Surat Ananda Faiz Untuk Presiden

September 25, 2008
Berikut ini adalah surat Pemenang Pertama Lomba Menulis Surat untuk Presiden Tingkat Nasional, Kategori Kelas I-III SD dalam Rangka Hari Anak 2003.
Diumumkan pada tanggal 10 Agustus di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Dewan Juri : Seto Mulyadi, Riris K. Toha Sarumpaet, Tika Bisono, Agus R. Sarjono
Selamat menyimak, semoga membawa banyak hikmah.


Kepada Yang Terhormat
Presiden Republik Indonesia Megawati
Di Istana

Assalaamu’alaikum wr. wb.
Ibu Mega, apa kabar ? Aku harap ibu baik-baik seperti aku saat ini.
Ibu, di kelas badanku paling tinggi. Cita-citaku juga tinggi.
Aku mau jadi presiden. Tapi baik. Presiden yang pintar, bisa buat komputer sendiri. Yang tegas sekali. Bisa bicara 10 bahasa. Presiden yang dicintai orang-orang. Kalau meninggal masuk surga.

Ibu sayang, Bunda pernah cerita tentang Umar sahabat Nabi Muhammad. Dia itu pemimpin. Umar suka jalan-jalan ke tempat yang banyak orang miskinnya. Tapi orang-orang tidak tahu kalau itu Umar. Soalnya Umar menyamar. Umar juga tidak bawa pengawal. Umar jadi tahu kalau ada orang yang kesusahan di negeri dia. Bisa cepat menolong. Kalau jadi presiden, aku juga mau seperti Umar. Tapi masih lama sekali. Harus sudah tua dan kalau dipilih orang.

Jadi aku mengirim surat ini mau mengajak ibu menyamar.
Malam-malam kita bisa pergi ke tempat yang banyak orang miskinnya. Pakai baju robek dan jelek. Muka dibuat kotor. Kita dengar kesusahan rakyat. Terus kita tolong. Tapi ibu jangan bawa pengawal. Jangan bilang-bilang. Kita tidak usah pergi jauh-jauh. Di dekat rumahku juga banyak anak jalanan. Mereka mengamen mengemis. Tidak ada bapak ibunya. Terus banyak orang jahat minta duit dari anak-anak kecil. Kasihan.

Ibu Presiden, kalau mau, ibu balas surat aku ya. Jangan ketahuan pengawal nanti ibu tidak boleh pergi. Aku yang jaga supaya ibu tidak diganggu orang. Ibu jangan takut. Presiden kan punya baju tidak mempan peluru. Ada kan seperti di filem ?. Pakai saja. Ibu juga bisa kurus kalau jalan kaki terus. Tapi tidak apa. Sehat.
Jadi ibu bisa kenal orang-orang miskin di negara Indonesia. Bisa tahu sendiri tidak usah tunggu laporan karena sering ada korupsi.

Sudah dulu ya. Ibu jangan marah ya. Kalau tidak senang aku jangan dipenjara ya. Terimakasih. Wassalamu’alaikum wr. wb.

Dari
Abdurahman Faiz
Kelas II SDN 02 Cipayung Jakarta Timur

Sumber: Untuk Bunda dan Dunia – Kumpulan Sajak Abdurahman Faiz
http://y3dips.echo.or.id/poetry/Kumpulan_Sajak_Abdurahman_Faiz.txt
http://www.dudung.net/index.php?naon=depan&action=detail&id=471&cat=3

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At Tahrim: 6 ).

“Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shaleh yang mendo’akannya.”
(HR. Muslim, dari Abu Hurairah)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 040/th.04/Jummadil Akhir-Rajab 1429H/2008M

Iklan

Tanamkan Cinta dan Taat Kepada Allah Dalam Qalbu Anak

September 25, 2008

Sering kita dengar orang tua menasehati anak dengan ungkapan-ungkapan yang bernada ancaman, “Kalau kamu begitu, Allah tidak akan mencintaimu, … Kalau kamu begini Allah kelak akan menyiksamu, … Jika kamu maksiat Allah akan mengadzabmu, Allah akan memarahimu, … Allah akan menempatkanmu dalam neraka yang apinya sangat panas”. Model pendidikan bila hanya seperti contoh ini akan menumbuhkan dalam jiwa sang anak gambaran yang tidak baik tentang Allah SWT. Benar, memang kita harus mengingatkan sang anak, bahwa Allah itu sangat pedih siksanya, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Namun mengingatkan tetang ke-Maha Penyayang-Nya Allah, Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Pengampun, tentang nikmatnya surga juga harus disampaikan, agar tumbuh dalam qalbu sang anak pengagungan terhadap Allah, takut kepada-Nya, hingga terkumpullah padanya dua hal, berharap sekaligus takut kepada-Nya. Tidak semestinya orang tua hanya mewanti-wanti dan menakut-nakuti, namun kaitkanlah anak itu dengan Allah SWT, ingatkan ia akan Maha Luasnya rahman-Allah, berbagai keutamaan, dan hal-hal yang akan membawanya kepada kebaikan.

Jika orang tua ingin memotivasi sang anak agar berjiwa tulus, maka ajarkan kepadanya akan keutamaan sifat tulus, Allah ta’ala cinta kepada orang-orang yang tulus, mengajak anak untuk menjadi baik sebab Allah cinta kepada orang-orang yang baik, ajari memaafkan kedhaliman orang lain yang menimpanya, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya. Ingatkan ia dengan keutamaan Allah bahwa jika kita berbuat satu kebaikan, Allah akan lipat gandakan menjadi 10 kebaikan, motivasilah dia dengan surga, kenikmatan dan segala hal yang berkaitan dengan surga. Dan ungkapkan kepadanya bahwa kalau kamu ingin masuk surga, maka berbuatlah sesuatu yg menjadi syarat dan tuntutannya.

Ada satu hal yang mesti digaris-bawahi; sebagian ibu-ibu tidak tega untuk menyuruh anak-anaknya untuk mengerjakan sejumlah amalan shalih yang terkesan berat, seperti shalat di musim dingin, puasa, shalat shubuh. Bahkan mereka mengatakan, “Selama belum diwajibkan kepadanya, maka aku tidak perlu menyuruhnya untuk melakukan hal-hal itu.” Saya katakan, “Ketahuilah bahwa setiap amalan shalih yang dikerjakan sang anak akan ditulis sebagai kebaikan baginya dan ia akan menerima pahalanya; selama ia belum baligh maka setiap kebaikan dicatat dan keburukan yg ia lakukan tidak dicatat.
Dan motivasi kepada anak-anak untuk berbuat shalih, santun maka itupun akan membuahkan hasil yang banyak, diantaranya :

1. Menambah tabungan kebaikan, sebab setiap kebaikan oleh Allah dilipat-gandakan menjadi 10 kebaikan;

2. Membiasakan anak-anak dengan aktivitas ibadah dengan cara lembut, hal ini dibutuhkan sebab sang anak masih kecil, maka jika dari kecil dibiasakan maka tidak sulit untuk mengarahkan ketika sudah besar.

Berbeda keadaannya dengan anak yang tidak pernah dididik untuk itu. Misalnya anak yang dari kecil dididik untuk shalat tepat waktu maka tidak berat ketika sudah dewasa. Maka, siapa yang membiasakan sang anak untuk memakai gamis sejak kecil, maka ia tidak risih ketika sudah dewasa;

3. Ketahuilah bahwa engkau akan mendapatkan pahala sebagaimana kisah seorang perempuan yang anaknya meninggal dibawa kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sang perempuan berkata, “Apakah untuk yang ini aku berhaji. Rasul  menjawab, yang artinya, “Ya, dan engkau mendapat pahala.” Imam Ibn Qayyim berkata, “Dan bila engkau memperhatikan kerusakan yang menimpa anak-anak, maka engkau akan mendapati bahwa mayoritas kerusakan itu berawal dari kedua orang tua.”

Semoga Allah memperbaiki keadaan kami dan anda semua, melimpahkan anak keturunan, isteri-isteri yang menyejukkan hati. Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad SAW.

[Sumber: Majalah Al-Da’wah (Riyadh-KSA) No. 1923/02121424H/25122003M
/Selasa, 10-03-2004M/18-01-1425H]
http://www.alsofwah.or.id/keluarga/index.php?id=20&tampilkan=yes
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 040/th.04/Jummadil Akhir-Rajab 1429H/2008M