GHIBAH Yang Diperbolehkan

Ada ghibah yang diperbolehkan oleh agama berdasarkan dalil-dalil syar’i, akan tetapi hendaklah seseorang waspada terhadap tipuan syeitan yang akan membukakan pintu-pintu dosa baginya, saat seseorang mulai melakukannya. Maka dalam melakukan ghibah sebaiknya dibatasi, dan mesti diikuti dengan niat yang baik, bukan dengan niat menyalurkan rasa marah, dendam, benci atau ingin popular, dll. Karena sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui orang yang tidak jujur dan menyembunyikan sesuatu dalam hatinya. Ghibah-ghibah yang diperbolehkan antara lain sbb :

1. Pengaduan (keluhan) kepada penguasa atau hakim.

Dalilnya adalah hadits dari Aisyah r.ha., dia berkata :”Hindun, istri Abu Sufyan pernah mengadu kepada Rasulullah, dia berkata :”Sesungguhnya Abu Sufyan adalah orang yang pelit, dia tidak memberikan nafkah yang cukup buatku dan anak-anakku, sehingga aku mengambil darinya tanpa sepengetahuannya”. Maka Rasulullah SAW bersabda :”Ambillah apa yang cukup bagimu dan anak-anakmu dengan cara yang baik”. (HR.Bukhari-Muslim)

2. Meminta fatwa.

Contoh :  Seseorang bertanya kepada mufti (ahli/pemberi fatwa) :”Si Fulan telah berbuat dzalim kepadaku, maka bagaimana caranya agar aku bisa terlepas darinya ?”.  Untuk kasus ini bisa diselesaikan dengan berdasar dalil yang sama dengan point no.1 di atas.

3. Minta bantuan atas suatu kemungkaran, menghilangkan cobaan (penderitaan) pada seseorang. Untuk hal ini pun bisa menggunakan dalil hadits pada point no.1 di atas, juga bisa menggunakan hadits dari Fathimah binti Qais r.ha. , dia berkata :”Aku datang kepada nabi SAW, kemudian aku berkata kepada beliau :”Sesungguhnya Abu Jahm & Mu’awiyah hendak menikahiku”. Maka Rasulullah SAW bersabda :”Mu’awiyah itu adalah orang miskin. Adapun Abu Jahm adalah orang yang tidak pernah menaruh tongkat dari pundaknya (orang yang kejam/kasar)”. (HR.Bukhari-Muslim).
Dalam suatu riwayat dikatakan :”Dan Abu Jahm adalah orang yang suka memukul
wanita”.

4. Mengingatkan kaum muslimin dan menasehatinya dari orang-orang yang berbuat jahat.

Contoh : Misalnya menyebut kejelekan perawi hadits, hal ini dilakukan dalam rangka membela hadits (sunnah) Rasulullah SAW. Demikian pula bermusyawarah dalam urusan pernikahan, ikut berembuk, dan lain-lain yang semisal itu.
Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dan yang lainnya, dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :”Rasulullah SAW bersabda :”Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada enam, yaitu :”Apabila bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam kepadanya. Apabila diundang, maka datanglah. Apabila dia meminta nasehat, maka nasehatilah. Apabila dia bersin, kemudian ia mengucap Alhamdulillah maka jawablah dengan ‘yarhamukallah’. Apabila dia sakit, maka jenguklah. Dan apabila dia mati, maka ikutilah jenazahnya sampai ke kuburan”.
Maka dari itu, wajib bagi seorang muslim untuk  menasehati saudaranya apabila dia meminta nasehatnya, dan hendaklah dia ikhlas dalam melakukannya. Imam Asy Syaukani berkata mengenai permasalahan ini :”Dan yang menjadi dalil atas hal itu adalah dali-dalil yang jelas, seperti hadits mengenai nasehat untuk tunduk kepada Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, dan para pemimpin Islam pada khususnya, dan umat Islam pada umumnya. Karena menjelaskan kebohongan para pendusta adalah merupakan nasehat yang amat besar nilainya”. *)
Beliau juga berkata :”Demikian pula men-jarh (menyebutkan cacat) orang yang bersaksi palsu, karena hal itu merupakan nasehat yang telah Allah wajibkan kepada hamba-Nya dan wajib untuk dilaksanakan dan ditegakkan”.

5. Menyebut orang yang melakukan ke-fasiq-an secara terang-terangan atau pelaku bid’ah.

Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin berkata :”Imam Bukhari telah menjadikan sebuah hadits (yang diriwayatkan dari Aisyah r.ha, tentang seorang lelaki yang meminta izin kepada Rasulullah untuk memasuki rumahnya) sebagai hujjah (dalil) tentang bolehnya menggunjing orang yang suka berbuat kerusakan dan membuat ragu-ragu).”
kererangan :
*)  Kitab “Raf’u Ar Raibah”, dengan tahqiq (komentar) dari Muhammad Ibrahim Asy Syaibani hal.27, cetakan Maktabah Ibnu Taimiyah.
[sumber : Ghibah Dan Pengaruhnya Dalam Kehidupan, Syaikh Husain Al ‘Awayisyah, Pustaka At Tauhid  –  Jakarta, cetakan maret 2003/dzulhijjah 1423H]

Ghibah / Menggunjing

Dalam banyak pertemuan di majlis, seringkali yang dijadikan hidangannya adalah menggunjing umat Islam. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hal tersebut, dan menyeru agar segenap hamba menjauhinya. Allah menggambarkan dan mengidentik kan ghibah dengan sesuatu yang amat kotor dan menjijikkan. Allah berfirman, yang artinya :” Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecu rigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”. (Al-Hujuraat : 12)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan makna ghibah (menggunjing) dalam sabdanya, yang artinya :”Tahukah kalian apakah ghibah itu ?. Mereka menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Beliau SAW bersabda :”Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Ditanyakan :”Bagaimana hal nya jika apa yang aku katakan itu (memang) terdapat pada saudaraku ?”. Beliau SAW menjawab :”Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya”. (Hadits Riwayat Muslim, 4/2001)
Jadi, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, ahlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranya-pun bermacam-macam, diantaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok.

Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Allah SWT ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Hal itu dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya :”Riba’ itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang “mengumpuli” ibunya (sendiri), dan riba’ yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya”. (As-Silsilah As-Shahihah, 1871)
Maka wajib bagi orang yang hadir dalam majlis yang sedang menggunjing orang lain, untuk mencegah kemungkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam amat menganjurkan hal demikian, sebagaimana dalam sabdanya, yang artinya :”Barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak (menghindarkan) api Neraka dari wajahnya”. (Hadits Riwayat Ahmad, 6/450, hahihul Jami’. 6238)

(dari : “Dosa-dosa Yang Dianggap Biasa”, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid)
http://assunnah.org/
note : Artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 039/th.04/Rabi’ul Tsani-Jummadil Awwal 1429H/2008M

Satu Balasan ke GHIBAH Yang Diperbolehkan

  1. infogue mengatakan:

    Artikel di blog Anda sangat menarik dan berguna sekali. Anda bisa lebih mempopulerkannya lagi di infoGue.com dan promosikan Artikel Anda menjadi topik yang terbaik bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://agama.infogue.com
    http://agama.infogue.com/ghibah_yang_diperbolehkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: