Tafsir Hermeneutika Merusak Tatanan Fiqih, Termasuk Soal Hukum Diharamkannya Babi

Kalangan “Islam” Liberal sebagian perumus teori hermeneutika, mengajukan gagasan “pemisahan teks dari pengarangnya” sebagai upaya untuk memahami teks dengan lebih baik. Bahkan, seorang orientalis seperti Scleiermacher mengajukan gagasan tentang kemungkinan penafsir dapat memahami lebih baik dari pengarangnya. Jika gagasan seperti ini diterapkan untuk al-Quran, lantas siapakah yang mampu memahami Al-Quran lebih baik dari Allah SWT atau Rasul-Nya ?.
Inilah yang disesalkan banyak ummat Islam terhadap gagasan kalangan “islam” liberal seperti Nasr Hamid Abu Zaid, yang menyatakan bahwa al-Quran adalah “produk budaya” (muntaj tsaqafy). Adalah sangat berbahaya anggapan seperti ini, sebab dengan menganggap Al-Quran semata-mata adalah produk budaya, karya sastra biasa, atau sekedar teks linguistik seperti teks-teks lainnya, maka itu berarti telah memisahkan al-Quran dari “Pengarangnya”, yaitu Allah SWT.
Padahal, sebagai kalam Allah, Al-Quran adalah tanzil. Redaksinya pun berasal dari Allah SWT. Dia memang bahasa Arab, tetapi bukan bahasa Arab biasa. Dia adalah wahyu. Karena wahyu, maka manusia yang paling memahami maknanya adalah Rasul-Nya dan orang-orang yang sezaman dengannya (para sahabat).
Jika teks Al-Qur`an dicerabut dari penjelasan Rasulullah SAW dan diletakkan dalam konteks paradigma “Marxis”, maka maknanya tentu bisa berubah secara mendasar. Ambil contoh, Jika Allah mengharamkan babi, lalu dianalisis secara sosial-budaya ketika itu, maka akan bisa disimpulkan secara hermeneutis, bahwa babi haram karena dagingnya enak dan tidak ada di Arab.

Paragraf ini sekedar interupsi, Hamka pernah bercerita, pada tahun 1963 seorang pelajar SMP di Semarang mengirim surat kepadanya. Si pelajar bercerita bahwa gurunya, seorang pemeluk setia agama Katolik, menerangkan dalam kelas tentang sebab diharamkannya daging babi. Kata guru itu, Nabi Muhammad sangat suka makan daging babi, sebab terlalu enak. Pada suatu hari pelayan beliau mencuri persediaan daging babi yang akan beliau makan.
Ketika datang waktu makan, beliau minta persediaan daging yang sangat enak itu. Si pelayan mengaku salah, telah mencuri dan memakan daging babi itu. Mendengar itu, Nabi Muhammad sangatlah marah karena dagingnya dicuri. Saking marahnya, mulai hari itu dijatuhkanlah hukuman: “Haram atas umatku makan daging babi”.
[Lihat, Hamka, Studi Islam, 1985:245-246].

Selain hukum berkenaan dengan babi tersebut, hukum potong tangan akan dikatakan sebagai hukum yang hanya cocok untuk masyarakat baduy gurun di Arab; alasan muslimah haram kawin dengan laki-laki non-muslim karena masyarakatnya didominasi laki-laki; jilbab hanya wajib untuk daerah Arab karena iklimnya panas dan berdebu; khamr haram hanya di daerah panas; homoseksual haram karena ketika itu belum ada HAM; dan sebagainya.
Banyak hal lagi sehubungan dengan fiqih (syariat) islam akan mengalami kekacauan
Bila mengikuti pemahanan kalangan “islam” liberal dengan penggunaan teori hermeneutika ini. Berbagai pemahaman nyeleneh seperti di atas, akan terus bermunculan apabila hermeneutika digunakan dalam menginterpretasikan Al-Qur’an. Hermeneutika adalah ilmu sesat.
[penulis : Adian Husaini]

http://www.nojil.8m.net/hermen3.html

Haram Menurut Pandangan Bangsa Arab di Masa Jahiliah

Orang-orang Arab jahiliah mengharamkan sebagian binatang karena kotor, dan sebagiannya diharamkan karena ada hubungannya dengan masalah peribadatan (ta’abbud), karena untuk bertaqarrub kepada berhala dan karena mengikuti anggapan-anggapan yang salah (waham). Seperti: Bahirah, saaibah, washilah dan ham. Sebaliknya, mereka banyak juga menghalalkan beberapa binatang yang kotor (khabaits), seperti: Bangkai dan darah yang mengalir.

[dari : Halal dan Haram dalam Islam (Bab.2), Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi
Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy, Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993]
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Halal/index.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 038/th.04/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1429H/2008M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: