F I T R A H

September 25, 2008

1. Eksposisi Hadits :
“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani dan majusi” (H.R.Bukhari & Muslim)

Dalam wacana sebagian besar ummat islam, kata fitrah baik dalam qur’an maupun dalam hadits sering dimaknai dengan “suci” bahkan sering pula disamakan dengan “muslim”. Pemaknaan ini sering menimbulkan distorsi maksud dari ayat atau hadits yang bersangkutan. Dan pemaknaan demikian juga berpeluang menimbulkan banyak kritik yang mungkin muncul dari orang yang tidak bertanggung jawab sehingga mencemari kesucian agama islam. Sebagai seorang muslim yang baik dan bertanggung jawab, marilah kita sama-sama menggali makna-makna pesan Allah dan rasulnya secara kritis sehingga kita lebih mendekati keyakinan dan praktik islam para tauladan kita semua.

Secara lughawi, Fitrah berasal dari kata fa-tho-ro yang menurut kamus bahasa arab Al Misbar bermakna “buka puasa” atau “berbuka puasa”, seperti contoh dalam frase “Iftharu al sho’im”. Sedangkan Fitrah sendiri bermakna instink. Sayyid Murtadha Muthahari menukilkan contoh yang baik sekali ketika membahas masalah ini. Menurutnya, Ibnu Abbas menemukan makna fitrah melalui suatu perdebatan dua orang yang memperebutkan sebuah sumber air (sumur). Salah seorang di antaranya berkata “Ana fathoroha” artinya orang tersebut ingin menunjukkan bahwa ialah yang membuka sumur itu pertama kali dan tiada orang lain yang mendahuluinya. Dalam kalimat ini jelas sekali menunjukkan bahwa fa-tho-ro digunakan pada suatu perbuatan yang menunjukkan tidak adanya orang lain/hal lain yang mendahului perbuatan tersebut. Maka makna yang sama juga digunakan pada ungkapan “berbuka puasa”. Perbuatan buka puasa ini yang bentuknya bisa berupa makan atau minum, adalah perbuatan awal (pembuka) untuk membatalkan/memutus rukun puasa, dimana puasa itu tidak akan batal kecuali dengan berbuka puasa tadi.

Dalam qur’an Allah berfirman :”Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat utusan-utusan…” .[Fathir : 1]
Faa-thir adalah fa’il dari fa-tho-ro, menunjukkan pelaku dari penciptaan langit dan bumi. Artinya bahwa Allah adalah subjek dari penciptaan langit dan bumi. Dalam ayat ini, kata fa-tho-ro memiliki makna yang serupa dengan kho-la-qo (menciptakan). Dalam kamus bahasa Arab Al Shihah (oleh Al Jauhari), fitrah dimaknai dengan khilqoh yang berarti ciptaan. Tetapi sesungguhnya, berdasarkan beberapa konteks, fa-tho-ro memiliki makna yang lebih spesifik dan tegas dari kho-la-qo.
Fa-tho-ro digunakan untuk menunjukkan bahwa Allah adalah Sang Pencipta langit dan bumi pertama kalinya, tidak ada siapapun yang mendahului-Nya. Kho-la-qo lebih bersifat umum. Qur’an suci menyebutkan lebih tegas dalam surah Al Isra : 51, “Maka mereka akan bertanya :
“Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?”. Katakanlah :”Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama”. Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata :”Kapan itu (akan terjadi)?”. Katakanlah :”Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”.

Beberapa paparan di atas menunjukkan bahwa kalimah “fitrah” berkaitan erat dengan sesuatu yang bersifat awwal dan asal (original). Dalam beberapa terjemahan qur’an versi bahasa inggris, faathiris samawaati wal ardl dimaknai dengan “The Originator of the heavens and earth” yang lebih spesifik dari “Creator”.

2. Makna Fitrah
Seperti sudah saya kemukakan di awal bahwa fitrah adalah suatu ungkapan yang erat kaitannya dengan sesuatu yang asli/original. Lalu bagaimanakah dengan makna fitrah seperti yang tercantum dalam hadits :”Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah….” ?. Manusia diciptakan oleh Allah disertai dengan karakter-karakter spesifik yang dengannya akan menjadi pembeda dengan makhluk lainnya seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan. Karakter-karakter ini adalah merupakan sifat bawaan (asli), sama bagi setiap manusia dan tidak akan pernah berubah, karena ia adalah identitas asli manusia.

Dalam versi kamus bahasa arab Al Misbar, fithrah berarti instink. Allah Yang Maha Bijak berfirman :”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
[Ar-Rum : 30] Allah telah menciptakan manusia dengan karakter bawaan dengan apa yang disebut fitrah.
Fundamen dari dienul islam adalah doktrin tauhid. Doktrin yang mengajarkan pengakuan, ketundukan dan kepasrahan kepada Allah yang Maha Esa. Maka untuk memenuhi seruan para nabi, rasul dan islam, manusia harus dibekali dengan potensi tauhid. Jika manusia tidak dibekali dengan potensi tauhid, niscaya tidak akan mampu mendengar seruan para nabi dan rasul. Maka fitrah yang diungkap dalam ayat tersebut di atas adalah potensi yang paling asasi dari manusia yakni tauhid. Allah SWT berfirman :”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) :”Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab :
“Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan :”Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. [Al A’raf : 172]
Imam Ja’far Shodig (as) ketika ditanya oleh sahabat Zurarah tentang makna firman Allah “fitrah Allah yang telah menciptakan manusia berdasarkan fitrah itu”, Imam (as) menjawab :”Dia menciptakan manusia di atas tauhid”. Inilah makna hakiki dari fitrah manusia, fitrah tauhid.

3. Iman itu warisan atau buah kesadaran ?
Makna fitrah tidaklah sebangun dengan kata “islam” atau “muslim”. Islam (tunduk, pasrah) dan pelakunya adalah muslim (orang yang tunduk dan patuh) mengisyaratkan keterikatan terhadap sesuatu. Baik secara dzohir maupun bathin, seorang muslim, itu terikat baik oleh keyakinan maupun hukum islam. Oleh karenanya, islam adalah sebuah aqidah (keterikatan). Lain halnya dengan fitrah, ia adalah potensi intrinsik yang ada pada jiwa manusia yang paling dalam. Ia perlu diseru, disentuh dan dibangun agar ia muncul menjadi ruh penggerak kegiatan hidup manusia. Bila fitrah bermakna muslim dalam hadits “Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah….”, maka setiap anak manusia, apapun wujud keyakinan orang tuanya, maka ia adalah seorang muslim (orang yang tunduk dan terikat oleh ajaran islam). Jika demikian akan menimbulkan banyak pertanyaan, antara lain sebagai berikut :

a. Jika demikian adanya, maka sama halnya kita meyakini adanya iman warisan seperti konsep dosa warisan yang diyakini oleh penganut agama kristen, yang berbeda hanyalah materinya saja. Muslim mengakui warisan keimanan sementara kristiani mengakui dosa warisan. Hanya karena status orang tua kita adalah muslim maka kita mengklaim otomatis menjadi seorang muslim sejak lahir.

b. Jika kita meyakini bahwa setiap anak lahir otomatis menjadi seorang muslim (apapun agama orang tuanya), maka patutkah kita menempatkan mereka-mereka yang beragama non-islam itu murtad dari islam dengan alasan dulunya mereka-mereka adalah orang-orang islam. Atau perlukah mereka bersyahadah ketika mereka menerima dakwah islam (menjadi muallaf), toh dia sudah muslim sejak kecil ?.

Qur’an suci mengajarkan bahwa keyakinan itu berpangkal dari kesadaran dan pengetahuan. “Maka ketahuilah bahwa tiada sembahan kecuali Allah….” [Muhammad : 19]
Yang dituntut dan diajarkan oleh islam adalah pengetahuan dan kesadaran, bukan paksaan. Karena itu, islam adalah keyakinan yang realistis dan rasional, tidak memerlukan paksaan. Dengan demikian seseorang menjadi muslim layaknya berdasarkan pilihan, bukan paksaan dan warisan. Dan seorang muslim sejati adalah orang yang menjadi muslim melalui pilihan.

4. Adakah dispensasi hidayah ?
Jika kita meyakini bahwa kita muslim sejak lahir hanya karena status orang tua kita islam maka kita telah meyakini mendapatkan dispensasi hidayah.
Sementara mereka yang kebetulan lahir dari keluarga non islam harus masuk ke dalam murka Allah karena lahir dari keluarga non islam dan berlaku syirik. Jika demikian kita seolah mengurangi keadilan Allah. Sesungguhnya tidaklah demikian, keyakinan demikian adalah kurang tepat. Sesungguhnya manusia lahir diberikan hak yang sama besarnya, satu dengan yang lainnya. Tidak ada konsep dispensasi hidayah akibat orang tua.

5. Kritis terhadap praktek agama orang tua
Islam sangat menghargai kebebasan berfikir dan penggunaan kejernihan akal. Oleh karenanya, akal pikiran tak boleh terkooptasi oleh situasi dan kondisi yang melingkungi kehidupan seseorang yang akan berakibat pada rasa cukup dan puas diri dengan tradisi-tradisi yang sudah ada. Lingkungan yang paling berpengaruh pada perkembangan pemikiran seorang manusia adalah keluarga, terutama orang tua. Orang tua berpengaruh besar terhadap penentuan jalan hidup bagi anak. Akan tetapi hal ini tidaklah bisa dijadikan alasan pertanggung-jawaban amal di hadapan Allah yang Maha Agung, karena manusia dibekali fitrah dan akal pikiran. Allah berfirman :”Atau agar kamu tidak mengatakan :
“sesungguhnya orang tua-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka….”[Al A’raf : 173]
Maka sikap kritis terhadap praktek agama orang tua kita adalah suatu kebutuhan. Allah mengajarkan dalam QS.Lukman : 21, “Dan apabila dikatakan kepada mereka : ‘ikutilah terhadap apa yang diturunkan Allah’, mereka berkata :’tidak, kami akan mengikuti apa-apa yang kami jumpai dari bapak-bapak kami mengikuti atasnya’, Apakah jika syaitan-syaitan menyeru mereka kepada adzab yang pedih ?”.

Qur’an mengajarkan sikap kritis terhadap praktek-praktek agama dari orang tua dan nenek moyang kita.
http://at-tauhid.com/konsepsitauhid.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 040/th.04/Jummadil Akhir-Rajab 1429H/2008M

Iklan