PEDOMAN BERPRODUKSI HALAL UNTUK INDUSTRI, RUMAH POTONG HEWAN (RPH) DAN RESTORAN (bagian : 2)

Spesifikasi produk, adalah keterangan dari pihak produsen (bukan pemasok) yang menerangkan mengenai produk tersebut, asal-usulnya (bahan baku) cara pembuatan (alur proses) dan segala hal yang menyangkut produk tersebut. Spesifikasi produk berbeda dengan certificate of analysis (COA) yang menunjukkan kandungan bahan yang dianalisa melalui uji laboratorium, seperti kadar air, kadar protein, kadar lemak, dsb. COA ini tidak dapat menunjukkan asal usul bahan tersebut. Produk-produk olahan yang berasal dari tanaman atau bahan kimia perlu memiliki spesifikasi produk, jika tidak ada sertifikat halalnya, untuk mengetahui apakah ada penambahan bahan lain selama proses pembuatannya.

e. Purchase order (PO) atau permintaan barang dari perusahaan kepada pemasok setiap kali akan membeli bahan, perusahaan mengeluarkan purchase order/PO (surat pemesanan barang) kepada pemasok. PO ini harus didokumentasi dan disimpan dalam arsip yang mudah ditelusuri. Dengan demikian akan dapat diketahui setiap pemesanan barang dari waktu ke waktu.

f. Bon pembelian barang dari pemasok kepada perusahaan
Ketika barang yang dipesan dari pemasok sudah datang, maka ada bon pembelian barang atau surat pengiriman barang (Delivery Order/DO) untuk setiap pembelian bahan. DO atau bon pembelian barang ini juga harus disimpan dan diarsip, sehingga dapat diketahui setiap pembelian dan pemasukan barang ke dalam perusahaan. DO ini juga harus cocok dengan PO, baik jenis barang, nama pemasok, merek maupun spesifikasinya.

g. Stok barang di gudang
Setelah barang diperiksa dan dinyatakan lolos oleh bagian Quality Control, maka barang tersebut akan masuk ke dalam gudang. Pihak gudang harus memiliki kartu stok yang memuat daftar stok dan keluar masuknya barang di gudang.

h. Dokumen pengeluaran barang
Setiap pengambilan barang dari gudang ke tempat prosuksi harus dilampiri dengan dokumen pengeluaran barang. Perusahaan harus memiliki dokumen pengeluaran barang tersebut, yang ditanda tangani oleh pihak yang memiliki otoritas untuk mengeluarkan barang tersebut. Artinya semua bahan yang masuk ke ruang proses harus diketahui jenis dan jumlahnya serta tercatat dari waktu ke waktu.

2.2. Bangunan fisik dan mesin produksi
Bangunan fisik yang digunakan dalam proses produksi pangan halal perlu mendapatkan perhatian agar tidak mempengaruhi kehalalan produk yang dihasilkan. Pada prinsipnya bangunan fisik ini dirancang sedemikian rupa agar dapat terhindar dari kontaminasi dan masuknya barang-barang najis atau haram ke dalam produk yang diproduksi.

Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam bangunan fisik ini adalah:

a. Bangunan harus terletak di lokasi yang cukup jauh dari peternakan babi atau hewan yang tidak halal yang dapat mengkontaminasi proses produksi halal
b. Bangunan harus memiliki sistem sanitasi dan fasilitas pembuangan yang dapat menjamin kebersihan produk dari barang yang haram atau najis
c. Bangunan harus memiliki sistem pengamanan dari masuknya binatang haram dan najis di lingkungan pabrik
d. Lingkungan pabrik harus memiliki sumber air yang sehat dan tidak tercemar oleh barang-barang najis dan kotor

Sedangkan mesin dan alat yang digunakan untuk berproduksi haruslah dapat menjamin kehalalan produk yang dihasilkan. Artinya bahwa mesin produksi tersebut harus dapat menghindari terjadinya kontaminasi produk dari bahan-bahan haram atau najis.

Persyaratan bagi mesin dan alat produksi tersebut adalah:
a. Mesin dan alat produksi hanya digunakan untuk memproduksi barang-barang yang halal saja
b. Mesin dan alat produksi harus memiliki sistem yang dapat menjaga produk yang dihasilkan dari bahan-bahan yang najis dan/atau haram
c. Mesin dan alat produksi harus mudah dibersihkan dari kotoran dan najis yang melekat
d. Mesin dan alat produksi harus berasal dari bahan-bahan yang tidak diharamkan (seperti tulang binatang, bulu babi dsb.)

2.3. Sumberdaya Manusia Berkaitan dengan Kehalalan

Selain bangunan, peralatan dan sistem administrasi yang baik, untuk dapat berproduksi halal, perusahaan juga harus didukung oleh sumberdaya manusia yang baik dan mampu menjalankan sistem tersebut. Sumberdaya manusia yang dimaksud adalah orang dari dalam perusahaan itu sendiri yang mengetahui tentang permasalahan halal, mampu menjalankannya dalam pelaksanaan produksi sehari-hari serta bertanggung-jawab kepada pimpinan, masyarakat konsumen dan Allah SWT (selayaknya ditangani karyawan/petugas yang muslim).
Dalam pelaksanaan pedoman berproduksi halal ini dilakukan oleh sebuah tim yang terdiri dari semua level manajemen dalam perusahaan tersebut, mulai dari level tertinggi (pimpinan) sampai kepada level terendah (buruh/karyawan) yang secara bersama-sama menjalankan fungsinya masing-masing untuk mempertahankan kehalalan produk yang dihasilkan. Selain itu pedoman berproduksi halal ini juga melibatkan berbagai departemen, mulai dari bagian penelitian dan pengembangan (R and D), bagian pembelian (purchasing), bagian produksi, bagian gudang, bagian pengawasan mutu (quality control) sampai dengan bagian ekspedisi yang mengantarkan produk ke pelanggan.

Untuk menjalankan pedoman berproduksi halal secara efektif, semua bagian tersebut dikoordinasikan oleh seorang internal halal auditor yang ditunjuk dan diangkat secara resmi oleh manajemen perusahaan melalui surat pengangkatan resmi.

Syarat-syarat internal auditor adalah:
a. Merupakan karyawan perusahaan yang bersangkutan
b. Beragama Islam
c. Memiliki posisi yang memungkinkan untuk melakukan koordinasi pada berbagai bidang (bagian produksi/quality assurance)
d. Mengetahui proses produksi dari awal hingga akhir
e. Memahami aturan-aturan dasar mengenai halal dan haram
f. Mampu dan sanggup menjalankan tugas-tugas sebagai seorang internal halal auditor

Tugas-tugas yang harus dilaksanakan internal halal auditor adalah:
a. Mengkoordinasikan pelaksanaan pedoman berproduksi halal di perusahaan yang bersangkutan
b. Menyusun matriks produk-produk yang dihasilkan, bahan baku, bahan tambahan, bahan penolong dan daftar pemasoknya
c. Bersama dengan bagian lain yang terkait menyusun sistem jaminan halal perusahaan
d. Mensosialisasikan sistem jaminan halal kepada semua bagian yang terkait dengan pelaksanaan berproduksi halal
e. Menjalin komunikasi kepada pihak pemberi sertifikat halal (LPPOM MUI) dalam hal penggantian bahan baku, perubahan proses, penambahan daftar pemasok dll.
f. Membuat laporan berkala yang berisi laporan pelaksanaan produksi halal
g. Bersama dengan bagian lain yang terlibat melakukan monitoring secara internal dalam hal pelaksanaan produksi halal

Selain internal halal auditor, bagian-bagian lain yang terlibat adalah bagian penelitian dan pengembangan (R and D), bagian pembelian (purchasing), bagian produksi, bagian gudang dan bagian pengawasan mutu (quality control).

Tugas dan tanggung jawab untuk masing-masing bagian adalah:

a. Bagian penelitian dan pengembangan
– Memiliki daftar bahan baku, bahan tambahan dan bahan penolong yang telah memiliki dokumen halal
– Memiliki daftar pemasok dan produsen yang menghasilkan produk-produk halal
– Menggunakan bahan-bahan yang telah halal (bersertifikat halal atau memiliki spesifikasi yang dapat diterima) dalam setiap pengembangan produk yang dilakukan
– Melaporkan dan meminta persetujuan kepada internal halal auditor sebelum melakukan pengembangan produk dengan menggunakan bahan di luar daftar yang telah ada
– Membuat laporan berkala kepada internal halal auditor

b. Bagian pembelian
– Memiliki daftar pemasok dan produsen yang menghasilkan produk-produk halal
– Melakukan pembelian dengan mengacu kepada daftar pemasok dan produsen yang telah ada
– Melaporkan dan meminta persetujuan kepada internal halal auditor sebelum melakukan pembelian dari pemasok di luar daftar yang telah ada
– Menolak dan mengembalikan kepada pemasok untuk barang-barang yang tidak halal (tidak sesuai antara dokumen dan fisiknya atau tidak memiliki logo halal untuk barang yang seharusnya ada logo halalnya) yang ditolak oleh bagian quality control
– Membuat laporan berkala kepada internal halal auditor

c. Bagian produksi
– Melaksanakan penyelenggaraan produksi sesuai dengan standard operating procedure (SOP)
– Menjaga proses produksi agar tidak tercemar oleh bahan-bahan haram/najis
– Menjaga para karyawan produksi agar tidak membawa kontaminasi barang haram/najis
– Membuat laporan berkala kepada internal halal auditor

d. Bagian gudang
– Memiliki daftar bahan baku, bahan tambahan dan bahan penolong yang telah memiliki dokumen halal
– Mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari gudang
– Membuat daftar barang-barang yang disimpan di dalam gudang
– Menjaga dan mengawasi gudang agar tidak tercemar oleh barang-barang yang haram/najis
– Membuat laporan berkala kepada internal halal auditor

e. Bagian pengawasan mutu
– Memiliki daftar bahan baku, bahan tambahan dan bahan penolong yang telah memiliki dokumen halal
– Melakukan pengawasan pada setiap barang yang masuk ke perusahaan, termasuk mengawasi kehalalannya melalui kesesuaian antara dokumen dan kemasan serta meneliti tanda-tanda halal (logo halal) pada kemasan jika harus ada logo halal
– Membuat tanda lolos uji pada barang-barang yang telah diperiksa dan tidak ada penyimpangan kehalalan
– Membuat tanda ditolak pada barang-barang yang telah diperiksa dan ditemukan adanya penyimpangan kehalalan
– Membuat laporan berkala kepada internal halal auditor

(bersambung ke bagian : 3)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 038/th.04/Rabi’ul Awwal-Rabi’ul Tsani 1429H/2008M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: