Orang Tua Tidak Rela Saya Masuk Islam

September 25, 2008

(oleh : Ikhsan Nur Ramadhan Vincsar Hadipraba)

Sejak kecil saya sudah kenal Islam. Saya sering melihat pembantu shalat. Kebetulan kakek saya (dari bapak) adalah muslim. Selain itu saya juga senang mendengarkan suara orang adzan atau ngaji. Tetapi sejauh itu dalam hati saya belum terbersit keinginan untuk cari tahu apa makna semua itu.
Semasa kuliah, salah seorang teman pernah memberi tahu bahwa Tuhan itu satu. Ia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Ketika mendengar penjelasan itu, saya cuek saja. Saya tetap kukuh pada keyakinanku, karena yang saya tahu hanya konsep bahwa tuhan itu tiga dalam satu, Trinitas. Dan saya belum tahu apa-apa mengenai wacana ketuhanan yang dipercayai agama lain.

Namun begitu, sewaktu saya kuliah di Riau, dalam hati saya selalu ada keinginan untuk selalu aktif di gereja. Tapi hal itu akhirnya gagal terlaksana, karena saya tidak diakui oleh pastur di sana. Ceritanya, saya itu bisa main musik secara otodidak. Suatu hari saya mendatangi pastur seraya mengajukan permohonan untuk bisa menjadi pengiring organ di gereja. Tapi jawaban pastur selalu kurang mengenakkan hati saya. Bahkan ditanya ini-itu.
“Kamu punya sertifikat Yamaha nggak ?”, tanyanya.
Saya heran. “Lho, yang penting kan saya bisa memainkan organ ?”.
“Oo, tidak bisa. Nanti kalau permainan musikmu kacau malah bikin suasana tidak khusu’ di gereja,” ujarnya.
“Ya sudahlah. Saya lebih baik mengembangkan karir saya di luar saja, daripada  di gereja,” ungkap saya kesal. Akhirnya memang saya lebih dikenal di luar daripada di lingkungan gereja. Di kampus UNRI kalau orang bertanya “siapa Igo ?” (panggilan saya sebelum menjadi muslim), maka semua orang akan tahu. Tetapi kalau di Gereja ditanya “siapa Igo ? ”  , maka orang akan balik bertanya, “si Igo yang mana ya ?”. Oleh karena itu saya kecewa dengan kejadian itu.

Sejak tahun 1996 saya pindah ke Jakarta. Dan saya bekerja di Mac Donald. Awalnya memang enak, karena setiap Sabtu-Minggu libur, jadi saya bisa ikut kebaktian. Tetapi lama kelamaan setiap Sabtu Minggu pun harus masuk kerja. Sehingga saya tidak bisa ke Gereja. Maka saya berpikir, ‘Enak ya, jadi orang Islam. Setiap hari bisa bertemu dengan Tuhannya. Sehari lima kali bermeditasi (shalat), fikiran dan batin akan menjadi fresh.’ Sedangkan saya, pulang kerja saja sudah capai, lalu kapan bisa beribadah ?’.
Sampai dengan akhir 1998 ketika saya masih tinggal di gang H. Saimin, Ciputat. Saya sering kumpul-kumpul dengan teman-teman. Kebetulan ketua pemudanya, yang biasa kami panggil Bang Hans, sering mengajak kami ngobrol dan diskusi. Selain itu kami juga berlatih musik di sebuah garasi, sampai akhirnya kami mendirikan grup musik yang kami beri nama Garasi.

Sekitar selama tujuh bulan, setiap saya pulang kerja, saya tidak langsung tidur. Sambil istirahat kami sering ngobrol sama teman-temen di lingkungan kost. Suatu hari kami kedatangan H.Sofwan Muzamil, temannya Bang Hans. Dan ternyata beliau merasa suka dan cocok bergabung bersama kami, sehingga beliau sering datang ke tempat kami biasa kumpul.
Suatu hari ketika mau mendatangi tempat saya biasa kumpul-kumpul itu, saya datang terlambat. Setelah saya ikut mendengarkan obrolan mereka, ternyata mereka sedang membahas tentang agama Islam. Pak haji Sofwan sedang menjelaskan tentang Islam, dan terlihat cukup detail. Sampai-sampai saya pun menjadi suka mendengarkan dan terus mengikutinya.
Mengetahui karakter Pak haji yang tidak sombong itu, membuat saya jadi ingin mendekati beliau. “Pak haji saya tertarik masuk Islam,” kata saya. “O, tunggu dulu, saya tidak mengajarkan kamu agar masuk Islam. Tapi sekedar memberi penjelasan bahwa beginilah Islam,” jawabnya.

Beberapa hari kemudian saya melihat beliau lagi di tempat kami biasa ngumpul, dan saya senang bisa terus mendengarkan mereka berdiskusi. Sehingga menjadikan  keinginan saya untuk masuk Islam semakin kuat. Saya menjadi rajin mencari-cari pengetahuan tentang Islam dari berbagai sumber. Hal itu saya lakukan, karena Pak haji sudah bilang bahwa, dalam Islam itu tidak ada paksaan bagi manusia untuk memeluknya. “Saya tidak mau mengajari kamu tentang Islam, tapi kalau kamu tertarik dengan Islam, carilah sendiri sumber-sumbernya,” ujar Pak haji. Pesan itulah yang pada kelanjutannya membuat saya terus berusaha membuka-buka buku tentang kesaksian orang-orang yang masuk Islam (buku kisah tentang para muallaf) milik teman kostku.

Selama ini saya tidak pernah menemukan bahasan tentang isi injil secara detail. Dan inilah salah satu perbedaan antara Katolik dan Protestan. Kalau di Protestan , Injil dikupas cukup mendalam. Juga dalam sebuah buku yang pernah saya baca terdapat kalimat yang menjelaskan bahwa Yesus berkata, ‘Saya harus pergi, sebab kalau tidak pergi dia (si penghibur) itu tidak akan datang. Dan kalau dia datang, dia akan berkata-kata apa yang didengarkannya dari Allah.’
Sang penghibur itu dalam bentuk kiasan, tidak lain adalah nabi Muhammad. Di dalam Bibel berbahasa Inggris disebutnya sebagai “the helper”. Dan karena nabi Muhammad diangkat menjadi rasul, dimana pada saat itu keadaan umat manusia sedang dalam kondisi kacau (jahiliyah).
Ketika membaca penjelasan itu bergetar hati saya. Lho, bener ini. Saya buka injil (Yohanes) lagi, ternyata benar. Injil yang lain tidak mengupas mengenai itu.

Menjelang lebaran tepatnya pada tanggal 17 Januari 1999 di sebuah mushala di Ciputat saya mengucapkan dua kalimat syahadat, dibimbing oleh H.Sofwan Muzamil. Nama saya ditambah dengan kata Ikhsan Nur Ramadhan. Sebelum masuk Islam, sebagaimana anjuran Pak haji, saya terus mempelajari Islam dari berbagai sumber, terutama dari buku-buku tentang Islam, termasuk tentang bagaimana cara-cara beribadah. Di samping itu saya juga banyak bertanya kepada sama calon istri saya.

Setelah menjadi muslim cobaan yang saya hadapi ternyata cukup berat. Di antaranya, saya ditolak mentah-mentah oleh keluarga. Padahal sebelum saya menyatakan keinginan saya untuk masuk Islam di bawah bimbingan pak haji Sofwan, saya sudah bilang (memberi tahu) kepada orang tua. Dan orang tua saya menanggapinya dengan berbagai argumen yang terkesan sinis. Intinya mereka tidak setuju. Oleh karena itu saya pun akhirnya masuk Islam secara diam-diam. Dan baru setelah selang beberapa waktu kemudian, baru saya memberi tahu kepada orang tua.
Sejauh itu saya tetap berusaha menjaga hubungan antara saya dengan orang tua (ayah) dan adik agar selalu baik. Namun tinggal kakak dan ibu yang saya sampai sekarang belum mau mengerti juga.

Belum lama ini kakak saya melihat KTP saya, lalu dia nanya. “Namanya kok kamu ganti?  Ignatiusnya mana ?”, tanyanya.
“Lho, saya kan sudah jadi muslim, mengapa tetap memakai nama itu ?” jawab saya. Pendirian saya, yang penting nama pemberian orang tua masih saya pakai. Sedang kan Ignatius itu nama baptis saya. Penjelasan inilah yang pada akhirnya membuat  saya dianggap “sudah tidak menghargai orang tua lagi.
Cobaan kedua, pada acara pernikahan kami orang tua dan sanak saudara nggak hadir seorang pun. Padahal mereka diundang. Kalau bapak saya memang sakit, sedangkan ibu sebenarnya sudah kasih restu cuman beliau masih berat hati. Terus Pak De saya yang muslim juga diundang, tapi nggak datang juga, mungkin karena nggak enak sama keluarga saya. Maklumlah mereka Katolik aktif. Saya yakin dari hubungan anak orang tua, mereka ingin datang, tapi karena terbentur beda akidah sehingga nggak seorang pun yang datang. Padahal sebelum nikah saya dalam keadaan ‘krisis’. Saya hanya yakin bahwa Allah akan menolong hambanya. Akhirnya pernikahan berjalan juga. Alhamdulillah sampai sekarang apa yang saya inginkan dikabulkan-Nya. *

http://www.bahtera-iman.com/kisah.htm
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 040/th.04/Jummadil Akhir-Rajab 1429H/2008M


Sosialisasikan Sertifikat Halal MUI

Juni 25, 2008

Beberapa waktu yang lalu Labbaik mengirim e-mail pertanyaan ke pihak MUI, melalui website-nya yang khusus memfokuskan perhatian perihal halal dan haram, yakni HalalGuide. E-mail pertanyaan tersebut adalah sbb :

Assalamu ‘alaikum wr.wb.
Mohon Labbaik diberi penjelasan, mana yang paling baik dan sesuai syar’i, dan telah resmi diteliti oleh POM-MUI. Karena banyak produk memakai label halal, misalnya :

1. Halal (memakai huruf latin).
2. Halal (memakai huruf arab).
3. Bertuliskan POM saja.
4. Bertuliskan LP-POM saja.
5. Memakai logo lingkaran warna hijau bertuliskan Majelis Ulama Indonesia
6. Memakai logo lingkaran warna hitam bertuliskan Majelis Ulama Indonesia
7. Bertuliskan “Dijamin Halal”.
8. dll.

Dan kalau tidak merepotkan, Labbaik menyarankan kepada MUI, agar membuat semacam poster pemberitahukan label halal yang resmi dari MUI, kemudian di pasang di masjid-masjid.

Demikian surat Labbaik. Terima kasih atas perhatiannya.
Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

Jakarta, 22 Mei 2008
https://labbaik.wordpress.com/
http://labbaik.multiply.com/

Alhamdulillah, sehari kemudian Labbaik menerima e-mail jawaban dari HalalGuide. Meski tidak detail, setidaknya jawaban tersebut semoga sudah dapat dijadikan sebagai pedoman atau pegangan. Berikut inilah e-mail jawabannya :

Waalaikumsalam wr wb
Terima kasih atas pertanyaan dan sarannya.
Memang sampai saat ini belum ada aturan (negara) yang rinci soal pemasangan logo halal. Ada juga undang2 yang tidak memberikan contoh yang rinci. Sampai saat ini kami menyosialisasikan logo 5 dan 6 untuk produk yang sudah bersertifikat halal MUI, warna tergantung kemasannya/latar kemasan. Produk lama yang sudah bersertifikat halal MUI mungkin saja memasang logo no 2, sampai kemasan yang lama habis. Yang lain mungkin saja produk tsb belum disertifikasi oleh MUI akan tetapi peraturan pemerintah untuk undang2 pangan membolehkan memasang logo halal (tanpa rincian) asal si produsen menganggap produknya halal. Bingungkan ?.
Terima kasih, Wass wr wb.

[dari : halalmui halalmui@indo.net.id]

Maka produk yang paling afdol dan insya Allah paling syar’i adalah yang sudah resmi diteliti oleh MUI, yakni yang menggunakan logo lingkaran, bisa berwarna hi jau, hitam, bisa juga warna lain yang disesuaikan kemasannya. Dan di sekeliling lingkaran tersebut ada tulisan Majelis Ulama Indonesia. Logo seperti inilah yang hingga saat ini terus disosialisasikan oleh pihak MUI. Untuk melihat logonya klik http://www.halalguide.info/content/view/945/269/

[note artikel di atas telah dimuat dalam mukaddimah Labbaik, edisi : 038/th.04/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1429H/2008M]


GHIBAH Yang Diperbolehkan

Juni 25, 2008

Ada ghibah yang diperbolehkan oleh agama berdasarkan dalil-dalil syar’i, akan tetapi hendaklah seseorang waspada terhadap tipuan syeitan yang akan membukakan pintu-pintu dosa baginya, saat seseorang mulai melakukannya. Maka dalam melakukan ghibah sebaiknya dibatasi, dan mesti diikuti dengan niat yang baik, bukan dengan niat menyalurkan rasa marah, dendam, benci atau ingin popular, dll. Karena sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui orang yang tidak jujur dan menyembunyikan sesuatu dalam hatinya. Ghibah-ghibah yang diperbolehkan antara lain sbb :

1. Pengaduan (keluhan) kepada penguasa atau hakim.

Dalilnya adalah hadits dari Aisyah r.ha., dia berkata :”Hindun, istri Abu Sufyan pernah mengadu kepada Rasulullah, dia berkata :”Sesungguhnya Abu Sufyan adalah orang yang pelit, dia tidak memberikan nafkah yang cukup buatku dan anak-anakku, sehingga aku mengambil darinya tanpa sepengetahuannya”. Maka Rasulullah SAW bersabda :”Ambillah apa yang cukup bagimu dan anak-anakmu dengan cara yang baik”. (HR.Bukhari-Muslim)

2. Meminta fatwa.

Contoh :  Seseorang bertanya kepada mufti (ahli/pemberi fatwa) :”Si Fulan telah berbuat dzalim kepadaku, maka bagaimana caranya agar aku bisa terlepas darinya ?”.  Untuk kasus ini bisa diselesaikan dengan berdasar dalil yang sama dengan point no.1 di atas.

3. Minta bantuan atas suatu kemungkaran, menghilangkan cobaan (penderitaan) pada seseorang. Untuk hal ini pun bisa menggunakan dalil hadits pada point no.1 di atas, juga bisa menggunakan hadits dari Fathimah binti Qais r.ha. , dia berkata :”Aku datang kepada nabi SAW, kemudian aku berkata kepada beliau :”Sesungguhnya Abu Jahm & Mu’awiyah hendak menikahiku”. Maka Rasulullah SAW bersabda :”Mu’awiyah itu adalah orang miskin. Adapun Abu Jahm adalah orang yang tidak pernah menaruh tongkat dari pundaknya (orang yang kejam/kasar)”. (HR.Bukhari-Muslim).
Dalam suatu riwayat dikatakan :”Dan Abu Jahm adalah orang yang suka memukul
wanita”.

4. Mengingatkan kaum muslimin dan menasehatinya dari orang-orang yang berbuat jahat.

Contoh : Misalnya menyebut kejelekan perawi hadits, hal ini dilakukan dalam rangka membela hadits (sunnah) Rasulullah SAW. Demikian pula bermusyawarah dalam urusan pernikahan, ikut berembuk, dan lain-lain yang semisal itu.
Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dan yang lainnya, dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :”Rasulullah SAW bersabda :”Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada enam, yaitu :”Apabila bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam kepadanya. Apabila diundang, maka datanglah. Apabila dia meminta nasehat, maka nasehatilah. Apabila dia bersin, kemudian ia mengucap Alhamdulillah maka jawablah dengan ‘yarhamukallah’. Apabila dia sakit, maka jenguklah. Dan apabila dia mati, maka ikutilah jenazahnya sampai ke kuburan”.
Maka dari itu, wajib bagi seorang muslim untuk  menasehati saudaranya apabila dia meminta nasehatnya, dan hendaklah dia ikhlas dalam melakukannya. Imam Asy Syaukani berkata mengenai permasalahan ini :”Dan yang menjadi dalil atas hal itu adalah dali-dalil yang jelas, seperti hadits mengenai nasehat untuk tunduk kepada Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, dan para pemimpin Islam pada khususnya, dan umat Islam pada umumnya. Karena menjelaskan kebohongan para pendusta adalah merupakan nasehat yang amat besar nilainya”. *)
Beliau juga berkata :”Demikian pula men-jarh (menyebutkan cacat) orang yang bersaksi palsu, karena hal itu merupakan nasehat yang telah Allah wajibkan kepada hamba-Nya dan wajib untuk dilaksanakan dan ditegakkan”.

5. Menyebut orang yang melakukan ke-fasiq-an secara terang-terangan atau pelaku bid’ah.

Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin berkata :”Imam Bukhari telah menjadikan sebuah hadits (yang diriwayatkan dari Aisyah r.ha, tentang seorang lelaki yang meminta izin kepada Rasulullah untuk memasuki rumahnya) sebagai hujjah (dalil) tentang bolehnya menggunjing orang yang suka berbuat kerusakan dan membuat ragu-ragu).”
kererangan :
*)  Kitab “Raf’u Ar Raibah”, dengan tahqiq (komentar) dari Muhammad Ibrahim Asy Syaibani hal.27, cetakan Maktabah Ibnu Taimiyah.
[sumber : Ghibah Dan Pengaruhnya Dalam Kehidupan, Syaikh Husain Al ‘Awayisyah, Pustaka At Tauhid  –  Jakarta, cetakan maret 2003/dzulhijjah 1423H]

Ghibah / Menggunjing

Dalam banyak pertemuan di majlis, seringkali yang dijadikan hidangannya adalah menggunjing umat Islam. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hal tersebut, dan menyeru agar segenap hamba menjauhinya. Allah menggambarkan dan mengidentik kan ghibah dengan sesuatu yang amat kotor dan menjijikkan. Allah berfirman, yang artinya :” Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecu rigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”. (Al-Hujuraat : 12)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan makna ghibah (menggunjing) dalam sabdanya, yang artinya :”Tahukah kalian apakah ghibah itu ?. Mereka menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau SAW bersabda :”Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Ditanyakan :”Bagaimana hal nya jika apa yang aku katakan itu (memang) terdapat pada saudaraku ?”. Beliau SAW menjawab :”Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya”. (Hadits Riwayat Muslim, 4/2001)
Jadi, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, ahlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranya-pun bermacam-macam, diantaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok.

Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Allah SWT ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Hal itu dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya :”Riba’ itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang “mengumpuli” ibunya (sendiri), dan riba’ yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya”. (As-Silsilah As-Shahihah, 1871)
Maka wajib bagi orang yang hadir dalam majlis yang sedang menggunjing orang lain, untuk mencegah kemungkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam amat menganjurkan hal demikian, sebagaimana dalam sabdanya, yang artinya :”Barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak (menghindarkan) api Neraka dari wajahnya”. (Hadits Riwayat Ahmad, 6/450, hahihul Jami’. 6238)

(dari : “Dosa-dosa Yang Dianggap Biasa”, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid)
http://assunnah.org/
note : Artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 039/th.04/Rabi’ul Tsani-Jummadil Awwal 1429H/2008M


Pernik-pernik Ghibah

Juni 25, 2008

(termasuk ‘Ngerumpi’ atau Menggosip)

Menggosip adalah tindakan yang sangat dibenci Allah. Celakanya, kebiasaan ini justru sering dilakikan banyak orang, baik di kantor, ditempat kerja atau bahkan di rumah (maaf, terurama kalangan wanita). Dahulu, orang akan tersinggung jika dikatakan tukang gosip. Seseorang yang ketahuan sedang menggosip biasanya merasa malu. Namun, sekarang kesan buruk tentang menggosip mungkin sudah mengalami pergeseran.
Banyak hal yang bergeser dan berubah dengan hadirnya pesawat televisi ke rumah kita, terutama yang berkaitan dengan budaya dan akhlak. Salah satu yang jelas terlihat yaitu pergeseran makna bergunjing atau menggosip. Padahal jelas bahwa, menggosip adalah tindakan yang tidak terpuji. Beberapa acara informasi kehidupan para artis atau selebritis yang dikemas dalam bentuk paket hiburan atau info tainment dengan jelas-jelas menyebut kata gosip sebagai bagian dari mata acara nya. Bahkan pada salah satu dari acara tersebut pembawa acaranya menyebut diri nya pada saat menyapa pemirsanya dengan istilah “biang gosip”. Mereka dengan bangganya mengaku dirinya sebagai tukang gosip.

Saat ini hampir di setiap stasiun televisi memiliki paket acara seperti di atas. Bahkan satu stasiun ada yang memiliki lebih dari satu paket acara infotainment tersebut, dengan jadwal tayangan ada yang mendapat porsi tiga kali seminggu. De ngan jam tayang yang sudah diatur sedemikian rupa, dimana pemirsanya akan didominasi dari kalangan wanita. Hampir semua acara sejenis itu, isinya adalah menyingkap kehidupan pribadi para selebritis. Walhasil, pemirsa akan mengenal betul seluk beluk kehidupan para artis, bahkan sampai masalah-masalah yang seharusnya bersifat sangat pribadi.
Sepintas acara ini terkesan menghibur. Seorang ibu yang kelelahan setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya mungkin akan terasa terhibur dengan sajian-sajian sisi-sisi kehidupan pribadi para selebritis. Apalagi kemasan acara yang semakin bervariasi ada yang diselingi nyanyi, wawancara langsung dengan artis, daftar hari ulang tahun para selebritis, dll. Namun jika kita cermati lebih jauh, tetap saja isinya adalah menggosip atau menggunjing.

Sejak awal tahun 2002 ditandai dengan banyaknya artis yang pisah ranjang dan bercerai. Peristiwa-peristiwa semacam ini merupakan sasaran empuk bagi penyaji hiburan semacam ini. Pemirsa disuguhi sajian informasi yang sarat dengan pergun jingan. Masing-masing pihak merasa benar dan tentu saja menyalahkan pihak lain. Menggosip yang jelas merupakan akhlaq yang buruk, namun karena terus-menerus disosialisasikan dan acaranya dibungkus dengan dalam paket “menarik”, sehingga pada saat ini telah timbul kesan, bahwa menggosip adalah tindakan biasa dan lumrah untuk dilakukan, konotasi buruk seolah-olah telah hilang. Menceritakan aib orang lain seolah telah menjadi sesuatu yang tanpa beban dan dosa untuk dilakukan. Padahal kalau dicermarti, makna gosip adalah termasuk dalam katagori ghibah.

Ghibah, termasuk gosip, merupakan hal yang dilarang agama. “Apakah ghibah itu ?” Tanya seorang sahabat pada Rasulullah SAW. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain !”, jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar ?”, Tanya sahabat lagi. “Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta !” Rasulullah menjelaskan. Percakapan tersebut diambil dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.  Dalam Al Qur’an (QS 49:12), orang yang suka menggibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Dari Jabir bin Abdullah ra. :”Ketika kami bersama Rasulullah SAW. Tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai, maka Rasul pun bersabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini ? Inilah bau dari orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)
Dalam hadits lain Rasulullah pernah bersabda, yang artinya : “Pada malam Isra’ mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril, “Siapa mereka ?”.
Jibril menjawab, “Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain, mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah !.” (HR.Abu Daud yang berasal dari Anas bin Malik ra).
Begitulah Allah mengibaratkan orang yang suka menggibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, na’udzubillah !.

Banyak celah kesempatan untuk menggosip. Pada saat berbelanja mengelilingi gerobak tukang sayur, menyuapi anak di halaman, pada saat arisan atau acara kumpul-kumpul lainnya. Menggosip kadang mendapat pembenaran dari kalangan yang suka menggosip, mereka berdalih, :”Ini kan fakta, dan dapat diambil sebagai pelajaran bagi diri kita !”. Sekali lagi perlu diingat, bahwa di atas tadi rasullulah SAW telah berwasiat, “Jika benar maka itu adalah ghibah, dan jika salah maka itu adalah dusta !”.
Mengapa orang cenderung suka mengghibah, bahkan terkesan menikmati kebiasaan buruk ini ?. Menurut seorang psikolog pengasuh konsultasi ribrik keluarga pada sebuah media cetak, mengatakan bahwa rahasia mengapa rubriknya tetap disukai pembaca selama puluhan tahun. Menurut pengalaman dan penelitiannya adalah karena pada diri manusia itu cenderung terdapat sifat suka menggunjingkan orang lain. Orang cenderung ingin tahu masalah yang terjadi pada orang lain. Dengan demikian ia akan merasa beruntung tidak seperti orang lain atau ternyata tidak dirinya saja yang menderita seperti itu. Jika benar demikian kebanyakan sifat dari manusia, tentunya kita harus sering melakukan bermuhasabah dan istighfar.

Selama ini syaitan telah begitu mudahnya mempengaruhi kebanyakan hati kita sehingga tanpa terasa kita telah menumpuk banyak dosa akibat pergunjingan tersebut. Setiap orang mempunyai harga diri yang harus dihormati. Membuat malu seseorang adalah perbuatan dosa. “Tiada seseorang yang menutupi cacat seseorang di dunia, melainkan kelak di hari kiamat Allah pasti akan menutupi cacatnya” (HR. Muslim).
Sosialisasi pergunjingan di televisi bagaimanapun harus dihindari. Jangan sampai kita merasa tidak berdosa melakukannya. Bahkan merasa terhibur dengan informasi semacam itu. Kita mesti berhati-hati. Pemahaman akan makna ghibah harus senantiasa ditanamkan agar kita selalu sadar akan bahayanya. Ada sebuah pameo, “Dahulu orang memilih tinggal di dalam rumah karena menghindari bahaya dari luar. Kini bahaya itu justru berasal dari dalam rumah sendiri yaitu dengan hadirnya acara yang berpotensi tinggi dalam menurunkan kualitas iman, terutama dari televisi”.

Ada beberapa tips untuk menghindar dari ghibah, insya Allah beberapa tips ini bermanfaat dan sesuai syariat :

1. Memikirkan Unsur Syar’inya Sebelum Berbicara
Cobalah untuk berpikir sebelum berbicara, ‘Perlukah saya mengatakan hal ini ?’. dan lebih baik lagi jika dikembangkan menjadi, ‘Apa manfaatnya ? Apa mudharatnya ?’ melanggar syariat apa tidak ? berdosa apa tidak ? dan seterusnya”. Kebiasaan berpikir ini seharusnya senantiasa digunakan dalam keadaan apapun, selama jiwa kita dalam keadaan sadar. Untuk menjawab pertanyaan pun demikian.  Rasulullah SAW biasanya memberi jeda  sesaat untuk berfikir sebelum menjawab pertanyaan seseorang.

2. Berbicara Sambil Berdzikir
Berdzikir di sini maksudnya selalu menghadirkan ingatan kita kepada Allah SWT. Ingatlah betapa beratnya ancaman dan kebencian Allah kepada orang yang melakukan ghibah. Bawalah ingatan kepada Allaah SWT ini pada saat berbicara dengan siapapun, dimana saja dan kapan saja.

3. Membangun Rasa Percaya Diri
Orang yang tidak percaya diri akan cnderung suka mengikuti apa saja perbuatan orang lain, sehingga ia mudah terseret perbuatan ghibah temannya. Bahkan ia pun berpotensi menyebabkan ghibah. Hal ini antara lain karena tidak memiliki kebanggaan terhadap dirinya sendiri sehingga lebih senang memperhatikan, membicarakan dan menilai orang lain.

4. Membuang Rasa Iri dan Dengki
Kebanyakan ghibah tumbuh karena didasari rasa hasad, iri dan benci, juga rasa ketidak-ikhlasan menerima kenyataan bahwa orang lain lebih berhasil atau lebih beruntung. Padahal seharusnya kalau dirinya kurang beruntung, maka dia mesti tetap sadar akan adanya takdir Allah SWT, apalagi jika menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih    sengsara daripada dirinya.

5. Introspeksi
Ketika sedang membicarakan keburukan orang lain, segera bayangkan bagaimana perasaan  kita jika keburukan kita pun dibicarakan orang.

6. Menghindar, Mengingatkan, Diam dan Meninggalkannya
Menghindar dari segala hal yang menjerumus diri kita dalam ghibah. Kalau mampu mengingatkan, ya kita ingatkan akan dampak dan dosa akibat ghibah. Namun kalau tidak mampu, ya kita diamkan saja tanpa memberi komentar apa pun, apalagi menimpali dan menambah-nambahi. Terakhir, secepatnya meninggalkan “arena” ghibah tersebut. Termasuk     dalam hal ini tentunya, adalah acara-acara bernuansa ghibah di televisi dan radio atau pun media yang lain.

Wallahu a’lam.

(dari : Rubrik “Jendela Keluarga” Majalah Hidayatullah)
http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=831_0_4_0_m

Nasehat Bukanlah Gunjingan

Pertanyaan :
“Seseorang hendak menugaskan orang lain dengan suatu pekerjaan. Saya tahu bahwa orang tersebut tidak mampu melaksanakannya karena tidak mempunyai keahlian di bidang tersebut. Bolehkah saya memberitahu orang yang hendak memberinya tugas itu tentang kekurangan-kekurangan orang yang hendak diberi tugas itu. Apakah ini termasuk menggunjing ?”.

Jawaban:
“Jika maksudnya nasehat maka bukan berarti menggunjing. Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW, yang artinya :”Agama adalah nasehat.” Ditanyakan kepada beliau, “Bagi siapa ya Rasulullah ?”. Beliau menjawab, “Bagi Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin umumnya. ”
Disebutkan pula dalam ash-Shahihain dari Jabir bin Abdullah al-Bajali ia, berkata, “Aku berbai’at kepada Rasulullah SAW untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat dan memberi nasehat kepada setiap muslim.”
Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang semakna dengan ini. Namun hanya Allah lah yang Maha Mampu Memberi Petunjuk.

[dari : Majalah ad-Da’wah, nomor 1172, Syaikh Ibn Baz]
http://www.alsofwah.or.id

Diriwayatkan dari Mathlab bin Abddullah dia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW :”Ghibah adalah engkau menyebut-nyebut orang lain yang tidak ada di sisimu dengan sesuatu yang ada padanya”. (Kitab Shahibul jami’ no.4062 oleh Al Albani).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW : ”Ghibah adalah engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak dia sukai”. (Kitab Shahibul jami’ no.4063 oleh Al Albani).
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 039/th.04/Rabi’ul Tsani-Jummadil Awwal 1429H/2008M


KIAT MENJAGA LISAN

Juni 25, 2008

Tiada satu patah katapun yang kita ucapkan luput dari pendengaran Allah. Tiada satu patah katapun yang diucapkan kecuali pasti memakan waktu. Tiada satu patah katapun yang kita ucapkan kecuali dengan sangat pasti harus kita pertanggung-jawabkan di hadapan Allah SWT. Maka, sebaik-baik dan seberuntung-beruntungnya manusia adalah orang yang sangat mampu memperhitungkan dan memperhatikan setiap kata yang diucapkannya. Sungguh, alangkah sangat beruntungnya orang yang menahan setiap kata-kata yang diucapkannya, alangkah sangat beruntungnya orang yang menahan diri dari kesia-siaan dalam berkata-kata dan menggantinya dengan berdzikir kepada Allah.

Berkata sia-sia membuang waktu, padahal berpikir membuka pintu hikmah. Maka, alangkah beruntungnya orang yang kuasa menahan lisannya dan menggantinya dengan berdzikir. Berkata sia-sia mengundang bala, berdzikir kepada Allah mengundang rahmat. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya, “Setiap ucapan Bani Adam itu mem bahayakan dirinya (tidak memberi manfaat), kecuali kata-kata berupa amar ma’ruf dan nahi munkar serta berdzikir kepada Allah azza wa Jalla (HR. Turmudzi).
Setiap manusia diberi modal oleh Allah dalam mengarungi kehidupan ini. Modalnya adalah waktu, dan seberuntung-beruntungnya manusia adalah orang yang memanfaatkan waktunya untuk keuntungan dunia dan akhiratnya, sedangkan sebodoh-bodohnya manusia adalah orang yang menghambur-hamburkan modalnya (waktu) tanpa guna.

Setiap kali kita berbicara pasti menggunakan modal kita, yaitu waktu. Maka, sebenarnya kemuliaan dan kehormatan itu dapat dilihat dari apa yang diucapkannya. Allah SWT berfirman, yang artinya :”Amat sangat beruntung, bahagia, sukses, orang yang khusu’ dalam sholatnya, dan orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh menahan diri dari perbuatan dan perkataan sia-sia.” (QS Al Mu’minun 23: 1- 3), subhanallah.

Sahabat-sahabat sekalian, salah satu ciri martabat keislaman seseorang itu bisa dilihat dari bagaimana ia berjuang keras untuk menghindarkan dirinya dari kesia-siaan. Maka semakin kita larut dalam kesia-siaan maka, akan semakin tampak keburukan martabat keislaman kita dan semakin akrab dengan bala bencana, yang selanjutnya hati pun akan keras membatu dan akan lalai dari kebenaran. Rasulullah sendiri dengan tegas melarang kita banyak bicara yang sia-sia. Dalam sebuah sabda beliau, yang artinya, “Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berdzikir kepada Allah, sesungguhnya memperbanyak perkataan tanpa dzikir kepada Allah akan mengeraskan hati, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras.” (HR. Turmudzi)

Kita lihat banyak orang berbicara tapi ternyata tidak mulia dengan kata-katanya. Banyak orang berkata tanpa bisa menjaga diri, padahal kata-kata yang terucapkan harus selalu dipertanggung-jawabkan, yang siapa tahu akan menyeretnya ke dalam kesulitan. Sebelum berkata, kita yang menawan kata-kata, tapi sesudah kata terucapkan kitalah yang ditawan kata-kata kita. Rasulullah bersabda, yang artinya :”Barangsiapa memperbanyak perkataan, maka akan jatuh dirinya. Maka barangsiapa jatuh dirinya, maka akan banyak dosanya. Barangsiapa banyak dosanya, maka nerakalah tempatnya”. (HR. Abu Hatim).
Dalam sabda beliau yang lain, yang artinya, dari Sahl bin Sa’ad as Saidi, dia berkata :”Barang siapa menjamin bagiku apa yang ada diantara dua tulang rahangnya (lidah) dan yang ada diantara kedua kakinya (kemaluan), niscaya akan aku jamin surga baginya.”(HR. Bukhari).
Juga dalam hadits lain lagi Rasulullah bersabda, yang artinya ;”Barang siapa menjaga dari kejahatan qabqabnya, dzabdzabnya, dan laglagnya, niscaya ia akan terjaga dari kejahatan seluruhnya.”(HR. Ad Dailami)

Yang dimaksud qabqab adalah perut, Dzaabdzab adalah kemaluan, dan Laqlaq adalah lidah. Maka tampaknya adalah menjadi wajib bagi siapapun yang ingin membersihkan hatinya, mengangkat derajatnya dalam pandangan Allah Ajjaa Wa Jallaa, ingin hidup lebih ringan terhindar dari bala bencana, untuk bersungguh-sungguh menjaga lisannya. Aktivitas berbicara bukanlah perkara panjang atau pendeknya, tapi berbicara adalah perkara yang harus dipertanggung-jawabkan dihadapan-Nya.

Ada sebuah kisah, suatu hari ada seseorang bertanya tentang suatu tempat yang ternyata tempat tersebut adalah tempat mangkal “wanita tuna susila”. “Dimana sih tempat x ?” Lalu si orang yang ditanya menunjuk ke arah suatu tempat dan hanya dengan “Tuh !”, lalu si penanya datang ke sana dan naudzubillah ! dia berbuat maksiat, setelah dia pulang, lalu dia sebarkan lagi kepada teman-temannya, lalu berbondong-bondong orang ke sana, berganti hari, minggu, dan tahun. Maka setiap ada orang yang bermaksiat di sana, maka orang yang menunjukkan itu memikul dosanya, padahal dia hanya berkata : “Tuh !”, cuma tiga huruf. Setiap hari orang berzina di sana, maka pikul “si tuh” dosanya, karena dia telah memberi jalan bagi orang lain untuk bermaksiat dengan menunjukkan tempatnya.
Jadi waspada, dengan lidah, menggerakkannya memang mudah, tidap perlu pakai tenaga besar, tidak perlu pakai biaya mahal, tapi bencana bisa datang kepada kita. Berbicara itu baik, tapi diam jauh lebih bermutu. Dan ada yang lebih hebat dari diam, yaitu BERKATA BENAR. “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam !” (HR. Bukhari Muslim).
Sebab lisanlah yang banyak memasukkan kita ke neraka. Rasulullah bersabda, yang artinya :”Kebanyakan yang memasukkan ke neraka adalah dua lobang, yaitu : mulut dan fardji (kemaluan)” (HR Turmudji dan Imam Ahmad).
Lebih jauh lagi, Imam Hasan berkata bahwa, “Tidak akan berarti agama seseorang bagi orang yang tidak menjaga lisannya”. Beliau melanjutkan, bahwa “Baiknya Islam seseorang adalah dengan meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya”.

Untuk dapat merawat lisan menjadi terjaga dan bermutu, ada empat syaratnya :

1. Berkatalah dengan Perkataan yang Benar

Kalau kita ingin berbicara dengan benar, maka pastikan bahwa    dari bohong, bersih dari dusta. Kata-kata kita ini harus benar-benar dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya. Jangan pernah mau berkata apapun yang kita  sendiri tidak yakin dengan apa yang kita katakan. Jangan berusaha berkata-kata semata-mata agar orang terkesima, terpesona, suka, karena semuanya tidak akan menolong kita. Perkataan kita yakin dengan seyakin-yakinnya haruslah dapat dipertanggung-jawabkan.

Bohong, dusta, sama sekali tidak akan menolong diri kita ini, karena kedustaan mutlak diketahui oleh Allah SWT dan sangat mudah bagi Allah membeberkan segala kebohongan dan kedustaan kita. Dusta tidak akan mengangkat derajat, bahkan seba liknya kalau Allah membeberkan kebohongan kita, kedustaan kita, maka, kita akan menjadi orang yang tidak berharga sedikitpun. Untuk dapat orang percaya pada kita tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa dibayar dengan harta, sekali tampak bahwa kita pendusta, pembohong, tukang tipu, maka akan butuh waktu yang sangat lama untuk mengembalikan kepercayaan orang pada kita.
Dusta, bohong, hanya membuat hidup jadi sempit. Camkan, bahwa semakin banyak kita berbohong, semakin sering kita berdusta, maka kita telah membuat penjara, yang membuat kita selalu takut dusta kita terbuka, bahkan selanjutnya kita akan berusaha untuk membuat dusta baru, bohong baru untuk menutupi kebohongan yang telah kita lakukan.
Beranilah hidup tampil dengan apa adanya, biarlah kita tampil begini adanya. Kenapa harus berdusta, lebih baik kita tidak diterima, karena kita sudah mengatakan apa adanya daripada kita diterima karena mendustainya. Jangan berat untuk tampil apa adanya. Daripada kita sibuk merekayasa agar rekayasa kata, sangat pasti tidak akan menolong sedikitpun “yu izzumantasyaa wa tudzillu man tasya”.
Yang mengangkat derajat bukan kebohongan, bukan rekayasa kita, tapi Allah saja, dan sebaliknya yang menghinakan juga Allah. Cegahlah dusta walau sekecil apapun, kecuali tentunya bohong yang dibenarkan oleh syariat. Misalnya, bohong dalam rangka bersiasat kepada musuh, bohong ringan dengan maksud untuk mendamaikan orang-orang yang bersengketa demi kebaikan. Bohong istri kepada suami atau sebaliknya dengan maksud untuk menyembunyikan kejelekan, bohong untuk membahagiakan dengan cara yang sah dan benar, tetapi bukan bohong untuk menyembunyikan aib dan kesalahan.

Sahabat-sahabat sekalian, berpikirlah sebelum berbicara. Jangan pernah biarkan terlontar dari lisan ini sesuatu yang kita sendiri meragukannya. Apalagi dengan sengaja kita berkata dusta, naudzubillah. Demi Allah, Allah Maha Mendengar, tahu persis segala niat di balik kata yang kita ucapkan. Kedustaan kita hanya masalah waktu saja bagi Allah untuk membeberkannya, walau mati-matian kita menutupinya. Maka, pastikan setiap pembicaraan kita untuk tidak ada dusta, walaupun sedikit. Firman-Nya, yang artinya “”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar”. (QS Al Baqarah:263). Cukuplah ayat ini sebagai dalil bagi hamba-hamba-Nya untuk selalu menyampaikan kebenaran.
Selalulah mohon kepada Allah agar lisan ini dituntun dan dilindungi sehingga terhindar dari perkataan yang tidak benar.

2. Berkatalah sesuai tempatnya

“Liqulli maqaam maqaal walikulli maqaal maqaam” Artinya, “Tiap perkataan itu ada tempat terbaik dan setiap tempat memiliki perkataan (yang terucap) yang terbaik pula.”  Maksudnya, tidak setiap kata sesuai di setiap tempat, sebaliknya tidak setiap tempat sesuai dengan perkataan yang dibutuhkan. Hati-hati sebelum kita bicara, harus kita ukur siapa yang diajak bicara. Berbicara dengan anak kecil tentu akan jauh beda dengan ketika berbicara dengan orang tua. Berbicara dengan remaja tentu akan jauh beda dengan ketika berbicara dengan guru kita. Orang yang tidak terampil untuk membaca situasi, walau niatnya benar, hasilnya bisa jadi kurang benar.
Lihatlah misalnya, ketika kita berbincang dengan ponakan yang masih kecil, betapa kita akan berusaha menyesuaikan diri dengan dunianya, gerakan tangan kita, raut muka kita.  Hal ini karena dia tidak akan mengerti kalau kita menggunakan gaya bahasa orang  tua. Tapi tidak mungkin kita memperlakukan guru kita dengan cara yg sama seperti kala kita berbicara kepada keponakan kita.
Oleh karena itu, niat untuk berdakwah dengan mengetahui dalil-dalil Quran, memahami dan mengetahui banyak hadist, belumlah cukup. Sebab kalau kita berbicara tanpa cara yang tepat, misalnya dengan mengobral dalil, menunjukkan banyaknya hafalan saja, tidaklah cukup. Dalam situasi orang berkumpul pasti punya kondisi mental yang berbeda, ada orang yang sedang gembira, yang tentu saja akan berbeda daya tangkapnya dengan yang sedang nestapa. Ada orang yang sedang menikmati kesuksesannya, dan tentu saja
akan berbeda dengan orang yang sedang dilanda masalah dalam hidupnya. Oleh karena itu orang yang sehat berbeda kemampuan menangkap idenya, dengan orang yang sedang sakit, orang yang sedang segar bugar, ceria berbeda kemampuan memahaminya dengan orang sudah letih lahir batinnya. Maka seseorang pembicara terbaik tidak cukup hanya berbicara benar, tapi juga harus sangat bisa memilih situasi kapan dia berbicara.

Mengapa banyak nasehat orang tua yang tidak didengar oleh anaknya yang masih re maja ?. Saya khawatir orang tua merasa benar dengan apa yang dikatakannya, tapi tidak benar dalam membaca situasi dan kondisi remaja yang sedang diajak bicara, yang notabene kondisinya sedang labil. Memang aneh kita ini ketika anak masih kecil, orang tua akan berusaha beraktivitas, bersikap, dan berbicara agar dapat dipahami oleh si kecil, tetapi menjelang remaja, pada saat perpindahan usia, per pindahan masa, ia tidak berusaha beradaptasi dengan kondisi anaknya. maka disinilah kita perlu ilmu.
Sebab dengan ilmu yang memadai setiap orang dapat berwibawa di depan anak-anaknya. Subhaanallah, Ada banyak cara dalam berkomunikasi, dan berbahagialah jikalau kita diberi keterampilan oleh Allah untuk berbicara sesuai dengan kondisi dan tempatnya. Kita berdialog dengan petani, tentu saja berbeda dialognya dengan seorang eksekutif. Berada di lingkungan santri yang fasih bahasa Arab, tentu saja berbeda kalau kita harus berdialog dengan orang di pasar yang tidak mengerti bahasa Arab. Seorang pendakwah misalnya, kalau orangnya tidak arif, ia akan sibuk mengobral dalil, mengobral kata-kata, walau tentu saja tidak semuanya salah, tapi apalah artinya jika kita meletakkan sesuatu tidak sesuai tempatnya.
Pernah terjadi suatu ketika Umar bin Khathab bertemu dengan Abu Hurairah, “Mau pergi kemana engkau, hei Abu Hurairah ?”, Tanya Umar. “Aku mau ke pasar, akan aku umumkan apa yang kudengar dari Rasulullah SAW,” Jawab Abu Hurairah. “Apa kata Beliau ?”, Umar bertanya lagi. “Setiap orang yang mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah”, maka dakhalal Jannah, akan masuk Surga”. “Tunggu dulu, wahai sahabat”, cegah Umar. Umar bin Khathab pun kemudian pergi menemui Rasulullah. “Yaa Rasulullah, apakah benar engkau bersabda demikian (sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Hurairah)?” Tanyanya. Dan Rasul pun meng-iya-kan. “Tetapi, Yaa Rasul, saya keberatan kalau sabdamu itu disebarkan kepada sembarang orang karena dikuatirkan akan salah dalam menafsirkannya.” Mendengar keberatan Umar itu, Rasul termenung, lalu sesaat kemudian bersabda, “Yaa, aku setuju dengan pendapatmu”. Abu Hurairah pun lalu dilarang untuk mengumumkannya di pasar.
Demikianlah, perkataannya benar, sesuai dengan kenyataan. Akan tetapi, karena dikuatirkan akan salah penafsiran orang yang mendengarnya, karena diucapkan tidak pada tempatnya.

3. Jagalah Kehalusan Tutur Kata
Orang yang lisannya bermutu haruslah berkemampuan memperhalus dan menjaga kata-katanya tidak menjadi duri atau tidak bagai pisau silet yang siap melukai orang lain. Betapa banyak kata-kata yang keluar yang rasa-rasanya ketika mengeluarkannya begitu gampang, begitu enak, tapi yang mendengar malah sebaliknya, hatinya tercabik-cabik, tersayat-sayat perasaannya, begitu perih dan luka tertancap dihatinya.
Seakan memberi nasehat, tapi bagi yang mendengar apakah merasa dinasehati atau malah merasa dizhalimi. Hati-hati, ibu kepada anak, suami kepada istri, istri kepada suami, guru kepada murid, atasan kepada bawahan. Kadang kelihatannya seperti sedang memberi nasehat tetapi sesungguhnya kalau tidak hati-hati dalam memilih kata, justru kita sedang mengumbar duri-duri pisau ‘cutter’ yang tajam mengiris. Rasulullah bersabda, yg artinya, “Jiwa seorang mukmin bukanlah pencela, pengutuk, pembuat perbuatan keji dan berlidah kotor” (HR. Turmudji dan Ibnu Mas’ud).
Bahkan bagi orang kafir sekalipun, Nabi melarang mencelanya. Dikisahkan bahwa ketika beberapa orang kafir terbunuh dalam perang Badar, Nabi bersabda :”Janganlah kamu memaki mereka, dari apa yang kamu katakan, dan kamu menyakiti orang-orang yang hidup. Ketahuilah bahwa kekotoran lidah itu tercela” (HR. An Nasai)

Sahabat sekalian, kalau kita berbuat salah, kita begitu rindu orang lain bersifat bijak kepada kita dengan memberi maaf. Kala kita tak sengaja memecahkan piring atau melakukan kesalahan sehingga TV rusak atau kita naik motor agak lalai sehingga menabrak atau masuk got. Maka apa yang kita inginkan ? Yang kita inginkan dari orang lain adalah dia dapat bijaksana kepada kita. “Innaalillaahi wa innaailaihi raaji’uun”. “Lain kali lebih hati-hati, jadikan ini pelajaran yang baik, bertaubatlah”. Demikian kata-kata bijak yang kita harapkan. Sebab sangat pasti akan selalu ada kesempatan kita untuk berbuat kesalahan.
Dikala itu, jika orang menyikapi dengan baik, kita diberi semangat untuk bertaubat, semangat untuk mempertanggung-jawabkan, kita tidak dicela, kita tidak dipermalukan, maka yang terjadi adalah semangat kita untuk mempertanggung-jawabkannya menjadi lebih besar.
Bandingkan dengan kalau kita melakukan suatu kesalahan, lalu orang lain marah kepada kita, “Diam disini, ini perhatikan ! Dasar dungu, tidak hati-hati, begitu sering membuat kesalahan, kemarin ini, sekarang itu. Ini adalah kelakuan yang sangat menyebalkan, pengacau, dan sangat merugikan”. Bayangkan perasaan kita, dicaci-maki seperti itu. Saya kira kata-kata itu tidak akan masuk ke dalam kalbu, bisa jadi malah timbul dendam.
Diriwayatkan bahwa suatu waktu, seorang Arab Badwi bertemu Rasulullah SAW, dan Rasulullah berkata :”Engkau harus bertakwa kepada Allah, Jika seseorang membikin malu padamu, dengan sesuatu yang diketahuinya padamu, maka janganlah memberi malu dia dengan sesuatu yang engkau ketahui padanya. Niscaya akan celaka padanya dan pahalanya padamu. Dan janganlah engkau memaki sesuatu !” (HR.Bukhari-Muslim)
Dalam Hadist lain Rasulullah SAW bersabda, “Bahwa yang pertama-tama diberitahukan Tuhan kepadaku dan dilarang aku daripadanya sesudah penyembahan berhala dan minum khamar, ialah mencaci orang”. (HR. Ibu Abi Dunya).

Saudara-saudara sekalian, sebaiknya kita tidak banyak tanya yang kira-kira tidak bermanfaat bahkan menjadi beban bagi yang ditanya. Tidak berkata yang membuat orang lain jadi susah, kita juga tidak mau disusahkan oleh perkataan orang lain. Firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman ! Janganlah segolongan laki-laki menghina segolongan yang lain, boleh jadi (mereka yang dihina itu) lebih baik dari mereka (yang menghina). Dan janganlah segolongan perempuan (menghina) golongan perempuan yang lainnya, boleh jadi (yang dihina) lebih baik dari mereka (yang meng hina).” (QS. Al Hujurat 49:11). Rasulullah juga bersabda, “Demi Allah, aku tidak suka menceritakan tentang seseorang”. (HR. Abu Daud dan Turmudji).
Jangan pula menasehatkan apa yang tidak pernah kita lakukan, sebab firman-Nya: “Hai, orang-orang yang beriman, mengapa engkau berkata-kata sesuatu yang tidak engkau perbuat. Sesungguhnya amat besar kemurkaan Allah terhadap orang yang berkata tapi tidak melakukannya.” (QS. Ash Shaff 61: 2-3)
Maka, mulai sekarang, jagalah lisan kita, banyaklah berbuat daripada berkata, atau banyaklah berkata dengan perbuatan daripada banyak berkata tanpa ada perbuatan. Kita tidak akan dihormati karena banyak berbicara sia-sia, kehormatan kita adalah dengan berkata benar atau diam.

Gelas yang kosong hanya diisi dengan air, tapi mata air yang melimpah airnya bisa mengisi wadah apapun. Artinya, orang yang kosong harga dirinya hanya ingin dihargai, tapi orang yang melimpah harga dirinya akan senang menghargai orang lain. Pastikan gaya bicara kita jangan merendahkan orang lain, karena diri kita ingin dihargai, hal itu justru menunjukkan kerendahan diri kita. Karena mulut itu bagai moncong teko, hanya mengeluarkan isi teko, di dalam kopi keluar kopi, di dalam teh keluar teh, di dalam bening keluar bening. Maka berbahagialah bagi yang ucapannya keluar dari mulutnya bagai untaian mutiara, yang niscaya ia akan merasakan betapa indah dan berkilau indahnya. Kalau pembicaraan bagai untaian mutiara, insya Allah hatinya akan berharga pula. Tapi kalau mulutnya bagai keran jang sampah, maka isi hatinya tak jauh dari itu pula.

Untuk dapat menjaga lisan menjadi terjaga dan bermutu, ada empat syaratnya yaitu:
1. Berkatalah dengan perkataan yang benar
2. Berkatalah sesuai tempatnya
3. Jagalah kehalusan tutur kata
4. Berkatalah yang bermanfaat

Wallahu a’lam bishshowwab.
[oleh : KH. Abdullah Gymnastiar]

Dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda : “Barangsiapa berani memberi jaminan kepadaku atas selamatnya apa yang ada diantara dua tulang mulutnya dan apa yang ada diantara kedua pahanya, maka aku berani memberi jaminan surga kepadanya” (HR.Bukhari dan Muslim)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 039/th.04/Rabi’ul Tsani-Jummadil Awwal 1429H/2008M


Menjaga Lisan Agar Selalu Berbicara Baik

Juni 25, 2008

Allah berfirman, Artinya :”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]. Dalam ayat lain disebutkan, artinya :”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]
Allah juga berfirman, artinya :”Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadirs” [Qaf : 16-18]. Begitu juga firman Allah Ta’ala, artinya :”Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [Al-Ahzab : 58]

Dalam kitab Shahih Muslim hadits no. 2589 disebutkan, artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah ialah engkau menceritakan hal-hal tentang saudaramu yang tidak dia suka” Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu berarti kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, berarti kamu telah berdusta atas dirinya”
Allah Azza wa Jalla berfirman, artinya :”Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawaban” [Al-Israa : 36]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya :”Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa dasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta” [1]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, atinya :”Setiap anak Adam telah mendapatkan bagian zina yang tidak akan bisa dielakkannya. Zina pada mata adalah melihat. Zina pada telinga adalah mendengar. Zina lidah adalah berucap kata. Zina tangan adalah meraba. Zina kaki adalah melangkah. (Dalam hal ini), hati yang mempunyai keinginan angan-angan, dan kemaluanlah yang membuktikan semua itu atau mengurungkannya” [2]
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya :”Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya” Hadits ini atas juga diriwayatkan oleh Muslim no.64 dengan lafaz, artinya :”Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasul Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’ Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.
Hadits diatas juga diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir hadits no. 65 dengan lafaz seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Umar.
Al-Hafizh (Ibnu Hajar Al-Asqalani) menjelaskan hadits tersebut. Beliau berkata, “Hadits ini bersifat umum bila dinisbatkan kepada lisan. Hal itu karena lisan memungkinkan berbicara tentang apa yang telah lalu, yang sedang terjadi sekarang dan juga yg akan terjadi saat mendatang. Berbeda dengan tangan, pengaruh tangan tidak seluas pengaruh lisan. Walaupun begitu, tangan bisa juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh tulisan”.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6474 dari Sahl bin Sa’id bahwa Rasulullah bersabda, artinya :”Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga”. Yang dimaksud dengan apa yang ada di antara dua janggutnya adalah mulut, sedangkan apa yang ada di antara kedua kakinya adalah kemaluan.

Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, artinya : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”
Imam Nawawi berkomentar tentang hadits ini ketika menjelaskan hadits-hadits Arba’in. Beliau menjelaskan, “Imam Syafi’i menjelaskan bahwa maksud hadits ini adalah apabila seseorang hendak berkata hendaklah ia berpikir terlebih dahulu. Jika diperkirakan perkataannya tidak akan membawa mudharat, maka silahkan dia berbicara. Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya itu akan membawa mudharat atau ragu apakah membawa mudharat atau tidak, maka hendaknya dia tidak usah berbicara”.
Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala hal. 45, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam dari pada bicara. Hal itu karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan”. Beliau berkata pula di hal. 47, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan. Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya.
Beliau menambahkan di hal. 49, “Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya”.

Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 6477 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 2988 [3] dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, artinya :”Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat”
Masalah ini disebutkan pula di akhir hadits yang berisi wasiat Nabi kepada Muadz yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2616 yang sekaligus dia komentari sebagai hadits yang hasan shahih. Dalam hadits tersebut Rasulullah bersabda, artinya : “Bukankah tidak ada yg menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya ?”
Perkataan Nabi di atas adalah sebagai jawaban atas pertanyaan Mu’adz, artinya : “Wahai Nabi Allah, apakah kita kelak akan dihisab atas apa yang kita katakan ?”.
Al-Hafidz Ibnu Rajab mengomentari hadits ini dalam kitab Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam (II/147), “Yang dimaksud dengan buah lisannya adalah balasan dan siksaan dari perkataan-perkataannya yang haram. Sesungguhnya setiap orang yang hidup di dunia sedang menanam kebaikan atau keburukan dengan perkataan dan amal perbuatannya. Kemudian pada hari kiamat kelak dia akan menuai apa yang dia tanam. Barang siapa yang menanam sesuatu yang baik dari ucapannya maupun perbuatan, maka dia akan menunai kemuliaan. Sebaliknya, barangsiapa yang menanam Sesuatu yang jelek dari ucapan maupun perbuatan maka kelak akan menuai penyesalan”.
Beliau juga berkata dalam kitab yang sama (hal.146), “Hal ini menunjukkan bahwa menjaga lisan dan senantiasa mengontrolnya merupakan pangkal segala kebaikan. Dan barangsiapa yang mampu menguasai lisannya maka sesungguhnya dia telah mampu menguasai, mengontrol dan mengatur semua urusannya”.
Kemudian pada hal. 149 beliau menukil perkataan Yunus bin Ubaid, “ Seseorang yg menganggap bahwa lisannya bisa membawa bencana sering saya dapati baik amalan-amalannya”.
Diriwayatkan bahwa Yahya bin Abi Katsir pernah berkata, “Seseorang yang baik perkataannya dapat aku lihat dari amal-amal perbuatannya, dan orang yang jelek perkataannya pun dapat aku lihat dari amal-amal perbuatannya”.

Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2581 dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda, artinya :”Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut ? Para sahabat pun menjawab, ‘Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda. ‘Beliau menimpali, ‘Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, akan tetapi, ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan sementara belum selesai pemba lasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka”.
Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang panjang dalam kitab Shahihnya no. 2564 dari Abu Hurairah, yang kalimat akhirnya berbunyi, artinya :”Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika sampai menghina saudaranya sesama muslim. Seorang muslim wajib manjaga darah, harta dan kehormatan orang muslim lainnya”.

Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya hadits no. 1739 ; begitu juga Muslim [4] dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah pernah berkhutbah pada hari nahar (Idul Adha). Dalam khutbah tersebut beliau bertanya kepada manusia yang hadir waktu itu, “Hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Hari yang haram”. Beliau bertanya lagi, “Negeri apakah ini?” Mereka menjawab, “Negeri Haram”. Beliau bertanya lagi, “Bulan apakah ini ?” Mereka menjawab, “Bulan yang haram”. Selanjutnya beliau bersabda, artinya :”Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian haram bagi masing-masing kalian (merampasnya) sebagaimana haramnya ; hari, bulan dan negeri ini. Beliau mengulangi ucapan tersebut beberapa kali, lalu berkata, “Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan (perintah-Mu)? Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan (perintah-Mu) ?”.
Ibnu Abbas mengomentari perkataan Nabi di atas, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya ini adalah wasiat beliau untuk umatnya. Beliau berpesan kepada kita, ‘Oleh karena itu, hendaklah yang hadir memberitahukan kepada yang tidak hadir. Janganlah kalian kembali kepada kekafiran sepeninggalku nanti, yaitu kalian saling memenggal leher”.
Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2674 dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, artinya :”Barangsiapa yang menyeru kepada kebaikan maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”
Al-Hafidz Al-Mundziri dalam kitab At-Targhib wa At-Tarhib (I/65) mengomentari hadits, artinya :”Apabila seorang manusia wafat, maka terputuslah jalan amal kecuali dari tiga perkara …dst”.  Beliau berkata, “Orang yang membukukan ilmu-ilmu yang bermanfaat akan mendapatkan pahala dari perbuatannya sendiri dan pahala dari orang yang membaca, menulis dan mengamalkannya, berdasarkan hadits ini dan hadits yang semisalnya. Begitu pula, orang-orang yang menulis hal-hal yang membuahkan dosa, maka dia akan mendapatkan dosa dari perbuatannya sendiri dan dosa dari orang-orang yang membaca, menulis atau mengamalkannya, berdasarkan hadits, artinya :”Barangsiapa yang merintis perbuatan yang baik atau buruk, maka …”.

[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr hal 22-41, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]
_________
Foote Note
[1] Diriwayatkan oleh Muslim hadits no. 1715. Hadits tentang tiga perkara yang dibenci ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Mughirah hadits no.2408 dan diriwayatkan juga  oleh Muslim.
[2] Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6612 dan Muslim hadits no.2657. Lafaz di atas adalah yang terdapat dalam riwayat Muslim
[3] Tetapi lafaz hadits tersebut adalah yang terdapat dalam riwayat muslim
[4] Tetapi lafaz yang tersebut terdapat dalam riwayat Bukhari

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=mo re&article_id=718&bagian=0

Menjaga Lisan

Dari Mu’az bin Jabal ra. Saya berkata :”Ya Rasulullah, beritahukan saya tentang perbuatan yang dapat memasukkan saya ke dalam surga dan menjauhkan saya dari neraka, beliau bersabda: Engkau telah bertanya tentang sesuatu yang besar, dan perkara tersebut mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah ta’ala, : Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya sedikitpun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji. Kemudian beliau Rasulullah SAW bersabda: Maukah engkau aku beritahukan tentang pintu-pintu surga ?; Puasa adalah benteng, Sodaqoh akan mematikan (menghapus) kesalahan sebagaimana air mematikan api, dan shalatnya seseorang di tengah malam (qiyamullail), kemudian beliau membacakan ayat (yang artinya) :“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya…”  Kemudian beliau bersabda: Maukah kalian aku beritahukan pokok dari segala perkara, tiangnya dan puncaknya ?, aku menjawab : Mau ya Nabi Allah. Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah Jihad. Kemudian beliau bersabda : Maukah kalian aku beritahukan sesuatu (yang jika kalian laksanakan) kalian dapat memiliki semua itu ?, saya berkata : Mau ya Rasulullah. Maka Rasulullah memegang lisannya lalu bersabda: Jagalah ini (dari perkataan kotor/buruk). Saya berkata: Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan ?, beliau bersabda: Ah kamu ini, adakah yang menyebabkan seseorang terjungkal wajahnya di neraka –atau sabda beliau : diatas hidungnya- selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka . (HR.Turmuzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shahih)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits, antara lain :
1. Perhatian shahabat yang sangat besar untuk melakukan amal yang dapat memasukkan mereka ke surga.
2. Amal perbuatan merupakan sebab masuk surga jika Allah menerimanya.
3. Mentauhidkan Allah dan menunaikan kewajibannya adalah sebab masuknya seseorang ke dalam surga.
4. Shalat sunnah setelah  shalat fardhu merupakan sebab kecintaan Allah ta’ala kepada hambaNya.
5. Bahaya lisan dan perbuatannya akan dibalas dan bahwa dia dan mencampakkan seseorang ke neraka karena ucapannya.
[sumber : syarah hadits arba’in]
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 039/th.04/Rabi’ul Tsani-Jummadil Awwal 1429H/2008M


Ghibah Dapat Mengusik Kehormatan Sesama Muslim

Juni 25, 2008

Betapa banyak kaum muslimin yang mampu untuk menjalankan perintah Allah Azza wa  Jalla dengan baik, bisa menjalankan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa  Salam, mampu untuk menjauhkan dirinya dari zina, berkata dusta, minum khomer, bahkan mampu untuk sholat malam setiap hari, senantiasa puasa senin kamis, namun mereka tidak mampu menghindarkan dirinya dari ghibah. Meskipun mereka tahu bahwa sanya ghibah itu tercela dan merupakan dosa besar namun tetap saja kebanyakan tidak mampu menghindarkan diri mereka dari ghibah.

Allah Azza wa Jalla benar benar telah mencela penyakit ghibah ini dan telah menggambarkan orang yang berbuat ghibah dengan gambaran yang sangat hina dan jijik.  Berkata Syaikh Nasir As Sa’di, “Kemudian Allah Azza wa Jalla menyebutkan suatu  permisalan yang membuat (seseorang) lari dari ghibah. Allah Azza wa Jalla berfirman :”Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti  kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih.(Al Hujuraat : 12).


Memakan bangkai hewan yang sudah busuk saja menjijikkan, namun hal ini masih lebih baik daripada memakan daging saudara kita yang telah mati. Sebagaimana dikatakan oleh ‘Amru bin Al ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu , Dari Qo’is berkata, ‘Amru bin Al ‘Ash  Radhiyallahu ‘anhu melewati bangkai seekor begal (hasil persilangan kuda dan keledai), maka beliau berkata, ”Demi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini hingga memenuhi perutnya lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya yang muslim)” 1]. Syaikh Salim Al Hilaly berkata :“Sesungguhnya memakan daging manusia merupakan sesuatu yang paling menjijikan agi sesama manusia, secara tabi’at walaupun (yang dimakan tersebut) daging orang kafir atau musuhnya yang melawan, bagaimana pula jika (yang dimakan adalah) saudara seagama ?, apalagi jika  dalam keadaan  bangkai ? padahal memakan yang baik dan halal saja bila sudah menjijikan jika telah menjadi bangkai” 2].

Dari Abu Huroiroh Radhiyallahu ‘anhu berkatam, bahwasanya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, yang artinya :”Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah harom, yaitu darahnya, kehormatannya, dan hartanya. (HR.Muslim). Orang  yang mengghibah berarti dia telah mengganggu kehormatan saudaranya, karena yang  dimaksud dengan kehormatan adalah harga diri, sesuatu yang ada pada manusia yang dapat dipuji dan dicela.
Dari Abu Huroiroh Radhiyallahu ‘anhu bahwsanya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa  Salam bersabda, yang artinya :”Tahukah kalian apakah ghibah itu ? Sahabat menjawab Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam  berkata, “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”,  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam ditanya, “Bagaimanakah pendapatmu jika itu memang benar ada padanya ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjawab, “Kalau memang benar begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”. 3]
Hal ini juga telah dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Dari Hammad,  dari Ibrohim, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Ghibah adalah engkau menyebutkan apa yang kau ketahui pada saudaramu, dan jika engkau mengatakan apa yang tidak ada pada dirinya berarti itu adalah kedustaan” 4]

Dari hadits di atas para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ghibah adalah ”Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang seandainya dia tahu, maka dia akan membencinya”. Sama saja apakah  yang engkau sebutkan adalah kekurangannya yang ada pada badannya atau nasabnya atau akhlaqnya atau perbuatannya atau pada agamanya atau pada masalah duniawinya. Dan engkau menyebutkan aibnya di hadapan manusia dalam keadaan dia ghoib (tidak hadir).
Berkata Syaikh Salim Al Hilali, ”Ghibah adalah menyebutkan aib (saudaramu) dan  dia dalam keadaan ghoib (tidak hadir di hadapanmu), oleh karena itu saudaramu  yang ghoib tersebut disamakan dengan mayat, karena si ghoib tidak mampu untuk membela dirinya. Dan demikian pula mayat tidak mengetahui bahwa daging tubuhnya dimakan sebagaimana si ghoib, juga tidak mengetahui ghibah yang telah dilakukan  oleh orang yang mengghibahinya ” 5].

Adapun menyebutkan kekurangan yang ada pada badannya, misalnya dikatakan pada  seseorang, “Dia buta”, “Dia tuli”, “Dia sumbing”, “Perutnya besar”, “Pantatnya besar”, “Kaki meja (jika kakinya tidak berbulu)”, “Dia juling”, “Dia hitam”, “Dia itu orangnya bodoh”, “Dia itu agak miring sedikit”, “Dia kurus”, “Dia gendut”, “Dia pendek” dan lain sebagainya. Dari Abu Hudzaifah dari ‘Aisyah,  bahwa sanya beliau (‘Aisyah) menyebutkan seorang wanita, lalu beliau (‘Aisyah)  berkata, ”Sesungguhnya dia (wanita tersebut) pendek”, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata, ”Engkau telah mengghibahi wanita tersebut” 6].
Dari ‘Aisyah beliau berkata, “Aku berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Cukup bagimu dari Sofiyah ini dan itu”.  Sebagian  rowi  berkata  ” ’Aisyah  mengatakan  Sofiyah pendek”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata, ”Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya” 7].
Dari Jarir bin Hazim berkata, “Ibnu Sirin menyebutkan seorang laki-laki kemudian dia berkata, ”Dia lelaki yang hitam”. Kemudian dia berkata, ”Aku mohon  ampunan dari Allah”, sesungguhnya aku melihat bahwa diriku telah mengghibah laki-laki itu” 8].

Adapun pada nasab misalnya dikatakan, ”Dia dari keturunan orang rendahan”, “Dia  keturunan maling”, “Dia keturunan pezina”, “Bapaknya orang fasik”, dll.
Adapun pada akhlaknya, misalnya dikatakan, ”Dia akhlaqnya jelek, “seorang yang  pelit”, “Dia sombong, tukang cari muka (cari perhatian)”, Dia penakut”, “Dia itu orangnya lemah”, “Dia itu hatinya lemah”, “Dia itu temperamen”.
Adapun pada agamanya, misalnya dikatakan, ”Dia pencuri”, “Dia pendusta”, “Dia  peminum khomer”, “Dia pengkhianat”, “Dia itu orang yang dzolim, tidak mengeluarkan zakat”, “Dia tidak membaguskan sujud dan ruku’ kalau sholat”, “Dia tidak berbakti kepada orang tua”, dan lain lain.
Adapun pada perbuatannya yang menyangkut keduniaan, misalnya dikatakan, “Tukang  makan”, “Tidak punya adab”, “Tukang tidur”, “Tidak ihtirom kepada manusia”,  “Tidak memperhatikan orang lain”, “Jorok”, “Si fulan lebih baik dari pada dia” dan lain lain.
Imam Baihaqi meriwayatkan dari jalan Hammad bin Zaid berkata, “Telah menyampaikan kepada kami Touf bin Wahbin, dia berkata, “Aku menemui Muhammad bin Sirin dan aku dalam keadaan sakit. Maka dia (Ibnu Sirin) berkata, ”Aku melihat engkau sedang sakit”, aku berkata, ”Benar”. Maka dia berkata,”Pergilah ke tabib fulan, mintalah resep kepadanya”, (tetapi) kemudian dia berkata, ”Pergilah ke fulan  tabib yang lain) karena dia lebih baik daripada si fulan tabib yang pertama)”.
Kemudian dia berkata, “Aku mohon ampun kepada Allah, menurutku aku telah mengghibahi dia tabib yang pertama)”. 9]

Termasuk ghibah yaitu seseorang yang meniru-niru orang lain, misalnya berjalan  dengan pura-pura pincang atau pura-pura bungkuk atau berbicara dengan pura-pura  sumbing, atau yang selainnya, dengan maksud meniru-niru keadaan seseorang, yang hal ini berarti merendahkan dia. Sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits dari ‘Aisyah, dia berkata, “Aku meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang kepada Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa Salam”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun berkata, ”Saya tidak suka meniru-niru kekurangan/cacat) seseorang walaupun, saya mendapatkan sekian-sekian” 10].
Termasuk ghibah yaitu seorang penulis menyebutkan seseorang tertentu dalam  kitabnya seraya berkata, ”Si fulan telah berkata demikian-demikian”, dengan tujuan untuk merendahkan dan mencelanya. Maka hal ini adalah harom.
Namun jika si penulis menghendaki untuk menjelaskan kesalahan orang tersebut (karena melanggar syariat) agar tidak diikuti, atau untuk menjelaskan lemahnya ilmu orang tersebut agar orang-orang tidak tertipu dengannya atau menerima pandapatnya (karena orang-orang menyangka bahwa dia adalah orang yang ‘alim –pent), maka hal ini bukanlah ghibah, bahkan merupakan nasihat yang wajib yang dapat mendatangkan pahala jika dia berniat demikian.
Wallahu a’lam.

footnote :
1] (Riwayat Bukhori dalam Al-adab Al-Mufrod no.736, lihat Kitab A-Somt no.177,  berkata Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini :”Isnadnya shohih”, sedangkan tambahan yang  ada dalam dua tanda kurung terdapat dalam kitab Az-Zuhud hal.748)
2] (Bahjatun Nadzirin 3/6)
3] (Muslim no.2589, Abu Dawud no.4874, At-Tirmidzi no.1999 dan lain-lain)
4] (Lihat Kitab A-Somt no.211, berkata Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini :“Rijalnya  tsiqoh”)
5] (Bahjatun Nadzirin 3/6)
6] (Riwayat Abu Dawud no.4875 dan Ahmad (6/189,206), berkata Syaikh Abu Ishaq :“Isnadnya shohih”)
7] (yaitu merubah rasanya atau baunya karena saking busuk dan kotornya perkataan itu –pent, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Bahjatun Nadzirin 3/25, dan hadits ini shohih, riwayat Abu Dawud no.4875, At-Thirmidzi 2502 dan Ahmad 6/189)
8] (Kitab A-Somt no.213,753, berkata Syaikh Abu Ishaq Al-Huwwaini :“Rijalnya  tsiqoh”)
9] (Kitabuz Zuhud jilid 3 hal.748)
10](makudnya walaupun saya mendapatkan kedunaiaan yang banyak)(Hadits Shohih, riwayat Abu Dawud no.4875, At-Thirmidzi 2502 dan Ahmad 6/189)

Penulis:  Al-Ustadz Abu Abdil Muhsin dan Firanda bin Abidin as-Soronji, Lc.
(Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah)
[sumber : Ebook di Maktabah Abu Salma al-Atsari]
http://dear.to/dear.to/dear.to/dear.to/abusalma

Dari Mu’az bin Jabal radhiallahuanhu dia berkata : Saya berkata :”Ya Rasulullah, beritahukan saya tentang perbuatan yang dapat memasukkan saya ke dalam surga dan menjauhkan saya dari neraka”, beliau bersabda :”Engkau telah bertanya tentang se suatu yang besar, dan perkara tersebut mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah ta’ala, : Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya sedikitpun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji”. Kemudian beliau (Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam) bersabda :”Maukah engkau aku berita hukan tentang pintu-pintu surga ?; Puasa adalah benteng, Sodaqoh akan mematikan (menghapus) kesalahan sebagaimana air mematikan api, dan shalatnya seseorang di tengah malam (qiyamullail), kemudian beliau membacakan ayat (yang artinya) :“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya…”. Kemudian beliau bersabda :”Maukah kalian aku beritahukan pokok dari segala perkara, tiangnya dan puncaknya ?”, aku menjawab :”Mau ya Nabi Allah”. “Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah Jihad”. Kemudian beliau bersabda :”Maukah kalian aku beritahukan sesuatu (yang jika kalian laksanakan) kalian dapat memiliki semua itu ?”, saya berkata :”Mau ya Rasulullah”. Maka Rasulullah memegang lisannya lalu bersabda :”Jagalah ini (dari perkataan kotor/buruk)”. Saya berkata :”Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan ?”, beliau bersabda :”Ah kamu ini, adakah yang menyebabkan seseorang terjungkal wajahnya di neraka –atau sabda beliau : diatas hidungnya- selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka”. (Riwayat Turmuzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shahih)

[sumber : syarah hadits arba’in]

Dari Abi Barzah Al Aslami dan Bara’ bin Azib, mereka berkata, “Telah bersabda Rasulullah SAW :”Wahai sekalian orang yang beriman dengan lidahnya, sedang iman itu belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim dan janganlah mencari-cari aib mereka, karena orang yang mencari-cari aib saudaranya niscaya Allah akan mencari-cari aibnya dan membuka kejelekannya, sekali pun dia bersembunyi di dalam rumahnya”. (HR.Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Ahmad dan Baihaqi)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 039/th.04/Rabi’ul Tsani-Jummadil Awwal 1429H/2008M