Ghibah Dapat Mengusik Kehormatan Sesama Muslim

Betapa banyak kaum muslimin yang mampu untuk menjalankan perintah Allah Azza wa  Jalla dengan baik, bisa menjalankan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa  Salam, mampu untuk menjauhkan dirinya dari zina, berkata dusta, minum khomer, bahkan mampu untuk sholat malam setiap hari, senantiasa puasa senin kamis, namun mereka tidak mampu menghindarkan dirinya dari ghibah. Meskipun mereka tahu bahwa sanya ghibah itu tercela dan merupakan dosa besar namun tetap saja kebanyakan tidak mampu menghindarkan diri mereka dari ghibah.

Allah Azza wa Jalla benar benar telah mencela penyakit ghibah ini dan telah menggambarkan orang yang berbuat ghibah dengan gambaran yang sangat hina dan jijik.  Berkata Syaikh Nasir As Sa’di, “Kemudian Allah Azza wa Jalla menyebutkan suatu  permisalan yang membuat (seseorang) lari dari ghibah. Allah Azza wa Jalla berfirman :”Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti  kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih.(Al Hujuraat : 12).


Memakan bangkai hewan yang sudah busuk saja menjijikkan, namun hal ini masih lebih baik daripada memakan daging saudara kita yang telah mati. Sebagaimana dikatakan oleh ‘Amru bin Al ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu , Dari Qo’is berkata, ‘Amru bin Al ‘Ash  Radhiyallahu ‘anhu melewati bangkai seekor begal (hasil persilangan kuda dan keledai), maka beliau berkata, ”Demi Allah, salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini hingga memenuhi perutnya lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya yang muslim)” 1]. Syaikh Salim Al Hilaly berkata :“Sesungguhnya memakan daging manusia merupakan sesuatu yang paling menjijikan agi sesama manusia, secara tabi’at walaupun (yang dimakan tersebut) daging orang kafir atau musuhnya yang melawan, bagaimana pula jika (yang dimakan adalah) saudara seagama ?, apalagi jika  dalam keadaan  bangkai ? padahal memakan yang baik dan halal saja bila sudah menjijikan jika telah menjadi bangkai” 2].

Dari Abu Huroiroh Radhiyallahu ‘anhu berkatam, bahwasanya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, yang artinya :”Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah harom, yaitu darahnya, kehormatannya, dan hartanya. (HR.Muslim). Orang  yang mengghibah berarti dia telah mengganggu kehormatan saudaranya, karena yang  dimaksud dengan kehormatan adalah harga diri, sesuatu yang ada pada manusia yang dapat dipuji dan dicela.
Dari Abu Huroiroh Radhiyallahu ‘anhu bahwsanya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa  Salam bersabda, yang artinya :”Tahukah kalian apakah ghibah itu ? Sahabat menjawab Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam  berkata, “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”,  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam ditanya, “Bagaimanakah pendapatmu jika itu memang benar ada padanya ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjawab, “Kalau memang benar begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”. 3]
Hal ini juga telah dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Dari Hammad,  dari Ibrohim, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Ghibah adalah engkau menyebutkan apa yang kau ketahui pada saudaramu, dan jika engkau mengatakan apa yang tidak ada pada dirinya berarti itu adalah kedustaan” 4]

Dari hadits di atas para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ghibah adalah ”Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang seandainya dia tahu, maka dia akan membencinya”. Sama saja apakah  yang engkau sebutkan adalah kekurangannya yang ada pada badannya atau nasabnya atau akhlaqnya atau perbuatannya atau pada agamanya atau pada masalah duniawinya. Dan engkau menyebutkan aibnya di hadapan manusia dalam keadaan dia ghoib (tidak hadir).
Berkata Syaikh Salim Al Hilali, ”Ghibah adalah menyebutkan aib (saudaramu) dan  dia dalam keadaan ghoib (tidak hadir di hadapanmu), oleh karena itu saudaramu  yang ghoib tersebut disamakan dengan mayat, karena si ghoib tidak mampu untuk membela dirinya. Dan demikian pula mayat tidak mengetahui bahwa daging tubuhnya dimakan sebagaimana si ghoib, juga tidak mengetahui ghibah yang telah dilakukan  oleh orang yang mengghibahinya ” 5].

Adapun menyebutkan kekurangan yang ada pada badannya, misalnya dikatakan pada  seseorang, “Dia buta”, “Dia tuli”, “Dia sumbing”, “Perutnya besar”, “Pantatnya besar”, “Kaki meja (jika kakinya tidak berbulu)”, “Dia juling”, “Dia hitam”, “Dia itu orangnya bodoh”, “Dia itu agak miring sedikit”, “Dia kurus”, “Dia gendut”, “Dia pendek” dan lain sebagainya. Dari Abu Hudzaifah dari ‘Aisyah,  bahwa sanya beliau (‘Aisyah) menyebutkan seorang wanita, lalu beliau (‘Aisyah)  berkata, ”Sesungguhnya dia (wanita tersebut) pendek”, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata, ”Engkau telah mengghibahi wanita tersebut” 6].
Dari ‘Aisyah beliau berkata, “Aku berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, “Cukup bagimu dari Sofiyah ini dan itu”.  Sebagian  rowi  berkata  ” ’Aisyah  mengatakan  Sofiyah pendek”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berkata, ”Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya” 7].
Dari Jarir bin Hazim berkata, “Ibnu Sirin menyebutkan seorang laki-laki kemudian dia berkata, ”Dia lelaki yang hitam”. Kemudian dia berkata, ”Aku mohon  ampunan dari Allah”, sesungguhnya aku melihat bahwa diriku telah mengghibah laki-laki itu” 8].

Adapun pada nasab misalnya dikatakan, ”Dia dari keturunan orang rendahan”, “Dia  keturunan maling”, “Dia keturunan pezina”, “Bapaknya orang fasik”, dll.
Adapun pada akhlaknya, misalnya dikatakan, ”Dia akhlaqnya jelek, “seorang yang  pelit”, “Dia sombong, tukang cari muka (cari perhatian)”, Dia penakut”, “Dia itu orangnya lemah”, “Dia itu hatinya lemah”, “Dia itu temperamen”.
Adapun pada agamanya, misalnya dikatakan, ”Dia pencuri”, “Dia pendusta”, “Dia  peminum khomer”, “Dia pengkhianat”, “Dia itu orang yang dzolim, tidak mengeluarkan zakat”, “Dia tidak membaguskan sujud dan ruku’ kalau sholat”, “Dia tidak berbakti kepada orang tua”, dan lain lain.
Adapun pada perbuatannya yang menyangkut keduniaan, misalnya dikatakan, “Tukang  makan”, “Tidak punya adab”, “Tukang tidur”, “Tidak ihtirom kepada manusia”,  “Tidak memperhatikan orang lain”, “Jorok”, “Si fulan lebih baik dari pada dia” dan lain lain.
Imam Baihaqi meriwayatkan dari jalan Hammad bin Zaid berkata, “Telah menyampaikan kepada kami Touf bin Wahbin, dia berkata, “Aku menemui Muhammad bin Sirin dan aku dalam keadaan sakit. Maka dia (Ibnu Sirin) berkata, ”Aku melihat engkau sedang sakit”, aku berkata, ”Benar”. Maka dia berkata,”Pergilah ke tabib fulan, mintalah resep kepadanya”, (tetapi) kemudian dia berkata, ”Pergilah ke fulan  tabib yang lain) karena dia lebih baik daripada si fulan tabib yang pertama)”.
Kemudian dia berkata, “Aku mohon ampun kepada Allah, menurutku aku telah mengghibahi dia tabib yang pertama)”. 9]

Termasuk ghibah yaitu seseorang yang meniru-niru orang lain, misalnya berjalan  dengan pura-pura pincang atau pura-pura bungkuk atau berbicara dengan pura-pura  sumbing, atau yang selainnya, dengan maksud meniru-niru keadaan seseorang, yang hal ini berarti merendahkan dia. Sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits dari ‘Aisyah, dia berkata, “Aku meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang kepada Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa Salam”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun berkata, ”Saya tidak suka meniru-niru kekurangan/cacat) seseorang walaupun, saya mendapatkan sekian-sekian” 10].
Termasuk ghibah yaitu seorang penulis menyebutkan seseorang tertentu dalam  kitabnya seraya berkata, ”Si fulan telah berkata demikian-demikian”, dengan tujuan untuk merendahkan dan mencelanya. Maka hal ini adalah harom.
Namun jika si penulis menghendaki untuk menjelaskan kesalahan orang tersebut (karena melanggar syariat) agar tidak diikuti, atau untuk menjelaskan lemahnya ilmu orang tersebut agar orang-orang tidak tertipu dengannya atau menerima pandapatnya (karena orang-orang menyangka bahwa dia adalah orang yang ‘alim –pent), maka hal ini bukanlah ghibah, bahkan merupakan nasihat yang wajib yang dapat mendatangkan pahala jika dia berniat demikian.
Wallahu a’lam.

footnote :
1] (Riwayat Bukhori dalam Al-adab Al-Mufrod no.736, lihat Kitab A-Somt no.177,  berkata Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini :”Isnadnya shohih”, sedangkan tambahan yang  ada dalam dua tanda kurung terdapat dalam kitab Az-Zuhud hal.748)
2] (Bahjatun Nadzirin 3/6)
3] (Muslim no.2589, Abu Dawud no.4874, At-Tirmidzi no.1999 dan lain-lain)
4] (Lihat Kitab A-Somt no.211, berkata Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini :“Rijalnya  tsiqoh”)
5] (Bahjatun Nadzirin 3/6)
6] (Riwayat Abu Dawud no.4875 dan Ahmad (6/189,206), berkata Syaikh Abu Ishaq :“Isnadnya shohih”)
7] (yaitu merubah rasanya atau baunya karena saking busuk dan kotornya perkataan itu –pent, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Bahjatun Nadzirin 3/25, dan hadits ini shohih, riwayat Abu Dawud no.4875, At-Thirmidzi 2502 dan Ahmad 6/189)
8] (Kitab A-Somt no.213,753, berkata Syaikh Abu Ishaq Al-Huwwaini :“Rijalnya  tsiqoh”)
9] (Kitabuz Zuhud jilid 3 hal.748)
10](makudnya walaupun saya mendapatkan kedunaiaan yang banyak)(Hadits Shohih, riwayat Abu Dawud no.4875, At-Thirmidzi 2502 dan Ahmad 6/189)

Penulis:  Al-Ustadz Abu Abdil Muhsin dan Firanda bin Abidin as-Soronji, Lc.
(Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah)
[sumber : Ebook di Maktabah Abu Salma al-Atsari]
http://dear.to/dear.to/dear.to/dear.to/abusalma

Dari Mu’az bin Jabal radhiallahuanhu dia berkata : Saya berkata :”Ya Rasulullah, beritahukan saya tentang perbuatan yang dapat memasukkan saya ke dalam surga dan menjauhkan saya dari neraka”, beliau bersabda :”Engkau telah bertanya tentang se suatu yang besar, dan perkara tersebut mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah ta’ala, : Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya sedikitpun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji”. Kemudian beliau (Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam) bersabda :”Maukah engkau aku berita hukan tentang pintu-pintu surga ?; Puasa adalah benteng, Sodaqoh akan mematikan (menghapus) kesalahan sebagaimana air mematikan api, dan shalatnya seseorang di tengah malam (qiyamullail), kemudian beliau membacakan ayat (yang artinya) :“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya…”. Kemudian beliau bersabda :”Maukah kalian aku beritahukan pokok dari segala perkara, tiangnya dan puncaknya ?”, aku menjawab :”Mau ya Nabi Allah”. “Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah Jihad”. Kemudian beliau bersabda :”Maukah kalian aku beritahukan sesuatu (yang jika kalian laksanakan) kalian dapat memiliki semua itu ?”, saya berkata :”Mau ya Rasulullah”. Maka Rasulullah memegang lisannya lalu bersabda :”Jagalah ini (dari perkataan kotor/buruk)”. Saya berkata :”Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan ?”, beliau bersabda :”Ah kamu ini, adakah yang menyebabkan seseorang terjungkal wajahnya di neraka –atau sabda beliau : diatas hidungnya- selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka”. (Riwayat Turmuzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shahih)

[sumber : syarah hadits arba’in]

Dari Abi Barzah Al Aslami dan Bara’ bin Azib, mereka berkata, “Telah bersabda Rasulullah SAW :”Wahai sekalian orang yang beriman dengan lidahnya, sedang iman itu belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing orang-orang muslim dan janganlah mencari-cari aib mereka, karena orang yang mencari-cari aib saudaranya niscaya Allah akan mencari-cari aibnya dan membuka kejelekannya, sekali pun dia bersembunyi di dalam rumahnya”. (HR.Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Ahmad dan Baihaqi)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 039/th.04/Rabi’ul Tsani-Jummadil Awwal 1429H/2008M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: