Bapak Saya Sudah Sakit-sakitan Dan Ingin Masuk Islam

September 12, 2007

Tanya : Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ustadz, bapak saya adalah orang katholik dan pada saat nikah dengan ibu saya (alm), bapak masuk ke agama islam (menurut bpk saya). Tetapi setelah itu bapak saya menjalankan agama lamanya lagi yaitu Katholik. Waktu telah berlalu, sekarang umur bapak saya 75 tahun dalam kondisi terkena penyakit stroke dan lumpuh sebelah. Hari demi hari saya meyakinkan kalau agama Islam adalah agama yang benar. Setiap setelah sholat saya selalu minta diberi petunjuk dan hidayah untuk bapak saya. Waktu terus berlalu, sekarang bapak saya menyadari kalau agama katholik itu bukan identik dengan Injil, karena Injil yang asli tidak pernah
mengajarkan bentuk agama katholik.
Pertanyaan saya, apa yang saya harus perhatikan dan persiapan, apa yang saya harus lakukan supaya bapak saya ihklas menjadi orang muslim. Karena terus terang, paman saya (adik dari bapak) adalah seorang aktifis missionaris katholik.
1. Apakah dalam hal ini saya harus bicarakan dengan paman saya di depan keluarga besar supaya paman saya tidak sakit hati dan tidak mempengaruhi lagi keadaannya.
2. Kapan bapak saya harus menyebut 2 kalimat syahadat.
3. Bagaimana sholat wajib bapak saya karena bapak sudah lumpuh sehingga setiap hari badan dan pakaiannya penuh dengan najis (air kencing dan mungkin kotoran lainnya).
4. Niat saya syukuran untuk bapak saya adalah tanggal 21 Desember 2005 tepat hari kelahirannya.
5. Pembacaan 2 kalimat syahadat tersebut harus di depan siapa ? orang yang ahli dalam agama ?
Mohon penjelasan dari ustadz. Terima kasih atas perhatiannya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb. – (dari : Hamba Allah)

Jawaban:
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ba’du.
Menjadi seorang muslim adalah hak asasi setiap orang, sekaligus juga kewajiban. Tidak ada seorang pun yang berhak menghalangi seorang anak Adam untuk beriman kepada Allah SWT, termasuk ayah dan ibu pun tidak berhak menghalangi. Bahkan menjadi seorang muslim pun tidak membutuhkan restu dari siapa pun. Sebab menjadi muslim itu adalah hak sekaligus kewajiban setiap manusia.
Dan Allah SWT menjamin bahwa orang yang mati dalam keadaan muslim akan masuk surga, meski tetap harus mempertanggung-jawabkan amal perbuatannya terlebih dahulu.

Sebaliknya, mereka yang mati dalam keadaan kufur tidak akan masuk surga. Sebab di mata Allah, semua amal dan perbuatannya sirna tanpa arti. Di sisi lain, tidak ada seorang pun yang tahu berapa lama usianya di dunia ini. Maka bersegera menjadi seorang muslim adalah tindakan yang perlu dilakukan. Agar jangan sampai mati dalam keadaan belum menjadi muslim.

Tentang bagaimana tindakan yang seharusnya anda lakukan terhadap ayahanda yang berminat masuk Islam atas kesadarannya, Anda bisa melihat contoh dari diri Rasulullah SAW sendiri. Dalam hemat kami, apa yang anda alami sekarang ini nyaris mirip dengan yang pernah dialami juga oleh beliau SAW. Perhatikanlah bagaimana Rasulullah SAW memohon kepada pamannya, Abu Thalib, untuk segera mengucapkan 2 kalimat syahadat, ketika menjelang ajalnya. Hal itu semata-mata karena Rasulullah SAW teramat sayang kepada pamannya yang telah banyak berjasa itu. Beliau tidak rela kalau pamannya harus mati dan masuk neraka. Sementara itu, para pemuka kafir Quraisy pun tidak tinggal diam. Mereka ikut datang menunggui Abu Thalib yang sedang sakit menjelang ajalnya. Mereka berupaya menghalangi Abu Thalib agar jangan sampai menyatakan ke-Islamannya.

Ada sebuah perlombaan antara Rasulullah SAW di satu sisi dengan para pemuka kafir Quraisy dalam mengambil kesempatan terakhir atas kemungkinan masuk Islamnya Abu Thalib. Tetapi yang menarik, Rasulullah SAW tidak merasa risih atau takut sedikit pun berhadapan sendirian di depan para pembesar Quraisy. Baginya, keselamatan Abu Thalib di akhirat jauh lebih berharga dari pada alam dan seisinya. Maka dengan sekuat tenaga beliau bermohon kepada pamannya itu untuk mengucapkan 2 kalimat syahadat. Hanya itu dan tidak lebih.
Dan tidak mungkin lagi mengharapkan Abu Thalib untuk shalat, puasa atau melakukan ibadah lainnya, sebab dia telah tergeletak lemah menjelang ajal. Jadi cukuplah baginya pada saat menjelang ajal itu menyatakan diri masuk Islam, meniadakan tuhan kecuali Allah saja dan mengakui kenabian Muhammad.

Menjadi seorang muslim memang sama sekali tidak disyaratkan harus di depan lembaga tertentu, atau di depan tokoh tertentu. Cukup seseorang berikrar saja menyatakan diri menjadi muslim, dengan mengucapkan syahadat. Anda berhak untuk bertindak sebagaimana Rasulullah SAW bertindak kepada Abu Thalib. Bukankah anda menyayangi orang tua anda sendiri ? Bukankah anda kasihan kalau beliau sampai masuk neraka ? Bukankah anda tidak tega kalau sampai beliau dibakar dan disiksa di alam neraka ? Maka lakukanlah sebagaimana Rasulullah SAW melakukannya. Meski seluruh orang sedunia menghalangi langkah anda. Tapi apalah artinya dunia dan seisinya, bila anda harus menerima kenyataan beliau wafat bukan dalam keadaan muslim. Pastilah anda akan menyesal seumur hidup dan menyesal pernah dilahirkan ke dunia.
Wallahu a’lam bish-shawab, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh. (dijawab oleh : ustadz Ahmad Sarwat, Lc.)

http://www.eramuslim.com/ks/us/5c/22121,1,v.html

APA YANG HARUS DILAKUKAN SETELAH SI SAKIT MATI ?

Beberapa adab syar’iyah yang harus dilakukan secara langsung setelah si sakit mati dan sebelum dimandikan perlu saya kemukakan disini, karena berkaitan dengan saat ihtidhar (menghadapi kematian). Selain itu, banyak hal yang memerlukan penanganan dokter yang merawatnya, sebab kadang-kadang si sakit meninggal dunia di hadapannya. Apakah yang harus dilakukan saat itu ?

Pertama: dipejamkan kedua matanya, mengingat hadits yang diriwayatkan Imam Muslim bahwa Rasulullah saw. pernah masuk ke tempat Abu Salamah setelah dia meninggal dunia dan matanya dalam keadaan terbuka, lalu beliau memejamkannya seraya bersabda: “Sesungguhnya ruh apabila dicabut, ia diikuti oleh pandangan.”105]. Disamping itu, apabila kedua matanya tidak dipejamkan maka akan terbuka dan melotot, sehingga timbul anggapan yang buruk.

Kedua: diikat janggutnya (dagunya) dengan bebat yang lebar yang dapat mengenai seluruh dagunya, dan diikatkan dengan bagian atas kepalanya, supaya mulutnya tidak terbuka.

Ketiga: dilemaskan persendian atau pergelangan-pergelangannya, yaitu dilipat lengannya ke pangkal lengannya, kemudian dijulurkan lagi; dilipat (ditekuk) betisnya ke pahanya, dan pahanya ke perutnya, kemudian dikembalikan lagi; demikian juga jari-jemarinya dilemaskan supaya lebih mudah memandikannya. Sebab beberapa saat setelah menghembuskan napas terakhir badan seseorang masih hangat, sehingga jika sendi-sendinya dilemaskan pada saat itu ia akan menjadi lemas. Tetapi jika tdk segera dilemaskan, tidak mungkin dapat melemaskannya sesudah itu.

Keempat: dilepas pakaiannya, agar badannya tidak cepat rusak dan berubah karena panas, selain kadang-kadang keluar kotoran (najis) yang akan mengotorinya.

Kelima: diselimuti dengan kain yang dapat menutupinya, berdasarkan riwayat dari Aisyah bahwa Nabi saw. ketika wafat diselimuti dengan selimut yang bergaris-garis.106]

Keenam: di atas perutnya ditaruh suatu beban yang sesuai agar tidak mengembung.
Para ulama mengatakan, “Yang melakukan hal-hal ini hendaklah orang yang lebih lemah lembut di antara keluarga dan mahramnya dengan cara yang paling mudah.”107]

Adapun hal-hal lain setelah itu yang berkenaan dengan pengurusan mayit, seperti memandikan, mengafani, menshalati, dan lainnya tidaklah termasuk dalam kerangka hukum orang sakit, hal itu termasuk dalam kandungan hukum orang mati atau Ahkamul-jana’iz. Ada dalam pembahasan tersendiri. Wallahu a’lam.

Catatan kaki :
105] HR Muslim dalam “al-Jana’iz,” hadits nomor 920.
106] Ibid., nomor 942.
107] Fathul-Aziz fi Syarhil-Wajiz, karya ar-Rafi’i yang diterbitkan bersama dengan al-Majmu’ (Imam Nawawi), juz 5, hlm. 112-114.

[sumber : Fatwa-fatwa Kontemporer, Dr. Yusuf Qardhawi, Gema Insani Press, Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740, Telp. (021) 7984391-7984392, Fax. (021) 7984388]

http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Sakit25.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M

Iklan

Sakit Berbuah Hidayah

September 12, 2007

Saya lahir di Wonosari, Gunung Kidul, 9 Desember 1950, dengan nama Teofilus Sarjiono. Orangtua saya adalah penganut Kristen Pantekosta. Saya termasuk orang yang taat dalam menjalankan ibadah. Sepanjang masa saya menjalani agama lamaku itu kehidupan saya terjamin. Uang bukan masalah, sebab semua biaya hidup ditanggung agama saya saat itu. Semua fasilitas itu membuat saya sering lupa diri. Makan pun harus yang enak-enak. Seminggu sekali saya harus makan tongseng Amerika (makanan yang bahan dasarnya daging anjing).

Saat saya menjalani aktivitas agama lama saya kala itu, tiba-tiba saja saya jatuh sakit. Penyebabnya mungkin karena saya rakus makan daging. Badan saya membengkak dan perut membuncit. Beberapa penyakit seperti kolesterol, gula, dan ginjal, mulai menggerogoti tubuh saya. Dokter menganjurkan saya berhenti makan daging. Tapi saya tidak menggubrisnya, hingga ginjal saya makin parah. Akhirnya, dokter menganjurkan saya untuk cuci darah. Dari semenjak cuci darah inilah harta saya ikut “tercuci” pula. Malangnya, penyakitku tak kunjung sembuh, bahkan makin hari kian terlihat makin parah. Saya tidak bisa apa-apa saat itu.
* * *
Sekitar pukul 04.30 suatu pagi, saya mendengar suara adzan dari sebuah masjid. Dengan spontan saya menirukan lafadz “Laa ilaha ilallah “. Aneh, penyakit saya terasa hilang. Kata-kata itu saya ucapkan berulang-ulang, hingga ratusan kali. Ketika istri mengetahui bahwa saya mengucapkan kata-kata itu, dia mengingatkan, “Mas, bacaan Laa illaha ilallah itu bacaan orang Islam. Bapak ‘kan orang Kristen, tidak baik mengucapkan kata-kata itu !”. Saya jawab, “Biar berasal dari setan belang atau dari agama manapun akan saya ucapkan terus, karena setiap kali dibaca sakit saya berkurang !”.

“Keajaiban” itu tidak berhenti di situ. Suatu malam saya bermimpi seperti mendengar sebuah bisikan, “Pak Theo, kalau kamu ingin sembuh berobatlah kepada Bapak Abu !”. Maka saya pun berusaha mencari tahu orang yang bernama Pak Abu itu. Alhamdulillah, saya berhasil menemukannya. Beliau adalah seorang tabib beragama Islam.

Saat pertama kali bertemu, saya langsung mengatakan bahwa saya seorang Kristen yang ingin berobat. Pak Abu menjawab, “Saya ini mengobati penyakit, bukan mengobati agama. Saya tidak menolak siapa saja yang ingin berobat kemari. Insya Allah akan saya terima dengan baik.”
Setelah berdialog tentang penyakit yang saya derita, Pak Abu kemudian mengobati saya dengan cara Islam. Saya disuruh membaca Basmallah berulang-ulang, dan Pak Abu pun terus berdoa sambil memegang bagian badan saya yang sakit. Aneh, selama prosesi itu badan saya terasa sembuh sama sekali. Yang paling mengharukan, Pak Abu memberi saya obat secara gratis, karena saat itu saya tidak membawa uang.
* * *
Semenjak itulah saya mulai tertarik pada Islam. Saya mulai menghadiri pengajian di kampung, hingga rasa simpati saya pada Islam semakin besar. Akhirnya, 18 September 1993 saya mengucapkan kalimat syahadat di kampus UII Yogyakarta. Setelah itu istri dan kedua anak saya pun masuk Islam.
Setelah menjadi Muslim, saya sering diundang untuk mengisi ceramah pengajian. Saya pun aktif mengikuti kegiatan dakwah. Saya ingin menebus dosa. Jika dahulu saya banyak mengkristenkan orang Islam, sekarang saya ingin mendakwahkan Islam.
Karena sering menjadi penceramah, nama saya pun mulai dikenal. Bahkan saya pernah didaulat untuk menjadi pembicara pada sebuah tabligh akbar di Cirebon yang dihadiri sekitar 10.000 orang.

Seperti halnya teman-teman saya yang sudah masuk Islam terlebih dahulu, saya pun mengalami ujian berat, terutama dalam bidang ekonomi. Kehilangan pekerjaan, dikucilkan dari pergaulan, dicaci maki, adalah hal yang saya terima. Saya dipecat dari pekerjaan tanpa mendapat pesangon. Walaupun demikian, rasa percaya diri dan iman kepada Allah semakin tebal. Semua itu saya hadapi dengan tabah.

Setelah menghadapi berbagai kesulitan, Allah SWT membukakan pintu anugerah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Allah menitipkan sebuah rumah dan tanah kepada saya sekeluarga. Beberapa bulan lalu Allah mengundang saya dan istri untuk menunaikan ibadah haji dengan gratis. Alhamdulillah, hidup saya pun lebih dari cukup. Di balik itu semua, ada hal terindah yang saya rasakan, yaitu bertambahnya saudara dan lahirnya kedamaian hidup dalam naungan Islam. (dari : MQ)

http://www.kotasantri.com/modules.php?name=Beranda&file=detail&sid=144
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M


Hidayah dari Biara

Juni 7, 2007

Aku dibesarkan dalam keluarga yang religius. Ayah dan ibuku merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibaptis, dan sekolah seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat. Ketika remaja aku aktif di organisasi gereja.
Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia, karena pengabdian total seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan satu-satunya dalam hidupku.

Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga yang kaya raya, kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya 1000 meter persegi. Bayangkan, betapa besarnya. Kami berasal dari etnis Tionghoa. Ayaku adalah seorang pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu donatur terbesar gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara. Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan. Selain materi, kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi akademikku selalu memuaskan. Aku pernah terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja. Ketika remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, aku dicintai oleh mereka, bahkan aku menjadi faforit bagi kawan-kawanku.

Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah. Namun demikian aku tidak larut dalam semaraknya pergaulan muda-mudi, walalupun semua fasilitas untuk hura-hura bahkan foya-foya ada. Keinginan untuk menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan itu.
Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk membiarkan anak gadisnya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai pemeluk Katholik yang taat, mereka akhirnya mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakaku, mereka justru bangga punya adik yang masuk biarawati.

Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang kurasakan. Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Instituit Filsafat Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya.
Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi.

Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam. Di awal kuliah, dosen memberi pengantar bahwa agama yang terbaik adalah agama kami sedangkan agama lain itu tidak baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia yang melarat itu siapa ?, Yang bodoh siapa ? Yang kumuh siapa ? Yang tinggal di bantaran sungai siapa ? Yang kehilangan sandal setiap hari jumat siapa ? Yang berselisih paham tidak bisa bersatu itu siapa ? Yang jadi teroris siapa ? Semua menunjuk pada Islam. Jadi Islam itu jelek.
Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat negara-negara lain, Philiphina, Meksiko, Itali, Irlandia, negara-negara yang mayoritas kristiani itu tak kalah amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai terbentuknya negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu tidak punya wilayah, lalu merampok negara Palestina.
Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi tertarik mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Usulan itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.

Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur’an, aku bingung. Kitab ini, mana yang depan, mana yang belakang, mana atas mana bawah. Kemudian aku amati bentuk hurufnya, aku semakin bingung. Bentuknya panjang-panjang, bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus mempelajari dari terjemah.
Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak mengerti bahwa membaca al-Quran dimulai dari kiri, aku justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Yang pertama kali aku pandang, adalah surat Al Ihlas. Aku membacanya, bagus surat al-Ikhlas ini, pujiku. Suara hatiku membenarkan bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. “Ini ‘kok bagus, dan bisa diterima !”, pujiku lagi.

Pagi harinya, saat kuliah Teologia, dosen saya mengatakan, bahwa Tuhan itu satu tapi pribadinya tiga, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan trinitas, atau tritunggal. Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk mengaji lagi surat al-Ihklas. “Allahhu ahad, ini yang benar,” putusku pada akhirnya. Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan dosen-dosen saya. Aku katakana, “Pastur (Pastur), saya belum paham hakekat Tuhan.”

“Yang mana yang Anda belum paham ?” tanya Pastur. Dia maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi, AB=BC=CA. Aku dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengana Tuhan Putra sama dengan kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan.
“Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah moderen, iptek semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi,” tanyaku lebih mendalam.
Dosen menjawab, “Tidak bisa !”
Aku jawab “bisa saja”, kemudian aku maju ke papan tulis. Saya gambar bujur sangkar. Kalau dosen saya mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga sama sisi, sekarang saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja saya simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat. Pastur bilang, tidak boleh. Mengapa tidak boleh ? Tanya saya semakin tak mengerti.
“Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja !” tegas Pastur. Aku katakan, kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana ?.
“Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya dosa !” tegas Pastur mengakhiri.

Walau pun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang mendorong saya untuk kembali mempelajari surat al-Ikhlas. Ini terus berkelanjutan, sampai akhirnya aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang membuat mimbar, membuat kursi, meja ?” Dia tidak mau jawab. “Coba Anda jawab !” Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga. Aku jawab, itu semua yang buat tukang kayu.
“Lalu kenapa ?” tanya Pastur lagi.
“Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai seratus tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satu pun yang membuat mereka berubah jadi tukang kayu,” saya mencoba menjelaskan.
“Apa maksud Anda ?” Tanya Pastur penasaran.
Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan seratus tahun lalu sampai seratus tahun kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh dipersamakan dengan manusia.

Malamnya, kembali kukaji surat al-Ikhlas. Hari berikutnya, aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang melantik RW ?” Saya ditertawakan. Mereka pikir, ini ‘kok ada suster yang tidak tahu siapa yang melantik RW ?.
“Sebetulnya saya tahu,” ucapku.
“Kalau Anda tahu, mengapa Anda Tanya ? Coba jelaskan !” tantang mereka.
“Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik RT jelas pelantikan itu tidak syah.”
“Apa maksud Anda ?” Mereka semakin tak mengerti.
Saya mencoba menguraikan, “Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi Tuhan, jelas pelantikan itu tidak syah.”

Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat al-Ikhlas. Kembali terjadi dialog-dialog, sampai akhirnya saya bertanya mengenai sejarah gereja. Menurut semua literratur yang saya pelajari, dan kuliah yang saya terima, Yesus untuk pertama kali disebut dengan sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi Tuhan pada tahun 325 Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Constantien kaisar romawi.
Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau muktamar) di kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus berpredikat sebagai Tuhan. Maka silahkan umat kristen di seluruh dunia ini, silahkan mencari cukup satu ayat saja dalam injil, baik Matius, Markus, Lukas, Yohanes, mana ada satu kalimat Yesus yang mengatakan ‘Aku Tuhanmu ‘ ? Tidak pernah ada.
Mereka kaget sekali dan mengaggap saya sebagai biarawati yang kritis. Dan sampai pada pertemua berikutnya, dalam al-Quran yang saya pelajari, ternyata saya tidak mampu menemukan kelemahan al-Qur’an. Bahkan, saya yakin tidak ada manusia yang mampu.

Kebiasaan mengkaji al-Qur’an tetap saya teruskan, sampai saya berkesimpulan bahwa agama yang hak itu cuma satu, Islam. Subhanaallah. Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu melalui proses berbagai pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan ayat. Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari al-Qur’an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik, Maryam menjadi tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam.
Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah. Tapi masih panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam tahun kemudian aku baru mengucapkan dua kalimah syahadat.

Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya diterpa dengan berbagai macam persoalan, baik yang sedih, senang, suka dan duka. Sedih, karena saya harus meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu bingung bercampur sedih.
Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya. Kemudian aku menikah dengan orang Katholik. Harapanku dengan menikah adalah, aku tidak lagi terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah menikah, ya selesai !
Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku adalah aktifis mahasiswa. Begitu pun dengan diriku, kami kerap kali berdiskusi. Setiap kali kami diskusi, selalu berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku mulai bicara tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka sesuatu dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku akan membelanya, maka jurang pemisah itu semakin membesar, sampai pada klimaksnya.

Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak bisa berlanjut, dan tidak mungkin bertahan lama. Aku mulai belajar melalui ustadz. Aku mulai mencari ustadz, karena sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua. Alhamdulillah Allah mempertemuka saya dengan ustadz yang bagus, diantaranya adalah Kyai Haji Misbah (alm.). Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang lalu.
Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk masuk Islam. Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang sama, “Masuk Islam itu gampang, tapi apakah Anda sudah siap dengan konsekwensinya ?”
“Siap !” jawabku.
“Apakah Anda tahu konsekwensinya ?” tanya beliau.
“Pernikahan saya !” tegasku. Aku menyadari keinginanku masuk Islam semakin kuat.
“Kenapa dengan dengan perkawinan Anda, mana yang Anda pilih ?” Tanya beliau lagi.
“Islam” jawabku tegas.

Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau. Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun. Setelah resmi memeluk Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada agamanya. Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun, dan telah dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Alhamdulillah, saat mereka telah menjadi muslim dan muslimah.

Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku sebagai seorang muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum ramadhan tahun dimana aku berikrar, aku langsung melaksanakan shalat. Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah cukup besar. Banyak kamar terdapat didalamnya. Kakakku berteriak mencariku. Ia kemudian membuka kamarku. Ia terkejut, ‘kok ada perempuan shalat ? Ia piker ada orang lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.

Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia menyaksikan bahwa yang sedang shalat itu aku. Selesai shalat, aku tidak mau lagi menyembunyikan agama baruku yang selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar biasa. Ia tidak menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat. Sejak saat itulah terjadi keretakan diantara kami. Agama baruku yang kupilih tak dapat diterima. Akhirnya aku meninggalkan rumah. Aku mengontrak sebuah rumah sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap datang menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu meninggal dunia. Setelah ibu saya meninggal, tidak ada kontak lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang lain sampai sekarang.

Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya ibuku. Walaupun ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan akhirnya terjadi terus. Islam, baginya identik dengan hal-hal negatif yang saya contohkan di atas. Pendapat ibu sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.

Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah aku diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan ibadah haji. Selama masuk Islam sampai pergi haji, aku selalu menggerutu kepada Allah, “kalau Engkau, ya Allah, menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak menakdirkan saya menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang Islam, sama seperti saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu. Dengan begitu, saya tidak perlu banyak penderitan. Mengapa jalan hidup saya harus berliku-liku seperti ini ?” ungkapku sedikit kesal.

Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan dengan sujud syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk dengan perjalan hidupku seperti ini. Aku merasakan nikmat iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang sudah Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan Islam.
Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi, diberi emosi, rasio. Agama Islam adalh agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya analisis kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah, “Apakah sama orang yang tahu dan tidak tahu ?”

Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas kehendak-Nya pula aku kemudian diberi kemudahan dalam belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah tidak banyak kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab.
Allah memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku begitu lancar dan banyak diundang untuk berceramah. Tak hanya di Surabaya, aku kerap kali iundang berdakwah di Jakarta. Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku, termasuk jodoh, melalui pertemuan yang Islami, aku dilamar seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua sama-sama aktif berdakwah sampai ke pelosok desa. Terjun di bidang dakwah tantangannya luar biasa. Alhamdulillah, dalam diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya karena Allah.

(sumber : Kisah Irene Handono – Majalah Hidayah)
http://www.kotasantri.com/modules.php?name=Beranda&file=detail&sid=197

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.010/th.01/DzulQoidah-Dzulhijjah 1425H/2005M


Ayat Al-Qur’an Memercikkan Keharuan dalam Jiwa

Juni 4, 2007

Nama saya Lay Fong Fie. Lahir di Kalimantan Barat tanggal 23 Agustus 1960. Bapak saya bernama Lay Siong Lin dan Ibu saya bernama Then Sian Fung. Keduanya keturunan Tiong Hoa.

Tahun 1982 adalah awal perjalanan saya menuju hidayah. Bertepatan dengan ibu saya yang mengalami sakit keras. Segala usaha sudah ditempuh, tapi ia tidak kunjung sembuh. Menurut tetangga saya, Ibu kemasukan setan atau jin. Mereka menyarankan agar keluarga saya pergi ke orang pintar (kyai). Saya pun mencari “orang pintar” untuk mengobati Ibu. Saya mencoba mempertimbangkan saran itu dan saya menemukan seorang kyai bernama Maskur.

Pak Kyai mendekati ibu. Ia membaca doa-doa, entah apa. Saya tidak peduli. Saya hanya ingin Ibu saya sembuh. Saya tidak tahu kekuatan dari mana yang membuat Ibu saya sembuh dari penyakitnya, setelah dibacakan doa-doa oleh kyai tersebut. Saya mencoba bertanya, “Pak, dari mana Bapak dapat doa-doa itu sehingga Ibu saya bisa sembuh ?”. Kyai tadi menjawab, “Dari Al-Qur’an.” Pak kyai juga bilang, Allah-lah yang menyembuhkan ibu.
“Wah, ternyata hebat ya Al-Qur’an itu,” pikir saya saat itu. Ayat-ayat yang dibaca kyai tersebut memercikkan keharuan dalam jiwa saya. Lentera kebenaran tentang keesaan Tuhan menyinari jiwa saya yang nyaris gelap. Seketika itu pula saya tertarik dengan Islam. Seketika itu juga saya minta izin bapak dan ibu saya untuk memeluk Islam. Ternyata bapak dan ibu saya bilang, “terserah”. Tapi, meskipun orangtua tidak begitu mempermasalahkan, justru saudara-saudara saya yang melarang saya masuk Islam.

Termotivasi dengan keingintahuan tentang Al-Qur’an yang begitu manjur, saya memutuskan untuk belajar lebih lanjut tentang Islam dan Al-Qur’an. Saya sering konsultasi dengan kyai yang mengobati Ibu saya itu.

Islam ternyata cepat larut dalam jiwa saya. Tidak ada lagi kebimbangan saya. Islam bukan sekedar agama dalam arti populer, tetapi sebuah muatan yang lebih dan menjiwai setiap perilaku dan cara hidup. Sebuah sistem ilmu ketuhanan yang menjabarkan perilaku perseorangan dan kemasyarakatan yang berdasarkan pada kesadaran.
Tidak ada satu kata pun dalam Al-Qur’an menorehkan paksaan bagi satu kebutuhan “penebusan” seperti yang terjadi pada agama lain. Tidak ada istilah “dosa asal” atau “dosa warisan”. Allah tidak menuntut apa pun dari manusia kecuali amal ibadahnya. Tidak hanya itu, bahasa Arab yang menjadi tulisan Al-Qur’an menjadi sumber kekayaan interpretasi.

Setelah saya yakin bahwa Islam adalah agama terbaik, agama yang bisa menjawab semua tantangan, hari Kamis, Mei 1983, dengan dibimbing Kyai Maskur dan disaksikan oleh Haji Abi Kusno dan K.H. Hasbullah Nur, saya mengucapkan kalimat syahadat. Nama saya pun berganti menjadi Abdul Hadi. Ketenangan batin demikian terasa dibandingkan ketika saya masih menganut agama sebelumnya.

Saat Muktamar NU di Situbondo, saya melihat para santri di televisi rapi memakai peci dan baju koko. Termotivasi dari hal itu, saya rajin menabung dari hasil keuntungan berdagang kayu, profesi saya saat itu, untuk bisa masuk pesantren. Allah menguji keimanan saya. Ternyata bisnis kayu saya gagal. Waktu itu banyak bisnis kayu yang disita dengan alasan ilegal. Bisnis saya ikut disita, meski tercatat dengan resmi. Dari sinilah saya berusaha mencari siapa pejabat yang menyita kayu milik saya. Urusan ini sampai ke Bupati, Imam Maskur. Saya menyampaikan padanya bahwa bisnis kayu saya legal.
Profesi ini saya geluti sebagai upaya untuk bisa masuk pesantren. Mendengar penuturan saya, Bupati mengungkapkan pada saya untuk tidak berdagang kayu. Ia menyisihkan uang kas Kabupaten untuk biaya masuk pesantren. Berbekal rekomendasinya, alhamdulillah saya bisa meraih cita-cita masuk pesantren. Bahkan akhirnya saya bisa kuliah pada Fakultas Syariah IAIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta dengan biaya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan.

Skenario Allah begitu indah. Boleh saja, dahulu, saudara-saudara dan teman-teman mengucilkan saya. Tapi, karena saya “ditemani” Allah, kini mereka kian mengakui keislaman saya. Mereka juga mengakui bahwa Islam bisa menjawab semua tantangan hidup. Yang membuat saya senang, sekarang saya sudah tidak sendiri lagi. Tahun 2001, Allah mempertemukan saya dengan seorang Muslimah asal Klaten, Helina Hesti Wulandari. Dialah teman sejati yang mendampingi dan lebih membuat saya senang dan bersyukur. Nabila pun, anak kami, menjadi pelengkap bagi berlangsungnya jalan dakwah yang kini saya jalani.

Alhamdulillah, setelah saya masuk Islam, hidup ini terasa mudah. Ya Allah … jadikanlah keluarga kami keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Berikan jalan terang buat kami, sehingga kami bisa terus berjuang di jalan-Mu. [MQ Media]

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.005/th.Jumada Al Thani 1425H/2004


Ahmad Izzah Al-Andalusy

Juni 4, 2007

Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan. Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara’ itu berlalu di hadapan mereka. Kalau tidak, sepatu ‘jenggel’ milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat di wajah mereka.

‘Algojo’ Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. “Hai…hentikan suara jelekmu ! Hentikan…!”. Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakkan mata. Namun apa yang terjadi ? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja ‘bersenandung’ dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan congak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Namun, sungguh menakjubkan… tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “Bersabarlah wahai ustadz… Insya Allah tempatmu di Syurga.” Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak amarahnya. Ia diperintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai. “Hai orang tua busuk ! Bukankah engkau tahu,aku tidak suka bahasa jelekmu itu ?! Aku tidak suka apa-apa yg berhubung dengan agamamu ! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan ‘suara-suara’ yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami.”

Mendengar “khutbah” itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap, “Sungguh.. .aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai Kekasihku yang amat kucintai, Allah azza wa jalla. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk ? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh.” Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu laras Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki tua itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. “Berikan buku itu, hai laki-laki dungu !” bentak Roberto. “Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini !” ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.

Sepatu laras berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’ itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur. Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung. “Ah…sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan ? Ya, aku pernah mengenal buku ini.” suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu.

Algojo berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di ujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.

Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib Nashara.
Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan air matanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti kebayanya. Sang bocah berkata dengan suara parau, “Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi alif, ba, ta, tsa….? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi…” Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya “Abi…Abi…Abi…” Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

“Hai…siapa kamu ?!” teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah. “Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi…” jawab sang bocah memohon belas kasih. “Hah…siapa namamu bocah, coba ulangi !” bentak salah seorang dari mereka. “Saya Ahmad Izzah…” sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi. Tiba-tiba “plak !” sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah. “Hai bocah…! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’ ..Awas ! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh !” ancam laki-laki itu. Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sadar dari lamunannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeris, “Abi…Abi…Abi…” Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia juga ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam’ pada bahagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi… aku masih ingat alif, ba, ta, tsa…” Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya. “Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu…” Terdengar suara Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, ditempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah SWT. Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap. “Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,” Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyhadu anla Illaaha ilAllah, wa asyhadu anna Muhammad Rasullullah…’. Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah ALlah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS.30:30)

(dari : Rumah Abu Harits )
Link:
THE MORISCOS AND MUDEJARES
SIXTEENTH CENTURY SPAIN

http://sahabatnabi.0catch.com/
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.005/th.Jumada Al Thani 1425H/2004M


Sang Presenter Yang Terbuka Hatinya

Mei 16, 2007

 

“Aku menemukan bahwa Al-Quran sarat dengan hal-hal rasional. Dan pandangan lamaku tentang Islam berubah”

 

“Saya menemukan kenyataan bahwa Islam berpihak kepada perempuan dan laki-laki. Di dalam Islam perempuan telah memiliki hak untuk memilih pada tahun 600 Masehi. Perempuan dan laki-laki di dalam Islam berpakaian dengan cara yang sopan. Mereka pun tidak diperkenankan saling menggoda. Bahkan, kaum perempuannya diperintahkan untuk memanjangkan pakaian mereka.”

 

Kristiane Backer lahir dan tumbuh dewasa ditengah keluarga Protestan di Hamburg, Jerman. Pada usia 21 tahun, ia bergabung dengan Radio Hamburg sebagai wartawati radio. Dua tahun kemudian, ia terpilih sebagai presenter MTV Eropa diantara ribuan pelamar. Sebagai konsekuensi pekerjaannya, ia pun pindah ke London, Inggris.

 

“Begitu luar biasa. Pada usia 20-an, aku tinggal di Notting Hill. Sebagai gadis muda di kota yang sama sekali baru, aku diundang ke mana-mana, difoto banyak papparazi, dan bekerja sebagai presenter. Saat itu aku bertemu dengan banyak orang-orang terkenal. Aku merasakan kehidupan yang sangat menyenangkan. Rasa-rasanya hampir semua gaji yang aku terima habis untuk membeli baju dan pernak-pernik yang bagus dan trendy. Aku pun sering melakukan perjalanan ke seluruh tempat-tempat menarik di Eropa”, begitulah Kristiane menceritakan awal kehidupannya sebagai selebritis muda.

 

Sekali waktu, Kristiane pergi ke Boston mewawancari Rolling Stone dan mengikuti tur-tur besar para artis terkenal. Kristiane bahkan dinobatkan sebagai presenter perempuan nomor satu di MTV sehingga selalu muncul di layar kaca. Kristiane juga pernah menjadi presenter untuk acara Coca-Cola Report dan Europe Top 20. Boleh dibilang, jika ada kelompok musik baru, maka Kristiane-lah orang pertama yang mewawancarai mereka. Jutaan orang di Eropa pun mengenal gaya Kristiane dengan seksama dan banyak acara besar dengan penonton sebanyak 70.000 penonton sering ia bawakan.

 

Di tengah kehidupan glamornya, ia mengalami keguncangan spiritual. Kemudian di tahun 1992, Backer bertemu dengan Imran Khan atau memang ditakdirkan oleh Allah SWT demikian. Imran Khan adalah anggota tim kriket Pakistan. Pertemuan itu adalah pertemuan pertama kali antara Backer dengan seorang bintang yang beragama Islam. Backer dan Khan yang sama-sama mendalami Islam, selalu berdiskusi tentang Islam. Khan selalu memberikan buku-buku tentang Islam kepada Backer dan dengan penuh semangat pula Backer mengkajinya.

 

“Aku menemukan bahwa Al-Quran sarat dengan hal-hal rasional. Dan pandangan lamaku tentang Islam berubah. Karena apa yang kupelajari berbeda dengan anggapan orang-orang di sekitarku. Bahkan ketika aku mengkaji masalah perempuan dalam Islam, aku menemukan bahwa Islam menjunjung tinggi hak-hak wanita yang sekarang tengah diperjuangkan di seluruh dunia. Akan tetapi Islam telah menjunjung tinggi hak-hak wanita sejak ratusan tahun yang lalu. Perempuan dan laki-laki berpakaian dan bertingkah dengan cara yang sopan”, jelas Backer.

 

Backer menceritakan bahwa sejak mengenal Islam dan membaca terjemahan Al-Quran, ia tak lagi menggunakan rok pendek dan pakaian yang buka-bukaan. Ia mulai mengenakan pakaian longgar dan panjang jika tampil di televisi. Ia dengan tegas mengatakan bahwa wanita yang membeberkan tubuhnya di depan publik adalah melecehkan seluruh wanita di muka bumi ini.

 

Akhirnya, Backer menerima Islam dengan lapang dada dan sukacita. Setelah mengucap syahadat, perlahan ia mempelajari shalat lima waktu dan berpuasa ramadhan. “Dulu aku sering sekali minum campagne di pesta-pesta malam, kini saya tidak lagi menyentuh minuman seperti itu”, kisahnya.

 

Pada tahun 2001, Backer pergi menunaikan ibadah haji. Ia begitu terkesan dengan perjalanan ibadah haji. Ia menceritakan bahwa ia sedang di puncak karirnya pada saat itu. Akan tetapi ia memilih mengundurkan diri dari dunia gemerlap selebritis yang merusak jiwa dan batinnya, “Aku sudah tak sanggup lagi meneruskannya”, ujarnya mengenai pekerjaannya sebagai presenter kondang MTV.

 

Secara total dunia showbiz ia tinggalkan. Dan Backer pun mencoba untuk menekuni bidang lain. Ia kuliah di Westminter University dan mempelajari pengobatan alami, termasuk herbal, aromatherapy, quigong (obat Cina), sari bunga dan homeopathy.

“Kuliah-kuliah seperti itu membuka dunia baru bagi saya, yaitu cara baru untuk melihat hubungan antara manusia, alam dan kesehatan dengan penyakit dan juga hubungan dengan alam semesta. Seluruh penyakit ada obatnya, dan alam menyediakan ini semua”, papar Backer.

 

Kini Backer memiliki klinik Homeopathis sendiri di Jerman. Ia pun terlibat dalam proyek pengembangan berbagai jenis kosmetika alami dan makanan tambahan (suplemen) yang memanfaatkan obat-obatan tradisional dan berbagai jenis minyak dari tumbuhan eksotik yang ditemukan di negara-negara Arab.

Tak hanya itu ia juga mengkaji masalah agama, terutama sosial budaya, pengobatan Islami dan sosial politik Islam di Birkbeck University. Dengan begini Backer banyak terlibat dalam kegiatan sosial dan keorganisasian. Bahkan di tahun 1998, ia sukses mengorganisasikan dan mengkoordinasikan Art Exhibition and Concert yang bekerja sama dengan Duta Besar Bosnia untuk PBB, Muhammad Sacirbey. Dimana kegiatan itu dilakukan dalam rangka menyambut kedatangan presiden Bosnia Herzegovina sebagai bagian dari Bridge Project yang dimaksudkan bagi penyatuan tiga fraksi yang berbeda di tengah masyarakat Bosnia.

Backer pun aktif sebagai anggota eksekutif organisasi sosial Learning for Life. Pada tahun 2001, organisasi itu menyelenggarakan pengumpulan dana bagi penguasa Afghanistan dan ia menjadi pemandu acaranya. Backer beberapa kali mengunjungi Pakistan bersama teman-temannya dan mengamati cara hidup dan sistem nilai yang sangat berbeda dengan Barat. Ia sadar bahwa meskipun hidup miskin, ternyata masyarakat Pakistan sangat hangat dan ramah.

Kunjungannya beberapa kali ke Pakistan, bersama suaminya Imran Khan, membuat Backer merasa tersentuh dengan gaya Islam Pakistan dalam berpakaian. Seabreg pakaian panjang ala baratnya segera diganti dengan pakaian ala pakistan dan kerudung pakistannya. Bukan hanya karena agama atau suaminya yang membuat ia nyaman dengan pakaian yang tertutup. “Aku merasakan kenyamanan dengan pakaian seperti ini”, jelasnya.

 

Inilah yang membedakan antara kehidupan Barat dengan Islam. Bahwa dua peradaban ini tidak mungkin bersatu untuk kemudian membentuk peradaban yang normal. Gaya Barat akan mengikis ke-Islaman diri kita. Dan Backer pun membuktikan bahwa Dunia Barat tidak akan mampu memuaskan jiwa kita. Backer yang telah hidup sekian waktu dalam lubang budaya Barat, menjadi sadar dan memberitahukan kepada kita, “Bahwa tak satu pun dari mereka merasakan kebahagiaan. Aku adalah buktinya. Senyum yang mengembang tidak mampu seindah senyum seorang Pakistan yang hidupnya jauh lebih miskin”, jelas Backer.

Backer kini melanjutkan karirnya sebagai pemandu banyak acara sosial yang disiarkan di televisi di Eropa. Selain berbahasa Jerman, ia mampu berbahasa Inggris, Italia dan Perancis. Di dalam Islamlah Backer menemukan makna hidup yang sebenarnya, “Sungguh ini merupakan karunia terbesar yang pernah saya dapatkan.”

Semoga Kristiane Backer tetap kukuh mempertahankan aqidah Islam.

 

[NA/ berbagai sumber]

http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=355_0_4_0_m

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 020/th.02/Dzulhijjah-Muharram/1426H/2006M


Ukhuwah Islam itu Mempesona

Mei 15, 2007

AKU terlahir dengan nama Maria Magdalena. Kini aku lebih suka dipanggil Maryam saja. Ibu -yang biasa aku panggil emak- yang melahirkan aku di Nganjuk, 17 De sember 1977 adalah seorang aktivis non Muslim. Sewaktu tinggal di Lampung, rumah kami sering dijadikan pusat aktivitas mereka. Aku dibesarkan di keluarga yang jauh dari Islam. Selain ibuku non Muslim, Bapak adalah penganut kejawen, yang pada waktu tertentu sering memberi sesaji untuk keris. Bersyukur Allah menyayangiku.

Sejak usia 17 tahun, Allah memberiku hidayah untuk memeluk Islam. Ukhuwah itu yang awal mula dulu membuatku tertarik pada Islam, kini makin aku rasakan. Karena ukhuwah pulalah aku dimudahkan oleh saudara-saudaraku mengenal Islam. Mereka menolongku semata-mata karena mereka ingin aku mengenal Allah. Dan setelah sekian lama dalam tarik-menarik dua keyakinan yang berbeda, Allah menun jukkan jalan-Nya. Mbak Jani, kakak pertamaku yg telah berislam sejak SMP, getol mengajakku memeluk Islam. Sedang Emak, yang begitu taat dengan keyakinannya, terus mengajakku mengikuti jejaknya. Boleh dibilang beliau adalah aktivis di kalangannya. Bahkan saking militannya, kelumpuhan akibat stroke tak menghalangi Emak datang ke acara kerohanian. Aku seolah diperebutkan antara Mbak Jani & Emak.

Tarikan dari Mbak Jani agak berkurang, seiring kondisi kami yang tidak tinggal serumah lagi dengan Mbak Jani yang lebih memilih tinggal bersama ibu tiri – kami panggil Ibu – yang beragama Islam walaupun kejawen. Maka secara otomatis, aku ikut aktif sebagaimana Emak. Aku jadi murid kesayangannya dan sering dijadikan contoh sebagai anak yang berbakti. Aku terus aktif, walau sempat berjanji pada Mbak Jani untuk berislam sekalipun tinggal bersama Emak.

Sepeninggal Bapak, yang tak lama disusul emak, tarikan itu mulai kurasakan lagi. Setelah itu aku berkumpul kembali bersama Mbak Jani, adikku Ali, dan Ibu. Aku mulai tertarik dengan jilbab yang ketika itu dikenakan Mbak Jani. Jilbab panjang itu sering aku pakai. Orang sering keheranan melihatku dengan jubah tanpa kerudung yang menutupi kepala. Dasar sedang puber, aku senang saja berganti-ganti baju. Ketika kakakku menyuruhku memakai jilbab, dan aku mau saja. Padahal waktu itu aku belum terlalu mengenal Islam.

Seiring perjalanan waktu, Allah memberikan berbagai kemudahan-Nya untukku mengenal agama ini. Aku semakin yakin dengan kebenaran jalan yang kupilih. Alhamdulillah, suamiku Mirzan Adi Bratha terus membimbingku untuk mengarungi samudera hidayah-Nya. Kehadiran Hulwa Tazqia Syahida, anakku, semakin menguatkan ibadahku dan suamiku. Aku tak ingin apa yang terjadi padaku terulang padanya. Aku ingin menjadi orangtua yang mengajarkan Islam. Doa dan harapanku pada Allah, supaya Dia menetapkan hatiku pada kebenaran ini hingga akhir hayat. Aku tahu Dia Maha membolak-balikkan hati, jadi aku berdo’a kepada-Nya agar hati ini terus dijaga oleh-Nya. – [Sumber : MQMedia.com]

http://www.kotasantri.com/modules.php?name=Beranda&file=detail&sid=44

UKHUWAH DALAM AL-QURAN

Oleh : M. Quraish Shihab

Dalam Al-Qur’an, kata ‘akh’ (saudara) dalam bentuk tunggal ditemukan sebanyak 52 kali. Kata ini dapat berarti saudara kandung (QS. An-Nisa’ :23), saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga (QS. Thaha : 29-30), saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama (QS. Al-A’raf : 65), saudara semasyarakat, walaupun berselisih paham (QS. Shad : 23), persaudaraan seagama (QS. Al-Hujurat : 10). Di samping itu ada istilah persaudaraan lain yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an yaitu saudara sekemanusiaan (ukhuwah insaniyah) dan saudara semakhluk dan seketundukan kepada Allah.

Ukhuwah islamiyyah adalah ukhuwah yang bersifat Islami atau yang diajarkan oleh Islam. Berdasarkan pada pengertian ini, paling tidak ada empat macam ukhuwah :

1. Ukhuwah ‘ubudiyyah atau saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah.
2. Ukhuwah insaniyyah (basyariyyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah saudara karena mereka berasal dari seorang ayah dan ibu.
3. Ukhuwah wathaniyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan.
4. Ukhuwan fi din Al-Islam, persaudaraan antar sesama muslim.

http://www.shodikin.20m.com/quraih_shihab.htm
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 028/th.03/DzulHijjah-Muharram 1428H/2007M