Ittibar Dari Pohon Apel

September 25, 2008

Sebuah pohon apel yang besar tumbuh dengan kokohnya di sebuah kebun. Kemudian  ada seorang anak kecil datang dan bermain di sekitarnya setiap hari. Terkadang ia memanjatinya, terkadang memakan buahnya, terkadang sekedar beristirahat di bawah teduhnya pohon tersebut. Ia suka sekali dengan pohon itu, dan pohon itu pun nampak suka pula setiap didatangi anak tersebut.

Waktupun berlalu .. anak kecil itu kini telah tumbuh dewasa, namun tidak lagi suka bermain di sekitar pohon tersebut. Suatu ketika anak itu kembali mendatangi sang pohon. Namun sayang, kedatangannya itu membuat sang pohon jadi nampak kecewa. “Mari bermain denganku .. ,” kata sang pohon. “Saya sudah bukan anak kecil lagi, saya tak mau bermain di dekat pohon lagi. Saya ingin uang untuk membeli apa saja,” jelas si anak. “Maaf, saya hanya pohon, saya tidak punya uang .. tapi, kamu dapat mengambil seluruh buahku lalu menjualnya agar mendapat uang.” Anak yang telah dewasa itu gembira. Ia pungut seluruh buah di pohon itu, kemudian pergi dengan suka ria. Setelah itu ia kembali tidak mau lagi mendatangi sang pohon. Hal itu tentu membuat sang pohon bersedih.

Di hari yang lain, anak itu datang lagi, dan sang pohon sungguh sangat gembira. “Datang dan bermain denganku sini,” kata pohon. “Saya tidak punya waktu untuk bermain. Saya harus kerja untuk keluarga. Saya membutuhkan rumah untuk berlindung. Dapatkah engkau menolongku ?”, tanya si anak. “Maaf, saya tidak punya rumah. Tapi, kamu dapat memotong batang-batangku untuk membangun sebuah rumah.” Maka anak itu pun memotongi banyak batang dan dahan pohon apel, kemudian pergi dengan puas hati. Sang pohon pun turut gembira menyaksikannya. Tapi sayang, terulang lagi, si anak tidak pernah kembali lagi, maka untuk kesekian kali, sang pohon kembali merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu hari di musim panas, tiba-tiba anak itu datang lagi. Sudah tentu membuat hati sang pohon jadi berbunga. “Datang dan bermain denganku yuk!” kata sang pohon. “Saya sedang sedih. Saya ingin pergi berlayar untuk pesiar. Dapatkah kau buatkan aku sebuah perahu ?”, pinta si anak dengan memelas. “Kalau begitu gunakan kayuku untuk membuat perahu, agar kamu dapat bersenang-senang.” Maka dengan cepat si anak memotongi kayu-kayu pohon tersebut, lalu membuatnya menjadi perahu. Kemudian ia pergi berlayar, dan tidak pernah terlihat lagi dalam waktu yang sangat lama dari hadapan sang pohon.

Hingga akhirnya, setelah bertahun-tahun tidak pernah datang, tiba-tiba si anak kembali mendatangi sang pohon. “Maaf kawanku, kini aku tak mempunyai sesuatu pun untukmu. Tidak punya buah apel, kayu, batang, juga tidak punya daun .. ,” kata sang pohon. “Tidak mengapa, toh saya sudah tua, saya tidak punya gigi untuk menggigit buahmu” kata anak itu. “Saya juga tidak punya dahan lagi untuk kau panjati”, sambung sang pohon. “Tidak mengapa, sekarang saya terlalu tua untuk memanjat,” kata anak itu. “Saya benar-benar tidak dapat memberimu sesuatu .. satu-sa tunya yang tertinggal adalah akarku yang hampir mati,” kata sang pohon sambil menangis. “Sekali lagi tidak mengapa, saya tak membutuhkan apa-apa lagi, saya hanya ingin tempat istirahat. Saya sangat lelah setelah sekian lama menempuh perjalanan hidupku ini.” jawab anak itu. “Oh .. bagus ! akar pohonku yang tua inilah tempat yang cocok untuk sandaran istirahatmu. Ayo sini .. kemari .. duduk disini dekat denganku dan beristirahatlah sesukamu,” ajak sang pohon. Maka anak itupun duduk dan tidak pergi-pergi lagi, hingga hal itu membuat sang pohon jadi sangat terharu meski ada rasa gembira, dan tak terasa keluarlah air mata sang pohon …..

Pohon di atas men-tamzil-kan orang tua kita, dimana ketika kita masih kecil, kita senang bermain dengan ayah dan ibu. Namun setelah menjadi dewasa, seringkali kita melupakannya. Datang kepada mereka hanya ketika ada keperluan atau ketika ada masalah. Dan walau bagaimana, ternyata orang tua tetap selalu berusaha memberi apa saja yang bisa diberikan, agar hati kita menjadi senang. Pada kisah di atas, kita mungkin berpendapat, bahwa si anak telah banyak berperilaku tidak baik terhadap sang pohon, tetapi memang itulah kenyataan yang sering terjadi, anak melalaikan orang tua. Na’udzubillah. Maka mari kita cintai kedua orang tua kita.

[Artikel Lainnya di Bank Data Majalah, http://www.fosmil.org/bankdata/majalah.html
http://www.fosmil.org/adzan/07.serba/ss01.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 040/th.04/Jummadil Akhir-Rajab 1429H/2008M

Iklan

AL QUR’AN SEBAGAI PEDOMAN DALAM MENDIDIK ANAK

September 25, 2008

Tulisan sederhana ini memaparkan secara singkat pandangan, pedoman dan dasar-dasar pendidikan bagi anak. Melalui tulisan ini, penulis ingin membangun :
Pertama : kesadaran baru bahwa dasar-dasar keilmuan yang ditampilkan oleh Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya tak akan tertandingi oleh konsep keilmuan manapun.  Perhatikan beberapa ayat Al Qur’an yang menantang mereka yang mengaku pintar untuk menciptakan suatu konsep yang dapat menyaingi Kitab Al Qur’an ini. Lihat misalnya QS. Al Baqarah: 23.
Kedua, penulis juga ingin membangun sebuah kesadaran kaum intelektual Muslim, khususnya kaum muda, terbiasa mengolah otak/ijtihad dalam memahami dan menjabar kan konsep-konsep dasar keilmuan dalam berbagai bidang yang tertuang secara jelas dalam Al Qur’an. Tidak sebagaimana sering terjadi dimana kaum intelektual terperosok dalam kutipan-kutipan bangsa barat, yang belum tentu ber-i’tiqad baik terhadap Islam.
Belajar menegakkan independensi intelektual ummat adalah aset besar bagi masa depan. Namun hal ini tidaklah berarti bahwa ummat Islam tidak mau atau tidak perlu mengambil pendapat pihak lain. Melainkan belajar untuk tidak selamanya bergantung pada pendapat pihak lain. Dengan demikian, ummat ini betul-betul merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya, termasuk kemerdekaan intelektual. Bahkan harapan kita, ummat ini harus menjadi pedoman keilmuan bagi ummat manusia sebagaimana masa-masa lalu Islam yang sangat indah.

PENDIDIKAN ANAK
Dalam Islam, berbicara mengenai pendidikan tidak dapat dilepaskan dari asal muasal manusia itu sendiri. Kata “pendidikan” yang dalam bahasa arabnya disebut “tarbiyah” (mengembangkan, menumbuhkan, menyuburkan) berakar satu dengan kata “Rabb” (Tuhan). Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan adalah sebuah nilai-nilai luhur yang tidak dapat dipisahkan dari, serta dipilah-pilah dalam kehidupan manusia. Terpisahnya pendidikan dan terpilah-pilahnya bagian-bagiannya dalam kehidupan manusia berarti terjadi pula disintegrasi dalam kehidupan manusia, yg konsekuensinya akan melahirkan ketidak-harmonisan dalam kehidupan itu sendiri.
Menurut Al Qur’an, asal muasal komposisi manusia itu terdiri dari tiga hal yang tidak terpisahkan:

1. Jasad.
2. Ruh.
3. Intelektualitas.
(Lihat QS. As Sajadah: 7-9).

Semua manusia adalah sama dalam komposisi ini. Mereka semua tercipta dan dilahirkan ke alam dunia ini dengan dasar penciptaan dan kehidupan yang tidak berbeda. Kesimpulan ini telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai haditsnya, yang artinya :”Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas dasar fithrah. Hanya saja, kedua ibu bapaknya yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi” (hadits)
“Setiap hambaKu Aku ciptakan dengan kesiapan menjadi lurus (baik). Hanya saja, syetan-syetan menjadikan mereka tergelincir (dalam kesesatan)” (hadits Qudsy).
Bahkan Al Qur’an itu sendiri dengan tegas menyatakan bahwa komposisi penciptaan yang sempurna ini (ahsanu taqwiim) dan diistilahkan dengan “fithrah Allah” (insaniyah/kemanusiaan), tidak mungkin terganti atau terubah. Lihat QS: Ar Ruum: 30. Hakikat ini terkadang pula disebut “Sunnatullah” (hukum Allah). Lihat QS: Al Ahzaab: 33, QS: Faathir: 35, dan QS: Al Fath: 48.

ARTI DAN FUNGSI PENDIDIKAN
Jika dasar kemanusiaan (komposisi penciptaan/fithrah) manusia tidak dapat berubah dan berganti, lalu apa arti dari suatu pendidikan ?. Telah kita singgung terdahulu bahwa pendidikan atau tarbiyah berasal dari kata “rabaa-yarbuu-riban wa rabwah” yang berarti “berkembang, tumbuh, dan subur”. Dalam Al Qur’an, kata “rabwah” berarti bukit-bukit yang tanahnya subur untuk tanam-tanaman. Lihat QS: Al Baqarah:265. Sedangkan kata “riba” mengandung makna yang sama. Lihat QS: Ar Ruum:39.
Dengan pengertian ini jelas bahwa mendidik atau “rabba” bukan berarti “mengganti” (tabdiil) dan bukan pula berarti “merubah” (taghyiir). Melainkan menumbuhkan, mengembangkan dan menyuburkan, atau lebih tepat “mengkondisikan” sifat-sifat dasar (fithrah) seorang anak yang ada sejak awal penciptaannya agar dapat tumbuh subur dan berkembang dengan baik. Jika tidak, maka fithrah yang ada dalam diri seseorang akan terkontaminasi oleh “kuman-kuman” kehidupan itu sendiri. Kuman-kuman kehidupan inilah yang diistilahkan oleh hadits tadi dengan “tahwiid” (me-yahudi-kan) “tanshiir” (me-nasrani-kan) dan “tamjiis” (me-majusi-kan).

Pada hadits yang lain disebutkan “ijtaalathu as Syaithaan” (digelincirkan oleh syetan). Kuman-kuman kehidupan atau meminjam istilah hadits lain “duri-duri perjalanan” (syawkah) tentu semakin nyata dan berbahaya di zaman dan di mana kita hidup saat ini. Masalahnya, apakah kenyataan ini telah membawa kesadaran bagi kita untuk membentengi diri dan keluarga kita ?. “Wahai orang-orang yang beriman , jagalah diri-diri kamu dan keluarga-keluarga kamu dari api neraka”. (QS: At Tahriim:6).

AL QUR’AN DAN PENDIDIKAN ANAK
Ummat Islam saat ini nampaknya membuktikan prediksi Rasulnya empat belas abad yang lalu. Dalam haditsnya Rasulullah menjelaskan: “Suatu saat kamu akan menjadi seperti buih di tengah samudra luas. Terombang-ombang oleh ombak serta mengikut ke arah mana jalannya angin. Para sahabat bertanya: Apakah karena kami sedikit ketika itu wahai Rasulullah ? Tidak, namun kamu ditimpa penyakit “wahan”. Para sahabat bertanya: Apakah penyakit wahan itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab: Hubbu ad Dunya wa karaahiyat al Maut (Cinta dunia dan benci mati)” (hadits).
Cinta dunia yang berlebihan, sebagai konsekwensi logis dari tertanamnya faham materialisme dalam diri kita melahirkan sikap-sikap yang seolah-olah kita akan hidup seribu tahun lagi (abadi). Lihat QS: Al Humazah: 2-3.
Sikap yang demikian pula yang menyebabkan kita menyikapi pendidikan anak-anak kita seolah-olah tak ada aspek lain dalam hidupnya kecuali memburu dunia dengan segala manifestasinya. Sehingga kita bersikap buta hati terhadap kisah Ibrahim dan Ya’quub untuk menghayati bagaimana mereka telah mendidik anak keturunan mereka.
Al Qur’an mengisahkan, Ibrahim dan Ya’qub senantiasa mewasiatkan anak-anaknya tentang agama ini. “Sungguh Allah telah memilih bagimu agama ini, maka janganlah sekali-kali kamu mati kecuali telah berislam secara benar” (QS: Al Baqarah: 132). Bahkan Ya’qub AS disaat-saat menjelang maut menjemputnya, menyempatkan diri bertanya kepada anak-anaknya: “madzaa ta’buduuna min ba’di” (Apa gerangan yang akan kamu sembah setelah kematianku) ?”. Lihat QS: Al Baqarah:133.

Gambaran Ibrahim dan Ya’qub AS di atas mengajarkan betapa besar perhatian mereka terhadap kelestarian kesadaran beragama bagi anak-anak mereka. Sebaliknya, ummat Muslim saat ini seolah-olah telah mengganti ayat “maadza ta’buduuna” (apa yang kamu sembah) dengan kata-kata “maadza ta’kuluuna” (apa yang akan kamu makan setelah aku meninggal). Kepedulian terhadap kelangsungan kesadaran beragama anak-anak kita sangat minim. Sebagai ilustrasi, seringkali jika anak kembali dari sekolah yang ditanyakan adalah nilai berapa yang kamu dapatkan ? Sementara shalatnya tidak terpedulikan sama sekali.
Perhatikan kebanggaan seorang orang tua bila anaknya meraih suatu predikat kesarjanaan (Dr, MBA, dst). Namun alangkah sedikitnya yang menyadari kiranya predikat -predikat tersebut dapat menjadi jembatan kebahagiaan anaknya dunia-Akhirat, serta menjaganya dari jilatan api neraka. Kesadaran kita terhadap doa sapu jagad kita (memohon kebajikan dunia-Akhirat) masih berada di sekitar lingkaran lisan kita. Sementara dalam fakta sikap kita menunjukkan bahwa kita menghendaki dunia semata.

PENDIDIKAN ISLAM SIFATNYA TERPADU
Telah disebutkan terdahulu bahwa Islam memandang pendidikan sebagai sesuatu yang identik dan tidak terpisahkan dari asal muasal penciptaan manusia/ fithrah/ insaniyah manusia itu sendiri, yakni terdiri dari tiga hal: Jasad, Ruh, dan Intelektualitas. Dengan demikian, pendidikan dalam pandangan Islam meliputi tiga aspek yang tidak dapat dipilah-pilah :

1. Pendidikan jasad (tarbiyah jasadiyah),
2. Pendidikan Ruh (tarbiyah ruhiyah),
3. Pendidikan intelektualitas (tarbiyah ‘aqliyah).

Ketiga bentuk pendidikan tersebut tidak mungkin dan tak akan dibenarkan pemilahannya dalam ajaran Islam. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan, pendidikan berhubungan langsung dengan komposisi penciptaan/kehidupan manusia. Memilah-milah pendidikan manusia, berarti memilah-milah kehidupannya. Hakikat inilah yang menjadi salah satu rahasia sehingga wahyu dimulai dengan perintah “Iqra” (membaca), lalu dikaitkan dengan “khalq” (ciptaan) dan “Asma Allah” (Bismi Rabbik). Lihat QS: Al ‘Alaq: 1-5. Maksudnya, bahwa dalam menjalani kehidupan dunianya, manusia dituntut untuk mengembangkan daya inteletualitasnya dengan suatu catatan bahwa ia harus mempergunakan sarana “khalq” (ciptaan) sebagai object dan “Asma Allah” (ikatan suci dengan Nama Allah/hukumnya) sebagai acuan. Bila ketiganya terpisah, akan melahirkan, sebagaimana telah disinggung terdahulu, suatu ketidak-harmonisan dalam kehidupan manusia itu sendiri.

DASAR-DASAR PENDIDIKAN ANAK DALAM AL QUR’AN
Dasar-dasar pendidikan anak dalam Islam dapat disimpulkan dari berbagai ayat, antara lain QS: Luqman: 12 – 19 dan QS: As Shafaat: 102, serta berbagai hadits Rasulullah SAW. Kisah Luqman yang oleh sebagian ulama digelari dengan “al hakiim” atau “Luqman yang bijaksana” mengajarkan bahwa sifat bijak bagi seorang pendidik termasuk para orang tua adalah suatu keharusan. Luqman yang memang secara khusus dikaruniai ni’mat “hikmah” oleh Allah itu menyadari sepenuhnya bahwa anak adalah bagian dari keni’matan Ilahi yang menjadi cobaan (fitnah) atasnya. Oleh sebab itu ia menanamkan pendidikan kepada anaknya sebagai manifestasi kesyukurannya terhadap Allah Pemberi ni’mat. (ayat: 12)

Berikut ini adalah dasar-dasar pokok pendidikan anak yang tersimpulkan dari berbagai ayat Al Qur’an dan Sunnah Rasul SAW :

1. Mananamkan nilai “tauhidullah” dengan benar.

2. Mengajarkan “ta’at al waalidaen” (mentaati kedua orang tua), dalam batas-batas ketaatan kepada Pencipta, sebagai manifestasi kesyukuran seseorang kepada Ilahi.

3. Mengajarkan “husnul mu’asyarah” (pergaulan yang benar) serta dibangun di atas dasar keyakinan akan hari kebangkitan, sehingga pergaulan tersebut memiliki akar kebenaran dan bukan kepalsuan.

4. Menanamkan nilai-nilai “Takwallah”.

5. Menumbuhkan kepribadian yang memiliki “Shilah bi Allah” yang kuat (dirikan shalat).

6. Menumbuhkan dalam diri anak “kepedulian sosial” yang tinggi. (amr ma’ruf-nahi munkar).

7. Membentuk kejiwaan anak yang kokoh (Shabar).

8. Menumbuhkan “sifat rendah hati” serta menjauhkan “sifat arogan” .

9. Mengajarkan “kesopanan” dalam sikap dan ucapannya.
{Kesembilan poin tersebut di atas disimpulkan dari QS. Luqmaan: 12-19}.

10. Sedangkan QS: As Shafaat: 102, mengajarkan “metodologi” pendidikan anak. Ayat ini mengisahkan dua hamba Allah (Bapak-Anak), Ibrahim dan putranya Ismail AS terlibat dalam suatu diskusi yang mengagumkan. Bukan substansi dari diskusi mereka yang menjadi perhatian kita. Melainkan approach/cara pendekatan yang dilakukan oleh Ibrahim dalam meyakinkan anaknya terhadap suatu permasalahan yang sangat agung itu. Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa metode “dialogis” dalam mengajarkan anak sangat didukung oleh ajaran Islam. Kesimpulan ini yang pula menolak anggapan sebagian orang, bahwa Islam mengajarkan ummatnya otoriter, khususnya dalam mendidik anak.

11. Pendidikan hendaknya dimulai sejak dini, sehingga tertanam kebiasaan dalam diri anak sejak kecil. Kebiasaan ini kelak akan menjadi kesadaran penuh saat  anak telah mencapai usia akil baligh. Dalam hadits nabi, yang artinya, dijelaskan :”Suruhlah anak-anak kamu shalat jika mereka berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka jika telah berumur sepuluh tahun (apabila masih tidak melakukannya)”
Pukulan yang disebutkan pada hadits tersebut hendaknya ditafsirkan sesuai dengan situasi dimana kita hidup. Pertama, tentu pukulan tersebut bukanlah suatu pukulan yang sifatnya “siksaan”. Melainkan pukulan yang bersifat “didikan” semata.
Kedua, pukulan ini tidak selamanya diartikan dengan pukulan “fisik”. Melainkan dapat pula diartikan dengan pukulan “psykologis” atau kejiwaan. Sebagai misal, jika anak kita senang piknik di hari libur, dan hal ini bila piknik tersebut sebelumnya sudah menjadi kebiasaan keluarga, maka jika mereka tidak melakukan kewajiban agamanya (shalatnya) maka kebiasaan piknik itu dapat dihentikan sementara. Menghentikan piknik bagi anak-anak yang sudah terbiasa dengannya dapat menjadi pukulan bathin bagi mereka.

12. Tegakkah shalat berjama’ah di rumah tangga masing-masing. Untuk anak laki-laki tentu berjama’ah di masjid adalah yang paling afdol, sedang untuk anak perempuan lebih afdolnya berjama’ah di rumah. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :”Sinarilah rumah kamu dengan shalat” Menghidupkan shalat berjama’ah di rumah memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan kejiwaan seorang anak.

13. Tanamkan cinta Al Qur’an dalam diri anak sedini mungkin. Al Qur’an adalah kalam Ilahi yang bukan saja sebagai petunjuk (hudan), melainkan juga sebagai “Syifaa limaa fis Shuduur” (obat terhadap berbagai penyakit kerohanian), dan “Nuur” (cahaya/pelita hati). Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :”Barangsiapa yang tidak ada Al Qur’an di hatinya maka ia seperti rumah runtuh”.

14. Membiasakan praktek-praktek sunnah dalam kehidupan keseharian. Misalnya makan dengan membaca “Bismillah” dan doa, mengakhirinya dengan “Al Hamdulillah” dan doa, masuk/keluar rumah dengan salam, dll. Menghapalkan doa-doa sejak dini juga memberikan pengaruh besar dalam perkembangan kejiwaan anak.

15. Yang terakhir dan yang terpenting adalah hendaknya para orang tua menjadi “tauladan” (uswah) bagi kehidupan anak-anaknya. Hidupkan agama Allah dalam diri kita, keluarga kita, insya Allah dengan izinNya anak-anak akan tumbuh dengan kesadaran keagamaan yang tinggi. Janganlah seperti apa yang biasa terjadi di sekitar kita, dimana orang tua mengantarkan anaknya ke sekolah Al Qur’an, agar anaknya belajar shalat, namun orang tuanya sendiri justeru mengabaikan Al Qur’an, dan shalatnya juga seringkali diabaikan.

16. Memperbanyak doa. Bagaimanapun juga usaha manusia sifatnya terbatas. Namun dengan pertolongan Allah, sesuatu dapat berubah di luar perkiraannya. Oleh sebab itu, doa dalam hidup kita sangat penting untuk menunjang usaha-usaha yang kita lakukan.

Akhirnya hanya kepadaNya semata kita bergantung dan berserah diri. Semoga Allah senantiasa menanamkan kesadaran kepada kita semua untuk mendidik anak-anak kita menjadi harapan masa depan ummat. Yang terpenting, demi keselamatan keluarga dari jilatan api neraka. “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kamu dan keluargamu dari api neraka”. Bersihkanlah jalanan (kehidupan) anak kita dari kuman-kuman yang merusak. Tanamkan benteng penjaga ketakwaan dan keimanan yang kokoh, pedang keilmuan yang tajam, sarana ibadah yang mantap, strategi akhlaq yang mulia dalam kehidupan anak kita. Wassalam. –
(oleh : M.Syamsi Ali – New York,18 Mei 1999).

[sumber : Makalah Seminar Pendidikan Anak yang diadakan bersamaan dengan acara Musyawarah Tahunan IMAAM (Indonesian Muslim Association of America) Washington tanggal 22 Mei 1999, M. Syamsi Ali adalah ustadz asal makasar, anggota ISNET, dan tinggal di New York].
http://media.isnet.org/isnet/Syamsi/didik.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 040/th.04/Jummadil Akhir-Rajab 1429H/2008M


Mendongeng Untuk Anak

September 25, 2008
“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.”(Qs.Hud:120).

Kalau Superman, Kura-kura Ninja bisa begitu akrab di hati anak-anak, kenapa cerita dari berbagai kisah Islam tidak ?. Dunia fantasi dan imajinasi semacam dongeng memang amat digemari anak-anak. Lebih jauh bahkan sudah menjadi kebutuhan mereka. Lewat dongeng seperti itu daya imajinasi mereka bisa berkembang sehat. Anak dibawa ke sebuah dunia lain yang begitu bebas, bisa diatur menurut kehendak mereka sendiri. Seribu satu macam pengalaman baru yang hanya tampil sebagai bayangan seakan bisa mereka wujudkan men jadi “kenyataan”. Inilah salah satu hikmah dari sebuah dongeng bagi anak-anak. Tak seorang anakpun yang tak butuh pengembangan imajinasi. Tanpa imajinasi, sama artinya akal pikiran menjadi pasif, mandeg dan tak terlatih untuk memecahkan aneka ragam masalah. Lantas bagaimana kelak masa depan anak yang tak mampu berpikir secara baik ?.

Selain sebagai sumber hikmah, dongeng bisa menjadi perantara sangat efektif untuk pendidikan mereka. Baik akhlaq, aqidah, syariah maupun ilmu-ilmu pengetahuan lain. Nilai-nilai yang diserap anak dari sebuah dongeng akan sangat membekas pada nuraninya, sangat berbeda dengan bila mereka hanya mendengarnya dari serangkaian nasehat dan teori. Secara jujur kita akui, betapa membekasnya kisah-kisah tentang Cinderela, Bawang Putih Bawang Merah, maupun Malin Kundang. Tanpa terasa, kisah-kisah itu telah turut berperan dalam memberi warna pada kepribadian kita semasa kecil, dan masih terbawa hingga dewasa. Sayangnya, kita para orang tua muslim sekarang banyak yang tidak sadar bahwa kita telah lalai, karena ternyata anak kita lebih menggandrungi dongeng tentang Superman dan sejenisnya, ketimbang sejarah Rasul dan para sahabatnya. Buku-buku tentang Batman, Robinhood, Hercules, Spiderman, hingga cerita silat karya Kho Ping Hoo yang jumlahnya ratusan jilid bisa tuntas terbaca, sementara tak ada yang tahu siapakah Hamzah, Zubair mau pun Mush’ab bin Umair ?.
Barangkali kita menganggap ini suatu hal yang wajar, karena memang begitulah opini masyarakat. Pada umumnya orang berpendapat bahwa kisah-kisah yang berbau agama lebih pantas dimasukkan dalam kurikulum pelajaran sejarah di sekolah. Karena sifatnya yang diformalkan seperti itulah lantas kisah-kisah tersebut menjadi tidak akrab dengan dunia anak-anak, yakni dunia bermain. Akibatnya lebih jauh, jelas anak merasa bahwa menghafalkan dan mempelajari segala yang bernafas agama adalah sebuah beban, adalah tugas dan kewajiban. Sebuah kewajiban yang harus ditempuh. Bila anggapan begini sudah mewarnai pikiran anak, niscaya akan sulit untuk mengharapkan agar kita mampu membentuk tokoh idola anak secara Islami.

Mengapa tidak kita coba memasukan nafas Islam dalam dunia main anak ? Bukankah tak ada yang mustahil. Bahkan ini langkah yang baik, jika dimulai sedini mungkin. Tentunya kita selalu ingat, bahwa anak adalah ibarat sebuah kertas putih. Ayah ibunyalah yang menorehkan tinta diatasnya, dan menentukan watak serta kepribadian anak. Kalau semenjak dini ayah dan ibu menyakinkan anak bahwa agama itu menyenangkan, ringan dan mudah, maka anak akan mengakrabinya tanpa ada perasaan terbebani.
Bagaimana cara menyakinkan ? Itu tadi, memasukkan nafas agama dalam dunia mereka, dunia bermain-main. Salah satu caranya adalah melalui dongeng. Mengapakah selama ini kita hanya terpaku pada dongeng-dongeng yang diciptakan oleh bangsa Barat ? Seakan tak ada kisah lain yang lebih menarik selain komik-komik karya Walt Disney yang mana tidak mengandung nilai agama sama sekali.

Sementara orang tua mengakrabkan anak-anak dengan kisah-kisah Nabi dan Rasul sebagaimana telah tercamtum dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Allah telah berfirman, yang artinya, “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.”(Qs.Hud:120). Apakah ada yang cacat dari kisah-kisah tersebut sehingga menghalangi orang tua mendongengkannya bagi anak-anak sebelum tidur ? Tidak, bukan ? Kisah-kisah itu sangat menarik dan sarat dengan ajaran akhlaq dan memiliki kandungan hikmah yang mengagumkan.
Atau dapat juga dipilih kisah-kisah kehidupan Rasulullah SAW beserta sahabat-sahabat beliau yang jumlahnya sangat banyak. Sungguh semua kisah-kisah tersebut merupakan sumber cerita yang mengandung hikmah yang tiada habisnya. Dan tidak membuat bosan walau diulang-ulang. Rasulullah bersabda, yang artinya, “Didiklah anak-anakmu tiga perkara, (diantaranya) cinta kepada Nabi mereka, dan cinta kepada sanak keluarga…” (HR. At Thabrani). Seorang sahabat, Sa’ad bin Abi Waqqas menerangkan, “Kami mengajar anak-anak kami sejarah hidup Rasulullah SAW, seperti kami mengajarkan kepada mereka surah-surah Al Qur’an.”

Selama ini anak kita memang terlalu banyak dijejali kisah-kisah dongeng atau cerita fantasi ala Barat. Sehingga tidak heran bila kemudian anak-anakpun menjadikan tokoh-tokoh fiksi seperti Superman, Batman dan sejenisnya sebagai idola. Inilah yang harus kita ubah.
Tidakkah kita menginginkan melihat anak laki-laki bermain pedang-pedangan sembari berteriak melengking “Allahu Akbar !”. Mereka berebut memainkan peran sebagai Umar, Hamzah, Ali maupun Bilal. Di waktu lain, merekapun berebut menceritakan kehebatan tokoh islam yang menjadi idolanya masing-masing. Betapa mengharukan pemandangan begini. Dan itu tidak mustahil jika kita mau berusaha menampilkan kisah-kisah kepribadian Rasulullah dan para sahabatnya dalam dongengan kita.
Sedikit disayangkan, sarana kita sekarang ini amat terbatas. Untuk memperoleh buku cerita bernuansa Islam saja seringkali harus berlelah-lelah terlebih dulu. Kalaupun ada seringkali kisah-kisah itu dikemas secara formal, terkesan kurang akrab dengan anak-anak. Coba bandingkan komik Cinderella yang dengan sangat mu dah kita dapatkan di banyak tempat.

Keadaan yang tidak baik sebagaimana diulas di atas, menguntungkan sebetulnya masih dapat diantisipasi melalui kreatifitas orang tua. Kisah perjalanan hidup  Nabi SAW dan para sahabat yang penuh perjuangan heroik, ketegangan dan suka duka adalah sumber cerita yang menarik. Tinggal bagaimana orang tua bisa menyampaikannya lebih luwes, sehingga seperti kalau kita menceritakan sebuah dongeng. Apalagi jika diceritakan lengkap dengan gaya bicara dan mimik wajah orang tua yang turut mewarnai keindahan kisah itu. Insya Allah penyampaian seperti ini akan membuat anak-anak tersebut merasa lebih terhibur dan bahagia.
Peristiwa-peristiwa kecil tentang sifat-sifat Rasulullah, misalnya, bila diceritakan seperti dongeng akan membuat anak merasa akrab dengan sendirinya. Kedermawanan Rasul, ketabahannya, kezuhudannya, kemuliaan akhlaqnya, dan sebagainya, adalah sangat baik bila mulai untuk diperkenalkan kepada mereka semenjak dini.

Perlu diingat, bahwa selain kisah-kisah nyata, anak-anak juga membutuhkan kisah fiktif demi mengembangkan daya imajinasi mereka seluas mungkin. Seperti kisah perjalanan ke planet-plaet lain, kisah kehidupan serba mesin di abad ke-21 kelak dan sebagainya. Buku-buku cerita umum yang menyajikan model ini sangat bertebaran dan sangat mudah didapatkan.
Sebagai tambahan tentunya lebih bermanfaat, dengan mengisahkan secara fantastis mukjizat-mukjizat para Nabi yang diperoleh dari Allah SWT. Puluhan mukjizat yang diperoleh Muhammmad SAW, ditambah mukjizat nabi-nabi lain, cukup menambah koleksi dongeng menarik bagi anak-anak. Yang begini tentu jauh lebih baik dari sekedar cerita Batman untuk menghadirkan tokoh yang bisa dibanggakan oleh anak-anak. Terus terang kita kalah jauh dengan kaum Nasrani dalam hal ini. Buku-buku, mereka jumlahnya tak terbilang saking banyaknya, walau sebenarnya hampir semuanya terjemahan karya Barat. Yang seringkali kita kecewa adalah membuat tragis buku serta majalah merekalah yang kini menjadi konsumsi bacaan terbesar anak-anak muslim. Alhamdulillah, satu dua majalah anak-anak Islam kini mulai hadir. Isinya sarat dengan nafas ke-Islaman sementara penampilan juga tak kalah menarik. Alangkah baiknya bila kita manfaatkan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam.

[sumber : Lembar Jum’at , Al Qalam Diterbitkan Oleh : Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya]
http://alqalam.8m.com/vi/qal31.htm
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 040/th.04/Jummadil Akhir-Rajab 1429H/2008M

Prev: Anak


Anak dan Masa Depan Umat Islam

September 25, 2008

[Penulis: Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari]

Anak adalah harapan di masa yang akan datang. Kalimat seperti ini sudah seringkali kita dengar. Tak ada yang memungkiri ucapan itu, karena memang itu sebuah kenyataan bukan hanya sekedar ungkapan perumpamaan, benar-benar terjadi bukan sebatas khayalan belaka. Karenanya sudah semestinya memberikan perhatian khusus dalam hal mendidiknya sehingga kelak mereka menjadi para penegak dan pelopor masa depan umat Islam.

Lingkungan pertama yang berperan penting menjaga keberadaan anak adalah keluarganya, sebagai “lembaga” pendidikan yang paling dominan. Sesungguhnya anak itu adalah amanat bagi kedua orangtuanya. Di saat hatinya masih bersih, putih, sebening kaca, jika sedari kecil dibiasakan dengan kebaikan dan diajari, maka ia pun akan tumbuh menjadi seorang yang baik, insya Allah akan bahagia di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika sedari kecil dibiasakan dengan kejelekan dan hal-hal yang buruk, serta diterlantarkan, maka kelak akan tumbuh menjadi seorang yang berkepribadian rusak dan hancur. Kerugian yang lebih besar yang akan dipikul kedua orang tuanya dan umat umumnya.
Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah, “Bila terlihat kerusakan pada diri anak-anak, mayoritas penyebabnya adalah bersumber dari orangtuanya.” Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita dengan firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim: 6).

Keluarga, terlebih khusus kedua orangtua (atau walinya) adalah unsur-unsur yang paling berpengaruh dalam membangun kepribadian seorang anak.
Zubair bin Awam, adalah salah seorang dari pasukan berkudanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, disebut oleh Umar ibnul Khattab sebagai, “Satu orang Zubair menandingi seribu orang laki-laki.” Hal ini dikarenakan ia seorang pemuda yang kokoh aqidahnya, terpuji akhlaqnya, tumbuh di bawah binaan ibunya Shofiyah binti Abdul Mutholib, bibinya Rasulullah dan saudara perempuannya Hamzah.
Ali bin Abi Tholib sejak kecil menemani Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bahkan dipilih menjadi menantunya. Ia tumbuh sebagai sosok seorang pemuda teladan bagi para pemuda seusianya, dia tumbuh di bawah didikan ibunya Fathimah binti Asad dan yang menjadi mertuanya Khodijah binti Khuwailid.
Begitu pula dengan Abdullah bin Ja’far, seorang bangsawan Arab yang terkenal kebaikannya, di bawah bimbingan ibunya Asma binti Umais.

Orangtua mana yang tidak gembira jika anaknya tumbuh seperti Umar ibnu Abdul Aziz. Pada usianya yang masih kecil ia menangis, kemudian ibunya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis ?”. Ia menjawab, “Aku ingat mati.” – waktu itu ia telah menghafal Al Qur’an – ibunya pun menangis mendengar penuturannya.
Berkat didikan dan penjagaan ibunya yang sholihah, Sufyan Ats Tsauri menjadi ulama besar, amirul mukminin dalam hal hadits. Saat ia masih kecil ibunya berkata padanya, “Carilah ilmu, aku akan memenuhi kebutuhanmu dengan hasil tenunanku.”
Subhanallah, anak-anak kita rindu akan ucapan dan kasih sayang seorang ibu yang seperti ini, seorang ibu yang pandangannya jauh ke depan. Seorang ibu yang amat  arif bijaksana.

Para pembaca -semoga dirahmati Allah- lihatlah bagaimana para pendahulu kita yg sholih, mereka mengerahkan segala usaha dan waktunya dalam rangka mentarbiyah anak-anaknya yang kelak menjadi penentu baik buruknya masa depan umat. Jangan sampai seorang pun di antara kita berprasangka mencontoh para pendahulu yang sholih adalah berarti kembali ke belakang. Di saat orang-orang berlomba-lomba meraih gengsi modernisasi, ketahuilah bahwa mencontoh sebaik-baik umat yang dilahirkan di tengah-tengah manusia adalah berarti satu kemajuan yang besar, cara yang amat canggih dalam membangun aqidah, memperbaiki akhlaq yang bejat serta membendung semaraknya free children, sehingga menghantarkan mereka kepada apa yang telah diraih oleh generasi yang mulia, yang tiada tandingannya.
Meniti jalan mereka dalam rangka mentarbiyah (mendidik) anak berarti mempersiapkan konsep perbaikan umat di masa yang akan datang. Perhatian serius dan tarbiyah yang benar sangat dibutuhkan di zaman yang dipenuhi berbagai fitnah ini, baik fitnah syahwat maupun syubhat, yang terus memburu anak-anak kita dari segala arah.  Siapa yang menggembala kambing di tempat rawan binatang buas, kemudian dia lalai, maka singa akan menerkam gembalaannya.

Berikut ini adalah beberapa langkah dasar dalam mendidik, yang telah disarikan dari Al Qur’an dan As-Sunnah :

Pertama : mengajarkan tauhid kepada anak, mengesakan Allah dalam hal beribadah kepada-Nya, menjadikannya lebih mencintai Allah daripada selain-Nya, tidak ada yg ditakutinya kecuali Allah. Ini pendidikan yang paling urgen di atas hal-hal penting lainnya.
Kedua : mengajari mereka sholat dan membiasakannya berjama’ah.
Ketiga : mengajari mereka agar pandai bersyukur kepada Allah, kepada kedua orang-tua, dan kepada orang lain.
Keempat : mendidik mereka agar taat kepada kedua orangtua dalam hal yang bukan maksiat, setelah ketaatan kepada Allah dan rosul-Nya yang mutlak.
Kelima : menumbuhkan pada diri mereka sikap muroqobah merasa selalu diawasi Allah. Tidak meremehkan kemaksiatan sekecil apapun dan tidak merendahkan kebaikan walau sedikit.
Keenam : memberitahu mereka akan wajibnya mengikuti sabilul mukminin al muwahidin (jalannya mukminin yang bertauhid), salafush sholih generasi terbaik umat ini, dan memberikan loyalitas kepada mereka.
Ketujuh : mengarahkan mereka akan pentingnya ilmu Al Qur’an dan Sunnah.
Kedelapan : menanamkan pada jiwa mereka sikap tawadlu, rendah hati, dan rujulah serta syaja’ah (kejantanan dan keberanian). Dan masih banyak lagi selain apa yang penulis uraikan di sini.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita anak-anak yang sholih. Amin ya Mujiibas sailiin. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang berkata : Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS Al Furqoon: 74).

Para pembaca -semoga dirahmati Allah- begitulah seharusnya mendidik anak, ini adalah salah satu tugas utama bagi para orangtua, menelantarkannya berarti menelantarkan amanat yang diberi oleh Allah, membiarkannya adalah berarti membiarkan kehancuran anak, orangtuanya, umat, bangsa, dan negara. Sedangkan mendidiknya adalah cahaya masa depan umat yang cerah yang berarti juga mengangkat derajat sang anak dan derajat kedua orangtuanya di surga. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Akan diangkat derajat seorang hamba yang sholih di surga. Lalu ia akan bertanya-tanya: Wahai Rabb apa yang membuatku begini ?”. Kemudian dikatakan padanya, “Permohonan ampun anakmu untukmu.” (HR Ahmad dari sahabat Abu Hurairoh). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakan nya.” (QS Ath Thuur: 21). Allah-lah yang memberi taufiq kepada apa yang dicintai-Nya dan diridloi-Nya.
Walhamdulillahi robbil ‘alamin. Wal Ilmu indallah.

Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan sumbernya.
http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=137
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 040/th.04/Jummadil Akhir-Rajab 1429H/2008M


Pilih Kasih Terhadap Anak-anak

September 25, 2008

[Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz]
Pertanyaan :
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Bolehkah saya memberikan sesuatu kepada salah satu anak saya, namun tidak saya berikan kepada anak-anak yang lain karena mereka sudah kaya ?

Jawaban :
Tidak boleh bagi anda untuk mengkhususkan salah seorang anak laki-laki maupun perempuan dengan sesuatu. Akan tetapi wajib untuk berbuat adil dengan mereka, sesuai dengan hitungan warisan, atau tidak sama sekali, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Artinya : Takutlah kepada Allah dan berbuat adil lah antara anak-anakmu”. [Disepakati keshahihannya]. Akan tetapi jika anak-anaknya rela dengan pengkhususan tersebut, maka hal tersebut tidak apa-apa, selama yang merelakannya adalah orang-orang yang sudah baligh. Demikian pula bila di antara anak-anak anda ada yang dalam keadaan kesusahan, tidak bisa bekerja karena sakit atau cacat dan tidak ada bapaknya atau saudaranya yang menafkahinya, tidak pula mendapat santunan dari pemerintah yang memenuhi kebutuhannya, maka bagi anda hendaknya menafkahinya sebatas keperluannya hingga Allah mencukupi kebutuhannya. – [Fatawa Mar’ah, 2/101]

BOLEHKAH SEORANG IBU MENGKHUSUSKAN ANAKNYA LEBIH DARI YANG LAIN
[Oleh : Syaikh Abdullah bin Jibrin]

Pertanyaan :
Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya : Bolehkah seorang ibu mengkhususkan salah seorang anaknya lebih dari yang lainnya, dari cara melepas kepergiannya, menerima kedatangannya, padahal perlakuan anak-anaknya terhadap ibu mereka tidak ber beda. Demikian pula anak cucu, perlakuan mereka terhadap nenek mereka tidak berbeda. Bolehkan hal tersebut ? Berilah kami penjelasan, semoga Allah memberi anda pahala kebaikan.

Jawaban :
Wajib bagi orang tua berbuat adil diantara anak-anaknya, tidak melebihkan sebagian dari sebagian yang lain dalam hal nafkah, pemberian hadiah dan sebagainya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, “Artinya : Takutlah kepada Allah dan berbuat adillah antara anak-anakmu”. Artinya : Bukanlah kamu ingin perbuatan baik mereka kepadamu sama ? Maka perlakukanlah mereka dengan sama.
Para ulama besar senantiasa berbuat adil kepada anak-anaknya hingga pada permasalahan mencium anak, senyum, menerima kedatangan dan sebagainya, berdasarkan perintah untuk berlaku adil terhadap anak-anak. Akan tetapi diperbolehkan untuk tidak menyamaratakan antara mereka, pada kondisi seperti orang tua yang mendahulukan anak terkecil, mengutamakan yang sakit dan semacamnya, berdasarkan alasan kasih sayang. Jika tidak ada alasan tersebut, berarti kewajibannya adalah tetap adil dalam setiap interaksi dengan mereka, apalagi jika mereka sama pula dalam hal ketaatan, pengabdian dan silaturhaminya kepada orang tua. – [Fatawal Mar’ah 1/96]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita , penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq, Penerjemah Amir Hazmah Fakhruddin]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1641&bagian=0

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa),  Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (QS.Al Mu’minuun : 55-56)

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS.At Taubah : 55)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 040/th.04/Jummadil Akhir-Rajab 1429H/2008M


Anak Sebagai Cobaan

September 25, 2008

“Dan ketahuilah, bahwa harta dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS Al Anfaal [8]: 28).

Hidup adalah perpindahan dari satu cobaan ke cobaan yang lain. Cobaan atau ujian tidak selalu identik dengan kesusahan, tapi bisa juga berupa kemudahan. Ujian itu bisa menjadi musibah atau nikmat tergantung cara kita menyikapi kesusahan atau kemudahan itu. Musibah adalah segala sesuatu (baik kesusahan maupun kemudahan) yang bisa menjauhkan kita dari Allah, sedangkan nikmat adalah segala sesuatu (baik kesusahan maupun kemudahan) yang bisa mendekatkan kita kepada Allah SWT. Kalau diuji dengan kesusahan kita menjadi semakin jauh dari Allah (menyikapi dengan minder, putus asa, atau berprasangka buruk kepada Allah), maka kita gagal menghadapi ujian itu, sehingga menjadi musibah. Tetapi jika dengan ujian kesusahan kita semakin dekat kepada Allah (menyikapi dengan tetap khusnudzan kepada-Nya, evaluasi diri, tobat, dan memperbaiki diri), maka kita sukses menghadapi ujian itu, sehingga menjadi nikmat. Begitu pula, jika diuji dengan kemudahan kita menjadi semakin jauh dari Allah (menjadi ujub, sombong, takabur), maka kita gagal menghadapi ujian itu, sehingga menjadi musibah. Tetapi jika diuji dengan kemudahan kita semakin dekat kepada Allah (menjadi bersyukur dan tawadhu), maka kita sukses menghadapi ujian itu, sehingga menjadi nikmat.

Umpamakan, ujian hidup ini seperti soal-soal ujian saat sekolah, kita akan stres melihat soal ujian kalau tidak pernah belajar. Kita tidak mungkin menyalahkan soal ujian kalau tidak bisa mengerjakannya. Hanya orang yang selalu mempersiapkan diri dalam hiduplah yang bisa menjadikan setiap cobaan menjadi nikmat yang dapat meningkatkan derajat kemuliaannya baik di dunia maupun di akhirat.
Anak-anak itu juga benar-benar menjadi cobaan bagi orang tuanya, baik kesuksesannya maupun kegagalannya. Memiliki anak yang sukses itu ujian, jika kita menjadi tawadhu, malu kepada Allah dan merasa bahwa semuanya itu karunia Allah, maka itu adalah kesuksesan. Tapi kalau menjadi ujub, takabur, dan merasa berjasa berarti gagal menyikapi anak yang maju. Cobaan bisa dalam bentuk anak yang tidak sesuai dengan harapan. Usahakanlah sekuat tenaga agar kekurangan anak menjadi ladang amal bagi ibu bapaknya.

Saya pernah melihat seorang ibu yang anaknya tergelincir, walaupun sudah mencoreng aib, ibunya berkata, “Dia darah daging saya. Saya tetap bertanggung jawab untuk membantu dia kembali ke jalan Allah. Mungkin ini teguran dari Allah karena kami kurang bersungguh-sungguh mendidiknya.”
Pernah juga ada seorang ibu yg anaknya selalu menyusahkan. Saat anaknya terkena narkoba, ibunya berusaha keras menyembuhkannya. Setelah sembuh, malah masuk penjara, tetapi tetap saja dikunjungi. Ketika ditanya, “Mengapa Ibu tidak habis-habisnya menyayanginya ?”. “Saya akan terus memperbaikinya sekuat kemampuan saya karena ini adalah ladang amal bagi saya. Kalau orang lain diuji dengan anak-anak yg cemerlang, mungkin saya diuji dengan ini. Saya tidak malu dihina oleh orang lain. Yg malu itu kalau saya tidak bertanggung jawab terhadap anak-anak saya.”

Dengan demikian tidak berarti ibu ini terhina dan gagal. Mudah-mudahan hal inilah yang akan menjadikannya sebagai jalan pendekat kepada Allah SWT. Mengurus anak itu bukan sisa waktu, sisa pikiran, dan sisa tenaga, tapi harus menjadi bagian dari kesibukan kita. Jangan sampai anak merasa tidak mempunyai orang tua karena ibu-bapaknya tidak mempunyai waktu untuk mereka. Jangan sampai anak kita merasa ibunya sekadar orang yg melahirkannya, atau merasa bapaknya sekadar orang yang memberinya uang, bahkan ada anak yang merasa para pembantunya sebagai ibu atau bapaknya karena mereka yang selalu menjaganya.
Marilah kita terus meningkatkan kesadaran bahwa anak adalah ujian dari Allah. Tekadkan dalam hati, “Saya tidak boleh mengharapkan anak anak saya membalas budi baik kepada saya karena mendidik anak adalah ladang amal. Apakah anak akan membalas budi atau tidak itu urusan anak, tapi saya mengurus anak dengan sebaik-baiknya di jalan Allah, itu adalah urusan saya.”

Jangan pernah patah semangat. Semoga Allah melindungi kita dari cobaan yang tidak sanggup kita memikulnya.  Wallahu a’lam.

[Oleh : K.H. Abdullah Gymnastiar]

http://www.republika.co.id/
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 040/th.04/Jummadil Akhir-Rajab 1429H/2008M


Merayakan Ulang Tahun Anak

September 25, 2008

[Oleh : Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin]

Pertanyaan :
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah perayaan ulang tahun anak termasuk tasyabbuh (tindakan menyerupai) dengan budaya orang barat yang kafir ataukah semacam cara menyenangkan dan menggembirakan hati anak dan keluarganya ?

Jawaban :
Perayaan ulang tahun anak tidak lepas dari dua hal ; dianggap sebagai ibadah, atau hanya adat kebiasaan saja. Kalau dimaksudkan sebagai ibadah, maka hal itu termasuk bid’ah dalam agama Allah. Padahal peringatan dari amalan bid’ah dan penegasan bahwa dia termasuk sesat telah datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “artinya : Jauhilah perkara-perkara baru. Sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan berada dalam Neraka”.

Namun jika dimaksudkan sebagai adat kebiasaan saja, maka hal itu mengandung dua sisi larangan.

Pertama : Menjadikannya sebagai salah satu hari raya yang sebenarnya bukan merupakan hari raya (Ied). Tindakan ini berarti suatu kelalancangan terhadap Allah dan RasulNya, dimana kita menetapkannya sebagai Ied (hari raya) dalam Islam, padahal Allah dan RasulNya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya. Saat memasuki kota Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati dua hari raya yang digunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang-senang dan menganggapnya sebagai hari Ied, maka beliau bersabda, “artinya : Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Kedua : Adanya unsur tasyabbuh (menyerupai) dengan musuh-musuh Allah. Budaya ini bukan merupakan budaya kaum muslimin, namun warisan dari non muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Artinya : Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”.

Kemudian panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalanya. Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan “Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadangkala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk  -semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Artinya : Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (kearah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana amat teguh”. [Al-A’raf : 182-183]
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Artinya : Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah labih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka adzab yang menghinakan” (Ali-Imran : 178).
[sumber : Fatawa Manarul Islam 1/43]

[Disalin dari kitab Fatawa Ath-thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penyusun Yahya bin Saâ€(tm)id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1584&bagian=0
note : artikel diatas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 040/th.04/Jummadil Akhir-Rajab 1429H/2008M