Orang Tua Tidak Rela Saya Masuk Islam

September 25, 2008

(oleh : Ikhsan Nur Ramadhan Vincsar Hadipraba)

Sejak kecil saya sudah kenal Islam. Saya sering melihat pembantu shalat. Kebetulan kakek saya (dari bapak) adalah muslim. Selain itu saya juga senang mendengarkan suara orang adzan atau ngaji. Tetapi sejauh itu dalam hati saya belum terbersit keinginan untuk cari tahu apa makna semua itu.
Semasa kuliah, salah seorang teman pernah memberi tahu bahwa Tuhan itu satu. Ia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Ketika mendengar penjelasan itu, saya cuek saja. Saya tetap kukuh pada keyakinanku, karena yang saya tahu hanya konsep bahwa tuhan itu tiga dalam satu, Trinitas. Dan saya belum tahu apa-apa mengenai wacana ketuhanan yang dipercayai agama lain.

Namun begitu, sewaktu saya kuliah di Riau, dalam hati saya selalu ada keinginan untuk selalu aktif di gereja. Tapi hal itu akhirnya gagal terlaksana, karena saya tidak diakui oleh pastur di sana. Ceritanya, saya itu bisa main musik secara otodidak. Suatu hari saya mendatangi pastur seraya mengajukan permohonan untuk bisa menjadi pengiring organ di gereja. Tapi jawaban pastur selalu kurang mengenakkan hati saya. Bahkan ditanya ini-itu.
“Kamu punya sertifikat Yamaha nggak ?”, tanyanya.
Saya heran. “Lho, yang penting kan saya bisa memainkan organ ?”.
“Oo, tidak bisa. Nanti kalau permainan musikmu kacau malah bikin suasana tidak khusu’ di gereja,” ujarnya.
“Ya sudahlah. Saya lebih baik mengembangkan karir saya di luar saja, daripada  di gereja,” ungkap saya kesal. Akhirnya memang saya lebih dikenal di luar daripada di lingkungan gereja. Di kampus UNRI kalau orang bertanya “siapa Igo ?” (panggilan saya sebelum menjadi muslim), maka semua orang akan tahu. Tetapi kalau di Gereja ditanya “siapa Igo ? ”  , maka orang akan balik bertanya, “si Igo yang mana ya ?”. Oleh karena itu saya kecewa dengan kejadian itu.

Sejak tahun 1996 saya pindah ke Jakarta. Dan saya bekerja di Mac Donald. Awalnya memang enak, karena setiap Sabtu-Minggu libur, jadi saya bisa ikut kebaktian. Tetapi lama kelamaan setiap Sabtu Minggu pun harus masuk kerja. Sehingga saya tidak bisa ke Gereja. Maka saya berpikir, ‘Enak ya, jadi orang Islam. Setiap hari bisa bertemu dengan Tuhannya. Sehari lima kali bermeditasi (shalat), fikiran dan batin akan menjadi fresh.’ Sedangkan saya, pulang kerja saja sudah capai, lalu kapan bisa beribadah ?’.
Sampai dengan akhir 1998 ketika saya masih tinggal di gang H. Saimin, Ciputat. Saya sering kumpul-kumpul dengan teman-teman. Kebetulan ketua pemudanya, yang biasa kami panggil Bang Hans, sering mengajak kami ngobrol dan diskusi. Selain itu kami juga berlatih musik di sebuah garasi, sampai akhirnya kami mendirikan grup musik yang kami beri nama Garasi.

Sekitar selama tujuh bulan, setiap saya pulang kerja, saya tidak langsung tidur. Sambil istirahat kami sering ngobrol sama teman-temen di lingkungan kost. Suatu hari kami kedatangan H.Sofwan Muzamil, temannya Bang Hans. Dan ternyata beliau merasa suka dan cocok bergabung bersama kami, sehingga beliau sering datang ke tempat kami biasa kumpul.
Suatu hari ketika mau mendatangi tempat saya biasa kumpul-kumpul itu, saya datang terlambat. Setelah saya ikut mendengarkan obrolan mereka, ternyata mereka sedang membahas tentang agama Islam. Pak haji Sofwan sedang menjelaskan tentang Islam, dan terlihat cukup detail. Sampai-sampai saya pun menjadi suka mendengarkan dan terus mengikutinya.
Mengetahui karakter Pak haji yang tidak sombong itu, membuat saya jadi ingin mendekati beliau. “Pak haji saya tertarik masuk Islam,” kata saya. “O, tunggu dulu, saya tidak mengajarkan kamu agar masuk Islam. Tapi sekedar memberi penjelasan bahwa beginilah Islam,” jawabnya.

Beberapa hari kemudian saya melihat beliau lagi di tempat kami biasa ngumpul, dan saya senang bisa terus mendengarkan mereka berdiskusi. Sehingga menjadikan  keinginan saya untuk masuk Islam semakin kuat. Saya menjadi rajin mencari-cari pengetahuan tentang Islam dari berbagai sumber. Hal itu saya lakukan, karena Pak haji sudah bilang bahwa, dalam Islam itu tidak ada paksaan bagi manusia untuk memeluknya. “Saya tidak mau mengajari kamu tentang Islam, tapi kalau kamu tertarik dengan Islam, carilah sendiri sumber-sumbernya,” ujar Pak haji. Pesan itulah yang pada kelanjutannya membuat saya terus berusaha membuka-buka buku tentang kesaksian orang-orang yang masuk Islam (buku kisah tentang para muallaf) milik teman kostku.

Selama ini saya tidak pernah menemukan bahasan tentang isi injil secara detail. Dan inilah salah satu perbedaan antara Katolik dan Protestan. Kalau di Protestan , Injil dikupas cukup mendalam. Juga dalam sebuah buku yang pernah saya baca terdapat kalimat yang menjelaskan bahwa Yesus berkata, ‘Saya harus pergi, sebab kalau tidak pergi dia (si penghibur) itu tidak akan datang. Dan kalau dia datang, dia akan berkata-kata apa yang didengarkannya dari Allah.’
Sang penghibur itu dalam bentuk kiasan, tidak lain adalah nabi Muhammad. Di dalam Bibel berbahasa Inggris disebutnya sebagai “the helper”. Dan karena nabi Muhammad diangkat menjadi rasul, dimana pada saat itu keadaan umat manusia sedang dalam kondisi kacau (jahiliyah).
Ketika membaca penjelasan itu bergetar hati saya. Lho, bener ini. Saya buka injil (Yohanes) lagi, ternyata benar. Injil yang lain tidak mengupas mengenai itu.

Menjelang lebaran tepatnya pada tanggal 17 Januari 1999 di sebuah mushala di Ciputat saya mengucapkan dua kalimat syahadat, dibimbing oleh H.Sofwan Muzamil. Nama saya ditambah dengan kata Ikhsan Nur Ramadhan. Sebelum masuk Islam, sebagaimana anjuran Pak haji, saya terus mempelajari Islam dari berbagai sumber, terutama dari buku-buku tentang Islam, termasuk tentang bagaimana cara-cara beribadah. Di samping itu saya juga banyak bertanya kepada sama calon istri saya.

Setelah menjadi muslim cobaan yang saya hadapi ternyata cukup berat. Di antaranya, saya ditolak mentah-mentah oleh keluarga. Padahal sebelum saya menyatakan keinginan saya untuk masuk Islam di bawah bimbingan pak haji Sofwan, saya sudah bilang (memberi tahu) kepada orang tua. Dan orang tua saya menanggapinya dengan berbagai argumen yang terkesan sinis. Intinya mereka tidak setuju. Oleh karena itu saya pun akhirnya masuk Islam secara diam-diam. Dan baru setelah selang beberapa waktu kemudian, baru saya memberi tahu kepada orang tua.
Sejauh itu saya tetap berusaha menjaga hubungan antara saya dengan orang tua (ayah) dan adik agar selalu baik. Namun tinggal kakak dan ibu yang saya sampai sekarang belum mau mengerti juga.

Belum lama ini kakak saya melihat KTP saya, lalu dia nanya. “Namanya kok kamu ganti?  Ignatiusnya mana ?”, tanyanya.
“Lho, saya kan sudah jadi muslim, mengapa tetap memakai nama itu ?” jawab saya. Pendirian saya, yang penting nama pemberian orang tua masih saya pakai. Sedang kan Ignatius itu nama baptis saya. Penjelasan inilah yang pada akhirnya membuat  saya dianggap “sudah tidak menghargai orang tua lagi.
Cobaan kedua, pada acara pernikahan kami orang tua dan sanak saudara nggak hadir seorang pun. Padahal mereka diundang. Kalau bapak saya memang sakit, sedangkan ibu sebenarnya sudah kasih restu cuman beliau masih berat hati. Terus Pak De saya yang muslim juga diundang, tapi nggak datang juga, mungkin karena nggak enak sama keluarga saya. Maklumlah mereka Katolik aktif. Saya yakin dari hubungan anak orang tua, mereka ingin datang, tapi karena terbentur beda akidah sehingga nggak seorang pun yang datang. Padahal sebelum nikah saya dalam keadaan ‘krisis’. Saya hanya yakin bahwa Allah akan menolong hambanya. Akhirnya pernikahan berjalan juga. Alhamdulillah sampai sekarang apa yang saya inginkan dikabulkan-Nya. *

http://www.bahtera-iman.com/kisah.htm
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 040/th.04/Jummadil Akhir-Rajab 1429H/2008M

Iklan