Mendongeng Untuk Anak

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.”(Qs.Hud:120).

Kalau Superman, Kura-kura Ninja bisa begitu akrab di hati anak-anak, kenapa cerita dari berbagai kisah Islam tidak ?. Dunia fantasi dan imajinasi semacam dongeng memang amat digemari anak-anak. Lebih jauh bahkan sudah menjadi kebutuhan mereka. Lewat dongeng seperti itu daya imajinasi mereka bisa berkembang sehat. Anak dibawa ke sebuah dunia lain yang begitu bebas, bisa diatur menurut kehendak mereka sendiri. Seribu satu macam pengalaman baru yang hanya tampil sebagai bayangan seakan bisa mereka wujudkan men jadi “kenyataan”. Inilah salah satu hikmah dari sebuah dongeng bagi anak-anak. Tak seorang anakpun yang tak butuh pengembangan imajinasi. Tanpa imajinasi, sama artinya akal pikiran menjadi pasif, mandeg dan tak terlatih untuk memecahkan aneka ragam masalah. Lantas bagaimana kelak masa depan anak yang tak mampu berpikir secara baik ?.

Selain sebagai sumber hikmah, dongeng bisa menjadi perantara sangat efektif untuk pendidikan mereka. Baik akhlaq, aqidah, syariah maupun ilmu-ilmu pengetahuan lain. Nilai-nilai yang diserap anak dari sebuah dongeng akan sangat membekas pada nuraninya, sangat berbeda dengan bila mereka hanya mendengarnya dari serangkaian nasehat dan teori. Secara jujur kita akui, betapa membekasnya kisah-kisah tentang Cinderela, Bawang Putih Bawang Merah, maupun Malin Kundang. Tanpa terasa, kisah-kisah itu telah turut berperan dalam memberi warna pada kepribadian kita semasa kecil, dan masih terbawa hingga dewasa. Sayangnya, kita para orang tua muslim sekarang banyak yang tidak sadar bahwa kita telah lalai, karena ternyata anak kita lebih menggandrungi dongeng tentang Superman dan sejenisnya, ketimbang sejarah Rasul dan para sahabatnya. Buku-buku tentang Batman, Robinhood, Hercules, Spiderman, hingga cerita silat karya Kho Ping Hoo yang jumlahnya ratusan jilid bisa tuntas terbaca, sementara tak ada yang tahu siapakah Hamzah, Zubair mau pun Mush’ab bin Umair ?.
Barangkali kita menganggap ini suatu hal yang wajar, karena memang begitulah opini masyarakat. Pada umumnya orang berpendapat bahwa kisah-kisah yang berbau agama lebih pantas dimasukkan dalam kurikulum pelajaran sejarah di sekolah. Karena sifatnya yang diformalkan seperti itulah lantas kisah-kisah tersebut menjadi tidak akrab dengan dunia anak-anak, yakni dunia bermain. Akibatnya lebih jauh, jelas anak merasa bahwa menghafalkan dan mempelajari segala yang bernafas agama adalah sebuah beban, adalah tugas dan kewajiban. Sebuah kewajiban yang harus ditempuh. Bila anggapan begini sudah mewarnai pikiran anak, niscaya akan sulit untuk mengharapkan agar kita mampu membentuk tokoh idola anak secara Islami.

Mengapa tidak kita coba memasukan nafas Islam dalam dunia main anak ? Bukankah tak ada yang mustahil. Bahkan ini langkah yang baik, jika dimulai sedini mungkin. Tentunya kita selalu ingat, bahwa anak adalah ibarat sebuah kertas putih. Ayah ibunyalah yang menorehkan tinta diatasnya, dan menentukan watak serta kepribadian anak. Kalau semenjak dini ayah dan ibu menyakinkan anak bahwa agama itu menyenangkan, ringan dan mudah, maka anak akan mengakrabinya tanpa ada perasaan terbebani.
Bagaimana cara menyakinkan ? Itu tadi, memasukkan nafas agama dalam dunia mereka, dunia bermain-main. Salah satu caranya adalah melalui dongeng. Mengapakah selama ini kita hanya terpaku pada dongeng-dongeng yang diciptakan oleh bangsa Barat ? Seakan tak ada kisah lain yang lebih menarik selain komik-komik karya Walt Disney yang mana tidak mengandung nilai agama sama sekali.

Sementara orang tua mengakrabkan anak-anak dengan kisah-kisah Nabi dan Rasul sebagaimana telah tercamtum dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Allah telah berfirman, yang artinya, “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.”(Qs.Hud:120). Apakah ada yang cacat dari kisah-kisah tersebut sehingga menghalangi orang tua mendongengkannya bagi anak-anak sebelum tidur ? Tidak, bukan ? Kisah-kisah itu sangat menarik dan sarat dengan ajaran akhlaq dan memiliki kandungan hikmah yang mengagumkan.
Atau dapat juga dipilih kisah-kisah kehidupan Rasulullah SAW beserta sahabat-sahabat beliau yang jumlahnya sangat banyak. Sungguh semua kisah-kisah tersebut merupakan sumber cerita yang mengandung hikmah yang tiada habisnya. Dan tidak membuat bosan walau diulang-ulang. Rasulullah bersabda, yang artinya, “Didiklah anak-anakmu tiga perkara, (diantaranya) cinta kepada Nabi mereka, dan cinta kepada sanak keluarga…” (HR. At Thabrani). Seorang sahabat, Sa’ad bin Abi Waqqas menerangkan, “Kami mengajar anak-anak kami sejarah hidup Rasulullah SAW, seperti kami mengajarkan kepada mereka surah-surah Al Qur’an.”

Selama ini anak kita memang terlalu banyak dijejali kisah-kisah dongeng atau cerita fantasi ala Barat. Sehingga tidak heran bila kemudian anak-anakpun menjadikan tokoh-tokoh fiksi seperti Superman, Batman dan sejenisnya sebagai idola. Inilah yang harus kita ubah.
Tidakkah kita menginginkan melihat anak laki-laki bermain pedang-pedangan sembari berteriak melengking “Allahu Akbar !”. Mereka berebut memainkan peran sebagai Umar, Hamzah, Ali maupun Bilal. Di waktu lain, merekapun berebut menceritakan kehebatan tokoh islam yang menjadi idolanya masing-masing. Betapa mengharukan pemandangan begini. Dan itu tidak mustahil jika kita mau berusaha menampilkan kisah-kisah kepribadian Rasulullah dan para sahabatnya dalam dongengan kita.
Sedikit disayangkan, sarana kita sekarang ini amat terbatas. Untuk memperoleh buku cerita bernuansa Islam saja seringkali harus berlelah-lelah terlebih dulu. Kalaupun ada seringkali kisah-kisah itu dikemas secara formal, terkesan kurang akrab dengan anak-anak. Coba bandingkan komik Cinderella yang dengan sangat mu dah kita dapatkan di banyak tempat.

Keadaan yang tidak baik sebagaimana diulas di atas, menguntungkan sebetulnya masih dapat diantisipasi melalui kreatifitas orang tua. Kisah perjalanan hidup  Nabi SAW dan para sahabat yang penuh perjuangan heroik, ketegangan dan suka duka adalah sumber cerita yang menarik. Tinggal bagaimana orang tua bisa menyampaikannya lebih luwes, sehingga seperti kalau kita menceritakan sebuah dongeng. Apalagi jika diceritakan lengkap dengan gaya bicara dan mimik wajah orang tua yang turut mewarnai keindahan kisah itu. Insya Allah penyampaian seperti ini akan membuat anak-anak tersebut merasa lebih terhibur dan bahagia.
Peristiwa-peristiwa kecil tentang sifat-sifat Rasulullah, misalnya, bila diceritakan seperti dongeng akan membuat anak merasa akrab dengan sendirinya. Kedermawanan Rasul, ketabahannya, kezuhudannya, kemuliaan akhlaqnya, dan sebagainya, adalah sangat baik bila mulai untuk diperkenalkan kepada mereka semenjak dini.

Perlu diingat, bahwa selain kisah-kisah nyata, anak-anak juga membutuhkan kisah fiktif demi mengembangkan daya imajinasi mereka seluas mungkin. Seperti kisah perjalanan ke planet-plaet lain, kisah kehidupan serba mesin di abad ke-21 kelak dan sebagainya. Buku-buku cerita umum yang menyajikan model ini sangat bertebaran dan sangat mudah didapatkan.
Sebagai tambahan tentunya lebih bermanfaat, dengan mengisahkan secara fantastis mukjizat-mukjizat para Nabi yang diperoleh dari Allah SWT. Puluhan mukjizat yang diperoleh Muhammmad SAW, ditambah mukjizat nabi-nabi lain, cukup menambah koleksi dongeng menarik bagi anak-anak. Yang begini tentu jauh lebih baik dari sekedar cerita Batman untuk menghadirkan tokoh yang bisa dibanggakan oleh anak-anak. Terus terang kita kalah jauh dengan kaum Nasrani dalam hal ini. Buku-buku, mereka jumlahnya tak terbilang saking banyaknya, walau sebenarnya hampir semuanya terjemahan karya Barat. Yang seringkali kita kecewa adalah membuat tragis buku serta majalah merekalah yang kini menjadi konsumsi bacaan terbesar anak-anak muslim. Alhamdulillah, satu dua majalah anak-anak Islam kini mulai hadir. Isinya sarat dengan nafas ke-Islaman sementara penampilan juga tak kalah menarik. Alangkah baiknya bila kita manfaatkan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam.

[sumber : Lembar Jum’at , Al Qalam Diterbitkan Oleh : Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya]
http://alqalam.8m.com/vi/qal31.htm
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 040/th.04/Jummadil Akhir-Rajab 1429H/2008M

Prev: Anak

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: