”). Dalam gua malaikat Jibril memerintahkannya dalam bahasa daerahnya: “‘Baca!” atau ‘nyatakan!’ atau ‘bawakan!”‘ Muhammad ketakutan dan dalam keadaan kebingungan menjawab: “Saya tak dapat membaca!” Malaikat memerintahkan untuk kedua kalinya dengan hasil yang sama.
Pada yang ketiga kalinya malaikat melanjutkan. Barulah Muhammad mengerti apa yang harus dilakukannya hanyalah mengulangi untuk berlatih. Dan dia mengulangi kata-kata yang ditaruh dalam mulutnya :”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
Ini semua adalah ayat pertama yang diwahyukan kepada Muhammad, sekarang merupakan permulaan surat ke 96 (Al-‘Alaq) dari Al-Qur’an.

Kesaksian Orang-orang Yang Beriman
Segera setelah malaikat pergi, Muhammad pulang ke rumahnya. Dengan ketakutan dan berkeringat seluruh tubuhnya, beliau meminta istri tercintanya, Khadijah, untuk menyelimutinya. Beliau berbaring, dan istrinya memandanginya. Ketika telah tenang kembali, Muhammad menjelaskan kepada istrinya apa yang telah dilihat dan didengarnya. Khadijah meyakinkannya bahwa ia percaya kepada Muhammad dan bahwa Allah tidak akan membiarkan hal mengerikan seperti itu terjadi padanya. Apakah ini semua adalah pengakuan seorang penipu ?. Apakah penipu mengaku bahwa ketika seorang malaikat mendatangi mereka dengan pesan dari Yang Maha Tinggi, mereka menjadi kuatir, ketakutan dan berkeringat seluruh tubuhnya, lari ke rumah menuju istrinya ? Setiap kritikus dapat melihat bahwa reaksi dan pengakuannya ini adalah dari seorang yang jujur dan tulus, manusia kebenaran –Al Amin– yang jujur, yang tulus dan yang dapat dipercaya.

Selama 23 tahun berikut dalam hidup kenabiannya, kata-kata tersebut ‘ditaruh dalam mulutnya’ dan beliau mengucapkannya. Kata-kata tersebut memberi pengaruh yang tak terhapuskan dalam hati dan pikirannya; dan ketika jumlahnya bertambah, kata-kata suci tersebut dicatatnya pada daun, kulit dan tulang belikat hewan, serta di dalam hati murid-murid yang tekun. Sebelum kematiannya, kata-kata ini disusun dalam urutan seperti yang dapat kita temukan saat ini dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Kata-kata wahyu tersebut benar-benar ditaruh di dalam mulutnya; tepat seperti dikatakan dalam ramalan pada diskusi, “Dan Aku akan menaruh Firman-Ku dalam mulutnya.” (Injil – Ulangan 18: 18)

Nabi Yang Ummi
Pengalaman Muhammad di dalam gua Hira, kemudian dikenal sebagai Jabal Nur, dan reaksinya terhadap wahyu pertama benar-benar memenuhi ramalan Injil yang lain. Pada kitab Yesaya 29:12, kita baca: “Dan apabila kitab itu” (Al-kitab, Al-Qur’an – ‘pembacaan’, ‘pembawaan’) “diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca” Nabi yang ummi, Al Qur’an surat Al-A’raf ayat 158, dengan mengatakan, “Baiklah baca ini, Saya berdo’a untuk kamu” (Kalimat: “Saya berdo’a untuk kamu” tidak ada dalam naskah Yahudi, bandingkan dengan Katholik Roma “versi Douay” dan juga dengan “versi standar yang sudah direvisi”, Revised Standard Version) “Dan ia akan menjawab, ‘Aku tidak dapat membaca’.” “Aku tidak dapat membaca!” adalah terjemahan yg tepat dari kata-kata yg diucapkan 2 kali oleh Muhammad kepada Roh Kudus, Malaikat Jibril, ketika dia memerintahkan (“Baca!”).

Izinkan saya mengutip ayat tersebut secara lengkap tanpa terpotong seperti pada “versi King James” atau “versi yang telah disahkan” yang lebih terkenal: “Dan, apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan, ‘Baiklah baca ini, saya berdo’a untuk kamu’, maka ia akan menjawab, ‘Aku tidak dapat membaca’.” (Injil – Yesaya 29: 12).
Yang perlu diperhatikan adalah belum ada Injil berbahasa Arab pada abad 6 Masehi, ketika Muhammad hidup dan berda’wah. Disamping itu beliau benar-benar tdk dapat membaca dan menulis. Tak ada seorang manusia pun yang pernah mengajarinya sebuah kata. Gurunya adalah Penciptanya : “Dan, tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yg diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yg sangat kuat. ” (QS. An-Najm: 3-5). Tanpa pengajaran dari seorang manusia pun, ia mengalahkan orang-orang yang berpengetahuan.

(sumber : The Choise, Islam and Christianity, Ahmed Deedat)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 036/th.04/Dzulhijjah-Muharram 1428H/2008M


Muhammad Menurut Pendeta dan Muallaf

Januari 23, 2008

Pendapat Drs. H. Amos – Pendeta Nehemia :
“Selanjutnya, kalimat yang kedua dari syahadat ialah suatu pernyataan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Sesuai surat 3 Aali lmraan ayat 164 dan surat 62 Al Jumu’ah ayat 2, maka Muhammad diutus sebagai nabi untuk bangsa Arab.”
Renungkanlah ayat-ayat berikut ini :
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin, ketika Allah mengutus kepada mereka seorang rasul dari kalangan meraka sendiri (Arab), dia membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah dan mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah, sesungguhnya keadaan mereka sebelum itu adalah dalam kesesatan yang nyata” (Surat 3 Aali Imraan ayat 164).
“Dia (Allah) yang membangkitkan di antara orang-orang ummi seorang rasul dari kalangan mereka (Arab) yang membacakan kepada mereka ayat-ayatnya, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya adalah dalam kesesatan yang nyata.” (Surat 62 Al Jumu’ah ayat 2).

Tanggapan H. Ihsan L.S. Mokoginta (Wenseslaus) – Muallaf :
Permainan istilah dalam tulisan itu amat lihai meski licik. Mungkin roh jahat sedang berdiam, bekerja dan melakukan pekerjaannya dalam diri Himar Amos. Sehingga dia tidak bisa mernfungsikan akal sehatnya. Sebaiknya, kalau sedang kerasukan roh jahat, jangan coba-coba menulis buku, supaya tidak memalukan diri sendiri. Bahkan menjatuhkan titel sarjananya dari doktorandes menjadi doktor ambles.

Al Qur’an surat Aali Imraan ayat 164 dan Al Jumu’ah ayat 2 yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. semasa hidupnya diutus Allah untuk mengajarkan Islam kepada kaumnya (bangsa Arab). Ayat ini, oleh Himar Amos dipahamkan bahwa kalau begitu, Nabi Muhammad itu diutus khusus hanya untuk bangsa Arab saja, bukan kepada yang lain. Itulah penafsiran modern sarjana primitif Himar Amos.
Jika karena Nabi Muhammad itu dari bangsa Arab dan memakai bahasa Arab, lalu diambil kesimpulan bahwa Nabi Muhammad adalah rasul untuk bangsa Arab dan Islam juga hanya untuk bangsa Arab, ini jelas sangat keliru. Picik sekali alam pikiran Drs. Himar Amos. Dua ayat yang dianggap menyudutkan Islam dikutip terjemahannya lalu dikomentari secara negatif. Sementara ayat-ayat lain yang jumlahnya sangat banyak yang mendukung kebenaran Islam, sengaja ditutup-tutupi. Kelihatan dengan sangat mencolok kebencian dan sentimen Himar Amos terhadap Islam.
Sebagai contohnya, ayat-ayat yang mendukung kerasulan Nabi Muhammad saw. Dan Al Qur’an untuk segenap alam, itu sengaja tidak dikutip, seperti :
“Dan Kami tiada mengutusmu (Muhammad) melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Al Anbiyaa 107).
“Dan tiadalah Kami mengutus angkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh manusia sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. Saba’ 28).
“Al Qur’an adalah suatu peringatan untuk semesta alam” (Qs. At Takwiir 27 dan Al Qalam 52).
“Dan Kami turunkan Al Qur’an kepadamu (Muhammad) supaya engkau jelaskan kapada umat manusia, apa-apa yang diturunkan kepada mereka, supaya mereka berpikir.” (Qs. An Nahl 44).
“Muhammad bukanlah bapak salah seorang dari laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (Qs. Al Ahzaab 40).

Lima ayat tersebut, menyatakan bahwa Nabi Muhammad beserta Al Qur’an bukan hanya untuk Bangsa Arab saja, melainkan untuk semua manusia dan seluruh makhluk di alam semesta ini. Ayat-ayat tersebut sengaja tidak dikutip oleh Drs. Himar Amos.

Dan kalau mau teliti dalam membaca Alkitab (Bibel) milik umat Kristen, justru Nabi Isa (Yesus) beserta Injilnya itulah yang hanya dikhususkan bagi suatu bangsa tertentu, yaitu untuk Bani Israel saja. Sebab kedatangan Yesus ke dunia ini untuk meneruskan risalah Nabi Musa as. Kepada Bani Israel. Jadi, kitab Injil dan Taurat merupakan kitab suci yang berisi petunjuk dan pengajaran, tapi hanya ditujukan bagi Bani Israel saja, sebagaimana kesaksian Yesus sendiri bahwa dia diutus untuk Bani Israel. Simak sabda Yesus berikut :
“Jawab Yesus: ‘Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 15:24).
“Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Matius 10:5-6).

Dua ayat tersebut membuktikan bahwa yang dimaksud dengan surat Al Maa-idah 46 isinya meginformasikan bahwa kitab Taurat dan Injil memang merupakan pengajaran dan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa dari Ahli Kitab, yaitu Yahudi dan Nashara saja. Penjelasan ini diperkuat dengan sabda Yesus di bawah ini :
“Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia aku berdoa, tetapi untuk mereka (Bani Israel) yang telah Engkau berikan kepadaku, sebab mereka adalah milik-Mu” (Yohanes 17:9).

Jelaslah bahwa misi Yesus itu bukan untuk seluruh dunia, tapi khusus untuk Bani Israel saja.

Sebaiknya, Himar Amos lebih rajin lagi membaca buku-buku kaliber dunia internasional, supaya tidak ketinggalan zaman. Sebab jauh sebelum Amos menulis buku picisan, para tokoh ilmuwan dunia yang non muslim sudah mengakui dengan jujur dan ilmiah tentang kemuliaan nabi Muhammad saw kelas dunia :

a. Muhammad adalah Pahlawan kebaikan sepanjang masa. “Mohammed was the soul of kindness and his influence was left and never forgot ten by those around him” (Muhammad adalah jiwa bagi seluruh kebaikan dan pengaruhnya terasa serta tidak pernah terlupakan oleh orang yang berada di sekelilingnya”) – Diwan Chans Sharma, The Propets of the East, Calcutta 1935, hal. 122.

b. Muhammad adalah tokoh dunia pelopor anti rasialis.
“Four Years after the death or Justinian, A.D. 569, was born at Mecca, in Arabia the man who, of all men exercised the greatest influence upon the human race, Mohammed” (Empat tahun setelah kematian Justinian, 569 M, lahirlah di Makkah, jazirah Arabia, seorang yang kemudian mempunyai pengaruh sangat besar terhadap ras manusia, yaitu Muhammad”) – John William Drapper, M.D. LL.D.A., History of Intelectual Development of Europe, London 1875, vol. I, hal. 329.

c. Muhammad adalah pejuang harkat wanita sejagad.
“That his (Mohammed’s) reforms enhanced the status of women in general is universally admitted” (Dobrakan “Muhammad yang telah mengangkat kedudukan wanita dalam skala yang luas diakui secara universal”) – H.A.R. Gibb, Mohammedanism, London, 1953, hal. 33.

[Sumber: “Pendeta Menghujat Muallaf Maralat”, Insan L.S. Mokoginta (Wenseslaus), FAKTA (Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan), Jakarta, 1999.]

Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mereka ta’juk lalu berkata: ‘kenapa kamu tidak taruh batu ini ?’. Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya penutup Nabi-nabi”.

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 036/th.04/Dzulhijjah-Muharram 1428H/2008M


NAMA MUHAMMAD DALAM INJIL BARNABAS

Januari 23, 2008

Bismillaahirrohmaaniirrohiim,
Dan (ingatlah) ketika ‘Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad .” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. 61 : 6)

Inilah informasi dari Al Quran tentang nubuwat dari Nabiyulloh Isa Alaihissalam tentang kedatangan Rasul yang bernama Ahmad. Ahmad sendiri secara etimologis sepadan dengan Mahmada, Mahmoud, Muhammad artinya “yang terpuji”. Tetapi tentu saja bila informasinya didapat dari Al Quran tentu bersifat “sepihak” dan belum memadai. Dalam Injil Yahya (Yohanes) Pasal 16 Ayat 7: “Tetapi telah kukatakan segala perkara ini kepadamu, supaya bergunalah kepadamu kalau aku pergi, karena kalau aku tidak pergi, PENGHIBUR itupun tak akan datang kepadamu; tetapi kalau aku pergi aku akan menyuruh dia kepadamu”. Ayat 14: “Maka ia pun akan memuliakan aku, karena ia akan mengambilnya daripada barang yang aku punya, diberikannya tahu kepada kamu kelak”.

Ayat diatas merupakan kutipan yg berisikan informasi mengenai kehadiran seorang PENGHIBUR setelah Nabi Isa (Yesus) yang akan mengambil sebagian hukumnya dan memuliakan Nabi Isa. Tetapi informasi ini masih belum jelas siapakah PENGHIBUR yg dimaksud ini. Rasa penasaran ini menyebabkan penulis membeli beberapa buku perbandingan Islam dan Kristen. Tapi sungguh diluar dugaan, jawaban penasaran saya justru sedikit terjawab oleh sebuah buku kuno koleksi orang tua saya, hasil karya orang Indonesia sendiri.

Surprise juga ketika saya menemukan sebuah buku kuno yang berjudul “Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW” karya Kjai Hadji Moenawar Chalil terbitan pertama thn. 1936 M (terbit pada masa penjajahan Belanda). Menurut saya KH Moenawar Chalil merupakan ulama langka yang juga mendalami ilmu kristologi yang pada saat itu merupakan hal yang langka. Dalam buku beliau edisi revisi tahun 1953 M, beliau menulis pernah bertemu muka dengan almarhum Panglima TNI, Jenderal Sudirman tahun 1947. Ternyata Panglima membaca dan mempelajari kitab karyanya tersebut.
Panglima Sudirman berkata: “Buku Tarikh Nabi Muhammad karangan saudara itulah yang sering saya baca dan saya perhatikan dalam waktu luang. Selama saya memimpin Angkatan Perang Republik Indonesia untuk melawan Belanda”. Hal ini tidaklah aneh mengingat Sudirman merupakan sosok tentara yang juga santri.

Menurut KH Moenawar Chalil dalam Injil Barnabas, Nabi Isa Alaihissalam tidak hanya menubuwatkan tentang kehadiran Nabi akhir zaman, tetapi juga menyebutkan secara lengkap bahwa namanya adalah Muhammad. Berikut kutipan beliau :””Barnabas ialah nama seorang sahabat atau hawariyyun (pembela) Nabi Isa AS. Injil Barnabas itu adalah sebuah kitab Injil yang ditulis oleh Barnabas sendiri dari wasiat Nabi Isa sendiri. Maka isi Injil Barnabas itu satu-satunya kitab Injil yang isinya berlainan dari kitab Injil yang lain. Misalnya tentang ayat-ayat yang memberitakan akan datangnya Nabi Muhammad SAW dengan jelas, kemudian peristiwa penyaliban Isa melainkan yang disalib adalah Yudas.
Karena isinya berbeda dengan Injil Paulus, maka para pengikut Paulus tidak mau mengakui isi dari Injil Barnabas ini. Sepanjang riwayat oleh persidangan para pemimpin gereja abad ke-3 Masehi telah diputuskan tidak boleh dipakai (diikuti oleh para pengikut Kristen). Pula pada akhir abad ke-5 M sebelum Nabi Muhammad dibangkitkan, seorang Paus di Roma telah menyatakan haram untuk membaca beberapa kitab agama termasuk diantaranya ialah Injil Barnabas.

Ada sebuah naskah Injil Barnabas itu diketemukan di dengan bahasa Italia Kuno tersimpan di gedung buku Vatikan. Kemudian naskah tersebut diambil oleh seorang pendeta Kristen bernama Moreno pada akhir abad ke-16 M. Naskah inilah yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Inggris lalu pada tahun 1325 H, naskah tersebut diterjemahkan kedalam bahasa Arab oleh Dr. Khalil Bek Sa’adah, seorang terpelajar berkebangsaan Egypt (Mesir). Ayat Injil Barnabas yang dikutip disini merupakan hasil kutipan dari kitab tafsir Al Manaar jilid III karya Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dan beberapa yang dikutip dari Syekh Thantawy dalam kitab tafsirnya Al Jawaahir Jilid I dan beberapa jilid lainnya.

Barnabas fasal 72, sesudah Al Masih memberitahukan kepada Hawariyyun bahwa beliau akan meninggalkan alam dunia kemudian beliau berkata :

7. “Maka ketika itu menangislah para utusan Yesus sambil berkata: “Wahai Guru ! Mengapa engkau akan meninggalkan kami jika demikian bahwa kami merasa mati lebih baik bagi kami daripada engkau tinggalkan”.
8. Yesus berkata: “Janganlah hatimu bergoncang dan jangan kamu takut, karena sesungguhnya aku ini bukan yang menjadikan kamu, tetapi Allah yang menjadikan kamu. Dia yang memelihara kamu.”
10. “Adapun tentang tugasku, sesungguhnya aku datang untuk menyediakan jalan bagi RASUL ALLAH yang akan datang dengan membawa tugas kelepasan alam ini”.
11. “Akan tetapi awaslah olehmu jika kamu akan ditipu orang, karena sesungguhnya akan datang beberapa orang Nabi yang palsu; mereka akan mengambil perkataanku dan mengotori injilku”.
12. Ketika itu Andarawus berkata: “Wahai Guru, sebutkanlah bagi kami satu tanda supaya kami kenal dia ?”
13. Jawab Yesus: “Sesungguhnya dia tidak akan datang pada masa kamu ini, tetapi ia akan datang kelak berbilang tahun di belakang kamu, yaitu waktu Injilku ini dirusakkan dan hampir tidak terdapat lagi tiga puluh orang yang beriman”.
14. “Pada waktu itulah Allah me-rahmati alam ini; maka diutusNyalah seorang utusan yang dimana AWAN PUTIH AKAN MENAUNGINYA*, mengenal dia seorang hamba yang dipilih Allah, dan ia akan menampakkannya kepada seluruh alam”.
15. “Dan ia akan datang membawa kekuatan yang besar untuk mengalahkan orang yang berbuat durhaka, dan dia akan menghapus penyembahan berhala dari dunia ini”.
16. “Dan sesungguhnya aku gembira dengan yang demikian, karena dengan perantaraannya Allah akan dimuliakan orang dan dia menampakkan kebenaranku”.
17. “Dan dia akan memurkai orang-orang yang berkata bahwa aku (Yesus) lebih besar dan lebih tinggi dari manusia”.
22. “Dan ia akan datang membawa kebenaran lebih jelas daripada keterangan oleh para Nabi yang lain; dan ia akan membenci orang yang berlaku tidak baik”.

*Ketika Muhammad berusia 12 tahun, ia diajak pamannya Abu Thalib berdagang ke negeri Syam, dalam perjalanan tersebut ia selau dinaungi awan putih dan kemudian bertemu dengan seorang pendeta nasrani bernama Bakhiraa. Kemudian pendeta ini mengamati secara mendalam sosok Muhammad dan awan putih yang menaunginya. Kemudian ia berpesan agar berhati-hati terhadap orang Yahudi karena anak ini kelak akan menjadi Rasul penutup zaman.

Barnabas fasal 97 ayat:
6. Yesus berkata: “Dan bahwasanya yang mengembirakan aku, ialah agamanya tidak akan berkesudahan, karena Allah akan memeliharanya benar-benar”.
7. Kahin berkata: “Apakah akan datang lagi kemudiannya nabi-nabi setelah Rasul Allah itu datang ?”
8. Yesus menjawab: “Tidak akan datang lagi kemudiannya nabi-nabi yang benar-benar diutus Allah”.
14. Kahin berkata: “Apakah yang dinamakan MESIYA itu ? Dan apakah tanda yang memberitahukan kedatangannya ?”
15. Yesus berkata: “Sesungguhnya nama MESIYA itu amat mengherankan, karena Allah sendiri yang menamakannya tatkala menciptakannya, karena Allah sendiri yang menamakannya tatkala menciptakannya, dan Dia telah meletakkan nama itu disatu tempat yang indah di langit.”
16. Sabda Allah: “Sabarlah olehmu hai MUHAMMAD, karena sesungguhnya Aku lantaran engkaulah Aku hendak menjadikan surga dan alam dunia ini, dan sejumlah besar dari pada makhluk yang Aku berikan kepada engkau, sehingga siapa-siapa yang memberkati engkau, ia akan diberkati, dan siapa-siapa yang melaknati engkau, ia akan dilaknati.
17. “Dan apabila Aku mengutus engkau kepada dunia, Aku menjadikan engkau utusan-Ku untuk memberi kelepasan, dan adalah perkataanmu yang benar, hingga langit dan bumi hancur luluh, tetapi iman engkau tidak akan hancur luluh.”
18. “Bahwasanya nama yang diberkati itu adalah MUHAMMAD”.
19. “Ketika itu orang banyak sama mengangkat suaranya: “Ya Allah ! Utuslah oleh-Mu utusan-Mu kepada kami ! Ya Muhammad, marilah segera datang untuk melepaskan alam dunia ini”.

Subhanallah, disini kami rasa telah cukup jelas bahkan Injil Barnabas hingga menyebutkan namanya tentang siapa utusan Allah setalah wafatnya Nabi Isa Alaihis salam. Semoga kita akan tetap berada di jalur Allah Azza Wa Jalla sebagaimana yang telah ditetapkan melalui perantaraan para Rasul-rasulnya terutama baginda mulia Muhammad Shollahu’alaihi wassalam karena hanya inilah jalan keselamatan sebagaimana yang telah dijanjikan Allah Azza Wa Jalla. – Wallahu’alam bishshowab,
Wassalamualaikum Warrohmatullohi Wabarokatuuh,

(dari : “Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW Jilid IA” karya Kjai Hadji Moenawar Chalil, cetakan keenam 1977. Penerbit “Bulan Bintang”, Jakarta. Jl. Kramat Kwitang I/8, Jakarta Pusat Telepon 42883)
_________________
http://www.fupei.com/IDForum-viewthread-tid-12006.html

Sebutan : Isa-Yesus-Kristus-Almasih
Agar pemakaian istilah tidak menyebabkan salah pengertian :
Almasih atau Al Masih, istilah bahasa Arab yang berarti “yang diurapi”. ‘Isa, istilah bahasa Arab yang artinya sama dengan “Yesus”. “Isa” disebut dalam Al Qur’an sebagai Almasih, sehingga istilah ini lebih disenangi oleh golongan yang membahas perbandingan agama Islam-Kristen. Istilah bahasa Arab didasarkan nama asli dalam Bahasa Ibrani.
Kristen, Golongan agama yang menganggap diri mengikuti ajaran Isa Almasih. Pada mulanya (dalam Injil), artinya “pengikut Kristus” dan dipakai sebagai nama ejekan. Golongan yang sering disamakan dengan golongan sosial, politik, budaya, dan/atau etnis tertentu. Kristus, istilah yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti “yang diurapi”, sama dengan Bahasa Arab “Almasih”
Nasrani, istilah dari bahasa Arab yang berarti “Pengikut Isa” karena Isa Almasih berasal dari kota Nazaret.
Yesus, istilah bahasa Yunani yang artinya sama dengan “‘Isa”. Karena Injil ditulis pertama kali dalam bahasa Yunani, orang Kristen lebih suka istilah ini. Istilah Yunani adalah bentuk yang didasarkan Bahasa Ibrani.

http://media.isnet.org/antar/etc/Isa.html

Rasulullah SAW menegaskan: “Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum dipasang. Orang -orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut ? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi”. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 036/th.04/Dzulhijjah-Muharram 1428H/2008M