Pemalsu Al-Qur’an itu Bernama Anis Shorrosh

November 15, 2007

Siapakah pengarang Qur’an Palsu yang pernah menghebohkan di Surabaya, Padang dan beberapa daerah lain beberapa waktu yang lalu ?. Dialah Dr Anis Shorrosh, pastor evangelist Amerika yang mengaku lahir di Nazareth. Dia juga mengajar di sejumlah sekolah teologi dunia. Hal ini bisa dibuktikan melalui situs Islam in Focus [www.www.islam-in-focus.com /TheTrueFurqan.htm], dia menawarkan ‘kitabnya’ Al-Furqanul Haqq atau The True Furqan.

Dia mengaku telah menerjemahkan Al Quran yang orisinal ke dalam bahasa Inggris sejak setahun lalu. Dia menyusun kitab dalam 77 surat dengan text Arab klasik plus terjemahannya dalam bahasa Inggris. Kitab itu ditawarkan dengan harga 19,95 dolar, dapat dipesan melalui internet atau surat ke Truth In Crisis PO Box 949 Fairhop, AL 36533. Versi lengkap dari karangan Shorrosh itu pernah dimuat dalam situs SuraLikeIt via American On Line [AOL]. Karena menimbulkan keresahan dan sejumlah protes dari kelompok muslim AS, AOL kemudian membekukan situs itu. Tapi upaya penyesatan terus dialihkan ke situs Islam in Focus yang bermotto Truth In Crisis International. Meski begitu, beberapa isi kitab itu masih tersedia gratis di beberapa situs. Antara lain di http://www.islam-exposed.org/furqan/contents.html yang memuat empat surat. Yaitu: Al-Iman (10 ayat), At-Tajassud atau “The Incarnation” [15 ayat], Al-Muslimoon [11 ayat], dan Al-Wasaya (16 ayat).

Sepintas lalu, ayat-ayat itu mirip bagian dari Al Qur’an namun banyak ayat yang diplesetkan. Dan kesemuanya itu mempromosikan ajaran kristiani dan berusaha menyakinkan soal paham trinitas. Al Iman ayat 9, misalnya berbunyi, You are truly the Son of God; in you we believed and in front of you we kneel. {anta huwab’nullahi hakkan fika nahnoo amanna wa ‘amamka nakhurroo sajideen} “Anda benar-benar anak Allah: Kepada-Mu-lah kami beriman dan bersujud.”
Sebelumnya, pada ayat 1 dan 2 dari Al Iman, Anis Shorrosh, menulis “And make mention of the disciples in the Book, when the wind blew while they were sailing at night. (1) {wadhkur filkitabbil hawari-yeena idha asafatir ri-yahoo bihem laylan wahum yubhiroon}.” Artinya kurang lebih, ”Dan ingatlah Al Kitab, ketika angin bertiup sementara mereka berlayar di tengah malam. ”
”And then it appeared to them seeing the phantom of Christ walking on the water. They said: Is He our Lord deriding us or have we gone insane? (2) {Idhtara ‘alahum alal mi-yahee tayful Maseehee yamshee fakaloo a’huwa rabbuna yahza’oo bina am kad massana tayfun min junoon.}” , artinya, “Kemudian nampaklah kepada mereka bayangan Kristus berjalan di atas air. Mereka berkata: Dialah Tuhan Kami yang mengendalikan kita atau yang menyebabkan kami menjadi manusia”.
Contoh lain pada surat At-Tajassud ayat 7. ”Katakanlah pada orang-orang yang masih ragu terhadap yang telah diberitakan sebelumnya, bahwa Kristus bukan makhluk Allah, dia telah bersama Allah pada awalnya dan akan selalu bersamanya.”

Sejak 1959-1966, Anis Shorrosh telah menjadi pastur evangelist di Timur Tengah. Tiga tahun diantaranya mengabdi pada gereja Jerusalem baptist. Dia juga bertugas di Judea, Samaria dan pada 74 negeri. Alumnus master teologi dari NOBTS di New Orleans, AS dan doktor dari Luther Rice Seminary di Atlanta, telah menulis sembilan buku lainnya. Antara lain tentang Yesus, Islam, Kerasulan dan Timur Tengah.
Pada tahun 1990-an, Anis banyak bertugas sebagai misionaris di Afrika. Antara lain di Kenya, capetown, Durban, dan Johanesburg. Kemudian bertugas di Selandia Baru [1995], Inggris dan Purtugal. Selain tentu saja menjadi evangelist fanatik di AS.
(dari : Republika, 01 Mei 2005)

(c)2003 pusat studi alquran
http://www.psq.or.id/agenda_detail.asp?mnid=28id=90

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 034/th.04/Sya’ban-Ramadhan 1428H/2007M

Iklan

Mengenal Penginjil Dr. Peter Youngren

September 17, 2007

Dr. Peter Youngren ialah seorang penginjil dari Kanada. Dia telah melakukan perjalanan penginjilan ke lebih dari 85 negara di dunia. Di Indonesia, dia telah mengadakan Festival Penyembuhan di berbagai kota, seperti Semarang, Bandung dan Manado. Dia juga telah melatih lebih dari 110 ribu pendeta dan pemimpin dalam seminar ‘Global Harvest Praise’. Tentang penyembuhan atau mukjizat yang ditawarkannya, dia mengatakan, “Kita menawarkan hidup baru dalam Kristus. Saya percaya bahwa setelah mereka terima Kristus mereka akan mengerti bahwa mereka harus pergi ke gereja.” (lihat : Bethanygraha.org dan Wikipedia). Dia juga mengatakan, “Saya sudah berkunjung ke banyak negara selama 30 tahun. Baik negara dengan penduduk Hindu, Islam, Budha, sampai penganut atheis sekalipun dan responnya cukup positif,” (Denpost). Kaum muslimin, yang semoga senantiasa mendapat taufiq dari Allah, di antara program kunjungan Dr. Peter Youngren adalah rencana kedatangannya di kota Yogyakarta pada hari Rabu, 30 Mei 2007 sampai dengan hari Sabtu, 2 Juni 2007 di Stadion Mandala Krida Yogyakarta. Tema Acara ini adalah Jogja Festival 2007 yang berisi acara pengobatan/penyembuhan massal yang diiringi dengan kebaktian rohani.

Membongkar Kedok Pemurtadan di Balik Pengobatan Dr. Peter Youngren
Kaum muslimin, yang semoga senantiasa mendapat taufiq dari Allah, keimanan seorang muslim terhadap Allah dan Rasul-Nya, Muhammad SAW tidaklah boleh ada keragu-raguan sedikit pun di dalamnya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.”(QS. Al-Hujuraat : 15)
Seorang muslim haruslah yakin bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan yang berhak untuk disembah dan sesembahan selain Allah adalah batil. Dalam suatu wawancara, Dr. Peter Youngren pernah ditanya, “Seringkali orang Kristen memiliki suatu konsep yang salah dalam hal bersaksi tentang Kristus kepada orang lain yaitu dengan cara membawa orang ke gereja atau menjadikan dia Kristen dan bukan memberitakan Kristus kepada orang tersebut. Apakah pendapat Bapak tentang hal ini ?”. Kemudian ia menjawab, “Kita tidak pernah meminta orang-orang untuk menja di Kristen tetapi menjadikan mereka orang yang percaya kepada Yesus (Jesus’ believers). Bukan merubah agama orang itu. Yesus dan Petrus sendiri tidak pernah menggunakan istilah Kristen untuk orang percaya. Saya juga tidak gunakan istilah ini. Kalau hal ini terjadi maka kita akan disangka mengkristenkan mereka. Kita menawarkan hidup baru dalam Kristus. Saya percaya bahwa setelah mereka terima Kristus mereka akan mengerti bahwa mereka harus pergi ke gereja.” (lihat : Bethanygraha.org)

Dalam festival penyembuhan massal yang dilakukannya, dia juga menyatakan, “Saya doakan mereka secara umum dan dalam doa kesembuhan itu saya ucapkan apa yang Yesus telah lakukan.” Ia juga menyatakan, “Kesembuhan massal didasarkan pada penanganan Tuhan secara pribadi dengan umat-Nya, juga iman si individu di dalam Kristus. Tetapi itu semua terjadi pada waktu yang bersamaan.” (lihat : Bethanygraha.org). Dari ucapan ini, dapat diketahui bahwa Dr. Peter Youngren ingin agar setiap orang (pemeluk agama selain Nashrani) percaya pada Yesus atau beriman kepadanya. Setelah mereka beriman kepadanya barulah dia akan terseret masuk ke gereja (alias ‘murtad’ secara perlahan-lahan). Dan seseorang tidaklah mungkin menjadi sembuh dari sakitnya dalam acara festival tersebut kecuali setelah sebelumnya ia yakin (beriman) pada Yesus yang dengan ini dapat membuatnya keluar (murtad) dari Islam.
Dr. Peter Youngren juga telah mengelabui kaum muslimin dengan memberi nama acara pengobatan massal yang dia lakukan dengan nama ‘Festival’ semacam Jogja Festival , Bandung Festival, atau Balikpapan Festival. Padahal di dalam acara festival pengobatan massal tersebut diiringi pula dengan acara peribadatan ala Nashrani (kebaktian rohani) yaitu diiringi dengan lagu-lagu kidung rohani versi Nashrani. Mengapa dia tidak menamai acara tersebut dengan Kebaktian Rohani Kristen saja ?.

Bahkan umat Islam dikelabui dengan Festival yang seolah-olah terbuka untuk semua umat beragama. Ada apa di balik itu semua ?.
Dalam suatu wawancara, Dr. Peter pernah ditanya, “Mengapa dalam ibadah kesembuhan anda menyebutnya sebagai Festival dan bukan Crusade atau Revival Meetings (KKR -Kebaktian Kebangunan Rohani-). Ia menjawab, “Kata Crusade (KKR) adalah kata yang melukai saudara sepupu kita dari agama lain (maksudnya adalah umat islam, pen), sedangkan kata Revival tidak kita gunakan dalam ibadah kita. Kita menyebutnya Festival atau Celebration (perayaan). Misalkan kalau diadakan di Surabaya, kami menyebutkan di poster sebagai Surabaya Festival bukan Jesus Festival atau Festival Injil. Ini sama sekali tidak memberikan kesan agamawi. Orang bertanya apa ini ? Mereka tidak tahu dan akan datang menghadirinya. Kita bahkan tidak gunakan lambang gereja seperti salib dan sebagainya. Ada yang bertanya kepada saya apakah saya telah berkompromi ?. Kita tidak berkhotbah di poster atau di iklan tetapi kita berkhotbah di festival. Setelah mereka berada di festival, baru kita sampaikan Injil kepada mereka.” (lihat : Bethanygraha.org)

Kaum muslimin, yang semoga senantiasa mendapat taufik dari Allah, bentuk pemurtadan yang lain dalam acara festival tersebut adalah ditujukannya suatu ibadah kepada selain Allah. Padahal memalingkan suatu ibadah kepada selain Allah termasuk kesyirikan. Dan di antara bentuk ibadah yang paling agung adalah do’a, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Do’a adalah ibadah.” (HR.Tirmidzi, hasan sho hih). Apabila seseorang berdo’a kepada selain Allah (seperti berdo’a kepada Yesus, jin, mayit, atau bahkan kepada para Nabi yang telah wafat) maka ia telah berbuat kesyirikan dan pelakunya adalah kafir (keluar dari Islam). Demikian pula orang yang meridhoi perbuatan kesyirikan dan tidak membencinya, maka ia juga telah kafir.

Himbauan
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Balikpapan, mengeluarkan fatwa terkait pelaksanaan ‘Balikpapan Festival 2003’, yang dilaksanakan pada tanggal 1-5 Oktober 2003 di Gelora Patra, dengan menghadirkan pembicara utama Pdt. Peter Youngren dari Kanada. Ketua komisi Fatwa MUI Balikpapan mengatakan, “Jadi kalau ada umat Islam yang menghadiri acara ritual itu dan meyakini bahwa pengobatan yang diberikan Peter Youngren bakal membawa kesembuhan, maka bisa digambarkan bahwa keyakinan yang orang bersangkutan mulai goyah. Bahkan condong ke arah kemurtadan.” (Kaltim Post, Cybernews, Rabu 1 Oktober 2003). Oleh sebab itu, kami juga menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat muslim untuk tidak hadir dalam acara-acara tersebut, meskipun mereka mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah kristenisasi. Karena tentu saja kalau acara kekufuran itu disebut kristenisasi niscaya tidak ada seorang pun di antara kaum muslimin yang mau menghadirinya. Inilah tipu muslihat mereka untuk menjerat kaum muslimin !
Wajib bagi kaum muslimin untuk mengingkari acara-acara semacam ini sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia merubah dengan tangannya, apabila tidak sanggup maka dengan lisannya, apabila tidak sanggup maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim). Jadi hendaknya setiap kaum muslimin juga melarang anggota keluarga, saudara, kerabat, dan tetangganya agar tidak manghadiri acara pemurtadan berkedok pengobatan/penyembuhan massal tersebut.

Sikap seorang muslim dalam menghadapi musibah Kaum muslimin -semoga Allah senan tiasa memberikan taufik kepada kita- dalam hidup di dunia ini tentunya kita tidak akan lepas dari berbagai macam cobaan. Allah berfirman yang artinya, “Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji ?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3). Allah juga berfirman yang artinya, “Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya’:35).

Kaum muslimin -semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus-, Nabi kita, Muhammad SAW telah bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Demikianlah keadaan seorang mukmin …. Jika ia mendapatkan nikmat maka bersyukur dan menggunakan kenikmatan tersebut untuk ketaatan kepada Allah. Namun apa bila ia mendapatkan cobaan atau musibah (misalnya dengan kebutaan dan lumpuh) tidaklah hal itu menjadikankan berpaling dari Allah atau menjadi kafir kepada-Nya -na’udzubillah-, akan tetapi ia bersabar menghadapi cobaan itu dengan mengharap pahala dari Allah. Sungguh indah dan mulia agama kita.

Perlu diingat pula bahwa di balik musibah terdapat hikmah yang begitu banyak. Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah yang dapat kita gali. Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas). Ingatlah pula bahwa cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih).
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keyakinan dan kesabaran yang akan meringankan segala musibah dunia ini.

Maka carilah sebab agar mendapatkan kesembuhan dari penyakit dengan berobat. Karena Rasulullah menganjurkan pada umatnya untuk berobat. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Wahai hamba Allah berobatlah, karena tidaklah ada suatu penyakit kecuali Allah memberi obatnya.” (HR. Tirmidzi, hasan shohih) Namun seseorang harus memperhatikan pula hukum yang terkait dengan pengambilan sebab.
Pertama, sebab yang diambil harus terbukti secara syar’i atau qodari (penelitian ilmiah).
Kedua, tidak bersandar pada sebab namun bersandar pada Allah. Maka hendaklah setiap yang ingin berobat tidak menyandarkan hatinya kepada dokter atau obat, namun hendaklah selalu bertawakkal pada Allah.
Ketiga, keampuhan suatu sebab hanya tergantung pada taqdir Allah. Maka pahami dan perhatikanlah ketiga hukum pengambilan sebab ini ketika hendak berobat dari suatu penyakit.
Terakhir, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba yang ditimpa musibah, lalu mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un, Allahumma’jurni fi mushibati wa akhlif li khoiron minha’. Maka Allah akan memberi ganjaran padanya dalam musibah yang dihadapi dan Allah akan memberi ganti yg lebih baik darinya.” (HR. Muslim)

Semoga Allah menjaga dan meneguhkan keimanan kita sampai datangnya kematian, menjaga urusan kaum muslimin dari makar musuh-musuhnya serta menjadikan para pemimpin kita termasuk orang-orang yang memperjuangkan syariat-Nya dan berjalan di atas jalan Islam yang lurus. Amin Yaa Mujibad Da’awat.

[Disusun oleh Al-Akh Ari Wahyudi, Al-Akh Ibnu Sutopo & Al-Akh Muhammad Abduh T, Pengurus LBIA Al-Atsary. Tulisan ini juga telah diterbitkan oleh Bulletin At-Tauhid edisi 118, 25 Mei 2007]

Pesantren UGM – Media Informasi Islam – Keluarga Muslim Fakultas MIPA UGM ::
http://mii.fmipa.ugm.ac.id/new/?p=230
note :“Dan berilah peringatan kepada kerabatmu terdekat” (QS.Asy-Syu’araa : 214) “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS.Adz-Dzaariyaat : 55)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M


BERKEDOK PENGOBATAN MASSAL

September 13, 2007

 

FORUM UKHUWAH ISLAMIYAH,

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA,
Jl. IPDA Tut Harsono No. 3A Yogyakarta Telp. 0274-7430742.

PERNYATAAN SIKAP TENTANG PENJAGAAN AQIDAH UMAT DARI UPAYA PEMURTADAN.

Dalam rangka mengakomodasi keresahan umat Islam di DI Yogyakarta, terkait adanya kegiatan pihak-pihak tertentu yang disinyalir merupakan sebuah upaya pemurtadan atas umat Islam secara terselubung, maka segenap umat Islam DI Yogyakarta menyerukan dan menghimbau :

1. Umat Islam menolak Jogja Festival 2007 karena merupakan [aksi] missionaris yang dalam aktivitasnya [melakukan] Kristenisasi dan Pemurtadan Umat Islam.

2. Event ini harus digagalkan karena rentan memicu persoalan masalah SARA.

3. Kepada semua pihak agar memahami bahwa kondisi DI Yogyakarta yang damai serta sikap toleransi antar umat beragama yang telah terbangun, tidak diusik dengan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang meresahkan kehidupan umat beragama, terlebih lagi bila kegiatan tersebut mengarah pada upaya pemurtadan dengan berkedok pengobatan atau apa pun.

4. Kepada semua pihak agar tidak menggunakan kesempatan atas sikap toleransi umat Islam dengan memancing-mancing keresahan umat melalui kegiatan yang mengarah kepada pemurtadan baik secara sembunyi-sembunyi ataupun secara terbuka apalagi melalui promosi besar-besaran di seantero jalan di DI Yogyakarta serta melalui media elektronik maupun cetak.

5. Kepada pihak berwenang agar tidak memberikan ijin dan membatalkan ijin setiap kegiatan yang hanya menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat semata. Terlebih lagi bila kegiatan tersebut mengarah pada upaya pemurtadan umat Islam. Hal tersebut karena pemerintah adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas kondisi masyarakat yang aman dan damai.

6. Kepada segenap umat Islam, untuk selalu mewaspadai berbagai iming-iming, apa pun bentuknya, yang ditawarkan pihak mana pun juga, serta tidak perlu menghadiri kegiatan yang penuh janji, jika ternyata berujung pada pemurtadan kaum muslimin.

7. Kepada segenap umat Islam agar tidak terpancing dengan provokasi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang ingin agar kondisi aman damai di DI Yogyakarta menjadi rusak. Agar tidak mudah terbawa emosi sehingga terpancing melakukan kegiatan anarkis. Harus selalu diingat bahwa segenap upaya untuk membawa DI Yogyakarta menjadi daerah konflik antar umat beragama tidak perlu ditanggapi, jika perlu dilaporkan kepada aparat.

8. Kepada seluruh masjid dan organisasi Islam agar selalu tetap sadar dan berkontribusi melawan upaya-upaya pemurtadan dengan melalui lisan dan tulisan [pamflet, spanduk, dan sebagainya] sehingga umat terjaga aqidahnya.

Yogyakarta, 26 Mei 2007

Dukungan Ormas-Ormas terhadap penolakan Kristenisasi berkedok “Jogja Festival 2007 & Pengobatan Massal” :

01. Abu Haidar (Komandan Laskar), Majelis Mujahidin Indonesia
02. M. Rosyid, DPD I Hizbut Tahrir Indonesia DIY
03. Himawan, PKS DIY
04. Abu Usamah, FKAM
05. Abu Faishal, FKRM
06. Dodiek, GPII Yogya
07. Hidayat Arifianto, Gema Pembebasan DIY
08. G. Nurhamidi, GAM (Gerakan Anti Maksiat) Yogyakarta
09. Eko Ari Murwanto, FSLDK (Forum Silaturrahmi Lembaga Dakwah Kampus) Yogya
10. Thoha Abdurrahman, MUI DIY
11. Achmad Mursyidi, FUI (Forum Ukhuwah Islamiyah)
12. Abdul Muhaimin, Hidayatullah DIY
13. M. Syukri Fadholi, PPP DIY
14. Drs. H. Chamim Z., PDM (Pengurus Daerah Muhammadiyah) Kota Yogyakarta
15. Achmad Zuhdi, PWNU (Pengurus Wilayah NU) DIY
16. Subaeri H.M, Majelis Mujahidin, LPW DIJ

BERITA TERKAIT :
JOGJA FESTIVAL 2007
Kaum missionaris tidak jera-jeranya merongrong aqidah ummat Islam. Hal ini di buktikan dengan digelarnya sebuah festival penyembuhan di berbagai kota, dan yang akan datang adalah Jogja Festival 2007, yang akan digelar di Stadion Man dala Krida pada tanggal 30 Mei – 2 Juni 2007. Event ini akan menghadirkan artis kafir ibukota, Adon “Base Jam” dan seorang evangelist terkenal dari Kanada, Dr. Peter Youngren, yang tak lain adalah tukang sihir kelas wahid. Dr.Peter sudah cukup dikenal di kalangan Nasrani sebagai seorang penginjil, sekaligus sudah berhasil memurtadkan (bahasa mereka : membuat orang-orang non Nasrani ikhlas kepada mukjizat Tuhan Yesus). Beberapa event sudah digelar oleh Dr. Peter, antara lain Festival Timika Indah (tahun 2006), Bali Gospel Festival (19 Juni 2006) dan masih banyak lagi acara serupa di berbagai kota. Di Bandung belum lama ini, acara kristenisasi massal berkedok penyembuhan ini berhasil digagalkan dan panitia penyelenggara memindahkan acara ke gereja.
Beberapa indikasi adanya unsur-unsur kristenisasi pada acara ini antara lain :

1. Tidak adanya tulisan “untuk kristen”, “untuk nasrani”, atau “untuk kalangan sendiri” pada publikasi acara. Panitia justru mengundang semua orang, tidak memandang suku agama dan golongan. Undangan ini jelas sangat berbahaya dan mengancam aqidah ummat Islam, karena mereka mengundang ummat berbeda agama pada acara ibadah (pemberkatan) mereka.

2. Menghadirkan evangelist terkenal dari luar negri, Dr.Peter Youngren, yang telah dikenal sebagai seorang penginjil handal yang menyebarkan agama nasrani dengan metode penyembuhan (memasukkan jin kafir ke tubuh pasien), sehingga pasien yang tadinya buta bisa melihat, tuli bisa mendengar dan lumpuh bisa berjalan.

3. Acara dilaksanakan menabrak waktu sholat. Jelas, ini adalah upaya untuk membuat ummat jauh dari masjid dan melalaikan sholat. Acara tanggal 30 Mei 2007 di Mandala Krida Yogya dimulai pukul 17.00 WIB.

4. Adanya protes dari berbagai ormas Islam di Bandung, menunjukkan acara ini bermasalah dan bukan lagi merupakan acara kerukunan, apalagi perdamaian ummat. Toleransi bukan berarti mengundang ummat beragama lain untuk hadir di sebuah acara pemberkatan.

Usaha-usaha Kristenisasi massal ini harus kita waspadai dan sebisa mungkin kita gagalkan. Sekedar informasi, publikasi acara ini ditempel secara masif, antara lain di baliho-baliho kota Jogja (jembatan Kewek, perempatan Ringroad jalan Ma gelang, Pingit, Wirobrajan) dan tertempel di berbagai sudut kota Yogyakarta.
Bagi kita yang sudah membaca artikel ini, beritahukan kepada saudara, teman dan tetangga kita untuk tidak menghadiri acara ini. Insya Allah, ormas Islam yang ada akan sebisa mungkin menggagalkan acara ini, baik dengan cara lobi politis (melalui kekuatan parlemen), audiensi dengan pejabat kota Yogya (walikota, ang gota dewan) dan dengan cara non formal lainnya.

AWAS, KRISTENISASI MASSAL ! GEMPA AQIDAH SIAP MELANDA JOGJA !
Baca artikel terkait pada link website di bawah ini :
http://www.denpost.net/2006/06/20/hiburan1.htm
http://bethanygraha.org/pubs/newsmain.asp?id=108&curpage=5
http://www.cenderawasihpos.com/Timika/Timika.3.html
http://muslim.or.id/2007/05/25/membongkar-kedok-jogja-festival-2007-awas-permurtadan-di-balik-pengobatan-2/

Semoga mengingatkan kita sebagai umat muslim bahwa mereka tidak senang dengan jatidiri kita sebagai muslim dan akan selalu berusaha merusak aqidah kita dan mencoba menjauhkan kita dari dien kita.

Simaklah kata-kata “mereka” :
“Kita tidak pernah meminta orang-orang untuk menjadi Kristen tetapi menjadikan mereka orang yang percaya kepada Yesus …”

http://www.khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=384&Itemid=2
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M


Ahmad Izzah Al-Andalusy

Juni 4, 2007

Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan. Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara’ itu berlalu di hadapan mereka. Kalau tidak, sepatu ‘jenggel’ milik tuan Roberto yang fanatik Kristen itu akan mendarat di wajah mereka.

‘Algojo’ Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. “Hai…hentikan suara jelekmu ! Hentikan…!”. Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakkan mata. Namun apa yang terjadi ? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja ‘bersenandung’ dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan congak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Namun, sungguh menakjubkan… tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “Bersabarlah wahai ustadz… Insya Allah tempatmu di Syurga.” Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak amarahnya. Ia diperintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai. “Hai orang tua busuk ! Bukankah engkau tahu,aku tidak suka bahasa jelekmu itu ?! Aku tidak suka apa-apa yg berhubung dengan agamamu ! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapak kami, Tuhan Yesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan ‘suara-suara’ yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami.”

Mendengar “khutbah” itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap, “Sungguh.. .aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai Kekasihku yang amat kucintai, Allah azza wa jalla. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk ? Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh.” Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu laras Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki tua itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. “Berikan buku itu, hai laki-laki dungu !” bentak Roberto. “Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini !” ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.

Sepatu laras berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’ itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur. Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung. “Ah…sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan ? Ya, aku pernah mengenal buku ini.” suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu.

Algojo berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol. Akhirnya Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepas nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. Di ujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.

Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib Nashara.
Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan air matanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti kebayanya. Sang bocah berkata dengan suara parau, “Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi alif, ba, ta, tsa….? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi…” Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya “Abi…Abi…Abi…” Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

“Hai…siapa kamu ?!” teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah. “Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi…” jawab sang bocah memohon belas kasih. “Hah…siapa namamu bocah, coba ulangi !” bentak salah seorang dari mereka. “Saya Ahmad Izzah…” sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi. Tiba-tiba “plak !” sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah. “Hai bocah…! Wajahmu bagus tapi namamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’ ..Awas ! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh !” ancam laki-laki itu. Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sadar dari lamunannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeris, “Abi…Abi…Abi…” Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia juga ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam’ pada bahagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi… aku masih ingat alif, ba, ta, tsa…” Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya. “Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu…” Terdengar suara Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, ditempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah SWT. Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap. “Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,” Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyhadu anla Illaaha ilAllah, wa asyhadu anna Muhammad Rasullullah…’. Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah ALlah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS.30:30)

(dari : Rumah Abu Harits )
Link:
THE MORISCOS AND MUDEJARES
SIXTEENTH CENTURY SPAIN

http://sahabatnabi.0catch.com/
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.005/th.Jumada Al Thani 1425H/2004M


Gotong Royong Membendung Pemurtadan

Mei 7, 2007

 

Tak sulit menemukan Rumah Singgah Sakinah 1 di Johar Baru, Jakarta Pusat. Tanyalah pada anak-anak jalanan di sekitar Pasar Gembrong, pasti dengan senang hati mereka akan menunjukkannya. Di bangunan semi permanen ini, semua aktivitas keagamaan berpusat. Mulai dari pembinaan anak-anak jalanan, pendidikan anak usia dini, taman pendidikan Alquran, hingga pengajian kaum bapak dan kaum ibu. Empat kali seminggu, balita dari keluarga dhuafa berkumpul untuk mendapatkan makanan tambahan gratis. Pengobatan cuma-cuma juga kerap digelar. ”Dulu, hampir tiap bulan ada bayi meninggal di sini, karena gizi buruk,” ujar Ade Zulkifli, pengelola RSS 1.

RSS 1 adalah kepanjangan tangan Forum Silaturahmi Antar pengajian (Forsap) di wilayah itu. Rumah singgah ini memang anggota Forsap sejak kali pertama berdiri, tahun 2001. Sama seperti Forsap, fokus utama kegiatan RSS 1 adalah membentengi pemurtadan di kantong-kantong kemiskinan. Daerah sekitar Pasar Gembrong ini adalah bidikan utama kaum misionaris. Menurut Ade, mereka saweran untuk menghidupi kegiatan di RSS 1. Para mahasiswa menjadi relawan untuk program bimbingan belajar para siswa dhuafa. Pengurus gotong royong mengumpulkan uang untuk program pemberian makanan tambahan. Sumbangan donatur digunakan untuk operasional kegiatan lain dan membayar guru TPA dan PADU. ”Itu pun ala kadarnya saja. Tiap guru hanya diberi uang transpor antara Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu saja,” ujarnya. Semangatnya lillahi ta’ala, demikian Ade menyebut.

Namun belakangan ia gundah. Sebuah organisasi non-Muslim mendirikan pusat kegiatannya di samping RSS 1. ”Mereka mencoba menarik anak-anak binaan kami,” ujarnya. Upaya pemurtadan, memang gencar dilakukan di kalangan non-Islam. Sebelum Ade datang di wilayah itu, organisasi lain sudah mulai melakukan pendekatan. Beberapa warga mulai menanggalkan keislamannya. Dari mereka, Ade dan teman-teman dari Forsap belajar tentang cara mereka melakukan pendekatan. ”Banyak yang kemudian balik ke Islam lagi. Mereka bilang, ‘Saya ikut agama Kang Ade aja’,” ia menuturkan.

Umumnya, Forsap memang menggarap kantong-kantong kemiskinan di berbagai wilayah. ”Daerah miskin paling rawan pemurtadan,” ujar Ketua Umum Forsap, Nurdiati Akma.

Persinggungan Forsap dengan pemurtadan dimulai sejak tahun 2001. Saat itu, sebuah kelompok pengajian anggota Forsap di daerah Pondok Labu mengeluhkan jumlah jamaahnya yang menyusut drastis tiap Sabtu. Biasanya, pengajian sepekan sekali itu selalu dibanjiri jamaah Muslimah.

Selidik punya selidik, kaum ibu di wilayah miskin itu lebih tertarik mendatangi “pengajian” tandingan yang diadakan sebuah organisasi agama lain. Tiap Sabtu, mereka menggelar bazar murah, pengobatan gratis, dan pembagian sembako. Bahkan, kelompok itu juga menggaji beberapa ibu untuk mengumpulkan anak-anak yatim/dhuafa untuk dikirim ke panti asuhan yang mereka kelola. Untuk setiap anak yang berhasil dibujuk, si ibu akan memperoleh uang Rp 10 ribu.

”Saat kami datang, sudah 35 anak yang dikirim ke panti itu,” kata Nurdiati. Maka ia mendatangi panti itu untuk “menebus” kembali anak-anak Muslim itu. Ia terhenyak ketika menemui para pengelola panti adalah Muslim yang telah dimurtadkan sejak kecil. ”Nama-nama mereka adalah nama-nama Islam, seperti Chaerudin, Hafsah, dan Aminah, tetapi mereka telah menjadi penganut taat agama lain.”

Di daerah itu, Forsap lantas membeli sebidang tanah seluas 150 meter. Di atas tanah itu didirikan bangunan semi permanen untuk panti asuhan, klinik gratis, dan majelis taklim. Pengajian Sabtu kembali didatangi jamaah.

Forsap resmi berdiri pada bulan Desember tahun 2001. Musyawarah kerja nasional (Mukernas) pertama digelar tahun 2003 dihadiri 2.500 majelis taklim dari 12 provinsi yang menjadi anggotanya. Kini organisasi ini sudah berkembang ke 19 provinsi. Bila semula penyelamatan akidah anak yang dikedepankan, kini mereka menggarap tiga sasaran. ”Selain anak-anak, juga kaum wanita dan petani miskin,” tambah Nurdiati.

Petani menjadi target setelah mengamati kehidupan mereka yang termiskinkan di Cianjur. ”Di salah satu produsen beras di Indonesia itu, kebanyakan petani hanya sebagai buruh penggarap saja,” ujarnya.

Di beberapa tempat, Forsap mulai mengembangkan pertanian organik. Mereka bekerja sama dengan mahasiswa dan LSM lokal untuk mengembangkannya. Pertanian organik ini antara lain dikembangkan di Cianjur, beberapa tempat di Sumatera Barat, dan beberapa daerah di Jawa Tengah. Banyak kegiatan yang ingin digarap, tapi masalah klasik selalu menghadang, yaitu pendanaan. ”Selama ini kami bergotong royong di antara sesama pengurus, dan mengandalkan sumbangan donatur,” ujar Nurdiati.

Mereka juga menjalin sinergi dengan lembaga lain, semisal Aisyiyah, organisasi wanita di bawah Muhammadiyah. ”Di beberapa daerah, anak-anak yang berhasil kita selamatkan dari upaya pemurtadan kita titipkan di panti-panti asuhan yang dikelola Aisyiyah,” ujarnya.

Upaya penyelamatan akidah ini makin dipertajam sesuai putusan Mukernas ketiga yg digelar awal Bulan ini. ”Kita mengusahakan agar di tiap provinsi mempunyai posko, terutama di daerah-daerah kantong pemurtadan,” ujarnya. Selain itu, mereka juga akan terus memperluas jaringan. ”Mimpi kami, semua anak Muslim yang kini berada di panti-panti non-Muslim bisa kembali kita asuh,” ujar Nurdiati.

*) [FORSAP : Forum Silaturahmi Antar Pengajian] – (tri/republika )

http://mualaf.com/modules.php?name=News&file=article&sid=295

 

Hukum Berdebat Dengan Menggunakan Dalil Alkitab (Injil)

Pertanyaan :

Apakah hukumnya menurut syariat, jika dilakukan perdebatan oleh sebagian da’i-da’i dengan ahli kitab dengan memakai kitab Injil untuk membuktikan status kenabian nabi Isa as. dan bahwa ia adalah manusia. Apakah cara ini bertentangan dengan kondisi al-Quran yang berlaku sebagai penasakh (pembatalan hukum) kitab-kitab suci yang terdahulu ?

Jawab:

Boleh hukumnya menjawab umat Nasrani memakai dalil yang bersumber dari kitab-kitab Injil yang mereka percayai dan yang akui keabsahannya. Lalu dengan mamakai data-data yang ada dalam Injil untuk membuktikan risalah nabi Isa dan bahwa ia adalah manusia yang diciptakan yang dengan sendirinya mematahkan dakwaan mereka, bahwa nabi Isa adalah anak Allah. Dan dengan data-data yang ada dalam kitab Injil juga yang menerangkan kenabian nabi Muhammad saw. serta berita gembira atas kebenaran risalahnya, dan bahwa setiap orang yang bertemu dengannya wajib mengikut agama yang ia bawa. Sistem ini telah dijadikan sebagai ketetapan dan mitsaq bagi para nabi untuk mengikuti nabi ajaran nabi yang setelahnya. Sekiranya nabi Muhammad saw. diutus sewaktu nabi Isa masih hidup, nabi Isa wajib mengikuti kepada nabi Muhammad serta memerintahkan umatnya untuk tunduk kepada syariat yang terbaru. Sebab agama yang dibawa Muhammad adalah agama terakhir, dan dengan hadirnya syariat baru berarti menghapus syariat lama. Menjelaskan kepada umat Nasrani dengan cara begini tidak bertentangan dengan kondisi Al-Quran yang berlaku sebagai penasakh kitab-kitab suci yang sebelumnya. Dalam kitab Injil tersebut ada bukti-bukti yang menjelaskan, bahwa masa berlakunya terbatas sampai datangnya nabi Muhammad saw.*)

*) Menurut penulis, ulama-ulama Islam telah melakukan hal yang sama. Mereka menjawab umat Nasrani dengan memberikan penjelasan kebenaran ajaran Islam dalam ke-Esaan Allah dan status manusia yang disandang Isa as., serta membuktikan risalah Muhammad saw. Ulama-ulama yang menempuh jalan seperti itu antara lain, Ibnu Hazm , Ibnu al-Qayyim, Rahmatullah bin Khalil al-Hindi, serta ulama di abad modern seperti Syaikh Ahmed Deedat, dan lain-lain.

(sumber : Sosok Isa Dalam Sorotan Ulama, Abdullah Bin Abdurrahman Al Jibrin)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 027/th.03/DzulQoidah – DzulHijjah 1427H/2006M


Taubatnya Sang Penginjil

Mei 7, 2007

 

Shalat tarawih baru saja usai, Kamis (6/10/05). Jarum jam menunjuk angka 21.30 Wib, tiba-tiba telepon Ustadz Abu Deedat berdering. Setelah diangkat, terdengar suara, “Ustadz, ada pemuda lulusan madrasah tsanawiyah (MTs) jadi penginjil. Tolong selamatkan.” Si penelepon adalah pengelola Klinik dan Rumah Sakit Bersalin Ratna Komala, Bekasi, Ustadz Ahmad Yani. Pemuda yang bernama Gunawan (19) itu, diketahui murtad setelah mengalami kecelakaan dan dirawat di klinik miliknya. Malam itu juga, Gunawan pemuda asal Lampung ini dibawa ke FAKTA.

Gunawan bercerita, setelah ayahnya meninggal, ia mondok dan sekolah di sebuah MTs di Leuwiliang, Bogor, atas biaya pamannya. Setelah lulus tahun 2003, ia berkenalan dengan Ferdinand, laki-laki asal “B”. Gunawan diajak ke Bekasi dan dikenalkan pada pendeta, juga asal sama dengan “B”. “Diajak ke gereja saya nurut,” tutur Gunawan yang sudah mulai menjadi penginjil. Meski hatinya berontak, Gunawan tak kuasa menolak ajakannya. “Mungkin, ini pengaruh minuman, seperti minyak urapan, yang diberikan pada saya,” ujarnya menebak. Kemudian, ia memperlihatkan foto copy ijazah tsanawiyah miliknya. Ustadz Deedat keheranan. Betapa tidak, nilai pendidikan Agama Islamnya sangat bagus, tapi kenapa murtad ?

“Ibumu tahu, jika Anda sudah Kristen?” tanya Deedat menelisik.

Ia mengatakan, bahwa keluarganya sudah tahu. Ibunya pun berkali-kali menasihati agar bertaubat dan kembali ke Islam, tapi ia malah marah-marah.

“Apa aktivitas Anda di gereja?”.

Ia mengaku mengajar gitar di sekolah Kristen dan melakukan pelayanan dengan cara menyampaikan kesaksian di gereja dan KKR.

“Apa ajaran pendeta tentang Islam?” selidik Ustadz Deedat.

“Islam tak menjamin keselamatan. Nabinya saja belum selamat karena masih didoakan dengan shalawat. Jika nabinya tak selamat, bagaimana dengan umatnya?” jawabnya polos.

“Apa lagi doktrin pendeta tentang Islam?” lanjut Deedat.

“Islam itu teroris, suka ngebom gereja dan mengajarkan poligami,” jawabnya.

Setelah itu, Abu Deedat mulai melakukan terapi (penelusuran kenapa seseorang sampai menjadi murtad).

“Jika Kristen menjamin keselamatan, coba baca Kisah Para Rasul 13:23.”

Gunawan pun membaca ayat itu, “Dan dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juru selamat bagi orang Israel, yaitu Yesus”.

“Asal Anda dari mana?” tanya Deedat.

“Lampung!” jawabnya singkat.

“Menurut ayat itu, Anda tidak diselamatkan Yesus, karena Yesus hanya menyelamatkan orang Israel,” jelas Deedat.

Gunawan menganggukkan kepala tanda petuju.

Deedat menambahkan beberapa dalil. “Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel,” (Matius 15:24). Bahkan, Roh Kudus pun melarang penginjilan ke Asia: “Karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia,” (Kisah Para Rasul 16:6).

Gunawan diam saja, pandangannya terpaku pada Alkitab di pangkuannya.

“Apakah Anda masih meyakini Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat ?” Tanya Deedat. “Ya!” jawabnya mantap.

“Jika begitu silakan baca Injil Markus 12:29.”

Gunawan membacanya: “Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.”

“Jelas, bukan ? di ayat itu Yesus mengakui dirinya bukan Tuhan, karena ia bertuhan pada Allah. Karena Yesus punya Tuhan, maka ia bukan Tuhan. “Silakan baca Injil Lukas 6:12,” pinta Deedat.

Dengan cepat ia menemukan ayat itu, nampak jelas ia terbiasa mengkaji Bibel. “Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman ia berdoa kepada Allah.”

“Makin jelas bukan, bahwa Yesus bukan Tuhan, bukan Juru selamat dan penebus dosa. Sebab, Yesus sendiri berdoa pada Allah ?. Dalam Lukas 22:42 dan Matius 6:13 Yesus minta keselamatan pada Allah. Jika Yesus Juru selamat, seharusnya ia tak minta keselamatan pada siapapun,” tegas Deedat.

Pemuda itu terperangah, pandangannya kosong.

Tanpa membuang waktu, Deedat melanjutkan, “Memang, di Alkitab ada ayat yang menyatakan, Yesus mati dan hidup kembali supaya menjadi Tuhan. Tapi ini bukan sabda Yesus. Silahkan baca kitab Roma 14:9.

Ia pun membacanya, “Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.” “Ayat inilah yang jadi landasan bahwa Yesus adalah Tuhan. Tapi ini bukan sabda Yesus, melainkan tulisan Paulus pada jemaatnya di Roma. Ayat ini bertentangan dengan sabda Yesus dan firman Allah. Coba baca firman Allah dalam kitab Ulangan 4:35-39,” lanjut Deedat.

Gunawan membacanya: “Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia….Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa Tuhanlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain.” “Perhatikan baik-baik. Allah berfirman bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. Inilah syahadat La ilaha illallah.

Mendengar kalimat tauhid , Gunawan tak kuasa menahan air matanya. Begitu kalimat “La ilaha illallah” di ulang, tangisnya makin menjadi.

Ustadz Yani dan beberapa orang yang hadir menyarankan, agar Gunawan mengikrarkan ulang dua kalimat Syahadat. Sambil menjabat tangan Gunawan, Abu Deedat menuntun ikrar dua kalimat syahadat.

Jum’at (7/10) dini hari, hari ketiga Ramadhan, Gunawan kembali ke pangkuan Islam setelah dua tahun murtad. Abu Deedat terus melanjutkan terapinya. Keraguannya terhadap Islam hasil indoktrinasi pendeta, dipatahkan satu per satu. Deedat juga menjelaskan makna dan hakikat al-Islam. Sebelum mengakhiri pertemuan, Deedat berpesan, “Selama ini, Dik Gun sudah berbuat dosa pada Allah, durhaka pada ibu dan bermusuhan dengan saudara kandung. Adik harus istighfar mohon ampun pada Allah. Besok harus minta maaf pada ibu di Lampung!”. Ia pun hanya menangis menyesali dosa-dosanya.

Sekitar jam 01.15 dinihari, pertemuan berakhir. Wajah Gunawan nampak sumringah. Sebagai kenang-kenangan, ia menyerahkan Surat Baptisnya dari Gereja “B” pada Tim FAKTA. Semua yang hadir memeluk pemuda yang berbadan tinggi Gempal, seraya berpesan, “Cukup dua tahun berpisah dengan Islam. Jaga iman, jangan lepas lagi. Semoga istiqamah di jalan Allah.”

[catatan : Tim FAKTA (Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan) – Melayani diskusi, dialog dan konsultasi agama. Kontak pengasuh: 081.8844.393 – 0813.1441.6666 – 0816.542.5227 – 081.7997.0066 – 0815.8406.0672 – 021.70500609, PO. Box. 1426 Jakarta 13014.

Dompet Peduli Anti Pemurtadan: Bank Muamalat Indonesia No. Rek. 301.46877.20 a.n. FAKTA dan BCA No. Rek. 1661.804.888 a.n. Abud Syihabuddin]

(Sumber Majalah SABILI E 8 th XIII)

http://www.mail-archive.com/daarut-tauhiid@yahoogroups.com/msg00144.html

“…Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS.Al Baqarah : 217)

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS.Al Maa’idah : 54)

Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata :”Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. (QS.Al Ahzab : 12)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 027/th.03/DzulQoidah – DzulHijjah 1427H/2006M


SELAMAT DATANG, PROFESOR AZAMI !

Mei 3, 2007

Prof Dr Muhammad Mustafa Azami, guru besar Studi Islam di Universitas Raja Saud, Riyadh, menulis buku “The History of the Qur’anic Text from Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments”. Di dalam bukunya yang terbaru ini, Prof Azami membandingkan sejarah Alquran dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Di dalam kajiannya yang mendalam tentang sejarah Alquran, Prof Azami menjawab dengan sangat meyakinkan pendapat-pendapat para orientalis. Ia mengkaji sejarah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan menggunakan pendapat-pendapat dari kalangan sarjana Yahudi dan Kristen.

Hasil kajiannya menunjukkan sejarah Perjanjian Lama dan Baru mengandung sejumlah masalah yang sangat mendasar dan mustahil untuk diselesaikan. Melalui karyanya itu, Prof Azami menjawab berbagai permasalahan dan terperinci seputar sejarah Al-qur’an. Ia melacak sejarah Alquran dengan menunjukkan berbagai fakta yang sangat meyakinkan. Ia juga membantah berbagai pendapat para orientalis terkemuka dalam studi Alquran. Pada 30 Maret 2005 ada sebuah peristiwa penting dalam sejarah pemikiran Islam di Indonesia karena kedatangan seorang ulama dan cendekiawan kaliber internasional, Prof Dr Muhammad Mustafa Azami, guru besar Studi Islam di Universitas Raja Saud, Riyadh. Beliau datang untuk meluncurkan bukunya The History of the Qur’anic Text from Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments, pada 2 April, di Senayan Jakarta. Buku ini telah diterjemahkan oleh tiga orang doktor dari Universitas Islam Internasional yaitu Dr Sohirin Solihin, Dr Ugi Suharto, Dr Anis Malik Thoha, dan Lili Yuliadi, MA. Di dalam bukunya yang terbaru ini, Prof Azami membandingkan sejarah Alquran dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Di dalam kajiannya yang mendalam tentang sejarah Alquran, Prof Azami menjawab dengan sangat meyakinkan pendapat-pendapat para orientalis. Sedikit berbeda dengan para ulama dari Timur Tengah yang lain, Prof Azami dalam karya tersebut menggunakan bukan saja referensi dalam bahasa Arab dan Inggris, tetapi juga bahasa Prancis dan Jerman. Prof Azami mengkaji sejarah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan menggunakan pendapat-pendapat dari kalangan sarjana Yahudi dan Kristen. Hasil kajiannya menunjukkan sejarah Perjanjian Lama dan Baru mengandung sejumlah masalah yang sangat mendasar dan mustahil untuk diselesaikan. Ketika para orientalis mengkaji Al-qur’an, mereka sudah mengasumsikan sebelumnya, sejarah Alquran sama saja dengan sejarah ”kitab suci” mereka. Disebabkan kitab suci mereka bermasalah, maka Al-qur’an juga diangggap bermasalah.

BENTENG PERTAHANAN.

Karya Prof Azami yang bernilai ilmiah tinggi ini sangat bermanfaat untuk dijadikan benteng pertahanan dalam menghadapi tantangan pemikiran para orientalis yang bertubi-tubi mengkritik Al-qur’an. Dengan menggunakan alat biblical criticism sejak abad ke-19, para orientalis telah membuat berbagai teori baru mengenai sejarah Alquran, seperti yang diformulasikan Theodor Noldeke (1836-1930), Friedrich Schwally (1919), Edward Sell (1839-1932), Gotthelf Bergstraesser (1886-1933), Leone Caentani (1869-1935), Otto Pretzl (1893-1941), Hartwig Hirschfeld (1854-1934), Joseph Horovitz (1874-1931), Richard Bell (1876-1953), Alphonse Mingana (1881-1937), Arthur Jeffery (1893-1959), Regis Blachere (1900-1973), John Wansbrough (1928-2002), dan yang masih hidup seperti Andrew Rippin, Harald Motzki dan masih banyak lagi lainnya.

Melalui karyanya, Azami menjawab berbagai permasalahan dan terperinci seputar sejarah Alquran. Ia melacak sejarah Al-qur’an dengan menunjukkan berbagai fakta yang sangat meyakinkan. Ia juga membantah berbagai pendapat para orientalis terkemuka dalam studi Alquran. Ia menunjukkan kelemahan pendapat Arthur Jeffery yang menyatakan Alquran tidak memuat Al-Fatihah, Al-Nass dan Al-‘Alaq karena surah-surah tersebut tidak ada dalam mushaf Abdullah ibn Mas’ud. Ia pula yang menunjukkan kelemahan pendapat Arthur Jeffery karena berpendapat mushaf Ubayy ibn Ka’b mengandung dua surah ekstra, dari yang selama ini diketahui kaum Muslimin. Ia inilah yang menunjukkan ketidakjujuran Alphonse Minggana, yang pernah menjadi guru besar di Universitas Birmingham, Inggris, ketika mengedit varian bacaan. Dan, ia menunjukkan berbagai kesalahan pemikiran yang dilakukan oleh berbagai orientalis lain seperti Gustav Flugel, Theodor Noldeke dan Gerd R Puin.

Pembahasan mengenai sejarah Alquran muncul menjadi isu dikalangan para orientalis setelah para teolog Kristen dan Yahudi menemukan sejumlah masalah yang sangat mendasar mengenai sejarah Perjanjian Lama dan Baru. Disebabkan berbagai masalah yang meliputi sejarah Perjanjian Lama dan Baru, maka banyak di kalangan para teolog Kristen dan Yahudi sudah tidak mempercayai lagi jika Kedua Perjanjian tersebut berasal dari Tuhan. Terlalu banyak campur tangan manusia yang telah merusak teks asli. Oleh sebab itu, Arthur Jeffery berpendapat agama yang memiliki kitab suci akan memiliki masalah dalam sejarah teks (textual history). Sebabnya, tidak ada satupun autografi dari naskah asli dulu yang masih ada. Dengan menggunakan metode-metode penelitian kritis modern (biblical criticism), Jeffery ingin mengedit Alquran secara kritis (a critical editon of the Qur’an). Ia menganalisis sejarah teks Alquran dari zaman Rasulullah SAW sampai tercetaknya teks qiraah. Ia menyimpulkan sebenarnya terdapat berbagai mushaf tandingan (rival codices) terhadap mushaf Uthmani. Pada tahun 1977, John Wansbrough (2002) menerapkan literary/source criticism dan form criticism ke dalam studi Al-qur’an. Wansbrough berpendapat kanonisasi teks Alquran terbentuk pada akhir abad ke-2 Hijrah.

Oleh sebab itu, semua hadits yang menyatakan tentang himpunan Al-qur’an harus dianggap sebagai informasi yang tidak dapat dipercaya secara historis. Semua informasi tersebut adalah fiktif yang punya maksud-maksud tertentu. Semua informasi tersebut mungkin dibuat oleh para fuqaha’ untuk menjelaskan doktrin-doktrin syariah yang tidak ditemukan di dalam teks, atau mengikut model periwayatan teks orisinal Pantekosta dan kanonisasi Kitab Suci Ibrani. Semua informasi tersebut mengasumsikan sebelumnya wujudnya standar (canon) dan karena itu, tidak bisa lebih dahulu dari abad ke-3 Hijriah. Menurut Wansbrough, untuk menyimpulkan teks yang diterima dan selama ini diyakini oleh kaum Muslimin sebenarnya adalah fiksi yang belakangan yang direkayasa oleh kaum Muslimin. Teks Al-qur’an baru menjadi baku setelah tahun 800 M. Pemikiran para Orientalis juga mempengaruhi beberapa pemikir Muslim kontemporer seperti Mohammed Arkoun dan Nasr Hamid Abu Zayd. Melacak sejarah Al-qur’an, Mohammed Arkoun sangat menyayangkan jika sarjana Muslim tidak mau mengikuti jejak kaum Yahudi-Kristen. Menurutnya, sarjana Muslim menolak menggunakan metode ilmiah (biblical criticism) karena alasan politis dan psikologis. Politis karena mekanisme demokratis masih belum berlaku. Psikologis karena pandangan muktazilah mengenai kemakhlukan Alquran di dalam waktu gagal. Akibat menolak biblical criticism, maka dalam pandangan Arkoun, studi Alquran sangat ketinggalan dibanding dengan studi Bibel. Ia berpendapat metodologi John Wansbrough memang sesuai dengan apa yang selama ini memang ingin ia kembangkan. Dalam pandangan Arkoun, mushaf ‘Uthman tidak lain hanyalah hasil sosial dan budaya masyarakat yang dijadikan ”tak terpikirkan” disebabkan semata-mata kekuatan dan pemaksaan penguasa resmi. Untuk mengubah ”tak terpikirkan” (unthinkable) menjadi terpikirkan (thinkable), Arkoun mengusulkan supaya membudayakan pemikiran liberal (free thinking).

Seirama dengan Mohammed Arkoun, Nasr Hamid berpendapat teks Al-qur’an terbentuk dalam realitas dan budaya, selama lebih dari 20 tahun. Oleh sebab itu, Al-qur’an adalah ‘produk budaya’ (muntaj thaqafi). Ia juga menjadi produsen budaya (muntij li al-thaqafah) karena menjadi teks yang hegemonik dan menjadi rujukan bagi teks yang lain. Disebabkan realitas dan budaya tidak bisa dipisahkan dari bahasa manusia, maka Nasr Hamid juga menganggap Al-qur’an sebagai teks bahasa (nas lughawi). Realitas, budaya, dan bahasa, merupakan fenomena historis dan mempunyai konteks spesifikasinya sendiri. Oleh sebab itu, Al-qur’an adalah teks historis (a historical text). Historisitas teks, realitas, dan budaya sekaligus bahasa, menunjukkan bahwa Alquran adalah teks manusiawi (nas insani). Dengan berpendapat seperti itu, Nasr Hamid menegaskan bahwa teks-teks agama adalah teks-teks bahasa yang bentuknya sama dengan teks-teks yang lain di dalam budaya. Sekalipun asal muasalnya dari Tuhan, namun Nasr Hamid, sebagaimana Schleiermacher, berpendapat studi Al-qur’an tidak memerlukan metode yang khusus. Jika metode khusus dibutuhkan, maka hanya sebagian manusia yang memiliki kemampuan saja yang bisa memahaminya. Manusia biasa akan tertutup untuk memahami teks-teks agama. Nasr Hamid menyalahkan penafsiran yang telah dilakukan oleh mayoritas mufasir yang selalu menafsirkan Al-qur’an dengan muatan metafisis Islam. Dalam pandangan Nasr Hamid, metodologi seperti itu tidak akan melahirkan sikap ilmiah. Dengan menyamakan status Al-qur’an dengan teks-teks yang lain, maka Nasr Hamid menegaskan siapa saja bisa mengkaji Al-qur’an.

Dengan munculnya berbagai macam pemikiran ”baru” mengenai Al-qur’an, dan kini dikembangkan oleh sebagian kalangan Muslim di Indonesia, maka kehadiran Prof Azami memang sangat penting dan tepat momentum. Memang namanya belum sepopuler Dr Yusuf Qaradhawi, meskipun sejumlah bukunya juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Namun, kajian Azami dalam bidang al-Quran dan hadith sangat strategis dan mendalam. ***

(Sumber : SELAMAT DATANG, PROFESOR AZAMI !, Adnin Armas – kandidat doktor di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur Malaysia).

[dimuat dalam Republika, Jumat, 01 April 2005].

http://etabligh.tripod.com/orientalis3.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 024/th.02/Jumada Al Tsani-Rajab 1427H/2006M