Fatwa Tentang Larangan Saling Mencaci

Dalam fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Islam Kerajaan Saudi Arabia, tanggal 17/6/1414 H, Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baaz (telah wafat pada bulan Mei 1999) mengatakan :”Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan kita untuk berlaku adil dan berbuat baik, serta meninggalkan segala bentuk penganiayaan, kesewenangan dan permusuhan. Allah SWT telah mengutus Nabi Muhammad SAW dengan risalah yg juga telah diemban oleh para Rasul-rasul sebelumnya, berupa seruan untuk bertauhid dan memurnikan ibadah kepada Allah SWT semata. Allah juga memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menegakkan keadilan dan melarangnya dari segala bentuk ketidak-adilan; baik berupa penyembahan selain Allah, atau perpecahan, perselisihan dan penganiayaan atas hak-hak orang lain.

Akhir-akhir ini, telah menjadi wacana publik bahwa ada sekelompok orang yang di kenal sering bergelut dengan masalah-masalah keilmuan Islam dan dakwah, melecehkan kehormatan saudara-saudara mereka dari kalangan aktivis dakwah Islam terkemuka. Mereka juga melecehkan kehormatan para penuntut ilmu, para da’i dan para penceramah. Kadang mereka melakukannya secara tersembunyi di tempat-tempat pengajian mereka atau direkam di kaset-kaset dan disebarkan di tengah-tengah masyarakat. Dan kadang pula hal itu dilakukan secara terang-terangan dalam pengajian-pengajian umum di masjid-masjid. Perbuatan ini sangat bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allah SWT kepada Rasul-Nya.

Lebih jelasnya pertentangan itu dapat dilihat dari berbagi sisi sbb :
1. Perbuatan ini adalah bentuk penganiayaan terhadap hak-hak umat Islam. Apalagi bila mereka yang dilecehkan tersebut adalah para penuntut ilmu dan para da’i yang telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk membangun kesadaran beragama masyarakat, membimbing mereka, serta memperbaiki kekeliruan-kekeliruan pemahaman mereka tentang akidah dan system hidup. Dan mereka pulalah yang telah bekerja keras untuk mengorganisir pengajian-pengajian dan ceramah-ceramah agama, serta menulis buku-buku yang bermanfaat.

2. Perbuatan ini adalah upaya pemecah-belah persatuan umat Islam dan pengoyakan barisan mereka. Sementara mereka sangat membutuhkan adanya persatuan dan tiadanya perpecahan, perselisihan dan perdebatan yang sia-sia di antara mereka. Apalagi bila para da’i yang dilecehkan tersebut berasal dari kalangan ahlu sunnah wal jamaah yang terkenal dengan kerja nyata mereka dalam memerangi bid’ah dan khurafat, menentang para penyerunya, serta menyingkap makar dan tipu daya mereka. Kami memandang bahwa tidak ada sedikit pun maslahat dibalik perbuatan ini kecuali bagi musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir dan munafiq, atau ahli bid’ah dan kesesatan yang sangat mengidam-idamkan kehancuran umat Islam.

3. Perbuatan ini mengandung dukungan dan dorongan kepada para sekularis, westernis dan musuh-musuh Islam lainnya yang terkenal sebagi kelompok-kelompok yang selalu melecehkan, menyebarkan isu-isu bohong dan menghasut masyarakat untuk memusuhi para aktivis dakwah Islam lewat buku-buku dan kaset mereka. Adalah bertentangan dengan konsekwensi ukhuwwah Islamiyah ketika orang-orang yang tergesa-gesa ini mendukung musuh-musuh mereka menghadapi saudara-saudara mereka sendiri dari kalangan para penuntut ilmu dan para aktivis dakwah Islam.

4. Perbuatan ini sangat berandil besar dalam merusak hati dan perasaan seluruh lapisan masyarakat, menyebar luaskan berbagai kebohongan dan isu-isu dusta, menjadi sebab maraknya gunjing menggunjing dan adu domba serta membuka pintu selebar-lebarnya bagi manusia-manusia berjiwa kerdil yang hobinya menyebarkan isu-isu negatif, menguatkan simpul-simpul fitnah dan selalu ingin menyakit orang-orang beriman dengan dalil dan alasan yang dibuat-buat.

5. Banyak sekali pernyataan-pernyataan yang dimunculkan itu, tidak benar adanya. Sebaliknya, pernyataan-pernyataan tersebut hanyalah praduga-praduga atau sangkaan-sangkaan yg dihiasi oleh syetan kepada mereka yg termakan oleh tipu dayanya.
Allah SWT berfirman :”Hai orang-orang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian orang diantara kamu menggunjing sebagian yang lain” (Al Hujuraat : 12) . Seorang muslim sebaiknya berusaha memahami perkataan saudaranya sesama muslim dengan penafsiran yang paling baik. Sebagian ulama salaf pernah berkata :”Janganlah berprasangka buruk tentang sebuah pernyataan yang diungkapkan oleh saudaramu sesama muslim, sementara engkau dapat memahaminya dengan penafsiran yang baik”.

6. Ijtihad yang dilakukan oleh seorang ulama atau penuntut ilmu yang laik ijtihad pada masalah-masalah ijtihadiyah tidak boleh diingkari dan ditentang. Bila ada yang berbeda pendapat dengannya pada masalah-masalah tersebut, maka yang lebih tepat dilakukan adalah mengajaknya berdiskusi (berdebat) dengan cara yang paling baik, demi mencapai kebenaran dengan mudah dan menutup jalan bagi bisikan-bisikan syetan berikut tipu dayanya untuk memecah-belah persatuan umat Islam. Tapi bila itu sulit dilakukan, sedang orang yang berbeda pendapat tersebut ingin menjelaskan kesalahan ijtihad ulama’ atau penuntut ilmu yang lain, maka hendaklah itu dilakukan dengan ungkapan yang baik, sindirian yang lembut dan tanpa pelecehan, pencelaan atau kata-kata kasar yang bisa menyebabkan penolakan terhadap kebenaran, serta tanpa tudingan terhadap pribadi-pribadi, tuduhan terhadap niat-niat orang lain, atau pembicaraan berlebihan yang tidak dibutuhkan. Bukankah dalam hal-hal seperti ini Rasulullah SAW selalu berkata :
“Mengapa ada orang-orang yang mengatakan begini dan begitu ?”

Maka yang ingin aku nasehatkan kepada ikhwah (saudara-saudaraku) yang melecehkan kehormatan para da’i dan menghina mereka, supaya bertobat kepada Allah SWT dari apa-apa yang pernah dituliskan oleh tangan-tangan mereka atau diucapkan oleh lidah-lidah mereka yang telah ikut andil dalam merusak hati dan perasaan sebagian umat Islam, memenuhinya dengan rasa iri dan dengki, menyibukkan mereka dengan gunjing-menggunjing, membahas tentang fulan dan fulan, memaksakan diri untuk mencari-cari kesalahan orang lain yang akhirnya memalingkan mereka dari menuntut ilmu yang bermanfaat dan berdakwah di jalan Allah SWT.

Aku juga menasehati mereka agar menebus (kaffarah) kesalahan yang mereka lakukan dengan cara menulis atau lainnya, untuk membebaskan diri mereka dari perbuatan seperti ini dan menghilangkan pemikiran-pemikiran salah yang telah tertanam di benak sebagian orang yang sering mendengarkan pembicaraan mereka, berikut mengalihkan perhatian mereka kepada amal-amal produktif yang mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT dan bermanfaat bagi hamba-hambaNya. Aku juga menasehati mereka agar berhati-hati untuk tidak tergesa-gesa dalam menyebutkan hukum kafir, fasik atau bid’ah kepada orang lain tanpa bukti dan kejelasan, karena Rasulullah SAW bersabda :”Barang siapa yang berkata kepada saudaranya sesama muslim wahai kafir maka makna kata itu pasti berlaku bagi salah seorang di antara mereka berdua” (Mutafaqun ‘ala shihatihi).

Secara syar’i adalah tepat bagi para da’i dan penuntut ilmu yang menemukan kesulitan dalam memahami perkataan sebagian ulama ataupun selain ulama, untuk merujuk dan bertanya kepada para ulama yang berkompeten agar mereka mendapatkan penjelasan yang gamblang, memahami subtansi masalah dan menghilangkan segala keragu-raguan dan subhat yang ada pada diri mereka, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW :”Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti syetan, kecuali sebagian kecil saja (diantara kamu)” (Annisa’ : 83)

Semoga Allah SWT -yang hanya kepadaNya kita meminta- memperbaiki keadaan umat Islam seluruhnya, menyatukan hati-hati mereka dan memberikan taufiq-Nya kepada para ulama dan para dai untuk selalu melakukan hal-hal yang diridloinya, bermanfaat bagi hamba-hambaNya, menyatukan konsep mereka di atas petunjukNya.  Menghindarkan mereka dari pemicu-pemicu perpecahan dan pertentangan, serta menjadikan mereka sebagai pembela kebenaran dan pemberantas kebatilan. Sesungguhnya hanya Allah SWT yang sanggup dan mampu melakukannya.

(Oleh : Abdulaziz bin Abdullah bin Baaz, Ketua Umum Dewan Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Islam Kerajaan Saudi Arabiyah)
http://ulwani.tripod.com/larangan_mencaci.htm

Siksa kubur bagi pengghibah

Diriwayatkan dari Abi Barkah, dia berkata : Ketika aku berjalan bersama Rasul  Allah SAW, beliau memegang (menuntun) tanganku, dan di sebelah kirinya ada seorang laki-laki, kemudian kami mendapatkan dua buah kuburan di depan kami. Maka Rasulullah SAW bersabda :”Sesungguhnya mereka itu disiksa bukan karena dosa yang besar, akan tetapi sebaliknya, maka siapakah diantara kalian yang mau membawakan pelepah kurma ?”. Kemudian kami berlomba mendapatkan pelepah kurma itu. Aku mendapatkannya dan membawanya kepada Rasulullah. Kemudian beliau membelahnya menjadi dua bagian, lalu beliau menancapkannya pada masing-masing kuburan tersebut. Dan beliau bersabda :
”Sesungguhnya hal itu akan meringankan mereka selama pelepah ini masih basah, dan tidaklah mereka itu disiksa melainkan karena ghibah dan buang air kecil”.
(hadits ini telah dihasankan oleh Syeikh Al Albani dalam kitabnya Ghayatul Al Maram no.429)

[sumber : Ghibah dan Pengarunya Dalam Kehidupan, Syeikh Husein Al Awayisyah, penerbit : At Tauhid Jakarta, cetakan I maret 2003]
Nasehat Bukanlah Gunjingan

Pertanyaan :
Seseorang hendak menugaskan orang lain dengan suatu pekerjaan. Saya tahu bahwa orang tersebut tidak mampu melaksanakannya karena tidak mempunyai keahlian di bidang tersebut. Bolehkah saya memberitahu orang yang hendak memberinya tugas itu tentang kekurangan-kekurangan orang yang hendak diberi tugas itu. Apakah ini termasuk menggunjing ?”.

Jawaban :
Jika maksudnya nasehat maka bukan berarti menggunjing. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw ,  “Agama adalah nasehat.”  Ditanyakan kepada beliau, “Bagi siapa ya Rasulullah?” beliau menjawab, “Bagi Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin umumnya. ”
Disebutkan dalam ash-Shahihain dari Jabir bin Abdullah al-Bajali, ia berkata, “Aku berbai’at kepada Rasulullah saw untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat dan memberi nasehat kepada setiap muslim.” Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang semakna dengan ini. Hanya Allah-lah yang mampu memberi petunjuk.

[Sumber : Majalah ad-Da’wah, nomor 1172, Syaikh Ibn Baaz]
Sabtu, 26 Februari 05 – http://www.alsofwah.or.id
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam”. (HR. Bukhari)
“Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam”. (HR. Ahmad)
“Diam (tidak bicara) adalah suatu kebijaksanaan dan sedikit orang yang melakukannya”. (HR. Ibnu Hibban)
“Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya”. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)
“Barangsiapa banyak bicara maka banyak pula salahnya dan barangsiapa banyak salah maka banyak pula dosanya, dan barangsiapa banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya”. (HR. Ath-Thabrani)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 039/th.04/Rabi’ul Tsani-Jummadil Awwal 1429H/2008M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: